• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEPSI PENGASUHAN BERSAMA TERHADAP HAK ASUH ANAK DI BAWAH UMUR ( ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA GEDONG TATAAN NO 0334/PDT.G/2019/PA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSEPSI PENGASUHAN BERSAMA TERHADAP HAK ASUH ANAK DI BAWAH UMUR ( ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA GEDONG TATAAN NO 0334/PDT.G/2019/PA."

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh

MUHAMMAD AWALUDDIN JAUHAR NIM :11160440000049

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1442 H/2021 M

(2)

i

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh

MUHAMMAD AWALUDDIN JAUHAR NIM: 11160440000049

Pembimbing:

Dr. Kamarusdiana, M.H.

NIP. 19720224199810031003

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1442 H/2021 M

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

ABSTRAK

Muhammad Awaluddin Jauhar Nim 11160440000049. KONSEPSI PENGASUHAN BERSAMA TERHADAP HAK ASUH ANAK DI BAWAH UMUR ( ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA GEDONG TATAAN NO 0334/PDT.G/2019/PA.GDT). Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1442 H/2021 M

Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan tentang konsepsi pengasuhan bersama terhadap hak asuh anak di bawah umur tentang konsepsi pengasuhan anak pasca perceraian terhadap anak dibawah umur dalam putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan Nomor 0334/pdt.g/2019/PA.Gdt.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya. dengan pendekatan yuridis normatif.

Sumber data yaitu putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan Nomor 0334/pdt.g/2019/PA.Gdt dan melakukan kajian terhadap literatur-literatur, peraturan perundang-undangan, artikel dan jurnal hukum.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hakim dalam mempertimbangkan hak asuh anak dalam perkara Nomor 0334/pdt.g/2019/PA.Gdt. yaitu memberikan putusan berupa hak asuh anak bersama dengan pertimbangan kepentingan terbaik bagi anak, pengasuhan tidak semata-mata hanya diarahkan pada pengasuhan terpisah (split parenting, split custody) melainkan pada konsepsi pengasuhan bersama (shared parenting, joint custody). Meskipun dalam Hukum Islam hak asuh anak di bawah umur berada di tangan ibunya.

Kata Kunci: Hadhanah, Pengasuhan Bersama, Hak Asuh Anak Di Bawah Umur Pembimbing : Dr. Kamarusdiana, M.H.

Daftar Pustaka : 1975-2019

(6)

v

PEDOMAN TRANSLITERASI

Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini digunakan untuk beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata dalam bahasa Indonesia atau lingkup penggunaannya masih terbatas.

a. Padanan Aksara

Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:

Arab Latin Arab Latin

A Th

B Zh

T ع

Ts Gh

J F

H Q

Kh K

D L

Dz M

R N

Z W

S H

Sy ء

ص Sh Y

Dl

b. Vokal

Dalam Bahasa Arab, Vokal sama seperti Bahasa Indonesia, memiliki vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong). Untuk vokal tunggal, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut.

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin

ﹷ a

(Fathah)

ﹻ i

(7)

vi

(Kasrah)

ﹹ u

(Dhammah) c. Vokal Panjang (madd) dan Vokal Rangkap (Diftong)

Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, sedangkan ketentuan alih aksara vokal rangkap atau diftong, dilambagkan dengan ketentuan alih aksaranya sebagai berikut.

Arab Latin Arab Latin

آ â (a panjang) و ا َ Aw

اي î (i panjang) ي ا َ Ay

اُو û (u panjang) d. Kata Sandang

Kata sandang, dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qamariyyah, misalnya:

داهتجلإا = al-ijtihâd

ةصخرلا = al-rukhshah, bukan ar-rukhsah e. Tasydid (Syaddah)

Dalam alih aksara, tasydid atau syaddah dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:

ةعفشلا = al- syuf’ah, tidak ditulis asy-syuf’ah

f. Ta Marbûthah

(8)

vii

Jika Ta Marbuthah terdapat pada kata yang berdiri sendiri atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka Ta Marbuthah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika Ta Marbuthah diikuti dengan kata benda (ism) maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t” (te). Misalkan:

No Kata Arab Alih Aksara

1 ةعيرش Syarî’ah

2 ةّيملاسلإا ةعيرشلا Al-Syarî’ah Al-Islâmiyyah 3 بهاذملا ةنراقم Muqâranat al-madzâhib

g. Ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Disempurnakan (EYD). Perlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh: يراخبلا = al-Bukhâri, tidak ditulis Al-Bukhâri.

Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal.

Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kata nama tersebut berasal dari bahasa Arab. Misalnya: Nuruddin al-Raniri, tidak ditulis Nûr al-Din al-Rânîri.

h. Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas.

No Kata Arab Alih Aksara

(9)

viii

1 تاروظحملا حيبت ةرورضلا al-dharûrah tubîhu al-mahdzûrat 2 ي ملاسلإا داصتقلاا al-iqtishad al-islâmî

3 هقفلا لوصأ ushûl al-fiqh

4 ة حابلإا ءايشلأا يف لصلأا al-ashl fî al-asyyâ` al-ibâhah

4 ةلسرملا ةحلصملا al-mashlahah al-mursalah

(10)

ix

Kata Pengantar مي ِحهرلا ِن مْحهرلا ِ هاللَّ ِمْسِب Assalâmu’alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhânahu Wa Ta’alâ, karena dengan rahmat dan karunia serta taufik dan hidayah- Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Konsepsi Pengasuhan Bersama Terhadap Hak Asuh Anak Di Bawah Umur ( Analisis Putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan No 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt)”. Demikian pula, shalawat dan salam penulis peruntukkan kepada Baginda Nabi Muhammad Shallâllâhu ’Alaihi Wa Sallam, tidak lupa kepada sahabat, tabiin, tabi’ut tabiin dan seluruh ahlulbait di dunia dan akhirat.

Dengan selesainya penyusunan skripsi yang penulis buat, penulis patut menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak. Karena sedikit atau banyaknya bantuan mereka, menjadikan penulis mewujudkan skripsi ini.

Berkenaan dengan itu, ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya, khususnya untuk yang teristimewa kedua Orang tua yang sangat penulis cintai dan sayangi dan yang menyayangi penulis tanpa batas, Bapak tercinta Ihwan Djayanto S.e. M.M. dan Ibu tercinta Sri Harnita S.Ag. yang senantiasa mendoakan penulis tanpa berhenti, yang memberi semangat dan kasih sayang tanpa ujung, yang telah mengorbankan tenaga dan waktunya untuk mendidik dan membimbing, membesarkan, dan memberikan pendidikan yang tinggi kepada penulis, sehingga kedua orang tua penulis mampu untuk senantiasa menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan dan penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, sungguh pegorbanan yang tak akan pernah mampu penulis balas.

Juga kepada adik-adik penulis yaitu Mufida Ainani Jauhar, Mardiya

Amalia Jauhar dan Jauhar Abdan Syakura yang senantiasa memberi dorongan

moral untuk menyuntik semangat penulis dalam menyelesaikan skripsi ini,

kemudian untuk nenek tercinta Rohani yang tidak bosan memberikan penulis

semangat dan tempat bercerita. Kemudian Keluarga Besar Narsun Efendi dan

Keluarga Besar Rohani yang senantiasa memberi doa dan harapan yang sangat baik

(11)

x

kepada penulis, dan tak lupa juga ucapan terima kasih yang sebesar-besarnyaa penulis sampaikan kepada:

1. Prof. Dr. Amany B. Lubis, Lc., M.A., selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.

2. Dr. Tholabi Kharlie, M.A. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.

3. Dr. Mesraini, M.Ag., dan Ahmad Chairul Hadi, M.A. Beliau adalah panutan kami Sebagai Ketua dan Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga yang telah memberikan perhatian, nasihat, pembinaan, arahan, dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis selama ini.

4. Dr. Kamarusdiana, MH. selaku dosen pembimbing penulis yang dengan sabar dan tulus meluangkan waktunya untuk memberi bimbingan, koreksi, mendidik, nasihat, dan arahan yang sangat membantu penulis dalam penulisan menyelesaikan skripsi ini.

5. Sri Hidayati. M.Ag. selaku dosen penasehat akademik yang membimbing dan memberikan arahan hingga akhir semester.

6. Seluruh Staf Pengajar/Para Dosen dan jajaran Kepala Bagian Umum, khususnya di lingkungan Program Studi Hukum Keluarga dan umumnnya lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membimbing, mengarahkan, menasehati, dan memberikan ilmu-ilmu dalam perkuliahan sehingga penulis mampu di penghujung perkuliahan untuk menulis skripsi ini.

7. Kepada Keluarga Besar Hukum Keluarga 2016, Teman-teman seperjuangan Irmas Nurul Hilal, Dan Himpuran Qori dan Qoriah Mahasiswa (HIQMA) Angkatan 2017, Unit Kuy Mahasiswa (UKM), Qola HK B 2016, Pengurus HMPS Hukum Keluarga 2018-2020, Teman-Teman KKN Cakrawala, Keluarga besar IKPDN Jakarta, Darunnajah Angkatan 39, dan Keluarga besar Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (HMI Komfaksy), Lapenmi Ciputat.

Semua Wadah tempat penulis berhimpun dan berproses selama menjadi

mahasiswa Terima kasih atas pengalaman dan suka cita.

(12)

xi

8. Kepada para sahabat penulis yang saya cintai dan banggakan yaitu Syafiq Ramdhani, Galih Nata permana, Rian Ilham, dan Zikrul Alfa, Reza Fahriansyah, Omen, Zedung, Faiq, Imaddudin, Saogi, Naufal, Ulul, yang senantiasa mengingatkan, berbagi, saling membantu penulis dalam kehidupan kampus. Susah, senang, dan canda-bahagia yang senantiasa membumbui kebersamaan kita.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah memotivasi dan memberi inspirasi untuk mecapai suatu cita-cita, dan yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, baik moril maupun materil, tidak ada yang penulis berikan untuk jasa-jasa kalian kecuali dengan ucapan doa dan terima kasih yang dapat penulis haturkan semoga segala bantuan tersebut dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda aamiin.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam skripsi ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap adanya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi yang penulis uat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa adanya kritik dan saran yang membangun.

Maka akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat dipahami oleh siapa pun yang membacanya, sekiranya dalam skripsi ini berguna bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan semoga segala bantuan dan dorongan yang diberikan kepada penulis selama ini, mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah Subhânahu Wa Ta’alâ. Âmîn yâ rabbal ‘âlamîn

Wassalâmu’alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh

(13)

xii

Jakarta, 26 April 2021

Muhammad Awaluddin Jauhar

Penulis

(14)

xiii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... i

PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

PEDOMAN TRANSLITERASI.... ... v

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI. ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Batasan dan Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1. Tujuan Penelitian ... 6

2. Manfaat Penelitian ... 6

E. Review Studi Terdahulu ... 7

F. Metode Penelitian ... 10

1. Jenis Penelitian ... 10

2. Sumber Data ... 10

3. Teknik Pengumpulan Data ... 11

4. Analisis Data ... 11

5. Teknik Penulisan ... 11

G. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II PENGASUHAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF ... 13

A. Pengasuhan Anak Dalam Perspektif Hukum Islam ... 13

B. Pengasuhan Anak Dalam Perspektif Hukum Positif ... 30

C. Konsep Joint Custody System (Hak Asuh Bersama) ... 35

BAB III DESKRIPSI PERKARA PUTUSAN NOMOR

(15)

xiv

0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt ... 38

A. Kronologi Perkara ... 38

B. Pertimbangan Hakim ... 48

C. Amar Putusan ... 51

BAB IV ANALISIS KASUS HADHANAH KONSEPSI PENGASUHAN BERSAMA TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR PUTUSAN NOMOR 0334/PDT.G/2019/PA.GDT...53

A. Analisis Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Perkara Hadhanah Putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan Nomor 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt ... 53

B. Analisis Hukum Terhadap Konsepsi Pengasuhan Bersama Anak Di Bawah Umur (Shared Parenting/Joint Custody) Dalam Hukum Islam ... 59

BAB V PENUTUP ... 62

A. Kesimpulan ... 62

B. Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada tahun 2018 Pengadilan Agama Gedong Tataan telah menerima 56 perkara yang terdiri dari 44 perkara cerai gugat, 11 perkara cerai talak dan 1 perkara dispensasi nikah, kemudian pada tahun 2019 Pengadilan Agama Gedong tataan memutus perkara sebanyak 683 termasuk perkara hadhanah sebanyak 2 perkara. Sehingga sisa perkara yang belum diputus sebanyak 22 perkara. Pada tahun 2020 keseluruhan perkara yang ditangi di Pengadilan Gedong Tataan pada tahun 2020 sebanyak 688 perkara, yaitu 22 perkara sisa tahun sebelumnya dan 666 perkara di terima tahun 2020.

Keseluruhan perkara tersebut telah diselesaikan sebanyak 671 perkara.

1

Fitrah yang Allah ciptakan atas manusia adalah mengharuskan adanya hubungan dan pertemuan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka menjaga kelangsungan hidup manusia di bumi sebagai khalifah, yang bertugas memakmurkan bumi dengan segala potensi yang dimiliki.

Manusia memerlukan kestabilan dan ketenangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga untuk saling membantu meringankan beban dan penderitaan hidup dan saling merasakan cinta dan kasih sayang, maka Allah SWT mensyariatkan untuk laki-laki dan perempuan untuk membangun rumah tangga di dalam sebuah perkawinan.

2

Idealnya perkawinan diharapkan dapat bertahan seumur hidup.

Maksudnya, putusnya perkawinan akan terjadi apabila salah seorang suami atau istri meninggal dunia. Namun tidak selamanya pasangan suami istri mengalami kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah seperti yang diajarkan dalam Islam, karena dalam kehidupan berumah tangga bisa saja terjadi konflik yang sangat tajam sehingga terjadi

1 Laporan Pelaksanaan Kegiatan Pengadilan Agama Gedong Tataan Tahun 2018,2019,2020

2 Arij’ Abdurahman As-Sanan, “Memahami Keadilan Dalam Poligami”, Cetakan I, PT.

Global Cipta Publishing, Jakarta, 2003, h. 21-22.

(17)

krisis hubungan suami istri, yang disebabkan karena percekcokan yang terus menerus dan karena itu tidak mungkin mereka akan hidup rukun seperti biasanya.

3

Perkawinan yang tidak harmonis keadaannya, tidak baik dibiarkan berlarut- larut, sehingga demi kepentingan kedua belah pihak suami-istri, perkawinan yang demikian diputus cerai.

4

Diharapkan perceraian hanya dapat dilakukan sebagai tindakan terakhir setelah usaha dan segala daya upaya yang telah dilakukan guna memperbaiki kehidupan perkawinannya, sudah tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh.

5

Putusnya suatu perkawinan akibat perceraian sebisa mungkin hanya sebagai pintu darurat yang dilakukan, jika perceraian menjadi jalan terakhir maka sepatutnya proses-proses perdamaian telah dilakukan dengan baik oleh inisiatif Pasangan tersebut maupun oleh usaha keluarga atau juru damai maupun yang selalu diupayakan oleh Hakim di Pengadilan sebelum bersidang, hendaklah upaya damai tersebut menjadi pertimbangan yang memang harus diresapi oleh pihak yang ingin bercerai.

6

Perceraian lebih baik daripada tetap dalam ikatan perkawinan tetapi tidak tercapai kebahagiaan dan selalu ada dalam penderitaan.

7

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan beberapa alasan yang dapat dijadikan sebagai alasan perceraian, yaitu:

1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat,

3 Tahir Azhary, “Analisis Yurisprudensi: Tentang Perceraian (Karena Melanggar Taklik Thalaq)”, Yayasan Al-Hikmah dan Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam

Departemen Agama, Jakarta, 1995, h. 203

4 Martiman Proadjohamid, “Hukum Perkawinan Indonesia”, Cv Karya Gemilang, Jakarta, 2011, h.1

5 Jamil Latif, “Aneka Hukum Perceraian”, Cetakan II, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982, h.30

6 Diana Yulita Sari, Skripsi, “Hak Asuh Anak Di Bawah Umur Akibat Perceraian Menurut Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Analisis Putusan Perkara Mahkamah Agung Nomor 349/K/AG/2006)”, Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, 2010, h.2

7 Syamsul Muadzib, Skripsi, “Analisis Hukum Islam Terhap Pertimbangan Hukum Hakim Tentang Pelimpahan Hak Asuh Anak Di Bawah Umur Kepada Bapak Karena Istri Mafqud”, Surabaya, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2019, h.2

(18)

pejudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau hal lain di luar kemampuannya.

3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.

5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami istri.

6. Antara suami atau istri terus menerus terjadi perselisihan dan tidak ada harapan untuk rukun lagi dalam rumah tangga.

8

Penceraian mengakibatkan anak menjadi korban. Anak merupakan harta yang paling berharga bagi setiap orang tua dan merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat oleh setiap orang tua. Baik ayah maupun ibu, keduanya pasti ingin bersama-sama merawat dan membesarkan anaknya. Namun, penceraian mengakibatkan orang tua tidak mampu menjaga dan berusaha memperebutkan anaknya. Para ulama menetapkan bahwa pemeliharaan anak itu hukumnya wajib, kewajiban membiayai anak yang masih kecil bukan hanya berlaku selama ayah dan ibu masih terikat dalam ikatan perkawinan saja, namun juga berlanjut setelah terjadinya penceraian.

9

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam, pemeliharaan anak yang di bawah umur sebelum berusia 12 tahun adalah hak ibunya, sedangkan pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anaknya untuk memilih di antara ayah atau ibunya dalam pemegang hak asuh.

10

Selain itu juga terdapat ketentuan hukum positif yang memberikan perlindungan

8 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 39 ayat 2 Jo Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

9 Amir syarifuddin, “Hukum Perkawinan Islam di Indonesia”, Cetakan V, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2006, h. 328.

10 Mardani, “Hukum Keluarga Islam di Indonesia”, Jakarta, Prenadamedia Group, h. 132

(19)

hukum terhadap pemeliharaan anak seperti di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan Nomor 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt, kasus perceraian yang terjadi antara SN melawan ER mengakibatkan anaknya menjadi korban. Terlebih dalam hal ini karena anak mereka merupakan anak yang masih di bawah umur, otomatis harus ada yang memenangkan hak asuh anak (hadhanah). Secara terminologi, hadhanah yaitu merawat dan mendidik seseorang yang belum mumayyiz atau yang kehilangan kecerdasannya, karena mereka tidak bisa memenuhi keperluannya sendiri.

11

Menurut Ash-Shan'ani, hadhanah adalah memelihara seseorang anak yang tidak bisa mandiri, mendidik dan memeliharanya untuk menghindarkan dari segala sesuatu yang dapat merusak dan mendatangkan mudarat kepadanya.

12

Penulis akan menjelaskan kronologi permasalahan hak asuh anak/hadhanah. Pada tahun 2014 telah dilangsungkan perkawinan sepasang suami istri namun fakta keduanya sering berselisih dan bertengkar yang kemudian menyebabkan keduanya telah berpisah rumah setidaknya sejak enam bulan yang terakhir, Pengadilan menilai bahwa rumah tangga para pihak sudah tidak lagi dilandasi perasaan cinta dan kasih sayang yang tulus, saling pengertian, dan saling percaya satu sama lain dan masing-masing sudah tidak lagi menjalankan kewajibannya satu sama lain serta tidak ada lagi komunikasi yang baik antara SN dan ER sebagai fondasi dasar dalam membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah, dan dari perkawinan tersebut telah lahir anak RA.

Disebutkan dalam putusan ketika terjadi penceraian antara suami dan istri tersebut hak asuh jatuh kepada suami dan istri karena anak tersebut masih berumur 4 tahun dan tergolong masih di bawah umur. Pada bulan April 2019 istri sering keluar rumah tanpa izin dari suami dan sering

11 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, “Hukum Perdata Islam di Indonesia”, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2006, h. 293.

12 Ahmad Rofik, “Hukum Perdata Islam di Indonesia”, Cetakan III, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2017, h. 197

(20)

bertengkar dengan suami dan ibu dari suami. Dalam putusan tersebut Hakim menetapkan pengasuhan wajib terjamin bagi kepentingan terbaik bagi anak di dalam konteks ini pengasuhan tidak semata-mata hanya diarahkan pada pengasuh terpisah (split parenting, split custody) melainkan pada konsepsi pengasuhan bersama (shared parenting, joint custody).

Hakim menetapkan anak tersebut dalam pengasuhan bersama ibu dan ayahnya, ibu diberikan hak mengasuh anak pada hari Sabtu dan Ahad saat anak tidak bersekolah, dan ayah diberikan hak asuh anak pada hari Senin sampai Jumat saat anak bersekolah, jika terdapat hari libur sekolah Senin sampai Jumat maka tetap diasuh oleh ayahnya, kecuali ibu dan ayahnya menyepakati hal lain. Hal-hal dalam mengenai pendidikan, kesehatan, dan hal lain terkait pengembangan kompetensi dasar maupun keahlian anak wajib dilaksanakan atas persetujuan ibu dan ayahnya.

Penulis ingin membahas tentang permasalahan tersebut, ada hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut yaitu dalam kasus ini Hakim dalam memberikan putusannya berbeda dengan apa yang tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis akan mengemasnya dalam sebuah skripsi yang berjudul “Konsepsi Pengasuhan Bersama Terhadap Hak Asuh Anak dibawah Umur (Analisis Putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan No. 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt).

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan sebelumnya maka indentifikasi masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Hadhanah dalam perspektif hukum Islam 2. Hadhanah dalam perspektif hukum positif 3. Pengertian Joint Custody System

4. Ketentuan hak asuh anak (hadhanah) di bawah umur pasca

penceraian dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif yang

berlaku di Indonesia

(21)

5. Syarat dan rukun untuk mendapatkan hadhanah

6. Pembiayaan hadhanah, faktor gugurnya hak hadhanah dan masa asuhan hadhanah

7. Faktor yang menyebabkan terjadi perselisihan antara kedua belah pihak sehingga berujung penceraian

8. Pertimbangan Hukum hakim yang digunakan dalam perkara Pengadilan Agama Gedong Tataan dalam putusan No.

0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt

C. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penulisan ini terbatas pada konsepsi pengasuhan antara ayah dan ibu pasca penceraian pada putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan No 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt, karena Pengadilan Agama Gedong Tataan memiliki integritas yang tinggi sehingga dalam Putusan pengadilan Agama Gedong No 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt. menjadi kontroversi dalam memutus perkara hadhanah.

2. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana pertimbangan Hakim dalam menetapkan pengasuhan antara ayah dan ibu pasca penceraian pada putusan No.

0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt ?

b. Bagaimana analisis hukum terhadap konsepsi pengasuhan bersama anak di bawah umur (shared parenting, joint custody) dalam hukum islam ?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan skirpsi adalah:

a. Mengetahui pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Gedong

Tataan dalam menetapkan pengasuhan antara ayah dan ibu pasca

(22)

penceraian dalam putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan No 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt.

b. Mengetahui analisis hukum terhadap konsepsi pengasuhan bersama di bawah umur (shared parenting, joint custody) terhadap hukum Islam

2. Manfaat secara teoritis dari penelitian ini adalah:

a. Bagi para akademisi, penelitian ini dapat menambah pengetahuan ilmu hukum perkawinan pada umumnya dan konsepsi hak asuh anak/hadhanah di bawah umur pasca penceraian pada khususnya.

b. Menambah kontribusi keilmuan bagi akademisi tentang bagaimana analisis mendalam mengenai konsepsi hak asuh anak/hadhanah di bawah umur yang dilimpahkan bersama ayah dan ibu.

c. Memberikan pemahaman yang benar kepada akademisi tentang konsepsi hak asuh bersama di bawah umur, agar sesuai implementasinya di masyarakat.

E. Review Studi Terdahulu

Adapun penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan persoalan penelitian ini, akan tetapi terdapat perbedaan serta menampakan posisi akademis dari penelitian yang dijalankan agar tidak mengulang kajian yang telah diterapkan pada penelitian sebelumnya, antara lain:

1. Skripsi yang ditulis oleh Novia Dwi Putri Utami yang berjudul

“Hak Asuh Bersama dalam Penyelesaian Sengketa Hadhanah di Indonesia (Analisis Putusan Nomor 574 K/Ag/2016)” Pada skripsi ini menjelaskan membicarakan tentang pertimbangan hakim dalam menetapkan hak asuh anak pada putusan No. 574 K/Ag/2016 dan bagaimana analisis hukum terhadap Sharing Custody System (Pengasuhan Anak/hadhanah secara bersama).

Kemudian dalam skripsi tersebut, Novia Dwi PU

(23)

menyimpulkan, dalam putusan Nomor 574 K/Ag/2016 Majelis Hakim pada tingkat kasasi condong menggunakan aliran realisme hukum karena melihat fakta-fakta empiris sama halnya dengan tingkat banding dan peninjauan kembali.

Berbeda halnya dengan pengadilan tingkat pertama yang condong menggunakan aliran positivisme hukum. Lalu, Novia Dwi PU juga menjelaskan bahwa Indonesia menganut Sole Custody System (hak asuh tunggal), tidak menerapkan Sharing Custody System (hak asuh bersama) begitu pun dalam hukum Islam tidak ada peraturan dan ketentuan khusus mengenai Sharing Custody System. Selain itu juga, Novia Dwi PU membandingkan dengan beberapa negara lain, bahwa beberapa negara tersebut menerapkan dan melegalkan Sharing Custody System ke dalam peraturan perundang-undangan di negara- negara tersebut, dan di dalam skripsinya Novia Dwi PU memberikan opini bahwa kiranya Indonesia dapat melegalkan sistem Sharing Custody System sebagai salah satu alternatif dalam menyelesaikan masalah sistem hak asuh anak di Indonesia.

2. Skripsi yang ditulis oleh Diana Yulita Sari yang berjudul “Hak

Asuh Anak Di Bawah Umur Akibat Perceraian Menurut

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan

Anak (Analisis Putusan Perkara Mahkamah Agung Nomor

349/K/AG/2006)”. Skripsi tersebut membicarakan tentang

alasan Hakim memberikan hak asuh anak kepada ayah,

sedangkan hal itu sangat bertolak belakang dengan Kompilasi

Hukum Islam pasal 105 yang isinya jelas mengatur hak asuh

anak di bawah umur diberikan kepada ibu. Kemudian dalam

skripsi tersebut, Diana Y.S menyimpulkan, hadhanah dalam

hukum perkawinan yang ada di Indonesia pada dasarnya tidak

ditentukan perihal siapakah yang lebih berhak dalam hal

(24)

mendapatkan hak asuh anak, karena hal tersebut kembali kepada kepentingan anak yang didasari pada putusan pengadilan. Lalu, Majelis Hakim memutuskan perkara Mahkamah Agung Nomor 349 K/AG/2006, hak asuh anak diberikan kepada ayah karena ibu dari anak tersebut adalah seorang selebriti/publik figur yang sangat sibuk dengan pekerjannya dan sering berangkat pagi pulang sore, bahkan sampai malam, sehingga jika anak ditetapkan di bawah hadhanah ibu, dikhawatirkan anak akan kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ibu.

3. Skripsi yang ditulis oleh Syamsul Muadzib yang berjudul

“Analisis Hukum Islam Terhadap Pertimbangan Hukum Hakim Tentang Hak Asuh Anak Di Bawah Umur Kepada Bapak Karena Istri Mafqud (Studi Putusan No.0274/Pdt.G/

2016/Pa.Mn)”.Skripsi tersebut membicarakan tentang keputusan Hakim menetapkan hak asuh anak ketika masih di bawah umur kepada sang bapak yang menceraikan istrinya karena sang istri tidak diketahui keberadaannya (mafqud) selama beberapa bulan bahkan sampai beberapa tahun.

Kemudian dalam skripsi tersebut, Syamsul Muadzib menyimpulkan bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 49 UU Nomor 1 Tahun 1974 permohonan Pemohon dapat dikabulkan dengan verstek yang berarti hak asuh anak beralih kepada sang bapak, yang menjadi dasar beralihnya hak tersebut karena Majelis Hakim menyatakan terbukti adanya pelantaran anak yang disebabkan tidak diketahui atau hilangnya sang ibu, dan hal ini juga demi kesehatan si anak, pendidikan si anak, dll.

Sehingga dasar dari Hakim yang melimpahkan hak asuh anak

ke bapak kandung sudah tepat, hal tersebut bisa dibuktikan

dengan tidak diketahui keberadaan ibu tersebut, apabila hak

asuh tetap diberikan kepada ibu kandung sebelum diketahui

(25)

keberadaannya maka akan membuat anak tersebut terlantar, karena yang dikenai hak asuh yang utama adalah salah satu dari kedua orang tua kandung.

4. Jurnal yang ditulis oleh Indira Inggi A, Mulyadi, dan Yunanto yang berjudul “Kajian Perolehan Hak Asuh Anak Sebagai Akibat Putusnya Perkawinan Karena Perceraian”. Jurnal tersebut membicarakan tentang bagaimana pertimbangan Hakim dalam menentukan hak asuh anak apabila perkawinan putus karena perceraian dan pelaksanaan putusan Hakim atas hak asuh anak pasca perceraian. Kemudian dalam jurnal tersebut para Penulis menyimpulkan bahwa UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur secara rinci hak asuh anak pasca perceraian, namun berpedoman pada Yurisprudensi Mahkamah Agung. Sedangkan di Pengadilan Agama yang dijadikan pedoman adalah Pasal 105 dan Pasal 156 Kompilasi Hukum Islam. Penentuan hak asuh anak berdasarkan kedua sumber ini pada pokoknya sama yaitu hak asuh anak di bawah umur otomatis berada di tangan ibunya. Namun ketentuan tersebut dapat dikesampingkan apabila ditemukan fakta yang menjadikan ayah lebih berhak untuk mengasuh anak-anak hasil perkawinan, karena yang dijadikan pertimbangan utama bagi Hakim adalah kepentingan terbaik atau kemaslahatan bagi anak dan kesejahteraan anak tidak boleh terganggu hanya karena perkawinan orang tuanya putus karena perceraian. Lalu pelaksanaan putusan Hakim dapat dilaksanakan dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak putusan diucapkan oleh Hakim dalam sidang yang terbuka untuk umum apabila tidak ada upaya hukum yang diajukan.

Perbedaan antara penelitian-penelitian yang telah dipaparkan di atas dengan

penelitian ini adalah pada objek penelitian. Dalam penelitian ini, objek penelitian

difokuskan kepada pembahasan konsep hadhanah yang dikaitkan dengan Al-Quran

(26)

dan Kompilasi Hukum Islam.

F. Metode Penelitian dan Teknik Penulisan 1. Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan penelitian yuridis normatif, yaitu sesuatu pendekatan masalah dengan jalan menelaah dan mengkaji suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berkompeten untuk digunakan sebagai dasar dalam melakukan pemecahan masalah, sehingga langkah-langkah dalam penelitian ini menggunakan logika yuridis.

13

Dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian yuridis normatif, yaitu pendekatan yang menggunakan rumusan-rumusan berdasarkan peraturan perundang-undangan, Alquran dan Sunah yang kemudian dihubungkan dengan putusan No. 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt

2. Sumber Data

Penulisan penelitian ini sumber data yang digunakan berupa data sekunder. Data sekunder diperoleh dengan mempelajari dan mengkaji literatur-literatur dan peraturan perundang-undangan. Data sekunder terdiri dari tiga sumber bahan hukum, yaitu:

a. Sumber Bahan Hukum Primer, yakni bahan-bahan yang berasal dari studi dokumentasi yaitu penulisan yang dilakukan di perpustakaan, dan lain-lain. Penulis menjadikan putusan sebagai data primer yaitu putusan Pengadilan Gedong Tataan No.

0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt untuk kemudian penulis melakukan analisis terhadap pertimbangan tentang putusan hak asuh anak bersama di bawah umur.

b. Sumber Bahan Hukum Sekunder, yakni bahan-bahan yang bersumber dari literatur-literatur yang relevan dengan

13 H Abu Ahmad dan Cholid Narbuko,“Metodelogi Penelitian”, Bumi Angkasa, Jakarta, 2002, h.

23.

(27)

pembahasan ini

c. Sumber Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum pendukung yang meliputi bahan-bahan yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti : Kamus Besar Bahasa Indonesia.

3. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan penelusuran informasi dan data yang diperlukan dalam beberapa sumber, penyusunan dengan studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca ,mempelajari serta menganalisis literatur atau buku-buku dan sumber lainnya yang berkaitan dengan tema penulisan.

4. Analisis Data

Analisa data secara analisis deskriptif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan.

5. Teknik Penulisan

Pedoman yang digunakan dalam penulisan skripsi ini, mengacu pada Pedoman Penulisan Skripsi Universitas Islam Negeri, Fakultas Syariah dan Hukum, yang diterbitkan oleh Pusat Peningkatan dan Jaminan Mutu (PPJM) Tahun 2017.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan dalam penulisan, skripsi ini dibagi atas lima bab yang saling berkaitan satu sama lain.

Bab pertama dalam penelitian ini Pendahuluan, bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, identifikasi pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan kajian terdahulu, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab kedua ini penulis akan memaparkan tentang hadhanah

dalam perspektif hukum positif dan hukum Islam, meliputi konsep

hadhanah dalam perspektif hukum Islam, terdiri dari pengertian

(28)

hadhanah, dasar hukum hadhanah, rukun dan syarat-syarat hadhanah, pembiayaan hadhanah, faktor gugurnya hadhanah dan Masa asuhan.

Kemudian dilanjutkan dengan hadhanah menurut hukum positif, yang terdiri dari hadhanah dalam Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, kemudian hadhanah dalam Kompilasi Hukum Islam.

Selanjutnya bab ketiga, dalam bab ini penulis menguraikan pembahasan tentang pengertian, kedudukan dan kewenangan hakim kemudian dilanjutkan dengan Ijtihad Hakim, macam -macam teori putusan Hakim, dan jenis-jenis putusan hakim di Pengadilan Agama.

Selanjutnya bab empat, ini merupakan bab inti yaitu bahasan utama dalam skripsi ini. Yaitu Konsep hadhanah pasca putusan Hakim di Pengadilan Gedong Tataan, kemudian dilanjutkan dengan kronologi kasus hadhanah Putusan Nomor 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt, beserta analisis pertimbangan hukum hakim dalam perkara hadhanah putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan Nomor 0334/Pdt.G/2019/PA.

adapun bab akhir pada penelitian dalam penulisan ini. Terdiri dari

penutup yang berisi kesimpulan serta saran-saran yang diberikan

penyempurnaan penulisan selanjutnya.

(29)

14

BAB II

PENGASUHAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

A. Pengasuhan Anak Dalam Perspektif Hukum Islam 1. Pengertian Hak asuh anak

Secara etimologi, hadhanah berasal dari kata hidhana yang berarti sesuatu yang terletak antara ketiak dan pusar. Hadhana ath-Thaa’iru Baidhahu, berarti seekor burung yang menghimpit telurnya (mengerami) di antara kedua sayap dan badannya. Demikian juga jika seorang ibu membuai anaknya dalam pelukan. Atau lebih tepat jika dikatakan memelihara dan mendidik anaknya.

14

Dalam istilah fiqh, digunakan dua kata namun ditujukan untuk maksud yang sama yaitu kafalah dan hadhanah, yang dimaksud dengan hadhanah atau kafalah dalam arti yang sederhana ialah

“pemeliharaan” atau “pengasuhan”. Dalam arti yang lebih lengkap adalah pemeliharaan anak yang masih kecil setelah terjadinya putusnya perkawinan. Hadhanah juga diambil dari kata al-hidhnu yang artinya samping atau merengkuh ke samping. Hadhanah adalah salah satu bentuk dari kekuasaan dan kepemimpinan.

15

Para ulama fiqih mendefinisikan hadhanah yaitu melakukan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan, atau yang sudah besar tetapi belum mumayyiz, menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, mengajaganya dari sesuatu yang menyakiti dan merusaknya. Mendidik jasmani, rohani, dan akalnya, agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung jawab.

16

14 M. Zaenal Arifin dan Muh. Anshori, “Fiqih Munakahat”, Cetakan I, CV. Jaya Star Nine, Jakarta, 2019, h. 150.

15 Wahbah Az-Zuhaily, “Al-Fiqh al-Islamy Wa Adillatuhu”, Dar al-Fikr, Damsyiq- Suriah, 2002, h. 59-60.

16 Wahab ar-Ronaili, “Fiqh al Islamiy”, Juz 7, Dar al-Fikr, Beirut, t.th), h. 717-718.

(30)

Para ulama menetapkan bahwa pemeliharaan anak itu hukum nya wajib, sebagaimana wajib memeliharanya selama berada dalam ikatan perkawinan. Menurut amir syarifuddin hadhanah atau disebut juga kafalah adalah pemeliharaan anak yang masih kecil setelah terjadinya putus perkawinan.

17

Hadhanah berbeda maksudnya dengan pendidikan (tarbiyah).

Dalam hadhanah terkandung pengertian pemeliharaan jasmani dan rohani. Di samping terkandung pula pengertian pendidikan terhadap anak. Pendidik mungkin terdiri dari keluarga si anak dan mungkin bukan dari keluarga si anak dan ia merupakan pekerjaan profesional.

Sedangkan hadhanah dilaksanakan dan dilakukan oleh keluarga si anak, kecuali jika anak tidak mempunyai keluarga serta ia bukan profesional dilakukan oleh setiap ibu, serta anggota kerabat yang lain.

18

Hadhanah merupakan hak dari hadhin, sedangkan pendidikan belum tentu merupakan hak dari pendidik.

19

2. Dasar Hukum Hak Asuh Anak

Para ulama sepakat bahwasanya hukum hadhanah ( mendidikan dan merawat anak) hukumnya adalah wajib. Tapi berbeda dalam hal, apakah hadhanah itu menjadi hak orang tua (terutama ibu) atau hak anak. Ulama mazhab hanafi dan maliki misalnya berpendapat bahwa hak hadhanah itu menjadi hak ibu sehingga ia dapat saja menggugurkan hak nya. Tetapi menurut jumhur ulama, hadhanah itu menjadi hak bersama antara orang tua dan anak. Bahkan menurut wahbah zuhaili, hak-hak hadhanah adalah hak bersyarikat ibu, ayah, dan anak. Jika terjadi pertengkaran maka yang didahulukan adalah hak atau kepentingan si anak.

20

17 Amir Syarifudin, “Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan”, Prenada Media, Jakarta, 2009, h. 327.

18 Zakiyah Daradjat, “Ilmu Fiqih”, Jilid II, Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, 1995, h.

157-158.

19 M. Zaenal, “Fiqih”, h. 151.

20 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, “Hukum Perdata Islam di Indonesia”, Kencana, Jakarta, 2004, h. 293.

(31)

a. Alquran

Adapun dasar hukumnya mengikuti perintah Allah untuk membiayai anak dan istri dalam firman Allah QS. Al-baqarah (2) : 233

َا ْنَمِل ِنْيَلِماَك ِنْيَل ْوَح َّنُهَد َلَ ْوَا َنْع ِض ْرُي ُتٰدِل ٰوْلا َو ٗهَل ِد ْوُل ْوَمْلا ىَلَع َو ۗ َةَعاَض َّرلا َّمِتُّي ْنَا َدا َر

ْفَن ُفَّلَكُت َلَ ِۗف ْو ُرْعَمْلاِب َّنُهُت َوْسِك َو َّنُهُق ْز ِر اَهِدَل َوِبۢ ٌةَدِلا َو َّرۤاَضُت َلَ ۚ اَهَعْس ُو َّلَِا ٌس

ٗهَّل ٌد ْوُل ْوَم َلَ َو

َف ۚ َكِلٰذ ُلْثِم ِث ِرا َوْلا ىَلَع َو ٖهِدَل َوِب َحاَنُج َلََف ٍر ُواَشَت َو اَمُهْنِِّم ٍضا َرَت ْنَع الَاَصِف اَدا َرَا ْنِا

ْمُتْمَّلَس اَذِا ْمُكْيَلَع َحاَنُج َلََف ْمُكَد َلَ ْوَا ا ْْٓوُع ِض ْرَتْسَت ْنَا ْمُّتْد َرَا ْنِا َوۗ اَمِهْيَلَع اوُقَّتا َو ِۗف ْوُرْعَمْلاِب ْمُتْيَتٰا ْٓاَّم

َّنَا ا ْْٓوُمَلْعا َو َ هاللّٰ

ٌرْي ِصَب َن ْوُلَمْعَت اَمِب َ هاللّٰ

Artinya : Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.

Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

21

Di dalam surat Al-Baqarah ayat 233 tersebut Allah SWT mewajibkan para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan persusuan.

Sedangkan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Tidak diharamkan persusuan yang kurang dari dua tahun. Jadi apabila ada bayi yang berusia lebih dari dua tahun masih menyusui, maka yang demikian itu tidak diharamkan.

21 Departemen Agama RI, “al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya”, PT Karya Toha Putra, Semarang, h. 951.

(32)

Pemeliharaan anak merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya (suami-istri) untuk masalah biaya pemeliharaan dan pendidikan anak merupakan tanggung jawab ayahnya (suami), sedangkan hak memelihara ditangan istri seperti halnya firman Allah SWT dalam surat Al-Tahrim ayat 6 :

ْْٓوُق ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآْٰي ُة َراَج ِحْلا َو ُساَّنلا اَهُد ْوُق َّو ا اراَن ْمُكْيِلْهَا َو ْمُكَسُفْنَا ا

ٌظ َلَِغ ٌةَكِٕى ٰۤلَم اَهْيَلَع

َن ْو ُرَمْؤُي اَم َن ْوُلَعْفَي َو ْمُه َرَمَا ْٓاَم َ هاللّٰ َن ْوُصْعَي َّلَ ٌداَدِش

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

22

Penjelasan makna secara umum :

Quu Anfusakum wa Ahlikum yang artinya lindungilah dirimu dan keluargamu ayat ini merupakan panggilan dari Allah kepada hamba- Nya yang beriman sebagai pengingat dan nasihat agar mereka mau memelihara diri dan keluarga mereka sendiri, seperti anak dan istri dari siksa api neraka yang menyala-nyala yang bahan bakar terdiri dari orang-orang musyrik dan batu-batu berhala yang dahulu mereka sembah.

Pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini adalah kewajiban memelihara keluarga, keluarga disini adalah anak dan istri, perintah untuk mendidikan mereka agar selalu taat kepada Allah dan Rasul- Nya serta memperingatkan mereka agar jangan meninggalkan perintah-perintahnya.

23

b. Hadist

Mengasuh anak-anak yang masih kecil hukumnya wajib sebab mengabaikannya berarti menghadapkan anak-anak yang masih

22 Ibid, h.57.

23 Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, “Tafsir Al-Qur'an AL-AISAR”, Terj. Fityan Amaly, Lc. dan Edi Suwanto, Lc., Darus Sunnah Press, Jakarta, 2009, h. 526-527.

(33)

kecil kepada bahaya kebinasaan. Dalam hal pemeliharaan anak ( hadhanah), Nabi menunjuk ibulah yang paling berhak memelihara anak sesuai dengan sabdanya:

رمع نبا اللهدبع ْنَع َأَرْما َّنأ ُالله َي ِض َر

ُهَل ْيِنْطَب َناَك اَذَه ْيِنْبا َّنِإ ِالله َل ْوُس َراَي : ْتَلاَق اة

َأ ُها َوَبَأ َمَع َز َو ،ٌءاَقِس ُهَل ْيِيْدَث ٌءا َو ِح ُهَل ْي ِرْج ِح َو ٌءاَعِو ِهِب ُّقَحَأ َتْنَأ :َلاَقَف ْيِِّنِم ُهُع ِزْنَي ُهَّن

24

)هححصو مكاحلاو يقاهيبلاو دواد وبأو دمحأ هاور( ْي ِحِكْنَت ْمَلاَم

Artinya: dari abdullah bin umar bahwa seorang perempuan bertanya “ya rasulullah sesungguhnya anakku ini adalah perutku yang mengandungnya dan susuku yang menjadi minumannya, dan pangkuanku yang memeluknya, sedang bapaknya telah menceraikan aku dan ia mau mengambilnya dariku”, lalu rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Engkau yang lebih berhak dengan anak itu, selama engkau belum menikah”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, Hakim dan dia mensahihkannya).

25

Kandungan dari hadist diatas adalah apabila terjadi penceraian antara suami istri dan meninggalkan anak, selama ibunya belum menikah lagi, maka ibu diutamakan untuk mengasuhnya, sebab ibu lebih mengetahui dan lebih mampu mendidik anak-anaknya.

3. Syarat Pemegang Hadhanah a. Baligh/ sudah dewasa

Tiada hak hadhanah bagi anak kecil meskipun tamyiz karena dia masih lemah mengurusi diri sendiri.

26

b. Berakal

Tiada hadhanah bagi orang gila dan lemah akal karena ia justru perlu orang lain yang mengurusi dirinya. Malikiyah mensyaratkan

24 Syeikh Abu Abdullah bin Abd al-salam ‘Alussy, Ibanah Al-Ahkam Syarah Bulugh Al- Maram, “Terjemahan: Ibanatu Al-Ahkam Syarhu Bulughu Al-Maram”, Jilid 3, Al-Hidayah Publication,Dar Al-Harmain, Jeddah, 2010. h. 629.

25 Sayyid Sabiq, “Fiqih Sunnah”, Jilid 4, Terjemahan Noor Hasanuddin, dkk., Cet. I, Pena Pundit Aksara, Jakarta, 2006, h. 238.

26 Aris Bintania, “Hukum Acara Peradilan Agama dalam Kerangka Fiqh Al-Qadha”, Cetakan I, PT RajaGrafido Persada, Jakarta, 2012, h. 219.

(34)

cerdas, tiada hadhanah bagi orang dungu lagi mubazir karena harta sianak tidak akan aman atau malah dibelanjakan serampangan, hanabilah mensyaratkan juga tidak berpenyakit sopak atau kusta yang harus diasingkan. Wanita yang gila, baik sepenuhnya atau kadang-kadang tidak berkah hadhanah, juga karena sakit yang sebentar datang dan sebentar hilang. Tetapi jika sakit permanen seperti paru-paru, lumpuh sebagian,jika ia terus menderita dan menanggung sakit sibuk mengurus penyakitnya gugur hak hadhanahnya.

27

c. Beragama Islam

Ini adalah pendapat yang dianut oleh jumhur ulama, karena tugas pengasuhan itu termasuk tugas pendidikan yang akan mengarahkan agama anak yang diasuh. Apabila diasuh oleh orang yang bukan beragama Islam dikhawatirkan anak yang diasuh akan jauh dari agamanya.

d. Mampu merawat

Dapat memelihara akhlak dan kesehatan si anak. Oang yang uzur, sakit atau sibuk tidak berhak hadhanah. Adapun karyawati perusahaan atau pekerja yang pekerjaanya menghambat perawatan anak tidak berkah hadhanah, tetapi apabila ia masih dapat menjaga dan mengurusi anak maka tidak gugur haknya.

28

e. Akhlak terpercaya

Tiada hadhanah bagi orang yang tidak bisa dipercaya merawat dan membina akhlak anak, seperti orang fasik, pemabuk, pezina atau perbuatan haram lainnya, menurut muhyiddin al-Nawawi, orang fasik tidak dapat menunaikan hak hadhanah dan akan menghambat perkembangannya sehingga anak tidak akan bahagia bersamanya, sehingga tidak boleh diberikan kepadanya.

29

27 Ibid, h. 220.

28 Ibid

29 Ibid, h. 221.

(35)

f. Merdeka

Tiada hadhanah bagi orang yang tidak merdeka. Hadhanah tidak boleh diberikan kepada seorang sahaya karena ia tidak akan sanggup melaksanakan sambil mengabdi kepada tuannya.

Meskipun orang tua mengizinkan, jika si anak orang merdeka yang berhak bapaknya atau yang lain, jika si anak juga budak maka hak hadhanah pada tuannya. Bila si ibu merdeka dan si anak budah kareta tertawan kemudian ibunya masuk Islam atau menjadi kafir zimmi hadhanah pada tuannya.

30

g. Adil

Dalam arti menjalankan agama secara baik, dengan meninggalkan dosa besar dan menjauhi dosa kecil. Kebalikan dari adil dalam hal ini disebut fasik yaitu tidak konsisten dalam beragama. Orang yang komitmen agamanya rendah tidak dapat diharapkan untuk mengasuh dan memlihara anak yang masih kecil.

4. Syarat anak (al-mahdlun)

Apabila suami istri bercerai, dan mereka mempunyai anak yang sudah baligh lagi berakal, maka ia bisa mandiri dan tidak membutuhkan hadlanah dan kafalah, ia tidak dapat dipaksa, tetapi hendaknya ia tidak memisah dan berhenti berbuat baik kepada ornang tua.tetapi, jika ia perempuan perawan, makruh baginya tinggal sendiri karena khawatir ada orang yang akan merusak dan menipu dirinya, tetapi bila ia janda tidak dilarang karena ia sudah teruji dengan laki-laki sehingga tidak khawatir akan ditipu.

31

Adapun syarat untuk anak yang akan diasuh (mahdhun) itu adalah:

a. Ia masih berada dalam usia kanak-kanak dan belum dapat berdiri sendiri dalam mengurus hidupnya sendiri.

b. Ia berada dalam keadaan tidak sempurna akalnya dan oleh karena itu tidak dapat berbuat sendiri, meskipun telah dewasa, seperti

30 Ibid, h. 226.

31 Ibid, h. 218.

(36)

orang idiot. Orang yang telah dewasa dan sehat sempurna akalnya tidak boleh berada di bawah pengasuhan siapa pun.

5. Orang yang berhak atas hadlanah dan urutannya

Pada lahirnya hadlanah berkaitan dengan tiga hak terpadu; hak ibu pengasuh, hak anak, dan hak bapak (atau walinya), ketiganya harus diwujudkan dan bila mungkin menyinergikannya, bila saling bertentangan maka didahulukan hak si mahdlun sehingga secara berturut hukumnya adalah:

a. Ibu pengasuh dapat dipaksa menjalankan hadlanah jika diputuskan atas dia sementara tidak ada orang lain selain dirinya.

b. Ibu pengasuh tidak dapat dipaksa jikabukan dia yang ditetapkan, karena hadlanah adalah haknya dan tidak mudharat bagi anak karena masih ada yang lain dari mahramnya.

c. Bila istri mengkhuluk suami dengan syarat meninggalkan anak, maka khuluk sah,tetapi syarat batal karena hak anak untuk selalu bersama ibunya selama ia membutuhkan.

d. Bapak tidak berhak mengambil anak dari ibu yang menjalankan hadlanah untuk diserahkan ke orang lain, kecuali atas alasan syarak.

e. Bila yang menyusui bukan si ibu pengasuh maka si ibu pengasuh harus membiayai penyusuan supaya hak hakdlanahnya tidak hilang.

32

Adapun hak atas hadlanah kalangan perempuan lebih berhak menjalannya ketimbang kalangan laki-laki, karena mereka lebih dalam hal belas kasih, ketelatenan merawat, kesabaran, dan lebih intens menjaganya, urutannya adalah sebagai berikut:

1) Kalangan perempuan a) Ibu kandung

32 Wahbah, “Al-Fiqh”, h. 719.

(37)

Setelah perceraian karena talak/kematian, ibu lebih berhak kecuali bila ia murtad atau terbukti sangat tercela sehingga dapat menelantarkan anak, karena ia pezina, penghibur (penyanyi), pencuri, lalai, tidak dapat dipercaya karena selalu pergi setiap waktu menghilang dari si anak.

33

b) Ibunya ibu (nenek) dan ibunya bapak terus ke atas

Setelah ibunya ibu (nenek) menurut ulama hanafiyah dan pendapat baru (Qaul Jadid) Syafi’i adalah ibunya bapak (nenek), ibu bapaknya bapak (moyang).tetapi malikiyah mengakhirkan ibunya bapak setelah bibi dari ibu dan bibi dari bapak. Ulama hanafiyah lebih mendahulukan bapak, kemudian ibunya bapak (nenek) setelah neneknya ibu kemudian kakek kemudian ibunya kakek.

34

c) Saudari si anak

Pendapat ini menurut hanafiyah, syafi’iyah dan hanabilah.

Pertama saudari kandung kemudian saudari seibu kemudian saudari sebapak. Syafi’iyah mendahulukan saudari sebapak kemudian anak-anak saudari kandung. Menurut jumhur ulama saudari-saudari didahulukan dari bibi-bibi karena lebih dekat dan merupakan anak-anak dari bapak dan ibu si anak (mahdlun) di samping mereka juga lebih utama dalam sistem kewarisan.

35

d) Bibi dari ibu

Menurut hanafiyah, syafi’iyah dan hanabilah, adalah ibu kandungnya, kemudian bibi seibu kemudian bibi sebapak.

e) Putri-putri saudari si anak

Setelah putri-putri saudari si anak, menurut hanafiyah dan syafi’iyah putri-putri saudari si anak.

33 Aris, “Fiqh Al-Qadha”, h. 212.

34 Wahbah , “Al-Fiqh”, h. 340.

35 Ibid

(38)

f) Bibi dari bapak

Pertama bibi kandung, kemudian bibi bapaknya, yaitu saudara neneknya.

36

2) Kalangan Laki-Laki

Apabila tidak ada satupun dari kalangan perempuan di atas, maka hak hadlanah pinah ke kalangan laki-laki sesuai ‘ashabah kewarisan, yaitu: bapak, kakek terus ke atas, saudara dan putra- putranya terus ke bawah, paman-paman dan putra-putranya.

Tetapi tidak dapat diterima yang bukan mahram, seperti putra paman atas anak perempuan untuk menjaga dari fitnah. Apabila dari kalangan ‘ashabah laki-laki juga tidak ada, menurut Hanafiyah, hadlanah pindah ke zu al-arham, pindah ke saudara ibu, putranya, paman ibu, paman dari bapak sekandung kemudian seibu, karena mereka berhak menjadi wali nikah sehingga juga berhak menjalankan hadlanah. Menurut Hanafiyah, bila kerabat yang berhak hadlanah dalam satu tingkat lebih dari satu, seperti dua orang paman dari bapak, didahulukan yang lebih ‘wara dan lebih tua, tidak fasik dan tidak lemah akal.

37

6. Pembiayaan hadhanah

Menurut jumhur selain hanafiyah, pelaksana hadhanah tidak berhak atas upah, tetapi jika si anak perlu bantuan orang lain seperti mencuci pakaiannya maka ia berhak atas upah, menurut hanafiyah jika ia seorang istri atau dalam masa iddah tidak berhak juga atas upah menyusui karna kewajiban agama, apalagi dalam perkawinan dan dalam masa iddah ia berhak nafkah dan itu sudah cukup baginya, dan setelah masa iddah usai ia berhak atas upah karena pekerjaanya.

wanita pemegang hadhanah yang tidak berstatus istri berhak upah

36 Ibid

37 Aris, “Fiqh Al-Qadha”, h. 217.

(39)

selain upah menyusui dan nafkah anak, jadi ada tiga macam kewajiban.

38

Menurut hanafiyah, yang dalam menyusui tanpa upah lebih berhak dari ibu yang berharap upah, kecuali ia bukan mahram si anak jika bapak sulit membiayai dan anak tidak berharta, jika tidak didapati satupun yang mau melaksanakan hadhanh secara cuma-cuma maka ibu kandung atau yang lain dapat dipaksa dengan upah terhutang menjadi kewajiban bapak dalam tenggat waktu yang longgar tetapi tidak gugur kecuali dibayar oleh bapak.

39

Ulama sepakat bahwa nafkah anak dibebankan kepada harta anak, jika tidak berharta dibebankan kepada anaknya atau kepada orang yang wajib menafkahi sesuai kemampuan, karena itu cara melindungi dan menghindarkannya dari kehancuran, kewajiban itu merupakan utang yang tidak akan gugur karena waktu atau dengan kematian orang tersebut atau matinya si anak atau matinya pemegang hadhanah.

40

Tempat pelaksanaan hadhanah adalah tempat tinggal kedua orang tua ketika perkawinan masih utuh atau dalam masa iddah, tidak boleh ia pindah tanpa seizin suaminya.

Setelah habis masa iddah tempat tinggal hadhanahnya juga tempat yang disediakan oleh suami, ia tidak boleh pergi membawa anak ke wilayah lain terpisah dari bapaknya sehingga tidak bisa melihat anaknya. Kecuali si ibu pindah ke kampung tempat mereka akad nikah, jika tidak maka hak nya gugur.

Begitu juga nenek, saudari, bibi dari ibu dan bapak, tidak boleh pindah ke lain negeri dari bapak kecuali seizin dan keridaannya sehingga tidak melukai anak, jika pindah gugur hak mereka. Menurut Malikiyah bepergian dan terpisah dari anak tidak boleh lebih dari 133 km karena akan menggugurkan hak kecuali perjalanannya untuk

38 Wahbah, “Al-Fiqh”, h. 735.

39 Ibid

40 Ibid, h. 736.

(40)

niaga, ziarah, haji, dan yang semisal. Menurut Syafi'iyah jika pemegang hadlanah bepergian si anak tamyiz tinggal bersama yang mukim sampai ia kembali, jika pindah bapak lebih berhak dari ibu dengan syarat perjalanan dan wilayah tujuan aman, untuk memelihara keturunan yang menjaganya bapak demi kemaslahatan pendidikan dan pengajaran di samping mudah menafkahinya, tetapi bila tidak aman maka yang mukim lebih berhak.

41

Menurut Hanafiyah bapak sebagai wali mutlak tidak boleh mengeluarkan anak dari negeri ibunya tanpa keridhaannya, jika ia pindah tidak berhak membawa anak, selama ibu melaksanakan hadlanahnya tidak gugur dengan kepindahan bapak karena hadlanah adalah hak perempuan dan wali tidak berhak menggugurkannya.

Menurut Malikiyah wali bepergian untuk pindah, baik wali mutlak maupun wali 'ashâbah seperti paman dari bapak ia berhak mengambil anak dalam hadlanahnya dengan syarat perjalanan dan tempat tujuan aman karena hak wali lebih kuat dari hak hadlanah. Syafi'iyah memilah antara bepergian karena keperluan dan karena pindah, bila karena keperluan untuk sementara si anak tinggal dengan yang mukim dan kembali padanya setelah ia pulang karena kemungkinan bahaya dan mudharat di perjalanan. Bila keduanya sama-sama ingin pindah, bapak lebih berhak dengan syarat perjalanan dan tempat tujuan aman bila tidak aman diserah ke ibunya, bapak tidak boleh membawa anak ke wilayah konflik. Jadi menurut Hanafiyah hak hadlanah ibu tidak gugur dengan musafirnya wali dan menurut jumhur (Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah) menggugurkan hadlanah abil ibu.

42

Mengenai hak berkunjung, menurut Hanafiyah, bapak berhak melihat anak dengan cara ia dikeluarkan ke tempat yang memungkinkan ayah melihatnya setiap hari. Bila anak bersama bapak, ibu juga berhak melihatnya dengan cara yang sama, minimal sekali seminggu.

41 Ibid, h. 738.

42 Ibid, h. 739.

(41)

Menurut Malikiyah bila anak masih kecil hak bapak/ibu melihat sekali dalam sehari. bila sampai usia belajar ibu sekali seminggu dan bapak berhak memerhatikan anaknya. Menurut Syafi'iyah pada usia tamyiz ibu tidak boleh dihalang mengunjungi anak, dan bapak boleh menghalangi putrinya mengunjungi ibunya untuk menjaga dan melindungi pandangan orang, karena faktor usia ibunya lah selayaknya yang mengunjungi tanpa boleh dihalangi bapak karena akan memutus silaturahmi, tetapi tidak boleh berlama-lama ia boleh masuk, jika bapak pelit dan tidak ridha dia dikeluarkan untuk bertemu ibunya. Waktu berkunjung tidak setiap hari, tetapi harus berselang hari kecuali jika rumah berdekatan boleh setiap hari. Bila si anak sakit, ibu lebih berhak merawatnya karena lebih telaten dan lebih sabar daripada bapak, perawatan boleh di rumah bapak bila ia ridha jika tidak di rumah ibu dan harus dihindari khalwat antara keduanya.

Menurut Hanabilah anak laki-laki di usia tamyiz jika memilih bapak, ibu tidak boleh dihalang mengunjung atau merawat sakit anaknya, bila memilih ibu maka tinggal dengan ibu di malam hari dan bersama bapak disiang hari. Pada anak perempuan, ia bersama bapak sejak berumur tujuh tahun sampai ia menikah dengan hak berkunjung di pihak ibu dengan menghindari khalwat dengan bekas suaminya dan tidak berlama-lama karena ia sudah menjadi orang lain dengan perceraian, diusahakan berkunjung di waktu-waktu si bapak supaya tidak mendengar suara ibunya, suara meskipun ukan aurat tetapi haram juga dinikmati.

43

Bila salah satu dari kedua orang tua sakit, anak tidak boleh dicegah menjenguk dan untuk hadir ketika sekarat maut. Bila si anak mengganti-ganti pilihannya untuk tinggal dengan salah satu dari kedua orang tuanya ia dikembalikan sesuai pilihannya, karena pilihan tergantung kehendaknya, kadang ia ingin di tempat orang tua yang

43 Ibid, h. 740.

Referensi

Dokumen terkait