PENANAMAN POHON DAN KELESTARIAN AIR: KESUKSESAN UPAYA MASYARAKAT LOKAL
(Trees Planting and Water Sustainability: A Success Story of Local Community)*)
Oleh/By:
I Wayan Susi Dharmawan, Enny Widyati, A. Ng. Gintings, Syafruddin Hk., dan/and Haddy Sudiana
Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam
Jl. Gunung Batu No. 5 Po Box 165; Telp. 0251-8633234, 7520067; Fax 0251-8638111 Bogor
*) Diterima : 03 Juni 2008; Disetujui : 28 Agustus 2008
ABSTRACT
At present, our country faces many problems either natural disaster or environmental problems that it takes our energy for tackling it. Many activities were done by government to tackle the problems of natural disaster or environmental problem. Flood and landslide are natural disaster with high frequency in the late decade. Trees planting with multi layer and much coverage on land and forest area will reduce impacting the natural disaster, such as flood and landslide. Beside that, trees planting will increase water capacity in soil, so that it is less drought in the dry season and no flood in the rainy season. Activities of trees planting by local community gave good results, such as: guarantee of water sustainability and increasing soil productivity. That activities done by local community give a success example and educate people. Field survey and direct interview with related stakeholders in the field, show the positive effects of tree planting on hydrology and soil productivity. This article will describe the success practices of trees planting by community and its merit to the water sustainability.
Keywords: Trees planting, water sustainability, local community
ABSTRAK
Saat ini, negara kita banyak menghadapi permasalahan bencana alam maupun permasalahan lingkungan yang sangat memeras energi kita untuk mengatasinya. Sudah banyak kegiatan maupun aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi bencana alam maupun permasalahan lingkungan. Banjir dan tanah longsor merupakan kejadian bencana alam yang sering terjadi akhir-akhir ini. Untuk mengurangi dampak atau akibat bencana alam banjir dan tanah longsor, maka dapat dilakukan dengan penanaman kembali lahan-hutan dengan tajuk berlapis dan tutupan (coverage) sebanyak mungkin. Dengan adanya kegiatan penanaman pohon, cadangan air di dalam tanah akan semakin meningkat, sehingga pada saat musim kemarau tidak terjadi kekeringan dan pada saat musim hujan tidak terjadi banjir. Usaha-usaha penanaman pohon oleh masyarakat lokal telah membuahkan hasil yang menggembirakan, antara lain kelestarian air terjamin dan produktivitas tanah meningkat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat lokal tersebut dapat dijadikan sebagai contoh keberhasilan dan pembelajaran bagi semua pihak. Hasil survei lapangan dan wawancara langsung dengan pihak-pihak terkait di lapangan memperlihatkan adanya pengaruh positif kegiatan penanaman hutan terhadap keadaan tata air dan produktivitas lahan. Tulisan ini akan mengupas praktek-praktek keberhasilan penanaman pohon oleh masyarakat dan manfaatnya terhadap kelestarian air.
Kata kunci : Penanaman pohon, kelestarian air, masyarakat lokal
I. PENDAHULUAN
Sesuai dengan Undang-Undang No 41/1999 tentang Kehutanan, hutan mem-punyai beberapa fungsi antara lain meng-hasilkan kayu, menjaga kesuburan tanah, melindungi tata air, menjaga keanekara-gaman hayati, menjaga iklim mikro, dan
Terwujudnya kelestarian air tidak ter-lepas dari usaha-usaha konservasi air itu sendiri. Atau dengan kata lain, konserva-si air merupakan upaya yang diperlukan untuk melestarikan sumberdaya air. Me-nurut Subagyono (2007), strategi konser-vasi air diarahkan untuk meningkatkan cadangan air pada wilayah perakaran ta-naman dengan upaya-upaya pengendalian aliran permukaan, peningkatan infiltrasi, pengurangan evaporasi, dan introduksi ta-naman yang hemat air. Kegiatan pena-naman pohon oleh masyarakat dapat di-katakan sebagai upaya konservasi air ka-rena di dalamnya terdapat tindakan untuk mengendalikan aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi air hujan. Dengan adanya pohon-pohon di atas permukaan tanah, diharapkan akan tersimpan “perse -diaan air yang cukup banyak di dalam ta-nah” sehingga masyarakat tidak akan ke -kurangan air.
Telah banyak program-program pena-naman pohon yang dilakukan oleh peme-rintah seperti reboisasi dan rehabilitasi la-han serta GNRHL (Gerakan Nasional Re-habilitasi Hutan dan Lahan). Pada prin-sipnya kegiatan penanaman pohon ini merupakan bagian dari program pemba-ngunan lingkungan hidup secara luas. Program pembangunan lingkungan hidup ini akan berhasil hanya jika masyarakat termotivasi untuk ikut serta dalam prog-ram pembangunan tersebut. Dalam tulis-an ini dipaparktulis-an juga bagaimtulis-ana moti-vasi masyarakat untuk menanam pohon, apakah motivasi tersebut muncul dari diri sendiri ataukah motivasi muncul setelah pemerintah menginisiasi program tertentu ke masyarakat? Menurut Koesnadi Har-djasoemantri dalam Laporan Pemerintah Kabupaten Madiun (2006), disebutkan beberapa faktor sosial ekonomi yang mem-pengaruhi motivasi masyarakat untuk ikut melaksanakan kegiatan konservasi lingkungan, antara lain tingkat pendidik-an, tingkat pendapatpendidik-an, tingkat pengeta-huan tentang konservasi, dan luas lahan yang dimiliki.
Pengelolaan hutan yang tepat, peman-faatan hutan yang sesuai, penyelenggara-an perlindungpenyelenggara-an hutpenyelenggara-an dpenyelenggara-an konservasi alam yang serasi akan mendatangkan manfaat langsung ataupun tidak langsung kepada masyarakat. Kegiatan penanaman pohon oleh masyarakat akan mendatang-kan manfaat tidak langsung seperti keter-sediaan air terjaga dan produktivitas ta-nah meningkat. Kegiatan penanaman po-hon oleh masyarakat lokal yang dapat menjamin kelestarian air merupakan con-toh cerita keberhasilan (success story) yang dapat dijadikan teladan dan pembe-lajaran bagi masyarakat luas. Success sto-ry di bidang kehutanan diartikan sebagai kegiatan-kegiatan di bidang kehutanan yang memberikan manfaat/keuntungan kepada masyarakat, baik langsung mau-pun tidak langsung.
II. METODOLOGI
A. Lokasi Survei
Survei lapangan dilakukan di empat provinsi yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DI Yogyakarta), dan Jawa Timur. Pe-nentuan lokasi didasarkan atas diskusi de-ngan pejabat/petugas Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DI Yogya-karta), dan Dinas Kehutanan Provinsi Ja-wa Timur. Lokasi yang dipilih untuk di-kunjungi dan dikaji aspek kegiatan pena-naman pohon yang berhubungan dengan kelestarian air, yaitu :
1. Di Provinsi Jawa Barat: Kelompok Tani Hutan Baru Rangga (Kabupaten Garut), Kelompok Tani Hutan Hegar Sari 2 (Kabupaten Ciamis).
2. Di Provinsi Jawa Tengah: Kelompok Tani Hutan di Desa Bumi Sari (Kabu-paten Purbalingga), Kelompok Tani Hutan Sidomakmur di Desa Jonggol Sari (Kabupaten Wonosobo).
(Kabupaten Gunung Kidul), Hutan Rakyat Gerhan Desa Selopamioro (Kabupaten Bantul).
4. Di Provinsi Jawa Timur: Kelompok Tani Sidomulyo (Kabupaten Luma-jang).
B. Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan sebagai bahan kajian adalah data sekunder (profil Gerhan kabupaten, monografi desa atau kelompok tani) dan data primer yang di-dapat dari wawancara dengan masyarakat serta melihat penampilan tegakan. Alat-alat yang dipergunakan adalah kuesioner, alat tulis, dan kamera.
C. Prosedur Kerja
Kegiatan ini dilakukan melalui bebe-rapa tahapan sebagai berikut:
1. Penentuan lokasi survei. Tahapan ini dilakukan dengan melakukan diskusi dan wawancara dengan instansi terka-it seperti Dinas Kehutanan Provinsi, Dinas Kehutanan Kabupaten, dan UPT-UPT Departemen Kehutanan. 2. Pengumpulan data sekunder seperti
profil Gerhan kabupaten, monografi desa, dan monografi kelompok tani. 3. Pengumpulan data primer dilakukan
melalui wawancara langsung di la-pangan dengan kelompok-kelompok tani maupun pihak-pihak terkait la-innya.
4. Tabulasi data dan melakukan desk discussion.
5. Hasil dari desk discussion dibuat tu-lisan secara deskriptif.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setiap kegiatan kehutanan yang dila-kukan akan memberikan manfaat, baik yang dirasakan langsung oleh masyarakat maupun yang tidak langsung dirasakan oleh masyarakat. Manfaat langsung ada-lah hasil yang secara langsung dapat dira-sakan oleh masyarakat misalnya hutan se-bagai penghasil kayu (pertukangan, kayu
bakar, kayu untuk patung, dan lain-lain), penghasil buah (durian, saninten, tengka-wang, dan lain-lain), hutan sebagai pene-duh sehingga udara tidak panas, hutan se-bagai penahan angin sehingga kecepatan angin dapat dikurangi, hutan (bakau, ce-mara pantai) sebagai penahan tsunami, binatang buruan meningkat, dan lain-lain. Manfaat tidak langsung adalah hasil yang secara tidak langsung dapat dirasakan oleh masyarakat misalnya hutan di pegu-nungan dapat meningkatkan jumlah curah hujan, hutan mengakibatkan air dalam ta-nah tersedia secara lebih stabil, hutan da-pat mempengaruhi keberhasilan tanaman pangan di sekitarnya khususnya di bagian yang lebih rendah dari lokasi tanaman hutan, kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan lebih baik, dan lain-lain (Ilyas et al., 1996; Bruijnzeel, 2006). Se-perti dilaporkan oleh Gintings et al. (1992), beberapa contoh manfaat tidak langsung dari kegiatan kehutanan dapat ditemukan seperti berikut:
1. Penanaman tanah kosong di Keca-matan Cawas, Kabupaten Klaten. Pa-da saat Pa-daerah pegunungan di Desa Cawas masih gundul maka pada mu-sim kemarau sumur-sumur di per-kampungan akan kering dan masyara-kat Desa Cawas harus mencari air ku-rang lebih tiga km dari perkampung-an. Selanjutnya setelah pegunungan ditanamai tanaman tahunan antara la-in eukaliptus dan jambu biji, maka mulai tahun ketiga air sumur tetap tersedia walaupun di musim kemarau. Dengan hasil seperti itu maka masya-rakat telah meyakini bahwa tanaman tahunan yang ditanam di pegunungan dapat meningkatkan ketersediaan air di musim kemarau.
tahun setelah Gunung Haledong Ha-ruman dihijaukan dengan tanaman ta-hunan seperti kaliandra, nangka, se-ngon, dan lain-lain, maka captering air yang dibangun Perum Perhutani di kaki Gunung Haledong Haruman tetap berair walaupun di musim ke-marau.
Dari hasil survei di lapangan, telah di-temukan contoh-contoh keberhasilan pe-nanaman dapat menjamin kelestarian air bagi masyarakat. Praktek-praktek keber-hasilan penanaman pohon oleh masyara-kat dan manfaatnya terhadap kelestarian air dideskripsikan sebagai berikut :
A. Kelompok Tani Hutan Baru Rangga
Kelompok Tani Hutan Baru Rangga diketuai oleh Udin dan didirikan pada hun 1997 serta baru diformalkan pada ta-hun 2002. Kelompok tani ini berlokasi di Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut dan memiliki anggota sebanyak 37 orang yang terdiri dari para petani sayuran. Untuk kegiatan penilaian Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) tahun 2003, Kelompok Tani Hutan Baru Rangga mendapatkan Peringkat I Tingkat Provinsi Jawa Barat dan Peringkat III Tingkat Nasional.
Pada awal pembentukannya, Kelom-pok Tani Hutan Baru Rangga didirikan dengan motivasi untuk lebih meningkat-kan kekuatan sesama petani sayuran. Se-iring dengan perkembangan bahwa di se-kitar lokasi mereka terdapat lahan kritis yang luas, maka mereka bertekad untuk lebih meningkatkan peran mereka dalam merehabilitasi lahan kritis tersebut. Un-tuk itu, mereka bersepakat membenUn-tuk kelompok tani supaya dapat menghijau-kan kembali lahan kritis di desa mereka dan dapat meningkatkan hasil penjualan sayurannya.
Kegiatan penanaman lahan kritis dila-kukan di lahan milik sebagai hutan rakyat dan didanai oleh anggaran Gerhan sebe-sar Rp 2.450.000,-/ha pada luasan 25 ha. Untuk proporsi luasan masing-masing
anggota bervariasi antara 0,2 ha sampai dengan 1,0 ha. Jenis-jenis tanaman yang ditanam meliputi suren, mahoni, alpukat, nangka, durian, mangga, dan waru gu-nung. Waru gunung ditanam atas inisiatif masyarakat dan bukan jenis yang direko-mendasikan dalam Gerhan. Namun de-mikian, jenis ini memiliki pertumbuhan yang sangat bagus dan pada umur enam tahun sudah bisa ditebang karena diame-ternya sudah mencapai 20 cm, sehingga jenis ini merupakan jenis yang ekonomis dan dapat cepat dipanen. Pada tahun 2007 beberapa jenis tanaman buah-bu-ahan sudah berbuah dan hal ini memberi-kan keuntungan tambahan bagi kelompok tani, baik itu buahnya dijual ataupun di-konsumsi sendiri.
Kegiatan Gerhan telah memberikan manfaat yang banyak kepada masyarakat antara lain kondisi tanah lebih subur, ke-keringan air sudah dapat dikurangi, air ti-dak keruh lagi, dan titi-dak adanya longsor-an dari tempat-tempat ylongsor-ang berlereng cu-ram karena tanahnya sudah terikat oleh akar tanaman tahunan. Pada waktu sebe-lum Gerhan, kawasan di sekitar kelom-pok tani merupakan lahan yang gundul/ kritis dan hanya ditanami sayur-sayuran saja tanpa ada tanaman tahunan (buah-buahan atau jenis tanaman hutan) sehing-ga secara keseluruhan hasilnya tidak maksimal. Gambaran lahan kritis yang telah ditanami dengan program Gerhan dan ketersediaan air di Desa Kadungora ditampilkan secara berturut-turut pada Gambar 1 dan Gambar 2.
B. Kelompok Tani Hutan Hegar Sari 2
Gambar (Figure) 1. Kondisi lahan di Desa Ka-dungora, Garut yang telah ditanami program Ger-han (Land condition at Kadungora Village, Garut with Gerhan programme)
Gambar (Figure) 2. Ketersediaan air di musim kemarau tetap terjaga di Desa Kadungora, Garut (The availability of water in dry season at Ka-dungora Village, Garut)
lahan yang produktif. Usaha kelompok tani ini tidak sia-sia karena telah berhasil menghijaukan kembali lahan kritis seluas 230 ha menjadi lahan yang benar-benar produktif dan pada tahun 2006 meraih Ju-ara I Lomba GRLK (Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis) Tingkat Provinsi Jawa Barat.
Lahan di desa ini bertopografi berat dengan tingkat kelerengan 45% dan pada awalnya hanya berhamparkan tanaman pisang. Pada tahun 2007 sudah terdapat 60 ribu pohon antara lain jati, mahoni, waru gunung, durian, kopi, cengkeh, dan nilam. Kendala dalam penghijauan yang masih dihadapi saat ini adalah terdapat-nya lahan seluas 25 ha yang belum ter-tanami karena kondisi tanahnya yang ber-batu dan curam sehingga sulit untuk
ditanami. Usaha penanaman baru dilaku-kan sebatas pada jenis gliricidia.
Manfaat yang telah diperoleh dengan adanya penghijauan ini adalah sumber air di desa sudah terisi kembali dan apabila kemarau masih terdapat sumber air serta iklim di desa makin sejuk.
C. Kelompok Tani Hutan di Desa Bu-misari, Kabupaten Purbalingga
Di desa Bumisari terdapat tiga kelom-pok tani hutan rakyat swadaya, yaitu Su-bur Makmur (Ketua: Usman), Karya Tani (Ketua: Nahwani), dan Sidomakmur (Ke-tua: Suryanto) dengan anggota 25-38 orang per kelompok. Masing-masing ke-lompok mengelola lahan seluas 25 hektar yang merupakan lahan milik.
Kepala Desa Bumisari (Bapak Suwig-nyo) memenangkan Juara III Tingkat Na-sional pada tahun 2006 sebagai Kepala Desa Peduli Kehutanan. Hal ini karena beliau memelopori penanaman sengon pada tahun 1996, tanpa mengajak masya-rakat beliau memberi contoh menanam sengon. Hal ini karena memang Pak Ka-des (Kepala Desa) memiliki prinsip sedi-kit bicara tetapi berkarya nyata. Menurut keterangan Bapak Usman (Ketua Kelom-pok Tani Subur Makmur) sebelum Pak Kades memelopori penanaman kayu, ka-lau musim kemarau susah air, tapi seka-rang air tersedia sepanjang tahun. Tegak-an tTegak-anamTegak-an sengon yTegak-ang ditTegak-anam pada ta-hun 1997 ditampilkan pada Gambar 3.
Desa Bumisari merupakan daerah hu-lu (wilayahnya sampai ke puncak Gunung
Slamet) dari Obyek Wisata Air Bojongsa-ri (OWABONG) yang merupakan salah satu penopang sumber air dari obyek wi-sata tersebut. Oleh karena itu, Bupati Pur-balingga sangat peduli pada kelestarian hutan di daerah hulu. Dengan kegiatan tersebut Bupati Purbalingga menjadi Ju-ara I Tingkat Nasional sebagai Bupati Pe-duli Kehutanan.
Dengan adanya aktivitas masyarakat Desa Bumisari yang telah menanam se-ngon, maka hal itu telah memberikan sumbangan/pasokan air yang berarti bagi kawasan wisata OWABONG (Gambar 4). Hal ini membuktikan bahwa pena-naman pohon sengon di hulu (Desa Bu-misari) telah menjamin kelestarian pasok-an air ke OWABONG.
Gambar (Figure) 4. Pemanfaatan air untuk ka-wasan wisata OWABONG (Water utilization for OWABONG tourism)
D. Kelompok Tani Hutan Sidomakmur
Kelompok Tani Hutan Sidomakmur berlokasi di Desa Jonggol Sari, Kelurah-an Kalimendong, KecamatKelurah-an Leksono, Kabupaten Wonosobo dan diketuai oleh Rohmadi. Kelompok tani ini telah me-ngembangkan hutan rakyat sengon seluas 297 ha dengan anggota kelompok 500 orang. Mereka menanam sengon dengan jarak tanam 5 m x 4 m. Di bawah tegak-an sengon dittegak-anami dengtegak-an salak pondoh dengan populasi 2.000 batang per hektar. Untuk menyiapkan bibit sengon, mereka membuat bibit cangkokan yang sudah memiliki tinggi minimal tiga meter se-hingga bibit siap berkompetisi dengan tanaman salak untuk mendapatkan cahaya.
Kelompok Tani Hutan Sidomakmur juga telah melaksanakan PHBM (Pemba-ngunan Hutan Bersama Masyarakat) pada lahan hutan seluas 19 hektar, yang pada awalnya direncanakan seluas 69 hektar. Pada kegiatan ini, masyarakat diberi ke-sempatan menanam salak di bawah te-gakan pinus yang sudah berumur 5-6 ta-hun.
Dengan adanya kegiatan hutan rakyat sengon dan PHBM oleh Kelompok Tani Hutan Sidomakmur, maka hal tersebut te-lah memberikan dampak positif terhadap kualitas lingkungan di desanya terutama ketersediaan air dan produktivitas lahan meningkat. Dengan campuran tanaman (Program PHBM di Desa Kalimendong) yang hampir seluruh lahannya tertutup ta-naman tahunan dan tata-naman bawah membuat air mengalir sepanjang tahun. Aliran air selokan yang mengalir melalui Desa Kalimendong pada saat musim ke-marau ditampilkan pada Gambar 5. Wi-layah perbatasan Kecamatan Leksono yang ditanami Pinus merkusii dan di ba-wahnya ditanami salak membuat mata air masih terus mengalir walaupun pada mu-sim kemarau. Pancuran air yang terus mengalir yang arahnya menghadap ke Sungai Songoluang (perbatasan Kecamat-an Leksono dKecamat-an KecamatKecamat-an Sukoharjo), merupakan bukti bahwa penanaman po-hon akan menjamin kelestarian air (Gam-bar 6).
Gambar (Figure) 6. Pancuran air di Desa Kali-mendong, Kecamatan Leksono (The waterspout at Kalimendong Village, Leksono Sub-district)
E. Kelompok Tani Hutan Rakyat Margomulyo
Kelompok Tani Hutan Rakyat
(KTHR) Margomulyo diketuai oleh Sura-dal dan berlokasi di Dusun Pringsurat, Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul. Keinginan membentuk paguyuban tersebut dilandasi oleh semangat dan keinginan warga un-tuk memperoleh kehidupan dan kesejah-teraan yang lebih baik. Menurut Bapak Suradal, pada tahun 1987 rata-rata kelu-arga di Pringsurat termasuk kelukelu-arga pra sejahtera. Hal ini ditandai dengan ke-mampuan keluarga untuk menyekolahkan anaknya paling tinggi sampai tingkat SLTP. Meningkatnya kesejahteraan ma-syarakat dapat ditandai dengan mening-katnya kemampuan masyarakat dalam menyekolahkan anaknya. Pada saat ini sudah banyak keluarga yang memiliki anak yang duduk di perguruan tinggi. Komoditas kayu yang menjadi andal-an masyarakat daerah ini adalah jati, ma-honi, dan Acacia auriculiformis. Masya-rakat banyak menanam jati di lahan-lahan mereka dalam bentuk hutan-hutan rakyat. Jati dapat dipanen paling cepat umur 15 tahun dengan harga rata-rata Rp 600.000,- per batang. Untuk menjaga ke-lestarian maka disepakati tebang satu ta-nam 10 dan sudah dituangkan dalam ben-tuk peraturan KTHR secara tertulis. Ke-lompok Tani tersebut mempunyai lahan seluas 186 ha dengan jarak tanam 3 m x 4
m. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan dilakukan penjarangan dua kali, yaitu pa-da umur lima tahun pa-dan sembilan tahun. Tanaman jati umur 10 tahun ditampilkan pada Gambar 7.
Tanaman jati ini, selain mendapatkan keuntungan secara ekonomi, secara eko-logi masyarakat juga merasakan muncul-nya sumber mata air pada tahun 2001 se-telah mereka menanam tanaman jati. Su-ngai masih tetap berair walaupun pada musim kemarau panjang (Gambar 8).
Gambar (Figure) 7. Tanaman jati umur 10 tahun (10-year old jati plantation)
Gambar (Figure) 8. Sungai masih tetap berair walaupun pada musim kemarau panjang (Water availability at river although in long dry season)
F. Hutan Rakyat Gerhan Desa Selo-pamioro
Desa Selopamioro, Kabupaten Bantul terletak 23 km arah tenggara Kota Yog-yakarta dan berjarak 13 km dari kota ka-bupaten serta 5 km dari kota kecamatan. Masyarakat Desa Selopamioro sudah me-nanam jati sejak tahun 1970-an, sehingga kegiatan pembangunan hutan oleh ma-syarakat sudah berlangsung lebih dari 30 tahun.
dalam membangun hutan. Untuk mensuk-seskan Gerhan, mereka mamperkuat Ke-lompok Tani Sapuangin yang sudah ter-bentuk menjadi Gabungan Kelompok Ta-ni Hutan (Gapoktan) Sapuangin yang ber-anggotakan 932 orang dari 18 dusun yang ada di Desa Selopamioro.
Gapoktan Sapuangin menanam jati dan melinjo (terutama jati) pada lahan se-luas 350 ha yang tersebar di 11 dusun. Di samping itu terdapat lahan hutan konser-vasi seluas 336 ha dan hutan pelestarian seluas satu ha di mana lahan tersebut mi-lik Keraton Yogyakarta yang dikenal se-bagai lahan SG (Sultan Ground). Pada la-han SG masyarakat diijinkan mengelola tanpa membayar apapun.
Tanah di Dusun Jetis, Desa Selopami-oro mempunyai solum sangat tipis (ber-batu-batu) sebagaimana diperlihatkan pa-da Gambar 9. Namun setelah apa-danya kegiatan penanaman jati secara swadaya selama 30 tahun dan adanya program Gerhan, maka air tersedia sepanjang ta-hun (Gambar 10).
Menurut Bapak Sudiyono (Ketua Ke-lompok Tani Hutan Dusun Jetis), sebe-lum adanya penanaman jati secara swada-ya dan program Gerhan, warga Dusun Je-tis hanya mempunyai ketersediaan air sampai bulan Agustus-September dan
ha-nya cukup untuk 30 KK saja. Setelah bu-lan September, warga kekurangan air dan harus mengambil air dari Kali Oyo. Sete-lah menanam jati secara swadaya selama 30 tahun ditambah dengan program Ger-han, ketersediaan air cukup untuk kebu-tuhan 90 KK warga, bahkan masih cukup untuk irigasi sawah dan air melimpah se-panjang tahun. Adanya gerakan pena-naman jati dan program Gerhan di Desa Selopamioro tersebut telah membuat ta-nah memiliki daya serap air yang tinggi sehingga ketersediaan air juga meningkat.
Gambar (Figure) 9. Kondisi tanah di Dusun Je-tis, Desa Selopamioro: berbatu-batu dengan so-lum sangat dangkal (Soil condition at Jetis, Selo-pamioro Village: stony with very shallow solum)
Tabel (Table) 1. Nilai koefisien aliran permukaan (C) pada beberapa penggunaan lahan (Value of run off coefficient (C) at several land use)
Tataguna lahan (Land use) Kondisi tanah (Soil condition) Nilai C (C value)
Tanah kosong (Bare land) Rata (Flat) 0,30-0,60
Bergelombang (Undulate) 0,20-0,50 Ladang garapan (Cultivation land) Tanah berat, tanpa vegetasi (Clay soil, no
vegetation)
0,30-0,60
Tanah berat, dengan vegetasi (Clay soil, vegetation)
0,20-0,50
Berpasir, tanpa vegetasi (Sandy, no vegetation)
0,20-0,25
Berpasir, dengan vegetasi (Sandy, vegetation) 0,10-0,25 Padang Rrmput (Grass land) Tanah berat (Clay soil) 0,15-0,45
Berpasir (Sandy) 0,05-0,25
Hutan/bervegetasi (Forest/vegetation) - 0,05-0,25
Dengan adanya penanaman jati dan program Gerhan, maka selain ketersedia-an air tetap terjaga, keuntungketersedia-an lain ada-lah tanah di Desa Selopamioro terlindung dari bahaya erosi. Terkait dengan erosi, pada beberapa macam penggunaan lahan terlihat bahwa nilai koefisien aliran per-mukaan (C) berbeda-beda (US Forest Service, 1980 dalam Asdak, 2002) (Tabel 1).
G. Kelompok Tani Sidomulyo
Kelompok Tani Sidomulyo berlokasi di Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang. Kelompok tani ini diketuai oleh Djarot S. Effendi. Desa Kertowono terletak 50 km dari Kota Lu-majang dan 5 km dari ibukota Kecamatan Gucialit. Berdasarkan letaknya Desa Ker-towono merupakan desa penyangga Ta-man Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS).
Kelompok Tani ini pada tahun 2004 dan 2006 menjadi Juara I Nasional Lom-ba Gerhan. Kelompok Tani Sidomulyo mempunyai anggota 87 orang yang bera-sal dari empat dusun, yaitu Sidomulyo, Karanganyar, Sidodadi, dan Sidomakmur yang mengelola lahan milik seluas 75 ha pada saat dibentuk. Saat ini sudah ber-kembang seluas 395,7 ha dengan anggota kelompok 345 orang.
Pada awalnya, mata air di daerah ini hanya 10 buah, tetapi sejak berkembang-nya hutan rakyat sengon yang dimulai pa-da tahun 1996, saat ini (setelah 12 tahun)
terdapat 44 buah mata air yang dapat me-menuhi kebutuhan air bagi warga di tiga kecamatan yaitu Kedojajang, Padang, dan Gucialit. Dengan meningkatnya jumlah mata air maka hal ini memudahkan ma-syarakat untuk mendapatkan sumber air sebagaimana disajikan pada Gambar 11.
Gambar (Figure) 11. Pembangunan kehutanan
memudahkan masyarakat mendapatkan sumber air (Forestry development make easy to the local community for getting of water source)
IV. KESIMPULAN
jenis tanaman lokal setempat yang memi-liki nilai ekonomis; 3) mengurangi pena-naman tapena-naman semusim pada daerah berlereng dan menggantinya dengan ta-naman jenis kayu-kayuan/pohon; 4) pe-nguatan motivasi dan kelembagaan ma-syarakat dalam merehabilitasi lahan kritis. Dengan adanya kegiatan penanaman pohon, cadangan air di dalam tanah akan semakin meningkat, sehingga pada saat musim kemarau tidak terjadi kekeringan dan pada saat musim hujan tidak terjadi banjir. Usaha-usaha penanaman pohon oleh masyarakat lokal telah memberikan hasil yang menggembirakan, antara lain kelestarian air terjamin dan produktivitas tanah meningkat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat lokal tersebut dapat dijadikan sebagai contoh keberha-silan dan pembelajaran bagi umat manusia.
Dari contoh-contoh keberhasilan ma-syarakat di atas, dapat disimpulkan pula bahwa dengan tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan yang rendah merupa-kan suatu tantangan bagi mereka untuk lebih sejahtera dan membuat lingkungan sekitar lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Asdakh, C. 2002. Hidrologi dan Penge-lolaan Daerah Aliran Sungai. Ga-djah Mada Press. Yogyakarta.
Bruijnzeel, L.A.S. 2006. To Plant or Not to Plant? Hydrological Benefits of Tropical Forestation Programs Un-der Scrutiny. Balai Litbang Tekno-logi Pengelolaan DAS Indonesia Bagian Barat. Surakarta.
Gintings, A.Ng., S. Manan, Z. Hamzah, R. Soerjono, A. Pudjiharta, M. A. Ilyas, D. Murdiyarso dan Marwiji. 1992. Pengaruh Hutan terhadap Ta-nah dan Tata Air. Kerjasama Badan Litbang Kehutanan dengan Perum Perhutani. Perum Perhutani, Jakarta. Ilyas, M.A., A. Ng. Gintings, F. Agus dan
I.B. Pramono. 1996. Pengaruh Peru-bahan Tata Guna Lahan terhadap Banjir, Erosi dan Sedimentasi pada Sub-DAS Cigulung Maribaya. Sek-retariat Tim Pengendali Penghijau-an dPenghijau-an Reboisasi Pusat. Pusat Pene-litian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Laporan Pemerintah Kabupaten Madiun.
2006. Gegap Gempita GNRHL Ka-bupaten Madiun. Madiun.
Subagyono, K. 2007. Konservasi Air untuk Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan Iklim. Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. PP-MKTI. Jakarta.
Undang-undang No. 41 Tahun 1999 ten-tang Kehutanan. Departemen Kehu-tanan. Jakarta.