BAB II PENGASUHAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
C. Amar Putusan
M E N G A D I L I 1. Mengabulkan gugatan Penggugat.
2. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra Tergugat (ER Bin IH) terhadap Penggugat ( SN Binti I)
3. Menetapkan anak bernama RA, lahir tanggal 11 Juni 2015 di bawah pengasuhan bersama (joint custody) Penggugat dan Tergugat dengan ketentuan:
a. Penggugat diberi hak mengasuh anak pada hari Sabtu dan Ahad saat anak sedang tidak bersekolah
b. Tergugat diberi hak mengasuh anak pada hari Senin – Jumat (hari sekolah anak)
c. Bila terdapat hari libur pada hari Senin – Jumat, maka anak tetap diasuh oleh Tergugat, kecuali bila Tergugat dan Penggugat menyepakati hal lain
d. Hal-hal mengenai Pendidikan, kesehatan, dan hal lain terkait pengembangan kompetensi dasar maupun keahlian si anak wajib dilaksanakan atas persetujuan bersama Penggugat dan Tergugat
4. Menghukum kedua belah pihak Penggugat dan Tergugat untuk melaksanakan pengasuhan bersama sebagaimana dalam diktum angka 3 tersebut di atas dengan penuh iktikad baik (to perform in good faith)
5. Membebankan Penggugat untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp. 1.136.000,- (satu juta seratus tiga puluh enam ribu rupiah).
53 BAB IV
ANALISIS KASUS HADHANAH KONSEPSI PENGASUHAN BERSAMA TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR PUTUSAN
NOMOR 0334/PDT.G/2019/PA.GDT
A. Analisis Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Perkara Hadhanah Putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan Nomor 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt
Dasar pertimbangan dalam menjatuhkan putusan pengadilan didasarkan pada teori dan hasil penelitian yang saling berkaitan. Salah satu usaha untuk mencapai kepastian hukum kehakiman, dimana Hakim merupakan aparat penegak hukum kehakiman, sehingga melalui putusannya dapat menjadi tolak ukur tercapainya suatu kepastian hukum.66 Pertimbangan Hakim hendaknya memuat tentang pokok persoalan dan hal-hal yang diakui atau dalil yang tidak disangkal, adanya analisis secara yuridis terhadap putusan segala aspek menyangkut semua fakta/hal-hal yang terbukti dalam persidangan, dan adanya bagian dari petitum Penggugat harus dipertimbangkan/diadili secara satu demi satu sehingga hakim dapat menarik kesimpulan tentang terbukti/tidaknya dan dapat dikabulkan/tidaknya tuntutan tersebut dalam amar putusan.
Dalam memutuskan suatu perkara, adakalanya seorang hakim harus memutuskan suatu perkara hadhanah, dalam putusan tersebut hakim menyampingkan Kompilasi Hukum Islam yang berlaku, kewenangan bagi hakim untuk memutuskan perkara dengan lebih mempertimbangkan rasa keadilan, kepentingan umum dan moralitas. Pada prakteknya dalam putusan perkara hadhanah putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan No 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt yang peneliti teliti terdapat pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara hadhanah tersebut keluar dari Kompilasi
66 Choirunna Putri Cahyaning, “Analisis Bukti Pengakuan Sebagai Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan (Studi Putusan Pengadilan Negeri Malang Nomor 198/ Pdt.G/
2015/Pn.Mlg)”, Thesis, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2018, h. 22.
Hukum Islam yaitu pengasuhan bersama (shared parenting, joint custody) mengenai pengasuhan anak kian berkembang dan mengarah kepada prinsip-prinsip pengasuhan wajib menjamin kepentingan terbaik bagi anak dalam konteks ini hakim berpendapat pengasuhan anak tidak lagi semata-mata hanya diarahkan pada pengasuhan terpisah sebagaimana selama ini diterapkan dalam putusan-putusan hak asuh anak.
Hakim dalam memberikan pertimbangan demi kemaslahatan dan kepentingan bagi si anak hakim membagi alokasi waktu pembagian pengasuhan anak dalam penetapan pengasuhan bersama dengan model physical custody atau membagi waktu bersama kedua orang tua dengan anak nya, yaitu pada hari sabtu dan ahad diberikan kepada ibunya pada saat anak tidak bersekolah dan ayahnya pada hari senin sampai jum’at pada waktu sekolah anak, dan apabila dari senin sampai jum’at terdapat hari libur, tetap diberikan kepada ayahnya, kecuali penggugat dan tergugat menyepakati hal lain, dalam hal pendidikan, kesehatan dan hal lain atas kepentingan pengembangan kompetensi dasa maupun keahlian si anak wajib dilaksanakan atas persetujuan bersama antara penggugat dan tergugat.
Dalam persidangan terungkap bahwa yang menjadi penyebab ketidakharmonisan rumah tangga penggugat dan tergugat karena penggugat tidak betah dan tidak nyaman tinggal di rumah orang tua tergugat karena sering terjadi keributan dengan keluarga tergugat sedangkan tergugat tidak tidak sabar dan tidak nyaman tinggal dirumah orang tua penggugat karena dirumah orang tua penggugat terlalu banyak orang, kemudian tergugat beralasan bahwa merasa berat untuk meninggalkan rumah karena masih ada tanggungan kewajiban untuk memberikan nafkah terhadap orang tua dan adiknya.
Maka tampak jelas bahwa tergugat dalam hal ini belum bisa berdiri sendiri secara mandiri dan disebutkan didalam pasal 34 ayat 1 undnag-undang nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan yang berbunyi “suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan
hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya” dan disebutkan juga dalam pasal 81 Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi :
1. Suami wajib memnyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya atau bekas istri yang masih dalam masa iddah.
2. Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama dalam ikatan perkawinan, atau dalam iddah talak atau iddah wafat.
3. Tempat kediaman disediakan untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari gangguan pihak lain.
4. Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan kemampuannya serta disesuaikan dengan keadaaan lingkungan tempat tinggalnya, baik berupa alat perlengkapan rumah tangga maupun sarana penunjang lain.
Melihat fakta-fakta dalam persidangan bahwa penggugat dan tergugat dalam mengasuh anak sama-sama mampu dan layak untuk mengasuh anak, kecuali dalam memberikan pengasuhan terdapat penghalang untuk mengasuh anak dengan baik seperti:
1. Sakit fisik yang berat atau sakit jiwa, sehingga tidak memungkinkan untuk mengasuh anak dengan baik.
2. Berprilaku buruk, seperti pemabuk, narkoba, penjudi, sehingga akan mempengaruhi jiwa anak yang diasuh.
3. Murtad yang akan mempengaruhi keimanan anak bila dia yang diberi hak untuk mengasuhnya.
Walaupun pasal 105 Kompilasi Hukum Islam menetapkan hak asuh dibawah 12 tahun diprioritaskan utama pada ibunya, tetapi pengasuhan anak seharusnya lebih memerhatikan kemaslahatan bagi perkembangan fisik, psikis, dan psikomotorik si anak. Tegasnya, penetapan siapa pemegang hak asuh anak harus disandarkan pula pada pertimbangan dengan siapa anak tersebut diasuh sehingga haknya untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi Pasal 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 110 K/AG/2007 tanggal 13 Nopember 2007.67
Bahwa merujuk pada Putusan Mahkamah Agung RI No. 102 K/Sip/1973 tanggal 24 April 1975, menyatakan “Berdasarkan yurisprudensi mengenai perwalian anak, patokannya ialah bahwa ibu kandung yang diutamakan, khususnya bagi anak-anak yang masih kecil, karena kepentingan anak yang menjadi kriteria, kecuali kalau terbukti bahwa ibu tersebut tidak wajar untuk memelihara anaknya”.
Kepentingan anak menjadi dasar atau referensi utama dalam tata laksana pengasuhan. Karenanya, harus dieliminir pandangan-pandangan yang cenderung menganggap atau menempatkan anak sebagai “milik ayahnya” atau “milik ibunya”, atau “sebagai objek hak” dari salah satu dari orang tuanya. Pengasuhan anak selama ini berkutat pada split parenting atau sole custody berimplikasi pada adanya asumsi bahwa pemegang hak asuh berhak sepenuhnya terhadap kehidupan anaknya (winner takes all). Ini melahirkan kebiasaan pemegang hak asuh berhak mengatur secara ketat pertemuan anak dengan orang tua lain yang tidak memegang hak asuh. Dalam kasus tersebut hakim berpendapat model atau paradigma pengasuhan hak asuh tunggal tidak selaras dengan upaya memberi keleluasaan bagi anak untuk mengekspresikan dirinya, bersosialiasi dengan kedua orang tuanya secara masif, dan memeroleh kasih sayang terbaik dari kedua orang tuanya. Sebaliknya, anak seolah terkungkung oleh kekuasaan pemegang hak asuh terhadapnya, diwajibkan tunduk pada aturan-aturan tak tertulis yang dibuat oleh pemegang hak asuhnya.68
67 Putusan pengadilan Gedong Tataan Nomor 0034/Pdt.G/2019/PA.Gdt h. 40
68 Putusan pengadilan Gedong Tataan Nomor 0034/Pdt.G/2019/PA.Gdt h. 42
Tanggung jawab orang tua terhadap pengasuhan anak dibawah umur dalam pasal 41 Undang-Undang perkawinan dijelaskan kewajiban orang tua untuk mendidik anak akibat putusnya perkawinan yaitu:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan si anak bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak pengadilan memberikan keputusan.
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memberi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.
Disebutkan juga Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yakni menyebutkan “ meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut”.
Dari ketentuan tersebut dapat penulis simpulkan, baik anak itu dibawah pemeliharaan bapak atau ibu, maka yang menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak ialah sang bapak. Mengenai jumlah besarnya biaya ditentukan atas dasar kebutuhan si anak, dan ketentuan tersebut diselaraskan dengan keadaan ekonominya, maka ia wajib memberikan biaya sesuai dengan kebutuhan anak, sebaliknya apabila keadaan ekonomi orang tua dalam keadaan lemah, maka kewajiban orang tua itu harus sesuai dengan kebutuhannya.
Terdapat acuan dalam memutuskan hak asuh anak dibawah umur dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 105 dan 106 yang menyatakan:
Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam “dalam hal terjadi penceraian”
a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.
b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak asuh.
c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.
Pasal 106 Kompilasi Hukum Islam
a. Orang tua wajib merawat dan mengembangkan harta anaknya yang belum mumayyiz atau dibawah pengampuan, dan tidak diperbolehkan memindahkan atau mengendalikan kecuali karena mendesak jika berkepentingan dan keselamatan anak itu untuk menghendaki atau suatu kenyataan yang tidak dapat lagi dihindarkan lagi.
b. Orang tua wajib bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan dan kelalaian dari kewajiban tersebut pada ayat (1).69
Sudah jelas dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bahwa anak yang masih dibawah umur atau mumayyiz hak hadhanah diprioritaskan kepada ibu dan biaya pemeliharaan anak ditanggung oleh ayah. Bahkan berdasarkan Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 huruf c menyatakan “ apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula”.
Oleh karena itu, tidak bisa apabila seorang ayah atau ibu dilarang untuk bertemu dengan anaknya. Secara sosiologis memang tidak dikenal dengan istilah “bekas anak”, walaupun memang sudah menjadi
69 Kompilasi Hukum Islam Pasal 105-106
kelaziman ada istilah “bekas istri” atau “bekas suami”. Namun sekali lagi agar tidak mengganggu psikologis anak, sinkronisasi kedua orang tua sangat dibutuhkan dalam mendidik dan merawat seorang anak agar tercipta sebuah keharmonisan dalam keluarga dan terpenuhinya hak-hak anak yang seharusnya anak dapatkan, akan tetapi apabila tidak ada hubungan yang baik dari kedua orang tua bisa dipastikan bahwa hak-hak anak sulit untuk terpenuhi.
B. Analisis Hukum Terhadap Konsepsi Pengasuhan Bersama Anak Di Bawah Umur (Shared Parenting/Joint Custody) Dalam Hukum Islam
Pengadilan agama Gedong Tataan banyak memutuskan perkara cerai gugat maupun cerai talak, jika terjadi penceraian diantara pasangan suami istri, dimana pengasuhan anak sering menjadi permasalahan, tidak jarang terjadi perebutan hak asuh anak yang akhirnya akan terjadinya gugatan permohonan hadhanah. Anak yang diperebutkan tidak hanya yang masih kecil tetapi anak yang sudah dewasa, apabila anak tersebut diberi kebebasan untuk memilih akan ikut ibu atau ayah, tetapi yang menjadi permasalahan apabila si anak tersebut belum mumayyiz atau masih belum berumur 12 tahun maka akan terjadi perebutan di antara ibu dan ayah karena pada usia tersebut si anak masih rentan terhadap lingkungan sekitarnya.
Pengasuhan anak telah memiliki aturan tetap. Sudah ada pihak-pihak yang diberikan wewenang oleh syariat Islam dalam pengasuhan. Pihak yang telah ditetapkan sebagai pengasuh tidak boleh mengelak dari kewajiban tersebut. Ada sejumlah pihak yang telah ditetapkan syariat yang memiliki hak dari yang paling berhak. Kaum perempuan lebih diutamakan memegang hak asuh anak, karena mereka lebih penyayang, dan lebih bisa memberikan pendidikan, lebih sabar dan amat bertanggung jawab terhadap anak-anak.
Jumhur ulama berpendapat bahwa pengasuhan anak pasca terjadinya penceraian kedua orang tua diutamakan kepada ibu kandungnya. Bahwa
seorang ibu cenderung mengasuh anak dengan lebih baik dibanding ayahnya. Naluri kasih sayang seorang ibu umumnya jauh lebih kuat, demikian pula dengan kedekatan emosionalnya.70
Dengan adanya konsep hak hadhanah dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 105 memberikan hak bagi ibu atas anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun. Kompilasi Hukum Islam membuat konsep bahwa hak hadhanah bagi anak pada dasarnya lebih ditekankan pada kepentingan psikologis si anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun, yang pastinya masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Hakim dalam memberikan konsepsi pengasuhan bersama mencakup dua jenis yang pertama physical cutody mengatur pembagian waktu tinggal anak bersama kedua orang dua menggunakan pola 50%50%, 60%40%, atau 70%30% dan yang kedua legal custody menekankan bahwa pengasuhan bersama harus dilaksanakan kesepakatan bersama, dalam hal ini hakim menggunakan konsep 70%30% tidak sesuai dengan realitasnya dalam putusan tersebut hakim memberikan alokasi waktu hari senin sampai jumat kepada ayahnya dan sabtu dan minggu kepada ibunya menggunakan konsep 80%20%, dalam hal tanggung jawab hal apa saja yang diberikan alokasi waktu dalam implimentasinya kebanyakan tidak sesuai. Dalam pemberian tanggung jawab orang tua seharusnya lebih memperhatikan kemaslahatan bagi si anak, karena ayah sibuk untuk mencari nafkah sedangkan ibu rumah tangga lebih banyak waktunya untuk mengasuh anak tersebut.
Jika dilihat dari segi kedekatan anak dengan orang tua dalam keadaan normal hubungan anak yang masih kecil kepada ibunya harus diakui lebih erat, karena ada hubungan emosional kejiwaan (psikologis), walaupun diakui juga dalam kasus-kasus tertentu ada hubungan anak
70 Kamal muchtar,” Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan”, Jakarta: Bulan Bintang,2004.
h 140
yang masih kecil lebih dekat kepada bapaknya daripada kepada ibunya.
Dalam salah satu riwayat al Muwaththa, disebutkan bahwa umar bin khatab menikah dengan seorang perempuan dari golongan Anshar. Dari perkawinan tersebut lahir seorang anak bernama Ashim bin Umar.
Dalam perjalanan rumah tangganya, Umar bin Khatab berceraid dengan isterinya tersebut. Pada suatu ketika, Umar melaukan perjalanan ke Quba’ dan menemui anaknya sedang bermain di dalam masjid.
Setelahnya, Umar mengambil anak tersebut dan menaikkannya ke kuda.
Melihat hal itu, nenek si anak mengatakan itu anakku, demikian pula dengan Umar. Terjadilah perselisihan di antara mereka mengenai siapa yang lebih berhak mengasuh anak tersebut. Setelah dihadapkan kepada Abu Bakar, Abu Bakar memutuskan bahwa anak tersebut ikut (diasuh) oleh ibunya.71
Salah satu dasar pertimbangan Abu Bakar dalam menetapkan pengasuhan anak kepada ibunya adalah kecenderungan umum seorang ibu (perempuan) yang memiliki perasaan lebih halus, pemurah (hati), berkarakter penyantun, dan lebih menyayangi anaknya. Bukan berarti laki-laki tidak memiliki sifat-sifat tersebut, namun oleh karena secara umum laki-laki identik dengan maskulinitas yang berbeda secara diametral dengan karakteristik feminim tersebut, maka cukup beralasan untuk menyatakan bahwa secara umum perempuan lebih lemah lembut.
Lebih penyayang, dan bermurah hati (mudah tergerak hatinya untuk menolong.
71 Kamal, “Asas”, h. 141.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari Uraian ini, dapat ditarik kesimpulan mengenai konsepsi pengasuhan bersama terhadap anak di bawah umur sebagai berikut:
1. Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpukan bahwasanya pertimbangan hukum hakim dalam putusan Pengadilan Agama Gedong Tataan No. 0334/Pdt.G/2019/PA.Gdt tidak sesuai dengan Ketentuan Kompilasi Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia. Karena Hukum pengasuhan anak di Indonesia, dari sisi normatif dan praktik, secara umum masih menerapkan model pengasuhan terpisah (sole cutody), dalam penyelesaian sengketa hak asuh anak secara normatif mengacu kepada Kompilasi Hukum Islam pasal 105 Kekuasaan penyelesaian selanjutnya yaitu berdasarkan kepentingan anak dalam peraturan Yurisprudensi Mahkamah Agung. Konsep pengasuhan bersama merupakan konsep pengasuhan yang tidak hanya berfokus kepada kepentingan terbaik anak, namun memaksimalkan peran orang tua dalam mengasuh anak-anaknya.
2. Dengan adanya konsep hak hadhanah dalam Kompilasi Hukum Islam tentunya dapat membantu seorang ibu untuk mendapatkan hak asuh anaknya, namun ketentuan ini tidak bersifat mutlak. Dalam Pemeliharaan dan pendidikan ialah kewajiban sang ayah, mengenai jumlah besarnya biaya ditentukan atas dasar kebutuhan si anak dan disesuaikan dengan keadaan ekonominya. maka ayah wajib memberikan biaya sesuai dengan kebutuhan anak, sebaliknya apabila keadaan ekonomi orang tua dalam keadaan lemah, maka kewajiban orang tua itu harus sesuai dengan kebutuhannya.
B. Saran
1. Kekuasaan orang tua pasca penceraian terhadap anak dapat diputuskan oleh Hakim Pengadilan Agama, dalam memutuskan sengketa hak asuh anak terhadap anak di bawah umur sebaiknya diberikan kepada yang lebih berhak yaitu ibunya
2. Kepada Majelis Hakim dalam memutus perkara hak asuh anak di bawah umur seharusnya lebih memperhatikan kemaslahatan terbaik bagi si anak dalam memberikan kebaikan, kemanfaatan, dan jaminan akan masa depan anak yang lebih baik.
3. Dalam mengurangi kasus penelantaran anak, sebaiknya orang tua bertanggung jawab penuh dalam memberikan hak asuh anak, penceraian adalah masalah orang tua, tidak selayaknya anak menjadi pihak yang terpisah juga.
DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an al-Karim
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Semarang: PT Karya Toha Putra, 2002.
Buku
Abdullah, Abu bin Abd al-salam ‘Alussy, Ibanah Ahkam Syarah Bulugh Al-Maram. (Terjemahan: Ibanatu Al-Ahkam Syarhu Bulughu Al-Maram) Jilid 3. Dar Al-Harmain, Jeddah : Al-Hidayah Publication , 2010.
Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo, 2007.
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia., Jakarta: Kencana, 2004.
Arifin Busthanul. Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia, Akar Sejarah, Hambatan dan Prospeknya. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Arifin, M. Zaenal dan Muh. Anshori. Fiqih Munakahat. Jakarta: CV. Jaya Star Nine, 2019.
As-Sanan, Arij' Abdurahman. Memahami Keadilan Dalam Poligami. Jakarta: PT.
Global Cipta Publishing, 2003.
Azhary, Tahir. Analisis Yurisprudensi: Tentang Perceraian (Karena Melanggar Taklik Thalaq). Jakarta: Yayasan Al-Hikmah dan Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam Departemen Agama, 1995.
Az-Zuhaily, Wahbah. Al-Fiqh Islamy Wa Adillatuhu. Damsyiq-Suriah: Dar al-Fikr, 2002.
Bakar, Syaikh Abu Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur'an AL-AISAR. Terj. Fityan Amaly, Lc. dan Edi Suwanto, Lc. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2009.
Baldric Siregar, Dkk. Akuntansi Biaya. Jakarta: Salemba Empat, 2015.
Bintania, Aris. Hukum Acara Peradilan Agama Dalam Kerangka Fiqh al-qadha.
Jakarta: PT Raja Grafindo, 2012.
Bisri Cik Hasan. Peradilan Agama di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Daradjat, Zakiyah. Ilmu Fiqih. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka, 1996.
H. Ismail Saleh. Apa Yang Saya Alami Pembinaan. Jakarta: PT. Intermasa, 1989.
Harahap, Yahya. Hukum Perkawinan Nasional : Pembebasan Berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1974. Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975. Medan:
Zahir, 1975.
Harahap M. Yahya. Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama. UU No.
7 Tahun 1989. Jakarta: Pustaka Kartini, 1993.
Hoesein Zainal Arifin. Kekuasaan Kehakiman Di Indonesia. Yogyakarta:
Imperium, 2013.
Latif, Jamil. Aneka Hukum Perceraian. Cetakan II. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982.
Laporan pelaksanaan Kegiatan Pengadilan agama Gedong Tataan Tahun 2018,2019,2020.
Mardani. Hukum Keluarga Islam di Indonesia. Jakarta: Prenadamedia Group, 2016.
Manan Abdul. Etika Hakim dalam Penyelenggaraan Peradilan. Cetakan I, Jakarta:
Kencana, 2007.
Mardani. Hukum Keluarga Islam di Indonesia. Jakarta: Prenadamedia Group, 2016.
Muchinum. Kompetensi Peradilan Agama Relatif dan Absolut dalam Kapita Selekta Hukum Perdata Agama dan Penerapannya. Bogor: Pusdiklat Teknis Balitbang Kumdil MARI, 2008.
Muchtar, Kamal. Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Jakarta: Bulan Bintang, 2004.
Munawwir,A.W. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.
Mustofa Wildan Suyuthi. Kode Etik Hakim. Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2013.
Nuruddin, Amiur dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.
Pradja Juhaya S. Hukum Acara Peradilan Agama Di Indonesia. Bandung: CV Pustaka Setia, 2017.
Proadjohamid, Martiman. Hukum Perkawinan Indonesia. Jakarta: Cv Karya
Gemilang. 2011.
Pusat Bahasa Departemen Pedidikan Nasional. Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Rasyid H. Roihan A. Hukum Acara Peradilan Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.
Republik Indonesia. Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004. Jakarta: Sinar Grafika, 2004.
Rfiq, Ahmad. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Cet I. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013.
Rofiq, Ahmad. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Cet III. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2017.
Sabiq, Sayyid. Fiqh Sunnah Jilid 2. Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2017.
Sabiq, Sayyid. Fiqih Sunnah Jilid 4. Terjemahan Noor Hasanuddin, dkk. Cet. I.
Jakarta: Pena Pundit Aksara, 2006.
Jakarta: Pena Pundit Aksara, 2006.