• Tidak ada hasil yang ditemukan

VOLUME 19 NO. 2 EDISI OKTOBER 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "VOLUME 19 NO. 2 EDISI OKTOBER 2021"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TENTANG NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA PADA PERKAWINAN ADAT SUKU BUNAQ DI DESA KEWAR KECAMATAN LAMAKNEN KABUPATEN BELU

Petrus Ly

Staf Pengajar pada Program Studi PPKN FKIP Undana e-mail: [email protected]

Abstrak

Masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana tahapan perkawinan adat suku bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu (2) apa saja nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam tahapan perkawinan adat suku bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan tahapan perkawinan adat suku bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu (2) mendeskripsikan nilai- nilai sosial budaya yang terkandung dalam tahapan perkawinan adat suku bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu data primer yang diperoleh langsung dari informan melalui wawancara dan data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari desa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara dan dokumentasi dengan maksud untuk mengumpulkan data sesuai dengan masalah penelitian. Skripsi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan perkawinan adat suku bunaq melalui beberapa tahap yaitu: (1) tahap persiapan (2) taju dere (3) tama sura (4) noq lai. Adapun dalam setiap tahapan perkawinan adat suku bunaq memiliki nilai- nilai sosial budaya yang meliputi a. Tahap persiapan yaitu: 1) nilai musyawarah untuk mencapai mufakat. 2) nilai menghargai dan menghormati. 3) nilai persaudaraan. b. Taju dere yaitu:

1) nilai kebersamaan 2) nilai budaya. c. Tama sura yaitu: 1) nilai sopan santun 2) nilai budaya. d.

Noq lai yaitu: 1) nilai gotong-royong 2) nilai tanggung jawab 3) nilai budaya.

Kata Kunci: Nilai Sosial Budaya, Perkawinan Adat

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berbeda-beda adat dan kebudayaan.

Kebudayaan pada dasarnya dibentuk oleh kumpulan orang-orang yang secara sadar dan tidak sadar melakukan suatu kebiasaan yang secara turun temurun dari generasi kegenarasi. Kebudayaan suatu daerah merupakan hasil budaya oleh masyarakat setempat, untuk mewujudkan kebudayaan baik dalam bentuk ide, gagasan, sistem sosial (tingkah laku), karya masyarakat dan adat istiadat, yang mengakibatkan adanya perbedaan kebudayaan suatu daerah, salah satunya adalah pada tatacara perkawinan adat.

Indonesia terdapat bermacam-macam upacara adat perkawinan yang diwariskan nenek moyang secara turun temurun dari generasi yang satu ke generasi yang berikutnya.Setiap suku daerah yang ada di Indonesia masing- masing mempunyai upacara adat perkawinan yang berbeda- beda, masing-masing adat perkawinan tersebut memiliki keagungan, keindahan dan keunikan tersendiri.

Nusa Tenggara Timur memiliki beraneka ragam suku dan budaya. Suku-suku tersebut antara lain suku Flores, Alor, Sumba, Rote, Sabu dan Timor. Setiap suku mempunyai adat dan kebudayaan

VOLUME 19 NO. 2 EDISI OKTOBER 2021

Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan

(2)

yang berbeda-beda, adanya perbedaan itu Nusa Tenggara Timur kaya akan kebudayaan baik dalam bahasa, kesenian, religi, sistem pengetahuan, mata pencaharian dan sistem kekerabatan (sistem perkawinan). Setiap suku mempunyai tahap dan proses dalam adat perkawinan yang berbeda-beda.

Masyarakat mengenal adanya tujuan dalam perkawinan diantaranya atas alasan biologis yang merupakan tujuan yang paling utama yakni melanjutkan keturunan.

Proses pembangunan manusia dan masyarakat tidak dapat melepaskan diri dari unsur kebudayaan. Manusia dan masyarakat akan berhasil dalam pembangunan dirinya kalau selalu sadar terhadap pengaruh kebudayaan yang tak mungkin dapat ditolaknya (Soelaeman, 2000: 60).

Berdasarkan pendapat diatas maka kebudayaan perlu diberdayakan dan dikembangkan melalui potensi yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Kabupaten Belu Kecamatan Lamaknen Desa Kewar khususnya suku Bunaq memiliki sistem adat perkawinan yang begitu kental. Sistem adat perkawinan suku Bunaq adalah matrilineal (perkawinan mengikuti garis keturunan Ibu). Pada sistem ini setelah perkawinan, pengantinnya menetap di kediaman keluarga isteri.Anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut terutama anak perempuannya menjadi hak ibu sepenuhnya, sehingga dalam susunan keluarga matrilineal anak-anak perempuan mendapat perlakuan yang lebih istemewa dari anak laki-lakinya. Mereka beranggapan bahwa anak perempuanlah sebagai pelanjut keturunan.

Dalam konteks perkawinan adat suku Bunaq, memiliki beberapa tahap dalam proses menuju perkawinan yaitu tahap pertama yaitu tahap persiapan dimana keluarga laki-laki berkumpul bersama dan bermusyawarah dengan tujuan membicarakan tentang waktu untuk pergi ke rumah perempuan untuk taju dere (ketuk pintu).Taju dere (ketuk pintu)adalah tahap dimana keluarga laki-laki pergi ke rumah perempuan dengan tujuan saling mengenal untuk dapat dipersatukan dalam perkawinan adat.

Tahap kedua tama sura (masuk minta) adalah tahap dimana keluarga dari pihak laki-laki mendatangi kediaman perempuandengan membawa perlengkapan berupa sirih pinang,uang, perak, serta sepasang cincin emas. Dan menentukan jadwal penaruhan belis gadis dari perempuan. Tahap yang berikut noq lai (penaruhan belis) setelah tiba pada jadwal yang telah ditentukan atau disepakatipihak laki-laki mengantar belis gadis berupa uang dan hewan.

Namun demikian, generasi sekarang mulai kurang memahami makna dari perkawinan adat tersebut, yang berdampak akan punah di masa mendatang khususnya di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu. Atas dasar itulah peneliti tertarik dan ingin meneliti dengan judul Kajian Tentang Nilai-Nilai Sosial Budaya Pada Perkawinan Adat Suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

Sesuai dengan uraian diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini ialah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan tahapan perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

2. Mendeskripsikan nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam tahapan perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yang sesuai dengan judul penelitian yang diangkat oleh Penulis yaitu “Kajian Tentang Nilai-Nilai Sosial Budaya Pada Perkawian Adat Suku Bunaq Di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu”.

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan maksud agar dapat mempermudah peneliti dalam pengumpulan hingga pada pengolahan data penelitian. Metode deskriptif artinya Peneliti melukiskan atau menggambarkan, atau menjelaskan suatu keadaan yang diteliti seperti apa adanya, sesuai dengan situasi kondisi ketika melakukan penelitian. Ibrahim (2015:57).

Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah orang yang dijadikan sebagai sumber data atau sumber untuk

(3)

mendapatkan informasi dalam penelitian yang dilakukan penulis. Dari penjelasan tersebut maka yang menjadi subjek penelitian dari penulis yaitu:

1. Paulus Bere Tuan sebagai tua adat di Desa kewar yang mengerti dan memiliki pengalaman serta wawasan yang luas dalam proses pelaksanaan perkawinan adat.

2. Thomas Mali sebagai tokoh masyarakat di Desa Kewar dan sebagai tokoh pemerintahan di Kecamatan Lamaknen yang memiliki wawasan yang luas dan pengetahuan tentang proses pelaksanaan pelaksanaan perkawinan adat.

3. Herman Tes sebagai ketua suku yang memiliki wawasan yang luas dan pengalaman tentang proses pelaksanaan perkawinan adat.

Sumber Data

Dalam penelitian kualitatif, sumber data penelitian juga bersumber dari data primer maupun sekunder sebagaimana sebagai berikut:

1. Sumber Data Primer. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, (Sugiyono, 2015: 225). Yang menjadi data primer dari penelitian ini yang diperoleh dari narasumber yaitu: Kakek Paulus Bere Tuan (Tua adat), Bapak Thomas Mali (Tokoh masyarakat), Kakek Herman Tes (Ketua suku) yang mengerti dan tahu betul serta biasa terlibat langsung tentang proses pelaksanaan perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar, guna memperoleh informasi tentang nilai-nilai sosial budaya dalam perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu melalui dokumentasi dan wawancara.

2. Sumber Data Sekunder. Sumber data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, (Sugiyono, 2015: 225). Yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini yaitu: sejarah lokasi penelitian, data penduduk, keadaan mata pencaharian, keadaan geografis, agama, dan peta desa yang didapat dari buku desa.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Interview (Wawancara). Menurut Esterberg (Sugiyono, 2015: 232) mendefenisikan interview sebagai berikut, “a meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about a particular topic”. Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

2. Dokumentasi. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen biasa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan.Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain.Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif, (Sugiyono, 2015: 239). Dalam penelitian ini, kegiatan dokumentasi dilakukan dengan cara mendokumentasikan semua proses pada saat pengumpulan data di lapangan yaitu foto wawancara dengan tua adat, tokoh masyarakat,ketua suku.

Teknik Analisis Data

Miles and Hubermen dalam Sugiyono (2010: 338-345), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan dilakukan secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu:

1. Data reduction (Reduksi Data). Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci.Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.Mereduksi berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan

(4)

mencarinya bila diperlukan. (Sugiyono, 2012: 338). Adapun data yang direduksi dalam penelitian ini adalah data mengenai kajian nilai-nilai sosial budaya pada perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yang di dapat dari informan.

2. Data display (Penyajian Data). Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan mempermudah untuk dipahami. (Sugiyono, 2012: 341) penyajian data yang diperoleh akan diorganisasikan dan disusun secara rapih dan terstruktur dan dapat membantu peneliti untuk melakukan penarikan kesimpulan dan tindakan yang berkaitan dengan penelitian tentang kajian tentang nilai-nilai sosial budaya pada perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

3. Penarikan kesimpulan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kasual atau interaktif, hipotesis atau teori.Sesuai langkah-langkah diatas pada akhirnya peneliti membahas secara kualitatif tentang hasil penelitian yang didapat. Yaitu hasil data yang telah dianalisis akan disimpulkan untuk penelitian tentang kajian tentang nilai-nilai sosial budaya pada perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Menilai kualitas penelitian kualitatif secara eksplisit menawarkannya untuk alternative dan criteria yang lebih berorientasi kualitatif tradisional terbagi dalam empat kriteria. (Emzir, 2012: 79- 81)

1. Derajat kepercayaan (Credibility). Kriteria kredibilitas melibatkan penempatan hasil penelitian kualitatif yaitu kredibel atau dapat dipercaya dari perspektif orang yang berpartisipasi dalam penelitian. Pada kriteria ini memiliki dua fungsi yakni: (1) melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai. (2) menunjukan hasil-hasil penemuan dengan suatu pembuktian dari peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti yaitu kajian tentang nilai-nilai sosial budaya pada perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

2. Keteralihan (transferability). Kriteria transferabilitas merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif dapat digeneralisasikan atau ditransfer kepada konteks atau aturan yang lain. Sebagai contoh apakah data tentang nilai-nilai sosial budaya pada perkawinan adat suku Bunaq tersebut diterapkan atau digeneralisasikan oleh masyarakat Desa Kewar dalam kehidupan sehari-hari.

3. Kebergantungan (Dependability). Kriteria dependabilitas sama dengan reabilitis dalam penelitian kualitatif. Konsep kebergantungan lebih luas dari pada reabilitas. Dengan demikian untuk dapat diketahui reabilitas data tentang nilai-nilai sosial budaya pada perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar, akan dicapai dalam konteks pemeriksaan data setelah penelitian dilakukan.

4. Kepastian (Confirmability). Penelitian kualitatif cenderung berasumsi bahwa setiap peneliti membawa sebuah perspektif yang unik kedalam penelitian. Jadi suatu data objektif atau tidak tergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan pendapat dan penemuan seseorang seperti kepastian terhadap data yang diperoleh oleh peneliti tentang nilai-nilai sosial budaya pada perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tahapan perkawinan adat suku Bunaq oleh masyarakat Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu.

Perkawinan adat suku Bunaq merupakan sebuah acara yang harus dilakukan khususnya masyarakat Desa Kewar dan Masyarakat Lamaknen pada umumnya. Apabila seorang laki-laki dan perempuan ingin membentuk sebuah keluarga baru, maka harus melewati tahapan acara perkawinan

(5)

adat suku bunaq yaitu:

1. Tahap Persiapan

Anak laki-laki memberitahukan kepada orang tuanya bahwa dia sudah siap untuk berumah tangga. Dan jika orang tua setuju dengan gadis pilihannya, maka orang tua memberitahukan pada keluarga dekatnya untuk musyawarah keluarga tentang rencana perkawinan adat anak laki- laki mereka, dengan mengatakan “eme o ama, kau o ka’a, nol niwal, neto ei ubak bare i rol mone gie rale gie, homos i terel pana gie matas mil gomal gie”.Yang artinya bapak mama, adik kakak, anak ponakan, saya mengumpul kalian semua disini untuk membicarakan keinginan anak kita untuk berumah tangga, supaya kita sama-sama pergi kerumah orang tua perempuan.

Hal-hal yang dibicarakan dalam musyawarah keluarga ini adalah tentang waktu, yaitu kapan pergi kerumah orang tua perempuan, tentang persiapan apa saja yang harus dipersiapkan bersama sebelum acara perkawinan adat dilaksanakan pada hari-hari yang akan datang serta mengutus seorang (aintiba) untuk menghubungi orang tua perempuan. Setelah ada kesepakatan antara kedua belah pihak, barulah pada keesokan harinya atau sesuai hari yang disepakati bersama, keluarga laki-laki pergi kerumah orang tua perempuan dengan tujuan untuk taju dere (ketuk pintu).

a. Taju Dere ( Ketuk Pintu)

Pihak keluarga laki-laki pergi kerumah orang tua perempuan untuk saling mengenal dengan membawa satu(1) pelat emas, satu(1) pelat perak, dan sepuluh(10) keping mata uang perak (bule’en uen, tahin uen, bataka sogo).Pada masa sekarang ini jumlah itu tetap disebut tetapi nilainya sudah diganti dengan uang kertas. Sesampainya di kediaman perempuan salah seorang dari pihak keluarga perempuan menyapa (tase tawaka) dengan mengatakan “ ei man bare nego hoon jie” yang artinya “ kalian datang ada perlu apa”

salah seorang dari pihak keluarga laki-laki menjawab “nei man bare tan i ol iwal tomobel” yang artinya “kami datang untuk kedua anak kita yang ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang serius” kemudian keluarga laki-laki dipersilahkan masuk kedalam rumah dan pihak keluarga perempuan menyuguhkan sirih pinang (taloq) sambil membahas belis gadis (pana mea gitin) serta menentukan jadwal untuk (tama sura) masuk minta. Setelah kedua belah pihak sepakat keluarga perempuan menyiapkan makanan dan minuman (talama) untuk dimakan bersama-sama. Setelah itu keluarga perempuan memberikan satu(1) helai kain tenun sebagai tanda ucapan terima kasih (tini rimil).

b. Tama Sura (masuk minta)

Tahap ini keluarga laki-laki mendatangi kediaman perempuan untuk melakukantama sura (masuk minta). Setibanya di rumah, keluarga perempuan menerima keluarga laki- laki dengan tase tawaka (tegur sapa) setelah itu keluarga laki-laki memberikan seserahan berupa 7 buah dulang yang berisi perlengkapan wanita dan satu pelat emas, satu pelat perak dan sepuluh keping uang perak (belak bule’en uen, tahin uen dan bataka sogo) serta sepasang cincin emas sebagai tanda ikatan secara adat. Kemudian keluarga perempuan menyuguhkan sirih pinang (taloq) untuk dimakan bersama-sama dan saudari dari mempelai laki-laki memasangkan perhiasan yang dibawah pada mempelai perempuan.Setelah itu keluarga laki-laki dipersilahkan untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah disediakan oleh keluarga perempuan (talama).Setelah itu kedua mempelai dipersilahkan untuk duduk ditengah kedua keluarga besar untuk diberi nasehat (ukon ti). Dalam tahap ini juga mempelai laki-laki diperkenalkan dengan anggota suku keluarga perempuan yang dinamakan mane pou (laki-laki baru) dan diterima sebagai anggota rumah baru tetapi tetap menjadi anggota suku asalnya.Laki-laki berpindah tempat tinggal dari rumah orang tuanya berpindah kerumah mempelai perempuan.

c. Noq Lai (penaruhan belis)

Sehari sebelum penaruhan belis gadis keluarga perempuan menghantar sirih pinang, makanan dan hewan kerumah keluarga laki-laki untuk dijadikan sebagai balasan atas belis gadis yang akan diantar. Dan keesokan harinya keluarga laki-laki menghantar belis gadis berupa pelat emas,pelat perak, dan kepingan uang perak(belak bule’en, tahin, bataka). Jumlah pelat dan kepingan uang itu disesuaikan dengan status suku perempuan.

(6)

Kalau suku perempuan itu rakyat biasa, maka jumlahnya tiga-tiga (goni’on-goni’on) artinya tiga pelat emas, tiga pelat perak dan tiga puluh keping mata uang perak. Kalau bangsawan menengah maka jumlahnya lima-lima (goincet-goincet) artinya lima pelat emas, lima pelat perak dan lima puluh keeping mata uang perak. Kalau suku keluarga perempuan itu berasal dari bangsawan tinggi, maka jumlah uang tuju- tujuh(hitu-hitu) artinya tujuh pelat emas, tujuh pelat perak dan tujuh puluh keeping mata uang perak.Pada masa sekarang ini jumlah itu tetap disebut tetapi nilainya sudah diganti dengan uang kertas dan tergantung kesepakatan kedua belah pihak, berapa juta rupiah yang mau diserahkan sambil memisah-misahkan dengan ungkapan (goni’on-goni’on, goincet- goincet atau hitu-hitu). Jumlah uang inilah yang disebut belis gadis(pana mea gitin). Misalnya belis gadis 40 juta dan 2 ekor sapi, dengan pembagian Air susu ibu (eme gie kole) 20 juta dan satu ekor sapi dan kecapean ayah (ama gie kole) 20 juta dan satu ekor sapi. Pemberian pihak laki-laki ini dibalas oleh pihak suku perempuan dengan lima helai kain tenun.

Nilai-nilai sosial budaya dalam tahapan perkawinan adat sukuBunaq oleh masyarakat Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu

Nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam tahapan perkawinan adat suku Bunaq pada masyarakat Desa Kewar adalah sebagai berikut:

1. Tahap persiapan

Nilai-nilai sosial budaya yang terkandung pada tahap persiapan dalam perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yaitu:

a. Nilai musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan, yaitu pada saat orang tua dari anak laki-laki memberitahukan kepada keluarga dekatnya untuk duduk secara bersama-sama dan bermusyawarah untuk mencapai mufakat dengan semangat kekeluargaan untuk rencana pelaksanaan perkawinan adat kedepan, yakni mempersiapkan semua yang dibutuhkan dalam melaksanakan perkawinan adat.

b. Nilai menghargai dan menghormati. Nilai menghargai menghormati yang terlihat pada saat tawar menawar belis, pihak dari dari keluarga perempuan memberikan keringanan seperti yang seharus satu ekor kerbau biasa diganti dengan uang, artinya keluarga wanita memiliki rasa kemanusiaan dan hormat menghormati sehingga diberikan keringanan agar kedua anak mereka bisa di persatukan dalam perkawinan adat.

c. Nilai persaudaraan. Rasa solidaritas sosial yang erat dengan selalu bantu membantu dalam melancarkan upacara perkawinan adat.

1) Taju dere (ketuk pintu)

Nilai-nilai sosial budaya yang terkandung pada tahap taju dere (ketuk pintu) dalam perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yaitu:

a) Nilai kebersamaan, dapat dilihat pada saat pembahasan belis gadis yakni kedua belah pihak berunding bersama-sama untuk menentukan belis gadis

b) Nilai budaya, dapat dilihat pada saat tradisi makan sirih pinang, sopi (minuman keras)

2) Tama sura (masuk minta)

Nilai-nilai sosial budaya yang terkandung pada tahap tama sura dalam perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yaitu:

a) Nilai sopan santun, dapat dilihat pada saat mempelai laki-laki diperkenalkan kepada anggota keluarga suku perempuan dengan tutur kata yang halus agar apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

b) Nilai budaya, dapat dilihat pada saat perkenalan diri mempelai laki-laki ditandai dengan makan sirih pinang bersama-sama.

3) Noq lai (penaruhan belis gadis)

Nilai sosial budaya yang terkandung pada tahap noq lai dalam perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yaitu:

a) Nilai gotong royong, dapat dilihat pada saat bekerja bersama untuk mempersiapkan konsumsi.

(7)

b) Nilai tanggung jawab, dapat dilihat pada saat mempelai laki-laki menghantar belis gadis lalu pihak perempuan memberikan sehelai kain tenun sebagai tanda ucapan terimakasih.

c) Nilai budaya, dapat dilihat pada saat tradisi makan sirih pinang bersama-sama.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil uraian dari hasil pembahasan penelitian dengan judul Kajian Tentang Nilai-Nilai Sosial Budaya Pada Perkawinan Adat Suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu, maka Penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1. Proses atau tahap pelaksanaan perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu adalah sebuah proses menuju sebuah perkawinan adat.

Perkawinan adat suku Bunaq terdiri dari empat tahap yaitu:

a. Tahap persiapan b. Taju dere (ketuk pintu) c. Tama sura (masuk minta) d. Noq lai (penaruhan belis)

2. Wujud nilai-nilai sosial budaya dalam proses atau tahapan perkawinan adat suku Bunaq di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yaitu: nilai musyawarah untuk mencapai mufakat, nilai menghargai dan menghormati, nilai persaudaraan, nilai kebersamaan, nilai budaya, nilai sopan santun, nilai gotong royong dan nilai tanggug jawab.

Daftar Rujukan

Bully, S. 2013. Bahan Ajar Hukum Adat, Jurusan PPKn. Universitas Nusa Cendana (Tidak Dipublikasikan)

Emzir. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Analisis Data. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Fadhilah, Nurul. 2016. Nilai-Nilai Pendidikan Sosial Dalam Tradisi Sedekah Kematian Di Dusun

Perkodokan Desa Wlahar Kecamatan Wangon Banyumas

Hadikusuma, Hilma. 2003. Hukum Perkawinan Indonesia (Menurut Perundangan Hukum Adat Hukum Agama) Bandung: Mandar Maju

Ibrahim, 2015.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Johana, Dupu. 2017. Nilai-Nilai Sosial Budaya Yang Terkandung Dalam Upacara Ka Wa’u (Pemberian Nama) Pada Masyarakat Poma Kecamatan Wolomeze Kabupaten Ngada.Skripsi tidak dipublikasikan. Kupang: PPKn FKIP Undana.

Jaya, Parisman. 2018. Nilai-Nilai Sosial Dalam Budaya Perkawinan Masyarakat Sumbawa Di Desa Lebangkar Kecamatan Ropang Kabupaten Sumbawa Besar. Skripsi dipubikasikan.

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Universitas Indonesia Press Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Koentjaraningrat. 2008. Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Maga dan Klau.1999. Pengetahuan Lingkungan dan Sosial Budaya Daerah NTT. Kupang: PT.

Pabelan

Notonagoro. 1975. Pancasila Secara Ilmiah dan Populer. Jakarta: Rineka Cipta

Pala, Langan, Zhyta Larasatih. 2014. Nilai-Nilai Sosial Tari Pa’Gellu Dalam Kehidupan Masyarakat Toraja Kecamatan Rindingallo Kabupaten Toraja Utara Sulawesi Selatan.

Skripsi dipublikasikan.

Raho, Bernard. 2008. Metode Penelitian Sosial: bagi para pemula. Ende: Nusa Indah Soelaeman, Munandar. 2000. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: CV.Alfabeta.

Soelaeman, Munandar. 2012. Ilmu Budaya Dasar, Pengantar Ke Arah Ilmu Sosial Budaya Dasar.

Bandung: PT. Rafika Aditama

Soemanto, RB. 2018. Nilai Sosial Budaya Dalam Upacara Adat Tetaken (Study Deskriptif Upacara Adat Tetaken Di Desa Mantren Kecamata Kebonagung Kabupaten Pacitan. Skripsi tidak dipublikasikan.

Setiady, Elly M dan Usman Kolip. 2008. Pengantar Sosiologi (Pemahaman Fakta Dan Gejala Permasalahan sosial: Teori, Aplikasi dan Pemecahannya), Jakarta: Kencana.

(8)

Sudikno, Mertokusumo. 2004. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar).Yogyakarta: Liberty

Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Dan R & D). Bandung:

Alfabeta

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & C. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta.

Sulastri, Dewi. 2015. Pengantar Hukum Adat. Bandung. CV Pustaka Setia

Wulansari, Dewi. 2012. Hukum Adat Indonesia Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama

Referensi

Dokumen terkait

Metode tahlîlî adalah menafsirkan ayat- ayat Al-Qur’an dengan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang sedang ditafsirkan itu serta menerangkan

[r]

4< ◆ ◆ Kagcbkbtj ugtuh Kagcbkbtj ugtuh kagcjlagtjejhbsj lbg kagcjlagtjejhbsj lbg karukushbg kbsbibo karukushbg kbsbibo tagtbgc fdyah 0 ljkagsj tagtbgc fdyah 0 ljkagsj ◆

Maka hipotesa yang menyatakan menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas tanjung Agung Tahun

Untuk ekstraksi fitur tekstur akan didapatkan nilai dari histogram fitur yang dihasilkan dan akan dilakukan pengujian dengan kuantisasi panjang histogram, sedangkan

Pada lahan padi ketan tidak ditemukan serangga dari jenis famili ini sedangkan pada lahan padi siam unus ditemukan serangga berjumlah 1 individu. Habitat serangga ini dapat

Konsentrasi K+ dlm larutan tanah merupakan indeks ketersediaan kalium, karena difusi K+ ke arah permukaan akar berlangsung dalam larutan tanah dan kecepatan difusi tgt pada

bahwa dengan telah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler