i
KATA PENGANTAR
Pada kesempatan ini saya menyampaikan apresiasi atas tersusunnya Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2011. Petunjuk Teknis ini merupakan implementasi dari amanat Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Kementerian Teknis membuat petunjuk penggunaan DAK.
DAK Bidang Kesehatan diberikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan bidang kesehatan yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan nasional tahun 2011 yang ditetapkan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2011. RKP Tahun 2011 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2010, merupakan acuan bagi Kementerian, lembaga Pemerintah-Non Kementerian dan Pemerintah Daerah maupun masyarakat termasuk dunia usaha sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan program pembangunan.
Kewajiban bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dalam pembangunan kesehatan yakni menyediakan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau dan berkualitas, salah satunya melalui pembiayaan yang bersumber dari DAK Bidang Kesehatan.
Saya berharap DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 dapat memberi daya ungkit yang nyata terhadap prioritas dan fokus pemerintah dalam pembangunan kesehatan di daerah. Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang kesehatan ini, menjelaskan secara rinci penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011. DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 terdiri dari 3 subbidang, yaitu: pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan, dan pelayanan kefarmasian. Pelayanan kesehatan dasar meliputi kegiatan: (1) Pembangunan, Peningkatan dan Perbaikan Puskesmas; (2) Pembangunan Pos Kesehatan Desa; (3) Pengadaan Peralatan kesehatan termasuk Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA); (4) Pengadaan Peralatan Promosi Kesehatan Bergerak.
Pelayanan kesehatan rujukan, meliputi kegiatan: (1) Pembangunan dan Pengadaan Peralatan Kesehatan untuk Program Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif (PONEK) di RS; (2) Pembangunan, perbaikan Bank Darah RS (BDRS) dan Pemenuhan Peralatan Unit Transfusi Darah (UTD) di RS; (3) Pembangunan dan Pengadaan peralatan Instalasi Gawat Darurat RS (IGD RS); (4) Peningkatan Fasilitas Tempat Tidur Kelas III RS; (5) Pemenuhan peralatan laboratorium klinik di Laboratorium Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten/Kota; dan (6) Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di RS Pemerintah Daerah. Pelayanan kefarmasian, meliputi kegiatan:
(1) Penyediaan Obat terutama Obat Generik dan Perbekalan Kesehatan; (2)
Pembangunan baru dan Rehabilitasi Instalasi Farmasi di Kabupaten/Kota; (3)
Pengadaan sarana pendukung Instalasi Farmasi di Kabupaten/Kota.
ii
Peraturan Menteri Keuangan No.216/PMK.07/2010 menetapkan DAK Bidang Kesehatan tahun 2011 diperuntukkan bagi 397 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mendapat alokasi anggaran untuk subbidang pelayanan kesehatan dasar; 440 Dinas Kesehatan mendapat alokasi anggaran untuk subbidang pelayanan kefarmasian; 23 Provinsi dan 256 Kabupaten/Kota mendapatkan subbidang pelayanan kesehatan rujukan. DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011, subbidang pelayanan kesehatan rujukan diperuntukkan bagi 48 RSUD Provinsi, 260 RSUD Kabupaten/Kota dan 54 Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Akhir kata, semoga Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 dapat secara optimal digunakan di daerah. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat dan hidayah bagi kita dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia yang kita cintai.
Jakarta, 17 Desember 2010
MENTERI KESEHATAN,
ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1810/Menkes/SK/XII/2010
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG KESEHATAN TAHUN ANGGARAN 2011
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang : a. Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 58 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, telah ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 216/PMK.07/2010 tentang Alokasi dan Pedoman Umum Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2011;
b. Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 216/PMK.07/2010 perlu menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2011;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2. Undang–undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
3. Undang–undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400 );
4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
5. Undang–undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
6. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
7. Undang–undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5167);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);
12. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2010 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2011;
13. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4212);
sebagaimana yang telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004 ( (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4418);
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Dana Alokas Khusus (DAK);
15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 216/PMK.07/2010 tentang Penetapan Alokasi dan Pedoman Umum Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2011;
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Kesatu : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG KESEHATAN TAHUN ANGGARAN 2011.
Kedua : Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2011 sebagaimana dimaksud Diktum Kesatu tercantum dalam Lampiran Keputusan ini;
Ketiga : Petunjuk Teknis sebagaimana dimaksud Diktum Kedua agar digunakan sebagai acuan oleh Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota dalam Pengelolaan dan Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2011;
Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 17 Desember 2010
MENTERI KESEHATAN,
ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH
vii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI iii
DAFTAR ISI vii
BAB I PENDAHULUAN 1 A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 3 C. RUANG LINGKUP 3 D. PENGALOKASIAN DAN PENYALURAN 4 BAB II KEBIJAKAN DAK BIDANG KESEHATAN TAHUN 2011 5 A. KEBIJAKAN UMUM 5 B. KEBIJAKAN KHUSUS 6
BAB III PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN TEKNIS 7 A. PERENCANAAN 7 B. PELAKSANAAN 7 BAB IV SUBBIDANG PELAYANAN KESEHATAN DASAR 8 A. PUSKESMAS 8
B. PUSKESMAS PERAWATAN 11
C. POSKESDES 17
D. SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH 19
E. PERALATAN PROMOSI KESEHATAN BERGERAK 21
BAB V SUBBIDANG PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN 23
A. PENINGKATAN SARANA PRASARANA DAN PENGADAAN PERALATAN KESEHATAN UNTUK PROGRAM PONEK DI RS 23
B. BANK DARAH RUMAH SAKIT DAN UNIT TRANSFUSI DARAH
DI RUMAH SAKIT 28
viii
C. PENINGKATAN FASILITAS INSTALASI GAWAT DARURAT
RUMAH SAKIT 36
D. PENINGKATAN FASILITAS TEMPAT TIDUR KLASIII RS 42
E. PENGADAAN PERALATAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM KLINIK DI LABORATORIUM DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA 44
F. PEMBANGUNAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DAN PENGADAAN PERALATAN PENDUKUNGNYA DI RS PEMERINTAH 45
BAB VI SUBBIDANG PELAYANAN KEFARMASIAN 49
A. PENYEDIAAN OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN 49
B. PEMBANGUNAN BARU DAN REHABILITASI INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA 51
C. PENGADAAN SARANA PENDUKUNG INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA 53
BAB VII PEMANTAUAN, EVALUASI DAN PELAPORAN 55
A. PEMANTAUAN DAN EVALUASI 55
B. PELAPORAN 56
C. FORMAT LAPORAN TRIWULANAN 59
BAB VIII PENUTUP 64
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 : DEFINISI OPERASIONAL
LAMPIRAN 2 : STANDAR PERALATAN DAN LOGISTIK POSKESDES
LAMPIRAN 3 : DAFTAR 183 KABUPATEN TERTINGGAL
ix
LAMPIRAN 4 : DAFTAR NAMA PULAU TERLUAR BERPENDUDUK YANG BERBATASAN DENGAN NEGARA TETANGGA
LAMPIRAN 5 : DAFTAR 101 PUSKESMAS PRIORITAS PROGRAM YANKES DTPK
LAMPIRAN 6 : PERALATAN LIVE SAVING PUSKESMAS TERPENCIL DI DTPK LAMPIRAN 7 : PERALATAN PUSKESMAS DENGAN RAWAT INAP (PONED SET)
LAMPIRAN 8 : RUANG PERSALINAN PUSKESMAS NON PERAWATAN LAMPIRAN 9 : PERALATAN PUSKESMAS NON RAWAT INAP (SET PERALATAN BERSALIN)
LAMPIRAN 10 : DAPUR GIZI PADA PUSKESMAS PERAWATAN
LAMPIRAN 11 : STANDAR INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT
LAMPIRAN 12 : CONTOH PERALATAN PROMOSI KESEHATAN BERGERAK
LAMPIRAN 13 : ALOKASI DAK KESEHATAN TAHUN 2011
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 1
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Pembangunan yang dilaksanakan harus dapat menjamin bahwa manfaatnya dapat diterima oleh semua pihak, berdampak adil bagi perempuan dan laki-laki (responsif gender).
Di dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada pasal 2 dan 3 dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama. Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan.
Pembangunan bidang kesehatan juga menjadi perhatian penting dalam komitmen internasional, yang dituangkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). Dalam MDGs terdapat tujuan yang terkait langsung dengan bidang kesehatan yaitu target 4 (menurunkan angka kematian anak), target 5 (meningkatkan kesehatan ibu) dan target 6 (memerangi HIV dan AIDS, TB dan Malaria serta penyakit lainnya), serta 2 target lainnya yang tidak terkait langsung yaitu target 1 (menanggulangi kemiskinan dan kelaparan) dan target 3 (mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan).
Kementerian Kesehatan telah menyusun strategi untuk pencapaian target-
target tersebut.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 2
Dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan, perlu adanya pembiayaan kesehatan, yang bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna.
Pemerintah melalui Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, telah menetapkan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagai salah satu sumber penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, diantaranya untuk meningkatkan pembangunan kesehatan, sehingga pemerintah baik pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah dapat menyediakan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau dan berkualitas.
Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), pemerintah Pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan merupakan prioritas nasional.
DAK Bidang Kesehatan, diberikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan bidang kesehatan yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan nasional tahun 2011 yang ditetapkan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2011.
RKP Tahun 2011 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2010, merupakan acuan bagi kementerian, lembaga Pemerintah-Non Kementerian dan Pemerintah Daerah maupun masyarakat termasuk dunia usaha sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan program pembangunan.
DAK Bidang Kesehatan tahun 2011 difokuskan pada pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas dan Poskesdes); pelayanan kefarmasian untuk Kabupaten/Kota; dan pelayanan kesehatan rujukan (RS Provinsi/Kabupaten/Kota dan Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota).
Buku Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 berisi penjelasan rinci pemanfaatan DAK, dilengkapi informasi dalam pelaksanaan DAK Bidang Kesehatan di daerah dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi dan Pedoman Umum Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2011.
Selanjutnya buku petunjuk teknis ini menjadi pedoman pelaksanaan DAK
Bidang Kesehatan Tahun 2011.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 3
B. TUJUAN 1. Umum
Membantu mendanai kegiatan bidang kesehatan yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan nasional tahun 2011.
2. Khusus
Meningkatkan pemerataan, jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Poskesdes, Rumah Sakit Provinsi/Kabupaten/Kota dan Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, serta penyediaan dan pengelolaan obat generik dan perbekalan kesehatan.
C. RUANG LINGKUP
DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 diarahkan untuk kegiatan:
1. Pelayanan kesehatan dasar meliputi kegiatan: (1) Pembangunan, Peningkatan, Perbaikan dan Perluasan Puskesmas khususnya di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK); (2) Pembangunan Pos Kesehatan Desa; (3) Pengadaan peralatan kesehatan termasuk Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA); (4) Pengadaan Peralatan Promosi Kesehatan.
2. Pelayanan kesehatan rujukan, meliputi kegiatan: (1) Pembangunan dan Pengadaan Peralatan Kesehatan Untuk Program Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif (PONEK) di RS; (2) Pembangunan, Perbaikan Bank Darah RS (BDRS) dan Pemenuhan Peralatan Unit Transfusi Darah (UTD) di RS; (3) Pembangunan dan Pengadaan Peralatan Instalasi Gawat Darurat RS (IGD RS); (4) Peningkatan Fasilitas Tempat Tidur Kelas III RS; (5) Pemenuhan Peralatan di Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota; dan (6) Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di RS.
3. Pelayanan Kefarmasian dapat dimanfaatkan untuk: (1) Penyediaan
Obat dan Perbekalan Kesehatan; (2) Pembangunan Baru dan
Rehabilitasi Instalasi Farmasi di Kabupaten/Kota; (3) Pengadaan
Sarana Pendukung Instalasi Farmasi di Kabupaten/Kota.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 4
D. PENGALOKASIAN DAN PENYALURAN 1. Pengalokasian
Penghitungan alokasi DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011, dilakukan melalui 2 (dua) tahapan, yaitu:
a. Penentuan daerah tertentu yang menerima DAK
Penentuan kelayakan daerah penerima DAK menggunakan Indeks Fiskal Wilayah (IFW) dengan bobot 50% dan IT (Indeks Teknis) dengan bobot 50%.
b. Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah 1) Penentuan besaran alokasi daerah penerima DAK
menggunakan IFW dengan bobot 20% dan IT dengan bobot 80%.
2) IFW ditentukan berdasarkan Kriteria Umum dan Kriteria Khusus merupakan kewenangan dari Kementerian Keuangan, sedangkan IT ditentukan berdasarkan data dan indeks teknis merupakan kewenangan dari Kementerian Kesehatan.
3) Usulan ruang lingkup kegiatan dan besaran alokasi DAK kemudian dibahas dan diputuskan bersama antara pemerintah dengan Panitia Kerja Belanja Transfer ke Daerah DPR RI.
4) Kaidah-kaidah mengenai mekanisme pengalokasian DAK dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.
2. Penyaluran
DAK Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2011 disalurkan melalui mekanisme transfer yang diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan dan ketentuan peraturan yang berlaku lainnya.
a. Penyediaan sarana prasarana pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kefarmasian untuk Kabupaten/Kota, disalurkan melalui SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
b. Penyediaan sarana prasarana dan peralatan kesehatan untuk
pelayanan kesehatan rujukan disalurkan melalui SKPD Rumah
Sakit Umum atau Khusus Provinsi/Kabupaten/Kota dan SKPD
Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 5
BAB II
KEBIJAKAN DAK BIDANG KESEHATAN TA 2011 A. Kebijakan Umum
1. Kebijakan DAK Kesehatan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dalam rangka percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan jaminan persalinan di sarana kesehatan milik pemerintah dan Angka Kematian Bayi (AKB), perbaikan status gizi masyarakat, pengendalian penyakit, penyehatan lingkungan, melalui peningkatan sarana dan prasarana di Puskesmas dan Poskesdes, Rumah Sakit dan Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, serta penyediaan dan pengelolaan obat terutama obat generik dan perbekalan kesehatan, terutama untuk pelayanan kesehatan penduduk miskin dan penduduk di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan.
2. DAK Bidang Kesehatan merupakan bantuan kepada daerah tertentu, untuk mendanai dukungan pelayanan kesehatan yang merupakan kewenangan dan tanggung jawab daerah ke arah peningkatan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan.
3. DAK Bidang Kesehatan membantu daerah untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana kesehatan yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional di bidang kesehatan.
4. DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 difokuskan pada pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan pelayanan kefarmasian.
5. Dalam pelaksanaan kegiatan, pemerintah daerah harus menyediakan pembiayaan yang bersumber dari daerah untuk dana pendamping sebesar 10% sesuai dengan Undang-undang No 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005, biaya operasional, biaya pemeliharaan/perawatan sarana dan peralatan kesehatan, ketersediaan tenaga pelaksana, serta aspek lainnya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan DAK Bidang Kesehatan.
6. Alokasi pagu anggaran DAK Bidang Kesehatan TA 2011, terdiri dari anggaran untuk pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan pelayanan kefarmasian.
7. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Direktur RSUD
Provinsi/Kabupaten/Kota dan Kepala Laboratorium Dinas Kesehatan
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 6
Kabupaten/Kota bertanggung jawab terhadap anggaran DAK Bidang Kesehatan di wilayah kerjanya.
B. Kebijakan Khusus
Penggunaan DAK Bidang Kesehatan diprioritaskan untuk :
1. Mendukung pencapaian target MDGs No 1, 3 ,4, 5 dan 6 (menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV dan AIDS, TB, Malaria serta penyakit menular lainnya).
2. Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan.
3. Peningkatan pelayanan persalinan normal di Puskesmas.
4. Pembangunan Puskesmas Perawatan Mampu PONED.
5. Pembangunan dapur gizi pada Puskesmas Perawatan.
6. Pembangunan Pos Kesehatan Desa untuk desa yang belum memilikinya.
7. Penyediaan peralatan pendukung Sistem Informasi Kesehatan Daerah.
8. Penyediaan Peralatan Promosi Kesehatan Bergerak.
9. Meningkatkan Sarana Prasarana dan Pengadaan Peralatan Kesehatan Untuk Program Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif (PONEK) di RS.
10. Pembangunan BDRS dan pemenuhan peralatan UTD di RS.
11. Meningkatkan Fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS.
12. Meningkatkan Fasilitas Tempat Tidur Kelas III RS.
13. Pemenuhan Peralatan Pemeriksaan Laboratorium Klinik di Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
14. Pemenuhan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di RS Pemerintah Daerah.
15. Penyediaan dan Pengelolaan Obat terutama Obat Generik dan Perbekalan Kesehatan.
16. Pembangunan Baru, Rehabilitasi dan Perluasan Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota.
17. Pengadaan Sarana Pendukung Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 7
BAB III
PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN TEKNIS DAK BIDANG KESEHATAN TA 2011
A. PERENCANAAN
Sesuai dengan UU No 32 Tahun 2004 pasal 162, Pemerintah dan Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota) harus saling berkoordinasi dalam penyusunan kegiatannya.
Dalam rangka menjaga sinkronisasi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program kesehatan Kabupaten/Kota dengan Provinsi, Satker Kabupaten/Kota yang memperoleh alokasi DAK Bidang Kesehatan agar berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi.
Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) yang disusun mengacu kepada Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011.
B. PELAKSANAAN TEKNIS
Pelaksanaan DAK Bidang Kesehatan 2011 harus mengacu pada Petunjuk Teknis DAK Bidang Kesehatan 2011 yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes).
Penggunaan anggaran DAK Bidang Kesehatan 2011 yang tidak sesuai
dengan Petunjuk Teknis DAK Bidang Kesehatan 2011 menjadi tanggung
jawab Kepala Daerah dan SKPD yang bersangkutan.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 8
BAB IV
MENU DAK BIDANG KESEHATAN TA 2011 SUBBIDANG PELAYANAN KESEHATAN DASAR
A. PUSKESMAS
1. Pembangunan Baru
Pembangunan Puskesmas dapat merupakan pembangunan baru atau peningkatan dari Puskesmas Pembantu. Pembangunan Puskesmas ditujukan untuk peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat. Pembangunan baru Puskesmas tersebut termasuk penyediaan alat kesehatan dan mebeulair serta rumah dinas petugas kesehatan (dokter/dokter gigi, bidan/perawat) bila belum ada.
a. Persyaratan Umum
1) Kebutuhan akan adanya Puskesmas, antara lain pada:
a) Wilayah perbatasan, terpencil, tertinggal dan kepulauan.
b) Kecamatan pemekaran yang tidak mempunyai Puskesmas.
c) Kepadatan penduduk tinggi, jumlah penduduk lebih dari 30.000 penduduk per kecamatan.
d) Wilayah kerja sangat luas.
e) Relokasi Puskesmas yang disebabkan adanya bencana
alam, jalur hijau, perubahan Rencana Tata Ruang/Wilayah, atau terjadinya masalah hukum pada lokasi fisik bangunan.
2) Lokasi Puskesmas:
a) Di area yang mudah terjangkau baik dari segi jarak maupun sarana transportasi umum dari seluruh wilayah kerjanya.
b) Pertimbangan lainnya yang ditetapkan oleh daerah.
3) Persyaratan Puskesmas:
a) Adanya telaahan kebutuhan Puskesmas.
b) Tenaga kesehatan disediakan oleh Pemerintah
Daerah.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 9
b. Persyaratan Teknis
1) Luas lahan dan bangunan
Luas lahan, jumlah dan luas ruangan tergantung jenis pelayanan kesehatan/kegiatan yang dilaksanakan guna memberikan pelayanan yang optimal.
2) Denah tata-ruang
Denah tata ruang Puskesmas mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007 serta lampiran pedoman yang disempurnakan dan pedoman program.
2. Peningkatan Puskesmas Pembantu menjadi Puskesmas
Pembangunan Puskesmas baru dapat berasal dari peningkatan Puskesmas Pembantu (Pustu), Peningkatan Pustu menjadi Puskesmas tersebut termasuk penyediaan alat kesehatan dan rumah dinas petugas Puskesmas.
Persyaratan umum dan teknis Pembangunan Puskesmas baru dari peningkatan Puskesmas Pembantu sama dengan persyaratan umum dan teknis pembangunan baru Puskesmas.
3. Peningkatan Pelayanan Persalinan Normal di Puskesmas
Dalam upaya meningkatkan pelayanan persalinan normal dan perawatan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, maka peran Puskesmas sebagai fasiltas kesehatan perlu ditingkatkan dengan membangun ruang persalinan atau mengoptimalkan fungsi ruang persalinan di Puskesmas.
Persyaratan umum dan teknis sama dengan persyaratan umum dan teknis pembangunan baru Puskesmas, ditambah dengan denah tata ruang khusus untuk ruang persalinan dan ruang pemulihan serta pedoman alat kesehatan sesuai dengan lampiran 8 dan lampiran 9.
4. Rehabilitasi Puskesmas
Rehabilitasi Puskesmas ditujukan menunjang dan meningkatkan
pelayanan kesehatan yang berkualitas di Puskesmas.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 10
Rehabilitasi Puskesmas termasuk puskesmas pembantu hanya ditujukan untuk Puskesmas dan puskesmas pembantu dengan kondisi rusak berat termasuk di dalamnya rumah dinas dokter/dokter gigi dan perawat/bidan.
Untuk Rehabilitasi Puskesmas Pembantu diperbolehkan jika seluruh Puskesmas di Kabupaten/Kota telah mempunyai fasilitas untuk menolong persalinan.
a. Persyaratan Umum
Puskesmas dengan kondisi rusak berat diproritaskan pada:
1) Puskesmas di perbatasan, kepulauan.
2) Puskesmas yang rusak karena bencana alam pada tahun berjalan dan 1 (satu) tahun sebelumnya.
b. Persyaratan Teknis
1) Denah tata-ruang Puskesmas mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007 serta lampiran pedoman yang disempurnakan dan pedoman program.
2) Rehabilitasi dapat menggunakan bahan bangunan yang dihasilkan oleh wilayah setempat.
5. Perluasan Puskesmas
Guna menunjang dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas di Puskesmas, dapat dilaksanakan perluasan fisik bangunan Puskesmas. Perluasan dilaksanakan pada bangunan yang membutuhkan perluasan berupa penambahan ruangan, perluasan ruangan. Persyaratan perluasan fisik, adalah sebagai berikut:
a. Persyaratan Umum Adanya kebutuhan:
1) Tambahan ruangan untuk meningkatkan pelayanan agar lebih optimal.
2) Peningkatan pelayanan akan tetapi tidak memungkinkan untuk peningkatan menjadi Puskesmas Perawatan.
b. Persyaratan Teknis
1) Luas lahan dan bangunan
Jumlah sarana dan ruangan tergantung jenis
pelayanan/kegiatan yang dibutuhkan. Perluasan sarana
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 11
fisik bangunan, antara lain berupa penambahan ruangan untuk:
a) Pelayanan Persalinan.
b) Pemulihan dan perawatan bayi baru lahir.
c) Pelayanan gawat darurat/emergency.
d) Pelayanan laboratorium yang dilengkapi dengan kran air serta pembuangan air kotor.
e) Pelayanan konsultasi yang dibutuhkan sebagai upaya promotif dan preventif.
f) Pelayanan penyuluhan dan ruang pertemuan sebagai upaya promotif dan penggalangan kemitraan dengan berbagai pihak terkait serta dapat digunakan untuk kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas.
2) Denah tata-ruang
Denah tata-ruang Puskesmas mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007 serta lampiran pedoman yang disempurnakan dan pedoman program.
3) Perluasan dapat menggunakan bahan bangunan yang dihasilkan oleh wilayah setempat.
4) Peralatan kesehatan
Kebutuhan minimal peralatan kesehatan mengacu pada buku Pedoman Peralatan, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2008 serta lampiran pedoman yang disempurnakan.
B. PUSKESMAS PERAWATAN
Pembangunan Puskesmas Perawatan dapat dilaksanakan melalui pembangunan baru atau peningkatan Puskesmas menjadi Puskesmas Perawatan.
1. Pembangunan Baru
Pembangunan baru Puskesmas Perawatan dilaksanakan dalam rangka
meningkatkan jangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
yang bermutu dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang perlu
dirawat. Pembangunan baru Puskesmas Perawatan terutama
diprioritaskan untuk wilayah tertinggal, terpencil, kepulauan dan
perbatasan. Pembangunan Puskesmas Perawatan tersebut termasuk
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 12
peralatan kesehatan dan rumah dinas petugas kesehatan Puskesmas, penyediaan sarana dan peralatan perawatan PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar) serta dapur gizi.
a. Persyaratan Umum
Pembangunan Puskesmas baru harus mempertimbangkan ketersediaan tenaga kesehatan, selain itu memenuhi persyaratan antara lain:
1) Pembangunan baru Puskesmas Perawatan, diutamakan pada 101 Puskesmas Prioritas Nasional di wilayah terpencil, tertinggal, kepulauan dan perbatasan dengan negara lain.
2) Lokasi bangunan baru Puskesmas Perawatan di lokasi strategis.
3) Lokasi Puskesmas berada dalam waktu tempuh lebih dari 2 jam ke Rumah Sakit.
4) Kabupaten pemekaran yang belum memiliki Rumah Sakit.
5) Puskesmas yang mempunyai rumah dinas yang ditempati oleh dokter dan perawat/bidan.
b. Persyaratan Teknis
1) Luas lahan dan bangunan
Jumlah sarana dan ruangan tergantung jenis pelayanan/kegiatan yang dilaksanakan, dengan luas sesuai ketentuan. Pembangunan Puskesmas Perawatan, sarana dan peralatan PONED, rumah dokter/dokter gigi, perawat dan bidan harus berada dalam satu lokasi.
2) Denah tata-ruang
a) Denah tata-ruang Puskesmas mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007 serta lampiran pedoman yang disempurnakan dan pedoman program.
b) Setiap Puskesmas Perawatan harus dilengkapi Dapur Gizi dan peralatannya yang mengacu pada lampiran 10.
c) Setiap Puskesmas Perawatan harus dilengkapi
dengan UGD yang dapat memberikan pelayanan
PONED. Pelayanan PONED mengacu pada buku
acuan Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 13
Emergensi Dasar, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007.
d) Khusus wilayah terpencil dan kepulauan, Ruang Rawat Inap minimal 2 tempat tidur.
3) Peralatan kesehatan
Kebutuhan minimal peralatan kesehatan mengacu pada buku Pedoman Peralatan, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2008 serta lampiran pedoman yang disempurnakan buku acuan Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007.
2. Peningkatan Puskesmas menjadi Puskesmas Perawatan di DTPK Peningkatan menjadi Puskesmas Perawatan dilaksanakan dalam rangka pengembangan pelayanan dan rujukan kesehatan dan dilengkapi dengan penyediaan alat dan rumah dinas dokter/dokter gigi, bidan/perawat bila belum ada.
a. Persyaratan Umum
1) Kebutuhan akan adanya Puskesmas Perawatan, antara lain:
a) Puskesmas di wilayah terpencil, tertinggal, kepulauan, Perbatasan.
b) Kabupaten pemekaran yang belum tersedia Rumah Sakit.
c) Peningkatan kebutuhan akan pelayanan rujukan tetapi daerah belum mampu membangun Rumah Sakit.
2) Lokasi Puskesmas:
a) Wilayah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan.
b) Waktu tempuh lebih dari 2 jam dengan menggunakan sarana transportasi yang tersedia.
3) Persyaratan Puskesmas:
a) Tidak digunakan untuk menjadikan Puskesmas
Perawatan pra Rumah Sakit.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 14
b) Ketersediaan tenaga kesehatan oleh Pemerintah Daerah.
c) Letaknya strategis dari Puskesmas di sekitarnya.
b. Persyaratan Teknis
1) Luas lahan dan bangunan
Jumlah sarana dan ruangan tergantung jenis pelayanan/
kegiatan yang dilaksanakan mengacu kepada Pedoman Tata Ruang Puskesmas Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007.
2) Denah tata-ruang pada pembangunan baru Puskesmas Perawatan mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007.
3) Peralatan kesehatan Puskesmas Perawatan mengacu pada buku Pedoman Peralatan Puskesmas Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2008.
3. Rehabilitasi Puskesmas Perawatan
Rehabilitasi Puskesmas Perawatan ditujukan menunjang dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas di Puskesmas Perawatan.
Rehabilitasi Puskesmas Perawatan hanya ditujukan untuk Puskesmas Perawatan dengan kondisi rusak berat termasuk di dalamnya rumah dinas dokter/dokter gigi dan perawat/bidan.
a. Persyaratan Umum
Puskesmas Perawatan dengan kondisi rusak berat diproritaskan pada:
1) 1) Puskesmas perawatan di perbatasan, kepulauan.
2) Puskesmas perawatan yang rusak karena bencana alam pada tahun berjalan dan 1 (satu) tahun sebelumnya.
b. Persyaratan Teknis
1) Denah tata-ruang Puskesmas mengacu pada buku
Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal
Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007 serta lampiran
pedoman yang disempurnakan dan pedoman program.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 15
2) Rehabilitasi dapat menggunakan bahan bangunan yang dihasilkan oleh wilayah setempat.
4. Peningkatan Puskesmas menjadi Puskesmas Perawatan Mampu PONED
Upaya yang dapat dilakukan adalah pemberdayaan pelayanan di tingkat dasar yaitu penyediaan Puskesmas PONED. Setiap peningkatan Puskesmas menjadi Puskesmas Perawatan mampu PONED dilengkapi dengan penyediaan alat dan rumah dinas dokter/dokter gigi dan bidan/perawat bila belum ada.
a. Persyaratan Umum
1) Kebutuhan adanya peningkatan Puskesmas Perawatan menjadi Puskesmas Perawatan Mampu PONED, antara lain:
a) Kabupaten pemekaran yang belum tersedia rumah sakit.
b) Menyediakan layanan rujukan kegawatdaruratan obstetri neonatal, termasuk penanganan penyulit/komplikasi obstetri neonatal yang tidak dapat ditangani di tingkat Poskesdes, Puskesmas Pembantu dan Puskesmas.
2) Lokasi Puskesmas (harus memenuhi satu atau lebih persyaratan di bawah ini):
a) Waktu tempuh ke Rumah Sakit terdekat lebih dari 2 jam dengan menggunakan sarana transportasi yang tersedia.
b) Pada jalur lalu lintas ramai dekat dengan pemukiman.
c) Daerah pariwisata dan kawasan industri.
d) Daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan.
3) Persyaratan Puskesmas
a) Merupakan Puskesmas perawatan.
b) Telah tersedia tenaga kesehatan yang telah
mengikuti pelatihan penanganan kegawatdaruratan
obstetri neonatal di tingkat pelayanan
dasar/PONED, yang terdiri dari 1 orang Dokter, 1
orang Bidan dan 1 orang Perawat.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 16
c) Adanya telaahan kebutuhan Puskesmas Mampu PONED.
b. Persyaratan Teknis
1) Luas lahan dan bangunan mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Tahun 2007.
2) Denah tata ruang pada pembangunan baru Puskesmas Perawatan mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Tahun 2007.
3) Peralatan Puskesmas PONED mengacu pada buku Pedoman Peralatan Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Tahun 2007.
4) Tenaga kesehatan yang telah dilatih PONED tidak boleh pindah selama minimal 2 tahun.
5. Perluasan Puskesmas Perawatan
Perluasan Puskesmas Perawatan menunjang serta meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas di Puskesmas, perlu adanya perluasan fisik. Perluasan dilaksanakan pada bangunan/sarana yang membutuhkan perluasan. Persyaratan perluasan fisik, adalah sebagai berikut:
a. Persyaratan Umum Adanya kebutuhan:
1) Tambahan ruangan untuk meningkatkan pelayanan agar lebih optimal.
2) Peningkatan pelayanan akan tetapi tidak untuk menjadi Rumah Sakit.
b. Persyaratan Teknis
1) Luas lahan dan bangunan
Jumlah sarana dan ruangan tergantung jenis pelayanan/kegiatan yang dibutuhkan. Perluasan sarana fisik bangunan, antara lain berupa penambahan ruangan untuk:
a) Pelayanan Gawat Darurat/emergency.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 17
b) Pelayanan laboratorium yang dilengkapi dengan kran air serta pembuangan air kotor.
c) Pelayanan konsultasi yang dibutuhkan sebagai upaya promotif dan preventif.
d) Pelayanan penyuluhan dan ruang pertemuan sebagai upaya promotif dan penggalangan kemitraan dengan berbagai pihak terkait serta dapat digunakan untuk kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas.
e) Dapur Gizi.
2) Denah tata-ruang
Rancangan tata-ruang/bangunan agar memperhatikan fungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan dan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender mengacu pada buku Pedoman Tata Ruang Puskesmas, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2007 serta lampiran pedoman yang disempurnakan dan pedoman program. Untuk dapur gizi mengikuti denah tata ruang sesuai dengan lampiran 10.
3) Perluasan dapat menggunakan bahan bangunan yang dihasilkan oleh wilayah setempat.
4) Peralatan kesehatan mengacu pada pembangunan baru Puskesmas Perawatan mengacu pada buku Pedoman Peralatan Puskesmas Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat tahun 2008. Untuk peralatan dapur gizi sesuai dengan lampiran 10.
C. POS KESEHATAN DESA 1. Pembangunan Baru
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka memberdayakan masyarakat di bidang kesehatan. Namun karena kemampuan masyarakat sebagian besar terbatas, maka pemerintah membantu pembangunan fisik Poskesdes, dengan mempertimbangkan persyaratan sebagai berikut:
a. Persyaratan Umum
Pembangunan baru Poskesdes adalah pada setiap desa yang belum ada bangunan Poskesdes dengan persyaratan:
1) Masyarakatnya tidak mampu membangun secara
swadaya.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 18
2) Tersedia tanah/lahan yang tidak bermasalah 3) Lokasi Poskesdes:
a) Mempertimbangkan ketersediaan lahan yang berada di tengah pemukiman.
b) Mudah dijangkau oleh masyarakat (transportasi).
c) Mempertimbangkan keamanan petugas kesehatan.
d) Mempertimbangkan jarak antar fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.
b. Persyaratan Teknis 1) Luas bangunan:
a) Luas ruangan/bangunan sesuai dengan kondisi tanah setempat dengan memperhatikan kebutuhan minimal pelayanan/kegiatan dan kesetaraan gender laki–laki dan perempuan.
b) Jumlah ruangan dan sarana yang dibutuhkan tergantung jenis pelayanan/kegiatan yang dilaksanakan, minimal terdapat ruang persalinan dan pelayanan KIA-KB.
c) Pembangunan baru Poskesdes dapat menggunakan bahan bangunan yang berasal dari daerah setempat.
2) Denah tata-ruang
Rancangan tata-ruang/bangunan Poskesdes agar tetap memperhatikan fungsinya sebagai sarana pelayanan kesehatan dan memperhatikan keadilan dan kesetaraaan gender.
3) Peralatan kesehatan
Kebutuhan jenis dan jumlah peralatan minimal Poskesdes mengacu pada buku Petunjuk Teknis Pengembangan dan Penyelenggaraan Pos Kesehatan Desa, Direktorat Jenderal. Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2006.
2. Pengalihan Polindes menjadi Poskesdes
Pembangunan Poskesdes dapat berasal dari pengalihan bangunan Pondok Bersalin Desa (Polindes).
Pembangunan fisik yang dilaksanakan terbatas pada penambahan bagian Polindes yang sudah ada.
a. Persyaratan Umum
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 19
Polindes yang sudah ada di desa ditingkatkan menjadi Poskesdes.
b. Persyaratan Teknis
1) Luas lahan dan bangunan
Penambahan ruangan tergantung jenis pelayanan/kegiatan yang dilaksanakan. Guna meningkatkan fungsi pelayanannya, luas lahan yang diperlukan untuk peningkatan Polindes menjadi Poskesdes, minimal dengan rincian kebutuhan tata ruangnya adalah sebagai berikut:
a) Ruang untuk fungsi pelayanan dan atau administrasi.
b) Ruang untuk tempat tinggal tenaga kesehatan.
2) Penambahan ruangan pada Pengalihan Polindes menjadi Poskesdes dapat menggunakan bahan bangunan yang dihasilkan oleh wilayah setempat.
3) Denah tata-ruang
Rancangan tata-ruang/bangunan Poskesdes agar tetap memperhatikan fungsinya sebagai sarana pelayanan kesehatan dan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.
4) Peralatan kesehatan
Kebutuhan jenis dan jumlah peralatan minimal Poskesdes mengacu pada buku Petunjuk Teknis Pengembangan dan Penyelenggaraan Pos Kesehatan Desa, Direktorat Jenderal. Bina Kesehatan Masyarakat tahun 2006.
D. PENGADAAN SIK DAERAH
Dalam upaya mewujudkan Sistem Informasi Kesehatan yang evidence based di Indonesia, dikembangkan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pengadaan peralatan sistem informasi kesehatan melalui DAK bertujuan untuk memacu Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/Kota khususnya di Puskesmas sehingga mampu menyediakan data/informasi yang cepat, akurat, dan mutakhir.
Adanya peralatan sistem informasi kesehatan di Puskesmas diharapkan akan
mempercepat pelayanan kesehatan atau manajemen pasien di Puskesmas,
serta mendukung administrasi Puskesmas berbasis bukti secara berkala,
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 20
sehingga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan di Puskesmas dan Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat (Nasional).
1. Persyaratan Umum
Pengadaan peralatan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Daerah diprioritaskan di Puskesmas non perawatan di Seluruh Indonesia dengan persyaratan:
a. Di Puskesmas tersedia aliran listrik/genset untuk menghidupkan personal komputer.
b. Di Puskesmas tersedia tenaga atau operator yang akan mengoperasikan komputer.
c. Di Puskesmas tersedia biaya pemeliharaan komputer serta biaya operasionalnya (kertas, tinta printer, honor petugas, listrik).
d. Merencanakan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan tahapan selanjutnya.
2. Persyaratan Teknis
Pengadaan komputer beserta printer peralatan SIK untuk Puskesmas dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Spesifikasi peralatan:
1) Corporate Desktop PC.
2) Intel Pentium Dual-Core Processor.
3) Minimum 1 GB Memory DDR-2 SDRAM.
4) Minimum 160 GB harddrive, 7200 RPM.
5) Integrated 10/100/1000 LAN.
6) Windows XP Professional, Vista atau Linux.
7) LCD Monitor 17 inch.
8) CPU dan Monitor satu merk.
9) Printer Deksjet/Inkjet.
b. Pengadaan software pengolah data, pengolah kata dan penyajian (misalnya microsoft excell, microsoft word dan microsoft power point, atau open office)
c. Kursus atau pengenalan komputer untuk tenaga pengelola komputer agar mampu menggunakan paket software tersebut diatas.
d. Data entri laporan sesuai formulir yang telah ditetapkan dengan
menggunakan excel, dapat juga dibuatkan program aplikasi
sederhana lain.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 21
e. Mengolah data yang telah di entri dalam bentuk tabel, grafik, peta dan narasi yang disajikan secara bulanan, triwulan, tahunan dan data sewaktu.
f. Mengirim laporan ke Dinas Kesehatan Kesehatan Kabupaten/Kota dengan CD ataupun flashdisk.
3. Acuan
a. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 844/MENKES/SK/X/2006 tentang Penetapan Standar Kode Data Bidang Kesehatan.
b. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 837/MENKES/VII/2007 Tentang Pengembangan SIKNAS Online Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
E. PERALATAN PROMOSI KESEHATAN BERGERAK (MOBILE HEALTH PROMOTION KIT)
Kegiatan DAK Bidang Kesehatan tahun 2011 dapat digunakan untuk pengadaan Peralatan Promosi Kesehatan Bergerak (Mobile Health Promotion Kit) di Puskesmas.
Tujuan kegiatan dimaksudkan untuk meningkatkan dukungan promosi kesehatan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dalam rangka pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan di daerah serta melengkapi kebutuhan sarana/peralatan para pengelola program promosi kesehatan di Puskesmas dalam upaya mencapai target Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Peralatan promosi kesehatan bergerak merupakan kendaraan bermotor roda 2 yang dimodifikasi dan didesain menjadi satu kesatuan dengan peralatan audio visual aid (AVA) sehingga memiliki fungsi sebagai sarana pendukung dalam penyebaran informasi kesehatan, tempat media-media untuk melakukan penyuluhan kesehatan, serta sarana untuk melakukan kampanye dan pameran kesehatan.
1. Persyaratan Umum
a. Peralatan promosi kesehatan bergerak diperuntukkan bagi Puskesmas.
b. Pengadaan peralatan promosi kesehatan bergerak dilakukan
berdasarkan analisa kebutuhan, pertimbangan operasional,
kondisi dan letak geografis serta topografi daerah.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 22
c. Membuat surat pernyataan kesanggupan untuk mengalokasikan biaya operasional Peralatan Promosi Kesehatan Bergerak yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan dan diketahui oleh Bupati/Walikota.
d. Membuat surat pernyataan untuk tidak mengalihfungsikan peralatan promosi kesehatan bergerak (mobile health promotion kit) yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan dan diketahui oleh Bupati/Walikota.
e. Tersedia tenaga yang mampu menyelenggarakan kegiatan dan mengoperasikan peralatan promosi kesehatan bergerak (mobile health promotion kit).
2. Persyaratan Teknis
a. Pengadaan peralatan harus memperhatikan mutu, kemudahan penggunaan dan pemeliharaan serta perbaikan peralatan promosi kesehatan bergerak.
b. Peralatan promosi kesehatan bergerak berupa kendaraan roda 2 berkapasitas minimal 110 cc yang telah dimodifikasi menjadi satu kesatuan dengan peralatan, contoh desain kendaraan sesuai dengan lampiran 12. Adapun peralatannya terdiri dari:
1) LCD Projector dengan pencahayaan minimal 2000 lumens.
2) Stereo Sound System.
3) Pemutar VCD/DVD dan Karaoke yang kompatibel dengan berbagai media, memiliki microphone tanpa kabel.
4) Generator set mini, dengan daya output mak: 0.85 KVA/850 Watt, memiliki voltase: AC 220 V/1 Phase/DC 12V/8.3A, memiliki kapasitas tangki bahan bakar: 4,5 L.
5) Video Kamera dengan media penyimpan gambar DVD.
3. Acuan
a. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1114/MENKES/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah.
b. Keputusan Menteri Kesehatan No. 585/MENKES/SK/V/2007
tentang Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan di Puskesmas.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 23
BAB V
MENU DAK BIDANG KESEHATAN TA 2011 SUBBIDANG PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN
A. PENINGKATAN SARANA PRASARANA DAN PENGADAAN PERALATAN KESEHATAN UNTUK PROGRAM PONEK DI RUMAH SAKIT
1. Persyaratan umum
a. Ada dokter jaga yang terlatih di UGD untuk mengatasi kasus emergensi baik secara umum maupun emergency obstetrik - neonatal.
b. Dokter, bidan dan perawat telah mengikuti pelatihan tim PONEK di rumah sakit meliputi resusitasi neonatus, kegawat-daruratan obstetrik dan neonatus.
c. Tersedia kamar operasi yang siap (siaga 24 jam) untuk melakukan operasi, bila ada kasus emergensi obstetrik atau umum.
d. Adanya dukungan semua pihak dalam tim pelayanan PONEK, antara lain dokter kebidanan, dokter anak, dokter / petugas anestesi, dokter penyakit dalam, dokter spesialis lain serta dokter umum, bidan dan perawat.
e. Tersedia pelayanan darah yang siap 24 jam.
f. Mempunyai prosedur pendelegasian wewenang tertentu.
2. Persyaratan Teknis
a. Peningkatan Sarana dan Prasarana
1) Rancangan denah dan tata ruang maternal dan neonatal harus memenuhi beberapa persyaratan teknis sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1051/MENKES/SK/XI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 Jam di Rumah Sakit.
2) Persyaratan yang harus diperhatikan:
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 24
a) Ruang Maternal (1) Kamar bersalin:
(a) Lokasi berdekatan dengan kamar operasi dan IGD.
(b) Luas minimal 6 m 2 per orang.
(c) Paling kecil, ruangan berukuran 12 m 2 . (d) Harus ada tempat untuk isolasi ibu di
tempat terpisah.
(e) Tiap ibu bersalin harus punya privasi agar keluarga dapat hadir.
(f) Ruangan bersalin tidak boleh merupakan tempat lalu lalang orang.
(g) Bila kamar operasi juga ada dalam lokasi yang sama, upayakan tidak melintas pada ruang bersalin.
(h) Minimal 2 kamar bersalin terdapat pada setiap rumah sakit umum.
(i) Kamar bersalin terletak sangat dekat dengan kamar neonatal, untuk memudahkan transportasi bayi dengan komplikasi ke ruang rawat.
(j) Idealnya sebuah ruang bersalin merupakan unit terintegrasi: kala 1, kala 2 dan kala 3 yang berarti setiap pasien diperlakukan utuh sampai kala 4 bagi ibu bersama bayinya secara privasi. Bila tidak memungkinkan, maka diperlukan dua kamar kala 1 dan sebuah kamar kala 2.
(k) Kamar bersalin harus dekat dengan ruang jaga perawat (nurse station) agar memudahkan pengawasan ketat setelah pasien partus sebelum dibawa ke ruang rawat (post partum).
Selanjutnya bila diperlukan operasi, pasien akan dibawa ke kamar operasi yang berdekatan dengan kamar bersalin.
(l) Harus ada kamar mandi/toilet yang
berhubungan dengan kamar bersalin.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 25
(m) Ruang postpartum harus cukup luas, standar 8 m 2 per tempat tidur (bed).
(n) Ruang tersebut terpisah dari fasilitas:
toilet, kloset, lemari.
(o) Pada ruang dengan banyak tempat tidur, jarak antar tempat tidur minimal 1 meter.
(p) Jumlah tempat tidur per ruangan maksimum 4 buah.
(q) Tiap ruangan harus mempunyai jendela sehingga cahaya dan udara cukup.
(r) Harus ada fasilitas untuk cuci tangan pada tiap ruangan.
(s) Tiap pasien harus punya akses ke kamar mandi privasi tanpa ke koridor.
(t) Kamar periksa/diagnostik harus mempunyai luas sekurang-kurangnya 11 m 2 dan berisi: tempat tidur pasien/obsgin, kursi pemeriksa, lampu sorot, troli alat, lemari obat kecil, USG mobile dan troli emergensi
(u) Ada ruang perawat (nurse station).
(v) Ruang isolasi bagi kasus infeksi perlu disediakan seperti pada kamar bersalin.
(w) Ruang tindakan operasi/kecil darurat/one day care: untuk kuret, penjahitan dan sebagainya.
(x) Ruang tunggu bagi keluarga pasien.
(2) Unit Perawatan Intensif/Eklampsia/Sepsis (a) Unit ini harus berada di samping ruang
bersalin, atau setidaknya jauh dari area yang sering dilalui.
(b) Paling kecil, ruangan berukuran 18 m 2 . (c) Di ruang dengan beberapa tempat
tidur, sedikitnya ada jarak antara ranjang satu dengan ranjang lainnya.
(d) Ruangan harus dilengkapi paling
sedikit enam steker listrik yang
dipasang dengan tepat untuk peralatan
listrik.
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 26
b) Ruangan Neonatal
(1) Unit Perawatan Intensif
(a) Unit ini harus berada di samping ruang bersalin atau setidaknya jauh dari area yang sering dilalui.
(b) Minimal ruangan berukuran 18 m 2 . (c) Di ruangan dengan beberapa tempat
tidur sedikitnya ada jarak antar ranjang.
(d) Harus ada tempat untuk isolasi bayi di area terpisah.
(e) Ruang harus dilengkapi paling sedikit 6 steker yang dipasang dengan tepat untuk peralatan listrik.
(2) Unit Perawatan Khusus
(a) Unit ini harus berada di samping ruang bersalin atau setidaknya jauh dari area yang sering dilalui.
(b) Minimal ruangan berukuran 12 m 2 . (c) Harus ada tempat untuk isolasi bayi di
tempat terpisah.
(d) Paling sedikit harus ada jarak antara inkubator dengan tempat tidur bayi.
(3) Area laktasi.
Minimal ruangan berukuran 6 m 2 . (4) Area pencucian incubator.
Minimal ruangan berukuran 6-8 m 2 . Dalam rangka penyelenggaraan PONEK, perlu mempertimbangkan kebutuhan bagi laki-laki dan perempuan, antara lain:
Adanya pemisahan visual antara ruang bersalin satu dengan yang lainnya.
Sarana, prasarana dan peralatan yang ada harus mempertimbangkan ergonomis dan kemudahan aksesibilitas bagi ibu hamil
b. Jenis Peralatan PONEK
1) PERALATAN NEONATAL
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 27
No. Jenis Peralatan Jmlh minimal
1. Inkubator baby 5
2. Infant Warmer 2
3. Pulse Oxymeter Neonatus 3
4. Phototherapy 2
5. Syringe Pump 4
6. Infant resuscitation dan Emergensi Set 1
7. CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) w/
Medical air Compressor 1
8. Flow meter 1
9. Infuse Pump 1
10 Neonatus Resusitation and Emergensi Set 1
2) PERALATAN MATERNAL
No. Jenis Peralatan Jmlh minimal
1. Kotak Resusitasi berisi: 1
- Bilah Laringoskop 1
- Balon 1
- Bola lampu laringskop ukuran dewasa 1
- Batre AA (cadangan) untuk bilah laringoskop 1
- Bola lampu laringoskop cadangan 1
- Selang reservoar oksigen 1
- Masker oksigen 1
- Pipa endotrakeal 1
- Plester 1
- Gunting 1
- Kateter penghisap 1
- Naso gastric tube 1
- Alat suntik 1, 2 1 / 2 , 3, 5, 10, 20, 50 cc 1
- Ampul Epinefrin / Adrenalin 1
- NaCL 0,9% / larutan Ringer Asetat / RL 1
- MgSO4 1
- Sodium bikarbonat 8,4% 1
- Kateter Vena 1
- Infus Set 1
2. Ekstraktor vakum delivery 1
3. Inkubator baby 1
4. Infant Warmer 1
5. Forceps naegele 1
6. AVM (Aspirasi Vakum Manual) 1
7. Pompa vakum listrik 1
8. Monitor denyut jantung/pernapasan 1
B AKT I HUSADA
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK Bidang Kesehatan Tahun 2011 28
9. Foetal Doppler 1
10. Set Sectio Saesaria 1
3. Acuan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1051/MENKES/SK/XI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 Jam di Rumah Sakit.
B. BANK DARAH RUMAH SAKIT (BDRS) DAN UNIT TRANSFUSI DARAH DI RUMAH SAKIT
Unit Transfusi Darah di Rumah Sakit (UTD di RS) adalah salah satu instalasi di RS yang mempunyai peran sebagai penyedia darah transfusi yang aman (lulus skreening IMLTD) dengan tugas antara lain melakukan rekruitmen donor sukarela, melakukan seleksi donor, melakukan penyadapan darah donor, melakukan skreening terhadap penyakit Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD), melakukan penyimpanan darah sebagai stock, melakukan pemeriksaan golongan darah, crossmatch, mengirim darah transfusi yang telah aman ke bagian lain/ruangan lain atau Rumah Sakit lain yang membutuhkan, memantau reaksi transfusi yang terjadi serta melakukan pencatatan dan pelaporan.
1. Pembangunan Baru
Pembangunan baru Unit Transfusi Darah di Rumah Sakit (UTD di RS) dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan darah di rumah sakit khususnya dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit pada umumnya.
a. Persyaratan Umum
Pembangunan fasilitas UTD di RS mengacu pada persyaratan umum sebagai berikut:
1) Tidak terdapat UTD PMI yang dapat memasok kebutuhan darah aman di Rumah Sakit yang bersangkutan
2) Terdapat Rumah Sakit Pemerintah di Kabupaten/Kota setempat
3) Tidak boleh dijadikan sumber PAD, atau profit center di RS karena pelayanan darah harus bersifat nirlaba
4) Dinas Kesehatan setempat mempunyai sistem
pengawasan dan pembinaan pelayanan transfusi darah
B AKT I HUSADA