• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum

Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/gakkum

Urgensi Pencatatan Perkawinan Pada Masyarakat Muslim Di Kelurahan Kampung Nangka, Binjai Utara

The Urgence Of Marriage Registration In Muslim Communities In Kampung Nangka Kelurahan, Binjai Utara

Tengku Keizerina Devi Azwar 1)* , Utary Maharany Barus 2), Yefrizawati3) Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, Indonesia

Diterima: September 2021; Disetujui: Juni 2022; Dipublish: Juni 2022

*Coresponding Email: [email protected] Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan esensi pentingnya pencatatan perkawinan pada masyarakat muslim di Kelurahan Kampung Nangka, Binjai Utara. Seperti yang diamanatkan Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir batin dari seorang laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami istri yang bertujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Salah satu yang penting dilakukan adalah pencatatan perkawinan. Faktanya yang ada di masyarakat terutama pada daerah-daerah terpencil pencatatan pernikahan dalam dokumen negara yang resmi jarang dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif bersifat bersifat deskriftif analitis dengan menggunakan pendekatan secara kepustakaan dan pendekatan lapangan. Analisis data yang di peroleh dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalah minimnya pencatatan perkawinan disebabkan karena beberapa faktor, seperti kurangnya pengetahuan sebagian masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan tentang perkawinan, baik dari aspek hukum Islam maupun aspek secara hukum positif, adanya sebagian masyarakat yang masih melakukan perkawinan siri dengan berbagai macam alasan. Hal ini dapat mencegah terjadinya permasalahan yang dapat merugikan salah satu pihak jika pernikahan yang dijalani tidak di catatkan. Banyak masyarakat yang belum paham terkait pentingnya mencatatkan perkawinan yang telah dilaksanakan dan akibat yang ditimbulkan karena perkawinan tidak dicatatkan.

Kata Kunci: Kata kunci: Urgensi; Pencatatan; Perkawinan.

Abstract

This study aims to find out the essence of the importance of recording marriages in Muslim communities in Kampung Nangka Village, North Binjai. As mandated by Article 1 of Law no. 1 of 1974 concerning Marriage that marriage is an inner and outer bond of a man and a woman as husband and wife with the aim of forming a happy and eternal family based on God Almighty. One of the most important things to do is register the marriage. The fact is that in the community, especially in remote areas, marriage registration in official state documents is rarely done. This research is a normative legal research with analytical descriptive nature by using a literature approach and a field approach. Analysis of the data obtained in this study was carried out qualitatively. The results of the study indicate that the problem of the lack of marriage registration is caused by several factors, such as the lack of knowledge of some people to the laws and regulations regarding marriage, both from the Islamic legal aspect and the positive legal aspect, the existence of some people who still carry out unregistered marriages for various reasons. This can prevent problems that can harm one party if the marriage is not recorded. Many people do not understand the importance of registering marriages that have been carried out and the consequences because marriages are not registered.

Keywords: Urgency; marriage; registration.

How to Cite: Azwar, T.K.D., Barus, M.B. & Yefrizawati (2022). Urgensi Pencatatan Perkawinan Pada Masyarakat Muslim Di Kelurahan Kampung Nangka, Binjai Utara, Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum, 9 (1) 2022 : 1-13

(2)

2 PENDAHULUAN

Perkawinan dalam Agama Islam disebut nikah, ialah suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang pria dan wanita, guna menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak, dengan dasar sukarela dan keridhoan kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara-cara yang diridhoi Allah (Soemiyati, 1986).

Perkawinan adalah akad atau ikatan perjanjian yang sangat kuat dengan kata lain misaqan galizan untuk menaati perintah Allah yang melaksanakannya adalah merupakan suatu ibadah.

Perkawinan dilakukan bertujuan untuk membangun keluarga yang harmonis dalam komitmen ikatan suci untuk hidup selama-lamanya. Istilah “nikah‟ berasal dari bahasa yakni al-nikah (Yunus, 1973) yang bermakna al-wati’ dan al-dammu wa al-tadakhul, terkadang juga disebut dengan al-dammu wa al-jam’u atau ibarat “an al- wat wa al-aqd” yang bermakna bersetubuh, berkumpul dan akad.

Perkawinan adalah hidup bersama dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat tertentu (Prodjodikoro, 1984). Kata nikah juga diartikan sebagai suatu perjanjian yang suci dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan membentuk keluarga yang kekal, santun menyantuni, kasih mengasihi, tentram dan bahagia (Abdullah, 1991).

Perkawinan juga berkomitmen membentuk atau mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. (Kompilasi Hukum Islam, 2015) Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang selanjutnya dikenal Undang-Undang Perkawinan, menyebutkan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami

istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya tujuan dari perkawinan adalah untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Syarifudin, 2007).

Pengertian perkawinan juga terdapat dalam undang-undang perkawinan, yaitu ikatan lahir batin antara pria dan wanita dalam membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Zahra, 2008). Sehingga dapat dilihat prinsip dari pada perkawinan merupakan kesadaran hukum agama dan keyakinan setiap warga negara Indonesia yaitu perkawinan harus dilakukan berdasarkan hukum agama dan kepercayaan masing-masing. Hal ini merupakan permasalahan yang penting dari perkawinan, regulasi negara menghendaki setiap perkawinan harus memenuhi administratif pemerintahan dalam bentuk pencatatan nikah untuk memenuhi kebutuhan hukum dan akibat hukum atas sebuah perkawinan. Artinya dalam suatu perkawinan baru dapat dikatakan sebagai perbuatan hukum apabila dilakukan menurut ketentuan hukum yang berlaku secara positif.

Melalui Pasal 2 ayat (1) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjelaskan tentang keabsahan sebuah perkawinan. Isi pasal tersebut menegaskan bahwa “perkawinan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”. Dengan demikian bagi warga Indonesia yang beragama Islam berlaku hukum perkawinan Islam.

Selanjutnya Dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku. Dengan demikian setiap perkawinan harus didaftar dan

(3)

3 dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN) di kantor pencatat nikah kecamatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Kondisi sangat berbeda dengan penerapan pasal 1 ayat (2) yang mengharuskan bahwa setiap perkawinan harus dicatatkan. Fenomena yang terjadi justru menunjukkan masih banyak terjadi perkawinan yang tidak tercatatkan dengan berbagai faktor dan alasan penyebabnya.

Padahal dengan melalui pencatatan sebagaimana dikehendaki pasal 2 ayat (2) tersebut eksistensi perkawinan dan keluarga mendapatkan jaminan kepastian dan perlindungan hukum, perkawinan tanpa pencatatan akan berdampak ilegalnya sebuah perkawinan tentu saja dengan segala akibatnya. Sementara itu di dalam pasal 5 Kompilasi Hukum Islam ditegaskan “Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus di catat” (Abdurrahman, 2010).

Perkawinan yang tidak dicatatkan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku sering disebut dengan kawin siri.

Dimaksudkan dengan kawin siri di sini adalah perkawinan yang sah yang dilaksanakan sesuai dengan rukun dan syarat perkawinan yang dituntut menurut ketentuan agama (sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat (1) Undang-undang perkawinan, akan tetapi perkawinan tersebut tidak dicatatkan sebagaimana dikehendaki pada apas 2 ayat (2) Undang- undang perkawinan karena ada suatu tertentu. Sebutan lain dari kawin siri ini adalah nikah di bawah tangan.

Fenomena yang terjadi di tengah masyarakat menunjukkan bahwa kawin siri sering terjadi dengan berbagai alasan dan faktor penyebabnya, begitu pula dengan berbagai problem yang ditimbulkannya. Akibat dari sebuah perkawinan yang tidak tercatat yang terkait dengan anak yang dilahirkan, sang anak akan mengalami diskriminasi pemenuhan dan perlindungan hak

anaknya yang mencakup relasi dalam hukum keluarga, termasuk hak-hak anak atas pelayanan sosial, pendidikan dan pencatatan kelahiran.

Salah satu konsekuensi yuridis yang paling menonjol adalah terkait anak.

Faktanya, masih banyak anak yang lahir dari Perkawinan yang tidak dicatatkan mengalami diskriminasi pemenuhan dan perlindungan hak anak, mencakup relasi dalam hukum keluarga. Selain itu, hak-hak anak atas pelayanan sosial dan pendidikan pun akan berbeda. Hal lain yang paling menonjol adalah anak yang dilahirkan dalam Perkawinan yang tidak dicatatkan akan memiliki akta kelahiran di luar kawin.

Demikian juga perkawinan tidak tercatat berdampak buruk kepada perempuan sebagai istri, kedudukan perempuan sebagai istri menjadi tidak diakui oleh negara. Seorang istri berada pada posisi yang sangat lemah dan dirugikan, sebagai seorang istri tidak mendapat jaminan dan perlindungan atas hak-haknya dalam perkawinan.

Ketentuan hukum yang mengatur mengenai tata cara perkawinan yang dibenarkan oleh hukum adalah seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan PP Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, sehingga perkawinan ini akan berakibat hukum yakni akibat yang mempunyai hak mendapatkan pengakuan dan perlindungan hukum (Salim, 2010).

Peraturan ini kemudian bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang berkualitas, berakhlak mulia, Bahagia dan sejahtera serta memberikan perlindungan bagi masyarakat di Kota Binjai dari terjadinya perceraian.

Prinsip pencatatan perkawinan yang diatur dalam regulasi tersebut adalah untuk menjaga hak-hak bagi suami istri jika terjadi penyimpangan dalam perkawinan. Keterlibatan Pegawai

(4)

4 Pencatat Nikah dalam suatu perkawinan yang kapasitasnya sebagai pegawai atau pejabat yang diangkat oleh pemerintah dengan tugas untuk mengawasi perkawinan dan mencatatnya.

Berdasarkan regulasi tersebut, maka setiap perkawinan harus dicatat untuk mewujudkan tujuan hukum yaitu terwujudnya ketertiban, kepastian dan perlindungan hukum bagi masyarakat dalam bidang perkawinan (Basyir, 1996).

Sayangnya, masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran yang cukup tinggi untuk mencatatkan Perkawinan mereka, meski mereka telah menikah secara sah menurut agama atau kepercayaan yang dianut. Hal ini terlihat dari fenomena yang terjadi di masyarakat bahwa mereka kerap menganggap Perkawinan yang sah menurut agama sudah cukup tanpa adanya pencatatan.

Bagi mereka, Perkawinan mereka tersebut adalah sah. Pandangan ini bukan hanya terdapat pada masyarakat kalangan bawah, melainkan juga masyarakat kalangan atas. Contohnya, pasangan Ahmad Dhani dan Mulan Jameela, Amar Zoni dan Irish Bella, hingga Bambang Trihatmodjo dan Mayangsari masih diberitakan belum melakukan pencatatan perkawinan hingga tahun 2019. (Marwin, 2014). Hal ini menunjukkan minimnya kesadaran pasangan-pasangan untuk melakukan pencatatan perkawinan bukan hanya terdapat di masyarakat kalangan bawah, melainkan juga masyarakat kelas atas.

Di kondisi yang sama terjadi pada masyarakat Kelurahan Nangka Kota Binjai.

Menurut Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Binjai Utara, Bapak Misnan menyebutkan setidaknya ada 8 (delapan) warga muslim di Kelurahan Nangka yang melangsungkan perkawinan tanpa mencatatkannya di KUA. Untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di Kelurahan Nangka mengenai pencatatan perkawinan, maka

upaya yang dilakukan Kelurahan dan Kantor Urusan Agama adalah sebagai dengan memasang baliho dan spanduk di setiap perbatasan dusun dan pasar-pasar, serta di tempat-tempat terbuka yang dianggap sering menimbulkan keramaian, sekaligus mengedukasi mengenai pentingnya melakukan pencatatan pekawinan, menginisiasi pencatatan perkawinan bagi masyarakat muslim yang belum mencatatkan perkawinannya di Kelurahan Nangka Kecamatan Binjai Utara di KUA setempat.

Pencatatan perkawinan ini penting diteliti untuk mengetahui sejauh mana urgensinya dan memberikan pemahaman dan wawasan bagi masyarakat terkait perlindungan hukum terhadap perkawinan. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat tentang pentingnya pencatatan perkawinan dengan tujuan tercapainya keabsahan perkawinan, tertib administrasi dan kepastian hukum.

Urgensi dari pencatatan perkawinan ini sangat penting agar perkawinan yang dijalani setiap pasangan mempunyai bukti outentik sehingga dapat mencengah konflik di kemudian hari dan pengakuan anak keturunan yang dilahirkan pasangan perkawinan dapat terjamin. Apabila suatu perkawinan dilaksanakan tidak di depan pegawai pencatat nikah bisa berdampak dimana anaknya sulit untuk mendapatkan akta kelahiran, terjadinya konflik menuntut warisan dan berbagai permasalahan yang dapat merugikan anak dikemudian hari. Bila ini yang terjadi pihak yang berkepentingan mengadu nasibnya ke Pengadilan Agama untuk diisbatkan nikahnya agar nikahnya menjadi resmi dan sah dimata hukum negara.

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan analisa dan gambaran tentang betapa pentingnya arti pencatatan dalam perkawinan, dan menjelaskan terkait dengan problem yang terjadi sebagai dampak negatif dari praktik perkawinan siri yang tidak dicatatkan.

(5)

5 METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif yang berusaha menemukan urgensi pencatatan perkawinan pada masyarakat. Sedangkan pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang (statute approach), dan pendekatan konseptual (conseptual approach). (Marzuki, 2016).

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian normatif dengan sumber bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat, dan terdiri dari kaidah dasar yaitu UUD NRI Tahun 1945, Burgerlijk Wetboek, Undang-undang No. 1 Tahun 1974, Kompilasi Hukum Islam dan peraturan lainnya yang berkaitan dengan obyek kajian. Sedangkan bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer dan diperoleh penelitian kepustakaan dan dokumentasi yang sesuai dengan obyek yang dikaji. Bahan hukum yang telah dikumpulkan, kemudian dianalisis secara kualitatif berdasarkan pemaparan teori, asas yang ada secara logis untuk menemukan hasil ilmiah yang bersifat deskriptif.

Penelitian hukum normatif meneliti kaidah atau peraturan hukum sebagai suatu bangunan sistem yang terkait dengan suatu peristiwa hukum. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk memberikan argumentasi hukum sebagai dasar penentu apakah suatu peristiwa telah benar atau salah serta bagaimana sebaiknya peristiwa itu menurut hukum.

Seluruh bahan hukum dikumpulkan dengan menggunakan Teknik studi kepustakaan (Library research) dengan alat pengumpulan data berupa studi dokumen dari berbagai sumber yang dianggap relevan (Mestika, 2008). Selain studi kepustakaan, diperlukan data primer sebagai data penunjang yang dikumpulkan melalui studi lapangan (field research) di Kantor Urusan Agama, Kelurahan Nangka,

Binjai Utara dengan Teknik wawancara mendalam (Indepth Interview) (Burhan, 2009).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaturan Hukum Pencatatan Perkawinan

Pencatatan perkawinan telah digulirkan sebagai masalah sejak awal dibentuknya Rancangan Undang-undang Perkawinan (RUUP) tahun 1973 yang menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019 untuk selanjutnya disebut UU 1/1974) hingga saat ini (Djubaidah, 2010). Hal ini terkait dengan pemaknaan hukum (legal meaning) pencatatan perkawinan dalam peraturan perundang-undangan perkawinan.

Ketentuan pencatatan perkawinan diatur dalam Pasal 2 UU 1/1974 yang menyatakan:

1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-

masing agamanya dan

kepercayaannya itu.

2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Dari ketentuan Pasal 2 UU 1/1974 jelas, setiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Artinya setiap perkawinan harus diikuti dengan pencatatan perkawinan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bila kedua ayat dalam Pasal 2 UU 1/1974 dihubungkan satu sama lainnya, maka dapat dianggap bahwa pencatatan perkawinan merupakan bagian integral yang menentukan pula kesahan suatu perkawinan, selain mengikuti ketentuan dan syarat-syarat perkawinan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

(6)

6 Disisi lain, pencatatan perkawinan bukanlah merupakan syarat sahnya perkawinan, melainkan hanya sebagai syarat kelengkapan administrasi perkawinan. Sahnya perkawinan dilakukan menurut cara berdasarkan aturan agama dan keyakinan kedua belah pihak yang melakukan perkawinan.

Perbuatan pencatatan perkawinan, bukanlah menentukan sah atau tidaknya suatu perkawinan. Pencatatan bersifat administratif, yang menyatakan bahwa peristiwa perkawinan itu memang ada dan terjadi. Dengan pencatatan itu perkawinan menjadi jelas, baik bagi yang bersangkutan maupun pihak-pihak lainnya. Suatu perkawinan yang tidak tercatat dalam Akta Nikah dianggap tidak ada oleh negara dan tidak mendapat kepastian hukum. Begitu pula segala akibat yang timbul dari perkawinan tidak dicatat itu (Marbuddin, 1978).

Tujuan pencatatan perkawinan ini untuk memberikan kepastian dan perlindungan bagi para pihak yang melangsungkan perkawinan, sehingga memberikan kekuatan bukti autentik tentang telah terjadinya perkawinan dan para pihak dapat mempertahankan perkawinan tersebut kepada siapapun di hadapan hukum (Witanto, 2012).

Sebaliknya dengan tidak dicatatnya perkawinan, maka perkawinan yang dilangsungkan para pihak tidak mempunyai kekuatan hukum dan bukti sebagai suatu perkawinan.

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), walaupun menegaskan kembali pentingnya pencatatan perkawinan, namun tidak terdapat formula yang menjadikan pencatatan perkawinan sebagai syarat formal untuk menentukan sah tidaknya ikatan perkawinan.

Setidaknya hal ini disebabkan KHI menghindari tuduhan dan kritik masyarakat Islam yang masih kuat menganut faham bahwa sahnya perkawinan tidak dibenarkan melebihi

syarat dan rukun yang diatur dalam kitab- kitab fiqih. Demi menghindar dari tindakan psikologis dan sosiologis tersebut, perumus KHI memilih jalan keluar, dengan memperinci satu persatu fungsi pencatatan perkawinan dalam berbagai pasal pada KHI (Marsal, 2015).

Meskipun perkawinan termasuk dalam lingkup keperdataan, namun negara wajib memberikan jaminan kepastian hukum dan memberikan perlindungan hukum kepada pihak-pihak yang terkait dalam perkawinan (suami, istri dan anak) terutama dalam hubungannya dengan pencatatan administrasi kependudukan terkait dengan hak keperdataan dan kewajibannya. Oleh karena itu pencatatan tiap-tiap perkawinan menjadi suatu kebutuhan formal untuk legalitas atas suatu peristiwa yang dapat mengakibatkan suatu konsekuensi yuridis dalam hak-hak keperdataan dan kewajibannya seperti kewajiban memberi nafkah dan hak waris.

Pencatatan perkawinan dinyatakan dalam suatu akte resmi (akta otentik) dan dimuat dalam daftar pencatatan yang dikeluarkan oleh Lembaga yang memiliki kewenangan.

Melihat pada teori hukum perkawinan merupakan suatu peristiwa hukum yang dapat dikatakan sebagai perbuatan hukum, serta akan mempunyai akibat yang diakui dan dilindungi oleh hukum (Dirojosworo, 1994). Terkait dengan prinsip pencatatan perkawinan, Angka 4 huruf b Penjelasan Umum atas UU 1/1974 menyatakan sebagai berikut:

“Dalam Undang-undang ini dinyatakan, bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-

(7)

7 surat keterangan, suatu akte resmi yang juga dimuat dalam pencatatan”.

Dari keterangan di atas jelas, bahwa pencatatan perkawinan merupakan rangkaian pelaksanaan perkawinan. Oleh karena itu pencatatan perkawinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan perkawinan yang bersangkutan, yaitu menentukan keabsahan suatu perkawinan sebagai suatu perbuatan hukum. Berdasarkan ketentuan Pasal 11 PP 9/1975 tersebut, jelas bahwa setiap perkawinan wajib dilakukan pencatatan di hadapan pegawai pencatat perkawinan yang dibuktikan dengan akta perkawinan.

Dengan demikian dalam konteks dan berdasarkan UU 1/1974, pencatatan perkawinan merupakan syarat formal yang harus dilaksanakan agar suatu perkawinan diakui keabsahannya sebagai perbuatan hukum yang harus dijamin dan dilindungi oleh negara. Pelaksanaan pencatatan perkawinan tersebut, baru

dapat dilakukan sesudah

dilangsungkannya perkawinan secara agama atau kepercayaan agamanya calon mempelai.

Sejak dilangsungkannya perkawinan, maka sejak saat itu menjadi tetaplah kedudukan laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai isteri, dan sejak saat itu pula suami dan isteri memperoleh hak- hak dan kewajiban-kewajiban tertentu dalam ikatan perkawinan (Hamid, 1976).

Hak dan kewajiban suami dan isteri dalam perkawinan adalah setara (seimbang atau sama). Hal tersebut dapat dilihat antara lain dalam ketentuan Pasal 31 UU Perkawinan yang menyatakan bahwa hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat, dan masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

Akibat hukum yang timbul dari perkawinan hanya dapat diperoleh apabila

perkawinan dilakukan secara sah, yaitu memenuhi ketentuan Pasal 2 Ayat (1) dan Ayat (2) UU Perkawinan, yaitu dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya, serta dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengaturan yang demikian menunjukkan adanya ketentuan yang tegas yang harus dipatuhi oleh seorang pria dan seorang wanita yang melangsungkan perkawinan, sehingga dengan dipenuhinya ketentuan tersebut diatas maka perkawinan tersebut akan diakui dan mempunyai kekuatan hukum yang sah.

Urgensi dan Pelaksanaan Pencatatan Perkawinan di Kelurahan Nangka Binjai Utara

Pencatatan perkawinan bagi masyarakat muslim dilaksanakan pada Kantor Urusan Agama (KUA). Kantor Urusan Agama (disingkat KUA) adalah kantor yang melaksanakan sebagian tugas kantor Kementerian Agama Indonesia di kabupaten dan kotamadya di bidang urusan agama Islam dalam wilayah kecamatan. Berdasarkan Keputusan Manteri Agama Nomor 517 Tahun 2001 Tentang Penataan Organisasi Kantor Urusan Agama Kecamatan, bahwa tugas KUA Kecamatan adalah melaksanakan sebagian tugas Kantor Kementerian Agama Kota/Kabupaten di bidang Urusan Agama Islam di Wilayah Kecamatan. Dalam melaksanakan tugasnya, maka Kantor Urusan berfungsi sebagai:

1. Penyelenggara statistik dan dokumentasi.

2. Penyelenggara surat menyurat, kearsipan, pengetikan, dan rumah tangga Kantor Urusan Agama Kecamatan.

3. Pelaksana pencatatan pernikahan, rujuk, mengurus dan membina masjid, zakat, wakaf, baitul maal dan ibadah sosial, kependudukan dan pengembangan keluarga

(8)

8 sakinah sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Dirjen Bimas Islam berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk persyaratan umumnya adalah mendaftar ke KUA dengan membawa sejumlah dokumen serta persyaratan nikah. Permenag Nomor 20 Tahun 2019, berikut adalah syarat nikah yang harus diketahui oleh calon pengantin:

1. Surat pengantar nikah dari kelurahan/kepala desa tempat tinggal calon pengantin.

2. Foto kopi kartu tanda penduduk/resi surat keterangan telah melakukan perekaman kartu tanda penduduk elektronik bagi yang sudah berusia 17 tahun atau sudah pernah melangsungkan nikah.

3. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) calon pengantin.

4. Fotokopi KTP dan Kartu Keluarga (KK) wali dan 2 orang saksi.

5. Fotokopi akta kelahiran dan ijazah terakhir atau surat keterangan kelahiran yang dikeluarkan oleh desa atau kelurahan setempat.

6. Surat pernyataan belum menikah bermaterai.

7. Pas foto berwarna ukuran 2×3 sebanyak 4 lembar dan 4×6 sebanyak 2 lembar dengan latar biru.

8. Surat rekomendasi nikah dari KUA Kecamatan setempat bagi calon pengantin yang melangsungkan nikah di luar wilayah kecamatan tempat tinggalnya.

9. Persetujuan kedua calon pengantin.

10. Izin tertulis orang tua atau wali bagi calon pengantin yang belum mencapai usia 21 tahun.

11. Izin dari wali yang memelihara atau mengasuh atau keluarga yang mempunyai hubungan darah atau pengampu, dalam hal kedua orang

tua atau wali meninggal dunia atau dalam keadaaan tidak mampu menyatakan kehendaknya.

12. Izin dari pengadilan, dalam hal orang tua, wali, dan pengampu tidak ada.

13. Dispensasi dari pengadilan bagi calon suami yang belum mencapai usia sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

14. Surat izin dari atasan atau kesatuan jika calon mempelai berstatus anggota tentara nasional Indonesia atau kepolisian Republik Indonesia.

15. Penetapan izin poligami dari pengadilan agama bagi suami yang hendak beristri lebih dari seorang.

16. Akta cerai atau kutipan buku pendaftaran talak atau buku pendaftaran cerai bagi mereka yang perceraiannya terjadi sebelum berlakunya UU Nomor 7 Tahun 1989.

17. Akta kematian atau surat keterangan kematian suami atau istri dibuat oleh lurah atau kepala desa atau pejabat setingkat bagi janda atau duda ditinggal mati.

Setelah syarat telah terpenuhi dan tidak adanya halangan menurut undang – undang maka perkawinan dapat dilangsungkan setelah administrasi di KUA diselesaikan. Pelaksanaan perkawinan dilaksanakan setelah 10 (sepuluh) hari kerja sejak pendaftaran dan syarat terpenuhi. Namun sebagaimana undang – undang mengatur tentang syarat tersebut, Undang - Undang perkawinan tidak mengatur perihal tentang rukunnya dalam perkawinan. Amir Syarifuddin berpendapat bahwa mungkin Undang – Undang perkawinan menempatkan akad perkawinan itu sebagaimana perjanjian atau kontrak biasa dalam tindakan perdata (Syarifuddin, 2007).

Pada perkembangan zaman saat ini, masyarakat tidak memperhatikan tentang

(9)

9 hal tersebut. Mengatur atau tidaknya undang–undang terkait rukun, masyarakat lebih cenderung berpikir akan keabsahan perkawinan. Syarat yang diberikan negara untuk perkawinan sebagai syarat administratif saja sudah membuat sibuk masyarakat dalam pemenuhan syarat pencatatan perkawinan agar dianggap sah secara hukum agama maupun hukum negara.

Skema Prosedur Pencatatan Perkawinan

Selain persyaratan nikah, calon mempelai juga harus mengetahui mengenai prosedur pernikahan secara resmi tercatat oleh negara melalui Kantor Urusan Agama (KUA). Pasangan calon pengantin harus memenuhi syarat pendaftaran terlebih dahulu. Setelah dokumen persyaratan nikah lengkap, calon pengantin mendaftar ke KUA dan KUA akan memverifikasi dokumen tersebut terlebih dulu.

Setelah terverifikasi, jika calon pengantin bakal menikah di luar KUA/di luar jam kerja, maka calon pengantin akan

menerima lembar pembayaran biaya nikah ke Bank yang ditunjuk dengan membawa kode pembayaran dari KUA dengan biaya nikah Rp 600 ribu. Dianjurkan mengikuti bimbingan perkawinan (konsultasikan dengan KUA setempat). Setelah pelaksanaan akad nikah, penghulu dari KUA setempat akan menyerahkan buku nikah resmi ke mempelai. Itulah dokumen sebagai persyaratan nikah dan prosedur daftar nikah di KUA agar pernikahan dapat tercatat secara negara.

Dalam hukum Indonesia memang tidak dikenal perkawinan beda agama. UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menetapkan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Dalam konteks itu, ada pembagian tugas, KUA melakukan pencatatan bagi pernikahan Muslim, lainnya dilakukan di Kantor Catatan Sipil.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, mengatur bahwa pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam, dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan pada Kantor Catatan Sipil sebagaimana dimaksud dalam berbagai perundang-undangan mengenai pencatatan perkawinan.

Demikianlah prosedur pencatatan perkawinan menurut undang-undang perkawinan dan Peraturan Menteri Agama yang harus dilalui bagi setiap calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan sesuai dengan perundang- undangan yang berlaku. Namun yang terjadi di lapangan belum sesuai dengan apa yang ada dalam Peraturan Perundang- undangan, masih banyak masyarakat yang kurang mengerti tentang prosedur pemberitahuan kehendak nikah.

Pemohon mengisi permohonan N1 dan N4 dari

Kelurahan

Pemohon mengisi formular pengajuan pencatatan perkawinan di

Dukcapil Kota Binjai dan menyerahkan

berkas persyaratan

yang telah ditentukan.

Setelah berkas lengkap dan

diverifikasi petugas penerima berkas maka

diterbitkan pengumuman

perkawinan oleh Dukcapil

Kota Binjai kepada Lurah tempat domisili

pemohon

Jika dalam 10 hari tidak ada sanggahan maka

pencatatan perkawinan bisa

dilaksanakan

(10)

10 Saat ini di Indonesia sejak berlakunya undang–undang perkawinan, setiap perkawinan harus dicatatkan. Kewajiban pencatatan itu diberikan oleh negara agar tidak terjadinya pelanggaran–pelanggaran terhadap wanita dan anak yang dihasilkan dari perkawinan, hal ini selaras dengan prinsip hukum perdata “win win solutions”

yang mengedepankan kepuasan diantara pihak.

Realitasnya, di antara warga negara Indonesia banyak yang tidak mencatatkan perkawinannya kepada Pegawai Pencatat Nikah (PPN), seperti yang terjadi pada masyarakat muslim di Kelurahan Nangka, Binjai Utara masih terdapat sebanyak 8 (delapan) pernikahan yang tidak dicatatkan ke Kantor Urusan Agama Binjai Utara (Misnan, 2021). Perkawinan yang dilakukan oleh mereka hanya memenuhi tuntutan agamanya tanpa memenuhi tuntutan administratif. Salah satu sebabnya adalah karena ketidaktegasan hukum pencatatan perkawinan. Akibatnya, perkawinan mereka tidak mendapatkan akta nikah, sehingga suami atau istri tidak dapat melakukan tindakan hukum keperdataan berkaitan dengan rumah tangganya. Anak-anak yang dilahirkannya hanya diakui oleh negara sebagai anak di luar kawin yang hanya memiliki hubungan keperdataan dengan ibu dan keluarga ibunya. Implikasinya, jika seorang istri dan anaknya ditelantarkan oleh suami atau ayah biologisnya, maka tidak dapat melakukan tuntutan hukum baik pemenuhan hak ekonomi maupun harta kekayaan milik bersama.

Mengetahui hubungan perkawinan seseorang dengan pasangannya mungkin akan sulit bila perkawinan itu tidak tercatat. Terutama bila terjadi sengketa mengenai sah tidaknya anak yang dilahirkan, hak dan kewajiban keduanya sebagai suami istri. Bahkan dengan tidak tercatatnya hubungan suami istri itu, sangat mungkin salah satu pihak berpaling dari tanggung jawabnya dan menyangkal

hubungannya sebagai suami istri (Kuzari, 1995).

Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah masyarakat daerah kecil sering kali kurang pemahaman mengenai masalah- masalah mengenai permasalahan hukum yang sebenarnya penting untuk menjaga dirinya di masa depan. Salah satu yang kurang di perhatikan masyarakat daerah kecil atau pedesaan adalah legalitas pencatatan pernikahan. Masih banyak masyarakat di daerah-daerah terpencil yang belum melakukan pencatatan pernikahan sehingga hal tersebut dapat menimbulkan konflik di masyarakat.

Kegiatan sosilasisasi atau penyuluhan hukum yang dilaksanakan oleh Kelurahan dan Kantor Urusan Agama Binjai Utara bekerjasama dengan Instansi terkait sebagai bentuk upaya untuk memberikan edukasi pada di Kelurahan Nangka Binjai Utara terkait dengan pentingnya pencatatan perkawinan bagi masyarakat Muslim, terkhusus di Kelurahan Nangka, Binjai Utara.

Berdasarkan aturan tentang pencatatan perkawinan yaitu Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Peraturan Menteri Agama No. 11 tahun 2007 tentang pencatatan perkawinan sampai saat ini masih terdapat praktik perkawinan yang tidak dicatat, hal tersebut disebabkan oleh adanya paradigma yang tumbuh pada beberapa masyarakat tentang ketidak pahaman tentang akibat hukum yang ditimbulkan oleh peristiwa hukum yaitu perkawinan.

Hal tersebut banyak ditemukan di beberapa daerah, termasuk yang saat ini menjadi perhatian untuk diteliti yaitu wilayah Kecamatan Binjai Utara. Hal tersebut dibenarkan oleh pihak berwenang yaitu Kantor Urusan Agama setempat bahwa masih adanya praktik perkawinan tidak dicatatkan (Misnan, 2021). Sehingga perkawinan sendiri sangat rentan dalam

(11)

11 hal pelaksanaannya di masyarakat dalam hal mencatatkan perkawinannya yang menyebabkan perkawinan tersebut sah secara agama atau tidak diakui oleh hukum.

Praktek perkawinan tidak dicatatkan yang saat ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia tidak lepas dari pengaruh tradisi Islam kuno di negara- negara Jazirah Arab. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan pemahaman di Indonesia. Bahkan istilah nikah siri berkembang dan di Indonesiakan menjadi kawin bawah tangan atau nikah siri meski antara istilah kawin siri dan kawin bawah tangan tidak selalu sama (Amin, 2015).

Perkawinan tidak dicatat atau juga disebut dengan pernikahan siri adalah pernikahan/perkawinan yang dilaksanakan dengan memenuhi syarat dan rukun pernikahan yang terdapat dalam syariat Islam tetapi tanpa dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah sehingga pernikahan tersebut tidak memiliki bukti otentik berupa Akta Perkawinan sebagaimana diatur dalam perundang- undangan yang berlaku. Dalam bahasa yang lebih sederhana adalah bahwa perkawinan tidak dicatat memiliki keabsahan menurut hukum agama, khususnya Islam, namun illegal menurut hukum Indonesia (Lathif, 2011).

Perkawinan tidak tercatat yang biasa disebut ’kawin siri’ dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah kenyataan yang wajar, alasannya mulai dari mahalnya biaya pencatatan nikah sampai karena alasan personal yang yang harus dirahasiakan. Beberapa fakta dapat ditemukan berkaitan perkawinan tersebut, yaitu:

Pernikahan tidak tercatat yang dilakukan oleh masyarakat umum tanpa adanya wali. Pernikahan semacam ini dilakukan secara rahasia (siri) dikarenakan pihak wali perempuan tidak setuju atau karena tidak bisa menghadirkan wali dari pihak perempuan.

Kehadiran saksi bisa saja, tetapi tetap belum memenuhi syarat dan rukun sahnya perkawinan. Dan tentu saja perkawinan seperti ini tidak dilakukan dan dicatat di hadapan pegawai pencatat nikah.

Perkawinan yang sah secara agama (memenuhi syarat dan rukun) namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Hasil yang didapatkan dalam penelitian yang telah dilakukan pada Masyarakat di Kelurahan Nangka Binjai Utara adalah masih ada masyarakat yang kurang memahami pentingnya pencacatan perkawinan secara sah dan legal dimata hukum, sehingga masih ada masyarakat yang melangsungkan perkawinan dan tanpa mencatatkan perkawinannya di Kantor Urusan Agama tersebut. Kesadaran masyarakat akan pentingnya Pencatatan Perkawinan dan Edukasi mengenai Pencatatan Perkawinan yang harus dilaksanakan ketika melaksanakan Perkawinan. Masyarakat kurang memahami bagaimana prosedur pencatatan perkawinan dan akibat apabila suatu perkawinan tidak dicatatkan.

Upaya yang dilakukan pihak Kantor Urusan Agama Kecamatan Binjai Utara dalam menanggulangi efektifitas pencatatan perkawinan adalah sebagai berikut: Melakukan koordinasi kerja dengan setiap Lurah/Kepala Desa yang ada di wilayah Kecamatan Binjai Utara, koordinasi kerjanya adalah berupa rapat mingguan untuk sosialisasi, penyuluhan dan bimbingan pada masyarakat Kecamatan Binjai Utara mengenai betapa pentingnya suatu pernikahan dicatat dan dihadiri oleh Pegawai Pencatat Nikah atau petugas lain yang ditunjuk. Penyuluhan dan bimbingan ini ditujukan untuk remaja yang akan melangsungkan pernikahan dan orang tua yang dilakukan dalam setiap kesempatan acara ditingkat Kelurahan/Desa.

(12)

12 Pencatatan perkawinan oleh masyarakat Muslim sangat penting dilaksanakan untuk menciptakan pastinaan hukum. Sesuai dengan teori Kepastian Hukum, kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan. Walaupun kepastian hukum erat kaitannya dengan keadilan, namun hukum tidak identik dengan keadilan. Hukum bersifat umum, mengikat setiap orang, bersifat menyamaratakan, sedangkan keadilan bersifat subyektif, individualistis, dan tidak menyamaratakan (Sudikno, 2007). Berdasarkan teori tersebut hukum akan memberikan kepastian bagi para masyarakat yang mencatatkan perkawinannya sehingga sah di mata hukum atas perkawinan tersebut.

Sebaliknya, jika peraturan tidak dilaksanakan dengan baik dengan kata lain suatu perkawinan tidak dicatatkan maka menurut hukum tidak berhak memperoleh haknya sebagai pasangan dalam suatu perkawinan.

SIMPULAN

Pencatatan perkawinan bertujuan untuk memberikan kepastian dan perlindungan bagi para pihak yang melangsungkan perkawinan, sehingga memberikan kekuatan bukti autentik tentang telah terjadinya perkawinan dan para pihak dapat mempertahankan perkawinan tersebut kepada siapapun di hadapan hukum. Ketentuan pencatatan perkawinan diatur Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang terdapat dalam Pasal 2 dimana setiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Artinya setiap perkawinan harus diikuti dengan pencatatan perkawinan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

pencatatan perkawinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

pelaksanaan perkawinan yang bersangkutan, yaitu menentukan keabsahan suatu perkawinan sebagai suatu perbuatan hukum. Berdasarkan ketentuan Pasal 11 PP 9/1975 tersebut, jelas bahwa setiap perkawinan wajib dilakukan pencatatan di hadapan pegawai pencatat perkawinan yang dibuktikan dengan akta perkawinan.

Pada masyarakat di daerah-daerah terpencil yang belum melakukan pencatatan pernikahan sehingga hal tersebut dapat menimbulkan konflik di masyarakat. Pada masyarakat di Kelurahan Nangka Binjai Utara masih terdapat 8 (delapan) warga yang belum mencatatkan perkawinannya pasca perkawinan tersebut dilangsungkan pada tahun 2021. Kelurahan dan Kantor Urusan Agama memberikan himbauan kepada masyarakat yang belum mencatatkan perkawinannya untuk segera dicatat demi terciptanya kepastian hukum terhadap perkawinan tersebut. Edukasi kepada masyarakat mengenai pencatatan perkawinan membuat masyarakat sadar akan pentingnya melaksanakan pencatatan perkawinan untuk mencengah timbulnya konflik dan hal yang dapat merugikan kedua belah pihak di masa yang akan dating sebagai penanggulangan terhadap urgensi pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama, Binjai Utara. Faktor penghambat pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Binjai Utara antara lain seperti kurangnya pengetahuan masyarakat tentang akibat perkawinan yang tidak dicatatkan karena kebanyakan penduduk yang berpendidikan rendah, banyaknya asumsi masyarakat yang menilai perkawinan yang dicatatkan oleh Pegawai Pencatat Nikah itu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit atau mahal.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. 2010. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Akademika Pressindo.

(13)

13 Amin, Ma’ruf. Ketua Komisi Fatwa MUI

menggunakan istilah Kawin Bawah tangan untuk istilah Kawin Siri, suatu perkawinan antara pasangan Muslim yang tidak dicatatkan melalui Pegawai Pencatat Nikah di KUA tetapi tetap sah sepanjang memenuhi syarat dan rukun perkawinan berdasarkan syariat Islam. Lihat penjelasannya pada www.Hukumonline.com/berita/baca/hol15 651/pencatatan-nikah-akan-memperjelas- status- hukum,.

Basyir, Ahmad Azhar. 1996. Hukum Perkawinan Islam. Cet. 8; Yogyakarta: Fakultas Hukum UUI.

BNPB. 2015. Pedoman Operasional Kegiatan Tim Pendamping Nasional. Jakarta: BNPB. Dilla, Sumadi. (2007). Komunikasi Pembangunan Pendekatan Terpadu. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Bungin, Burhan. 2009. Penelitian Kualitatif, Jakarta:

Kencana.

Dirojosworo, Soedjono. 1994. Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Djubaidah, Neng, 2010, Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan Tidak Dicatat Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam, Jakarta: Sinar Grafika.

Hamid, Zahry. 1976. Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan UU Perkawinan di Indonesia. Yogyakarta: Bina Cipta.

Kuzari, Achmad. 1995. Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Lathif, Azharuddin. 2011. Seminar “Pelaksanaan Undang–Undang Perkawinan: Studi Tentang Perkawinan di Bawah Umur dan Perkawinan Tidak Tercatat di Malang Jawa Timur”.

Marhuddin. 1977/1978. Azaz dan Tatacara Perkawinan Menurut dan Dituntut oleh Undang-Undang Perkawinan, Banjarmasin:

Proyek Penerangan, Bimbingan dan Dakwah Agama Islam Kanwil Departemen Agama Provinsi Kalimantan Selatan.

Marzuki, P. M. 2016. Penelitian Hukum. Jakarta:

Prenadamedia Group.

Mertokusumo, Sudikno. 2007. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Liberty.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan diakses pada 21 Maret.

Prodjodikoro, Wiryono. 1984. Hukum Perkawinan di Indonesia, bandung: Sumur.

Salim, Nasruddin. 2004 “Isbat Nikah Dalam Kompilasi Hukum Islam (Tinjauan Yuridis, Filosofis Dan Sosiologis)”, dalam Mimbar Hukum Aktualisasi Hukum Islam No.

62 THN. XIV, Jakarta: Al Hikmah dan ITBINBAPERA Islam, Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan diakses pada 15 Maret 2021.

Soemiyati. 1986. Hukum Perkawinan Islam dan UU Perkawinan, Yogyakarta: Liberty.

Syarifudin, Amir. 2007. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media Group.

Wawancara dengan Misnan, Ketua Kantor Urusan Agama Binjai Utara, 2021.

Witanto, D. Y. 2012. Hukum Keluarga: Hak dan Kedudukan Anak Luar Kawin Pasca Keluarnya Putusan MK Tentang Uji Materiil UU Perkawinan, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia. Jakarta:

Yayasan Penyelenggara

Penterjemah/Pentafsiran Al-Qur’an, 1973.

Zahra, Abu dan Bani Ahmad Saebani. 2008. Fiqh Munakahat 1, Bandung: Pustaka Grafitika.

Zed, Mestika. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

“Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik

Pasal 43 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik

Pasal 29 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan (lembar negara Republik Indonesia tahun 1974 Nomor 1, tambahan lembaran negara Republik

Hal tersebut dituang dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ( UU Perkawinan ) dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, pelaksanaan

“Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Departemen Agama RI, 2004, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9, Tahun 1975, Serta Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta:

Peraturan Perundang-Undangan Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dan Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf f Indonesia, Undang-Undang

Terdapat syarat yang ditentukan pula dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang aturan pelaksaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 bahwa dalam mengajukan pencatatan