• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kondisi kesepian merupakan fenomena sosial bagi semua lapisan masyarakat, tanpa memandang batas usia atau status ekonomi. Sebagaimana dikatakan oleh Rokach (2004), “Loneliness is a universal phenomenon which is fundamental to being human”

(p. 25). Perlman dan Peplau (1984) dalam Loneliness Research: A Survey of Empirical Findings mendefinisikan kesepian sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi karena penurunan signifikan atas kualitas maupun kuantitas hubungan sosial seseorang. Kesepian adalah hal yang wajar dan biasa ditemui, namun sebagian orang masih memandang kesepian sebagai hal yang negatif karena perasaan menderita yang diakibatkannya (Killen, 1998). Menurut Rosenberg (2014), orang-orang merasa bahwa mereka akan dijauhi jika mengaku mengalami kesepian. Hal ini disebabkan oleh stigma yang diberikan oleh masyarakat pada orang yang kesepian sebagai sosok yang gagal dan tidak memenuhi standar tertentu untuk diterima dalam suatu kelompok sosial (Rokach, 2004). Jadi, tidak banyak orang yang mau mengakui kesepian yang dialaminya.

Menurut Ginting (2015), individu yang kesepian seringkali merasa bosan dan hampa hingga akhirnya berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan cara apapun, baik positif maupun negatif. Cara-cara negatif seringkali berujung pada usaha merusak diri seperti penyalahgunaan zat adiktif atau biasa disebut substance abuse (narkotik, alkohol, dan rokok, dll.), pola makan yang buruk, melakukan suatu aktifitas secara berlebihan (workaholic) serta usaha bunuh diri (Killen, 1998; Lopata, 1969; Qualter, dkk., 2013; Rokach, 2004). Individu yang kesepian juga tak jarang menunjukkan gejala fisik serta psikis seperti gangguan makan dan tidur, sakit kepala, mual, kekebalan tubuh yang menurun, perasaan sedih dan rendah diri, hilangnya motivasi dan gairah hidup, serta kecenderungan berlebihan untuk mencari perhatian dan mengecam diri sendiri (Adam, dkk., 2011; Burns, 1988; Peplau, 1985).

(2)

Penelitian bahkan membuktikan bahwa kesepian dapat menjadi penyebab kematian. Seperti dilansir dalam Tempo (2014), sebuah penelitian menunjukkan 14 persen kematian disebabkan oleh rasa sangat kesepian. Angka tersebut lebih tinggi daripada jumlah kematian yang diakibatkan obesitas. CNN Indonesia menambahkan, berdasarkan hasil penelitian Bringham Young University, kurangnya keberadaan teman di sekitar mampu membahayakan kesehatan seperti layaknya dampak yang diberikan oleh obesitas dan merokok 15 batang setiap harinya. Berdasarkan kutipan- kutipan tersebut, terlihat bahwa fenomena kesepian tidak bisa dibiarkan terjadi begitu saja.

Surabaya merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Fenomena pada kehidupan kota adalah adanya sifat kompetitif yang sangat besar, dan sifat hubungan antar personal yang lebih dititikberatkan pada pertimbangan keuntungan secara ekonomis (Sumardjito, n.d.). Karakter individualistis tersebut mampu meningkatkan kemungkinan seseorang merasa kesepian (Perlman & Peplau, 1981). Sehingga masyarakat Surabaya memiliki potensi mengalami kesepian.

Seringkali kondisi kesepian dikaitkan dengan masyarakat lansia, sayangnya kondisi ini tidak dirasakan oleh kelompok usia tertentu saja. Masa dewasa dini pun juga rentan untuk merasa kesepian. Bahkan, berdasarkan data dari Dispendukcapil Surabaya, kelompok penduduk terbanyak berdasarkan usia adalah kelompok penduduk masa dewasa dini. Masa dewasa dini adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai- nilai, kreativitas, dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru (Hurlock, 1990).

Kegiatan sosial pada masa dewasa dini sering sangat dibatasi karena berbagai tekanan pekerjaan dan keluarga. Sebagai akibatnya banyak orang dewasa muda mengalami apa yang oleh Erikson disebut “krisis isolasi,” yaitu masa kesepian karena terisolasi dari kelompok sosial (Hurlock, 1990, p.273). Masa dewasa dini mencakup usia 18 tahun hingga 40 tahun. Berdasarkan data di dispendukcapil.surabaya.go.id, golongan usia masyarakat Surabaya yang masuk dalam rentang 18-40 tahun terbagi menjadi berikut, 15-19 tahun, 20-24 tahun, 25-29 tahun, 30-34 tahun, 35-39 tahun, dan 40-44 tahun.

(3)

Sebuah riset telah dilaksanakan kepada masyarakat Surabaya usia 15 sampai 44 tahun sebanyak 208 responden. Riset tersebut menggunakan The UCLA Loneliness Test (Version 3) oleh DW Russel, yang disederhanakan oleh Psych Central. Hasilnya, tingkat kesepian tertinggi diraih oleh masyarakat dengan rentang usia 20–24 tahun.

Hasil tersebut tidak dipengaruhi oleh gender, karena setelah dikaji ulang, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara responden wanita dan pria.

Rasa kesepian tersebut harus diatasi dari dua pihak, yaitu dari dalam dan luar.

Sebagaimana diungkapkan oleh Becker-Phelps (2014), perasaan kesepian harus disadari dan diakui. Ketika seseorang berusaha melupakan atau mengabaikannya, hal itu justru akan memperburuk keadaan. Sebagaimana pepatah yang ada, disclosure is the beginning of recovery, ketika individu tersebut berhenti mengasihani diri sendiri dan memiliki keinginan untuk keluar dari zona nyaman, itu adalah langkah awal dari pemulihan. Individu itu sendiri adalah yang bertanggung jawab untuk mengatasi dari dalam, sedangkan dukungan keluarga dan teman akan membantu dari luar dan menemani selama proses pemulihan. “Keywords are awareness and caring.

Loneliness requires an awareness not a solution. There is no magical cure for loneliness; sometimes just being there is all that is necessary for the lonely individual”

(Killeen, 1998). Menurut Killeen (1998), satu-satunya cara untuk meringankan perasaan kesepian adalah dengan mendorong masyarakat untuk lebih peduli satu sama lain. Sebab tidak ada solusi dalam mengatasi kesepian, hanya bisa diringankan (Killeen, 1998). Kesimpulannya, perasaan kesepian ialah masalah kejiwaan yang serius (Russel, Peplau, dan Ferguson, 1978).

Permasalahan mengenai loneliness ini merupakan suatu permasalahan serius dan mendesak, namun belum ada perancangan yang membahas hal tersebut. Sehingga kampanye sosial mengenai loneliness ini menjadi menarik dan penting untuk dibuat, mengingat kebutuhan masyarakat. Kampanye sosial ini bertujuan untuk menyadarkan target audiens bahwa mereka merasa kesepian (loneliness) dan mengajarkan cara mengatasinya.

(4)

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana merancang kampanye sosial yang efektif mengenai pentingnya menyadari kondisi kesepian dan upaya mengatasinya bagi masyarakat usia 20 - 24 tahun?

1.3. Tujuan Perancangan

Untuk merancang kampanye sosial yang efektif mengenai pentingnya menyadari kondisi kesepian dan upaya mengatasinya bagi masyarakat usia 20 – 24 tahun.

1.4. Batasan Lingkup Perancangan

a. Proyek tugas akhir ini bertujuan untuk merancang kampanye sosial kreatif yang dapat mengedukasi masyarakat cara mengatasi kesepian melalui media cetak, media sosial dan ambient media.

b. Sasaran perancangan ini adalah masyarakat wanita dan pria, usia 20–24 tahun, kalangan SES A – C yang berdomisili di Kota Surabaya. Karena masyarakat usia 20-24 tahun mengalami kesepian dengan tingkat paling tinggi disbanding kelompok usia lainnya.

c. Tempat pelaksanaan kampanye akan dilakukan di daerah Surabaya.

d. Waktu penelitian dimulai dari bulan Juli 2016 hingga bulan Juni 2017

1.5. Manfaat Perancangan

a. Kampanye ini bisa dijadikan sebagai penerapan ilmu desain yang telah didapat pada bangku kuliah dalam kehidupan sehari-hari, dengan perancangan kampanye sebagai implementasinya. Mahasiswa juga jadi mengerti konsep kesepian serta cara mengatasinya, berhubung usia mahasiswa masuk ke dalam jangka waktu sasaran perancangan.

b. Bagi institusi (keilmuan Desain Komunikasi Visual), hasil kampanye tugas akhir ini adalah wujud penerapan ilmu Desain Komunikasi Visual dalam guna kemanfaatan di masyarakat secara langsung.

(5)

c. Bagi masyarakat, kampanye ini dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai konsep kesepian serta cara mengatasinya.

1.6. Definisi Operasional a. Kampanye Sosial

Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu” (dalam Venus 7).

b. Kesepian

Kesepian adalah suatu keadaan mental dan perasaan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya perasaan-perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain (Bruno dalam Dayakisni, 2003).

1.7. Metode Perancangan 1.7.1 Data yang Dibutuhkan a. Data Primer

Adalah data-data yang didapat dan dikumpulkan langsung dari survei lapangan dengan melakukan pengamatan terhadap perilaku sasaran perancangan terhadap permasalahan dan juga pihak-pihak terkait. Data primer yang lain diperoleh dari membaca literatur, buku serta media informasi lainnya.

b. Data Sekunder

Adalah data-data yang diperoleh dari observasi.

1.7.2 Metode Pengumpulan Data

Merupakan cara-cara yang dapat ditempuh dalam proses pengumpulan data untuk menunjang keakuratan perancangan dan promosi media komunikasi visual ini.

(6)

a. Observasi

Observasi dilakukan sebelum dan selama penelitian berlangsung yang meliputi mulai dari seluk beluk sasaran perancangan gambaran umum hingga kebiasaan, kondisi fisik, kondisi ekonomi dan kondisi sosial, yang berperan dalam objek penelitian. Pengamatan dibutuhkan untuk menunjang keakuratan dad ketepatan perancangan kampanye dan media serta promosi kepada target yang dituju untuk memperoleh penyelesaian permasalah sesuai tujuan yang ingin dituju. Metode observasi dilakukan untuk pengumpulan data primer. Data diperoleh secara langsung dari subyek penelitian baik perorangan, kelompok maupun organisasi yang terkait dengan masyarakat usia 18 – 34 tahun dalam hal pengertian konsep kesepian di Surabaya serta wawasan mengenai cara mengatasi kondisi kesepian.

b. Wawancara Mendalam (depth interview)

Untuk wawancara mendalam dilakukan secara langsung dengan informan secara terpisah di lingkungannya masing-masing. Wawancara dilakukan kepada sample yang benar-benar bersinggungan dan mengalami permasalahan untuk mengetahui informasi secara akurat. Selain itu akan dilakukan juga wawancara mendalam kepada para ahli serta komunitas yang memang bergelut di bidang psikologi. Metode wawancara mendalam dilakukan untuk pengumpulan data primer.

c. Metode Kepustakaan (Library Research)

Metode ini menjadikan literatur kepustakaan sebagai sumber acuan data yang dikumpulkan, berupa dasar-dasar teori, pengertian istilah-istilah asing, ilmu sosiologi dan psikologi.

d. Media Internet

Mencari informasi data sehubungan dengan respon kepedulian masyarakat usia 18 – 34 tahun tentang lingkungan sekitarnya melalui publikasi maupun program yang pernah dilakukan sebelumnya oleh media internet baik data lokal maupun internasional.

(7)

1.7.3 Alat / Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang akan digunakan dalam proses melakukan pengumpulan data yakni:

a. Wawancara : kertas, bolpen, recorder, dan laptop b. Observasi : kamera dan data storage

1.8. Metode Analisis Data

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan analisisi data kualitatif dengan metode 5W + 1H. Analisis data kualitatif adalah metode analisis data yang bersifat deskriptif, dengan meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa dengan tujuan untuk membuat diskripsi atau gambaran mengenai fakta-fakta atau sifat-sifat hubungan antar fenomena yang diselidiki. Dengan mengolah data-data yang diperoleh maka akan teridentifikasi tingkah laku apa saja yang mereka miliki dan bagaimana cara untuk melakukan pendekatan yang tepat dan efektif. Data kualitatif ini diukur secara tidak langsung seperti keterampilan, aktifitas, sikap, dan sebagainya (Marzuki, 55).

5W + 1H adalah metode yang menganalisa jawaban atas apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana kepada permasalahan yang ada. Dengan metode ini diharapkan dapat memberi kejelasan terhadap permasalahan yang ada dan mempermudah untuk mencari solusinya.

1.9. Konsep Perancangan

Rancangan ILM ini dikemas dalam bentuk kampanye edukasi kepada masyarakat agar mereka dapat mengetahui lebih banyak mengenai konsep kesepian serta cara mengatasinya. Perancangan visual dilakukan menggunakan pendekatan- pendekatan yang dapat dimengerti dengan jelas oleh sasaran, seperti ambient media, media cetak, dan media sosial. Ambient media adalah media baru dalam beriklan yang mampu menyinergikan pesan dan pengalaman khalayak konsumen, sehingga khalayak dapat langsung merasakan kebenaran pesan yang disampaikan. Media ini mampu

(8)

menciptakan atmosfer yang melingkupi target audience dan berkomunikasi secara interaktif sehingga strategi yang diberikan harus tepat. Setelah target audience merasakan ambient media tersebut, mereka akan diarahkan menuju media sosial yang ada. Di dalam media sosial tersebut telah tersedia informasi utama serta merchandise dengan desain unik yang bisa dipesan dan dirasakan manfaatnya. Akan dilakukan follow-up selama beberapa rentang waktu untuk mengingatkan masyarakat mengenai solusi yang ada melalui media sosial juga.

(9)

1.10. Skematika Perancangan

Gambar 1.2 Skematika Perancangan Latar Belakan g Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Perancangan

Identifikasi

Identifikasi Masalah Identifikasi Data

Kesimpulan

Sintesis (usulan pemecahan masalah)

Konsep Perancangan Perancangan/ Konsep Media

1. Tujuan Media 2. Strategi Media 3. Program Media 4. Biaya Media

Perancangan/ Konsep Kreatif . Tujuan

1 Kreatif

2. Strategi Kreatif . Program

3 Kreatif

. Biaya

4 Kreatif

Program Perancangan

Visualisasi

Evaluasi

Final Artwork berupa Kampanye Sosial

Gambar

Gambar 1.2 Skematika Perancangan  Latar Belakan g Masalah

Referensi

Dokumen terkait

Teodise merupakan gabungan dari kata dalam bahsa Yunani: Theo (Allah) dan Dike (keadilan), sehingga dapat diartikan sebagai keadilan Allah. Keadilan Allah dimaksudkan sebagai

(iv) penggunaan logo rasmi SKUM pada sijil penyertaan / penghargaan tertakluk kepada program dan aktiviti yang dijalankan oleh syarikat korporat, NGO dan badan-badan lain

Metode ini berbeda dari metode peleburan, dalam hal sumber unsur penentu tidak perlu pada air kristal asam sitrat, akan tetapi boleh juga air ditambahkan ke dalam bukan

Verifikasi hasil perhitungan dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan Excel dengan hasil perhitungan manual dengan metode yang ada pada buku teks untuk desain

Sama seperti pada unit analisis sebelumnya, Kompas.com mendapatkan indeks skor yang terendah bila dibandingkan dengan dua media online lainnya.. Berdasarkan

Untuk menganalisis hubungan antara nilai tegangan supply terhadap torsi dan putaran pada motor DC shunt, maka dilakukan pengujian dengan menurunkan tegangan yang diberikan ke

Membuat karya tulis/karya ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey & evaluasi dibidang kesehatan yg tdk Membuat karya tulis/karya ilmiah berupa tinjauan atau ulasan