1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cara menerapkan gaya hidup sehat memang merupakan hal yang sangat penting untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Hidup akan sangat baik jika manusia dapat tetap berkaitan dengan kesehatan. Pada dasarnya menerapkan gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari adalah mencakup beberapa hal, yakni makanan, minuman, nutrisi dan juga olahraga yang diperlukan dalam keseharian hidup. Namun di masa sekarang banyak orang tidak lagi terlalu menganggap gaya hidup sehat sebagai hal yang penting, dengan gaya hidup saat ini yang semakin modern dan beberapa orang memilih makanan cepat saji (fast food) dan junkfood tentu akan sangat membahayakan kesehatan tubuh, terlebih jika tak diimbangi dengan olahraga yang teratur (Sufa, Christantyawati, & Jusnita, 2017). Pola Konsumsi adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah bahan makanan rata-rata per orang per hari, yang umum dikonsumsi masyarakat dalam jangka waktu tertentu (Kemenkes, 2018). Pola makan yang tidak sehat menyebabkan tidak adanya keseimbangan antara karbohidrat dan kandungan lain yang dibutuhkan oleh tubuh (Hariawan, Fathoni, & Purnamawati, 2019). Glukosa merupakan salah satu bentuk hasil metabolisme karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber energi utama yang dikontrol oleh insulin. Kelebihan glukosa diubah menjadi glikogen yang akan disimpan di dalam hati dan otot untuk cadangan jika diperlukan. Peningkatan kadar glukosa darah terjadi pada penderita
2
Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), Gula Darah Puasa Terganggu (GDPT) dan Diabetes Mellitus (DM) (Auliya, Oenzil, & Dia Rofinda, 2016). Diabetes melitus adalah penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula yang melebihi batas normal (P2PTM, 2019).
Saat ini penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia (PERKENI, 2015). Hasil riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi diabetes mellitus di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter pada umur ≥ 15 tahun sebesar 2 %. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan prevalensi diabetes mellitus pada penduduk ≥ 15 tahun pada hasil riskesdas tahun 2013 sebesar 1,5%.
Namun prevalensi diabetes mellitus berdasarkan pemeriksaan gula darah meningkat dari 6,9 pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018. Angka ini menunjukkan bahwa baru sekitar 25 % penderita diabetes melitus yang mengetahui bahwa dirinya menderita diabetes mellitus. Hampir semua provinsi menunjukkan peningkatan prevalensi pada tahun 2013-2018 kecuali provinsi Nusa Tenggara Timur. Terdapat 4 provinsi dengan prevalensi tertinggi pada tahun 2013 dan 2018, yaitu DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Timur. Terdapat beberapa provinsi dengan peningkatan prevalensi tertinggi sebesar 0,9 %, yaitu Riau, DKI Jakarta, Banten, Gorontalo, dan Papua Barat (P2PTM, 2019). Jika dilihat berdasarkan jumlah kunjungan kasus DM pada tahun 2019, didapatkan jumlah keseluruhan kunjungan pasien Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang pada bulan April – September 2019 adalah sebanyak 7368 pasien , dan 2463 diantaranya merupakan pasien DM (Medical Record RSU UMM, 2019). Mayoritas pasien penyandang DM di RSU UMM jika ditinjau dari segi usia adalah mereka dengan usia diatas 40
3
tahun, dan jika ditinjau dari jenis kelamin, lebih banyak berjenis kelamin wanita yaitu sebanyak 1380 orang, dan yang berjenis kelamin laki – laki sebanyak 1083 orang. Dari hasil pengambilan data masih banyak didapatkan gula darah dan hasil pemeriksaan HbA1C pasien masih diatas nilai normal. Dan pada saat dilakukan anamnesa sebagian besar mereka mengakui mengkonsumsi obat dengan teratur, istirahat cukup, dan makan 2-3 kali dalam sehari dengan jadwal yang tidak menentu dan tidak konsisten, dan juga mengkonsumsi cemilan diantara waktu makan mereka, diantaranya camilan dengan bahan dasar karbohidrat dan jajanan pasar, dan makanan yang berasal dari ubi - ubian.
Pola makan merupakan perilaku paling penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi. Hal ini disebabkan karena kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi akan mempengaruhi tingkat kesehatan individu dan masyarakat. Agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis atau penyakit tidak menular (PTM) terkait gizi, maka pola makan masyarakat perlu ditingkatkan ke arah konsumsi gizi seimbang (Kemenkes, 2018).
Pengendalian glukosa darah yang baik merupakan salah satu faktor penting dan telah terbukti menurunkan risiko komplikasi pada pasien penyandang DM (Kshanti et al., 2019). Motivasi dan dukungan dari konselor gizi juga diperlukan.
Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara edukasi gizi melalui perencanaan pola makan yang baik. Penderita DM biasanya cenderung memiliki kandungan gula darah yang tidak terkontrol. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa banyaknya pasien diabetes melitus yang tidak memperhatikan pola makannya. Tidak terkecuali di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang. Dengan mengacu pada jumlah penyandang DM dan banyaknya pasien yang tidak memperhatikan pola makan sehari – hari saat
4
dilakukan anamnesa maka menarik perhatian peneliti untuk meneliti hubungan pola makan dengan kadar gula darah pada pasien DM
1.2 Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan pola makan dengan kadar gula darah pasien Diabetes Melitus di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi hubungan pola makan dengan kadar gula darah pasien Diabetes Melitus di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pola makan pasien Diabetes Melitus di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Mengidentifikasi kadar gula darah pasien Diabetes Melitus di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Menganalisis hubungan pola makan dengan kadar gula darah pasien Diabetes Melitus di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang
5
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Layanan kesehatan
Memberikan informasi dan masukan mengenai pola makan dengan kadar gula darah pasien Diabetes Melitus. Sehingga dapat menjadi tambahan bahan masukan dalam pengambilan kebijakan dan tindakan.
1.4.2 Perkembangan Ilmu pengetahuan
Sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian tentang pola makan dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Melitus agar dapat dikembangkan.
1.5 Keaslian Penelitian
Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya antara lain adalah sebagai berikut : 1. Penelitian yang dilakukan oleh (Susanti & Bistara, 2018). Hubungan Pola
Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus. Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif untuk melihat hubungan antar variable. Teknik samplingnya menggunakan teknik Purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan di bulan Oktober sampai
November 2017. Besar sampel sebanyak 40 responden dengan kriteria inklusi berupa pasien yang terdaftar di Puskesmas Tembok Dukuh Surabaya, pasien penderita diabetes mellitus, dan pasien bersedia untuk menjadi responden penelitian. Data yang diperoleh dengan menggunakan lembar kuesioner dan observasi. Skala pengumpulan data ordinal dengan uji statistik menggunakan korelasi Spearman Rank (Spearman Rho p=0,000 (α=0,05)). Yang membedakan dengan penelitian ini adalah uji statistic menggunakan korelasi Pearson
6
2. Penelitian yang dilakukan oleh (Bataha, 2017). Hubungan Pola Aktivitas Fisik Dan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Pancaran Kasih Gmim Manado.
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian Deskriptif Analitik, dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu 75 responden .sampel diambil dengan Teknik pengambilan purposive sampling. Instrument penelitian yang digunakan, yaitu kuesioner pola aktivitas fisik dan kuesioner pola makan dan lembar observasi kadar gula darah.
Kuesioner berisi tentang pertanyaan 8 pertanyaan pola aktivitas fisik dan 7 pertanyaan pola makan dengan bobot 1 tidak pernah, 2 kadang-kadang dan 3 selalu. Sedangkan lembar observasi berupa hasil pengukuran kadar gula darah.
Yang membedakan dengan penelitian ini adalah variabel independen aktivitas fisik
3. Penelitian yang dilakukan oleh (Wahyuni, Ma’ruf, & Mulyono, 2019).
Hubungan Pola Makan Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Mellitus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik komparatif.
Jumlah populasi pederita diabetes mellitus di wilayah Bukit Pinang Samarinda berjumlah 60 orang dengan menggunakan sampling size calculator didapatkan jumlah sampel sejumlah 55 Orang. Namun yang memenuhi syarat didapatkan 50 responden (25 responden dengan pola makan baik dan 25 responden dengan pola makan tidak baik). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli- Agustus 2019 di Wilayah Bukit Pinang Samarinda. Data diuji menggunakan uji beda Mann-Whitney test. Yang membedakan dengan penelitian ini adalah metode penelitian dan uji statistik.