• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Alat Spray Penyemprot Pupuk dan Air Ergonomis (Studi Kasus: Budidaya Krisan ABC) dengan Metode REBA dan Morphology Chart

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Perancangan Alat Spray Penyemprot Pupuk dan Air Ergonomis (Studi Kasus: Budidaya Krisan ABC) dengan Metode REBA dan Morphology Chart"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Perancangan Alat Spray Penyemprot Pupuk dan Air Ergonomis (Studi Kasus: Budidaya Krisan ABC)

dengan Metode REBA dan Morphology Chart

Ade Irawan Said1, Hersa Ajeng Priska 2, Rahma Fariza3, Riska Dwi Oktalia4

1,2,3,4Departemen Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia

1[email protected],2[email protected],3 [email protected],4[email protected] Abstrak— Pada proses pembudidayaan tanaman proses penyiraman menjadi hal yang sangat penting, pada “Budidaya Krisan ABC”

yang terletak di Sleman proses penyiraman ini menggunakan sprayer yang dioperasikan secara manual dengan tuas, alat tersebut memiliki berat 22 kg pada penggunaanya dengan digendong oleh operator. Pada analisis NBM diketahui bahwa operator mengalami sakit pada tubuh atas seperti bahu, lengan, punggung serta leher dikarenakan beban yang diangkat, diketahui juga dengan metode REBA diperoleh skor 9 atau memiliki resiko tingkat tinggi. Maka dilakukan penelitian untuk merancang ulang alat spray tanaman. Analisis rancangan alat menggunakan metode Morphology Chart untuk memberikan solusi produk terbaik untuk memfasilitasi para pekerja dalam proses penyiraman dan mengurangi rasa sakit yang diderita, diikuti dengan pemilihan alternatif menggunakan metode Pugh Matrix dan pendekatan antropometri. Hasil penelitian ini merekomendasikan desain ulang alat spray yang lebih efektif dan efisien sehingga dapat menghindari kemungkinan cedera yang diterima oleh operator.

Kata Kunci—Morphology Chart, NBM, Pugh Matrix, REBA, Spray

I. PENDAHULUAN

Menurut UU No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, pertanian adalah kegiatan mengelola sumber daya alam hayati dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk menghasilkan komoditas pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dalam suatu agroekosistem [1]. Menurut Kementerian Pertanian Republik Indonesia, budidaya krisan termasuk dalam sub-sektor hortikultura. Hortikultura merupakan cabang pertanian yang berurusan dengan budidaya intensif tanaman yang diajukan untuk bahan pangan manusia obat-obatan dan pemenuhan kepuasan [2].

Menurut data dari Statistik Tanaman Hias Indonesia 2017, tanaman hias yang paling banyak diekspor adalah krisan, mawar, dan anggrek [3]. Untuk tanaman krisan sendiri pada tahun 2017, volume ekspor krisan turun dari 60,65 ton menjadi 49,52 ton dan nilai FOB naik dari 905.724 US$ menjadi 699.176 US$. Negara pengimpor krisan dari Indonesia tahun 2017, yaitu Jepang dan Kuwait.

Kepopuleran tanaman krisan sebagai tanaman hias dikarenakan bunga krisan memiliki beberapa keunggulan, diantaranya memiliki karakter tidak mudah layu serta warna dan bentuk bunga sangat bervariasi dibandingkan dengan bunga lainnya. Dilihat dari segi keunggulan usaha tani, tanaman krisan mudah dibudidayakan, umur panen relatif pendek, bunga dapat dipanen serentak, waktu pembungaan, dan waktu panen dapat diatur sesuai kebutuhan pasar, misalnya ketika permintaan tinggi pada hari-hari besar nasional keagamaan, hari kemerdekaan, musim pernikahan, maupun perayaan lainnya. Oleh karena itu, krisan menjadi salah satu komoditas andalan dalam pengembangan tanaman hias [4].

Untuk memperoleh hasil panen yang maksimal dengan melakukan pengairan atau penyiraman yang ideal, kondisi para petani atau pembudidaya terkadang menjadi tidak begitu diperhatikan. Hal tersebut juga dapat diketahui berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, prevalensi penyakit muskuloskeletal di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur lebih dari 15 tahun menurut karakteristik pekerjaannya petani atau buruh tani menduduki peringkat tertinggi yaitu dengan 9,90% [5]. Bagian tubuh yang sering dikeluhkan meliputi otot leher, bahu, lengan, tangan, punggung, pinggang, dan otot-otot bagian bawah. Pencegahan keluhan muskuloskeletal di tempat kerja hanya dapat dilakukan dengan memahami dengan baik faktor-faktor penyebabnya. Faktor penyebab terjadinya keluhan muskuloskeletal disebabkan oleh banyak faktor diantaranya yaitu beban kerja, posisi tubuh saat bekerja, frekuensi, dan durasi [6].

Tempat budidaya tanaman hias yang menjadi objek penelitian berada di Kabupaten Sleman yaitu “Budidaya Krisan ABC”. Di tempat budidaya ini, pemilik memiliki lahan kurang lebih 1500 m2 yang ditanami bunga krisan dengan berbagai macam umur.

Setiap hari, pemilik akan selalu memantau perkembangan tanamannya termasuk dalam melihat kelembaban tanah. Apabila tanah sudah mulai kering, maka tanaman tersebut harus segera diberikan air melalui penyiraman. Namun, alat penyiraman yang digunakan petani di sini masih menggunakan metode manual yaitu mengharuskan alat digendong oleh pekerja. Alat yang digunakan memiliki berat 18 kg jika terisi penuh oleh cairan baik air yang digunakan untuk menyiram air maupun desinfektan yang sudah dicairkan

(2)

yang digunakan untuk membunuh hama. Untuk intensitas penyiraman air dalam sehari dilakukan sebanyak dua kali, sedangkan untuk penyiraman hama dilakukan dua kali dalam seminggu.

Terdapat keluhan yang dirasakan oleh pekerja dalam melakukan penyiraman, meskipun berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi No. Per. 01/MEN/1978 yang menyatakan beban angkat maksimum yang diperbolehkan untuk laki-laki 40 kg dan wanita 15 kg, jika dilihat dari pernyataan tersebut beban yang dibawa oleh pekerja di tempat “Budidaya Krisan ABC” untuk menyiram masih dalam batas normal. Namun, berdasarkan hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) pekerja seringkali mengalami keluhan pada bawah leher, kiri bahu, kanan bahu, dan bagian punggung ketika selesai melakukan penyiraman. Hal ini dikarenakan jarak tempat pengambilan air yang cukup jauh dan hanya terdapat sedikit sumber mata air. Jika hal ini dibiarkan terus menerus maka akan menyebabkan dampak yang lebih besar pada fisiologi tubuh pekerja. Oleh karena keluhan tersebut dan pentingnya prosedur penyiraman, baik penyiraman untuk pengairan maupun pemupukan, merupakan salah satu prosedur penting dalam merawat tanaman. Alat yang digunakan pun perlu diperhatikan keefektifan dan keergonomisannya bagi pekerja sebagai pengguna.

Melihat adanya perbedaan antara idealita dan realita sebaiknya dilakukan perbaikan terhadap penggunaan alat penyiram yang digunakan. Dapat berupa perbaikan desain alat ataupun perbaikan tata cara penggunaan. Alat penyiraman yang masih harus dibawa di atas punggung pekerja sebaiknya mulai diperbaiki sebelum terjadi kesalahan yang fatal baik dari punggung, postur, ataupun kelelahan dini. Pada penelitian ini, dirancang sebuah alat penyiram tanaman yang lebih ergonomis dan akan mengurangi beban pekerja. Perancangan ini akan menggunakan 2 metode, yaitu metode REBA dan metode Morphology Chart. Rapid Entire Body Assessment (REBA) merupakan metode pengukuran risiko yang dapat digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan, dan kaki seorang pekerja [7]. Dengan metode ini diharapkan dapat mengurangi potensi terjadinya musculoskeletal disorders pada tubuh pekerja. Kemudian, Morphology Chart digunakan untuk mengetahui bagaimana bentuk suatu produk dibuat. Pada Morphology Chart terdapat daftar atau ringkasan yang berisikan analisis dari perubahan bentuk secara matematis. Dengan adanya chart ini dapat dibuat kombinasi dari berbagai kemungkinan solusi untuk membentuk produk yang lebih bervariasi [8].

II. METODE PENELITIAN

A. Subjek dan Objek

Subjek penelitian ini yaitu tiga orang petani bunga krisan atau operator yang bekerja selama 8 jam sehari. Usia petani 1 adalah 46 tahun, petani 2 berusia 40 tahun, dan petani 3 berusia 42 tahun. Dalam proses perawatan sehari-hari, petani mengecek kelembaban tanah untuk memastikan kebutuhan tambahan air pada tanaman. Selain itu, petani juga memberikan nutrisi pupuk kepada tanaman.

Pemberian air dan pupuk dilakukan menggunakan alat gendong di punggung. Sedangkan, objek penelitian ini yaitu merancang alat penyemprot air dan pupuk ergonomis sesuai proporsi tubuh petani.

B. Metode

Dalam menjalankan penelitian dibutuhkan beberapa tahapan untuk mencapai tujuan berupa rancangan alat penyemprot air dan pupuk ergonomis. Perancangan alat menggunakan metode REBA dan Morphology Chart. Penyemprot air dan pupuk didesain secara ergonomis melalui pendekatan antropometri dan kuesioner NBM sehingga diketahui sudut dan dimensi tubuh petani, serta keluhannya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. REBA

Rapid Entire Body Assessment (REBA) digunakan untuk membantu mendapatkan postur kerja yang nyaman bagi pekerja, baik itu postur kerja berdiri, duduk maupun postur kerja lainnya [9]. Pada beberapa jenis pekerjaan terdapat postur kerja yang tidak alami dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini akan mengakibatkan keluhan sakit pada bagian tubuh atau sering disebut dengan CTDs (Cummulative Trauma Disorders). Dalam analisis REBA ini peneliti mengasumsikan bahwa postur tubuh pekerja di sawah yang menggunakan peralatan yang sama, dapat mempresentasikan postur tubuh pekerja bagian penyiraman bunga Krisan ABC, berikut Gambar 1 merupakan postur tubuh pekerja dan hasil REBA:

(3)

Gambar 1. Postur tubuh pekerja dan REBA

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah didapatkan maka dilanjutkan pengolahan data menggunakan metode REBA.

Kemudian dilakukan perhitungan dan didapatkan hasil skor yang menunjukkan angka 9, artinya pekerjaan tersebut dinilai memiliki risiko yang tinggi bagi operator dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut serta melakukan perubahan pada aktivitas tersebut maupun cara kerja dari operator.

Postur kerja penyiraman tanaman harus segera diperbaiki dan diubah sesuai dengan postur kerja yang baik. Apabila aktivitas tersebut dilakukan dalam jangka panjang, maka dapat berisiko membahayakan tubuh pekerja atau bahkan menyebabkan cedera.

Perbaikan yang dilakukan yang pada penelitian ini menggunakan engineering controls yaitu dengan dilakukan redesain pada alat penyiraman yang digunakan, karena peneliti menilai tingginya skor REBA tersebut diakibatkan oleh alat yang tidak ergonomis karena beban dititik beratkan pada bahu pekerja, sehingga menimbulkan CTDs pada pekerja.

B. NBM

Nordic Body Map (NBM) digunakan untuk mengidentifikasi keluhan musculoskeletal disorders yang dirasakan oleh pekerja penyiram tanaman krisan di tempat “Budidaya Krisan ABC” tersebut, yang nantinya hasil dari analisis ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk menyesuaikan desain alat yang baru dengan keluhan yang dialami pekerja. Pada tahapan awal peneliti mengidentifikasi kebutuhan operator dengan melakukan wawancara dan brainstorming dengan operator secara offline maupun online dan operator mengharapkan adanya produk yang mudah dibawah atau tidak berat, dapat menampung volume yang lebih banyak dan juga mudah digunakan.

Dari hasil perhitungan terlihat pada Gambar 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar pekerja mengalami sakit pada tubuh bagian atas seperti leher bagian atas dan bawah, bahu kiri, bahu kanan, lengan atas kiri, lengan atas kanan, lengan bawah kiri, lengan bawah kanan, serta pada punggung. Pada bagian bahu kanan, seluruh responden merasakan bahwa bahu kanannya sangat sakit, dan satu responden juga merasakan hal yang sama pada bahu kirinya. Berdasarkan hasil perhitungan dari kuisioner yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa pekerja penyiram tanaman banyak mengeluhkan sakit dibagian tubuh atas seperti bahu, lengan, punggung serta leher. Peneliti mengidentifikasikan bahwa rasa sakit pada bagian bahu disebabkan oleh beban yang harus dibawa oleh pekerja saat melakukan penyiraman, karena beban seberat 22 kg tersebut hanya ditopang oleh bahu. Oleh karena itu, peneliti akan merancang alat penyiram tanaman yang lebih ergonomis, sehingga alat tidak perlu untuk digendong oleh pekerja, sehingga dapat mengurangi atau tidak akan menimbulkan cedera pada tubuh bagian atas pekerja.

Gambar 2. Hasil NBM 0

50 100 150

Bahu Kiri Bahu Kanan Leher Atas Leher Bawah

Persentase Sakit NBM (%)

Tidak Sakit Agak Sakit Sakit Sangat Sakit

(4)

C. Morphology Chart dan Pugh Matrix

Setelah dilakukan identifikasi maka ditetapkan tujuan dari perancangan yaitu mengurangi beban yang diterima pengguna dan mencegah risiko cedera ketika bekerja pada saat penggunaan alat kerja, sehingga rancangan alat selayaknya memiliki ukuran yang sesuai dengan dimensi tubuh operator, memiliki bahan yang kuat, mempertimbangkan daya tampung, pergerakan/perpindahan mudah, mobilisasi mudah, dan juga ergonomis. Maka tahap selanjutnya adalah penentuan alternatif konsep menggunakan Morphology Chart guna memberikan kombinasi desain produk dengan tujuan untuk dapat membuat solusi produk yang bervariasi.

Berikut adalah Gambar 3 peta Morphology Chart pada perancangan alat penyiram:

Gambar 3. Peta Morphology Chart

Setelah mendapatkan alternatif perancangan alat menggunakan metode Morphology Chart, selanjutnya dilakukan pemilihan alternatif menggunakan pendekatan pugh matrix. Pendekatan Pugh Marix dapat memberikan penilaian terhadap masing-masing kriteria atau atribut pada perancangan alat. Pugh Matrix membandingkan masing-masing atribut rancangan alat dengan produk pesaing atau datum. Terdapat tiga buah penilaian yaitu atribut alternatif lebih baik dari pesaing (+), atribut alternatif lebih buruk dari pesaing (-), dan atribut alternatif lebih sama dengan pesaing (0). Nilai terebut nantinya akan dijumlahkan, sehingga dapat ditentukan peringkat pada setiap alterlatif yang ada. Berdasarkan penilaian pada Tabel I menggunakan konsep Pugh matrix, yaitu dengan membandingkan masing-masing atribut rancangan alat dengan produk pesaing atau datum, maka didapatkan hasil bahwa alternatif ke satu menempati peringkat pertama.

TABELI. PUGHMATRIX

Atribut

Variasi Alternatif

1 2 3 4 5

Handle

Datum

+ + 0 0 0

Pompa + + 0 0 +

Volume + - 0 0 +

Roda + + + + 0

Jumlah + 4 3 1 1 2

Jumlah 0 0 0 3 3 2

Jumlah - 0 1 0 0 0

Nilai Akhir 4 2 1 1 2

(5)

Alternatif pertama memiliki nilai akhir 4, dengan jumlah (+) 4, (0) 0, dan (-) 0. Pada penjelasan lebih lanjutnya alternatif pertama yaitu atribut handle dinilai +1 atau lebih baik dari datum, handle yang digunakan berupa handle koper yang dinilai lebih efektif untuk digunakan. Pada atribut pompa dinilai +1, dengan alasan pada alternatif tersebut menggunakan mesin untuk memompa sehingga lebih baik daripada memompa secara manual. Pada atribut volume dinilai +1 dengan alasan volume tampungan pada alternatif pertama memiliki jumlah yang lebih besar dibanding datum yaitu 20 liter atau setara dengan 20 kg. Pada atribut roda juga dinilai +1 karena dirasa penggunaan roda pembajak sawah lebih efisien untuk digunakan dalam memindahkan alat pada medan tanah berlumpur dan licin. Maka secara keseluruhan alternatif satu merupakan alternatif terbaik untuk rancangan alat.

D. Antropometri

Pada tahap perancangan alat akan dibuat sesuai dengan dimensi tubuh subjek penelitian, dimana akan mempertimbangkan dimensi tubuh rata-rata petani krisan dan juga dimensi tubuh orang Indonesia sesuai dengan Ergonomis Guidline for Hand-Tool Design. Sesuai dengan situasi saat ini, tidak dimungkinkannya untuk mengambil data dimensi tubuh petani secara langsung. Oleh karena itu, peneliti mengumpulkan data secara daring melalui beberapa sumber. Dimensi tubuh petani yang digunakan yaitu untuk semua jenis suku, semua jenis kelamin dengan rentang usia produktif 19 tahun hingga 65 tahun [10].

Sesuai dengan rancangan alat penyemprot yang akan dibuat berbentuk seperti koper, maka peneliti mencari referensi dimensi tubuh yang digunakan. Berdasarkan prosiding [11], terdapat 3 dimensi tubuh yang digunakan dalam pembuatan koper yang ergonomis, yaitu tinggi siku berdiri tinggi siku duduk, lebar bahu. Kemudian, berdasarkan penelitian [10] terdapat 2 dimensi tubuh yang digunakan untuk kelengkapan alat penyemprot, yaitu panjang lengan atas dan panjang lengan bawah. Setelah mengetahui dimensi tubuh yang digunakan, peneliti melakukan pengambilan data kepada 3 orang pekerja dan 27 data yang berasal dari bank data. Data dimensi tubuh petani yang digunakan yaitu semua jenis suku dan semua jenis kelamin serta rentang usia yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, karena terdapat keterbatasan data, maka data yang digunakan peneliti hanya data dengan rentang usia 19 tahun hingga 47 tahun. Berdasarkan data persentil, maka dapat dilakukan analisis dimensi tubuh. Pada perhitungan ini, peneliti menggunakan P50 dan P95 sehingga sesuai dengan dimensi tubuh orang Indonesia. Berikut merupakan Tabel II analisis pada setiap dimensi tubuh:

TABELII.ANALISISDIMENSIPRODUK

No Dimensi Produk Dimensi Produk Persentil (%) Hasil Perhitungan (cm)

1 Tinggi siku berdiri Tinggi maksimal pegangan koper 95 108

2 Tinggi genggaman tangan Tinggi maksimal koper 50 58

3 Lebar bahu Panjang koper 50 37

4 Panjang lengan atas Panjang selang 50 30

5 Panjang lengan bawah Panjang selang 50 24

E. Hasil Desain Alat

Pada Gambar 4 merupakan gambaran produk dari berbagai sudut pandang dan aspek inovasi yang terdapat pada produk:

Gambar 4. Peta Morphology Chart

Berdasarkan Ergonomis Guidline for Hand-Tool Design, hasil rancangan peneliti memiliki beberapa inovasi, yaitu:

(6)

1. Pada genggaman terdapat bantalan yang sesuai dengan kontur jari pengguna sehingga dapat memberikan kenyamanan serta aman karena bersifat halus/tidak tajam. Dengan begitu, rancangan alat dapat mengurangi terjadinya kesemutan atau kram dan memberikan efektivitas fungsi alat yang lebih maksimal.

2. Alat dapat efektif digunakan untuk laki-laki dan perempuan sesuai dengan ukuran dimensi tubuh orang Indonesia. Pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi No. Per. 01/MEN/1978 yang menyatakan beban angkat maksimum yang diperbolehkan untuk laki-laki 40 kg dan wanita 15 kg, pada alat sebelumnya memiliki bobot 22 kg (terisi) sehingga melebihi batas angkat maksimum wanita. Maka pada rancangan alat ini pengguna tidak perlu lagi mengangkat (menggendong) alat, sehingga rancangan alat dapat memaksimalkan volume air menjadi 20 liter atau bila terisi penuh berat alat menjadi 24 kg, tanpa perlu mengkhawatirkan cedera yang diakibatkan beban berlebih karena proses pengangkatan.

3. Pada alat rancangan pengguna tidak lagi perlu menggendong dan mempompa alat sehingga hal ini berpengaruh pada postur tubuh pengguna, dengan menggunakan rancangan alat pengguna tidak perlu mengangkat dan menarik tangan untuk memompa air.

4. Alat dirancang untuk dapat menampung lebih banyak muatan untuk air maupun pupuk cair sehingga pekerja tidak perlu bolak balik mengisi cairan dan menggendong beban yang lebih banyak.

5. Pada rancangan menggunakan roda selayaknya roda pembajak sawah yang difungsikan untuk dapat mengakses wilayah yang memiliki tektur tanah licin, dan berlumpur.

Gambar 5. Skor REBA Rancangan Alat

Setelah tahap perancangan alat maka dibuatlah prototype alat spray tanaman sesuai dengan desain dan dimensi antropometri, kemudian dilakukan simulasi berdasarkan prototype tersebut dan dilakukan analisis REBA pada tubuh pekerja ketika menggunakan alat. Hasil dari skor REBA adalah 3, artinya hasil tersebut termasuk dalam kategori level risiko tingkat rendah dan hanya sedikit kemungkinan diperlukannya perbaikan.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan pengolahan data dan analisis masalah, maka dapat disimpulkan bahwa beban yang diterima tubuh pekerja dalam keadaan dinamis sesuai dengan peta tubuh pekerja tidak terdistribusi secara merata dan sesuai dengan kemampuan tubuh tiap pekerja. Selain itu, berdasarkan hasil REBA senilai 9 skor pekerjaan tersebut dinilai memiliki risiko yang tinggi bagi operator dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Hal tersebut menimbulkan sakit pada beberapa bagian tubuh, diantaranya pada leher bagian atas dan bawah, bahu kiri, bahu kanan, lengan atas kiri, lengan atas kanan, lengan bawah kiri, lengan bawah kanan, serta pada punggung. Secara khusus, pada bagian bahu kanan seluruh responden merasakan bahwa bahu kanannya sangat sakit.

Rancangan alat kerja yang ergonomis adalah alat yang memiliki bentuk dan ukuran yang sesuai dengan tubuh pekerja serta memperhatikan keamanan dan kenyamanan pekerja. Sesuai dengan survei, penelitian, dan didukung berbagai sumber referensi dilakukan perancangan alat ini guna membantu petani krisan. Berdasarkan perhitungan menggunakan software Ergofellow untuk REBA menggunakan rancangan alat spray, didapatkan skor 3 yang berarti hasil tersebut termasuk dalam level risiko tingkat rendah dan hanya sedikit kemungkinan diperlukannya perbaikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rekomendasi redesign yang telah dilakukan dapat dipertimbangkan, karena tingkat resiko yang ditimbulkan cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan design sebelumnya. Diharapkan rancangan ini mampu mengurangi beban pekerja dan membantu mendapatkan postur kerja yang nyaman, sehingga tidak menimbulkan dan menyebabkan sakit pada tubuh pekerja seperti sakit pada bahu, punggung ataupun kelelahan dini.

Adanya alat yang ergonomis ini juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pekerja dan dapat meningkatkan penghasilan petani krisan.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Pemerintah Indonesia, "ndang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Lembaran RI Tahun 2013 No. 19," Sekretariat Negara, Jakarta, 2013.

[2] Zulkarnain, Dasar-dasar Hortikultura, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

[3] Badan Pusat Statistik Indonesia, "Statistik Tanaman Hias Indonesia 2017," 2017. [Online]. Available:

https://www.bps.go.id/publication/2018/10/05/d1f1f00e73b215b4118fa9e0/statistik-tanaman-hias-indonesia-2017.html. [Accessed 29 Maret 2020].

[4] N. Q. Hayati and B. Marwoto, "Inovasi Teknologi Tanaman Krisan yang Dibutuhkan Pelaku Usaha (Technology Innovation of Chrysanthemum Needed by Stakeholders)," 2018.

[5] Kementrian Kesehatan RI, "Riset Kesehatan Dasar," 2018. [Online]. Available: https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/hasil-riskesdas- 2018.pdf. [Accessed 29 Maret 2020].

[6] I. R. S. Salami, Kesehatan dan keselamatan Lingkungan Kerja, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2015.

[7] D. P. Restuputri, M. Lukman and W. Pamungkas, "Metode REBA Untuk Pencegahan Musculoskeletal Disorder Tenaga Kerja," Jurnal Teknik Industri, vol.

18, no. 1, pp. 19-28, 2018.

[8] M. Arif, Bahan Ajar Rancangan Teknik Industri, Deepublish, 2016.

[9] S. Hignett and L. McAtamney, "Rapid entire body assessment (REBA)," Applied ergonomics, vol. 31, no. 2, pp. 201-205, 2000.

[10] I. Hanani, "SKRIPSI: Studi Antropometri Petani dan Aplikasinya pada Penggunaan Knapsack Sprayer di Kecamatan Wedung Kabupaten Demak Jawa Tengah," Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2012.

[11] S. N. Hakim, T. Thaliburroshad and A. J. Putra, "SETTLED," Smart Suitcase with Automatic System and Space Saving Concept" sebagai Penunjang Mobilitas dan Fleksibilitas Traveller," in IENACO (Industrial Engineering National Conference), Surakarta, 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil proses perancangan Prototype Alat pengukur jarak dan pengukur sudut kemiringan menggunakan sensor ultrasonic dan Accelerometer berbasis arduino nano yang

Pengujian ini dilakukan dengan menghubungkan rangkaian seperti diagram blok yang ditunjukkan dalam Gambar 11. Pengambilan data modul sensor menggunakan perangkat I 2 C

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh neuromuscular taping (NMT) terhadap peningkatan lingkup gerak sendi fleksi lumbal pada kasus keterbatasan lingkup gerak

Pada keadaan demikian berarti telah tercapai keseimbangan antara hujan, debit dan kehilangan air (infiltrasi). Pada saat hujan buatan telah dihentikan tidak berarti debit yang

Dalam pribumisasi Islam tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran normatif yang bersumber dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa

• Pada saat prosesi Pembacaan Ikrar Setia Alumni semua peserta wisuda wajib menirukan/mengucap ulang Ikrar Alumni yang akan dipimpin oleh salah satu wisudawan yang ditunjuk.. •

Menurut Amstrong dan Baron kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategi organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan

Hal ini sesuai dengan penjelasan Thomas dalam Le (2011) bahwa kebijaksanaan memiliki hubungan positif dengan kepuasan hidup karena seseorang yang bijaksana mampu