• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Siswa

Gambar 1 memperlihatkan Karakteristik siswa SMA Negeri Ulu Siau berdasarkan jurusan. Berdasarkan Gambar 1 umumya siswa lebih memilih jurusan IPA daripada jurusan IPS dan Bahasa. Jurusan IPA memiliki persentase terbesar yaitu 41.7% (105 siswa), Jurusan IPS memilki persentase 37.3% (94 siswa), dan jurusan Bahasa memiliki persentase 21.0% (53 siswa). Gambar 2 mendeskripsikan bahwa jurusan IPA dan Bahasa didominasi oleh perempuan yaitu jurusan IPA sebesar 67.6% (71 siswa) dan jurusan Bahasa sebesar 60.4%

(32 siswa). Sebaliknya jurusan IPS didominasi oleh laki-laki yaitu sebesar 75.5%

(71 siswa).

0,0%

10,0%

20,0%

30,0%

40,0%

50,0%

IPA IPS BAHASA

41,7%

37,3%

21,0%

Gambar 1 Distribusi siswa berdasarkan jurusan

0,0%

10,0%

20,0%

30,0%

40,0%

50,0%

60,0%

70,0%

80,0%

IPA IPS BAHASA

67,6%

24,5%

60,4%

32,4%

75,5%

39,6%

Gambar 2 Distribusi siswa berdasarkan jenis kelamin

Perempuan Laki-laki

(2)

Tabel 2 menunjukkan persentase siswa berdasarkan jurusan yang diambil menurut pendidikan orang tua. Berdasarkan Tabel 2 mayoritas pendidikan orang tua siswa adalah Pendidikan Menengah, baik pendidikan ayah maupun pendidikan ibu, kemudian diikuti oleh Pendidikan Dasar dan Pendidikan Tinggi. Perbedaan latar belakang pendidikan orang tua siswa melahirkan persepsi yang berbeda tentang penjurusan. Hal ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya tingkat pendidikan orang tua mempengaruhi pemilihan jurusan siswa di sekolah.

Tabel 2 Distribusi siswa berdasarkan pendidikan orang tua Program

Studi

Pendidikan Ayah Pendidikan Ibu

Dasar Menengah Tinggi Dasar Menengah Tinggi

IPA 29 50 26 35 48 22

27.6% 47.6% 24.8% 33.3% 45.7% 21.0%

IPS 45 42 7 31 53 10

47.9% 44.7% 7.4% 33.0% 56.4% 10.6%

Bahasa 22 25 6 23 21 9

41.5% 47.2% 11.3% 43.4% 39.6% 17.0%

Gambaran mengenai persentase untuk masing-masing jenis pekerjaan orang tua siswa dapat dilihat pada Gambar 3. Mayoritas pekerjaan orang tua siswa untuk jurusan IPA adalah PNS yaitu sebesar 57.8%, sedangkan jurusan IPS dan Bahasa mayoritas adalah Non PNS yaitu masing-masing sebesar 39.3% dan 21.4%.

0,0%

10,0%

20,0%

30,0%

40,0%

50,0%

60,0%

IPA IPS Bahasa

57,8%

23,4%

18,8%

39,3% 39,3%

21,4%

Gambar 3 Distribusi siswa berdasarkan pekerjaan orang tua

PNS Non PNS

(3)

Deskripsi Nilai Rapor Menurut Program Studi

Berdasarkan laporan hasil prestasi belajar siswa SMA Negeri Siau Timur, diperoleh nilai rata-rata kelas dan simpangan baku untuk setiap mata pelajaran (Tabel 3). Mata pelajaran yang menjadi ciri khas program studi IPA adalah Matematika, Fisika, Kimia, Biologi. Pelajaran ciri khas program studi IPS adalah Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, Geografi dan pelajaran ciri khas program studi Bahasa adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman.

Tabel 3 Nilai rata-rata rapor dan simpangan baku berdasarkan program studi Mata Pelajaran

IPA IPS Bahasa

Rata- rata

Simpangan Baku

Rata- rata

Simpangan Baku

Rata- rata

Simpangan Baku

Agama 82.810 5.046 76.043 5.069 77.793 5.987

PPKn 81.545 5.069 75.863 4.580 76.783 4.855

Bhs Indonesia 79.017 4.731 74.130 4.171 76.519 4.067 Bhs Inggris 75.024 6.123 68.771 5.930 72.717 4.289 Bhs Jerman 73.888 8.010 67.995 6.626 74.179 4.533 Matematika 75.694 5.925 62.213 3.910 63.698 4.710

Fisika 75.624 5.320 64.686 4.196 66.623 4.332

Biologi 79.976 5.706 72.160 4.111 73.321 4.469

Kimia 76.507 5.179 67.580 4.127 69.028 4.563

Sejarah 73.091 3.949 71.535 2.977 71.302 2.831

Geografi 72.929 4.043 69.676 2.964 70.472 3.646

Ekonomi 74.219 5.719 71.511 4.663 70.491 4.365

Sosiologi 79.419 5.493 75.894 4.482 76.349 5.452

TIK 78.367 6.052 74.075 4.970 74.868 5.628

Rata-rata nilai rapor siswa jurusan IPA lebih tinggi dibandingkan jurusan IPS dan Bahasa pada hampir seluruh mata pelajaran kecuali Bahasa Jerman, yang selisihnya pun tidak jauh berbeda dengan siswa jurusan Bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa siswa jurusan IPA tidak hanya menguasai mata pelajaran ciri khas IPA saja, namun mereka juga menguasai mata pelajaran lainnya. Meskipun demikian, simpangan baku untuk rata-rata rapor siswa jurusan IPA relatif lebih besar daripada jurusan lain, artinya nilai mata pelajaran untuk jurusan IPA cenderung lebih beragam dibandingkan jurusan IPS dan Bahasa.

(4)

Analisis Diskriminan

Analisis Diskriminan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana peubah- peubah tersebut dapat menentukan kelompok jurusan siswa dan peubah mana yang menjadi penciri utama sebagai pembeda kelompok jurusan siswa di SMA.

Peubah penciri yang akan diamati adalah Rataan nilai mata pelajaran Kelas X ( meliputi : Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Bahasa Jerman), Jenis kelamin, Pendidikan ayah, Pendidikan ibu, Pekerjaan ayah, Pekerjaan ibu, dan Pendapatan orang tua.

Pemeriksaan Asumsi Dasar Diskriminan a. Asumsi kenormalan ganda

Hasil plot quantil khi-kuadrat terlihat polanya mengikuti trend linier baik untuk kelompok IPA, IPS maupun Bahasa (Lampiran 3). Kelinieran tersebut terlihat dari hubungan regresi linier antara jarak dan khi-kuadrat yang nyata pada taraf 𝛼 = 0.05, seperti yang terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Nilai-p regresi linier tiap kategori Jurusan Siswa Nilai-p

IPA IPS Bahasa

.0001 .0001 .0001

Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis kenormalan ganda pada analisis diskriminan terpenuhi.

b. Asumsi kehomogenan ragam

Dillon dan Goldstein (1984) menyatakan bahwa salah satu asumsi untuk menghasilkan fungsi diskriminan yang optimal adalah matriks peragam dari peubah penjelas harus homogen. Sehingga dalam pemodelan diskriminan tidak semua peubah penjelas disertakan karena akan mengakibatkan asumsi kehomogenan ragam tidak terpenuhi. Peubah penjelas yang disertakan itu dapat dilihat pada Lampiran 6. Hasil pengujian Box’s M menunjukkan, bahwa matriks peragam untuk ketiga kategori sudah bersifat homogen dengan nilai signifikansi

(5)

sebesar 0.073 > 𝛼 = 0.05, maka asumsi kehomogenan matriks peragam peubah penjelas terpenuhi. Selanjutnya akan dilakukan analisis diskriminan.

Pembentukan Fungsi diskriminan

Fungsi diskriminan dibentuk dengan menggunakan metode stepwise discriminant. Tabel 5 menunjukkan bahwa terdapat 5 peubah penjelas yang cukup mewakili dalam melihat perbedaan antara kelompok IPA, IPS dan Bahasa.

Kelima peubah itu adalah Bahasa Inggris, Fisika Kimia, Ekonomi dan TIK.

Tabel 5 Koefisien fungsi diskriminan

Peubah Fungsi

1 2

Bahasa Inggris -.028 .214

Fisika .219 -.023

Kimia .084 -.051

Ekonomi -.038 -.189

TIK -.060 .030

(Constant) -11.933 1.141

Peubah bertanda positif, artinya setiap kenaikan satu satuan nilai peubah maka akan memberikan skor yang makin tinggi bagi fungsi diskriminan.

Sedangkan peubah bertanda negatif, artinya setiap kenaikan satu satuan nilai peubah maka akan memberikan skor yang makin rendah bagi fungsi diskriminan.

Peranan relatif suatu fungsi diskriminan dalam memisahkan anggota-anggota kelompok diukur dari persentase relatif akar ciri yang berhubungan dengan fungsi diskriminan itu. Dengan memperhatikan akar ciri pada Lampiran 4, terlihat fungsi pertama adalah 92.5 dan fungsi kedua adalah 7.5, artinya persentase relatif yang dapat dijelaskan oleh fungsi diskriminan pertama adalah 92.5%, sedangkan sisanya sebesar 7.5 dijelaskan oleh fungsi diskriminan kedua.

Untuk mengetahui apakah fungsi diskriminan yang terbentuk dapat menjelaskan perbedaan peubah diantara 3 kelompok atau cukup melibatkan satu atau dua fungsi diskriminan. Adapun uji yang digunakan adalah statistik V- Bartlett melalui pendekatan uji khi-kuadrat. Lampiran 5 menunjukkan hasil yang signifikan, berarti diskriminan sisa setelah di terangkan oleh diskriminan satu

(6)

masih bersifat nyata secara statistik, dengan demikian diskriminan kedua masih diperlukan untuk menerangkan perbedaan peubah.

Dari fungsi diskriminan yang terbentuk melalui analisis diskriminan bertahap, lalu dilakukan pengklasifikasian. Pengklasifikasian suatu objek pengamatan baru pada fungsi diskriminan linier, dilakukan dengan mengacu pada konsep jarak bahwa pengklasifikasian suatu objek x dipilih dari jarak objek pengamatan x terhadap vektor rataanya yang terdekat/terkecil pada masing-masing jurusan.

Rata-rata kelompok (group centroids) dari jurusan siswa mempunyai nilai yang besarnya berbeda, yaitu dapat dilihat pada Tabel 6. Secara umum keseluruhan proses pengklasifikasian dengan menggunakan fungsi diskriminan dapat dilihat pada Lampiran 9.

Tabel 6 Nilai Rata-rata Kelompok Jurusan Siswa Fungsi

1 2

IPA 1.433 -.053

IPS -1.177 -.302

Bahasa -.751 .641

Ketepatan Klasifikasi Fungsi Diskriminan

Pengklasifikasian kelompok asal siswa menunjukkan bahwa 76.2% siswa yang diteliti dapat diklasifikasikan dengan benar ke dalam jurusannya sedang sisanya mengalami salah klasifikasi. Tabel 7 menunjukkan bahwa siswa IPA terklasifikasi dengan benar ke dalam jurusannya sebesar 83.8%, siswa IPS 73.4%

dan siswa Bahasa 66.0%. Hal ini menunjukkan bahwa, 16.2% siswa IPA, 26.6%

siswa IPS, dan 34% siswa Bahasa terklasifikasikan ke jurusan lain.

Tabel 7 Hasil klasifikasi analisis diskriminan Observasi Prediksi (%)

IPA IPS Bahasa Benar

IPA 88 7 10 83.8%

IPS 4 69 21 73.4%

Bahasa 4 14 35 66.0%

% Keseluruhan 76.2%

(7)

Statistik Q dari hasil klasifikasi kebenaran yang sebesar 76.2% adalah 208.3 dan nilai kritis 𝜒0.05(1)2 adalah 3.84. Terlihat statistik Q lebih besar dari nilai kritis sehingga klasifikasi kebenaran yang didapat sebesar 76.2%, secara statistik sudah baik.

Analisis Regresi Logistik Multinomial

Hasil pendugaan model penuh dengan melibatkan 20 peubah penjelas menghasilkan nilai G sebesar 399.939 dan nilai p= 0.000 < 0.05, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada satu atau lebih peubah penjelas yang berpengaruh terhadap pengelompokkan jurusan siswa di SMA. Hasil dari pendugaan model penuh ini dapat dilihat pada Lampiran 2. Selanjutnya, dilakukan pemilihan peubah yang signifikan dengan menggunakan eliminasi langkah mundur. Hasil setelah seleksi dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Analisis multinomial logistik hasil eliminasi langkah mundur

Program Studi Wald df Sig. Exp(B) 95% C I for Exp(B) Lower Upper

IPA

Intercept 7.877 1 .005

Bhs_Jerman 24.947 1 .000 .617 .511 .746

Kimia 15.584 1 .000 1.752 1.326 2.314

Bhs_Inggris 16.356 1 .000 .659 .539 .807

[Jenis_Kelamin=1] .127 1 .721 .720 .119 4.376

Agama 5.707 1 .017 1.236 1.039 1.472

Matematika 33.057 1 .000 2.030 1.595 2.584

Sejarah .237 1 .626 .932 .703 1.236

Ekonomi .119 1 .730 .970 .814 1.155

IPS

Intercept .483 1 .487

Bhs_Jerman 18.557 1 .000 .735 .639 .846

Kimia .027 1 .869 1.011 .886 1.154

Bhs_Inggris 5.923 1 .015 .863 .767 .972

[Jenis_Kelamin=1] 8.004 1 .005 4.867 1.626 14.565

Agama 1.701 1 .192 1.072 .966 1.190

Matematika .396 1 .529 1.048 .906 1.212

Sejarah 5.625 1 .018 1.249 1.039 1.500

Ekonomi 5.824 1 .016 1.180 1.032 1.350

Berdasarkan Tabel 8, diperoleh nilai G sebesar 352.295 dengan nilai p = 0.000 < 0.05. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa model ini

berpengaruh nyata pada taraf 5%, sehingga dapat dibentuk model logistik multinomial sebagai berikut:

(8)

𝑔 1 𝑥 = −32.094 + 0.212𝑋1 − 0.417𝑋4 + 0.708𝑋5 + 0.561𝑋8 − 0.070𝑋9 0.031𝑋11 − 0.483𝑋14 − 0.328𝑋15

𝑔 2 𝑥 = −4.707 + 0.070𝑋1 − 0.147𝑋4 + 0.047𝑋5 + 0.011𝑋8 − 0.222𝑋9 0.166𝑋11 − 0.307𝑋14 − 0.047𝑋15

Interpretasi model regresi logistik multinomial akan lebih mudah dilihat dari nilai rasio oddsnya. Jika suatu peubah memiliki nilai koefisien yang bertanda positif maka nilai rasio odds diatas satu, sedangkan nilai koefisien yang bertanda negatif maka nilai rasio odds dibawah satu.

Pada model pertama terdapat lima peubah penjelas yang signifikan.

Interpretasinya adalah setiap bertambahnya satu nilai pada pelajaran Bahasa Jerman maka akan menurunkan peluang siswa masuk ke jurusan IPA menjadi 0.617 kali dibandingkan ke jurusan Bahasa. Setiap bertambahnya satu nilai pada pelajaran Kimia maka akan meningkatkan peluang siswa masuk ke jurusan IPA sebesar 1.752 kali dibandingkan ke jurusan Bahasa. Setiap bertambahnya satu nilai Bahasa Inggris maka akan menurunkan peluang siswa masuk ke jurusan IPA sebesar 0.659 kali dibandingkan ke jurusan Bahasa. Untuk nilai odds Agama sebesar 1.236, artinya siswa lebih cenderung memilih jurusan IPA sebesar 1.236 dibanding Bahasa Setiap bertambahnya satu nilai pada pelajaran Matematika maka akan meningkatkan peluang siswa masuk ke jurusan IPA sebesar 2.030 kali dibanding ke jurusan Bahasa.

Pada model mutinomial logistik kelompok dua terdapat lima peubah penjelas yang signifikan. Interpretasinya adalah setiap bertambahnya satu nilai pada pelajaran Bahasa Jerman maka akan menurunkan peluang siswa masuk ke jurusan IPS sebesar 0.735 kali dibanding ke jurusan Bahasa. Setiap bertambahnya satu nilai pada pelajaran Bahasa Inggris maka akan menurunkan peluang siswa masuk ke jurusan IPS sebesar 0.863 kali dibanding ke jurusan Bahasa. Peubah jenis kelamin dengan dugaan rasio odds sebesar 4.867 yang berarti bahwa siswa laki- laki di duga 4.867 kali akan lebih memilih jurusan IPS sebagai pilihan pertama dibandingkan memilih Bahasa. Setiap bertambahnya satu nilai pada pelajaran Sejarah maka akan meningkatkan peluang siswa masuk ke jurusan IPS sebesar 1.249 kali dibanding ke jurusan Bahasa. Setiap bertambahnya satu nilai pada pelajaran Ekonomi maka akan meningkatkan peluang siswa untuk masuk ke dalam jurusan IPS sebesar 1.180 kali dibanding ke jurusan Bahasa.

(9)

Evaluasi Kebaikan Model

Menurut Hosmer dan Lemeshow (1989) salah satu ukuran kebaikan model adalah jika memiliki peluang kesalahan klasifikasi yang minimal. Ketepatan dan kesalahan klasifikasi dapat dilihat dalam tabel klasifikasi.

Tabel 9 Hasil prediksi multinomial logistik Observasi Prediksi (%)

IPA IPS Bahasa Benar

IPA 100 4 1 95.2%

IPS 6 75 13 79.8%

Bahasa 3 14 36 67.9%

% Keseluruhan 83.7%

Berdasarkan Tabel 9 diperoleh total ketepatan klasifikasi analisis regresi logistik multinomial sebesar 83.7 %. Artinya model logistik multinomial mampu mengklasifikasikan siswa ke dalam jurusannya dengan benar sebesar 83.7% dari total siswa keseluruhan. Untuk masing-masing jurusan, model logistik mampu mengklasifikasikan siswa IPA dengan benar sebesar 95.2%, siswa IPS 79.8%, dan siswa Bahasa 67.9%. Hal ini menunjukkan bahwa 4.8% siswa IPA, 20.2% siswa IPS, dan 32.1% siswa Bahasa terklasifikasikan ke jurusan lain.

Pembangunan Analisis Model Diskriminan dan Logistik Multinomial dari Hasil Resampling

Untuk mengevaluasi kekonsistenan peubah-peubah yang masuk dalam model, dilakukan fitting model dengan resampling 30 kali menggunakan analisis diskriminan dan regresi logistik multinomial terhadap data siswa SMA Negeri Siau Timur yang berjumlah 252 pengamatan. Peubah dikatakan konsisten apabila jumlah kemunculannya pada model memberikan pengaruh yang signifikan sebanyak 10 kali atau lebih. Jumlah signifikansi peubah dari hasil resampling untuk analisis diskriminan dan logistik multinomial dapat dilihat pada pada Lampiran 7 dan Lampiran 8.

(10)

Analisis Diskriminan

Penentuan peubah penjelas berdasarkan kekonsistenan yang diperoleh melalui resampling menghasilkan tiga peubah penjelas yang berpengaruh terhadap pengelompokkan jurusan siswa. Peubah-peubah tersebut adalah Bahasa Indonesia, Biologi dan Sosiologi (Tabel 10). Tingkat ketepatan klasifikasi yang dihasilkan dari model analisis diskriminan adalah 60.3% (Tabel 11).

Tabel 10 Fungsi Diskriminan

Peubah Fungsi

1 2

Bahasa Indonesia .055 .269

Biologi .187 -.117

Sosiologi -.023 -.081

(Constant) -16.616 -5.462

Tabel 11 Hasil Klasifikasi Analisis Diskriminan Observasi Prediksi (%)

IPA IPS Bahasa Benar

IPA 68 12 25 64.8 %

IPS 10 60 24 63.3%

Bahasa 11 18 24 45.3%

% Keseluruhan 60.3%

Analisis Regresi Logistik Multinomial

Peubah-peubah penjelas dengan signifikansi yang konsisten diperoleh sebanyak 15 peubah, di antaranya adalah Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, Kimia, Matematika, dan Sejarah (Lampiran 7). Pemodelan analisis regresi logistik multinomial dibangun menggunakan peubah-peubah tersebut, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 12. Untuk mengelompokkan siswa ke jurusan IPA, peubah yang berpengaruh adalah mata pelajaran Agama, Bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Bahasa Jerman, dan Pendidikan Ayah. Sedangkan untuk mengelompokkan siswa ke jurusan IPS, peubah-peubah yang mempengaruhinya adalah mata pelajaran Bahasa Inggris, Biologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Bahasa Jerman, dan Jenis Kelamin.

(11)

Hasil pemodelan regresi logistik multinomial menunjukkan bahwa dari empat mata pelajaran yang menjadi ciri khas jurusan IPA, ternyata hanya Matematika dan Kimia yang berpengaruh nyata. Hal ini disebabkan oleh korelasi yang cukup kuat antar mata pelajaran. Lampiran 10 menunjukkan bahwa mata pelajaran Fisika memiliki korelasi sebesar 0.823 terhadap Matematika, sementara mata pelajaran Biologi memiliki korelasi sebesar 0.769 terhadap Kimia. Artinya, kemampuan siswa untuk mata pelajaran Fisika dan Biologi sudah tercermin melalui mata pelajaran Matematika dan Kimia.

Tabel 12 Hasil dugaan parameter multinomial logistik

Program Studi B Wald db Sig. Exp(B) 95% C I for Exp(B)

Lower Upper

IPA

Intercept -51.542 8.355 1 .004

Agama .357 4.219 1 .040 1.429 1.016 2.008

PPKn .039 .050 1 .824 1.040 .738 1.466

Bahasa_Inggris -.597 14.280 1 .000 .550 .404 .750

Matematika .815 24.005 1 .000 2.260 1.631 3.132

Biologi .199 1.219 1 .270 1.221 .857 1.739

Kimia .724 12.516 1 .000 2.063 1.381 3.080

Sejarah -.162 .285 1 .593 .851 .470 1.539

Geografi -.058 .073 1 .787 .944 .621 1.435

Ekonomi -.045 .144 1 .705 .956 .756 1.208

Bahasa_Jerman -.572 24.045 1 .000 .564 .449 .709

[Pendidikan_Ayah=1] 3.555 3.577 1 .059 35.001 .879 1394.017 [Pendidikan_Ayah=2] 4.404 4.714 1 .030 81.751 1.535 4354.807

[Pendidikan_Ibu=1] -.186 .011 1 .918 .830 .024 28.574

[Pendidikan_Ibu=2] -1.965 1.185 1 .276 .140 .004 4.821

[Pendapatan=1] -2.057 2.116 1 .146 .128 .008 2.044

[Pendapatan=2] .663 .277 1 .599 1.941 .164 22.903

[Jenis_Kelamin=1] .141 .014 1 .906 1.151 .112 11.794

IPS

Intercept -3.928 .256 1 .613

Agama -.055 .481 1 .488 .946 .810 1.106

PPKn .171 2.735 1 .098 1.187 .969 1.454

Bahasa_Inggris -.177 6.072 1 .014 .838 .728 .964

Matematika .009 .012 1 .913 1.009 .853 1.194

Biologi .237 5.915 1 .015 1.268 1.047 1.535

Kimia -.090 1.056 1 .304 .914 .769 1.085

Sejarah .394 7.436 1 .006 1.483 1.117 1.970

Geografi -.287 4.431 1 .035 .750 .574 .980

Ekonomi .179 4.890 1 .027 1.197 1.021 1.403

Bahasa_Jerman -.361 17.484 1 .000 .697 .588 .825

[Pendidikan_Ayah=1] 1.057 1.056 1 .304 2.877 .383 21.603

[Pendidikan_Ayah=2] -.710 .480 1 .488 .491 .066 3.664

[Pendidikan_Ibu=1] .630 .497 1 .481 1.877 .326 10.813

[Pendidikan_Ibu=2] 1.354 2.239 1 .135 3.872 .657 22.809

[Pendapatan=1] -.862 1.118 1 .290 .422 .085 2.087

[Pendapatan=2] -.640 .673 1 .412 .528 .114 2.431

[Jenis_Kelamin=1] 1.962 8.170 1 .004 7.111 1.853 27.297

(12)

Model klasifikasi yang disusun menggunakan analisis regresi logistik multinomial memiliki tingkat ketepatan klasifikasi sebesar 88.1% (Tabel 13).

Ketepatan klasifikasi model ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan model sebelum dilakukan resampling. Hal ini berarti bahwa model logistik multinomial cukup baik dalam mengklasifikasikan siswa ke dalam jurusannya dengan tepat sebanyak 88.1% dari total siswa.

Tabel 13 Ketepatan Klasifikasi Model Logistik multinomial Observasi Prediksi (%)

IPA IPS Bahasa Benar

IPA 99 5 1 94.3%

IPS 4 83 7 88.3%

Bahasa 2 11 40 75.5%

% Keseluruhan 88.1%

Perbandingan Hasil Klasifikasi Analisis Diskriminan dan Logistik Multinomial

Perbandingan hasil klasifikasi analisis diskriminan dan regresi logistik multinomial dalam mengklasifikasi siswa ke dalam jurusan IPA, IPS, dan Bahasa dapat dilihat dari tingkat ketepatan klasifikasi. Semakin besar persentase ketepatan klasifikasi suatu model maka semakin baik dan akurat model tersebut dalam mengklasifikasi jurusan siswa.

Tabel 14 Ketepatan klasifikasi

Model Model Sebelum

Resampling (%)

Model Sesudah Resampling

(%)

Analisis Diskriminan 76.2 60.3

Regresi Logistik Multinomial 83.7 88.1

Berdasarkan Tabel 14, diperoleh informasi bahwa tingkat ketepatan klasifikasi yang dihasilkan model regresi logistik multinomial telah melebihi 80%, baik pada model sebelum maupun sesudah resampling. Sementara tingkat ketepatan klasifikasi model analisis diskriminan sebesar 76.2% pada model

(13)

sebelum resampling, dan 60.3% pada model sesudah resampling. Hal ini menunjukkan bahwa regresi logistik multinomial mampu memberikan tingkat ketepatan klasifikasi yang lebih tinggi dibandingkan model analisis diskriminan.

Dengan demikian, regresi logistik multinomial merupakan model terbaik yang dapat digunakan untuk menduga siswa memilih jurusan di SMA. Bentuk persamaan logistik multinomial adalah :

𝑔 1 𝑥 = −51.542 + 0.357𝑋1 + 0.039𝑋2− 0.597𝑋4 + 0.815𝑋5 + 0.199𝑋7+ 0.724𝑋8 − 0.162𝑋9 − 0.058𝑋10− 0.045𝑋11− 0.572𝑋14+ 0.141𝑋15+ 3.555𝑋16(1)+ 4.404𝑋16(2)− 0.186𝑋17(1)− 1.965𝑋17(2)− 2.057𝑋20(1)+ 0.663𝑋20(2)

𝑔 2 𝑥 = −3.928 − 0.055𝑋1 + 0.171𝑋2 − 0.177𝑋4 + 0.009𝑋5 + 0.237𝑋7 0.090𝑋8 + 0.394𝑋9 − 0.287𝑋10+ 0.179𝑋11− 0.361𝑋14+ 1.962𝑋15+ 1.057𝑋16(1)− 0.710𝑋16(2) + 0.630𝑋17(1)+ 1.354𝑋17(2)− 0.862𝑋20(1)+ 0.640𝑋20(2)

Penerapan Model Logistik multinomial

Nilai peluang pada Tabel 13 memberikan informasi mengenai penerapan model logistik multinomial dalam mengelompokkan jurusan siswa di SMA Negeri Tagulandang Kabupaten Siau Tagulandang Biaro. Peluang seorang siswa untuk masuk ke dalam kategori jurusan tertentu dapat dihitung berdasarkan ilustrasi data pada Tabel 15.

Tabel 15 Ilustrasi data siswa

Peubah bebas Nilai Peubah bebas Nilai

Rataan Nilai Agama 90.0 Rataan Nilai Geografi 75.0 Rataan Nilai PPKn 84.5 Rataan Nilai Ekonomi 71.5 Rataan Nilai Bhs Inggris 67.5 Rataan Nilai Bhs Jerman 83.5 Rataan Nilai Matematika 73.0 Jenis Kelamin Laki-laki

Rataan Nilai Biologi 80.0 Pendidikan Ayah SD

Rataan Nilai Kimia 70.0 Pendidikan Ibu SD

Rataan Nilai Sejarah 87.0 Pendapatan ≤ 1 juta

(14)

Sehingga dapat dihitung nilai untuk model logit pertama, yaitu:

g 1 x = −51.542 + 0.357 90 + 0.039 84.5 − 0.597 67.5 + 0.815 73 + 0.199 80 + 0.724 70 − 0.162 87 − 0.058 75 − 0.045 71.5 − 0.572 83.5 + 0.141 1 + 3.555 1 + 4.404 0 − 0.186 1 − 1.965 0 − 2.057 1 + 0.663 0

g 1 x = 1.7105

dan nilai untuk model logit kedua, yaitu:

g 2 x = −3.928 − 0.055 90 + 0.171 84.5 − 0.177 67.5 + 0.009 73 + 0.237 80 − 0.090 70 + 0.394 87 − 0.287 75 + 0.179 71.5 − 0.361 83.5 + 1.962 1 + 1.057 1 − 0.710 0 + 0.630 1 + 1.354 0 − 0.862 1 − 0.640(0)

g 2 x = 5.136

Hasil dari model logit dimasukkan ke fungsi peluang, sebagai berikut : P Y = 0 x = π0 x = 1

1+exp g1 x + exp g2 x = 0.005664 P Y = 1 x = π1 x = exp g1 x

1+exp g1 x + exp g2 x = 0.03133 P Y = 2 x = π2 x =1+exp gexp g2 x

1 x + exp g2 x = 0.963007

Nilai peluang terbesar adalah P Y = 2 x = π2 x = 0.963007, artinya siswa masuk ke kategori kedua. Hasil perhitungan lengkap untuk model logistik multinomial dari data siswa SMA Negeri Tagulandang disajikan pada Tabel 16.

Ketepatan klasifikasi yang diperoleh model tersebut adalah 70.6%, artinya sebanyak 70.6% siswa SMA Negeri Tagulandang dapat diklasifikasikan dengan benar ke dalam kejurusannya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan model sudah cukup baik dalam mengelompokan siswa ke dalam jurusannya.

Tabel 16 Hasil ketepatan validasi model Observasi Prediksi (%)

IPA IPS Bahasa Benar

IPA 55 16 12 66.3%

IPS 5 48 9 77.4%

Bahasa 0 8 17 68.0%

% Keseluruhan 70.6%

Gambar

Gambar  1  memperlihatkan  Karakteristik  siswa  SMA  Negeri  Ulu  Siau  berdasarkan jurusan
Tabel 3  Nilai rata-rata rapor dan simpangan baku berdasarkan program studi  Mata Pelajaran
Tabel 15  Ilustrasi data siswa
Tabel 16  Hasil ketepatan validasi model  Observasi                 Prediksi                                (%)

Referensi

Dokumen terkait

Parameter yang dipakai untuk menentukan sebuah obyek itu mempunyai ketepatan yakni obyek tersebut berada pada ranking atau urutan antara 1 sampai 3 dari citra

Kami telah mereviu Laporan Keuangan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam untuk periode yang berakhir per 31 Desember 2018 berupa Laporan

Sebagai kesimpulan, hasil ini menunjukkan bahwa subyek hipertensi merespons dengan cara yang berbeda, yaitu, dengan kerja jantung yang lebih tinggi dan suhu kulit

Kenaikan Ib terjadi pada semua subsektor penyusun NTP dengan rincian sbb: subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan Ib sebesar 0,46 persen, subsektor tanaman

1) Hasil penilaian aspek psikomotor didapat capaian nilai sebesar 75,56 dan persentase ketuntasan klasikal pada siklus 1 sebesar 70,37% karena siswa lebih menguasai

Pada kelompok data 1 diperoleh nilai odds ratio untuk tingkat kemiskinan sebesar 25.84, yang artinya daerah dengan tingkat kemiskinan rendah memiliki resiko untuk

Nilai OR didapatkan sebesar 0,654 yang artinya ibu dengan tingkat pengetahuan rendah memiliki odds sebesar 1,53 kali lebih besar untuk mendapatkan status gizi

Nilai rhitung sebesar 0.416 apabila dibandingkan dengan nilai rtabel sebesar 0,223 pada tingkat kepercayaan 1 %, artinya nilai rhitung lebih besar dari nilai r