• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III REALISASI DELINEASI BATAS LAUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III REALISASI DELINEASI BATAS LAUT"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

III - 1 BAB III

REALISASI DELINEASI BATAS LAUT

Dalam penentuan batas laut, setiap negara pantai diberikan wewenang oleh PBB untuk menentukan batas lautnya masing-masing dengan menjalankan pedoman yang terkandung dalam SP-51 IHO. Sebagai wujud batas laut tersebut, PBB meminta dalam bentuk peta (skala sesuai keinginan negara pantai yang bersangkutan) atau juga dalam bentuk listing koordinat batas laut.

Dalam Technical Aspects Of The United Nations Convention Of The Law Of The Sea (TALOS), terdapat metode-metode yang disarankan dalam penentuan batas laut, yaitu metode grafik dan metode numerik.

Dalam penelitian ini, akan diambil studi kasus batas laut Indonesia yang berbatasan langsung dengan laut lepas yaitu Pulau Nias dan sekitarnya.

III. 1. Realisasi Delineasi Batas Laut Dengan Metode Grafik

Untuk daerah studi kasus dalam penelitian ini, dengan metode grafik akan dilakukan dengan metode :

III. 1. 1. Pendekatan Sesuai Bentuk Geografis Muka Air Rendah

Garis batas laut akan didapat sesuai dengan bentuk muka air rendah (gambar 3.1). Batas-batas laut dapat dengan mudah didapat dengan menarik jarak sejauh batas laut dalam UNCLOS sesuai dengan bentuk muka air laut rendah atau dengan melakukan offset pada proses penggambaran (di AutoCad).

Beberapa negara pantai dapat menggunakan metode ini apabila memungkinkan, yaitu sesuai bentuk geografis muka air rendahnya.

(2)

III - 2 Gambar 3. 1 Garis batas sesuai bentuk geografis muka air rendah

III. 1. 2. Pendekatan Lingkaran

Pendekatan lingkaran merupakan metode sederhana dari delineasi batas laut. Batas laut didapat dengan cara membuat lingkaran-lingkaran dengan jari-jari sejauh jarak yang diinginkan dalam batas laut, misalnya laut teritorial sejauh 12 mil laut.

Lingkaran-lingkaran akan dibentuk dengan menggunakan titik-titik terluar pada muka air rendah di pulau-pulau terluar sebagai titik pusat atau lingkaran disinggungkan terhadap titik tersebut.

a. Pendekatan lingkaran berpusat di titik terluar

Batas laut yang akan didapat merupakan rangkaian titik-titik batas terluar yang dihubungkan dari lingkaran-lingkaran yang dibentuk. (gambar 3.2)

Setelah pembentukan lingkaran dengan berpusat di titik terluar, dilakukan trim pada hasil gambar sehingga akan mendapat garis batas-batas laut. (gambar 3.3)

batas laut zona tambahan

batas laut teritorial

garis muka air rendah

(3)

III - 3 Gambar 3. 2 Pembentukan garis batas sesuai pendekatan lingkaran

berpusat di titik terluar

Gambar 3. 3 Hasil pendekatan dengan lingkaran berpusat di titik terluar

garis air rendah

lingkaran berpusat di titik terluar

garis air rendah

batas laut teritorial

(4)

III - 4 b. Pendekatan lingkaran menyinggung titik terluar

Batas-batas laut didapat dengan membentuk lingkaran dengan diameter sejarak batas-batas laut dalam UNCLOS. Lingkaran tersebut diletakkan menyinggung titik-titik terluar muka air rendah.

Batas-batas lautnya merupakan garis yang dibentuk apabila lingkaran tersebut digelindingkan pada titik-titik terluar muka air rendah. (gambar 3.4)

Gambar 3.4 Lingkaran yang digelindingkan pada titik-titik terluar muka air rendah

lingkaran menyinggung titik-titik terluar garis air rendah

(5)

III - 5 Gambar 3.5 Hasil pendekatan dengan lingkaran menyinggung titik-titik terluar

III. 1. 3. Delineasi Garis Pangkal Lurus

Dalam delineasi batas laut, penentuan garis batas dapat dilakukan dengan menggunakan konsep garis pangkal lurus sesuai dengan keinginan negara pantai yang bersangkutan.

Garis pangkal lurus dapat berbentuk garis pangkal lurus kepulauan atau garis pangkal lurus yang digunakan untuk daerah yang mempunyai bentuk geografis muka air rendah yang tidak beraturan.

a. Garis pangkal lurus untuk bentuk geografis yang labil

Untuk daerah penelitian, beberapa titik dapat digunakan sebagai acuan penarikan garis batas dengan garis pangkal lurus, karena wilayahnya mempunyai bentuk muka air rendah yang labil. (gambar 3.6)

batas laut zona tambahan batas laut teritorial

(6)

III - 6 Gambar 3.6 Batas laut dengan garis pangkal lurus

b. Garis pangkal lurus kepulauan

Penarikan batas secara garis pangkal lurus kepulauan hanya diberikan wewenangnya kepada negara yang merupakan negara kepulauan.

Garis pangkal lurus kepulauan dapat dilakukan dengan menarik garis lurus kepulauan dari titik-titik terluar kepulauan yang bersangkutan pada muka air rendah.

Untuk Negara Indonesia, metode penarikan garis pangkal dapat digunakan dengan garis pangkal kepulauan, karena sudah diakui sebagai salah satu negara kepulauan. Untuk wilayah lautan sebelah barat Sumatra, termasuk Nias, juga dapat dilakukan penarikan garis pangkal lurus kepulauan.

Dapat kita lihat juga, apabila dilakukan penarikan garis pangkal lurus kepulauan dengan memakai data pada PP No. 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Titik-titik Dasar Batas Laut. (gambar 3.7)

garis pangkal lurus garis batas laut teritorial

garis batas laut zona tambahan

(7)

III - 7 Gambar 3. 7. Batas laut dengan garis pangkal lurus kepulauan memakai PP No. 38 tahun 2002

garis batas ZEE garis batas zona tambahan

garis batas landas kontinen

garis batas laut teritorial

TD 168 TD 167

(8)

III - 8 Tabel 3.1 Daftar koordinat batas laut teritorial dengan metode grafik

dengan titik dasar dari PP No. 38 tahun 2002

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 22.224 264 14 10,6231 1 23 8,16 96 51 34,56 TD. 167 01 12 47 97 04 48 22.224 264 14 10,6231 1 11 34,08 96 52 44,40 TD. 167 01 12 47 97 04 48 22.224 239 28 46,4465 1 6 37,80 96 54 21,60 TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 22.224 239 28 46,4465 -0 10 14,52 97 39 40,68

Tabel 3.2 Daftar koordinat batas laut zona tambahan dengan metode grafik dengan titik dasar dari PP No. 38 tahun 2002

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 44.448 264 14 10,6231 1 21 52,92 96 39 30,96 TD. 167 01 12 47 97 04 48 44.448 264 14 10,6231 1 10 21 96 40 40,80 TD. 167 01 12 47 97 04 48 44.448 239 28 46,4465 1 0 28,44 96 43 55,2 TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 44.448 239 28 46,4465 -0 16 23,88 97 29 14,28

(9)

III - 9 Tabel 3.3 Daftar koordinat batas laut zona ekonomi eksklusif (ZEE)

dengan metode grafik dengan titik dasar dari PP No. 38 tahun 2002

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 370.400 264 14 10,6231 1 4 12,72 93 44 25,80 TD. 167 01 12 47 97 04 48 370.400 264 14 10,6231 0 52 40,80 93 45 35,64 TD. 167 01 12 47 97 04 48 370.400 239 28 46,4465 -0 28 53,76 94 12 19,08 TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 370.400 239 28 46,4465 -1 45 46,08 94 57 38,16

Tabel 3.4 Daftar koordinat batas laut landasan kontinen dengan metode grafik dengan titik dasar dari PP No. 38 tahun 2002

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 648.200 264 14 10,6231 0 49 8,04 91 15 1,80 TD. 167 01 12 47 97 04 48 648.200 264 14 10,6231 0 37 36,12 91 16 11,64 TD. 167 01 12 47 97 04 48 648.200 239 28 46,4465 -1 45 9 92 2 58,20 TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 648.200 239 28 46,4465 -3 2 1,32 92 48 17,28

(10)

III - 10 III. 2. Realisasi Delineasi Dengan Metode Numerik

Konsep delineasi batas laut dengan metode numerik seperti yang sudah disampaikan dalam bab sebelumnya menggunakan metode Soal Pokok Geodesi I (SPG I) yaitu dengan menentukan posisi suatu titik dari suatu titik dasar yang sudah diketahui posisinya dengan sudut jurusan dan jarak tertentu.

Posisi titik yang akan ditentukan akan dicapai dengan ketentuan dalam posisi geodetis dengan jarak dan sudut yang sudah direduksi untuk menentukan posisi geodetis. Untuk penelitian ini, akan digunakan metode yang dipilih bisa mewakili metode SPG I pada jarak yang diinginkan untuk menentukan batas-batas laut.

Data titik-titik dasar yang akan dipakai yaitu dari PP No. 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Batas Laut. Titik-titik yang diambil adalah sebelah barat Pulau Sumatra yaitu di Pulau Nias dan sekitarnya.

III.2. 1. Batas Laut Teritorial

Batas laut teritorial menurut UNCLOS ditentukan dengan menarik garis batas sejauh 12 mil laut dari muka air rendah, atau 22.224 m.

Untuk batas laut teritorial akan dilakukan delineasi secara numerik dengan metode T. Vincenty.

Hasil batas laut dengan metode Vincenty untuk batas laut teritorial dengan garis pangkal kepulauan dapat dilihat pada tabel 3.5.

(11)

III - 11 Tabel 3.5 Delineasi batas laut teritorial dengan metode T. Vincenty

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 22.224 264 14 10,6231 1 23 6,36 96 51 42,84 TD. 167 01 12 47 97 04 48 22.224 264 14 10,6231 1 11 34,44 96 52 52,68 TD. 167 01 12 47 97 04 48 22.224 239 28 46,4465 1 6 39,6 96 54 28,8 TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 22.224 239 28 46,4465 -0 10 12,36 97 39 47,88

III.2. 2. Batas Laut Zona Tambahan

Batas laut zona tambahan menurut UNCLOS ditentukan dengan menarik garis batas sejauh 24 mil laut dari muka air rendah, atau 44.448 m.

Untuk batas laut teritorial akan dilakukan delineasi secara numerik dengan metode Vincenty.

Hasil batas laut dengan metode Vincenty untuk batas dengan garis pangkal kepulauan dapat dilihat pada tabel 3.6.

Tabel 3.6 Delineasi batas laut zona tambahan dengan T. Vincenty

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 44.448 264 14 10,6231 1 21 53,64 96 39 47,52 TD. 167 01 12 47 97 04 48 44.448 264 14 10,6231 1 10 21,72 96 40 57,72 TD. 167 01 12 47 97 04 48 44.448 239 28 46,4465 1 0 32,04 96 44 9,60

(12)

III - 12

TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 44.448 239 28 46,4465 -0 16 19,92 97 29 28,68

III.2. 3. Batas Laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

Batas laut zona ekonomi eksklusif menurut UNCLOS ditentukan dengan menarik garis batas sejauh 200 mil laut dari muka air rendah, atau 370.400 m.

Untuk delineasi batas laut zona ekonomi eksklusif dilakukan dengan metode T. Vincenty, yaitu penentuan posisi untuk jarak menengah sampai jauh.

Hasil batas laut dengan metode T. Vincenty untuk batas dengan garis pangkal kepulauan dapat dilihat pada tabel 3.7.

Tabel 3.7 Delineasi batas laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 370.400 264 14 10,6231 1 4 0,12 93 44 58,20 TD. 167 01 12 47 97 04 48 370.400 264 14 10,6231 0 52 29,28 93 46 8,76 TD. 167 01 12 47 97 04 48 370.400 239 28 46,4465 -0 29 20,04 94 12 50,40 TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 370.400 239 28 46,4465 -1 46 6.24 94 58 4,8

III.2. 4. Batas Laut Landas Kontinen

Batas laut landas kontinen menurut UNCLOS ditentukan dengan menarik garis batas maksimal sejauh 350 mil laut dari muka air rendah, atau 648.200 m.

Delineasi batas laut landas kontinen dapat dilakukan dengan dua aspek, yaitu dengan melakukan survei geologis dulu untuk mendapat data sedimentasi dan juga dari aspek geodetis dengan menarik garis batas sejauh 648.200 m.

Untuk delineasi batas laut zona ekonomi eksklusif dilakukan dengan metode T. Vincenty, yaitu penentuan posisi untuk jarak menengah sampai jauh.

(13)

III - 13 Hasil batas laut landas kontinen dengan metode T. Vincenty untuk batas dengan garis pangkal kepulauan dapat dilihat pada tabel 3.8.

Tabel 3.8 Delineasi batas laut landas kontinen

Koordinat Awal Koordinat Batas

No. Titik Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) Jarak (m) Sudut Jurusan (...o...’...”) Lintang (...o...’...”) Bujur (...o...’...”) TD. 168 01 24 19 97 03 38 648.200 264 14 10,6231 0 48 37,44 91 15 59,76 TD. 167 01 12 47 97 04 48 648.200 264 14 10,6231 0 37 8,76 91 17 10,68 TD. 167 01 12 47 97 04 48 648.200 239 28 46,4465 -1 45 53,28 92 3 49,68 TD. 164 - 00 04 05 97 50 07 648.200 239 28 46,4465 -3 2 27.6 92 48 51.84

Gambar

Gambar 3. 3 Hasil pendekatan dengan lingkaran berpusat di titik terluar
Gambar 3.4  Lingkaran yang digelindingkan pada titik-titik terluar muka air rendah
Tabel 3.2  Daftar koordinat batas laut zona tambahan dengan metode grafik  dengan titik dasar dari PP No
Tabel 3.4  Daftar koordinat batas laut landasan kontinen dengan metode grafik  dengan titik dasar dari PP No
+4

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi, gambar Allah juga harus dipahami sebagai keserupaan dengan Allah yang telah diselewengkan ketika manusia jatuh ke dalam dosa, dan.. sekarang terus-menerus dipulihkan

Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa hordeolum internum merupakan infeksi pada kelenjar Meibom sehingga ia bertumbuh ke arah konjungtiva tarsal dan

Uji kompatibilitas perlu dilakukan mengingat kemampuan yang dimiliki oleh PGPR dan PGPF tersebut sangat prospektif sehingga kedua jenis mikroorganisme yang mempunyai kemampuan

Dalam konteks ini Banten masih memiliki peninggalan budaya inheren dengan keyakinan atau kepercayaan yang bersifat transedental, yaitu masih terpeliharanya komunitas

Dari Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa relevansi antara arah kebijakan pengembangan ristek dengan sebaran jumlah jurusan atau program keahlian yang tertinggi dipresentasikan oleh

Untuk itu dalam strategi siber polri yang dilakukan harus bertujuan untuk;.

HAMBATAN GURU DAN PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKn) DENGAN DITERAPKANNYA KURIKULUM 2013 DI SMP NEGERI 8 YOGYAKARTA.. Anang

Untuk mendukung pembangunan, strategi kebijakan karantina ikan perlu dilakukan secara terarah dan berkesinambungan serta mengintergrasikan prinsip pembangunan