• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Motif Prososial Pada Anak Sekolah Minggu Usia 7-12 di Gereja "X" Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Motif Prososial Pada Anak Sekolah Minggu Usia 7-12 di Gereja "X" Bandung."

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai motif prososial pada anak sekolah minggu usia 7-12 Tahun Gereja “X” di Bandung. Dengan pertimbangan materi pengajaran yang diajarkan di sekolah minggu dan lingkungan gereja sarat dengan nilai-nilai prososial. Variabel yang diteliti adalah motif prososial. Penelitian dilakukan pada anak sekolah minggu usia 7-12 tahun,. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan telnik survei.

Penelitian ini didasari oleh teori Hoffman (1975) akan motif prososial dengan aspek kognisi dan afeksi dan dilengkapi dengan elemen–elemen dari tiap- tiap aspek yang dikembangkan oleh Kornadt (198)5.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur motif prososial adalah tes gambar-situasi prososial, terdiri atas sepuluh gambar dengan situasi prososial. Tes gambar-situasi prososial ini menjaring lima elemen yang terdapat dalam motif prososial yaitu, elemen persepsi terhadap situasi, elemen nilai prososial, elemen perspektif sosial, elemen empati, dan elemen afek positif (Hoffman dalam Eisenberg, 1982). Alat ukur ini merupakan modifikasi dari alat ukur yang disusun oleh Sri Untari Pidada (1988).

Pengujian validitas alat ukur motif prososial menggunakan tehnik koefisiensi korelasi point biserial, sedangkan realibitas menggunakan tehnik koefisiensi reliabilitas Kuder Richardson (KR-20). Validitas dari alat tes adalah 0,30. Dan reliabilitasnya adalah.... subyek penelitian berjumlah 30 orang.

▸ Baca selengkapnya: liturgi ibadah natal anak sekolah minggu

(2)

LEMBAR JUDUL……… i

LEMBAR PENGESAHAN……….ii

KATA PENGANTAR……….iii

DAFTAR ISI………v

DAFTAR BAGAN………... viii

DAFTAR LAMPIRAN……… ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah………..………….. 1

1.2. Identifikasi Masalah……… 6

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian……… 6

1.4. Kegunaan Penelitian……….……….. 6

1.5. Kerangka Pikir………..…….. 7

1.6. Asumsi……….…... 15

BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1. Defenisi Prososial……… 16

2.2. Motif Prososial………. 17

2.2.1. Pengertian Motif Prososial……….. 17

(3)

vi

Universitas Kristen Maranatha 2.2.3. Faktor–faktor yang mempengaruhi Perkembangan

Motif Prososial……… 22

2.2.3.1. Faktor Internal... 22

2.2.3.2. Faktor Eksternal………..………..…. 24

2.3. Masa Pertengahan dan Akhir Anak-anak 2.3.1. Definisi dan Batasan………... 27

2.3.2. Tugas Perkembangan……….. 27

2.3.3. Perkembangan Kognitif Piaget………...……… 28

2.3.4. Perkembangan Sosial ………...……….. 30

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian... 31

3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 32

3.2.1 Variabel Penelitian ... 32

3.2.2 Definisi Operasional. ... 32

3.3. Alat Ukur………. 34

3.3.1. Rancangan Alat Ukur……… 34

3.3.2. Rincian Alat Ukur... 34

3.3.3. Sistem Skoring... 35

3.3.4 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur...36

3.3.4.1. Validitas Alat Ukur………. 36

3.3.4.2. Reliabilitas Alat Ukur……… 37

(4)

3.5. Teknik Analisis Data……… 39

DAFTAR PUSTAKA ... 40

DAFTAR RUJUKAN... 41

(5)

viii

(6)
(7)

1

Universitas Kristen Maranatha PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah bangsa yang dikenal dengan keramahtamahannya serta

budaya gotong royong yang dimiliki masyarakatnya sejak dahulu kala. Hal ini

dikarenakan bangsa Indonesia sejak dahulu sudah menanamkan nilai-nilai

kemanusiaan, seperti membantu orang lain, saling tolong menolong, serta saling

melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu manusia sebagai makhluk sosial tidak

dapat hidup menyendiri, tetapi senantiasa membutuhkan dan dibutuhkan oleh

orang lain

Namun sekarang ini masyarakat indonesia memperlihatkan kecenderungan

untuk tidak lagi mengutamakan nilai–nilai kemanusian. Hal ini mengakibatkan

mereka cenderung mementingkan dirinya sendiri. Nilai-nilai kemanusiaan

berkaitan erat dengan interaksi antar manusia. Seperti sudah umum diketahui,

manusia adalah makhluk sosial yang hidup saling berinteraksi dengan sesamanya.

Dengan demikian, nilai-nilai kemanusiaan sebaiknya ditanamkan sejak dini.

Salah satu tahapan kehidupan yang akan dilalui oleh seseorang adalah

masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak merupakan tahap perkembangan yang

penting untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam masa

perkembangannya anak-anak harus belajar berinteraksi dan bersosialisasi dengan

orang lain. Dalam proses tersebut anak dituntut untuk mampu menyesuaikan diri,

(8)

mempelajari berbagai keterampilan sosial sehingga dapat hidup berdampingan

dengan orang lain secara harmonis.

Dalam berelasi sosial dapat tercermin bagaimana sikap anak terhadap

orang lain, pengalaman sosial, serta seberapa besar kepedulian anak terhadap

kepentingan orang lain. Dalam proses sosialisasi, anak mempelajari cara

berinteraksi dengan orang lain. Anak juga belajar bagaimana berperilaku agar

dapat diterima dalam pergaulan, secara tidak langsung anak harus mau

memperhatikan kepentingan orang lain disamping kepentingan dirinya pribadi.

Melalui proses belajar secara tidak langsung tersebut, anak diharapkan dapat

bersosialisasi dan tumbuh sebagai individu yang memiliki kepekaan serta

kepedulian terhadap situasi dan permasalahan yang dihadapinya sehari-hari.

Nilai–nilai sosial yang ditanamkan seperti keinginan untuk saling

menolong, membantu, serta berbagi dengan sesamanya dapat menumbuhkan

motif prososial pada anak. Motif prososial adalah dorongan dari dalam diri untuk

menampilkan tingkah laku menolong dan berbagi serta bertujuan untuk

meningkatkan kesejahteraan orang lain tanpa mengharapkan imbalan dari luar

(Eisenberg, 1982).

Konsep dari motif prososial berakar dari doktrin religi (Eisenberg, 1982).

Dimana semua agama mengajarkan pemeluknya mengenai nilai-nilai yang

bercirikan prososial. Salah satu agama yang diakui di negara kita adalah agama

Kristen Protestan. Didalam agama Kristen Protestan, individu diajarkan untuk

mengasihi orang lain sebagaimana mengasihi dirinya sendiri. Pengajaran ini dapat

(9)

3

Universitas Kristen Maranatha dalam kitab suci agama Kristen Protestan. Salah satu kisah yang diceritakan

adalah cerita mengenai orang Samaria yang berbelas kasihan membalut orang

asing yang terluka, mengantarnya ke penginapan dan menanggung biaya

penginapannya.

Kristen Protestan tidak hanya memberikan pendidikan keagamaan kepada

orang dewasa saja namun juga memiliki satu wadah pelayanan yang khusus

diperuntukkan bagi anak-anak. Wadah tersebut adalah melalui Sekolah minggu.

Seperti yang diketahui peneliti melalui proses wawancara yang dilakukan, sekolah

minggu gereja ”X” memiliki tujuan memelihara dan mengembangkan aspek

pendidikan sekaligus aspek ibadah pada anak serta wadah sosialisasi anak di luar

lingkungan keluarga dan sekolah. Selain itu, Sekolah X memiliki beberapa

keunikan dan keunggulan dibanding dengan sekolah minggu lainnya.

Aktivitas pada sekolah minggu Gereja X lebih dititik beratkan pada

pendalaman Alkitab dan aplikasinya pada lingkungan sosial anak. Pendalaman

dan pembahasan Alkitab tersebut tidak disampaikan secara monoton dan searah

dari guru sekolah minggu kemurid, akan tetapi pendalaman Alkitab tersebut

disampaikan secara interaktif dimana anak sekolah minggu diberikan kesempatan

untuk bertanya menjawab pertanyaan bahkan mengemukakan pendapat terkait

dengan pembahasaan Alkitab.

Dalam mengaplikasikan pengajaran dan pendalaman Alkitab, Gereja X

sering mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dengan tujuan memupuk rasa

persaudaraan, dan sekaligus mengajarkan kepada anak sekolah minggu bagaimana

(10)

disesuaikan dengan pengajaran Alkitab. Gereja “X” biasanya melakukan hal ini

dengan cara mengadakan perlombaan ataupun pertandingan antar kelompok anak

sekolah minggu yang dimana anggota kelompok tersebut telah ditentukan

sebelumnya. Dari kegiatan pertandingan atau perlombaan tersebut, Gereja

berharap dapat mengajarkan cara berkerjasama, saling tolong-menolong, dan cara

menghadapi masalah masalah lainnya di dalam bersosialisasi, dan yang paling

penting bagaimana anak sekolah minggu saling bantu membantu serta perhatian

terhadap temannya dengan berdasar pada pengajaran-pengajaran yang bersumber

dari Alkitab.

Selain aktivitas tersebut diatas, pendekatan terhadap orang tua anak

sekolah minggu juga dilakukan oleh Gereja “X” dengan memberikan bimbingan

khusus dan wadah berkomunikasi antara orang tua murid dengan guru sekolah

minggu sehingga dalam wadah tersebut kedua belah pihak dapat bertukar pikiran

berkaitan dengan proses pengajaran dan pengembangan anak. Dari hal ini, Gereja

juga mengharapkan adanya kesatuan pengajaran sehingga apa yang didapatkan di

lingkungan Gereja juga didapatkan dalam lingkungan rumah atau keluarga.

Melihat hal-hal tersebut diatas sekolah minggu pada Gereja “X” mempunyai nilai

yang khas dibandingkan gereja gereja lainnya.

Sekolah minggu gereja “X” dalam tahap belajarnya dibagi dalam dua sesi.

Sesi yang pertama adalah sharing dan pujian (menyanyikan lagu). Pada sesi ini

guru sekolah minggu akan menanyakan kabar anak-anak sekolah minggunya

selama satu minggu, guru juga akan mengajak anak-anak untuk mendoakan

(11)

5

Universitas Kristen Maranatha bagaimana pengalaman mereka saat membantu orang tua mereka. Guru sekolah

minggu juga akan memimpin anak-anak dalam bernyanyi beberapa lagu pujian

yang diiringi oleh alat musik. Pada sesi yang pertama secara tidak langsung anak

mulai diajarkan bagaimana menumbuhkan rasa empati dari pengalaman mereka

sendiri dan teman-temannya.

Sesi yang kedua adalah pemberitaan firman Tuhan. Pada sesi ini guru

sekolah minggu akan menceritakan kisah serta tokoh-tokoh dalam Alkitab sesuai

dengan materi pada buku panduan, seperti tokoh Yesus yang selalu bertindak

kasih, tolong menolong, membantu, berbagi, saling memaafkan, dan saling

mendoakan. Pada sesi yang kedua ini juga guru ingin menanamkan perilaku yang

bercirikan prososial melalui cerita-cerita dalam alkitab.

Pembelajaran di sekolah minggu gereja “X” juga dibagi dalam kelas

kelompok umur. Kelas balita terdiri dari anak yang berusia 1-6 tahun, kelas anak

kecil terdiri dari anak yang berusia 7-12 tahun, kelas remaja terdiri dari anak yang

berusia 13-15 tahun. Pembagian tersebut dibentuk agar dapat mempermudah anak

menyerap informasi yang diberikan sesuai dengan usia anak. Dalam tahap

perkembangan kognitif, anak yang berusia 7-12 tahun berada pada tahap konkrit

operasional dimana anak sudah mampu memahami sudut pandang orang lain,

berpikir secara logis serta tidak lagi mementingkan dirinya sendiri, serta

kemampuan untuk menempatkan diri (Piaget, 198). Hal ini merupakan salah satu

faktor pendukung terbentuknya tingkah laku prososial. Dalam upaya untuk

memenuhi tugas–tugas perkembangan dapat dilatih melalui interaksi individu

(12)

harus belajar mengembangkan keterampilan–keterampilan bersosialisasi yang

diantaranya melalui tingkah laku prososial.

Pertemuan di sekolah minggu hanya satu kali dalam seminggu, namun di

sekolah minggu anak selalu diajarkan dan ditekankan mengenai tingkah laku yang

bercirikan prososial, seperti saling menolong, membantu teman yang

membutuhkan bantuan Dengan waktu pertemuan yang tidak begitu lama, namun

jika pengajaran tersebut ditekankan dan dilakukan secara berulang-ulang akan

mendorong anak untuk menanamkan tingkah laku prososial pada dirinya. Oleh

karena itu, lingkungan sekolah minggu memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam

pembentukan tingkah laku prososial pada anak.

Anak-anak terlihat mulai mengerjakan menggunakan perlengkapan

masing-masing. Melihat situasi 5 orang anak yang tidak membawa perlengkapan,

seorang guru bertanya kepada seluruh anak, siapa yang bersedia untuk

meminjamkan alat tulisnya. Peneliti melihat reaksi berbeda-beda dari tiap anak.

Dari 19 orang anak, 21% anak mengangkat tangan, memberi tanda bahwa mereka

bersedia untuk meminjamkan. Sedangkan 15% anak terlihat menggeleng kepala,

menandakan bahwa mereka tidak bersedia meminjamkan. Setelah aktifitas

berakhir, peneliti berusaha untuk mewawancarai 2 orang anak yang tadi bersedia

untukmeminjamkan perlengkapan mereka. Kedua anak tersebut mengatakan

bahwa “kan kita memang harus nolong teman, Tuhan ngajarin buat menolong”.

“kan kasihan, dia jadi gak bisa ngerjain”

Peneliti juga mewawancarai 3 orang anak yang menolak untuk

(13)

7

Universitas Kristen Maranatha minggu lalu udah dibilangin”. 2 orang anak mengatakan “nanti punya aku rusak

kalo dipinjemin”. Padahal pada usia 7-12 tahun, anak berada pada konkrit

operasional, dimana anak belajar menyesuaikan diri dengan teman–teman sebaya,

mengembangkan hati dan norma, mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai,

dan juga anak belajar mengembangkan sikap dalam kelompok sosial dan intuisi.

Seperti dalam sekolah minggu anak-anak belajar untuk berinteraksi serta peduli

terhadap teman-temannya.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti

pada anak sekolah minggu dan guru di Gereja “X” diperoleh informasi serta

gambaran yang beragam dari perilaku tiap anak. Nampak anak cenderung akan

menolong temannya jika diberi penghargaan atas perilaku menolong yang

dilakukannya, anak juga cenderung menolong jika disuruh oleh orang lain seperti

disuruh oleh orang tua atau gurunya. Dari hasil observasi dan wawancara

diperoleh juga data bahwa terkadang anak tahu situasi tersebut membutuhkan

pertolongan namun tidak ada keinginan anak untuk membantu, sehingga perilaku

yang muncul adalah anak hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa.

Walaupun demikian ada juga anak yang menolong temannya ketika anak

menyadari situasi tersebut membutuhkan pertolongan tanpa disuruh oleh orang

tua maupun guru. Karena menurut mereka, kita sebagai manusia perlu menolong

teman kita yang membutuhkan bantuan karena Tuhan mengajarkan kita untuk

saling tolong menolong.

Adapun beberapa perasaan yang muncul ketika melihat teman yang

(14)

sehingga mendorong anak untuk menolong teman tersebut. Namun ada juga anak

yang merasa biasa saja melihat situasi yang membutuhkan pertolongan. Padahal

pada usia 7-12 tahun, anak berada pada fase kongkrit operasional. Dimana anak

belajar menyesuaikan diri dengan teman–teman sebaya, mengembangkan kata

hati, moral dan nilai-nilai, dan juga anak belajar mengembangkan sikap dalam

kelompok sosial dan intuisi. Seperti dalam sekolah minggu anak-anak belajar

untuk berinteraksi serta peduli terhadap teman-temannya

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai motif prososial pada anak sekolah minggu usia 7–12 tahun di

Gereja ”X” Bandung.

1.2. Identifikasi Masalah

Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah seberapa kuat motif

prososial anak sekolah minggu usia 7-12 tahun di Gereja ”X” Bandung.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh data serta gambaran

tentang motif prososial pada anak sekolah minggu usia 7-12 tahun di Gereja “X”

Bandung.

(15)

9

Universitas Kristen Maranatha Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa kuat motif

prososial pada anak sekolah minggu usia 7-12 tahun di Gereja “X” Bandung.

1.4. Kegunaan Penelitian 1.4.1. Kegunaan Ilmiah

 Kegunaan ilmiah dari penelitian ini untuk memberikan informasi tambahan

dalam bidang Psikologi khususnya bidang Psikologi sosial mengenai motif

prososial anak sekolah minggu usia 7-12 tahun di Gereja “X” Bandung.

 Sebagai bahan acuan dan informasi bagi penelitian lebih lanjut mengenai motif

prososial.

1.4.2 Kegunaan Praktis

 Informasi bagi komisi anak di gereja “X” mengenai motif prososial yang

dimiliki anak sekolah minggu. Informasi ini dapat digunakan untuk menyusun

program-program selanjutnya guna mengembangkan motif prosososial.

 Informasi bagi guru sekolah minggu mengenai motif prososial yang dimiliki

oleh anak guna mengembangkan motif prososial tersebut agar anak senantiasa

mampu berperilaku menolong dan membantu sesamanya yang membutuhkan.

1.5. Kerangka Pemikiran

Sekolah minggu merupakan suatu wadah yang dibentuk oleh gereja

khususnya bidang pelayanan yang diperuntukkan kepada anak. Di sekolah

(16)

pendidikan. Aspek ibadah disini adalah memberikan pembelajaran kepada anak

mengenai pengenalan akan Tuhan sejak mereka masih kecil, serta

mengembangkan hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesamanya, seperti

saling tolong-menolong

Dari hasil penelitian Clarke-Stewart and Fein (dalam Live Spand

Defelopment jilid I, Santrock, 1983), dikemukakan bahwa pendidikan pada masa

kkanak umumnya memiliki pengaruh positif pada perkembangan pada

anak-anak. Anak menjadi lebih kompeten dan dewasa secara sosial dalam arti bisa

menyesuaikan diri dengan keadaan sosial. Salah satu bentuk pendidikan non

formal yang dapat oleh anak yang beragama Kristen adalah melalui sekolah

minggu.

Materi-materi yang diberikan di sekolah minggu menggunakan buku

panduan yang telah disusun berdasarkan jadwal setiap minggu. Hal ini guna

mempermudah guru sekolah minggu untuk mengarahkan apa yang ingin diajarkan

pada setiap pertemuan. Buku panduan tersebut berisi materi-materi mengenai

nilai-nilai krisiani yang berpatokan pada cerita Alkitab.

Dalam tahap perkembangan kognitif menurut Piaget, anak yang berusia

7-12 tahun berada pada tahap konkrit operasional. Dimana pada tahap ini anak

mampu memahami sudut pandang orang lain, berpikir secara logis serta tidak lagi

mementingkan dirinya sendiri. Serta kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut

pandang orang lain. Hal ini merupakan salah satu faktor pendukung terbentuknya

tingkah laku prososial. Dalam upaya untuk memenuhi tugas–tugas perkembangan

(17)

11

Universitas Kristen Maranatha dapat diterima di lingkungannya, anak harus belajar mengembangkan

keterampilan–keterampilan dalam bersosialisasi di lingkungan yang diantaranya

melalui tingkah laku prososial.

Tingkah laku tertentu akan diarahkan oleh motif tertentu (Atkinson, 1964).

Tingkah laku prososial diarahkan oleh motif prososial. Motif sifatnya potensial

dalam diri individu, artinya setiap individu sudah mempunyai motif. Berdasar

pemahaman tersebut, motif prososial dapat diartikan sebagai motif khusus dan

motif tunggal yang ada dalam diri individu yang mendorong munculnya perilaku

prososial. Motif menolong akan menggerakkan tingkah laku menolong.

Motif prososial adalah keinginan dari dalam diri untuk menampilkan

tingkah laku menolong, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain

tanpa mengharapkan imbalan dari luar (Eisenberg, 1982). Motif prososial

tercermin melalui kecenderungan anak untuk menolong, berbuat baik, suka

berbagi, suka memberi, merasa terlibat dan bertanggung jawab terhadap

penderitaan sesama, memperhatikan kesejahteraan orang lain dan menempatkan

kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Menurut Kornad 1985, motif prososial terdiri atas dua aspek yaitu aspek

kognisi dan afeksi (dalam Eisenberg, 1982). Aspek kognisi terdiri dari tiga

elemen, yaitu elemen persepsi terhadap situasi, nilai sosial dan perspektif sosial.

Aspek afeksi terbagi menjadi dua elemen yaitu empati dan afek positif. Interaksi

antara aspek kognisi dan aspek afeksi sangat penting dan berpengaruh terhadap

(18)

Elemen-elemen dalam tiap aspek menunjukkan interaksi yang saling

terkait dan saling berhubungan. Elemen pertama dari aspek kognisi adalah

persepsi tentang situasi, yaitu pemaknaan terhadap situasi lingkungan dimana

bantuan dibutuhkan. Persepsi tentang situasi merupakan syarat awal untuk

memunculkan tingkah laku prososial, seperti pemaknaan anak minggu sekolah

terhadap situasi lingkungan dimana bantuan dibutuhkan. Disini anak akan menilai

situasi, apakah situasi tersebut membutuhkan bantuan atau tidak.

Elemen kedua adalah nilai prososial, yaitu nilai pribadi tentang prososial

yang dimiliki atau dianut individu yang merupakan hasil internalisasi nilai dan

norma dalam masyarakat atau kelompok. Dalam hal ini anak akan menentukan

apakah ia perlu membantu atau tidak. Nilai ini juga merupakan keyakinan bagi

individu untuk menentukan tindakan mana yang harus diambil. Dalam hal ini,

persepsi dan nilai sosial memiliki hubungan timbal balik, dimana persepsi akan

mengaktifkan sistem nilai sosial yang dimiliki seseorang dan nilai itu sendiri akan

mengarahkan persepsi. Untuk menentukan tindakan yang tepat dan sesuai dengan

situasi prososial yang dihadapi, maka dibutuhkan pemahaman secara kognitif

yang disebut sebagai perspektif sosial.

Elemen yang ketiga adalah perspektif sosial, yaitu kemampuan anak untuk

menempatkan diri secara kognitif pada orang lain serta kemampuan untuk dapat

memahami situasi dari sudut pandang orang yang membutuhkan bantuan.

Menurut Hoffman (1977), perspektif sosial sangat penting dalam pembentukan

tingkah laku prososial. Perspektif sosial tidak dapat dipisahkan dari empati yang

(19)

13

Universitas Kristen Maranatha kemampuan empati seseorang, karena jika tanpa perasaan dan hanya pemahaman

kognitif saja, tidak akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan

prososial. (Eisenberg, 1982)

Aspek kedua adalah aspek afektif, yang terdiri atas dua elemen, yaitu

empati dan afek positif. Kemampuan empati merupakan kemampuan seseorang

untuk ikut merasakan kebutuhan orang lain. Pada elemen ini, anak sekolah

minggu merasakan apa yang dirasakan oleh teman yang memerlukan bantuan.

Individu seolah-olah merasakan apa yang dirasakan orang lain yang

membutuhkan bantuan. Menurut Piaget, anak sekolah minggu yang berada pada

usia 7-12 tahun berada pada tahap kongkrit operasional, dimana anak mulai

memahami sudut pandang orang lain (Santrock 2002). Ketika anak mulai dapat

melihat dari sudut pandang orang lain, anak mulai dapat menempatkan diri pada

posisi orang tersebut dan dapat merasakan kebutuhan orang lain. Kemampuan

berempati, akan membantu seseorang berpikir ketika ia berada pada situasi yang

tidak nyaman, tentu saja orang tersebut akan berusaha keluar dari dari situasi

tersebut. Empati yang dimiliki oleh anak sekolah minggu akan menggerakkan

afek positif anak.

Elemen kedua dari aspek afektif adalah afek positif. Afek positif

merupakan bentuk perasaan terharu, iba, sedih atau kasihan yang timbul dalam

diri anak sekolah minggu ketika melihat orang yang sedang membutuhkan

bantuan. Munculnya perasaan ini akan menggerakkan seseorang untuk membantu

(20)

kesulitan orang lain secara kognitif dan afektif. Sehingga afek positif merupakan

sumber dari motivasi untuk memunculkan perilaku prososial.

Elemen-elemen dari motif prososial ini akan berinteraksi satu sama lain.

Setiap elemen-elemen dalam motif prososial memiliki peran dan keunikan

tersendiri. Interaksi elemen-elemen tersebut akan mempengaruhi kekuatan motif

prososial. Ketika anak sekolah minggu melihat suatu situasi, anak akan

mengamati, memprosesnya secara kognitif lalu memaknakan stimulus tersebut.

Ketika anak sekolah minggu melihat situasi yang membutuhkan bantuan, secara

kognitif anak akan mampu memaknakan kondisi yang dialami orang yang

membutuhkan bantuan, tidak hanya mampu mengolah secara kognitif melainkan

juga secara afektif. Dimana perasaan sedih, iba yang dirasakan oleh orang yang

membutuhkan bantuan dapat dirasakan juga oleh anak sekolah minggu. Perasaan

yang muncul akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri anak sekolah

minggu, perasaan tidak nyaman tersebut akan menggerakkan individu untuk

melakukan suatu tindakan.

Lingkungan sekolah minggu merupakan lingkungan yang bercirikan motif

prososial. Setiap minggunya, guru sekolah minggu akan bercerita bagaimana

kisah hidup Yesus serta tokoh-tokoh alkitab lainnya yang penuh kasih serta

dermawan terhadap orang lain. Setiap minggu guru sekolah minggu juga akan

memberikan beberapa ayat alkitab untuk dihafalkan oleh anak-anak, dengan

menghafal ayat alkitab akan mengembangkan aspek kognitif anak. Pembelajaran

di sekolah minggu juga dapat mengembangkan aspek afektif dimana anak sekolah

(21)

15

Universitas Kristen Maranatha yang sakit atau ada yang mengalami kesulitan. Berdasarkan pemaparan di atas,

pembelajaran di sekolah minggu secara langsung dan tidak langsung akan

mempengaruhi motif prososial tiap anak.

Motif prososial pada anak sekolah minggu juga dipengaruhi oleh dua

faktor. Faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri atas usia, jenis

kelamin. Sedangkan yang termasuk dalam faktor eksternal adalah pola asuh dan

lingkungan.

Faktor internal yang pertama adalah usia. Berdasarkan

penelitian-penelitian para ahli diperoleh bahwa terdapat hubungan antara usia dengan

beberapa indikator tingkah laku prososial, namun tidak dapat disimpulkan untuk

tingkah laku prososial secara keseluruhan. Ada konsistensi hubungan antara usia

dengan kecenderungan berbagi. Anak-anak pada usia yang lebih besar lebih sering

berbagi dan murah hati dibandingkan anak-anak yang lebih kecil (Staub, 1970,

1971). Anak sekolah minggu berusia 7-12 berada didalam masa akhir

kanak-kanak, anak sekolah minggu diharapkan untuk lebih dermawan terhadap

temannya.

Faktor internal yang kedua adalah jenis kelamin. Penelitian juga dilakukan

terhadap pengaruh jenis kelamin dalam motif prososial. beberapa penelitian juga

menemukan perbedaan yang signifikan dalam kedermawanan antara anak

perempuan dan anak laki-laki (Harris & Siebel, 1975; Sawin dkk., 1980; Skarin &

Moely, 1976). Dimana anak perempuan lebih dermawan dibanding anak laki-laki.

Anak perempuan lebih sering menggunakan alih perspektif dan simpatiknya. Alih

(22)

tetapi tidak pada anak laki-laki (Eisenberg,1987). Hal ini sejalan dengan

penemuan sebelumnya bahwa perempuan memiliki tingkat kesediaan menolong,

sering ber-empati, termasuk pada perhatiannya terhadap hal-hal kemanusian

(Eisenberg,1977).

Faktor eksternal yaitu pola asuh dan lingkungan. Pertama, dalam

teori-teori tentang pengasuhan orang tua, Lieke Wisnubrata (1992) mengungkapkan

bahwa strategi pengasuhan orang tua mempunyai pengaruh untuk

mengembangkan motif prososial. Pola asuh bina kasih (identik dengan

demokratis/autoratif) mempunyai pengaruh untuk mengembangkan motif

prososial. Pola otoriter/authoritarian dan permisif memiliki pengaruh sebagai

penghambat motif prososial. Anak sekolah minggu yang memiliki pola asuh

orang tua yang demokratis diharapkan memiliki motif prososial yang lebih kuat.

Faktor eksternal yang kedua adalah lingkungan. Berdasarkan penelitian

mengenai variabel-variabel lingkungan, dapat dikatakan bahwa lingkungan tempat

individu tinggal dan bersosialisasi merupakan hal penting yang potensial dalam

pembentukan kecenderungan tingkah laku prososial anak. Ketika anak sekolah

minggu berada dilingkungan yang bercirikan prososial, ini akan mendukung anak

memiliki motif prososial yang kuat juga, sebaliknya anak yang berada

dilingkungan yang tidak bercirikan prososial anak cenderung memiliki motif

prososial yang lemah. (Eisenberg,1982). Menurut Sri Pidada, 1988 lingkungan

merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan motif prososial yang

ditanamkan oleh lingkungan, diinternalisasinoleh individu, sehingga menjadi

(23)

17

Universitas Kristen Maranatha nilai dan norma pribadi yang berkarakter prososial. Lingkungan sekolah minggu

adalah salah satu lingkungan yang bercirikan prososial.

Motif prososial yang kuat berarti adanya keinginan yang kuat untuk

menampilkan perilaku menolong atau berbagi dengan maksud meningkatkan

kesejahteraan orang lain tanpa mengharapkan imbalan dari luar. Sedangkan motif

prososial yang lemah berarti tidak adanya keinginan kuat untuk menampilkan

perilaku menolong atau berbagi dengan maksud meningkatkan kesejahteraan

orang lain (Eisenberg, 1982).

Motif prososial pada anak sekolah minggu akan dijaring melalui kuisioner

yang berupa gambar. Gambar tersebut berisi situasi-situasi prososial. Kuisioner

gambar tersebut disusun berdasarkan aspek serta elemen-elemen dari motif

prososial, terdapat 10 situasi. Setiap situasi terdapat 4 item pertanyaan yang

mewakili elemen-elemen dari motif prososial. Kuisioner dalam bentuk gambar

disesuaikan dengan usia sampel.

Adapun ciri-ciri anak sekolah minggu yang memiliki motif prososial yang

kuat adalah bersedia membantu orang lain yang mengalami kesulitan dengan

sukarela, mampu berempati dengan keadaan orang lain yang mengalami kesulitan

sehingga anak selalu siap untuk membantu ketika melihat orang lain mengalami

kesulitan. Sedangkan anak sekolah minggu yang memiliki motif prososial yang

lemah adalah yang bersikap tidak peduli dengan keadaan orang lain yang

mengalami kesulitan, tidak mampu berempati dengan keadaan orang yang

mengalami kesulitan sehingga anak tidak tanggap untuk segera menolong orang

(24)

Bagan 1.1 Kerangka Pikir

Bagan 1.1 Kerangka Pikir Faktor – faktor yang mempengaruhi: Internal :

 Usia

 Jenis kelamin

Eksternal:

 Pola Asuh  Lingkungan

Kuat

Anak sekolah minggu usia 7-12 Tahun di Gereja “X”

MOTIF PROSOSIAL

Lemah

Aspek Kognitif:  Persepsi terhadap

situasi

 Nilai prososial  Perspektif Sosial

(25)

19

Universitas Kristen Maranatha 1.6. Asumsi Penelitian

Berdasarkan uraian diatas, diturunkan asumsi penelitian sebagai berikut:

 Sekolah minggu merupakan lingkungan yang bercirikan prososial, sehingga

dapat menumbuhkan motif prososial pada anak.

 Anak sekolah minggu usia 7-12 tahun di Gereja “X” memiliki motif

prososial yang kuat dan lemah.

 Motif prososial diukur melalui dua aspek. Aspek yang pertama adalah aspek

kognitif yang terdiri dari persepsi terhadap situasi, nilai sosial dan

persepektif sosial. Aspek yang kedua adalah aspek afektif yang terdiri dari

empati dan afek positif

 Faktor-faktor yang mempengaruhi motif prososial anak sekolah minggu

(26)

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang motif prososial, anak sekolah

minggu usia 7-12 di Gereja “X” Bandung dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

1. Dari seluruh anak sekolah minggu yang diteliti, sebesar 66.67% anak sekolah

minggu memiliki motif prososial kuat dan sebesar 33.33% anak sekolah

minggu memiliki motif prososial yang lemah.

2. Anak sekolah minggu yang memiliki motif prososial kuat, kuat pada elemen

persepsi situasi (66.33%), elemen perspektif sosial (66.33%), elemen empati

(70.00%), elemen afek positif (70.00%) dan elemen nilai prososisal sebanyak

(63.33%).

3. Anak sekolah minggu yang memiliki motif prososial lemah, lemah pula pada

elemen nilai prososial (33.33%), perspektif sosial (30.00%), empati (30.00%),

dan afek positif (33,33%). Namun, anak sekolah minggu dengan motif

prososial lemah memiliki nilai persepsi situasi yang tinggi. Hal ini

menunjukan bahwa anak masih mampu memaknakan bahwa situasi tersebut

membutuhkan pertolongan.

4. Kelompok usia, jenis kelamin, pola asuh, dan lingkungan merupakan faktor

(27)

64

Universitas Kristen Maranatha 5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan

beberapa saran. Saran yang diajukan dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu saran

untuk penelitian lanjutan dan saran guna laksana.

5.2.1 Saran Teoritis

Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan untuk mengetahui hubungan

antara motif prososial dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

,

5.2.2 Saran Praktis

Berkaitan dengan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian dan dengan

menyadari keterbatasan yang ada, peneliti mengajukan beberapa saran guna

laksana sebagai berikut:

1. Komisi anak di Gereja “X: dapat mengadakan kegiatan-kegiatan yang

bercirikan motif prososial yang melibatkan anak sekolah minggu seperti

mengunjungi panti asuhan dan panti jompo, kemudian anak juga bisa

mengumpulkan pakaian-pakaian yang tidak mereka gunakan lagi untuk

disumbangkan.

2. Mengingat anak sekolah minggu berada dalam usia sekolah, dapat disarankan

agar komisi anak di Gereja memberikan seminar untuk orang tua mengenai

pola asuh orang tua dan pentingnya anak diajarkan untuk saling tolong

(28)

3. Guru sekolah minggu disarankan untuk melakukan pendekatan afektif kepada

anak untuk meningkatkan empati anak sekolah minggu, sehingga dapat

meningkat motif prososial anak sekolah minggu.

4. Anak-anak sekolah minggu disarankan untuk lebih aktif mengikuti

(29)

40

Universitas Kristen Maranatha Azwar, Syaifuddin. 2009. Validitas dan Reliabilitas, Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Bar-Tal, D.1976. Prosocial Behavior Theory & Research. New York : John-Willey.

Eisenberg, Nancy. (1982). The Development of Procosial Behavior. New York : Academic Press.

Gulo, W. (2002). Metodologi Penelitian. Jakarta:PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Santrock, John W. (2002). Life-Span Development:Perkembangan masa hidup Jilid I, edisi kelima). Alih bahasa:Achmad Chusairi & Juda Damanik.

Jakarta :Penerbit Erlangga.

(30)

Atherton J.S. 2005 Learning and Teaching: Piaget's developmental theory [On-line] UK

Jurnal Of Applied Developmental Psychology, 2006. http://www.sciendirect.com.

Mildred, Amanda. 2002. Studi Perbandingan Motif Prososial Antara Remaja Laki-Laki Dan Remaja Perempuan Smu Negeri “X” Bandung. Skripsi: Bandung Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Tjandraningtyas, Jacqueline. 2004. Pengaruh Pelatihan Empati Terhadap Peningkatan Motif Prososial Mahasiswa Universitas Kristen Maranatha di Bandung. Tesis: Bandung Program Pasca Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran.

Pidada, Sri Untari. 1988. Peranan Lingkungan Kepramukaan dalam Mengembangkan Motif Prososial Anggota Pramuka. Tesis: Bandung Program Pasca Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran.

Viktorian, Prisilia. 2008. Studi Dekskriptif Mengenai Motif Prososial pada Terapis Anak-Anak Autistik di kota B. Bandung Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Referensi

Dokumen terkait

Apakah variabel Penyisihan penghapusan aktiva produktif ( PPAP) secara individu memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap tingkat efisiensi pada Bank Umum

menjelaskan tentang pengertian munasabah secara umum dan dari segi mufasir, menjelaskan tentang pembagian munasabah, dan urgensi munasabah. Sedangkan sub bab

setiap hari, untuk anaknya ketika masih di bangku sekolah dasar suamiselalu menanyakan kabar mereka kepada istri, dan berkomunikasi langsung dengan anak-anak

Frame merupakan suatu bagian dari Timeline. Sebuah frame mewakili suatu selang waktu yang digunakan pada Timeline. Banyaknya Frame yang digunakan dalam satuan detik

Fungsi kabur dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu fungsi tegas dengan kendala kabur, fungsi tegas yang menularkan kekaburan dari varia- bel bebas ke variabel tak

Hasil pengujian PSA yang dihasilkan terlihat bahwa semua variasi terlah memiliki dua puncak dan telah tereduksi cukup besar dibandingkan serbuk rGO awal yang

kontraksi yang meningkat untuk kembali pada keadaan semula. Padakasus Ny.N tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. karena ibu merasa mulas. ibu berada dalam fase taking

Tujuan penelitian ini antara lain adalah untuk memperoleh usulan- usulan alternatif fungsi yang dapat diterapkan di lahan aset jalan Raya Ngagel 153 Surabaya, mendapatkan