Implementation of One Billion Tress Planting for Various Purposes
1 2
Tigor Butarbutar dan/and Riskan Efendi 1
Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan
Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5, Po. Box 272 Bogor 16118 Telp. (0251) 8633944, Fax. (0251) 8634924. E-mail : [email protected]
2
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman
Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5, Po. Box 311 Bogor 16118 Telp. (0251) 8631238, Fax. (0251) 7520005, E-mail : [email protected]
Naskah masuk : 28 Juli 2010 ; Naskah diterima : 7 Oktober 2010
ABSTRACT
Implementation of one billion trees program based on site, market and sustainability need to be started by proper planning process. The proper planning process can be conducted by analysis of site suitability, market demand and planting, tending and harvesting techniques. Results from various research showed that models such as trees for food, tress for construction wood, tress for pulp, trees for fodder, trees for urban environment , trees for carbon sequestration and trees for culture can be implemented for the program. Through implementing such models, the economic, social and environment goals of one billion tree planting can be reached in maximum way.
Keywords : one billion trees planting, site, market, model and sustainability
ABSTRAK
Implementasi penanaman satu miliar pohon yang berbasis tempat tumbuh, pasar dan berkelanjutan perlu didahului dengan proses perencanaan yang tepat. Proses perencanaan yang tepat dapat dilakukan dengan analisa kesesuaian tempat tumbuh/jenis, permintaan pasar dan teknik penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pemasaran. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa model-model seperti tanaman jenis pangan, kayu pertukangan, jenis pulp, jenis pakan ternak, hutan kota, khusus penyerap karbon dan pohon untuk budaya dapat diterapkan untuk program di atas. Dengan menerapkan pola-pola di atas tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan program penanaman satu miliar pohon dapat tercapai dengan maksimal.
Kata kunci : penanaman satu miliar pohon, tempat tumbuh, pasar, model dan kelestarian
I. PENDAHULUAN
Visi pembangunan kehutanan yang ditujukan untuk masyarakat sejahtera dan hutan lestari telah dijabarkan ke dalam 8 (delapan) kebijakan prioritas dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P 70/Menhut/II/2009 antara lain : pemantapan kawasan hutan, rehabilitasi hutan dan peningkatan daya dukung daerah aliran sungai, pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan, konservasi keanekaragaman hayati, revitalisasi pemanfaatan hutan dan industri kehutanan, pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sektor kehutanan dan penguatan kelembagaan. Kebijakan prioritas rahabilitasi hutan, pemberdayaan masyarakat, dan perubahan iklim secara langsung dapat dijabarkan melalui program penanaman satu miliar pohon.
tempat tumbuh atau variasi lokasi yang sangat beragam untuk seluruh Indonesia; sebagai contoh untuk daerah-daerah yang mempunyai kesuburan tanah tinggi dan jumlah curah hujan yang cukup, penanaman relatif lebih mudah seperti umumnya di Sumatera dan Jawa dibandingkan dengan di daerah kering seperti di Indonesia bagian Timur.
Dengan pendekatan keanekaragaman tempat tumbuh di atas, penanaman, pemeliharaan dan pengelolaannya dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumberdaya yang sesuai dengan keanekaragaman tersebut sehingga tingkat keberhasilannya secara keseluruhan dapat maksimal. Pendekatan kedua adalah berbasis pasar, yang sangat menentukan keberhasilan program satu miliar pohon karena akan berhubungan langsung dengan peningkatan pendapatan masyarakat melalui panenan yang mempunyai harga jual yang layak. Pendekatan ketiga adalah keberlanjutan dari program penanaman satu miliar pohon.
Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan berbagai pola pendekatan dalam menerapkan program penanaman satu miliar pohon pada berbagai kondisi keragaman tempat tumbuh, pasar dan prinsip keberlanjutan.
II. BERBAGAI ALTERNATIF MODEL PENANAMAN SATU MILIAR POHON
A. Pertimbangan Memilih Model
Berbagai alternatif model penanaman satu miliar pohon sangat tergantung pada kondisi tapak/tempat tumbuh lokasi, pasar dan keberlanjutannya. Tempat tumbuh terkait dengan keanekaragaman jenis tanah, iklim dan topografi yang menentukan jenis pohon/tanaman/komoditi yang sesuai untuk dikembangkan. Di lain pihak pasar terkait dengan harga produk/hasil yang akan didapat dari berbagai model penanaman satu miliar pohon. sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Keberlanjutan berarti proses produksi mulai dari tanam sampai panen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam program satu miliar pohon. Rentang waktu dalam proses keberlanjutan tergantung model yang akan dikembangkan.
Tempat tumbuh atau tapak adalah jumlah seluruh kondisi yang efektif dimana tanaman atau seluruh masyarakat tumbuhan dapat hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi tempat tumbuh adalah tanah, iklim, fisiografi dan unsur biotik lainnya (Toumey and Korstian, 1959).
Adapun satuan/unitnya dapat ditentukan dalam unit-unit DAS, bentang lahan, unit tapak, unit petak, unit anak petak dan satuan lainnya. Tempat tumbuh sebagai suatu unit manajemen adalah tempat tumbuh yang mempunyai karakeristik tanah, iklim, topografi dan faktor lingkungan lainnya yang dapat ditentukan baik dalam skala mikro, meso maupun makro. Dengan pengelolaan yang berdasarkan kesamaan dalam karakteristik tertentu, maka input yang diperlukan dan output yang ditargetkan dapat diprediksi dengan tepat.
B. Model Penanaman Satu Miliar Pohon untuk Berbagai Tujuan
1. Model Agroforestri Berbasis Pangan
Pola ini merupakan model pendekatan agroforestry. Agroforestry adalah ekosistim buatan yang menggabungkan kedua unit ekosistim hutan dan pertanian/perikanan dan peternakan melalui budidaya yang memasukkan unsur ekosistim di atas ke dalam ruang dan waktu dalam ekosistim hutan. Berbagai model agroforestry yang sudah dipraktekkan leluhur kita di berbagai pedesaan Indonesia sejak zaman dahulu antara lain berupa tanaman pekarangan, ladang permanen, sistim tumpangsari, perladangan berpindah yang dikombinasi kegiatan berburu dan lain-lain, yang merupakan sumber pangan mandiri bagi mereka. Model-model tersebut dapat dikembangkan pada berbagai skala (rumah tangga, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional) yang pada akhirnya dapat menjadi lumbung pangan terutama dalam situasi kritis seperti saat ini dan di masa mendatang (Butarbutar, 2009). Dalam penerapannya untuk model penanaman satu miliar pohon, penanaman jenis kayu merupakan prioritas yang dicampur dengan tanaman pangan tumpang sari dan pohon penghasil pangan alternatif seperti sukun, sagu dan lain-lain.
tahun dan bahkan sepanjang daur. Hal ini memerlukan pengaturan jarak tanam yang lebih lebar dan pemilihan jenis yang mempunyai tajuk ringan. Sumarhani et al., (2005) melaporkan keberhasilan penanaman padi gogo tahan naungan yaitu padi gogo varietas Jatiluhur dan galur Dt-15/II/KU. Kedua varietas padi itu ditanam di bawah tegakan jati umur 3, 14 dan 26 tahun. Akhir-akhir ini banyak tanaman umbi-umbian seperti porang atau suweg dengan nilai yang lebih tinggi ditanam sebagai tumpangsari.
2. Model Berbasis Kayu Pertukangan
Pola ini merupakan penaman jenis pohon yang ditujukan untuk memenuhi permintaan kayu pertukangan dalam skala lokal, regional, nasional dan kebutuhan ekspor. Pola ini bisa dikembangkan dalam bentuk HTI, HTR , Hutan Desa, Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan (HKm).
Jenis pohon sengon (Paraserianthes falcataria) merupakan jenis unggulan khususnya di Jawa Barat. Di daerah Pangandaran satu batang pohon sengon berumur 5 tahun dengan diameter 35 cm yang telah dipotong dan siap di pinggir jalan angkutan mempunyai harga jual Rp.1.000.000,-(Effendi, 2010).
3. Model Berbasis Pulp
Pola ini khusus untuk memenuhi kebutuhan industri pulp dan paper yang umumnya dilakukan oleh perusahaan besar (padat modal). Pola ini dapat dilakukan berbagai industri pulp dan kertas yang mempunyai HTI, seperti PT. Riau Andalas Pulp and Paper (PT. RAPP), PT. Musi Hutan Persada (PT. MHP), PT. Toba Pulp Lestari (PT. TPL).
4. Model Agroforestry Berbasis Ternak
Ide pengembangan peternakan dalam kawasan hutan bukan merupakan hal baru di Indonesia. Beberapa pengembangan peternakan di Indonesia sudah mulai dilakukan di kawasan perkebunan. Pengembangan peternakan di areal perkebunan terutama di areal perkebunan rakyat sangat berpotensi antara lain untuk penanaman pakan hijauan ternak dan padang penggembalaan (Subagyono , 2004 ).
Salah satu model yang sudah dikembangkan di Bali adalah Sistim Tiga Strata, dengan penggabungan ternak sapi dan tanaman pakannya (berupa rumput dan pohon penghasil daun untuk ternak) dan pohon untuk kayu (Nitis et al., 2004). Pola ini merupakan pengembangan model agrosilvopasture, yang merupakan gabungan tanaman kehutanan dengan pertanian dan ternak. Pohon yang ditanam umumnya jenis yang menghasilkan pakan ternak dengan tanaman pertanian sebagai tanaman sela dimana ternak dipelihara dengan semi intensif melalui penggembalaan dan pengandangan. Pola ini cocok di daerah-daerah semi arid yang mempunyai curah hujan dan tingkat kesuburan tanah yang relatif rendah.
5. Model Berbasis Hutan Kota
Pola ini dapat dikembangkan di perkotaan sebagai tanaman pingir jalan, kebun raya dan bentuk penutupan lainnya. Jenis trembesi (Samanea saman), agathis, mahoni merupakan jenis pohon yang dapat dikembangkan untuk model ini. Jenis pohon lainnya yang banyak ditanam di taman kota antara lain jenis andalan lokal seperti meranti, kapur, keruing.
Hutan kota sangat penting bagi kesehatan suatu kota karena dapat berfungsi sebagai paru-paru kota. Kota Bogor yang memiliki kebun raya dapat dijadikan contoh untuk membangun kebun raya di kota lain. Baru-baru ini Kota Balikpapan, Kalimantan Timur telah membangun hutan kota yang cukup luas dan berdekatan dengan Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan. Jenis pohon yang ditanam terutama jenis asli pulau Kalimantan.
6. Model Berbasis Karbon
Vinceti et al. (2008) menyebutkan bahwa hutan berperan sebagai pencegah erosi tanah, penyaring dan pengatur aliran air bersih, pengontrol hama dan penyakit, penyedia tempat/naungan (shelter), tempat berkumpul fauna yang berfungsi sebagai pollinator (penyerbuk) dan pencegah pemanasan global dengan menyerap karbon.
7. Model Berbasis Budaya
Pola ini dapat dikatakan menjadi pola yang baru dan dapat diterapkan pada berbagai wilayah masyarakat yang masih menopang kehidupan ekonomi sosialnya terhadap hutan. Sebagai contoh, di beberapa suku di Sumatera Utara (berupa hutan larangan/hutan keramat, hutan untuk keperluan perayaan adat), di Jawa (hutan larangan, untuk semedi dan lain-lain), di Kalimantan (suku Dayak), di Papua (masih umum dalam suku yang terdapat di pedalaman), serta di Nusa Tenggara Timur (sistim mamar dan lain-lain). Khusus di Bali, pola ini dapat digabung dengan pola silvopasture dengan Sistim Tiga Strata yang merupakan bagian dari budaya Bali.
Di desa Setulang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur menanam pohon sudah menjadi budaya masyarakat setempat. Jenis pohon yang ditanam selain buah-buah juga jenis pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) yang sangat kuat dan sangat awet dan jenis asli Kalimantan. Jenis ini mempunyai kaitan erat dengan budaya khususnya suku Dayak Kenyah. Desa ini juga mempunyai hutan desa seluas kurang lebih 5000 ha berupa hutan perawan, yang dikenal dengan nama taneq olen dan telah mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah (Effendi, 2010).
III. TAHAPAN KEBERLANJUTAN PROGRAM SATU MILIAR POHON
Keberlanjutan merupakan proses yang memerlukan waktu yang relatif cukup lama, dalam hal ini sampai masa panen dari jenis kayu atau komoditi lain yang dibudidayakan.
A. Penamanam Satu Miliar Pohon sebagai Program Quick Win
Dalam Pedoman Umum Reformasi Birokrasi Per/15/M.PAN/7/2008 disebutkan bahwa tahapan reformasi birokrasi terdiri dari membangun kepercayaan masyarakat, membangun komitmen dan partisipasi, mengubah pola pikir dan memastikan keberlangsungan berjalannya dan terjadinya perubahan. Untuk tahap membangun kepercayaan masyarakat diperlukan program percepatan yang disebut dengan “quick win” yang merupakan produk atau jasa layanan publik yang dihasilkan oleh Kementerian /Lembaga/Pemerintah Daerah yang secara nyata dapat ditunjukkan kepada masyarakat sebagai bagian dari hasil reformasi birokrasi, contohnya : penyederhanaan, penyingkatan waktu pelayanan, perubahan sikap pegawai terhadap pengguna, pelayanan “jemput bola”, penanganan pengaduan dan seterusnya. Adapun kriteria untuk menentukan program percepatan adalah: (1) langsung bersentuhan dengan kebutuhan minimal masyarakat luas, (2) out put sejalan dengan tugas pokok dan fungsi, dan (3) dapat diselesaikan dalam jangka waktu kira-kira 12 bulan serta hasilnya dapat dengan cepat dirasakan oleh pengguna.
Tahapan yang diperlukan dalam program quick win adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi kegiatan yang memiliki daya pengungkit untuk meningkatkan kinerja
2. Identifikasi area-area yang bermasalah dalam proses menghasilkan jasa/barang dan bagaimana penyelesaian masalahnya
3. Menetapkan program percepatan
4. Membuat rencana percepatan program percepatan
5. Membuat rencana pelaksanaan program percepatan yang menyangkut : a. Latar Belakang
b. Hasil akhir yang diharapkan
c. Pendekatan (metode) yang digunakan
d. Rencana pelaksanaan detail dan keluaran dari masing-masing kegiatan e. Penanggungjawab dan sumberdaya yang diperlukan.
Dalam tahapan membangun kepercayaan masyarakat ini berbagai ujicoba dapat dilakukan di KHDTK di KPH-KPH Model, di lahan milik (Hutan Rakyat) dan ujicoba lainnya (Hutan Kota, Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan).
B. Tahapan Selanjutnya
(tiga) tahapan yaitu: (1) membangun komitmen dan partisipasi, (2) mengubah pola pikir, dan (3) memastikan kelangsungan sistim dan terjadinya perubahan. Langkah pertama akan diselesaikan dalam jangka pendek, langkah kedua merupakan target jangka menengah dan langkah ketiga merupakan target jangka panjang.
Selanjutnya dalam Tabel 1 disampaikan kegiatan dan tata waktu yang disarankan pada skala ujicoba untuk model tertentu dengan rinciannya.
Tabel (Table) 1. Rincian kegiatan untuk ketiga tahapan reformasi selanjutnya (Detail of activities for the
No. Kegiatan
2. Mengubah pola pikir penataan sistem jadi instrumen untuk :
a. Membentuk pola pikir b. Membentuk budaya
c. Membentuk nilai-nilai organisasi
x x
x
3. Memastikan keberlangsungan berjalannya sistem dan terjadinya perubahan :
Keterangan (Remarks) : Penetapan waktu di atas berdasarkan Petunjuk Umum Reformasi Birokrasi Per/15/M.PAN/7/2008 hanya disebutkan jangka pendek, menengah dan jangka panjang (The above time schedule is based on General Instruction for Bureaucracy Reformation) of : Per/15/MPAN/7/2008, only short, middle and long term are mentioned)
IV. KESIMPULAN
1. Pola pengembangan program penanaman satu miliar pohon dapat dilakukan dengan 7 (tujuh) model yaitu: (1) berbasis pangan, (2) berbasis kayu pertukangan, (3) berbasis pulp, (4) berbasis ternak, (5) berbasis hutan kota, (6) berbasis karbon, dan (7) berbasis budaya.
2. Lokasi penanaman dapat disesuaikan dengan lokasi program HTI, HTR, Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Adat, Hutan Kota dan lokasi lain di luar kawasan hutan yang tersebar di seluruh Indonesia.
3. Proses keberlanjutan program satu miliar pohon dapat dilakukan melalui tahapan reformasi yang di awali dengan program ini sebagai Quick Win yang diikuti dengan tahapan membangun komitmen dan partisipasi, mengubah pola pikir dan memastikan berjalannya sistim melalui penguatan institusi, deregulasi regulasi, pengawasan, serta sarana dan prasarana.
DAFTAR PUSTAKA
Butarbutar, T. 2009. Potensi Kontribusi Sektor Kehutanan terhadap Ketahanan Pangan Nasional melalui Pengembangan Agroforestry. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Volume 6 Nomor 3 Tahun 2009. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan. Bogor. Hal. :169-178.
Anonimus. 2008. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Per/15/M.PAN/7/2008. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Jakarta
Effendi, R. 2010. Laporan Perjalanan Dinas ke BPK Ciamis Jawa Barat. Puslitbang Hutan Tanaman Bogor. Tidak diterbitkan.
Effendi, R. 2010. Kearifan Lokal Melestarikan Hutan dan Menanam Pohon : Studi Kasus di Malinau, Kalimantan Timur. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal untuk Menghadapi Tantangan Global dalam Rangka Dies Natalis ke-46 UNY 11 Mei 2010. Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta.
Nitis, I..M., K. Lana dan A.W. Puger. 2004. Pengalaman Pengembangan Tanaman Ternak Berwawasan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman- Ternak. Denpasar, 20-22 Juli 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Bali dan Crop-Animal System Research Network (CASREN); 44-52
Subagyono, D. 2004. Prospek Pengembangan Ternak Pola Integrasi di Kawasan Perkebunan. Prosiding Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Denpasar, 20-22 Juli 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Bali dan Crop-Animal System Research Network (CASREN); 13-17
Sumarhani, H. Alrasjid dan Y. Heryati. 2005. Uji Coba Padi Gogo (Oriza sativa) Tahan Naungan dengan Sistem Wanatani di bawah Tegakan Hutan Tanaman Jati (Tectona grandis) di BKPH Jampang Kulon, Jawa Barat. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Volume II No. 3 . Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Toumey, J. and C.F. Korstian. 1959. Foundation of Silviculture. John Wiley. New York