• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV Kedudukan Hukum Harta Orang Yang Dalam Keadaan Tidak Hadir

B. Prosedur Pelaksanaan dan Pengurusan Harta Dari Keadaan Tidak

Pada prinsipnya yang dapat mengajukan permohonan Keadaan tak hadir (afwezigheid) adalah hanyalah subjek hukum manusia,dengan pengertian bahwa subjek hukum manusia yang dapat dinyatakan tak hadir (afwezigheid) itu adalah subjek hukum manusia yang menurut hukum cakap bertindak untuk melakukan perbuatan hukum dan yang meninggalkan domisilinya tanpa mengatur segala kepentingan sepeninggalannya.

Undang-Undang sendiri tidak ada memberikan batasan pengertian apakah meninggalkan tempat tinggalnya itu dengan sukarela atau karena terpaksa.

Badan Hukum menurut sistem KUHPerdata tidak dapat dinyatakan tak hadir, karena dalam melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-harinya senantiasa diwakili oleh pengurusnya, dan juga badan hukum itu tidak dapat sekehendaknya meninggalkan tempat kedudukan yang telah ditentukan oleh para pendirinya dalam anggaran dasarnya. Selain itu yang dapat memindahkan tempat kedudukan

dari badan hukum itu adalah pengurusnya sendiri dengan melakukan perubahan yang perlu dalam aktanya.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada bapak Syuhada selaku Anggota Teknis Hukum Balai Harta Peninggalan Medan menjelaskan bahwa dalam prakteknya, secara umum dapat dikemukakan syarat-syarat untuk memajukan permohonan ketidakhadiran sebagai berikut :

1. Seseorang dapat membuktikan bahwa ia menguasai harta milik orang lain, umpamanya menguasai 1 (satu) pintu bangunan rumah berikut pekarangannya, sedangkan pemilik bangunan dan pekarangan itu tidak diketahui keberadaannya.

2. Seseorang Meninggalkan tempat kediamannya tanpa memberikan kuasa kepada orang lain untuk mewakilinya, serta tidak menunjuk atau memberikan kepada orang lain untuk mengurus kepentingannya.

3. Mewakili dan mengurus kepentingan orang yang tidak hadir, tidak hanya meliputi harta kekayaan saja, melainkan juga untuk kepentingan-kepentingan pribadinya

4. Adanya maksud dari penghuni tersebut untuk memiliki rumah berikut pekarangan milik orang yang tidak diketahui lagi di mana berada melalui jalur hukum yang diperkenankan oleh Undang-Undang.

5. Dapat menunjukkan surat-surat bukti, bahwa seseorang itu telah meninggalkan tempat tinggalnya (domisilinya), dan tidak diketahui lagi di mana berada. Surat-surat tersebut adalah surat-surat yang

diterbitkan oleh Instansi yang berwenang, misalnya, lurah, camat dan lain-lain.

6. Dapat dikemukakan saksi-saksi di dalam sidang permohonan yang mengetahui bahwa benar seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya (domisilinya).

7. Adanya Penetapan Pengadilan Negeri untuk menentukan, apakah benar seseorang itu telah meninggalkan tempat tinggalnya (domisilinya).67

Apabila memenuhi unsur-unsur tersebut, maka seseorang dapat dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), sehingga perlu ditunjuk seorang wakil yang akan melaksanakan hak dan menuaikan kewajiban yang bersangkutan.

KUHPerdata telah mengatur sendiri sistematika tahapan penyelesaian ketidakhadiran yang terdiri dari 3 (tiga) bentuk tahapan, yaitu :

1. Tindakan sementara

Tahap sementara ini diatur dalam bagian Kesatu Bab Kedelapan belas Buku Kesatu mulai Pasal 463 s/d Pasal 465, yaitu yang mengatur tentang ketentuan-ketentuan umum mengenai ketidakhadiran. Uraian tahapan pertama yang merupakan tugas

67 Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum, Wawancara dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 06 Februari 2013, bertempat di Kantor Balai Harta Peninggalan Medan Jl.

Listrik No. 10 Medan.

pengurusan memperlihatkan proses yang harus ditempuh pada tahap pertama ini, tindakan sementara ini dapat dilakukan berhubung:

a) Seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya

b) Seseorang yang telah meninggalkan tempat tinggalnya tersebut tidak memberi kuasa kepada seseorang lain sebagai wakilnya, guna mewakili dirinya dan mengurus harta kekayaannya

c) Seseorang tersebut tidak mengatur sendiri urusan-urusan dan kepentingan-kepentingannya itu.

d) Pemberian kuasa kepada wakilnya tidak berlaku lagi atau telah berakhir.

e) Apabila ada alasan-alasan yang mendesak guna mengurus seluruh atau sebagian harta kekayaan itu, atau guna mengadakan seorang wakil baginya tersebut.

Tindakan sementara ini terdiri atas pengangkatan Balai Harta Peninggalan sebagai pelaksana pengurusan harta peninggalan seseorang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) oleh Pengadilan. Balai Harta Peninggalan selanjutnya mengurus kepentingan-kepentingan orang yang dinyatakan tidak hadir hak-hak serta harta kekayaannya sesuai dengan Pasal 463 KUHPerdata dan ketentuan lebih rinci diatur dalam Pasal 464 dan 465 KUHPerdata.

“Balai Harta Peninggalan, jika perlu setelah mengadakan penyegelan berwajib membuat daftar lengkap dari segala harta kekayaan yang pengurusannya dipercayakan kepadanya…” Pasal 465 KUHPerdata “

Balai berwajib tiap tahun secara singkat memberikan perhitungan tanggung jawab kepada jawatan Kejaksaan dan Pengadilan Negeri yang mengangkatnya, dan memperlihatkan pada jawatan tersebut segala efek-efek dan surat-surat yang berkenan dengan pengurusannya…”

Dari isi Pasal di atas dapat kita simpulkan bahwa pada tahap tindakan sementara ini Balai Harta Peninggalan wajib melakukan penyegelan terhadap harta orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir serta membuat daftar lengkap harta kekayaan orang yang dinyatakan tidak tersebut dan memberikan perhitungan pertanggungjawaban kepada Kejaksaan dan Pengadilan Negeri.

2. Pernyataan barangkali meninggal dunia

Jika terjadi seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya cukup lama, dan tanpa memberitahukan keadaannya, hal tersebut dapat dijadikan alasan adanya dugaan hukum bahwa orang tersebut telah meninggal dunia. Untuk menetapkan pernyataan seseorang telah meninggal dunia cukup dengan seberapa lamanya si tak hadir tersebut tidak pulang, yakni:

a) Lima tahun, jika seseorang yang meninggalkan tempat kediamannya tidak mengangkat seorang kuasa untuk mewakili dirinya dan mengurus harta kekayaannya atau tidak mengatur urusan-urusan dan kepentingan-kepentingannya itu (Pasal 467 KUHPerdata). Setelah lewat 5 tahun sejak kepergian seseorang

dari domisilinya atau setelah lewat 5 tahun diperolehnya kabar terakhir yang menyatakan bahwa ia masih hidup, tanpa mempersoalkan apakah untuk kepentingannya telah dilakukan tindakan-tindakan sementara untuk mewakili, mengurus serta membela kepentingannya, maka pemanggilan dilakukan oleh Pengadilan dalam waktu 3 kali berturut-turut dengan selang waktu yang ditentukan oleh Pengadilan. Pengadilan memanggil lewat iklan dalam surat kabar yang dalam penetapan pertama Pengadilan itu telah ditetapkan, demikian juga panggilan itu harus ditempelkan di pintu utama gedung kota dalam wilayahnya si tak hadir atau yang dipanggil itu terakhir berdomisili. Setelah lewat tenggang waktu tersebut di atas tetapi tetap saja yang dipanggil tidak hadir, maka atas tuntutan Jawatan Kejaksaan, dan setelah mendengar jawatan tersebut, maka, Pengadilan akan menetapkan akan adanya dugaan hukum bahwa orang itu telah meninggal dunia sejak ia dianggap meninggalkan domisilinya atau semenjak hari terakhir tentang kabar terakhir masih hidupnya dan hari yang dimaksudkan itu harus disebutkan dengan jelas dalam putusannya.

b) Sepuluh tahun, jika seseorang yang telah meninggalkan tempat kediamannya telah mengangkat seorang kuasa guna mewakili mengurus harta kekayaannya atau telah mengatur pengurusan harta kekayaannya itu atau masa jabatan penerima kuasa telah

habis, atau aturan yang dibuatnya lebih dahulu telah berakhir (Pasal 470 KUHPerdata). Selanjutnya bila telah lewat 10 tahun maka boleh dinyatakan terdapat dugaan hukum bahwa si tak hadir itu telah meninggal dunia, dan pernyataan tentang kematian atas dugaan hukum diumumkan dalam surat-surat kabar di mana pemanggilan telah dilakukan melalui surat kabar atau iklan.

Sebelum mengambil putusan, Pengadilan memberi izin kepada pihak yang berkepentingan untuk melakukan pemanggilan secara umum dengan cara mengiklankan dalam surat kabar sebanyak tiga kali.

3. Pewarisan secara definitif

Dalam hal tahapan peralihan kepada ahli waris secara definitif persangkaan barangkali meninggal dunia harus dibuktikan dengan alat bukti yang kuat, sehingga terjadi keadaan yang lebih definitif.

Keadaan definitif diperoleh apabila diterima kabar kepastian meninggal dunia orang yang tidak hadir itu sesuai dengan Pasal 485 KUHPerdata, “Apabila tidak ada kabar kepastian meninggal dunia orang yang tidak hadir itu, keadaan definitif terjadi jika melampaui tenggang waktu 30 tahun sejak hari pernyataan barangkali meninggal dunia yang tercantum dalam Putusan Pengadilan Negeri. Atau apabila tenggang waktu 30 (tiga puluh) tahun belum lampau, tetapi sudah

lewat 100 tahun sejak hari lahir orang yang dinyatakan tidak hadir itu.

(Pasal 484 KUHPerdata)”68

Pewarisan definitif terjadi setelah lewat lama tiga puluh tahun setelah hari pernyataan dugaan meninggal dunia tercantum di dalam Putusan Pengadilan atau apabila sebelum itu, waktu selama seratus tahun telah lewat sejak hari lahir seseorang yang telah meninggalkan tempat tinggalnya. Pewarisan secara definitif terjadi bisa juga setelah diterima kabar tentang kebenaran meninggal dunianya seseorang yang telah meninggalkan tempat kediamannya. Setelah itu, para ahli waris dapat mengadakan pembagian terhadap harta warisannya secara tetap.

Apabila dalam beberapa tahap ketidakhadiran (afwezigheid) tersebut telah ada tahap yang mana dapat dikatakan seseorang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) maka atas beberapa lama waktunya seseorang tersebut tidak berada ditempat, maka hakim berdasarkan pertimbangan hukum dan bukti-bukti yang ada bahwa orang tersebut sudah tidak berada ditempatnya oleh karena itu hakim dalam Penetapannya menetapkan bahwa seseorang tersebut dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dan menunjuk keluarga semenda jika ada, apabila tidak ada keluarga semenda maka Pengadilan akan menunjuk Balai Harta Peninggalan untuk mengurusi harta orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid).

Setelah pihak yang berkepentingan menerima suatu Penentapan Pengadilan yang mana menunjuk Balai Harta Peninggalan yang akan mengurusi

68 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia , PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011, hal 54

segala kepentingan dan termasuk harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), maka Balai Harta Peninggalan akan melakukan pengurusan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Berdasarkan wawancara kepada Bapak Syuhada sebagai

Skema Prosedur Pengurusan Harta Kekayaan Orang Yang dinyatakan Dalam Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid):69

Dari skema di atas dapat kita ketahui bahwa proses pengurusan penjualan boedel afwezigheid yaitu:

1. Tahap Pelaporan

Pada tahap ini orang yang telah menerima Penetapan Pengadilan terhadap keadaan tidak hadir (afwezigheid) mengenai pengelolaan harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) mendatangi kantor Balai Harta Peninggalan untuk

69 http://bhpjakarta.info/index.php?option=com, diunduh Sabtu tanggal 09 februari 2013 pukul 20.00 Wib.

meminta dan mengurus harta kekayaannya orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut, Balai Harta Peninggalan menerima Penetapan Pengadilan Negeri dimana dalam Penetapan tersebut ditunjuk Balai Harta Peninggalan untuk mewakili orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dalam hal pengurusan harta kekayaannya. Dalam Penetapan Pengadilan Negeri tersebut terdapat suatu perintah kepada Balai Harta Peninggalan untuk melaksanakan pengurusan harta dari orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), maka Balai Harta Peninggalan berwenang dan berkewajiban melaksanakan pengurusan harta sesuai dengan Penetapan Pengadilan Negeri setempat yang salinannya disampaikan kepada Balai Harta Peninggalan.

2. Tahap Pemanggilan

Setelah menerima Penetapan Pengadilan, Balai Harta Peninggalan melakukan pemanggilan 3 (tiga) kali berturut-turut kepada orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) melalui surat kabar dan memberitahukan kepada pihak yang berwenang bahwa orang tersebut telah dinyatakan oleh Pengadilan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid). Setelah lewat dari 3 (tiga) kali berturut-turut dari panggilan tersebut dan tidak ada orang yang mengakui bahwa ia mempunyai hak itu.

Dalam tahap ini, bila merasa perlu Balai Harta Peninggalan dapat mengadakan penyegelan terhadap harta kekayaan yang telah didaftarkan demi menjamin adanya suatu kelengkapan terhadap pendaftaran dari orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid).

3. Tahap Pencatatan

Balai Harta Peninggalan membuat berita acara terhadap penghadapan si pemohon afwezigheid, membuat serta memelihara, menyimpan register ketidakhadiran dengan cermat, membuat pencatatan harta kekayaan secara terperinci, mengumumkan adanya penetapan ketidakhadiran dalam Berita Negara.

Tujuan dari pencatatan harta kekayaan afwezigheid adalah untuk mengetahui yang mana menjadi objek harta kekayaan orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) untuk mencegah kemungkinan satu objek harta kekayaan dapat menjadi milik beberapa orang.

4. Tahap Pemberitahuan

Balai Harta Peninggalan kemudian menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tentang adanya penetapan ketidakhadiran kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan Kejaksaan Negeri setempat.

5. Tahap Perjanjian Sewa-Menyewa

Setelah dilaporkan secara tertulis kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan Kejaksaan Negeri, maka Balai Harta Peninggalan membuat perjanjian sewa menyewa antara Balai Harta Peninggalan dengan penghuni yang bersangkutan atau orang yang meminta Penetapan afwezigheid. Dalam masa perjanjian sewa menyewa tersebut orang yang meminta Penetapan keadaan tidak hadir itu membayar sewa kepada Balai Harta Peninggalan selama proses pengurusan harta itu. Perjanjian sewa menyewa yang dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan dengan penghuni tersebut adalah untuk mengikat kedua belah pihak dan dibuat dengan menggunakan akta Notaris.

6. Tahap Izin Penjualan Harta Kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid)

Setelah proses pengurusan afwezigheid itu selesai, maka Balai Harta Peninggalan menjual boedel afwezigheid setelah memperoleh izin prinsip dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Penetapan izin jual dan tim penaksir dari Pengadilan Negeri setempat berdasarkan Surat Edaran Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01.HT.05.10.Tahun 1990 Tentang Petunjuk Untuk Mengajukan Permohonan Prinsip dan Izin Pelaksanaan Penjualan Boedel Afwezig dan Onbeheerde Nalatenschap Yang Berada Di Bawah Pengawasan dan Pengurusan Balai Harta Peninggalan.

Penjualan harta kekayaan afwezigheid dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan dalam pengurusan harta kekayaan afwezigheid tidak tersedianya dana untuk merawat dan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kekayaam terhadap harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) yang diurusnya. Harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) biasanya terdiri dari tanah dan bangunan yang perlu dirawat dan diperbaiki. Untuk menghindarkan kerugian yang lebih besar akibat dari kerusakan serta perawatan dalam pembiayaan pengurusan, maka Balai Harta Peninggalan segera mengajukan penjualan harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut. Penjualan harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu penjualan dengan lelang dan penjualan biasa.

7. Tahap Penaksiran dan Penentuan Harga Atas Harta Kekayaan Orang Yang Dalam Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid)

Apabila Balai Harta Peninggalan telah memperoleh izin penjualan, maka Balai Harta Peninggalan memerintahkan tim penaksir yang bertugas untuk melaksanakan penilaian harga atas harta kekayaan afwezigheid yang berada dalam pengurusan Balai Harta Peninggalan. Adapun dasar hukum dari pengangkatan tim penaksir adalah Pasal 464 juncto Pasal 1078 ayat (1) KUHPerdata.

“Orang-orang ahli tersebut diangkat oleh para kepentingan, atau jika ada perselisihan, mereka itu atas permintaan pihak yang paling berkepentingan diangkat oleh Pengadilan Negeri yang di dalam daerah hukumnya telah terbuka warisan yang bersangkutan, dan sekedar penilaian benda-benda tidak bergerak, oleh Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya terdapat benda-benda itu…”

Pembentukan panitia penaksir ini didasarkan atas Keputusan Menteri Kehaikam Republik Indonesia Nomor M.47-PR.09.03 Tahun 1987 Tentang Panitia Penaksir dan Penentuan Harga Atas Harta Kekayaan Yang Pemiliknya Dinyatakan tidak Hadir (afwezigheid) dan Harta Peninggalan Yang Tidak Terurus (onbeheerde nalatenschap) Yang Berupa Rumah Atau Tanah. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman tersebut, maka panitia penaksir mempunyai tugas yaitu menaksir dan menentukan harga rumah, dengan mempertimbangkan keadaan rumah atau bangunan yang bersangkutan dan harganya sesuai dengan harga pasaran yang berlaku. Panitia penaksir ini di angkat oleh di sumpah oleh Pengadilan Negeri setempat. Panitia penaksir tersebut adalah anggota Balai Harta Peninggalan, Kantor Pertanahan Nasional, Dinas Pemukiman dan Pengadilan Negeri setempat. Panitia penaksir ini akan melakukan tugasnya yaitu menaksir berapa harga nilai jual rumah tersebut berdasarkan kondisi, letak dan harga pasar rumah dan tanah tersebut.

8. Tahap Penjualan Harta Kekayaan Orang Yang Dalam Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid)

Setelah panitia penaksir menaksir berapa jumlah besaran harga dari rumah dan tanah tersebut yang menjadi objek keadaan tidak hadir (afwezigheid), maka Balai Harta Peninggalan akan mengadakan penjualan boedel afwezigheid kepada pemohon, yang mana besaran harga penjualan objek keadaan tidak hadir (afwezigheid) ini berdasarkan sejumlah harga yang ditaksir oleh tim penaksir. Balai Harta Peninggalan akan menjual objek keadaan tidak hadir (afwezigheid) itu kepada pemohon yang mana penjualan tersebut dibuat dalam akta Notaris.

9. Tahap Pengeloaan Harta Kekayaan Orang Yang Dalam Keadaan Tidak Hadir (Boedel Afwezigheid)

Setelah melakuan penjualan harta kekayaan orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), Balai Harta Peninggalan menyampaikan perhitungan penutupan kepada Badan Pemeriksa Keuangan, setelah boedel dikelola selama lebih dari 1/3 abad (30 tahun). Setelah memperoleh persetujuan Badan Pemeriksa Keuangan, Balai Harta Peninggalan selanjutnya mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri setempat agar boedel ditetapkan menjadi milik Negara.70

70 Wawancara dengan Syuhada, Anggota Teknis Hukum, Wawancara dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 06 Februari 2013, bertempat di Kantor Balai Harta Peninggalan Medan Jl.

Listrik No. 10 Medan.

C. Pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Medan Dalam Pengelolaan Boedel Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid)

Balai Harta Peninggalan selaku pengurus (bewindvoerder) dan pengelola harta kekayaan afwezigheid, tiap-tiap tahun secara singkat memberikan perhitungan pertanggungjawaban kepada Kejaksaan dan Pengadilan Negeri yang mengangkat dan menetapkan sebagai pengurus harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), serta memperlihatkan kepada Pengadilan segala surat-surat yang berkenaan dengan pengurusan yang dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan, atas perhitungan dan pertanggungjawaban itu, Kejaksaan boleh mengajukan usul-usul kepada Pengadilan Negeri guna kepentingan subjek yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid).

1. Pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Terhadap Hasil Penjualan Harta Kekayaan Orang Yang dinyatakan Dalam Keadaan tidak hadir

Berdasarkan wawancara kepada bapak Syuhada sebagai Anggota Teknisi Hukum Balai Harta Peninggalan Medan, mengemukakan bahwa hasil penjualan boedel afwezigheid yang berupa uang akan di simpan dan dikelola oleh Balai Harta Peninggalan selama 30 (tiga puluh) tahun atau sepertiga abad dan Balai Harta Peninggalan akan menyimpan uang tersebut di Bank Pemerintah dalam bentuk deposito, bila dalam waktu 30 (tiga puluh) tahun atau sepertiga abad jika tidak ada pihak yang mengajukan diri atau mengklaim sebagai yang dinyatakan afwezigheid,

maka Balai Harta Peninggalan berdasarkan Staatblad 1836 Nomor 56 juncto Staatblad 1850 Nomor 3 berkewajiban untuk menyampaikan

perhitungan penutup kepada Badan Pemeriksa keuangan dan jika perhitungan tersebut disetujui, selanjutnya Balai Harta Peninggalan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri setempat agar boedel afwezigheid tersebut ditetapkan menjadi milik Negara, dengan terlebih

dahulu diperhitungkan :

a. Keuntungan berupa bunga selama pengurusan dengan persentasi sesuai angka bunga yang ditetapkan oleh Menteri Kehakiman (sekarang Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia) setiap tahun.

b. Ongkos pemasangan iklan dan Berita Negara

c. Upah terus menerus, upah taksir dan lain-lain, akan beralih kepada Negara.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa selama harta kekayaan si tak hadir (afwezigheid) belum diserahkan kepada yang berhak atau kepada Negara, Balai Harta Peninggalan hanya menguasai sementara.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengurus (bewindvoerder) yang mempunyai kewajiban hukum untuk membela serta mewakili kepentingan si tak hadir, Balai Harta Peninggalan berupaya untuk meminimalisir segala hal yang memungkinkan terjadinya keadaan yang dapat menimbulkan kerugian terhadap harta kekayaan milik si tak hadir baik dalam melakukan pengurusan maupun pengelolaannya dengan melakukan berbagai langkah

dan upaya sebagaimana diatur dalam ketentuan Perundang-Undangan, sebagai contoh dalam prakteknya di lapangan objek harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) pada umumnya berupa tanah dan bangunan yang berdiri di tengah kota atau di pemukiman penduduk yang pada umumnya kondisi bangunan sudah dalam keadaan tua dan lapuk karena dalam kondisi tidak terawat serta akan membahayakan bagi masyarakat sekitarnya dan bukan tidak mungkin dapat dinyatakan bangunan yang hancur dan tidak terurus oleh instansi yang berwenang sehingga dapat mengurangi nilai ekonomisnya, sedangkan apabila diperbaiki akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk merenovasinya, sementara biaya untuk memperbaikinya Balai Harta Peninggalan tidak mempunyai anggaran khusus untuk itu, maka guna menghindari kerugian terhadap boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut serta untuk menghindarkan boedel dinyatakan bangunan yang hancur dan tidak terurus, maka biasanya Balai Harta Peninggalan menjual boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut setelah melalui prosedur

dan ketentuan yang telah ditetapkan peraturan yang berlaku dan upah pengurusan boedel menurut Undang-Undang yang mengaturnya. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mempermudah dalam pengurusan dan pengelolaannya. Untuk harta kekayaan afwezigheid berupa barang-barang bergerak pada umumnya jarang ditemukan walaupun ada jumlahnya relatif kecil, biasanya harta kekayaan berupa uang tunai, yang merupakan hasil dari penjualan boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid) berupa tanah dan

bangunan rumah milik si tak hadir yang dikembangkan dan disimpan oleh Balai Harta Peninggalan dengan mendepositokannya di Bank milik Pemerintah. Balai Harta Peninggalan mengelola boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid) yang sudah berbentuk uang tersebut selama 1/3 abad, dan sesudah sampai masanya Balai Harta Peninggalan wajib memohonkan Penetapan Pengadilan untuk menyatakan saldo boedel itu menjadi milik Negara.

Dalam Penetapan Pengadilan itu juga sekaligus diperintahkan kepada Balai Harta Peninggalan untuk menyetorkan saldo rekeningnya itu ke Kas Negara sesudah dipotong upah Balai Harta Peninggalan. Dengan pengertian bahwa selama harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut belum diserahkan kepada Negara, Balai Harta Peninggalan hanya menguasai sementara. Dengan penyerahan kepada yang berhak atau penyetoran uang hasil penjualan boedel afwezigheid kepada Negara, maka selesailah tugas Balai Harta

Dalam Penetapan Pengadilan itu juga sekaligus diperintahkan kepada Balai Harta Peninggalan untuk menyetorkan saldo rekeningnya itu ke Kas Negara sesudah dipotong upah Balai Harta Peninggalan. Dengan pengertian bahwa selama harta kekayaan orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut belum diserahkan kepada Negara, Balai Harta Peninggalan hanya menguasai sementara. Dengan penyerahan kepada yang berhak atau penyetoran uang hasil penjualan boedel afwezigheid kepada Negara, maka selesailah tugas Balai Harta

Dokumen terkait