1 PENDAHULUAN
Dalam kegiatan bisnis, sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting bagi perusahaan. Tenaga kerja yang merupakan sumber daya manusia berperan dalam menentukan tercapainya tujuan perusahaan dan berpengaruh terhadap proses kegiatan usaha. Tanpa adanya tenaga kerja yang berkualitas maka akan berdampak negatif terhadap perusahaan. Salah satu cara agar perusahaan dapat memiliki tenaga kerja yang berkualitas maka perusahaan harus mampu menerapkan praktik manajemen sumber daya manusia yang dapat membantu mencapai tujuan perusahaan.
Perusahaan perbankan termasuk dalam perusahaan jasa, dimana tenaga kerja menjadi asset yang penting bagi perusahaan. Meskipun perusahaan didukung oleh teknologi namun tetap saja tidak dapat menggantikan interaksi karyawan-pelanggan secara tatap muka. Kualitas tenaga kerja dalam melayani pelanggan berperan penting dalam menentukan kinerja perusahaan. Tidak hanya ilmu dan keahlian yang harus tenaga kerja miliki, melainkan perlu juga adanya pengembangan skill dan ability karyawan serta meningkatkan motivasi karyawan seperti pemberian reward kepada karyawan atas kinerja mereka. Selain itu, pengelolaan internal organisasi terutama pengembangan potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada harus mampu membantu mencapai tujuan perusahaan.
Oleh karena itu, perusahaan harus mampu memberikan informasi kepada stakeholder, bukan sekedar kinerja keuangan namun juga non keuangan terutama pada praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja melalui sustainability report.
Pengungkapan laporan berkelanjutan (sustainability report) kini telah menjadi salah satu hal yang penting bagi setiap perusahaan. Hal ini dikarenakan tuntutan dari para stakeholder perusahaan yang ingin mengetahui lebih dari hanya sekedar kinerja keuangan perusahaan namun juga ingin mengetahui mengenai kinerja non keuangan seperti lingkungan dan sosial (Burhan dan Rahmati 2012), oleh karena itu, sustainability report berisi informasi yang tidak hanya penting bagi shareholder tetapi juga bagi stakeholder.
2
Sustainability report menyampaikan pengungkapan tentang dampak organisasi baik itu positif atau negatif terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi (G4 GRIGuidlines, 2013). Di Indonesia sendiri telah dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no.1 paragraf ke 9, yaitu perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor – faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting. Namun belum ada aturan yang mewajibkan perusahaan menerbitkan sustainability report.
Salah satu lembaga yang membuat pedoman mengenai sustainability reporting adalah Global Reporting Initiative (GRI). GRI menghasilkan standar yang umum digunakan perusahaan di dunia untuk pelaporan keberlanjutan.
Pedoman yang diterbitkan oleh GRI itu sendiri adalah panduan pelaporan G4 (G4 Guidelines). Penelitian mengenai penerapan sustainability reporting berdasar Global Reporting Initiative (GRI) belum banyak dilakukan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya perusahaan yang melakukan praktik pengungkapan sustainability report. Pedoman ini mengatur pengungkapan standar khusus ke dalam tiga kategori, yakni ekonomi, lingkungan, dan sosial. Kategori sosial lebih lanjut dibagi ke dalam empat sub-kategori, yaitu praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja, hak asasi manusia, masyarakat, dan tanggung jawab atas produk (G4 GRIGuidlines, 2013).
Di Indonesia terdapat beberapa perusahaan yang melakukan praktik pengungkapan sustainability report. Salah satu jenis perusahaan yang melakukan praktik pengungkapan sustainability report adalah perusahaan perbankan.
Sekarang ini perusahaan dituntut untuk tidak hanya memikirkan masa sekarang saja dalam operasi usahanya, namun juga harus memperhatikan masa yang akan datang sebagai bentuk dari proses berkelanjutan. Dari observasi awal pada perbankan di Indonesia berdasarkan daftar yang ada di situs Bank Indonesia terdapat 28% dari 43 bank di BEI yang menerbitkan sustainability report. Oleh
3
karena, menarik untuk diteliti apakah perbankan di Indonesia telah melaporkan kinerja sosialnya terkhusus pada praktik ketenagakerjaandalam sebuah sustainability report yang sesuai dengan standar atau panduan pelaporan dari Global Reporting Initiative (GRI) yaitu G4 Guidelines.
Penelitian yang menganalisis kesesuaian sustainability report dengan standar pelaporan GRI juga telah dilakukan di Indonesia, seperti penelitian yang dilakukan oleh Prasasti (2016) yang menggunakan objek perusahaan pertambangan di Indonesia terkait dengan isu lingkungan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti pada jenis perusahaan lain, yaitu perusahaan perbankan dengan menggunakan isu kinerja sosial terkhusus pada praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan pegawai. Pemilihan isu tersebut dikarenakan peran tenaga kerja pada perusahaan perbankan sangat penting, terlebih tenaga kerja merupakan asset penting bagi perusahaan perbankan. Penelitian ini akan melakukan analisis secara kualitatif dalam bentuk naratif secara terperinci tentang kesesuaian antara praktik sustainability reporting, secara khusus pada pelaporan yang berkaitan dengan kinerja sosial terkhusus pada praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan pegawai dengan G4 Guidelines pada perusahaan perbankan di Indonesia. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat kesesuaian pengungkapan sustainability report berdasarkan pokok-pokok pengungkapan yang terdapat di dalam panduan pelaporan GRI yakni G4 Guidelines serta bagaimana pola yang digunakan perusahaan-perusahaan tersebut dalam menyusun sustainability report terkait praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan pegawai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kesesuaian pengungkapan sustainability report berdasarkan pokok-pokok pengungkapan yang terdapat di dalam panduan pelaporan GRI yakni G4 Guidelines dan mengetahui pola penyusunan sustainability report perusahaan perbankan di Indonesia terkait praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bukti empiris mengenai penyusunan sustainability report oleh perusahaan dari sektor perbankan di Indonesia terkait praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan pegawai. Bagi
4
akademisi, bukti empiris tersebut dapat digunakan dalam menganalisis atau mengkritisi penyusunan sustainability report dan penggunaan panduan pelaporan GRI, serta dapat berguna sebagai penambah ilmu pengetahuan mengenai sustainability reporting. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi referensi bagi perusahaan, khususnya perusahaan perbankan di Indonesia, dalam mengambil keputusan mengenai pentingnya pengungkapan atau praktik sustainability reporting sebagai salah satu alat pertanggung jawaban atas setiap aktivitas yang dikerjakan yang memberi dampak bagi sosial, serta pentingnya kesesuaian antara pengungkapan sustainability reporting dengan panduan pelaporan yang dibuat oleh GRI.
TINJAUAN PUSTAKA
Sustainability Reporting dan Sustainability Report
Sustainability merupakan evaluasi terhadap aktivitas suatu entitas terkait dengan dampaknya terhadap generasi di masa datang juga stakeholder sekarang (Roth, 2014). Menurut Elkington (dalam Susanto & Tarigan, 2013), sustainability report didefinisikan sebagai laporan yang tidak hanya memuat informasi kinerja keuangan tetapi juga informasi non keuangan yang terdiri dari informasi aktivitas sosial dan lingkungan yang memungkinkan perusahaan bisa bertumbuh secara berkesinambungan (sustainable performance).
Akuntansi dan pelaporan sustainability mencangkup komponen internal yang mengharuskan pengelolaan atas permasalahan sustainability dan elemen pelaporan eksternal yang biasa disebut sustainability reporting (Lodhia dan Hess, 2014). Selain itu, Global Reporting Initiative mendefinisikan sustainability reporting sebagai praktik dalam mengukur dan mengungkapkan aktivitas perusahaan, sebagai tanggung jawab kepada stakeholder internal maupun eksternal mengenai kinerja organisasi dalam mewujudkan tujuan sustainable development (G3 GRI Guidelines, 2000). Salah satu pendekatan dari sustainability reporting adalah konsep triple bottom line yang terdiri dari dampak
5
aktivitas perusahaan terhadap aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.
Pengungkapan standar dalam sustainability report menurut GRI-G4 Guidlines terdiri dari:
1. Ekonomi
Menyangkut dampak yang dihasilkan perusahaan pada kondisi ekonomi dari stakeholder dan pada sistem ekonomi di tingkat lokal, nasional, dan global.
2. Lingkungan
Menyangkut dampak yang dihasilkan perusahaan terhadap makhluk di bumi, dan lingkungan sekitar termasuk ekosistem, tanah, udara, dan air.
3. Sosial
Pada kategori ini terdiri dari beberapa sub kategori yang terdiri dari:
a. Praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja b. Hak asasi manusia
c. Masyarakat
d. Tanggung jawab atas produk
Menurut World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) (dalam Widianto, 2011) menjelaskan manfaat yang didapat dari sustainability report antara lain:
1. Sustainability report memberikan informasi kepada stakeholder (pemegang saham, anggota komunitas lokal, pemerintah) dan meningkatkan prospek perusahaan, serta membantu mewujudkan transparansi.
2. Sustainabilty report dapat membantu membangun reputasi sebagai alat yang memberikan kontribusi untuk meningkatkan brand value, market share, dan loyalitas konsumen jangka panjang.
3. Sustainability report dapat menjadi cerminan bagaimana perusahaan mengelola risikonya.
4. Sustainability report dapat digunakan sebagai stimulasi leadership thinking dan performance yang didukung dengan semangat kompetisi.
6
5. Sustainability report dapat mengembangkan dan memfasilitasi pengimplementasian dari sistem manajemen yang lebih baik dalam mengelola dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial.
6. Sustainability report cenderung mencerminkan secara langsung kemampuan dan kesiapan perusahaan untuk memenuhi keinginan pemegang saham untuk jangka panjang.
7. Sustainability report membantu membangun ketertarikan para pemegang saham dengan visi jangka panjang dan membantu mendemonstrasikan bagaimana meningkatkan nilai perusahaan yang terkait dengan isu sosial dan lingkungan.
Global Reporting Initiative (GRI) dan G4 Guidelines
Global Reporting Initiative (GRI) merupakan sebuah organisasi non- profit yang mempromosikan keberlanjutan ekonomi. Organisasi ini berpusat di Amsterdam, Belanda dan didirikan pada tahun 1997 di Boston. GRI menghasilkan standar yang umum digunakan perusahaan di dunia untuk pelaporan keberlanjutan. Salah satu pedoman yang diterbitkan oleh GRI adalah panduan pelaporan (G4 Guidelines) yang merupakan pengembangan dari guidelines sebelumnya. Tujuan G4 itu sendiri adalah membantu pelapor menyusun laporan berkelanjutan atas hal-hal yang penting, berisikan informasi berharga tentang isu-isu organisasi yang paling kritikal terkait keberlanjutan, dan menjadikan pelaporan keberlanjutan yang sedemikian sebagai praktik standar.
(G4 GRI Guidlines, 2013).
Pedoman pelaporan keberlanjutan GRI menyediakan prinsip-prinsip pelaporan, pengungkapan standar, dan panduan penerapan untuk penyusunan laporan keberlanjutan oleh organisasi, apa pun ukuran, sektor atau lokasinya.
Pedoman ini juga menyediakan referensi internasional untuk semua pihak yang terlibat dengan pengungkapan pendekatan tata kelola serta kinerja dan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi organisasi. Pedoman ini berguna untuk
7
menyiapkan berbagai jenis dokumen yang memerlukan pengungkapan tersebut.
Pedoman G4 dirancang agar sesuai dengan berbagai macam format pelaporan.
Selain meningkatkan relevansi dan kualitas sustainability report mandiri, G4 juga memberikan standar yang dikenal secara global untuk informasi keberlanjutan agar dimasukkan ke dalam laporan terpadu (G4 GRI Guidlines, 2013).
Pedoman ini dikembangkan melalui proses yang melibatkan pemangku kepentingan global dari perwakilan dari bisnis, tenaga kerja, masyarakat sipil, dan pasar keuangan, serta auditor dan pakar di berbagai bidang, dan melalui dialog erat bersama regulator dan lembaga pemerintah di beberapa negara. Pedoman ini dikembangkan bersesuaian dengan dokumen yang terkait pelaporan yang telah diakui secara internasional, yang direferensikan di seluruh pedoman ini (G4 GRI Guidlines, 2013).
Pelaporan Praktik Ketenagakerjaan Dan Kenyamanan Bekerja berdasarkan G4 Guidlines
Menurut G4 Guidlines, sustainability repoting terkait pratik tenaga kerja dan kenyamanan bekerja terdapat beberapa aspek yang terdiri dari:
a. Kepegawaian
Hal-hal yang dilaporkan terkait aspek kepegawaian, meliputi:
1. Jumlah total dan tingkat perekrutan karyawan baru dan turnover karyawan menurut kelompok umur, gender, dan wilayah.
2. Tunjangan yang diberikan bagi karyawan purnawaktu yang tidak diberikan bagi karyawan sementara atau paruh waktu, berdasarkan lokasi operasi yang signifikan.
3. Tingkat kembali bekerja dan tingkat retensi setelah cuti melahirkan, menurut gender.
b. Hubungan Industrial
Hal yang perlu dilaporkan terkait aspek hubungan industrial adalah jangka waktu minimum pemberitahuan mengenai perubahan operasional, termasuk apakah hal tersebut tercantum dalam perjanjian bersama.
8 c. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Hal-hal yang dilaporkan terkait aspek kesehatan dan keselamatan kerja, meliputi:
1. Persentase total tenaga kerja yang diwakili dalam komite bersama formal manajemen-pekerja yang membantu mengawasi dan memberikan saran program kesehatan dan keselamatan kerja.
2. Jenis dan tingkat cedera, penyakit akibat kerja, hari hilang, dan kemangkiran, serta jumlah total kematian akibat kerja, menurut daerah dan gender.
3. Pekerja yang sering terkena atau berisiko tinggi terkena penyakit yang terkait dengan pekerjaan mereka.
4. Topik kesehatan dan keselamatan yang tercakup dalam perjanjian formal dengan serikat pekerja.
d. Pelatihan dan Pendidikan
Hal-hal yang dilaporkan terkait aspek pelatihan dan pendidikan, meliputi:
1. Jam pelatihan rata-rata per tahun per karyawan menurut gender, dan menurut kategori karyawan.
2. Program untuk manajemen keterampilan dan pembelajaran seumur hidup yang mendukung keberlanjutan kerja karyawan dan membantu mereka mengelola purna bakti.
3. Persentase karyawan yang menerima review kinerja dan pengembangan karir secara reguler, menurut gender dan kategori karyawan.
e. Keberagamaan dan Kesetaraan Peluang
Hal yang dilaporkan terkait keberagaman dan kesetaraan peluang adalah komposisi badan tata kelola dan pembagian karyawan per kategori karyawan menurut gender, kelompok usia, keanggotaan kelompok minoritas, dan indikator keberagaman lainnya.
f. Kesetaraan Remunerasi Perempuan dan Laki-laki
Hal yang dilaporkan terkait kesetaraan remunerasi perempuan dan laki-laki adalah rasio gaji pokok dan remunerasi bagi perempuan terhadap laki-laki
9
menurut kategori karyawan, berdasarkan lokasi operasional yang signifikan.
g. Asesmen Pemasok atas Praktik Ketenagakerjaan
Hal-hal yang dilaporkan terkait asesmen pemasok atas praktik ketenagakerjaan, meliputi:
1. Persentase penapisan pemasok baru menggunakan kriteria praktik ketenagakerjaan.
2. Dampak negatif aktual dan potensial yang signifikan terhadap praktik ketenagakerjaan dalam rantai pasokan dan tindakan yang diambil.
h. Mekanisme Pengaduan Masalah Ketenagakerjaan
Hal yang dilaporkan terkait mekanisme pengaduan masalah ketenagakerjaan adalah jumlah pengaduan tentang praktik ketenagakerjaan yang diajukan, ditangani, dan diselesaikan melalui mekanisme pengaduan resmi.
METODA PENELITIAN Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan karena penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang objek penelitian yang mampu memberikan gambaran untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kesesuaian pengungkapan sustainability report berdasarkan pokok-pokok pengungkapan yang terdapat di dalam panduan pelaporan GRI yakni G4 Guidelines dan mengetahui pola penyusunan sustainability report perusahaan perbankan di Indonesia terkait praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja.
Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Peneliti menyampaikan semua informasi untuk dapat menjawab persoalan yang ada. Oleh karena itu
10
peneliti melakukan studi pustaka dari berbagai sumber yang kemudian dianalisis dan dijadikan pedoman untuk melakukan analisis persoalan penelitian.
Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data yang digunakan adalah sustainability report pada empat perusahaan perbankan di Indonesia dan pedoman G4 Guidlines. Objek penelitian yang dipilih berdasarkan 2 perbankan dengan kapitalisasi pasar tertinggi dan 2 perbankan dengan kapitalisasi pasar terendah yang menerbitkan sustainability report dengan berpedoman pada G4 Guidlines. Oleh karena itu terpilih Bank Central Indonesia Tbk, dan Bank Rakyat Indonesia (Persero)Tbk, Bank Jabar Banten, dan Bank Bukopin Tbk.
Kapitalisasi pasar sering digunakan sebagai alat ukur dari ukuran perusahaan. Pengukuran ini dipilih karena perusahaan dengan ukuran yang lebih besar akan memiliki insentif lebih untuk mengungkapkan lebih banyak informasi (Dainelli, Bini dan Giunta, 2010). Hal ini menunjukan bahwa pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan akan berbeda-beda, sesuai dengan ukuran perusahaan tersebut. Selain itu, kapitalisasi pasar mencerminkan nilai total perusahaan. Pada umumnya perusahaan yang mempunyai nilai kapitalisasi pasar yang besar menjadi incaran investor untuk investasi jangka panjang, karena adanya potensi pertumbuhan perusahaan serta resiko yang relatif rendah (Faried 2008).
Metode Pengumpulan Data
Agar dapat memperkuat dan mendukung kajian pustaka dan argumen dalam penelitian, peneliti menelusuri berbagai sumber yang berasal dari buku, jurnal, artikel, web (online), maupun informasi lain yang berhubungan dengan tujuan penelitian sebagai acuan untuk mengembangkan analisis yang dilakukan.
Teknik dan Langkah Analisis
11
Teknik deskriptif analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik isi atau content analysis. Analisis isi deskriptif merupakan metode ilmiah untuk mempelajari dan menarik kesimpulan atas suatu fenomena dengan memanfaatkan dokumen (Eriyanto, 2013). Teknik dan langkah analisis yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan Tujuan Analisis
Pada pendahuluan telah dijelaskan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kesesuaian pengungkapan sustainability report berdasarkan pokok-pokok pengungkapan yang terdapat di dalam panduan pelaporan GRI yakni G4 Guidelines dan mengetahui pola penyusunan sustainability report perusahaan perbankan di Indonesia terkait praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja.
2. Konseptualisasi dan Operasionalisasi
Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini maka peneliti akan membandingkan aspek-aspek yang terdapat pada G4 GRI Guidlines dengan sustainability report yang dilaporkan oleh perusahaan perbankan di Indonesia
3. Lembar coding
Lembar coding digunakan srbagai panduan dalam menganalisis setiap aspek-aspek pengungkapan sutainability reporting dari objek penelitian.
Terdapat 8 aspek yang akan diamati:
a. Kepegawaian
b. Hubungan Industrial
c. Kesehatan dan Keselamatan Kerja d. Pelatihan dan Pendidikan
e. Keberagamaan dan Kesetaraan Peluang
f. Kesetaraan Remunerasi Perempuan dan Laki-laki g. Asesmen Pemasok atas Praktik Ketenagakerjaan
12
h. Mekanisme Pengaduan Masalah Ketenagakerjaan 4. Objek Penelitian
Penelitian ini memilih perusahaan-perusahaan perbankan di Indonesia sebagai objek penelitian. Berdasarkan kriteria terpilih 4 perusahaan perbankan yaitu Bank Central Indoensia Tbk, dan Bank Rakyat Indonesia (Persero)Tbk, Bank Jabar Banten, dan Bank Bukopin Tbk.
5. Proses Input
Pada tahap ini, informasi-informasi dari objek penelitian yang sesuai dengan disclosure item dimasukkan ke dalam lembar coding yang kemudian akan dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menyimpulkan seberapa jauh pengungkapan suatu objek penelitian.
6. Proses Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dimana setiap temuan informasi yang berkaitan dengan item-item standar pengungkapan dalam G4 Guidelines pada objek penelitian yang telah dimasukkan ke dalam lembar disclosure item akan dianalisis sesuai kemampuan analisis dan konsep yang ada. Hasil yang dicapai dari analisis ini adalah kesimpulan mengenai seberapa jauh implementasi G4 Guidelines yang telah diterbitkan oleh GRI dalam penyusunan atau pengungkapan sustainability report oleh perusahaan-perusahaan perbankan serta bagaimana pola penyusunannya.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN ASPEK : KEPEGAWAIAN
G4-LA1 Jumlah total dan tingkat perekrutan karyawan baru dan turnover karyawan menurut kelompok umur, gender, dan wilayah
Sebagaimana yang tertera pada G4 Guidlines, indikator LA1 melaporkan tentang jumlah total dan tingkat rekrut karyawan baru serta jumlah total dan tingkat turnover karyawan selama periode pelaporan, menurut kelompok usia,
13
gender, dan wilayah. Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing- masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA1:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Per Desember 2015, jumlah karyawan tetap yang mengalami pemutusan hubungan kerja adalah sebanyak 508 orang atau 2,12%
dari total karyawan BCA. Umumnya adalah dikarenakan karena memasuki masa pensiun atau alasan pribadi lainnya. (SR Bank Central Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 139)
Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Disajikan dalam bentuk tabel penerimaan pekerja baru dan kompisisi pekerja berdasarkan wilayah. Selain itu, disajikan pula dalam bentuk grafik untuk menggambarkan pekerja yang berhenti, tingkat perputaran pekerja tahun 2013-2015, tingkat perputaran pekerja berdasarkan usia, komposisi manajemen berdasarkan gender, kompisis pekerja berdasarkan usia. (SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 54-58)(Lampiran 1, Tabel 1-2 dan Grafik 1-5) Bank Jabar Banten:
Perseroan berusaha untuk terus meningkatkan kualitas dan kemampuan profesional SDM, salah satunya melalui proses seleksi penerimaan pegawai yang lebih selektif dan kompetitif dengan tujuan mendapatkan pegawai yang kompeten, unggul, handal dan tangguh. Selama tahun 2015, Perseroan telah merekrut sebanyak 549 pegawai baru. Jumlah kebutuhan tersebut selaras dengan pertumbuhan bisnis bank bjb di tahun 2015. Sedangkan data mengenai tingkat turnover pegawai disajikan dalam bentuk tabel yang berisi data dari tahun 2011-2015. (SR Bank Jabar Banten, 2015, Halaman 79-80)(Lampiran 1, Tabel 3)
14 Bank Bukopin, Tbk:
Pada 31 Desember 2015, jumlah karyawan Perseroan tercatat sebanyak 6.378 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 4.343 orang merupakan pegawai tetap dan 2.035 orang karyawan tidak tetap.
Jumlah karyawan tersebut naik 0,47% apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (SR Bank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 52) Ihwal turnover karyawan, Perseroan berupaya untuk mengelola tingkat turnover karyawan dengan sebaik-baiknya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah senantiasa melakukan review terhadap kebijakan-kebijakan yang ada terkait remunerasi dan paket benefit bagi karyawan. Selain hal-hal bersifat materi, perbaikan senantiasa dilakukan dalam rangka menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan bagi karyawan.
Dengan lingkungan kerja yang baik, membuat tingkat turnover karyawan Perseroan cenderung rendah. Pada tahun 2015 jumlah pekerja Perseroan berjumlah 6.378 orang, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 6.348 orang. Sepanjang tahun 2015, Perseroan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 493 orang, yakni 50 orang memasuki masa pensiun, 7 orang meninggal dunia dan 436 orang mengundurkan diri.(SR Bank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 54)
Dari ke empat bank menunjukkan bahwa mereka semua telah mengungkapan indikator LA1. Namun masih terdapat bank yang memiliki kekurangan dalam melaporkan indikator LA1. Bank Central Indonesia, Tbk.
hanya melaporkan jumlah karyawan tetap yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Sedangkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk., Bank Jabar Banten, dan Bank Bukopin, Tbk. sudah cukup baik dalam melaporkan indikator LA1.
15
G4-LA2 Tunjangan yang diberikan bagi karyawan purnawaktu yang tidak diberikan bagi karyawan sementara atau paruh waktu, berdasarkan lokasi operasi yang signifikan
Berdasarkan G4 Guidlines, LA2 berisi tentang tunjangan yang merupakan standar untuk karyawan purnawaktu dari organisasi tetapi tidak diberikan kepada karyawan sementara atau paruh-waktu, berdasarkan lokasi operasi yang signifikan dan melaporkan definisi yang digunakan untuk lokasi operasi yang signifikan.
Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA2:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Pengelolaan risiko kecelakaan kerja:
Di area bisnis
Gedung bertingkat, rumah kantor (rukan), rumah toko (ruko), maupun unit kerja mobile berbasis e-channel.
a. Pelaksanaan K3 dan uji coba difasilitasi kebijakan pengelola gedung;
b. Pelatihan, uji coba dan pemberian informasi evakuasi dari gedung bertingkat secara berkala mengundang pihak eksternal yang terkait (dinas pemadam kebakaran)
c. Pelatihan dasar penggunaan alat pemadam kebakaran oleh dinas pemadam kebakaran;
d. Pelatihan penyelamatan korban dari dalam gedung yang diikuti oleh pekerja, teknisi gedung dan petugas keamanan gedung;
e. Penyediaan perlengkapan fasilitas dengan peralatan dasar keselamatan yang relevan dan memadai, termasuk tabung oksigen (O2), kotak obat P3K, perosotan (tangga luncur) darurat pada jendela keluar (exit window).
16
f. Penyediaan sarana dua mobil ambulans dikantor pusat bekerja sama dengan BRI Medika (anak perusahaan BRI)
Di luar area bisnis
Lokasi peninjauan pembangunan proyek dan kegiatan kunjungan nasabah.
a. Pelaksanaan K3 difasilitasi oleh pengelola proyek;
b. Peraturan bagi setiap pekerja untuk selalu mengikuti safety induction;
c. Pembekalan kepada seluruh pekerja dengan polis asuransi kecelakaan kerja yang mencakup personal accident dan program Jaminan Kecelakaan Kerja.
(SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 68)
Berdasarkan kebijakan remunerasi, pemberian kompensasi disesuaikan dengan kompetensi, fungsi jabatan, masa kerja dan kinerja pekerja. Selain itu informasi mengenai jenis remunerasi dan manfaat yang diterima pekerja tetap dan tidak tetap disajikan dalam bentuk tabel. (SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman69)(Lampiran 2, Tabel 1)
Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Sepanjang 2015, pelatihan keterampilan yang diberikan kepada mereka adalah Training Purnabhakti 2015 pada 20-22 Mei 2015.
Selain para motivator, pemberi materi adalah orang-orang yang sudah berhasil menekuni usaha, seperti pemilik salon kecantikan, kebugaran, rias pengantin, restoran, perikanan, cuci helm, laundry kiloan, air isi ulang, counter HP/laptop, dan dilengkapi dengan kunjungan ke Kuntum Nurseries, Tajur, Bogor. Jika karyawan tetap
17
memiliki berbagai hak seperti tersebut di atas, maka karyawan kontrak memiliki hak-hak yang sama. Pada dasarnya, antara karyawan tetap dengan karyawan kontrak yang berbeda hanya soal jangka waktu kerja. Prosedur yang berlaku di Perseroan, sebelum menjadi karyawan tetap, maka karyawan tersebut menjadi karyawan kontrak terlebih dulu selama dua tahun. Apabila hasil review selama kontrak menyatakan bahwa karyawan tersebut memenuhi kualifikasi, maka yang bersangkutan diangkat menjadi karyawan tetap. Apabila hasil review menunjukkan hasil sebaliknya, maka karyawan kontrak tersebut tidak diangkat atau diputus kontraknya.(SR BankBukopin, Tbk., 2015, Halaman 55-56)
Hal tersebut menunjukkan bahwa dari ke empat bank hanya Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan Bank Bukopin, Tbk. yang mengungkapkan indikator LA2.
Bank Rakyat Indonesia, Tbk melaporkan adanya fasilitas-fasilitas yang diberikan bagi karyawan yang berisiko mengalami kecelakaan kerja serta melaporkan jenis remunerasi dan manfaat yang diterima pekerja tetap dan tidak tetap. Sedangkan Bank Bukopin, Tbk. kurang dalam mengungkapkan tunjangan yang diberikan karena dalam indikator ini mereka melaporkan tentang pelatihan ketrampilan yang diberikan kepada karyawan baik karyawan tetap atau kontrak. Selain itu, mereka melaporkan tentang pengangkatan karyawan kontrak untuk menjadi karyawan tetap berdasarkan review selama kontrak.
G4-LA3 Tingkat kembali bekerja dan tingkat retensi setelah cuti melahirkan, menurut gender
Hal-hal yang dilaporkan dalam indikator LA3 menurut G4 Guidlines, terdiri dari jumlah total karyawan yang berhak mendapatkan cuti, karyawan yang mengambil cuti, karyawan yang kembali bekerja dan tingkat resensi karyawan yang mengambil cuti berkaitan dengan cuti melahirkan. Berikut adalah kutipan- kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA3:
18 Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
BRI memberikan jaminan kerja kembali bagi pekerja wanita yang mengambil istirahat sebelum dan setelah melahirkan. Jaminan serupa juga diberikan kepada pekerja yang pergi menunaikan ibadah haji.
Sementara kepada pekerja yang menderita cacat ringan, BRI menempatkan posisi yang layak sesuai kemampuan dan memberikan fasilitas general medical check up dan fasilitas jaminan kesehatan.
Selain itu, informasi mengenai jaminan bekerja kembali bagi karyawan disajikan dalam bentuk grafik lingkaran.(SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 70)(Lampiran 3, Grafik 1)
Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Kepada karyawan perempuan yang akan melahirkan, Perseroan menjamin pelaksanaan hak istirahat melahirkan, yakni 1,5 (satu koma lima) bulan sebelum melahirkan dan 1,5 (satu koma lima) bulan setalah melahirkan. Pada 2015, karyawan yang mengambil hak istirahat melahirkan ada sebanyak 202 orang. Dari jumlah itu, semua kembali bekerja di Bank Bukopin.(SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 55-56)
Hal tersebut menunjukkan bahwa dari ke empat bank hanya Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan Bank Bukopin, Tbk. yang telah mengungkapkan indikator LA3. Bank Rakyat Indonesia, Tbk. tidak mengungkapkan total jumlah karyawannya yang mendapatkan cuti namun hanya menjelaskan bahwa memberikan jaminan kerja kembali bagi pekerja wanita yang mengambil cuti
19
melahirkan, pemberian fasilitas kepada pekerja yang menderita cacat ringan, dan jaminan bekerja kembali yang juga disajikan dalam bentuk grafik. Sedangkan Bank Bukopin, Tbk. mengungkapkan jumlah total karyawan yang mendapatkan cuti dan yang kembali bekerja, serta jumlah cuti yang diberikan perusahaan.
ASPEK : HUBUNGAN INDUSTRIAL
G4-LA4 Jangka waktu minimum pemberitahuan mengenai perubahan operasional, termasuk apakah hal tersebut tercantum dalam perjanjian bersama
Berdasarkan G4 Guidlines indikator LA4 difokuskan pada pelaporan berapa minggu waktu minimum yang biasanya diberikan untuk pemberitahuan perubahan kepada karyawan dan perwakilan terpilih sebelum penerapan perubahan operasional signifikan yang dapat mempengaruhi mereka secara substansial dan untuk organisasi dengan perjanjian kerja bersama, laporkan apakah masa pemberitahuan dan ketentuan untuk konsultasi dan negosiasi telah dicantumkan dalam perjanjian bersama. Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA4:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan
Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan
20 Bank Bukopin, Tbk:
Tidak mengungkapkan
Hal tersebut menunjukkan bahwa dari ke empat perusahaan tidak ada yang mengungkapkan indikator LA4.
ASPEK : KESEHATAN DAN KESELAMATAN
G4-LA5 Persentase total tenaga kerja yang diwakili dalam komite bersama formal manajemen-pekerja yang membantu mengawasi dan memberikan saran program kesehatan dan keselamatan kerja
Indikator LA5 difokuskan pada pelaporan pada tingkat mana setiap komite bersama formal manajemen-pekerja untuk kesehatan dan keselamatan biasanya berjalan dalam organisasi dan persentase total tenaga kerja yang diwakili dalam komite bersama formal manajemen-pekerja kesehatan dan keselamatan, sesuai dengan yang tertera pada G4 Guidlines. Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA5:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk:
Tidak mengungkapkan
21
Hal tersebut menunjukkan dari ke empat perusahaan tidak ada yang melaporkan indikator LA5.
G4-LA6 Jenis dan tingkat cedera, penyakit akibat kerja, hari hilang, dan kemangkiran, serta jumlah total kematian akibat kerja, menurut daerah dan gender
Berdasarkan yang tertera pada G4 Guidlines indikator LA6 difokuskan pada pelaporan jenis cedera, tingkat cedera, tingkat penyakit akibat kerja, tingkat hari hilang, tingkat mangkir, dan kematian akibat kerja, untuk total tenaga kerja dan kontraktor independenyang bekerja di lokasi kerja yang keselamatan kerjanya menjadi tanggung jawab organisasi, berdasarkan wilayah dan gender serta sistem aturan yang diterapkan dalam pencatatan dan pelaporan statistik kecelakaan.
Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA6:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Data yang komprehensif belum tersedia akan mulai diungkapkan tahun 2016. (Tahun 2015 belum mengungkapkan)
Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Dengan berbagai upaya yang dilakukan Perseroan, sepanjang tahun 2015 tidak ada karyawan yang mengalami cidera ringan, berat, bahkan kematian, akibat pekerjaan yang dijalaninya. (SR Bank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 57)
22
Bank Central Indonesia, Tbk. belum mempunyai data yang komprehensif sehingga akan mulai diungkapkan pada tahun 2016. Hanya Bank Bukopin, Tbk.
yang telah mengungkapkan indikator LA6. Bank Bukopin, Tbk. melaporkan bahwa tidak ada karyawan yang mengalami cidera dan terkena penyakit atau berpotensi terkena penyakit tertentu.
G4-LA7 Pekerja yang sering terkena atau berisiko tinggi terkena penyakit yang terkait dengan pekerjaan mereka
Berdasarkan G4 Guidlines indikator LA7 difokuskan pada pelaporan mengenai pekerja yang dalam kegiatan kerja yang sering terkena, atau berisiko tinggi terkena, penyakit tertentu. Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA7:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Pengelolaan risiko kecelakaan kerja:
Di area bisnis
Gedung bertingkat, rumah kantor (rukan), rumah toko (ruko), maupun unit kerja mobile berbasis e-channel.
a. Pelaksanaan K3 dan uji coba difasilitasi kebijakan pengelola gedung;
b. Pelatihan, uji coba dan pemberian informasi evakuasi dari gedung bertingkat secara berkala mengundang pihak eksternal yang terkait (dinas pemadam kebakaran)
c. Pelatihan dasar penggunaan alat pemadam kebakaran oleh dinas pemadam kebakaran;
23
d. Pelatihan penyelamatan korban dari dalam gedung yang diikuti oleh pekerja, teknisi gedung dan petugas keamanan gedung;
e. Penyediaan perlengkapan fasilitas dengan peralatan dasar keselamatan yang relevan dan memadai, termasuk tabung oksigen (O2), kotak obat P3K, perosotan (tangga luncur) darurat pada jendela keluar (exit window).
f. Penyediaan sarana dua mobil ambulans dikantor pusat bekerja sama dengan BRI Medika (anak perusahaan BRI) Di luar area bisnis
Lokasi peninjauan pembangunan proyek dan kegiatan kunjungan nasabah.
a. Pelaksanaan K3 difasilitasi oleh pengelola proyek;
b. Peraturan bagi setiap pekerja untuk selalu mengikuti safety induction;
c. Pembekalan kepada seluruh pekerja dengan polis asuransi kecelakaan kerja yang mencakup personal accident dan program Jaminan Kecelakaan Kerja.
(SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 68) Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Juga tidak ada laporan mengenai karyawan yang terkena penyakit atau berisiko terkena penyakit tertentu yang terkait dengan pekerjaannya sehari-hari. Uraian lebih rinci mengenai kesehatan dan keselamatan kerja tercakup dalam Perjanjian Kerja Bersama.(SR Bank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 57)
Dari ke empat bank hanya Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan Bank Bukopin, Tbk. yang telah melaporkan indikator LA7. Bank Rakyat Indonesia,
24
Tbk. menjelaskan bahwa risiko kecelakaan kerja pada karyawan dibagi menjadi dua, yaitu di area bisnis dan diluar area bisnis. Sedangkan pada Bank Bukopin, Tbk. mengungkapkan bahwa tidak ada laporan mengenai karyawan yang terkena penyakit atau berisiko terkena penyakit tertentu yang terkait dengan pekerjaannya sehari-hari.
G4-LA8 Topik kesehatan dan keselamatan yang tercakup dalam perjanjian formal dengan serikat pekerja
Indikator LA8 difokuskan pada pelaporan mengenai ada tidaknya perjanjian formal (baik lokal atau global) dengan serikat pekerja mencakup kesehatan dan keselamatan serta sejauh mana, dalam persentase, berbagai topik kesehatan dan keselamatan dicakup oleh perjanjian ini. Berikut adalah kutipan- kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA8:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Bentuk pengelolaan risiko kecelakaan kerja pada industri perbankan berbeda dengan industri lain, misalnya pertambangan. Namun demikian, K3 di lingkungan kantor dan gedung bertingkat tetap memerlukan perhatian utama. Meskipun BRI belum memiliki komite khusus terkait K3, kami telah mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja yang relevan dan cara pengelolaannya.(SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 67)
Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan
25 Bank Bukopin, Tbk.:
Uraian lebih rinci mengenai kesehatan dan keselamatan kerja tercakup dalam Perjanjian Kerja Bersama.(SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 57)
Dari ke empat bank hanya Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan Bank Bukopin, Tbk. yang melaporkan indikator LA8. Bank Rakyat Indonesia, Tbk.
melaporkan bahwa belum memiliki komite khusus terkait K3, namun telah mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja yang relevan dan cara pengelolaannya.
Sedangkan Bank Bukopin, Tbk. hanya mengungkapkan bahwa uraian lebih rinci mengenai kesehatan dan keselamatan kerja tercakup dalam Perjanjian Kerja Bersama tanpa adanya penjelasan yang lebih rinci mengenai perjanjian tersebut.
ASPEK : PELATIHAN DAN PENDIDIKAN
G4-LA9 Jam pelatihan rata-rata per tahun per karyawan menurut gender, dan menurut kategori karyawan
Sebagaimana yang tertera pada G4 Guidlines, indikator LA9 melaporkan tentang jam pelatihan rata-rata yang telah diambil oleh karyawan organisasi selama periode pelaporan, menurut gender dan kategori karyawan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA9:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Disajikan dalam bentuk grafik mengenai jam pelatihan rata-rata disajikan). (SR Bank Central Indonesia, Tbk., 2015, Halaman130, Lampiran 4, Grafik 1)
Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Disajikan dalam bentuk tabel mengenai pendidikan per pekerja pada tahun 2014 dan 2015. (SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 61, Lampiran 4, Tabel 1)
26 Bank Jabar Banten:
Realisasi program pendidikan dan pelatihan sepanjang tahun 2015, telah dilakukan dalam bentuk in house training, public training/seminar/workshop (dalam negeri maupun luar negeri).
Program pendidikan dan pelatihan tersebut telah diupayakan untuk disesuaikan dan diselaraskan dengan kebutuhan dan bidang fokus pendidikan masing-masing unit selama tahun 2015. Selain itu, informasi mengenai jumlah pegawai yang mengikuti pelatihan tahun 2015 disajikan dalam bentuk tabel. (SR Bank Jabar Banten, 2015, Halaman 81, Lampiran 4, Tabel 2)
Bank Bukopin, Tbk.:
Untuk meningkatkan skill dan kapasitas karyawan untuk menunjang operasional perusahaan, Perseroan menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan. Setiap karyawan Perseroan memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan, hanya saja dalam pelaksanaan program ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan rencana pengembangan perusahaan. Adapun dana pendidikan untuk pengembangan kompetensi karyawan Bank Bukopin selama 2015 adalah sebesar Rp49.253.647.772. Sepanjang tahun 2015, Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia telah melaksanakan sejumlah program pengembangan karyawan, berupa pelatihan sertifikasi dan seminar.
(SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 58)
Hal tersebut menunjukkan bahwa semua bank telah melaporkan indikator LA9. Bank Central Indonesia, Tbk. dan Bank Rakyat Indonesia, Tbk telah melaporkan indikator LA9 sesuai dengan yang telah difokuskan oleh G4 Guidlines. Namun Bank Jabar Banten dan Bank Bukopin, Tbk. tidak melaporkan jam rata-rata pelatihan karyawan namun menjelaskan program pelatihan itu sendiri.
27
G4-LA10 Program untuk manajemen keterampilan dan pembelajaran seumur hidup yang mendukung keberlanjutan kerja karyawan dan membantu mereka mengelola purna bakti
Berdasarkan G4 Guidlines indikator LA10 melaporkan tentang jenis dan cakupan program yang dilaksanakan dan bantuan yang diberikan untuk meningkatkan keterampilan karyawan serta program bantuan transisi yang diberikan untuk memfasilitasi keberlanjutan kerja dan pengelolaan purna bakti akibat pensiun atau pemutusan hubungan kerja.Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA10:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Disajikan dalam bentuk tabel mengenai pelatihan pekerja purna bakti.(SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 62, Lampiran 5, Tabel 1)
Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Untuk menyiapkan karyawan yang akan pensiun bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara berkualitas, Perseroan mengadakan sejumlah pelatihan ketrampilan kepada mereka di masa pra-pensiun.
Sepanjang 2015, pelatihan ketrampilan yang diberikan kepada mereka adalah Training Purnabhakti 2015 pada 20-22 Mei 2015.
Selain para motivator, pemberi materi adalah orang-orang yang sudah berhasil menekuni usaha, seperti pemilik salon kecantikan, kebugaran, rias pengantin, restoran, perikanan, cuci helm, laundry
28
kiloan, air isi ulang, counter HP/laptop, dan dilengkapi dengan kunjungan ke Kuntum Nurseries, Tajur, Bogor. (SR Bank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 55)
Dari ke empat bank menunjukkan bahwa hanya Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan Bank Bukopin, Tbk yang telah melaporkan indikator LA10. Mereka sudah cukup baik dalam melaporkan program pelatihan bagi karyawan purna bakti.
G4-LA11Persentase karyawan yang menerima review kinerja dan pengembangan karier secara reguler, menurut gender dan kategori karyawan
Berdasarkan G4 Guidlines indikator LA11 melaporkan tentang persentase karyawan total berdasarkan gender dan berdasarkan kategori karyawan yang mendapat review kinerja rutin dan pengembangan karir selama periode pelaporan.Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA11:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Penilaian kinerja secara umum dilakukan untuk memberikan feedback kepada pekerja dan meningkatkan produktivitas Perusahaan, dan secara khusus, untuk menunjang karir dengan kenaikan jabatan. BRI sudah menerapkan sistem manajemen kerja modern yang terintegrasi dan terhubung secara online. Dengan menerapkan Sistem Manajemen Kinerja (SMK) modern, maka penilaian kinerja mencakup dua sisi, yakni pencapaian Key Performance Indicators (KPI) dan pencapaian kompetensi.
Adapun mekanisme dan prosedur SMK BRI melalui tiga tahapan:
1. Tahap perencanaan, pekerja dan atasan menyepakati target- target apa saja yang harus dicapai;
29
2. Tahap bimbingan, atasan memberikan feedback kepada bawahan terkait progress penyelesaian target tersebut;
3. Tahap akhir, yakni evaluasi. Atasan akan menilai kinerja pekerja berdasarkan tingkat pencapaian dari target-target yang telah disepakati sebelumnya.
Selain itu, Informasi mengenai penilaian kinerja pekerja BRI disajikan dalam bentuk tabel. (SR Bank Rakyat Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 64, Lampiran 6, Tabel 1)
Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Selama 2015, Perseroan telah melakukan rotasi, promosi, dan demosi terhadap 575 karyawan. Rincian jumlah rotasi, promosi, serta rotasi dan promosi sesuai dengan jenjang jabatan/pangkat selama 2015disajikan dalam bentuk tabel.(SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 59, Lampiran 6, Tabel 2)
Dari ke empat bank menunjukkan bahwa hanya Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan Bank Bukopin, Tbk. yang telah melaporkan indikator LA11. Namun masih terdapat kekurangan dalam pelaporannya. Bank Rakyat Indonesia, Tbk.
hanya melaporkan sistem penilaian kinerja yaitu Sistem Manajemen Kinerja dan mekanismenya. Sedangkan Bank Bukopin, Tbk. hanya menyebutkan total karyawan yang mendapatkan rotasi, promosi, dan demosi serta jumlah dari masing-masingnya.
ASPEK : KEBERAGAMAN DAN KESETARAAN PELUANG
G4-LA12 Komposisi badan tata kelola dan pembagian karyawan per kategori karyawan menurut gender, kelompok usia, keanggotaan kelompok minoritas, dan indikator keberagaman lainnya
30
Indikator LA12 difokuskan pada pelaporan mengenai persentase individu- individu dalam badan tata kelola organisasi dan persentase karyawan per kategori karyawan di setiap kategori keberagaman berikut:
a. Gender
b. Kelompok usia: di bawah 30 tahun, 30-50 tahun, di atas 50 tahun c. Kelompok minoritas
d. Indikator keberagaman lainnya bila relevan
Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA12:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Disajikan dalam bentuk tabel mengenai komposisi perempuan di BCA dan pembagian karyawan perempuan.(SR Bank Central Indonesia, Tbk., 2015, Halaman 134, Lampiran 7, Tabel 1)
Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Dari jumlah itu, sebanyak 4.343 orang merupakan pegawai tetap dan 2.035 orang karyawan tidak tetap. Jumlah karyawan tersebut naik 0,47% apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Pada 31 Desember 2014, jumlah karyawan Bank Bukopin, termasuk karyawan tidak tetap, adalah 6.348 karyawan. Jumlah pegawai pada 2015 terdiri dari 3.750 pria dan 2.628 wanita dengan jumlah terbesar berdasarkan usia berada pada rentang 25-30 tahun, yakni 1.948 orang. Adapun sebaran karyawan berdasarkan lokasi, sebanyak
31
1.275 berada di Kantor Pusat dan 5.103 di Kantor Cabang dan Wilayah. (SR Bank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 52-53)
Dari ke empat bank hanya dua bank yang telah melaporkan indikator LA12, yaitu Bank Central Indomesia, Tbk dan Bank Bukopin, Tbk. Namun masih terdapat kekurangan dalam pelaporannya. Bank Central Indonesia, Tbk. hanya melaporkan tentang pembagian karyawan perempuan. Sedangkan Bank Bukopin, Tbk. sudah cukup baik dalam melaporkannya karena sudah mencangkup pembagian karyawan berdasarkan karyawan tetap atau tidak, gender, usia, dan lokasi kantor.
ASPEK : KESETARAAN REMUNERASI PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI G4-LA13 Rasio gaji pokok dan remunerasi bagi perempuan terhadap laki-laki menurut kategori karyawan, berdasarkan lokasi operasional yang signifikan
Berdasakan G4 Guidlines indikator LA13 difokuskan pada melaporkan tentang rasio gaji pokok dan remunerasi bagi perempuan terhadap laki-laki untuk setiap kategori karyawan, berdasarkan lokasi operasi yang signifikan dan definisi yang digunakan untuk ‘lokasi operasi yang signifikan’. Berikut adalah kutipan- kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA13:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan
32 Bank Bukopin, Tbk.:
Perseroan senantiasa memperhatikan kesejahteraan karyawannya, salah satunya melalui strategi remunerasi yang selalu dikaji ulang sesuai dengan kebutuhan Perseroan dan menjaga competitiveness dengan industri, yang selanjutnya dapat mendukung kinerja yang unggul dalam pencapaian target Perseroan. Sistem remunerasi Perseroan bertujuan untuk mendukung sasaran strategi perusahaan.
Sehingga diharapkan dengan adanya sistem remunerasi yang baik akan mendukung daya saing perusahaan di Industri Perbankan.
Perseroan menerapkan konsep Total Remunerations, dimana remunerasi yang diberikan tidak hanya bersifat cash bases namun juga disediakan berbagai benefit dan fasilitas yang diperuntukkan untuk memotivasi dan mempertahankan karyawan. Struktur remunerasi Perseroan yang sifatnya cash terdiri dari basic pay dan incentive pay, di mana basic pay merupakan remunerasi yang rutin diterima oleh karyawan setiap bulan, sementara incentive paymerupakan remunerasi yang didasarkan atas kinerja karyawan.
Incentive pay digunakan sebagai pemanis yang menjadi salah satu cara menarik, memotivasi, dan sekaligus mempertahankan karyawan yang berkinerja unggul. Pengkajian ulang terhadap sistem remunerasi tersebut secara berkala dilakukan mengacu pada kemampuan internal Perusahaan dan kondisi eksternal (tingkat inflasi dan perekonomian). (SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 58-59)
Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya Bank Bukopin, Tbk. yang melaporkan indikator LA13. Namun masih terdapat kekurangan dalam pelaporannya. Bank Bukopin, Tbk. hanya menjelaskan tentang penerapan strategi remunerasi yang dilakukan.
33
ASPEK : ASESMEN PEMASOK ATAS PRAKTIK KETENAGAKERJAAN G4-LA14 Persentase penapisan pemasok baru menggunakan kriteria praktik
ketenagakerjaan
Indikator LA14 difokuskan pada pelaporan tentang persentase penapisan pemasok baru menggunakan kriteria praktik ketenagakerjaan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA14:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Pada tahun laporan, tidak ada laporan ihwal pemasok yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, hak asasi manusia, kebebasan berserikat, pelanggaran terhadap aturan ketenagakerjaan, dan yang berdampak negatif pada masyarakat. Juga, tidak ada pengaduan berkaitan dengan pelanggaran hal-hal di atas.(SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 20)
Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya Bank Bukopin, Tbk. yang melaporkan indikator LA14. Bank Bukopin, Tbk menjelaskan bahwa tidak terdapat laporan ihwal pemasok yang memiliki dampak negatif dan juga tidak ada pengaduannya.
34
G4-LA15 Dampak negatif aktual dan potensial yang signifikan terhadap praktik ketenagakerjaan dalam rantai pasokan dan tindakan yang diambil
Sebagaimana yang tertera pada G4 Guidlines, indikator LA15 melaporkan tentang:
a. Jumlah pemasok yang harus menjalani asesmen dampak untuk praktik ketenagakerjaan.
b. Jumlah pemasok yang diidentifikasi memiliki dampak negatif aktual dan potensial yang signifikan untuk praktik ketenagakerjaan.
c. Dampak negatif aktual dan potensial yang signifikan untuk praktik ketenagakerjaan yang diidentifikasi pada rantai pasokan.
d. Persentase pemasok yang diidentifikasi memiliki dampak negatif aktual dan potensial yang signifikan untuk praktik ketenagakerjaan yang telah disepakati untuk diperbaiki berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan.
e. Persentase pemasok yang diidentifikasi memiliki dampak negatif aktual dan potensial yang signifikan untuk praktik ketenagakerjaan yang diputuskan hubungannya berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan, beserta alasannya.
Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA15:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten
Tidak mengungkapkan
35 Bank Bukopin, Tbk.:
Pada tahun laporan, tidak ada laporan ihwal pemasok yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, hak asasi manusia, kebebasan berserikat, pelanggaran terhadap aturan ketenagakerjaan, dan yang berdampak negatif pada masyarakat. Juga, tidak ada pengaduan berkaitan dengan pelanggaran hal-hal di atas. (SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 20)
Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya Bank Bukopin, Tbk. yang melaporkan indikator LA15. Bank Bukopin, Tbk. menjelaskan bahwatidak terdapat laporan ihwal pemasok yang memiliki dampak negatif.
ASPEK : MEKANISME PENGADUAN MASALAH
KETENAGAKERJAAN
G4-LA16 Jumlah pengaduan tentang praktik ketenagakerjaan yang diajukan, ditangani, dan diselesaikan melalui mekanisme pengaduan resmi
Berdasarkan G4 Guidlines indikator LA16 difokuskan pada pelaporan tentang a. Jumlah total pengaduan tentang praktik ketenagakerjaan yang diajukan
melalui mekanisme pengaduan resmi selama periode pelaporan.
b. Dari pengaduan yang teridentifikasi, laporkan jumlah yang: ditangani selama periode pelaporandan diselesaikan selama periode pelaporan
c. Jumlah total pengaduan tentang praktik ketenagakerjaan yang diajukan sebelum periode pelaporan yang telah diselesaikan selama periode pelaporan.
Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator LA16:
Bank Central Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan
36 Bank Rakyat Indonesia, Tbk.:
Tidak mengungkapkan Bank Jabar Banten:
Tidak mengungkapkan Bank Bukopin, Tbk.:
Pada tahun laporan, tidak ada laporan ihwal pemasok yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, hak asasi manusia, kebebasan berserikat, pelanggaran terhadap aturan ketenagakerjaan, dan yang berdampak negatif pada masyarakat. Juga, tidak ada pengaduan berkaitan dengan pelanggaran hal-hal di atas. (SRBank Bukopin, Tbk., 2015, Halaman 20)
Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya Bank Bukopin, Tbk yang telah melaporkan indikator LA16. Bank Bukopin menjelaskan bahwa tidak ada pengaduan berkaitan tentang praktik ketenagakerjaan.
Analisis
Kesesuaian praktik sustainability report dengan pedoman G4 Guidlines pada perusahaan perbankan bervariasi. Hal ini ditunjukkan dari perbedaan pengungkapaan indikator praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja tiap perusahaan. Pola pengungkapansustainability report dapat dilihat dari indikator yang diungkapkan maupun yang tidak diungkapkan dari ke empat sampel perusahaan.(Lihat tabel 1)
37 Tabel 1
Jumlah Pengungkapan Sustainability Report
Aspek Indikator Perusahaan
BBCA BBRI BJBR BBKP Kepegawaian
G4-LA1
G4-LA2 - -
G4-LA3 - -
Hubungan Industrial G4-LA4 - - - -
Kesehatan dan Keselamatan
G4-LA5 - - - -
G4-LA6 - - -
G4-LA7 - -
G4-LA8 - -
Pelatihan dan Pendidikan
G4-LA9
G4-LA10 - -
G4-LA11 - -
Keberagaman dan
Kesetaraan Peluang G4-LA12
- -
Kesetaraan Remunerasi
Perempuan dan Laki-laki G4-LA13
- - -
Asesmen Pemasok atas Praktik Ketenagakerjaan
G4-LA14 - - -
G4-LA15 - - -
Mekanisme Pengaduan Masalah
Ketenagakerjaan
G4-LA16
- - -
Total pengungkapan 3 8 2 14
Sumber: data diolah
Indikator yang diungkapkan oleh seluruh perusahaan adalah indikator G4- LA1 (Jumlah total dan tingkat perkrutan karyawan baru dan turnover karyawan menurut kelompok umur, gender, dan wilayah) dan G4-LA9 (Jam pelatihan rata- rata per tahun per karyawan menurut gender, dan menurut kategori karyawan).
Selain itu, terdapat juga indikator-indikator yang hanya diungkapakan oleh satu perusahaan saja, yaitu: G4-LA13 (Rasio gaji pokok dan remunerasi bagi perempuan terhadap laki-laki, menurut kategori karyawan, berdasarkan lokasi operasional yang signifikan), G4-LA14 (Persentase penapisan pemasok baru
38
menggunakan kriteris praktik ketenagakerjaan), G4-LA15 (Dampak negatif aktual dan potensial yang signifikan terhadap praktik ketenagakerjaan dalamn rantai pasokan dan tindakan yang diambil), dan G4-LA16 (Jumlah pengaduan tentang praktik ketenagakerjaan yang diajukan, ditangani, dan diselesaikan melalui mekanisme pengaduan resmi. Kemudian ditemukan pula bahwa terdapat indikator-indikator yang tidak diungkapan oleh keempat perusahaan, yaitu: G4- LA4 (Jangka waktu minimum pemberitahuan mengenai perubahan operasional, termasuk apakah hal tersebut tercantum dalam perjanjian bersama) dan G4-LA5 (Persentase total tenaga kerja yang diwakili dalam komite bersama formal manajemen-pekerja yang membantu mengawasi dan memberikan saran program kesehatan dan keselamatan kerja). Perusahaan yang paling banyak mengungkapkan indikator-indikator tersebut adalah Bank Bukopin, Tbk.
Tabel 2
Jumlah Penggunaan Tabel/Grafik
Perusahaan
Narasi dan Tabel/Grafik
(buah)
Hanya Tabel/Grafik
(buah)
Total Tabel/Grafik yang Digunakan (buah)
BBCA - 2 2
BBRI 3 9 12
BJBR - 2 2
BBKP 1 - 1
Sumber: data diolah
Selain itu, pola pengungkapan sustainability report dapat dilihat dari penggunaan tabel/grafik dan naratif dalam menyusun laporan sustainability report.(Lihat tabel 4)Terdapat perusahaan yang menggunakan tabel/grafik yang kemudian dijelaskan menggunakan naratif namun ada juga perusahaan yang hanya menggunakan tabel atau naratif. Perusahaan yang hanya menggunakan tabel/grafik adalah Bank Central Indonesia, Tbk. dan Bank Jabar Banten. Namun ketika perusahaan hanya menggunakan tabel/grafik dalam pelaporannya memiliki kemungkinan munculnya perbedaan persepsi pembaca.
39 Tabel 3
Jumlah dan Rata-rata Penggunaan Kata dalam Teks Naratif
Aspek Indikator Jumlah Kata
BBCA BBRI BJBR BBKP Kepegawaian
G4-LA1 32 - 54 142
G4-LA2 - 187 - 140
G4-LA3 - 51 - 49
Hubungan Industrial G4-LA4 - - - -
Kesehatan dan Keselamatan
G4-LA5 - - - -
G4-LA6 - - - 23
G4-LA7 - 172 - 32
G4-LA8 - 46 - 13
Pelatihan dan Pendidikan
G4-LA9 - - 44 91
G4-LA10 - - - 77
G4-LA11 - 112 - 12
Keberagaman dan
Kesetaraan Peluang G4-LA12
- - - 82
Kesetaraan Remunerasi
Perempuan dan Laki-laki G4-LA13
- - - 163
Asesmen Pemasok atas Praktik Ketenagakerjaan
G4-LA14 - - - 39
G4-LA15 - - - 39
Mekanisme Pengaduan
Masalah Ketenagakerjaan G4-LA16
- - - 39
Total Penggunaan Kata 32 568 98 941 Rata-Rata Penggunaan Kata
32 113,6 49 67,21
32 kata
114 kata
49 kata
67 kata Sumber: data diolah
Selain itu, keterbukaan dalam mengungkapan sustainability reprot dapat dilihat dari banyaknya kata yang digunakan dalam teks naratif. (Lihat tabel 5) Bank Bukopin, Tbk. telah menggunakan paling banyak kata dalam penyusunan sustainability report terkait praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja.
Namun Bank Central Indonesia, Tbk. menggunakan kata yang sedikit, selain karena hanya mengungkapkan sedikit indikator perusahaan ini hanya menggunakan tabel/grafik dalam beberapa indikator yang diungkapkan.
40
Peneliti menggunakan kapitalisasi pasar dalam menentukan sampel perusahaan. Namun ternyata kapitalisasi pasar tidak memiliki hubungan dengan pengungkapan sustainability report. Perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar lebih tinggi belum tentu pengungkapan sustainability report lebih baik dari perusahaan perbankan yang memiliki kapitalisasi pasar yang lebih rendah. Hal ini tampak pada tabel 6.
Tabel 4
Kapitalisasi Pasar dan Pengungkapan Informasi di Sustainability Report Perusahaan
Kode Saham Emiten
Kapitalisasi Pasar
Persentase Pengungkapan
*
Jumlah Penggunaan Tabel Disertai Narasi (buah)
Jumlah Penggunaan Kata dalam
Narasi (kata)
Rata-rata Penggunaan
Kata dalam Narasi
(kata)
BBCA 324.632.506.296.000 18,80% - 32 32
BBRI 274.630.679.423.100 50,00% 3 568 144
BJBR 7.247.492.831.770 12,50% - 98 49
BBKP 6.297.027.959.600 87,50% 1 941 67
Sumber: data diolah
Keterangan:
*Hasil perbandingan dari total indikator kategori praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja G4 Guidelines dengan indikator kategori praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja yang diungkapkan oleh perusahaan
Peneliti juga menemukan bahwa pada bank swasta besar memiliki persentase pengungkapan yang lebih kecil dibandingkan dengan bank swasta kecil. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan bank pemerintah, dimana bank pemerintah besar memiliki persentase pengungkapan lebih besar jika dibandingkan dengan bank pemerintahan kecil. (Lihat tabel 5)
41 Tabel 5
Perbandingan Pengungkapan Informasi Bank Swasta dan Bank Pemerintah
Perbankan Indikator yang diungkapkan
Persentase Pengungkapan Bank Swasta Besar
(BBCA)
G4-LA1 18,80%
G4-LA9 G4-LA12 Bank Swasta Kecil
(BBKP)
G4-LA1 87,50%
G4-LA2 G4-LA3 G4-LA6 G4-LA7 G4-LA8 G4-LA9 G4-LA10 G4-LA11 G4-LA12 G4-LA13 G4-LA14 G4-LA15 G4-LA16 Bank Pemerintah
Besar (BBRI)
G4-LA1 50,00%
G4-LA2 G4-LA3 G4-LA7 G4-LA8 G4-LA9 G4-LA10 G4-LA11 Bank Pemerintah
Kecil (BJBR)
G4-LA1 12,50%
G4-LA9 Sumber : data diolah