Titik Balik Potensial
B. Dilema Pemerintahan
Satu pertanyaan besar terkait dengan penguasaan wilayah yang didapat oleh Daulah Khilafah yang kemudian diiringi dengan deklarasi khilafah adalah mengenai kemampuan para jihadis untuk mengatur pemerintahan. Bisakah mereka mengelolanya? Bisakah mereka mempertahankan kontrol dan mengelola sumber daya yang ada dalam wilayah mereka? Bisakah mereka mengelola masyarakat? Pertanyaan tersebut adalah satu celah yang seringkali dimanfaatkan oleh pihak Barat untuk menunjukkan dan memberikan citra negatif tentang pemerintahan Islam yang diusung oleh para jihadis. Tujuan mereka adalah untuk membuat masyarakat trauma dan antipati terhadap cita-cita syariat Islam dan negara Islam.
Kegagalan dan keburukan dalam melakukan pemerintahan inilah yang coba dipotret dan diekspos oleh Barat untuk memburukkan pemerintahan para jihadis. Mark Stout, direktur Program Master of Arts dalam Studi Keamanan Global John Hopkins University, menilai bahwa “cukup mudah untuk membalikkan apa yang telah didapat oleh Daulah Khilafah. Ketika mereka berhasil dibalikkan—tak peduli siapa yang melakukannya—hal yang paling penting dilakukan adalah memotret wilayah yang berhasil direbut oleh Daulah Khilafah sebagai tindakan sia-sia terkini yang dilakukan oleh jihadis Sunni yang selalu ditakdirkan kalah, buang-buang
energi dan kehidupan yang Allah tidak perkenankan untuk dijalani karena kebodohan yang melekat padanya.”18
Nashir Al-Wuhaishy mewanti-wanti tentang potensi ini dalam suratnya kepada pimpinan AQIM, Abu Mus’ab Abdul Wadud. “Dunia saat ini menunggu apa yang selanjutnya akan Anda lakukan dan bagaimana cara Anda mengatur urusan negara Anda. Musuh Anda ingin melihat Anda gagal, mereka melemparkan rintangan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa Anda hanya pandai bertempur dan berperang, tidak mampu untuk menjalankan negara dan mengatur urusan masyarakat.”19
Ariel Ahram menulis di Monkey Cage bahwa kelompok pemberontak biasanya mengalami
“kutukan sumber daya” yang kedepannya akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam konflik yang mereka jalani. Hal yang sama juga dipandang bisa terjadi di Irak, ketika Daulah Khilafah mendapatkan momentum untuk menguasai minyak dan sumber air.20 Daveed Gartenstein-Ross dan Amichai Magen memandang bahwa kelompok jihadis akan menghadapi masalah pemerintahan yang berbeda yang mungkin tidak akan mampu mereka atasi dalam jangka pendek, dan akan menyulitkan mereka dalam jangka panjang.21
Akhir-akhir ini, ketertarikan para akademisi untuk membuat penelitian mengenai usaha aktor-aktor non-negara untuk memerintah semakin meningkat.
Dalam bukunya, Inside Rebellion, Jeremy Weinstein menerangkan bahwa kedisiplinan aktor kekerasan non-negara adalah pusat untuk menentukan apakah mereka akan membangun struktur pemerintahan dan melindungi penduduk dari kekerasan atau justru membunuh tanpa pandang bulu. Weinstein menyimpulkan bahwa organisasi yang lebih kaya lebih kesulitan untuk menjaga kedisiplinan karena mereka menarik para oportunis yang terobsesi untuk mendapat keuntungan langsung, dan dengan demikian cenderung kepada kekerasan. Sementara organisasi yang miskin sumber daya cenderung menarik individu-individu berkomitmen yang mempunyai tujuan yang sama. Dengan demikian,
18 http://warontherocks.com/2014/06/isis-this-too-shall-pass/
19 Versi bahasa Inggris dan bahasa Arab dari surat tersebut bisa didownlaod di http://www.longwarjournal.org/images/al-qaida-papershow-to-run-a-state.pdf
20 h t t p : / / w w w . w a s h i n g t o n p o s t . c o m / b l o g s / m o n k e y - c a g e / wp/2014/07/02/for-isis-its-oil-and-water/
21 h tt p : / / w w w . w a s h i n g t o n p o s t . c o m / b l o g s / m o n k e y - c a g e / wp/2014/07/18/the-jihadist-governance-dilemma/
Weinstein meyakini bahwa organisasi yang miskin sumber daya lebih mungkin untuk membentuk pemerintahan dan memberikan pelayanan.22 Dalam Rebel Rulers, Zachariah Cherian Mampilly meneliti variasi strategi pemerintahan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pemberontak, dengan fokus utama pada keputusan para pemimpin awal kelompok dan selanjutnya interaksi mereka dengan berbagai aktor yang lain. Mampily juga berpendapat bahwa kelompok pemberontak lebih mungkin untuk mendirikan pemerintahan jika negara melakukan penetrasi yang cukup signifikan dalam satu wilayah sebelum pemberontak melakukan pengambilalihan.23
Saat ini, jihadis memiliki beberapa pengalaman terkait dengan tata kelola pemerintahan: Di Irak (2006-2008), Somalia (2007-12), Yaman (2011-12), Mali Utara (2012-13), dan sekali lagi di Irak
(2014-??). Fenomena ini memancing para akademisi untuk melakukan penelitian atas pemerintahan para jihadis.
Menurut Gartenstein-Ross, Jihadis mengalami dilema mendasar: Mereka tidak bisa mencapai tujuan mereka jika mereka tidak memerintah, namun catatan sejarah menunjukkan bahwa mereka berulang kali gagal dalam upaya pemerintahan.
Paradoksnya, ketika kelompok tersebut nampak dalam kekuatan terbaiknya—ketika mereka menguasai aset seperti negara—kelemahan terbesar mereka terekspos.
Salah satu tujuan utama Salafi jihadis global yang telah mapan adalah diberlakukannya syariat Islam.
Mantan pemimpin Al-Qaidah, Usamah bin Ladin mengatakan pada tahun 1998 bahwa perjuangan Al-Qaidah harus terus dilakukan sampai “syariat Islam ditegakkan di bumi Allah.” Namun, dalam pandangan Gartenstein-Ross, para jihadis cenderung melakukan penafsiran syariat secara kaku. Dalam periode pemerintahan sebelumnya di Mosul—
ketika ISI (Islamic State of Iraq) mengendalikan kota tersebut sampai Mei 2008—warga diminta untuk mengikuti aturan yang rumit dan aneh. ISI melarang para penjual makanan menampilkan tomat dan mentimun secara bersandingan karena dianggap provokatif secara seksual.
22 Weinstein, J. M. (2007). Inside Rebellion: The Politics of Insurgent Violence. Cambridge, UK: Cambridge University Press. dalam Comparative Political Studies Volume 40 Number 9 September 2007, Sage Publications, hal. 1146
23 Zachariah Cherian Mampilly, Rebel Rulers: Insurgent Governance and Civilian Life during War, Cornell University Press, 2011, hal. 70.
Pemahaman kaku kelompok jihad tentang hukum Islam dan metode brutal atas penduduk meningkatkan tantangan yang mereka hadapi dalam pemerintahan: legitimasi, efektivitas dan keberlanjutan.
Kelompok jihad menghadapi ujian ganda sehubungan dengan legitimasi kekuasaan mereka.
Tes pertama berkaitan dengan tingkat penerimaan penduduk. Sosiolog dan ekonom politik Max Weber mendefinisikan legitimasi sebagai hubungan kewenangan antara penguasa dan yang dikuasai yang dianggap mengikat oleh kedua belah pihak.
Kelompok jihad akan dipandang legitimate di mata penduduk jika penduduk memandang kelompok tersebut memiliki hak untuk mendikte perilaku, dan mereka melihat aturan kelompok tersebut layak diikuti.
Sikap kelompok jihad yang mengalienasi penduduk menyebabkan mereka menghadapi masalah yang mendalam selama perang Irak. Sikap ekstrim mereka atas penduduk setempat memicu reaksi suku Sunni Anbar. Pada bulan September 2006 sejumlah ulama moderat mengumumkan rencana mereka untuk bertempur melawan ISI dan menyebut gerakan tersebut sebagai gerakan kebangkitan, Sahwa. Keberhasilan program Sahwa di Anbar membuat program tersebut diperluas di daerah lain. Meskipun beberapa tahun kemudian mampu bangkit lagi, pada awal 2009 ISI sempat mengalami banyak kemunduran akibat ekstrimisme mereka dan serangan pasukan AS.
Belajar dari pengalaman, Al-Qaidah berusaha mengevaluasi titik rawan tersebut. Saat berhasil menguasai Mali Utara, pimpinan AQIM, Abdel Malek Droukdel, menulis surat kepada para pejuangnya di sana untuk menghindari “kecepatan ekstrim dalam menerapkan syariah, yang tidak mempertimbangkan evolusi bertahap yang harus diterapkan dalam lingkungan yang belum paham tentang agama.”
Meski demikian, dalam analisis Amichai Magen, masalah legitimasi internal bagi kelompok jihadis tidak berarti secara otomatis memicu suksesnya gerakan ala Sahwa. ISI mungkin akan berhasil menyapu bersih Sahwa di Anbar jika militer AS tidak turun tangan melindungi gerakan tersebut.
Jihadis telah mampu menekan perlawanan ditempat-tempat seperti di kota Raqqah, di mana Daulah Khilafah telah berurusan dengan perbedaan
pendapat dengan memenjarakan, menyiksa dan membunuh lawan.
Selain tantangan legitimasi internal, jihadis menghadapi tantangan eksternal untuk legitimasi mereka karena negara-negara tetangga, kekuatan global dan LSM besar melihat pemerintahan jihadis tidak sah. Musuh kelompok jihad akan melakukan mobilisasi saat mereka mulai memerintah karena urgensi ancaman jihadis akan meningkat setelah kelompok-kelompok ini berhasil merebut wilayah.
Selain itu, saat mereka bertransisi menjadi seperti negara akan membuat mereka lebih rapuh terhadap operasi militer.
Kelompok jihad juga akan menghadapi tantangan efektivitas. Salah satu aspek dari efektivitas ditentukan oleh apakah mereka dapat menjalankan fungsi dasar pemerintahan, termasuk pemberian layanan (seperti pengumpulan sampah, air dan listrik, dan pemeliharaan jalan). Para pengamat telah mencatat peningkatan penyediaan layanan sosial dari kelompok jihad, tapi mengatur wilayah adalah hal yang berbeda.
Kelompok jihad mengalami kesulitan menggantikan negara sebagai penyedia layanan utama karena mereka tidak memiliki pengalaman dalam pelayanan dan kurangnya fokus pada aspek pemerintahan yang lebih duniawi, dan juga karena pemerintahan mereka masih rapuh. Surat yang ditulis pemimpin Al-Qaidah di Semenanjung Arab (AQAP), Nasir Al-Wuhayshi, baru-baru ini mengakui masalah ini. Dalam menjelaskan keputusan AQAP untuk tidak mendeklarasikan emirat di Yaman Selatan, Wuhayshi menyatakan bahwa para pemimpin senior Al-Qaidah menyarankan agar menunda pendeklarasian emirat karena “kita tidak akan mampu untuk melayani masyarakat dalam basis negara karena kita belum mampu untuk menyediakan semua kebutuhan mereka, terutama karena negara kita masih rapuh.”24
Pemerintah juga sering memotong jalur pendapatan ke daerah-daerah yang berada di bawah kendali jihadis, hal yang memaksa jihadis untuk membayar pelayan masyarakat atau kehilangan sebagian angkatan kerja yang berharga untuk dialihkan ke tugas administratif. Sementara jihadis sering kehilangan dukungan dari penduduk karena
24 Al Qaeda Papers How to Run the State, http://www.longwarjournal.
org/images/al-qaida-papershow-to-run-a-state.pdf
langkah-langkah brutal, kekecewaan masyarakat juga akan tumbuh ketika kelompok tersebut gagal untuk secara efektif menyediakan barang dan jasa.
Tantangan pemerintahan lain yang akan dihadapi jihadis adalah keberlanjutan—kemampuan untuk memerintah selama periode yang signifikan.
Pemerintahan berkelanjutan umumnya memerlukan tercapainya sinkronisasi dengan aktor lain, baik domestik maupun internasional, dan setidaknya mempunyai kapasitas minimal untuk mengontrol perbatasan, wilayah dan populasi. Kegagalan Daulah Khilafah untuk mencapai hal tersebut jelas terlihat di Suriah, di mana mereka telah menghabiskan lebih banyak waktu dalam pertempuran dengan kelompok pemberontak selain dengan rezim Bashar Assad.
Selanjutnya, ketidakmampuan kelompok jihad untuk menyediakan layanan secara efektif merusak keberlanjutan upaya pemerintahan mereka. Kurangnya kapasitas umum kelompok jihad memaksa mereka untuk mencoba untuk menangkap lembaga yang sudah ada sebelumnya atau bekerja dengan orang lain yang mampu menyediakan layanan ini. Terlepas dari keberhasilan mereka, mempertahankan dukungan penduduk menjadi lebih sulit bagi kelompok-kelompok jihad seiring berjalannya waktu.
Pemerintahan akan terus menjadi tantangan bagi kelompok jihad. Aktor-aktor ini telah tumbuh lebih kompeten pada upaya “pra-pemerintahan”—
seperti melakukan dakwah atau upaya memberikan pelayanan sosial yang terbatas. Namun pemerintah yang sah, efektif, dan berkelanjutan masih jauh dari mereka.25
Selanjutnya, dapatkah kelompok jihad menjadi lebih “sah” di mata masyarakat internasional?
Untuk saat ini, menurut Ross, jawabannya adalah tidak, sebagian karena ketidakfleksibelan mereka.
Kebanyakan pelaku salafi jihad tidak tertarik dalam memperoleh legitimasi karena mereka melihat sistem internasional sebagai sistem yang tidak sah. Tapi hal ini bisa berubah: jihadis mungkin dapat mengembangkan prinsip-prinsip strategis yang berusaha untuk memperbaiki kelemahan pemerintahan mereka. Apakah Daulah Khilafah merupakan sebuah negara? Ini adalah pertanyaan yang lebih bersifat politis dibanding analitis
25 h tt p : / / w w w . w a s h i n g t o n p o s t . c o m / b l o g s / m o n k e y - c a g e / wp/2014/07/18/the-jihadist-governance-dilemma/
akademis. Definisi state sendiri di abad ke-21 ini masih cukup mengundang perdebatan. Para akademisi dan analis tidak bisa memberikan jawaban secara pasti. Dalam pandangan Adam Elkus dari George Mason University, jika sebuah “negara”
cukup legitimate untuk membanjiri Gedung Putih dengan brosur tentang peluang bisnis yang inovatif dan menarik dari Daulah Khilafah, maka mereka cukup dekat untuk masuk dalam definisi “negara”.26
Faktor yang dapat membantu membuat pemerintahan jihadis lebih bisa bertahan lama adalah meningkatnya jumlah tempat yang dikuasai, yang membuat mereka bisa mundur saat musuh mereka maju, dan kemudian melakukan regrouping. Bahkan ketika kelompok-kelompok jihad tampaknya telah dikalahkan—sebagaimana yang terjadi pada AQI dan Boko Haram pada tahun 2009—mereka terbukti masih tangguh. Saat jumlah siklus destruktif tersebut semakin tumbuh, kelompok jihad bisa menemukan diri mereka tetap bisa mempertahankan kekuasaan untuk waktu yang lama karena sistem internasional kewalahan.
Dilema pemerintahan inilah yang berusaha dieksploitasi oleh pemerintah Barat. Mereka berusaha mengeksploitasi kebrutalan pemerintahan jihad. Negara-negara Barat juga berusaha untuk mempelajari kemungkinan penggunaan kelompok lokal untuk melawan jihadis, seperti Sahwa atau Ahlus Sunnah wal Jamaah di Somalia, dan mengembangkan cara-cara baru untuk mendukung mereka. Mereka juga mulai mempelajari, apakah koalisi tersebut lebih cenderung berantakan di awal, atau setelah jihadis membentuk pemerintahan mereka?
Selain itu, karena jalan yang paling dominan di mana kelompok jihad dapat menikmati pemerintahan jangka panjang adalah meluasnya ketidakstabilan, maka Ross menyarankan agar negara-negara Barat tidak mengambil tindakan yang mungkin akan menghasilkan kekacauan regional.
Sebuah contoh klasik adalah perang NATO di Libya, yang sebagian dirancang untuk mempercepat Arab Spring, namun telah terbukti menguntungkan untuk jihadis: membuat Libya dilanda ketidakstabilan, yang chaosnya memiliki efek destabilisasi di negara tetangga seperti Mesir, Tunisia dan Aljazair.
26 http://warontherocks.com/2014/06/the-state-of-the-state/
Menurut Ross, meskipun ‘brutalitas’ jihadis memberikan peluang bagi Barat, kerapuhan ini tidak akan secara otomatis menghasilkan kemunduran bagi kelompok tersebut. Saat kelompok jihadis memperoleh kekuasaan, maka kelemahan mereka akan terekspos—dan tujuan negara-negara Barat saat jihadis memperoleh kekuatan harus lebih ambisius daripada hanya mendorong mereka kembali. Bagi Ross, tujuannya harus untuk memberikan pukulan yang membunuh.
Dilema ini juga yang membuat Athiyatullah Al-Liby memberikan saran kepada pimpinan AQAP, Nashir Al-Wuhaisy, untuk tidak menegakkan daulah terlebih dulu di saat musuh masih memiliki sarana dan kekuatan untuk menjatuhkan di manapun negara Islam didirikan. “Kami berpendapat untuk saat ini kita tidak usah menceburkan diri dan keluarga kita ke dalam perkara ini sebelum kondisinya siap. Karena hal ini menjadikan kita ibarat orang yang membangun rumah di tengah aliran banjir, di mana ketika banjir itu datang akan langsung merobohkan bangunan tersebut.
Kemudian tatkala kita ingin membangun rumah yang kedua kalinya, masyarakat pun menjauh dan tidak mau membantu kita dalam membangun rumah tersebut.”27
Al-Wuhaisy pun menyetujui saran tersebut dan meneruskannya dalam sebuah surat yang ia tujukan kepada pimpinan AQIM, Abu Mus’ab Abdul Wadud. Dalam surat tersebut beliau menuliskan bahwa “kami disarankan oleh Komandan Umum di sini untuk tidak mendeklarasikan berdirinya sebuah negara Islam dengan sejumlah alasan: Kami tidak akan mampu melayani rakyat sebagai sebuah negara karena kami tidak akan mampu menyediakan semua kebutuhan mereka, terutama karena negara kita masih rapuh. Kedua: Takut akan kegagalan, dalam hal bahwa dunia bersekongkol melawan kita. Jika hal ini terjadi, rakyat mungkin akan mulai putus asa dan percaya bahwa jihad adalah sia-sia. Untuk alasan ini dan lainnya, kami menganggap bahwa nasihat mereka bijaksana, dan kami memutuskan untuk tidak mendeklarasikan negara.”28
27 SOCOM-2012-0000016-HT, http://assets.nationaljournal.com/pdf/
OBL14.pdf
28 Al Qaeda Papers How to Run the State
C. Disharmony
Memotret buruknya pemerintahan para jihadis hanya salah satu dari beberapa strategi yang dirancang oleh AS untuk menghadang kelompok jihad dari mencapai tujuan dan cita-cita penegakan syariat Islam. Pada tahun 2006 silam, salah satu think tank mereka, Combating Terrorism Centre milik Akademi Militer AS (USMA), menulis beberapa strategi untuk mengengksploitasi titik rawan organisasi jihad.29
a. Ganggu kontrol operasi dan batasi efisiensi keuangan mereka
Ada beberapa cara yang disarankan untuk mengganggu kontrol operasi:
z Menahan diri dari aksi yang bisa menyatukan preferensi kelompok tersebut
Anggota yang nampak kurang berkomitmen tidak perlu disingkirkan selama mereka mampu diamati, meskipun mereka mungkin merupakan target yang mudah. Dengan tetap membiarkan mereka, probabilitas organisasi tersebut harus menghadapi masalah keagenan akan meningkat. Hal ini akan membuat mereka harus mengorbankan tindakan keamanan untuk lebih fokus mengatasi masalah efisiensi (dilema keamanan vs. efisiensi). Masalah internal organisasi—dalam hal ini agency problem—
yang mengakibatkan turunnya kapabilitas organisasi tersebut, akan lebih mungkin tercapai jika agen bermasalah tersebut dibiarkan tetap berada di dalam organisasi dibanding jika disingkirkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukan sebuah kegiatan yang melibatkan agen keuangan, kemudian menambahkan kecurigaan akan suap dan korupsi di hadapan pimpinan.
z Membuat organisasi tersebut kesulitan untuk memberikan hukuman yang layak.
Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan opsi keluar (exit option) bagi para anggota organisasi, dibanding menahan atau menghukum mati mereka. Pendekatan ini dapat memberikan manfaat dalam dua
29 Combating Terrorism Center, U.S. Military Academy, Harmony And Disharmony: Exploiting Al-Qa’ida’s Organizational Vulnerabilities, Februari 2006. http://www.ctc.usma.edu/aq/Harmony%20and%20 Disharmony%20--20CTC.pdf
cara. Pertama, organisasi tersebut lebih sulit untuk menerapkan penggunaan kekuatan sebagai langkah pendisplinan anggota.30 Kondisi ini akan mengurangi tingkat pengaruh politik yang bisa dicapai oleh organisasi tersebut. Kedua, menawarkan amnesti atau mengurangi hukuman bagi ‘para penyeberang’ akan membuat para anggota yang tidak puas berminat meninggalkan organisasi tersebut, dengan cara mengurangi ‘biaya untuk keluar’.
Dampaknya, organisasi tersebut akan lebih hati-hati dalam melakukan seleksi calon anggota—yang berdampak berkurangnya kolam calon anggota potensial.
z Tingkatkan pertikaian internal antar pemimpin organisasi
Pertikaian antar para pemimpin akan mengurangi kepaduan dan kontrol di dalam organisasi. Salah satu caranya adalah dengan memfokuskan pada pengaruh negatif yang diakibatkan oleh kebijakan salah seorang pemimpin. Operasi informasi yang efektif juga mampu memberikan efek yang serupa dan membuat para anggota bertanya-tanya akan dalil dan legitimasi pemimpin kunci dalam organisasi.
z Menekankan secara publik tentang perbedaan yang terjadi antara Al-Qaidah dengan cabang-cabangnya.
Masalah keagenan (agency problems) bisa ditingkatkan di dalam organisasi seperti Al-Qaidah dengan mengurangi manfaat yang kira-kira akan didapatkan oleh cabang jika tetap berhubungan dekat dengan Al-Qaidah. Menyampaikan pujian pimpinan pusat Al-Qaidah atas serangan teror yang dilakukan cabang hanya akan memberikan legitimasi dan menguatkan kepemimpinan mereka. Sebaliknya, jika perbedaan di antara pusat dan cabang dieksploitasi secara publik akan menyebabkan kompetisi
30 Contoh akan hal ini antara lain adalah menyerahnya Ali Abd al-Rahman al-Faqasi al-Ghamdi (Arab Saudi) pada bulan Juni 2003.
Al-Ghamdi terlibat dalam pengeboman Riyadh May12, 2003 bombings of Riyadh andwas knownto have close ties withAl-Qa’ida.
Debate continues regarding al-Azdi’s impetus togive up, buthis own fathertold reporters that “security agencieshave promised that if he gives inand is convicted ofthe allegedcrimes, his punishmentwouldbe reducedto half.”
otoritas di antara mereka. Organisasi teroris secara alami lebih lemah dibanding musuh mereka. Mereka mencoba untuk mengatasi kelemahan tersebut untuk mendapatkan dukungan. Pimpinan pusat Al-Qaidah mencoba untuk mempertahankan hubungan dengan cabang-cabangnya dalam rangka membangun persepsi bahwa mereka merupakan kelompok yang kuat yang mampu menantang musuhnya. Kebijakan yang efektif untuk mengurangi kemampuan Al-Qaidah akan membuat dukungan pada mereka terhambat dan memicu terjadinya perbedaan di dalam gerakan tersebut.
z Membuat manajemen aset keuangan lebih sulit dilakukan.
Salah satu cara untuk untuk melakukannya adalah dengan menahan diri dari mempublikasikan pembekuan dana atau penyitaan aset. Ketika pemerintah mampu melakukannya secara rahasia, orang yang bertanggungjawab atas dana tersebut harus menjelaskan atas apa yang terjadi. Pilihannya, dia harus merogoh dana dari kantongnya sendiri untuk menggantinya atau akan dicurigai oleh anggota kelompok yang lain. Kondisi ini akan memicu perbedaan preferensi yang kemudian menimbulkan agency problems.
Melakukan penyitaan secara rahasia juga akan meningkatkan ketidakpastian di lingkungan operasi sehingga lebih sulit untuk mempertahankan pengawasan efektif dalam banyak interaksi. Dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian, akan sulit untuk mengetahui apakah sebuah operasi gagal karena agen tidak menjalankannya, atau karena faktor ketidakberuntungan. Secara lebih eksplisit, semakin rendah rasio sinyal dalam sebuah lingkungan, maka semakin sedikit informasi yang bisa didapatkan.
Dalam jangka panjang, hal ini akan semakin memperburuk masalah keagenan.
z Menindak penggalangan dana yang dilakukan melalui amal sosial dan bisnis yang sah.
Memaksa Al-Qaidah melakukan penggalangan dana melalui aksi kriminal
akan sangat mengurangi efisiensi transaksi keuangan mereka. Penggalangan dana melalui cara terlarang dalam sejarahnya sering menimbulkan perbedaan pendapat atas alokasi sumber daya dan taktik.
Uang yang didapat dari cara ilegal harus dicuci untuk mencegah investigator dari mendapatkan informasi tentang kelompok.
Proses pencucian seringkali tidak efisien dan butuh kerahasiaan, yang membuat para pemimpin kesulitan untuk memantau bagaimana dana tersebut digunakan, dan membuat kelompok tersebut rentan terhadap korupsi. Selain itu, sebagaimana pengalaman IRA, sel-sel yang dilatih melakukan penggalangan dana secara ilegal sangat mungkin mulai mencari kesempatan untuk keuntungan pribadi, bahkan dengan mengorbankan tujuan-tujuan politik.
Proses pencucian seringkali tidak efisien dan butuh kerahasiaan, yang membuat para pemimpin kesulitan untuk memantau bagaimana dana tersebut digunakan, dan membuat kelompok tersebut rentan terhadap korupsi. Selain itu, sebagaimana pengalaman IRA, sel-sel yang dilatih melakukan penggalangan dana secara ilegal sangat mungkin mulai mencari kesempatan untuk keuntungan pribadi, bahkan dengan mengorbankan tujuan-tujuan politik.