• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

A. Latar Belakang Masalah

Dunia kini telah memasuki abad 21, semua aspek kehidupan berkembang salah satunya yaitu pada bidang pendidikan. Pada bidang pendidikan, perkembangan yang sangat jelas dirasakan yaitu adanya kemajuan untuk mengakses informasi atau materi pembelajaran yang dapat dijangkau dengan mudah. Pendidikan abad 21 kini lebih meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Pendidikan pada abad 21 harus memiliki acuan dalam perencanaan maupun pelaksanaan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, proses pembelajaran lebih mengutamakan penilaian proses daripada penilaian hasil. Menurut Sanderi (2013: 77), pendidikan abad 21 dituntut untuk menekankan pada critical thinking, problem solving, creativity, innovation, communication, collaboration dan global awareness. Pendidikan di abad 21 harus mampu memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi tantangan global dengan keterampilan belajar, keterampilan berinovasi, keterampilan menggunakan media informasi dan teknologi. “Sejumlah tantangan dan peluang harus dihadapi peserta didik dan pendidik agar dapat bertahan dalam abad pengetahuan di era informasi ini” (Sole, 2018: 12). Adanya pendidikan yang memfasilitasi peserta didik pada abad 21, diharapkan mampu menciptakan peserta didik yang mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, mandiri, terbuka dengan adanya perkembangan teknologi dan memiliki keterampilan (skill) yang matang sehingga mampu mengatasi berbagai permasalahan yang akan dihadapi di masa yang akan datang.

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap, sehat, berilmu, cakap dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penyelenggaraan pendidikan harus dilaksanakan secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut.

Sistem pendidikan di Indonesia harus selalu dikembangkan sesuai dengan commit to user

(2)

kondisi, kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik di tingkat lokal, nasional maupun global. Terlebih pada akhir tahun 2019, dunia dilanda sebuah penyakit yaitu Corova Virus Desease 2019 (Covid-19). Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus sereve acute respiratory syndrome corona virus 2 (SARS- CoV-2) yang dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan seperti flu dan infeksi paru-paru, seperti pneumonia. Kasus pertama penyakit ini terjadi di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Covid-19 menular antar manusia dengan sangat cepat dan menyebar ke puluhan negara hanya dalam beberapa bulan termasuk Indonesia. Hal tersebut membuat WHO (World Health Organization) atau organisasi kesehatan dunia menetapkan sebagai pandemi global sejak 11 Maret 2020.

Penyebarannya yang cepat membuat banyak orang tertular penyakit Covid- 19nsehingganbeberapannegaranmenerapkannkebijakanuntuknlockdown untuk mencegah penyebaran Covid-19. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.

Hal tersebut berdampak terhadap berbagai bidang kehidupan menjadi terbatas dalam melakukan aktivitas. Salah satunya yaitu bidang pendidikan harus membatasi kegiatan belajar mengajar yang menyebabkan pembelajaran tidak lagi dilakukan dengan tatap muka secara langsung di sekolah, akan tetapi dilakukan pembelajaran jarak jauh atau secara daring (dalam jaringan).

Pada tanggal 20 April 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Surat Edaran tersebut menjelaskan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran daring atau jarak jauh dilaksanakan untuk tetap memberikan hak belajar bagi peserta didik di tengah masa pandemi Covid-19. Siswa tetap memperoleh pembelajaran dari guru yang dilakukan dari rumah masing-masing dengan bimbingan orang tua. Pembelajaran secara daring membuat siswa lebih fleksibel dalam belajar dan tempatnya pun bisa dikondisikan tergantung situasi dan kondisi. Siswa juga akan lebih leluasa menentukan atau mencari sumber belajarnya sendiri. commit to user

(3)

Pembelajaran secara daring tidak mudah dilakukan, karena memiliki perbedaan dengan pembelajaran tatap muka di sekolah. Perbedaan yang paling mendasar dari adanya pembelajaran daring membuat siswa tidak dapat bersosialisasi dengan guru dan siswa lainnya secara nyata, sehingga akan memengaruhi emosional siswa itu sendiri. Pengaruh emosional pada diri anak secara tidak langsung akan memengaruhi karakter siswa. Samani (2011: 43) berpendapat bahwa karakter adalah nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), memperkuat pendidikan karakter yaitu dengan melaksanakan pendidikan karakter yang berdasar asas Pancasila dengan menanamkan sikap religius, jujur, toleran, semangat kebangsaan, demokratis, cinta tanah air, rasa ingin tahu, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, menghargai prestasi, gemar membaca, komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Penanaman sikap tersebut merupakan penjabaran dari lima nilai pokok yaitu religius, nasionalis, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Pelaksanaan proses pembelajaran yang ada disekolah dasar memang merupakan poin penting untuk membentuk pendidikan karakter siswa (Bausad, 2017: 134).

Pembentukan karakter peserta didik pada dasarnya dilatar belakangi dari berbagai macam permasalahan di era globalisasi. Karakter peserta didik semakin memprihatinkan dengan maraknya kasus bullying, rendahnya budi pekerti, dan kemajuan teknologi yang berkembang pesat membuat timbulnya kebiasaan baru peserta didik yang sering menggunakan gawai dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi tersebut saling berhubungan dan memengaruhi antara satu dengan yang lain. Masalah yang banyak ditemukan pada dunia pendidikan salah satunya yaitu kasus bullying. “Bullying tergolong kepada perilaku yang tidak baik atau perilaku menyimpang, hal ini dikarenakan bahwa perilaku tersebut memiliki dampak yang cukup serius” (Sari, 2017: 335). Beberapa perilaku bullying seperti ancaman, commit to user

(4)

mengejek, mencela, merampas dan memukul yang dilakukan secara individu maupun kelompok. Bullying bisa terjadi karena tontonan kekerasan secara langsung, dampak negatif gawai, dan penghakiman media sosial.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendata dalam kurun waktu 9 tahun, dari tahun 2011 sampai tahun 2019, terdapat 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Kasus bullying baik di pendidikan maupun sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat. Contoh kasus bullying pada siswa sekolah dasar terjadi di Kota Sleman seperti yang dilansir pada laman Detiknews.com pada tanggal 21 Februari 2020. Kasus bullying yang dialami oleh siswa kelas 1 Sekolah dasar berumur 9 tahun yang di-bully oleh kakak tingkatnya yang sudah kelas 6. S yang merupakan inisial dari korban harus dilarikan ke RS Sadewa (Wawan, 2020). Namun karena luka yang diderita korban tergolong berat maka harus dirujuk ke RS Bethesda. Kasus serupa juga terjadi di Kota Jambi sebagaimana diberitahukan dalam Okezone (Fahrurozi, 2020) pada hari Selasa, 10 Maret 2020. Seorang siswi berinisial SN yang berumur 13 tahun yang merupakan siswi Sekolah Dasar Negeri 33 Merangin mengalami depresi berat karena menjadi korban bullying dan mengalami kekerasan fisik oleh teman-temannya karena korban tidak mau memberi contekan pelajaran kepada teman-temannya. Hal tersebut membuat SN mengalami depresi yang berat hingga mengalami demam.

Kasus bullying juga terjadi saat pada Era Pandemi Covid-19 yang dikenal dengan cyber bullying. Pemerhati kesehatan jiwa anak dari organisasi PBB yang bergerak di bidang kesejahteraan anak UNICEF menjelaskan bahwa risiko perundungan daring atau cyber bullying meningkat di Era Pandemi Covid-19 sebagaimana diberitahukan dalam Kompas.com (Galih, 2020). Kasus cyber bullying yang dialami anak yaitu menyebarkan foto korban, menyerang atau melakukan pemantauan pada salah satu akun (stalking) dan menjelek-jelekan di media sosial.

Keleluasaan peserta didik tanpa adanya pengawasan dari orang tua membuat peserta didik semakin bebas untuk mengakses konten-konten negatif melalui gawai. Penggunaan gawai pada peserta didik memberikan dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif peserta didik menggunakan gawai adalah semakin terbukanya akses peserta didik dalam mencari pengetahuan dan commit to user

(5)

pengalaman baru untuk pendukung kegiatan pembelajaran. Namun, penggunaan gawai yang tidak sesuai kebutuhan seperti bermain game akan membuat peserta didik menghabiskan waktu untuk bermain game yang lebih banyak daripada untuk belajar. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan memengaruhi karakter peserta didik seperti menurunnya budi pekerti dan tanggung jawab.

Menurut Wahyuni (2019: 23) dalam penelitian yang berjudul "The Relationship between the Duration of Playing Gadget and Mental Emotional State of Elementary School Students", dijelaskan pada 103 siswa-siswa sekolah dasar yang menjadi objek penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara emosi mental dan durasi bermain gawai. Anak-anak yang terlalu banyak menggunakan gawai bisa menyebabkan kecanduan, mereka akan menggunakan kekuatannya untuk memukul, bertindak agresif dan menangis.

Banyaknya permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan, perlu adanya variasi pada proses pembelajaran untuk memperkuat karakter peserta didik salah satunya yaitu melalui pendidik karakter. Pendidikan karakter sangat penting diterapkan dalam dunia pendidikan. Penanaman karakter dalam proses pembelajaran yaitu dengan pengenalan nilai karakter, kesadaran akan pentingnya nilai- nilai karakter, dan implementasi nilai karakter peserta didik sehari- hari baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran.

Penanaman karakter di dunia pendidikan sangat penting dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik unggul dalam pengetahuan, akan tetapi pendidikan juga untuk meningkatkan perkembangan pada ranah afektif seperti nilai budi pekerti dan sopan santun dalam kehidupan sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi diri peserta didik maupun orang lain. Adanya karakter yang kuat dalam diri peserta didik menjadikan peserta didik mampu mengendalikan diri dalam melakukan suatu kegiatan. Peserta didik mampu membawa dirinya ke arah yang lebih baik dan secara tidak langsung permasalahan yang ada di dunia pendidikan mampu diatasi.

Karakter tidak muncul begitu saja, namun berproses dari lingkungan yang berkontribusi secara terus menerus membentuk karakter peserta didik. commit to user

(6)

Menurut Purandina (2020: 274), karakter sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat individu berkembang, walaupun karakter bisa juga dipengaruhi oleh faktor bawaan, namun hal itu persentasenya sangatlah kecil. Pendidikan pertama anak adalah keluarga yang tanggung jawab tidak hanya terbatas pada pendidikan formal. Keluarga sebagai pendidikan awal anak memberikan dasar dan nilai luhur yang mampu dibentuk sejak dini. Menurut Syarbini (2016: 11), usaha optimalisasi pendidikan karakter di lingkungan keluarga kurang maksimal atau belum dikonsep dengan baik karena kurangnya kesadaran orang tua dalam pendidikan karakter untuk anaknya, kesibukan orang tua, dan ketidaktahuan orang tua bagaimana cara membentuk karakter anak yang baik. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan berkarakter, karena di sekolah seorang anak mendapatkan pengetahuan pendidikan karakter. “Guru dan orang tua mempunyai peran yang vital dalam pembentukan karakter anak, selain lingkungan rumah dan sekolah, pengaruh lingkungan masyarakat sangat dominan memengaruhi karakter seorang anak, karena di masyarakatlah anak berkembang” (Suparno, 2018: 66). Selain keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat juga memengaruhi pembentukan karakter siswa. “Masyarakat akan membentuk karakter anak secara tidak langsung, karena dimasyarakatlah anak tumbuh dan berkembang”.

Adanya pembelajaran secara daring akan membuat siswa lebih banyak berinteraksi dengan keluarga. Interaksi dengan keluarga akan membentuk pola yang baik, mengakrabkan para anggota keluarga dengan berkomunikasi secara intens, sehingga memiliki quality time yang baik. Orang tua mempunyai banyak waktu dalam membentuk anaknya agar memiliki karakter yang baik dan kuat. Orang tua harus menjadi seorang pendidik untuk menggantikan guru selama masa pandemi ini. Inilah saatnya kondisi yang baik ini diharapkan menjadi waktu penanaman hal yang positif bagi siswa. Kualitas komunikasi orang tua dan anak yang semakin baik akan meningkatkan kepercayaan anak terhadap orang tuanya. Pembelajaran yang dilakukan di rumah membuat guru dan orang tua harus bekerja sama menumbuhkan nilai-nilai

commit to user

(7)

karakter yang nantinya dapat membentuk setiap individu memiliki pembeda yang mencirikan dan memiliki perilaku moral yang baik.

Karakter yang tumbuh pada peserta didik diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar untuk meningkatkan potensi diri. Karakter siswa selama masa Pandemi Covid-19 menunjukkan respon yang beragam. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan peneliti saat pembelajaran daring pada Era Pandemi Covid- 19 di SD Negeri 2 Karangsari ditemukan adanya permasalah terkait karakter siswa, masih terdapat siswa yang belum menunjukkan penerapan nilai karakter dalam pembelajaran. Sekolah melalui guru sudah berusaha memfasilitasi siswa dalam pembelajaran daring dengan menyiapkan google form untuk data kehadiran siswa, materi pembelajaran dan latihan soal kepada siswa. Siswa telah menerapkan karakter religius, hal tersebut ditunjukkan dengan banyak siswa yang menunjukkan foto sedang berdoa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Siswa juga telah menunjukkan karakter nasionalis dengan menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi selama pembelajaran berlangsung. Akan tetapi, siswa belum menunjukkan karakter integritas hal tersebut ditunjukkan dengan beberapa siswa yang tidak disiplin dalam mengikuti pembelajaran daring, hal tersebut ditunjukkan dengan siswa yang belum siap saat pembelajaran dimulai dan keterlambatan absen. Peneliti menemukan beberapa siswa yang belum aktif untuk merespon kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan penuturan Wali Kelas III SD Negeri 2 Karangsari masih terdapat siswa yang belum mengumpulkan tugas saat proses pembelajaran daring. Di kelas III ditemukan 5 dari 25 siswa belum mengumpulkan tugas kepada guru. Guru selalu mengingatkan siswa agar selalu tepat waktu dalam hal mengumpulan tugas.

Karakter mandiri belum sepenuhnya diterapkan oleh siswa, masih terdapat siswa yang dalam mengerjakan tugas masih meminta bantuan orang tua untuk menulis tugas yang diberikan oleh guru. Karakter gotong royong telah diterapkan pada pembelajaran di kelas VI, siswa dibentuk kelompok untuk berdiskusi secara online melalui grup WhattsApp kelompok saat kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti ingin lebih jauh mengetahui tentang bagaimana karakter siswa dalam pembelajaran Pada Era Pandemi Covid-commit to user

(8)

19. Nilai-nilai karakter apa yang bisa tumbuh dalam diri siswa selama pembelajaran daring dari rumah, faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter siswa selama pembelajaran dan pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Karangsari. Oleh karena itu peneliti mengadakan penelitian yang berjudul “Analisis Pelaksanaan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran pada Era Pandemi Covid-19 (Studi Kasus di SD Negeri 2 Karangsari).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Karangsari pada Era Pandemi Covid-19?

2. Bagaimana karakter siswa SD Negeri 2 Karangsari dalam pembelajaran pada Era Pandemi Covid-19?

3. Apakah faktor-faktor yang memengaruhi karakter siswa SD Negeri 2 Karangsari dalam pembelajaran pada Era Pandemi Covid-19?

4. Apakah kendala dalam pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Karangsari pada Era Pandemi Covid-19?

5. Bagaimana upaya dalam mengatasi kendala pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Karangsari pada Era Pandemi Covid-19?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan penelitian ini yaitu:

1. Mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Karangsari pada Era Pandemi Covid-19.

2. Mendeskripsikan karakter siswa SD Negeri 2 Karangsari dalam pembelajaran pada Era Pandemi Covid-19.

3. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi karakter siswa SD Negeri 2 Karangsari dalam pembelajaran pada Era Pandemi Covid-19.

commit to user

(9)

4. Menganalisis kendala pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Karangsari pada Era Pandemi Covid-19.

5. Mendeskripsikan upaya dalam mengatasi kendala pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Karangsari pada Era Pandemi Covid-19.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

a. Memberikan informasi dan wawasan di bidang pendidikan, khususnya mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran pada Era Pandemi Covid-19.

b. Memberikan referensi pada penelitian selanjutnya sehingga dapat menjadi pedoman untuk peneliti dan mengembangkan teori maupun kurikulum di sekolah dasar.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

Memberikan informasi yang dapat dijadikan pengembangan penelitian selanjutnya mengenai pelaksanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran pada Era Pandemi Covid-19.

b. Bagi Sekolah

Melalui analisis karakter siswa dapat meningkatkan kualitas pendidikan karakter yang lebih baik di SD Negeri 2 Karangsari.

c. Bagi Guru

1) Memberikan evaluasi pelaksanaan pendidikan karakter pada Era Pandemi Covid-19.

2) Memberikan upaya dalam mengembangkan pelaksanaan pendidikan karakter pada Era Pandemi Covid-19.

d. Bagi Siswa

1) Membantu pembentukan karakter bagi siswa selama pembelajaran daring.

commit to user

(10)

2) Memberi kesempatan pada siswa untuk meningkatkan partisipasi aktif dalam pembelajaran.

e. Bagi Orang Tua

1) Membantu orang tua dalam mengawasi perkembangan karakter siswa selama belajar dari rumah.

2) Meningkatkan partisipasi orang tua untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter yang lebih baik lagi.

f. Bagi Pembaca

Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi para pembaca yang akan melakukan penelitian yang berhubungan dengan topik penelitian ini maupun tidak berhubungan.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

1. Pembelajaran PPKn pada masa pandemi covid – 19 masih perlu menekankan pentingnya budi pekerti. Pembelajaran PPKn yang dilakukan secara online yaitu perlu dirancang

Dewi, W (2020) melakukan penelitian mengenai dampak covid-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di sekolah dasar, dalam penelitian tersebut menyebutkan bahwa untuk

“kewalahan” untuk mengikuti perubahan yang terjadi karena pandemi Covid-19 ini secara keseluruhan dalam kegiatannya sehari-hari, dari mulai mobilitas yang terbatas hingga

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 02 Desember 2020 mengenai pendidikan karakter siswa melalui pembelajaran daring di SDIT Al Akhyar

Persepsi masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19 dapat dilihat menurut pandangan masyarakat mengenai seberapa penting upaya pencegahan COVID-19, sikap masyarakat

Proses pembelajaran tatap muka dilakukan dimasa Pandemi COVID 19 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah, maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan pada perkuliahan di masa pandemic covid 19 diketahui bahwa pembelajaran daring pada mata kuliah perawatan badan mahasiswa tata rias

Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pembelajaran Matematika Selama Pandemi Covid- 19 dan Dampaknya Terhadap Psikologi Bagi Siswa Tunarungu di