79
IMPLEMENTASI PLTN LEPAS PANTAI DI INDONESIA
Sahala Maruli Lumbanraja, Citra Candranurani, Rr. Arum Puni Rijanti Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir (PKSEN)-BATAN
Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan-Jakarta Telp./Fax: 021-5204243
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
IMPLEMENTASI PLTN LEPAS PANTAI DI INDONESIA. PLTN Lepas pantai merupakan pembangkit listrik yang dioperasikan di lepas pantai. Ada tiga jenis PLTN Lepas pantai yang telah dan sedang dikembangkan di dunia, yaitu PLTN Apung, PLTN GBS (Gravity Based- Structure), dan PLTN Submerged. PLTN ini dikembangkan untuk meningkatkan keselamatan, keamanan dan penerimaan masyarakat paska kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi. Tujuan studi adalah untuk mengkaji berbagai jenis teknologi PLTN Lepas pantai yang mungkin diimplementasikan di Indonesia, baik segi teknologi dan karakteristik lepas pantainya. Metodologi yang digunakan adalah mempelajari berbagai pustaka tentang teknologi PLTN Lepas pantai, kondisi laut Indonesia, dan regulasinya, serta dilakukan dengan analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats). Dari hasil analisis kekuatan (strength), dan kesempatan (opportunities) diperoleh bahwa PLTN Lepas pantai (PLTN Apung, PLTN GBS, dan PLTN Submerged) layak diimplementasikan di Indonesia, khususnya di pesisir pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, sepanjang garis pantai Kalimantan, dan pulau-pulau yang diapit ketiga pulau ini, sedangkan dari segi kelemahan (weaknesses), dan ancaman (threats) dibutuhkan studi lebih detil khususnya karakteristik pesisir laut dan revisi regulasi Peraturan Pemerintah No.54 Tahun 2012 dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Nomor 1 Tahun 2010. Ketiga jenis PLTN Lepas pantai ini mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing karena sangat tergantung pada karakteristik tapak lepas pantainya.
Kata kunci: implementasi, PLTN Apung, PLTN GBS, PLTN Submerged
ABSTRACT
OFFSHORE NPP IMPLEMETATION IN INDONESIA. Offshore NPP (ONPP) is a power plant that operates offshore. There are three types of offshore NPP that have been and are being developed in the world, namely Floating NPP, NPP GBS (Gravity Based-Structure), and NPP Submerged. These NPP was developed to enhance the safety, security and public acceptance of NPP after the Fukushima Daiichi accident. The purpose of this study was to assess various types of offshore NPP technology which may be implemented in Indonesia, both in terms oftechnology and offshore characteristics. The methodology used is studying various literature on the technology of ONPP, Indonesia sea conditions, and its regulations.
The study was conducted with a SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) analysis. The analysis of the strength and opportunities showed that ONPP (Floating NPP, NPP GBS, and NPP Submerged) is feasibleto implement in Indonesia, especially on the east coast of Sumatra island, Java's northern coast, the coast of the Borneo island, and the islands that are flanked by those three island. While in terms of weaknessesand threats, more detailed study particularlyfor the characteristics of the sea coast and the revision ofGovernment Regulation No. 54 Year 2012 and BAPETEN Chairman Decree No. 1 Year 2010 are required. The three types of NPP 's offshore has advantages and disadvantages of each because it depends on the characteristics of the offshore site.
Keyword: implementation, Floating NPP, GBS NPP, Submerged NPP
PENDAHULUAN
Paska kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi, penolakanan terhadap pembangunan PLTN semakin kuat, khususnya dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) anti nuklir dengan slogan BANANA (Build Absolutely Nothing Anywhwhere Near Anyboby) yang sangat ekstrim sedangkan masyarakat lokal yang wilayahnya direncanakan menjadi calon tapak PLTN mempunyai slogan NIMBY (Not In My Backyard)[1-3]. Pro-kontra terhadap pemanfaatan PLTN untuk mensuplai energi listrik di masyarakat disebabkan
80
kekurangpahaman mereka akan resiko teknologi tersebut. Bagi masyarakat tertentu PLTN identik dengan bom nuklir, sedangkan masyarakat lain menyatakan bahwa nuklir sangat bermanfaat untuk kehidupan masyarakat modern yang membutuhkan energi listrik yang ramah lingkungan.
Kesulitanmendapatkanlokasi tapak PLTNdi daratkarena berbagai
k
omplik kepentingan terhadap pemanfaatan lahan antar pemangku kepentingan merupakan masalah klasik yang mengakibatkan terhambatnya program investasi yang telah dicanangkan, misalnya kasus pembebasan lahan PLTU Batang, Jawa Tengah[4,5] dan penolakan PLTN di Jepara, Jawa Tengah[6,7]. Umumnya, PLTN yang beroperasi saat ini dibangun di dekat pantai, sungai dan danau untuk memenuhi kebutuhan air baik sebagai pendingin maupun kebutuhan lainnya yang cukup besar.Untuk meminimalisir dampak penolakan dan komplik kepentingan yang ditimbulkan atas pembangunan PLTN berbasis tapak di darat, beberapa negara produsen nuklir dunia, seperti Rusia, Perancis, Korea Selatan, dan Amerika Serikat mengembangkan teknologi PLTN inovatif berbasis tapak di lepas pantai (offshore). Ada tiga (3) jenis tapak PLTN di lepas pantai yang telah dan sedang dikembangkan, yaitu floating[8-15],gravity based structure (GBS)[16-24], dan submerged[16,25-33]. Teknologi ini dikembangkan berdasarkan rancang bangun teknologi kapal selam berpropulsi nuklir, serta teknologi pengeboran minyak/gas (migas) lepas pantai (off-shore oil drilling)[2]. Tapak lepas pantai akan meminimalisir dampak yang mungkin terjadi, seperti dampak gempa bumi dan tsunami.
Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji kemungkinan implementasi tapak lepas pantai (off-shore) di Indonesia baik dari segi teknologi, tapak, maupun dari regulasi
TEORI
Tapak Lepas Pantai (Offshore)
Secara fisiografi wilayah laut Indonesia dapat dibagi menjadi tiga wilayah , yaitu:
daerah (i)Paparan Sunda terletak di bagian barat Indonesia; (ii) paparan Sahul di bagian timur Indonesia dan; (iii) zona transisi. Paparan Sunda meliputi daerah-daerah perairan Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan Laut Jawa dengan kedalaman rata-rata mencapai 120 meter membentuk paparan sedimen yang tebal dengan penyebaran yang cukup luas.
Paparan Sahul meliputi daerah-daerah di selatan Laut Banda dan Laut Aru. Daerah ini sangat dipengaruhi oleh sistem benua Australia, sehingga sedimen di daerah ini ditafsirkan sebagai sedimen asal kontinen Australia. Sedangkan daerah transisi meliputi daerah-daerah perairan Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Banda dan Laut Flores. Kondisi morfologi dasar laut Indonesia mempunyai perbedaan mencolok antara kawasan barat dan kawasan timur.
Laut Jawa yang merupakan sistem Paparan Sunda (Sunda Shelf) mempunyai kedalaman dasar laut rata-rata 130 meter, sedangkan Laut Flores dan Laut Banda yang merupakan laut tepi mempunyai kedalaman lebih 5000 meter [34,35]. Gambar 1 menunjukkan karakteristik kedalaman laut di Indoneisia.
Struktur di laut (offshore) tergantung pada berbagai faktor lingkungan dengan memperhitungkan arah horixontal dan vertikal seperti kecepatan angin, gelombang laut, kecepatan arus, temperatur. Faktor gempa bumi dangeohazards juga menjadi isu. Semua fenomena ini dapat mempengaruhi integritas (kemampuan struktur) instalasi nuklir selama operasinya. Arus merupakan sumber beban horizontal untuk struktur lepas pantai, juga dapat menyebabkan gaya ke atas dan ke bawah pada permukaan instalasi nuklir. Jenis- jenis arus adalah sirkulasi lautan, geostropik, tidal, dorongan angin, dan kerapatan arus (density current).
Secara umum, tapak lepas pantai menawarkan beberapa keuntungan yaitu konstruksi dilakukan di pabrik atau di kapal (shipyard) yang akan memberikan efisiensi;
tapak lebih sederhana; pengaruhnya terhadap lingkungan jauh lebih kecil; dan dekomisioning dapat dilakukan ditempat khusus. Bagaimananpun, lingkungan laut membawa pertimbangan penting, seperti akses personil dan peralatan dan membutuhkan jaminan kuat bahwa kontaminasi tak terkendali dari laut akan tidak mungkin. Menurut Buongiorno, manfaat lain daritapak dilepas pantai adalah reaktor dapat menggunakan laut sebagai pendingin tak terbatas (infinite heat sink)[22]. Teras reaktor yang terletak di bawah permukaan laut dapat didinginkan secara pasif tanpa bergantung pada pompa pendingin yang digerakkan oleh listrik. Bencana nuklir di Jepang pada tahun 2011 disebabkan oleh kegagalan seluruh sistem pendingin yang dibutuhkan untuk mendinginkan teras reaktor.
Kegagalan seluruh sistem ini disebabkan kerusakan seluruh infrastruktur jaringan listrik yang dibutuhkan untuk mensuplai energi listrik ke sistem kendali dan pompa pendingin reaktor.
81 Gambar 1. Karakteristik Kedalaman Laut dan Keinggian Daratan Indonesia[35].
Teknologi PLTN Lepas Pantai
Paska kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi pada tahun 2011, berbagai negara mengembangkan sistem keselamatan dengan konsep ultimate heat sink. Beberapa ide yang dikembangkan adalah membangun PLTN di lepas pantai. Teknologi PLTN lepas pantai dikembangkan untuk meningkatkan penerimaan masyarakat dan meningkatkan keselamatan operasionalnya. Sumber pendingin yang dibutuhkan untuk operasi reaktor tersedia tak terbatas sehingga sistem pendingin reaktor berjalan secara ultima. Ada tiga jenis teknologi PLTN yang dicirikan dari tapak PLTN tersebut berada, yaitu PLTN Apung (Floating NPP), PLTN GBS, dan PLTN Submerged.
PLTN Apung dikembangkan OKBM- Rusia berbasis rancang bangun kapal selam dan kapal pemecah es (icebreaker) berpropulsi nuklir yang telah beroperasi dengan selamat dan aman., seperti KLT-40S[9,11-13]. PLTN ini merupakan reaktor modular yang dirakit di dalam sebuah barge. Pergantian bahan bakar dilakukan setiap 8 tahun dengan tingkat pengayaan 20% [14]. PLTN Apung ditarik dengan tongkang ke lokasi tapak dengan infastruktur pendukung yang telah siap, seperti swicthyard. Seluruh operasional reaktor dilakukan di dalam barge. Persyaratan khusus tapak PLTN Apung adalah berada di pinggir pantai yang tenang. Oleh karena itu, lokasi tapak harus dikelilingi pemecah ombak. Gamabr 2 menujukkan tampag lintang PLTN Apung.
82
Gambar 2. Tampang Lintang PLTN Apung[11].
Teknologi PLTN GBS dikembangkan dari gabungan teknologi PLTN dengan teknologi pengeboran minyak/gas lepas pantai (off-shore oil drilling), seperti Adriatic LNG (liquid natural gas) terminal. Teknologi struktur dan proses konstruksi ini telah berjalan dengan sempurna. Rancang bangun teknologi ini dikembangkan oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan. Tapak PLTN berada di lepas pantai yang dangkal dengan sistem pondasi yang umum digunakan pada pengeboran minyak/gas lepas pantai. PLTN merupakan reaktor modular yang dibangun di galangan kapal. PLTN yang telah siap dioperasikan kemudian ditarik dengan tongkang dan ditambatkan pada pondasi yang telah disiapkan sebelumnya. Daya PLTN GBS yang akan dibangun di tapak tertentu tergantung kebutuhan konsumen. Desain PLTN GBS yang sedang dikembangkan berasal dari PLTN SMART[18- 20] dan APR-1400[16,17] Korea Selatan yang ditempatkan di dalam sebuah dry dock.
Amerika Serikat mengembangkan konsep desain MIT ONPP[21,22]. Gambar 3 menunjukkan tampang lintang PLTN GBS.
Gambar 3. Tampang Lintang PLTN GBS[22].
PLTN Submerged merupakan pembangkit listrik berdaya kecil jenis air tekan yang dikembangkan oleh DCNS (Direction des Constructions Navales Services) berbasis rancangan bangun kapal selam berpropulsi nuklir yang telah beroperasi dengan selamat dan aman hingga saat ini. Rancangan teknologi ini cukup unik karena tapak reaktor berada di dasar laut sedangkan ruang kendali utama (RKU) berada di darat. Konstruksi bangunan pengungkung reaktor (hull) berbentuk silinder dimana komponen-komponen utama reaktornya. Sistem keselamatan yang digunakan adalah sistem keselamatan aktif, sistem keselamatan pasif dan inheren. Reaktor ini dirancang dengan daya listrik 50-250 MWe[26- 28]. Tapak reaktor yang memenuhi syarat berada pada kedalaman laut 60 hingga 100 m[10]. Tapak submerged merupakan tapak lepas pantai yang digunakan untuk
83 menambatkan PLTN di dasar laut. Persyaratan tapak adalah laju arus dasar laut harus sangat kecil atau mendekati nol, umumnya berada pada kedalaman 60 hingga 100 m[10].
Gambar 4. tampang lintang PLTN Submerged[27, 29].
PLTN Lepas pantai merupakan reaktor maju berbasis teknologi reaktor air ringan dan teknologi lepas pantai. Sistem keselamatan yang digunakan adalah sistem keselamatan aktif, sistem keselamatan pasif dan inheren. PLTN Apung dan Submerged dirancang berdaya kecil, sedangkan PLTN GBS dirancang berdaya kecil dan besar. Syarat utama dari tapak PLTN Apung adalah berada di bibir pantai dan jauh dari kemungkinan tsunami. Tapak PLTN GBS berada pada kedalaman laut kira-kira 30 m (tergantung pada bobot, dan salinitas air laut) dan jauh dari kemungkinan tsunami. Sedangkan tapak PLTN Submerged berada pada kedalaman 60 hingga 100 m dan laju arus dasar laut harus sangat kecil (mendekati nol).
METODOLOGI
Metode yang dilakukan dengan mempelajari berbagai pustaka tentang perkembangan teknologi PLTN berbasis tapak lepas pantai, kondisi geografis laut, dan sistem regulasi di Indonesia. Selanjutnya analisis implementasi PLTN Lepas pantai dilakukan dengan SWOT.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Struktur PLTN di lepas pantai (offshore) tergantung pada berbagai faktor beban lingkungan seperti kecepatan angin, gelombang laut, kecepatan arus (horixontal, vertikal), temperatur, gempa bumi dan geohazard[36,37]. Semua fenomena ini dapat mempengaruhi integritas struktur selama operasinya.
Indonesia mempunyai garis pantai yang sangat panjang karena terdiri dari beribu pulau. Hal ini menjadi keuntungan bagi Indonesia karena lokasi tapak untuk jenis PLTN ini tersedia sangat banyak. studi kelayakan tapak yang lebih teknis dan spesifik pada daerah- daerah pesisir yang layak digunakan sebagai tapak perlu dilakukan lebih detil.
Kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi disebabkan oleh geohazard yang menimbulkan tsunami yang yang meluluhlantakkan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendinginkan teras reaktor. Pasokan pendingin yang terhenti mengakibatkan suhu teras reaktor meningkat secara drastis. Hal ini menyebabkan struktur reaktor menjadi rapuh.
Oleh karena itu, ketinggian gelombang laut menjadi salah satu faktor utama pada pemilihan tapak PLTN yang berada di tepi pantai. Dengan menggunakan persamaan shallow water dan teori kekekalan energi, ketinggian gelombang tsunami dapat diperkirakan pada kedalaman laut tertentu, seperti diilustrasikan pada Gambar 5[16].
dimana: H adalah tinggi gelombang dan h adalah kedalaman laut.
84
Gambar 5. Ketinggian Gelombang Laut vs. Kedalaman Laut[16].
Tapak PLTN lepas pantai mempunyai kedalaman yang berbeda-beda tergantung dimana PLTN tersebut diplementasikan dan jenis PLTN tersebut. Tapak PLTN Apung berada di laut dangkal dan tepat berada di tepi pantai. Tapak PLTN GBS berada pada kedalaman laut yang sedang (tergantung pada bobot total PLTN, umumnya kira-kira 30 m).
Sedangkan tapak PLTN Submerged berada di laut dalam (60-100 m). Kedalaman laut semakin dangkal maka dampak tsunami akan semakin besar yang diakibatkan oleh gelombang tusnami semakin besar. Dengan menggunakan persamaan 1, kita dapat membandingkan ketinggian tsunami yang terjadi pada kedalaman laut untuk masing-masing jenis teknologi PLTN ini. Sebagai contoh kasus adalah gempa yang diakibatkan oleh patahan yang terjadi di Jepang tahun 2011. Tapak PLTN di lepas pantai mempunyai keunggulan dibandingkan dengan tapak di darat karena air laut dapat berfungsi sebagai peredam terhadap gempa. Oleh karena itu, ketika terjadi gempa bagunan reaktor tidak terlalu berpengaruh gempa yang terjadi. Pada Tabel 1 ditunjukkan ketinggian tsunami yang terjadi pada tahun 2011 sebagai acuan untuk merancang teknologi yang akan diterapkan pada PLTN lepas pantai.
Tabel 1. Ketinggian Gelombang Tsunami pada Kedalaman Laut Tertentu Pusat Gempa PLTN Apung PLTN GBS PLTN Submerged Kedalaman
Laut
204 m 10 m 30 m 100 m
Tinggi Tsunami 6,7 m 14,2 m 10,8 m 8 m
Sebagian bangunan PLTN Apung dan PLTN GBS berada di permukaan laut, sedangkan PLTN tidak terlihat. Oleh karena itu, PLTN Apung dan PLTN GBS lebih beresiko terkena dampak tsunami dibandingkan dengan PLTN Submerged. Untuk meningkatkan keselamatan PLTN Apung dan PLTN GBS dari dampak tsunami, ketinggian dinding penghalang harus diperhitungkan secara detil.
Sistem keselamatan PLTN Lepas pantai menggunakan sistem kaselamatan pasif, melekat, dan aktif. Sistem pendingin reaktor menggunakan azas ultimate heat sink dimana ketika terjadi kegagalan sistem pendingin, maka sistem pendinginan alamiah akan berfungsi secara otomatis dengan pasokan pendingin yang tidak terbatas dari air laut di sekitar ONPP.
Sistem keamanan juga lebih tinggi karna agak jauh dari aktivitas manusia.
Pertahanan berlapis (defence in depth) juga diterapkan dengan sistem keamanan dan proteksi. Sistem ini terbagi atas tiga (3) zona, yaitu zona vital, zona terlarang, dan zona peringatan baik di laut maupun di udara sehingga meminimalisir ancaman terhadap keberadaan PLTN. Zonasi dilakukan dengan dengan tanda-tanda yang telah dikenal dalam dunia pelayaran dan dunia penerbangan, baik dalam bentuk sonar maupun suar (lampu).
Selain zonasi, perlu ditambah peralatan deteksi dini dan peringatan dini terhadap kapal maupun pesawat yang akan mendekati dan/atau melintas di sekitar PLTN.
PLTN lepas pantai tidak mungkin dimplementasikan di Indonesia karena tidak memenuhi regulasi yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2012 tentang Keselamatan dan Keamanan Instalasi Nuklir pada pasal 1 ayat 2. dimana tapak instalasi nuklir harus berada di darat (in land)[38], tetapi dari sisi teknologi, reaktor ini layak diimplementasikan karena:
a. lokasi tapak sangat tersedia di sepanjang garis pantai pulau-pulau yang berada di antara Sumatera bagian Timur, Jawa bagian Utara, dan Kalimantan.
85 b. teknologi PLTN ini dikembangkan berdasarkan teknologi yang telah teruji.
c. sistem keselamatan tinggi
d. sistem keamanan tinggi (kemungkinan gangguan dan sabotase kecil) e. pembebasan lahan tapak lebih mudah
Analisis dengan metode kekuatan (strength) kelemahan (weaknesses), kesempatan (opportunities), dan ancaman (threaats) merupakan prasyarat untuk mengimplementasikan PLTN Lepas pantai di Indonesia. Hasil analisis SWOT untuk PLTN Lepas Pantai ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Analisis SWOT PLTN Lepas Pantai di Indonesia Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weaknesses)
2. lokasi tapak potensial banyak tersedia (garis pantai sangat panjang)
3. mudah diangkut dan dipindahkan 4. peneriman masyarakat lebih mudah 5. sistem keselamatan lebih tinggi
(ultimate heat sink)
6. kualitas pabrikasi lebih tinggi (modular) 7. keamanan lebih tinggi
8. biaya tapak lebih murah 9. kebutuhan pipa lebih sedikit
10. pengaruh negatip terhadap lingkungan lebih kecil
11. dekomisioning lebih mudah 12. pasokan pendingin tidak terbatas 13. waktu konstruksi lebih singkat
14. air laut merupakan peredam alamiah terhadap gempa
15. regulasi 16. SDM regulator 17. biaya jaringan mahal 18. partisipasi nasional kecil
19. sangat tergantung pada kondisi laut 20. perawatan lebih sulit
21. akses nelayan ke lokasi tapak terbatas 22. lalu lintas pelayaran terbatas
23. teknologi belum teruji 24. negara pemasok terbatas
Kesempatan (Opportunities) Ancaman (Threats) 25. kelayakan implementasi PLTN lebih
besar
26. keamanan energi lebih terjamin 27. pemerataan pasokan listrik lebih
fleksibel
28. pertumbuhan industri lebih cepat 29. peningkatan kemampuan SDM
Indonesia
30. penurunan emisi CO2
31. regulasi mungkin direvisi
32. kontaminasi biota laut jika terjadi kebocoran nuklir
33. dukungan pemerintah dan masyarakat lemah dan tak stabil
34. kompetisi harga listrik dengan pembangkit fosil
35. penolakan LSM
Oleh karena itu, untuk memaksimalkan ketersediaan tapak di kemudian hari disebabkan keterbatasan tapak di darat (in land) dan penolakan masyarakat, maka regulasi yang melarang pemanfaatan tapak di laut (off shore) yang termaktub pada Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2012 perlu dipertimbangkan untuk direvisi. Menurut International Atomic Energy Agency (IAEA) Safety Standards Series No. NS-R-3 tentang Site Evaluations for Nuclear Instalations[39], dan Atomic Energy Atomic Licencing Boards Malaysia (AELB) pada Regulatory Requirements For Site Evaluation of Nuclear Power Plant[40], tapak PLTN tidak dinyatakan secara spesifik harus berada di darat, tetapi hanya dinyatakan secara umum. Berarti tapak PLTN dapat berada di darat maupun di laut. Pengangkutan reaktor ini dari negara pembuat hingga negara pengguna akan melintasi beberapa negara sehingga harus mendapatkan izin dari masing-masing negara yang dilalui sesuai dengan regulasi pengangkutan bahan radioaktif masing-masing negara. Regulasi seetiap negara akan mempersulit implementasi teknologi ini. Oleh karena itu, implementasi PLTN ini membutuhkan izin dari negara-negara yang jalur pelayarannya dilalui
Konsep PLTN Lepas pantai dirancang dengan paradigma ekonomi energi melalui inovasi radikal terhadap konsep PLTN yang dioperasikan selama ini di darat. Inovasi dilakukan terhadap metode pembangunan, dan pengoperasiannya. Teknologi keselamatan
86
diterapkan dengan menggunakan ultimate heat sink. Tapak yangdipilih berdasarkan karakteristik lepas pantai (tsunami, laju arus, kedalaman, intensitas badai, julur pelayaran, jalur pelayaran). Tapak lepas pantai akan miminimalisir kebutuhan lahan darat dan lahan jalur evakuasi.
KESIMPULAN
PLTN Lepas pantai merupakan pembangkit listrik inovatif denan tingkat keselamatan dan keamannan cukup tinggi. PLTN ini menggunakan sitem keselamatan pasif, melekat dan aktif dengan sistem pendingin yang berazaskan ultimate heat sink. Tapak di lepas pantai mempunyai keutungan karena air laut dapat berfungsi sebagai peredam terhadap gempa yang mungkin terjadi. PLTN ini mudah diangkut dan dipindahkan dari satu lokasi tapak ke lokasi tapak yang lain. Biaya penyaipan tapak lebih kecil dari PLTN konvensional, tetapi biaya jaringan lebih mahal, khususnya untuk PLTN GBS dan PLTN Submerged. Penerimaan masyarakat terhadap implementasi PLTN ini akan lebih tinggi dari PLTN konvensional karena tapak hampir tidak bersinggungan dengan kepentingan masyarakat umum kecuali terhadap nelayan dan dunia pelayaran. Lokasi tapak sangat tersedia di Indonesia.
SARAN
Revisi PP 54 Tahun 2012 tentang tentang Keselamatan dan Keamanan Instalasi Nuklir pada pasal 1 ayat 2 dan dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Nomor 1 Tahun 2010 pasal 1 ayat 2 perlu direvisi agar lokasi tapak untuk implementasi PLTN tersedia lebih banyak.
UCAPAN TERIMAKASIH
Kami mengucapkan terimakasih kepada Dr. Suparman dan Elok Satiti Amitayani yang telah memberikan saran-saran perbaikan pada makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. MISSE WESTER-HERBER, Underlying Concerns In Land-Use Conflicts-The Role Of Place Identify In Risk Perception, Enviromental Science & Policy, volume 7, issue 2, April 2004, pages 109-109.
2. STEPHEN W. KIDD, Nuclear Power-Economics and Public Acceptance, Energy Strategy Reviews, Volume 1, Issue 4, May 2013, Pages 277-281.
3. REZA ADITYA, Warga Temui Pemodal Desak Batalkan PLTU Batang, Tempo.co, Sabtu, 13 September 2014,
http://www.tempo.co/read/news/2014/09/13/058606631/Warga-Temui-Pemodal-Desak- Batalkan-PLTU-Batang
4. BBC INDONESIA, Di Jepang, warga Batang kampanye tolak PLTU Batang, 9 September 2014,
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/09/140909_polemik_pltu_batang _jateng
5. TAHTA AIDILLA, Warga Desak Jokowi Batalkan Proyek PLTU Terbesar di Asia Tenggara, Republika.co.id, Sabtu, 21 Maret
2015,http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/21/nljx2k-warga-desak- jokowi-batalkan-proyek-pltu-terbesar-di-asia-tenggara
6. TAUFIK RACHMAN, Masyarakat Jepara Unjukrasa Tolak PLTN Semenanjung Muria, Republika.co.id, Sabtu, 11 Juni 2011,
http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/06/11/lmmitl-masyarakat-jepara- unjukrasa-tolak-pltn-semenanjung-muria
7. BANDELAN AMARUDIN, Calon Kades Jepara Teken Kontrak Politik Tolak PLTN, Tempo.co, Selasa, 10 September 2013,
http://www.tempo.co/read/news/2013/09/10/058512029/Calon-Kades-Jepara-Teken- Kontrak-Politik-Tolak-PLTN
8. W.J.F. STANDRING, M. DOWDALL, , I. AMUNDSEN, P. STRAND, Floating Nuclear Power Plants: Potential Implications For Radioactive Pollution Of The Northern Marine Environment,Marine Pollution Bulletin, Volume 58, Issue 2, February 2009, Pages 174–
178.
9. YURY P. FADEEV, KLT-40S Reactor Plant for the floating CNPP FPU,
http://www.iaea.org/NuclearPower/Downloads/Technology/meetings/2011-Jul-4-8-
87 ANRT-WS/2_%D0%9ALT-40S_VBER_OKBM_Afrikantov_Fadeev.pdf, diunduh 14 Januari 2015
10. SAHALA MARULI LUMBANRAJA, Kajian Implementasi Flexblue di Indonesia, Jurnal Penegembangan Energi Nuklir, Volume 16, Nomor 2, Desember 2014
11. IAEA,KLT-40S, http://www.iaea.org/NuclearPower/Downloadable/aris/2013/25.KLT- 40S.pdf, diunduh 9 September 2014
12. OECD-NEA, Current Status, Tecnically Feasibilty, and Economics of Small Nuclear Reactors, http://www.oecd-nea.org/ndd/reports/2011/current-status-small-reactors.pdf, diunduh 14 Januari 2015
13. ALEXANDER NIKITIN, LEONID ANDREYEV, Floating Nuclear Power Plant, Bellona Reports 2011, http://bellona.org/filearchive/fil_fnpp-en.pdf, diunduh 6 Januari 2015 14. JASMINA VUJIĆ, RYAN M. BERGMANN, RADEK ŠKODA, MARIJA MILETIĆ, Small
modular reactors: Simpler, safer, cheaper?, Energy, Volume 45, Issue 1, September 2012, Pages 288–295,The 24th International Conference on Efficiency, Cost, Optimization, Simulation and Environmental Impact of Energy, ECOS 2011.
15. “---“, New concept for offshore nuclear plant, World Nuclear Nws, http://www.world- nuclear-news.org/nn-new-concept-for-offshore-nuclear-plant-1604141.html, 16 April 2014
16. KIHWAN LEE, et.al, “A New Design Concept For Offshore Nuclear Power Plants With Enhancedsafety Features”, Nuclear Engineering and Design 254 (2013) 129–141.
17. KIHWAN LEE, An Offshore Nuclear Power Plant Mounted On Gravity-Based Structures And Its Seismic Performance,Division of Ocean Systems Engineering School of Mechanical, Aerospace and Systems Engineering KAIST
http://library.kaist.ac.kr/thesis02/2012/2012M020104378_S1Ver2.pdf , diunduh 12 Jan 2015
18. MIN-GIL KIM, et.al., Conceptual Studies of Construction and Safety Enhancement of Ocean SMART Mounted on GBS, Nuclear Engineering and Design, Volume 278, 15 October 2014, Pages 558–572.
19. MIN-GIL KIM, SEONG GU KIMA, JEONG IK LEE, KANG-HEON LEE, PHIL-SEUNG LEE, Evaluation of Passive Containment Cooling System Design of SMART Built in GBS for Ocean Environment Under the Fukushima Accident Condition, Transactions of the Korean Nuclear Society Autumn Meeting,Gyeongju, Korea, October 24-25, 2013, 20. JONG-TAE SEO, Small and Modular Reactor Development, Safety and Licensing in
Korea, IAEA TWG-LWR Vienna, June 18-20, 2013
21. KIHWAN LEE, An Offshore Nuclear Power Plant Mounted on Gravity based-structure and its seismic performance, KAIST,
http://library.kaist.ac.kr/thesis02/2012/2012M020104378_S1Ver2.pdf, diunduh 12 Jan 2015
22. JACOB MORZINSKI, JACOPO BOUNGIORNO, MIT Offshore Floating Nuclear Power Plants,
https://wikis.mit.edu/confluence/display/FLOATINGREACTOR/MIT+Offshore+Floating+
Nuclear+Power+Plant, diunduh 12 Jan 2015
23. DAVID L. CHANDLER, Floating Nuclear Plants Could Ride Out Tsunamis, http://phys.org/news/2014-04-nuclear-tsunamis.html#nRlv, 16 April 2014
24. MICHAEL ABRAMS, Offshoring Nuclear Plants, https://www.asme.org/engineering- topics/articles/nuclear/offshoring-nuclear-plants, diunduh 6 Januari 2015
25. DCNS, “Flexblue: An Innovative Response to Global Energy Challenges”,
http://www.uxc.com/smr/Library%5CDesign%20Specific/Flexblue/Other%20Documents /Brochure.pdf, diunduh 22 August 2014
26. BRIGETTE BORNEMANN, “Flexblue : DCNS”, AREVA et EDF Passent Accord avec le CEA sur un Projet de Centrale Nucléaire Sous-marine, Les Energies de la Mer
Renouvelables, 24-11-2011, http://energiesdelamer.blogspot.com/2011/01/flexblue- dcns-areva-et-edf-passent-un.html, diunduh 22 August 2014
27. YVES ARMAND, “Flexblue Features & Industrial Aspects” , SMRs Assessment &Near Term Deployment IAEA – Technical Meeting, 12 Sept 2013
28. KIMO, “KIMO International and Greenpeace International, Concerns on Floating and Submerged Nuclear Power Plants”, OSPAR Convention for the Protection of the Marine Environment of the North-East Atlantic Meeting of the Radioactive Substances
Committee (RSC), diunduh 31 Juli 2014
88
29. DCNS, “Flexblue: A Subsea Reactor Project Consderations for its Licensing”,6th INPRO Dialogue Forum, July 2013 ,
http://www.iaea.org/INPRO/6th_Dialogue_Forum/session-2/2-france.pdf, diunduh 6 Agustus 2014
30. DCNS, “Main Module Features Flexblue”, BATAN-DCNS Flexblue Joint Technical Meeting, Jakarta, September 2014
31. DCNS, Flexblue, Innovative Power - AMGroupes.fr ,
http://www.amgroupes.fr/admin/compte_rendus/666_compte_rendu.pdf, diunduh 6 Agustus 2014
32. DCNS, “Security and Protection”, BATAN-DCNS Flexblue Joint Technical Meeting, Jakarta, September 2014
33. DCNS, “DCNS Dévoile Un Étonnant Concept De Centrale Nucléaire Sous-Marine”, Mer et Marine 19-01-2011 http://www.meretmarine.com/fr/content/dcns-devoile-un-
etonnant-concept-de-centrale-nucleaire-sous-marine, diunduh 24 September 2014 34. MULYANA W. ,M.SALAHUDDIN, Morfologi Dasar Laut Indonesia, 2010, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GK),
http://www.mgi.esdm.go.id/content/morfologi-dasar-laut-indonesia, diunduh 5 Januari 2015
35. EDLIC SATHIAMURTHY, HAROLD K. VORIS , Maps of Holocene Sea Level
Transgression and Submerged Lakes on the Sunda Shelf, The Natural History Journal of Chulalongkorn University, Supplement 2: 1-43, August 2006 ,
https://www.fieldmuseum.org/sites/default/files/Sathiamurthy%20%20Voris%202006%2 0NHJCU%20.pdf
36. C. J. VOS, 25 Years of Gravity Based Sructures Design, Construction, and
Installations, part 1. http://www.dmc.nl/upload/publicaties/documenten/25-years.pdf 37. LISA B. WATERS, et.al., Design and Constructionof Gravity Based Structure and
Modularized Lng Tanks For The Adriatic Lng Terminal,
http://www.cne.es/cgibin/BRSCGI.exe?CMD=VEROBJ&MLKOB=311697274848 38. “---“, Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2012 Tentang Keselamatan dan
Keamanan Instalasi Nuklir, Jakarta 2012
39. IAEA, Site Evaluation for Nuclear Installations Safety Requirements Series No. NS-R-3, Vienna 2003
40. “---“, Regulatory Requirements For Site Evaluation of Nuclear Power Plant, Atomic Energy Atomic Licencing Boards (AELB) Malaysia, Selangor 2011
DISKUSI/TANYA JAWAB:
1. PERTANYAAN: Kurnia Inzar (PKSEN – BATAN)
Terkait kontaminasi air laut yang berbeda, apa perbedaan antara PLTN di darat dan di laut?
JAWABAN: Sahala M.L. (PKSEN - BATAN)
Perbedaan hanya pada konstruksi bangunan seluruh fasilitas PLTN_nya dimana volume total PLTN lepas pantai lebih kecil dari PLTN di darat. Jika terjadi kebocoran/kecelakaan maka PLTN lepas pantai akan melepaskan kontaminannya lebih besar ke air laut, sedangkan kontaminan ke udara dan darat lebih kecil kecuali untuk PLTN apung dan PLTN GBS.
2. PERTANYAAN: I Ketut Gde Sugita (UNUD – BALI)
- Kajian data untuk menguatkan judul belum dilakukan masih dalam kajian SWOT, sebagai saran sebaiknya judulnya: “Kajian/Kelayakan Implementasi PLTN….”.
- Bagaimana kajian tentang sosial budaya masyarakat tentang PLTN?
JAWABAN: Sahala M.L. (PKSEN - BATAN)
- Memang benar, judul menggunakan kajian, tetapi judul ini dibuat tanpa kajian untuk mem_blow up jenid teknologi ini.
- Implementasi PLTN yang dihubungkan dengan aspek budaya Indonesia adalah sebagai berikut sosial budaya Indonesia berdasarkan budaya paternalistik sehingga dibutuhkan peran pemimpin masyarakat yang harus mendorong implementasinya.
Peran pemerintah & tokoh sangat besar untuk mewujudkannya.
89 3. PERTANYAAN: Bansyah Kironi (PKSEN – BATAN)
Bagaimana dengan reaktor KLT-40? Di mana lokasi pembangunannya?.
JAWABAN: Sahala M.L. (PKSEN - BATAN)
KLT-40 adalah reaktor nuklir (PLTN) jenis air tekan berdaya kecil yang dirancang untuk diimplementasikan di pinggir pantai. Lokasinya adalah dipinggir pantai.
4. PERTANYAAN: Bambang Riyono (BAPETEN)
Mohon jelaskan aspek kedaruratan nuklir apabila terjadi kecelakaan nuklir pada reactor yang ada di dalam pantai (off-shore)?
JAWABAN: Sahala M.L. (PKSEN - BATAN)
Jika terjadi kedaruratan nuklir maka masyarakat yang akan dievakuasi lebih mudah karena kecelakaan level 6 hingga 7 (menurut level IAEA). Kecil kemungkinan terjadi. Hal ini disebabkan air laut tersedia melimpah yang akan mendinginkan teras reactor secara otomatis ketika katup air dibuka.