BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Softskill 2.1.1. Defenisi Softskill
Softskill Menurut Patrick S. O'brien dalam bukunya berjudul making college count dapat diartikan sebagai kemampuan non teknis yang tak terlihat wujudnya. Yang dapat di ketegorikan ke dalam tujuh area yang di sebut winning characteristics. Yaitu keahlian komunikasi, keahlian berorganisasi ,kepemimpinan, kemampuan berfikir logis, kemampuan semangat juang (effort), kemampuan berkelompok, etika (Kuntjoro, 2009).
Softskill menurut Peggy dalam bukunya berjudul The Hard Truth about Soft Skills yang terbit tahun 2007, dikatakan bahwa “soft skills encompass personal, social, communication, and self management behaviours, they cover a wide spectrum: self awareness, trustworthiness, conscientiousness, adaptability, critical thinking, organizational awareness, attitude, innitiative, emphathy, confidence, integrity, self-control, leadership, problem solving, risk taking and time management”.
Softskill Menurut Nursalam dalam buku pendidikan dalam keperawatan dapat didefinisikan sebagai perilaku personal dan interpersonal (karakter positif) yang dapat mengembangkan dan meningkatkan unjuk kerja sedangkan Menurut Chatab dalam buku diagnostic management.
Intrapersonal skills dan interpersonal skills adalah keterampilan berinteraksi di dalam diri terdalam setiap manusia dan keterampilan berinteraksi antar
pribadi yang dapat di pandang sebagai kemampuan (ability), yaitu kapasitas para individu untuk melaksanakan berbagai tugas dan aktivitas dalam suatu pekerjaan.
Soft skill Menurut Nasution dalam bukunya creative thinking, merupakan faktor yang menentukan kesukseksesan karir, pekerjaan dan kehidupan Diantaranya;
a. Kemandirian yaitu kemampuan untuk bekerja sendiri dan menyelesaikan masalah tanpa bantuan pihak lain.
b. Kerjasama tim merupakan kemamapuan untuk bekerja dengan peran seimbang bersama seluruh anggota tim dalam pencapaian tujuan bersama c. Kepemimpinan yaitu kemampuan untuk mengajak dan menggerakkan
semua anggota organisasi untuk mencapai tujuan bersama organisasi tanpa paksaan.
d. Interpersonal merupakan kemampuan untuk berempati, peduli, menjalin relasi, dan teknik negosiasi lainnya dalam konteks dealing with people, Skill with people.
e. Menjual Gagasan merupakan kemampuan menjual gagasan dan pemikiran secara lisan dan tulis, kemudian mempersentasikan di depan orang banyak.
f. Kejujuran yaitu kemampuan menjaga diri untuk menjadi fit and proper yang profesional.
g. Berfikir taktis dan strategis yaitu kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak terstruktur secara tepat, menganalisis semua faktor
eksternal yang bisa di gunakan untuk merencanakan peningkatan potensi dirinya secara integratif dan optimal (Nasution, 2006).
Softskill adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang tidak bersifat kognitif, tetapi lebih bersifat afektif yang memudahkan seseorang untuk Mengerti kondisi psikologis diri sendiri, mengatur ucapan, pikiran dan sikap serta perbuatan yang sesuai dengan norma masyarakat, yang memudahkan seseorang untuk lebih dapat dengan mudah beradaptasi dan beriteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Thalib, 2010).
Soelistiyowati ,2008 (Dalam thalib, 2010) menjelaskan bahwa Softskill terdiri atas tiga faktor utama yaitu :
a. Kemampuan psikologis, yakni kemampuan yang dapat membuat seseorang bertindak atas pertimbangan pemikiran sehingga tercipta prilaku yang sesuai dengan apa yang dipikirannya, termasuk kemampuan kontrol diri dan konsep diri. Kemampuan psikologis lebih pada apa yang ada di dalam diri manusia, yang dapat membantu seseorang tersebut untuk mengerti diri sendiri dan orang lain dalam hubungannya dengan orang lain dan lingkungannya.
b. Kemampuan sosial yaitu kemampuan seseorang untuk berinteraksi dan membawa diri dalam pergaulan dalam kelompoknya.
c. Kemampuan komunnikasi yaitu kemampuan yang meliputi upaya penyampaian pesan dan informasi baik yang tertulis, tidak tertulis, verbal maupun nonverbal; kemampuan seseorang dalam mengemukakan maksud dalm berkomunikasi sehingga dapat terhindar dari kemungkinan terjadinya kesalahpahaman
softskill adalah segala sesuatu yang menyebabkan berfungsinya hardskill yang di peroleh. Oleh karena keterpakaian dari softskill itu tidak saja di tempat kerja, di masyarakat saja, namun untuk memantapkan sisi rumah tangga nantinya. Menurut Elfrindi dalam softskills yang menjadi fokus utama untuk tenaga kesehatan terbagi dua yaitu :
2.1.2. Keterampilan Interpersonal dan keterampilan Intrapersonal 2.1.2.1 Keterampilan Interpersonal
1. Kemampuan komunikasi.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang disampaikan dengan intonasi dan dengan perasaan. Sehingga apa yang kita sampaikan tidak menyinggung perasaan orang lain dan dapat dengan mudah mengikuti alur pikiran kita. Komunikasi yang baik akan terbentuk ketika kita membiasakan diri untuk membaca dan mengingat.
2. Terlatih team working.
Kebiasaan untuk bekerja secara bersama mesti dilatih mengingat tidak mungkin kita akan mampu menyelesaikan pekerjaan secara individu.
Kelemahan teman kita anggap sebagai sesuatu yang perlu kita jadikan sebagai keterbatasan manusia. Biasakan diri untuk tidak menyatakan super dalam menangani masalah dalam bekerja.
3. Kemampuan bekerja dengan orang lain.
Orang lain dapat dijadikan atasan, rekan atau sebagai pembantu untuk mensukseskan pekerjaan kita. Oleh karenanya kita pun dituntut untuk terbiasa bekerjasama. Agar mudah bekerjasama dalam bekerja dengan
orang lain maka biasakan dalam mencari kesepakatan dalam bekerja baik aturan waktu, sistem sampai hasil yang ingin dicapai.
4. Terlatih dalam etika kerja.
Memiliki talenta dalam merahasiakan apa yang tidak boleh diketahui oleh umum sesuai dengan ikrar dalam bekerja. Kemudian memiliki kesopanan dalam berkepribadian.
5. Fleksibel dalam melaksanakan pekerjaan.
Boleh saja dalam bekerja sesuai dengan urutannya namun perlu disadari bahwa kita juga memahami fleksibilitas kerja. Bisa melaksanakan pekerjaan yang sekalipun tidak disukai. Demikian juga memilih-milih pekerjaan apa yang disukai. karena suatu saat kita akan menghadapi berbagai soal dimana kita sendiri yang menyelesaikannya.
2.1.2.2. Keterampilan Intrapersonal 1. Berpenampilan sopan dan apa adanya.
Seorang tenaga kesehatan yang diperlukan adalah menjaga penampilan diri. Agar diterima oleh budaya setempat. Berpakaian, berpenampilan, dan diri sendiri terurus sehingga innerbeautynya muncul secara mempesona.
Termasuk tata warna berpakaian dan pilihan model pakaian dan manik- manik yang mendukungnya.
2. Menyadari pentingnya menjaga kebersihan diri.
Personal hygiene adalah modal utama bagi tenaga kesehatan mulai kebersihan kuku, gigi, rambut dan lahirnya yang mendukung kebiasaan merawat makanan dan olahraga sekaligus dapat dijadikan sebagai modal untuk terbiasa menjaga kebersihan diri.
3. Terampil mengatur waktu dan uang.
Tepat waktu bekerja dan menepati janji adalah salah satu modal bagi kita untuk bekerja disamping juga mampu dan terampil dalam mengalokasikan uang. sikap boros akan menyebabkan kita jadi aneh nantiya dalam bekerja karena akan menyebabkan tidak stabilnya antara penerimaan dan pengeluaran.
4. Mengikuti perkembangan zaman.
Membaca bidang yang ditekuni akan dapat mempermudah anda melihat masa depan
5. Keterampilan mendengar dengan sabar.
Kita harus Terbiasa memahami maksud orang lain berbicara dan menyikapinya dengan arif, sesuai waktu tempat dan kondisi dengan tetap menjaga emosional dan menanggapinya. Bilamana tidak terjaga sering seseorang yang tidak terlatih pendengarannya bisa memberikan respon yang amarah termasuk berdemonstrasi yang ugal-ugalan bagi perawat dengan mendengar keluhan pasien dan keluarganya mesti mampu melayaninya sesuai dengan kondisi (Elfrindi , 2009).
2.1.3. Klaster utama pembentuk soft skill mahasiswa.
Menurut Thalib ada empat klaster pembentuk softskill mahasiswa yang menambah kualitas lulusan terutama dalam hal-hal non ilmu di dalam dunia kerja diantaranya :
3.1. Interaksi (interaction) yang meliputi kesadaran bersikap, kemampuan mengatasi konflik, kemampuan bekerja sama, kemampuan mentoleransi
perbedaan, etika, kemampuan bekerja dalam tim. Kemampuan berinteraksi ini disebut kemampuan sosial karena lebih tentang kaitannya dalam berhubungan dengan lingkungannya.
3.2. Manajemen pribadi (self-management) kemampuan membuat keputusan, kemauan untuk belajar, disiplin diri, kemampuan untuk intropeksi diri, kemampuan menanggulangi stress. Deskripsi ini di sebut juga kemampuan psikologi, yang berusaha untuk mengerti diri sendiri dan orang lain dalam rangka menjalin hubungan dengan orang lain dalam kehidupan dan dunia kerja.
3.3.Kemampuan berkomunikasi (communication skills), termasuk kemampuan mendelegasikan tugas, kemampuan mendengarkan, dan kemampuan melakukan persentasi.
3.4. Kemampuan mengorganisasikan segala sesuatu (organization), termasuk kemampuan mengatasi masalah berdasarkan pertimbangan nilai dan kepentingan, proses berfikir sistematis, dan kemampuan untuk mengenali sumber permasalahan.
2.1.4. Indikator Soft skill
Soft Skill didefinisikan sebagai “personal and interpersonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, decision making, initiative). Soft skills do not include technical skills, such as financial, computer or assembly skills” (Berthal, 2003). Berikut adalah beberapa indikator soft skill yang di olah diolah dari Personal Soft Skill Indicator, Jhon Doe, Performance DNA International, Ltd., (2001).
NO SOFT SKILL KETERANGAN
01 Personal Effectiveness Kemampuan berinisiatif, kepercayaan-diri, ketangguhan, tanggung jawab personal dan gairah untuk berprestasi
02 Flexibility
Ketangkasan dalam beradaptasi dengan perubahan baru.
03 Management
Kemampuan mendapatkan hasil dengan menggunakan sumberdaya yang ada, sistem dan proses.
04 Creativity/ Innovation
Kemampuan memperbaiki hal-hal yang sudah lama, kemampuan menciptakan dan menggunakan hal-hal baru (sistem, pendekatan, konsep, metode, desain, tehnologi, dan lain- lain)
05 Futuristic thinking
Kemampuan memproyeksikan hal-hal yang perlu dicapai atau hal-hal yang berlum tercapai
06 Leadership Kemampuan mencapai hasil dengan
memberdayakan orang lain.
07 Persuasion
Kemampuan dalam meyakinkan orang lain agar berubah ke arah yang lebih baik
08 Goal orientation
Kemampuan dalam memfokuskan usaha untuk mencapai tujuan, misi, atau target
09 Continuous learning Kesediaan untuk menjalani proses learning,
memperbaiki diri dari praktek, menjalankan konsep baru, tehnologi baru atau metode baru.
10 Decision-making
Kemampuan menempuh proses yang efektif dalam mengambil keputusan
11 Negotiation
Kemampuan memfasilitasi kesepakatan antara dua pihak atau lebih
12 Written communication
Kemampuan mengekspresikan pendapat atau perasaan dengan bahasa tulis yang jelas dan mudah dipahami orang lain
13 Employee development / Coaching
Kemampuan memfasilitasi dan mendukung kemajuan orang lain
14 Problem-solving
Kemampuan mengantisipasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah
15 Teamwork
Kemampuan dalam bekerjasama dengan orang lain secara efektif dan produktif
16 Presenting
Kemampuan mengkomunikasikan pesan di depan orang banyak secara efektif
17 Diplomacy
Kemampuan menangani kesulitan atau isu sensitif secara diplomatif, bijak, efektif, dengan pemahaman yang mendalam terhadap kultur, iklim dan politik yang berkembang di tempat kerja.
18 Conflict management
Kemampuan menyelesaikan konflik secara konstruktif
19 Empathy Kemampuan untuk bisa peduli pada orang lain 20 Customer service
Kemampuan mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan orang lain atau pelanggan
21 Planning / Organizing
Kemampuan menggunakan logika, prosedur atau sistem untuk mencapai sasaran
22 Interpersonal skills
Kemampuan berkomunikasi secara efektif, dan bisa menjalin hubungan secara harmonis dengan orang lain.
23 Self-management Kemampuan mengontrol-diri atau mengelola potensi dan waktu untuk mencapai hasil yang lebih bagus
Berikut adalah beberapa indikator soft skill menurut Patrick O'Brien dalam bukunya “Making College Count” di kutip oleh Direktorat Pendidikan Insitut Teknologi Bandung, 2005.
4.1. Commmunication Skills
Komunikasi Lisan dan Komunikasi Tulisan
Komunikasi adalah tindakan untuk mengekspresikan ide atau perasaan dan memberikan informasi kepada orang lain dengan tujuan memberi kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan. melatih komunikasi yang baik tidak dapat dielakkan. Persoalannya adalah kebanyakan kita tidak mengenal bagaimana kualitas komunikasi yang sudah dimiliki. Keluhan dari pasien sering terdengar terhadap pelayanan
kesehatan, tidak terlepas pelayanan yang diberikan oleh perawat. Keluhan bisa datang dari pasien, keluarga pasien, ataupun masyarakat. Keluhan dapat menyangkut prosedur, kualitas pelayanan dan yang paling sering dikeluhkan pasien adalah komunikasi antara perawat kepada pasien.
Komunikasi dan sikap perawat ketika melayani pasien merupakan salah satu unsur yang membentuk citra kualitas pelayanan institusi secara keseluruhan.
Dalam dunia kerja seringkali komunikasi dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Padahal kita harus dapat menggali informasi penting dalam waktu terbatas tersebut. Untuk menyampaikan informasi dan gagasan yang baik adalah dengan cara menghilangkan ambiguitas atau dalam berbicara, gunakan kata-kata yang lugas dan tidak bermakana ganda. Sampaikan apa yang menjadi inti permasalahan dan kemudian bertanya untuk memastikan. dalam suatu hubungan kesalah pahaman dapat menjadi suata masalah. oleh karena itu bila ada sesuatu yang belum anda mengerti jangan ragu untuk bertanya.
Komunikasi tulisan dalam dunia keperawatan sangat penting seperti dokumentasi keperawatan yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi kepada pihak lain selain itu dapat juga menjadi bukti bila terjadi perselisihan (Elfrindi, 2009).
4.2. Organization Skills Manajemen Waktu
Kemampuan memanfaatkan waktu untuk mengelola pelaksanaan kegiatan sehingga dapat selesai dalam kurun waktu tertentu dengan kualitas maksimal dan stress yang minimal. Strategi yang dapat di pakai dalam manajemen waktu adalah seperti membuat daftar kegiatan, membuat skala prioritas, memperkirakan waktu yang di butuhkan untuk menyelesaikan tiap kegiatan dan mengalokasikan waktu untuk tiap kegiatan.
Meningkatkan Motivasi
Salah satu keterampilan yang akan sangat berguna untuk meraih kesuksesan di dunia kerja atau usaha adalah motivasi yang tinggi. Karena motivasi yang tinggi dapat membantu seseorang bertahan melalui berbagai kesulitan. Dalam dunia kerja atau usaha tak jarang ditemui situasi yang sulit kadang kesulitan tersebut berlarut-larut. bila seseorang tidak memiliki motivasi tinggi dia akan menyerah menghadapi situasi yang sulit.
Seseorang harus memiliki motivasi dan inisiatif untuk bekerja sehingga hasil yang di berikan dapat melebihi standar yang ditetapkan.
Motivasi merupakan keinginan atau kebutuhan dalam diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu untuk memenuhi keinginan tersebut. Motivasi terkait dengan bagaimana seseorang mengelola semangatnya. Faktor luar juga dapat berperan dalam menciptakan kondisi yang dapat mendorong peningkatan motivasi namun
perlu di sadari bahwa motivasi yang sesungguhnya hanya bisa timbul dari diri sendiri (Direktorat Pendidikan Insitut Teknologi Bandung, 2005).
Menjaga Kesehatan dan Penampilan
Sebagai seorang perawat kita harus bisa menjaga kesehatan semaksimal mungkin karena dengan begitu berarti seseorang memiliki energi dan kesiagaan untuk bekerja selain sehat maka seseorang perlu juga untuk tampil baik karena akan meningkatkan citra anda sebagai seorang professional.
4.3. Leadership
Kepemimpinan Efektif
Setiap orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, rumah tangga atau dalam suatu organisasi. Kepeimpinan yang berhasil adalah mampu menggunakan perangkatnya dalam mencapai tujuan pemimpin yang baik juga memiliki berbagai aspek dan kriteria yang menyebabkan organisasi jalan. Kepemimpinan dapat diperoleh melalui belajar di sekolah, organisasi maupun di tengah masyarakat aspek utamanya adalah bagaimana memadu berbagai anggota yang menyebabkan tujuan organisasi dapat tercapai tentunya dengan keterbatasan dana yang dimiliki.
Mengingat tenaga kesehatan adalah juga bekerja dalam suatu organisasi, seperti di puskesmas, rumah sakit, atau dalam bentuk apapun, maka aspek kepemimpinan mesti dimiliki dan disempurnakan Para perawat yang memiliki leadership yang baik kemudian dia akan mampu
memberikan layanan dengan system yang di bangun. Kemudian dengan system yang di bangun mampu pula mengembangkan organisasi yang baik (Elfrindi, 2009).
Karakteristik yang harus dimiliki pemimpin yang efektif adalah kepemimpinan yang di mulai dengan visi yang jelas. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas ke mana organisasinya akan menuju selain itu pemimpin juga harus memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu Dan seorang pemimpin yang baik harus memiliki kecakapan teknis yang berkaitan untuk mencapai tujuan (Direktorat Pendidikan Insitut Teknologi Bandung, 2005).
4.4. Logic
Menyelesaikan Masalah
Kemampuan menyelesaikan masalah adalah kesanggupan untuk mengenali dan merumuskan masalah, serta menerapkan pemecahan yang ampuh. Pemecahan masalah terkait dengan sikap hati-hati, disiplin dan sitematik dalam menghadapi dan memandang masalah kemampuan ini juga berkaitan dengan keinginan untuk melakukan yang terbaik dan menghadapi, bukan menghindari masalah Untuk menyelesaikan masalah diperlukan kemampuan logika yang baik karena permasalahan yang di hadapi dalam dunia kerja cenderung lebih kompleks dan tak terduga.
Berfikir Kreatif
Berfikir kreatif adalah proses penciptaan jalan keluar dari suatu masalah dengan berani mencoba gagasan-gagasan baru dan mencari alternatif baru. Berfikir kreatif sangat diperlukan dalam menyelesaikan suatu masalah, kalaupun permasalahan yang di hadapi adalah permasalahan yang umum senantiasa ada kemungkinan untuk mencari solusi yang lebih efisien untuk itu di perlukan pula cara berfikir kreatif (Direktorat Pendidikan Insitut Teknologi Bandung, 2005).
4.5. Effort
Ketahanan Menghadapi Tekanan
Kemampuan bekerja di bawah tekanan sangat penting dalam dunia kerja karena perubahan yang sangat cepat rencana yang sudah dibuat matang pun bisa saja berubah ketika terjadi sesuatu di luar perkiraan hal inilah yang mengakibatkan sesorang menjadi stress.
Ketahanan menghadapi stress adalah kemampuan untuk tetap tenang dan sabar ketika menghadapi masalah tanpa terbawa emosi kemampuan ini amat berkaitan dengan kesuksesan seseorang karena memungkinkan kita menangani dan mengendalikan masalah satu persatu tanpa menjadi panik dengan demikian berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan dan situasi yang penuh tekanan dapat dilalui tanpa menjadi berantakan. Bila kita mudah menyerah pada lingkungan yang sangat menuntut, kita tidak akan dapat tabah dan tahan banting untuk bersikap mandiri dan asertif. Untuk meningkatkan kemampuan menanggung stress
milikilah rencana positif, hati-hati dengan dramatisasi, semangat mencari solusi dan jangan ambil pusing pada hal remeh (Direktorat Pendidikan Insitut Teknologi Bandung, 2005).
Asertif
Asertif adalah ketegasan dan keberanian menyatakan pendapat sekaligus tetap menghormati dan peka terhadap kebutuhan orang lain untuk menemukan kompromi yang sama-sama menguntungkan (win-win solution). Sikap asertif itu sendiri meliputi tiga komponen dasar yaitu kemampuan mengungkapkan perasaan, kemampuan mengungkapkan keyakinan dan pemikiran secara terbuka dan kemampuan untuk mempertahankan hak-hak pribadi.
Kemampuan Dan Kemauan Belajar
Belajar merupakan syarat mutlak untuk mempertahankan eksistensi, sekaligus kunci untuk menaikkan kualitas diri dan organisasi.
Belajar tanpa ada keinginan untuk menerapkan apa yang sudah di pelajari, tentu tidak ada gunanya belajar membutuhkan bukan sekedar komitmen yang kuat tetapi juga intensitas yang tinggi untuk melaksanakannya dengan titik pencapaian yang jelas pada akhirnya. Dalam proses pembelajaran komponen yang perlu dipadukan dalam pelaksanaannya untuk memperoleh hasil yaitu pengendalian diri, penyamaan persepsi, berpusat pada visi, belajar secara tim dan berfikir sistematik.
4.6. Group Skills
Kerjasama Tim dan Meningkatakan Kemampuan Interpersonal
Dalam dunia kerja Tenaga kesehatan memerlukan kerjasama karena kita tidak mungkin dapat bekerja sendiri. Untuk mencapai kerjasama yang harmonis dan penyatuan yang solid maka setiap individu harus memiliki keterampilan dasara yang diperlukan untuk bekerja secara tim secara garis besar, keterampilan yang mutlak harus dimiliki anggota tim yaitu: kemampuan mengelola (Managerial Skills) yaitu kemampuan mengatur dan mengelola potensi diri sendiri, serta kemampuan untuk melakukan koordinasi dengan sesama anggota tim. Termasuk di dalamnya kemampuan dalam membuat rencana kerja, menentukan tujuan, memantau kerja, memonitor perkembangan dan memastikan pekerjaan telah dilakukan secara benar selain itu perlu juga kemampuan Interpersonal (Interpersonal Skills) keterampilan ini merupakan keterampilan melakukan kontak sosial dengan seluruh individu termasuk kemampuan berkomunikasi, saling menghargai pendapat otrang lain dan kemampuan menjaga kekompakan (Direktorat Pendidikan Insitut Teknologi Bandung, 2005).
4.7. Ethics Etika Kerja
Menurut Miller dan Coady dikutip Direktorat Pendidikan Insitut Tekhnologi Bandung (2005) etika kerja adalah keyakinan Nilai dan prinsip
yang akan membimbing individu berinteraksi dalam kaitannya dengan pekerjaan dan tanggung jawab akan suatu tugas
Keperawatan merupakan suatu profesi yang menuntut hubungan langsung antar sesama manusia sebagai seorang perawat yang baik serta professional, maka menjadi suatu tuntutan untuk dapat memberikan pelayanan yang baik terhadap pasien khususnya dan orang lain pada umumnya. Untuk memberikan pelayanan tersebut ada etika dan sopan santun yang menuntun seorang perawat untuk memberikan pelayanan kepada pasiennya.
Seorang perawat selalu dijadikan role model atau panutan oleh setiap pasiennya. Oleh sebab itu seorang perawat dalam memberikan pelayanan kepada klien harus bersikap: ihklas, ramah, sopan santun, belas kasih, sabar, bersikap tenang, cepat dalam bertindak, berikan sentuhan, berpenampilan rapi dan menghargai pasien (Elfrindi, 2009).
2.2. Program pendidikan profesi ners
Hasil Lokakarya Nasional dalam bidang keperawatan tahun 1983 telah menghasilkan kesepakatan nasional secara konseptual yang mengakui keperawatan di Indonesia sebagai profesi, mencakup pengertian, pelayanan keperawatan sebagai profesional dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi (profesional education). Sesuai dengan hakikatnya sebagai pendidikan profesi, maka kurikulum pendidikan tinggi keperawatan disusun berdasarkan pada kerangka konsep pendidikan yang kokoh, yang mencakup:
penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi keperawatan, menyelesaikan
masalah secara ilmiah, sikap tingkah laku dan kemampuan profesional, belajar mandiri serta belajar dimasyarakat.
Program pendidikan Ners menghasilkan Sarjana keperawatan dan profesional (Ners= First Professional Degree) dengan sikap, tingkah laku, dan kemampuan profesional, serta akuntabel untuk melaksanakan asuhan/praktik keperawatan dasar secara mandiri. Program pendidikan Ners memiliki landasan keilmuan yang kokoh dan landasan keprofesian yang mantap sesuai dengan sifatnya sebagai pendidikan profesi (Nursalam, 2008).
Program pendidikan profesi ners disebut juga proses pembelajaran klinik.terkait dengan pelaksanaan pendidikan profesi ners yang sepenuhnya dilaksanakan di lahan praktik seperti rumah sakit, puskesmas, klinik bersalin, panti wherda, dan keluarga serta masyarakat atau komunitas. Pendidikan profesi hanya akan dapat dilingkungan klinik atau lahan praktik karena lingkungan klinik merupakan lingkungan multiguna yang dinamik sebagai tempat pencapaian berbagai kompetensi praktik klinik di dalam kurikulum professional.
Melalui praktik klinik mahasiswa diharapkan lebih aktif dalam setiap tindakan sehingga akan menjadi orang yang cekatan dalam menggunakan teori tindakan. Lebih jauh lagi praktik keperawatan professional dibidang pelayanan keperawatan mencakup banyak hal termasuk diantaranya pengambilan keputusan klinik yang mengintegrasikan teori, hukum, pengetahuan prinsip dan pemakaian keterampilan khusus. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana perawat menerima klien sebagai mahluk hidup
yang utuh, unik dan mandiri dengan hak-haknya yang tidak dapat dipisahkan (Nurhidayah, 2011).
Tujuan dari pembelajaran profesi adalah mahasiswa mendapatkan pengalaman yang nyata dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien sehat dan sakit sesuai tujuan, mengaplikasikan bentuk asuhan keperawatan dengan critical thinking yang sesuai dengan sumber daya, sarana dan prasarana yang ada dilahan praktek sesuai dengan tujuan mata ajar, dan mengaplikasikan tampilan sosok dan sikap perawat profesional.
Mahasiswa yang diperkenankan mengikuti program profesi adalah mahasiswa semester IX Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Keperawatan USU yang telah menyelesaikan program sarjana (S.Kep) yang telah menempuh beban studi dan telah menyelesaikan SKS sarjana keperawatan. Pelaksanaan program studi ditempuh selama satu tahun dengan total SKS kelas regular sebesar 27 SKS. Mahasiswa tetap dinas meskipun libur nasional dan melakukan praktek selama 7-8 jam setiap hari, serta pengaturan shif putaran dinas di atur oleh Clinical Instuctur atau pihak yang berwenang sesuai aturan yang berlaku di lahan praktek (Buku Panduan Program Pendidikan Profesi Ners Program Studi Ilmu Keperawatan USU, 2007).