• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEER EDUCATION TERHADAP PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA DI SMAN X DENPASAR.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PEER EDUCATION TERHADAP PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA DI SMAN X DENPASAR."

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH PEER EDUCATION TERHADAP

PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA

DI SMAN

X

DENPASAR

OLEH :

NI PUTU SRI WIRATINI

NIM. 1102105003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(2)

i

PENGARUH PEER EDUCATION TERHADAP

PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA

DI SMAN “X” DENPASAR

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH :

NI PUTU SRI WIRATINI

NIM. 1102105003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(3)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ni Putu Sri Wiratini

NIM : 1102105003

Fakultas : Kedokteran Universitas Udayana

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini

benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau

pikiran orang lain yang saya aku sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila

dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan,

maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Denpasar,...2015 Yang membuat pernyataan,

(4)

iii

(5)

iv

(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa

atas berkat dan karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan

skripsi berjudul Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku Merokok Pada

Remaja Di SMAN “X” Denpasar.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu

dalam menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih ini penulis berikan kepada:

1. Prof. Dr. dr. Putu Astawa, Sp.OT, M.Kes, sebagai Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Udayana yang telah memberikan penulis kesempatan menuntut

ilmu di PSIK Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar.

2. Prof. dr. Ketut Tirtayasa, MS, AIF, sebagai Ketua Program Studi Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memberikan

pengarahan dalam proses pendidikan.

3. Ns. Ni Luh Putu Eva Yanti M. Kep, Sp. Kep. Kom sebagai pembimbing

utama yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.

4. Anak Agung Ngurah Taruma Wijaya, S. KM sebagai pembimbing

pendamping yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.

5. Kepala Sekolah SMAN “X” Denpasar yang telah memberikan kesempatan

(7)

vi

6. Kedua Orang Tua, yang telah memberikan dukungan serta doa sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.

7. Rekan-rekan sejawat PSIK FK Udayana angkatan 2011 yang telah

memberikan dukungan serta doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

penelitian ini tepat waktu.

8. Seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan tugas akhir ini masih jauh dari

sempurna, oleh karena itu penulis membuka diri untuk menerima segala saran dan

masukan yang membangun. Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

yang membutuhkan.

Denpasar, Juni 2015

(8)

vii

ABSTRAK

Wiratini, Ni Putu Sri. 2015. Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku

Merokok Pada Remaja Di SMAN “X” Denpasar. Skripsi, Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Denpasar. Pembimbing (1) Ns. Ni Luh Putu Eva Yanti, M. Kep, Sp. Kep. Kom.; (2) Anak Agung Ngurah Taruma Wijaya, S. KM.

Perilaku merokok pada remaja saat ini semakin meningkat. Akibat dari perilaku merokok pada remaja akan menyebabkan ketergantungan pada remaja dan sebagai pencetus hal-hal negatif lainnya seperti penggunaan alkohol, narkoba, psikotropika, dan zat-zat adiktif lainnya. Salah satu upaya pencegahan yang digunakan ialah pemberian pendidikan kesehatan yaitu metode peer education. Pemberian pendidikan kesehatan dengan metode peer education ini meliputi pemberian materi tentang rokok; teknik komunikasi dan role play; dan sharing

pengalaman dengan teman-temannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peer education terhadap perilaku merokok pada remaja. Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan pre-experimental design, yaitu one group pre-post test design. Sampel terdiri dari 60 siswa yang dipilih dengan teknik

probability sampling jenis systematic random sampling. Hasil analisa data menggunakan uji wilcoxon dan didapatkan hasil ada pengaruh peer education

terhadap perilaku merokok pada remaja. Metode ini dapat diterapkan di sekolah sehingga mampu mempengaruhi teman-teman yang lain untuk tidak merokok dan menghindari perilaku merokok. Diharapkan pihak sekolah dapat mengembangkan dan mengaplikasikan metode peer education ini di sekolah sebagai upaya pencegahan perilaku merokok remaja di sekolah.

(9)

viii

ABSTRACT

Wiratini, Ni Putu Sri. 2015. The Effect Of Peer Education Toward Smoking In Adolescents SMAN “X” Denpasar. Minithesis, Study Program Of Nursing Science, Faculty of Medicine, Udayana University Denpasar. Supervisor (1) Ns. Ni Luh Putu Eva Yanti, M. Kep, Sp. Kep. Kom.; (2) Anak Agung Ngurah Taruma Wijaya, S. KM.

Smoking in adolescents currently increasing. The result of smoking in adolescents abuse cause addiction and trigger negative behaviour like alcohol usage, drugs, abuse and etc. One of prevention has been conducted by giving health education with peer education. Peer education is a peer adolescents support group with adolescents as fasilitator who qets education about smoking, communication technique, role play method and sharing experience with their members. This study aims to find out the effect of peer education toward smoking in adolescents. This study has been conducted by using pre-experimental design, that is one group pre-post test design. Sample consists of 60 students selected with probability sampling technique with systematic random sampling. The result of data analysis by using wilcoxon test and the result obtained that there is significant effect of peer education toward smoking in adolescents. The schools should to develop and apply this peer education as preventive of smoking in adolescents.

(10)

ix

2.1.1 Pengertian Proses Kelompok ... 12

2.1.2 Fungsi Peer Group ... 13

2.1.3 Ciri-Ciri Peer Group ... 14

2.1.4 Pengaruh Peer Group ... 15

2.2 Konsep Dasar Peer Education ... 16

2.2.1 Pengertian Peer Education ... 16

2.2.2 Manfaat Peer Education ... 17

(11)

x

2.2.4 Kriteria Pendidik/Fasilitator Sebaya ... 17

2.2.5 Kriteria Pemilihan Anggota Kelompok Sebaya ... 19

2.2.6 Teknik Pemberian Informasi ... 20

2.2.7 Prosedur Pelaksanaan Metode Peer Education ... 21

2.3 Konsep Dasar Perilaku ... 23

2.3.1 Pengertian Perilaku ... 23

2.3.2 Bentuk Perilaku ... 24

2.4 Konsep Dasar Remaja... 29

2.4.1 Pengertian Remaja ... 29

2.4.2 Tahapan Masa Remaja ... 29

2.4.3 Batasan Usia Remaja... 31

2.4.4 Karakteristik Perkembangan Remaja ... 32

2.4.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Pada Remaja ... 37

2.5 Konsep Dasar Perilaku Merokok ... 41

2.5.1 Pengertian Merokok ... 41

2.5.2 Komponen Racun Dalam Rokok ... 42

2.5.3 Aspek-Aspek Perilaku Merokok ... 44

2.5.4 Tipe-Tipe Perilaku Merokok ... 46

2.5.5 Bahaya Merokok ... 47

2.5.6 Dampak Perilaku Merokok ... 48

2.5.7 Cara Menghentikan Merokok Dan Cara Menghindarinya ... 50

2.6 Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja .... 52

BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep ... 55

3.2 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional ... 56

3.2.1Variabel Penelitian ... 56

3.2.3 Definisi Operasional Variabel ... 57

3.3 Hipotesis Penelitian ... 60

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian ... 61

(12)

xi

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 63

4.3.1 Tempat Penelitian... 63

4.4.4 Teknik Sampling Penelitian ... 65

4.5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 66

4.5.1 Jenis Data ... 66

4.5.2 Cara Pengumpulan Data ... 67

4.5.3 Instrumen Pengumpulan Data ... 69

4.5.4 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 71

4.5.5 Etika Penelitian ... 75

4.6 Pengolahan dan Analisa Data... 75

4.6.1 Teknik Pengolahan Data ... 75

4.6.2 Teknik Analisis Data ... 78

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Hasil Pnelitian ... 80

5.1.1 Kondisi Lokasi Penelitian ... 80

5.1.2 Distribusi Umum Sampel Penelitian ... 81

5.1.3 Distribusi Pengetahuan Responden Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja ... 81

5.1.4 Distribusi Sikap Responden Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja . 83 5.1.5 Distribusi Psikomotor Responden Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja.. ... 84

5.1.6 Hasil Analisa Data... 85

5.2 Pembahasan ... 86

5.2.1 Pengetahuan Responden Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja Sebelum dan Setelah Diberikan Peer Education... ... 86

(13)

xii

dan Setelah Diberikan Peer Education... ... 88

5.2.3 Psikomotor Responden Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja

Sebelum dan Setelah Diberikan Peer Education... ... 90

5.2.4 Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku (Pengetahuan, Sikap dan

Psikomotor) Merokok Pada Remaja ... 92

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 97

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan ... 98

6.2 Saran ... 99

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian Pengaruh Peer Education Terhadap

Perilaku Merokok Pada Remaja Di SMAN “X” Denpasar ... 55 Gambar 2 Rancangan Penelitian Pre-experimental Design (One Group Pre-Post

Test Design) ... 61

Gambar 3 Kerangka Kerja Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku Merokok

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Definisi Operasional Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku

Merokok Pada Remaja Di SMAN “X” Denpasar ... 58 Tabel 2 Nilai-Nilai Distribusi t (Lampiran)

Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Responden Terhadap Perilaku

Merokok Pada Remaja Di SMAN “X” Denpasar... ... 81

Tabel 5.2 Distribusi Pengetahuan Responden Terhadap Perilaku Merokok

Pada Remaja Sebelum Diberikan Peer EducationDi SMAN “X”

Denpasar... ... 82

Tabel 5.3 Distribusi Pengetahuan Responden Terhadap Perilaku Merokok

Pada Remaja Setelah Diberikan Peer Education Di SMAN “X”

Denpasar... ... 82

Tabel 5.4 Distribusi Sikap Responden Terhadap Perilaku Merokok Pada

Remaja Sebelum Diberikan Peer EducationDi SMAN “X”

Denpasar... ... 83

Tabel 5.5 Distribusi Sikap Responden Terhadap Perilaku Merokok Pada

Remaja Setelah Diberikan Peer EducationDi SMAN “X”

Denpasar... ... 84

Tabel 5.6 Distribusi Psikomotor Responden Terhadap Perilaku Merokok

Pada Remaja Sebelum Diberikan Peer EducationDi SMAN “X”

Denpasar... ... 84

Tabel 5.7 Distribusi Psikomotor Responden Terhadap Perilaku Merokok

Pada Remaja Setelah Diberikan Peer Education Di SMAN “X”

Denpasar... ... 85

Tabel 5.8 Hasil Rata-Rata Perilaku Merokok Sebelum Dan Setelah Diberikan

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Penjelasan Penelitian

Lampiran 2 : Surat Pengantar Kuesioner

Lampiran 3 : Lembar Permintaan Menjadi Responden

Lampiran 4 : Surat Persetujuan Kesediaan Menjadi Fasilitator

Lampiran 5 : Surat Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 6 : Rencana Anggaran Biaya Penelitian

Lampiran 7 : Rencana Jadwal Penelitian

Lampiran 8 : Prosedur Peer Education

Lampiran 9 : Kuesioner Perilaku Merokok

Lampiran 10 : Pelaksanaan Kegiatan Peer Education Kepada Responden

Lampiran 11 : Kisi-Kisi Kuesioner

Lampiran 12 : Tabel Nilai-Nilai Distribusi t

Lampiran 13 : Flip Chart (Lembar Balik)

Lampiran 14 : Materi Rokok, Upaya Mencegah Dan Menghindari Rokok

Lampiran 15 : Materi Komunikasi

Lampiran 16 : Uji Validitas Dan Reliabilitas Kuisioner Pengetahuan

Lampiran 17 : Uji Validitas Dan Reliabilitas Kuisioner Sikap

Lampiran 18 : Uji Validitas Dan Reliabilitas Kuisioner Psikomotor

Lampiran 19 : Master Tabel Perilaku Merokok Pada Remaja Sebelum dan

Setelah Diberikan Peer Education Di SMAN “X” Denpasar

(17)

xvi

Lampiran 21 : Distribusi Nilai Pengetahuan Responden Sebelum Dan Setelah

Diberikan Peer Education

Lampiran 22 : Distribusi Nilai Sikap Responden Sebelum Dan Setelah Diberikan

Peer Education

Lampiran 23 : Distribusi Nilai Psikomotor Responden Sebelum Dan Setelah

Diberikan Peer Education

Lampiran 24 : Hasil Analisa Data Uji Wilcoxon Pengaruh Peer Education

Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja

Lampiran 25 : Dokumentasi Penelitian

(18)

xvii

DAFTAR SINGKATAN

CO : Karbonmonoksida

DEPKES RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

HDL : High Density Lipoprotein

KB : Keluarga Berencana

KESBANGPOL : Badan Kesatuan dan Politik

KISARA : Kita Sayang Remaja

KSPAN : Kelompok Siswa Peduli Aids Dan Narkoba

KTR : Kawasan Tanpa Rokok

Mg : Miligram

Pb : Timah Hitam

PERDA : Peraturan Daerah

PJK : Penyakit Jantung Koroner

PKPA : Pusat Kajian dan Perlindungan Anak

PKPR : Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja

PPTM : Pengendalian Penyakit Tidak Menular

RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar

SMP : Sekolah Menengah Pertama

SMA : Sekolah Menengah Atas

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa remaja merupakan periode perkembangan selama individu mengalami

perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa (Potter dan Perry, 2005).

Remaja sering mengalami permasalahan karena pribadinya masih labil dan belum

terbentuk secara matang (Istiqomah, 2003). Salah satu karakteristik umum

perkembangan remaja menurut Ali (2010) adalah memiliki rasa ingin tahu yang

tinggi (high curiosity). Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, remaja

cenderung ingin berpetualang, menjelajah segala sesuatu dan mencoba segala

sesuatu yang belum pernah dialaminya. Perilaku meniru seperti orang dewasa

menyebabkan remaja ingin mencobanya.

Remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungannya. Lingkungan sosial

budaya yang tidak positif merupakan faktor risiko bagi remaja dalam perilaku

yang tidak sehat (Tarwoto dkk, 2012). Remaja dengan masalah kesehatan berisiko

besar untuk mengalami pencapaian yang rendah, masalah kesehatan utama pada

remaja seperti merokok, penggunaan alkohol, penggunaan narkoba, seks pra

nikah, cedera olahraga, tawuran, pembunuhan, kebut-kebutan di jalan, masalah

mental dan emosional (Smeltzer dan Bare, 2002). Kebiasaan merokok pada

remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain masa perkembangan anak

(20)

2

Menurut Mayasari (2007), kebiasaan merokok mulai pada usia 11 dan 13 tahun

serta 85-90% mulai merokok sebelum usia 18 tahun.

Perilaku merokok pada usia remaja semakin lama semakin meningkat sesuai

dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi

dan intensitas merokok (Amelia, 2009). Menurut Salawati dan Amalia (2010),

lebih dari separuh perokok mengkonsumsi lebih dari 10 batang per hari, bahkan

yang berusia 10–14 tahun sudah didapat sebesar 30,5% yang mengkonsumsi lebih

dari 10 batang per hari, bahkan ada 2,6% yang mengkonsumsi lebih dari 20

batang per hari.

Data WHO (2008), menempatkan Indonesia sebanyak 4,8% sebagai negara

dengan jumlah perokok tertinggi ketiga di dunia sesudah Cina sebanyak 30% dan

India sebanyak 11,2%. Menurut Depkes RI (2003), dari keseluruhan jumlah

perokok di Indonesia sekitar 70% memulai merokok sebelum usia 19 tahun.

Riskesdas (2010), menyebutkan secara nasional penduduk usia 15 tahun ke atas

dengan jumlah merokok setiap harinya sebanyak 28,2%. Dari data diatas, perokok

di Indonesia rata-rata mulai merokok pada usia 15-19 tahun, dimana pada usia

tersebut merupakan usia sekolah.

Data Riskesdas (2007), menunjukkan jumlah persentase penduduk yang merokok

berdasarkan usia mulai merokok tiap hari di kabupaten/kota di Provinsi Bali yaitu

dari usia 10-14 tahun 4,6%, usia 15-19 tahun 36,1%, usia 20-24 tahun 17,5%, usia

25-29 tahun 5,7% dan usia ≥ 30 tahun 7,2%. Terdapat tiga dari sembilan

(21)

3

pada usia 10-14 tahun 4,7%, usia 15-19 tahun 47,3%, usia 20-24 tahun 16,7%,

usia 25-29 tahun 5,3% dan usia ≥ 30 tahun 2,7%. Kabupaten Jembrana pada usia

10-14 tahun 5,4%, usia 15-19 tahun 44,1%, usia 20-24 tahun 23,7%, usia 25-29

tahun 6,5% dan usia ≥ 30 tahun 6,5%. Kabupaten Badung pada usia 10-14 tahun

2,9%, usia 15-19 tahun 38,8%, usia 20-24 tahun 14,6%, usia 25-29 tahun 7,8%

dan usia ≥ 30 tahun 11,7%. Hal ini menunjukkan, perokok remaja terbanyak

terdapat di kota Denpasar dengan usia 15-19 tahun.

Menurut Denpost (2013), berdasarkan hasil jajak pendapat, ternyata 40% pelajar

di Denpasar pernah merokok. Jajak pendapat tersebut ditindaklanjuti dengan

survei terkait iklan promosi dan sponsorship yang dilakukan oleh Direktorat

Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Dirjen P2PL Kementerian RI

bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia dan Dinas

Kesehatan Kota Denpasar. Survei dilakukan secara acak di 16 SMP/SMA, baik

swasta maupun negeri di Denpasar selama delapan hari dari tanggal 17-25

September 2013.

Kelompok remaja usia sekolah merupakan kelompok yang memiliki risiko tinggi

terhadap pengaruh buruk dari luar karena belum memiliki kematangan emosional

yang stabil (Puspandari, Sunarsi dan Wdyatama, 2008). Berdasarkan penelitian

Kemala (2007), perilaku merokok paling banyak disebabkan oleh faktor

psikologis dan sebagai upaya untuk mengatasi stres. Jumlah rokok yang

dikonsumsi berkaitan dengan stres yang dialami, semakin besar stres yang

(22)

4

Menurut Gunawan (2006), kandungan nikotin yang terdapat dalam rokok dapat

memberikan rasa nikmat bagi penggunanya dan menimbulkan ketagihan. Dampak

negatif yang ditimbulkan dari ketagihan merokok bagi remaja adalah mencoba

hal-hal negatif yang dapat memberikan kenikmatan seperti alkohol, narkoba,

psikotropika dan zat-zat adiktif lainnya.

Menurut Kusmiran (2012), remaja merupakan suatu kehidupan individu yang

terjadi eksplorasi psikologis untuk menemukan identitas diri. Perubahan yang

terjadi pada masa transisi dari masa anak-anak ke masa remaja, individu mulai

mengembangkan ciri-ciri abstrak dan konsep diri menjadi lebih berbeda.

Iskandarsyah (2006), menyebutkan pada masa ini pergaulan terhadap kelompok

sebaya memiliki peran penting bagi remaja. Gambaran negatif yang ada dipikiran

masyarakat mengenai perilaku remaja mempengaruhi cara remaja berinteraksi,

sehingga membuat remaja merasa takut dalam menjalankan perannya dan malu

untuk meminta bantuan orang tua atau guru, maka dari itu perlu adanya peran

teman sebaya dalam pergaulan remaja yang dapat memberikan informasi.

Salah satu upaya untuk memberikan informasi tentang bahaya merokok pada

remaja adalah melalui teman sebaya (peer group). Dalam peer group, individu

menemukan dirinya serta dapat mengembangkan rasa sosialnya sejalan dengan

perkembangan kepribadiannya. Menurut Aricipta (2013), terdapat sebuah metode

yaitu metode peer education yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi

kelompok, yang diutamakan dalam pemberian informasi kesehatan adalah antar

(23)

5

Peer education merupakan pelatihan kader remaja untuk menjadi konselor bagi

teman sebayanya, dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi kesehatan

kepada kelompok sebayanya (Depkes RI, 2006). Menurut Lundy dan Janes

(2009), motode peer education menunjukkan sumber umum untuk pemberian

informasi. Dalam motode ini, remaja dilatih untuk memimpin program

pencegahan dalam kelompok sebaya.

Menurut Nurhayati (2008), remaja memiliki kecenderungan yang sangat intensif

dengan teman sebayanya daripada dengan orang tuanya. Remaja melakukan

sesuatu secara bersama-sama dengan temannya daripada melakukannya sendiri

dengan kelompok teman sebayanya. Proses pertemanan dalam kelompok sebaya

menciptakan remaja merasa dirinya dibutuhkan. Sehingga pemberian informasi

kesehatan kepada kelompok sebaya dapat lebih mudah diterima oleh remaja.

Penelitian-penelitian dengan metode peer education sudah banyak yang

mengaplikasikannya sebagai metode pendidikan kesehatan. Saat ini yang banyak

diteliti adalah penelitian peer education terhadap pengaruh dalam peningkatan

pengetahuan, sikap dan psikomotor mengenai kesehatan reproduksi. Berdasarkan

penelitian Aricipta (2013), sampel pada penelitian ini adalah siswa SMP kelas

delapan yang dilakukan sebanyak tiga kali dengan pemberian informasi terkait

kesehatan reproduksi dengan subtopik yang berbeda dengan hasil terdapat

perbedaan pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi sebelum

dan setelah diberikan metode peer education dengan pengetahuan dan sikap

sebelum dan setelah diberikan metode self directed learning. Penelitian Sari

(24)

6

menggunakan empat kelas saja. Metode penelitian yang dilakukan sebanyak dua

kali dengan pemberian pendidikan kesehatan tentang alat reproduksi wanita dan

cara pemeliharaan kebersihan genetalia dalam pencegahan kanker serviks dengan

hasil ada perbedaan yang signifikan pengetahuan, sikap dan tindakan antara

sebelum dan setelah diberikan peer education.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti saat melatih fasilitator peer education

dilakukan sebanyak tiga kali, pada pertemuan pertama dilakukan pemberikan

informasi terkait rokok, upaya mencegah dan menghindari rokok. Pertemuan

kedua dilakukan pemberian informasi terkait terknik komunikasi dan role play.

Pertemuan ketiga dilakukan role play. Pemberian pendidikan kesehatan oleh

fasilitator peer education kepada siswa, dilakukan sebanyak tiga kali, pada

pertemuan pertama dilakukan pemberian informasi terkait rokok, upaya mencegah

dan menghindari rokok. Pertemuan kedua dilakukan pemberian informasi terkait

teknik komunikasi dan tanya jawab. Pertemuan ketiga dilakukan sharing

pengalaman dan upaya pencegahan merokok.

Salah satu SMAN di Denpasar adalah SMAN dengan inisial “X” Denpasar.

Lokasinya di tengah kota dengan sosial ekonomi yang bertumpu pada daerah

pariwisata sehingga memungkinkan untuk mudah terpengaruh dalam pergaulan

bebas yang salah satunya adalah perilaku merokok di usia remaja. Berdasarkan

Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Bali Nomor 10 Tahun 2011 pasal 4 dan

PERDA kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2013 pasal 3 terdapat peraturan KTR

(Kawasan Tanpa Rokok) yang salah satunya meliputi tempat proses belajar

(25)

7

yaitu tempat/gedung tertutup sampai batas pagar terluar. Berdasarkan hasil survei

yang dilakukan di sekolah tersebut, belum pernah diadakannya penelitian

kesehatan tentang perilaku merokok dengan metode peer education. Adanya

penelitian ini bertujuan untuk mencegah perilaku merokok pada remaja, salah

satunya dengan metode peer education. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh PeerEducation Terhadap Perilaku

Merokok Pada Remaja Di SMAN “X” Denpasar”.

1.2Rumusan Masalah

“Apakah Ada Pengaruh PeerEducation Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja

di SMAN “X” Denpasar?”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peer education

terhadap perilaku merokok pada remaja di SMAN “X” Denpasar.

1.3.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi karakteristik remaja berdasarkan usia

2. Mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan psikomotor remaja terhadap

perilaku merokok sebelum diberikan pendidikan kesehatan melalui peer

(26)

8

3. Mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan psikomotor remaja terhadap

perilaku merokok setelah diberikan pendidikan kesehatan melalui peer

education.

4. Menganalisis perbedaan perilaku merokok sebelum dan setelah diberikan

pendidikan kesehatan melalui peereducation.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi bagi pendidikan dan

kesehatan mengenai pentingnya pencegahan dan penanggulangan perilaku

merokok pada remaja.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Sekolah

Dapat dijadikan masukan bagi sekolah bahwa pemberian informasi melalui

peer education ini merupakan metode pencegahan perilaku merokok remaja.

2. Bagi Puskesmas

Dapat memberikan kesempatan untuk puskesmas agar dapat lebih

meningkatkan program dalam pencegahan dan pengurangan jumlah perokok

remaja.

3. Bagi perawat

Dapat dijadikan sebagai masukan bagi perawat bahwa kegiatan ini

merupakan salah satu metode/tindakan keperawatan dalam mencegah

(27)

9

5. Bagi peneliti selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat memberikan kerangka

pemikiran pada penelitian yang akan datang, khususnya yang berkaitan

dengan pengaruh peer education terhadap perilaku merokok pada remaja.

1.5 Keaslian Penelitian

Berdasarkan literatur, penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian ini yaitu :

1. Aricipta, I Gede Sukma (2013) dalam penelitiannya yang berjudul :

“Pengaruh Metode Peer Education Terhadap Pengetahuan dan Sikap

Remaja tentang Kesehatan Reproduksi di SMP Dharma Wiweka Denpasar”.

Rancangan penelitian quasi eksperimental (Pretest-Postet Control Group

Design), sampel diambil dengan teknik Simple Random Sampling, dengan

jumlah sampel 60 orang pada setiap kelompok. Analisa data menggunakan

uji Mann Whitney test dengan tingkat kemaknaan p = 0,000. Hasil penelitian

ini adalah terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap remaja tentang

kesehatan reproduksi sebelum dan setelah diberikan metode peer education

dengan pengetahuan dan sikap sebelum dan setelah diberikan metode self

directed learning. Perbedaan dengan penelitian ini antara lain terletak

variabel bebas yang diteliti dan rancangan penelitian.

2. Musaini, Yeni Nur Ikwal, Icshsan., Burhannudin dan Basuki, Sri Wahyuni.

(2011) dalam penelitiannya yang berjudul : “Pengaruh Pendidikan

Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Merokok Pada Siswa

Laki-Laki Kelas XI SMK Murni 1 Surakarta”. Rancangan penelitian ini quasi

(28)

10

jumlah sampel sebanyak 32 siswa pada setiap kelompok. Analisa data

menggunakan uji independent t-test dan uji Mann-Whitney test, ada

perbedaan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap siswa laki-laki

dengan intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian ini adalah terdapat

pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap merokok

pada siswa laki-laki kelas XI SMK Murni 1 Surakarta. Perbedaan dengan

penelitian ini antara lain terletak variabel terikat yang diteliti, rancangan

penelitian dan salah satu analisa data yang digunakan.

3. Ermawati, Trida (2010) dalam penelitiannya yang berjudul : “Hubungan

Antara Peer Group Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja Laki-Laki Di

SMK Warga Surakarta”. Rancangan penelitian ini observasional analitik

dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 60 siswa.

Analisa data menggunakan analisis regresi logistik ganda dengan tingkat

kemaknaan p = 0.05, ada hubungan antara peer group dengan kebiasaan

merokok pada remaja laki-laki. Hasil penelitian ini adalah terdapay

hubungan antara peer group dengan kebiasaan merokok pada remaja

laki-laki. Perbedaan dengan penelitian ini antara lain terletak rancangan

penelitian dan analisa data yang digunakan.

4. Sari, Ayu Ervyna Novita (2014) dalam penelitiannya yang berjudul :

“Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku Personal Hygiene Genetalia

Dalam Pencegahan Kanker Serviks Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 10

Denpasar”. Rancangan peneliian ini pre-experimental design dengan one

(29)

11

data menggunakan uji wilcoxon dua sampel berpasangan dengan tingkat

kemaknaan 95% (p  0,05) sehingga ada hubungan pengaruh peer education

terhadap perilaku personal hygiene genetalia dalam pencegahan kanker

serviks pada remaja putri. Hasil dalam penelitian ini adalah ada perbedaan

yang signifikan pengetahuan, sikap dan tindakan antara sebelum dan setelah

diberikan peer education Perbedaan pada penelitian ini antara lain terletak

pada variabel bebas yang diteliti.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, terdapat perbedaan penelitian seperti

variabel terikat, variabel bebas, rancangan penelitian, analisa data yang

digunakan, sampel penelitian dan lokasi penelitian. Selain perbedaan penelitian

dengan kedua penelitian diatas adalah mengetahui pengaruh peer education

(30)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Proses Kelompok

2.1.1 Pengertian Proses Kelompok

Menurut Blais, Hayes, Kozier dan Erb (2006), proses kelompok adalah kekuatan

dalam situasi kelompok yang menentukan perilaku kelompok dan anggotanya.

Proses kelompok dikaitkan dengan kelompok melakukan fungsi, berkomunikasi,

menetapkan tujuan dan mencapai sasaran. Menurut Widyanto (2014), dinamika

kelompok/proses kelompok adalah suatu bentuk intervensi keperawatan

komunitas yang dilakukan bersamaan dengan masyarakat melalui pembentukaan

peer/social support berdasar kondisi dan kebutuhan masyarakat. Jadi, dapat

disimpulkan proses kelompok adalah perilaku kelompok dan anggotanya yang

dilakukan secara bersamaan melalui pembentukan peer/social support.

Menurut Indanah (2010), dukungan merupakan keterlibatan yang diberikan oleh

keluarga dan teman kepada klien untuk mengatur dan merawat diri sendiri.

Dukungan dapat berupa hubungan antar individu dalam sikap positif, penegasan

dan bantuan. Dukungan sebagai perilaku yang dapat menumbuhkan rasa nyaman

dan individu merasa dihargai, dihormati dan dicintai. Dukungan dari peer group

merupakan sumber dari dukungan sosial alami yang berasal dari interaksi yang

spontan. Peer group merupakan individu yang memiliki kedekatan, tingkat

(31)

13

Menurut Musliha dan Fatmawati (2010), kelompok sebaya/peer group, individu

merasakan adanya kesamaan seperti dibidang usia, kebutuhan dan tujuan yang

dapat memperkuat kelompok. Peer group tidak dipentingkan adanya struktur

organisasi, namun diantara anggota kelompok merasakan adanya tanggung jawab

atas keberhasilan dan kegagalan kelompoknya. Dalam peer group, individu

menemukan dirinya serta dapat mengembangkan rasa sosialnya dengan

perkembangan pribadinya.

2.1.2 Fungsi Peer Group

Fungsi dari peer group menurut Santoso (2004), antara lain :

1. Mengajarkan kebudayaan (mengajarkan kebudayaan yang ada di tempat

tinggal).

2. Mengajarkan mobilitas sosial, perubahan status.

3. Membantu peranan sosial yang baru, peer group memberi kesempatan bagi

anggotanya untuk mengisi peranan sosial yang baru.

4. Peer group sebagai sumber informasi bagi orang tua dan guru bahkan untuk

masyarakat.

5. Dalam peer group individu dapat mencapai ketergantungan satu sama lain.

6. Peer group mengajarkan moral orang dewasa.

7. Dalam peer group individu dapat mencapai kebebasan sendiri.

(32)

14

2.1.3 Ciri-Ciri Peer Group

Adapun ciri-ciri dari peer group menurut Musliha dan Fatmawati (2010), adalah :

1. Tidak mempunyai struktur organisasi yang jelas. Peer group terbentuk

secara spontan. Antar anggota kelompok mempunyai kedudukan yang sama,

tetapi ada satu di antara anggota kelompok yang dianggap sebagai

pemimpin. Semua anggota beranggapan bahwa yang memang pantas

dijadikan sebagai pemimpin biasanya anak yang disegani dalam kelompok

itu.

2. Bersifat sementara, karena tidak ada struktur organisasi yang jelas, maka

kelompok ini kemungkinan tidak bisa bertahan lama, jika yang menjadi

keinginan masing-masing anggota kelompok tidak tercapai, atau karena

keadaan yang memisahkan mereka seperti pada teman sebaya di sekolah.

Yang terpenting dalam peer group adalah mutu hubungan yang bersifat

sementara.

3. Peer group mengajarkan individu tentang kebudayaan yang luas. Misalnya

teman sebaya di sekolah, pada umumnya terdiri dari individu yang

lingkungannya berbeda, di mana mempunyai aturan-aturan atau

kebiasaan-kebiasaan yang berbeda pula. Lalu memasukkannya dalam peer group,

sehingga mereka saling belajar secara tidak langsung tentang

kebiasaan-kebiasaan itu dan dipilih sesuai dengan kelompok kemudian dijadikan

(33)

15

2.1.4 Pengaruh Peer Group

Menurut Santoso (2004) menyatakan pengaruh dari perkembangan peer group

terhadap individu dan kelompok ada yang positif dan negatif, yaitu :

1. Pengaruh positif :

a. Apabila individu di dalam kehidupannya memiliki peer group maka

individu akan lebih siap menghadapi kehidupan yang akan datang.

b. Individu dapat mengembangkan rasa solidaritas antar kawan.

c. Bila individu masuk dalam peer group, maka setiap anggota akan dapat

membentuk masyarakat yang akan direncanakan sesuai dengan

kebudayaan yang mereka anggap baik.

d. Setiap anggota dapat berlatih memperoleh pengetahuan, kecakapan dan

melatih bakatnya.

e. Mendorong individu untuk bersikap mandiri.

f. Menyalurkan perasaan dan pendapat demi kemajuan kelompok.

2. Pengaruh Negatif

a. Sulit menerima seseorang yang tidak mempunyai kesamaan.

b. Tertutup bagi individu lain yang tidak termasuk anggota.

c. Menimbulkan rasa iri pada anggota satu dengan anggota yang lain yang

tidak memiliki kesamaan dengan dirinya.

d. Timbulnya persaingan antar anggota kelompok.

e. Timbulnya pertentangan antar kelompok sebaya, misalnya : antara

(34)

16

2.2 Konsep Dasar Peer Education

2.2.1 Pengertian Peer Education

Peer education (pendidikan sebaya) adalah suatu proses komunikasi, informasi

dan edukasi yang dilakukan oleh kalangan sebaya yaitu kalangan suatu kelompok,

dapat kelompok sebaya pelajar, kelompok mahasiswa, sesama rekan profesi, jenis

kelamin. Kegiatan sebaya dipandang sangat efektif dalam rangka KIE, karena

penjelasan yang diberikan oleh seseorang dari kalangannya sendiri akan lebih

mudah dipahami (Wahyuningsih dkk, 2000).

Peer education sering disebut dengan pendidikan sebaya, dilaksanakan antar

kelompok sebaya dengan dipandu oleh fasilitator yang juga berasal dari kelompok

itu sendiri atau yang mengerti kelompok itu. Pendidikan sebaya menjadi istilah

konsep yang popular yang memberikan pendekatan, saluran komunikasi,

metodologi, fisiologi dan strategi. Istilah ini digunakan pada pendidikan dan

pelatihan. Pendidikan sebaya sekarang dilihat sebagai strategi perubahan perilaku

yang efektif (Negara, Pawelloi, Jelantik dan Arnawa, 2006).

Pendidikan sebaya biasanya melibatkan pelatihan dan anggota kelompok tertentu.

Melakukan perubahan diantara anggota kelompok, pendidikan sebaya sering

digunakan untuk efek perubahan dalam pengetahuan, sikap, keyakinan dan

perilaku pada tingkat individu (Horizons, 2002).

Jadi dapat disimpulkan, peer education adalah suatu proses komunikasi dalam

memberikan informasi antar kelompok sebaya yang dapat dipandu oleh fasilitator

(35)

17

2.2.2 Manfaat Peer Education

Peer education dipandang sangat efektif dalam mengatasi berbagai masalah

remaja, karena penjelasan yang diberikan oleh seorang kelompoknya sendiri akan

lebih mudah dipahami. Pendidikan lebih bermanfaat, karena alih pengetahuan

dilaksanakan oleh antar kelompok sebaya mereka sehingga komunikasi menjadi

lebih terbuka. Hal-hal yang tidak dapat dibicarakan bersama termasuk yang

sifatnya sensitif dapat didiskusikan secara terbuka diantara mereka (Negara,

Pawelloi, Jelantik dan Arnawa, 2006).

2.2.3 Penerapan Peer Education Di Sekolah

Menurut Sari (2007), peer education di sekolah dilaksanakan sebagai program

yang mandiri. Meyakinkan pihak sekolah tentang keuntungan yang bisa diperoleh

dari peer education, khususnya dalam membentuk siswa menjadi agent of change.

Sekolah juga diminta kesediaannya untuk membantu pelaksanaan peer education.

Para guru dapat sebagai agen yang dapat memberikan pengetahuan dan

mengembangkan keterampilan berpikir dengan menggunakan teknik-teknik yang

dikuasai. Peer education ini pada akhirnya akan memberikan kontribusi bagi

peningkatan kesehatan siswa sekolah.

2.2.4 Kriteria Pendidik/Fasilitator Sebaya

Peer education/fasilitator sebaya adalah orang yang menjadi narasumber bagi

kelompok sebayanya (Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, 2008). Syarat-syarat

menjadi peer education antara lain :

1. Aktif dalam kegiatan sosial dan populer di lingkungannya

(36)

18

3. Lancar membaca dan menulis

4. Memiliki ciri-ciri kepribadian antara lain : ramah, lancar dalam

mengemukakan pendapat, luwes dalam pergaulan, berinisiatif dan kreatif,

tidak mudah tersinggung, terbuka untuk hal-hal baru, mau belajar serta

senang menolong.

Menurut Imron (2012), peer education adalah orang yang dipilih karena

mempunyai sifat memimpin dalam membantu orang lain, untuk itu pendidik

sebaya haruslah seorang yang berasal dari kelompoknya dan mempunyai kriteria

sebagai berikut :

1. Peer education mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik dan

mampu mempengaruhi teman sebayanya.

2. Peer education mempunyai hubungan pribadi yang baik serta memiliki

kemampuan untuk mendengarkan pendapat orang lain.

3. Peer education mempunyai rasa percaya diri dan sifat kepemimpinan.

4. Peer education mampu melaksanakan pendidikan kelompok sebaya.

Menurut Depdiknas (2004), untuk menjadi peer education harus menjalani

pelatihan terlebih dahulu. Pelatihan peer education pada dasarnya menggunakan

azas pendidikan orang dewasa (andragogi) dan mengikuti pendekatan

partisipatori. Proses pembelajaran yang berdasarkan partisipatori andragogi

menempatkan siswa sebagai orang yang memiliki bekal pengetahuan dan sudah

mempunyai sedikit pengalaman, keterampilan serta cenderung untuk menentukan

prestasinya sendiri. Pengalaman dan potensi yang ada pada siswa adalah sumber

(37)

19

Fasilitator dalam peer education harus mampu menciptakan suasana belajar

diantara sesama siswa dan mampu memotivasi agar dapat berperan aktif dalam

proses belajar untuk meningkatkan pengalaman dan penghayatan terhadap suatu

materi yang dibahas (Sari, 2007). Peran Peer education/fasilitator sebaya

dilakukan dengan merangkum, mengkomunikasikan kembali dan membangun

komitmen dan dialog. Fasilitator dalam melakukan fasilitas meletakkan dirinya

sebagai sumber informasi yang setara dengan peserta pendidikan, berkontribusi

untuk memberikan informasi, menarik kesimpulan, memberikan feed back dan

respon sesuai dengan proses pendidikan sebaya (Rahardjo et al, 2008).

2.2.5 Kriteria Pemilihan Anggota Kelompok Sebaya

Stanhope dan Lancaster (2010), pemilihan anggota kelompok dalam peer

education antara lain :

1. Pertimbangkan kedudukan ketika membentuk sebuah kelompok baru.

2. Anggota kelompok tertarik kepada teman sebaya yang memiliki latar

belakang yang sama, pengalaman serupa dan minat/kepentingan serta

kemampuan yang sama.

3. Individu yang memiliki keahlian memecahkan masalah dan mengutaran

pikiran dan perasaan individu.

4. Anggota kelompok terdiri dari 8-12 orang. Suatu kelompok yang terdiri dari

8-12 orang merupakan jumlah yang bagus untuk kelompok yang

(38)

20

5. Perpaduan sifat-sifat berbeda yang dimiliki oleh setiap anggota sehingga

memungkinkan adanya keseimbangan bagi proses pengambilan keputusan

serta pertumbuhan.

2.2.6 Teknik Pemberian Informasi

Peer education dapat dilakukan di mana saja asalkan nyaman buat pendidik

sebaya dan kelompoknya. Kegiatan tidak harus dilakukan diruangan khusus,

tetapi tempat peer education sebaiknya dilakukan di tempat yang tidak ada orang

lalu lalang dan jauh dari kebisingan sehingga diskusi bisa berlangsung tanpa

gangguan.

Menurut PKPA (Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, 2008), pemberian

informasi agar efektif, pendidik sebaya perlu :

1. Mempelajari dan memahami materi

2. Memahami bahwa pemberian materi :

a. Tidak menggurui, jangan pernah menggurui teman, karena bakal

dianggap meremehkannya.

b. Tidak harus mengetahui semuanya, kelompok sebaya bukanlah seorang

ahli, maka apabila teman merasa kurang puas atas jawaban yang

diberikan.

c. Tidak memutuskan pembicaraan, dalam kegiatan diskusi hendaknya

membiarkan teman untuk menyelesaikan pendapatnya atau

pertanyaannya dulu walaupun pendidik sebaya sudah tahu maksud dari

(39)

21

d. Tidak diskriminatif, pendidik sebaya harus berusaha memberikan

perhatian dan kesempatan kepada semua teman, bukan hanya kepada satu

atau dua peserta saja, atau dengan kata lain “tidak pilih kasih”.

3. Rasa percaya diri

Pendidik sebaya harus memiliki rasa percaya diri agar penyampaian materi

berjalan lancar. Percaya diri dapat tumbuh bila :

a. Materinya dapat dikuasai.

b. Teknik penyampaian informasi tidak monoton.

c. Dapat menguasai peserta.

d. Dapat berkomunikasi dengan baik dan jelas.

e. Mampu menghayati peran yang dijalankan.

4. Komunikasi dua arah

Komunikasi yang terjadi hendaknya bersifat dua arah, atau terjadi hubungan

timbal balik. Dialog sangat efektif menghadapi teman yang sifatnya

tertutup, cenderung menolak pandangan lain atau perubahan. Pendidik

sebaya harus bisa mendengarkan setiap teman, terbuka dan menghargai

pandangan dengan menghindari kesan bahwa pendidik sebaya hendak

memaksakan suatu informasi baru pada sasaran.

2.2.7 Prosedur Pelaksanaan Metode Peer Education

Prosedur pelaksanaan peer education menurut Negara, Pawelloi, Jelantik dan

Arnawa, (2006), dikembangkan oleh Aricipta (2009) dan dikembangkan oleh

(40)

22

1. Pendidikan kesehatan dengan metode peer education dimulai dengan

peneliti mengumpulkan remaja yang memenuhi kriteria inklusi

2. Satu kelompok peer education terdiri dari 8-12 orang dengan satu orang

fasilitator. Menurut Stanhope dan Lancaster (2010), suatu kelompok yang

terdiri dari 8-12 orang merupakan jumlah yang bagus untuk kelompok yang

memfokuskan diri pada perubahan kesehatan individu. Mengidentifikasi

siswa yang dijadikan fasilitator. Setiap kelas dipilih 1 siswa untuk dijadikan

fasilitator. Pemilihan ini berdasarkan syarat-syarat menjadi fasilitator

dengan berdiskusi terlebih dahulu dengan guru BK dan pendapat anggota

kelompok tersebut karena remaja yang lebih banyak dipilih oleh anggota

kelompok merupakan remaja yang dianggap lebih bisa dan mampu untuk

mempengaruhi dan memimpin teman-temannya.

3. Fasilitator yang telah terpilih kemudian diberi pelatihan oleh pembina

KSPAN berupa pemberian informasi baik secara lisan maupun tertulis yang

telah mendapatkan pelatihan dan memiliki sertifikat.

4. Pelatihan dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan, pelatihan ini

dilaksanakan selama 3 minggu yaitu 1 minggu 1 kali pertemuan, dengan

menggunakan waktu formal tanpa menggangu jam pelajaran. Pertemuan

pertama dilakukan pre test terlebih dahulu terkait pengetahuan, sikap dan

psikomotor fasilitator. Kemudian penyampaian informasi terkait rokok,

upaya mencegah dan menghindari rokok, pertemuan kedua dilakukan

penyampaian informasi terkait teknik komunikasi dan evaluasi dilakukan

(41)

23

kelompok sebaya, masing-masing pertemuan berlangsung selama 45-60

menit.

5. Pada pertemuan yang ketiga diberikan post test dan role play sehingga

fasilitator dianggap mampu untuk menyampaikan informasi tersebut kepada

kelompok sebaya.

6. Kegiatan peer education dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan,

kegiatan ini dilaksanakan selama 3 minggu yaitu setiap 1 minggu 1 kali

pertemuan. Informasi diteruskan oleh fasilitator kepada

kelompok-kelompok kecil yang sudah dibentuk sebelumnya, kemudian dilaksanakan

kegiatan meliputi pre test kepada responden pada pertemuan pertama

penyampaian informasi terkait rokok, upaya mencegah dan menghindari

rokok, pertemuan kedua dilakukan penyampaian informasi terkait teknik

komunikasi dilanjutkan dengan sharing, diskusi kelompok dan tanya jawab

kepada responden. Pertemuan menggunakan waktu formal selama 30-45

menit.

7. Pertemuan ketiga dilakukan sharing pengalaman dan upaya pencegahan

merokok. Kemudian dilakukan post test kepada responden terhadap

pengetahuan, sikap dan psikomotor tentang perilaku merokok.

2.3 Konsep Dasar Perilaku

2.3.1 Pengertian Perilaku

Kwik (dalam Mubarak dkk, 2007), mengatakan bahwa perilaku adalah perbuatan

suatu organisme yang dapat diamati bahkan dapat dipelajari. Perubahan perilaku

(42)

24

perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan dari

lingkungan.

Menurut Notoatmodjo (2007) perilaku manusia adalah semua tindakan atau

aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas,

baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati. Jadi dapat

disimpulkan perilaku merupakan tindakan yang dilakukan manusia sehingga

terjadi perubahan pada perilaku pada pengetahuan, sikap dan psikomotor manusia

menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

2.3.2 Bentuk Perilaku

Teori Bloom (1908) (dalam Notoatmodjo, 2010), membedakan perilaku dalam

tiga domain perilaku yaitu : kognitif (cognitive), afektif (affective) dan psikomotor

(psychomotor). Untuk kepentingan pendidikan praktis, teori ini kemudian

dikembangkan menjadi tiga jenis perilaku yaitu :

A. Pengetahuan (Knowledge)

1. Pengertian

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

indra manusia. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour).

2. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif (Notoatmodjo, 2007), tercakup

(43)

25

1. Tahu (know), diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

kembali (recall) sesuatu yang spesifik.

2. Memahami (comprehension), diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan suatu materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (application), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real).

4. Analisis (analysis), yaitu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau

suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu

struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (synthesis), merupakan kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru.

6. Evaluasi (evaluation), tingkat pengetahuan yang berkaitan dengan

kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu

materi atau objek.

3. Kriteria Pengukuran Pengetahuan

Menurut Arikunto (2006), pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menyatakan isi materi yang diukur dari subyek

penelitian atau responden. Pengetahuan seseorang dapat diketahui dan

(44)

26

a. Pengetahuan baik : hasil persentase baik 76%-100%.

b. Pengetahuan cukup : hasil persentase cukup 56%-75%.

c. Pengetahuan kurang : hasil persentase kurang < 56%.

B. Sikap (Attitude)

1. Pengertian

Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu

stimulus atau objek (Notoadmodjo, 2007). Sikap belum merupakan suatu tindakan

atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

2. Tingkatan Sikap

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat

berdasarkan intensitasnya yaitu :

1. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus

yang diberikan (objek).

2. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan

tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan dan mendiskusikan suatu maslah.

4. Bertanggung jawab (responsible)

Pada tingkat ini, sikap individu akan bertanggung jawab dan siap

(45)

27

3. Pengukuran Sikap

Menurut Sunaryo (2004), secara garis besar pengukuran sikap dibedakan menjadi

dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung

1. Secara langsung

Terdapat dua cara, yaitu langsung berstruktur dengan menggunakan

pertanyaan-pertanyaan yang disusun sedemikian rupa misal dengan skala

Guttman atau skala Likert, sedangkan langsung tak berstruktur dengan

pengukuran sederhana seperti wawancara bebas (free interview),

pengamatan langsung atau survei.

2. Secara tidak langsung

Cara pengukuran sikap dengan menggunakan tes. Umumnya menggunakan

skala sematik-differential yang terstandar.

Menurut Hidayat (2008) (dalam Ariani, 2012), sikap seseorang dapat diketahui

dan diinterpretasikan, yaitu :

a. Sikap baik : hasil persentase baik 76%-100%.

b. Sikap cukup : hasil persentase cukup 51%-75%.

c. Sikap kurang : hasil persentase kurang < 50%.

C. Psikomotor/Tindakan

1. Pengertian

Suatu sikap pada diri individu belum tentu terwujud dalam suatu tindakan. Agar

sikap individu terwujud dalam perilaku nyata diperlukan faktor pendukung dan

(46)

28

2. Tingkatan Psikomotor

Menurut Notoatmodjo (2007), psikomotor atau praktik memiliki beberapa

tingkatan yaitu :

1. Persepsi (persection)

Persepsi adalah mengenal dan memilih berbagai objek sesuai dengan

tindakan yang akan dilakukan.

2. Respon terpimpin (guide response)

Respon terpimpin yaitu individu dapat melakukan sesuatu dengan urutan

yang benar sesuai contoh.

3. Mekanisme (mecanisme)

Mekanisme adalah individu dapat melakukan sesuatu dengan benar secara

otomatis atau sudah menjadi kebiasaan.

4. Adaptasi (adaption)

Adaptasi adalah suatu tindakan yang sudah berkembang dan dimodifikasi

tanpa mengurangi kebenaran.

3. Pengukuran Psikomotor

Menurut Dewi (2011), hasil pengukuran dapat dikategorikan menjadi baik, cukup,

kurang. Psikomotor seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan, antara lain :

a. Psikomotor baik : hasil persentase baik 70%-100%.

b. Psikomotor cukup : hasil persentase cukup 40%-69%.

(47)

29

2.4 Konsep Dasar Remaja

2.4.1 Pengertian Remaja

Remaja adalah periode perkembangan dimana individu mengalami perubahan

atau masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa (Perry dan Potter,

2005). Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak menuju dewasa yang

mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa

(Rumini dan Sundari, 2004).

Remaja merupakan suatu kehidupan individu yang terjadi eksplorasi psikologis

untuk menemukan identitas diri. Pada masa transsisi dari masa anak-anak ke masa

remaja, individu mulai mengembangkan ciri-ciri abstrak dan konsep diri menjadi

lebih berbeda (Kusmiran, 2012). Menurut Depkes RI (2005), masa remaja

merupakan suatu proses tumbuh kembang yang berkesinambungan, yang

merupakan masa peralihan dari anak-anak ke dewasa muda.

Jadi dapat disimpulkan, remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak

menuju masa dewasa muda dengan perubahan yang terjadi di dalam diri dan

tubuh remaja.

2.4.2 Tahapan Masa Remaja

Menurut Soetjiningsih (2004), dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa,

berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati

(48)

30

1. Masa Pra Remaja

Masa pra remaja adalah suatu tahap untuk memasuki tahap remaja yang

sesungguhnya. Pada masa ini ada beberapa indikator yang telah dapat

ditentukan untuk menentukan indentitas gender laki-laki atau perempuan.

Ciri-ciri perkembangan seksual pada masa ini antara lain, perkembangan

fisik yang masih tidak banyak berbeda dengan sebelumnya. Pada masa ini

juga mereka sudah mulai senang mencari tahu informasi tentang seks dan

mitos seks baik dari teman sekolah, keluarga atau dari sumber lainnya.

2. Masa Remaja Awal

Merupakan tahap awal remaja sudah mulai tampak ada perubahan fisik

yaitu, fisik sudah mulai matang dan berkembang, remaja sudah mulai

merasakan rangsangan yang diakibatkan oleh faktor internal yaitu

meningkatnya kadar testosteron pada laki-laki dan estrogen pada

perempuan.

3. Masa Remaja Menengah

Pada masa ini para remaja sudah mengalami pematangan fisik secara penuh

yaitu anak laki-laki sudah mengalami mimpi basah sedangkan anak

perempuan sudah mengalami haid.

4. Remaja Akhir

Pada masa ini remaja sudah mengalami perkembangan fisik secara penuh,

sudah seperti orang dewasa, mereka telah mempunyai perilaku seksual yang

(49)

31

Pada tahap ini remaja telah mencapai kemampuan untuk mengembangkan

cita-citanya sesuai dengan pengalaman dan pendidikannya.

2.4.3 Batasan Usia Remaja

Menurut Monks (2009), semua aspek perkembangan dalam masa remaja secara

global berlangsung antara umur 12-21 tahun, dengan pembagian usia 12-15 tahun

adalah masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa remaja pertengahan, 18-21

tahun adalah masa remaja akhir. Menurut tahap perkembangan, masa remaja

dibagi menjadi tiga tahap yaitu :

1. Masa remaja awal (12-15 tahun), dengan ciri khas antara lain :

a. Lebih dekat dengan teman sebaya.

b. Ingin bebas.

c. Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir

abstrak.

2. Masa remaja tengah (15-18 tahun), dengan ciri khas antara lain :

a. Mencari identitas diri.

b. Timbulnya keinginan untuk kencan.

c. Mempunyai rasa cinta yang mendalam.

d. Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

e. Berkhayal tentang aktivitas seks.

3. Masa remaja akhir (18-21 tahun), dengan ciri khas antara lain :

a. Pengungkapan identitas diri.

b. Lebih selektif dalam mencari teman sebaya.

(50)

32

d. Dapat mewujudkan rasa cinta.

e. Mampu berfikir abstrak.

2.4.4 Karakteristik Perkembangan Remaja

Menurut Wong (2009), karakteristik perkembangan remaja dapat dibedakan

menjadi :

1. Perkembangan Psikososial

Teori perkembangan psikososial menurut Erikson (dalam Wong, 2009),

menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan

terbentuknya identitas. Periode remaja awal dimulai dengan awitan pubertas

dan berkembangnya stabilitas emosional dan fisik yang relatif pada saat atau

ketika hampir lulus dari SMA. Pada saat ini, remaja dihadapkan pada krisis

identitas kelompok versus pengasingan diri. Pada periode selanjutnya,

individu berharap untuk mencegah otonomi dari keluarga dan

mengembangkan identitas diri sebagai lawan terhadap difusi peran. Identitas

kelompok menjadi sangat penting untuk permulaan pembentukan identitas

pribadi. Remaja pada tahap awal harus mampu memecahkan masalah tentang

hubungan dengan teman sebaya sebelum mereka mampu menjawab

pertanyaan tentang siapa diri mereka dalam kaitannya dengan keluarga dan

masyarakat.

a. Identitas kelompok

Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok

semakin kuat. Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok adalah hal

(51)

33

dapat memberi status. Ketika remaja mulai mencocokkan cara dan minat

berpenampilan, gaya mereka segera berubah. Bukti penyesuaian diri

remaja terhadap kelompok teman sebaya dan ketidakcocokkan dengan

kelompok orang dewasa memberi kerangka pilihan bagi remaja sehingga

mereka dapat memerankan penonjolan diri mereka sendiri sementara

menolak identitas dari generasi orang tuanya.

b. Identitas individual

Pada tahap pencarian ini, proses perkembangan identitas pribadi

merupakan proses yang memakan waktu dan penuh dengan periode

kebingungan, depresi dan keputusasaan. Penentuan identitas dan

bagiannya di dunia merupakan hal yang penting dan sesuatu yang

menakutkan bagi remaja. Difusi peran terjadi jika individu tidak mampu

memformulasikan kepuasan identitas dari berbagai aspirasi, peran dan

identifikasi.

c. Identitas peran seksual

Masa remaja merupakan waktu untuk konsolidasi identitas peran seksual.

Selama masa remaja awal, kelompok teman sebaya mulai

mengkomunikasikan beberapa pengharapan terhadap hubungan

heterokseksual dan bersamaan dengan kemajuan perkembangan, remaja

dihadapkan pada pengharapan terhadap perilaku peran seksual yang

(52)

34

d. Emosionalitas

Remaja mampu menghadapi masalah dengan tenang dan rasional,

walaupun masih mengalami periode depresi. Perasaan remaja lebih kuat

dan mulai menunjukkan emosi yang lebih matang pada masa remaja akhir.

Sementara remaja awal bereaksi cepat dan emosional, sedangkan remaja

akhir dapat mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk

mengekspresikan dirinya dapat diterima masyarakat.

2. Perkembangan Kognitif

Teori perkembangan kognitif menurut Piaget (dalam Wong, 2009), remaja

tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode

berpikir konkret. Tanpa memusatkan perhatian pada situasi saat ini, remaja

dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang mungkin terjadi.

Remaja secara mental mampu memanipulasi lebih dari dua kategori variabel

pada waktu yang bersamaan.

3. Perkembangan Moral

Teori perkembangan moral menurut Kohlberg (dalam Wong, 2009), masa

remaja akhir dicirikan dengan suatu pertanyaan serius mengenai nilai moral

dan individu. Remaja memahami tugas dan kewajiban berdasarkan hak timbal

balik dengan orang lain dan juga memahami konsep peradilan yang tampak

dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan atau

(53)

35

4. Perkembangan Spiritual

Pada saat remaja mulai mandiri dari orang tua atau otoritas yang lain,

beberapa diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal keluarga.

Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi melakukan

ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar sendiri.

5. Perkembangan Sosial

Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri dari

dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari

wewenang orang tua. Remaja ingin dewasa dan ingin bebas dari kendali

orang tua, tetapi merasa takut ketika mencoba untuk memahami tanggung

jawab yang terkait dengan kemandirian.

a. Hubungan dengan orang tua

Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari menyayangi

dan persamaan hak. Proses mencapai kemandirian sering kali melibatkan

karena baik orang tua maupun remaja belajar untuk menampilkan peran

yang baru dan menjalankannya sampai selesai, sementara pada saat

bersamaan, penyelesaian sering kali merupakan rangkaian kerenggangan

yang menyakitkan. Pada saat remaja menuntut hak mereka untuk

mengembangkan hak-hak istimewanya, mereka sering kali menciptakan

ketegangan di dalam rumah.

b. Hubungan dengan teman sebaya

Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam sebagian besar

(54)

36

berperan penting ketika masa remaja dibandingkan masa kanak-kanak.

Kelompok teman sebaya memberikan remaja perasaan kekuatan dan

kekuasaan.

1. Kelompok teman sebaya

Remaja biasanya berpikiran sosial, suka berteman dan suka

berkelompok. Untuk memperoleh penerimaan kelompok, remaja awal

berusaha untuk menyesuaikan diri secara total dalam berbagai hal

seperti model berpakaian, gaya rambut, selera musik, tata bahasa dan

sering kali mengorbankan individualitas dan tuntutan diri. Segala

sesuatu pada remaja diukur oleh reaksi teman sebayanya.

2. Sahabat

Hubungan personal antara satu orang dengan orang lain yang berbeda

biasanya terbentuk antara remaja sesama jenis. Hubungan ini lebih

dekat dan lebih stabil daripada hubungan yang dibentuk pada masa

kanak-kanak pertengahan dan penting untuk pencarian identitas.

Seorang sahabat merupakan pendengar terbaik, yaitu tempat remaja

mencoba kemungkinan peran-peran dan suatu peran bersamaan,

(55)

37

2.4.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Pada Remaja

Faktor yang mempengaruhi perilaku merokok menurut Notoatmodjo (2005),

antara lain :

1. Faktor Intrinsik

a. Kepribadian

Kepribadian merupakan segala bentuk pola pikiran, emosi dan perilaku

yang berbeda serta mempunyai karakteristik yang menentukan gaya

personal individu dan mempengaruhi interaksinya dengan lingkungan.

Orang dengan kepribadian tipe A (introvert) lebih mudah mengalami

gangguan akibat adanya stres dari pada orang dengan kepribadian tipe B

(ekstrovert).

Adapun ciri-ciri orang dengan kepribadian tipe A (introvert) dan tipe

kepribadian B (ekstrovert) menurut Hawari (2001) antara lain :

1. Tipe A (introvert)

Sikap introvert mengarahkan pribadi ke pengalaman subjektif,

memusatkan diri pada dunia dalam, cenderung menyendiri, pendiam

atau tidak ramah, bahkan antisosial. Seseorang juga mengamati dunia

luar, tetapi mereka melakukannya secara selektif dan menggunakan

pandangan subjektif mereka sendiri. Ciri-ciri anak dengan tipe

introvert adalah sulit bergaul, hatinya tertutup, sulit berhubungan

dengan orang lain dan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian adalah perilaku merokok oleh sebagian kecil responden (27%) dengan gambaran perilaku merokok dilakukan pada remaja yang berusia 10 – 15

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku merokok dan perilaku mengkonsumsi alkohol pada remaja di

Beberapa remaja bertindak dengan perilaku merokok sebagai bentuk kompensasi, sebagaimana dikatakan oleh Brigham dalam komalasari (2000) bahwa perilaku merokok

Jenis penelitian ini adalah korelasi yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pergaulan dengan perilaku merokok pada remaja RT 46 Desa Karangsari,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orangtua dan peer group terhadap konsep diri remaja tentang perilaku seksual di SMA Dharma Bakti Medan.. Penelitian

Demikian maka dapat disimpulkan adanya pengaruh signifikan dari pemberian pendidikan kesehatan peer group terhadap keinginan berhenti merokok pada remaja kelas X

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orangtua dan peer group terhadap konsep diri remaja tentang perilaku seksual di SMA Dharma Bakti Medan.. Penelitian

Jumlah remaja yang masuk dalam kategori sering merokok lebih tinggi dari pada jumlah remaja yang masuk dalam kategori perokok eksperimen, ini menunjuk- kan bahwa perilaku merokok pada