• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PERFORMANSI KENDARAAN MULTIGUNA PEDESAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI PERFORMANSI KENDARAAN MULTIGUNA PEDESAAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI PERFORMANSI KENDARAAN MULTIGUNA PEDESAAN

Yohanesdan Agus Sigit Pramono Laboratorium Otomotif

Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Sukolilo, Surabaya

Telepon 0856 5521 7285

e-Mail: [email protected]

Disajikan 29-30 Nop 2012

ABSTRAK

Kendaraan multiguna pedesaan adalah kendaraan yang selain untuk mengangkut penumpang, juga bisa digunakan untuk berdagang dan mengolah hasil pertanian. Dengan disain unik sistem transmisi dan berbagai tipe box yang bisa diganti dengan mudah maka kendaraan ini bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan orang desa. Analisa keseluruhan pada kendaraan multi- guna rancangan mula yang meliputi komponen penunjang kinerja, kekuatan, keselamatan, dan kenyamanan telah dilakukan.

Sistem transmisi multiguna yang digunakan untuk lintasan on-road, off-road, dan keperluan produksi telah ditentukan rasio optimalnya. Chassis yang menopang bodi multiguna telah dianalisa kekuatannya terhadap beban statik dan tabrakan. Sistem kemudi telah dianalisa untuk kondisi Ackerman, steering error dan perbaikannya. Jarak pengereman dan distribusi gayanya telah dihitung untuk kondisi aktual dan ideal pada kondisi kosong maupun beban penuh. Kinerja sistem suspensi untuk menun- jang kenyamanan dan kestabilan kendaraan pada jalan bergelombang, saat pengereman dan berbelok telah dianalisa. Analisa ergonomi kabin untuk menghindari cidera dan meningkatkan kenyamanan telah dilakukan beserta saran perbaikannya. Secara keseluruhan disimpulkan bahwa memungkinkan untuk mengembangkan kendaraan multiguna dari rancangan awal yang telah ada dengan berbagai perubahan dan tambahan. Pengurangan berat dan peningkatan daya engine perlu diteliti lebih lanjut untuk meningkatkan kinerja kendaraan secara keseluruhan.

Kata Kunci: Kendaraan multiguna, transmisi multiguna, chassis, ergonomi kabin

I. PENDAHULUAN

Beragamnya kebutuhan terhadap alat transportasi produktif yang terjangkau oleh masyarakat pedesaan melahirkan banyak ide kreatif untuk melakukan mod- ifikasi kendaraan. Mobil yang berfungsi utama se- bagai alat trans-portasi dimodifikasi menjadi mobil toko hingga kendaraan perontok dan penggiling padi (GAMBAR1). Namun, modifikasi tersebut menghi- langkan fungsi utama kendaraan sebagai alat angkut penumpang dan barang. Rancangan tersebut juga belum dikaji kelayakannya dari sisi kinerja, kesela- matan, dan kenyamanan. Oleh karena itu, perlu diran- cang sebuah kendaraan multiguna yang mampu men- dukung produktifitas masyarakat desa dengan harga terjangkau, namun memenuhi standar kelayakan alat transportasi.

Bekerjasama dengan mitra industri, pada penelitian ini akan dibuat sebuah prototype kendaraan multi- guna dengan rancangan dasar adalah mobil pick-up berpenggerak 650 cc. Pengembangan utama yang di- lakukan adalah modifikasi chassis dan bodi belakang sehingga memudahkan penggantian bodi belakang

sesuai peruntukannya (GAMBAR2). Sistem transmisi multiguna juga dirancang untuk menyalurkan torsi dan putaran sesuai peruntukannya. Untuk fungsi trans- portasi, torsi besar diperlukan pada lintasan off-road se- dangkan kelajuan maksimal dan konsumsi bahan bakar yang irit diperlukan pada lintasan on-road.[1–3] Lebih dari itu, untuk fungsi produksi, sistem transmisi multi- guna ini juga bisa mengalihkan aliran daya dan putaran

GAMBAR1: Mobil gerandong.

(2)

dari gearbox ke mesin atau peralatan yang dipasang pada kendaraan.[4]Pengembangan lain yang dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan kendaraan adalah;

sistem kemudi, sistem pengereman, sistem suspensi, dan interior kabin.[5–8]

(a)

(b)

GAMBAR 2: Mobil multiguna, (a) Mode transportasi, (b) mode produksi.

Pada tahun pertama, penelitian difokuskan untuk menganalisa kinerja dan karakteristik kendaraan ran- cangan mula serta menentukan saran perbaikan. Ran- cangan perbaikan, pembuatan prototype baru dan pengujiannya akan dilakukan pada tahun kedua dan ketiga. Analisa dilakukan dengan pemodelan matema- tis, perhitungan numerik, pengujian/eksperimen, serta pemodel-an finite element. Saran perbaikan diten- tukan dengan membandingkan hasil analisa kinerja dan karakter kendaraan terhadap standar dan regulasi yang berlaku.

II. METODOLOGI

Analisa kendaraan dimulai dari sistem penggerak (drive train) meliputi; kelajuan maksimum, kemam- puan tanjak maksimum, dan konsumsi bahan bakar.

Persamaan gerak kendaraan arah longitudinal (GAM-

BAR3) beserta data pengukuran kinerja engine digu- nakan untuk menentukan kinerja sistem transmisi. Pe- rubahan kelajuan maksimum dan konsumsi bahan bakar terhadap variasi rasio final drive dianalisa un-

tuk menentukan rasio transmisi multiguna pada kon- disi on-road dan off-road.

Chassis kendaraan berfungsi untuk menopang beban statis dan dinamis sekaligus melindungi penumpang saat tabrakan. Dari data geometri chassis serta distribusi beban komponen dan muatan, dibuat model finite element chassis dengan jenis elemen shell. Untuk analisa kekuatan terhadap beban statis, Chassis ditumpu pada dudukan suspensi dengan jenis tumpuan engsel dan dibebani oleh berat komponen dan muatan yang ditopangnya. Hasil simulasi numerik berupa tegangan dan defleksi akan dianalisa. Untuk analisa tabrakan, chassis ditabrakkan ke tembok beton padat dengan kecepatan mula 48,3 km/jam sesuai standar MVSS 204. Pergeseran kolom kemudi dihitung dan dibandingkan dengan standar ijin maksimal 127 mm ke arah pengemudi.

Sistem kemudi akan dianalisa untuk kondisi belok Ackerman. Kinematika sistem kemudi rack-pinion di- modelkan secara matematis untuk menentukan posisi dan ukuran yang tepat sehingga steering error bisa di- minimalkan.

Gaya pengereman aktual dan distribusinya pada tiap poros serta jarak pengereman dihitung berdasar kan gaya pedal yang dialirkan ke rem depan dan be- lakang. Hasilnya dibandingkan dengan kondisi ideal

GAMBAR3: Diagram gaya kendaraan.

(3)

GAMBAR4: Daya dorong roda penggerak tiap tingkat gearbox.

yang diperoleh dari perhitungan menggunakan per- samaan gerak longitudinal kendaraan.

Kinerja sistem suspensi dianalisa untuk gerak bounc- ing, pitching, dan rolling kendaraan akibat profil lin- tasan, pengereman, dan kondisi belok. Hasil ini diper- oleh dari perhitungan numerik yang didasarkan pada persamaan gerak kendaraan dengan model full car.

Parameter sistem suspensi diperoleh dari pengujian.

Hasil analisa digunakan untuk menentukan kelayak-an struktur sistem suspensi kendaraan.

Ergonomis dari rancangan kabin kendaraan disim- ulasikan dengan software RULA-CATIA. Digunakan lima responden dengan postur tubuh yang berbeda un- tuk uji cedera tubuh pengemudi dan penumpang. Po- sisi tubuh tiap responden diukur untuk posisi menge-

GAMBAR5: Gaya dorong dan kecepatan kendaraan.

mudi, memindahkan tuas gearbox, tuas handbrake serta posisi penumpang. Hasil analisa digunakan seba- gai dasar perbaikan ergonomi kabin dengan beberapa alternatif perbaikan.

Data spesifikasi kendaraan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Dimensi keseluruhan

Wheelbase (L), m 2550

Trackwidth (t), m 1550

Beban

Massa muatan penuh (Wl), kg 1500

Massa skosong (W0), kg 910

Transmisi

Rasio clutch (is) 1,6

Rasio gearbox

gigi ke-1 4:1

gigi ke-2 2,8:1

gigi ke-3 1,8:1

gigi ke-4 1:1

Rasio final drive (iE) 4,9:1 Jejari dinamis roda (rdyn), m 0,27 Kemudi

Panjang tie-rod (Lt), m 0,365 Panjang steering arm (La) 0,126 Jarak rack ke sumbu roda (hs), m 0,147 Jarak sumbu steering arm (Wr),m 0,129

Panjang rack (Lr), m 0,645

Rem

Jarak pedal-tumpuan (a), m 0,28 Jarak push rod-tumpuan (b), m 0,09 Diameter master silinder (dm), m 0,03 Diameter piston kaliper (dc), m 0,05 Diameter rotor disk (dr), m 0,23 Diameter wheel silinder (dw), m 0,0225 Diameter tromol silinder (db), m 0,24 Lebar kanvas rem tromol (wb), m 0,04 Jarak wheel silinder-tumpuan (lw), m 0,17

Sudut rem 1 (θ1), deg 20

Sudut rem 2 (θ2), deg 110

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Daya pada roda penggerak hasil pengujian meng- gunakan chassis dynamometer untuk tiap rasio trans- misi seperti ditunjukkan padaGAMBAR4. Daya dorong tersebut dikonversikan menjadi gaya dorong untuk tiap tingkat transmisi seperti ditunjukkan oleh GAM-

BAR5. Dari grafik gaya dorong dengan sistem transmisi mula, kendaraan memiliki kemampuan tanjak maksi- mum hingga 50% atau 45dan kelajuan maksimum 70 km/jam untuk kondisi tanpa muatan. Dari grafik ke- cepatan diketahui bahwa rasio transmisi bersifat pro- gresif dengan rentang kelajuan yang lebih lebar pada top gear. Dengan lebih banyak beroperasi pada top gear, konsumsi bahan bakar akan lebih irit dan awet.

(4)

Konsumsi bahan bakar pada top gear dapat dilihat padaGAMBAR6.

Konsumsi bahan bakar yang paling irit diperoleh pada rentang kelajuan 40 - 50 km/jam sebesar 1,4 liter per 25 kilometer jarak tempuh. Jika rasio final drive diperkecil hingga 3,6 maka kelajuan maksimal dapat ditingkatkan menjadi 80 km/jam dan konsumsi bahan bakar dapat lebih irit hingga 0,8 liter per 25 kilometer jarak tempuh pada rentang kelajuan 50-70 km/jam (GAMBAR7). Rasio final drive yang lebih ren- dah akan mengurangi kemampuan tanjak kendaraan menjadi 30% (GAMBAR8).

Dari simulasi chassis untuk beban statis, seperti di- tunjukkan gambar 9, diperoleh distribusi deformasi dan tegangan. Defleksi maksimum pada bagian dudukan engine sangat kecil, kurang dari 1 mm. Defleksi ini tidak akan berpengaruh pada kinerja sistem penggerak.

Tegangan maksimum terjadi pada dudukan bodi de- pan sebesar 232,5 MPa sehingga masih aman. Namun, bagian ini harus diperkuat untuk mengatasi transfer load ke depan akibat pengereman atau lintasan menu- run. Sedangkan, rangka chassis secara keseluruhan terlampau kuat sehingga memungkinkan pengurangan berat chassis tanpa mengalami kegagalan.

Dari hasil simulasi tabrakan, seperti ditunjukkan pada gambar 10, deformasi maksimum terjadi di ujung depan sebesar 24 mm sedangkan pergeseran posisi kolom kemudi hanya 10 mm. Dengan demikian, struktur chassis ini sangat kaku sehingga energi tum- bukan yang diserap kecil dan energi tumbukan yang diteruskan ke penumpang lebih besar.

Dari analisa sistem kemudi diketahui bahwa steering error terhadap kondisi Ackerman masih besar seperti

GAMBAR6: Kinerja top gear.

(a)

(b)

GAMBAR7: Pengaruh rasio final drive terhadap; (a) kelajuan mak- simum, (b) konsumsi bahan bakar

ditunjukkan olehGAMBAR11. Untuk memperbaiki kon- disi ini posisi rack harus digeser 7 cm di belakang sumbu roda serta merubah panjang steering arm men- jadi 12,5 cm, seperti ditunjukkan pada GAMBAR12dan GAMBAR13.

Dari perhitungan sistem pengereman diketahui dis- tribusi gaya pengereman aktual kendaraan adalah 80%

di poros depan dan 20% di poros belakang. Untuk menghasilkan pengereman yang baik, distribusi terse- but seharusnya 58% di poros depan dan 42% di poros belakang untuk kondisi tanpa muatan, serta 32% di poros depan 62% di poros belakang ketika bermuatan penuh. Perbedaan menunjukkan bahwa sistem pen- gereman yang ada tidak baik karena roda depan cen- derung lock terlebih dahulu. Akibatnya, jarak pengere-

(5)

GAMBAR8: Grafik traksi dan kelajuan dengan rasio final drive 3,6.

man bertambah panjang seperti ditunjukkanTABEL1.

(a)

(b)

GAMBAR9: Distribusi deformasi dan tegangan akibat beban statis.

GAMBAR10: Deformasi akibat tabrakan.

GAMBAR11: Steering error.

TABEL1: Jarak pengereman (m)

Kelajuan Ideal Aktual

(km/jam) Kosong Penuh Kosong Penuh

40 13,32 13,37 11,12 22,59

60 27,25 27,49 22,4 48,02

80 45,65 46,4 37,25 82,27

Dari hasil pengujian dan simulasi sistem suspensi diperoleh hasil bahwa, dengan kekakuan pegas depan 10 kN/m dan pegas belakang 15 kN/m serta konstanta peredam 1,3 N-s/m, kendaraan mengalami percepatan vertikal lebih besar dari ISO 2631-1: 1997 (GAMBAR14).

Analisa kestabilan kendaraan pada berbagai kondisi dapat dilihat padaTABEL2. Sudut pitching dan rolling

(6)

GAMBAR12: Pengaruh pergeseran jarak rack terhadap error.

GAMBAR13: Pengaruh panjang steering arm terhadap error.

GAMBAR14: Percepatan vertikal dalam domain frekuensi.

sangat besar saat kondisi pengereman dan belok men- jadikan kendaraan tidak stabil dan dapat merusak sis- tem suspensi.

Dari analisa RULA untuk ergonomi kabin dengan parameter resiko cedera tubuh diperoleh hasil bahwa rancangan mula masih memiliki resiko cidera yang

TABEL2: Tabel kestabilan kendaraan () Kondisi Pitching Rolling Profil lintasan 6 6,5

Pengereman 35 0

Berbelok 5,5 16

(a)

(b)

GAMBAR15: Analisa cidera tubuh dan perbaikannya.

tinggi untuk posisi mengemudi dan pemindahan tuas handbrake sehingga diperlukan perbaikan seperti di- tunjukkan oleh GAMBAR15. Lebih dari itu, untuk me- nunjang kenyamanan dan menghindari resiko cidera tubuh pada pengemudi dan penumpang dilakukan pe- rubahan kabin dengan dua alternatif seperti ditunjuk- kan padaGAMBAR15.

IV. KESIMPULAN

Analisa rancangan mula kendaraan multiguna pedesaan telah dilakukan pada setiap bagian pen- ting yang menunjang kinerja, keselamatan, dan kenyamanan dengan disertai saran perbaikannya.

Rancangan mula ini memungkinkan untuk digunakan sebagai dasar pengembangan kendaraan multiguna.

Dengan mengurangi berat kendaraan dan meningkat- kan daya engine, kinerja kendaraan multiguna akan menjadi lebih baik. Demikian halnya, jika interior kabin diperbaiki ergonominya, kendaraan multiguna ini akan menjadi kendaraan pedesaan yang aman dan nyaman bagi pengendara dan penumpang.

(7)

(a)

(b)

GAMBAR16: Alternatif perbaikan kabin

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami mengucapkan terimakasih kepada Kemenris- tek atas dukungan dana dan motivasi sehingga terlak- sananya penelitian ini. Juga kepada PT. INKA dan VEDC sebagai anggota konsersium atas bantuan dan kerjasamanya dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Sutantra, I.N., (2011), Teknologi Otomotif, Guna Widya, Surabaya.

[2] Bosch, R., (2011), Automotive Handbook 8th edi- tion, SAE, New York.

[3] Naunheimer, H., (2011), Automotive Transmission 2nd edition, Springer, New York.

[4] Yohanes, Sutantra, I.N., Wasiwitono, U., (2012), Sistem Transmisi Multiguna untuk Meningkat- kan Kinerja dan Mengurangi Konsumsi Bahan Bakar pada Kendaraan Multiguna Pedesaan 650cc, SNTTM XI, Jogjakarta.

[5] Wasiwitono, U., Pramono, A.S., Yohanes, (2012), Kinematic Analysis of Rack and Pinion Steering System of Rural Multi Purpose Vehicle, SNTTM XI, Jogjakarta.

[6] Guntur, H.L., (2012), Evaluasi Kinerja Sistem Rem pada Mobil Pick Up Berdaya Angkut 1000 kg Pro- duksi PT. INKA, SNTTM XI, Jogjakarta.

[7] Arief, (2012), Analisa Kinerja Sistem Suspensi Kendaraan Multiguna Pedesaan, Jurnal IPTEK, Surabaya.

[8] Batan, IML., (2012), Perancangan Kabin Mobil Pick Up yang Ergonomis dalam Rangka Pengem- bangan Mobil Murah Pedesaan, SNTTM XI, Jog- jakarta.

Referensi

Dokumen terkait