• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAKDIR DAULAH KHILAFAH Pro-Kontra Pembentukan Sebuah Negara Baru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TAKDIR DAULAH KHILAFAH Pro-Kontra Pembentukan Sebuah Negara Baru"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

TAKDIR DAULAH KHILAFAH

Pro-Kontra Pembentukan Sebuah Negara Baru

Ali Sadikin

F. Irawan

K. Mustarom

(2)

TAKDIR DAULAH KHILAFAH

PRO-KONTRA PEMBENTUKAN SEBUAH NEGARA BARU

Ali Sadikin F. Irawan K. Mustarom

Rudi Azzam

Laporan Khusus

Edisi XIII / Agustus 2014 Gambar cover: understandingwar.org

ABOUT US

Laporan ini merupakan sebuah publikasi dari Lembaga Kajian Syamina (LKS). LKS merupakan sebuah lembaga kajian independen yang bekerja dalam rangka membantu masyarakat untuk mencegah segala bentuk kezaliman.

Publikasi ini didesain untuk dibaca oleh pengambil kebijakan dan dapat diakses oleh semua elemen masyarakat.

Laporan yang terbit sejak tahun 2013 ini merupakan salah satu dari sekian banyak media yang mengajak segenap elemen umat untuk bekerja mencegah kezaliman. Media ini berusaha untuk menjadi corong kebenaran yang ditujukan kepada segenap lapisan dan tokoh masyarakat agar sadar realitas dan peduli terhadap hajat akan keadilan. Isinya mengemukakan

gagasan ilmiah dan menitikberatkan pada metode analisis dengan uraian yang lugas dan tujuan yang legal.

Pandangan yang tertuang dalam laporan ini merupakan pendapat yang diekspresikan oleh masing-masing penulis.

Untuk komentar atau pertanyaan tentang publikasi kami, kirimkan e-mail ke:

[email protected].

Seluruh laporan kami bisa didownload di website:

www.syamina.org

(3)

EXECUTIVE SUMMARY DAFTAR ISI

D

eklarasi khilafah yang dilakukan oleh Daulah Khilafah tepat pada tanggal 1 Ramadhan 1435 H mengundang sejumlah pro dan kontra. Sebagian umat Islam mendukung, dan bahkan berbaiat, sedangkan sebagian yang lain memandang bahwa kekhilafahan yang mereka deklarasikan tersebut tidak sah dan terlalu terburu- buru. Deklarasi tersebut merupakan deklarasi ketiga yang dilakukan oleh jamaah yang sama. Dimulai dari deklarasi Daulah Islamiyah Irak pada tahun 2006, yang sebagian besar tokoh jihad mendukungnya, kemudian diikuti dengan deklarasi Daulah Islamiyah Irak dan Syam pada tahun 2013, yang mendapat penentangan dari beberapa tokoh jihad, dan terakhir adalah deklarasi kekhilafahan pada 29 Juni 2014 kemarin yang membuat nama organisasi tersebut berubah menjadi Daulah Khilafah (Islamic State). Tidak banyak perubahan nilai yang ada dalam deklarasi tersebut. Wilayah teritorialnya pun sering berubah seiring dengan dinamika yang masih terus bergulir akibat ketidakstabilan yang terjadi. Satu hal yang berbeda pada deklarasi terakhir adalah permintaan mereka kepada seluruh jamaah yang ada di dunia dan juga umat Islam pada umumnya untuk melakukan baiat kepada mereka. Kata-kata yang mereka sampaikan dalam deklarasi dinilai cukup berbau arogansi dan menciptakan mentalitas

“with us or against us” di dalam Daulah Khilafah, yang justru menciptakan lebih banyak musuh lagi.

Para tokoh jihad terkemuka pun tak ketinggalan memberikan komentar atas deklarasi tersebut. Abu Muhammad Al-Maqdisi menjelaskan bahwa salah satu tujuan imamah adalah menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan. Abu Qatadah Al- Falisthini mengutip penjelasan Ibnu Taimiyyah, bahwa sesungguhnya tujuan imamah itu terwujud dengan dibaiat oleh umat. Husain bin Mahmud mengatakan, “Tidak ada satu pun di antara mereka

DAFTAR ISI | 3

EXECUTIVE SUMMARY | 3

TIGA DEKLARASI NEGARA, SATU PEMERINTAHAN | 7 REAKSI BARAT TERHADAP DAULAH KHILAFAH | 30 KHILAFAH DALAM PANDANGAN ISLAM | 54

TANGGAPAN DUNIA ISLAM TERHADAP

DAULAH KHILAFAH (THE ISLAMIC STATE) | 62 AL QAIDAH VERSUS DAULAH KHILAFAH | 115

LAMPIRAN | 123

DAFTAR PUSTAKA | 140

(4)

(Khulafaur Rasyidin) yang mengambil baiat melalui cara pemaksaan dengan pedang. Semuanya terjadi dengan keridhaan Ahlul Halli wal ‘Aqd dan mayoritas kaum muslimin. Imam Al-Ghazali berkata,

“Seandainya yang membaiat Abu Bakar hanya Umar, sementara umat Islam secara keseluruhan tidak mau melakukannya, atau mereka terpecah belah dan tidak bisa dibedakan mana kelompok mayoritas dan mana kelompok minoritas, niscaya tidak ada pengukuhan imamah.”

Kesimpulan para ulama tersebut berdasarkan realitas sejarah dan perkataan para pendahulu yang menjadi panutan dalam suksesi. Umar bin Al-Khattab mengatakan, “Barang siapa yang membaiat seseorang tanpa permusyawarahan kaum muslimin maka orang yang membaiat dan orang yang dibaiat tersebut tidak boleh diikuti, karena ia telah menjerumuskan mereka berdua ke dalam pembunuhan.” (HR Al-Bukhari).

Abu Qatadah Al-Falisthini mengomentari hadits ini dengan ungkapan, “Syarat Imamah adalah adanya keridhaan, yang mana terdapat dalam redaksi hadits

‘tanpa melalui permusyawaratan kaum muslimin’.”

Khilafah merupakan sistem ketatanegaraan yang mendapat legitimasi (hukum fikih) Islam. Bahkan terdapat kesepakatan ulama mengenai wajibnya atas umat Islam untuk menegakkan kekhilafahan dan mengangkat seorang khalifah. Perdebatan tema kekhilafahan yang terjadi saat ini bukanlah terletak pada legitimasi Islam terhadap sistem tersebut, namun lebih kepada aplikasi dan penerapan sejumlah syarat-syarat ketentuan kekhilafahan yang telah dibahas oleh fuqaha terdahulu untuk diaplikasikan pada masa sekarang.

Deklarasi khilafah oleh Daulah Islam Irak dan Syam menyisakan dua problem yang keduanya berpotensi dapat mendelegitimasi Daulah Khilafah Islamiyah secara syariat. Pertama, jika deklarasi tersebut dimaksud untuk terbentuknya suatu institusi daulah baru yang berbeda dengan daulah sebelumnya, maka adanya baiat dari Ahlu Halli wal

‘Aqdi dari Daulah Islam Irak dan Syam tidak cukup untuk melegitimasi keabsahannya, karena mereka tidak mewakili mayoritas umat, kecuali jika mereka berhasil menguasai sebagian besar negeri umat Islam, maka metode semisal penaklukan dan kudeta (al-qahr wa al-ghalabah) dapat dijadikan justifikasi keabsahan kekhilafahan mereka tersebut. Problem

kedua, yaitu jika Daulah Khilafah Islamiyah tidak berbeda dengan Daulah Islam Irak dan Syam secara syar’i, maka yang lebih berhak untuk mendapat gelar tersebut adalah amir yang lebih dahulu mendapat baiat oleh Ahlu Halli wal ‘Aqdi, seperti Imarah Islam Afghanistan dan Imarah Kaukasus, sebagaimana perintah dalam hadits untuk memenuhi baiat orang yang dibaiat peertama kali.

Di kalangan Barat, baik dari pihak pemerintah maupun para analis dan lembaga think tank mereka, pun mencoba menganalisis, baik kekuatan maupun kelemahan Daulah Khilafah. Dalam analisis mereka, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh Daulah Khilafah dengan pendeklarasian tersebut, yang antara lain adalah untuk mengangkat status Daulah Khilafah dan Al-Baghdadi. Deklarasi Daulah Khilafah juga dipandang sebagai usaha untuk menahan perdebatan di kalangan jihadis tentang legitimasi keagamaan atas tindakan yang mereka lakukan.

Selain itu—dan yang paling penting—pengumuman ini merupakan bagian dari rencana untuk melakukan mobilisasi umat Islam.

Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh Daulah Khilafah dalam menjalankan perannya sebagai sebuah pemerintahan. Deklarasi tersebut membawa mereka pada beban harapan yang sangat tinggi dari umat Islam yang berpotensi membawa mereka pada kondisi overreach mode, terlalu banyak front dan beban yang mereka buka yang berada di luar jangkauan kemampuan. Kegagalan untuk terus melanjutkan penaklukan atau mempertahankan wilayah yang telah mereka kuasai akan menimbulkan kekecewaan dan akan berpotensi membuat Daulah Khilafah ditinggalkan. Tantangan berikutnya adalah ancaman adanya resistensi yang sangat serius dalam usaha mereka untuk mengimplementasikan visi kekhilafahannya. Sekutu mereka saat ini adalah kelompok yang dulu pernah menjadi musuh mereka saat masih menjadi Daulah Islamiyah Irak. Mereka harus memutuskan seberapa jauh mereka mau berkompromi dan bernegosiasi untuk membangun aliansi yang kuat dari mitra yang sejauh ini lebih oportunistik. Jika Daulah Khilafah tidak mampu untuk mengatasinya, ancaman akan pemberontakan dari dalam akan berpotensi mengganjal tujuan mereka.

Sebagai sebuah kelompok vanguards, dengan kepemimpinan pusat yang ketat tetapi keterikatan

(5)

dengan masyarakat lokal cukup lemah, Daulah Khilafah berpotensi menuju dua lintasan nasib yang bertolak belakang: terfragmentasi atau terintegrasi.

Kelompok vanguards akan terfragmentasi melalui pembunuhan kepemimpinan secara berkelanjutan.

Keterikatan dengan lembaga lokal yang lemah membuat tidak adanya lapisan anak tangga kepemimpinan kedua yang siap mengambil alih. Selain itu, kelompok vanguards juga dapat dirusak oleh pemberontakan dari bawah. Mereka mengandalkan kerjasama oportunistik dengan faksi dan jaringan lokal yang tidak dikontrol dengan ketat oleh kepemimpinan pusat. Agen lokal ini dapat berbalik melawan pusat, meluncurkan pemberontakan yang melemahkan atau bahkan menghapus kepemimpinan pusat. Para anggota atau aliansi yang oportunistik tersebut cenderung akan pindah atau bahkan mengkudeta kepemimpinan jika organisasi tersebut tidak mampu membuat mereka kagum.

Kelompok vanguards juga bisa menapaki jalur menuju integrasi dengan cara menciptakan hubungan dengan faksi-faksi lokal bersenjata untuk melawan musuh bersama. Mereka bisa mengatur panggung untuk melakukan penyusupan dan mengendalikan kelompok-kelompok sekutu.

Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan kompromi tujuan ideologis dengan melakukan adaptasi terhadap kepentingan lokal. Fleksibilitas strategis ini dapat memungkinkan kelompok vanguards untuk membangun institusi baru di lapangan, mengkooptasi dan menyerap faksi lokal, dan akhirnya membentuk sebuah organisasi yang terintegrasi.

Tantangan lain bagi Daulah Khilafah adalah mengenai bagaimana mereka menjalankan pemerintahan. Pemerintahan sendiri adalah sebuah dilema yang selama ini kelompok jihadi dipandang gagal dalam menjalankannya. Menjalankan pemerintahan bukan sekadar pembagian makanan gratis dan pemberian layanan sosial. Mengatur wilayah jauh lebih kompleks daripada itu. Dan kelemahan inilah yang berusaha dieksploitasi oleh Barat dengan mengekspos betapa buruknya pemerintahan para jihadis. Itulah mengapa beberapa tokoh jihad menasihati untuk tidak terburu-buru mendeklarasikan sebuah daulah di tengah situasi yang masih belum stabil dan musuh

masih mempunyai kekuatan untuk menghancurkan daulah tersebut dalam waktu singkat. Mereka mengibaratkannya dengan membangun rumah di tengah terjangan banjir, yang jika rumah itu hancur, maka masyarakat berpotensi mengalami trauma untuk kemudian enggan membantu kembali dalam pembangunan rumah yang kedua. Pengalaman perang di Irak dalam dekade terakhir menunjukkan bahwa pengumuman “mission accomplished” tidak menjamin kesuksesan.

Jika mereka tidak berhati-hati dan gagal dalam mengatasi tantangan tersebut, maka mereka telah mengambil sebuah risiko besar yang berdampak pada keberlangsungan organisasi tersebut.

Barat juga memandang bahwa deklarasi tersebut sebagai sebuah kompetisi antara Daulah Khilafah dengan Al-Qaidah dalam menancapkan pengaruhnya di kalangan komunitas jihad global.

Mereka pun berusaha mengomparasikan di antara keduanya, untuk kemudian menyimpulkan siapa yang lebih berbahaya di antara keduanya bagi mereka. Dalam kesimpulan mereka, pencapaian yang didapat oleh Daulah Khilafah saat ini memang cukup luar biasa. Namun di balik kemajuan yang berhasil mereka peroleh, Daulah Khilafah juga mulai menampakkan kelemahannya, yaitu kegagalan untuk menarik jaringan di luar Irak dan Suriah serta kecenderungannya untuk mengalienasi partner potensial dengan kebrutalan dan penolakan mereka untuk berkompromi.

Daulah Khilafah lebih menunjukkan karakter yang impulsif dalam usaha merebut wilayah dan melakukan rekrutmen. Mereka tidak terlalu bersabar atas usaha yang rumit dan memakan waktu yang lebih disukai oleh Al-Qaidah. Daulah Khilafah juga dianggap lebih fokus pada masalah regional. Mereka tidak peduli dengan gambar besar. Mereka sangat keras pendirian dan sangat keras dalam menjalankan segala sesuatu. Mereka tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh dunia.

Di saat Daulah Khilafah tampaknya membuat kesalahan yang sama lagi, Al-Qaidah melakukan pergeseran pendekatan secara signifikan.

Ideolog Al-Qaidah mulai menekankan bahwa rezim pemerintah telah menghalangi warganya dari mengetahui Islam yang benar, dan dengan demikian mereka berpendapat bahwa penting untuk memperkenalkan kembali orang-orang

(6)

tersebut kepada keimanan secara bertahap, bukan malah memaksa untuk mengikuti keinginan mereka melalui kekerasan. Dalam hal proses pendirian negara, Al-Qaidah secara konsisten berargumen bahwa usaha untuk menegakkan negara akan gagal jika mereka tidak bersekutu dengan benar. Mereka berulangkali mengingatkan para anggotanya untuk tidak tergesa-gesa memberlakukan hukum syariah di saat penduduk belum siap untuk itu. Bagi mereka, tidak mungkin membangun negara dalam semalam, diperlukan waktu yang cukup panjang dan mungkin bertahun-tahun untuk menyelesaikannya.

Daulah Khilafah memilih untuk mendeklarasikan negara segera setelah merebut sejumlah besar wilayah, meski belum menguasai Baghdad atau sisa dari Irak, dan meski sedang berada di tengah-tengah perang yang belum diputuskan pemenangnya. Daulah Khilafah juga mengatakan bahwa dalam proses pengambilan keputusan penegakan khilafah hanya melibatkan anggota mereka sendiri, bukan masyarakat luas sebagaimana yang direkomendasikan oleh Al-Qaidah. Pernyataan mereka juga tidak menyebut tentang terpenuhinya salah satu dari “elemen kesuksesan” yang dijelaskan dalam dokumen Al-Qaidah, yaitu kemampuan untuk berfungsi dan mempertahankan diri, dukungan dari suku terkemuka, dan sebagainya.

Kekuatan Al-Qaidah berbeda dengan Daulah Khilafah. Strategi mereka dibangun di atas teori tentang bagaimana bekerjasama dengan sekutu dan kelompok cabang yang selama ini sudah terbukti berhasil. Sedangkan Daulah Khilafah, dengan tidak mengesampingkan kemenangan yang mereka dapatkan saat ini, teori mereka tentang bagaimana merebut wilayah dan melakukan ekspansi masih perlu pembuktian. Aliansi Al-Qaidah lebih strategis dibanding aliansi Daulah Khilafah. Mereka dibangun di atas visi bersama atau, paling tidak, sejumlah tujuan yang sama. Sedangkan aliansi Daulah Khilafah, baik di Irak (suku-suku Sunni dan mantan anggota rezim Saddam) maupun di Suriah dibangun di atas kenyamanan dan darurat perang, belum tentu karena adanya visi umum politik yang sama.

Dalam kesimpulan mereka, visi Al-Qaidah paling tidak tetap membuat para analis kontraterorisme terjaga di malam hari selama bertahun-tahun yang akan datang.

Jika kita merujuk pada tahapan strategi Al-Qaidah menuju kemenangan mutlak pada tahun 2020, maka saat ini masuk dalam tahapan kelima, yaitu pendeklarasian khilafah (2013-2016). Kenyataan di lapangan dan akurasi strategi mereka sampai sejauh ini membuat Barat cukup terganggu. Masih ada waktu dua tahun untuk melihat apakah tahapan tersebut bisa terpenuhi. Harapan akan persatuan antara Al-Qaidah dan Daulah Khilafah serta barisan kelompok jihad pun masih besar. Persatuan mereka akan menghasilkan kekuatan yang berdampak pada ancaman yang belum bisa dibayangkan oleh AS dan sekutunya. Dan kondisi inilah yang lebih dikhawatirkan oleh Barat.

Deklarasi Daulah Khilafah adalah sebuah takdir.

Perlu waktu panjang untuk membuktikan apakah mereka merupakan sebuah daulah khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian ataukah justru mereka adalah kelompok yang menaruh kereta di depan kuda dalam perjuangan penegakan khilafah di muka bumi.

(7)

1. Pendahuluan

Deklarasi Daulah Khilafah Islamiyah di Irak pada awal bulan Ramadhan 1435H yang lalu telah menimbulkan berbagai tanggapan dari berbagai kalangan, baik yang pro maupun yang kontra.

Sebelum deklarasi tersebut, telah berlalu pada beberapa tahun belakangan ini sejak invasi AS ke Irak tahun 2003 deklarasi entitas wadah perjuangan bagi sebagian umat Islam Sunni di Irak mulai dari bentuk jamaah, majlis syura, daulah hingga daulah khilafah.

Terkait dengan deklarasi pembentukan daulah (negara) tersebut, tulisan dalam bagian ini berusaha meninjau secara singkat tentang negara dan teori pembentukan negara. Selanjutnya akan diulas tentang perjalanan tahapan deklarasi daulah tersebut dan menganalisis beberapa nilai yang terkandung didalamnya mulai dari deklarasi pembentukan Daulah Islamiyah Irak (Islamic State of Iraq, ISI) kemudian berganti menjadi Daulah Islamiyah Irak dan Syam (Islamic State in Iraq and Sham, ISIS), dan selanjutnya berganti lagi menjadi Daulah Khilafah Islamiyah (Islamic State, IS).

2. Ulasan singkat tentang negara dan teori pembentukan negara

a. Definisi negara

Dalam teori tata negara umum, negara (state/

daulah) biasanya didefinisikan sebagai berikut1: z Negara dalam arti luas adalah kesatuan

sosial yang diatur secara konstitusional untuk mewujudkan kepentingan bersama.

z Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya

1 F. Irawan, Membentuk Negara, Laporan Bulanan LK. Syamina, edisi bulan Juni 2014

diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut.

z Negara adalah pengorganisasian masyarakat suatu wilayah tersebut dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini.

Keberadaan negara, seperti organisasi secara umum, adalah untuk memudahkan anggotanya (rakyat) mencapai tujuan bersama atau cita-citanya.

Keinginan bersama ini dirumuskan dalam suatu dokumen yang disebut sebagai konstitusi, termasuk di dalamnya nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh rakyat—secara terpaksa maupun sukarela—sebagai anggota negara, yang kemudian dikenal sebagai dasar negara.

Ada banyak definisi dan pengertian tentang negara yang dikemukakan oleh pakar tata negara diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Robert M. MacIver (R.M. Mac Iver: 1926)

Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaan memaksa.2

2. Logeman (M. Solly Lubis: 2007)

Negara adalah organisasi kemasyarakatan yang dengan kekuasaannya bertujuan untuk mengatur dan mengurus masyarakat tertentu.

3. Roger H. Soltau (Roger H. Soltau: 1961)

Negara adalah alat (agency) atau kewenangan (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.3

2 R.M. MacIver, The Modern State, London: Oxford University Press, 1926, h. 22.

3 Robert M. Soltau, An Introduction to Politics, h. 1.

TIGA DEKLARASI NEGARA,

SATU PEMERINTAHAN

(8)

4. Aristoteles (M. Solly Lubis: 2007)

Asosiasi yang setinggi-tingginya dan yang sempurna-sempurnanya yang dapat dicapai oleh manusia untuk keperluan hidup bersama.

5. Max Weber

Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam sesuatu wilayah.4

6. Ibnu Abi Ar-Rabi’

Ibnu Abi Ar-Rabi’ berpendapat bahwa untuk mendirikan negara diperlukan beberapa dua unsur dan sendi. Pertama, harus ada wilayah di dalamnya, terdapat terdapat air bersih, tempat mata pencarian, terhindar dari serangan musuh, jalan-jalan raya, tempat shalat di tengah kota, dan pasar-pasar. Kedua, harus ada raja atau penguasa sebagai pengelola negara yang akan menyelenggarakan segala urusan negara dan rakyat.5

Ringkasnya, negara (state/daulah) adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik. Negara adalah alat (agency) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat.

Jadi sebagai definisi umum dapat dikatakan bahwa negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah (governed) oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang- undangannya melalui penguasa (kontrol) monopolisitik terhadap kekuasaan yang sah.

Suatu negara apabila ingin diakui sebagai negara yang berdaulat secara internasional harus memenuhi empat persyaratan unsur negara berikut ini:

1. Memiliki wilayah 2. Memiliki rakyat

3. Memiliki pemerintahan yang berdaulat

4 H.H. Gerth and C. Wright Mills, terj., editorial dan pengantar daribuku Max Weber, Essays in Sociology, New York:Oxford University Press, 1958, h. 78.

5 Ibnu Abi Ar-Rabi’, Suluk Al-Malik fi Tadbir Al-Mamalik, Kairo: Dar Asy- Sya’bah, 1970.

4. Adanya pengakuan dari negara lain

Suatu negara dapat berbentuk salah satu dari bentuk-bentuk negara berikut ini:

1. Negara Konfederasi : negara yang terdiri dari persatuan beberapa negara yang berdaulat.

2. Negara Kesatuan : negara yang tidak tersusun dari beberapa negara, sifatnya tunggal.

3. Negara Serikat (Federal) : negara yang tersusun dari beberapa negara yang semula berdiri sendiri-sendiri dan kemudian negara-negara tersebut mengadakan ikatan kerjasama yang efektif, tetapi di samping itu, negara-negara tersebut masih ingin mempunyai wewenang- wewenang yang dapat diurus sendiri.

4. Negara Khilafah (Imperium) : dikenal dalam sistem politik Islam, di mana negara ini berbentuk negara global yang meliputi seluruh wilayah di dunia dengan kekuasaan yang terpusat, namun bukan tanpa batas, pada diri seorang kepala negara, yaitu khalifah. Terkait dengan negara khalifah ini, para ulama umat Islam telah merumuskan kaidah keilmuannya berdasarkan syariat (fikih) Islam. Pembahasan tentang hal ini diberikan pada bagian lain dalam laporan khusus ini.

b. Teori pembentukan negara

Teori terbentuknya suatu negara dibedakan menjadi empat bagian, yang pertama berdasarkan teori riwayat pembentukannya, kedua berdasarkan kenyataan apa adanya, ketiga berdasarkan teori terjadinya, dan terakhir berdasarkan teori riwayat pertumbuhannya (secara sosiologis).

Asal mula negara berdasarkan teori riwayat pembentukannya secara klasik tradisional ada empat teori sebagai berikut:

1. Teori hukum alam : Negara terjadi secara alamiah dengan bersumber dari manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kecenderungan berkumpul dan saling berhubungan untuk mencapai kebutuhan hidupnya.

2. Teori ketuhanan (teokrasi) : raja bertakhta karena kehendak Tuhan.

3. Teori perjanjian (perjanjian masyarakat)/teori kontrak sosial : negara dibentuk melalui suatu perjanjian di mana individu-individu merupakan

(9)

pesertanya. Negara berdaulat merupakan tujuannya sehingga dapat melindungi serta menjamin kehidupan mereka. Perjanjian ini disebut perjanjian masyarakat atau kontrak sosial.

4. Teori kekuasaan/kekuatan : negara timbul karena orang-orang kuat menaklukkan orang- orang lemah. Untuk dapat menguasai orang- orang lemah, maka didirikanlah organisasi, yaitu negara.

Ahli-ahli tata negara modern tidak menyetujui adanya usaha untuk menyelidiki asal mula negara serta hakiki historis dari negara. Mereka bersikap skeptis serta menganggap tidak perlu lagi untuk mengetahui dan menyelidiki tentang asal mula negara itu, yang penting kita terima saja negara itu sebagaimana adanya sebagai suatu kenyataan.

Menurut kejadian yang nyata, negara itu terbentuk, antara lain, karena hal-hal berikut.

1. Peleburan (fusi), merupakan penggabungan antara dua atau lebih negara menjadi suatu negara baru.

2. Pemisahan diri, yaitu memisahnya suatu bagian wilayah negara untuk menciptakan suatu negara baru. Pemisahan diri tidak dapat dikatakan sama dengan pemecahan karena negara yang lama masih ada.

3. Pemecahan, yaitu terpecahnya suatu negara yang menimbulkan negara-negara baru sehingga negara sebelumnya menjadi hilang (lenyap).

4. Penaklukan, yaitu suatu daerah yang telah diduduki seseorang atau bangsa yang kemudian diambil alih untuk didirikan negara di wilayah itu.

5. Pendudukan, yaitu ketika suatu wilayah yang tidak bertuan dan belum dikuasai, kemudian diduduki dan dikuasai oleh suku atau kelompok tertentu.

6. Penguasaan terhadap wilayah yang ada penduduknya, namun belum berpemerintahan sebelumnya.

7. Penyerahan, yaitu ketika suatu wilayah diserahkan kepada negara lain berdasarkan perjanjian tertentu. Penyerahan ini juga dapat diikatakan pemberian kemerdekakaan kepada

suatu koloni oleh negara lain yang umumnya adalah bekas jajahannya.

8. Penarikan, di mana awalnya suatu wilayah terbentuk akibat naiknya lumpur sungai/

timbul dari dasar laut (delta). Wilayah tersebut kemudian dihuni oleh sekelompok orang sehingga akhirnya membentuk negara.

9. Pencaplokan (penguasaan), yaitu suatu negara berdiri di suatu wilayah yang dikuasai bangsa lain tanpa reaksi berarti.

10. Pembentukan Baru, di mana suatu negara baru muncul di atas suatu negara yang pecah karena suatu hal kemudian lenyap.

11. Perjuangan (proklamasi), yaitu suatu daerah yang pada awalnya merupakan tanah jajahan dari negara lain, suatu saat menyatakan kemerdekaannya.

Selanjutnya akan diulas tentang tiga deklarasi atau proklamasi pembentukan daulah yang sekarang ini sedang banyak dibicarakan baik oleh kalangan ilmuwan maupun orang awam dan menimbulkan pro dan kontra. Ketiga daulah tersebut yang satu dengan lainnya merupakan tahapan adalah Daulah Islamiyah Irak (Islamic State of Iraq, ISI), Daulah Islamiyah Irak dan Syam (Islamic State in Iraq and Sham, ISIS), dan Daulah Khilafah Islamiyah (Islamic State, IS).

3. Tiga Deklarasi Daulah a. Daulah Islamiyah Irak (ISI)

Daulah Islamiyah Irak dideklarasikan pada tanggal 15 Oktober 2006 bertepatan dengan 22 Ramadhan 1427H oleh Koalisi Mutayibin yang dipublikasikan dalam bentuk pesan video oleh juru bicara Departemen Informasi daulah tersebut.

Dalam video deklarasi yang berdurasi 8 menit 31 detik tersebut, wajah sang juru bicara dikaburkan.

Juru bicara tersebut menyampaikan bahwa Daulah Islamiyah Irak meliputi wilayah provinsi, yaitu Baghdad, Anbar, Diyala, Kirkuk, Shalahuddin, Nainawa dan sebagian provinsi Babil dan Wasith.

Berikut adalah peta wilayah yang diklaim oleh Daulah Islamiyah Irak yang dimuat dalam artikel berjudul The Rump Islamic Emirate of Iraq oleh Bill Roggio.6

6 http://www.longwarjournal.org/archives/2006/10/the_rump_islamic_

emi.php#

(10)

Wilayah yang diklaim dikuasai Daulah Islamiyah Irak pada saat deklarasi

Di antara maksud atau tujuan dibentuknya daulah tersebut menurut ungkapan juru bicara dalam video tersebut adalah untuk melindungi kaum Muslimin dan agamanya dan agar tidak ada fitnah. Kemudian juga disebutkan dalil-dalil yang mendasari wajibnya kaum muslimin mengangkat seorang pemimpin.

Dalam deklarasi tersebut juga disampaikan bahwa Daulah Islamiyah Irak tersebut cukup layak untuk berdiri karena kekuatan, luas wilayah, dan keamanan yang dimiliki lebih baik daripada pemerintahan Palestina yang legitimasinya diterima oleh banyak orang, walaupun penjajah Zionis masih mengancam.

Selanjutnya juru bicara dalam video tersebut menganalogikan atau penyandarkan pembentukan daulah tersebut dengan penegakkan Daulah Madinah oleh Rasulullah n dengan membandingkan adanya kesamaan kondisi yang dihadapi.

Menurut juru bicara dalam video deklarasi tersebut dengan dibentuknya Daulah Islamiyah Irak, umat Islam Ahlus Sunnah di Irak akan lebih mempunyai kehormatan dihadapan musuhnya dari penjajah dan kaum Rafidhah (Syiah).

Sang Juru Bicara dalam video deklarasi tersebut memberikan seruan kepada Mujahidin, ulama, kaum muslimin Ahlus Sunnah di Irak agar berbai’ah

kepada Amirul Mukminin Daulah Islamiyah Irak Abu Umar Al-Baghdadi untuk mendengar dan menaati perintahnya dan bekerja keras dalam menegakkan pilar-pilar daulah tersebut. Seruan juga diberikan kepada semua umat Islam Ahlus Sunnah di seluruh dunia untuk memberikan bantuan dalam berbagai bentuk mulai dari yang ringan sampai yang berat dengan mengorbankan jiwa.

Berikut adalah terjemahan transkrip sebagian isi pesan video Deklarasi ISI yang dimuat dalam artikel berita berjudul Islamic State of Iraq Has Been Proclaimed oleh situs kavkazcenter.com versi bahasa Inggris pada tanggal 16 Oktober 2006, atau satu hari setelah deklarasi tersebut.7

Setelah menghadiahi bangsa Kurdi dengan negara di bagian Utara, dan Rafidhah (Syiah) mendapatkan federasi provinsi di Selatan dan Tengah, dengan bantuan dari Yahudi di Utara maupun Safawi di Selatan, dan dilindungi oleh milisi-milisi militer yang berpikiran hitam, berhati hitam dan bertingkah hitam, mereka beralih kepada saudara-saudara kita dari Ahlus Sunnah dan bersegera dalam menumpahkan darah mereka dan menodai kehormatan mereka, menyebabkan mereka menerima bentuk-bentuk pembunuhan yang paling brutal, penyiksaan dan pengusiran, bahkan Ahlus Sunnah menjadi bagaikan anak yatim dalam pesta orang fasik. Karena itu menjadi penting bagi orang-orang mulia dan merdeka di antara Ahlus Sunnah, Mujahidin, ulama amilun, dan para pemuka untuk melakukan sesuatu terhadap sudara- saudara mereka, anak-anak dan keluarga mereka terutama yang berada di bawah negara ini yang disebut Negara Maliki, yang secara terang-terangan melakukan tindakan pengkhianatan terhadap Ahlus Sunnah, menghalangi agama umat dan rela mengorbankan hak-hak bangsa mereka.

Oleh sebab itu, saudaramu di Aliansi Mutayibin memberikan kabar gembira dengan pembentukan Daulah Islam Irak, di Baghdad, Anbar, Diyala, Kirkuk, Shalahuddin, Nainawa dan sebagian provinsi Babil serta

7 http://kavkazcenter.com/eng/content/2006/10/16/5985.shtml

(11)

Wasith, dengan maksud untuk melindungi agama kita dan umat kita agar tidak ada fitnah dan karena itu darah dan pengorbanan putra-putra Mujahidin kalian tidak hilang sia-sia.

{Pembicara kemudian melanjutkan dengan dalil-dali legal yang menunjukkan bahwa pengangkatan amir adalah kewajiban kaum Muslim, mengutip dari Imam Asy-Syaukani dan Ibnu Taimiyah yang menggunakan dalil-dalil dari hadits Rasulullah n}

Mengapa tidak, karena kita dianugerahi kekuatan dan pertolongan dari Allah yang tersebar secara luas; lengan kita menjangkau lebih jauh, dan basis kita lebih aman daripada pemerintahan Palestina yang mempunyai legitimasi yang diterima oleh banyak orang, meskipun pada kenyataannya penjajah Zionis dapat membunuh dan menangkap siapa saja yang mereka inginkan dan membebaskan siapa saja yang mereka inginkan di sembarang waktu dan tempat, sebagaimana jelas dari penangkapan lebih dari 60 orang menteri dan pejabat negara mereka, sementara itu penjajah Amerika tidak mampu mencapai satu pun dari tentara-tentara kami tanpa kami menumpahkan darah mereka, dan Allah adalah saksi atas segala waktu.

Dan kami, dengan pengumuman penegakkan daulah ini, menyandarkan pada Sunnah Nabi n ketika beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah dan menegakkan Daulah Islam di sana, walaupun pada kenyataannya koalisi musyrik dan Ahli Kitab memusuhi beliau. Karena kaum Yahudi yang mempunyai area terpisah dan tingkat administrasi, pelatihan militer, dan organisasi yang sangat tinggi, sementara kaum munafik dan musyrik yang bergabung dengan mereka yang dipimpin oleh Ibnu Salul menginginkan memerintah di Madinah, mengancam daulah baru tersebut, Nabi n siap untuk memberikan sepertiga hasil panen Madinah. Walaupun jumlah dan peralatan yang dimiliki terbatas, daulah diperlukan sedemikian sehingga menjadi

tempat perlindungan bagi kaum Muslim, di mana hak-hak mereka dilindungi terhadap siapapun yang ingin mengganggu mereka.

Dan kami, dengan izin dan kekuatan dari Allah, telah mengontrol pada banyak bagian (dari Irak) yang luas areanya sama dengan luas Daulah Madinah pertama, suatu daulah di mana musuh-musuh tidak ada dan Mujahidin menegakkan syariat hudud (hukuman) pada permintaan yang sungguh- sungguh dari Ahlus Sunnah sendiri.

Biarlah para penjajah dan kaum Rafidhah (Syiah) mengetahui bahwa darah ahlul Sunnah adalah suci dan bernilai dan mereka tidak akan memecah belah dengan semena-mena setelah hari ini. Kita akan menghadapi setiap pelanggaran dari mereka dengan kekuaatan Allah, dengan balasan yang lebih keras dan lebih pedas yang tidak ada batasnya. Biarlah mereka mengetahui bahwa Baghdad Rasyid, tanah Khilafah, yang dibangun oleh leluhur kami, tidak akan ditinggalkan oleh tangan-tangan kami kecuali di atas mayat dan tulang kami, dan kami akan terus menancapkan di atasnya sekali lagi bendera Tauhid, Bendera Daulah.

Dan kami menyeru pada semua Mujahidin, ulama-ulama Irak, pemimpin- pemimpin suku, dan umat di antara ahlu Sunnah untuk berbaiat kepada Amirul Mukminin, yang terhormat Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi hari ini, untuk mendengar dan menaati perintahnya, baik suka atau tidak, dan bekerja keras untuk menguatkan pilar-pilar daulah ini, untuk mengorbankan baginya nyawa kami dan harta yang kami miliki. Kami berjanji kepada Anda bahwa kami akan bersungguh-sungguh dan loyal, bersama dengan Anda dalam keadilan dan kebaikan, mengawal Anda dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi n tidak melenceng darinya sejengkalpun. Kita akan mengusir keluar para penjajah, dan menegakkan perdamaian dan keamanan, kehidupan yang terhormat, tidak merampas dari Anda barang-barang yang berada di tanah Anda, karena itu adalah milik Anda, dan kami akan mengulurkan

(12)

tangan kepada saudara-saudara Muslim kami di seluruh dunia, terutama, di sekitar negara kami tercinta, memberikan kepada mereka kebaikan dan pengalaman kami, sementara kami mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka miliki berupa sesuatu yang baik dan pengetahuan.

Selain itu, kami menyerukan kepada semua umat Islam Ahlus Sunnah di seluruh dunia, untuk membantu kami mulai dengan kata-kata dan berakhir dengan darah, karena Anda adalah sumber kekuatan kami, dan kepada Anda kami memanjangkan harapan kami setelah Allah. Begitu juga agar tidak menggagalkan kami dan berdiri bersama kami. Membela kami dan membakar tanah di bawah orang yang ingin membahayakan kita.

Kami memperluas seruan ini khususnya bagi orang-orang yang berilmu, meminta mereka untuk takut kepada Allah tentang diri kami, menjadi pendukung bagi kami, menghasung orang-orang untuk membela kami, dan berdoa bagi kami.

“Wallahu Akbar, dan kemuliaan adalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.”

Juru Bicara, Departemen Informasi Daulah Islam Irak

Ramadhan 1427 H 15 Okktober 2006 M

b. Daulah Islamiyah di Irak dan Syam (ISIS)

Daulah Islamiyah di Irak dan Syam (the Islamic State of Iraq and Sham) dideklarasikan melalui pesan audio oleh Amirul Mukminin Abu Bakar Al-Baghdadi pada tanggal 9 April 2013 bertepatan dengan 28 Jumadil Awal 1434 H. Beberapa nilai yang dapat diambil dalam deklarasi tersebut sebagai berikut:

Abu Bakar Al-Baghdadi menyampaikan bahwa peningkatan dari satu level ke level yang lebih tinggi memerlukan nama baru. Hal ini diberikan contoh dengan perjalanan jihad di Irak mulai dari munculnya jamaah-jamaah jihad atau kelompok perlawanan

dari suku-suku dengan namanya masing-masing kemudian meningkat ke level-level di atasnya yang semuanya disertai dengan perubahan nama.

Hal penting lain yang disampaikan dalam deklarasi tersebut adalah bahwa Jabhah An- Nushrah—salah satu jamaah jihad yang berjuang di Syam—tidak lain adalah perpanjangan tangan dari Daulah Islamiyah Irak dan (hanya) bagian kecil dari Daulah Islamiyah Irak. Mereka berjuang di Syam karena diutus oleh Daulah Islamiyah Irak untuk menolong saudara-saudara muslim di Syam yang ditindas oleh rezim Bashar Assad.

Dalam deklarasi tersebut dinyatakan adanya penghapusan nama Daulah Islamiyah Irak dan Jabhah An-Nushrah, kemudian berkumpul dalam satu nama, yaitu Daulah Islamiyah di Irak dan Syam.

Berikut adalah terjemahan dari transkrip lengkap bahasa Inggris pesan audio oleh Abu Bakar Al-Baghdadi dalam mendeklarasikan Daulah Islamiyah di Irak dan Syam (ISIS) yang dimuat dalam situs website Jihadology.net.8

“Dan berilah kabar gembira bagi kaum muslimin”

Deklarasi Daulah Islamiyah Irak dan Syam

Pesan audio dari Amirul Mukminin Abu Bakar Al-Baghdadi Al-Husaini Al-Qurasyi

Segala puji hanya bagi Allah. Kami memuji-Nya, kami memohon pertolongan- Nya, kami memohon hidayah-Nya, dan kami bertawakal hanya kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kami, dan keburukan amal-amal kami.

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka dia tidak akan mendapat seorang penolongpun.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah bagiku kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Allah

8 http://azelin.files.wordpress.com/2013/04/shaykh-abc5ab- bakr-al-e1b8a5ussaync4ab-al-qurayshc4ab-al-baghdc481dc4ab- e2809cannouncement-of-the-islamic-state-of-iraq-and-al-shc481m22- en.pdf

(13)

mengutusnya dengan petunjuk dan dien yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, walaupun orang kafir membencinya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar- benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.

Demikianlah Allah menerangkan ayat- ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung

Dan janganlah kamu menyerupai orang- orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS Ali

‘Imran :102 – 105) Amma Ba’du,

Kami sampaikan kabar gembira kepada umat Islam setelah rentetan peristiwa, di mana kami hidup di dalamnya. Saya katakan, seraya memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, sesungguhnya peningkatan dari level bawah menuju ke level atas adalah termasuk bentuk pemuliaan Allah kepada jamaah- jamaah jihad. Hal tersebut menunjukkan keberkahan amal-amal mereka, sebagaimana kemunduran dan stagnasi adalah bukti keburukan. Kami berlindung kapada Allah darinya.

Dan suatu level yang tinggi tidak akan terjadi, kecuali dengan kemuliaan level-level yang mendahuluinya, karena ia merupakan pembuka dan penilai, dan peningkatan ini hanya dipikirkan oleh siapa saja yang diberi banyak keinginan untuk mencari kerelaan Allah Ta’ala sehingga ia akan pergi kepadanya dengan cepat.

Peningkatan ini juga hanya dipikirkan oleh siapa saja yang diberikan oleh Allah Ta’ala wawasan yang jauh dan pengetahuan tentang kepentingan publik dan apa-apa yang umat sedang menunggunya dari mujahidin, demi Allah Ta’ala.

Peningkatan ini hanya dipikirkan oleh siapa saja yang Allah Ta’ala memberinya pengetahuan tentang sikap yang membuat marah orang-orang kafir dan murtad.

Allah Ta’ala berfirman: (... dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (At-Taubah:120)

Rasulullah n sangat berkeinginan untuk membuat marah orang-orang musyrik Mekah, karena itu beliau memelihara unta betina yang beliau dapatkan dari rampasan perang Badar sampai pada tahun keenam setelah hijrah yang diberkahi, untuk dibawa ke Mekah dan menyembelihnya sebagai persembahan bagi Allah Ta’ala. Dan unta betina tersebut dikenal oleh orang-orang Mekah sebagai milik Abu Jahal.

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata dalam kitab Zadul Ma’ad:

“Dan dari manfaat-manfaat fikih Perjanjian Hudaibiyah adalah bahwa Nabi n menawarkan di antara tawaran-tawaran beliau lainnya, yaitu seekor unta milik Abu Jahal yang mempunyai belang perak di hidungnya agar menjadikan marah orang-orang musyrik.”

Selesai dari perkataan beliau Rahimahullah.

(14)

Peningkatan ini, keunggulan dan sublimasinya, mengharuskan kita untuk mengalahkan perasaan dan pikiran kita karena hal itu adalah tuntutan Syariah, dan Syariah memiliki prioritas di atas keduanya.

Nama-nama kelompok jihad bukanlah nama-nama yang diturunkan dari langit, demikian juga nama suku-suku dan kabilah- kabilah bukannya tidak dapat dihapus atau diganti atau diubah, tetapi nama- nama tersebut diberikan karena keperluan legitimasi, Keperluan legitimasi yang paling tinggi memungkinkan untuk membatalkan dan menggantinya dengan nama lain agar berada pada tingkat pertumbuhan dan keagungan.

Peningkatan ini memerlukan nama baru yang membawa kemuliaan Islam dalam ekspansinya, perluasannya dan penyebarannya terhadap umat untuk membawa harapan kembali.

Nama-nama baru untuk melupakan nama-nama sebelumnya, meskipun kita bersimpati dengannya, dan hal itulah yang terjadi dengan jihad Irak, syaikh- syaikh kami sebelumnya—semoga Allah Ta’ala menerimanya. Allah Ta’ala telah menolong mereka untuk memajukan jihad, mujahid Syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi — semoga Allah menerimanya. Allah Ta’ala memberinya kesuksesan untuk menimbulkan beberapa kerugian pada musuh-musuh Allah Ta’ala dari orang-orang kafir dan murtad. Di samping amal-amal yang diberkahi tersebut, beliau juga bekerja untuk mengumpulkan siapa saja yang beliau lihat dalam diri mereka terdapat kebaikan, kebenaran dan keikhlasan pada dukungan mereka terhadap agama Allah Ta’ala, sehingga beliau mendeklarasikan di Irak nama “At Tauhid wal Jihad”, dan setiap hati (kalbu) terikat dengan nama itu, setiap mata melihat pada kelompok itu dan amal mereka, dan setiap telinga mendengar berita mereka.

Setelah kelompok itu mempunyai eksistensi di media dan medan jihad, Syaikh berpindah pada kedudukan yang lebih

utama dan level yang lebih tinggi, dengan memberikan baiat terhadap sang mujahid Amir Jamaah Al-Qaidah, Syaikh Usamah bin Ladin, semoga Allah menerimanya.

Dan saya telah diberitahu oleh orang yang mendengar dari Syaikh Abu Mus’ab:

“Ketika saya memberikan baiat kepada Syaikh Usamah, saya bersumpah demi Allah bahwa saya tidak memerlukan dari beliau uang atau senjata atau personal, tetapi saya melihat dalam diri beliau simbol bagi umat untuk mendukung agama Allah Ta’ala sehingga saya harus berada di bawah komandonya”.

Maka baiat yang diberkati kepada Jamaah Al-Qaidah itu pun terjadi.

Dan konsekuensi dari permindahan ini adalah adanya perubahan nama: “At- Tauhid wal Jihad,” padahal jihad di Irak terkait dengannya, dan jika bukan karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, sublimasi, dan keutamaan serta untuk memancing kemarahan para musuh Allah, adalah berat untuk mengganti nama “At-Tauhid wal Jihad” oleh pendiri dan pemiliknya, karena itu adalah nama jamaah yang didirikan oleh Syaikh Al-Zarqawi di tanah Afghanistan pada pertengahan tahun sembilan puluhan, abad yang lalu.

Hati yang terkait dengan nama itu, demi Allah, dalam menanggapi bahwa ekspansi yang diberkati dari lingkaran Irak untuk dihubungkan kepada lingkaran jihad global itu, dan jihad di Irak menjadi terkait dengan nama baru “Tanzhim Al-Qaidah fi Bilad Ar-Rafidain” ketika syaikh Abu Mus’ab—

semoga Allah menerimanya—memberi baiat kepada Jamaah Al-Qaidah, mengetahui betapa baiat ini akan membutuhkan biaya dari ahlus Sunnah di Irak dan akan berapa banyak pengorbanan putra-putra mujahid dan saudara-saudara. Namun, keridhoan Allah Ta’ala berada di atas semua penilaian manusia sehingga Allah mencukupi dia dari kebutuhan umat.

(15)

Ibunda A’isyah berkata: “Barang siapa yang mencari kerelaan Allah dengan kemurkaan manusia, Allah akan mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa yang mencari kerelaan manusia dengan kemurkaan Allah, Allah akan mempercayakannya pada manusia” (HR Tirmidzi).

Namun, semangat yang tinggi masih terus mencari cara untuk menaikkan jihad ke tempat-tempat di mana Allah Ta’ala mencintai untuk mendapatkan kepuasan dan membuat marah musuh-musuh-Nya.

Kemudian Syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi mengulurkan tangannya kepada jamaah- jamaah yang berada di medan jihad yang berada di atas akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau memberikan syarat kepada mereka untuk bersatu, tidak meninggalkan senjata bagaimanapun tekanan pemerintah Thaghut, sampai Allah menentukan di antara kami, menang atau syahid.

Dan para amir jamaah-jamaah itu menanggapi seruan Syaikh dan terwujud kesepakatan dan tekad untuk membentuk formasi baru dan nama baru, “Majelis Syura Mujahidin”. Jamaah itu meninggalkan nama

“Jamaah Al-Qaidah” yang telah meneror musuh-musuh Allah Ta’ala yang mempunyai resonansi global dan diasosiasikan dengan nama mujahid Syaikh Usamah bin Ladin semoga Allah menerimanya, juga jamaah- jamaah lain meninggalkan nama-nama mereka semoga Allah memberi mereka dengan balasan terbaik demi Muslim dan penyatuan barisannya demi Allah Ta’ala dan demi perjuangan mereka.

Jalan pelanjutan peningkatan jamaah bagi mujahid syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi terhenti ketika Allah Ta’ala menganugrahi beliau dengan kesyahidan setelah beliau mencetuskan manhaj keutamaan untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala dalam hati siapa saja yang beliau tinggalkan dari para komandan dan amir sehingga mereka mengikuti langkah-langkah yang penuh berkah itu, sehingga mujahid Syaikh Abu

Umar Al-Baghdadi dan menteri perangnya mujahid Syaikh Abu Hamzah Al-Misri Al- Muhajir—semoga Allah menerima mereka—

mengumumkan sebuah tingkat baru dan langkah yang diberkahi dan dengan bantuan saudara-saudara mereka dan dukungan putra-putra terbaik dari suku-suku dan syaikh-syaikhnya, sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai Daulah Islamiyah Irak. Alhamdulillah.

Setelah itu nama Majelis Syura Mujahidin memudar dan menghilang. Jadi itu adalah visi dari syaikh senior yang peduli untuk menyatukan barisan mujahidin dan menimbulkan kerugian berat pada musuh- musuh agama, untuk meningkatkan Tauhid yang lurus dan murni, yang menjadikan semangat yang tinggi untuk meluaskan arena tanah Islam, untuk bertempur dengan musuh-musuh Allah Ta’ala. Sesungguhnya, rambu-rambu yang telah diletakkan oleh Syekh Abu Mus’ab kini terus dilalui oleh orang-orang sesudahnya. Kami pun—atas izin—Allah berjalan di atas jejaknya.

Kami telah ditinggalkan oleh para pendahulu kami dari para syaikh kami di jalan yang kita hanya bisa berjalan di atas jejak mereka yang terberkati itu karena mereka telah menggambarkan bagi kita suatu manhaj yang tidak mengakui perbatasan dan sekat-sekat, suatu manhaj yang bukan hanya milik suatu bangsa atau ras. Dan perjalanan peningkatan tidak berhenti.

Adapun di negeri Irak mereka melanjutkan perjalanan peningkatan dengan adanya deklarasi mereka tentang Daulah Islamiyah.

Adapun di negeri Syam, mereka telah membentuk sel-sel jihad yang baru sebatas pada operasi i’dad dan bantuan jihad, sambil menunggu-nunggu kesempatan mencapai pendakian lebih tinggi yang harus terus berjalan. Ketika kondisi kaum muslimin di negeri Syam telah sampai pada keadaan penumpahan darah, penodaan kehormatan (oleh rezim Nushairiyah Suriah), penduduk Syam meminta bantuan mereka, sementara masyarakat internasional berlepas diri dari

(16)

mereka, maka tiada pilihan bagi kami kecuali bangkit untuk menolong mereka. Maka kami mengutus (Abu Muhammad) Al-Jaulani, dan dia adalah salah seorang tentara kami, dan bersamanya sejumlah orang dari putra-putra kami. Kami berangkatkan mereka dari Irak menuju Syam untuk bertemu dengan sel-sel jihad kami di negeri Syam. Kami merumuskan bagi mereka perencanaan-perencanaan dan kami tetapkan untuk mereka pengendalian operasi (siyasat al-’amal), dan kami biayai mereka dari setengah harta baitul mal kaum muslimin (Daulah Islamiyah Irak), dan kami dukung mereka dengan personil-personil yang telah matang di medan-medan jihad dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Mereka pun berjuang dengan sungguh- sungguh bersama-sama para penduduk negeri Syam yang bersemangat membela rakyat dan agamanya. Kekuasaan Daulah Islamiyah Irak semakin meluas ke negeri Syam. Pada saat itu kami tidak mengumumkannya karena faktor-faktor keamanan, dan agar rakyat bisa melihat hakikat dari Daulah (Islamiyah Irak), hakikat sebenarnya yang jauh dari pencitraan buruk dan kebohongan oleh media massa. Jabhah An-Nushrah itu sendiri tidak lain adalah perpanjangan tangan dari Daulah Islamiyah Irak dan (hanya) bagian kecil dari Daulah Islamiyah Irak. Mereka menderita apa yang kami derita.

Kami telah membulatkan tekad, setelah beristikharah kepada Allah Ta’ala dan bermusyawarah dengan orang-orang yang kami percayai agama dan kebijaksanaan mereka, untuk terus melanjutkan perjalanan peningkatan jamaah ini, dan tidak memedulikan apapun celaan yang akan ditujukan kepada kami, karena sesungguhnya ridha Allah di atas segala-galanya, apapun yang akan menimpa kami karena hal itu. Oleh karena itu, kami umumkan, seraya bertawakal kepada Allah, penghapusan nama Daulah Islamiyah Irak dan Jabhah An-Nushrah, kemudian berkumpul dalam satu nama, yaitu Daulah Islamiyah di Irak dan Syam. Demikian pula kami mengumumkan penyatuan

bendera, bendera Daulah Islamiyah, bendera Khilafah Islamiyah, insya-Allah.

Allah Ta’ala berfirman: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba- Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az-Zumar : 36)

Jabir bin Abdullah berkata: “Sekelompok manusia dari umatku akan senantiasa berperang dalam ketaatan terhadap perintah-perintah Allah, tetap berkuasa atas musuh-musuh mereka. Maka siapa saja yang menentang mereka, tidak akan mendatangkan kerugian bagi mereka.

Mereka akan tetap dalam kondisi itu sampai hari kiamat datang.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimahullah.

Dengan adanya pengumuman ini, maka nama Daulah Islamiyah Irak dan nama Jabhah An-Nushrah akan menghilang serta tidak muncul lagi dalam interaksi-interaksi kami. Keduanya akan menjadi bagian dari sejarah jihad kami yang penuh berkah, seperti nama-nama lain yang telah mendahuluinya.

Kami, dalam waktu yang sama mengulurkan tangan kami yang luas dan membuka tangan dan hati kami untuk faksi-faksi yang beramal jihad fi sabilillah dan suku-suku yang dibanggakan di tanah tercinta Syam untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi dan menjadikan umat dan tanahnya diatur oleh hukum- hukum Allah Ta’ala tanpa ada selain Allah yang memiliki apapun saham apapun dalam aturan itu.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah”

(Al-Anfal: 39)

Maka selamat datang kepada mereka yang setuju dengan kami untuk tidak meninggalkan senjata sampai kita memerintah dengan Syariah Allah Ta’ala dan bagi yang akan bertanggung jawab untuk

(17)

itu. Insya Allah di sisi Syam dari jamaah ini putra-putra kami dari putra-putra Asy-Syam yang menjual jiwa mereka kepada Allah Ta’ala di samping saudara-saudara mereka Muhajirin demi Allah.

Masalah ini bukanlah untuk siapa yang terdahulu tetapi bagi siapa yang ikhlas, jadi barangsiapa yang menggabungkan keduanya maka telah memperoleh apa yang diperoleh orang yang berkhidmat pada agama Allah. Bagi Anda rakyat kami di Irak dan Syam kami menempatkan pada Anda tanggung jawab ini dan Anda layak untuk membawanya dalam rangka membela agama Allah dan Sunnah nabi- Nya, kehormatan kaum muslimin,harta dan darah mereka. Bagi para Ulama yang ikhlas kami meminta dukungan Anda untuk agama ini dan memanggil Anda untuk bergabung dengan kami. Belumkah waktunya datang untuk mengotori kaki Anda dengan tanah dari tanah jihad demi Allah? Belumkah waktunya tiba bagi Anda untuk mendengar suara peluru di atas kepala Anda? Saya bersumpah demi Allah Anda akan menemukan bahwa rasa takut demi Allah lebih baik dari tempat tidur nyaman yang Anda tidur di atasnya.

Adapun kalian penduduk kami di tanah Syam yang tercinta, janganlah seperti kupu- kupu yang masuk ke api mengikuti rekan- rekannya. Karena kalian telah mengalami kediktatoran dan ketidakadilan selama bertahun-tahun lamanya, maka berhati- hatilah jangan sampaimengganti tahun- tahun ketidakadilan itu dengan ketidakadilan demokrasi sebagaimana orang-orang Irak telah mendahului untuk hal itu. Dan hal itu telah dilakukan di Mesir, Tunisia dan Libya, maka lihatlah kondisi mereka dan apa yang telah terjadi pada mereka. Dan berhati- hatilah kalian jangan sampai terperosok pada lubang yang sama sebagaimana umat Islam di negara-negara tersebut telah terperosok.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Nabi n bersabda: “Orang beriman tidak

akan terperosok dua kali dalam lubang yang sama”. Janganlah kalian jadikan demokrasi sebagai harga bagi ribuan orang yang tewas di antara kalian, janganlah kalian jadikan demokrasi sebagai harga untuk pembantaian yang terjadi di bawah reruntuhan rumah yang dihancurkan terhadap wanita, anak-anak dan orang tua, janganlah kalian jadikan demokrasi sebagai harga untuk kepergian dari kampung halaman dan tinggal di tenda-tenda, janganlah kalian jadikan demokrasi sebagai harga untuk kehormatan anak-anak perempuan dan istri-istri kita yang dinodai, karena itu saya bersumpah demi Allah itu adalah harga terburuk dan keuntungan terburuk.

Berhati-hatilah, wahai penduduk Syam, dari kerusakan, yaitu dari kerusakan karena diatur oleh hukum buatan manusia setelah semua pengorbanan ini, Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata dalan Fatawanya:

“Siapa saja yang menerapkan dimuka bumi ini selain dari Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya, maka dia telah membuat kerusakan di muka bumi”. Maka janganlah kalian melakukan kerusakan karena dalam reformasi Anda adalah bukti yang nyata untuk kebaikan umat Islam sebagaimana orang yang paling jujur mengatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya, dari Muawiyah bahwa Rasulullah n bersabda :” “Ketika penduduk Syam menjadi rusak, maka di sana tidak ada kebaikan bagimu”. Maka berhati- hatilah wahai penduduk Syam karena Umat Muhammad n dikalahkan dari sisi kalian, karena awan akan menghilang dari langit umat kita dan berganti cerahnya matahari Islam yang terbit membawa kehangatan, keselamatan, keamanan, kebanggaan dan kehidupan yang baik bagi setiap Muslim dan Muslimah dan setiap anak laki-laki dan perempuan karena mereka semua memiliki hak dalam perbendaharaan kaum muslimin.

Maka kepada putra-putra kami Muhajirin dan Ansar dari putra-putra Daulah Islamiyah saya nasehatkan kepada kalian untuk menjadi sebaik-baik penduduk Syam dan Irak.

(18)

Ya, Allah satukanlah hati-hati dari Muhajirin dan Ansar sebagaimana Engkau telah menyatukan para sahabat Nabi-Mu.

Ya, Allah jadikanlah siapa saja yang berhijrah ke Irak dan Syam sebagai orang yang mengikuti Muhajirin dalam kebaikan. Ya, Allah jadikanlah penduduk Irak dan Syam sebagai orang yang mengikuti Anshar dalam kebaikan. Ya, Allah terimalah kematian kami di antara para syuhada dan sembuhkanlah luka-luka kami dengan cepat. Ya, Allah bebaskanlah kaum Muslim dari tawanan. Ya, Allah lindungilah mereka yang terlantar. Ya, Allah berilah kami akhir yang baik dengan kesyahidan untuk-Mu dan jangan jadikan bencana dalam agama kami dan jadikanlah kami selalu menaati-Mu dan kami mencari perlindungan dengan Kemuliaan Wajah-Mu ya Tuhanku yang Engkau gantikan kami, Ya Tuhanku curahkanlah kesabaran kepada kami, dan jadikanlah langkah-langkah kami kuat, dan bantulah kami melawan orang- orang kafir, Amin, ya Robbal alamin.

Dan sholawat Allah atas Nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya semuanya. Dan akhir dari seruan kami adalah Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Saudara kalian

Abu Bakar Al-Husaini Al-Quraisyi Al- Baghdadi

c. Daulah Khilafah Islamiyah (IS)

Daulah Khilafah Islamiyah (IS) dideklarasikan menggantikan Daulah Islamiyah di Irak dan Syam (ISIS) oleh Juru Bicara resmi daulah tersebut Abu Muhammad Al-Adnaniy Asy-Syami pada tanggal 29 Juni 2014 bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 1435H dalam bentuk pesan audio.

Dalam pesan audio tersebut Al-Adnany menyampaikan dideklarasikannya Khilafah Islamiyah dan menyatakan telah dibaiatnya Al Baghdady sebagai Khalifah bagi semua umat Islam diseluruh dunia. Dan atas dasar ini, maka nama Iraq dan Syam dihilangkan dari nama Daulah di dalam segala aktifitas dan interaksi resmi, dan cukup dengan nama “Ad-Daulah Al-Islamiyah”

sejak munculnya pernyataan tersebut. Al-Adnany juga mengingatkan kepada kaum muslimin: bahwa dengan pendeklarasian khilafah tersebut, maka telah wajib atas SELURUH kaum muslimin untuk membaiat dan membela Khalifah Ibrahim, dan batallah seluruh imarah, jamaah, wilayah dan organisasi yang berada di dalam wilayah kekuasaan Daulah dan bala tentaranya. Dalam deklarasi tersebut juga dinyatakan bahwa wilayah kekuasaan Daulah Khilafah adalah dari Halb (Aleppo di Suriah) sampai Diyala (di Irak).

Berikut adalah terjemahan transkrip lengkap deklarasi Daulah Khilafah Islamiyah yang dirilis oleh Al-Furqan Media.

Deklarasi Tegaknya Khilafah Islamiyah Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Amma Ba’du:

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang- orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar- benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah- Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Istikhlaf (pemberian kekuasaan), Tamkin (peneguhan kekusaan), serta rasa aman, adalah janji yang Allah tetapkan bagi kaum muslimin, akan tetapi dengan syarat:

(19)

“Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” (An-Nur: 55)

Yaitu iman kepada Allah dan menjauhi segala pintu-pintu syirik dan ragam- ragamnya, yang disertai pemasrahan diri kepada perintah Allah di dalam hal besar dan kecil, dan ketaatan; yaitu ketaatan yang menjadikan hawa nafsu, keinginan jiwa serta kecenderungan hati tunduk mengikuti apa yang dibawa Nabi n. Dan janji itu tidak akan terealisasi kecuali dengan syarat ini; di mana dengannya diraihlah kemampuan untuk memakmurkan bumi dan melakukan perbaikan, melenyapkan kezaliman, membentangkan keadilan, serta merealisasikan rasa aman dan nyaman.

Dengan itu saja terwujud Khalifah yang mana Allah k telah mengabarkannya kepada malaikat. Dan tanpa hal itu, maka kekuasaan itu hanya sebagai kerajaan, pendominasian dan pemerintahan yang disertai penghancuran, pengrusakan, kezaliman, pemaksaan dan rasa takut, serta pengrusakan moral manusia dan penjerumusan kepada perilaku-perilaku hewan, itulah hakikat istikhlaf (pemberian kekuasaan) yang karenanya Allah menciptakan kita, bukan sekedar kerajaan, pemaksaan kekuasaan, pendominasian dan pemerintahan. Akan tetapi, itu adalah penundukan itu semua dan penggunaannya di dalam membawa seluruh manusia kepada tuntutan Syariat; di dalam kepentingan- kepentingan akhirat dan dunia, yang tidak mungkin terealisasi kecuali dengan merealisasikan perintah Allah, penegakan dien-Nya dan tahakum kepada syariat-Nya.

Istikhlaf ini dengan hakikat ini: adalah tujuan yang karenanya Allah mengutus rasul-rasul- Nya, dan menurunkan kitab-kitab-Nya serta pedang-pedang jihad itu dihunus.

Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah memuliakan umat Muhammad n, memberikan karunia terhadap mereka dan menjadikan mereka sebagai umat pilihan di antara seluruh umat:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Dan Allah menjanjikan pemberian kekuasaan bagi umat ini selagi mereka berpegang teguh dengan keimanannya dan mengambil segala sebab-sebab yang diperintahkan:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang- orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,” (An-Nur: 55)

Dan menjadikan baginya pengendalian dunia dan penguasaan bumi, selagi ia mendatangkan syaratnya:

“Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (An-Nur: 55)

Dan Allah Subhanahu telah menjadikan baginya ‘izzah (kejayaan);

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin,” (Al Munafiqun: 8)

Ya, sesungguhnya ‘izzah bagi umat ini adalah ‘izzah yang didapatkan dari ‘izzah Allah k, ‘izzah yang membauri iman pada hati orang mukmin; di mana bila iman telah terpatri dan bersarang di dalam hati maka

‘izzah-pun terpatri dan bersarang pula, ‘izzah yang tidak rendah dan tidak hina, ‘izzah yang tidak membungkuk dan tidak melembek, bagaimanapun dahsyatnya kesulitan atau beratnya ujian, ‘izzah yang pantas bagi umat terbaik, umat Muhammad n yang tidak rela dengan kehinaan selamanya, yang tidak rela dengan ketundukan dan perendahan diri kepada selain Allah selamanya, yang tidak rela dengan aniaya dan tidak rela dengan kezaliman;

(20)

“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (Asy Syura: 39)

Umat yang agung lagi mulia, umat yang tidak tidur menanggung penzaliman, dan tidak rela dengan kehinaan serta tidak rela dengan kerendahan;

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)

Umat yang kuat, umat yang perkasa, bagaimana tidak, sedangkan Allah telah mengutusnya untuk mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada makhluk menuju peribadatan kepada Sang Pencipta?

Bagaimana tidak, sedangkan Allah yang memberikan bantuan kepadanya dan yang menyertainya, Allah-lah yang mengokohkannya dan Allah-lah yang menolongnya?

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (Muhammad: 11)

Inilah umat Muhammad n yang kapan saja ia itu merealisasikan kejujuran kepada Allah, maka Allah pasti membuktikan janjinya kepadanya.

Allah k telah mengutus Nabi kita n sedangkan bangsa Arab berada di dalam kejahiliahan yang pekat dan dalam kesesatan yang buta; manusia yang paling telanjang badannya dan paling lapar perutnya, umat yang berada di akhir masa berbagai umat, tenggelam di dalam jurang yang sangat dalam, tidak dihiraukan dan tidak diperhitungkan, ia tunduk hina kepada Kisra dan Kaisar, serta tunduk kepada pihak yang menang. Allah k berfirman:

“Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al Jumu’ah: 2)

Dan berfirman:

“Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang- orang (Mekah) akan menculik kamu,” (Al Anfal: 26)

Qatadah Rahimahullah berkata di dalam tafsir ayat ini: “Suku dari Arab ini adalah manusia yang paling hina, paling lapar perutnya, paling bodoh, dan paling telanjang. Mereka itu dimakan dan tidak memakan. Orang yang hidup dari mereka maka ia hidup dalam keadaan sengsara dan orang yang mati maka ia terjerumus ke dalam neraka.” Selesai ucapannya Rahimahullah.

Duta dari kalangan sahabat telah masuk menemui Kisra Yazdajirda di masa peperangan Qadisiyyah untuk mendakwahinya, maka dia berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku tidak mengetahui di atas bumi ini satu umat- pun yang paling sengsara, paling sedikit jumlahnya dan paling buruk keadaannya daripada kalian. Sungguh, dahulu kami telah mewakilkan dalam penanganan kalian kepada wilayah-wilayah pinggiran supaya mereka mencukupkan kami dari menangani kalian, supaya Persia tidak menginvasi kalian dan kalian-pun tidak memiliki keinginan untuk melawan mereka,” maka rombongan-pun terdiam.

Kemudian berdirilah Al-Mughirah Ibnu Syu’bah a terus ia menjawabnya, dan di antara yang dikatakan oleh Al-Mughirah adalah: “Adapun apa yang kamu sebutkan tentang keburukan kondisi; maka memang tidak ada orang yang lebih buruk keadaannya daripada kami, dan adapun kelaparan kami;

maka tidak ada tandingannya, di mana kami dahulu memakan serangga, kumbang- kumbang, kalajengking dan ular, kami memandang hal itu sebagai makanan kami.

Adapun tempat tinggal, maka itu adalah tempat terbuka. Kami tidak berpakaian kecuali apa yang kami tenun dari bulu-bulu unta dan kambing, agama kami adalah satu

(21)

sama lain saling membunuh dan saling aniaya, dan sungguh orang di antara kami ada yang mengubur hidup-hidup putrinya karena ia tidak ingin dia memakan dari makanannya.“

Begitulah keadaan bangsa Arab sebelum Islam; suku-suku yang beraneka ragam yang terpecah-pecah, cerai-berai lagi saling berperang, saling membunuh, menderita kelaparan dan kekurangan segala serta diserang banyak pihak. Kemudian tatkala Allah mengkaruniakan Islam kepada mereka dan mereka beriman, maka Allah mengumpulkan dengan Islam perkumpulan- perkumpulan mereka, mempersatukan barisan-barisan mereka, Dia menjayakan mereka setelah kehinaan, mencukupkan mereka setelah kemiskinan serta menyatukan hati-hati mereka; sehingga dengan nikmat- Nya mereka menjadi bersaudara:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al Anfal: 63)

Maka lenyaplah dari hati mereka kesumat dan kedengkian, menyatulah mereka dengan sebab keimanan, dan jadilah bagi mereka ketaqwaan itu sebagai tolak ukur;

mereka tidak membedakan antara orang ajam dengan orang Arab, antara orang timur dengan orang barat, antara orang berkulit merah dengan yang berkulit hitam, dan tidak pula antara orang faqir dengan orang kaya, mereka campakkan nasionalisme dan seruan kejahiliahan, mereka membawa panji Laa ilaaha illaallaah dan mereka berjihad di jalan Allah dengan jujur dan ikhlash, maka Allah-pun mengangkat mereka dengan dien ini, dan menjayakan mereka dengan pengembanan risalah-Nya, memuliakan mereka dan menjadikan mereka sebagai raja-raja dunia dan para pemimpin alam ini.

Wahai umat kami yang mulia, wahai umat terbaik: Sesungguhnya Allah k telah memberikan kemenangan bagi umat ini dalam satu tahun apa yang tidak Dia berikan kepada pihak yang lain dalam waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, di mana dahulu mereka dalam waktu 25 tahun saja telah mampu menghancurkan dua imperium terbesar yang dikenal sejarah, dan mereka menyalurkan simpanan kekayaannya di jalan Allah; di mana mereka telah mematikan api Majusi selama-lamanya dan menundukkan kaum salibis dengan persenjataan paling kuno dan jumlah personil yang sangat sedikit.

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan di dalam Mushannaf-nya dari Hushain dari Abu Wail, berkata: “Datang Sa’ad ibnu Abi Waqqas sampai akhirnya ia turun di Qadisiyyah dengan disertai pasukan, ia berkata: “Saya tidak mengetahui sepertinya jumlah kami itu tidak lebih dari 7 atau 8 ribu atau di antara itu, sedangkan kaum musyrikin berjumlah 60 ribu atau sekitar itu yang disertai kuda-kuda. Tatkala musuh sudah tiba, maka mereka berkata kepada kami:

“Kembalilah kalian, karena jumlah kalian tidak seberapa dibandingkan kami, dan kami tidak melihat kekuatan dan persenjataan yang kalian miliki, maka kembalilah.” Maka ia berkata: Kami mengatakan: “Kami tidak akan kembali,” maka mereka-pun tertawa dengan penolakan kami itu dan mengatakan: “Duk duk,” seraya mereka menyerupakannya dengan alat-alat pemintal.”.”

Ya, wahai umatku yang mulia! Mereka itulah orang-orang yang telanjang kaki dan badan para penggembala kambing, yang tidak mengenal hal ma’ruf dari kemungkaran dan tidak mengenal hak dari kebatilan; mereka telah memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya penuh dengan kezaliman dan aniaya, dan mereka menguasai dunia berabad-abad, sedangkan hal itu bukan bertopang kepada kekuatan dari mereka dan kepada jumlah yang banyak, dan bukan pula bertopang kepada

Gambar

Gambar Perbedaan antara organisasi pemerintahan yang sehat dan yang tidak sehat
Gambar Peta Konflik Di Aleppo 42
Gambar Peta aliansi kelompok jihad dengan Al-Qaidah dan Daulah Khilafah. (per Agustus 2014).14

Referensi

Dokumen terkait