• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Strategis dan Taktis Daulah Khilafah

Titik Balik Potensial

E. Rencana Strategis dan Taktis Daulah Khilafah

Sejak pengumuman dari Daulah Khilafah, kelompok ini telah terobsesi untuk mengendalikan wilayah geografis untuk mendeklarasikan kekhalifahan Islam, sebuah langkah yang, selain penting secara simbolis, juga akan membantu meningkatkan rekrutmen dan mengamankan gerakan logistik. Pada tahun 2010, mereka mulai menyiapkan rencana strategis pasca penarikan mundur pasukan AS tahun 2011 dalam sebuah booklet berjudul Khoutah Istratigya li Ta’aziz al-Moqif al-Siyasi al-Dawlat al-Islamyiah fi al-Iraq.40

Booklet ini dirilis pada Januari 2010, 3 bulan sebelum Abu Umar Al-Baghdadi, amir ISI waktu itu, dan menteri pertahanan, Abu Hamzah Al-Muhajir, gugur pada bulan April 2010. Dokumen tersebut menguraikan rencana strategis untuk

“meningkatkan posisi Daulah Islamiyah menjadi lebih kuat secara politik dan militer ... sehingga proyek Daulah Islamiyah akan siap untuk mengambil alih Irak setelah pasukan musuh mundur.”

Kelompok ini membangun legitimasi berdasar sejumlah konsep dan ide-ide seperti Al-Shawkat (kekuasaan, intensitas) dan Al-Taghloub (penaklukan). Mereka meyakini bahwa jika sebuah kelompok memiliki kekuatan, maka ia akan memiliki legitimasi untuk memerintah.

Dokumen tersebut juga menekankan bahwa negara yang mereka ingin tegakkan adalah negara yang tidak terikat dengan komitmen internasional:

“Menegakkan negara Islam yang tidak memiliki komitmen terhadap masyarajkbkat internasional bukanlah fantasi, mimpi atau ilusi sebagaimana yang mungkin beberapa orang bayangkan atau khayalkan. Ini adalah masalah yang dibangun di atas strategi yang jelas.”

Dalam upaya mendirikan negara Islam yang mengontrol Irak, mereka menetapkan lima poin agenda penting yang didukung oleh berbagai taktik dan strategi:

z Unifikasi: Agenda ini mendesak para jihadis untuk menyatukan upaya mereka di Irak

40 Khoutah Istratigyia li Ta’aziz Moqif Siyasi Dawlat Islamyiah fi al-Iraq (A Strategic Plan to Improve the Political Position of the Islamic State of Iraq), January 2010. Booklet ini bisa diakses di: http://www.hanein.

info/vb/showthread.php?t=158433. Lihat juga Terrorism Monitor, April 23, 2010, http://www.jamestown.org/programs/tm/single/?tx_

ttnews%5Btt_news%5D=36299&tx_ttnews%5BbackPid%5D=457&no_

cache=1#.U-6hhsXUn8Q

dan membuktikan bahwa Daulah Islamiyah adalah sebuah realitas. Upaya mereka untuk menjalankan pengelolaan di Fallujah dan Mosul mungkin bisa dianggap sebagai bagian dari cara untuk mencapai tujuan ini.

z Perencanaan Militer yang Seimbang: Agenda ini dibagi menjadi tiga taktik:

1. “Sembilan peluru terhadap orang murtad dan satu peluru melawan tentara Salib.” Strategi ini bertujuan untuk “meningkatkan tingkat ketakutan di antara warga Irak yang bergabung dengan tentara dan pasukan keamanan”;

2. Pembersihan (Cleansing), di mana gerakan ini bertujuan untuk menduduki tempat di mana tentara dan pasukan keamanan Irak berada dan membuat mereka sibuk berusaha untuk merebut kembali tempat-tempat ini;

3. Menargetkan pemimpin militer dan politik yang berpengaruh dengan pembunuhan.

z Membentuk “Dewan Kebangkitan” jihadis:

Mereka mengakui bahwa pembentukan Dewan Kebangkitan di Anbar adalah “ide cerdas,”

Oleh karena itu, mereka mendesak suku-suku Sunni setempat untuk membentuk kelompok untuk melindungi daerah mereka dari pasukan keamanan Irak, mengendalikan keamanan harian di daerah tesebut dan menerapkan Syariah. Dalam dokumen tersebut, tujuan strategi ini adalah untuk mengintegrasikan penduduk setempat ke dalam proyek untuk membangun syariat dan menghindari alienasi masyarakat setempat. Kelompok ini akan diawasi oleh amir dari kalangan jihadis. Kemajuan menuju tujuan tersebut terlihat dengan meningkatnya jumlah warga Irak yang bergabung dengan mereka, serta dibangunnya aliansi dengan beberapa suku lokal di Fallujah pada bulan Januari 2014.

z Simbolisme Politik: Dalam booklet tersebut menegaskan bahwa mengorbitkan seorang pemimpin politik dan agama adalah suatu langkah penting dalam membangun negara Islam. Pada saat booklet tersebut dirilis, mereka berpikir bahwa akan sulit untuk menemukan simbol seperti itu, tapi ketika Abu Bakar al-Baghdadi menjadi pemimpin Daulah Islamiyah Irak (ISI) beberapa bulan kemudian, dia diharapkan bisa mengisi peran simbolis ini

dengan menggabungkan kredensial politik dan agama yang diperlukan. Peran simbolis ini tampak ketika Al-Baghdadi menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Agung Mosul al-Nuri (yang dibangun pada tahun 1172-1173), yang secara tradisional digunakan oleh para khalifah di masa lalu.

z Memberi jaminan kepada non-Muslim: Hal ini mengacu pada pemerintahan yang adil dari Negara Islam untuk memberi kepada non-Muslim bahwa jihadis mampu dan mau untuk melindungi mereka dan kepentingan mereka, sikap para jihadis melihat sebagai penting mengingat upaya berkelanjutan untuk menggambarkan jihadis di media. (10) Namun, setelah para jihadis mengambil kota Mosul pada bulan Juni, ratusan keluarga Kristen melarikan diri setelah para jihadis menuntut mereka mengkonversi, tunduk kepada kekuasaan mereka dan membayar retribusi agama (jizyah) atau menghadapi kematian dengan pedang.

Negara Islam tidak melihat ini sebagai suatu kontradiksi karena konsep mereka tentang keadilan melibatkan menerapkan syariat sebagai kelompok memahaminya.

1. Strategi Singa dan Musang Daulah Khilafah

Seberapa jauh kemungkinan kesuksesan Daulah Khilafah dalam mencapai tujuannya menjalankan negara? Untuk menjawab pertanyaan ini, Matthias Baun mencoba melakukan analisis strategi Daulah Khilafah: apakah mereka melakukan operasi hanya berdasarkan semangat ideologi ataukah strategi mereka juga menggunakan elemen realisme?

Matthias memandang dari teori Machiavelli yang menyatakan bahwa seorang pangeran yang sukses harus belajar untuk menjadi rubah dan singa, apakah Daulah Khilafah memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai keduanya?

“Singa tidak bisa melindungi dirinya dari perangkap, dan rubah tidak dapat membela diri dari serigala. Oleh karena itu seseorang harus menjadi rubah untuk mengenali perangkap, dan menjadi singa untuk menakut-nakuti serigala.”

Dalam dunia hewan, singa adalah simbol dari kekuatan paripurna. Ini adalah mamalia yang paling kuat yang ditakuti oleh semua hewan lain.

Namun singa memiliki kelemahan, ia tidak cukup cerdas untuk mengenali bahaya perangkap. Seekor rubah juga seorang predator, hidup dari memangsa hewan lain. Namun, rubah licik dan berhitung. Ia bisa mengenali bahaya ketika merasa tidak nyaman dalam tatanan baru. Seekor rubah tidak perlu menyerang jika ia pandang bahwa hal itu justru membahayakannya.

2. Sebuah aliansi kenyamanan sementara

Bukti di lapangan di Suriah menunjukkan bahwa ada pemahaman umum antara rezim Assad dan Daulah Khilafah bahwa tidak adanya serangan terhadap satu sama lain bersifat saling menguntungkan. Ada cukup bukti yang menyatakan bahwa Assad tidak menargetkan kawasan yang dikendalikan oleh Daulah Khilafah, tetapi lebih memilih untuk memukul daerah kelompok oposisi yang lain. Beberapa bulan belakang ini, musuh langsung dari Assad dan Daulah Khilafah adalah sama, sebagaimana yang disampaikan Frederic C. Hof, yaitu kelompok oposisi yang melawan rezim Assad.41

Gambar Peta Konflik Di Aleppo42

41 http://www.atlanticcouncil.org/blogs/menasource/syria-should-the-west-work-with-assad

42 https://twitter.com/syrianalann/status/499380919015591937/

photo/1

Daulah Khilafah telah menunjukkan dirinya sebagai seorang oportunis yang cerdik. Mereka banyak merebut area yang sebenarnya telah dikuasai oleh kelompok perlawanan. Mereka mengembangkan strategi menuai buah matang yang ditaburkan oleh kelompok militan lainnya.

Saat ini di Aleppo, tentara Suriah sedang mencoba untuk menggunakan strategi yang paling efektif:

melakukan pengepungan di sekitar daerah yang dikuasai oleh oposisi, dan memotong jalur logistik baik secara materi maupun fisik. Sementara itu, Daulah Khilafah beroperasi lebih dekat ke pinggiran kota.

Tidak diragukan lagi, aliansi ini sangat bersifat temporer. Jika elemen kelompok perlawanan lain semakin melemah, kita akan melihat pertempuran permanen antara Daulah Khilafah dan Assad.

Pertengahan Juli 2014, Daulah Khilafah melakukan serangan atas tentara Suriah yang membuat mereka berhasil menguasai salah satu fasilitas produksi gas paling penting di Suriah.43 Poin ini, dalam kacamata teori Machiavelli, menunjukkan bahwa Daulah Khilafah mampu beroperasi dengan pemahamam realisme. Mereka bertindak sebagai rubah jika diperlukan, dan sebagai singa jika kondisi memungkinkan.

3. Daulah Khilafah sebagai Singa

Daulah Khilafah telah menggunakan kekerasan terhadap siapa pun yang bertindak menentangnya.

Akhir tahun lalu, kebrutalan mereka, dikombinasikan dengan keengganan Daulah Khilafah untuk melawan Assad, menyebabkan kelompok koalisi menyerang Daulah Khilafah, dan menyebabkan kemunduran mereka di wilayah timur Suriah.

Namun rampasan perang datang dari penaklukan di Irak barat.Daulah Khilafahmengalokasikan pasokan vitalke medan Suriah. Meningkatnya moral, dikombinasikan dengan pasokan logistik baru menyebabkan Daulah Khilafahmendapatkan kemajuan yang cukup signifikan di Suriah akhir-akhir ini. Mereka juga mengembangkan strategi baru. Mereka menggunakan kekuatan diplomatiknya untuk mengambil alih sebuah wilayah. Jika penduduk setempat mau meletakkan senjata mereka dan

43 http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2014/07/islamic-state-fighters-seize-syria-gas-field-2014717134148345789.html

berbaiat kepada Daulah Khilafah, wilayah mereka akan terhindar dari serangan.44

Strategi ini kemungkinan akan menjadi sangat efektif. Melihat pencapaian geopolitis mereka, ditambah dengan persenjataan militer dan dana yang semakin tumbuh hari demi hari, maka akan lebih mungkin untuk menarik dukungan publik di Suriah dan Irak untuk memperkuat pasukan militernya.

Para pemuda ini tidak perlu untuk selalu percaya pada ide-ide menciptakan negara Islam. Tapi mereka akan jauh lebih nyaman berjuang dengan kekuatan persenjataan yang baik dan yang menang dalam pertempuran. Untuk pemuda Suriah, akan lebih memuaskan untuk naik di bagian belakang Humvee menaklukkan ladang gas dan desa daripada harus terjebak dalam pertempuran tidak pernah berakhir di gedung-gedung runtuh di Aleppo.

4. Daulah Khilafah sebagai Rubah

Pada banyak kesempatan, Daulah Khilafah telah menunjukkan sebagai kekuatan militer yang terampil di medan. Mereka banyak melakukan operasi militer dengan taktik pukul dan lari (hit and run). Berlawanan dengan berita populer yang beredar, Mosul tidak jatuh dalam satu malam.

Penguasaan oleh Daulah Khilafah dan sekutunya, adalah puncak dari berbulan-bulan‘pencekikan’

dengan memotong rute pasokan antara Baghdad dan Mosul. Penguasaan hanya puncak dari bertahun-tahun serangan gerilyawan di kota tersebut. Bahkan, Mosul adalah kota yang telah lama menjadi salah satu sumber utama pendapatan Daulah Khilafah.45