• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. penduduk. Letaknya yang unik dan berbeda dengan Kota-Kota lain di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. penduduk. Letaknya yang unik dan berbeda dengan Kota-Kota lain di"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 33 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Kota Surakarta

Lokasi penelitian yang ditentukan oleh penulis yaitu berada Kota Surakarta yang memiliki letak yang sangat strategis sebagai Kota padat penduduk. Letaknya yang unik dan berbeda dengan Kota-Kota lain di Indonesia menjadikan Kota Surakarta ini menjadi sasaran wisatawan dan pendatang-pendatang baru. Secara geografis Kota Surakarta berada antara 110045'15'' - 110045'35'' Bujur Timur dan antara 7036'00''- 7056'00' 'Lintang Selatan, dengan luas wilayah kurang lebih 4.404,06 Ha. Kota Surakarta juga berada pada cekungan di antara dua gunung, yaitu Gunung Lawu dan Gunung Merapi dan di bagian timur dan selatan dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo. Dilihat dari aspek lalu lintas perhubungan di Pulau Jawa, posisi Kota Surakarta tersebut berada pada jalur strategis yaitu pertemuan atau simpul yang menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta (JOGLOSEMAR), dan jalur Surabaya dengan Yogyakarta.

Dengan posisi yang strategis ini maka tidak heran Kota Surakarta menjadi pusat bisnis yang penting bagi daerah kabupaten di sekitarnya.

Jika dilihat dari batas kewilayahan, Kota Surakarta dikelilingi oleh

tiga Kabupaten. Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Karanganyar

(2)

commit to user

dan Boyolali, sebelah timur dibatasi dengan kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo, dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar.

Sementara itu secara administratif, Kota Surakarta terdiri dari 5 (lima) wilayah kecamatan, yaitu kecamatan Laweyan, Serengan, Pasar Kliwon, Jebres dan Banjarsari. Dari kelima kecamatan ini, terbagi menjadi 51 kelurahan, 595 Rukun Pemohon (RW) dan 2669 Rukun Tetangga (RT).

Total keseluruhan penduduk di Kota Surakarta menurut data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta tahun 2011 tercatat sejumlah 536.498 jiwa, dimana jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki yakni 271.332 jiwa perempuan dan 265.166 jiwa laki-laki. Dengan luas wilayah 44,04 Km 2 membuat tingkat kepadatan penduduk di Kota Surakarta sangat tinggi, bahkan tertinggi di Jawa Tengah, yaitu sebesar 12.182 jiwa/Km 2 . Dari total keseluruhan jumlah penduduk Kota Surakarta tersebut 149.258 jiwa termasuk gololongan anak-anak.

Tabel IV.1

Jumlah Penduduk menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin, Kota Surakarta, Tahun 2012

Kecamatan Laki-laki Perempuan L+P

n (jiwa) % n (jiwa) % n (jiwa) %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Laweyan 47.172 17,69 49.884 17,88 97.056 17,79

Serengan 25.740 9,65 27.258 9,77 52.998 9,71

(3)

commit to user Pasar

Kliwon 41.115 15,41 42.238 15,14 83.353 15,28 Jebres 68.094 25,53 71.007 25,46 139.101 25,49 Banjarsari 84.603 31,72 88.542 31,74 173.145 31,73 TOTAL 266.724 100,00 278.929 100,00 545.653 100,00

Sumber :Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta,Tahun 2012, diolah

Pada tabel diatas diterangkan bahwa penduduk Kecamatan Laweyan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan berjumlah 97.056 jiwa, Kecamatan Serengan berjumlah 52.998 jiwa, kecamatan Pasar Kliwon berjumlah 83.353 orang , Kecamatan Jebres berjumlah 139.101 jiwa dan Kecamatan Banjarsari terdapat 173.145 jiwa. Sehingga total keseluruhan penduduk Kota Surakarta adalah 545.653 jiwa. Jika diperhatikan menurut jenis kelamin nampak bahwa penduduk laki-laki lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.

Gambaran ini terlihat diseluruh kecamatan yang ada.

2. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta

Semenjak tahun 1967 saat pencatatan kelahiran dan kematian terbuka

untuk umum, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil disingkat

Dispendukcapil juga mendapat mandat menjadi tempat pembuatan

dokumen induk dari berbagai pelayanan administrasi dan pelayanan

kependudukan lain. Sehingga secara idak langsung Dispendukcapil

memiliki andil yang sangat besar terhadap kelancaran dan

keberlangsungan proses administrasi. Sejarah berdirinya Dispendukcapil

menjadi hal yang penting untuk diketahui mengingat kompleksitas dan

(4)

commit to user

tanggung jawab yang dipercayakan pemerintah Republik Indonesia kepada Dispendukcapil.

a. Sejarah Berdirinya Dispendukcapil Kota Surakarta

Menurut sejarah, lembaga ini dahulunya bernama “Burgerlijk Stand”atau disingkat BS yang artinya Catatan Kependudukan/Lembaga Catatan Sipil. Catatan Sipil sendiri berasal dari Negara Belanda sedangkan belanda sendiri mengambilnya dari Negara Perancis. Lembaga Catatan sipil yang bersada di Indonesia saat ini merupakan peninggalan dari pemerintahan Kolonial Belanda.

Karena dahulu Negara indonesia adalah negara jajahan Belanda. Hal ini tidak terbatas pada lembaganya saja meinkan juga peraturan- peraturan didalamnya juga mencakupsegala bidang kehidupan manusia. Pengaruh yang terjadi di masa itu adalah bahwa keprbadian bangsa kita seolah-olah tertutup oleh ketentuan-etentuan yang diciptakan oleh Belanda, dimana peraturan yang mereka cipakan disesuaikan dengan kepribadian masyarajat Negara Belanda.

Perundang-undangan mengenai Catatan Sipil pada jaman penjajahan Hindia Belanda adalah bersifat Pluralistis dan masih terjadi pembeda- bedaan penduduk kedalam beberapa golongan. Golongan tersebut adalah:

· Penduduk golongan Eropa dan mereka yang tunduk pada hukum

Eropa.

(5)

commit to user

· Penduduk golongan Timur Asing, yang kemudian terpecah lagi menjadi 2, yaitu :

- Golongan Tionghoa - Golongan Non Tionghoa

· Penduduk Indonesia (Pribumi) , masih terbagi menjadi 2, yaitu : - Golongan Indonesia Asli

- Golongan Indonesia Kristen

Keadaan ini berakhir pada 1967 berdasarkan instruksi presiden kabinet Ampera No. 31/U/In/12/1966 tanggal 27 Desember 1996 yang menyampaikan secara luas bahwa semenjak saat itu Catatan Sipil terbuka untuk umum. Khususnya mengenai akta kelahiran dan kematian.

Menurut perkembangan Pencaatatan Sipil dapat kita lihat sebagai berikut :

· Periode tahun 1830

Pelaksanaan Catatan Sipil sudah ada di Indonesia, namun peraturan yang berlaku merupakan peralihan atau warisan dari pemerintah kolonial belanda yang kemudian di terapka di Indonesia.

Fungsinya asalah mencatat dan membukukan selengkap mungkin

atas peristiwa-pwristia penting untuk orang Eropa yang ada di

Indonesia seperti kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian,

serta pengakuan dan pengangkatan anak.

(6)

commit to user

· Perode 1849

Pada 10 Mei 1849 berlaku Catatan Sipil untuk orang Eropa dan Insonesia Asliyang menurut hukumnya dipersamakan dengan hukum yang berlaku bagi orang Eropa (Staatblad tahun 1849 No.25)

· Periode tahun 1919

Penyelenggaraan daftar-daftar cacatan sipil untuk orang tionghoa diatur dalam ordonansi tanggal 19 Maret 1917 no. 130 yang diubah dengan Staatblad 1918 no.356 dan setelah pembaharuan maka ditetapkan berlaku mulai tanggal 1 Mei 1919 dengan Staatblad No. 81.

· Periode tahun 1928

Ordeonasi tanggal 15 Oktober 1920 no.751 jo Staatblad 1927 no.564 dan setelah dirubah tahun 1927 mulai berlaku pada 1 Januari 1928 adalah ordonasi yang berlaku untuk beberapa golongan penduduk Indonesia di Jawa dan Madura yang tidak termasuk rakyat Swpraja diberikan pelayanan Catatan Sipil dengan pembatasan sebagai berikut :

- Bangsawan

- Pegawai Negeri dengan gaji minimal F-100 (Seratus Golden) - Opsir-opsir tentara dan pensiunanaya

- Semua yang pada bagian hukum privat adalah golongan Eropa

- Turunan laki-laki dari tersebut diatas

(7)

commit to user

· Periode 1945

Pada masa ini meskipun Negara Indonesia sudah merdeka namun masih tetap berlaku penggolongan penduduk.

· Periode 1967

Berdasarkan Instruksi Presiden Kabinet Ampera No.

31/6/In/12/1866 tanggal 27 Desember 1967 bahwa sejak saat itu Catatan Sipil “terbuka” untuk umum khususnya akta kelahiran dan akta kematian (Buku Saku Petunjuk Praktis Akta-Akta Catatan Sipil. 2000 :1-4)

Pada mulanya Dispendukcapil Kota Surakarta berbentuk kantor yang bernama Kantor Catatan Sipil Surakarta, kantor ini hanya membidangi satu tugas saja yaitu tugas di bidang Pencatatan Sipil sedangkan fungsi Kantor Catatan Sipil adalah :

- Mengeluarkan produk berupa dokumen negara antara lain akta kelahiran, akta kematian, akta perkawinan, akta perceraiaan, serta akta pengakuan dan pengesahan anak.

- Pemeliharaan akta cataatan sipil

- Pengukuhan kepada masyarakat tentang Catatan Sipil

- Penyediaan data atau informasi catanan sipil dalam rangka perumusan

kebijakan pembangunan. Sejalan dengan ditetapkannya Disentralisasi

atau Otonomi Daerah di surakarta diawali dengan diterapkannya

Peraturan Daerah Kota Surakarta no.6 Tahun 2011 tentang Struktur

(8)

commit to user

Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kota Surakarta yang terdiri dari 15 Dinas, 5 Badan, 4 bagian dan 8 Kantor.

Setelah dikeluarkannya Peraturan Daerah tersebut maka kantor Catatan Sipil Surakarta berubah menjadi Dinas Kepandudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta.

b. Visi dan Misi Dispendukcapil:

1) Visi Dispendukcapil:

Terwujudnya tertib administrasi Kependudukan dengan Pelayanan Prima menuju Penduduk berkualitas.

2) Misi Dispendukcapil:

a) Mengembangkan kebijakan dan sistem serta menyelenggarakan pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil serta ke Transmigrasian untuk menghimpun data kependudukan serta menerbitkan indentitas dan dokumen penduduk serta pelayanan Transmigrasi dalam rangkamewujudkan tertib administrasi kependudukan.

b) Mengembangkan dan memadukan kebijaksanaan dan sistem informasi serta menjalankan,sehingga mampu menyediakan data dan informasi kependudukan secara lengkap,akurat dan memenuhi kepentingan publik dan pembangunan.

c) Menyusun perencanaan Kependudukan sebagai dasar

perencanaan dan perumusan pembangunan Nasionanl dan

(9)

commit to user

Daerah yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan penduduk.

d) Merumuskan arah kebijakan dinamika kependudukan yang serasi,selaras dan seimbang antara kuantitas / pertumbuhan, kualitas serta persebaran dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan.

e) Mengembangkan pranata hukum, kelembagaan serta peran serta masyarakat untuk pelaksanaan dan pendayagunaan manfaat administrasi kependudukan guna perlindungan sosial dan penegakan hak – hak penduduk.

Guna mewujudkan Visi dan Misi tersebut, terdapat Tujuan yang akan dicapai oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta, yaitu :

1) Mewujudkan profesionalisme kerja seluruh pegawai sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

2) Meningkatkan ketepatan dan kecepatan laporan data kependudukan dan pencatatan sipil.

3) Meningkatkan pelayanan di bidang pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.

4) Mengembangkan jaringan online untuk pelayanan pendaftaran

penduduk dan pencatatan sipil, dalam rangka mewujudkan KTP-

El

(10)

commit to user

5) Meningkatkan akurasi data statistik vital dan database kependudukan Kota Surakarta.

6) Membangun dan menjalin kerjasama yang baik dengan stakeholder dan unit kerja terkait.

7) Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya dokumen kependudukan dan akta catatan sipil.

8) Meningkatkan pemeliharaan dan pengelolaan dokumen akta catatan sipil.

9) Memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surakarta.

10) Menciptakan masyarakat yang memiliki identitas diri dan keluarga

11) Meningkatkan pemeliharaan dan pengelolaan dokumen berupa back up data akta capil guna mewujudkan pelayanan prima.

Keberadaan Visi dan Misi Dispendukcapil ini dapat dijadikan indikator tujuan jangka panjang serta upaya yang sedang dan akan dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Dengan adanya Visi dan Misi ini selain bertujuan untuk membatasi arah

dan tujuan Dispendukcapil dalam koridornya sebagai pelayan masyarakat

juga memberikan wawasan dan pengetahuan yang cukup kepada

masyarakat mengenai target dan langkah yang ditempuh oleh

(11)

commit to user

Dispendukcapil. Masyarakat juga dapat mengukur kesesuaian Visi Misi yang ada dengan pencapaian Dispenduk saat ini.

c. Tugas Pokok dan Fungsi

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta, tugas pokok serta fungsi dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta adalah sebagai berikut :

1) Tugas pokok :

Tugas pokok Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta adalah sebagai penyelenggara urusan pemerintahan di bidang kependudukan dan Pencatatan sipil.

2) Fungsi:

Dalam melaksanakan tugasnya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mempunyai fungsi :

a) Penyelenggaraan Sekretariatan

b) Penyusunan Rencana Program Evaluasi dan Pelaporan c) Pengelolaan Administrasi Kependudukan

d) Pencatatan dan Penerbitan Akta-akta Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

e) Pengelolaan dan Pelayanan Dokumen.

f) Penyelenggaraan Penyuluhan.

g) Pembinaan Jabatan Fungsional

(12)

commit to user

Pada penjelasan mengenai tugas pokok dan fungsi ini dapat dilihat bahwa tugas Dispenduk jelas yaitu penyelenggara pemerintahan dibidang kependudukan dan pencatatan sipil, dan jika di kaitkan dengan KTP-El pada fungsi Dispenduk pada poin (d) Pencatatan dan Penerbitan Akta-akta Kependudukan dan Pencatatan Sipil, termasuk di dalamnya penerbitan KTP-El yang wajib dimilki oleh semua penduduk.

d. Struktur Organisasi

Susunan organisasi Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta sesuai dengan Pasal 17 Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta, terdiri dari :

1) Kepala Dinas 2) Sekretariat.

a) Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan.

b) Sub Bagian Keuangan.

c) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.

3) Bidang Data dan Statistik.

a) Seksi Pengolahan Data dan Statistik.

b) Seksi Sistem Teknologi dan Informasi.

(13)

commit to user 4) Bidang Pendaftaran Penduduk.

a) Seksi Identitas Penduduk.

b) Seksi Perpindahan dan Pendataan Penduduk Rentan.

5) Bidang Pencatatan Sipil.

a) Seksi Perkawinan dan Perceraian.

b) Seksi Kelahiran, Kematian, Pengakuan, dan Pengesahan Anak.

6) Bidang Dokumentasi dan Informasi.

a) Seksi Pengelolaan Dokumentasi.

b) Seksi Penyuluhan dan Pelayanan.

7) Kelompok Jabatan Fungsional.

Susunan organisasi ini penting untuk menciptakan kejelasan

terhadap tugas dan wewenang yang diemban oleh tiap-tiap pegawai

yang memiliki otoritas, mewujudkan rentang kendali yang efektif dan

melihat secara keseluruhan tubuh sebuah organisasi. Demikian juga

dengan pelaksanaan pelayanan KTP-El merupakan pelayanan dibawah

Bidang Pendaftaran Penduduk yang membawahi staf perekaman

sebagai “front liner” atau garis depan pemberi layanan ini. Sehingga

dengan adanya struktur organisasi ini akan mempermudah pemberi

dan penerima layanan untuk mengetahui alur pertanggung jawaban

dan wewenang pada Dispendukcapil.

(14)

commit to user

Untuk lebih jelasnya mengenai susunan organisasi Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta berikut ini akan disajikan dalam bentuk bagan struktur oganisasi

Gambar Struktur Organisasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta

LAMPIRAN : PERATURAN WALIKOTA NOMOR 15 TAHUN 2008

KEPALA

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

BIDANG DATA DAN STATISTIK

Sub Bag

Perencanaan, Eval dan Pelaporan

SEKRETARIAT

Sub Bagian Keuangan

Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

BIDANG PENDAFTARAN PENDUDUK

BIDANG PENCATATAN SIPIL

BIDANG

DOKUMENTASI INFORMASI

Seksi Pengolahan Data Dan Statistik Seksi Sistem Teknologi Informasi

Seksi Identitas Penduduk

Seksi Perpindahan Dan Pendataan Penduduk Rentan

Seksi Perkawinan Dan Perceraian Seksi Kelahiran, Kematian, Pengakuan Dan Pengesahan Anak

Seksi Pengelolaan Dokumentasi Seksi Penyuluhan Dan Pelayanan BAGAN ORGANISASI DINAS

KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA

Sumber : Sub Bag. Umum dan Kepegawaian Dispendukcapil

(15)

commit to user

Dari beberapa bidang tersebut, yang secara langsung menangani tentang pelaksanaann KTP-El adalah Bidang Pendaftaran Penduduk.

Bidang Pendaftaran Penduduk terdiri dari Seksi Identitas Penduduk dan Seksi Perpindahan Penduduk Rentan.Dispendukcapil berkomitmen untuk memberikan pelayanan kependudukan secara menyeluruh kepada seluruh pemohonKota Surakarta, jenis pelayanannya sangat bervariasi yaitu meliputi :

Tabel IV.2

Jenis Pelayanan Dispendukcapil Surakarta dan Retribusi

No Jenis Layanan Biaya

1 Pembuatan kartu keluarga Gratis

2 Pembuatan Kartu Tanda Penduduk dan Laminating Rp. 5.000 3 Pencatatan dan pembuatan akta kelahiran umum Gratis 4 Pencatatan dan pembuatan kutipan akta kelahiran terlambat

pencatatannya

Rp. 20.000

5 Pembuatan kutipan akta kelahiran dispensasi Rp. 15.000 6 Pembuatan kutipan kedua akta kelahiran Rp. 15.000 7 Pencatatan dan pembuatan akta perkawinan terdiri dari 2

(dua) lembar

Rp. 60.000

8 Pembuatan Kutipan kedua akta perkawinan Rp. 30.000 9 Pencatatan Perkawinan yang Pencatatannya Terlambat Rp.70.000 10 Pencatatan Pembuatan Kutipan Akta Perceraian terdiri dari 2

(dua) lembar

Rp.60.000

11 Pencatatan dan pembuatan kutipan Akta Perceraian Terlambat terdiri dari 2 (dua) lembar

Rp. 80.000

12 Pembuatan Kutipan Kedua Akta Perceraian Rp.30.000

(16)

commit to user

13 Pencatatan dan Pembuatan Akta Kematian Rp. 10.000

14 Pembuatan Kutipan Kedua Akta Kematian Rp. 10.000

15 Pencatatan dan pembuatan kutipan akta pengakuan anak Rp. 50.000

16 Pencatatan pengesahan anak Rp. 30.000

17 Pembuatan kutipan kedua akta pengakuan Anak Rp. 50.000

18 Pencatatan pengangkatan Anak (adopsi) Rp. 50.000

19 Penatatan pengangkatan anak (adopsi) Terlambat Rp. 75.000

20 Pembuatan salinan akta kelahiran Rp. 30.000

21 Pembuatan salinan akta perkawinan Rp. 40.000

22 Pembuatan Salinan Akta Perceraian Rp. 55.000

23 Pembuatan Salinan Akta Kematian Rp. 10.000

24 Pembuatan Salinan Akta Pengakuan Anak

25 Pembuatan Surat Keterangan Rp. 10.000

26 Pembuatan Tanda Bukti Pelaporan mengenai kelahiran perkawinan,perceraian dan kematian yang terjadi di luar negeri

Rp. 10.000

27 Pembuatan ralat Akta/Catatan Pinggir karena kesalahan pemohon

Rp. 5.000

28 Pembuatan Akta Ganti Nama/Perubahan Nama Rp. 50.000 Sumber : Perda No. 21 Tahun 2006

Melihat tabel diatas tampak adanya kejelasan dalam hal biaya pada sebagian besar pelayanan yang diberikan oleh Dispendukcapil.

Pada jenis pelayanan nomor dua tertulis bahwa ‘Pembuatan Kartu

Tanda Penduduk dan Laminating’ dikenakan biaya sebesar lima ribu

rupiah. Pembebanan biaya ini masih berdasarkan peraturan lama yaitu

Perda No.21 Tahun 2006 dan biaya ini masih berlaku untuk

pembuatan KTP Manual.Namun untuk pembuatan KTP-El ini

keseluruhan biaya di gratiskan oleh pemerintah.

(17)

commit to user B. Pelayanan KTP-EL

1. Gambaran KTP-EL

Kartu Tanda Penduduk atau disingkat KTP, merupakan kartu yang berisi tentang identitas seseorang yang meliputi (nama, alamat lengkap, pekerjaan, status perkawinan, dan golongan darah). Sesuai dengan Perwali No.11 Tahun 2011 Pasal 13 bahwa, Penerbitan KTP baru bagi penduduk Daerah, dilakukan setelah memenuhi syaratberupa :

a. Telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau sudah kawin atau pernah kawin

b. Surat Pengantar RT/RW dan Lurah

c. Fotokopi KK (Kartu Keluarga) dan Kutipan Akta Nikah/Akta Perkawinan bagi penduduk yang belum berusia17 (tujuh belas) tahun dan Kutipan Akta Kelahiran.

d. Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri yang diterbitkan oleh Dinas bagiPenduduk Daerah yang datang dari luar negeri karena pindah.

Dengan memiliki KTP seseorang dapat dinyatakan sebagai penduduk daerah setempat. Namun dewasa ini KTP manual yang sudah ada dimutahirkan dengan diberlakukannya KTP-El (KTP Elektronik).

KTP–El ini merupakan program pemerintah untuk dalam rangka

peningkatan kualitas dan pelayanan, serta mengurangi tejadinya

pemalsuan identitas yang belakangan ini marak terjadi. KTP-El ini

dimaksudkan untuk memudahkan seseorang/pemohon negara

(18)

commit to user

memperoleh pelayanan dengan cepat dan tepat karena dengan data yang telah direkam secara elektronik tadi tidak perlu lagi ada kroscek yang memakan waktu karena keasliannya dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut adalah Dasar hukum dan pengrtian serta manfaat KTP-El.

2. Dasar Hukum KTP-El

a. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.

b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.

c. Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 yang telah di ubah dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional.

d. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan.

3. Pengertian KTP-El

Secara singkat KTP-El adalah KTP yang memiliki spesifikasi dan

format KTP nasional dengan sistem pengamanan khusus yg berlaku

sebagai identitas resmi yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota.

(19)

commit to user

Manfaat KTP-El bagi pemilik dan negara yaitu : a. Negara

Untuk perencanaan pembangunan, akses pelayanan publik, data dan statistik kependudukan, keamanan negara, demokrasi (pemilu dan pilkada), dan mencegah penyalah gunaan dokumen kependudukan, tindak terorisme dan pekerja ilegal.

Pada KTP-El setiap pemohon negara memiliki 1 NIK (Nomor Induk Kependudukan) dan nomor tersebut akan selalu melekat pada seseorang hingga dia meninggal dunia. Data-data penduduk yang direkam dalam KTP-EL ini hampir mirip dengan KTP manual hanya saja data-data pada KTP-El disimpan dalam perangkat Elektronik dan dapat diakses sewaktu-waktu untuk keperluan keamanan maupun keabsahan data.

b. Penduduk

Sebagai dasar penerbitan dokumen lain seperti; Paspor, SIM, NPWP, Polis Asuransi, Sertifikat Hak Atas Tanah, Dokumen Identitas lainnya (sesuai dengan Pasal 101 UU 23 Tahun 2006).

Manfaat yang juga dirasakan dari kepemilikan KTP El ini sangat

banyak yaitu keberlakuan KTP-El yaitu seumur hidup meskipun

dalam KTP-El tersebut tercetak 5 tahun, namun selama tidak ada

perubahan elemen-elemen data tidak perlu ada rekam ulang. Namun

(20)

commit to user

jika ada perubahan-perubahan pada elemen data maka harus segera diperbarui lagi kartu identisasnya. Elemen data ini antara lain status perkawinan, pekerjaan, perubahan alamat dan atau mungkin adanya kesalahan dalam rekam yang terdahulu.

Keuntungan lain yang diperoleh dengan memiliki KTP-El yaitu setiap pemohon negara dapat menerima dan melakukan kegiatan administratif dengan mudah karena saat ini pemerintah sudah mewajibkan kepada semua instansi untuk melakukan semua transaksi berdasarkan pada data kependudukan sebagaimana yang telah diatur dalam undang-undang No 24 tahun 2013. Pasal 58 Ayat 4 yang berbunyi "Data kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),ayat (2), dan ayat (3) yang digunakan untuk semua keperluan adalah data kependudukan dari kementerian yang bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan dalam negeri, antara lain untuk pemanfaatan :

a. Pelayanan Publik

b. Perencanaan pembangunan c. Alokasi anggaran

d. Pembangunan demokrasi

e. Penegakan hukum dan pencegahan kriminalitas.

Keuntungan berikutnya adalah penerapan KTP-El dijadikan

dasar bagi pelayanan publik diatur dalam Perpres No 112 Tahun 2013

pasal 10 b ayat 2 berbunyi "Instansi pemerintah,Pemerintah

(21)

commit to user

Daerah,Lembaga Perbankan dan Swasta wajib memberikan pelayanan kepada penduduk dengan dasar KTP-El, dengan tidak mempertimbangkan tempat penerbitan KTP-El tersebut"

Dimaksudkan bahwa seluruh pemohon negara berhak mendapatkan pelayanan dari Instansi-instansi pemberi pelayanan atas kebutuhanya tidak terikat pada dimana KTP-El nya dibuat atau domisilinya.

Bahkan sesuai dengan ayat 3 dijelaskan bahwa" sementara itu bagi penduduk yang belum memiliki KTP-el (KTP non elektronik) berhak mendapatkan pelayanan dari instansi pemerintah,pemerintah daerah,lembaga perbankan dan swasta sampai dengan tanggal 31 desember 2014". Nampak disana terdapat kelonggaran waktu bagi para pemohon yang belum memiliki KTP-El serta Pemerintah selaku stetsel aktif untuk mengajak pemohonnya untuk segera ber KTP-El.

Banyak sekali inovasi yang dilakukan pemerintah dalam rangka

meningkatkan pelayanan publik, seperti perubahan KTP lama ke KTP

Nasional hingga saat ini menjadi KTP-El yang tebih mutakhir. Inovasi

yang dilakukan merupakan upaya untuk makin mempermudah

penduduk dalam kegiatan administratif sekaligus memenuhi tuntutan

globalisasi.

(22)

commit to user Tabel IV.3

Perbedaan KTP Lama, KTP Nasional, KTP Elektronik (KTP-EL)

KTP Lama / KTP

Kabupeten 1975

Karakteristik Teknologi Verifikasi / Validasi

-Blanko Kertas dan

Laminasi plastik -Stempel Asli

-Pengawasan dan verifikasi pengesahan dari tingkat terendah RT/RW dst

-Photo di lekatkan (lem) -Nomor Serial khusus -Tanda Tangan/ Cap

Jempol -Guilloche Patterns Pada Blanko -Data Tercetak dengan

komputer

-Hanya untuk keperluan identitas

diri

-Berlaku di Tiap

Kabupaten/Kota

Gambar

KTP Nasional 2004

Karakteristik Teknologi Verifikasi / Validasi

-Photo dicetak pada

kartu -Bahan terbuat dari plastik

-Pengawasan dan verifikasi pengesahan dari tingkat terendah RT/RW dst

-Tanda Tangan/Cap

Jempol -Nomor serial khusus -

-Data tercetak dengan

komputer -Gulloche Pattrens pada kartu

(23)

commit to user

-Berlaku Nasional -Hanya untuk Keperluan ID

-Tahan Lebih lama (tidak mudah lecek)

-Scanning photo dan tanda tangan/cap jempol

KTP Elektronik /

KTP-EL (2011)

Karakteristik Teknologi Verifikasi / Validasi

-Photo dicetak pada

kartu -Bahan terbuat dari PVC/PC

-Pengawasan dan verifikasi pengesahan dari tingkat terendah RT/RW dst

-Data terceteak dengan

komputer -Nomor Serial Khisuus -Multi Aplikasi

-Berlaku Nasional -Guilloche Patterns pada kartu -Diterima asecara International -Mampu menyimpan

data

-Scanning photo dan tanda

tangan/Cap Jempol -Tidak bisa di palsukan -Data dibaca/ditulis

dengan card Reader

-Teradpat microchips sebagai

media penyimpan data -Hanya satu kartu untuk satu orang

-Menyimpan data finger print biometric sebagai satu uniq identificaton personal

- Satu orang satu kartu (menggantikan kartu lain)

-Mampu menampung seluruh data personal yang diperlukan dalam multi aplikasi

-Tingkat kepercayaan thd keabsahan kartu sangat tinggi

(24)

commit to user

Dari pembandingan ketiga macam KTP yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia ini memang KTP-El lebih unggul dalam banyak hal, selain dapat diterima secara internasional KTP-El juga tidak dapat dipalsukan karena didalamnya terdapat data-data yang sudah paten dan hanya ada 1 (satu) NIK (Nomor Induk Kependudukan) bagi seseorang dari dia lahir hingga meninggal dunia. Selain itu KTP-El hanya dimiliki satu orang hanya satu buah dan menggantikan KTP yang sebelumnya pernah dimiliki. Dan kelebihan yang terakhir adalah keabsahannya yang tidak dapat diragukan lagi, karena jika terjadi hal yang mencurigakan dapat diakses secara real time oleh Dispendukcapil menggunakan alat Card Reader.

4. Proses Pelayanan KTP-El

Dalam Website resmi Dispendukcspil Surakarta dijelaskan mengenai tanggung jawab pemerintah dan tanggung jawab penduduk yaitu:

a. Tanggung Jawab Pemerintah.

Melakukan sosialisasi, mobilisasi penduduk, mengalokasikan anggaran dan menyiapkan sarana prasarana (mesin sidik jari, rekam foto, blangko KTP-El) dan memberikan pelayanan KTP-El.

b. Tanggung Jawab Penduduk.

Melakukan rekam sidik jari, rekam foto dan pengambilan KTP-El di

Kantor Kecamatan setempat.

(25)

commit to user

Sehingga jelas bahwa pemerintah bertugas melakukan sosialisasi sampai memberikan pelayanan KTP-El pada penduduk. Dan penduduk bertanggung jawab memberikan data-data yang dibutuhkan oleh pemerintah untuk perekaman. Dalam proses pembuatan KTP-El sendiri melalui mekanisme yang harus dilalui terlebih dahulu yang sesuai penjelasan yang ada pada website resmi Dispendukcapil Surakarta, mengenai proses administratif untuk dapat memperoleh pelayanan KTP-El yaitu dengan melengkapi persyaratan:

· Membawa surat keterangan domisili dari RT/RW (jika penduduk lama berada diluar Kota Surakarta namun berdomisili di Surakarta wajib membawa surat keterangan dari RT/RW setempat)

· Membawa Fotocopy KTP Manual atau KTP lama

· Membawa Fotocopy Kartu Keluarga

Dengan memenuhi syarat administratif tersebut, maka seorang

penduduk dapat segera melakukan perekaman di kecamatan maupun

dispendukcapil. Namun dalam prakteknya pihak pelayanan

dispendukcapil memberikan kelonggaran-kelonggaran tertentu agar

rencana semua pemohonKota Surakarta dapat terekam 100% dapat

untuk segera terealisir , yaitu dengan mempermudah syarat perekaman

selama data yang diberikan valid dan belum pernah melakukan rekam

diempat lain sebelumnya.Misalnya dengan cukup membawa KK dan

KTP saja, atau bahkan cukup membawa KTP lama dan fotocopy dari

KTP tersebut. Untuk selanjutnya proses perekaman dapat

(26)

commit to user

berlangsung. Seperti yang dijelaskan Ibu Ida selaku staf pelayanan KTP-El

“ Iya mbak kita kasih kelonggaran untuk orang-orang yang udah jauh-jauh datang tapi ternyata syaratnya kurang, misalnya dia hanya bawa KK saja, daripada dia harus pulang dan akhirnya nggak rekam-rekam kan lebih baik kita terima dulu dan syarat lain menyusul, karena KTP manual kan mesti selalu dibawa, tapi selama orang tersebut belum rekam data” (wawancara 7 April 2014)

Realitas dilapangan yang saya ketahui memang demikian adanya, bahwa persyaratan memang seringkali menyulitkan bagi pera penduduk yang berfikiran untuk ingin segera selesai rekam namun faktanya dalam pengurusan syarat-syaratnya saja sudah sulit dan memakan waktu dan biaya.Menurut Bapak Ing Ramto (Kabid Pendaftaran Penduduk)

“Identitas penduduk itu dimulai dari KK (Kartu Keluarga), yang dulu diuruskan oleh orang tua kita dan berlanjut untuk mengurus data-data kependudukan lain misalnya KTP, SIM dan macam- macam, jadi sebenarnya tidak ribet jika data selalu diurus secara benar dan tepat waktu. Yang menyulitkan itu sebenarnya ada perubahan data dan tidak segera diuus sehingga berkepanjangan nah saat dibutuhkan harus merubah banyak komponen lain.”

(Wawancara 19 Maret 2014)

Seperti surat keterangan dari RT/RW tersebut hanya diberlakukan untuk pemohon Surakarta yang sudah lama tidak berada di Kota Surakarta baik diluar Kota maupun diluar negeri.

Dengan adanya surat keterangan masih berdomisili dari RT

maupun RW maka pemohon tersebut masih dianggap sebagai

pemohon wilyah tersebut sehingga surat tersebut sangat penting untuk

verifikasi apakah pemohon ini asli solo atau bukan. Untuk

mendapatkan surat keterangan tersebut cukup mudah yaitu hanya

perlu menemui RT/RW setempat dengan membawa KK dan KTP dan

surat akan dibuatkan jika seorang pemohon dianggap masih

berdomisili di wilayah tersebut. Baru setelah surat keterangan dmisili

(27)

commit to user

dari RT/RW setempat diperoleh dan dilengkapi dengan KK serta fotocoppy KTP manual seorang penduduk dapat melakukan rekam KTP-El. Perekaman KTP-El ini dapat dilakukan di kantor kecamatan setempat atau di Dispendukcapil Surakarta langsung.

5. Perekaman

Perekaman merupakan proses penyimpanan data-data penduduk secara elektronik kedalam file-file yang kemudian dapat langsung dikirim secara realtime pada Dispendukcapil Pusat yaitu di Jakarta untuk kemudin dicetak. Proses perekaman ini terdiri dari banyak sesi dan tahapan serta dilayani langsung satu-persatu oleh staf pemberi layanan yang sudah siap di balik mesin-mesin perekam.

Tahapannya adalah:

a. Pengambilan Foto

Disini pemberi layanan memastikan bahwa pemohon tersebut belum pernah rekam atau foto sebelumnya di tempat lain.

Karena jika sudah rekam sebelumnya dan melakukan rekam lagi maka data akan dianggap duplikasi dan dari pihak pusat dianggap gagal dan tidak dapat dicetak sehingga harus mengulang lagi dari awal dan membutuhkan proses yang lebih lama.

Proses pengambilan foto ini cukup cepat kurang lebih hanya

3 menit, yaitu dengan mempersilakan duduk pemohon tersebut di

warna sesuai tahun lahirnya yaitu tahun genap di latar warna biru

dan tahun ganjil dilatar berwarna merah. Setelah duduk dengan

benar kemudian dipersilakan menghadap kamera dan gambarpun di

ambil.

(28)

commit to user b. Tanda Tangan

Setelah difoto, pemohon tersebut diminta untuk tandatangan dengan menggunakan alat sejenis pulpen yang diberikan diatas signature pad yaitu sebuah alat berupa layar kecil untuk menampilkan tandatangan yang dibubuhkan diatasnya dan siap untuk disimpan dalam komputer.

c. Sidik Jari

Pemohondiminta untuk meletakkan 4 jari kanan diatas finger print, dan kemudian 4 jari kiri. Sehingga data sidik jarinya

sudah terekam dan disimpan dalam komputer.

d. Rekam Iris Mata

Pada bagian ini pemohon diminta melotot hingga nampak keseluruhan matanya, lalu staf mengambil gambar iris mata pemohontersebut dengan alat iris catcher, sehingga nampak di layar komputer iris mata pemohontersebut dan setelah benar tinggal disimpan.

e. Tanda tangan

Disini petugas meminta pemohon untuk tanda tangan kedua kali untuk verifikasi

f. Sidik Jari (aktifasi)

Pemohondiminta untuk meletakkan telunjuk kiri dan

kanannya secara bergantian untuk aktifasi. Ini merupakan tahapan

terakhir perekaman dengan melibatkan pemohon.

(29)

commit to user g. Pengiriman Data Rekam

Petugas melakukan pencatatan data pemohon yang terekam setiap harinya baik secara komputerisasi maupun manual. Ketika data dianggap sudah lengkap dan tidak bermasalah maka data tersebut siap dikirim secara real time kepada pusat (Jakarta) untuk di cetak.

h. Pencetakan dan Pembagian

Proses pencetakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat memakan waktu kurang lebih 3 bulan hingga 1 tahun. Setelah KTP-El selesai di cetak lalu dikirim kembali ke Dispendukcapil Kota Surakarta untuk kemudian di bagikan kepada kelurahan- kelurahan tempat domisili pemohon KTP-El. Kemudian di teruskan oleh kelurahan kepada pihak yang bersangkutan.

Seluruh proses tahapan tahapan perekaman yang melibatkan pemohon diatas memakan waktu 10-15 menit paling lama, karena ditangani oleh staf-staf yang sudah ahli dan berpengalaman.

Setelah proses perekaman selesai, staf pemberi layanan memberikan informasi mengenai pengambilan KTP-El yang sedang dibuat. Ibu Ida seorang Staf perekaman mengatakan,

“ Kami tugasnya disini hanya melakukan rekam dan aktifasi

yang belum rekam mbak, setelah itu di rekap yang sudah rekam

seharian, jadi memang pelayanan ini khusus untuk perekaman

data KTP-El dan berakhir disini pula prosedurnya, selanjutnya

berkas kami kirim online ke Jakarta untuk di cetak berikutnya

penduduk tinggal menunggu KTP-El nya jadi.” (wawancara 7

April 2014)

(30)

commit to user

Pernyataan Ibu Ida diatas menjelaskan bahwa kontribusi atau peranan Dispendukcapil pada pembuatan KTP-El berkisar pada sosialisasi ke daerah masing-masing, merekam dan mengirim serta membagikan KTP-El yang sudah jadi. DI jelaskan pula bahwa untuk pengambilan KTP-El ini dilakukan di kelurahan domisili masing- masing pemohon dan biasanya ada edaran dari RT setempat namun jika tidak ada edaran bisa langsung di cek di kelurahan masing- masing.Sesuai dengan penuturan Ibu Satrini pemohon dari Kecamatan Laweyan,

“Petugasnya ramah mbak, saya awalnya bingung kok KTP nya nggaklangsung jadi padahal sudah datang, tapi ternyata dijelaskan kalau yang mencetak dari pusat Jakarta jadi belum pasti sampainya, saya disuruh nunggu enam bulanan baru disuruh mengecek di kelurahan saya.” (Wawancara 7 April 2014)

Sedangkan jangka waktu pencetakannya berkisar antara 3 bulan sampai 1 tahun. Hal ini yang berikutnya menjadi keluhan tersendiri dari pemohon. Namun dijelaskan kembali bahwa pencetakan sepenuhnya masih dilakukan oleh pusat di Jakarta sehingga pemohon diharpakan maklum.

C. Efektivitas

Untuk mengetahui tingkat efektivitas pelayanan KTP-El ini penulis

menggunakan teori pelayanan efektif menurut (Surjadi, 2009 : 46) yaitu

harus memenuhi kriteria :

(31)

commit to user 1. Pelayanannya Cepat

2. Pelayanannya Tepat 3. Pelayanannya Akurat 4. Pelayanannya Berkualitas

Pelayanan publik yang baik yaitu pelayanan yang menerapkan kriteria pelayanan prima yang tidak berbelit-belit dengan ekanisme yang jelas dan juga melalui prosedur yang telah di tetapkan secara sah. Esensi dari pelayanan yang efektif pada dasarnya mencakup 4 prinsip, yaitu :

5. Pelayanan harus cepat, dalam hal ini pelanggan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh pelayanan.

6. Pelayanan harus tepat, dibutuhkan ketepatan dalm berbagai aspek yaitu : aspek waktu, biaya prosedur, sasaran, kualitas maupun kuantitas serta kompetensi petugas.

7. Pelayanan harus akurat. Produk pelayanan tidak boleh salah, harus ada kepastian, kekuatan hukum dan tidak diragukan keabsahannya.

8. Pelayanan harus berkualitas. Produk pelayanan tidak seadanya, sesuai dengan keinginan pelanggan, memuaskan, berpihak dan untuk kepentingan pelanggan. (Surjadi, 2009 : 46)

Sesuai dengan teori efektivitas diatas, maka penerapan yang didapatkan yaitu a. Aspek kecepatan pelayanan

Dimana didalam teori tersebut mengatakan pelayanan harus

cepat sehingga pelanggan tidak membutuhkan banyak waktu untuk

(32)

commit to user

memperoleh pelayanan yang diinginkan. Dalam mewujudkan kecepatan ini dibutuhkan standart waktu yang pas dan untuk diterapkan secara konsisten serta perlu juga dilakukan transparasi kepada pengguna agar terjadi tau sama tau dan mengurangi terjadinya mal-administrasi. Standart waktu yang telah diterapkan dalam SPM (Standart Pelayanan Minimal) yang tertuang dalam Perda tahun No.- 2011 yang berisikan bahwa dinas wajib menerbitkan Dokumen Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil terhitung sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan/sejak tanggal diterimanyaberkas permohonan sebagai berikut :

1. KK paling lambat 14 (empat belas) hari 2. KTP paling lambat 14 (empat belas) hari

3. Surat Keterangan Pindah Datang paling lambat 14 (empat belas) hari;

4. Surat Keterangan Pindah ke Luar Negeri paling lambat 14 (empat belas) hari;

5. Surat Keterangan Tempat Tinggal untuk Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal terbatas paling lambat 14 (empat belas) hari;

6. Surat Keterangan Kelahiran paling lambat 14 (empat belas) hari;

7. Surat Keterangan Kematian paling lambat 3 (tiga) hari;

8. Surat Keterangan Lahir Mati paling lambat 14 (empat belas)

hari;Surat Keterangan Pembatalan Perkawinan paling lambat 7

(tujuh) hari;

(33)

commit to user

9. Surat Keterangan Pembatalan Perceraian paling lambat 7 (tujuh) hari;

10. Surat Keterangan Penduduk Musiman paling lambat 14 (empat belas) hari;

11. Kutipan Akta Pencatatan Sipil paling lambat 14 (empat belas) hari;

Standart waktu diatas merupakan peraturan mutlak harus dipenuhi dalam penerbitan dokumen-dokumen terkait, jika terjadi keterlambatan pengguna dapat melakukan komplain kepada pihak Dispenduk. Dilihat dari standart waktu penerbitan diatas nampak bahwa KTP (Kartu Tanda Penduduk) disini membutuhkan waktu paling lambat 14 hari, yang berarti 2 minggu. Sedangkan menurut pengalaman sendiri maupun observasi lapangan hal ini namun nampaknya tidak berlaku pada KTP-El, karena nyatanya waktu penerbitan KTP-El masih belum bisa dipastikan yang berkisar antara 3 bulan bahkan ada yang mencapai 1 tahun. Fakta ini diamini juga melalui penuturan Bapak Ingramto selaku Kabid Pendaftaran Penduduk yaitu,

“Untuk SPM (Standart Pelayanan Minimal) Penerbitan KTP itu maksimal 14 hari mbak, di Perda ada. Tapi yang harus diketahui itu adalah jangka waktu untuk penerbitan KTP Manual/Reguler saja dan tidak berlaku untuk KTP-El ya mengingat pencetakan masih sentralisasi di pusat Jakarta dan memang belum ada kepastian waktunya”. (Wawancara 19 Maret 2014)

Kurangnya kecepatan dan koordinasi pembagian tugas yang

kurang baik dari pemerintah pusat dianggap sebagai penyebab

(34)

commit to user

inefisiensi waktu yang menyebabkan terjadi kebingungan dan ketidakpastian yang berujung pada ketidakpuasan dari masyarakat, hal ini membuat sebagian masyarakat yang merasa dirugikan dan belum mengerti proses pencetakan KTP-EL ini beranggapan bahwa terjadinya kelambanan itu semata-mata karena pihak Dispendukcapil Surakarata. Kelambanan yang notabene berasal dari Pusat ini juga terkait ketidak telitian pihak pusat dalam mencetak KTP-El, sesuai penuturan Bapak Ing Ramto selaku Kabid Pendaftaran Penduduk

“Pernah mbak terjadi salah nama atau status dari pusat sehingga mau tidak mau harus diganti dengan yang benar, dikembalikan ke Pusat dan dibuatkan yang baru. Sementara penduduk tersebut pakai KTP Manualnya dulu” (Wawancara 19 April 2014)

Saat penulis mewawancarai beberapa orang narasumber mengenai kecepatan pelayanan KTP-El ini terdapat jawaban beragam.

Seperti jawaban Ibu Satrini pemohon kecamatan Laweyan ini bahwa pelayanan disini cepat, tidak harus mengantri dan prosesnya juga cepat. Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Bapak Hasni salah seorang penduduk kecamatan Pasar Kliwon dengan menyatakan,

”Ternyata cepat mbak, saya kira bakal ngantri lagi karena saya juga cepet-cepet harus kembali ke jakarta karena ada proyek”.

(wawancara 7 April 2014)

Namun disamping respon positif ada pula beberapa sisi negatif

yang disuarakan oleh bapak Heru dan Prapto yang keduanya sama-

sama penduduk Kecamatan Serengan sepakat bahwa pelayanan secara

keseluruhan baik dan cepat namun proses pencetakan yang memakan

(35)

commit to user

waktu sangat lama ini membuat mereka kurang sepakat untuk menyatakan pelayanannya memuaskan. Hal ini sesuai dengan keluhan yang di ungkapkan oleh Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk Bapak Ing Ramto bahwa dengan adanya ketenuan bahwa pencetakan KTP- El harus dari pusat memang membuat pelayanan terkesan lamban, sedangkan proses perekamnnya hanya berlangsung sekitar 15 menit.

Begitupula dengan respon para staf perekaman data KTP-El, mereka mengaku memberikan pelayanan dengan sigap dan tidak mengulur- ngulur waktu. Sesuai penuturan Bu Ida selaku Staf perekaman KTP- El.

“Kalau proses rekamnya cepat mbak maksimal 15 menit, itu kalau berkasnya lengkap ya, biasanya yang lama itu berkasnya kurang jd harus kembali melengkapi berkasnya dulu, tapi kami juga berusaha memudahkan terutama untuk lansia atau orang yang jauh-jauh datang, sementara kami rekam dulu”.

(Wawancara 7 April 2014)

Sedangkan menurut Bapak Reza, staf perekaman yang lain juga menambahkan bahwa alat perekaman disini berperan sangat penting, dan selalu dilakukan pengecekan berkala sehingga kondisi selalu fit dan tidak terjadi trouble saat dibutuhkan. Untuk itu Dispenduk capil juga memiliki IT sendiri yang dapat menangani kendala komputerisasi.

b. Aspek ketepatan Pelayanan

Sesuai dengan pengertian ketepatan pelayanan menurut teori Surjadi

yaitu harus ada ketepatan dalam berbagai aspek antara lain yaitu : waktu,

(36)

commit to user

biaya, prosedur, sasaran, kualitas maupun kuantitas serta kompetensi petugas. Pada pelayanan KTP-El ini juga dibutuhkan kombinasi antara faktor-faktor diatas.

1) Waktu Pelayanan

Seperti yang dijelaskan pada aspek kecepatan, standart waktu pelayanan sangat penting diberlakukan dan di informasikan kepada pengguna untuk mengurangi ketidakpastian mengenai waktu yang dibutuhkan. Dalam perekaman KTP-El ini secara keseluruhan hanya memerlukan waktu 15 menit dengan syarat berkas yang dibutuhkan sudah lengkap. Namun jangka waktu yang dibutuhkan sejak selesai perekaman hingga KTP-El dapat diterima belum terstandarisasi. Sesuai dengan pernyataan Bapak Ingramto selaku Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk ,

“Untuk pelayanan perekamannya cepat saja, paling maksimal 15 menit jika bawa persyaratannya, namun untuk sampai finish KTP-El diterima kita baru bisa beri estimasi waktu 6 bulan sampai 1 tahun.”(wawancara 7 April 2014)

Hal ini dibenarkan juga oleh pendapat penduduk yang membuat KTP-El Bapak Hasni salah seorang penduduk kecamatan Pasar Kliwon,

”Ternyata cepat mbak, saya kira bakal ngantri lagi karena saya juga cepet-cepet harus kembali ke Jakarta karena ada proyek”.

(wawancara 7 April 2014)

(37)

commit to user

Melihat kejadian yang ada selama observasi, kecepatan dan ketepatan pemberian layanan memang menjadi perhatian Staf yang bertugas saat perekaman.

2) Biaya

Biaya pengurusan administrasi kependudukan meliputi KTP, KK dan Akta Kelahiran sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah pusat melalui APBN sesuai dengan UU no 23 tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk) sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif dari penduduk yang belum memiliki kelengkapan dokumen kependudukan untuk segera mengurusnya karena biaya sepenuhnya ditanggung oleh negara selama tidak terlambat) Karena jika terjadi keterlambatan maka akan ada denda sesuai dengan Perwali Surakarta no.11 Tahun 2011 tentang denda administratif. Demikian pula jika ada aparat pemerintah yang memungut biaya secara sengaja (bukan denda) maka akan ditindak secara tegas dan diancam pidana dua tahun penjara atau denda seberat-beratnya 25 juta.Hal ini diamini oleh Bapak Ingramto selaku Kepala bidang pendaftaran penduduk,

“ Iya yang dokumen bersifat basic need seperti KTP, KK, Akta

Kelahiran sudah di gratiskan sejak Januari 2014 kemarin, dan

kita juga sudah menempel pemberitahuan di depan pintu ruang

perekaman bahwa KTP ini tidak dipungut biaya, baik yang

manual maupun yang KTP-El, sehingga masyarakat yang tidak

tahu jadi tahu dan tidak ada penyelewengan”. (wawancara 19

Maret 2014)

(38)

commit to user

Pernyataantersebut diperkuat dengan pendapat dua orang penduduk yang melakukan rekam saat itu, yaitu Pak Prapto pemohondari kecamatan Serengan yang menyatakan sudah tau bahwa pelayanan KTP-El ini gratis dari tetangganya yang telah terlebih dahlu membuat KTP-El. Sedangkan salah satu narasumber lain yaitu Bernard pemohon Kecamatan Jebres menyatakan bahwa mengetahui kalau gratis dari tulisan diluar pintu masuk ruang rekam. Saat obsevasi langsung di Dispendukcapil penulis juga mendapati adanya kertas yang ditempel pada dinding dekat pintu masuk ruang rekam KTP-El yang bertuliskan

“Rekam KTP-El Gratis”. Hal tersebut merupakan bentuk trnsparansi Dispendukcapil mengenai biaya rekam dan tentu membantu para penduduk yang tidak mengetahui mengenai penggratisan biaya dokumen kependudukan. Staf perekaman pun mengerti benar bahwa perekaman ini bersifat gratis, namun tetap memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada penduduk.

3) Standart Proses Pelayanan

Pada website resmi dispendukcapil Kota Surakarta, terdapat kolom mengenai tata cara serta proses pemutakhiran KTP lama menjadi KTP- El, yang juga masih berlangsung hingga saat ini, yaitu :

1. Setiap Wajib KTP yang ada di database hasil kegiatan

pemutakhiran data kependudukan Tahun 2010, akan menerima

undangan untuk rekam sidik jari dan foto dari Camat setempat.

(39)

commit to user

2. Wajib KTP dengan membawa undangan/ Foto copy KK dan Pengantar RT/RW, hadir secara pribadi (tidak boleh diwakilkan) di tempat pelayanan (kantor kecamatan) untuk

melakukan proses rekam sidik jari dan foto.

3. Bagi Wajib KTP yang tidak terdapat dalam databasedi kecamatan, akan diberikan pelayanan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta dengan membawa Surat Keterangan Lurah setempat.

4. Setelah KTP-El selesai di cetak dan dikirim oleh Pemerintah Pusat, maka Wajib KTP akan mendapatkan undangan pengambilan KTP- El (dengan terlebih dahulu dilakukan proses pemadanan sidik jari bagi wajib KTP).

5. Penyerahan KTP-El oleh Petugas Pelayanan KTP-El kepada Wajib KTP dengan cara menukarkan KTP lama.

Urutan prosedur pemberkasan sebelum perekaman KTP-El

Bagan diatas menjelaskan bahwa seorang penduduk yang akan melakukan rekam KTP-El harus terlebih dahulu memiliki Kartu keluarga dan KTP lama yang masih berlaku yang kemudian

Mengurus pengantar dari RT/RW setempat

Melakukan rekam KTP-El di Kecamatan atau Dispendukcapil setempat.

Pemohon Membawa

fotocopy Kartu

Keluarga dan KTP

Lama

(40)

commit to user

difotocopy, setelah itu mendatangi RT atau RW setempat untuk mengurus surat pengantar, dalam penjelasannya surat pengantar ini merupakan surat keterangan masih berdomisili diwilayah tersebut, sehingga kepengurusan surat ini sebenarnya dikhususkan kepada orang-orang yang tinggal lama diluar Kota namun masih ber-KTP Surakarta. Dan tahap terakhir adalah proses verifikasi oleh staf rekam dan kemudian melakukan rekam KTP-El.

Standart proses diatas menyebutkan bahwa akan diberikan surat undangan untuk rekam sidikjari dari camat setempat hanya untuk Wajib KTP yang didatabase per 2010, sehingga secara tersirat wajib KTP yang tidak termutakhirkan per 2010 tidak akan mendapat surat undangan resmi dari camat melainkan dengan inisiatif sendiri datang ke Kantor Kecamatan setempat atau ke Dispenduk untuk rekam KTP- El. Begitu juga saat pengambilan KTP-El yang sudah jadi Wajib KTP yang terekam per 2010 akan mendapat undangan kembalidan yang selebihnya dapat diambil di kelurahan-kelurahan setempat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

4) Sasaran

Pelayanan KTP-El ini menyasar kepada penduduk yang belum

memiliki atau belum melakukan rekam data KTP-El. Pelaksanaan

KTP-El sendiri sudah dimulai proses perekamanya sejak awal 2013

dan berlangsung bertahap dari daerah ke daerah dengan surat-surat

edaran perekaman dan pengambilan. Pada saat itu target 100% KTP-

(41)

commit to user

El di harapkan pada awal tahun 2014 ini. Namun pada kenyataanya masih cukup banyak pemohon yang belum berKTP-El, sehingga penggunaan KTP-El pun mundur menjadi awal tahun 2015 mendatang. Pencapaian di tiap daerah berbeda-beda begitu pula dengan pencapaian di Kota Surakarta ini juga masih belum 100%

pemohon berKTP-El. Data yang dapat penulis lampirkan adalah jumlah total perekaman di Kecamatan-kecamatan dan Dispenduk.

Berikut ini adalah jumlah perekaman KTP-El bulan Juli 2013 Tabel IV.4

Jumlah Rekam KTP-El (Juli 2013)

NO Jumlah Rekam KTP-El Kota

Kecamatan Jumlah Rekam Dinas

Jumlah Rekam Kecamatan

Jumlah

Laweyan 64.080 14 64.094 71 64.165

Serengan 35.223 4 35.227 42 35.269

Pasarkliwon 54.229 17 54.246 86 54.332

Jebres 93.888 20 93.908 73 93.981

Banjarsari 117.979 17 117.996 86 118.082

Total 365.399 72 365.471 358 365.829

Sumber: Dispendukcapil Surakarta

Tabel diatas menunjukkan jumlah perekaman KTP-El di bulan Juli 2013, untuk total secara keseluruhan tidak dapat diketahui secara pasti karena sejauh ini masih dalam proses penghitungan. Sesuai dengan pernyataan Bapak Ingramto Kabid Pendaftaran Penduduk,

“Pencapaian KTP –El sejauh ini sudah mencapai 94,5% dari

total jumlah penduduk Kota Surakarta saat ini yang potensi /

wajib memiliki KTP yaitu 415.549 orang. Sisanya yang belum

terekam dikarenakan banyak faktor diantaranya mobilitas

penduduk yang dinamis”. (wawancara 7 April 2014)

(42)

commit to user

Alasan tersebut memang masuk akal mengingat Surakarta merupakan Kota besar dengan jumlah penduduk yang banyak dan terus meningkat dan memiliki mobilitas yang tinggi. Dengan kekurangan sekitar 5,5% Dispendukcapil Kota Surakarta berharap dapat segera menuntaskan tugasnya karena sesuai dengan aturan teknis tentang penerapan KTP-el dijadikan dasar bagi pelayanan publik diatur dalam Perpres No 112 Tahun 2013 pasal 10 b ayat 2 berbunyi "Instansi pemerintah,Pemerintah Daerah,Lembaga Perbankan dan Swasta wajib memberikan pelayanan kepada penduduk dengan dasar KTP-El, dengan tidak mempertimbangkan tempat penerbitan KTP-El tersebut".Kemudian di ayat 3 dijelaskan bahwa, "sementara itu bagi penduduk yang belum memiliki KTP-El (KTP non elektronik) berhak mendapatkan pelayanan dari instansi pemerintah,pemerintah daerah,lembaga perbankan dan swasta sampai dengan tanggal 31 desember 2014". Dengan ketentuan tersebut maka tidak salah jika harus ada upaya-upaya yang signifikan dari Dispendukcapil Kota Surakarta agar penduduk Kota Surakarta seluruhnya ber KTP-El. Keterangan serupa juga diperoleh dari Ibu Ida selaku staf pelayanan KTP-El,

“Dalam sehari kalau hari normal itu kurang lebih ada 15 an orang yang rekam mbak, rata-rata baru rekam karena lebih suka belakangan karena biar tidak ramai jadi tidak perlu mengantri”.

(Wawancara 19 April 2014) 5) Kualitas, Kuantitas serta Kompetensi Petugas

Saat observasi lapangan terdapat beberapa Staf khusus pemberi

pelayanan rekam KTP-El pada Dispendukcapil dan hanya terdiri dari

(43)

commit to user

2 (dua) orang, mereka berstatus outsourcing atau tenaga kontrak yang sudah bekerja di Dispendukcapil selama 2 tahun. Namun terkadang salah seorang diantara mereka terutama yang laki-laki melakukan mobiling yaitu pelayanan jemput bola di kelurahan-kelurahan yang

sudah ditentukan, meski tidak jarang juga berada di Dispendukcapil untuk membantu staf pelayanan KTP-El. Para staf ini berpendidikan sarjana S1. Dengan pelatihan yang diberikan oleh Dispendukcapil selama beberapa hari mereka sudah langsung dapat melakukan proses perekaman secara mandiri dan profesional. . Seperti pernyataan Bu Ida selaku staf pelayanan KTP-El.

“Cara operasinya mudah kok mbak, saya sehari dilatih aja sudah bisa dan hafal’”, (Wawancara 7 April 2014)

Tabel IV.5

Data staf pemberi layanan KTP-El Dispendukcapil Surakarta

No Nama Staf Pendidikan Jurusan Fakultas

1 Ida S1 Akuntansi Ekonomi - UNS

2 Reza S1 Psikologi Psikologi - UMS

Dengan melihat latar belakang pendidikan serta kecakapan mereka dilapangan, kemampuan mereka cukup mumpuni ntuk memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas.

Selain petugas, fasilitas penunjang pelayanan juga turut

berperan dalam efektifnya sebuah pelayanan, dalm studi KTP-El ini

melalui observasi dapa dijelaskan bahwa pelayanan perekaman terjadi

pada lantai 2 gedung dispendukcapil, berlangsung pada ruangan

(44)

commit to user

rekam KTP-El. Ditandai dengan pintu dengan tempelan ‘Rekam KTP- El” maka memudahkan pengguna untuk mengetahui keberadaan ruang rekam tersebut. Diluar ruangan nampak kursi tunggu yang cukup untuk menampung antrian, meski hanya sesekali terjadi antrian dan saat masuk ruangan terdapat alat rekam yang lengkap terdiri dari komputer untuk pengoprasian, kamera, signature pad, finger print dan Iris record, masing-masing berjumlah 1 unit dan dirasakan cukup

untuk melakukan perekaman setiap harinya karena alat-alat tersebut selalu dalam keadaan yang baik dan siap pakai. Hal ini dibenarkan oleh Bapak Ing Ramto selaku Kabid Pendaftaran Penduduk, dengan memberikan komentar,

”Jumlah mesinnya sudah cukup saya rasa mbak, dimasing- masing kecamatan ada 2 alat rekam dan di sini juga ada 1 alat rekam, kalaupun sampai terjadi antrian itu kebetulan pas hari ramai saja kalau hari-hari biasanya sih nggak sampai antri. Tapi untuk SDM kita rasa masih kurang untuk rekam lapangan”.

(Wawancara 7 April 2014)

Dari segi ruangan cukup nyaman dengan 4 tempat duduk dan ruangan ber-AC. Dua orang staf pemberi layanan memberi pelayanan secara bergantian dan saling melalukan koreksi satu sama lain.

Penduduk yang datang langsung dipersilakan duduk dan ditanyai

mengenai kelengkapan syarat dan sudah pernah melakukan perekaman

atau belum.

(45)

commit to user c. Aspek akurasi pelayanan

Keakuratan sebuah pelayanan disini diartikan bahwa produk pelayanan yang diterima benar dan sah serta memiliki kekuatan hukum dan tidak diragukan keabsahannya. Pada penelitian ini pelayananyang diberikan yaitu pelayanan perekaman data KTP-El dan hanya sebatas perekaman, yang nantinya akan menghasilkan sebuah kartu identitas KTP-El yang memiliki dasar hukum dan sah diterbitkan oleh Negara.

Ibu Ida seorang Staf perekaman mengatakan,

“ Kami tugasnya disini hanya melakukan rekam dan aktifasi yang belum rekam mbak, setelah itu di rekap yang sudah rekam seharian, jadi memang pelayanan ini khusus untuk perekaman data KTP-El dan berakhir disini pula prosedurnya, selanjutnya berkas kami kirim online ke Jakarta untuk di cetak berikutnya penduduk tinggal menunggu KTP-El nya jadi.” (wawancara 7 April 2014)

Pernyataan Ibu Ida diatas menjelaskan bahwa kontribusi atau peranan Dispendukcapil pada pembuatan KTP-El berkisar pada sosialisasi ke daerah masing-masing, merekam dan mengirim serta membagikan KTP-El yang sudah jadi. Proses pencetakan sepenuhnya dilakukan oleh pihak pemerintah pusat. Adapun pendapat Bernard pemohon Kecamatan Jebres yang menyatakan bahwa dia tidak tahu menahu sama sekali apa yang akan dilakukan petugas perekaman di ruangan rekam, karena ia berinisiatif sendiri untuk rekam KTP-El hingga akhirnya dipandu satu persatu hingga proses rekamnya selesai.

.

(46)

commit to user d. Aspek Kualitas Pelayanan

Pelayanan harus berkualitas. Produk pelayanan tidak seadanya, sesuai dengan keinginan pelanggan, memuaskan, berpihak dan untuk kepentingan pelanggan. (Surjadi, 2009 : 46). Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa kualitas pelayanan sangat penting disamping kualitas petugasnya. Saat wawancara dengan Bu Ida selaku Staf pemberi pelayanan rekam KTP-El mengatakan,

“ Kami berusaha memberikan pelayanan yang sama rata mbak, tidak ada yang istimewa dan kami pun menjawab segala pertanyaan dan keluhan dari penduduk, semua ditampung dan diberi solusi, memang harus sabar mbak soalnya menjawab pertanyaan yang seringkali sama.” (Wawancara 7 April 2014) Hal serupa disampaikan oleh salah seorang narasumber, Ibu Satrini pemohonKecamatan Laweyan,

“Petugasnya ramah mbak, saya awalnya bingung kok KTP nya nggaklangsung jadi padahal sudah datang, tapi ternyata dijelaskan kalau yang mencetak dari pusat Jakarta jadi belum pasti sampainya, saya disuruh nunggu enam bulanan baru disuruh mengecek di kelurahan saya.” (Wawancara 7 April 2014)

Kejelasan diatas merupakan bentuk pelayanan yang berkualitas,

tidak ada kebingungan dari para penggunanya karena semua keluhan

dan pertanyaan dapat di selesaikan dengan baik.

(47)

commit to user Tabel IV.6 Matrik Efektivitas

No Aspek Analisis Efektivitas Pelayanan KTP-El Dispendukcapil Kota Surakarta

1 Kecepatan Jarangnya terlihat antrian panjang membuat penduduk tidak perlu menunggu lama dan dapat segera mendapatkan pelayanan yang dikehendaki, ini karena kesesuaian jumlah staf dengan penduduk yang dilayani.

2 Ketepatan Waktu, biaya, prosedur, kualitas dan sasaran sudah cukup jelas dan prekteknya mendapat respon positif dari narasumber.

3 Akurasi Produk pelayanannya sudah jelas yaitu perekaman KTP-El yang nantinya akan menghasilkan KTP-El yang sah dibuat oleh negara dengan perlindungan hukum.

4 Kualitas Secara umum kualitas pelayanan pembuatan KTP-El sudah baik, kejelasan waktu dan keramahan petugas menjadi unsur penting untuk memberikan sebuah pelayanan yang baik dan berkualitas.

D. Kendala dan Upaya Dispenduk dalam memberikan pelayanan KTP-El

Menurut wawancara kepada Kabid Pendaftaran pendududuk dan staf

pemberi pelayanan KTP-El, masih banyak hal yang menjadi hambatan

untuk berjalan lancarnya pengerjaan KTP-El ini.

(48)

commit to user 1. Kendala yang dihadapi selama ini yaitu :

a. Internal

1) Sesuai dengan penjelasan mengenai prosedur pelayanan dijelaskan oleh Kabid Pendaftaran Pendudukbahwa pencetakan KTP-El baru dapat dilakukan oleh Pemerintah pusat diJakarta sehingga memperlambat proses pembuatan KTP-El. Dana yang juga masih sentralisasi pada Pemerintah Pusat yang bertempat di Jakarta menyebabkan sulitnya melakukan diskresi dan upaya pemecahan masalah dengan lebih efisien.

2) Pada pembahasan efektivitas aspekAspek kecepatan pelayanan ada kesalahan cetak yang mengakibatkan komplain dari masyarakat sehingga harus mengurus lagi dan berujung pada ketidakpuasan.Kelambanan yang notabene berasal dari Pusat ini juga terkait ketidak telitian pihak pusat dalam mencetak KTP-El, 3) Pada penjelasan efektivitas mengenai aspek Kualitas, Kuantitas

serta Kompetensi Petugas muncul masalah kurangnya SDM dalam artian tenaga ahli untuk mendukung suksesnya KTP-El ini untuk di perbantukan saat kegiatan rekam diluar Dinas (mobiling).

b. Eksternal

1) Pada aspek kecepatan pelayanan dapat kita simpulkan

kurangnya kecepatan dan koordinasi pembagian tugas yang

kurang baik dari pemerintah pusat dianggap sebagai penyebab

Referensi

Dokumen terkait

Karena himpunan akar persamaan karakteristik dari  -sistem termuat pada himpunan akar persamaan karakteristik sistem (1), maka terdapat akar persamaan karakteristik

Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing: Maria Krisnawati, S.Pd, M.Sn. Kata Kunci: Efektivitas Media Video, Hasil Belajar. Salah satu indikator

7.1.1.2 Uraikan kebijakan dan upaya yang dilakukan oleh unit pengelola program studi magister dalam menjamin relevansi penelitian program studi magister, mencakup

Hasilnya berupa daftar (list) posko dengan alamatnya. Hal ini sangat kurang efisien, jika yang bertanya adalah para relawan yang berasal dari luar daerah tersebut, karena

Lingkungan kerja memiliki pengaruh yang besar terhadap produktivitas karena lingkungan merupakan suatu lingkungan dimana para karyawan bekerja, sedangkan kondisi kerja

Hasil uji kesukaan secara keseluruhan mie basah menunjukkan bahwa perlakuan substitusi tepung terigu : tepung terigu modifikasi HMT (50%:50%) merupakan batas maksimal

1) Sifat tamak manusia; Kemungkinan orang melakukan korupsi bukan karena orangnya miskin atau penghasilan tak cukup. Kemungkinan orang tersebut sudah cukup kaya,

Diketahui dari gambar tersebut bahwa sampai batasan 20 derajat tidak memperlihatkan perubahan nilai TEC yang kontinyu sehingga bisa dikatakan bahwa untuk sampai batasan