Usaha menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

155 

Teks penuh

(1)

viii ABSTRAK

Judul skripsi USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN dipilih berdasarkan kenyataan bahwa menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari penting untuk ditingkatkan secara terus menerus bagi kehidupan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Penulis mempunyai kesan bahwa umat dalam mengikuti Ekaristi masih sebatas kewajiban dan berhenti pada ritus saja misalkan umat datang ke Gereja hanya sekedar datang, duduk, dan mendengarkan saja tanpa ada perwujudan konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Umat belum sungguh-sungguh menyadari pentingnya menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan pokok pada skripsi ini adalah bagaimana umat beriman Kristiani dapat menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat kehidupan umat yang banyak tantangan dan persoalan hidup, umat beriman Kristiani sangat membutuhkan pendampingan iman agar mereka memiliki kehidupan rohani yang kuat. Oleh karena itu untuk mengkaji persoalan yang dihadapi umat dibutuhkan data yang akurat. Untuk maksud itu, studi pustaka yang besumber dari Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan pandangan dari para ahli serta penelitian untuk mendapatkan data diperlukan demi mendapatkan inspirasi yang dapat digunakan sebagi usulan program pendampingan iman bagi umat untuk semakin menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis dalam skripsi ini mengusulkan suatu program katekese model

(2)

ix ABSTRACT

This thesis takes EFFORT TO FIND THE MEANING OF SACRAMENT EUCHARIST FOR FAITH DEVELOPMENT OF THE COMMUNITY CHRISTIAN OF SAINT ANTONIUS JOTON THE WORKER OF CHURCH SAINT JOSEPH GONDANGWINANGUN KLATEN ENVIROMENT as it’s title base on the truth that know the true meaning of the Eucharist Sacrament in daily life are important to develop continuously for the life of the environment of Saint Antonius Joton the worker of church saint Joseph Gondangwinangun Klaten environment.

The writer has an impression that people when they join the Eucharist Sacrament they just do it because it’s their duty and stop only at a certain rite for example when people come to the church they just come, sit, and listen without concrete manifestation in daily life. People haven really know the importance of the Eucharist Sacrament in their daily life.

The main issues in this thesis are how a Christian could and into the meaning of Eucharist Sacrament for the sake of their faith development in daily life. Remembering the life of people that have many challenge and life problem, Christian extremely needed the spiritual mentoring, so they have a strong spiritual life. Because of that in examining the issues that people face many accurate data are needed. For that purpose, reference that source of the Bible, Church documents, and from the expert point of view with some research to get the data that needed, to get an inspiration that can be used as a program’s suggestion of spiritual mentoring for people to found and into the meaning of Eucharist Sacrament in daily life.

(3)

USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO

ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Disusun Oleh : Yulius Swantoro NIM : 081124043

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)
(5)
(6)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada

Kedua orangtua , kakak, adik, sahabat, yang telah memberi motivasi saya untuk menyelesaikan skripsi ini.

Para pembimbing dan dosen yang telah membimbing penulis dengan sabar selama proses belajar di Kampus IPPAK

Seluruh umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengadakan penelitian demi kelancaran penulisan skripsi ini.

(7)

v MOTTO

Selesaikanlah segala perkerjaan tanpa berkeluh kesah: “Allah yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan

(8)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

(9)

vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Yulius Swantoro

NIM : 081124043

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulis yang berjudul USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

(10)

viii ABSTRAK

Judul skripsi USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN dipilih berdasarkan kenyataan bahwa menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari penting untuk ditingkatkan secara terus menerus bagi kehidupan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Penulis mempunyai kesan bahwa umat dalam mengikuti Ekaristi masih sebatas kewajiban dan berhenti pada ritus saja misalkan umat datang ke Gereja hanya sekedar datang, duduk, dan mendengarkan saja tanpa ada perwujudan konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Umat belum sungguh-sungguh menyadari pentingnya menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan pokok pada skripsi ini adalah bagaimana umat beriman Kristiani dapat menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat kehidupan umat yang banyak tantangan dan persoalan hidup, umat beriman Kristiani sangat membutuhkan pendampingan iman agar mereka memiliki kehidupan rohani yang kuat. Oleh karena itu untuk mengkaji persoalan yang dihadapi umat dibutuhkan data yang akurat. Untuk maksud itu, studi pustaka yang besumber dari Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan pandangan dari para ahli serta penelitian untuk mendapatkan data diperlukan demi mendapatkan inspirasi yang dapat digunakan sebagi usulan program pendampingan iman bagi umat untuk semakin menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis dalam skripsi ini mengusulkan suatu program katekese model

(11)

ix ABSTRACT

This thesis takes EFFORT TO FIND THE MEANING OF SACRAMENT EUCHARIST FOR FAITH DEVELOPMENT OF THE COMMUNITY CHRISTIAN OF SAINT ANTONIUS JOTON THE WORKER OF CHURCH SAINT JOSEPH GONDANGWINANGUN KLATEN ENVIROMENT as it’s title base on the truth that know the true meaning of the Eucharist Sacrament in daily life are important to develop continuously for the life of the environment of Saint Antonius Joton the worker of church saint Joseph Gondangwinangun Klaten environment.

The writer has an impression that people when they join the Eucharist Sacrament they just do it because it’s their duty and stop only at a certain rite for example when people come to the church they just come, sit, and listen without concrete manifestation in daily life. People haven really know the importance of the Eucharist Sacrament in their daily life.

The main issues in this thesis are how a Christian could and into the meaning of Eucharist Sacrament for the sake of their faith development in daily life. Remembering the life of people that have many challenge and life problem, Christian extremely needed the spiritual mentoring, so they have a strong spiritual life. Because of that in examining the issues that people face many accurate data are needed. For that purpose, reference that source of the Bible, Church documents, and from the expert point of view with some research to get the data that needed, to get an inspiration that can be used as a program’s suggestion of spiritual mentoring for people to found and into the meaning of Eucharist Sacrament in daily life.

(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab karena berkat kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN.

Skripsi ini lahir dari pengalaman yang penulis saksikan dan amati sebagai umat di Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Sebagian besar umat telah menghayati makna sakramen Ekaristi namun penghayatannya masih membutuhkan pendampingan terus menerus sampai iman mereka berkembang secara dewasa. Skripsi ini merupakan sumbangan pemikiran kepada seluruh umat beriman Katolik agar mereka dapat semakin menghayati pentingnya makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

Selama proses penulisan dan penyusunan karya tulis ini, penulis mendapatkan banyak dukungan dan perhatian dari berbagai pihak, untuk itu penulis dengan tulus hati mengucapkan banyak terimakasih terutama kepada: 1. Drs. FX. Heryatno W.W., S.J., M.Ed. selaku Kaprodi IPPAK Universitas

(13)

xi

2. Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J. selaku dosen penguji kedua yang telah berkenan memberikan arahan dan masukan-masukan yang sungguh berguna demi kelengkapan skripsi ini.

3. P. Banyu Dewa HS, S. Ag, M.Si, selaku dosen penguji ketiga yang memberikan perhatian serta dukungan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

4. Segenap staf dosen dan seluruh staf karyawan prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang secara tidak langsung selalu memberikan dorongan kepada penulis.

5. Keluarga tercinta: bapak, ibu, kakak, yang selalu mendoakan dan memberikan dorongan bagi penulis dalam menyelesaikan perkuliahan. Segenap sahabat-sahabat mahasiswa angakatan 2008 dan lintas angkatan yang dengan caranya telah mendukung, belajar bersama, berbagi suka-duka bersama demi menciptakan sebuah keluarga IPPAK yang akrab penuh persaudaraan.

6. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang dengan tulus hati memberikan masukan dan dorongan sampai selesainya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini sungguh bermanfaat.

(14)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI……… vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 9

C.Tujuan Penulisan ... 9

D.Manfaat Penulisan ... 10

E. Metode Penulisan ... 10

F. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II. SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT..……….. 14

A.Sakramen Ekaristi ... 15

1. Pengertian dan Makna Sakramen pada Umumnya ... 15

a. Pengertian Sakramen ... 15

b. Makna Sakramen ... 18

2. Pengertian dan Makna Sakramen Ekaristi ... 19

a. Pengertian Sakamen Ekaristi ... 19

(15)

xiii

(16)

xiv

2. Situasi Umum Umat Paroki Santo Yusuf Pekerja

Gondangwinangun Klaten ... 43

3. Gambaran Umum Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ... 45

a. Letak dan Batas-batas Geografis Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ... 45

b. Kegiatan Umat dalam Gereja maupun Masyarakat ... 46

c. Situasi Sosial Kemasyarakatan ... 48

d. Perkembangan Umat ... 48

B. Penelitian tentang Penghayatan Umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten Terhadap Makna Sakramen Ekaristi... 49

(17)

xv

BAB IV. KATEKESE MODEL SCP SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN UMAT AKAN

b. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual ... 95

c. Langkah II: Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual ... 95

d. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau ... 96

(18)

xvi

Terwujudnya Kerajaan Allah diTengah-tengah Dunia .... 98

B. Usulan Program Katekese dengan Model SCP bagi Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ... 98

1. Latar Belakang ... 99

2. Tema dan Tujuan Program Katekese ... 101

C. Gambaran Pelaksanaan Program ... 104

D. Matriks Program ... 105

E. Contoh persiapan Katekese Model SCP ... 108

1. Identitas Pertemuan ... 108

2. Pemikiran Dasar ... 109

3. Mengembangkan Langkah-Langkah ... 110

BAB V. PENUTUP ... 122

A. Kesimpulan ... 122

B. Saran ... 124

DAFTAR PUSTAKA ... 125

LAMPIRAN ... 127

Lampiran 1: Surat Penelitian untuk Paroki ... (1)

Lampiran 2: Surat Penelitian untuk Ketua Lingkungan ... (2)

Lampiran 3: Surat Pernyataan Penelitian ... (3)

Lampiran 4: Kuesioner Untuk Umat Lingkungan St. Antonius ... (4)

(19)

xvii

DAFTAR SINGKATAN A.Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal.7-8.

B.Dokumen Resmi Gereja

CT : Catechesi Tradendae (Penyelenggaraan Katekese), Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang Katekese Masakini, 16 Oktober 1979.

KGK : Katekismus Gereja Katolik

KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex luris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983

LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964.

SC : Sacrosanctum Concilium, Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1963.

C.Daftar Singkat Lain Art : Artikel

DSA : Doa Syukur Agung

Kan : Kanon

(20)

xviii KWI : Konferensi Waligereja Indonesia

KKGK : Kompendium Katekismus Gereja Katolik KLMTD : Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel LCD : Liquid Crystal Display

MB : Madah Bakti

OMK : Orang Muda Katolik

Pr. : Praja

PS : Puji Syukur

PIA : Pembinaan Iman Anak

PPDP : Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki

§ : Paragraf

St : Santo

SCP : Shared Christian Praxis

WK : Wanita Katolik

(21)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gereja melalui Konsili Trente menetapkan bahwa ada tujuh Sakramen, yaitu sakramen Baptis, sakramen Ekaristi, sakramen Krisma, sakramen Perkawinan, sakramen Tobat, sakramen Minyak Suci, dan sakramen Imamat. Sakramen adalah tanda dan sarana keselamatan dari Allah (Janssen, 1993: 9). Melalui dan dalam sakramen, Gereja menjalin persatuan yang mesra dengan Allah dan seluruh umat-Nya (Lumen Gensium. Art.1). Di dalam Gereja Katolik, Ekaristi merupakan salah satu sakramen Gereja. Seluruh sakramen Gereja berpusat pada sakramen Ekaristi. Sakramen Ekaristi sebagai pusat karena di dalamnya Gereja merayakan dan mengenangkan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, sekaligus Gereja menimba kekayaan rohani dan rahmat keselamatan dari Allah bagi umat-Nya.

Sakramen Ekaristi mengingatkan umat-Nya bahwa penyelamat yakni Yesus Kristus mengadakan kurban tubuh dan darah-Nya. Hal ini sebagai jaminan hidup bagi umat yang percaya bahwa kelak kita diundang untuk masuk ke dalam kemuliaan bersama Kristus (zaman eskatologis). Melalui sakramen Ekaristi umat menimba kekuatan untuk bersatu dan bertindak sebagai murid-murid Yesus Kristus. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium art.11 menegaskan bahwa:

(22)

persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan cara sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari Tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkret menampilkan kesatuan umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan (Lumen Gentium, art.11).

Pernyataan para Bapa Gereja ini, penting untuk dimengerti dan direnungkan oleh seluruh umat Allah. Melalui Ekaristi umat dapat memperoleh kekuatan, kesegaran hidup, serta kepenuhan rahmat yang berlimpah dari Allah. Umat yang sungguh memaknai Ekaristi memiliki relasi yang erat dengan Allah dan memiliki keberanian untuk bersaksi mewartakan kabar gembira dalam kehidupan sehari-hari.

Sakramen Ekaristi merupakan suatu anugerah cinta kasih Allah yang membawa pembaharuan hidup manusia. Sakramen Ekaristi dikatakan sebagai anugerah, karena Ekaristi adalah sumber atau pusat dan puncak seluruh hidup Gereja (KGK, 1993: 336). Selain itu, Ekaristi juga menjadi jantung hidup Gereja (Sinaga, 2005: 6). Gereja mendapatkan aliran hidup, untuk bertumbuh, dan berkembang ke arah persatuannya dengan Allah sebagai tubuh mistik Kristus.

(23)

Gereja mengajarkan kepada kita bagaimana memaknai perjamuan Ekaristi setiap kali kita merayakannya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan para murid sebelum Ia memasuki misteri sengsara dan wafat-Nya. Yesus menghendaki agar perjamuan makan ini selalu dikenang dan dilakukan oleh umat-Nya dalam perayaan suci yakni Ekaristi. Gereja setiap kali merayakan Ekaristi sebagai bentuk kenangan akan Paska Kristus. Yesus mengambil roti dan mengucap syukur dan membagikan kepada para murid sambil berkata “ Terimalah dan makanlah ! Inilah tubuhKu yang dikurbankan bagimu”.

Setelah perjamuan Yesus mengambil Piala yang berisi anggur dan mengucap syukur sambil mengedarkannya dan berkata “Terimalah dan minumlah ! Inilah

piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini” (DSA). Apa yang telah dilakukan Yesus dilanjutkan

oleh Gereja yang didoakan oleh imam pada waktu konsekrasi. Uskup atau imam menjadi pelayan sakramen Ekaristi, bertindak sebagai perantara pribadi Kristus sendiri. Ekaristi sebagai tindakan pengudusan yang paling istimewa oleh Allah terhadap umat beriman. Ekaristi sebagai pusat perjumpaan antara umat beriman dengan sang Ilahi, mengulang kembali peristiwa pemecahan roti, pengucapan syukur, pembagian roti seperti yang dilakukan Yesus dalam perjamuan malam terakhir bersama dengan para murid-Nya.

(24)

melalui Yesus Kristus kepada umat manusia. Di dalam Ekaristi, Yesus menunjukkan kebersamaan-Nya dengan manusia, mau berelasi dengan siapa saja, dan bersatu menjadi satu keluarga (Grün, 1998: 29).

Di dalam Perjanjian Baru ada empat kisah tentang perjamuan malam terakhir. Hal ini dapat kita temukan di dalam injil Sinoptik dan surat-surat Paulus yaitu Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-20; 1Kor 11:23-26 (Martasudjita, 2005: 219). Dari keempat kisah ini, ada peristiwa penting yang memberikan pengajaran atas Ekaristi yaitu tindakan kenabian Yesus yang melaksanakan rencana karya keselamatan Allah bagi umat-Nya di dunia. Konsekuensi dari Yesus melakukan tindakan kenabian adalah melalui persitiwa salib. Yesus melakukan tindakan simbolis untuk memperlihatkan bahwa diri-Nya menyerahkan diri secara total dan taat pada kehendak Bapa dengan rela wafat di kayu salib sebagai bukti cinta Yesus yang total kepada umat manusia. Sebagai murid Kristus kita diajak untuk meneladani sikap Yesus yang taat dan rela berkorban untuk banyak orang.

(25)

bersatu dalam kematian-Nya. Kita bersatu dengan Yesus secara pribadi berarti menerima undangan-Nya untuk masuk dalam kemuliaan-Nya, dan menerima rahmat pengampunan dosa. Ekaristi mempersatukan kita dengan Yesus melalui iman. Persatuan ini nampak dalam penghayatan umat dalam Ekaristi. Ekaristi memberikan kekuatan untuk hidup baru melalui pertobatan sejati.

Yesus setelah mengucapkan syukur memberikan sebuah perintah untuk mengenangkan peristiwa perjamuan. Ekaristi menjadi suatu peristiwa untuk mengenang kembali pemecahan roti, doa syukur, dan penyambutan Tubuh dan Darah Kristus. Yesus hadir bagi kita melalui Ekaristi. Yesus hadir di dunia menjadi nyata melalui Gereja yakni cara hidup atau kesaksian yang dilakukan oleh para pengikut-Nya. Ekaristi menciptakan persaudaraan sejati tidak hanya sesama umat beriman melainkan antar umat beragama lain. Umat Kristiani yang hidup di tengah dunia dan berdampingan dengan umat beragama lain dengan latar belakang yang berbeda-beda dengan cara pandang yang sama bahwa umat di luar Gereja menjadi satu keluarga.

(26)

menjadi suatu misteri Ilahi sekaligus tanda bagi perwahyuan diri Yesus seluruhnya dan menjadi tawaran bagi manusia untuk berpartisipasi dalam hidup Yesus (Martasudjita, 2005: 240-246).

Ekaristi sebagai sumber persatuan mesra dengan Kristus. Umat menyambut Tubuh dan Darah Yesus Kristus serta turut serta dalam pengurbanan diri-Nya menunjukkan kesediaan untuk bersatu dengan-Nya, sebagaimana Kristus telah mengatakan-Nya, “Dia yang makan tubuh-Ku dan minum darahKu, tinggal dalam Aku dan Aku dalam Dia” (Yoh 6: 57). Sakramen Ekaristi sesungguhnya merupakan makanan bagi hidup rohani, sebab dari sakramen mengalir kekuatan bagi jiwa dan raga menjadi lebih sempurna. Sempurna berarti kita dipenuhi oleh rahmat Allah dan terlindung dari dosa. Sakramen Ekaristi sebagai sumber kehidupan, rahmat dan anugerah cinta kasih bagi kita karena Yesus Kristus hadir di dalam-Nya. Ia hadir dalam sakramen Ekaristi dengan karya penebusan-Nya yang utuh.

(27)

betapa bermaknanya hosti bagi umat Kristiani. Peristiwa ini menunjukkan pemaknaan yang konkret yaitu mengorbankan diri untuk melindungi hosti (Loret, 1989: 23).

(28)
(29)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apa makna sakramen Ekaristi untuk hidup umat?

2. Sejauh mana umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten sudah menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka?

3. Model katekese macam apa yang dapat membantu umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten menemukan makna sakramen Ekaristi untuk pengembangan iman mereka?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah:

1. Menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

2. Menggambarkan sejauh mana penghayatan sakramen Ekaristi di dalam pengembangan iman umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

(30)

memahami, dan menghayati makna sakramen Ekaristi khususnya dalam pengembangan iman mereka.

D. Manfaat Penulisan

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis tentang makna sakramen Ekaristi demi mengembangkan iman dalam kehidupan sehari-hari.

2. Membantu Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten semakin menghayati akan sakramen Ekaristi demi pengembangan iman.

3. Memberikan sumbangan kepada umat dalam memaknai sakramen Ekaristi demi pengembangan iman Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

E. Metode Penulisan

(31)

Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

F.

Sistematika Penulisan

Penulis dalam Skripsi ini memilih judul “Usaha Menemukan Makna Sakramen Ekaristi demi Pengembangan Iman Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten”, untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari skripsi ini, maka penulis menyampaikan pokok-pokok uraian dalam lima bab.

Bab I berisi pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan yang hendak penulis susun.

Bab II membahassakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat, yang meliputi makna sakramen Ekaristi yang bersumber pada Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, serta pandangan dari para ahli. Dalam bab ini terdapat tiga bagian: bagian pertama membahas sakramen Ekaristi yang meliputi tentang pengertian dan makna sakramen pada umumnya, pengertian dan makna sakramen Ekaristi.

(32)

untuk berbagi kepada sesama, dan Ekaristi memampukan umat untuk bersaksi kepada sesama.

Bab III membahas penghayatan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf pekerja Gondangwinangun Klaten terhadap makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman. Dalam bab ini terdapat dua bagian. Bagian pertama membahas Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten, yang meliputi sejarah paroki dan perkembangannya, situasi umum umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten, gambaran umum umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

Bagian kedua menyampaikan penelitian tentang penghayatan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten terhadap makna sakramen Ekaristi, yang meliputi desain penelitian, laporan dan pembahasan hasil penelitian, refleksi, serta kesimpulan penelitian.

(33)

persiapan katekese model SCP yang meliputi identitas pertemuan, pemikiran dasar serta pengembangan langkah-langkahnya.

(34)

BAB II

SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT

Bab II ini penulis menguraikan sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat yang memiliki kesinambungan dengan pembahasan pada bab sebelumnya. Dimana yang menjadi pokok permasalahan pada skripsi ini yakni keprihatinan penulis terhadap umat dalam memaknai Ekaristi, yang selama ini penulis melihat umat mengikuti Ekaristi masih bersifat ritualis dan kenyataannya tidak semua umat mampu menghayati sakramen Ekaristi dalam kehidupan beriman. Permasalahan inilah yang hendak penulis angkat dalam skripsi. Penulis memberikan sumbangan pemikiran dari berbagai sumber untuk membantu umat menemukan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

(35)

Bab II lebih merupakan kajian pustaka. Penulis pada bab ini membagi uraian menjadi tiga bagian, yakni pada bagian pertama penulis menjelaskan sakramen Ekaristi pada umumnya. Pada bagian kedua penulis menjelaskan tentang iman umat. Kemudian secara khusus pada bagian ketiga penulis menjelaskan Ekaristi sebagai tempat pengembangan iman umat.

Penulis pada bagian awal bab ini menjelaskan tentang sakramen Ekaristi yang bertujuan untuk membantu umat semakin memahami sakramen Ekaristi demi pengembangan iman dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat penting bagi umat untuk memahami sakramen Ekaristi karena dengan Ekaristi umat diharapkan mampu menemukan nilai-nilai hidup rohani demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia. Melalui Ekaristi umat memperoleh kekuatan rohani untuk berkembang dalam iman serta menghadapi berbagai permasalahan hidup dan memampukan diri untuk bersaksi bagi sesama.

A.Sakramen Ekaristi

1. Pengertian dan Makna Sakramen pada Umumnya a. Pengertian Sakramen

Sakramen yang berasal dari bahasa latin sacramentum, terdiri dari kata

sacro, sacer yang artinya kudus, suci, lingkungan orang kudus, bidang yang suci.

(36)

Penulis menyampaikan pengertian sakramen dari dokumen Gereja yakni

Kompendium Katekismus Gereja Katolik (2009: art. 224) yang menyatakan bahwa

“sakramen merupakan tanda yang mendatangkan rahmat”. Sakramen-sakramen

yang kita terima dari Gereja sungguh memberikan rahmat yang dapat dirasakan yakni kedamaian, ketentraman, persaudaraan, kerukunan, kasih sesama, dan sebagainya.

Menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983 Kan. 840: “sakramen merupakan tanda dan sarana yang mengungkapkan dan menguatkan iman”. Sakramen yang kita terima dalam Gereja memberikan kekuatan, menciptakan dan memperkokoh persatuan umat. Umat Kristiani yang menerima sakramen sungguh dipersatukan dalam Gereja dalam persekutuan Roh Kudus, sekaligus umat dipersatukan dengan Allah dalam kemuliaan-Nya.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) (1996: 400) mendefinisikan:

“sakramen sebagai peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan, dan

melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan”. Jadi sakramen itu sungguh-sungguh nyata datang dari Allah yang menyelamatkan umat. Hanya saja keselamatan yang datang itu melalui sakramen-sakarmen dan dapat dirasakan ketika kita dapat menghayatinya dalam hidup sehari-hari.

(37)

menerima sakramen dalam Gereja melambangkan kesatuan Allah dengan umat-Nya melalui rahmat dalam sakramen. Allah mencurahkan rahmat keselamatan bagi umat yang menerima sakramen, khususnya dalam sakramen Ekaristi, sebagaimana peristiwa keselamatan yang telah dilakukan oleh Yesus terhadap umat-Nya.

Sakramen yang ada di dalam Gereja menunjukkan suatu “simbol atau

lambang” keagaman. Simbol pada umumnya menyampaikan suatu hal yang

konkret dalam kehidupan yang melambangkan kehadiran sang Ilahi. Dengan demikian simbol memiliki peran yaitu menghadirkan sang Ilahi dalam Gereja. Jadi sakramen menurut Groenen (1990: 20) ialah “simbol religius keagamaan”.

(38)

ini memberikan daya kekutan Roh Kudus supaya umat mampu bersaksi dalam hidup sehari-hari. Sakramen Tobat menandakan perolehan pengampunan dari belas Kasih Allah atas segala kesalahan yang membuat kekecewaan terhadap-Nya serta disatukan kembali dalam Gereja atas dosa yang telah dilakukan atas sesama dalam hidup dan membantu umat dalam pertobatan (KGK, 1993: 312-360). Hal ini menjadi peristiwa konkret yang penulis lihat, terima dan ini sungguh memberikan rasa kedamaian, kebahagian, kesatuan, dan persaudaraan yang terjadi dalam hidup.

b. Makna Sakramen

Sakramen merupakan suatu misteri yang tak dapat dipahami secara tuntas oleh manusia. Misteri yang dimaksudkan di sini adalah rahasia karya keselamatan yang berasal dari Allah sendiri (KWI, 1996: 400). Kata misteri atau mysterion

(Yunani) dipergunakan untuk menerjemahkan sebuah kata Ibrani sôd. Mysterion

berasal dari kata my, kata kerja myein, yang memiliki arti menutup mulut atau mata sebagai reaksi atas pengalaman yang mengatasi nalar, pengalaman yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian mysterion memiliki sebuah makna dasar yaitu berhubungan dengan pengalaman akan Yang Ilahi, yakni suatu pengalaman batin yang tidak terlukiskan dengan kata-kata karena pengalaman perjumpaan dengan Yang Ilahi (Martasudjita, 2003: 62).

(39)

pekerjaan Allah. Aksi atau perbuatan yang baik dapat terwujud berkat adanya campur tangan Allah. Sakramen sungguh bermakna bagi manusia yang menerimanya ketika manusia itu mampu mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari (KWI, 1996: 400).

2. Pengertian dan Makna Sakramen Ekaristi a. Pengertian Sakamen Ekaristi

Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang artinya puji syukur.

Eucharistia merupakan kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani

eucharistein yang berarti memuji, dan mengucap syukur. Eucharistein dalam Perjanjian Baru, misal dalam Mat. 26: 27; Luk. 22: 19.20 digunakan bersama-sama dengan kata eulogein Mat. 26: 26; 1Kor 10: 16 yang memiliki arti memuji-bersyukur. Pengertian ini digunakan untuk menerjemahkan kata dari bahasa Ibrani

barekh artinya memuji dan memberkati. Barekh atau barekhah dalam tradisi liturgi Yahudi dipergunakan dalam konteks doa berkat perjamuan yang berisi pujian, syukur, dan permohonan. Doa berkat dalam tradisi Yahudi berlangsung dalam perjamuan makan Yahudi yakni doa berkat atas roti dan piala. Dengan demikian Ekaristi dapat dimengerti sebagai doa berkat yang berlangsung dalam perjamuan makan Yahudi (Martasudjita 2005: 28).

(40)

kemuliaan. Seluruh perjalanan hidup Yesus diabadikan di dalam Gereja. Gereja menjadi tempat yang dipercaya oleh-Nya untuk mengabadikan kenangan wafat dan kebangkitan-Nya. Hal ini menjadi tanda bahwa di dalam Ekaristi terlihat adanya kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan paskah, dimana rahmat dan jaminan kemuliaan yang akan datang dicurahkan kepada umat-Nya. Ekaristi menurut KHK 1983 (kan. 899 § 1) adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalamnya Kristus Tuhan, melalui pelayanan imam, mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa dengan kehadiran-Nya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diri-Nya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya.

(41)

Sedang Sumarno (2009: 29) dalam manuskripnya yang berjudul

Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki, menyatakan bahwa Ekaristi adalah

“ungkapan iman dalam bentuk perayaan syukur, yang jauh dari tindakan resmi

protokoler, suatu upacara formal dengan suatu aturan dan tata cara tertentu”. Berdasarkan pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian Ekaristi adalah suatu perayaan syukur untuk mengenangkan, menghadirkan, menghayati akan karya keselamatan Allah yang telah terwujud dalam diri Yesus Kristus dengan berpuncak pada kurban salib-Nya. Di dalam Ekaristi kita mengenangkan penderitaan Yesus sebelum penyerahan diri pada kayu salib untuk keselamatan seluruh umat beriman. Selain itu juga dalam Ekaristi kita berdoa memohon kehadiran Roh Kudus dalam perjamuan Ekaristi untuk memberkati roti dan anggur yang disantap bersama supaya menjadi santapan rohani. Roh Kudus juga yang menjadikan karya keselamatan Allah terwujud dalam dunia. Dan hal yang terpenting dalam Ekaristi kita diajak untuk menghayati seluruh karya keselamatan Allah dengan cara ikut ambil bagian di dalamnya.

b. Makna sakramen Ekaristi

1) Ekaristi sebagai Ungkapan Cinta Kasih Yesus yang Sehabis-habisnya Yesus selama hidup menumpahkan cinta kasih-Nya yang tanpa batas atau sehabis-habisnya kepada para murid-Nya. Hal ini tersirat dalam Yoh. 13:1 yang

berbunyi “sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa

(42)

senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya”. Ia memberikan pelayanan dengan kasih yang sungguh luar biasa. Ia mengasihi murid-murid-Nya tanpa batas dan menyayangi mereka sampai akhir hayat. Yesus memberikan kasih-Nya secara total kepada mereka sampai pada kesudahan dan Ia rela memberikan nyawa-Nya demi keselamatan para murid serta seluruh umat beriman.

Kematian Yesus di kayu salib mengungkapkan cinta kasih-Nya kepada para murid serta seluruh umat manusia demi persatuan dengan Allah. Ia mengorbankan diri di kayu salib demi memenuhi karya keselamatan dari Allah bagi umat-Nya. Ia memiliki jiwa pengorbanan yang sungguh luar biasa dan memiliki kasih yang sungguh total terhadap sahabat-sahabat-Nya. Hal ini dapat dilihat dalam Yoh 15: 13 yang berbunyi “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabatnya”. Yesus memberikan teladan bagaimana memberikan kasih terhadap sesama. Yesus mengajarkan nilai cinta kasih yang sungguh-sungguh menyentuh hati bagi sahabat-sahabat-Nya, tiada kasih yang sempurna selain kasih yang rela memberikan nyawa-Nya untuk orang yang dikasihi-Nya.

(43)

2) Ekaristi sebagai Perjamuan yang Mempersatukan Umat dengan Allah, Umat dengan Umat

Konsili Vatikan II mengajarkan Ekaristi sebagai perjamuan Paskah (SC 47). Hal ini dimengerti dalam keseluruhan perayaan Ekaristi sehingga Ekaristi menjadi tempat untuk mengenang seluruh karya keselamatan Yesus Kristus yang berakhir dengan wafat dan kebangkitan-Nya (Martasudjita, 2005: 297-298).

Pada zaman dahulu perjamuan adalah pengalaman kebersamaan yang paling mendalam dengan para peserta perjamuan dan sekaligus dengan Allah (Grün, 1998: 29). Perjamuan ini menunjukkan bahwa Allah mengundang dan mengajak para murid serta umat untuk berkumpul bersama dengan-Nya menjadi satu kesatuan keluarga besar. Perjamuan ini membuat umat merasakan kerinduan untuk berkumpul bersama. Hal ini menjadi tanda bahwa Allah solider atau peduli dengan umat, dan umat peduli dengan sesama dalam suatu kebersamaan. Perjamuan memampukan umat untuk dapat saling menjalin relasi dengan orang lain, entah itu orang yang dikenal maupun orang yang sama sekali tidak dikenal. Perjamuan Ekaristi sungguh mempersatukan umat di dalam tubuh Kristus. Perjamuan Ekaristi memberikan kedamaian, kesadaran, kesembuhan, dan kerinduan untuk kembali bersatu dengan Allah. Perjamuan ini sebagai tanda bahwa Allah sungguh baik dan berbelas kasih kepada umat-Nya.

Umat dalam mengikuti perjamuan Ekaristi diajak untuk bersatu dengan Allah melalui terang Roh Kudus (Koinonia). Koinonia merupakan bentuk keterlibatan umat untuk bersatu dengan Allah melalui Ekaristi dan membentuk suatu persaudaraan antar umat beriman dengan terang Roh Kudus. LG 7

(44)

Tuhan; maka, kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan bersatu antara kita”. Hal ini menjadi tempat dihimpunnya persatuan antara umat dengan Allah, umat dengan umat yang membentuk suatu Gereja. Allah selalu hadir di tengah hidup umat dalam setiap perkumpulan yang melibatkan kehadiran-Nya (Martasudjita, 2005: 358). Tuhan Yesus sendiri Bersabda “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18: 20).

3) Ekaristi sebagai Permohonan Seruan datang-Nya Karunia Roh Kudus (Epiklese)

(45)

Epiklese bukan hanya doa permohonan untuk Roh Kudus supaya turun untuk mengkuduskan roti dan anggur sebagai Tubuh dan Darah Kristus. Epiklese juga mengkuduskan umat Allah yang sungguh beriman. Berkat Roh Kuduslah umat Allah yang beriman memperoleh kesatuan diri dengan Allah melalui Tubuh dan Darah Kristus. Dengan demikian umat yang telah dikuduskan melalui karya Roh Kudus memperoleh hubungan yang mesra dengan Allah dan umat menjadi buah karya Roh Kudus yang telah disucikan atas segala perbuatan yang baik (Martasudjita, 2005: 358).

4) Ekaristi Memampukan Kita untuk Tinggal dalam Kristus

Di dalam Yohanes 1:39 Yesus bersabda: “Marilah dan kamu akan melihatnya. Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia”. Yesus mengundang para murid untuk tinggal bersama Dia. Yesus mengundang mereka untuk masuk dan bersatu dalam persekutuan dengan-Nya. Hal ini bertujuan agar para murid mengalami, merasakan, menghidupi dan mengalami sendiri misteri pribadi dan hidup Kristus. Dengan demikian para murid memiliki suatu pengalaman pribadi tinggal bersama Kristus dan pengalaman itu menjadi suatu misi dalam perutusan pewartaan kabar gembira ke seluruh dunia (Martasudjita, 2012: 21).

(46)

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.

Perikop ini mengungkapkan pengalaman tinggal dalam Kristus yang terlihat dalam pernyataan berikut: apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hal ini menunjukkan suatu kesatuan dan pengalaman iman yang luar biasa. Pengalaman tinggal bersama-Nya membuat kita sadar bahwa hidup bersama-Nya membawa suatu anugerah yang terindah, kedamain, cinta kasih, dalam seluruh hidup Kristus. Pengalaman inilah yang harus kita bawa bagi orang lain dalam hidup bersama di tengah-tengah dunia (Martasudjita, 2012: 22).

Peristiwa tinggal bersama Kristus terwujud di dalam Ekaristi. Di dalam Ekaristi Yesus menjadi Roti Hidup yang diserahkan bagi umat-Nya. Roti Hidup ini memberikan kehidupan bagi umat di seluruh dunia. Melalui Ekaristi umat diajak untuk masuk dan bersatu di dalam misteri Ekaristi, yakni mengenangkan misteri wafat dan kebangkitan-Nya. Peristiwa tinggal bersama Kristus terwujud dalam penyambutan Komuni Suci. Kita merayakan Ekaristi, menyambut tubuh dan darah-Nya dalam Komuni Suci menjadi tanda bahwa kita “tinggal di dalam

(47)

5) Ekaristi sebagai Sumber untuk Memperoleh Kekuatan Hidup Umat dalam Menghadapi Persoalan Hidup.

Ekaristi merupakan sumber kekuatan orang Kristiani. Dengan Ekaristi umat Kristiani memperoleh kekuatan untuk menghadapi masalah hidup sehari-hari (Martasudjita, 2012: 57). Umat dalam kehidupan sesehari-hari-sehari-hari memiliki permasalahan hidup yang kompleks. Umat tentunya ingin keluar dari permasalahan dan ingin memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Untuk itulah umat Kristiani selalu merayakan Ekaristi untuk menimba kekuatan dari Allah dalam menghadapi segala rintangan yang ada. Selain itu juga umat dapat memperoleh kekuatan untuk dapat mewartakan kabar gembira dari Allah kepada seluruh bangsa. Untuk itulah umat Kristiani tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya campur tangan Allah.

B. Iman Umat 1. Pengertian Iman

Iman adalah anugerah cuma-cuma dari Allah dan tersedia bagi semua orang yang dengan rendah hati mencarinya. Iman adalah tindakan pribadi sejauh menjadi jawaban bebas pribadi manusia kepada Allah yang mewahyukan Diri-Nya (KKGK, art. 28).

Iman adalah penyerahan total dari manusia kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan dengan sukarela. (KWI, 1996: 128).

(48)

satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran ilahi atas perintah kehendak yang digerakan oleh Allah dengan perantaraan rahmat-Nya.

Iman merupakan tanggapan bebas manusia terhadap Sabda Allah. Iman merupakan jawaban pribadi dan menyeluruh dari manusia terhadap Sabda Tuhan. Iman merupakan anugerah karya Allah sendiri (Adisusanto, 2011: 34, 3-5).

Berdasarkan pengertian di atas menurut penulis, iman adalah tanggapan atau jawaban dari pihak manusia secara bebas terhadap wahyu atau Firman Allah, melalui kegiatan akal budi menerima kebenaran ilahi yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat-Nya. Rahmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui Gereja-Nya, memampukan manusia menerima kebenaran ilahi, yang terdapat dalam Kitab Suci, ajaran-ajaran Gereja, dan Tradisi Gereja. Oleh karena itu, sebagai manusia Kristiani kita dipanggil untuk selalu mensyukuri anugerah Allah yang secara cuma-cuma mengalir dalam hidup dan perutusan kita, melalui doa, refleksi dan kontemplasi, dan terwujud dalam perbuatan cinta kasih.

2. Iman Gereja akan Yesus Kristus

(49)

dari Gereja dan juga menanamkan sikap percaya bahwa Yesus Kristus selalu hadir di dalamnya.

Peristiwa misteri paskah menjadi titik tolak kehidupan Gereja. Iman yang tumbuh dalam Gereja berasal dari Yesus Kristus yang telah mengalami sengsara, wafat, dan bangkit. Dengan peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus membuat Gereja-gereja yang ada di dunia ini mulai berkembang. Berkembangnya Gereja berawal dari pengalaman kebangkitan Yesus dan juga pengalaman para murid-Nya yang mengalami kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus Kristus yang telah dirasakan para murid mulai membentuk sebuah kelompok perdana yang lama kelamaan menjadi besar dan akhirnya terbentuk sebuah Gereja. Kehadiran Gereja sebagai tanda pengharapan kelanjutan misi Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat-Nya dan menghantar mereka mencapai kepenuhan hidup. Gereja juga memiliki tugas yang penting yaitu mewartakan Injil ke seluruh bangsa. Dengan pewartaan Injil maka Gereja menjadi hidup seturut kehendak Allah (Martasudjita, 2010: 83-87).

3. Pentingnya Iman di dalam Hidup Umat

Iman menjadi hal yang penting bagi umat dalam menjalani peziarahan hidup di dunia. Iman memampukan umat untuk dapat menemukan Allah yang hadir di dalam kehidupan mereka. Seperti dalam Mrk 10: 51-52 yang berbunyi

“Tanya Yesus kepadanya: Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?

(50)

melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya”. Orang buta yang terdapat dalam perikop tadi menunjukkan bahwa iman yang dimilikinya menuntun untuk menemukan Tuhan yang hadir dalam diri Yesus. Iman membawanya pada suatu keselamatan yang sungguh luar biasa bagi orang yang percaya kepada-Nya. Iman mendorong umat untuk selalu mengikuti Tuhan. Tuhan memberikan sabda-Nya melalui Injil supaya umat mampu menemukan nilai-nilai kerajaan Allah yang memberikan peneguhan, kebahagiaan di dalam peziarahan hidup.

Iman umat dapat memampukannya untuk memaknai, menghidupi, menemukan nilai hidup, dan bertahan dalam menghadapi persoalan hidup. Umat di tengah kenyataan dunia dan dengan segala pengalaman hidupnya mengalami banyak rintangan dalam penderitaan. Umat beriman dalam situasi seperti ini, memiliki harapan yang mengalir dari sikap iman: “Barang siapa menabur harapan

menuai hidup baru” (Galatia 6:8). Situasi krisis multi dimensi yang

berkepanjangan seperti sekarang ini mendorong umat untuk semakin dekat dengan Allah, dan dengan kekuatan dan kuasa Allah manusia mampu mengandalkan Allah menghadapi penderitaannya (KWI, 1996: 2-3).

4. Dasar Iman Umat

(51)

Kristus. Apa yang dikerjakan oleh Yesus merupakan ajaran yang benar karena berasal dari Bapa yaitu ajaran cinta kasih yang memberikan suatu pertobatan bagi umat manusia.

Yesus yang dihukum sampai mati membuat orang-orang yang terdekat merasa sedih. Apa yang telah mereka yakini seolah-olah hanya kebohongan karena orang yang dianggap Mesias telah mati dan misi yang telah dirintis-Nya dianggap telah gagal. Dengan kejadian yang telah dialami, murid Yesus berdoa memohon petunjuk dari Allah. Selama penyingkiran ke tempat yang tenang dan sampai pada hari ketiga kelompok kecil murid-murid Yesus (Maria Magdalena, Petrus dan Yohanes, dan dua orang murid yang berjalan ke Emaus) dan kelompok besar (10 murid, lalu 11 murid semuanya, kelompok besar 500 orang) menyatakan dan menyakini bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari mati. Pengalaman-pengalaman mereka ini membuat mereka berfikir apa yang harus dilakukannya untuk ke depan. Mereka merenungkan dan berdoa memohon petunjuk pada Allah. Di dalam permenungan, mereka merasakan kehadiran Allah dalam diri sehingga mereka sungguh dipenuhi Roh Allah yang bekerja dan berkarya dalam diri mereka, merekapun pergi memberikan kesaksian (Michel, 2001: 45-46).

(52)

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Dengan demikian maka hubungan antara wahyu dan iman saling berkaitan. Hal ini memiliki hubungan karena dengan menanggapi wahyu Allah dengan iman maka sasaran akan lebih tepat yakni Allah mewahyukan diri-Nya dan manusia menanggapinya. Manusia menerima wahyu Allah berarti dapat mengenal siapa Allah itu dan bila ingin lebih mengenal maka ia harus bergaul dengan Allah dari hati ke hati seperti halnya manusia menyatakan cintanya kepada sesamanya. (Dister, 1991: 85-86)

5. Ciri-ciri Iman Kristiani yang Dewasa

(53)

kedewasaan iman yang sudah ada dalam diri dapat tumbuh dan berkembang dan dimaknai dalam peziarahan hidup (Groome, 2010: 81).

Iman Kristiani yang dewasa diwujudkan melalui kegiatan di dalam hidup bersama dengan umat beriman lain di dalam dunia yakni; memupuk persaudaraan sejati, pelayanan yang tanpa syarat, pewartaan, liturgi, dan kemartiran. Dengan demikian Gereja mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah sebagai buah-buah iman. Di sisi lain iman yang dewasa juga mampu menciptakan habitus baru yakni keberpihakkan pada keprihatinan Allah bagi umat-Nya yang tersinggkir dari dunia.

C.Ekaristi sebagai Tempat Pengembangan Iman Umat

(54)

sungguh relevan dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari, hal ini karena membawa pesan Ekaristi dan nilai-nilai yang diperjuangkan Kristus di tengah dunia (Soetomo, 2002: 59-60).

1. Pengembangan Iman Umat

Wahyu yang datang dari Tuhan merupakan anugerah yang terindah untuk manusia. Manusia memberikan jawaban iman terhadap wahyu Allah. Wahyu merupakan pertemuan Allah dan manusia (KWI, 1996: 127). Pertemuan ini merupakan wujud kasih Allah yang ingin berelasi dengan manusia. Manusia dapat berelasi dengan mesra bersama Allah ketika manusia mampu menanggapi wahyu-Nya.

Iman yang berkembang memiliki suatu kedewasaan untuk bertindak atas kebenaran dari wahyu Allah. Iman yang dewasa berarti iman yang berkembang semakin matang secara penuh dan bersifat holistik mencakup segi pemikiran, hati, dan praksis. Umat yang sudah mencapai suatu kedewasaan pastinya mampu untuk menghayati dan bertindak sesuai dengan kebenaran Ilahi. Umat dapat berkembang dan dewasa dalam iman bila ia mampu untuk mengampuni, mengandalkan Allah dalam hidupnya, menolak tahayul, bertobat, bekerjasama dengan rahmat Allah, bersikap terbuka diri terhadap sesama, melayani, mewartakan cinta kasih, selalu bersyukur, membangun relasi dengan Allah dan sesama, berdamai dengan siapa saja, rendah hati, serta tidak main hakim sendiri (Heryatno, 2008: 29).

(55)

mengalami keselamatan dari Allah. Wahyu Allah memberikan suatu keselamatan yang membuat umat dapat mengalami kebebasan, kesejahteraan, kedamaian, keadilan, cinta kasih, kegembiraan, kebahagiaan, kerukunan, ketentraman, kesalingan (Heryatno W.W, 2008: 32). Situasi seperti inilah yang dikehendaki oleh Allah bagi umatNya. Kita mengakui iman dan iman harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mencapai kepenuhan hidup (Dister, 1991: 69). Ada tertulis dalam surat rasul Yakobus 2: 17 yang berbunyi “demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”. Perbuatan yang dimaksudkan di sini tentunya tindakan baik bagi orang lain dalam hidup sehari-hari. Iman yang disertai perbuatan baik menunjukkan perwujudan yang konkrit dalam memperkembangkan iman yang ada dalam hidup.

2. Ekaristi Memberikan Semangat untuk Berbagi kepada Sesama

(56)

dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”. Ayat ini memberikan inspirasi bagi umat beriman untuk saling berbagi kepada sesama. Dalam konteks hidup sekarang ini berbagi dapat berupa apa saja entah itu berupa barang, kebahagiaan, kesedihan, tenaga, pelayanan, maupun pengalaman iman. Hal ini menjadi peristiwa iman yang juga diangkat dalam kongres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang (KAS) I 22-29 Juni 2008 di Gua Maria Kerep Ambarawa untuk menggerakkan umat berbagi lima roti dan dua ikan pada zaman sekarang lebih dikenal dengan solidaritas antar sesama (Pujosumarto, 2008: 9-13).

Kongres Ekaristi mengajak kita untuk melakukan tindakan berbagi lima roti dan dua ikan. Kongres Ekaristi mengajarkan pelayanan untuk semangat berbagi lima roti dan dua ikan dan sebagai kesempatan untuk menggerakkan umat untuk proaktif terhadap kenyataan hidup di sekitar, bersyukur atas pengalaman Ekaristi yang memberikan kekuatan untuk dapat bertindak berbagi kepada sesama, peduli kepada KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel), memaknai seluruh tindakan baik yang telah dilakukan bagi sesama (Pujosumarto, 2008: 24-25). Hal ini berkaitan dengan perutusan Ekaristi. Kita setelah menerima Ekaristi mendapat tugas pengutusan. Kita diutus untuk membagikan kasih dari Tuhan untuk sesama dalam kehidupan sehari-hari (Martasudjita, 2008: 24).

(57)

terakhir. Kita melalui teladan ini diharapkan mampu untuk memberikan pelayanan bagi sesama.

3. Ekaristi Memampukan Umat untuk Bersaksi kepada Sesama

Yesus setelah bangkit mengutus para murid untuk bersaksi atas kebangkitan-Nya. Mereka diutus untuk mewartakan kabar gembira ke seluruh bangsa dan diberi kuasa untuk membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, sebagaimana yang tertulis dalam Matius 28: 18-20 yang berbunyi,

Yesus mendekati mereka dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Perikop ini mengungkapkan bahwa kita sebagai pengikut Kristus diberikan kuasa untuk bersaksi dan mewartakan kabar gembira bagi siapa saja. Kita sebagai pengikut Kristus diutus untuk bersaksi membawa kedamaian, ketentraman dan kasih di tengah dunia.

Yesus sebelum naik ke Surga berpesan kepada para murid untuk menjadi saksi atas apa yang telah dilihat-Nya. Hal ini tersirat dalam Kis. 1: 8 yang

berbunyi “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas

(58)

bertindak, dan berelasi di tengah hidup masyarakat, serta bekerja di tengah masyarakat dengan semangat injili (Magnis-Suseno, 2004: 56).

(59)

BAB III

PENGHAYATAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN TERHADAP MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN

IMAN

Dalam bab II telah diuraikan tentang sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat. Pemahaman secara teoritis sakramen Ekaristi dan usaha menemukan maknanya demi mengembangkan iman umat melalui Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan dari pendangan para ahli sungguh membantu umat untuk lebih memahami, menemukan makna dan mewujudkan nilai yang ditemukan dalam sakramen Ekaristi. Hal ini juga membantu umat agar mampu menentukan aksi perwujudan yang konkret dalam hidup sehari-hari.

(60)

dalam laporan penelitian. Melalui hasil penelitian tersebut penulis berharap dapat mengetahui sejauh mana umat mampu menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka. Penulis kemudian mengusulkan model katekese yang cocok untuk membantu umat menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan imannya.

A.Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten 1. Sejarah Paroki dan Perkembangannya

Penulis dalam menguraikan sejarah paroki dan perkembangannya berdasarkan sumber data yang diperoleh dari sekertariat dan PPDP (2006: 1-2) a. Tahun 1963-1970: Awal Berdiri

Tahun 1963 merupakan awal berdirinya Gereja di Gondangwingun dengan dibelinya tanah beserta bangunan rumah joglo di dukuh Minggiran, Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Tahun 1964 bangunan kecil di atas tanah tersebut diberkati dan dijadikan sebagai kapel. Dengan peristiwa kepemilikan dan pemberkatan ini, kegiatan ibadat dan kegiatan-kegiatan kegerejaan semakin intensif dilaksanakan. Tahun 1969 - 1970 rumah joglo direhab dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lebih layak sebagai gereja. Pada bulan juni 1970 kapel yang sudah selesai direhab diberkati dan sekaligus dipilih Santo Yusuf Jurukarya sebagai pelindung Gereja Gondangwinangun. Tahun 1973 Gereja Gondangwinangun menjadi Gereja Stasi yang merupakan bagian dari reksa pastoral Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten.

(61)

Tahun 1980 Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten mengubah pola sentralisasi menjadi desentralisasi (lebih dikenal dengan istilah paroki federatif). Sejak tahun ini, stasi-stasi diberi kewenangan untuk mengelola pembangunan fisik, pembangunan jemaat dengan bimbingan dan didampingi oleh para Romo yang berkarya di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten.

Gagasan tentang paroki muncul pertama kali ketika pada tahun 1980 diselenggarkan audiensi dengan Bapak Kardinal Yustinus Darmayuwana, Pr. Bapak Kardinal memberi saran supaya Gondang tidak usah minta menjadi paroki karena jika tiba saatnya dengan sendirinya akan menjadi paroki.

Tahun 1985 Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten menerapkan sistem kepengurusan “Pancapramana” yaitu kepengurusan dewan paroki yang terdiri dari pengurus-pengurus stasi yang ada di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten. Model ini semakin mempertegas Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten sebagai paroki federatif. Sejak saat itu kepengurusan stasi semakin diberdayakan karena lebih mirip dengan kepengurusan sebuah paroki.

(62)

pada saat audiensi dengan wakil umat setelah penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Santo Yusuf Jurukarya Gondangwinangun. Waktu itu Bapak Uskup memberi lampu hijau, tetapi masih ada kendala yaitu jumlah imam yang sangat terbatas. Pada kesempatan ini, dua dari tiga romo yang menggembalakan Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami musibah kecelakaan lalu lintas.

c. Tahun 2001-2004: Pembentukan Paroki

Sejak tahun 2001 keinginan dan persiapan untuk menjadi paroki semakin intensif diupayakan. Mulai Januari 2003, persiapan Stasi Gondangwinangun menjadi Paroki diagendakan dalam rapat Presidium Dewan Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten. Sejak itu segala persiapan dilaporkan kepada Dewan Paroki. Salah satu langkah yang ditempuh oleh Dewan Stasi Gondangwinangun adalah mengajukan permohonan secara resmi kepada Bapak Uskup Agung Semarang dengan harapan Bapak Uskup berkenan menanggapi dan meluluskan serta meresmikan Gereja Stasi Santo Yusuf Jurukarya Gondangwinangun menjadi Paroki.

Permohonan itu diterima dan Gondangwinangun resmi menjadi Paroki pada 1 Mei 2004 dengan berlindung pada Santo Yusuf Pekerja. Pastor yang pernah berkarya di Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun sejak 1 Mei 2004:

NO MASA TUGAS NAMA PASTOR DAN JABATAN

1 1 Mei 2004 - 1 Agustus 2004

(63)

2

1 Mei 2004 -

Pastor Paulus Susanto Prawirowardoyo, Pr. (Pastor Pembantu)

3 1 Agustus 2004 - 15 Juli 2012

Pastor Augustinus Toto Supriyanto Dw., Pr. (Pastor Kepala)

4

12 Juli 2012 -

Ig. Sukawalyana, Pr (Pastor Kepala)

2. Situasi Umum Umat Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten

Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten telah genap berusia 8 tahun. Usia ini termasuk muda bagi suatu paroki yang berdiri di dukuh Minggiran, desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Dalam usia yang relatif muda ini, paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten memiliki potensi untuk dapat memberdayakan umat, serta meningkatkan kesatuan komunitas-komunitas lingkungan dalam Gereja paroki. Umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten memiliki tugas untuk mengembangkan Gereja, meningkatkan rasa persaudaraan, dan mewartakan kabar gembira bagi orang lain dalam Gereja maupun masyarakat. Nilai-nilai Kristiani yang telah diperoleh umat dalam Gereja diharapkan menjadi motivasi, semangat untuk selalu terlibat dalam kegiatan menggereja dan memasyarakat.

(64)

Talun, Fransiskus Xaverius Klampokan, Santo Paulus Nganten, Tyas Dalem Rejoso. Jumlah umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun kurang lebih 3, 318 jiwa dan 1,071 KK. Hal ini terdiri dari seluruh umat yang berasal dari keluarga Katolik maupun yang non-Katolik yang berpindah Katolik atau telah dibaptis.

Umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun terpencar di sekitar paroki. Kendati terpencar umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun tetap merupakan satu kesatuan utuh. Sebagaimana Keuskupan Agung Semarang menyadari diri sebagai persekutuan (communio) umat beriman “yang disatukan

berdasarkan kesatuan Allah Tritunggal yakni Bapa, Putra dan Roh Kudus”. Demikian juga umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun ada dalam kesatuan Allah Tritunggal Maha Kudus. Kesatuan Tritunggal menjadi model kesatuan dan tujuan hidup. Selain itu juga umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun diajak untuk membangun Gereja yang mandiri dan hidup. Gereja yang mandiri dan Gereja yang hidup dalam habitus baru, berpengharapan, terlibat, bergairah, murah hati, dan peduli dalam seluruh aspek kehidupan umat.

Adapun kegiatan rutin umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun yakni:

(65)

b. Kerja Bakti membersihkan Gereja dan menata hal-hal yang ada dalam Gereja sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan perwilayah atau lingkungan. c. Perayaan Ekaristi di salah satu wilayah atau lingkungan setiap bulannya sesuai

dengan jadwal yang telah ditentukan oleh masing-masing wilayah atau lingkungan.

Kegiatan-kegiatan rutin inilah yang umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun lakukan. Kegiatan ini membangkitkan semangat umat untuk lebih terlibat dalam menggereja. Hal ini merupakan awal untuk meneladani Santo Yusuf Pekerja, sebagai pelaksana sabda yang tanpa banyak kata, saleh dan

prasaja (sederhana), serta dapat hidup dan bekerja sama dengan siapa pun untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (Flp 1:6). Tetapi menurut penulis kegiatan rutin ini masih bersifat interen maksudnya terbatas hanya pada liturgi. Hal ini belum cukup sehat karena hanya berfokus satu aspek kegiatan pastoral. Pada hal ada beberapa aspek yakni kerygma (pewartaan), diakonia (pelayanan), koinonia (persaudaraan),

liturgia (liturgi), dan martiria (bersaksi) yang perlu mendapat perhatian secara seimbang.

3. Gambaran Umum Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten

(66)

Lingkungan santo Antonius Joton merupakan bagian dari paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Lingkungan Santo Antonius terletak di 3 desa Jambon, Tangkilan, Tegalyoso, Kecamatan Jogonalan dan terletak di bagian utara paroki. Lingkungan ini merupakan pemekaran dari suatu wilayah yakni wilayah Matius Joton paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun. Luas lingkungan santo Antonius Joton kurang lebih 2 Km2 terdiri dari persawahan yang menjadi mata pencaharian umat.

b. Kegiatan Umat dalam Gereja maupun Masyarakat

Umat lingkungan Santo Antonius Joton memiliki gedung pertemuan untuk kegiatan. Gedung ini cukup luas dan selalu digunakan umat untuk pertemuan lingkungan. Gedung ini juga terbuka untuk pertemuan bagi masyarakat sekitar bila ingin memakainya. Gedung ini berdampingan dengan Gedung TK Indriasana sehingga terlihat lebih nyaman, rapi, dan terlihat luas.

Kegiatan rutin umat adalah sembahyangan (pendalaman iman). Kegiatan ini diadakan sebulan sekali setiap tanggal 15. Pada setiap tanggal 15 tersebut, umat tidak hanya menyelenggarakan sembahyangan (pendalaman iman) tetapi juga arisan. Hal ini dilakukan umat untuk meningkatkan keakraban dan persaudaraan. Tempat kegiatan ini selalu berpindah-pindah dan untuk penentuan tempat dengan diundi. Kegiatan ini dimulai pukul 19.30 dan dihadiri oleh kelompok orang tua. Pada bulan Mei dan Oktober umat menyelenggarakan doa rosario. Kegiatan ini melibatkan seluruh umat lingkungan.

(67)

Kegiatan ini diadakan setiap hari Selasa dan Sabtu pukul 19.00, tempat kegiatan di gedung pertemuan. Kegiatan ini biasanya dihadiri oleh para orang tua dan keluarga muda. Selain kegiatan koor, umat juga memiliki kelompok ibu-ibu WK (Wanita Katolik) yang mengadakan pertemuan setiap minggu kedua pukul 16.00. Kegiatan ini biasanya diisi dengan renungan singkat dan kemudian dilanjutkan arisan.

Lingkungan Santo Antonius juga memiliki kegiatan OMK dan PIA (Pembinaan Iman Anak). Kegiatan ini bertujuan mengaktifkan kaum muda untuk berlatih terlibat dalam kegiatan OMK (Orang Muda Katolik) dan juga memberikan hal positif bagi kaum muda. Setiap ada kegiatan OMK atau PIA di Gereja, OMK dan PIA selalu berkumpul dan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Kegiatan ini sungguh didukung oleh seluruh umat, karena umat mengharapkan kaum muda Katolik memperoleh kegiatan yang positif untuk mengembangkan iman mereka. Dukungan mereka yakni dengan memberikan waktu kepada putra/putrinya untuk pergi mengikuti kegiatan Gereja serta menyediakan transportasi bagi mereka.

Figur

Tabel 1:  Identitas Responden
Tabel 1 Identitas Responden . View in document p.76

Referensi

Memperbarui...