• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN NILAI PERUSAHAAN BERBASIS PEMANGKU KEPENTINGAN (Build Value Based of Corporate Stakeholder s)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MEMBANGUN NILAI PERUSAHAAN BERBASIS PEMANGKU KEPENTINGAN (Build Value Based of Corporate Stakeholder s)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

89

MEMBANGUN NILAI PERUSAHAAN BERBASIS PEMANGKU KEPENTINGAN

(Build Value Based of Corporate Stakeholder’s) Rusman Effendi

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto rus6ffendi@gmail.com

Abstract

The existence of a company is expected to have a high social awareness of the environment around it, and not solely responsible for any owner (shareholder ) . Initially the company form of accountability is measured only limited to economic indicators (economic focused) in the financial statements . However, with the rapid development of the business environment today, has shifted into account social factors (social dimension ) against just the interests of stakeholders ( stakeholders ) both internally and externally . Stakeholders ( stakeholder ) are all parties, both internal and external such as ( government , corporate competitors, international environment , institutions NGOs , environmental workers , minorities and the surrounding community ) that me - have a relationship that can affects and is affected both the company's air direct or indirect nature . Key words :shareholder, stakeholder, good citizenship, social responsibility.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Perusahaan merupakan unit bisnis yang keberadaannya tak dapat dilepaskan dari lingkungan masyarakat sekitarnya. Keberadaan perusahaan dituntut tidak hanya sekedar bertanggungjawab terhadap para pemilik (shareholder) yang selama ini terjadi, namun telah bergeser jauh lebih luas pada ranah social kemasyarakatan (stakeholder’s) sebagai bentuk pertanggungjawaban social perusahaan bagi ling-kungan sekitarnya. Fenomena semacam ini terjadi, karena adanya tuntutan dari masyarakat sebagai akibat “negative externalities” yang timbul serta ketimpangan social yang terjadi di tengah masyarakat (Harahap, 2004).Sebelumnya, bentuk tanggungjawab social perusahaan hanya diukur sebatas pada indicator ekonomi saja (economic focused) di dalam laporan keuangan, tetapi dengan perkembangan lingkungan bisnis global yang terbuka dengan dinamika perubahan yang pesat dan persaingan yang begitu pesat. Ketika perusahaan semakin berkembang dan bersamaan dengan itu pula tingkat kesenjangan social dan keru-sakan lingkungan semakin tinggi akibat adanya eksploitasi perusahaan secara tidak terkendali terhadap berbagai sumber daya dalam rangka meningkatkan perolehan laba perusahaan.Dalam situasi demikian, paradigma harus bergeser dengan memperhitungkan factor-faktor social atau tanggungjawab social (social responsibility) terhadap pe-mangku kepentingan (stakeholder) untuk meminimalisasi berbagai dampak negative dalam rangka membangun perusahaan yang tangguh dan berkelanjutan (sustainable).Dengan begitu, eksistensi perusahaan harus sesuai (congruence) dengan harapan masyarakat sekitarnya.

Perumusan Masalah

Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, maka permasalahan dalam penulisan ini adalah :

a. Apa yang dimaksud dengan pemangku kepentingan (stakeholders) ?

b. Sejauh mana bentuk tanggungjawab social perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya ?

(2)

90

c. Bagaimana membangun nilai perusahaan berbasis pemangku kepentingan (stakeholders) ?

TINJAUAN PUSTAKA

Pemegang Saham (Shareholder)

Menurut Kamus Standar Akuntansi (Ardiyos, 2006) yang dimaksud dengan pemegang saham (shareholder) adalah :“Pemilik satu atau lebih saham dalam suatu perusahaan”.Pemegang saham berhak atas 4 (empat) hak kepemilikan dasar, yakni :Memberikan suara atau melalui mandat secara proporsional dalam pemilihan direksi.

Tagihan atas bagian aktiva perusahaan yang tidak terbagi;Memperoleh deviden berdasarkan rapat umum pemegang saham (RUPS);Hak prioritas untuk mendapatkan saham tambahan sebelum ditawarkan kepada public atau masyarakat.

Pemangku Kepentingan (Stakeholder’s)

Pemahaman akan pemangku kepentingan (stakeholder) secara teoritis telah dijelaskan dalam teori pemangku kepentingan (Stakeholder theory). Selan-jutnya Hummels (1998) mengemukakan bahwa :“Stakeholder are individuals and group who have legitimate claim on the organization to participate in the decision making process simply because they are affected by the organization’s practice, policies and action”.Sedangkan Budimanta, Dkk (2008) mengemukakan bahwa yang dimak-sud dengan pemangku kepentingan (stakeholder) adalah :“Individu, kelompok maupun komunitas dan masyarakat dapat dikatakan sebagai “stakeholders”, apabila memiliki beberapa karak-teristik seperti kekuasaan, legitimasi dan kepentingan terhadap pe-rusahaan”.

Macam Pemangku Kepentingan

Renald Rheinald (2005) telah membagi pemangku kepentingan (stake-holders) menjadi beberapa macam yakni :

Stakeholder Traditional and Stakeholder Future;

Karyawan dan konsumen merupakan stakeholder tradisional, karena berhubungan dengan organisasi. Sedangkan stakeholder masa depan adalah stakeholder pada masa yang akan datang dan diperkirakan akan memberikan pengaruh pada organisasi seperti konsumen poten-sial, calon investor, peneliti dan sebagainya.

Stakeholder Internal and Stakeholder External;

Stakeholder internal adalah stakeholder yang berada di dalam ling-kungan organisasi, misalnya karyawan, manajer dan pemegang sagam (shareholder).Sedangkan stakeholder eksternal adalah stakeholder yang berada di luar lingkungan organisasi seperti, pemasok, konsu-men, masyarakat, pemerintah, investor, jurnalis (pers) dan seba-gainya.

Stakeholder Primer, Stakeholder Secondary and Stakeholder Mar-ginal;

Stakeholder primer merupakan stakeholder yang diperhatikan oleh perusahaan.Stakeholder sekunder merupakan stakeholder yang ku-rang begitu penting. Sedangkan stakeholder marjinal merupakan stakeholder yang sering diabaikan oleh perusahaan.

Stakeholder Proponents, Stakeholder Opened, Stakeholder Un-committed;

Stakeholderproponents merupakan stakeholder yang berpihak kepa-da perusahaan.

Stakeholderopened merupakan stakeholder yang tidak memihak kepada perusahaan. Sedangkan stakeholderun-com-mitted merupakan stakeholder yang tidak peduli sama sekali terhadap perusahaan.

Stakeholder Silent Majority, and Stakeholder Vocal Minority.

Aktivitas stakeholder dalam melakukan complain atau mendukung perusahaan, tentu ada yang menyatakan penentangan atau dukung-annya secara vocal (aktif) da nada pula yang menyatakan secara pasif (silent).Selanjutnya, Crowther David (2008) membagi pemangku

(3)

91

kepentingan (stakeholder) perusahaan menjadi beberapa bagian yakni managers,employees,customers,investors,suppliers dan shareholder

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah desktiptif kualitatif untuk menggambarkan sifat sesuatu yang sedang berlangsung saat penelitian sedang dilakukan (Umar,1998)

PEMBAHASAN

Dewasa ini, perkembangan dunia bisnis sangat pesat sekali.Hal ini ditandai dengan semakin banyak muncul perusahaan pesaing yang memiliki keunggulan kom-petitif yang lebih baik. Dengan semakin banyaknya competitor bisnis, akan mengaki-batkan dinamika bisnis terus berkembang.

Perubahan dalam dinamika bisnis ini, hendaknya perusahaan lebih memperhatikan pemangku kepentingan (stakeholder), karena mereka adalah pihak yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung atas aktivitas dan kebijakan yang diambil oleh perusahaan. Apabila perusahaan tidak memperhatikan pemangku kepentingan, maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan protes dan dapat mengeliminasi legitimasi pemangku kepentingan (stakeholder).Greenly and Foxall (1998) menyatakan bahwa ”terdapat keterkaitan antara keberadaan perusahaan yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan pemangku kepentingan (stakeholder) serta daya dukungnya terhadap upaya meningkatkan kinerja ekonomi dan social perusahaan (social responsibility firm). Selanjutnya Greenly and Foxall (1998) menyebutkan terdapat 4 (empat) klasifikasi pemangku kepentingan perusahaan, antara lain :

Customer Orientation

Adalah yang berkaitan dengan bagaimana seharusnya perusahaan menjalin hubungan dengan para konsumennya.Hal ini sangat penting, karena mem-perhatikan aspek “keberlanjutan atau kehancuran”(going concern) perusa-haan sangat tergantung pada komitmen dan legitimasi konsumen dalam men-jalankan hubungan dengan perusahaan (jowarski and Kohli, 1993).

Competitor Orientation

Adalah yang berkaitan dengan tipologi “dis-competitive advantage” perusa-haan terhadap kompetitornya.Hal ini, muncul sebagai upaya menjadi com-petitive advantage, dimana seharusnya perusahaan tertutup orientasi strategi terhadap kompetitornya karena dapat melemahkan posisinya {Lumpkin and Dess, 1996).Seharusnya perusahaan memiliki strategi di atas kompetitornya terkait dengan penciptaan pelanggan yang setia (Greenly and Foxall, 1998).

Employee Orientation

Adalah yang berkaitan dengan bagaimana seharusnya perusahaan memper-hatikan kepentingan karyawan dan meningkatkan kepuasan kebutuhannya (Lingsw, Greenly and Brooderick, 2000).Perusahaan yang memiliki komitmen terhadap karyawan, mereka selalu berusaha untuk meningkatkan keterbu-kaan, menciptakan rasa aman dalam pekerjaan dan berusaha meningkatkan kepuasan kerja. Hal ini tentunya akan berpengaruhi terhadap kinerja baik secara individu maupun kelompok (Hooley. et, 2000)

Shareholder Orientation

(4)

92

Adalah yang berkaitan dengan bagaimana pihak manajemen menjaga keterbukaan dengan kepentingan stakeholder. Legitimasi stakeholder dapat ditingkatkan dengan cara menjaga kepentigan pemilik (shareholder) dalam perusahaan seperti upaya meningkatkan rasa aman dalam berinvestasi dan me-ningkatkan kesejahteraan shareholder(Samuels, Wilkkes and Brayshaw, 1990).

Freeman and Reed dalam Sholihin Ismail (2009) menempatkan pemangku kepentingan (stakeholder) dalam sebuah geradi (grid) dengan menggunakan dua dimensi sebagai berikut dimensi sudut kepentingan(stake, interest and claim) pemangku kepentingan terhadap perusahaan.

Kepentingan stakeholder tersebut terbagi atas tiga tingkatan, antara lain : a. Kepentingan terhadap ekuitas (equity take)

b. Kepentingan untuk ekonomi (economic take)

c. Kepentingan untuk memberikan pengaruh (influencers take)

Dimensi sudut kekuasaan(power) yang digunakan untuk mengelompokkan pemangku kepentingan (stakeholder). Dimensi ini terdiri dari 3 (tiga) tingkatan kekuasaan, antara lain :

a. Kekuasaan untuk melaksanakan perhitungan suatu (voting power);

b. Kekuasaan untuk ekonomi (economic power);

c. Kekuasaan yang berasal dari kekuatan politik (politic power).

Selanjutnya, Freeman and Reed dalam Sholihin Ismail (2009) telah menyusun geradi pemangku kepentingan saat ini (contemporary) yang ditunjukkan dalam Tebel 1 di bawah ini :

Tabel 1

Geradi Pemangku Kepentingan Kontemporer Kepentingan

Kekuasaan Formal atau Memilih Ekonomi Politik

Ekuitas Pemegang saham

Direktur Kepentingan Minoritas

Pemangku kepen-tingan yang tidak setuju

Ekonomi -Pelanggan

-Pesaing -Pemasok -Pemegang Utang -Pemerintah -Pihak Asing -Perserikatan

-Pemernitah -Pemerintah Asing

-Perserikatan

Yang

Mempengaruhi

-Pemerintah -BAPEPAM

-Direktur Luar Negeri

- Penasehat - Pelanggan - Pemerintah - Asosiasi Dagang

Sumber : Sholihin Ismail. 2009

Membangun Nilai Berbasis Pemangku Kepentingan (stakeholder)

Secara eksplisit, teori pemangku kepentingan (stakeholder theory) telah men-jelaskan bahwa

“eksistensi perusahaan di tengah lingkungan tidak dapat dipisahkan dari peran pemangku kepentingan (stakeholder), karena merupakan pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi

(5)

93

perusahaan (Hummels, 1998).Untuk itu, survival perusahaan sangat tergantung pada sejauh mana ligitimasi pemangku kepentingan diberikan pada perusahaan.Legitimasi stakeholder timbul, apabila terjadi kesesuaian (congruence) antara pengharapan masyarakat dengan operasional perusahaan (Meyer and Rowan, 1977).

Steiner and Steiner (2004) menyatakan bahwa “perusahaan perlu membangun nilai lewat kedekatan (intimacy) terhadap pemangku kepentingan (stakeholder) seperti supplier, konsumen, investor, pemerintah, masyarakat, lingkungan, tenaga kerja dan sejenisnya.Lebih lanjut dinyatakan bahwa “upaya membangun kedekatan tersebut dapat dilakukan dengan aktivitas strategi ligitimasi seperti memegang etika bisnis, memegang integritas, keterbukaan (responsible care), kepatuhan terhadap aturan, dan kepentingan komunitas (citizenship).Upaya untuk meningkatkan nilai perusahaan, seharusnya ditujukan pada upaya mempertahankan nilai dan moralitas bisnis yang dijadikan “code of conduct” dan culture perusahaan di mata pemangku kepentingan (stakeholder).

Dengan demikian, stakeholder bukan sekedar diposisikan sebagai objek, namun juga sebagai subjek yang memiliki peran dalam menentukan nilai bagi perusahaan (value of firm).Dalam perkembangan pengelolaan perusahaan telah bergeser dari paradigm lama ke arah upaya membangun nilai (value) yang didasarkan pada “strategi berbasis stakeholder”.Strategi berbasis pemangku kepentingan berarti “membangun nilai perusahaan dengan tetap memperhatikan dan memperhitungkan kepentingan stakeholder dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan (Belkaoui and Karpik, 1989).

Apabila hal tersebut disepakati, strategi berbasis stakeholder berarti menduduk-kan tanggung jawab social perusahaan (social responsibility) sebagai satu pilar untuk menjamin kelangsungan (going concern) perusahaan.Tanggung jawab social perusa-haan (social responsibility) merupakan komitmen perusahaan untuk menjadi etika dalam berbisnis (business ethics), memegang aturan yang ditentukan pihak peme-rintah dan lembaga terkait serta memberikan kontribusi terhadap stake-holder baik internal maupun eksternal (good citizenship).

Untuk itu, perusahaan perlu mengembangkan apa yang disebut dengan “corpo-rate social responsibility” (CSR) yaitu “pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai etika, memenuhi kaidah-kaidah keputusan hukum dan menghargai manu-sia, masyarakat dan lingkungan”. Masalah utama yang terkandung dalam tanggung jawab social (social responsibility) adalah integritas pelaksanaan etika bisnis (business ethics) oleh pelaku bisnis.Tanggung jawab social merupakan perwujudan kesadaran pelaku bisnis (industry) atas “externalities dis-economic”

yang ditimbulkan. Proble-matika akan menjadi semakin melebar, ketika para pihak yang terkait tidak konsisten terhadap upaya mnejaga keseimbangan, mengingat dalam tanggung jawab social tersebut mengandung unsur biaya (cost) yang cukup besar.

Perusahaan memiliki kewajiban dan keharusan untuk memperhatikan segala bentuk akibat suatu perbuatan operasional yang ditimbulkan, terlebih yang bersifat “negative dis- economic”.Dengan demikian, praktik social responsibility secara esen-sial berada pada “ranah etika berbisnis” yang sehat dan “responsible” dengan tujuan meringankan beban masyarakat akibat implikasi yang diterima.Membangun nilai perusahaan tidak hanya dicapai melalui peningkatan ekonomi yang selanjutnya berimbas pula pada peningkatan pemilik perusahaan (shareholder), melainkan juga harus memperhitngkan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya dari aspek social responsibility.Mengingat etika bisnis tidak hanya ditunjukkan pada baiknya aktivitas yang

(6)

94

dilakukan, namun juga ditunjukkan lewat seberapa dampak yang ditimbulkan dari aktivitas (operasi) tersebut.

KESIMPULAN

Perusahaan hendaknya telah memperhatikan pemangku kepentingan (stake-holder) selain dari pemilik (shareholder), karena mereka adalah pihak yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung atas aktivitas atau kebijakan yang diambil dan dilakukan oleh perusahaan.Legitimasi perusahaan di mata pemangku kepentingan (stakeholder) dapat dilakukan dengan integritas pelaksanaan etika dalam berbisnis (business ethic integrity) serta mening-katkan tanggungjawab social perusahaan (social responsibility). Selanjutnya, perlu dipahami bahwa tanggungjawab social perusahaan(social responsibility) memiliki ke-manfaatan untuk meningkatkan reputasi (citra) perusahaan, menjaga image dan strategi perusahaan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui,A., and Karpik,P,G.(1989).“Determinants of the Corporate Decision to Disclose Social Information”.Accounting, Auditing and Accountability Journal, Vol.1 No. 1

Donaldson,T., and Preston,L .(1995).“The Stakeholder Theory of The Corporation” : Concept, Evidence, Implication”.Academy of Management Review,P.20 : 65-91.

Freeman,R., and Edward.(1994).“Strategic Management : A Stakeholder Approach”.Boston Pitman.

Gray,R., Kouhy,R., and Lavers,S.(1995).“Corporate Social and Environmental Report”.

Accounting and Auditing Journal, Vol. 8 No. 2, pp. 47-77

Ghazali,I,dkk.(2002).“Teori Akuntansi”.Semarang : Penerbit Maksi UNDIP.

Harahap,S,S.(2004).“Teori Akuntansi”.Jakarta :Penerbit Raja Grafindo Persada.

Ismail,S.(2008).“Corporate Social Responsibility from Charity to Sustainable”.Jakarta : Penerbit Salemba Empat.

Kasali,R.(2005).“Manajemen Publik Relation”.Jakarta : Ghalia Indonesia.

Nahda,K., dan Agus,H.(2011).“Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai

Perusahaan dengan Corporate Government sebagai Variable Mode-rasi”, Vol. 15 No. 1, pp.

1-12.

Umar,H.(1998).Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis.Jakarta :Penerbit Raja Grafindo Persada.

Wibisono,Y.(2007).Membedah Konsep dan Aplikasi Corporate Social Responsibility”.Jawa Timur : Penerbit Fascho Publising.

Referensi

Dokumen terkait

Sekarang kita sudah mulai menjangkau lebih dalam dan memegang kendali yang menguasai kehidupan kita ini. Yang pertama ada bahasa, ada dua hal yang terkait dengan bahasa ini;

Untuk membangkitkan papan permainan yang memiliki ular dan tangga yang tidak saling bertabrakan, maka perlu dibuat perangkat lunak yang berbeda dari perangkat lunak yang telah

Klasifikasi kation berdasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia, reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak boleh dikatakan bahwa klasifikasi

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meyelesakan masalah tersebut menggunakan Algoritma Genetika (AG), beberapa tingkatan yang perlu diterapkan untuk

Gaya seni lukis berkisar dari penggambaran objek yang sangat realistik (representasional), meniru kenyataan dengan sepersis-persisnya, sampai pada penggambaran objek secara

Digital Subsriber Line (DSL) adalah suatu teknologi akses yang dapat mentransmisikan layanan data broadband melalui kabel tembaga yang biasa digunakan sebagai media transmisi

11) Dalam hal usulan lebih dari 2 (dua) alternatif dan hasil pemungutan suara belum mendapatkan 1 (satu) alternatif dengan suara lebih dari 1/2 (satu per dua) bagian dari

kedua guru sangat setuju apabila pembelajaran blended learning diterapkan pada materi kimia yang lain. Guru yang memiliki dedikasi dan tanggung jawab yang tinggi