• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUJIAN VALUE AT RISK DENGAN METODE KUPEIC PADA SEKTOR INDUSTRI BARANG DAN KONSUMEN SEBELUM, SAAT, DAN SETELAH KRISIS KEUANGAN TAHUN 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUJIAN VALUE AT RISK DENGAN METODE KUPEIC PADA SEKTOR INDUSTRI BARANG DAN KONSUMEN SEBELUM, SAAT, DAN SETELAH KRISIS KEUANGAN TAHUN 2008"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUJIAN VALUE AT RISK DENGAN METODE KUPEIC PADA SEKTOR INDUSTRI BARANG DAN KONSUMEN SEBELUM, SAAT, DAN SETELAH KRISIS

KEUANGAN TAHUN 2008

Sarah Octaviani Aruan¹, Riko Hendrawan²

¹Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika), Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Telkom

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(2)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

1.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia ( Indonesia Stock Exchange)

GAMBAR 1.1

BURSA EFEK INDONESIA

Sumber: www.idx.co.id

Bursa Efek Indonesia (atau Indonesia Stock Exchange) memiliki informasi yang lebih lengkap tentang perkembangan bursa. BEI menyebarkan data pergerakan harga saham melalui media cetak dan elektronik. Informasi yang diberikan oleh BEI lebih akurat dan terpercaya.

1.1.2 Gambaran Umum Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah indikator harga dari seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. IHSG sering diperlakukan sebagai cermin perekonomian. Pertumbuhan IHSG yang signifikan seringkali diklaim sebagai pertanda perbaikan ekonomi oleh pemerintah maupun oleh sebagian ekonom. Hal itu dianggap

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(3)

2

mencerminkan tingginya kepercayaan dunia bisnis (terutama dunia internasional) terhadap perekonomian Indonesia.

Anggapan bahwa IHSG mencerminkan tingkat kepercayaan dunia bisnis internasional muncul berdasar pada data kepemilikan.

Kepemilikan saham di bursa Indonesia yang dimiliki oleh asing, mencapai hampir 70 %. Bahkan, saham yang dimiliki lokal (sekitar 30%) turut mengandung unsur kepemilikan asing.

1.1.3 Gambaran Umum Sektor Industri Barang dan Konsumsi

Terdapat sembilan sektor bisnis yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sektor-sektor tersebut adalah, sektor Pertanian, Pertambangan, Industri Dasar dan Kimia, Aneka Industri, Industri Barang dan Konsumsi, Properti dan Real Estate, Infrastrukur, Utilitas dan Transportasi, Keuangan, serta Perdagangan, Jasa dan Investasi.

Sektor Industri Barang dan Konsumsi memiliki lima sub sektor, yaitu Makanan dan Minuman yang terdiri dari 14 perusahaan, Rokok terdiri dari dua perusahaan, Farmasi terdiri dari sembilan perusahaan, Kosmetik dan Barang Keperluan Rumah Tangga terdiri dari empat perusahaan, serta Peralatan Rumah Tangga terdiri dari tiga perusahaan.

Dari 32 perusahaan, terdapat enam perusahaan yang masih belum listing di pasar modal Indonesia. ( www.idx.co.id)

Berikut adalah daftar perusahaan yang terdapat pada Sektor Industri Barang dan Konsumsi :

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(4)

3 TABEL 1.1

NAMA dan KODE SAHAM PERUSAHAAN

Kode Saham Nama Perusahaan

Sub Sector :Makanan dan Minuman

1. ADES Akasha Wira International Tbk.

2. AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.

3. CEKA Cahaya Kalbar Tbk.

4. DAVO Davomas Abadi Tbk.

5. DLTA Delta Djakarta Tbk

6. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

7. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk.

8. MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk.

9. MYOR Mayora Indah Tbk.

10. PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk

11. ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk

12. SKLT Sekar Laut Tbk

13. STTP Siantar Top Tbk.

14. ULTJ Ultra Jaya Milk Industry & Trad Sub sector : rokok

1. GGRM Gudang Garam Tbk.

2. RMBA Bentoel International Investama Sub sector : Farmasi

1. DVLA. Darya-Varia Laboratoria Tbk.

2. INAF Indofarma Tbk.

3. KAEF Kimia Farma Tbk.

4. KLBF Kalbe Farma Tbk.

5. MERK Merck Tbk.

6. PYFA Pyridam Farma Tbk.

7. SCPI Schering Plough Indonesia Tbk.

8. SQBB Taisho Pharmaceutical Indonesia

9. TSPC Tempo Scan Pacific Tbk.

Sub Sektor : Kosmetik & Barang Keperluan Rumah Tangga

1. MBTO Martina Berto Tbk.

2. MRAT Mustika Ratu Tbk.

3. TCID Mandom Indonesia Tbk.

4. UNVR Unilever Indonesia Tbk.

Sub Sektor : Peralatan Rumah Tangga

1. KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk.

2. KICI Kedaung Indah Can Tbk.

3. LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk.

Sumber: http://www.idx.co.id

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(5)

4 1.2 Latar Belakang Penelitian

Pada tahun 2008, terjadi krisis perekonomian yang sangat mempengaruhi perekonomian dunia. Krisis ini berawal dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat yang kemudian membawa dampak domino bagi perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Amerika Serikat pada tahun 1925 telah menetapkan undang-undang mengenai Mortgage (Perumahan). Peraturan tersebut berkaitan dengan sektor properti, termasuk kredit kepemilikan rumah yang memberikan kemudahan bagi para kreditur. Mengutip dari Buku Pegangan Bappenas (2009:3), permasalahan muncul ketika banyak lembaga keuangan pemberi kredit properti di Amerika Serikat menyalurkan kredit kepada masyarakat yang sebenarnya secara finansial tidak layak memperoleh kredit, yaitu kepada masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi untuk memenuhi kredit yang mereka lakukan. Mereka adalah orang dengan latar belakang non- income, non-job, non-activity (NINJA) yang tidak mempunyai kekuatan ekonomi untuk menyelesaikan tanggungan kredit yang mereka pinjam.

Krisis ini ditandai dengan bangkrutnya salah satu Bank Investasi terbesar Amerika Serikat yaitu Lehman Brothers pada tahun 2008.

Nasabah yang membeli properti dengan cara kredit, menjadikan properti tersebut sebagai hipotik atau jaminan hutang kepada kreditur (Lehman Brothers). Untuk lebih bertumbuh, Lehman Brothers menjaminkan kembali hipotik tersebut kepada investor lain guna memperoleh pinjaman. Hutang Lehman Brothers kepada investor lain disebut turunan (derivatif) dari hipotik tersebut. Kemudian, investor berikutnya juga menjaminkan turunan hipotik tersebut kepada pihak kreditur lainnya untuk memperoleh pinjaman, dan seterusnya.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(6)

5

Kehancuran dipacu oleh Bank Sentral Amerika (The Fed) yang menaikkan suku bunga berkali-kali hingga mencapai 5,25 %, dan akhirnya kredit sektor perumahan dari subprime mortgage ini macet sehingga Bank membutuhkan likuiditas yang cukup layak untuk menutupi kredit tersebut. Ketika nasabah yang telah membeli properti tidak sanggup membayar hutangnya kepada Lehman Brothers, maka Lehman Brothers pun tidak sanggup membayar hutang kepada investor lain, dan investor lain juga tidak sanggup membayar hutang kepada investor lain. Para investor di sektor ini menarik dana untuk mendapatkan likuiditas, dalam bentuk dollar Amerika, termasuk di Indonesia, baik dalam bentuk saham ataupun mata uang. Hal ini menyebabkan pasar modal dan pasar uang Indonesia ikut terseret. (www.wikimu.com, 14 Agustus 2007)

Seperti tercantum dalam Annual Report BEI (2008:4), tahun 2008 diawali dengan optimisme yang tinggi bagi BEI ditandai dengan tercapainya puncak rekor IHSG 2.830,263 pada tanggal 9 Januari 2008.

Persepsi positif ini terbentuk karena adanya pandangan para pelaku pasar bahwa perekonomian Indonesia akan membaik dan bahwa krisis ekonomi Amerika Serikat sejak Juli 2007 akan segera teratasi. Namun kenyataannya, krisis subprime mortgage tidak dapat teratasi bahkan memburuk. Turunnya Indeks Dow Jones hingga mencapai level terendah turut menyeret kinerja indeks saham di seluruh dunia, termasuk IHSG.

IHSG mengalami penurunan hingga setengahnya, yaitu 26,04%. Di bawah ini merupakan grafik yang menggambarkan performa IHSG tiap kuartal, dari tahun 2001 hingga 2010.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(7)

6

GAMBAR 1.2

PERFORMA IHSG TIAP KUARTAL SEJAK TAHUN 2001-2009

Sumber : www.vibiznews.com

Dapat kita lihat dari grafik di atas, performa paling baik yang dicapai IHSG terletak pada kuartal II tahun 2009, yaitu melesat naik hingga 41,33%.

Sedangkan performa terburuk terletak pada kuartal IV tahun 2008, yaitu turun hingga 26,04%. Pada kuartal I, IHSG sebanyak tiga kali ditutup negatif, yaitu pada tahun 2001, 2003, dan 2008.

Sektor industri barang konsumsi belakangan ini menjadi incaran investor serta menjadi rekomendasi sejumlah analis. Sektor tersebut terbukti mampu bertahan dari goncangan krisis dan memberikan prospek yang baik bagi investor, terutama untuk investasi jangka panjang. Sektor industri barang konsumsi termasuk dalam sektor defensif, yang mampu bertahan di tengah goncangan ekonomi, karena sifatnya yang merupakan kebutuhan sehari-hari.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(8)

7 GAMBAR 1.3

PERGERAKAN INDEKS SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI JANUARI 1997-DESEMBER 2009

Sumber: Buku Panduan Indeks Harga Saham Bursa Efek Indonesia (2010:8)

Dapat dilihat dari gambar grafik di atas, sektor industri barang konsumsi mengalami peningkatan di tahun 2007, kemudian mengalami penurunan di tahun 2008 yang diakibatkan krisis global. Perkembangan ekonomi pada tahun 2008 memberi dampak yang cukup negatif bagi semua sektor termasuk sektor industri barang dan konsumsi. Pengaruhnya bagi sektor industri barang dan konsumsi terutama pada barang yang bersifat tahan lama (durable goods) karena banyak penjualan tersebut berdasarkan pinjaman konsumsi baik melalui kartu kredit maupun fasilitas kredit konsumsi lainnya. Inflasi yang tinggi selain menyebabkan suku bunga pinjaman yang tinggi juga menyebabkan daya beli masyarakat saat itu menurun sehingga menurunkan tingkat konsumsi untuk durable goods.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(9)

8

Namun dengan mulai meredanya inflasi pada bulan Oktober 2008, dan rencana Pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak pada bulan Desember 2008, diperkirakan tekanan inflasi semakin menurun sehingga suku bunga diharapkan bisa menurun kembali. Seiring bertumbuhnya perekonomian nasional, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia juga kian meningkat. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah, sangat mengutamakan memenuhi kebutuhan primer terlebih dahulu dibanding kebutuhan lainnya. Hal ini tentu membawa dampak bagi perkembangan saham di Sektor Industri Barang dan Konsumsi terutama di bidang konsumsi. Terlihat dari grafik yang menunjukkan sektor industri barang dan konsumsi mengalami kenaikan yang signifikan di tahun 2009.

Sepanjang tahun 2010 yang lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah berhasil mencetak kenaikan sebesar 338,27 poin atau sekitar 13,13%.

Kenaikan tersebut didukung oleh menguatnya saham-saham sektor tertentu yang pastinya berbeda antara yang satu dengan yang lain. Sepanjang Semester I 2010, tercatat ada 3 indeks sektoral yang tumbuh paling tajam, yaitu sektor barang konsumsi (41,93%), sektor aneka industri (32,22%), dan yang terakhir sektor manufaktur (29,94%). (www.berita.liputan6.com, 15 Juli 2010)

Emiten di sektor industri barang konsumsi pada tahun 2009 mampu mencetak laba bersih sebesar Rp l6,49 triliun atau naik 45,03% dibandingkan dengan perolehan laba bersih dari sektor ini pada tahun 2008 dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 66,11%. Perkembangan positif yang dimiliki oleh Sektor Industri Barang dan Konsumsi tentunya juga memiliki risiko saham.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalkan risiko adalah dengan menerapkan metode pengukuran risiko. Penerapan manajemen risiko semakin krusial karena banyak kejadian yang menyebabkan

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(10)

9

permasalahan bagi perbankan, seperti kasus perbankan yang terjadi di Negara- negara Asia termasuk Indonesia. (sumber: Jurnal Akuntabilitas, Vol. 8 No.2)

Manajemen risiko oleh perusahaan bertujuan mengidentifikasi risiko perusahaan, mengukurnya dan mengatasinya pada level toleransi tertentu.

Pengukuran-pengukuran tradisional hanya memberikan hasil dalam bentuk jumlah kerugian yang dialami. Pengukuran tersebut tidak memberikan gambaran mengenai potensi atau probabilitas terjadinya kerugian tersebut.

Pengukuran-pengukuran tradisional tersebut digunakan pada aset-aset secara individual sehingga setiap aset memiliki metode pengukuran risiko secara tersendiri. Metode Value at Risk merupakan jawaban atas kelemahan di atas, karena metode VaR dapat diaplikasikan ke seluruh produk financial yang diperdagangkan. (sumber: Jurnal Siasat Bisnis, Vol. 11 No.1)

Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode Value at Risk (VaR).

Value at Risk dapat diartikan sebagai kerugian terburuk dari suatu portofolio aset pada suatu jangka waktu tertentu dengan suatu tingkat kepercayaan tertentu. VaR dapat menghitung besarnya kerugian terburuk yang dapat terjadi dengan mengetahui posisi aset, volatilitas dari aset, tingkat kepercayaan akan terjadinya risiko, dan time horizon atau jangka waktu penempatan aset.

Saat ini VaR telah digunakan sebagai tolok ukur secara internasional untuk mengukur alokasi permodalan terhadap aktivitas trading yang mengandung risiko. Hal ini berdasarkan kesepakatan bahwa besarnya potensi kerugian tersebut harus dialokasikan modal yang disediakan bank untuk mengamankan portofolio (aktivitas berisiko). Keuntungan pengukuran risiko dengan metode VaR adalah VaR yang dihasilkan menyimpulkan dalam satu angka tunggal dan mudah dimengerti terhadap total eksposur dari suatu entitas/perusahaan terhadap risiko pasar.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(11)

10

Model yang digunakan adalah model Simulasi Historis. Model ini mempunyai kelebihan tidak mengasumsikan distribusi tertentu dan metodenya sederhana. Dari model yang dibuat dengan menggunakan data historis, maka pengguna dari model tersebut wajib melakukan pengujian untuk melihat tingkat akurasinya. Oleh karena itu, pengguna model harus melakukan suatu pengujian yang dinamakan backtesting. Backtesting dilakukan dengan membandingkan profit/loss actual harian yang terjadi dengan nilai VaR harian. Apabila actual return harian lebih kecil dari dengan VaR harian maka dianggap sebagai suatu kesalahan (failure). Jumlah kesalahan tersebut kemudian dibandingkan dengan tabel Kriteria Kupiec. Model akan disebut efektif apabila memenuhi kriteria Kupiec.

Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana pengujian model VaR pada Sektor Industri Barang dan Konsumsi menggunakan suatu konsep Value at Risk. Untuk membahas lebih lanjut permasalahan ini penulis mengambil judul “PENGUJIAN VALUE AT RISK DENGAN METODE KUPIEC PADA SEKTOR INDUSTRI BARANG DAN KONSUMSI SEBELUM, SAAT, DAN SETELAH KRISIS KEUANGAN TAHUN 2008”.

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan sebelumnya, maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana tingkat efektifitas Model Value at Risk dengan Metode Kupiec pada sektor industri, barang dan konsumsi sebelum krisis tahun 2008 (Periode 2007) ?

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(12)

11

2. Bagaimana tingkat efektifitas Model Value at Risk dengan Metode Kupiec pada sektor industri, barang dan konsumsi saat krisis tahun 2008?

3. Bagaimana tingkat efektifitas Model Value at Risk dengan Metode Kupiec pada sektor industri, barang dan konsumsi setelah krisis tahun 2008 (Periode tahun 2009-2010)?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui tingkat efektifitas Model Value at Risk dengan Metode Kupiec pada sektor industri, barang dan konsumsi sebelum krisis tahun 2008 (Periode 2007).

2. Untuk mengetahui tingkat efektifitas Model Value at Risk dengan Metode Kupiec pada sektor industri, barang dan konsumsi saat krisis tahun 2008.

3. Untuk mengetahui tingkat efektifitas Model Value at Risk dengan Metode Kupiec pada sektor industri, barang dan konsumsi setelah krisis tahun 2008 (Periode tahun 2009-2010).

1.5 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini secara langsung maupun tidak langsung diharapkan dapat berguna :

1). Bagi penulis

Diharapkan dapat menambah wawasan yang terkait dengan bidang keuangan, khususnya mengenai aplikasi penerapan Value at Risk dan pengukuran risiko secara terintegrasi dalam manajemen risiko.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(13)

12 2). Bagi masyarakat dan investor

Diharapkan dapat dijadikan salah satu bahan masukan bagi investor dalam pengambilan keputusan dalam pengukuran risiko saham.

3). Bagi akademisi

Sebagai sumber informasi dan referensi yang berguna sebagai dasar pemikiran ataupun sebagai bahan studi perbandingan ilmu secara teori dan keadaan yang terjadi langsung di lapangan. Serta dapat dijadikan rujukan bagi penelitian selanjutnya.

1.6 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi uraian tentang Latar Belakang Penelitian yang mendasari pentingnya diadakannya penelitian, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian yang diharapkan, serta Sistematika Penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi Kajian Pustaka yang mendeskripsikan teori Manajemen Risiko, teori Value at Risk dan pentingnya pengujian pada saat kondisi pasar berada dalam kondisi diluar kewajaran, atau saat kritis. Pada Bab ini juga dituangkan Kerangka Pemikiran dan Hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi uraian tentang desain Penelitian yang digunakan, lokasi dan waktu penelitian, prosedur pengumpulan data serta teknik analisis.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi pembahasan dari penelitian yang berupa analisa pengolahan data yang telah dilakukan dikaitkan dengan teori yang mendasarinya

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(14)

13

seperti yang telah diuraikan dalam Bab II dan asumsi yang telah ditetapkan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi rangkuman seluruh penulisan skripsi ini serta kesimpulan yang didapatkan dari pembahsan dan kemungkinan saran perbaikan ataupun pendapat yang dikemukakan terkait dengan hasil pengolahan data yang dikaitkan dengan teori-teori yang mendasarinya.

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(15)

84 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pengujian hipotesis dapat ditarik kesimpulan hasil pengujian backtesting adalah sebagai berikut :

1. Untuk periode tahun 2007 model VAR dengan tingkat kepercayaan 99% ditolak untuk seluruh perusahaan, Sedangkan model VAR dengan tingkat kepercayaan 95% dapat diterima untuk STTP. Untuk 25 perusahaan lainnya, yaitu ADES, AISA, CEKA, DAVO, DLTA, INDF, MLBI, MYOR, PSDN, SKLT, ULTJ, GGRM, RMBA, DVLA, INAF, KAEF, KLBF, MERK, PYFA, SCPI, UNVR, MRAT, KDSI, KICI, dan LMPI, tingkat kepercayaan 99% dan 95% ditolak.

Jadi, Model Value at Risk di Sektor Industri Barang dan Konsumsi pada satu tahun sebelum krisis tahun 2008 adalah tidak sesuai atau melewati batas kriteria Kupiec.

2. Untuk periode tahun 2008 model VAR dengan tingkat kepercayaan 99% dan 95% ditolak untuk seluruh perusahaan, yaitu ADES, AISA, CEKA, DAVO, DLTA, INDF, MLBI, MYOR, PSDN, SKLT, ULTJ, GGRM, RMBA, DVLA, INAF, KAEF, KLBF, MERK, PYFA, SCPI, UNVR, MRAT, KDSI, KICI, dan LMPI. Jadi, Model Value at Risk di Sektor Industri Barang dan Konsumsi pada saat krisis tahun 2008 adalah tidak sesuai atau melewati batas kriteria Kupiec.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(16)

85 3. Untuk periode tahun 2009-2010

a) Untuk periode tahun 2009 model VAR dengan tingkat kepercayaan 99% ditolak untuk seluruh perusahaan. Sedangkan model VAR dengan tingkat kepercayaan 95% diterima untuk dua perusahaan, yaitu PSDN dan STTP. Jadi, untuk 24 perusahaan lainnya, yaitu ADES, AISA, CEKA, DAVO, DLTA, INDF, MLBI, MYOR, SKLT, ULTJ, GGRM, RMBA, DVLA, INAF, KAEF, KLBF, MERK, PYFA, SCPI, UNVR, MRAT, KDSI, KICI, dan LMPI, tingkat kepercayaan 99% dan 95% ditolak. Jadi, Model Value at Risk di Sektor Industri Barang dan Konsumsi pada satu tahun sesudah krisis tahun 2008 adalah tidak sesuai atau melewati batas kriteria Kupiec.

b) Untuk periode tahun 2010 model VAR dengan tingkat kepercayaan 99% ditolak untuk seluruh perusahaan. Sedangkan model VAR dengan tingkat kepercayaan 95% diterima untuk satu perusahaan, yaitu STTP. Untuk 25 perusahaan lainnya, yaitu ADES, AISA, CEKA, DAVO, DLTA, INDF, MLBI, MYOR, PSDN, SKLT, ULTJ, GGRM, RMBA, DVLA, INAF, KAEF, KLBF, MERK, PYFA, SCPI, UNVR, MRAT, KDSI, KICI, dan LMPI, tingkat kepercayaan 99% dan 95% ditolak. Jadi, Model Value at Risk di Sektor Industri Barang dan Konsumsi pada dua tahun sesudah krisis tahun 2008 adalah tidak sesuai atau melewati batas kriteria Kupiec.

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(17)

86 5.2 Saran

1. Saran untuk penelitian selanjutnya

Dari hasil penelitian dapat dilihat pada periode tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010, model VAR untuk ADES, AISA, CEKA, DAVO, DLTA, INDF, MLBI, MYOR, PSDN, SKLT, ULTJ, GGRM, RMBA, DVLA, INAF, KAEF, KLBF, MERK, PYFA, SCPI, UNVR, MRAT, KDSI, KICI, dan LMPI, baik untuk tingkat kepercayaan 99% maupun 95% adalah ditolak.

Kondisi volatilitas yang sangat berfluktuasi terjadi pada tahun-tahun tersebut, sedangkan varians pada umumnya diasumsikan konstan. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut dengan pendekatan lain yaitu volatilitas dari return saham dikoreksi dengan menggunakan metode GARCH (Generalized Autoregresivee Conditional Heteroscedasticity) atau Exponentional Weighted Moving Average (EWMA). Melalui pendekatan ini akan diukur kesalahan (error) dari suatu data time series. Kesalahan ini dilihat dari varians yang diasumsikan dari waktu ke waktu adalah konstan.

Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan strategi yang berbeda, dan juga dapat menggunakan pendekatan

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(18)

87

perhitungan volatilitas yang berbeda. Dan terakhir penelitian selanjutnya dapat menggunakan objek penelitian yang berbeda dari penelitian ini.

2. Saran untuk perusahaan/investor

Bagi perusahaan dapat dipakai sebagai pengukuran, pengukuran risiko secara terintegrasi, alat laporan informasi, alat untuk mengontrol risiko dan sebagai alat strategis.

Bagi investor, model VAR dengan metode KUPIEC, dinyatakan kurang efektif setelah diuji dengan backtesting. Hal ini bisa dijadikan sebagai bahan masukan atau pertimbangan bagi investor dalam memahami tingkat risiko apabila berinvestasi dalam saham seperti pengukuran potensi kerugian, dan alokasi penempatan modal.

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(19)

xv

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pendidikan Nasional. (2009). Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global. Jakarta:Bappenas

Best, Philips. (1998). Implementing Value at Risk. New Jersey : John Wiley &

Sons, Inc.

Bodie, Zvi, Kane, Alex, & Marcus, Alan J., (2010). Essentials of Investment (8th edition) Singapore : McGraw-Hill

Choudhry, Moorad. (2006). An Introduction To Value-at-Risk. England : John Wisley & Sons Ltd.

Darmadji, T., Fakhruddin, H.M. (2006). Pasar Modal di Indonesia (Edisi Kedua). Jakarta: Salemba Empat

Departemen Komunikasi dan Informatika. (2008). Memahami Krisis Keuangan Global: Bagaimana Harus Bersikap. Jakarta : Departemen Komunikasi dan Informatika

Furchan, A. (2004). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Halim, Abdul. (2003). Analisis Investasi (Edisi Pertama). Jakarta: Salemba Empat.

Horasanh, M. & Fidan, N. (2006). Portfolio Selection by Using Time Varying Covariance Matrices. Journal of Economic and Social Research,9:1-22

Indonesia Stock Exchange. (2010). Buku Panduan Indeks Harga Saham Bursa Efek Indonesia. Jakarta: Bursa Efek Indonesia

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(20)

xvi

Ismanthono, Henricus W. (2010). Kamus Istilah Ekonomi dan Bisnis. Jakarta:

Kompas.

Jogianto. (2000). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. (Edisi kedua) Yogyakarta: BPFE.

Jordan, Fisher. (1995). Security Analysis and Portofolio Management (Edisi Keenam) New Jersey : Prentice Hall

Jorion, Philippe. (2001). Value at Risk : The New Benchmark for Managing Financial Risk (2nd ed.) New Jersey : McGraw-Hill Trade

Kountur, Ronny. (2008). Mudah Memahami Manajemen Risiko Perusahaan.

Jakarta : PPM.

Kuncoro, Mudrajad. (2003). Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta:

Erlangga.

Nachrowi, D., & Usman, Hardius. (2006). Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan. Jakarta: Lembaga Penerbit Universitas Indonesia.

Netrawati, Fajar. (2010). Aplikasi Perhitungan Value at Risk (VaR) Sebagai Alat Ukur Penilaian Risiko Pasar Untuk Investor ( Studi Kasus : Bursa Efek Indonesia). Skripsi pada Institut Manajemen Telkom Bandung:

tidak diterbitkan.

Samsul, Muhammad. (2006). Pasar Modal dan Manajemen Portofolio.

Surabaya:Erlangga

Sartono, R. Agus, & Setiawan, Arie Andika. (2006). Jurnal Siasat Bisnis. VAR Portofolio Optimal:Perbandingan Antara Metode Markowitz dan Mean Absolute Deviation. 11(1), 35-50.

Soegijono, Bambang Yudatmono. (2006). Analisa Perbandingan Perhitungan nilai Value at Risk Sepanjang Tahun 2005 dengan menggunakan Historical Methode, Monte Carlo Methode dan Variance-Covariance

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

(21)

xvii

Simulation Methode Terhadap Saham PT. Indosat. Tesis Magister Manajemen pada Universitas Indonesia Depok: tidak diterbitkan.

Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV. Alpha Beta Sunaryo, T. (2007). Manajemen Risiko Finansial. Jakarta : Salemba Empat Zauzach, Venny I. (2010). Aplikasi Value at Risk Terhadap Saham-Saham

Industri Telekomunikasi di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2009.

Skripsi pada Institut Manajemen Telkom Bandung: tidak diterbitkan.

Onad. (2007). Apa itu Subprime-Mortgage?. [Online].

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3394 [19 Oktober 2010]

Tim Liputan6 SCTV. (2010). Indeks Sektor Barang Konsumsi Masih yang Terbaik. [Online]. http://berita.liputan6.com/read/286372/indeks-sektor- barang-konsumsi-masih-yang-terbaik [19 Oktober2010]

www.yahoofinance.com www.vibiznews.com www.idx.co.id

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi S1 Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya program Kampung Sehat Sanitasi (SEHATI) dari Dompet Dhuafa Banten di RT01/RW08 Kampung Ciawaru, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang menjadi salah

Setelah dilakukan rancang bangun sistem pendukung keputusan pemilihan siswa berprestasi di SMP Taruna Jaya I Surabaya menggunakan metode VIKOR dan TOPSIS maka

• Peserta menyesuaikan dengan pedoman penulisan terkait bagian hasil & pembahasan dan simpulan dari manuskrip masing-masing?. • Peserta memeriksa kembali

Tabel di atas menunjukkan perbandingan antara 3 teknik utama untuk meningkatkan kecepatan data melalui agregasi; CA, LTE-U/LAA dan LTE-H/LWA. Sementara CA telah menjadi bagian dari

telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Manajemen (S.M.) pada Program

Pada tahun 2000 sampai 2001 mengalami peningkatan kasus yaitu dari 1741 kasus menjadi 2143 kasus.Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit

Gambar 4.20 Rancangan User Interface Entry Jadwal Perjalanan Kereta IV-31 Gambar 4.21 Rancangan User Interface Entry Kereta IV-32 Gambar 4.22 Rancangan User Interface Entry

Dengan adanya Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu / TPST yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan mendasar dalam menjaga lingkungan dari pencemaran akibat tidak tertanganinya