LOl\tarC\ fVc.'?,1..-\
l%r
-PEMARKAH FOKUS DALAM BAHASA BALANTAK
Robert L. Busenitz UNBAS-SIL, 1986
1. ~*1
. Kridalaksana, dalam Kamus Linguistik, (1982:43) menerangkan arti fokus sebagai berikut:
1. unsur yang menonjolkan suatu bagian kalimat sehingga perhatian pendengar (atau pembaca) tertarik pada bagian itu;
2. ciri predikat verbal yang menentukan hubungan
·~emantis predikat verbal itu dengan subjek, dan b'iasanya. ditandai oleh afiks verbal.
Ciri fokus ~n~ paling terkenal dalam bahasa-bahasa Pilipina di mana empat sampai lima unsur kalimat dapat difokuskan.
Beberapa bahasa di Sulawesi Tengah seperti Bahasa Da'a (lihat Barr, 1986) dan Bahasa Uma (lihat Martens, 1986) telah diuraikan dengan simpulan bahwa bahasa tersebut mempunyai sistem dua-fokus. Dalam Bahasa Balantak (BB) juga terdapat dua fokus, tetapi pemarkahnya
·(penanda, atau marker) agak berbeda. *2 Dalam hal prefiks "fokus pelaku (FP) (actor focus), bentuk untuk BB lebih mirip prefiks meN- dalam. Bahasa Indonesia (BI), tetapi variasi fonologis untuk BB lebih banyak daripada BI. Fokus t'Ujuan (FT) (goal focus), yang oleh ahli lain juga disebut ··fokus objek (object focus), dalam BB dapat dimarkah pada verba·dengan prefiks, sufiks, atau infiks.
Dalam makalah ini, saya akan menerangkan secara singkat fungsi dan ard: dUll afiks fokus dalam BB, dan memberikan penjelasan tentang bentuknya serta varian-varian yang ada. Beserta itu disajikan data sebagai contoh dari unsur yang diselidiki.*3
2. ¥ODJS PELAIJJ 2.1 Tinjauan Umum
Fungsi utama menunjukkan pelaku berkontras dengan obiek seba£ai topik
prefiks (actor) FT yang klausa.
FP ialah untuk memarkah atau
seb~gai topik klausa. FP memarkah tujuan (goal) atau Pemarkah FP dan FT tidak
SIL LIBRAR)-
", DI~VAO
dapat timbul ber . . . . -sama pad a satu verba. P~da garis besarnya, FP dan FT dapat menyamai diatesis aktif dan pasif dalam Bahasa Inggris, atau awalan verbal meN- dan di- dalam BI.
Walaupun verba dalam BB dimarkah untuk FP, itu berarti bahwa pelaku harus disebut dalam klausa itu pelakunya jelas dari konteks atau keterangan Begitu juga untukFT dan tujuannya. Walaupun pada ada afiks FT, mungkin juga tujuan tidak disebut klausa itu.
tidak kalau lain.
verba dalam
Kalau prefiks FP dibubuhkan pada sebuah verba, prefiks tersebut selalu prefiks pertama verba itu.
Prefiks FP dapat diikuti beberapa prefiks aspek yang lain yang mendahului akar verba (verb root). Kalau ada prefiks aspek, prefiks itu digabungkan dengan akar verba menjadi alas verba (verb stem) yang mempengaruhi bentuk
prefiks FP.
Sama dengan Bahasa Dala, pemarkah FP dan FT dalam BB juga amalgam (portmanteau) untuk pemarkah realis dan irealis. *4 Bentuk dasar untukprefiks FP irealis ialah mVN(V)-; untuk realis, nVN(V)-. Yang membedakan dua bentuk-ini hanyalah konsonan- pertama, /m/ atau /n/.
Bagan berikut mengikhtisarkan struktur dasar verba-verba bermarkah FP. Bagan ini tidak menerangkan pembatasan-pembatasan kesertaan (co-occurrence restrictions) dan unsur-unsur tak wajib, melainkan hanya urutan unsur pa~a bentuk verba terlengkap.
- Bagan 1: StTulttur Verba dena~ Prefiu I'okua Pelaka ,
Prefiks FP Prefiks- Sufiks- Sufiks
prefiks sufiks Perfektif
'I V yang
R mVN(V)- A A bersangkut
E (FP/1) E dengan
A S K
L R T -mo
P A U (PER)
B J
R nVN(V)- E R U
E (FP/R) A A
A K N
L
Kita melihat bahwa prefiks FP, yang juga membedakan irealis dan realis, selalu ditempatkan pada urutan pertama dalam urutan unsur-unsur verba. Setelah prefiks FP bisa kita mendapat beberapa macam prefiks aspek, menyusul akar verba. Setelah akar verba, kita mendapat sufiks-sufiks bertalian dengan tujuan, kalau ada, dan akhirnya, boleh kita mendapat sufiks perfektif ~.
2.2 Kaidah-kaidah Horfofonemik untuk Prefika FP
Faktor-faktor berikut mempengaruhi bentuk fono1ogis prefiks-prefiks FP, mVN(V)- dan nVN(V)-, dan juga bentuk akar verba atau alas verba. (Contoh-contoh kaidah ini akan kita 1ihat pada bagian 2.3).
1) Vokal-vokal dalam prefiks FP disesuaikan/disamakan
..
dengan vokal pertama akar atau alas verba. Vokal yang kedua dalam "prefiks FP (yang diapit dalam kurung) digunakan dengan akar/a1as verba yang berawa1 fonem /m, n, ng, 1, r, w, y/. Voka1 kedua ini dihi1angkan ai 1ingkungan lain.
'2) Nasal (N) yang terdapat da1am prefiks FP da1am bentuk ter1engkap (dengan vokal kedua) se1alu berupa nasal velar /ng/." Kalau voka1 kedua hilang (seperti diterangkan'di atas), nasal tersebut menjadi bilabial
Iml
di muka akar/alas verba yang mulai denganIpl
atau
Ib/;
menjadi alveolarInl
di muka akar/alaa verba yang mulai denganItl,
/d/, ataula/;
dan menjadi velar Ing/ di muka akar/alas verba yang mulai denganIk/, Igl,
atau lima vokalla,
e; i, 0, u/.3) Kalau ada akar/alas verba yang mulai dengan
Ipl,
dan (a) tidak diikuti oleh suku kata kedua yang juga mulai denganIpl,
atau (b)/pl
yang pertama itu ti.1t dari golongan prefiks aspek tertentu yang tidak ikut kaidah ini,*5 makaIpl
yang pertama itu dihilangkan./pl
yang pertama adalah- fonem satu-satunya dari akar/alas verba yang dapat dipengaruhi oleh prefiks FP.*'6Dari keterangan di atas, kita dapat menarik simpulan sebagai berikut: baik konsonan pertama (kalau ada) dari akar/alas verba maupun vokal dalam suku kata pert~ma,
kedua-duanya bersama-sama mempengaruhi bentuk fonologi.
prefiks FP. ,Proses-proses keselarasan vokal (vowel harmony) dan asimilasi nasal terjadi pada suatu prefiks.
Ciri ini merupakan kontras dengan BI di mana hanya fonem pertama akar/alas verba dapat mempengaruhi N dari prefiks rneN-; dalam BI tidak ada keselarasan vokal.
Bagan berikut memperlihatkan alomorf-alomorf prefiks FP irealis, bersama dengan lingkungan yang menimbulkannya. Pada bagian atas bagan ini ada daftar konsonan-konsonan dan vokal-vokal yang menentukan bentuk
~asal dalam prefiks ters~but, dan di sebelah kanan ada lima voleal yang dapat timbul pada suku kata pertama dari akar/alas verba yang menentukan vokal dalam prefiks FP.
Perhatikan bahwa alomorf-alomorf ini hanya untuk bentuk irealis; untuk mendapatkan realis,
Iml
pertama menjadiIn/.
Masing-masing morfem mempunyai 20 alomerf.Bagan 2: AIOlllOrf-alOlliOrf Prefiks I'oltus Pelaku Irealis m.VR(V)- daD. Lingkung8DJlya
FONEM YANG.
PERTAMA m,n,ng p,b t,d,s k,g
l,r VOKAL
w,y a,e,i,o,u DALAM SUKU
KATA PERTAMA
manga- mam- . man-
-
. mang- amenge- mem- men meng- e
mingi- mim- min- ming- ~
mongo- mom- mon mong- o
mungu- mum- mun- mung- u
2.3 Contoh-contoh dan Penjelaaan Lanjut Berikut ini ada beberapa contoh irealis maupun realise Prefiks FP dengan HURUF BESAR.
prefiks FP,' baik ditandai di sini
1) Yaku' MENGE-rene ana -kon-mo MANGA-naa' paeng-ku.
saya FP/I reneana TUJ PER FP/I simpan padi saya
2)
'Saya mereneanakan menyimpan padi 9aya.'
Tanggal 7 yaku' NUNGU- mulai -mo timang -on -ku tanggal 7 saya FP/R mulai PER kerja FT/I say.a MINGI- timba' wurung Balantak.
AF/i pindah bahasa B.
'Pada tanggaL 7 saya sudah memulai yang
di~erjakan 8aya menerjemahkan Bahasa Balantak.'
3) ••• gause i raaya'a NENGE- wewe utok -ku karena PP mereka PP/R cair otak saya men baku.
yang kaku
' ••• kare~a mereka mencair otak saya' ~ang kaku.'
4) Yaku' MUNGU- yunggot kau.
saya FP/I goyang pohon 'Saya menggoyang pohon.'
5) Yaku' tongko' MANGA-ngaan mian 1 -um-iu.
saya hanya FP/I sebut orang lewat IN (nama)
'Saya hanya menyebut nama orang yang lewat.'
Contoh-contoh di at as memperlihatkan kejadian vokal kedua pada prefiks FP kalau prefiks itu mengawali akar/a1as yang mulai dengan
1m,
n, ng, 1, r, w, y/.Voka1 kedua ini dihilangkan ka1au akar/a1as verba tidak mu1ai dengan fonem tersebut. Perhatikan keselarasan voka1 dengan vokalnya suku kata pertama akar/alas verba.
Perhatikan juga bahwapada contoh-contoh di at as N itu sela'l.u velar Ingl pada bentuk prefiks FP yang terlengkap, yaitu dengan dua vokal. Ka1au vokal kedua hilang, N menga1ami proses asimilasi seperti dalam contoh-contoh berikut.
6) Poko -on as ok -i -on, yaku' MAM- bala -mo.
dapat FT/I tanam TUJ FT/I saya FP/I pagar PER 'Dapat ditanam (itu), saya sudah memagar.'
7) Yaku' NEN- tete' -rno au' bino saya FP/R panggil PER anjing untuk sambasambang -ku.
teman saya
'Saya sudah memaggil anj ing untuk teman saya.'
8)
9)
10)
11)
Yaku ' ia posuu ' -mo Tanta Leida mae 1 saya dia suruh PER Tanta L. pergi MOM- bolos motor na ~ Pandita Beroa.
FP/I pinjam motor nya PP Pendeta B.
'Saya disuruh Tanta Leida perg~ meminjam motornya Pendeta Beroa. 1
Yaku' tandang -rna pore==pore dako'
saya sandar PER baik-baik supaya tidak MUNG- untun anak.
FP/I timpa anak
'Saya sudah sandar baik-baik supaya tidak Inenimpa anak. 1
Too daa ~ koo Mars ion MIN- sida barangkali ya PP anda M. FP/I dapat waa- ro'o Palu tii yaku'?
pergi turun P. dengan saya
'Barangkali anda Marsion dapat pergi ke Palu dengan saya?'
·Yaku ' MAM- bantil -kon tarima kasing-ku n~
saya FP/I beritahu TUJ terima kasih saya kepada Arlina men UUN- tulung -~ ~ sina ni Verona A. yang AF/R tolon TUJ PP ibu -nya V.
MANG- ka'apu ka' MAN- tatapi -kon pakean -maio FP/I masak dan FP/I cuc~ TUJ pakaian kami
'Saya memberitahukan terima kasih saya kepada Arlin yang membantu ibunya Verona memasak dan mencucika pakaian kami.'
Amatilah bahwa pada contoh 9) di atas pelaku dari verba dengan prefiks FP tidak disebut dalam klausanya,
tetapi dalam konteksnya teke; jelas babva pelaku verba ini adalah bahan atap yang disiapkan pembicara.
Contoh-contoh berikut memperlihatkan °kejad,ian kehilangan fonem Ipl yang merupakan koneonan p~rtama dari akar verba pada 12) dan konsonan pertama dari alas verba pada 13) (/pl yang diapit dalam kurung °tidak dilafalkan).
Tetapi, pad. 14) dan 15) di mana dua suku kat.
berturut-turut mulai dengan fonem Ip/, Ip/ pertama tidak dihilangkan pada waktu diawali prefiks FP.
12) Tae -mai, "Mae' MIM- (p)ikirawar too
13)
kata kami pergi FP/I bertanya barangkali daugana mae' i kuu waa- rt>'o Palu liila."
maeih pergi PP kamu pergi turun P. besok 'Kata kami, "Pergi bertanya barangkali bapak masih pergi ke Palu besok.'"
ka' MOM- (p)oo- tundun -H -kon mian men and APII ASP bicara :ruJ TUJ orang yang boo pan- tapon -i tamu.
akan AL sambut TUJ tamu
'dan (kami) membicarakan orang yang akan (menjadi) penyambut tamu.'
14) Tae -na, "Tiket yaku' si a MIM- pi- pHle' kata-nya tiket saya nanti KT FP/I ASP lihat -kon na pagawe -na."
TUJ kepada pagawai -nya
'Katanya, "Nanti saya memperlihatkan tiket kepada pagawai."
15) Yaku" nang- ala -ino peling sang- kolong ka' saya FP/R a~bil PER bambu satu tengah dan NOM- popor -~.
FP/R potong.rata TUJ (ujungnya) 'Saya mengambil bambu .sepotong dan meratakan ujungnya.'
Kita dapat melihat dari contoh-contoh di atas bahwa bentuk prefiks FP dipengaruhi oleh beberapa proses morfofonemik.*7
3. Foms TUJUAN 3.1 Tinjauan Umum
Fungsi utamaafiks FT ialah untuk memarkah atau
menunju~kan tujuan sebagai topik klausa. Biasanya, tujuan adalah unsur klausa yang menerima perbuatan verba.
Seperti disebut dulu, pemarkah FT dan FP tidak bisa timbul bersama-sama pada satu verba; pelaku dan tujuan tidak dapat sama-sama menjadi topik klausa. Kita dapat melihat bahwa pelaku berkurang perannya dalam klausa FT oleh karena pelaku hanya ditandai secara tak wajib dalam bentuk sufiks pronominal pada verba FT irealis. Untuk verba FT realis, pelaku tidak dapat disebutkan dalam klausa itu; kita hanya dapat mengetahui pelaku dari konteks, atau tetap tidak diketahui.*8 Tujuan, bukan pelaku, adalah unsur yang ditonjolkan dalam klausa FT.
Bentuk FT irealls adalah sufiks -on. Sufiks tersebut mengikuti sufiks-sufiks tujuan, kalau ada, dan mendahului sufiks pronominal pelaku yang tak wajib.
Bentuk FT real is adalah prefiks ni-, atau infiks
~~n-. Dua bentuk ini tampaknya sama fungsi dan artinya, dan dapat dipakai secara bervariasi bebas. Mas ing-mas ing dapat dipakai pada akar/alas verba mana saja dengan arti yang sama. Akan tetapi, bentuk prefiks rupanya lebih banyak dipakai 'pada percakapan sehari-hari. Prefiks FT timbul pada posisi yang sama dengan posisinya prefiks FP, yaitu di depan prefiks-prefiks aspek, kalau ada. Infiks FI -in- timbul sesudah konsonan pertama akar/alas verba, at aU;--kal au akar / alas verba mulai - dengan vokal, maka
infiks it.u menyerupai prefiks yang mengambil posisi di, depan vokal pertama.*9
Bagan berikut mengikhtisarkan struktur dasar verba yang dibubuhi afiks FT, baik irealis maupun 'realise Bagian atas menerangkan verba FT irealis, dan bagian bawah menerangkan verba FT realise Pad a bentuk realis, pemakai harus pilih antara bentuk prefiks atau,infiks;
dua-duanya tidak boleh digunakan sama-sama. Sama dengan Bagan satu, bagan ini tidak menerangkan pembatasan-pembatasan kesertaan (co-occurrence restrictions) dan unsur-unsur tak wajib, hanya urutan unsur pada bentuk verba terlengkap.
..
Bagan 3: Struktur Verba dengan Afiks Fokus Tujuan
Prefiks Prefiks- Sufiks- Sufiks Sufiks Sufiks Fokus prefiks sufiks Fokus PRO P PER
I yang -ku
R A V ber- -on -muu
E AKAR sangkut (FT/I) -na
S E dengan dll.
-mo
P R T (PER)
RI
U
n~- E -~n- B J
E! (FT/R) T/R
u
AI K A A
LI
NWalaupun dalam hal posisi dalam verba, FT mempunyai vanan lebih banyak daripada prefiks FP, afiks FT tidak mempunyai varian fonologis seperti ditemui pada prefiks-prefiks FP. Mas ing-mas ing ada kerumitannya tersendiri.
3.2 Contoh-contoh dan Penjelasan Lanjut 3.2.1 Fokus Tujuan Irealis
Contoh-contoh berikut memakai afiks pendapat penulis, tidak semuanya diterjemahkan ke BI dengan memakai bentuk
FT.
wajar di-.
Menurut kalau Mungkin
FT lebih banyak cJipakai dalam BB daripada di- dalam BI.
Walaupun sering kurang wajar~ terjemahan dengan bentuk di- juga disajikan untuk memperlihatkan unsur yang dikemukakan dalam BB.
16) Doi' l. ya'a, kalu sianta pake -ON -ku, taka l.
uang itu kalau tidak pakai FT/I saya tiba ndo'o, liuliu rookon -on -ku l. tuan Bob.
bawah langsung beri FT/I saya PP tuan B.
lUang itu, kalau tidak dipakai saya, tiba di sana, langsung diberikan saya kepada Pak Bob.
,
17) Ai koo akon bo dolo' -on -mal. • anda rencana akan jemput FT/I kami 'Andalah kami rencana untuk jemput.
,
atau, lebih harfiah, 'Anda yang recana dijemput kami.
,
18) Yaku' ma- takut dako' kodi' kat ma- nau'
19)
saYa takut supaya sebentar dan lama too sian -mo soop
mungkin- tidak PER masuk
-kon -ON TUJ FT/I
a ngaan -ku.
nama saya 'Saya takut kalau lama sebentar mungkin nama saya tidak dimasukkan.'
Suri -on -ku kosian ko- pat eng -ku rasa FT/I saya bukan mati saya -i -ON.
TUJ FT/I
....
a ko- maso' marah
'Saya rasa saya tidak mati kalau dimarah.' atau, 'Dirasa saya bukan kematian saya (waktu) dimarah.'
20) Too sianta inti'i-oN -na wurung Indonesi~.
Barangkali tidak tahu FT/I--nya bahasa I.
'Barangkali dia tidak mengerti Bahas.,:, Irdonesia.'
~ Barangkali Bahasa Indonesia tidak dil, .. !t. thuinya.'
3.2.2 Goal fokus realis
Prefiks ni- lebih lazim dipakai daripada infiks -in.
Pada eontoh yang berikut, saya peroleh bentuk -in- dari informan seeara langsung •.
21)
22)
23)
Ia bulai -mo min- soop i yaku' kat NI- bulai dia suruh PER masuk PP saya dan FT/R suruh
um- oruang. 'Dia suruh saya masuk dan (saya) duduk dipersilakan duduk.~
Daa -mo NI- apak, yaku' ala sudah PER FT/R susun saya ambil
mor~o kat NI- po- tindok.
keeil dan FT/R diri
a kau papaat pohon empat
'Setelah disusun, saya ambil pohon keeil empat dan memperdirikannya.' atau, 'Setelah disusun, saya ambil pohon keeil empat dan diperdirikan.'
Yaku' ala -kon -mo bakoko' -ku kat k ·,....~n- saya ambil TUJ PER parang saya dan potong FT/R olong-i a paraas tuo' -na.
TUJ arah hidup -nya
'Saya ambil parang saya dan potong sebelah yang hidup.' atau, 'Saya ambil parang saya dan
dipotong sebelah atas.'
24)
25)
Kasi b -in- otak, kasi b -in-
baru belah FT/R baru belah.kecil-kecil FT/R ense-bense', kasi 9 -in- ansangi.
baru bersihkan FT/R
'Baru dibelah, baru dibelah (kecil-kecil), baru dilicinkan. '
Kai wawa -mo a motor, kasi NI- isii tia Kami bawa PER motor baru FT/R 1.9 ~ dengan benzine paat liter.
benzine empat liter
'Kami baws motor, baru diisi empat liter benzine.'
Amatilah bahwa pada contoh-contoh .di atas pelaku tidak timbul pada" klausa dengan verba yang dibubuhkan afiks FT real is. Akan tetapi, pelaku bis·a ada pada kalimat yang sama di mana dua klausa di9ambung oleh kat a ka', 'dan,' seperti pada 23).
4. SIMPDLAlf
Dalam makalah ~n~, penulis telah mencoba menerangkan secara singkat dua fokus yang ditemui dalam BB. Saya membahas floal bentuk serta fungsi dan arti afiks fokus dalam BB dan memberikan perbandingan singkat dengan BI.
Masih tinggal beberapa hal yang bertalian dengan sistem fokus ~n~ yang membutuhkan penelitian lebih lanjut, misalnya, verba yang tidak pakai pemarkah fokus manapun. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk tata klausa seperti yang ditemukan pada contoh 8) tadi, di mana pelaku disebut baik di depan maupun di belakang verba. Bentuk klausa ini juga sering diterj.emahkan ·ke BI dengan memakai prefiks di-. Mungkin ini juga merupakan semacam FT, dengan di9tribusi tertentu.
CATATPI
*1 Saya bersama isteri saya, Ny. Marilyn Busenits, memulai Program Kerja Lapangan Bahasa Balantak di wit ayah Balantak pada bulan Desember, 1981,' daiam ranaka Procr_
Kerja sama antara Universitas Hasanuddin dan Summer Institute of Linguistics'. Sejak waktu itu, tad telala tinggal dalam waktu yang berselang-seling sekitar 20 bulan di Kampung Dci lom , ~ecamatan Balantak, ~abupat.n
Banggai, Sulatllesi Tengah.
Kami berter~akasih kepada Departemen Pendidikan ,dan Kebudayaan," Jakarta, dan para pemimpin Universitas Hasanudd,in, Ujung Pandang, aerta banyak pejabat tinaut propinsi'~ kabupaten, dan kecamatan ataa pertolonian dan keterlibatannya dalam Program Kerja Lapangan tersebut.
Akhirnya, kami juga berterimakasih kepada auku bana.a Balantak, khususnya penduduk kampung,DolOm, yang telah menerima dan membantu kami sebaik-baiknya. Antara lain, yang banyak membantu aaya sebagai informan unttik memperoleh data, ialah Marsion Biathan, Wolter Biathan, Saween Bidana, Marthen Sandopen, Paulus Naram, dll. Saya juga berterimakasih a.tas bantuan dan kesabarannya.
*2 Bahasa Balantak (BB) 'termasuk bahasa Austronesia yang dipakai o~eh kurang lebih 20.000 sampai 30.000 penutur yang sebagian besar tinggal di Kecamatan Balantak dan Kecamatan Lamala, Kabupaten' Banggai, Sulawes! :~engah. BB adalah anggota Sub-grup Saluan (Grup' T~ur) dari
bah~sa-bahasa Sulawesi Tengah (Barr, Barr, dan Salombe, 1979, hal. 4, 23-27).
Ortografi yang sedang dipakai untuk menulisBB aam4 dengan EYD Bahasa Indonesia untuk l~a voka"f/a, e;,. i".a, u/, tetapi untuk konsonan, tanda hamzah (') seperti ejaan!' Bahasa Indonesia yang lama dipakai untuk.fonemglota:t, /? / • Alasannya ialah oleh karena fonem glotal
/? /
'l~l)il(.produktif dan lebih banyak dipakai dalam .BBdarij;ad'4i Br':~
Misalnya, banyak gugus vokal dengan dua vo~a1: .. yang~.
sama
(seperti aa) harus dibaca dan,dilafalkan dalau1 BB seperti vokal panJang; vokal-vokal tersebut tidak dapat disela, fonem glotal. Pengamatan kami terhadap soal pembacaan bahan tulisan BB yang memakai ejaan tersebut, walaupun bahannya masih sangat minimal, seakan-akan orang yang sudah tahu membaca BI tidak sulit beralih pada ortografi 3B. (Lihat Busenitz dan Busenitz, 1982, untuk uraian
fonologis BB yang lebih lengkap.)
39
""3 Saye berterimakasih kepada Dr. Charles Peck, konsultall linguistic internasional SIL atas bantuan dan nasehatnya menganalieis data dan menulis makalahl.n1.. Rekan-rekan lain juga memberikan kesan yang baik yang memupuk dan
"meningkatkanpemahaman saya. terhadap bahasa-bahasa di Sulawesi.
I
*4 Realia/irealis. adalah ciri bahasa-bahasa Austronesia ya'ng menyerupai kala. Dalam BB, bentuk realis biasanya dip&kai untuk .waktu 1 amp au 7 dan bentuk irealis untuk waktu bukan lampau, yaitu waktu sekarang dan nanti.
Penyelidikan lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan penggunaan lain, misalnya, dalam ,.,aeema.
*s
Menurut laporan, ciri ini, yaitu ada /p/ tertentu ~ngdihilangkan sedangkan ada /p/ yang lain yang tidak, juga timbul di bahasa daerah di Sabah, Malaysia (Dr. Charles Peck, laporan pripadi). Penyeledikan lebih lanjut masih diperlukan untuk BB.
*6 Proses ini sangat mir,~p dengan proses kehilangan /p/, It/, dan Ik/ yang mengikuti prefiks meN- dalam BI. Akan tetapi, dalam BB, It/ dan /k/ tidak pernah dihilangkan.
*7Di samping prefiks FP irealis dan realis, ada juga sebuah pr~fik8pVN(V)- yang mengikuti kaidah-kaidah morfofoaemik yang ~4ma dengan kaidah bagi prefiks FP.
Prefeks pVN(V)- punya fungsi untuk membuat kata imperatif stau kata alat (instrument).
*8 Akan tetapi , menurut informan, ada dialek Bahasa Balantak yang lain di mana pelaku boleh timbul pada klausa dengan verba FT realise
~9 Alas verba yang mulai dengan vokal hanya timbul kalau ada reduplikasi sebuah akar verba yang mulai dengan vokal. Prefiks-prefiks yang menjadikan alas verba yang diketahui penulis hanya mulai dengan konsonan.
At Prefiks Memperalatkan (tnstrumentalizer) ASP Prefiks Aspek
FP Fokus Pe13ku (Actor Focus) FP/I Fokus Pelaku/lrealis
FP/R Fokue Pelaku/Realis
FT Foltus Tujuan (Goal Foclls) FT/! Fokus Tujuan/lrealis FT/R Foku8 Tujuan/Realis KT Kata Tugas
N Nasal
P Pelaku (Actor) PER Sufiks Perfektif
PP Pemarkah Persona (Person Marker) PRO Pronominal
T Tujuan (Goal)
TUJ Sufiks (berhubungan dengan) Tujuan
V Vokal
~ Menunjukkan r~duplikasi.
;~ 1
QPUSTAI"AII
Barr, Donald F, 1986. Da'a Verbal Affixes and Clitics.
Akan
diterbit pada Pacific Linguistics.
Barr, Donald F., and Sharon G. Barr, with Dr. C. Salombe, 1979.
The Languiages of Cen'tral Sulawesi. Abepura, Irian Jaya:
Hasanuddin University and Summer'Institute of Linguistics.
Busenitz, Robert L. and Marilyn J. Busenitz, 1982.
Balanta'k '
Phonolo$Yo, Kertas Kerja yang belum diterbit.
Martens, Michael P., 1986. Notes on Uma Verbs. Akan . diterbit
pada Pacific Linguistics.
P.eck, Charles, 1984. A Survey of Grammatical Structures.
Dallas, TX~: Summer Institute of Linguistics.