BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Paradigma Penelitian
Perlu diketahui bahwa penelitian ilmu sosial adalah proses yang kompleks dan didasari pada pandangan teoritis yang beragam atau dalam istilah Sarantakos, berlangsung sebagai proses yang pluralistik (Sarantakos, 1993. p.
30). Mengutip pendapat Sarantakos (dalam Patton. 1990. p. 37) bahwa paradigma itu suatu perangkat proposisi yang memberi penjelasan mengenai bagaimanakah dunia dipersepsikan, suatu cara bagaimana dunia yang kompleks itu dipilah-pilah. Maka ilmu sosial pada umumnya, apakah yang penting, apakah yang sahih, dan apa yang masuk akal. Paradigma memiliki asumsi–asumsi kerangka berpikir umum mengenai teori dan fenomena yang mengandung asumsi dasar, isu, desain penelitian, dan metode-metode untuk menjawab pertanyaan penelitian (Bandur, 2016, p. 1).
Seidman (dalam Kholifah & Suyadnya, 2018) mengatakan berbagai macam metode dan pendekatan sekarang ini berkembang. Seperti pendekatan interpretatif, ethnic, modeling, partisipasi observasi, fenomenologi, grounded theory, pendekatan partisipatif, naratif, dan analisis isi. Metode-metode tersebut menerima keterkaitan yang terjadi antara subjek, objek, dan konteks dalam memaparkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, metode tersebut termasuk dalam paradigma konstruktivis (Kholifah & Suyadnya, 2018, p. 64 - 65).
Mengetahui hal tersebut, penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme. Tujuan dari konstruktivis adalah memahami pengalaman nyata dunia yang kompleks dari sudut pandang orang yang tinggal di dalamnya. Objek umum penelitian tersebut adalah realitas sebuah kehidupan dan makna dari situasi tertentu. Hal ini dipandang sebagai konstruksi para pelaku sosial. Di tempat dan waktu tertentu, para aktor sosial memberikan
makna dari berbagai peristiwa dan fenomena melalui proses interaksi sosial yang melibatkan sejarah, tindakan, dan bahasa. Paradigma ini mengatakan untuk memahami makna diperlukan interpretasi. Penelitian ini harus menjelaskan bagaimana proses pembentukan makna dan bagaimana makna tersebut terkandung dalam bahasa dan tindakan aktor sosial (Denzin & Lincoln, 2009, p.
146).
Ditulis dalam Denzin & Lincoln (2009), Guba & Lincoln menjelaskan sifat - sifat konstruksi, yaitu sebagai berikut.
1) Konstruksi adalah cara menjelaskan atau menafsirkan sebuah pengalaman yang dialami.
2) Rangkaian informasi yang tersedia dan kecanggihan konstruktor dalam mengolah informasi merupakan penentu dari sifat atau kualitas konstruksi yang dihasilkan.
3) Konstruksi dikenal secara luas dan sebagiannya merupakan konstruksi yang diupayakan secara kolektif dan sistematis demi kesepakatan umum mengenai sesuatu hal, contoh ilmu pengetahuan.
4) Semua konstruksi harus dianggap bermakna, tetapi sebagiannya bisa
‘malkonstruksi’. Hal ini karena tidak lengkap, inkonsisten secara internal, simplistik, tidak menjelaskan, atau diperoleh melalui sebuah metodologi yang tidak memadai. (p. 162).
Sesuai dengan yang dijelaskan oleh Denzin & Lincoln sebelumnya, paradigma konstruktivisme dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana proses pembentukan makna dan bagaimana makna tersebut terkandung dalam bahasa dan tindakan aktor sosial. Di mana dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui makna pemberitaan covid-19 yang dipaparkan oleh Tribunnews.com selaku aktor sosial.
Oleh karenanya paradigma konstruktivisme dirasa tepat untuk digunakan dalam penelitian ini. Sehingga melalui paradigma konstruktivis ini, peneliti dapat mengembangkan pemahaman yang membantu proses interpretasi suatu
peristiwa, yang dalam penelitian ini penulis ingin menginterpretasikan makna dari pemberitaan terkait Covid-19 Tribunnews.com.
3.2 Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Menurut Creswell (Semiawan, 2010, p. 7) mendefinisikan penelitian kualitatif deskriptif adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral. Penelitian kualitatif juga disebut sebagai metode penelitian yang naturalistik karena penelitiannya dilakukan dalam kondisi alamiah atau natural setting (Sugiyono, 2012, p. 8).
Penelitian kualitatif adalah pendekatan sistematis dan subjektif dalam menjelaskan pengalaman hidup berdasarkan kenyataan yang terjadi melalui pemahaman mengenai berbagai bentuk pengalaman manusia. Penelitian kualitatif menyediakan pemerhatian deskriptif yang sistematis dan berdarakan konteks. Pendekatan ini memberikan ruang bagi peneliti untuk mempelajari suatu sistem serta hubungan semua aktivitas dalam sistem (Ghony &
Almanshur, 2018, p. 76 - 79).
Sementara itu menurut Moleong (2012), penelitian kualitatif digunakan untuk memahami fenomena pengalaman yang dialami subjek penelitian.
Contoh perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lainnya, sedangkan secara holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Moleong menuliskan bahwa penelitian kualitatif memiliki beberapa fungsi sebagai berikut.
1) Kualitatif untuk meneliti latar belakang fenomena yang tidak dapat diteliti dengan kuantitatif
2) Digunakan untuk dapat lebih memahami berbagai fenomena yang sampai sekarang belum banyak diketahui
3) Digunakan untuk menemukan perspektif baru tentang hal-hal yang sudah banyak diketahui
4) Digunakan dengan maksud meneliti sesuatu secara mendalam.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif karena sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif bertujuan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang suatu fenomena mengenai masalah-masalah manusia dan sosial. Penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif karena penelitian peneliti menganalisis dan menginterpretasikan makna pada pemberitaan di media online. Sesuai dengan asumsi penelitian kualitatif yang dituliskan Pambayun (2013), bahwa penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Peneliti tertarik pada proses, pemahaman, dan makna yang bisa didapat dari kata atau gambar kemudian peneliti akan menginterpretasi atau menganalisa makna. Makna tersebut akan dideskripsikan sesuai dengan konsep, perspektif, atau teori yang digunakan pada suatu penelitian (Pambayun, 2013, p. 10).
Dalam hal ini peneliti tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut pada proses, pemahaman, dan makna yang bisa didapat dari kata atau gambar pemberitaan covid-19 di Tribunnews.com. Dengan demikian, pendekatan kualitatif dirasa tepat karena penulis ingin menginterpretasi atau menganalisa makna di balik pemberitaan covid-19 Tribunnews.com.
Riset kualitatif tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling bahkan populasi atau samplingnya sangat terbatas. Persoalan ke dalam (kualitas) data lebih ditekankan daripada banyaknya (kuantitas) data.
Penelitian kualitatif adalah bagian integral dari data, artinya peneliti ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan. Peneliti menjadi instrumen penelitian yang harus terjun langsung ke lapangan. Oleh karena itu, penelitian ini akan bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik, bukan untuk digeneralisasikan (Kriyantono, 2006, p. 58-59).
Nantinya, hasil penelitian kualitatif di ranah pendidikan bersifat deskriptif.
Menurut Sugiyono (2012, p.8) penelitian deskriptif pun digunakan untuk mengumpulkan, merangkum, dan menginterpretasikan data yang diperoleh, yang selanjutnya diolah kembali sehingga dengan demikian diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang jelas, terarah dan menyeluruh dari masalah yang
menjadi objek penelitian. Sifat deskriptif dapat diartikan sebagai sebuah pemecahan masalah empiric dengan menjelaskan keadaan subjek dan objek penelitian yang bersifat fakta dan sesuai realitas. Penelitian tidak dimaksudkan untuk menguji sebuah teori, atau hipotesis yang sudah ditentukan sebelumnya (Ardial, 2014, p.64).
Pada metode ini subjek penelitiannya adalah bentuk informasi atau berita yang berhubungan dengan kejadian belakangan ini terkait pandemi Covid-19.
Pengumpulan datanya terbagi menjadi dua bagian yakni primer dan sekunder.
Hasil wawancara pada narasumber yang kompeten pada bidangnya yang membahas tentang isi berita yang disajikan media yang berkaitan dengan kesehatan menjadi data primer. Kemudian, data sekunder diperoleh dari teknik pengumpulan data, yang tentunya mendukung data primer. Data sekunder ini diperoleh dari berbagai sumber, baik melalui media masa, jurnal penelitian, maupun kajian pustaka.
Media merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial serta budaya yang berperan juga dalam sistem yang dipercaya oleh masyarakat. Oleh karena itu, tujuannya untuk mengetahui fungsi dan efek media agar tidak menjadi bias.
Metode ini berusaha memahami data yang sudah ada bukan hanya sebagai kumpulan peristiwa-peristiwa, melainkan untuk mengungkapkan makna yang tersirat dalam sebuah berita atau informasi. Hasilnya untuk memperoleh pemahaman dari suatu pesan yang disampaikan. Bagaimana pesan yang disebarkan oleh media harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga masyarakat tidak kalang kabut akibat dari mengonsumsi berita yang salah sebab ini merupakan kesalahan yang fatal dan dapat memperkeruh persepsi dan juga reaksi masyarakat terkait kesehatan.
Oleh karena itu penulis menggunakan penelitian deskriptif untuk memberikan data yang sebenarnya, detail, dan mendalam terkait berita Covid- 19 di Tribunnews.com. Walaupun demikian, penelitian tidak ditujukan untuk menguji sebuah teori ataupun hipotesis yang sudah ditentukan sebelumnya, maka penelitian ini akan menjelaskan gejala perilaku serta pemaknaan yang
terjadi pada proses sebab dan akibat yang ada pada berita Covid-19 Tribunnews.com.
3.3 Metode Penelitian
Menurut Berelson dalam Moleong (2018), kajian isi merupakan teknik penelitian yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan manifestasi komunikasi secara objektif, sistematis, dan kuantitatif. Sementara itu menurut Weber, kajian isi adalah proses penarikan kesimpulan dari buku atau dokumen.
Holsti menyatakan kajian isi adalah salah satu teknik penarikan kesimpulan yang dilakukan secara objektif dan sistematis untuk menemukan karakteristik pesan (Moloeng, 2018, p. 220). Dalam Bungin (2017), Wimmer dan Dominick mengatakan terdapat lima kegunaan yang dapat dilakukan dalam penelitian analisis isi, yaitu sebagai berikut.
1) Menggambarkan isi komunikasi. Metode ini dapat memperlihatkan atau mengungkapkan kecenderungan isi komunikasi suatu berita dari media cetak dan elektronik.
2) Menguji hipotesis tentang karakteristik pesan. Beberapa penelitian dengan metode analisis isi berusaha untuk menggabungkan karakteristik antara komunikator dan pesan.
3) Membandingkan isi media dengan dunia nyata. Digunakan untuk menguji apakah apa yang ada di media sama dan nyata dengan situasi aktual yang ada di kehidupan.
4) Memperkirakan gambaran kelompok tertentu di masyarakat. Analisis isi juga memfokuskan dan mengungkapkan gambaran media mengenai kelompok tertentu. Analisis isi digunakan untuk meneliti masalah sosial. Contoh mengenai diskriminasi dan prasangka terhadap kelompok minoritas, etnik, agama tertentu, dan lainnya.
5) Mendukung studi efek media massa. Analisis isi juga dapat dilakukan untuk meneliti efek media massa. Apakah pesan yang disampaikan oleh media massa dapat menumbuhkan sikap yang sama di antara pengguna media.
Penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif karena metode ini banyak digunakan untuk meneliti dokumen berupa teks, simbol, gambar, dan sebagainya. Metode ini digunakan untuk memahami budaya dari suatu konteks sosial. Analisis isi media kualitatif ini merujuk pada metode analisis yang integratif dan konseptual untuk memahami makna, relevansi, dan signifikansi dengan cara menemukan, mengidentifikasi, mengolah, dan menganalisis dokumen (p. 188 – 203).
Analisis isi memiliki beberapa jenis, yaitu semiotika, framing, wacana, naratif, dan banyak lainnya (Eriyanto, 2011, p. 15). Analisis wacana merupakan rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan peristiwa secara teratur dan sistematis. Analisis wacana ini menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa terjadi seperti terbentuknya kalimat atau pernyataan (Sobur, 2009, p.
11). Mengetahui bagaimana realitas dikonstruksi oleh media penelitian ini menggunakan analisis isi. Dalam sudut pandang komunikasi, analisis framing biasa dipakai untuk melihat bagaimana cara media saat mereka mengkonstruksi fakta. Framing dikatakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana. Metode ini mencermati strategi seleksi, pertautan fakta, dan penonjolan pada berita agar menarik dan untuk menggiring interpretasi pembaca sesuai sudut pandang wartawan. Sudut pandang tersebut menentukan fakta yang diambil, bagaimana fakta tersebut ditonjolkan, apa yang dihilangkan, dan bagaimana arah berita tersebut hingga akhirnya menjadi berita yang manipulatif dan bertujuan mendominasi keberadaan subjek sebagai suatu hal yang wajar, legitimate, dan alamiah (Sobur, 2009, p. 162). Namun penulis merasa bahwa model analisis wacana dan semiotika sangat terbatas.
Metode analisis wacana hanya melihat aspek-aspek tertentu dalam suatu berita seperti menentukan fakta yang diambil, bagaimana fakta tersebut ditonjolkan, apa yang dihilangkan, dan bagaimana arah berita tersebut. Sedangkan pada metode analisis semiotika hanya berfokus pada pemaknaan suatu tanda dalam bentuk linguistik-bahasa atau perilaku. Karena itu, peneliti merasa model analisis framing lebih tepat digunakan untuk penelitian ini, dibandingkan dengan metode analisis teks lainnya seperti wacana dan semiotika.
Adapun dalam penelitian kali ini, penulis menggunakan model framing milik Pan Kosicki. Sebab konsep Framing Pan dan Kosicki memiliki asumsi bahwa setiap berita mempunyai frame yang berfungsi sebagai pusat organisasi ide. Menurut Pan dan Kosicki, wartawan melakukan penonjolan dengan menggunakan lead, kata, kalimat, hubungan antar kalimat, foto, grafik, dan lainnya untuk mengungkapkan bagaimana mereka memaknai suatu peristiwa.
Selain itu konsep Pan dan Kosicki memiliki perangkat framing berupa struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris; dimana rangkaian ini dapat menunjukkan framing media. sehingga konsep ini sesuai dengan penelitian penulis yang ingin melihat framing berita terkait covid-19 Tribunnews.com.
3.4 Unit Analisis (Analisis Isi)
Krippendorff dalam Eriyanto (2011), berpendapat unit analisis adalah bagian apa yang akan diobservasi, dicatat, dan dianggap sebagai data yang kemudian dipisahkan menurut batasannya dan diidentifikasi untuk analisis selanjutnya. Unit analisis digambarkan dengan bagian-bagian yang berupa kata, kalimat, foto, paragraph, dan scene dari isi yang akan diteliti dan dipakai untuk menyimpulkan isi teks (Eriyanto, 2011, p. 59). Penelitian ini akan mengamati pemberitaan Covid-19 yang ada di Tribunnews.com. Penelitian ini berfokus untuk mengamati bagaimana pemberitaan Covid-19 ditulis sehingga ada empat hal yang akan dijadikan unit analisis, yaitu judul berita, isi berita, dan pengaruh khalayak setelah membaca.
Berita yang digunakan merupakan berita antara bulan Maret 2020 hingga Mei 2020. Penempatan waktu ini bertujuan karena peneliti ingin melihat apakah Tribunnews.com mengikuti kesepakatan penulisan dan pemberitaan yang benar. Adapun penulis menggunakan surat edaran Dewan Pers Nomor 01/SE-DP/VI/2021 tentang Posisi Pers dalam Situasi Darurat Pandemi Covid- 19 sebagai acuan dalam menilai berita Tribunnews.com apakah sudah mengikuti kesepakatan penulisan dan pemberitaan yang benar atau belum.
Selain itu pada waktu tersebut Indonesia mulai terpapar virus corona Covid-19 dan pemerintah melakukan pembatasan sosial sehingga peran media khususnya
Tribunnews.com yang bertanggung jawab dalam penyebaran informasi terkait
Covid-19 yang benar dan sesuai untuk dikonsumsi oleh khalayak.
Kemudian peneliti memilih berita Covid-19 yang menceritakan semua pemberitaan Covid-19 mulai dari peristiwa ini muncul, bagaimana penularannya, pencegahan, dan relasi serta persepsi masyarakat setelah membaca berita tersebut sebagai sampel penelitian. Biasanya berita Covid-19 banyak diunggah di Tribunnews.com karena pandemi Covid-19 ini belum pernah terjadi. Mungkin dulu pernah terjadi pandemi satu dunia, tetapi melihat karakteristik virus itu sendiri selalu berevolusi, pemberitaan ini menjadi penting dan selalu diangkat sebab sampai dengan saat ini Indonesia belum lepas dari pandemi Covid-19. Dari hasil pemilihan berita yang sudah dilakukan, penulis kemudian sejumlah berita terkait Covid-19 Tribunnews.com yang sudah sesuai dengan ketentuan pada surat edaran Dewan Pers Nomor 01/SE-DP/VI/2021 dan yang belum sesuai atau keliru.
Dari pengamatan peneliti terdapat lima pemberitaan keliru yang ditemukan, yaitu sebagai berikut.
1) “6 Mitos Virus Corona yang Harus Diketahui, Intip Apa Saja”
diterbitkan di Tribunnews pada 1 Maret 2020.
2) “Jemput WNI Awak Kapal Diamond Princess, Bandara Kertajati Bak Pangkalan Udara Militer” diterbitkan di Tribunnews pada 1 Maret 2020.
3) “Ada Ruang Karaoke untuk yang WNI yang Dikarantina di Pulau Sebaru Kecil” diterbitkan di Tribunnews pada 1 Maret 2020.
4) “Menkes Terwan: Virus Corona Tidak Seganas Flu Burung”
diterbitkan di Tribunnews pada 2 Maret 2020.
5) “Tak Ada Bukti Masker Bisa Melindungi dari Virus Corona, Bagaimana Cara Pencegahan Terbaik?” Diterbitkan oleh Tribun Kesehatan pada 2 Maret 2020”
Adapun peneliti menemukan sembilan pemberitaan yang benar dan
tepat, yaitu sebagai berikut:
1) “Simak Cara Penularan Virus Corona hingga Langkah Antisipasinya, Termasuk Bisa Menular Melalui Feses” diterbitkan oleh Tribun Kesehatan pada 2 Maret 2020.
2) “Cegah Penyebaran Virus Corona, Komisi III Desak Pemerintah Perketat Pemeriksaan Pintu Masuk RI” diterbitkan oleh Tribunnews pada 2 Maret 2020.
3) “2 Warga Depok Positif Corona, Polri Minta Masyarakat Tidak Mudah Percaya Informasi di media sosial” diterbitkan oleh Tribunnews pada 2 Maret 2020.
4) “2 WNI Positif Virus Corona, Lebih dari 50 Warga Depok Terindikasi, 39 Warga DKI dalam Pengawasan” diterbitkan oleh Tribunnews pada 2 Maret 2020.
5) “KRI Rumah Sakit Semarang 594 Dijadikan Kapal Markas Kogasgabpad di Pulau Sebaru” diterbitkan oleh Tribunnews pada 2 Maret 2020;
6) “Wabah Virus Corona, Komisi V DPR Minta Pembatasan Penerbangan Keluar Negri dan Masuk Indonesia” diterbitkan oleh Tribunnews pada 2 Maret 2020.
7) “Kang Emil: Jawa Barat Kini Siaga I Virus Corona” diterbitkan oleh Tribunnews pada 2 Maret 2020.
8) “Wali Kota Depok: 71 Petugas Medis Dirumahkan, Sempat Berinteraksi dengan Pasien Positif Virus Corona” diterbitkan oleh Tribunnews pada 2 Maret 2020.
9) “Membersihkan Ponsel Lebih Efktif Cegah Virus Corona daripada Pakai Masker, Begini Cara yang Benar” diterbitkan oleh Tribun Techno pada 2 Maret 2020.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Peneliti akan melakukan analisis isi terhadap pemberitaan Covid-19 di media online Tribunnews.com khususnya berita mengenai Covid-19 yang
sudah tersebar di Indonesia dan juga media online serta untuk mengumpulkan data tersebut. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data studi dokumen.
Dokumen merupakan catatan dalam bentuk tulisan, gambar, dan karya monumental dari sebuah peristiwa yang sudah berlalu. Studi dokumen dilakukan untuk mendapatkan data langsung dari tempat penelitian, dapat berupa buku, peraturan, foto, laporan kegiatan, film dokumenter, dan data lain yang relavan (Sudaryono, 2018, p. 219).
Untuk mendapatkan data berita Covid-19 di Tribunnews.com, peneliti berfokus pada berita Covid-19 yang menggunakan tanda pagar Covid-19 dan pemilihan beritanya dilakukan sesuai ketentuan yang sebelumnya dibahas, lalu peneliti juga mengambil data-data terkait Covid-19 seperti pendapat ahli dan fakta yang terjadi, baik di Indonesia maupun negara lainnya. Seluruh informasi mengenai Covid-19 menggunakan informasi yang tersedia di internet dan menggunakan literatur untuk data-data lainnya.
3.6 Keabsahan Data
Dalam menguji kebenaran dalam penelitian perlu dilakukannya keabsahan data. Peneliti menggunakan teknik pemeriksaan ketekunan pengamatan.
Ketekunan pengamatan adalah mencari interpretasi dengan berbagai cara dengan proses analisis yang konstan atau tentatif. Ketekunan pengamatan ini dilakukan untuk menemukan ciri dan unsur dalam situasi yang relavan dengan isu yang sedang dicari kemudian memuatkan diri pada hal tersebut dengan perinci (Moleong, 2012, p. 329).
Teknik ini mengharuskan peneliti untuk menguraikan secara perinci dan teliti bagaimana proses penemuan dan penelaahan dilakukan. Peneliti akan melakukan pengamatan terhadap faktor-faktor yang menonjol pada pemberitaan Covid-19 di Tribunnews.com dengan menggunakan teknik analisis data yang sudah ditentukan dan kemudian menelaah dan mengelaborasikan dengan teori atau konsep yang digunakan.
Menurut Stake (2010, p. 107), penelitian kualitatif deskripstif memerlukan validasi data, atau rujukan keabsahan data. Validasi tersebut, dapat dilakukan
menggunakan tiga protokol, yang bernama trangulasi data. Untuk menjelaskan triangulasi data, peneliti menggunakan penjelasan Willian Wiersma (dalam Sugiyono, 2005, p. 464), yang menjelaskan triangulasi data menjadi tiga jenis sebai berikut.
1) Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber berfungsi untuk menguji kredibilitas sumber penelitian yang terbagi menjadi key informan dan informan. Untuk memastikan kredibilitas, dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam.
2) Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik menjelaskan tentang ketepatan penggunaan teknik penelitian. Untuk itu, peneliti menggunakan wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data dari informan. Selain itu, peneliti juga menggunakan document review untuk menguatkan dan sebagai tambahan informasi alternatif.
3) Triangulasi Waktu
Penelitian ini dilakukan ketika media online terus berproduksi menghadirkan berita-berita terbaru, baik yang terkait ipoleksosbudhankam, maupun aliran-aliran tertentu. Oleh karena itu, validasi waktu ketika penelitian dijalankan masih relevan. Kemudian, keabsahan data dari penelitian kualitatif dapat diukur dalam tiga kategori atau kriteria yakni (Poerwandari, 2009, p.173):
1) Credibility ialah seberapa kredibel data yang bisa diserap peneliti dari responden. Peneliti akan menggali informasi dari setiap responden yang dipilih dari jurusan yang berbeda-beda.
2) Dependability ialah sejauh mana konsep antara perbedaan latar belakang responden dengan proses penelitian. Dari
proses ini, peneliti akan mampui membedakan resepsi antar responden.
3) Transferability ialah kemampuan peneliti, untuk mengomunikasikan hasil penelitian, kepada para pembaca atau khalayak penelitian ini.
3.7 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan konsep framing maka untuk penelitian ini menggunakan perangkat framing yang digunakan sebagai metode framing untuk melihat bagaimana media ketika mengemas berita. Penelitian ini menggunakan model Pan dan Kosicki. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, peneliti menggunakan model Pan dan Kosicki karena model ini lebih mendetail dalam melihat pembingkaiannya. Dengan empat struktural tersebut, peneliti dapat melihat lebih detail bagaimana sebuah peristiwa dibingkai, penonjolan, dan pandangan wartawan.
Sobur (2009), model ini mengoperasionalkan empat dimensi struktural teks berita sebagai perangkat framing-nya yang terdiri dari struktur sintaksis, struktur skrip, struktur tematik, dan struktur retoris. Asumsi dari model ini adalah berita menggunakan frame yang menjadi pusat organisasi ide. Dari perangkat tanda yang dimunculkan pada teks, dapat terlihat bagaimana seseorang memaknai suatu peristiwa.
1) Struktur sintaksis ini melihat bagaimana wartawan menyusun peristiwa ke dalam naskah berita dengan melihat pernyataan, opini, kutipan, dan pengamatan peristiwa. Struktur ini dapat dilihat dengan mengamati bagan dari berita yang terdiri dari headline, lead, latar informasi, sumber kutipan, pernyataan, dan penutup. Menurut Eriyanto (2002), headline memikili tingkat penonjolan yang paling tinggi dan paling menunjukkan kecenderungan dari sebuah berita dengan pembaca lebih mengingat headline dibandingkan isi berita. Lead juga perangkat sintaksis yang digunakan dalam framing. Lead menunjukkan sudut pandang berita dan perspektif tertentu dari peristiwa. Latar informasi merupakan latar belakang peristiwa yang ditulis dan latar tersebut
menentukan arah pandangan khalayak akan dibawa. Pengutipan sumber dilakukan untuk membangun objektivitas yaitu prinsip seimbang dan tidak memihak serta menekankan apa yang ditulis pada berita bukan hanya pendapat wartawan saja, tetapi juga pendapat dari otoritas tertentu (Eriyanto, 2002, p. 296 - 298).
2) Struktur skrip melihat strategi bercerita wartawan dalam pengemasan peristiwa. Bagaimana sebuah peristiwa dipahami dangan menyusun bagiannya dengan urutan tertentu. Struktur ini melihat kelengkapan berita yang dapat dilihat dengan 5W +1H. Menurut Eriyanto (2002), unsur kelengkapan berita ini merupakan penanda penting dalam framing.
3) Struktur tematik berhubungan dengan wartawan mengungkapkan pandangannya. Struktur ini melihat bagaimana detail atau kontrol informasi, bentuk kalimat, koherensi, dan kata ganti. Struktur ini dapat dilihat pada proposisi, kalimat, atau hubungan antara kalimat.
4) Struktur retoris melihat pemakaian pilihan kata, grafik, gambar, dan idom yang digunakan tidak hanya untuk mendukung suatu fakta dalam berita, tetapi juga untuk penekanan fakta (p. 175 - 176).