65 BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Objek penelitian merupakan landasan yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian. Adapun objek penelitian ini menjadi sasaran dalan penelitian untuk mendapatkan jawaban atau solusi dari permasalahan yang sedang terjadi. Menurut Sugiyono (2010:41) mengungkapkan sebagai berikut:
“Objek penelitian sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu tentang sesuatu hak objektif, valid, dan reliable tentang sesuatu hal (variabel tertentu).”
Objek dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah bagian auditor internal(Satuan Pengawas Internal/SPI), bagian komite audit dan bagian operasional perusahaan. Sedangkan yang dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah semua BUMN yang berkantor pusat di Jawa Barat.
3.1.1 Unit Analisis
Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi unit analisisnya adalah semua perusahaan BUMN yang berkantor pusat di Jawa Barat.
3.1.2 Metode Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada upaya untuk mengetahui pengaruh antara variabel audit internal dan komite audit yang mempengaruhi sistem pengendalian
66
internal pada perusahaan BUMN yang ada di Jawa Barat.
Menurut Sugiyono (2017:2) metode penelitian adalah sebagai berikut:
“Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Data yang diperoleh melalui penelitian adalah data empiris yang mempunyai kriteria tertentu yaiutu valid.”
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang menggunakan statistik sebagai alat analisisnya. Metode ini dipakai karena adanya variabel-variabel yang akan ditelaah hubungannya, serta tujuan untuk menyajikan gambaran secara terstuktur, faktual, dan akurat mengenai fakta serta hubungan antar variabel yang diteliti, yaitu pengaruh audit internal, komite audit terhadap sistem pengendalian internal. Menurut Sugiyono (2017:35) memberikan pandangan mengenai metode deskriptif sebagai berikut:
“Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri atau variabel bebas) tanpa membuat perbandingan variabel itu sendiri dan mencari hubungan dengan variabel lain".
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dijelaskan bahwa metode deskriptif merupakan metode yang bertujuan menggambarkan benar atau tidaknya fakta-fakta yang ada, serta menjelaskan tentang hubungan antar variabel yang diteliti dengan cara mengumpulkan data, mengolah, menganalisis dan menginterprestasi data dalam pengujian hipotesis statistik. Pelaksanaan penelitian deskriptif dimulai dari pengumpulan, mengolah data sampai pada menyajikan hasil yang disertai dengan interpretasi, sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang pokok permasalahan yang diteliti.
67 3.1.3 Skala Pengukuran
Menurut Uma Sekaran (2007:15),
“skala merupakan suatu instrumen atau mekanisme untuk membedakan individu terkait dengan variabel minat yang dipelajari.”
Penelitian dalam analisis statistik, perbedaan jenis data akan sangat berpengaruh terhadap pemilihan model ataupun alat uji statistik yang akan digunakan. Skala pengukuran merupakan cara mengukur suatu variabel, dan menjadi tolak ukur atau dasar dalam menyusun kuisioner yang dapat berupa pernyataan ataupun pertanyaan yang akan dijawab oleh responden.
Semua jawaban dari pertanyaan diukur dengan model skala Likert dengan nilai yang terendah 1 dan yang tertinggi 5. Menurut Sugiyono, (2017:93) mengatakan:
“Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.”
Jawaban setiap instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai susunan sebagai berikut :
Tabel 3.1
Skoring Jawaban dengan Skala Likert
Pilihan Jawaban Skor
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Ragu-ragu 3
Kurang Setuju 2
Tidak Setuju 1
Sumber : Sugiyono (2017:94)
68
Penelitian ini menggunakan skala likert sebagai skala pengukuran, dengan skala Interval. Skala Interval menurut Uma Sekaran (2007) menjelaskan bahwa:
“skala multipoint(banyak titik) yang mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan, urutan, dan persamaan besaran perbedaan dalam respons.”
Skala interval merupakan suatu skala pemberian angka pada klasifikasi atau kategori dari objek yang mempunyai sifat ukuran ordinal, ditambah satu sifat lain yaitu jarak atau interval yang sama dan merupakan ciri dari objek yang diukur.
Untuk memudahkan penilaian dari rata- rata tersebut, maka digunakan interval untuk menentukan panjang kelas interval, maka digunakan rumus menurut Sudjana (2000:79) sebagai berikut:
𝑷 = 𝑹𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝑩𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝑲𝒆𝒍𝒂𝒔 Keterangan:
P = Panjang kelas interval Rentang = Data terbesar - data terkecil Banyak Kelas = 5
3.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian
Operasionalisasi variabel diperlukan untuk mengetahui jenis dan indikator dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian dan bertujuan untuk menentukan skala pengukuran dari masing-masing variabel.
Menurut Sugiyono (2017:38) menjelaskan bahwa :
“variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya”.
69
Berdasarkan kerangka pemikiran yang sudah digambarkan dalam paradigma penelitian, maka ditentukan variabel penelitian sebagai berikut:
1) Variabel Bebas (Independent Variable)
Independent Variable atau yang sering disebut dengan variabel bebas atau
dengan simbol X merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Menurut Sugiyono (2017:39) bahwa:
“variabel independen adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)”.
Penelitian ini, yang menjadi variabel bebasnya adalah :
a. Audit Internal (X1) dapat diuraikan menjadi 3(tiga) dimensi dan mempunyai 11(sebelas) indikator, dimana ketiga dimensi dan sebelas indikator tersebut dikutip dari Standar Internasional Praktik Profesional Audit Internal (2016).
b. Komite Audit (X2) dapat diuraikan menjadi 6(enam) dimensi dan 16(enam belas) indikator, di mana 6(enam) dimensi dan 16(enam belas) indikator tersebut dikutip dari Kep. Men PER-12/MBU/2012, The Institute of Internal Auditors dalam Sawyer, 2005 : 1329) dan Alijoyo, F. A (2003).
2) Variabel Terikat (Dependent Variable)
Dependent Variable atau yang sering sering disebut dengan variabel terikat
dengan simbol Y merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Menurut Sugiyono (2017:39) bahwa:
“variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas”.
70
Penelitian ini, yang menjadi variabel terikatnya adalah Sistem Pengendalian Internal (Y). Sistem Pengendalian Internal (Y) dapat diuraikan menjadi 5(lima) dimensi dan 17 (tujuh belas) indakator, di mana kelima dimensi tersebut dikutip dari the Committee of Sponsorsing Organizations (COSO) of the Treadway Commission (2013)
Secara rinci operasionalisasi variabel dalam penelitian ini dapat disajikan dalam matriks operasionalisasi variabel berikut ini:
Tabel 3.2
Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep/Konstruksi Dimensi Indikator Skala Instrumen
Penelitian
Audit Internal (X1) Standar Internasional Praktik
Profesional Audit Internal, Tahun 2016
Audit Internal merupakan aktivitias independen, keyakinan obyektif dan konsultasi yang dirancang untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan operasi organisasi.
1. Independensi dan Objektivitas
a. Independensi Organisasi
INTERVAL
1-4
b. Objektivitas Individual. 5
c. Kendala terhadap
indepedensi dan objektivitas 6-10
2. Kecakapan
a. Memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi
INTERVAL
11 b. Kepala audit internal harus
memperoleh saran dan
asistensi yang kompeten 12
c. Auditor internal harus memiliki pengetahuan memadai untuk dapat mengevaluasi risiko dan cara mengelola risiko
13
d. Harus memiliki pengetahuan memadai mengenai risiko
dan pengendalian
kunci/utama, serta teknik audit berbasis teknologi informasi yang dapat
digunakan untuk
melaksanakan tugasnya.
14
3. Kecermatan Profesional
a. Auditor internal harus menerapkan kecermatan
profesionalnya 15
71
b. Harus mempertimbangkan penggunaan sarana audit berbantuan teknologi dan teknik analisis data lainnya
INTERVAL
16
c. Harus waspada terhadap risiko signifikan yang dapat mempengaruhi tujuan, operasi, atau sumber daya
17
d. Harus menerapkan kecermatan profesional dalam melaksanakan penugasan
18
Komite Audit (X2) Kep. Men PER-
12/MBU/2012, The Institute of Internal Auditors
dalam Sawyer, 2005 : 1329) Alijoyo, F. A
(2003)
Komite audit adalah suatu badan yang dibawah komisaris yang sekurang- kurangnya minimal satu orang anggota komisaris dan dua orang ahli yang bukan merupakan pegawai BUMN yang bersangkutan yang bersifat mandiri baik dalam pelaksanaan tugasnya maupun pelaporannya dan bertanggungjawab langsung kepada komisaris atau dewan pengawas.
1. Struktur Komite Audit
a. Pembentukan Komite Audit.
INTERVAL
1
b. Keanggotaan Komite Audit. 2-3
2. Syarat Umum Anggota Komite Audit
a. Memiliki skill dan
pengalaman mengenai bisnis perusahaan.
INTERVAL
4
b. Independen, objektif dan
profesional 5
c. Memiliki integritas, dan
dedikasi 6
d. Mampu berkomunikasi dan memiliki jiwa
kepemimpinan yang baik 7
3. Keahlian Anggota Komite Audit
a. Memiliki pemahaman yang baik mengenai laporan keuangan perusahaan
INTERVAL
8
b. Memiliki pemahaman yang baik tentang resiko dan pengendalian
9
4. Rapat Komite Audit
a. Membuat jadwal rapat
INTERVAL
10
b. Menghadiri rapat 11
c. Hasil rapat harus dicatat
dengan rinci dan baik 12
5. Pelaporan Komite Audit
a. Melaporkan langsung kepada komisaris utama
INTERVAL
13 b. Wajib memberikan laporan
dan rincian peran dan tanggung jawab
14
c. Wajib memberikan salinan risalah rapat kepada
komisaris utama 15
a. Di bidang Audit Internal
INTERVAL 16-19
72
6. Peran dan tanggung jawab KomiteAudit
b. Di bidang Pengendalian Internal
20-21
Sistem Pengendalian
Internal (Y)
the Committee of Sponsorsing Organizations (COSO) of the Treadway Commission (2013)
Pengendalian internal merupakan proses, karena hal tersebut menembus kegiatan operasional organisasi dan merupakan bagian integral dari kegiatan manajemen dasar.
Pengendalian internal hanya dapat menyediakan keyakinan memadai, bukan keinginan mutlak.
1. Lingkungan Pengendalian
a. menunjukkan (demonstrate) komitmen atas intergritas dan nilai-nilai etika
INTERVAL
1
b. memahami dan
melaksanakan tanggung
jawab pengawasan 2
c. Filosofi dan gaya operasi
manajemen 3
d. Struktur organisasi
4 e. mempertahankan personel
yang kompoten dan memiliki
peran pengawas 5
f. Para manajer dan pegawai diberi kewenangan dan tanggung jawab yang memadai
6
2. Penilaian Risiko
g. Menetapkan secara spesifik tujuan-tujuan yang relevan
INTERVAL
7 h. Menidentifikasi dan
menganalisa risiko 8
i. Menilai risiko kecurangan
9
3. Aktivitas Pengendalian
j. Memilih dan membangun aktivitas pengendalian
INTERVAL
10 k. Mengembangkan kebijakan
dan prosedur yang tangguh. 11
l. Mengendalikan teknologi
informasi 12
4. Informasi dan Komunikasi
m. Informasi yang berguna dan penting harus diidentifikasi, di-capture, diolah dan didistribusi secara tepat
INTERVAL
13
n. Berkomunikasi secara
internal 14
o. Berkomunikasi dengan pihak
eksternal 15
5. Aktivitas Pemantauan
p. Melaksanakan ongoing monitoring dan/atau separate
evaluations. INTERVAL 16
73
q. Mengevaluasi dan mengkomunikasikan
kekurangan/kelemahan. 17
3.3 Jenis dan Sumber Data
3.3.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Data Kuantitatif yaitu data yang berbentuk bilangan (Sedarmayanti dan Syarifudin, 2011:73). Data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil jawaban kuisioner dari masing-masing responden pada BUMN yang berkantor pusat di Jawa Barat.
2) Data Kualitatif yaitu data yang berbentuk bukan bilangan (Sedarmayanti dan Syarifudin, 2011:73). Data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah gambaran umum, struktur organisasi, dan job description di bagian Audit Internal, Komite Audit dan Sistem Pengendalian Internal pada BUMN yang berkantor pusat di Jawa Barat.
3.3.2 Sumber Data
Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data, ada dua sumber data yang digunakan oleh peneliti yaitu:
1. Data Primer
74
Menurut Sugiyono (2017:137) mendefinisikan data primer adalah sebagai berikut:
“Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.”
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data primer adalah metode kuisioner.
Pertanyaan/pernyataan disertai dengan pilihan jawaban yang disusun berdasarkan format skala likert. Data primer pada penelitian ini adalah data yang bersumber dari hasil kuisioner yang akan dibagikan kepada bagian Audit Internal, Komite Audit dan bagian Sistem Pengendalian Internal pada BUMN yang berkantor pusat di Jawa Barat.
2. Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2017:137) mendefinisikan data primer adalah sebagai berikut:
“Sumber data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalkan dari pihak lain atau lewat dokumen. Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literature, buku-buku serta dokumen perusahaan”
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini juga menggunakan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari riset hasil pustaka (Tesis, Jurnal Internasional, Jurnal Nasional, Simposium), Literatur-literatur, informasi yang diakses dari internet, dan publikasi dari pemerintah. Tujuan dari data sekunder untuk mendukung hasil keseluruhan penelitian yang dilakukan dengan memperkuat dan melandasi data primer yang didapat.
75 3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan dan mengelola data adalah sebagai berikut:
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Yaitu pengumpulan data secara langsung dan mengadakan penelitian terhadap objek yang dilakukan dengan cara kuisioner.
Menurut Sugiono (2017: 142), menjelaskan bahwa :
“Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.”
Kuisioner dapat berupa pertanyaan-pertanyaan tertutup atau terbuka, dan dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet. Dikemukakan Sugiyono (2017: 93) bahwa skala Likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Adapun bobot nilai yang diberikan pada kuisioner dalam penelitian ini sudah dijabarkan seperti pada Tabel 3.1 hal.69.
Kuisioner dalam penelitian ini diberikan kepada bagian Operasional Perusahaan, bagian Auditor Internal (SPI), dan bagian Komite Audit yang bekerja pada BUMN yang berkantor pusat di Jawa Barat.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Yaitu pengumpulan data dengan mencari dan mempelajari bahan-bahan yang dianggap perlu dari literatur-literatur yang terkait dengan masalah yang diteliti
76
untuk mendapatkan bahan yang akan dijadikan landasan dalam penelitian serta untuk memperoleh dasar secara teoritis.
3.5 Populasi dan Sampel Jenuh 3.5.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2017:80) menjelaskan bahwa :
“populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Tabel 3.3
Populasi : BUMN yang Berkantor Pusat di Jawa Barat No Nama perusahaan Bidang Usaha Alamat
1 PT Inti (Persero) Sektor Informasi dan
Telekomunikasi Jl. Moh. Toha No 77 - Bandung 2 PT. Indah Karya (Persero) Sektor Jasa Profesional,
Ilmiah dan Teknis
Jl. Golf No.2A, Cinambo - Bandung
3 PT. Amarta Karya (Persero) Sektor Konstruksi Jl. Veteran No. 112 - Bekasi 4 PT. Pos Indonesia (Persero) Sektor Transportasi dan
Pergudangan Jl. Cilaki No. 73 - Bandung 5 PT. Dirgantara Indonesia
(Persero)
Sektor Transportasi dan Pergudangan
Jl. Pajajaran No. 154 - Bandung
6 PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Sektor Transportasi dan Pergudangan
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1 - Bandung
7 PT. Bio Farma (Persero) Sektor Industri Pengolahan
Jl. Pasteur No. 28 Pasteur, Sukajadi - Bandung 8 PT. Indo Farma, Tbk (Persero) Sektor Industri
Pengolahan
Jl. Indofarma No. 1 Cikarang Barat - Bekasi
9 PT. LEN Industri (Persero) Sektor Industri Pengolahan
Jl. Soekarno Hatta No. 442 - Bandung
10 PT. Pindad (Persero) Sektor Industri Pengolahan
Jl. Gatot Subroto No. 517 - Bandung
11 PT. Pupuk Kujang Sektor Industri Pengolahan
JL. Jend. A. Yani No. 39, Cikampek 41373 Karawang, Jawa Barat
12 PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero)
Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
Jl. Sindangsirna No. 4 - Bandung 40153 13 PT. Industri Sandang Nusantara Sektor Industri
Pengolahan
Jl. KH Agus Salim No. 45 - Bekasi
14 PT. Dahana Sektor Industri
Pengolahan
Jl. Raya Subang – Cikamurang Km. 12 Cibogo - Subang
Sumber : web. BUMN tahun 2017 (Profil BUMN)
77 3.5.2 Sampel Jenuh
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah maka diperlukan suatu sampel penelitian. Sampel yang diambil harus representative atau mewakili dari semua populasi yang ada. Menurut Sugiyono (2017:81) menjelaskan bahwa:
“sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”.
Sampel pada penelitian ini adalah semua populasi penelitian. Teknik sampling yang digunakan adalah Nonprobability sampling. Menurut Sugiyono
(2017: 84) Nonprobabilitas Sampling yaitu :
”teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel”.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara menggunakan sampling jenuh. Pengertian dari sampling jenuh atau sensus menurut Sugiyono (2017:85), adalah:
“Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Istilah lain sampling jenuh adalah sensus. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang/unit.
Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, di mana semua anggota populasi dijadikan sampel”.
Berdasarkan dari pengertian tersebut, maka dapat diketahui bahwa sampling jenuh atau sensus adalah teknik penentuan sampel dengan menggunakan semua anggota populasi. Dalam penelitian ini karena jumlah populasinya sedikit (terbatas) sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan sampel, sehingga peneliti mengambil jumlah sampel sama dengan jumlah populasi atau disebut dengan sampling jenuh atau sensus.
78
Jumlah populasi pada penelitian ini adalah semua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkantor pusat di Jawa Barat seperti pada Tabel 3.3 (Populasi : BUMN yang Berkantor Pusat di Jawa Barat). Sampel pada penelitian ini adalah
semua populasi penelitian atau yang sering disebut dengan sampel jenuh atau sensus.
Dengan demikian metode penelitian pengambilan sampel yang digunakan adalah sensus terhadap 13 (tiga belas) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkantor pusat di Jawa Barat. Data Primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti melalui daftar pernyataan penelitian atau kuisioner penelitian yang dibagikan kepada karyawan/pegawai yang ada di 13 (tiga belas) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada auditor internal/satuan pengawasan internal (SPI), komite audit dan unit organisasi operasional.
Peneliti melakukan proses penyebaran kuisioner dari tanggal 02 Juli 2018 sampai dengan 04 Agustus 2018. Ada pun jumlah kuisioner yang disebarkan kepada bagian auditor internal (SPI), komite audit masing - masing sebanyak 25 kuisioner dan bagian operasional sebanyak 36 kuisioner, yaitu sebagai berikut :
Tabel 3.4 BUMN yang Disensus
No Nama BUMN
Auditor Internal/SPI
(X1)
Komite Audit (X2)
Operasional/Sistem Pengendalian Internal (Y)
Keterangan Jml
Unit Jml Respon
den
Jml Unit Jml
Respon den
Jml Unit Jml
Respon
SPI KA Accounting den
&Keuangan SDM/
HCD Logis tik
1 PT. INTI (Persero) 1 2 1 1 1 - 1 3 Diterima
2 PT. Indah Karya
(Persero) 1 1 1 1 1 - - 2 Diterima
3 PT. Amarta Karya
(Persero) 1 1 1 2 1 1 1 3 Diterima
4 PT. Pos Indonesia
(Persero) 1 3 1 1 1 - - 2 Diterima
5 PT. Dirgantara
Indonesia (Persero) 1 2 1 2 1 - - 3 Diterima
79
6 PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) 1 2 1 3 1 - 1 3 Diterima
7 PT. Bio Farma
(Persero) 1 2 1 4 1 - - 3 Diterima
8 PT. Indo Farma, Tbk
(Persero) 1 2 1 2 1 1 - 3 Diterima
9 PT. LEN Industri
(Persero) 1 2 1 2 1 1 1 3 Diterima
10 PT. Pindad (Persero) 1 2 1 1 1 1 - 3 Diterima
11 PT. Pupuk Kujang 1 2 1 2 1 1 1 3 Diterima
12
PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero)
1 2 1 3 1 - - 3 Diterima
13 PT. Industri Sandang
Nusantara - - - - - - - -
Tidak diterima, dengan alasan bahwa
pihak-pihak terkait sedang sibuk dan belum bisa dilakukan
penelitian.
14 PT. Dahana 1 2 1 1 - - 2 Diterima
T O T A L 13 25 13 25 23 36
3.6 Pengukuran Instrumen 3.6.1 Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2017:121), instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas pertanyaan/pernyataan yang telah disiapkan dapat diukur dengan mengkorelasikan skor setiap pertanyaan/pernyataan dengan jumlah skor totalnya. Dalam hal ini pertanyaan/pernyataan yang mempunyai nilai koefisien korelasi terhadap skor total lebih kecil dari nilai kritisnya berarti tidak lolos uji validitas dan harus diperbaiki atau dibuang. Untuk menguji validitas maka dihitung koefisien korelasi antara masing-masing skor total dengan menggunakan rumus korelasi pearson product moment dengan rumus sebagai berikut:
80
𝒓 = 𝐧 ∑ 𝐱𝐲 − ∑ 𝐱 ∑ 𝐲
√{(𝐧 ∑ 𝐱𝟐− (∑ 𝐱)𝟐)(𝐧 ∑ 𝐲𝟐− (∑ 𝐲)𝟐)}
Keterangan:
r = Koefisien korelasi Pearson Product Moment x = Jumlah skor untuk indikator x
y = Jumlah skor untuk indikator y
n = banyaknya responden (sampel) dari variabel x dan y dari hasil kuesioner Angka korelasi diperoleh dengan cara mudah dalam uji validitas, yaitu dengan menggunakan alat bantu Statistical Product for Service Solution (SPSS) 20.0 for Wiodows menggunakan nilai (r) hasil Corrected Item Total Correction melalui
sub menu Scale pada pilihan Reliablility Analysis. Selanjutnya dalam memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi item yang mempunyai korelasi positif dengan skor total serta korelasinya yang tinggi pula, menunjukan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah r kritis = 0,30 (batas minimum untuk menyatakan validitas item), Sugiyono (2017:126) menjelaskan jika korelasi antar butir dengan skor total kurang dari 0,30, maka butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid.
3.6.2 Uji Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2017:121), instrumen yang reliable berarti instrumen yang digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi atau keteraturan hasil pengukuran suatu instrumen apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur suatu objek atau responden. Hasil uji reliabilitas
81
mencerminkan dapat dipercaya atau tidaknya suatu instrumen penelitian berdasarkan tingkat kemantapan dan ketepatan suatu alat ukur dalam pengertian bahwa hasil pengukuran yang didapatkan merupakan ukuran yang benar dari sesuatu yang diukur. Rumus yang digunakan adalah untuk menguji reliabilitas adalah Spearman Brown, yaitu sebagai berikut:
𝒓𝒚= 𝟐𝒓𝟏.𝟐,𝟑 𝟏 + 𝒓𝟏.𝟐,𝟑 Keterangan:
𝒓𝒚 = koefisien korelasi reliabilitas Spearman Brown 𝒓𝟏.𝟐,𝟑 = koefisien korelasi
Statistical Product for Service Solution (SPSS) 20.0 for Wiodows,
merupakan metode pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan metode Alpha-Cronbach. Standar yang digunakan dalam menentukan reliabel dan tidaknya
suatu instrumen penelitian umumnya adalah perbandingan antara nilai r hitung dengan r tabel pada taraf kepercayaan 95% atau tingkat signifikansi 5%. Apabila dilakukan pengujian reliabilitas dengan metode ini, maka nilai r hitung diwakili oleh nilai alpha. Apabila nilai alpha hitung lebih besar daripada r tabel dan alpha bernilai positif, maka suatu instrumen penelitian dapat disebut reliabel.
3.7 Teknik Analisis Data
Setelah melakukan pengumpulan data, tahap selanjutnya adalah menganalisa data selanjutnya diproses sehingga dapat menjawab persoalan yang telah diajukan dalam penelitian. Menurut Sugiyono (2017:147) yang dimaksud dengan analisis data adalah sebagai berikut:
82
“Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mantabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data dari setiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan”.
Tujuan dari analisis data adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan yang terkandung di dalam data tersebut dan menggunakan hasilnya untuk memecahkan suatu masalah.
Menentukan analisis data, diperlukan data yang akurat dan dapat dipercaya yang nantinya dapat dipergunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis.
Analisis data merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca, dipahami dan diinterpretasikan.
3.7.1 Uji Statistika Deskriptif
Menurut Sugiyono (2017:147) mengemukakan statistik deskriptif adalah:
“statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi”.
Analisis deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui nilai variabel independen dan variabel dependen. Dalam analisis ini dilakukan pembahasan mengenai bagaimana pengaruh audit internal, komite audit terhadap sistem pengendalian internal pada BUMN yang berkantor pusat di wilayah Jawa Barat. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut di atas, penulis melakukan analisa deskriptif melalui identifikasi nilai maksimum dan nilai minimum, rata-rata hitung (mean) dan standar deviasi yang digunakan sebagai langkah awal analisis
83
data dengan menggunakan bantuan Statistical Product for Service Solution (SPSS) 20.0 for Wiodows. Adapun penjelasan yang termasuk dalam statistik deskriptif
antara lain sebagai berikut:
a. Rata-rata Hitung (mean)
Mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata- rata kelompok tersebut.
𝐗 ̅ = 𝚺 𝐗𝐢
𝐧
Keterangan:
X = Mean (rata-rata)
Σ Xi = Jumlah nilai X ke i sampai ke n n = Jumlah sampel atau banyak data b. Standar Deviasi
Standar deviasi atau simpangan baku dari data yang telah disusun dalam tabel distribusi frekuensi atau data bergolong, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
S : Simpangan Baku Me : Rata-rata nilai
Σx : Nilai X ke i sampai ke n
n : Jumlah sampel atau banyak data
3.7.2 Uji Asumsi Klasik
Mengingat data penelitian yang digunakan adalah primer, maka untuk memenuhi syarat yang ditentukan sebelum uji hipotesis melalui uji t dan uji F maka
S = √
𝚺𝐗𝟐− (𝚺𝐗)𝟐𝐧 𝐧−𝟏
84
perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang digunakan yaitu normalitas, mulltikolinieritas, autokolerasi, dan heteroskedastisitas.
3.7.2.1 Uji Normalitas
Imam Ghozali (2016:154) menjelaskan bahwa :
“uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal”.
Penelitian ini, uji normalitas menggunakan analisis grafik. Imam Ghozali (2016:154) menjelaskan bahwa :
“metode yang lebih handal untuk uji normalitas adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal”.
Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.
3.7.2.2 Uji Multikolinieritas
Imam Ghozali (2016:103) menjelaskan bahwa:
“uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
“Multikolonieritas dapat dilihat dari : 1. nilai tolerance dan lawannya 2. variance inflation factor (VIF).”
85
Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF
= 1/Tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah tolerence ≤ 0.10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10.
3.7.2.3 Uji Heterokedastisitas
Imam Ghozali (2016:134) menjelaskan bahwa :
“Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain”.
Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskeastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Salah satu cara untuk
mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel terikat dengan residualnya.
Lebih lanjut Imam Ghozali (2016:134) menjelaskan dasar pengambilan keputusan ada tidaknya heteroskedastistas dalam model regresi yakni sebagai berikut :
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.7.2.4 Uji Autokorelasi
Imam Ghozali (2016:107) menjelaskan bahwa :
86
“uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan periode t‐1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi.”
Model regresi yang baik adalah yang bebas autokorelasi. Untuk mendeteksi autokorelasi, dapat dilakukan uji statistik melalui uji Durbin‐Watson (DW test).
Untuk memeriksa ada tidaknya autokolerasi, maka dilakukan uji Durbin-Watson dengan keputusan sebagai berikut :
1. Jika (D-W) < dl , maka ho ditolak 2. Jika (D-W) > du , maka ho diterima
3. Jika dl < (D-W) < du , maka tidak dapat diambil kesimpulan
Uji dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson, dengan rumus:
Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 3.5
Kriteria Pengambilan Keputusan dengan Metode Durbin - Watson
Kriteria Pengujian Kesimpulan Keputusan
0 < d < dl Terjadi autokorelasi positif Tolak dl ≤ d ≤ du Tidak ada autokorelasi
Positif Tidak ada keputusan
4 – dl < d < 4 Terjadi autokorelasi negatif Tolak 4-du ≤ d ≤ 4-dl Tidak ada autokorelasi
Negatif Tidak ada keputusan
du ≤ d ≤ 4-du Tidak ada autokorelasi Tidak di tolak
Sumber: Imam Ghozali (2016:108)
87
3.8 Analisis Persamaan Regresi Linier Berganda
Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi linier berganda. Sugiyono (2017:188) menjelaskan bahwa :
“persamaan regresi dapat digunakan untuk melakukan prediksi seberapa tinggi nilai variabel dependen bila nilai variabel independen dimanipulasi (dirubah- rubah)”.
Persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut :
Di mana
Y = Sistem Pengendalian Internal
a = Konstanta X = 0
β1, β2, β3 = Koefisien Regresi
X1 = Audit Internal
X2 = Komite Audit
e = Tingkat kesalahan (error)/Pengaruh faktor lain
3.9 Analisis Koefisien Korelasi
Analisis kolerasi yang dicari adalah koefisien kolerasi yang angkanya menyatakan derajat hubungan antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y) atau untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
3.9.1 Analisis Korelasi Partial
Analisis korelasi partial ini digunakan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara korelasi kedua variabel dimana variabel lainnya dianggap
Y = a + β1X1 + β2X2 + β3X3 + e
88
berpengaruh dikendalikan atau dibuat tetap (sebagai variabel control). Variabel yang diteliti adalah data interval atau data rasio maka teknik statistik yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment (Sugiyono,2017:182).
Menurut Sugiyono (2017:182) penentuan koefisien korelasi dengan menggunakan metode analisis korelasi Pearson Product Moment dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Di mana :
rxy = korelasi antara variabel X dan Y X = Variabel X
Y = Variabel Y
n = Jumlah sampel/ periode yang diteliti
Untuk menentukan kuat atau lemahnya hubungan (korelasi) diantara kedua variabel, peneliti menggunakan interpretasi menurut Sugiyono (2016:184) sebagai berikut :
Tabel 3.6
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat Kuat
Sumber: Sugiyono (2017:184)
Langkah-langkah perhitungan uji statistik dengan menggunakan analisis korelasi pearson dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Koefisien Korelasi Partial
89
Koefisien korelasi partial antara X1 terhadap Y, bila X2 dianggap konstan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
2. Koefisien Korelasi Partial
Koefisien korelasi partial antara X2 terhadap Y, bila X1 dianggap konstan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
3.9.2 Analisis Korelasi Berganda (Simultan)
Analisis korelasi berganda digunakan untuk mengetahui derajat atau kekuatan hubungan antara seluruh variabel X terhadap variabel Y secara bersamaan.
Menurut Sugiyono (2017:191) koefisien korelasi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
Ry.x1.x2 : Korelasi antara variabel X1 dengan X2 secara bersama- sama dengan variabel Y
ryx1 : Korelasi Product Moment antara X1 dengan Y ryx2 : Korelasi Product Moment antara X2 dengan Y rx1x2 : Korelasi Product Moment antara X1 dengan X2
90 3.10 Analisis Koefisien Determinasi
Imam Ghozali (2016:95) menjelaskan bahwa
“koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen”.
Koefisien determinasi dihitung dengan cara mengkuadratkan hasil korelasi kemudian dikalikan dengan 100%. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
Keterangan :
KD = Koefisien determinasi r2 = Koefisien korelasi
Angka dari R square didapat dari pengolahan data melalui program SPSS yang bisa dilihat pada tabel model summary kolom R square.
3.11 Teknik Pengujian Hipotesis 3.11.1 Uji Pengaruh Partial (Uji t)
Untuk menguji apakah ada pengaruh hubungan dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y), selanjutnya pengujian dilakukan dengan uji t, rumus nya adalah sebagai berikut:
𝑡 = 𝑟√𝑛 − 2
√1 − 𝑟2 Keterangan:
t = nilai uji t
r = nilai koefisien korelasi n = jumlah sampel
KD = r2 x 100%
91
Uji t digunakan untuk menguji pengaruh hubungan antara variabel X dan Y, apakah variabel X1, dan X2 (audit internal dan komite audit) benar-benar berpengaruh terhadap variabel Y (sistem pengendalian internal) secara terpisah atau partial.
Hipotesis yang digunakan dalam pengujian ini adalah :
Ho: Variabel-variabel bebas (audit internal dan komite audit) tidak mempunyai pengaruh secara partial terhadap variabel terikat (sistem pengendalian internal).
Ha: Variabel-variabel bebas (audit internal dan komite audit) mempunyai pengaruh secara partial terhadap variabel terikat (sistem pengendalian internal).
Dasar pengambilan keputusan uji partial adalah dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi (thitung) dibandingkan dengan (ttabel). Untuk (ttabel) ditentukan dengan tingkat signifikansi 5%”. Kriteria pengujian yang digunakan adalah:
1) Apabila angka probabilitas signifikansi thitung < -ttabel atau thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
2) Apabila angka probabilitas signifikansi -ttabel < thitung < ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.
3.11.2 Uji Pengaruh Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen maka pengujian dilakukan dengan menggunakan uji statistik F.
92 𝐹 = 𝑅2/𝑘
(1 − 𝑅2)/(𝑛−𝑘−1)
Di mana:
R = Koefisien korelasi berganda k = jumlah variabel independen n = jumlah anggota sampel
Dalam penelitian ini, hipotesis yang digunakan adalah:
Ho: Variabel-variabel bebas (audit internal dan komite audit) tidak mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya (sistem pengendalian internal).
Ha : Variabel-variabel bebas (audit internal dan komite audit) mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya (sistem pengendalian internal)
Dasar pengambilan keputusan uji simultan adalah dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi Fhitung dibandingkan dengan Ftabel. Untuk Ftabel
ditentukan dengan tingkat signifikansi 5%. Kriteria pengujian yang digunakan adalah:
1) Apabila probabilitas signifikansi Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
2) Apabila probabilitas signifikansi Fhitung ≤ Ftabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.