Vof ume 17,
Nomor
2,Oktober
2012 ,
ISSN: 1412-
4009JURNAL
PENELITIAN
umaniora
Penerbit:Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakafta
Pemimpin Umum/ Penanggung Jawab: Ketua LPPM Universitas Negeri Yogyakafta
Redaksi: Ketua: Prof, Dr, Suhafti Sekretaris: Yulia Ayriza, M.Si. Anggota Redaktur: 1, Dr. Mukminan
2. Dr. Marzuki
3. Prof, Dr, Wawan S. Suherman 4, Prof. Dr. Sukadiyanto
Redaktur Ahli: Prof. Dr. Irwan Abdullah (UGM) Redaksi Pelaksana: Ali Muhson, M,Pd.
Mitra Bestari: Prof, Dr. Wuradji, M,S, (UNY) Tata Usaha/Pelaksana:
Dra. Trina Wahyuni Iri Sumarni, S.P.
Setting dan Tata Letak: Hidayati, SE,
Alamat Redaksi/Tata Usaha:
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta
Gedung LPPM Lantai I
-
Karangmalang, Yogyakarta. 55281 Telepon (0274) 586168 Pesawat 242,262 Fax (0274) 518617 http: //[email protected] dan e-mail: lppm.uny@gmail,comJurnal Penelitian Humaniora yang terbit peftama kali tahun 2001 merupakan lanjutan dari Jurnal Penelitian Iptek dan Humaniora
Frekuensi terbit: tenqah tahunan
Volume
17, Nomor 2,Oktober
2012
ISSN: 1412-
4009Hu
JURNAL
PENELITIAN
maniora
Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No.2, Oktober20l2
DAFTAR ISI
Halaman
Daftar
Isi
...
i
Peran Serta Orangtua dalam Pendidikan Karakter Secara Informal
Oleh:
Antuni
Wiyarsi, Das Salirawati, EddySulistyowati
...
1-15Politik
Pendidikan Nasional dalam Bingkai Undang-Undang Sistem Pendidikan NasionalOIeh:
Marzuki
16-38Internalisasi
Nilai
Multikulturalisme
dan Kerukunan Antarumat Beragama dalam MasyarakatOleh: Syulvi Fathudin AW. dan l/ita
Fitria
39-62Implementasi Konvensi
Anti
Diskriminasi Perempuan dalamPolitik
Hukum IndonesiaPengaruh Pengasuhan dan Pengetahuan Orangtua Tentang
NAPZA
terhadap RelapseAnak
Oleh:
Sri Weni Utami, Hetti Rahmawati, Rias GesangKinanti
8l-90
Model Penilaian Transaksi Pihak Berelasi yang
Terindikasi Tunneling:
Bukti
Empiris pada Transaksi Pihak Berelasidi
IndonesiaOleh: Ratna Candra Sari
91-l
l6
Pengembangan
Alat
Ilkur
Kesantunan Bahasa Indonesia dalam Interaksi Sosial Formal BersemukaOleh: Zamzani, Tadkiroatun
Musfiroh,
Siti Maslakhah,Ari Listiyorini,
Yayuk EnyRahayu
ll7-133
Biodata
Penulis
135-136Implementasi Konvensi Anti Dislcriminasi Perempuan dalam Politik Hukum Indonesia (Halilil
IMPLEMENTASI KONVENSI ANTI DISKRIMINASI
PEREMPUAN
DALAM POLITIK HUKUM INDONESIA
Oleh:
Haliti
Universitas
NegeriYogyakarta
Email: [email protected]Abstrak
Penelitian
ini
bertujuan untuk mengkaji implementasi Konvensi AntiDiskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of all
forms of Discrimination Against Women/CEDAW) dalam politik hukum Indonesiq pada umumnya. Selain ilu, juga untuk mengkaji kelemahqn-kelemahan dalam
politik
hukum Indonesiayang
terkait
dengan perlindungan terhadap perempuan sebagaimana digariskan dalam Konvensi tersebut.Penelitian ini merupakan studi literer yang ditulis dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deslviptif, Sumber data penelitian ini adalah jenis paper. Telcnik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literature
dan dokumentasi. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan
bantuan chek list dan recording note. Check list dan recording note tersebut digunakan untuk melacak dan merekam data yang dihasilkan melalui studi literatur dan dokumentasi. Pengujian keabsqhan data
menggunakan triangulasi. Langkah-langkah analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, meliputi reduksi data, display data, kesimpulan dan verifikasi.
Hasil
penelitianini
menunjukkan:l)
KonvensiAnti
Diskriminasi Perempuan tersebut sudah mulai dilaksanal(an secare parsial melaluibeb erapa p eraturan .perundang-undangan, antara lain UU Kes ehatan, UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, UU Paket politik
(yang terdiri
dari
UU Pemilihan Umum DPR, DPD, dan DPRD, UUPemilih'an Presiden, UU Partai Politik, dan UU Penyelenggara pemilihan Umum).
2)
Implementasi Konvensi tersebut berimplikasipada
dua kecenderungan. Pertama, munculnya kecenderungan politik aJirmatif bagiperempuan dalam berbagai bidang. Perempuan ditempatkan sebagai
identitas yang membutuhkan pengakuan khusus atau istimewa secera formal dibandingkan dengan laki-laki. Kedua, mencololmya warna aliran
Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No.2, Oktober 2012: 63-80
dari filsafat positivism hukum (egal positivism) yang mendoktrinkan netralitas dan objektivitas hukum demi terciptanya kepastian hukum.
Dengan implementasi Konvensi tersebut, sangat menonjol warna hukum yang berpihak pada perbendaan gender sebagaimana didoktrinkan oleh aliran hukum feminis. 3) Implementasi Konvensi tersebut dalam Politik
Hukum Indonesia masih mengandung beberapa kelemahan fundamental,
antara lain pada aspek materi hukum, dari aspek epqrat penegak hukum
s erta sis tem penghukumannya.
Kata
Kunci:
Konvensi Anti Diskriminasi terhadap Perempuan, CEDAW,Politik Hukum Indonesia, Aliran Hukum Feminis, Positivisme Hukum
PENDAHULUAN
Diskriminasi
terhadap perempuan merupakan
fenomenayang marak,
baik
di
ruang-ruangpublik
(public
space) maupun diaras rumah tangga
(domestic
space),
terutama
dalam
bentukkekerasan.
Berbagai
fakta
kekerasan terhadap perempuan
diIndonesia
terjadi
sedemikian
frpo,
misalnya,
kekerasan fisik,
seksualdan psikologis yang terjadi
di
dalam keluarga.
Contohkonkrit
yangterjadi
antara lain: suami membentakistri,
suami main serong, suami tidak memberikan uang belanja, dan lain sebagainya.Di
samping
itu,
kekerasanfisik,
seksual,dan
psikologisjuga dialami
oleh perempuandi
kalangan masyarakat luas. Dalambanyak
studi,
sebagaimanajuga
seringkali diberitakan oleh mediamassa, perkosaan terhadap perempuan
bahkan dalam
angkutanumum masih sering
terjadi.
Pencabulan terhadap mereka jugamengalami peningkatan.
Bahkan, perempuan
juga
mengalami kekerasan secarafisik,
seksual dan psikologis yang dilakukan atau dibenarkan oleh negara.
Dalam
sebuah studi yang dilakukandi
daerah Banjarnegara, JawaTengah
yang melibatkan 10
desayang
tersebardi
3
kecamatanditemukan adanya
bentuk
kekerasan
yang
dilakukan
olehpemerintah atau penyelenggara negara yaitu:
(1)
DiberlakukannyaUU
dan Peraturan yang bias jender,(2)
Laranganbagi
perempuanImplementasi Konvensi Anti Dis lwiminasi Perempuan dalam Politik Hukum Indonesia (Halili)
anggota
legislatif
perempuandi
DPRD, (4) Minimnya
pegawaiperempuan
dalam instansi pemerintah pada posisi
strategis,sehingga berpengaruh
terhadap kebijakan
yang
tidak
responsifgender (Sodikin dalam Fatayat edisi
IllApril,2002).
Dengan adanya berbagai
diskriminasi
terhadap perempuanyang
tidak
hanyadalam lingkungan
keluargatetapi
di
berbagaibidang
khususnya
politik jelas
terlihat
bahwa
kedudukanperempuan
masih
dianggap
sebagai secondsex.
Dalam
situasidemikian hak-hak perempuan
belum bisa
sepenuhnya diterapkan.Secara
realita
bahwa dalam kehidupan sehari-hari
diskriminasiyang
luas dan
kekerasan terhadap perempuandi
semua bidangmasih tetap
terjadi,
sepertitingginya
angka perempuan yang buta aksara dan rendahnya angka partisipasipolitik
perempuan.Diskriminasi terhadap perempuan merupakan
bentukpelanggaran terhadap
Hak Asasi
Manusia
(HAM).
Faktakesenjangan
serta diskriminasi
terhadap perempuan
memangterjadi.
Menurut
pengamatan
aktivis
pembela
perempuan,kesenjangan
ini
disebabkan beberapa
faktor. Yaitu
adanyapengaruh
tata
nilai
sosial
budayayang masih
menganut pahampatriarki,
yaitu
keberpihakanyang
berlebihan kepadakaum
laki-laki
daripada perempuan, adanyaproduk hukum
dan
peraturanyang belum
responsif gender serta
adanya pemahaman ajaranagama
yang
mendudukkan
posisi laki-laki
lebih tinggi
dariperempuan.
Kebebasan dan kemandirian perempuan diharapkan dapat mengeluarkan mereka
dari
persoalan yang selamaini
menghimpityakni
kemiskinan, pendidikan yang rendah, kesehatan perempuanyang
memprihatinkan,
terjadinya
kekerasan
pada
perempuan, perempuan menjadi korbantrfficking
dan lain-lain, yang memangsampai
saatini
masih mewarnai
kehidupan perempuan. MantanMenteri
Pemberdayaan PerempuanMutia
Hatta
juga
mencatat tantangan yang dihadapi perempuan adalah masih tingginya angkaJurnal Penelitian Humaniora, YoL 17, No.2, O&ober 2012: 63-80
globalisasi terhadap perdagangan perempuan dan anak-anak, serta pemenuhan
hak
sipil,
politik
dan ekonomi yangbelum dinikmati
(Kompas, 17Juli
2007)Dalam literatur
kajian
HAM, baik
normatif
maupunakademis,
dikenal
beberapa instrumenHak
Asasi Manusia
yang semuanya dikelompokkan menjadi dua, intemasional dan nasional.Instrumen
HAM
internasional
secara
umum berupa
kovenan(covenant),
konvensi
(convention),
pakta (pact), dan
berbagaibentuk perjanjian internasional lainnya.
Sedangkan instrumenHAM
nasional pada pokoknya berupa
peraturan
perundang-undangan suatu negara.
Salah safu instrumen
internasional Hak Asasi Manusia adalahCEDAW
(Convention onElimination of
all
forms
ofDiscrimination
Against
Women) yang pendeknya disebutKonvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap Perempuan.Konvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap Perempuantidak
bisadilaksanakan secara
optimal
kalau
tidak
adainstrumen
nasional Indonesia. Dalam melaksanakan perj anj ian-perj anj ian Intemasional tersebut, Indonesia menganut prinsip primat hukum nasional dalamarti
bahwa hukum nasional
mempunyai kedudukanlebih
tinggi
daripada
hukum
Internasional. Dasar kewenangan presiden dalam pembuatan Perjanjian Internasional diatur dalam pasall1
Undang-Undang
dasar
1945 mengatur tentang
perjanjian
Internasional.Dalam
konteks
demikian
sangatdiperlukan implementasi
yangoptimal berbagai instrumen internasional Hak Asasi Manusia, agar
perlindungan dan penegakan hukumnya kuat.
Implementasi
Konvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap Perempuan melaluiPolitik
Hukum Indonesia merupakan salah satufaktor
penting dalammelindungi
perempuandari
berbagai bentukdiskriminasi
dan
kekerasan. Implementasi
Konvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap Perempuanyang
baik
akan
memberikanperlindungan
hukum yang
kuat
untuk
penanggulangan masalahkekerasan terhadap perempuan serta penghapusan segala bentuk
Implementasi Konvensi Anti Dislcriminasi Perempuan dalam Polilik Hukum Indonesia (Halili)
perlindungan
hukum
dari
berbagai tindakan
yang
bersifatdiskriminatif, bahkan dengan
adanya perlindungan
ini
makaperempuan akan mendapatkan perlakuan
yang
sederajat,baik
di
ranah
publik
maupun domestik.Melihat
latar belakang diskriminasi yang terjadi dan urgensihukum nasional bagi pemenuhan hak perempuan untuk bebas dari berbagai
bentuk diskriminasi,
perlu
dilakukan
sebuah penelitian terhadappolitik
hukum
Indonesia,pada
aspek
akomodasi danderivasi berbagai
prinsip pokok
yang terkandung dalam KonvensiAnti
Diskriminasi
terhadap Perempuan. Penelitianini
bermaksudmenggali
jawaban
dari
pertanyaan
berikut:
a)
Bagaimanaimplementasi
Konvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap Perempuandalam
politik
hukum
Indonesia?
b)
Apa
saja
kelemahanimplementasi
anti
diskriminasi
terhadap perempuan dalampolitik
hukum Indonesia?CARA PENELITIAN
Penelitian
ini
merupakanstudi
literer
yang
ditulis
dengan menggunakan pendekatankualitatif-deskriptif.
Penelitiankualitatif
yang
dimaksud adalahpenelitian yang dilakukan
secaraintensif
dan terperinci
terhadap suatu
organisme, lembaga,atau
gejalatertentu
melalui suatu
pengamatan
atau
analisis
untukmenghasilkan
datadeskriptif, yaitu
data
yang
berupa kata-katatertulis
atau
lisan dari orang,
gejala atauperilaku
yang
diamati(Molleong,
I99l:
3).
Teknik
pengumpulan data
penelitian ini
menggunakan studi literatur dan dokumentasi. Instrumen penelitianini
adalahpeneliti
sendiri dengan bantuan cheklist
dan recordingnote. Check
list
dan
recording note
tersebutdigunakan
untuk melacak dan merekam data yang dihasilkanmelalui
studi literaturdan
dokumentasi.
Pengujian
keabsahan
data
menggunakantriangulasi,
yaitu
suatuteknik
pemeriksaan keabsahan data yangJurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No.2, Oktober 2012: 63-80
178). Teknik triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber,
yaitu
dengan
membandingkan
dan
mengecek
balik
derajat kepercayaan suatu informasi melalui waktu dan alat yang berbeda.Teknik analisis yang
digunakan adalah analisis
data
induktif.
Langkah-langkahanalisis
yang
digunakan dalam
penelitian
ini
adalah analisis data
kualitatif,
yang menurut Sayekti Pujosuwarno(1992
:
19),meliputi
reduksi
data,display
data, kesimpulan danverifikasi.
PEMBAHASAN
1. Implikasi
Konvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap
Perempuandalam
Politik Hukum
Indonesia
a.
Politik Afirmasi
bagi PerempuanApa yang bisa dimaknai dari potret
implementasiKonvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap Perempuan tersebut?Kuat
kesan adanya keberpihakan khususbagi
perempuan, atau yang biasa dikenal sebagai affirmative action.Dari
kaca mata
para feminis, diskusi
mengenaiffirmative
action sesungguhnya masih problematik. Regulasi dalam PaketUU Politik,
misalnya, mengindikasikan tindakandengan keberpihakan
khusus
(ffirmative
action)
kepadaperempuan
karena
jenis
kelaminnya. Keberpihakan
ini
sesungguhnya masih menempatkan perempuan sebagai "the
other",
sebagai kelompok
"different". Namun
secarasederhana,
tindakan
tersebut dianggap
positif
karena mendorong perempuanuntuk lebih "terbuka"
dan mendesaksistem
untuk
memperlakukan
kaum
perempuan
lebihsederajat dengan
laki-laki.
Namun, bagi para anti-esensialis, hukum semacam itu
yang
memberikan
ruang
tertentu kepada
perempuanberdasarkan
jenis
kelaminnya (apalagi dengan
limitasi
Implementasi Konvensi Anti Dislviminasi Perempuan dalam Politik Hukum Indonesia
Halili)
perempuan.
Apalagi
jika
dikaitkan dengan
pengalaman banyak perempuan yang beraneka ragam (heterogen).Feminis yang lebih substantif, semacam
Carol
Smart,memandang
hukum
denganffirmative
action
tidak
akanbanyak
berpengaruh
kepada keadilan
perempuan
dalamberbagai bidangnya.
Penyeragamanpersoalan
perempuan sama problematiknya dengan diskriminasi atas perempuanitu
sendiri. Konstruksi hukum yang
diidealkan
oleh
pemikir
seperti
Cain,
Finley,
dan
Smart dibangun atas pengalamanperempuan tidak bisa hanya dalam wajah kuota 30%. Metode
hermeunetika
dalam hukum menjadi
keharusan, meskipunsesungguhnya masalah partisipasi
politik
perempuan bukansemata-mata
persoalan
hukum,
namun
juga
persoalankultural. Ada
banyak
cultural
batier,
antaralain
realitas bahwa perempuan dalam masyarakatlebih
mengidentifikasidirinya
sebagai
"bukan dirinya
seufuhnya" akan
tetapi"bagian
lain dari
suaminya".
Seorang perempuan bernamaLinda,
misalnya,istri dari
seoranglaki-laki
bernamaTotok
akan
diidentifikasi
oleh
komunitasnya
atau
bahkanmengidentifikasi
diri
sebagai"Bu
Totok",
bukan"Bu
Linda".
Kendala
lain
adalah ketidakpercayaan pada kepemimpinanperempuan, sebab agama dalam sebagian besar pemahaman
masyarakat
tidak
mendapat
otoritas
(kewenangan)
untukkepemimpinan seperti
laki-laki.
Bila
yang
diidealkan
destruksihukum-jalan
yangditawarkan
oleh Smart-untuk
keadilan
komprehensif atasperempuan
(dan
laki-laki)
tanpa terkungkung denganjenis
kelaminnya,
jelas
masih
sangatjauh.
Mereformasi UU
warisan penjajah saja,
sepertiKUHP, belum
mampu kita
lakukan, apalagi
jika
secara komprehensif harus mendestruksihukum bahkan
di level
cara
pikir
(mindset)
konstruksiJurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No.2, Oktober 2012: 63-80
b.
"Feminist Jurisprudence" dalamPolitik
Hukum IndonesiaDoktrin
positivisme hukum
secara
umumsosial "sederajat" dengan
ilmu
alam/eksakta'Mengikuti cara
pandang
sains
(uga ilmu
sosial)dan objektivitas hukum.
Netralitas
dan
objektivitas
hukum hanya
akanImplemenlasi Konvensi Anti Dislviminasi Perempuan dalam Politik Hukum Indonesia (Halili)
versi
resmi
undang-undang
sebagai realitas
legal
dan cenderungtidak
mempertanyakanhakikat
dantujuan
utamahukum, serta menerima undang-undang atau
hukum
sebagaisesuatu yang given (Ngaire
Naffine,
1997:302).Dalam
pandanganpara positivis,
kepastian hukummerupakan
hal
penting dalam
penerapanhukum.
Semakinnetral sebuah hukum, maka semakin
tinggi
kepastian hukum.Kepastian
hukum
tersebut
dipaksakanoleh
negara
sebabhukum dibuat
oleh
lembaga yangmemiliki
otoritas
sesuaidengan sistem
hukum
negara (commandof
law giver).
Di
samping karena dibuat oleh lembaga yang
memiliki
otoritas,kepastian hukum
juga
dapatdiwujudkan
dengan kerjasamaantara
hukum
dengan berbagai sainspositif{alam
hal ini
ilmu
alam/eksakta danilmu
sosialyang
menggunakan carakerja
ilmu
alam/eksakta-untuk
melegitimasi setiap perilakumasyarakat
(Lloyd,
1973: 106-107).Netralitas dan objektivitas inilah yang mendapat
kritik
keras
dari
para
pemikir
teori
hukum
feminis
(feministjurisprudence/feminist
legal
theory). Para
pemikir
aliranfeminis
sejakakhir
tahun
1960-anhingga
sepanjang tahun I97 0 -an mendiskusikan mengenai kemungkinan mewuj udkanhukum yang
berdimensi kesetaraanjender,
sebab netralitasdan objektivitas hukum secara konseptual telah menempatkan
perempuan sebagai
potential
victims, dan secara aktual dalambanyak
bidang
dan
keadaan
sering
mendiskriminasiperempuan karena
kondisi
khususyang dialaminya,
seperti menstruasi, hamil, dan sebagainya.Perjuangan mula-mula
feminis
untuk
meresponberbagai
diskriminasi hukum
yaitu
melalui
perjuangan hakyang berbeda dengan hak
laki-laki
karena perbedaan biologisdan
fisiologisnya.
Pemberian
hak
yang
berbeda
berupaperlakuan setara
(equal
treatment) atau perlakuan istimewa(special treatment)-yang
belakangankita
kenal
sebagaiJurnal Penelitian Humaniorq, VoL 17, No.2, Oktober 2012: 63-80
tindakan
afrrmatif
(ffirmative
action).
Perlakuan
setaradidasarkan
pada cara
pandang
liberalisme bahwa
setiapindividu memiliki
kedudukan yang
sederajat.
Beberapa keadaan khusus yang dialami oleh perempuan, menurut cara pandang perlakuan setara liberalis ini,juga
dialami olehlaki-laki,
seperti
hak
cuti
perempuan karena
hamil
ataumelahirkan bisa disetarakan dengan hak
cuti
laki-laki
karenadia sakit.
Itu
berbeda dengan penganuttindakan afrrmatif
yang
memandangbahwa
laki-laki
dan
perempuan berbedasecara biologis dan fisiologis. Keadaan menstruasi dan hamil,
misalnya,
merupakan keadaan khususyang
berbeda secarabiologis
dengan
laki-laki,
karenanya
perempuan
harus mendapattindakan
afirmatif
karena keadaan khususnyaitu
(Donny Danardono, 2008: 10-11).Oleh feminis
seperti
Lucinda
M
Finley, dua
carapandang
tersebut
baik
equal treatment maupun
specialtreatment
sama-sama
tidak
memadai
dalam
konteksmasyarakat
majemuk. Sebab
keduanya
menempatkan perempuan dengan berbagai keadaan khususnya sebagaititik
berangkat merespon
situasi
diskriminatif
terhadapperempuan.
Jadi,
perempuandalam relasi
denganlaki-laki
ditempatkan
sebagaithe other, different,
bahkan
sebagaiancaman
dan
seterusnya.Keduanya
ditempatkan
dalamoposisi
biner, posisi dua pihak yang
saling
bertentangan.Maka dua tindakan,
baik
setara maupunafirmatif,
diandaikan akan mengasimilasikan perbedaan tersebut. Padahal masalahsesungguhnya
adalah
soal
setting ruang
yang
sangatpatriarkis.
Pembedaandan pendefinisian ruang
privat
dan ruangpublik
seringkali menjadi masalah sesungguhnya yangmenyebabkan
perempuan
berada
dalam
situasiterdiskriminasi.
Ruang privat
dimana
perempuan banyakImplementas i Konvensi Anti Dis kriminasi P erempuan dalam Politik Hularm Indonesia (Halili)
demikian, memperjuangkan dua tindakan setara dan istimewa
tanpa mempersoalkan ruang yang bias gender sesungguhnya
berarti mendukung sistem hukum yang patriarkis (Lucinda
M
Finley, dalam D.Kelly
Weisberg, 1993:190-207).Cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai
identitas yang relatif
homogen merupakan cara
pandangessensialisme.
Penganut
esensialisme menempatkansatu-satunya
musuh
perempuan
adalah
patriarki.
Padahalhomogenisasi
identitas perempuan sama
bermasalahnyadengan
patriarki.
Idealnya,
memandang perempuan harus sesuai dengan pengalaman kediriannya masing-masing yang heterogen. Oleh karenaitu,
hukumfeminis
harus didasarkanpada pengalaman perempuan tersebut
(Patricia Cain,
1993;359).
Antiessensialisme membayangkan perempuan sebagaiidentitas yang beragam. Musuh perempuan, selain patriarki,
juga
konseptualisasidan
pendefinisian
ruang; privat
danpublik, dan posisi
perempuan
di
dalamnya
(Hillaire A
Barneff, 1998l.57-67). Tindakanafirmatif
atau egaliter dalamhukum menurut
penganut
anti
essensialistidak
cukup.Essensialisme
dalam
teori
hukum feminis
berartimengkonseptualisasi
hukum
baru yang tidak jauh
berbeda dengan hukumpositif
patriarkis yang merekakritik
objektif
dan netral (MarthaMinow,2008:
339-345)Untuk
mengakomodasi kelemahan masing-masing, makateori
hukum feminis
menawarkan
metode hermeneutik
dandekonstruksi.
Menurut
Carol Smart,
secaralebih
fundamentaldiperlukan,
antaralain,
redefinisi
diri
perempuan dengan hukum sebagaimedium
melalui
hermeneutika(bukan
semata deduktif,induktif, verifikasi, tapi
berangkat
dari
pengalamanindividual
perempuan).
Di
sampingitu
diperlukan dekonstruksi, misal dalambentuk redefinisi ruang
publik dan privat bagi
perempuan.Dipengaruhi
oleh
"diskursus'-nya Michael Foucault,
menurut Smart dalam hukum ada kuasa. Hukum menurutnya, sama denganJurnal Penelitian Humaniora, VoL 17, No.2, Oktober 2012: 63-80
pengetahuan, yang
di
dalamnya ada kuasa untuk mendiskualifikasikebenaran-kebenaran
lain.
Sementarahukum
secara inkonsisten dapat mengadopsi pertimbangannon hukum dan
menyimpangilogika intemal
dan tertutup hukum yangdidoktrinkan
positivismehukum (Carol Smart, 1989: 4-I4; Carol
Smart dalamHillaire
A
Barnett,
1998:
81-84),
karenanya
sistem
hukum
"baru"
memungkinkan setiap perempuan dapat mendefi nisikan
diri
merekamasing-masing.
Di
samping
itu,
pengungkapan
pengalaman-pengalaman personal perempuan harusdilakukan
sebagai bentuk peningkatan kesadaran perempuandan
pembuatan pengetahuanbaru (Patricia Cain, dalam D.
Kelly
Weisberg, 2008: 244-246).Apabila diskursus feminist
iurisprudence dikontekstualisasikan dengan implementasicEDAW di
Indonesia, berbagaiUU
yang dibahas dalam bagian sebelumnya pada artikelini
merupakan
hukum
positif. Namun muatan dalam
hukumtersebut
bertentangandengan
doktrin positivisme hukum,
dansebaliknya mengarah kepada perwujudan preposisi
feminist
legaltheory. Dua
doktrin
utama positivisme hukum adalah netralitas danobjektivitas hukum
yang
keduanyadiidealkan
sebagai prasyaratterwujudnya kepastian hukum. Dengan
adanya
keberpihakanhukum khusus kepada
jenis
kelamin tertentu, maka sesungguhnya hukum tidak netral, karenamemiliki
keberpihakan khusus (parsial)atas dasar pertimbangan jenis kelamin.
Dengan
demikian
dapat dikatakan,politik
hukum di balik
berbagaiUU di
muka
menyimpangdari
beberapadoktrin
utamahukum
positif
tentangobjektivitas dan
netralitashukum.
Politik
hukum
di
balik
undang-undang
tersebut mengarah
kepadakonstruksi
teori
hukum feminis
(feminist
jurisprudence).Konstruksi hukum dalam
uU
tersebut mengandung pengakuan dantindakan
keberpihakan
khusus
(ffirmative
actions)
untukpeningkatan kualitas hidup, human security, dan partisipasi
politik
p.te*p,tutt
dalam berbagaiinfrastruktur
dan suprastrukturpolitik
Implementasi Konvensi Anti Dislviminasi Perempuan dalam Polilik Hukum Indonesia (Halili)
2.
Kelemahan Implementasi
Konvensi
Anti
Diskriminasi
terhadap
Perempuandalam
Politik Hukum
IndonesiaKonstruksi hukum tindakan
afirmatif
di
Indonesia sangatlemah
dan rapuh.
Kerapuhantersebut dapat
diidentifikasi
daribeberapa aspek:
Pertama,
dari
aspek materi hukum,
banyakregulasi
di
dalam undang-undang yang konstruksi logisnya belumsepenuhnya utuh, sehingga dalam banyak hal terkesan ngoyo woro
tapi juga bisa dimaknai ketidakseriusan pembelaan atas perempuan.
Misalnya, kuota partisipasi
politik
perempuan, dimana angka 30o/oyang disebut dalam Paket
Undang-UndangPolitik
melahirkanbeberapa pertanyaan lanjutan: mengapa 30%? Mengapa tidak 50%?
Sehingga mendorong
partisipasi
tinggi
seperti
di
Swedia
yang mencapai hingga angka 48% (Laporan Inter-Parliamentary Union,Institutional
Change:
Gender-sensitiveParliaments (chapter
5),2008.).
Di
sampingitu,
dalam
beberapa pasalpunya
kelemahansemantik soal partisipasi
politik
perempuan, misalnya, frasa yangdigunakan
oleh
UU
adalah
"memperhatikan
keterwakilanperempuan sekurang-kurangnya. . .
"
Kedua,
dari
aspek aparat penegak hukum, dalam beberapaperaturan perundangan
"feminis"
masih
ada ketidakjelasan siapayang harus
menegakkanperaturan tersebut.
Beberapa undang-undang tidak memberikan kewenangan yang nyala kepada lembaga mana yang harus spesifik menanganibila
terjadi
pelanggaran atasperaturan mengenai tindakan
afirmatif.
Ketiga,
tidak
ada sanksi
dan implikasi
dari
beberapaperaturan.
Yang
mencolok misalnya
ataskuota
30%
partisipasipolitik
perempuan. Dalam konteks tersebut, partaipolitik
danKPU
telah
melanggarhukum
dengantidak
terpenuhinyakuota
30o/o sebagaimana ditekankandalam
Undang-Undang, namuntak
adasanksi apa
pun
atas mereka. Partaipolitik
telah gagal memenuhiamanat
hukum
untuk
pemenuhan
kuota
perempuan
dalam kepengurusan mereka, khususnyadi
tingkat pusat, namun tidak adaJurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No.2, Oktober 2012: 63-80
Hal
itu
menunjukkan
bahwa konstruksi hukum
denganwarna
feminisme
yang*
pekat
tidak
serta merta
menjaminpeningkatan partisipasi
politik
perempuan secara substantif, bahkandalam
tingkatan tertentu kontradiktif
bagi
penghormatanperempuan.
Situasi
ini
semakin menunjukkan
terwujudnya kekahawatiran-kekhawatiranbeberapa
kelompok feminis
kritis
yang berkeyakinan bahwa peraturan perundang-undangan bukanlah
jawaban satu-satunya untuk soal diskriminasi terhadap perempuan.
Dengan demikian,
dari
tataranregulasi
itr,rsendiri
masihbanyak
yang harus diperbaiki.
Pembenahan-pembenahan ataskonten
perafuran
perundang-undanganmerupakan
keniscayaan.Hal itu
untuk memastikan bahwa regulasi perlindungan perempuandan
penghapusan
diskriminasi
terhadap perempuan
dapat diupayakan optimal.SIMPULAN
Dari
pembahasan terdahulu dapat disimpulkan beberapa halberikut:
Pertama,ratifikasi
KonvensiAnti
Diskriminasi
Perempuanmengharuskan
pemerintah Indonesia
mengimplementasikannya secaralebih
rinci
melalui
peraturan undang-undangandi
bawahUU.
Implementasi tersebut sudah mulai dilaksanakan secara parsialmelalui
beberapa peraturan perundang-undangan, antaralain
UU
Kesehatan,
UU
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang,UU
PaketPolitik
(yang
terdiri dari UU
Pemilihan Umum
DPR,DPD,
danDPRD,
UU
Pemilihan Presiden,UU
PartaiPolitik,
danUU
Penyelenggara Pemilihan Umum).Implementasi
Konvensi
tersebut
berimplikasi pada
dua kecenderungan. 1) munculnya kecenderunganpolitik
afirmatif
bagiperempuan
dalam
berbagai
bidang.
Perempuan
ditempatkansebagai
identitas
yang
membutuhkan pengakuan
khusus
atauistimewa secara
formal
dibandingkan dengan
laki-laki,
2)Implementasi Konvensi Anti Dislviminasi Perempuan dalam Politik Hulatm Indonesia (Halili)
(egal
positivism) yang
mendoktrinkan netralitas dan objektivitashukum
demi
terciptanya
kepastian
hukum. Dengan
berbagaiimplementasi
Konvensi
tersebut
dalam
beberapa
peraturanperundang-undangan,
sangat
menonjol
wama hukum
yangberpihak pada perbendaan gender sebagaimana
didoktrinkan
olehaliran hukum feminis.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Hakim Garuda Nusantara. 1985."Politik
Hukum Nasional",makalah
padaKerja Latihan
Bantuan
Huhtm.
Surabaya:LBH
SurabayaAni
Widyani
Soetjipto. 2005.Politik
Perempuan Bukan Gerhana. Jakarta: KompasBudiardjo,
Miriam.
1996.
Dasar-Dasar
llmu
Politik.
Jakarta: GramediaCain, Patricia.
1993."Feminism and
Limits
of
Equality",
dalamWeisberg,
D
Kelly,
(ed.).
1993.Feminist
Legal
Theory:F o und a ti o ns. Philadelphia: Temple University Press
Cain, Patricia. 1993. "Feminist
Jurisprudence:Grounding
thetheories"
dalam Weisberg,D
Kelly,
(ed.).
1993. FeministLegal
Theory:
Foundations. Philadelphia:
TempleUniversity Press
Ciciek Farha.
2000.
Perkosaan terhadap Perempuandi
RuangDomestik
dan
Publik
Makalah dalam
Seminar Nasional"Islam,
Seksualitas dan Kekerasan terhadap Perempuan". Yogyakarta 27-29 Juli 2000.Convention
on
the Elimination
of
all
Forms
of
Discrimination
Against
Woman(Konvensi
Penghapusan Segala BentukDiskriminasi
terhadap
Perempuan),diambil
dari
Modul
Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No.2, Oktober 2012: 63-80
Danardono,
Donny. 2008.
"Teori
Hukum Feminis:
MenolakNetralitas
Hukum,
Merayakan
Dffirence dan
Anti-Essens iali sme" dalam Sulistyowati Irianto (ed.), P er empuan dan Hukum: menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan danKeadilan.
Jakarta: Yayasan Obor IndonesiaFatayat, edisi
IllApril,
tahun 2002Hillaire
A
Barnett, Introduction
to
Feminist
Jurisprudence,London-Sidney,
1998,Martha
Minow,
"Feminist
Reason:Getting
it
andLosing
It"
dalam Weisberg,D Kelly,
(ed.).1993.
Feminist
Legal
Theory:
Foundations. Philadelphia: TempleUniversity
PressKollman,
Nathalie.Kekerasan terhadap
Perempuan
Jakarta:YLKI
dan Ford Foundation, 1998.Kompas, edisi
l7
Juli, tahun 2007Koran Tempo,
I
Oktober 2009KPU
(2009) Statistik Anggota
DPR
2009-2014
Hasil
PemiluLegislatif
Perbandingan Perempuan
Dan
Laki-Laki.Diambil dari
http://mediacenter.kpu.go.id pada tanggal 25Oktober 2010
Laporan Inter-Parliamentary Union,
Institutional
Change: Gender-sensitive Parliaments (chapter 5), 2008.Laski, Harold
J.
1947. The State
in
Theory and
Practice.(NewYork:
TheViking
PressLBH APIK.
2001.
Women,Law,
and
Development(Hak
AsasiManusia Kaum
Perempuan,
Langkah
demi
Langkah). Terjemahan. Jakarta:LBH APIK
Lexy
J.
Moleong.
1998.
Metodologi
Penelitian
Bidang
Sosial.Implementasi Konvensi Anti Dislviminusi Perempuan dalam Politik Hukum Indonesia
Halili)
.
2002.
Metodologi Penelitian
Kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Lloyd.
1973. The ldea of Law. Harmondsworth: Penguin BooksLucinda
M Finley.
1993. "TrunscendingEquality Theory:
A
WayOut of
the
Maternity
andthe Workplace Debate",
dalamWeisberg,
D
Kelly,
(ed.).
1993.Feminist
Legal
Theory: F oundations. Philadelphia: Temple University PressMoh.
Mahfud
MD.
2006.Politik
Hulatm
Di
Indonesia.
Jakarta: Pustaka LP3ES IndonesiaNaffine, Ngaire.
1997."Law
andThe
Sexes", dalam Barnett,A.
Hilaire.
1997.
Sourcebook
of
Feminist
Jurisprudence.London-Sidney: Cavendish Publishing
Limited
Pusat
Komunikasi
KesehatanBerperspektif
Jender.1999.
Bukusaku: Stop
Kekerasan
Dalam Rumah Tangga.
Jakarta:Pusat Komunikasi Kesehatan Berperspektif Jender.
Sayekti
Pujosuwarno.
1992. Penulisan
Usulan
dan
LaporanP eneliti an
Kualitatif,
Yogyakarta:Lemlit IKIP
Yogy akartaSmart,
Carol.
1989.
Feminism
and Power
of
Law.
London:Routledge
.
1997. "Feminism and Powerof Law",
dalam Barnett,A.
Hilaire.
1997. Sourcebookof
Feminist
Jurisprudence.London-Sidney: Cavendish Publishing
Limited
Soetjipto,
Ani,
et.al. 2010. Pengarusutamaan Gender di Parlemen: Studi terhadap DPR danDPD
Periode 2004-2009. Jakarta:UNDP Indonesia
Sri
Wiyanti
Eddyono. 2004.Hak
Asasi Perempuan dan KonvensiJurnal Penelitiqn Humaniora, Vol. 17, No.2, Ohober 2012: 63-80
Steiner,
Henry J.,
danAlston,
Philip.
1996.International
Human Rightsin
Context
(Law,
Politics, and Morals).
Oxford: Clarendon PressSuharsimi
Arikunto.
2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka CiptaUndang-undang
No 22
tahun 2007
tentang
PenyelenggaraPemilihan Umum
Undang-Undang
No.
10 tahun 2008 tentang Pemilihan UmumUndang-Undang No. 2
tahun
1998 tentang PartaiPolitik
(Jniversal
Declaration
ofHuman
Rights (Deklarasi UniversalHak