• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

16. Rapat ke-14

CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG

Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke- Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Hari, tanggal Wa kt u Tempat Ketua Rapat Sekretaris Ac a r a Had i r

ANGGOTA TETAP : 1. dr. Bawadiman

PENDIDIKAN NASIONAL

1988 - 1989.

II 17

Raker Pansus Ke- 14 Mendikbud

Terbuka

Kamis, 15 Desember 1988 09.00 WIB

Etadartha Samiti I Gedung MPR-RI.

dr. Bawadiman Drs. Noer Fata

Pembahasan DIM RUU tentang Pendidikan Nasional Pansus DPR-Rl :

41 dari 48 orang Anggota Tetap ; 15 dari 23 orang Anggota Pengganti.

Pemerintah :

Mendikbud beserta Staf.

22. Ir. Soewardjo Adikoesoemo 2. H. Sulaeman Tjakrawiguna, S.H. 23. Har son o

3. H. Surya Mardjiyo 4. H. Imam Sofwan 5. B.N. Marbun

6. Ir. A. Moestahid Astari 7. Prof. Ors. Wuryanto 8. H. Obos Syabandi Purwana 9. Drs. Dewa Putu Tengah 10. Drs. Osman Simandjuntak 11. Soegiyono

12. H. Ismael Hassan, S.H.

13. H. Basyuni Suriamihardja 14. Drs. DS. Isaac Saujay 15. Anton Priyatno, S.H.

16. Drs. H. Iman Soedarwo PS.

17. Ors. H. Hasanudin 18. Mohammad Roem, S.H.

19 H. Achmad H.M.S., S.H.

20. Ibnu Saleh

21. Drs. Suandi Hambali

24. Dra. Ny. Syamsiar Lasahido 25. K.H. Sansuri Badawi

26. Drs. Mozes Adisoerjo Soenarjo 27. Dr. Ir. Irma Alamsyah, MSc.

28. K.H.A. Syarifuddin Sapari 29. Sahuntung Sastrohamidjojo 30. A.S. Harjono

31. Roebijanto 32. Basas Suyono

33. A. Tyas Satijono Soenarto 34. A.R. Lubis

35. Budi Hardjono, S.H.

36. Ir. Ida Bagus Putera 37. Soebagjo, S.H.

38. H. Soetardjo Soerjogoeritno, BSc.

39. H. Ismail Hasan Metareum, S.H.

40. Drs. H. Zari>asih Nur 41. Sukardi Effendi, S.H.

(2)

ANGGOTA PENGGANTI:

I. Dra. Ny. Inne E.A. Soekaryo 2. Drs. H. Hoesni Thamrin Assaat S.H 3. H. CH. Muhammad Muas

4. Ny. RH. Mahadera Hertasning 5. J. Moelyono

6. Warsito Poespojo S.H.

7. Drs. Awang Faroek Ishak 8. Muhammad Yusuf Husein PEMERINTAH:

9. Sadikun Sugihwaras 10 Ny. Aisyah Amin, S.H.

11. Drs. H. Ali Sofwan 12. Drs. Subagyo 13. Djupri, S.H.

14. J.H. Salu

15 Drs. Bambang Wahyoedi

ANGGOTA PENGGANTI:

1 Prof. Dr. Fuad Hassan 2. Bambang Triantoro

(~enteri Pendidikan dan Kebudayaan).

3. Harsya W. Bachtiar 4. W .P. Napitupulu 5. Puger

6. Waskito 7. Moegiadi

8. Soetanto Wirjoprasonto 9. Budihardjo

10 E. Soeharya 11 . Sugeng Kamo 12. Soejoto

13. D. Budi Keneono, SH.

14. Ny. Mardiyah Santoso 15. Bambang Haryadi, S.H.

16. Mardjuki, S.H.

KETUA RAPAT (dr. Bawadiman).

Bapak-bapak sekalian yang saya hormati.

Assalamu'alaikum Warakhmatullah Wabarakaatuh.

Menurut catatan Sekretariat korum telah terpenuhi dan semua Fraksi karni lihat juga sudah hadir, Pemerintah juga sudah hadir. Dengan mengucap Bismillahir Rakhman Nirahim Ra pat Pansus bersama Pemerintah kami nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Karena udaranya dingin hujan semalam barangkali masih ada yang kedinginan jadi belum kelihatan, sekarang sudah. Ibu, Bapak sekalian hari ini hari Kamis tanggal 15 Desem- ber 19 88, besok hari Jum 'at tanggal 16 Desem ber 19 88. Marilah kit a lanjutkan mudah- mudahan dua hari itu sangat turut memberikan dukungan kepada tugas kita dalam me- nyelesaikan pembahasan RUU ini.

Kemarin telah disepakati keseluruhan dari konsideran menimbang baik kedudukan masing-masing butir maupun usulan dan juga ada tambahan dari FPDI untuk termasuk dipikirkan dan kesemuanya kita sepakati untuk diserahkan pada Tim Kecil. Mari kita membuka halaman 4, kita lanjutkan sesuai dengan kesepakatan kemarin, konsideran beserta penjelasan umum kita bahas sekarang kita masuk di dalam konsideran "Mengingat ".

(3)

Kalau kami lihat di dalam persandingan maka dari keempat Fraksi mengajukan usul perubahan atas RUU yang ada baik FKP, FABRI, FPP dan FPDI. Oleh karena itu kami mohon masing-masing Fraksi untuk menyampaikan latar belakang usulannya sebelum.

Pemerintah nanti memberikan tanggapannya, kami persilahkan FPDI untuk lebih dahulu menyampaikan latar belakang atau alur pikir usulannya.

Kami persilakan Pak.

FPDI (Djupri, S.H.):

Sebagaimana bisa dilihat di dalam sandingan DIM yang diajukan maka FPDI ada 2 hal yang diusulkan untuk ditambahkan dan sebelumnya perlu kami jelaskan bahwa semula jalan pikirannya usUlan tambahan Pasal 27 Ayat (1) clan (2) itu, mengingat bahwa dalam RUU ini dikaitkan bermacam-macam Pasal. Dengan mengingat hal itu maka diper- timbangkan karena Pasal 27 Ayat (1) dan (2) ini menyangkut hak warga negara tentang

perlakuan yang sama, maka kem.udian diusulkan. Tetapi setelah membaca Pasal-pasal yang ada di dalam RUD itu pula dari FPDI pun ingin pula menanyakan dan kailli mengusulkan untuk terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada Pemerintah untuk memberikan penjelasan dari berbagai pasal-pasal RUU ini yang dicantumkan di dalamnya, sehingga dengan demikian nanti akan mengurangi hal-hal yang mungkin diusulkan atau disampai- kan oleh para Anggota Fraksi lain. Lalu yang kedua memang kami usulkan sebagai tambah- an yang konkrit itu termasuk TAP MPR Nomor II Tahun 1978 ini tentang P4, hal ini sangat penting sebab menurut FPDI semata-mata seperti diketahui merupakan satu realisasi daripada pengamalan daripada Pancasila khususnya di dalam dunia pendidikan dan juga se ...

kaligus untuk menegaskan bahwa masalah ini sangat penting untuk menangkal penyusupan Marxisme, Komunisme dan Leninisme maupun ekstrim lainnya di dalam dunia pendidikan.

Demikian latar belakang daripada usulan FPDI tapi kami usulkan di dalam forum ini agar supaya terlebih dahulu dari pihak pemerintah memberikan penjelasan. Terima kasih Saudara Pimpinan.

KETUA:

Pimpinan tidak keberatan sebelum Fraksi-fraksi lainnya atas usul FPDI, kami per- silakan dari Pemerintah untuk menjelaskan dengan segala latar belal<angnya atas pasal-pasal UUD yang diangkat di dalam Konsiderans Mengingat, kami persilakan dari Pemerintah.

PEMERINTAH/MENDIKBUD (Prof. Dr. Fuad Hassan):

Sejauh kita rnernbandingkan pasal-pasal yang dicantumkan dan disetujui artinya yang disetujui saja maka nampaknya di sini yang disarankan untuk tidak dicantumkan hanya beberapa dan menurut hemat kami ada relevansinya untuk dicantumkan kalau kaini mernandang Undang-undang ini sebagai suatu produk yang menghasilhn satu sistem yang nasional sifatnya dan sejauh kami bisa memeriksa di sini beberapa pasal yang disarankan untuk tidak diadakan menurut hemat saya tetap dapat dipertahankan dan tetap rnenjadi kaitan. Adapun pasal atau saran tambahan untuk mencantumkan TAP MPR Nomor II Tahun 1978 kami dapat rnenyetujui karena inijuga ada kaitannya.

Saran dari FPP untuk menambahkan Pasal 34 yang berkenaan dengan tanggung jawab Pemerintah untuk menanggung para fakir miskin. Karena Pasal ini menyebutkan dipelihara oleh Negara maka saya pikir ini tidak terlalu langsung rnenunjuk kepada rnasalah persekolahan atau pendidikan atau pengajaran, Pasal 34 itu menyebutkan fakir rniskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara. Dan biasanya pasal ini di kaitan

(4)

tugasnya pada Departemen Sosial, oleh karena itu barangkali tidak perlu dit~bahKan P'asal 34 ini. Ditambahkan Pasal 29 "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang M:>ha Esa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk" dan sebagainya, pasal ini juga berlaku umum dan tidak persis harus terkait khusus pada kegiatan pendidikan dan pengajaran tapi berlaku umum. Ini lebih mengungkapkan menurut hemat ethos dari freedom of believe bukan education khususnya, oleh karena itu tan pa dicantumkan inipun mengingat segala konsideran yang sudah disepakati dan menunjuk pada perumusan tentang tujuan pendidikan nasional di mana keimanan dan ketaqwaan itu juga dicakup maka menurut hemat kami juga menambahkan Pasal 29 ini kelebihan. Oleh karena itu maka saran tam- bahan Pasal 34 dan 29 ini menurut hemat kami tidak terlalu perlu. Saran perubahan dari FKP agar Pasal 30, 33 dan 36 tidak dimasukkan. Pasal 30 ada kaitannya dengan salah satu rumusan dalam RUU ini yaitu mengenai hak dan kewajiban warga negara, Pasa1 33 mengenai kesejahteraan sosial juga bisa dikaitkan dengan ethos daripada RUU ini kalau kita perhatikan bahwa kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa pada pembukaan itu 1angsung dikaitkan juga dengan kesejahteraan dalam pembukaan disebutkan sebagai beri- kut: "Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa" dan sebagainya. Jadi bahwa ini ada kaitannya dengan peningkatan mutu dan kesejahteraan masyarakat ini saya kira masih memiliki relevansinya. Adapun Pasal 36 menegaskan tunggalnya bahasa pengajaran jadi medium·of intruction yang kaitannya juga ada dengan Pasal 36 yang menegaskan bahwa bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia, dalam Undang- undang bahasa pengantar adalah Bahasa Indonesia. Jadi tidak berlebihan untuk dicantum- kan.

Dengan demikian maka saran yang dapat kami terima baik dari FKP maupun FPDI yaitu untuk menambahkan dalam mengingat itu TAP MPR Nomor II Tahun 1978 me- ngenai P4 itu tidak keberatan.

Demikian keterangan kami terima kasih.

KETUA:

Kami belum mendengar ulasan terhadap usulan F ABRI?

PEMERINT AH :

Saya kira di sini juga ada usul-usu1 untuk meringkas Pasa1 5 yang disebutkan Pasal 5 Ayat (1) saja, Pasal 20 dan Pasal 31 saja dengan penjelasan yang tadi mengenai pasal-pasal

yang dianggap baik untuk dicantumkan maka saya kira-kira tercakup dalam penjelasan itu, terima kasih.

KEnJA:

Terima kasih Saudara Menteri, kami kembalikan kepada FPDI setelah ada penjelasan barangkali ingin sekarang memberikan .Jebih dalam nanti disambung dengan Fraksi-fraksi lain.

FPDI (Djupri, S.H.):

Setelah mendapatkan penjelasan dari dasar atau latar belakang pencantuman dalam RUD pasal-pasal sebagaimana tercantum dalam RUU itu, FPDI berpendapat bahwa Pasal 27 Ayat (I) dan (2) itu memang walaupun ada hubuhgan kurang relevan oleh karena itu kami tarik saja dan kedua saya ucapkan terima kasih atas bisa diterimanya untuk dicantum- kan di dalam dasar hukum dari RUU TAP MPR Nomor II Tahtin 1978 karena ini memang penting sekali.

Demikian Saudara Pimpinan dan terima kasih.

(5)

KETUA:

Pimpinan kurang- jelas Pasal 27 keseluruhannya yaitu .Ayat (1) dan (2), terima kasih Kami persilakan dari FPP untuk menyampaikan latar belakang atas usulannya.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Kami telah mendengar penjelas3n atau tanggapan dari pihak Pemerintah tadi terhadap pasal-pasal termasuk yang belum kami jelaskan. Kalau kita perhatikan pasal-pasal yang ada di dalam RUU maka kita melihat beberapa pasal ada yang langsung berhubungan dengan pembentukan Undang-undang dan isi Undang-undang ta pi ada juga yang tidak langsung.

Yang langsung berhubungan dengan pembentukan Undang-undang katakanlah Pasal 5, Pasal 20 kemudian isi Undang-undang-nya Pasal 31. Kemudian yang tidak langsung adalah Pasal 30, 32, 33 dan 36, kalau di sini yang tidak langsung Pasal 36 kita lihat memang ad.a istilah bahasa Negara ada di dalam perundang-undangan ini, Bahasa Indonesia yaitu ada di dalam perundang-undangan ini. Namun Pasal 30, 32 dan 33 kami tidak melihat hubungan langsung dan bahkan Pasal 33 sendiri bicara soal perekonomian, kemudian Pasal 32 bicara soal kebudayaan, Pasal 30 bicara tentang upaya pembelaan Negara, ini kesemua adalah tidak langsung. Kami menganggap apabila ada hal-hal yang tidak langsung kita masukkan maka perlu juga ada hal lain yang ada hubungannya dengan itu kita masukkan pula. Antara lain yang lebih mendasar adalah Pasal 29 karena di sana ada permasalahan yang langsung berhubungan dengan pendidikan nantinya. Kemudian juga Pasal 34 kami pikirkan perlu kita masukkan untuk mendapatkan perhatian kita dalam mengelola pendidikan itu ter- utama kita lihat kepada mereka yang terlantar atau yang kurang mampu.

Memang dalam hal ini betul yang dikemukakan oleh Pak Menteri bahwa Pasal 34 itu ada hubungan erat atau mempunyai hubungan erat dengan Departemen Sosial, itu memang benar mengenai masa kehidupan mereka keseluruhan tapi kewajiban kita pula untuk mencerdaskan kehidupan mereka di samping mereka sendiri harus dijamin oleh Negara yang sampai sekarang kita masih prihatinkan masih ada yang di antara mereka yang . terpaksa anak-anak kecil kita lihat di pinggir-piuggir jalan atau di toko-toko yang itu betul- betul menyentuh hati kita bagaimana caranya untuk mengangkat mereka. Oleh karena itulah maka kami pikir dalam upaya kita memberikan pendidikan kepada bangsa kita, maka dua pasal ini perlu mendapat perhatian terutama Pasal 29 yang lebih membawa ke- pada soal yang lebih mendasar daripada permasalahan-permasalahan lainnya.

Inilah Saudara pimpinan yang ingin kami kemukakan dalam pe.njelasan pertama ini, terima kasih.

K.ETUA:

Terima kasih atas penjelasan dari FPP, dan kami mohon juga penjelasan Fraksi-fraksi Iain atas usulannya masing-masing persilakan dari F ABRI.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo) :

Kami ingin memberikan latar belakang usulan dari F ABRI sebagaimana tercantum di dalam halaman 4 ini. Dasar pemikiran F ABRI adalah, kita telah membicarakan mengenai menimbang yang berisi motivasi mengenai RUU ini di sana kita menyebutkan landasannya adalah Pancasila dan UUD 1945, jadi ten tunya semua yang berhubungan dengan masalah yang akan kita susun ini adalah bersumber dari UUD 1945 itu sedangkan mengenai Pasal

"Mengingat" ini kami melihat bahwa mengingat ini adalah yang ada hubungannya dengan pembentukan Undang-Undang itu sendiri, secara langsung ada kaitannya dengan pem- bentukan Undang-Undang. Oleh karena itu kami hanya menggarisbawahi mengenai Pasal 5

(6)

Ayat (1), Pasal 20 dan Pasal 31 UUD 1945, demikian untuk jelasnya. Jadi kami hanya melihat "Mengingat" ini adalah pasal-pasal yang secara langsung ada kaitannya dengan pembentukan Undang-Undang. Memang kalau kita melihat usulan-usulan banyak sekali Pak. Jadi kira-kira ada 11 pasal-pasal ingin dimasukkan. Barangkali akan sulit memilihnya, tapi kami berpendapat apabila kita sepakat bahwa yang dimasukkan adalah yang langsung berkaitan dengan Undang-Undang barangkali semuanya juga mengusulkan, barangkali mudah sebab kalau milih 11 nanti ini dipilih itu tidak sulit, jadi yang terkecil. Mengapa, karena motivasi dan landasan hukum utama sudah kita sebutkan Pancasila dan UUD 1945.

Demikian usulan dan pendapat F ABRI dalam urun rem bug dalam forum ini terima kasih.

KETUA:

Terima kasih dari F ABRI yang telah memberikan latar belakang pemikiran atas usul- annya dalam membahas konsideran mengingat, kami persilakan dari FKP.

FKP (Harsono) :

Dari FKP sebelum memasuki materi yang diusulkan maka dalam hubungan menyelesai- kan Bab Mengingat ini saya kira perlu persepsi kita disamakan yaitu bahwa apabila di dalam konsideran menimbang masih dimungkinkan pengukuhan-pengukuhan redaksi yang lebih luas maka di dalam konsideran, mengingat ini yang dimasukkan hendaknya betul-betul pasal-pasal yang merupakan dasar hukum atau produk hukum yang kedudukannya lebih tinggi yang memerintahkan terhadap dibuatnya Undang-Undang tersebut. Sedangkan pasal-pasal yang berhubungan tidak langsung dan berkaitan tidak langsung maka perlu dipertimbangkan atau ditinjau untuk tidak dimasukkan di dalam dasar hukum. Dalam hubungan ini kami perlu menggarisbawahi apa yang ditegaskan salah satu penegasan peme~

rintah bahwa mulai tahun 1985 Pemerintah sendiri telah menegaskan mulai membakukan bahwa konsideran mengingat yang dicantumkan adalah pasal-pasal dalam UUD yang benar-benar dasar hukum ada Undang-Undang lain yang menjadi dasar hukum. Sedang lainnya yang berkaitan tidak langsung yaitu untuk ditinjau dan ditiadakan. Dalam hubung- an FKP di dalam pengajuannya hanya mengajukan pasal-pasal yaitu Pasal 5 Ayat (I) seperti RUU, Pasal 20 ditambah hanya Ayat (I) dan Ayat (2}nya tidak, Pasal 31 yang tadi pasal- pasal ini sudah disetujui Bapak Menteri, Pasal 5, 20, 31 dan 32 UUD dan saya mengucap- kan terima kasih atas persetujuan dari pihak pemerintah terhadap usulan kami tentang TAP MPR Nomor II Tahun 1978 tentang P4. Dengan demikian apabila kami diijinkan terns un- tuk menanggapi Fraksi-fraksi lain sehubungannya apa yang tadi sudah kemukakan bahwa pasal-pasal yang tidak merupakan dasar hukum sungguh-sungguh dan tidak memerintahkan serta tidak berkaitan langsung artinya berkaitan tapi tidak langsung itu untuk ditinjau untuk ditiadakan dan saya menaruh penghormatan kepada rekan FPDI yang telah menarik usulnya Pasal 27 ayat (I).

Demikian sementara terima kasih.

KETUA:

Yang ditarik FPDI Pasal 27 Ayat (I) dan (2), demikian tadi gambaran latar belakang usulan masing-masing Fraksi, kami mohon dari Pemerintah untuk menanggapinya.

PEMERINTAH :

Memperhatikan lajur-lajur ini sekurang-kurangnya sudah ada beberapa yang pasti dapat diterima yaitu apa yang disarankan F ABRI itu dapat diterima artinya tercantum dalam

(7)

saran-saran juga pada semua Fraksi. Mengenai perlu tidaknya kita mengacu hanya pada yang langsung berhubungan dengan tujuan pendidikan maka dapat kita barangkali semen- tara menanggapi begini, ada dua kemungkinan, kernungkinan untuk segera menggunakan pasal-pasal yang langsung berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran atau mengacu juga pada beberapa pasal yang secara tidak langsung ada kaitannya oleh karena itu rnaka barang- kali saya ingin menyarankan apakah kesepakatan kita sebaiknya membatasi pada pasal- pasal yang langsung saja berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran atau ada baiknya dalam konsideran ini juga kita rnengacu pada pasal-pasal yang secara tidak langsung t,api erat hubungannya dengan RUU ini misalnya pasal yang berkenaan dengan bahasa atau misalnya Pasal 32 yang walaupun tidak langsung berhubungan dengan pendidikan namun diletakkan dalam Bab tentang pendidikan. Sebagaimana diusulkan oleh FKP, FABRI mengusulkan Pasal 31 saja, FKP mengusulkan Pasal 51 dan 32 sebagaimana juga FPDI juga mengusulkan Pasal 32.

Sebelurn sampai kita kepada keputusan ini, saya ingin menyarankan agar diputuskan dahulu apakah kita akan menggunakan sistem yang singkat saja atau lebih banyak mengacu ke pasal-pasal lain, dus kami akan menyesuaikan. Adapun tentang dicantumkannya TAP MPR kami tidak keberatan. Jadi tinggal sekarang kita menyaring pasal-pasal yang kira-kira perlu dan tidak perlu dicantumkan sesuai dengan wawasan apakah kita ingin ringkas atau ingin panjang.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih ajakan pemerintah, silahkan interupsi.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo ): Interupsi

Tadi memang kami lupa sedikit menanggapi mengenai TAP MPR Nomor II Tahun 1978, jadi pada waktu pembahasan Pasal 42 mengenai isi kurikulum memang ada salah satu Fraksi yang menyarankan masuknya TAP MPR itu mengenai lararigan mengajarkan faham/

ajaran komunisme, maxisme dan leninisme serta ekstrim lainnya pada waktu itu dijawab bahwa sudah ada TAP MPR yang mengatur mengenai masalah larangan tersebut. ApaKah dengan demikian lalu tidak berarti bahwa landasan TAP MPR itu juga tidak perlu di depan, karena dasar di belakangnya lalu hilang (tidak ada) begitu, seoab kalau itu dimasukkan harus ada penjabarannya juga di dalam pasal-pasal.

Demikian pendapat FABRI terima kasih.

KETUA:

TAP MPR Nomor 11 Tahun 1978, yah Pak.

Jadi atas penjelasan dan ajakan Pemerintah tadi yang terakhir kami serahkan pada Fraksi-fraksi. Sehingga untuk memberikan tanggapan ulang, Pemerintah tadi menyarankan bagairnana cara berpikir kita apakah kita ingin yang langsung saja, atau memilih·milih yang tidak langsung. Dan TAP MPR Nomor II Tahun 1978 tentang P4, Pemerintah tidak ke- beratan.

Kami persilakan untuk menanggapi ajakan Pemerintah tadi, dan kami persilakan FPDI.

FPDI (Djupri, S.H.):

Menurut FPDI apa yang diusulkan dan tadi sudah disetujui Pemerintah sebenamya memang penting sek.ali, sebab P4 dicantumkannya di dalam RUU mengandung maksud

(8)

- - - - - -

agar supaya dengan alasan-alasan yang tadi sudah saya utarakan bahwa pembangunan, khu- susnya pembangunan di bidang pendidikan ini pada hakekatnya merupakan pengamalan dari Pancasila. Sehingga segala sesuatu kegiatan pendidikan ini pada hakekatnya merupakan perwujudan daripada usaha-usaha bersama dalam rangka pengamalannya, artinya mewujud- kannya dalam kehidupannya sehari-hari. Terkait dengan jiwa itu maka FPDI berpendapat bahwa dipandang penting sekali untuk dicantumkan di dalamnya.

Demikian sebagai penegasan dari FPDI.

KETUA:

Kami persilakan dari FPP ..

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Memang kami dapat mengerti sepenuhnya ajakan pak Menteri dan memang perlu kita dalami persoalannya. Namun sementara kami berpikir bahwa kita membentuk Undang- undang memang mempunyai suatu sasaran dan untuk itu memang harus ada landasan.

1.andasan ini bisa dua macam, bisa kita lihat yang sangat langsung dan yang terkait dengan itu. Kalau dapat memang kita ingin supaya masalah-masalah yang terkait dengan isi perundang-undangan yang kita bikin itu dimasukkan sebagailandasan atau dasar berpikir kita, ini yang merupakan pokok pemikiran kami. Sehingga kami mengajukan seperti yang tadi. Namun kalau sekarang ditanyakan bagaimana maksud kita, kami ingin memikirkan agak lebih baik kalau yang terkait itu kita ingat. sehingga ditulis dalam "mengingat" kare- na dia terkait. Dan kami teringat pada tambahan dari F ABRI bahwa yang kedua rupanya sudah ditanggapi langsung oleh pak Menteri, kami belum menanggapi, jadi kami mohon perkenan untuk kami tanggapi pada kesempatan ini.

Kebiasaan kita pada waktu yang terakhir adalah tidak memasukkan TAP ~IPR ke da- lam konsiderans Undang-undang, itu pada waktu terakhir. Memang dulu pada waktu per- tama kali kita membentuk Undang-undang sesudah Pemilihan Umum yang kita adakan pada zaman Orba, kita memasukkan TAP MPR ke dalam. Kemudian melihat bahwa TAP MPR berlaku 5 tahun maka atas dasar pemikiran itu, maka pada waktu sesudah itu kita sering tidak memasukkan lagi TAP MPR ke dalamnya. Ini memang berlakunya tidak hanya 5 tahun, namun sebagai kualifikasi dia adalah TAP MPR Apakah ini perlu kita masukkan atau tidak, ini perlu kita pikirkan pula.

KETUA: ·

Demikian tanggapan dari FPP baik atas penjelasan Pemerintah maupun latar belakang usulan masing-masing Fraksi lain.

Kami persilakan dari F ABRI untuk menyampaikan tanggapan ulang.

F ABRI (A.S. Haryono ):

F ABRI ingin mengajak kembali untuk menyatakan landasan berpikir dari F ABRI, bahwa ayat yang akan dipakai itu kami hanya berdasarkan pada ayat-ayat yang secara lang- sung atau pasal·pasal yang secara langsung dasar pembentukan Undang-undang.

Jadi dasar pemikiran kami bukan dasar untuk menyusun pasal-pasal atau ayat-ayat isi dari RUU itu, tapi adalah dasar pembentukan Undang-undang. Oleh sebab itu yang kami ambil hanya 5, 20, dan 31.5 dan 20 itu adalah yang berhak a tau yang mengadakan, sedang- kan 31 adalah perintah untuk mengadakan Undang-undang. Sehingga kami tidak memasuk- kan yang lain-lain. Otomatis apabila kita membentuk Undang-undang yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, otomatis ayat-ayat atau pasal-pasal yang ada di Undang-undang.

(9)

itu akan mendasari pasal-pasal dan ayat-ayat dari isi Undang-undang itu sendiri, tidak perlu kita cantumkan satu per satu.

Tapi apabila kita akan cantumkan, maka akan terlalu banyak dan juga tidak sebagai- mana dasar pikiran, karena dasar pikiran bukan pasal yang memberi dasar isinya tapi dasar pembentukan. Ini dasar pernikiran karni. Lalu oleh sebab itu juga hubungannya dengan TAP MPR itu karni tidak memasukkan TAP itu karena TAP sama sekali tidak memerin- tahkan atau bukan men,ipakan dasar hukum untuk membentuk Undang-undang Pendidikan.

Meralat sedikit tadi alasan dari teman kita pak Sahuntung yang tadi pada kurikulum bukan TAP II mengenai P-4 tapi yang kita hubungkan adalah sama-sama kedudukan TAP.

Kalau yang lalu itu TAP MPR tidak dimasukkan, karena kedudukan TAP itu sudah secara hukum mengatur kita semua, sehingga tidak perlu masuk dalam Undang-undang, inipun sudah mempengaruhi bahwa dengan adanya TAP itu di mana saja, itu tidak boleh orang itu mengembangkan atau mengajarkan paham Komunisme dan sebagainya.

Kemudian sepikiran dengan itu bahwa TAP mengenaiP-4tidak perlu kita masukkan di sini untuk takut-tah.'Ut kalau nanti tidak tersinggung atau menyalahi P-4 dan sebagainya saya kira tidak perlu. Sebab P-4 kedudukannya dalam TAP MPR sudah mengi.kat kita se- luruhnya. Ada atau tidak dalam RUU ini, kita sudah terikat bahwa kita hams patuh ke- pada P-4 itu. Apalagi di depan dasamya sudah "berdasarkan Pancasila dan UUD 1945", ini yang perlu kita pikirkan. Apabila pengertian ini yang sepintas lalu kami dengan tadi dari uraian dasar pemikiran FKP diterima itu adalah dasar untuk pembentukan, maka tidak ada masalah. Jadi pasal-pasal lain yang hanya menyinggung yang nanti akan mendasari isi, itu tidak perlu masuk.

KE TUA:

Demikian tanggapan ulang yang merupakan penegasan dari sikap F ABRI atau alur pi- kirannya F ABRI mengajak agar di dalam "mengingat" ini diangkat pasal-pasal yang secara langsung mendasari pembentukan Undang-undang-nya itu sendiri. Ini dasar pernikiran dari FABRI.

Kami persilakan dari FKP.

FKP (Harsono):

Kami mendahulukan TAP MPR Nomor II Tahun 1978, jadi baik usulan FKP maupun FPDI tadi sudah diterima oleh Pemerintah. Selanjutnya menanggapi apa yang dikemukakan rekan-rekan dari FPP dan FABRI kita bisa melihat pada 5 Undang-undang Bi.dang Politik.

bahwa pada konsiderans "Mengingat" itu tidak hanya pasal-pasal dalam UUD tapi juga TAP MPR yang memerintahkan. Jadi dimasukkannya TAP MPR dalam Undang-undang ini, saya kira tidak bertentangan dengan itu.

Jadi FKP tetap pada pendapatnya dan menyatakan terima kasih atas diterimanya oleh Pemerintah mengenai TAP MPR Nomor II Tahun 1978. Selanjutnya tentang istilah dari FPP "yang langsung" kami istilahnya "yang langsung memerintahkan'', usulan FKP yang tadi telah dikemukakan yaitu Pasal 5 (1 ), Pasal 20 (1) selanjutnya Pasal 31. Sedang- kan Pasal 32 dan 36 tadi kalau tidak salah diterima oleh Pemerintah, jadi itu belum saya cabut dan saya berpendapat bahwa yang terkait memang perlu diadakan peninjauan atau yang tidak berkait langsung supaya diadakan peninjauan dan ditiadakan di dalam konsi- derans "Mengingat" ini.

Jadi usulan FKP dengan apa yang diterima oleh Pemerintah tadi saya kira tetap.

(10)

KETUA:

Kami mohon karena masih kurang jelas, jadi bagaimana tanggapan FKP terhadap ajak- an dari Pemerintah tad.i 2 alternatif itu yang agak jelas, apakah kita ingin membicarakan yang terkait langsung atau juga yang tidak langsung terlepas dari jawaban Pemerintah tad.i bahwa Pemerintah tidak keberatan, ini yang kami mohon supaya Pemerintah bisa mende- ngar pendapat dari Fraksi-fraksi.

FKP (Harsono ):

Menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Pimpinan, tadi dalam awal apa yang kami ke- mukakan bahwa yang dimasukkan dalam konsiderans "Mengingat" adalah yang pertama- tama merupakan dasar hukum daripada Undang-undang ini. Kedua, produk hukum yang lebih tinggi yang memerintahkan terhadap dibuatnya Undang-undang ini.

Jad.i dengan penjelasan itu, saya kira jelas bahwa yang terkait tetapi tidak langsung itu bisa didrop dari dasar hukum yang diajukan seperti ta di saya sudah mendengar pengertian yang baik dari FPDI untuk menarik Pasal 27.

KETUA:

Kepada Pemerintah, Pimpinan ingin mencoba merangkum tadi jadi hakekatnya pada dasarnya Fraksi-fraksi jelas tidak keberatan kepada pasal-pasal yang terkait langsung.

Namun Fraksi-fraksi juga masih menghendaki untuk mendalami pasal-pasal yang kait- annya tidak langsung. Oleh karena itu kami. mohon sekali lagi Pemerintah untuk me:

nanggapi kembali atas tanggapan ulang, pendapat dan pandangan ulang dari Fraksi-fraksi.

Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH:

Ikhtisar dari apa yang dicatat di sini kalau saya tidak keliru sebagai berikut:

Yang disepakati oleh seluruh Fraksi adalah pencantuman Pasal 5, Pasal 20 (1), dan Pasal 31. ini mendapat kesepakatan dari seluruh Fraksi. Kalau ditambah 1 pasal lagi, yaitu Pasal 3 2 maka tambahan ini yang tidak ada dari F ABRI saja.

Jadi tingkat pertama adalah Pasal 5, Pasal 20 (1) dan Pasal 31, ini oleh keempat fraksi. Ditambah 32, itu 3 Fraksi. Sekarang yang seluruhnya adalah Pasal 3.0, 31, 33 dan 36 ada 4 pasal. Ditambah oleh FPP Pasal 29.

KETUA : Dan 34.

PEMERINTAH:

Dua usulan tambahan olelr FPP dilihat secara keseluruhan. maka ada kesamaan-ke- samaan yang barangkali sudah bisa ditegaskan bagaimana kalau sisanya supaya pembicaraan ini sungguh-sungguh mendalam dan bisa memenuhi syarat-syarat perundang-undangan.

Seperti tadi F ABRI menjelaskan soal TAP MPR perlu tidaknya dicantumkan, supaya sisa- nya dibicarakan di Panja saja.

KE TUA:

Maksudnya Tim Kecil begitu?

PEMERINT AH:

Yah, .betul. Artinya s~jauh mana kita bisa menyeragamkan kesamaan pasal-pasal ini sebab bag1an yang te_r~ntmg, yang t~rkait langsung itu sudah tidakjadi masalah. Sedang- kan yang me~gacu, ln1 t~rgantun.g SeJ_auh mana kita akan memperpanjang acuan itu, tapi yang te:~en~mg sudah d1sepakati, yaitu yang berkaitan langsung dengan pendidikan. Ha- nya kamt mgm menyarankan kalau mungkin Pasal 32 itu disertakan, dan ini kaitamtya ada-

(11)

lah dengan Bab XIII secara keseluruhan. Satu-satunya yang tidak mencantumkan kebetulan dalam hal ini satu Fraksi saja. Oleh karena itu kalau itu ditambahkan, maka yang menjadi minimal kesamaan adalah Pasal 5, Pasal 20 (1), Pasal 31 dan 32, ini sudah merupakan inti dari yang barangkali sudah kita sepakati. Selanjutnya bisa dibicarakan dalam Tim Kecil.

KETUA:

Sebelum kita lanjutkan perlu kami beritahukan bahwa pada hari ini kita mendapat ke- hormatan salah seorang Pimpinan Dewan, Bapak J. Naro saya lihat duduk di belakang sana.

Dan kepada Bapak Naro atas perhatiannya pada jalannya rapat Pansus, kami atas nama ra·

pat mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kehadiran Bapak dapat mendorong cepat- nya selesainya ini. Tapi kami yakin pak Naro sangat concerned terhadap RUU yang sedang kita bahas ini.

Kembali kami serahkan kepada Fraksi-fraksi untuk menanggapi apa yang diungkapkan oleh Pemerinah tadi.

Kami persilakan FPP tadi yang pertama mengajukan jarinya.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum S.H.):

Tadi Pak Menteri terakhir sudah hampir dekat kepada suatu kesimpulan hanya saja ke- betulan melihat dai segi jumah, bukan voting tapi jumlah. Karena itu kami ingin mengusul- kan supaya meskipun satu yang mengusulkan itu ditambah satu. Kami mengusulkan dua kami minta ditambah pada golongan yang disebut pak Menteri tadi Pasal 29.

KETUA:

Kami persilakar dari FPDI mohon untuk memberikan tanggapannya, supaya urun rembug kita itu enak sehingga yang sudah-sudah ini tidak ada satu apapun keputusan yang tidak merupakan kemufakatan kita.

Kami persilakan FPDI (Djupri, S.H.) :

Setelah kita bermusyawarah ini FPDI ingin menegaskan bahwa memang yang pantas dan berhubungan langsung di dalam pasal-pasal ini pada akhirnya adalah memang Pasal 5 (J ), itu memang jelas, Pasal 20 juga jelas, Pasal 31 itu justru yang sumber utamanya.

Kernudian Pasal 32 ini yang menyangkut kebudayaan yang ada hubungannya langsung de- ngan dunia pendidikan, sehingga kalau bermaksud untuk agar yang penting saja yang dican- tumkan, kami setuju apa yang tadi telah disampaikan sebagai katakan kesimpulan dari pembicaraan kita pada pagi hari ini mengenai dasar yang diperlukan dalam menyusun RUU ini.

Khusus TAP MPR Nomor II Tahun 1978 bahwa kami menyadari memang pada umum- nya TAP MPR ini dibahas 5 tahun sekali dan pada umumnya kesemuanya akan mengalami perubahan atau penyempurnaan, tetapi secara khusus kami minta perhatian untU:~ TAP MPR Nomor II ini pada hakekatnya merupakan usaha-usaha dalam rangka untuk agar rak- yat Indonesia terutama dalam dunia pendidikan ini kita tidak hanya sekedar mengerti dan menghayati, tapi juga dalam rangka pengamalan Pancasila dan sekaligus mengingatkan ke- pada kita bahwa dalam dunia pendidikan ini dalam rangka usaha-usaha pembangunan khususnya di bidang pendidikan untuk pengamalan itu, saya kira tidak ada salahnya untuk dicantumkan.

Dan di dalam berbagai perundang-undangan yang sebelumnya, ini memang dicantum- kan khusus untuk TAP MPR yang agak bersifat istimewa. Kalau GBHN saya kira itu dengan sendirinya akan dirubah, disempurnakan. Tapi kalau TAP ini menurut pendapat FPDI pen- ting dan oleh karena itumohon bisa dipertimbangkan sekali lagi, sebab dipandang perlu un- tuk dicantumkan di dalam ha! "Mengingat" ini.

(12)

KETUA:

Kami masih mohon urun rembugnya dari F ABRI menghadapi usulan-usulan yang ter- akhir.

FABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo):

Setelah kita berdiskusi, memang kami sudah menduga bahwa keinginan untuk mema- sukkan pasal itu memang banyak. Kalau dimasukkan semua, 11. Jadi ini memang sulitnya untuk milih yang mana yang tidak langsung. Tadi kami sudah menawarkan. Barangkali yang paling tepat adalah langsung untuk pembentukan Undang-undang saja, ialah Pasal 5.

Pasal 20 (1) barangkali rekan da ri FKP menyarankan kami bisa menerima, dan Pasal 31 barangkali ini yang paling netral untuk secara konsekuen dalam "Mengingat" ini adalah ka- rena tugas kita membentuk Undang-undang sesuai dengan Pasal 31 tentunya, dus produk terakhir dari Undang-undang ini.

Juga kita contoh dari Undang-undang Nomor 2 Tahun 1988 mengenai Prajurit ABRI.

Di sanapun hanya Pasal 5 (1), Pasal 20 dan Pasal 30 saja. Jadi dengan demikian pendapat kita bahwa dalam menyusun ini "Mengingat" adalah mana yang penting untuk pembentuk- an Undang-undang. Memang benar Pasal 32 masuk dalam satu Bab XIII Pendidikan, benar.

Namun ini ada kelemahannya, karena tidak langsung. Di sana ada amanat Undang-undang Kebudayaan, yang ada itu Undang-undang tentang Sis tern Pengajaran Nasional. Oleh karena itu kami tetap berpendapat bahwa "Mengingat" adalah menunjuk Pasal-pasal UUD 1945 yang langsung terkait dengan pembentukan Undang-undang.

Demikianlah oh, maaf masih ada tambahan sedikit.

KE TUA:

Silakan.

Tambahan sedikit ini tadi yang diulas baru pasal-pasal Undang-undang. Tapi tadi alasan untuk tidak memasukkan TAP selain alasan tadi, kami menyinggung yang tadi disebut oleh FKP bahwa menyinggung mengenai 5 Undang-undang. Kalau kedudukan TAP MPR sebagai dasar 5 Undang-undang ini berbeda. Di sini memang justru itulah yang memerintahkan un- tuk membentuk 5 Undang-undang itu. Sehingga TAP-nya memang fungsinya TAP itu ada- lah memerintahkan membentuk Undang-undang, itu lain dengan ini. Kecuali satu Undang undang tentang Parpol itu tidak ada TAP-nya, yang ada hanya 4 dan TAP yang 4 itu seluruhnya langsung memerintahkan untuk membentuk Undang-undang.

Ini perlu kita lihat kembali, sehingga kami tetap agak kurang tepat ap~hila TAP itu . masuk, karena dasar kami adalah yang langsung membentuk Undang-undang.

KE TUA:

F ABRI telah memberikan pendapat tambahan dan juga memberikan tanggapannya ke- pada FKP.

Kami masih ingin memperoleh urun rembugnya dari FKP, silakan.

FKP (Harsono ):

FKP setelah mendengar dari beberapa rekan Fraksi lain yang telah mengemukakan dan juga terutama dari Pemerintah yang saya kira belum kesi'Inpulan akhir, jadi sifatnya me- nawarkan. Pemerintah tadi mengemukakan bahwa yang telah ada kesepakatan semua:, arti- nya kesamaan dari semua Fraksi, yaitu Pasal 5 (1 ). Pasal 20 FKP khususnya mengajukan A vat (1) yang tadi sudah dimengerti oleh F ABRI, Pasal 31. Pasal 3 2 disetujui oleh 3 fraksi, it~ yang dikemukakan oleh Pemerintah. Dan kalau tidak salah dari rekan FPP menambah Pasal 29. Selanjutnya dari FPDI kecuali Pasal 5 (1), Pasal 20 (1), Pasal 31, Pasal 32. dan TAP Nomor II Tahun 1978. Dari FKP sesuai dengan usulan ini, yaitu Pasal 5 (1), Pasal 20 (1), Pasal 31, dan Pasal 32. Pasal 32 yang tidak setuju hanya FABRI, mungkin di Timcil atau bagaimana nanti.

(13)

Sedangkan men~enai TAP II Tahun 1978, saya memahami apa yang dikemukakan F ABRI. Namllll demikian meskipllll alasannya agak berbeda dengan FPDI, kalau dikatakan GBHN 5 tah\lll sekali ditinjau tapi untuk TAP II Tahun 1978 ini tidak tiap 5 tahun ditinjau.

Dan satu soal lagi yang le bih pen ting bahwa TAP ini adalah menyangku t kelangsungan hid up bangsa kita, jadi sesudah tadi Pemerintah memahami, FKP mengajukan juga dan FPDI, kira·

nya untuk rekan-rekan Fraksi lain khususnya untuk TAP II Tahun 1978 ini tidak tiap 5 tahun ditinjau. Dan satu soal lagi yang lebih penting bahwa TAP ini adalah menyangkut kelangsungan hidup bangsa kita, jadi sesudah tadi Pemerintah memahami, FKP mengaju- kan juga dan FPDI, kiranya untuk rekan-rekan Fraksi lain khususnya untuk TAP II Tahun 197 8 ini tidak disamakan dengan TAP-TAP yang hanya berlaku 5 tahun sekali. Karena ini menyangkut kelangsungan hidup bangsa, di mana generasi mendatang perlu memahami mengenai ini.

KETUA:

Pimpinan ingin mencoba menyimpulkan sementara bahwa bukan substansinya tentu- nya at au materi supaya tidak salah terima TAP II Tahun 197 8 yang tidak diterima, tapi T AP-nya itu mau dicantolkan di dalar:p konsiderans "Mengingat" masih ada perbedaan pandangan.

Kemudian tentang pasal-pasal UUD 1945 yang langsung terkait pada perintah ataupun di dalam rangka pembentukan Undang-undangyaituPasal 5 (1), Pasal 20 mungkin Ayat (I), dan Pasal 31 itu sudah semuanya disepakati.

Pemerintah masih mengusulkan bagaimana Pasal 329 Masih belum memperoleh kese- pakatan. Dan terkait dengan acuan Pemerintah Pasal 32, FPP mengusulkan mbok yah Pasal 29, belum ada kesepakatan.

Jadi rupa-rupanya menurut Pimpinan posisinya disitu. Kelihatannya Fraksi-fraksi lain sudah tidak banyak lagi menyinggung masalah Pasal-pasal di luar yang kami sebut tadi.

Oleh karena itu kami serahkan kembali kepada Fraksi-fraksi.

Kami persilakan FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Karena tadi Pimpinan menyebut dari FPP, maka kami minta bicara. Barangkali kalau kita sudah mengambil kesimpulan yang kita sepakati ini kita putuskan, mungkin cepat. Se- bab semua persoalan yang kita bicarakan di sini kita akui bersama-sama, itu penting. Na- mun apakah langsung hubungan dengan RUU, ini yang menjadi masalah.

Oleh karena itu kami melihat kita sudah bisa sepakat semua terhadap apa yang diusul- kan F ABRl. Dengan penuh pengertian saya kira terhadap kepentingan keseluruhannya, FABRJ sudah mengusulkan suatu jalan yang sebelum kita bicara sudah di tengah. Jadi kami kira kalau kita sepakat semua untuk menerima usu! F ABRl sudah bisa diterima.

KETUA:

Saya rasa usu! yang sangat simpatik dari rekan FPP, tinggal Pemerintah. Jadi kalau usulnya FPP kalau kita sepakat usulnya F ABRI maka kita sepakati, maka itulah yang ada di dalam "Mengingat".

Sehingga yanglain-lainnya mari kita ingin mendapatkan apakah tidak diteruskan, apa- kah masih mau didalami di Timcil, tetapi kalau misalnya tidak didalami ya monggo. Karena kesepakatan kita, tapi pendapat usul yang simpatik ini mohon ditanggapi dengan sebaik- baiknya.

Kami persilakan dari Pemerintah.

(14)

PEMERINTAH :

Saudara Ketua, karena mendengarkan alasan-alasan itu semua masuk akal, maka saya juga menjadi ragu untuk menetapkan mana diantara argumen-argumen ini yang tidak bisa diterima. Nyatanya semua bisa diterima menurut kedengaran saya, dan oleh karena saya baru pertama kali mengalarni pembahasan tentang undang-undang ini, jadi ada istilah kela- ziman, mana yang tidak lazim dan sebagainya. Saya juga ragu untuk segera mengambil keputusan, kalau saya boleh terus terang, saya lebih cenderung ingin mendengar pendapat lain-lain dahulu.

Sementara ini seperti ta di say a usulkan. apa yang diusulkan F ABRI itu bisa kita anggap sebagai suatu minimum yang sudah memadai, kalau ingin diperpanjang, maka ada pasal- pasal lain yang bisa mengacu. Kalau umpamanya disepakati bahwa kita memilih jalan yang minimum tetapi memadai, maka saran F ABRI inilah dapat diterima. Tapi karena masih ada saran tambahan Pasal-pasal lain, maka tanpa mengurangi kesepakatan yang sudah mini- mal itu tadi saya ingin mendengar dahulu oleh karena kalau mengikuti dengan cermat, semua argumen ini masuk akal. Jadi mana yang saya tidak setujui juga sulit.

Satu-satunya dari pihak kami pasal dari pihak kami yang masih rasanya perlu tercan- tum, ini ma'af juga karena saya tidak punya argumentasi lain ialah Pasal 32. Satu-satunya argumen yang dapat saya ajukan adalah karena pertama, ini terkait pada bab tentang pen- didikan, kedua oleh karena pendidikan itu mengacu pada memajukan kebudayaan.

Ini satu-satunya yang dapat saya terangkan, tapi apakah ini lazim atau tidak saya ku- rang tahu. Untuk itu, maka saya sarankan kalau kita bisa menerima saran FABRiyang di- tunjang oleh FPP ya selesailah sudah. Kami dapat menerima, walaupun 32 nya masih jadi pikir-pikir. Bisa memahami sepenuhnya, saya bisa memahami karena takut kemarin FPDI bilang memahami semua, tetapi kok tidak keterima.

Jadi minimalnya ini kita sepakati di sini artinya belum di top begitu maksudnya. Ka- rena banyaknya Pasal tambahan yang diusulkan, kalau tidak ada kesepakatan diteruskan ke Tim kecil saja, tanpa mengganggu yang minimal sudah disepakati.

KETUA:

Jadi demikian usu! Pemerintah rupanya kita minta kesepakatan terhadap istilah dari Pemerintah tadi tentang usulan minimal yang sudah disepakati bersama, kita sepakati dan rupanya Pemerintah masih mengajak untuk mendalami lain-lain yang tidak terkait secara langsung di dalam Timcil begitu? Khususnya Pasal 32.

Karena kalau 32 itu berarti sekaligus tadi dari FPP 29. Dari FPP tadi setelah di dalam pertengahan pembahasan lalu baiklah kalau toh memang Pemerintah yang minimal dan mohon Pasal 32 yang tidak begitu langsung, lalu FPP mengatakan baik FPP beranggapan titiplah Pasal 29, sehingga tidak bicara Pasal 34 nya lagi begitu ya?

Kemudian pembahasan yang lebih lanjut, FPP tidak keberatan untuk meninggalkan usulannya tanpa menghilangkan argumentasinya asal kita sudah sepakat kepada 3 pasal itu.

Ini posisi pembahasap yang terakhir.

PEMERINT AH :

Tadi dicontohkan oleh FABRI, bahwa Undang-undang yang sudah ada itu mencantol kepada satu pasal yang bersangkutan langsung saja begitu, kalau memang itu memadai, maka saran F ABRI bisa diterima. Kalau tambahnya 28, lalu tam bah 29, ya sekalian saja 29, 30, 31. Jadi se bagaimana yang karni sarankan ta di, kalau yang minimal ya minimal be-

(15)

tul. Kalau mau yang terurai ya terurai semua, pilihannya begitu. Sebab kalau menurut yang saya dengar tadi apa yang dirumuskan oleh FABRI ini sudah memadai sebagai cantel- an dan pokoknya pas, sudah memenuhi syarat, ini kami dapat menerima. Kalau tambahan 32 itu tadi, bukan maksudnya lalu di koma-koma lagi, tapi karena semata-mata itu Pasal dari bab pendidikan.

Jadi kalau ditambah lagi 29 ya melar lagi, 30, 31, 32 dan sebagainya. Sebab sekarang terse rah kami berlapang dada untuk mengatakan kita dapat menerima saran F ABRI kalau itu memang sesungguhnya menurut kelaziman sudah pas atau tidak kelirulah untuk Un- dang-undang.

KE TUA:

Terima kasih, jadi dari pihak Pemerintah minta ketegasan, oleh karena itu Pimpinan untuk supaya mantapnya itu mohonlah ketegasan. Kalau toh memang 3 Pasal itu dianggap sudah pas, pas untuk upaya menyusun Undang-undang tentang Pendidikan Nasional ini ya sudah. Oleh karena itu Pemerinah minta pendapatnya Fraksi-fraksi sekali lagi yang te·

gas, kalau memang itu pas ya sudah, selesai.

Kami persilakan dari FKP.

FKP (Harsono) :

FKP sesudah memperhatikan apa yang diutarakan oleh Pihak Pemerintah juga dari rekan-rekan FPP untuk khusus dari FPP tadi mengajak kepada kit a semua untuk menyepa·

kati apa yang diusulkan oleh FABRI, kalau tidak salah begitu.

Sedangkan dari pihak Pemerintah tadi mengemukakan kecuali rumusan FABRI untuk dipertimbangkan,jadi belum se!esai mengenai Pasal 32 dari pihak Pemerintah.

KETUA:

Jadi Pemerintah posisi yang terakhir terserah kepada Fraksi-fraksi. Jadi kalau Fraksi·

fraksi menganggap betul, menjamin katakanlah begitu seolah-olah, kalau 3 Pasal itu sudah demikian pas, pas itu ya tidak salah, tidak kurang, tidak lebih, itu Pemerintah tidak kebe- ratan mungkin dengan batin yang agak mengapa kok 32 tidak masuk, tapi prinsipnya Frak·

si lain setuju, setuju.

Posisinya begitu kalau tidak salah, betul begitu Pak?

PEMERINTAH:

Pasal 32 asal jangan kaitkan ke lain-lain.

KE TUA:

Kalau misalnya akibat usulan Pasal 32 kemudian terkait yang lain-lain, tadi Pemerin·

tah ya sudah semuanya saja tidak. Begitu tetap minimal saja. lni maka posisinya.

Jadi kalau hanya Pasal 32 semua setuju, Pemerintah senang sekali, tapi kalau usulan Pemerintah Pasal 32 mengundang ya ini ... ini ... ini Pemerintah lebih baik tidak kem·

bali ke minimal.

Mohon FKP.

FKP (Harsono) :

Jadi Saudara Pimpinan, sesudah diberikan penjelasan ulang oleh Pimpinan, bahwa yang

(16)

diajukan oleh FPH tadi diajak kita semua untuk menyepakati usul F ABRI berarti Pasal 5 Ayat (1 ), Pasal 20 Ayat (1 ), Pasal 31.

Dengan pengertian bahwa usulnya FPP juga ditarik, maka terhadap Pasal-pasal ini FKP dapat menyetujui. Mengenai Pasal-pasal Undang-undang Dasar.

Mengenai TAP II Tahun 1978 FKP masih mengajukan nanti dalam Tim kecil untuk pendalaman Pak. Jadi sama dengan apa yang dikemukakan oleh PDI kalau khusus mengenai usul TAP II Tahun 1978 ini dibawa ke Timcil.

KETUA:

Jadi FKP dengan lain perkataan yakin bahwa Pasal 3 tadi pasal 5, 20, 31 kalau kita akan disepakati usulan Pasal-pasal lain tidak ada hanya masih mohon kiranya untuk mem- bahas TAP II Tahun 1978 itu di Timcil.

Kami persilakan dari FPDI, tinggal 2. kalau FABRl jelas, FPP jelas yang untuk pasal- nya itu nanti, babnya kita buka lagi.

FPDI ( D j up r i, S.H.):

Untuk masing-masing lebih mendekatkan titik yang kita tuju bersama, kami setuju kalau yang pertama disetujui pasal-pasal Undang-undang Dasar 1945 yang ciisebut tadi, Pasal 5 ayat (I), Pasal 20, Pasal 31, Hanya :chusus mengenai TAP MPR Nomor II Tahun 1978 pada prinsipnya kami bisa menerima dengan satu catatan, toh nanti kita mengharap- kan dari FPDI katakanlahjiwanya itu dituangkan di dalam satu penjelasan umum. Jadi saya kira itu sudah selesai, sehingga dengan demikian akan ada penegasan sebagai pengamalan Pancasila mengenai pengolahan pendidikan ini, saya kira itu sudah menjadi selesai.

KETUA:

Kepada Pemerintah kami sampaikan pada keempat Fraksi rupanya sudah ada sepakat cukup apabila Pasal-pasal dalam Undang-undang Dasar 1945 itu yang diangkat di dalam konsideran mengingat Pasal 5 Ayat (1 ), Pasal 20 Ayat (1) dan Pasal 31.

Apakah Pemerintah juga setuju?

PEMERINTAH :

Sekarang lebih sreg lagi untuk mengatakan setuju sebab dari konsultasi para ahli hu- kumnya mengata]\an memang apa yang diajukan oleh F ABRI yang tepat. Oleh karena itu tidak ragu lagi.

KETUA:

Jadi kita sepakat untuk mengisi, mengingat dalam yang diangkat dari Undang-undang Dasar 1945 adalah Pasal 5 Ayat (1 ), Pasal 20 Ayat (1) dan Pasal 31.

(RAP AT SETUJU)

Kemuuian kami ingin menanyakan kepada Ibu-Bapak sekalian, terhadap usulan dari FKP untuk, karena nanti seluruh konsideran itu akan di bahas juga di dalam Timcil FKP mohon minta diberi kesempatan untuk kembali mendalami di Timcil dan FPDI juga se- andainya toh tidak dicantolkan di dalam konsideran asal jelas di dalam penjelasan umum.

Iha ini kami minta kesepakatan, apakah nanti di Timail kita semua sependapat untuk juga sekali lagi membahas tepat tidaknya TAP MPR Nomor II Tahun 1978 itu berada di konsi- deran. Jadi dalam Timcil didalami, didiskusikan untuk mencari titik temu, apakah ini di- setujui? Kami mohon pendapatnya dari FPP.

(17)

FPP {H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Tadi kita sudah berusaha sekuat tenaga supaya masalah-masalah yang tidak bisa sepa- kati dan pokok di sini kita sudah sepakati. Dan pokok di sini sudah kita sepakati. Kami berterima kasih hanya dengan ralat sedikit bahwa bukan menarik kami punya usul tapi ka- mi ingin musyawarah untuk mufakat dan ini sudah P-4.

Oleh karena itu apakah tidak mungkin kalau di sini kita menuntaskan. Tentunya tidak akan memakan waktu lama-lama, dan karni sudah sepakat dengan usul F ABRI tadi, itu sudah jelas pendapat kami terserah yang lain.Jain.

KETUA:

Jadi FPP menghendaki di dalam mengingat ini supaya kalau bisa diselesaikan di dalam rapat sekarang ini. Oleh karena itu tinggal menyangkut TAP Nomor II perlu tidaknya di sana-sini masih ada.

Sekali lagi bukan pro kontra isinya, nanti jangan sampai salah terima.

Apakah perlu pendekatan? Pemerintah silakan.

PEMERINTAH :

Seperti Saudara Ketua tegaskan, masalah ini jadi bukan masalah pro kontra ismya.

Saya tadi juga tidak mengajukan keberatan oleh karena pro isinya. Tapi setelah mendengar tidak lazim dan sebagainya ini yang terns terang saya tidak bisa mengomentari. Jadi kalau memang tidak lazim ya tidak, karena ahli hukum kita bilang, itu tidak lazim dan tidak tem- patnya. Jadi saya terns terang saja menyuarakan ini sebagai corong yang mengatakan tidak tempatnya.

J adi tidak keberatan dalam arti isinya, tapi jadi bimbang, karena katanya bukan tempatnya.

Ui.a ini terserah yanglebih ahlilah.

KETUA:

Dengan ajakan FPP kami persilakan FKP untuk memberikan tanggapannya.

FKP (Drs. H. Iman Soedarwo Padmosoegondo) :

Saya kira FKP telah menegaskan pendiriannya, dengan menerima 3 Pasal dan ayat- ayatny.a yang telah diketengahkan tadi. Namun demikian, satu masalah yang penting Sau- dara Ketua, masalah tekad Orde Baru yang tertuangkan salah satu di antaranya di dalam TAP Nomor II Tahun 1978 itu perwujudannya akan dijamin melalui sistem pendidikan nasional kita. Ini masalah kelangsungan hidup bangsa kita.

Itulah sebabnya, maka FKP ingin memperoleh kesempatan mendalami sekali lagi masalah ini di dalam Tim Kecil. Apa yang diketengahkan oleh rekan saya dari FPDI se- benarnya simpatik, karena itu adalah mungkin salah satu pemikiran, pemecahan untuk menuangkannya di dalam penjelasan umum, seperti pengalaman kita di dalam pembentuk- an undang-undang yang lain. Umpamanya, kita berbicara tentang undang-undang tentang Protokol, ada dasar hukum yang tidak bisa dicantumkan di dalam konsideran mengingat, oleh karena itu di dalam Tim Kecil ditemukan disalurkan melalui penjelasan umum.

Namun kalau kita berbicara tentang pengalihan dasar hukum ke dalam penjelasan umum, kita hams memikirkan bukan sekedar mengangkat nomor dari ketetapan itu, me- lainkan suatu uraian yang mengamankan kepada undang-undang itu sendiri. Itulah yang dimaksudkan dengan perlunya didalami di dalam Tim Kecil.

(18)

Jadi sekali lagi dengan tidak mengurangi kesepakatan kami terhadap 3 Pasal yang telah diuraikan oleh Saudara Ketua, mohonlah FKP diberi kesempatan mendalami sekali lagi di dalam Tim Kecil supaya kita bisa memikirkan sampai di mana kemungkinannya me- ngangkat TAP Nomor II sebagai masalah yang sangat penting bagi bangsa kita ini.

Saya kira penjelasan ini cukup jelas Saudara Ketua.

KETUA:

Karena itu tersirat dialamatkan kepada Fraksi-fraksi lain dan juga Pemerintah, kami mohon Fraksi-fraksi untuk mencoba memberikan tanggapannya.

Kami persilakan F ABRI.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo) :

Kami kira lam.lasan pemikiran yang pertama untuk memperoleh kesepakatan tadi ada- lah Pasa.l-pasal yang dimasukkan dalam mengingat ada.lah yang langsung ada hubungannya dengan pembentukan undang-undang. Oleh karena itu ke-empat Fraksi sudah sepakat

bahwa 3 Pasal itu yang disepakati. Dan sudah disetujui Pemerintah.

Kemudiau memang, masalah TAP II Pak yang dibicarakan mengenai P-4, tadi dari rekan FPDI juga mengatakan ini masuk mana? Penjelasan atau ketentuan umum. Kami meng- ingatkan, bahwa pada waktu membicarakan masalah kurikulum yang nanti masih di dalam Timus pada dasamya waktu itu dikemukakan bahwa pentingnya pokok-pokok kurikulum antara lain pendidikan Pancasila. Jadi tentunya ini P-4 juga masuk di sana, dalam jabaran lanjutannya nanti sebagai kurikulum yang berlingkup nasiona.l ataupun kurikulum pokok.

Oleh karena itu sebenarnya kembali kepada penjelasan bahwa yang masuk ketentuan po- kok. mengenai P-4 yang sudah ada babnya dan sudah berlaku secara nasional tidak perlu dimasukkan lagi, toh sudah dijabarkan dalam kurikulum yang nantinya akan menjamin, bahwa kurikulum nasional musti mencakup mengenai masalah pendidikan Pancasila.

Dus demikian pendapat kami, dan terakhir adalah, kalau melihat kesepakatan yang kita capai sebenarnya masalah mengingat ini tidak perlu di Tim Kecil lagi. Di sini juga sudah kita sepakati bersama sebenarnya.

KETUA:

Terima kasih. kami persilakan pendapat rekan Fraksi yang lain. Fraksi FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.) :

Hampir saja pada bagian terakhir dari penjelasan F ABRI, Fraksi ABRI hampir menjadi juru bicara Fraksi kami.

Begini Pak Ketua, kita sekarang bicara konsideran. konsideran itu berarti motivasi, landasan dalam membuat undang-undang. l..andasan ini kita perlukan untuk kita mengarah kepada pembuatan undang-undangnya nanti.

Oleh karena itulah maka perlu kita pertimbangkan apa itu landasan-landasan yang ha- ms kita pertimbangkan. Dari menimbang kita sudah bicara motivasi. Mengingatpun tidak lepas dari pada itu karena itu masih merupakan konsideran. Namanya saja konsideran.

Kemudian sesudah itulah baru kita jabarkan di dalam undang-undangnya. Lha undang- undangnya kita sudah sepakat semua, maka yang saya bi.lang tadi hampir menjadi juru bi- cara Fraksi kami karena di dalam kurikulum pokok yang kita usulkan atau menurut kesan saya sudah sepakat kita semua akan diajarkan Pancasila, P-4 adalah Pancasila, menguraikan Pancasila, menjelaskan keseluruhan daripada inti butir-butirnya.

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan golongan muallaf adalah mereka yang diharapkan kecenderungan hatinya atau keyakinannya dapat bertambah terhadap Islam atau terhalang niat jahat

Dengan alternatif program tersebut, prioritas program kerja yang sesuai dengan hasil rancangan program kerja, untuk meningkatkan dan penjaminan mutu pendidikan di UNPAZ,

Petugas UPTD adalah pengguna sebagai pelapor yang diperbolehkan untuk login, melihat data akun, mengubah password, membuat laporan kerusakan jalan, melihat histori

Pada tahap ini, dilakukan simulasi dengan memasukkan perhitungan level dan komponen yang sesuai pada simulator agar level frekuensi dan level minimum jaringan

wawancara merupakan suatu kegiatan pengumpulan data yang bertujuan untuk mendapatkan sebuah informasi yang valid, dilakukan dengan cara percakapan oleh dua belah pihak,

Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan 21 jenis anggrek termasuk ke dalam 16 marga, dimana termasuk 16 jenis anggrek epifit dan 5 jenis anggrek teresterial

kebijakan Direksi dalam melaksanakan pengurusan bank serta memberikan nasehat kepada Direksi.  Dewan Komisaris telah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah terbangunnya sebuah aplikasi mobile game edukasi yang bisa digunakan untuk media pembelajaran ilmu pengetahuan alam kelas