48
ANALISIS SOCIAL MEDIA MARKETING DAN BRAND AWARENESS TERHADAP IMPULSIVE BUYING
Oleh:
1Mariah, 2Siti Ruhana Dara
1,2Manajemen, Fakultas Bisnis, Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis Jalan Pulomas Selatan Kav. 22, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia 13210
Email : 1[email protected], 2[email protected]
ABSTRACT
This study aims to analyze social media marketing ads and brand awareness of impulse buying in the MSME sector for home-based ethnic clothing products at Ethnicnesia Online Stores. This research uses quantitative research with 94 respondents who are consumers who usually buy ethnic clothes made of woven fabrics. The sampling method was purposive sampling. This study uses quantitative research methods by conducting surveys, the results of validity and reliability tests using SPSS v 20.0, and hypothesis testing is carried out using simple linear regression method.
Keywords: social media marketing, brand awareness, impulsive buying.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sosial media marketing ads dan brand awareness terhadap impulse buying pada sektor UMKM produk pakaian Ethnic Rumahan Di Toko Online Ethnicnesia. .Penelitian menggunakan kuantitatif dengan responden sejumlah 94 orang yang merupakan konsumen yang biasa membeli baju Ethnic dengan berbahan kain tenun. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan melakukan survey, Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas mengunakan SPSS v 20.0, danl uji hipotesis dilakukan dengan metode regresi linear sederhana.
Kata kunci : social media marketing, brand awareness, impulsive buying.
PENDAHULUAN
Perkembangan UMKM di Indonesia menunjukkan pola yang baik.
Majunya UMKM di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang terjadi saat ini. Hal yang paling mendukung perkembangan UMKM adalah penggunaan digital marketing dalam proses pemasarannya. Para pelaku usaha mulai menggunakan market place, social media, website dan lain sebagainya, karena hal tersebut sejalan dengan pola konsumsi masyarakat yang berorinetasi pada pembelian secara
online. Selain itu, dengan adanya pemodalan yang di tawarkan pemerintah melalui beberapa lembaga maka mendorongnya perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah.
Adanya dukungan dari pemerintah melalui cara-cara tertentu memengaruhi angka pertumbuhan jumlah UMKM.
Selain itu, pemerintah juga menurunkan tarif pajak Pph final sehingga menjadi angin segar bari pelaku umkm serta dapat membuat masyarakat pada umumnya lebih tertarik untuk membuat usaha, sehingga perkembangan umkm di
49
Indonesia setiap tahunnya dapat mengalami peningkatan.
Berikut gambar kontribusi PDB ekonomi kreatif menurut subsektor.
Gambar 1
Kontribusi PDB Ekonomi Kreatif Menurut Subsektor
Gambar 1 menunjukkan bahwa subsektor fashion berada pada urutan ke 2 setelah kuliner, salah satu yang berkembang saat ini adalah fashion ethnic baik dari kain batik atau tenun, banyak-banyaknya UMKM membuat produk rumahan dari kain etnik dan di jual melalui social media marketing dan maket place. Saat ini, tampilan pakaian ethnic tidak terlihat kaku, banyak pelaku UMKM yang membuat busana etnik dengan tampilan kekinian sehingga dapat menarik para milineal untuk menggunakan busana berbahan utama ethnic. Kondisi saat ini sejalan dengan berita yang dimuat di berbagai artikel yang menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi kiblat tren busana etnik dunia berkat batik dan tenun.
Gambar 2
Pengguna Internet Di Indoneisa
Bersdasarkan gambar 2, dapat dilihat bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 175 juta
orang menjadi peluang bagi para pelaku UMKM untuk memasarkan produknya melalui sosial media marketing, adanya fasilitas Instagram ads memudahkan para pelaku UMKM untuk membuat toko online yang dimiliki dapat lebih banyak diliat oleh calon konsumen, dimana dalam pengguanaan Instagram ads, pengguna dapat mengatur sendiri budget Iklan, target pasar yang dituju, jangkauan domisili dan lainnya sehingga peluang untuk dilihat semakin besar.
Selain itu, instagram juga memliki peran yang sangat penting untuk keberlangsungan usaha jangka panjang, karena mampu meningkatkan nilai awarness konsumen. Dan memudahkan para pelaku usaha untuk melakukan komunikas.
Gambar 3 Toko Online Etnicnesia Sumber : Instagram
Gambar 3 adalah toko online Etnicnesia yang merupakan objek dalam penelitian ini, Etnicnesia mulai beroperasi pada awal tahun 2019 dengan membuat sendiri produk busana kerja dengan kombinasi kain tenun. Pangsa pasar dari Ethnicnesia adalah perempuan berusia 22 – 40 tahun dan merupakan pekerja kantoran. Tema busana kantoran menjadi segmen pasar tersendiri, karena memang saat ini adanya trend menggunakan pakaian kantor dengan berbahan utama kain tenun. Sejak beroperasi, Ethnicnesia berfokus pada pemasara melalui online dengan menggunakan Instagram dan market place Shopee.
50
KAJIAN PUSTAKA
Menurut Gunelius (2015:10), social media marketing adalah segala bentuk pemasaran langsung atau tidak langsung yang digunakan untuk membangun kesadaran, pengenalan, pengingatan kembali, dan pengambilan aksi terhadap sebuah brand, bisnis, produk, orang, atau hal lainnya yang dikemas menggunakan alat-alat di social web, seperti blogging, microblogging, social networking, social bookmarking, dan content sharing.
Menurut Keller (2013: 269) kesadaran merek adalah kemampuan individu untuk mengenali dan mengingat merek dari suatu produk tertentu.
Kesadaran merek menunjukan kemampuan calon konsumen untuk mengenali dan mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan ciri atau identitas dari kategori produk tertentu.
Menurut Utami (2010:51) Pembelian impulsif ( Impulse buying ) adalah pembelian yang terjadi dikarenakan konsumen melihat produk atau merek tertentu yang akhirnya membuat konsumen berkeiginan untuk membelinya, hal tersebut biasanya terjadi karena adanya rangsangan yang menarik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk dalam penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih, dan dalam hal ini hubungan tersebut bersifat kausal dimana variabel bebas mempengaruhi variabel terikat (Sugiyono, 2012: 11). Melalui penelitian ini dapat diketahui pengaruh social media marketing dan brand awarness terhadap impulsive buying pada sektor umkm produk pakaian ethnic, dimana Social Media Marketing dan Brand Awarnesss merupakan variabel independen (bebas) dan impulsive buying merupakan variabel dependen (terikat).
Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk memperoleh datanya. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang di lakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan sebagai responden.
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2016: 215) populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini asalah seluruh konsumen yang mengetahui produk ethnic dari Ethnicnesia.
2. Sampel
Sampel merupakan sub kelompok elemen populasi yang terpilih untuk berpartisipasi dalam studi (Malhotra, 2009:364). Sampel dalam penelitian ini adalah pembeli yang dipilih secara acak berjumlah 94 orang yang merupakan konsumen produk Ethnicnesia.
Untuk memperoleh data serta keterangan yang diperlukan dalam penelitian ini, maka peneliti melakukan beberapa cara untuk mengumpulkan data, yaitu sebagai berikut:
1. Studi Lapangan
Studi lapangan yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan menyebarkan kuesioner secara langsung kepada subjek penelitian. Menurut Sugiyono (2016: 142) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan atau pernyataan secara tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Instrumen yang digunakan dalam kuesioner penelitian ini adalah instrument skala likert.
Menurut Sugiyono (2016: 93) skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
51
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
2. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan data sekunder dengan sumber data yang diperoleh dari penelitian terdahulu, buku, dan jurnal.
Menurut Sugiyono (2016: 121) instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Priyanto (2016: 51) untuk menentukan suatu item layak digunakan atau tidak, yaitu dengan melakukan uji signifikansi koefisien korelasi pada taraf signifikansi 0,05, artinya suatu item dianggap valid jika berkorelasi signifikan terhadap skor total item. Dalam penelitian ini peneliti melakukan uji validitas item dengan metode korelasi Pearson dan Corrected Item-Total Correlation.
Menurut Priyatno (2016: 60) uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang..
Dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas dengan metode Uji Kolmogorov-Smirnov, yang dimana apabila signifikansi lebih dari 0,05 maka residual terdistribusi secara normal, dan jika signifikansi kurang dari 0,05 maka tidak normal. Menurut Priyatno (2016:
116) uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi yang tinggi di antara variabel bebas. Metode pengujian yang biasa digunakan yaitu dengan melihat nilai Inflation Factor (VIF) dan Tolerance pada model regresi. Jika nilai VIF kurang dari 10 dan Tolerance lebih dari 0,1 maka
model regresi bebas dari multikolinearitas.
Menurut Priyanto (2016: 117) uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual pada satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan uji heterosdisitas dengan metode uji statistik glejser.
Kriteria dari uji heterosdisitas yaitu:
1. Jika nilai signifikansi antara variabel bebas dengan absolut residual > 0,05, maka “tidak terjadi heterosdisitas”.
2. Jika nilai signifikansi antara variabel bebas dengan absolut residual < 0,05, maka “terjadi heterosdisitas”.
Menurut Sugiyono (2012: 277) analisis regresi linier ganda digunakan apabila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai factor predictor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya). Menurut Priyatno (2016: 92) uji analisis linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh antara dua atau lebih variabel independen dengan satu variabel dependen yang ditampilkan dalam bentuk persamaan regresi. Dalam penelitian ini antara Persepsi Online Store (X1) , Persepsi Offline Store (X2), Persepsi Nilai (Y) dan Minat Beli (Z) dalam bentuk persamaan regresi. Rumus persamaan regresi linier berganda yaitu:
Y = a + b1X1 + b2X2 + €
Keterangan:
Y = Variabel terikat X1, X2 = Variabel bebas a = Nilai Konstanta b1, b2 = Koefisien regresi\
Menurut Sugiyono (2012: 212) Koefisien Determinasi digunakan untuk
52
mengetahui presentase pengaruh variabel bebas secara serentak terhadap variabel terikat. Dibawah ini menunjukkan hasil uji koefisien determinasi (R2), berikut kriteria pengujiannya:
1. Nilai R2 mendekati nol, berarti variabel bebas (X1 dan X2) secara keseluruhan tidak menjelaskan variabel terikat (Y).
2. Nilai R2 mendekati satu, artinya variabel bebas (X1 dan X2) secara keseluruhan menjelaskan variabel terikat (Y).
Menurut Priyatno (2016: 67) uji T digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini uji T dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan antara atau tidak antara variabel independen iklan (X1) dan citra merek (X2) terhadap variabel dependen minat beli (Y). T tabel dapat dihitung pada tabel statistik pada signifikan 0,05 dengan df = n- k- 1. Jika : thitung < ttabel jadi Ho dan Ha tidak diterima sehingga artinya tidak pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dan sebaliknya apabila, thitung > tkritis jadi Ho ditolak dan Ha diterima sehingga artinya ada pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen.
Menurut Priyatno (2016: 107) uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama- sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengujian:
1. Ho diterima bila F hitung ≤ F tabel.
2. Ho ditolak bila F hitung > F tabel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil analisis yang didapat kemudian dibandingkan dengan nilai r table, r tabel dicari pada signifikan 0.05
dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 30 maka didapat r tabel 0.361 . Pada tabel 1 menunjukan bahwa semua indikator Sosial Media Marketing dikatakan valid, karena nilai Corrected Item – Total Correlation lebih besar dari pada nilai r tabel yaitu 0.361
Tabel 1
Uji Validitas Variabel Brand Awarness Dimensi Item
Pernyataan Total Pearson Correlation
Nilai r Tabel
Keterangan
Brand Awarness
BA1 0.516 0,361 Valid
BA2 0.908 0,361 Valid
BA3 0.884 0,361 Valid
BA4 0.687 0,361 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2021
Dari hasil analisis yang didapat kemudian dibandingkan dengan nilai r table, r tabel dicari pada signifikan 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 30 maka didapat r tabel 0.361 Pada tabel 2 menunjukan bahwa semua indikator Brand Awarness dikatakan valid, karena nilai Total Correlation lebih besar dari pada nilai r tabel yaitu 0.361
Tabel 2
Uji Validitas Variabel Impulsive Buying Dimensi Item
Pernyataan
Total Pearson Correlation
Nilai r Tabel
Keterangan
Impulsive Buying
IB1 0.816 0,361 Valid
IB2 0.617 0,361 Valid
IB3 0.708 0,361 Valid
IB4 0.685 0,361 Valid
IB5 0.811 0,361 Valid
IB6 0.780 0,361 Valid
IB7 0.782 0,361 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2020
Dari hasil analisis yang didapat kemudian dibandingkan dengan nilai r table, r tabel dicari pada signifikan 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 30 maka didapat r tabel 0.361 Pada tabel 3 menunjukan bahwa semua indikator Citra Merek dikatakan valid, karena nilai
53
Corrected Item – Total Correlation lebih besar dari pada nilai r tabel yaitu 0.361
Tabel 3 Uji Reliabilitas
Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2020
Pada tabel 4 menunjukan bahwa indikatorSosial Media Marketing, Brand Awarness dan Impulsive Buying dinyatakan reliabel karena mempunyai cronbach Alpha>0,6.
Tabel 4
Uji Validitas Variabel Sosial Media Marketing Dimensi Item
Pernyataan
Total Pearson Correlation
Nilai r Tabel
Keterangan
Sosial Media Marketing
SMM1 0,784 0,171 Valid
SMM2 0,577 0,171 Valid
SMM3 0,602 0,171 Valid
SMM4 0,661 0,171 Valid
SMM5 0.701 0,171 Valid
SMM6 0.760 0,171 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2021
Dari hasil analisis yang didapat kemudian dibandingkan dengan nilai r table, r tabel dicari pada signifikan 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 93 maka didapat r tabel 0,171. Pada tabel 5 menunjukan bahwa semua indikator Sosial Media Marketing dikatakan valid, karena nilai Corrected Item – Total Correlation lebih besar dari pada nilai r tabel yaitu 0.171
Tabel 5
Uji Validitas Variabel Sosial Media Marketing Dimensi Item
Pernyataan
Total Pearson Correlation
Nilai r Tabel
Keterangan
Sosial Media Marketing
BA1 0.673 0,171 Valid
BA2 0.831 0,171 Valid
BA3 0.879 0,171 Valid
BA4 0.728 0,171 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2021
Dari hasil analisis yang didapat kemudian dibandingkan dengan nilai r table, r tabel dicari pada signifikan 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 93 maka didapat r tabel 0.171 Pada tabel 6 menunjukan bahwa semua indikator Brand Awarness dikatakan valid, karena nilai Total Correlation lebih besar dari pada nilai r tabel yaitu 0.171.
Tabel 6
Hasil Uji Validitas Variabel Impulsive Buying Dimens
i
Item Pernyataa
n
Total Pearson Correlatio
n
Nilai r Tabe
l
Keteranga n
Citra Merek
IB1 0.731 0,171 Valid
IB2 0.659 0,171 Valid
IB3 0.771 0,171 Valid
IB4 0.647 0,171 Valid
IB5 0.785 0,171 Valid
IB6 0.828 0,171 Valid
IB7 0.798 0,171 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2021
Dari hasil analisis yang didapat kemudian dibandingkan dengan nilai r table, r tabel dicari pada signifikan 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 93 maka didapat r tabel 0.171 Pada tabel 7 menunjukan bahwa semua indikator Impulsive Buying dikatakan valid, karena nilai Corrected Item – Total Correlation lebih besar dari pada nilai r tabel yaitu 0.171.
Tabel 7 Hasil Uji Reliabilitas Dimensi Nilai
Cronbach Alpha
Jumlah Indikator SMM
BA IB
0.757 6
0.786 4
0.858 7
Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2021
Pada tabel 8 menunjukan bahwa indikator Sosial Media Marketing, Brand Awarness dan Impulsive Buying dinyatakan reliabel karena mempunyai cronbach Alpha>0,6.
Dimensi Nilai Cronbach
Alpha
Jumlah Indikator
SMM BA IB
0.725 6
0.763 4
8.50 7
54
Tabel 8 Hasil Uji Normalitas
Tests of Normality Kolmogorov-
Smirnova Stati
stic Df Sig. .
Unstandardiz
ed Residual .082 93 .155
* . .
Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2019
Dari tabel 8 terlihat bahwa semua indikator variabel indikator Sosial Media Marketing, Brand Awarness dan Impulsive Buying sudah terdistribusi normal dimana nilai Sig nya diatas >0,05.
Tabel 8
Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa
Model T Sig.
Collinearity Statistics Toler
ance VIF 1 (Constant) 1,56 .128
X1 (SMM) 4,89 .000 .546 1,830 X2 (BA) 2,64
.011
.546
1,830 Dependent Variabel Y (IB)
Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2021
Tabel 8 menunjukan hasil uji multikolinearitas, dari hasil uji tersebut diperoleh nilai Inflation Factor (VIF) sebesar 1.830 pada variabel Sosial Media Marketing (X1) dan Brand Awarness (X2) sebesar 1.830 dan nilai Tolerance sebesar 0.546 pada variabel Sosial Media Marketing (X1) dan Variabel Brand Awarness (X2) sebesar 0.546.
Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi masalah multikolinearitas karena nilai Inflation Factor (VIF) kurang dari 10 dan Tolerance lebih dari 0,1.
Tabel 9
Hasil Uji Heteroskedasitas
Model Collinearity Statistics Constant Tolerance VIF
SMM .546 1,830
BA .546 1,830
Dependent Variabel Y
Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2021
Pada tabel 9 dapat dilihat bahwa hasil uji heteroskedasitas menggunakan metode uji Glesjer memperoleh nilai signifikasi (Sig) untuk setiap variabel. Sosial Media Marketing memperoleh nilai signifikasi sebesar 0,505 dan Brand Awarness memperoleh nilai signifikasi sebesar 0,229. Karena nilai signifikasi ketiga variabel tersebut lebih dari 0,05, maka sesuai dengan uji Glesjer dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedasitas.
Analisis Uji Regresi Liniear Berganda ( X1, X2 terhadap Y)
Tabel 10
Hasil Uji Regresi Linear Berganda (X1, X2 terhadap Y)
a. Dependent Variable: Minat Berkunjung (Y) Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2019
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Y = - 5,441 + 0,858 (X1) + 0.570 (X2) + e Keterangan:
Y = Variabel terikat
X1, X2, = Variabel bebas
a = Nilai Konstanta
b1, b2 = Koefisien regresi
Tabel 10 menunjukan hasil uji regresi linier berganda, penjelasan persamaan regresi tersebut sebagai berikut:
1. Konstanta sebesar -5,441 artinya artinya jika Persepsi Online Store dan Persepsi Offline Store 0, maka Persepsi Nilainya sebesar - 5.441.
2. Koefisien regresi variabel Sosial Media Marketing sebesar 0.858,
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standar dized Coeffici
ents
t Sig.
B Std.
Error Beta 1 (Constan
t) -5,441 3,541
- 1,53 6
.128
X1 .858
.177 .493 4,83
9 .000
X2
.570
.219
.265
2,60 4
.011
55
artinya jika Sosial Media Marketing mengalami kenaikan satu satuan, maka Sosial Media Marketing akan mengalami peningkatan sebesar 0.858 satuan dengan asumsi variabel independen lainnya tetap.
3. Koefisien regresi variabel Brand Awarness sebesar 0.570, artinya jika Brand Awarness mengalami kenaikan satu satuan, maka Brand Awarness akan mengalami peningkatan sebesar 0.570 satuan dengan asumsi variabel independen lainnya tetap
Analisis Uji Koefisien Determinasi (R2)
Tabel 11 Hasil Uji Determinasi (X1 dan X2 Terhadap Y)
Model Summary
Mod
el R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .700a .490 .478 3,725
a. Predictors: (Constant), X1, X2 b. Dependent variabel Y
Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2021
Tabel 11 menunjukan nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0.478 (47.8%). Hal ini menunjukan persentase pengaruh variabel independen Sosial Media Marketing dan Brand Awarness terhadap variabel dependen Impulsive Buying sebesar 47,8% sedangkan 52.2
% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
Analisis Uji T (X1 , X2 Terhadap Y)
Tabel 12
Hasil Uji T (X1, X2 Terhadap Y) Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standar dized Coeffici
ents
T Sig.
B
Std.
Error Beta
1 (Constant) -5,441 3.541 -1,536 .128
X1 .858
.177 .493 4,839 .000
X2
.570
.219
.265
2,604
.011
a. Dependent Variable: Minat Berkunjung (Y) Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2021
1. Pada variabel Social Media Marketing (X1) menunjukan nilai Sig 0.000 <
0,05. Hasil ini menyatakan bahwa variabel Sosial Media Marketing (X1) berpengaruh signifikan terhadap variabel Impulsive Buying (Y).
2. Pada variabel Brand Awarness (X2) menunjukan nilai Sig 0.01 < 0,05.
Hasil ini menyatakan bahwa variabel Brand Awarness (X2) berpengaruh signifikan terhadap variabel Impulsive Buying (Y)
Analisis Uji F
Tabel 13 Hasil Uji F
ANOVAa
Model
Sum of Squares Df
Mean
Square F Sig.
1 Regres sion
1198,30 5
2 599,152 43,18 0
,000b
Residu al
1248,81 3
90 13,876
Total 2447,11 8
92
a. Dependent Variable: TIB
b. Predictors: (Constant), TBA, TSMM Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner, 2021
Tabel 13 menunjukan bahwa variabel Social Media Marketing (X1) dan variabel Brand Awarness (X2) secara simultan berpengaruh terhadap variabel Impulsive Buying (Y dengan nilai sig 0.000 < 0,05.
56
Hasil Analisis Mean Variabel Social Media Marketing
Tabel 14
Hasil Mean Variabel Social Media Marketing
No Pernyataan Nilai Mean 1.
Video tutorial style pakaian ethnic yang dibuat sangat menarik
4,47
2.
Saya merasa pertanyaan yang saya tannyakan melalui Instagram selalu di respon dengan baik.
4,65
3.
Postingan pada insta story selalu memiliki tema yang kekinian.
4,57
4.
Sangat mudah menemukan
informasi pakaian ethnic melalui acount instagram
4,66
5.
Saya memberitahu Instagram
Erthnicnesia ke teman-teman sa
4,26
6.
Saya selalu posting ketika
menggunakan pakaian etnik dari Ethnicneisa dan mention Ig nya
3,59
Tabel 14 menunjukan bahwa jawaban dari kuesioner untuk variabel Social Media Marketing yang telah diberikan kepada 93 responden dengan menggunakan skala likert, dengan skala 1 sampai 5 yang dimana angka 1 menunjukan sangat tidak setuju, 2 tidak setuju, 3 cukup setuju, 4 setuju dan 5 sangat setuju. Dalam tabel 4.16 menunjukan nilai mean terendah dari variabel Social Media Marketing (X1) yaitu 3.59 terdapat pada indikator no 6 yaitu “Saya selalu posting ketika menggunakan pakaian ethnik dari Ethnicnesia dan mention IG nya”, dalam hal ini baiknya Ethnicnesia dapat meningkatkan engagement dengan cara
berinteraksi langsung dengan customer yang melakukan pembelian seperti membuat program Gledek Sale, Lelang Sale dan lain sebagainya, karena kehadiran owner selaku pemilik usaha sangat penting agar hubungan dengan konsumen lebih dekat. Selain itu, perlu adanya program Giveaway, tik tok challenge ataupun lainnya yang dapat membuat konsumen tertarik dan selalu upload ke Instagram ketika mereka memakai baju dari Ethnicnesia
Nilai mean tertinggi terdapat pada indikator no 4 dengan nilai 4,66 yaitu
“Sangat mudah menemukan informasi pakaian ethnic melalui acount instagram”, dalam hal ini Ethnicnesia harus dapat mepertahanan pencarian baju Ethnicnesia semakin mudah melalui instagram dan mempertahaankan informasi produk yang lengkap sehingga memudahkan konsumen mencari informasi seperti deskripsi detail produk.
Hasil Analisis Mean Variabel Brand Awarness
Tabel 15
Hasil Mean Variabel Brand Awarness No Pernyataan Nilai Mean 1.
Saya mengetahui pakaian etnik merek Ethnicnesia
4,63
2.
Ketika saya melihat photo atau gambar baju ethnic, saya langsung
mengetahui bahwa
itu merek
Ethnicnesia
4,28
3.
Merek baju
Ethnicnesia sangat mudah dikenali dan berbeda dengan produk baju etnik dari merek lain
4,39
4.
Saya memilih baju merek ethnicnesia sebagai pilihan utama saya ketika saya mencari baju yang berbahan dasar kain etnik.
4,50
57
Tabel 15 menunjukan bahwa jawaban dari kuesioner untuk variabel Brand Awarness yang telah diberikan kepada 93 responden dengan menggunakan skala likert, dengan skala 1 sampai 5 yang dimana angka 1 menunjukan sangat tidak setuju, 2 tidak setuju, 3 cukup setuju, 4 setuju dan 5 sangat setuju. Dalam tabel 4.17 menunjukan nilai mean terendah dari variabel Brand Awarness (X2) yaitu 4,28 terdapat pada indikator no 2 yaitu
“Ketika saya melihat photo atau gambar baju ethnic, saya langsung mengetahui bahwa itu merek Ethnicnesia.”, dalam hal ini baiknya Ethnicnesia semakin gencar lagi untuk memaksimalkan promosi melalui instagram ads, facebook ads dan mulai menggunakan jasa endorse selebgram yang sesuai dengan produk Ethnicnesia, agar konsumen dapat lebih mengenal ciri khas dari produk ethnicnesia.
Nilai mean tertinggi terdapat pada indikator no 1 dengan nilai 4.63 yaitu
“Saya mengetahui pakaian etnik merek Ethnicnesia” . Dalam hal ini baiknya Ethnicnesia tetap mempertahankan ciri khas baju, yang selama ini di kenal sebagai toko ethnic yang menyediakan baju kerja berbahan dasar kain tenun, dan Ethnicnesia perlu melakukan riset pasara guna dapat membuat baju kerja yang dapat mengikuti trend dan selera konsumen.
Hasil Analisis Mean Impulsive Buying
Tabel 15
Hasil Mean Variabel Impulsive Buying No Pernyataan Nilai Mean
1.
Saya membeli baju dari Ethnicnesia karena dikantor saya mewajibkan untuk memakai baju batik/tenun.
3,48
2.
Saya merasa antusias sewaktu melihat postingan model-model baju teebaru yang dijeluarkan
Ethnicnesia.
4,51
3.
Setelah saya melihat postingan model terbaru di Instagram saya langsung melakukan
pembelian.
3,63
4.
Saya merasa senang ketika berbelanja di Ethnicneisa karena saya hampir menyukai semua model baju yang dikeluarkan
Ethnicnesia.
4,35
5.
Kaetika saya memiliki waktu senggang maka saya akan membuka Instagram Etnicnesia untuk berbelanja
3,93
6.
Saya selalu menyisihkan gaji bulanan untuk membeli baju dari Ethnicnesia
3,27
7.
Setiap saya melihat postingan baju Etnicnesia saya selalu berkeinginan untuk langsung membeli..
4,01
Tabel 15 menunjukan bahwa jawaban dari kuesioner untuk variabel Impulsive Buying yang telah diberikan kepada 93 responden dengan menggunakan skala likert, dengan skala 1 sampai 5 yang dimana angka 1 menunjukan sangat tidak setuju, 2 tidak
58
setuju, 3 cukup setuju, 4 setuju dan 5 sangat setuju. Dalam tabel 4.18 menunjukan nilai mean terendah dari variabel Impulsive Buying (Y) yaitu 3.27 terdapat pada indikator no 6 yaitu “Saya selalu menyisihkan gaji bulanan untu membeli baju dari Ethnicnesia.”, dalam hal ini baiknya Ethnicnesia terus melakukan inovasi dan mengeluarkan model-model baru setiap bulannya, agar tampilan produk selalu fresh dan membuat konsumen selalu berkeinginan untuk membeli dan memperhatikan waktu yang tepat ketika mengupload baju model baru misalnya pada saat tgl gajian dan waktu-waktu tertentu yang memungkinkan konsumen memiliki budget untuk belanja.
Nilai mean tertinggi terdapat pada indikator no 2 dengan nilai 4,51 yaitu
“Saya merasa antusias sewaktu melihat postingan model-model baju terbaru yang dijeluarkan Ethnicnesia.” dalam hal ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagy dengan konsisten menyajikan model-model baru yang lebih fresh agar konsume tidak bosan dan selalu antusias dengan produk Ethnicnesia
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Social Media Marketing berpengaruh terhadap Impulsive Buying.
2. Brand Awarness berpengaruh terhadap Impulsive Buying.
3. Social Media Marketing dan Brand Awarness secara simultan berpengaruh terhadap Impulsive Buying.
Implikasi Social Media Marketing Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS 20 menunjukan nilai mean terendah dari variabel Social Media Marketing (X1) yaitu 3.59 terdapat pada indikator no 6 yaitu “Saya selalu posting ketika menggunakan pakaian ethnik dari Ethnicnesia dan
mention IG nya”, dalam hal ini baiknya Ethnicnesia dapat meningkatkan engagement dengan cara berinteraksi langsung dengan customer yang melakukan pembelian seperti membuat program Gledek Sale, Lelang Sale dan lain sebagainya, karena kehadiran owner selaku pemilik usaha sangat penting agar hubungan dengan konsumen lebih dekat.
Selain itu, perlu adanya program Giveaway, tik tok challenge ataupun lainnya yang dapat membuat konsumen tertarik dan selalu upload ke Instagram ketika mereka memakai baju dari Ethnicnesia
Nilai mean tertinggi terdapat pada indikator no 4 dengan nilai 4,66 yaitu
“Sangat mudah menemukan informasi pakaian ethnic melalui acount instagram”, dalam hal ini Ethnicnesia harus dapat mepertahanan pencarian baju Ethnicnesia semakin mudah melalui instagram dan mempertahaankan informasi produk yang lengkap sehingga memudahkan konsumen mencari informasi seperti deskripsi detail produk.
Implikasi Manajerial Brand Awarness Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan SPSS 20 menunjukan nilai mean terendah dari variabel Brand Awarness (X2) yaitu 4,28 terdapat pada indikator no 2 yaitu “Ketika saya melihat photo atau gambar baju ethnic, saya langsung mengetahui bahwa itu merek Ethnicnesia.”, dalam hal ini baiknya Ethnicnesia semakin gencar lagi untuk memaksimalkan promosi melalui instagram ads, facebook ads dan mulai menggunakan jasa endorse selebgram yang sesuai dengan produk Ethnicnesia, agar konsumen dapat lebih mengenal ciri khas dari produk ethnicnesia.
Nilai mean tertinggi terdapat pada indikator no 1 dengan nilai 4.63 yaitu
“Saya mengetahui pakaian etnik merek Ethnicnesia” . Dalam hal ini baiknya Ethnicnesia tetap mempertahankan ciri khas baju, yang selama ini di kenal sebagai toko ethnic yang menyediakan
59
baju kerja berbahan dasar kain tenun, dan Ethnicnesia perlu melakukan riset pasara guna dapat membuat baju kerja yang dapat mengikuti trend dan selera konsumen.
Implikasi Manajerial Impulsive Buying
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan SPSS 20 menunjukan nilai mean terendah dari variabel Impulsive Buying (Y) yaitu 3.27 terdapat pada indikator no 6 yaitu “Saya selalu menyisihkan gaji bulanan untu membeli baju dari Ethnicnesia.”, dalam hal ini baiknya Ethnicnesia terus melakukan inovasi dan mengeluarkan model-model baru setiap bulannya, agar tampilan produk selalu fresh dan membuat konsumen selalu berkeinginan untuk membeli dan memperhatikan waktu yang tepat ketika mengupload baju model baru misalnya pada saat tgl gajian dan waktu- waktu tertentu yang memungkinkan konsumen memiliki budget untuk belanja.
Nilai mean tertinggi terdapat pada indikator no 2 dengan nilai 4,51 yaitu
“Saya merasa antusias sewaktu melihat postingan model-model baju terbaru yang dijeluarkan Ethnicnesia.” dalam hal ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagy dengan konsisten menyajikan model-model baru yang lebih fresh agar konsume tidak bosan dan selalu antusias dengan produk Ethnicnesia
DAFTAR PUSTAKA
Alma, B. (2013). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung : Alfabeta.
Andriany, D dan Arda, M. (2019).
Pengaruh Media Sosial Terhadap Impulse Buying Pada Generasi Milenial. ISSN 2614-6681
Hasibuan, M. S.P. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi. Jakarta : PT Bumi Aksara
Keller, Kevin L. 2013. Strategic Brand Management ; Building, Measuring, and Managing Brand Equity. Fourth Edition Harlow, English : Pearson Education Inc.
Kotler, P dan Kevin, L.K. (2016).
Marketing Management. 15 th Edition. New Jersey : Pearson Pretice Hall.
Malhotra, N.K. (2009). Riset Pemasaran Pendekatan Terapan Jilid 1.
Jakarta:PT Index.
Priyatno, D. (2016). Belajar Alat Analisis Data Dan Cara Pengolahnnya Dengan SPSS Praktis dan Mudah Dipahami untuk Tinkat Pemula dan Menengah. Yogyakarta: Gava Media
Sudha. S dan Bharathi. (2018). Role of Social Media Influence On Customers Impulsive Buying Behaviour Toward Apparel. Int. J Sup. Chain. Mgt. Vol. 7, No. 5.
Sugiyono. (2012). Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D.
Bandung : Alfabeta
Sugiyono. (2016). Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D.
Bandung : Alfabeta
Utami, W.C. (2010). Manajemen Ritel : Strategi dan Implementasi Ritel Modern. Jakarta : Salemba Empat.
Wijayanto, Dian. (2009). Pengantar Manajemen. Jakarta : Erlangga
Zikra R. dkk. (2020). The Influence of Brand Images on Impulsif Buying Behavior in Shopping Consumers in
60
Zalora’s Online Stores. International Journal of Progressive. Vol 20. No 2 Tahun 2020