• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

BIRO PERENCANAAN

Kementerian

Perindustrian

REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN KINERJA

SEKRETARIAT JENDERAL

TAHUN 2014

(2)

KATA PENGANTAR

Penyelenggaraan Negara yang Bersih, Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan tanggung jawab semua instansi pemerintah dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (Good Governance) dengan tingkat kinerja yang selalu meningkat. Bentuk perwujudan pertanggungjawaban penyelenggaraan tersebut harus tepat, jelas dan nyata secara periodik.

Sesuai dengan Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) sebagai tindak lanjut Tap MPR RI dan Undang-Undang tersebut, mewajibkan tiap pimpinan Departemen/Lembaga Pemerintahan Non Departemen, Pemerintah Daerah, Satuan Kerja atau Unit Kerja di dalamnya, membuat laporan akuntabilitas kinerja secara berjenjang serta berkala untuk disampaikan kepada atasannya. Dalam perkembangannya, telah diterbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Sebagai tindak lanjut Perpres tersebut, telah disusun Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal ini merupakan gambaran capaian pelaksanaan tugas dan fungsi selama periode tahun 2014. Laporan ini diarahkan sebagai bahan masukan bagi pemangku kepentingan dan merupakan umpan balik bagi jajaran Kementerian Perindustrian untuk meningkatkan kinerja satuan unit dimasa yang akan datang.

Sekretaris Jenderal

Ansari Bukhari

Jakarta, 9 Februari 2015

(3)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian ini disusun sebagai pertanggungjawaban kinerja Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian pada tahun 2014. Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) dimana pimpinan Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Pemerintah Daerah, Satuan Kerja atau Unit Kerja didalamnya, diminta untuk membuat laporan akuntabilitas kinerja secara berjenjang serta berkala untuk disampaikan kepada pimpinan yang lebih tinggi.

Pengukuran akuntabilitas kinerja didasarkan pada dokumen Penetapan Kinerja Sekretariat Jenderal tahun 2014. Dokumen penetapan kinerja disusun dengan mengacu pada Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Tahun 2010-2014 serta Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU) Setjen sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 114/M-IND/PER/12/2013 tentang Peta Strategi dan IKU Unit Eselon I. Dari kedua dokumen tersebut, visi Sekretariat Jenderal adalah “Memberikan pelayanan prima kepada stakeholder”. Stakeholder dimaksud stakeholder internal mencakup semua unit kerja di Lingkungan Kementerian Perindustrian dan stakeholders eksternal terdiri instansi pemerintah dan swasta seperti DPR, Bappenas, Kepmenkeu, Menpan dan RB, Kepolisian, KPK, BPKP, BPK, Asosiasi-asosiasi dan lain-lain.

Secara umum Sekretariat Jenderal telah berhasil melaksanakan tugas dan fungsinya yang diwujudkan melalui keberhasilan dalam pencapaian sasaran maupun sasaran strategis yang telah ditetapkan untuk tahun 2014. Keberhasilan pencapaian sasaran ini dapat dilihat dari pemenuhan target dari indikator kinerja yang telah ditetapkan melalui Penetapan Kinerja (Tapkin) Sekretariat Jenderal tahun 2014 antara lain:

1. Sasaran strategis mewujudkan sistem perencanaan dan pengendalian industri yang handal dengan indikator (a) Tingkat kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan dokumen perencanaan, capaian tidak dapat diukur secara kuantitatif karena hasilnya berupa rekomendasi; (b) tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan dengan capaian 112,41 persen meningkat dibanding tahun 2013 yang sebesar 100,76; (c) Nilai SAKIP Sekretariat Jenderal dengan capaian 97,48 persen.

2. Sasaran strategis mewujudkan SDM industri dan aparatur yang profesional dengan indikator (a) terserapnya jumlah lulusan SDM industri yang bekerja di sektor

(4)

industri, capaian 121,85 persen; (b) Lulusan Pelatihan three in one (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan) SDM Industri dengan capaian 375 persen; (c) Calon wirausaha baru yang kompeten melalui program TPL beasiswa dengan capaian 40 persen; (d) Jumlah SKKNI di sektor industri dengan capaian 125 persen; (e) Standar kompetensi SDM aparatur dengan capaian 100 persen; (f) Tersedianya SDM aparatur yang kompeten melalui pelatihan teknis industri dengan capaian 156,60 persen; (g) Tersedianya SDM aparatur yang kompeten melalui pelaksanaan pendidikan rintisan gelar S2 dan S3 dalam dan luar negeri dengan capaian 203,61 persen; serta (h) Tingkat kehadiran pegawai dengan capaian 101,77 persen;

3. Sasaran strategis mewujudkan kebijakan industri yang pro bisnis dan penyelesaian perkara hukum yang profesional dengan indikator (a) Fasilitasi efektifitas penyusunan peraturan perundang-undangan di lingkungan Kemenperin capaian 95 persen; (b) permintaan konsultasi dan advokasi hukum yang terlayani capaian 105,26 persen;

4. Sasaran strategis menyediakan informasi publik yang aktual dan tepercaya dengan indikator (a) jumlah pelayanan publik capaian 174,2 persen; (b) Jumlah informasi industri yang dipublikasikan capaian 147,5 persen;

5. Sasaran strategis mewujudkan pengelolaan keuangan, sarana dan prasarana yang baik, dengan indikator (a) jumlah pegawai yang puas terhadap ketersediaan sarana dan prasarana gedung Kementerian, capaian 101,29; (b) jumlah laporan kerusakan fasilitas gedung yang ditindaklanjuti capaian 102,88 persen;

6. Sasaran strategis menetapkan rencana strategis dan/atau pengembangan industri prioritas dan industri daerah, dengan indikator tersusunnya renstra dan renja dengan capaian 100 persen;

7. Sasaran strategis memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana, dengan (a) kesesuaian rencana sarana dan prasarana dengan kebutuhan, capaian 108,40 persen; (b) efisiensi penggunaan ruangan dan energi capaian 141,5 persen; (c) efisiensi pemanfaatan teknologi capaian 267,84 persen;

8. Sasaran strategis memperkuat database industri dan kemampuan analisis data dengan indikator pemenuhan permintaan informasi yang cepat, tepat dan akurat capaian 102,44 persen;

9. Sasaran strategis mengembangkan e-Government dengan indikator tersedianya aplikasi capaian 100 persen;

(5)

10. Sasaran strategis membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal dengan indikator tersedianya informasi online capaian 100 persen;

11. Sasaran strategis meningkatnya kualitas pelayanan publik dengan indikator tingkat kepuasan pelanggan capaian 77,5 persen;

12. Sasaran strategis meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan dengan indikator (a) tersedianya sertifikasi guru, indikator ini tidak tercapai; (b) sertifikasi profesi dosen capaian 161,29 persen; (c) sertifikasi assesor capaian 600 persen; (d) Program studi (prodi) pada unit pendidikan yang terakreditasi A dan B capaian 85,71 persen; (e) Terbentuknya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)capaian 240 persen; (f) Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi (TUK) capaian 340 persen; serta (g) Terbentuknya sistem pendidikan berbasis kompetensi capaian 100 persen;

13. Sasaran strategis mengoptimalkan budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf dengan indikator terbangunnya Sistem Pengendalian Intern di unit kerja dengan capaian 100 persen;

14. Sasaran strategis meningkatnya sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional dengan indikator (a) tingkat penyerapan anggaran capaian 85,92 persen; (b) tingkat kualitas laporan keuangan capaian 100 persen.

Berdasarkan uraian di atas, hampir sebagian sasaran strategis telah tercapai, bahkan terdapat sasaran strategis yang capaiannya lebih dari 100 persen. Meskipun demikian, masih terdapat sasaran strategis yang belum tercapai. Untuk itu diperlukan upaya dan masukan yang lebih baik guna mencapai sasaran strategis tersebut.

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

RINGKASAN EKSEKUTIF...ii

DAFTAR ISI...v

DAFTAR TABEL...vi

DAFTAR GAMBAR... vii

BAB I PENDAHULUAN...8

A. TUGAS DAN FUNGSI SEKRETARIAT JENDERAL...8

B. PERAN STRATEGIS SEKRETARIAT JENDERAL...8

C. STRUKTUR ORGANISASI SEKRETARIAT JENDERAL...12

BAB II PERENCANAAN KINERJA...15

A. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2010-2014...15

B. RENCANA KINERJA SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014...18

C. PENETAPAN KINERJA SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014...22

D. ANGGARAN SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014...25

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA...28

A. Analisis Capaian Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014...28

B. Akuntabilitas Keuangan Sekretariat Jenderal Tahun 2014...59

BAB IV PENUTUP...63

A. KESIMPULAN...63

B. PERMASALAHAN DAN KENDALA...63

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Rencana Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014 ...21 Tabel 2. 2 Penetapan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014 ...23 Tabel 2. 3 Anggaran Sekretariat Jenderal Tahun 2014 (dalam ribuan rupiah)...25

Tabel 3. 1 Capaian IKU dari Terwujudnya Sistem Perencanaan dan Pengendalian

Industri yang Handal ...29 Tabel 3. 2 Perbandingan Nilai SAKIP Sekretariat Jenderal dengan Unit Eselon I...33 Tabel 3. 3 Capaian IKU dari Terwujudnya SDM Industri dan Aparatur yang Profesional

...35 Tabel 3. 4 Capaian IKU dari Sasaran Terwujudnya kebijakan industri yang probisnis dan penyelesaian perkara ...40 Tabel 3. 5 Capaian IKU dari Tersedianya Informasi Publik yang Aktual dan terpercaya 43 Tabel 3. 6 Pengajuan permohonan Surat rekomendasi/pertimbangan teknis yang pada tahun 2014...43 Tabel 3. 7 Surat rekomendasi/pertimbangan teknis yang sudah ditandatangani pada tahun 2014...44 Tabel 3. 8 Capaian IKU dari Mewujudkan Pengelolaan Keuangan, Sarana dan Prasarana yang Baik ...46 Tabel 3. 9 Capaian IKU dari Ditetapkannya rencana strategis dan/atau pengembangan industri prioritas dan industri daerah...47 Tabel 3. 10 Capaian IKU dari terfasilitasinya kebutuhan sarana dan prasarana...49 Tabel 3. 11 Capaian IKU dari Menguatnya database industri dan kemampuan analisis data...50 Tabel 3. 12 Capaian IKU dari Berkembangnya e-Government...51 Tabel 3. 13 Capaian IKU dari Terbangunnya sistem informasi yang terintegrasi dan handal ...52 Tabel 3. 14 Capaian IKU dari Meningkatnya kualitas pelayanan publik...53 Tabel 3. 15 Capaian IKU dari Meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan...55 Tabel 3. 16 Capaian IKU dari Optimalnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf...57 Tabel 3. 17 Capaian IKU dari Meningkatnya sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional...58 Tabel 3. 18 Realisasi Anggaran Sekretariat Jenderal Tahun 2014 (dalam ribuan rupiah)

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Sekretariat Jenderal ... 14 Gambar 2.1 Peta Strategi Sekretariat Jenderal ... 16

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. TUGAS DAN FUNGSI SEKRETARIAT JENDERAL

Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor: 105/M-IND/PER/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian, Sekretariat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian. Dalam melaksanakan tugas, Sekretariat Jenderal menyelenggarakan fungsi:

1. Koordinasi kegiatan Kementerian Perindustrian;

2. Koordinasi dan penyusunan rencana dan program Kementerian Perindustrian; 3. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan,

kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, arsip, dan dokumentasi Kementerian Perindustrian;

4. Pembinaan dan penyelenggaraan organisasi dan tata laksana, kerja sama, dan hubungan masyarakat;

5. Koordinasi dan penyusunan peraturan perundang-undangan dan bantuan hukum;

6. Penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara; dan 7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Menteri Perindustrian.

Dengan optimalisasi pelaksanaan fungsi tersebut, diharapkan penyelenggaraan tugas-tugas Kementerian dalam pengaturan, pembinaan, pengelolaan, pengawasan dan pelaporan pembangunan bidang perindustrian terlaksana dengan baik sesuai dengan sasaran dan target yang telah ditetapkan.

B. PERAN STRATEGIS SEKRETARIAT JENDERAL

Sekretariat Jenderal mempunyai 2 (dua) program yaitu: (1) Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Perindustrian bertujuan untuk memberikan dukungan manajemen terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Perindustrian dalam hal persiapan internal, dengan indikator

(10)

pencapaian: (a) Terkoordinasinya pelaksanaan tugas unit-unit organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian; (b) Terbinanya pelaksanaan tugas Kementerian yang meliputi perencanaan, pengorganisasian dan ketatalaksanaan, pendayagunaan sumber daya, serta penghubung antarlembaga dan masyarakat; (c) Terlaksananya pemberian dukungan administrasi dan teknis kepada unit-unit organisasi di lingkungan Kementerian; dan (2) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur bertujuan untuk memberikan dukungan dalam bidang penyediaan maupun pemeliharaan sarana dan prasarana yang diperlukan Kementerian Perindustrian dalam melaksanakan tugas dan fungsinya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan nyaman bagi para pemangku kepentingan, dengan indikator pencapaiannya adalah tersedianya sarana dan prasarana kerja sesuai kebutuhan melalui (a) Terkelolanya sarana prasarana kerja; (b) Tersedianya peralatan maintenance; (c) Terlaksananya ketatausahaan, kerumah-tanggaan dan pengadaan perlengkapan. Dalam pelaksanaannya akan dilakukan melalui berbagai kegiatan berikut.

1. Kegiatan Peningkatan Kualitas Perencanaan dan Pelaporan

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Tersusunnya dokumen perencanaan Kementerian Perindustrian; 2) Tersusunnya Laporan Pelaksanaan Program Dan Anggaran Kementerian Perindustrian;3) Terlaksananya pembinaan dan peningkatan kualitas SDM Perencana; serta 4) Penyediaan layanan perkantoran Biro Perencanaan.

2. Kegiatan Pengembangan SDM Industri

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Terlaksananya penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan pelaporan, pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia aparatur di lingkungan Kementerian; 2) Terlaksananya penyiapan bahan, koordinasi dan pembinaan serta penyusunan formasi, pengadaan sumber daya manusia aparatur serta pelaksanaan administrasi jabatan fungsional di lingkungan Kementerian; 3) Terlaksananya penyiapan bahan, koordinasi dan pengembangan sistem penilaian kompetensi, pengembangan karir, dan analisis kebutuhan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia aparatur di lingkungan Kementerian; 4) Terlaksananya pengelolaan sistem informasi manajemen sumber daya manusia aparatur di lingkungan Kementerian; 5) Pelaksanaan administrasi kepangkatan, dan pemberhentian sumber

(11)

daya manusia aparatur di lingkungan Kementerian; 6) Terlaksananya manajemen kinerja sumber daya manusia aparatur.

3. Kegiatan Peningkatan Sistem Tata Kelola Keuangan dan Barang Milik Negara yang Professional

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Tersusunnya laporan keuangan dengan standar pencapaian tertinggi sesuai dengan peraturan yang berlaku; 2) Terlaksananya penyiapan pedoman teknis pengelolaan anggaran dan barang milik negara; 3) Terlaksananya pembinaan dan pengendalian pelaksanaan anggaran; 4) Terlaksananya pengelolaan perbendaharaan dan penyelesaian kerugian negara; 5) Terlaksananya pelaksanaan akuntansi dan administrasi pengelolaan barang milik negara; 6) Terlaksananya penyediaan data dan informasi keuangan serta koordinasi dan pelaksanaan verifikasi penganggaran Kementerian.

4. Peningkatan Pelayanan Administrasi Dan Manajemen Perkantoran Berbasis Teknologi

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Terlaksananya layanan Ketatausahaan & Keprotokolan Pimpinan, 2) Terlaksananya Layanan Administrasi Kementerian Perindustrian, Layanan Kerumahtanggaan, Keamanan dan Ketertiban serta Kesehatan Pegawai, 3) Tersedianya Laporan Kinerja Biro Umum, 4) Tersedianya Laporan Kegiatan Pembinaan Sarana dan Prasarana Kerja, serta 5) Terlaksananya Layanan Perkantoran Biro Umum;

5. Kegiatan Pelayanan Hukum dan Organisasi

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Terlaksananya pembinaan dan koordinasi penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang industri dan bidang terkait industri; 2) Pelaksanaan pelayanan, pemberian pertimbangan, advokasi, dan bantuan hukum; 3) Pelaksanaan penataan organisasi dan tata laksana dan pelaksanaan urusan tata usaha, rumah tangga, dan manajemen kinerja Biro, 4) Terlaksananya Layanan Perkantoran Biro Hukum;

6. Kegiatan Pembangunan Sistem Informasi Industri yang Terintegrasi dan Handal

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Terlaksananya Inventarisasi Barang/jasa Produksi Dalam Negeri; 2) Terlaksananya pelaksanaan pengumpulan, pengolahan dan analisis data serta pengelolaan basis data; 3) Terlaksananya pengelolaan

(12)

dan pengembangan sistem informasi dan jaringan; 4) Terlaksananya pelayanan informasi industri; 5) Terlaksananya pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas di bidang pengelolaan data dan informasi; 6) Terlaksananya pembinaan sistem informasi, pengumpulan dan pengolahan data, sistim jaringan informasi dan pelayanan data/informasi industri;

7. Peningkatan Pengelolaan Pelayanan Dan Komunikasi Publik

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Terlaksananya fungsi pelayanan informasi kebijakan pembangunan industri, peraturan perundang-undangan di bidang industri dan perkembangan terkini sektor industri ke Masyarakat; 2) Terlaksananya hubungan media massa, pemberitaan, analisis opini publik, promosi, publikasi, pameran, dan pencitraan; 3) Terlaksananya hubungan dengan lembaga negara, lembaga pemerintah, dunia usaha dan lembaga pendidikan, riset dan teknologi;

8. Kegiatan Peningkatan Kualitas SDM Industri

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: 1) Terlaksananya penyusunan kebijakan teknis rencana dan program di bidang pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia aparatur dan sumber daya manusia industri; 2) Terlaksananya pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia aparatur dan sumber daya manusia industri; 3) Terlaksananya kegiatan di bidang standardisasi SDM sektor industri, 4) Terlaksananya koordinasi dan pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia industri; 5) Terlaksananya pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas di bidang pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia aparatur dan sumber daya manusia industri, 6) Terlaksananya rumusan peningkatan mutu SDM industri serta analisa, standar, norma.

9. Kegiatan Pembangunan, Pengadaan, Perbaikan dan Peningkatan Sarana dan Prasarana Kerja

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini antara lain: Tersedianya Sarana/perlengkapan Kerja, Laporan Barang Milik Negara, Sarana/perlengkapan Kesehatan, Bangunan Lainnya, Kendaraan Bermotor, Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi, Peralatan dan Fasilitas Perkantoran dan gedung/bangunan;

(13)

C. STRUKTUR ORGANISASI SEKRETARIAT JENDERAL

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi Sekretariat Jenderal sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor: 105/M-IND/PER/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian, Sekretariat Jenderal dipimpin oleh Sekretaris Jenderal yang membawahi 8 (delapan) Unit Eselon II, yang terdiri atas 5 (lima) Biro dan 3 (tiga) Pusat, yaitu:

1. Biro Perencanaan

Biro Perencanaan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dan penyusunan rencana program sektoral dan regional, rencana dukungan sumber daya dan fasilitasi industri, rencana investasi dan kerja sama investasi industri, serta evaluasi dan pelaporan. Biro Perencanaan terbagi dalam 4 (empat) bagian yang terdiri dari:

a. Bagian Rencana Program Sektoral dan Regional;

b. Bagian Rencana Dukungan Sumber Daya dan Fasiltasi Industri; c. Bagian Rencana Investasi dan Kerja Sama Investasi Industri; dan d. Bagian Evaluasi dan Pelaporan.

2. Biro Kepegawaian

Biro Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan, perencanaan, pengembangan, tata usaha dan pengelolaan sistem informasi dan manajemen kinerja sumber daya manusia aparatur di lingkungan Kementerian. Biro Kepegawaian terbagi dalam 4 (empat) bagian yang terdiri dari:

a. Bagian Perencanaan Sumber Daya Manusia Aparatur; b. Bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur;

c. Bagian Umum dan Informasi Sumber Daya Manusia Aparatur; dan d. Bagian Manajemen Kinerja Sumber Daya Manusia Aparatur. 3. Biro Keuangan

Biro Keuangan mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, koordinasi, pengendalian dan pelaporan keuangan dan barang milik negara Kementerian. Biro Keuangan terbagi dalam 4 (empat) bagian yang terdiri dari:

a. Bagian Pelaksanaan Anggaran; b. Bagian Perbendaharaan;

(14)

c. Bagian Akuntansi dan Pengelolaan Administrasi Barang Milik Negara; dan d. Bagian Analisis Keuangan dan Verifikasi Penganggaran.

4. Biro Hukum dan Organisasi

Biro Hukum dan Organisasi mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, koordinasi, fasilitasi penyusunan peraturan perundang-undangan dan perjanjian kerja sama, pelayanan dan bantuan hukum, serta penataan organisasi dan tata laksana di lingkungan Kementerian Perindustrian. Biro Hukum dan Organisasi terbagi dalam 4 (empat) bagian yang terdiri dari:

a. Bagian Peraturan Perundang-undangan I; b. Bagian Peraturan Perundang-undangan II; c. Bagian Pelayanan dan Bantuan Hukum; dan d. Bagian Organisasi dan Tata Laksana

5. Biro Umum

Biro Umum mempunyai tugas melaksanakan urusan administrasi, kerumahtanggaan, dan perlengkapan di lingkungan Kementerian serta pelayanan administrasi pimpinan. Biro Umum terbagi dalam 4 (empat) bagian yang terdiri dari:

a. Bagian Tata Usaha Pimpinan; b. Bagian Administrasi;

c. Bagian Rumah Tangga; dan d. Bagian Perlengkapan.

6. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengembangan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia aparatur dan sumber daya manusia industri. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri terbagi dalam 1 (satu) bagian dan 3 (tiga) bidang yaitu:

a. Bagian Tata Usaha;

b. Bidang Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Aparatur; c. Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri; dan

(15)

7. Pusat Data dan Informasi

Pusat Data dan Informasi mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengelolaan sistem informasi, manajemen data, serta pelayanan data dan informasi industri. Pusat Data dan Informasi terbagi dalam 1 (satu) bagian dan 3 (tiga) bidang yaitu:

a. Bagian Tata Usaha; b. Bidang Basis Data;

c. Bidang Sistem Informasi; dan

d. Bidang Pelayanan Informasi Industri. 8. Pusat Data dan Informasi

Pusat Komunikasi Publik mempunyai tugas melaksanakan hubungan antar lembaga, pemberitaan, publikasi, dan informasi pelayanan publik. Pusat Komunikasi Publik terbagi dalam 3 (tiga) bidang terdiri dari:

a. Bidang Hubungan Antar Lembaga; b. Bidang Pemberitaan dan Publikasi; dan c. Bidang Informasi Pelayanan Publik; dan

Dalam menjalankan tugasnya, masing-masing Biro dan Pusat saling berkoordinasi dan bekerjasama untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.Struktur organisasi Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 105/M-IND/PER/10/2010, dapat dilihat pada Gambar 1.1 di bawah ini: SEKRETARIAT JENDERAL BIRO HUKUM DAN BIRO UMUM PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK PUSAT DATA DAN

INFORMASI BIRO KEUANGAN BIRO KEPEGAWAIAN BIRO PERENCANAAN Gambar 1.1

(16)

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2010-2014

Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian telah menyusun Rencana Strategis Tahun 2010-2014 yang memuat hal-hal pokok seperti arah kebijakan, peta strategi serta program kerja.

1. Arah Kebijakan Sekretariat Jenderal

Visi dan misi Sekretariat Jenderal sebagai arah dalam mengambil kebijakan, penetapan program dan kegiatan selama kurun waktu lima tahun (2014-2014) adalah sebagai berikut.

VISI: Mewujudkan pelayanan prima kepada stakeholders1.

MISI: a. Melayani stakeholders secara professional dan pro bisnis

b. Menyelenggarakan tata kepemerintahan yang baik dan profesional.

Sebagai penjabaran dari visi dan misi yang telah ditetapkan, dirumuskan berbagai kebijakan sebagai arah/tindakan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan, yang tertuang ke dalam Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian 2010-2014. Adapun arah kebijakan dalam Renstra mencakup hal-hal pokok sebagai berikut :

a. Mewujudkan perencanaan yang kredibel.

b. Menjadikan SDM Aparatur yang terampil, profesional, dan memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan tugas.

c. Mewujudkan tata kelola keuangan yang baik dan benar.

d. Mewujudkan pelayanan prima di bidang hukum, organisasi, tatalaksana dan perpustakaan Kementerian.

e. Mewujudkan pelayanan “Public Relations” yang prima.

1Stakeholders. Sekretariat Jenderal yaitu stakeholders internal mencakup semua unit kerja di Lingkungan Kementerian

Perindustrian dan stakeholders eksternal terdiri instansi pemerintah dan swasta seperti DPR, Bappenas, Kepmenkeu, Menpan dan RB, Kepolisian, KPK, BPKP, BPK, Asosiasi-asosiasi dan lain-lain.

(17)

f. Menjadikan institusi pendidikan dan pelatihan yang terpercaya dalam pengembangan SDM industri profesional.

g. Menjadikan instansi pelayanan informasi sektor industri yang prima dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi

h. Menjadikan organisasi yang handal dalam penanganan kerjasama internasional untuk kepentingan industri.

2. Peta Strategi Sekretariat Jenderal

Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran-sasaran industri yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategi Kementerian Perindustrian, telah dibangun Peta Strategi Sekretariat Jenderal yang mengacu pada visi dan misi Kementerian Perindustrian yaitu mewujudkan pelayanan prima kepada stakeholders. Visi ini kemudian dijabarkan ke dalam misi, yaitu melayani stakeholder secara profesional dan pro bisnis dan menyelenggarakan tata kepemerintahan yang baik dan profesional. Selanjutnya dalam Peta Strategi diuraikan peta panduan (road map) yang akan ditempuh untuk mewujudkan visi tersebut. Peta Strategi Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

(18)

Berdasarkan peta strategi tersebut, tujuan yang akan dicapai Sekretariat Jenderal pada rencana strategis dalam kurun waktu lima tahun 2010-2014, yaitu terwujudnya kualitas pelayanan dan fungsi koordinasi yang profesional dan pro bisnis.

Dalam upaya untuk mewujudkan kualitas pelayanan dan fungsi koordinasi yang profesional, Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian menetapkan sasaran strategis berdasarkan perspektif stakeholder yaitu:

a. Terwujudnya Sistem perencanaan dan pengendalian industri yang handal; b. Terwujudnya SDM industri dan aparatur yang profesional;

c. Terwujudnya kebijakan industri yang pro bisnis dan penyelesaian perkara hukum yang profesional;

d. Tersedianya informasi publik yang aktual dan tepercaya;

e. Terwujudnya pengelolaan keuangan, sarana dan prasarana yang baik.

Selain sasaran tersebut, Sekretariat Jenderal juga menetapkan sasaran strategis berdasarkan perspektif pelaksanaan tugas dan fungsi yaitu:

a. Pelayanan dan Fasilitasi:

1) Terfasilitasinya kebutuhan sarana dan prasarana Kementerian Perindustrian 2) Penguatan database industri dan kemampuan analisis data

3) Pengembangan e-Government

4) Terbangunnya sistem informasi yang terintegrasi dan handal 5) Meningkatnya kualitas pelayanan publik

b. Perumusan Kebijakan Operasional dan Pengelolaan:

1) Ditetapkannya rencana strategis dalam pengembangan industri prioritas dan industri daerah;

2) Meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan;

3) Terbangunnya sistem pengembangan pegawai;

4) Meningkatnya sistem dan tata hukum industri serta pelayanan yang berkualitas di bidang hukum dan kebijakan industri;

5) Berkembangnya sistem pendidikan dan pelatihan aparatur yang profesional. c. Pengendalian dan Pengawasan:

1) Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf; 2) Meningkatnya sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional.

(19)

3. Program Kerja Sekretariat Jenderal

Sekretariat Jenderal mempunyai 2 (dua) program yaitu: (1) Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Perindustrian bertujuan untuk memberikan dukungan manajemen terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Perindustrian dalam hal persiapan internal dan (2) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur bertujuan untuk memberikan dukungan dalam bidang penyediaan maupun pemeliharaan sarana dan prasarana yang diperlukan Kementerian Perindustrian dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan nyaman bagi para pemangku kepentingan. Program-program tersebut akan dicapai melalui 10 (sepuluh) kegiatan yang dibagi menjadi dua kategori yaitu kegiatan prioritas nasional dan prioritas Kementerian/Lembaga.

B. RENCANA KINERJA SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014

Pada tahun 2012, pada tataran Kementerian Perindustrian telah dilaksanakan beberapa review, baik review terhadap Renstra Kementerian Perindustrian tahun 2010-2014 maupun review terhadap Peta Strategi beserta indikator-indikator kinerjanya. Review pada tingkat kementerian ini berdampak pada beberapa perubahan pada tingkat Sekretariat Jenderal, yang merupakan unit kerja pendukung pelaksanaan tugas dan fungsi seluruh unit di lingkungan Kementerian Perindustrian. Sasaran-sasaran strategis yang akan dicapai Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian pada tahun 2014 dan tercantum dalam Rencana Kinerja Tahun 2014 ini merupakan turunan dari sasaran strategis Kementerian Perindustrian yang mengacu pada Peta Strategis Kementerian Perindustrian yang telah dituangkan dalam Rencana Strategis tahun 2010-2014 dan Peta Strategi serta Indikator Kinerja Utama Kementerian Perindustrian dengan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan hasil review pada tahun 2013 maupun berdasarkan hasil evaluasi pada tahun 2012 sebagaimana diuraikan dalam dokumen LAKIP Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian tahun 2012. Sasaran-sasaran strategis yang akan dicapai Sekretariat Jenderal pada tahun 2014 adalah sebagai berikut:

1. Mewujudkan sistem perencanaan dan pengendalian industri yang handal Merupakan pelaksanaan tugas perencanaan untuk melayani pengembangan industri nasional sehingga program-program dapat berjalan sebaik mungkin. Sekretariat Jenderal

(20)

sebagai unit yang melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian diharapkan mempunyai sistem perencanaan industri yang handal sehingga pembangunan dan pengembangan industri nasional dapat lebih terarah dan fokus.

2. Mewujudkan SDM industri dan aparatur yang profesional

Merupakan kualitas kemampuan SDM aparatur Kementerian Perindustrian sebagai pelaksana dalam memberikan layanan terhadap industri nasional. Meningkatnya kemampuan SDM industri dan aparatur yang professional diharapkan dapat meningkatkan inovasi-inovasi dalam bidang industri, baik inovasi baru maupun pengembangan yang sudah ada, sehingga dapat meningkatkan daya saing produk dan jasa industri. Peningkatan kualitas SDM baik aparatur maupun industri dilakukan melalui pengembangan sistem pendidikan dan aparatur yang professional serta pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi yang dilakukan oleh Pusdiklat industri maupun unit-unit pendidikan di lingkungan Kementerian Perindustrian. Khusus untuk SDM aparatur, selain melalui pendidikan dan pelatihan, juga akan dilakukan dengan meningkatkan penerapan kode etik dan peningkatan disiplin dan budaya kerja pegawai, serta melakukan pengembangan sistem rekruitmen pegawai.

3. Mewujudkan kebijakan industri yang pro bisnis dan penyelesaian perkara hukum yang profesional;

Merupakan peningkatan kemampuan organisasi sehingga menghasilkan kerja yang optimal. Untuk mewujudkan kebijakan industri yang pro bisnis maka perlu disusun peraturan perundangan dan rekomendasi penyempurnaan peraturan di lingkungan Kementerian Perindustrian. Selain itu dilakukan langkah-langkah sosialisasi terkait dengan peraturan tersebut dan melakukan advokasi dan penyuluhan permasalahan hukum.

4. Menyediakan informasi publik yang aktual dan terpercaya

Pengembangan penerapan e-government guna membantu pelaksanaan tugas pokok di lingkungan Kementerian penguatan data base industri dan kemampuan analisis data, agar terwujud kualitas pelayanan dan fungsi koordinasi yang professional dan pro bisnis. Untuk mewujudkan Sistem Informasi yang handal maka dilakukan langkah-langkah yang

(21)

meliputi peningkatan kemampuan kinerja sistem jaringan dan teknologi informasi dan pengembangan analisa data dan statistik serta meningkatkan hubungan dan kerjasama serta pertukaran informasi dengan stakeholder.

5. Mewujudkan pengelolaan keuangan, sarana dan prasarana yang baik

Merupakan rangkaian proses pengelolaan dan pengendalian keuangan, sarana dan prasarana termasuk penyusunan berbagai kebijakan berupa peraturan, panduan, dan pedoman sampai dengan pelaporan keuangan. Tata kelola keuangan juga mencakup hubungan antara pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat dalam pengelolaan keuangan tersebut. Tata kelola keuangan yang baik juga merupakan pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip efektif, efisien, ekonomis serta dilakukan dengan tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku, transparan dan akuntabel. Penerapan Good

Financial Governance akan dilakukan pada semua satker di lingkungan Kementerian

Perindustrian.

Selain sasaran-sasaran strategis di atas yang merupakan perspektif stakeholder, Kementerian Perindustrian juga telah menetapkan 13 sasaran strategis yang akan dicapai berdasarkan perspektif pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Perindustrian yang akan mendukung pencapaian sasaran strategis berdasarkan perspektif stakeholder. Sebagaimana pada perspektif stakeholder, pada perspektif tugas pokok dan fungsi juga mengalami perbaikan sasaran strategis maupun indikator kinerja. Sasaran tersebut antara lain:

1. Menetapkan rencana strategis dan/atau pengembangan industri prioritas dan industri daerah

2. Memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana

3. Memperkuat database industri dan kemampuan analisis data 4. Mengembangkan e-Government

5. Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal 6. Meningkatkan kualitas pelayanan publik

7. Meningkatkan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan 8. Mengoptimalkan budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf

9. Mengoptimalkan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan efektifitas pencapaian kinerja industri

(22)

11. Membangun sistem pengembangan pegawai

12. Meningkatkan sistem dan tata hukum industri serta pelayanan yang berkualitas di bidang hukum dan kebijakan industri

13. Mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan aparatur yang profesional. Tabel 2. 1 Rencana Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014

Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Utama (IKU) Satuan Target 2014 PERSPEKTIF STAKEHOLDER

Mewujudkan sistem perencanaan dan

pengendalian industri yang handal

Tingkat persetujuan rencana kegiatan (yang tidak diblokir)

Persentase 95

Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan

Persentase 85

Mewujudkan SDM industri dan aparatur yang profesional

Terserapnya jumlah lulusan SDM industri yang bekerja di sektor industri

Persentase 85

Terwujudnya SDM industri yang menjadi wirausaha baru

Persen 2

Tersedianya SDM industri yang kompeten Orang/tahun 325 Standar kompetensi SDM aparatur Indeks 3 SDM aparatur yang kompeten Persentase 90

Tingkat kehadiran pegawai Persen 90 Mewujudkan kebijakan industri

yang pro bisnis dan penyelesaian perkara hukum yang profesional

Fasilitasi efektifitas penerapan peraturan industri

Persentase 100

Permintaan konsultasi dan advokasi hukum yang terlayani

Persentase 95 Menyediakan informasi publik

yang aktual dan terpercaya Jumlah pelayanan publik Orang 6500 Jumlah informasi industri yang

dipublikasikan

Informasi 34000 Mewujudkan pengelolaan

keuangan, sarana dan prasarana

yang baik Terwujudnya “good financial governance”

Satker 92

Jumlah pegawai yang puas terhadap ketersediaan sarana dan prasarana gedung Kementerian

Persentase 82

Jumlah laporan kerusakan fasilitas gedung yang ditindaklanjuti

Persentase 82

PERSPEKTIF TUGAS POKOK DAN FUNGSI Menetapkan rencana

strategis dan/atau pengembangan industri prioritas dan industri daerah

Jumlah Renstra & Renja

Dokumen Perencanaan

1

Memfasilitasi kebutuhan sarana

dan prasarana Kesesuaian rencana dan kebutuhan persentase 82 Efisiensi pemanfaatan teknologi persentase 32 Efisiensi ruangan dan energi persentase 32

(23)

Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Utama (IKU) Satuan Target 2014 Memperkuat database industri

dan kemampuan analisis data Pemenuhan permintaan informasi yang cepat, tepat dan akurat Persentase 82 Mengembangkan e-Government Tersedianya aplikasi (software) Aplikasi 12 Membangun sistem informasi

yang terintegrasi dan handal Tersedianya sistem informasi online Paket 5 Pengguna yang mengakses Jumlah 1,5 juta Meningkatkan kualitas

pelayanan publik Tingkat kepuasan pelanggan Indeks 4 Meningkatkan kualitas

lembaga pendidikan dan pelatihan serta

kewirausahaan

Instruktur yang bersertifikat Orang 20 Jurusan pada lembaga pendidikan dan

lembaga diklat yang terakreditasi

Jurusan 3

Mengoptimalkan budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf

Terbangunnya Sistem Pengendalian Intern di unit kerja

Satker 32

Mengoptimalkan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan efektifitas pencapaian kinerja industri

Laporan evaluasi pelaksanaan kebijakan

Laporan 1

Tingkat penyimpangan pelaksanaan kebijakan industri

Persen 15

Meningkatkan sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional

Tingkat penyerapan anggaran Persentase 90 Tingkat kualitas laporan keuangan Opini BPK WTP Membangun sistem

pengembangan pegawai Formasi pegawai sesuai kebutuhan organisasi persentase 85 Kesesuaian standar kompetensi jabatan Persentase 65 Diterapkannya pola karir, mutasi dan

promosi yang konsekuen

Persentase 65 Meningkatkan sistem dan tata

hukum industri serta pelayanan yang berkualitas di bidang hukum dan kebijakan industri

Publikasi produk hukum yang sesuai kebutuhan

persentase 95

Mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan aparatur yang profesional

Pelaksanaan diklat sesuai dengan pola pengembangan diklat

persentase 85

C. PENETAPAN KINERJA SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Perindustrian nomor Nomor 114/M-IND/PER/12/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 41/M-IND/PER/3/2010 tentang Peta Strategi Dan Indikator Kinerja Utama Kementerian Perindustrian Dan Unit Eselon I Kementerian Perindustrian pada tanggal 27 Desember 2013, perlu dilakukan penyesuaian terhadap Rencana Kinerja Setjen Tahun 2014 untuk dijadikan Penetapan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014. Perubahan tersebut meliputi perubahan indikator dan target kinerja.

(24)

Tabel 2. 2 Penetapan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014

Kode

SS Sasaran Strategis (SS) Kode IKU Indikator Kinerja Utama (IKU) Target Satuan

1 2 3 4 5 7

PERSPEKTIF STAKEHOLDER

SJ.S1 Terwujudnya sistem perencanaan dan

pengendalian industri yang handal

SJ.S1.1 Tingkat kesesuaian pelaksanaan kegiatan

dengan dokumen perancanaan 90 Persen SJ.S1.2 Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan

kegiatan 85 Persen SJ.S1.3 Nilai SAKIP Sekretariat Jenderal

75 Nilai SJ.S2 Terwujudnya SDM industri

dan aparatur yang profesional

SJ.S2.1 Terserapnya jumlah lulusan pendidikan

vokasi yang bekerja di sektor industri 2530 Orang/tahun SJ.S2.2 Lulusan Pelatihan three in one (pelatihan,

sertifikasi, dan penempatan) SDM Industri 1600 Orang/tahun SJ.S2.3 Jumlah SKKNI di sektor industri

4 SKKNI/tahun SJ.S2.4 Calon wirausaha baru yang kompeten

melalui program TPL beasiswa 300 Orang/tahun SJ.S2.5 Standar kompetensi SDM aparatur

3 Indeks SJ.S2.6 SDM aparatur yang kompeten

90 Persentase SJ.S2.7 Tersedianya SDM aparatur yang kompeten

melalui pelatihan teknis industri 500 Orang/tahun SJ.S2.8 Tersedianya SDM aparatur yang kompeten

melalui pelaksanaan pendidikan rintisan

gelar S2 dan S3 dalam dan luar negeri 83 Orang/tahun SJ.S2.9 Tingkat kehadiran pegawai

90 Persen SJ.S3 Terwujudnya kebijakan

industri yang pro bisnis dan penyelesaian perkara hukum yang profesional

SJ.S3.1 Fasilitasi penyusunan peraturan perundang-undangan di lingkungan

Kementerian Perindustrian 100 Persen SJ.S3.2 Permintaan konsultasi dan advokasi

hukum yang terlayani 95 Persen SJ.S4 Tersedianya informasi publik

yang aktual dan terpercaya SJ.S4.1 Jumlah pelayanan publik 6500 Orang SJ.S4.2 Jumlah informasi industri yang

dipublikasikan 40 Publikasi SJ.S5 Terwujudnya pengelolaan

keuangan, sarana dan prasarana yang baik

SJ.S5.1 Jumlah pegawai yang puas terhadap ketersediaan sarana dan prasarana gedung

Kementerian 82 Persentase SJ.S5.2 Jumlah laporan kerusakan fasilitas gedung

(25)

Kode

SS Sasaran Strategis (SS) Kode IKU Indikator Kinerja Utama (IKU) Target Satuan

1 2 3 4 5 7

PERSPEKTIF PELAKSANAAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

SJ.T1 Ditetapkannya rencana strategis dalam pengembangan industri prioritas dan industri daerah

SJ.T1.1 Jumlah Renstra & Renja

2 PerencanaanDokumen

SJ.T2 Terfasilitasinya kebutuhan sarana dan prasarana Kementerian Perindustrian

SJ.T2.1 Kesesuaian rencana dan kebutuhan

82 persentase SJ.T2.2 Efisiensi pemanfaatan teknologi

32 persentase SJ.T2.3 Efisiensi ruangan dan energi

32 persentase SJ.T3 Penguatan database industri

dan kemampuan analisis data SJ.T3.1 Pemenuhan permintaan informasi yang cepat, tepat dan akurat 82 Persentase SJ.T4 Pengembangan e-Government SJ.T4.1 Tersedianya aplikasi (software)

12 Aplikasi SJ.T5 Terbangunnya sistem

informasi yang terintegrasi dan handal

SJ.T5.1 Tersedianya sistem informasi online

3 Paket SJ.T5.2 Pengguna yang mengakses

1,5 juta Jumlah SJ.T6 Meningkatnya kualitas

pelayanan publik SJ.T6.1 Tingkat kepuasan pelanggan 4 Indeks SJ.T7 Meningkatnya kualitas

lembaga pendidikan dan pelatihan serta

kewirausahaan

SJ.T7.1 Sertifikasi profesi guru

87 Persen SJ.T7.2 Sertifikasi profesi dosen

62 Persen SJ.T7.3 Sertifikasi asessor

20 Orang SJ.T7.4 Program studi (prodi) pada unit

pendidikan yang terakreditasi A dan B 21 Prodi SJ.T7.5 Terbentuknya Lembaga Sertifikasi Profesi

(LSP) 5 LSP/tahun SJ.T7.6 Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi

(TUK) 5 TUK/tahun SJ.T7.7 Terbentuknya sistem pendidikan berbasis

kompetensi 4 Satuan Kerja SJ.T7.8 Jumlah Standar Kompetensi Kerja Nasional

Indonesia (SKKNI) di sektor industri 4 SKKNI/tahun SJ.T8 Meningkatnya budaya

pengawasan pada unsur pimpinan dan staf

SJ.T8.1 Terbangunnya Sistem Pengendalian Intern di unit kerja

32 Satker

SJ.T9 SJ.T9.1 Tingkat penyerapan anggaran

(26)

Kode

SS Sasaran Strategis (SS) Kode IKU Indikator Kinerja Utama (IKU) Target Satuan

1 2 3 4 5 7

Meningkatnya sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional

SJ.T9.2 Tingkat kualitas laporan keuangan

WTP Opini BPK SJ.T10 Terbangunnya sistem

pengembangan pegawai SJ.T10.1 Formasi pegawai sesuai kebutuhan organisasi 85 persentase SJ.T10.2 Kesesuaian standar kompetensi jabatan

65 Persentase SJ.T10.3 Diterapkannya pola karir, mutasi dan

promosi yang konsekuen 65 Persentase SJ.T11 Meningkatnya sistem dan

tata hukum industri serta pelayanan yang berkualitas di bidang hukum dan kebijakan industri

SJ.T11.1 Publikasi produk hukum yang sesuai kebutuhan

95 persentase

SJ.T12 Berkembangnya sistem pendidikan dan pelatihan aparatur yang profesional

SJ.T11.1 Pelaksanaan diklat sesuai dengan pola pengembangan diklat

85 persentase

D. ANGGARAN SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2014

Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Penetapan Kinerja Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian tahun 2014 Sekretariat Jenderal mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 731.865.340.000 yang terdiri dari 2 (dua) program. Adapun rincian anggaran per program, kegiatan, output serta komponen adalah sebagaimana pada Tabel 2.3.

Tabel 2. 3 Anggaran Sekretariat Jenderal Tahun 2014 (dalam ribuan rupiah)

KODE OUTPUT / RINCIAN AKUN PAGU

1 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Perindustrian 713.672.040 1824 Pelayanan Hukum Dan Penataan Organisasi 31.092.629 1824.001 Layanan Peraturan Perundang-undangan 25.347.366

1824.005 Layanan Bantuan Hukum 2.027.054

1824.006 Layanan Organisasi Dan Tata Laksana 1.813.771 1824.007 Laporan Manajemen Kinerja Biro Hukum Dan Organisasi 742.132

1824.994 Layanan Perkantoran 896.436

1824.995 Kendaraan Bermotor 209.71

1824.996 Perangkat Pengolah Data Dan Komunikasi 52.05

(27)

KODE OUTPUT / RINCIAN AKUN PAGU 1825 Peningkatan Dan Pelayanan Administrasi Kementerian, Pelayanan Tata Usaha Pimpinan, Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Serta

Penyelenggaraan Kerumahtanggaan Dan Urusan Dalam 35.887.400 1825.001 Layanan Ketatausahaan & Keprotokolan Pimpinan 11.516.776 1825.002 Layanan Administrasi Kementerian Perindustrian 2.708.318 1825.003 Layanan Kerumahtanggaan, Keamanan Dan Ketertiban Serta Kesehatan Pegawai 740.74

1825.004 Laporan Kinerja Biro Umum 1.441.284

1825.005 Laporan Kegiatan Pembinaan Sarana Dan Prasarana Kerja 1.175.182

1825.994 Layanan Perkantoran 18.305.100

1826 Pengembangan Sdm Industri 12.359.600

1826.001 Dokumen Perencanaan Sdm 2.736.450

1826.002 Dokumen Pengelolaan Urusan Kepegawaian 5.893.748 1826.003 Layanan Manajemen Kinerja Biro Kepegawaian 2.243.372

1826.994 Layanan Perkantoran 689.325

1826.995 Kendaraan Bermotor 574.99

1826.997 Peralatan Dan Fasilitas Perkantoran 221.715

1827 Peningkatan Sistem Tata Kelola Keuangan Dan Barang Milik Negara Yang Profesional 94.162.432 1827.001 Peningkatan Kualitas Pengelolaan Keuangan Pada Satker Dilingkungan Kemenperin 1.539.903 1827.002 Laporan Kegiatan Di Bidang Pengelolaan Keuangan 7.754.540 1827.003 Peningkatan Kompetensi Sdm Di Bidang Pengelolaan Keuangan 1.397.323 1827.004 Pedoman Di Bidang Pengelolaan Keuangan 719.62 1827.006 Layanan Pengadaan Barang/jasa (ulp 1.871.823 1827.008 Pembinaan/penyelenggaraan Kerjasama Internasional 881.61

1827.994 Layanan Perkantoran 79.997.613

1828 Peningkatan Kualitas Perencanaan Dan Pelaporan 27.050.180 1828.001 Dokumen Perencanaan Kementerian Perindustrian 17.805.516 1828.002 Laporan Pelaksanaan Program Dan Anggaran Kementerian Perindustrian 2.998.717

1828.003 Sdm Perencana 931.316

1828.004 Pengkajian, Pemetaan Dan Pemantauan Teknologi Proses, Produksi Dan Manufaktur 3.700.000

1828.994 Layanan Perkantoran 1.480.251

1828.996 Perangkat Pengolah Data Dan Komunikasi 59.58

1828.997 Peralatan Dan Fasilitas Perkantoran 74.8

1829 Pembangunan Sistem Informasi Industri Yang Terintegrasi Dan Handal 34.194.057 1829.001 Dokumen Inventarisasi Barang/jasa Produksi Dalam Negeri 11.256.804 1829.002 Laporan Evaluasi Dan Manajemen Kinerja Pusat Data Dan Informasi 2.369.243 1829.003 Pembinaan Dan Pengembangan Sdm Dalam Bidang Penyajian Data Dan Informasi 860.61

1829.004 Basis Data Yang Mutakhir 3.565.243

1829.005 Publikasi Data Industri 452.35

(28)

KODE OUTPUT / RINCIAN AKUN PAGU

1829.007 Pengembangan Aplikasi 1.380.150

1829.008 Pelayanan Informasi Industri 1.233.438

1829.009 Layanan Pengadaan Secara Elektronik 1.094.960

1829.994 Layanan Perkantoran 9.044.894

1829.996 Perangkat Pengolah Data Dan Komunikasi 2.331.387

1829.997 Peralatan Dan Fasilitas Perkantoran 102.517

1830 Peningkatan Kualitas Sdm Industri 448.138.189

1830.001 Sdm Industri Yang Kompeten Di Bidang Industri 23.400.650 1830.007 Fasilitasi Pengembangan Pendidikan Industri 95.361.726 1830.008 Fasilitasi Pengembangan Sdm Industri 15.421.655 1830.009 Laporan Monitoring Dan Evaluasi Program/kegiatan 17.994.108 1830.01 Penyelenggaraan Pendidikan Kejuruan Industri Berbasis Sbi Dan Kompetensi 11.819.807 1830.011 Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi Industri Berbasis Spesialisasi Dan Kompotensi 48.783.279 1830.012 Penyelenggaraan Pelatihan Ikm Berbasis Spesialisasi Dan Kompetensi 34.915.311

1830.994 Layanan Perkantoran 178.538.202

1830.995 Kendaraan Bermotor 745

1830.996 Perangkat Pengolah Data Dan Komunikasi 1.062.318 1830.997 Peralatan Dan Fasilitas Perkantoran 7.108.909

1830.998 Gedung/bangunan 12.987.224

1831 Peningkatan Pengelolaan Pelayanan Publik 30.787.553 1831.002 Layanan Manajemen Kinerja Dan Peningkatan Hubungan Antar Kelembagaan/dunia Usaha 5.542.573 1831.003 Sosialisasi/diseminasi/visualisasi/publikasi Dan Pemberitaan 13.601.911

1831.004 Layanan Informasi Publik 5.127.112

1831.994 Layanan Perkantoran 6.182.443

1831.995 Kendaraan Bermotor 194.57

1831.996 Perangkat Pengolah Data Dan Komunikasi 57

1831.997 Peralatan Dan Fasilitas Perkantoran 81.944

2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian Perindustrian 18.193.300 1832 Pembangunan, Pengadaan, Perbaikan Dan Peningkatan Sarana Dan Prasarana Kerja 18.193.300

1832.001 Sarana/perlengkapan Kerja 769.932

1832.002 Laporan Barang Milik Negara 884.994

1832.003 Sarana/perlengkapan Kesehatan 340

1832.004 Bangunan Lainnya 779.819

1832.995 Kendaraan Bermotor 275.1

1832.996 Perangkat Pengolah Data Dan Komunikasi 791.424 1832.997 Peralatan Dan Fasilitas Perkantoran 7.187.131

1832.998 Gedung/bangunan 7.164.900

(29)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. Analisis Capaian Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014

Berbagai upaya telah dilakukan Sekretariat Jenderal, melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam rangka pencapaian sasaran strategis yang telah ditetapkan pada awal tahun anggaran 2014. Pencapaian target sasaran strategis ini dapat dilihat dari pemenuhan target dari indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja (Tapkin) Sekretariat Jenderal Tahun 2014. Pencapaian 5 (lima) sasaran strategis Sekretariat Jenderal dalam perspektif stakeholder maupun 12 sasaran strategis dalam perspektif pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, dapat dilihat secara lengkap pada analisis capaian kinerja sasaran dibawah ini. Analisis yang disajikan meliputi capaian indikator kinerja utama dan analisis pencapaian yang dilengkapi dengan pembandingan capaian dengan tahun sebelumnya serta dengan kinerja lainnya. Namun terdapat beberapa sasaran strategis maupun indikator kinerja utama yang tidak dapat diperbandingkan. Hal ini dikarenakan pada tahun sebelumnya tidak ditetapkan sebagai sasaran strategis atau indikator kinerja utama yang sama, serta dikarenakan ketidaktersediaan data.

1. SASARAN STRATEGIS PERSPEKTIF STAKEHOLDER

Sesuai dengan Penetapan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014, terdapat 5 (lima) sasaran strategis perspektif stakeholder yang akan dicapai. Berikut adalah analisis capaian setiap sasaran strategis Sekretariat Jenderal.

a. TERWUJUDNYA SISTEM PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN INDUSTRI YANG HANDAL

Sistem perencanaan yang handal dimaksud adalah sistem perencanaan yang mampu menjamin pencapaian sasaran organisasi sesuai dengan yang telah ditetapkan. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama (IKU):

1) Tingkat kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan dokumen perencanaan dengan target 90 persen kesesuaian.

Capaian indikator ini diukur dengan menghitung kesesuaian antara output Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Kementerian Perindustrian tahun 2015

(30)

dibandingkan dengan output yang ada pada RKA K/L Kementerian Perindustrian tahun 2015 dengan target 90 persen kesesuaian.

2) Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan dengan target pada tahun 2014 sebesar 85 persen.

Capaian indikator ini diukur melalui penghitungan perbandingan realisasi pelaksanaan kegiatan dengan target yang telah ditetapkan. Penghitungan berdasarkan hasil rekapitulasi Aplikasi Laporan Kegiatan Internal (ALKI)

3) Hasil Evaluasi SAKIP Sekretariat Jenderal dengan nilai 75 untuk tahun 2014.

Nilai ini diperoleh dari hasil evaluasi akuntabilitas kinerja atas implementasi SAKIP tahun 2013 seluruh unit eselon I di lingkungan Kementerian Perindustrian yang dilaksanakan oleh tim Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) Inspektorat Jenderal pada tahun 2014. Pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2013 evaluasi dilaksanakan oleh Tim Evaluasi Kementerian Perindustrian yang merupakan perwakilan dari seluruh unit eselon I di lingkungan Kementerian Perindustrian dan dikoordinasikan oleh Biro Perencanaan.

Realisasi, target serta capaian dari Indikator Kinerja Utama (IKU) dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3. 1 Capaian IKU dari Terwujudnya Sistem Perencanaan dan Pengendalian Industri yang Handal Sasaran Strategis IKU 2012 2013 2014 Satu-an T R C T R C T R C Terwujudnya sistem perencanaan dan pengendalian industri yang handal Tingkat kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan dokumen perencanaan - - - 90 n/a n/a % Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan - - - 85 85,65 100,76 85 95,55 112,41 % Nilai SAKIP Sekretariat Jenderal 65 69,22 106,49 70 69,44 99,2 75 73,11 97,48 Nilai

(31)

Berdasarkan tabel capaian IKU di atas, terkait dengan IKU tingkat kesesuaian

pelaksanaan kegiatan dengan dokumen perencanaan, dihitung dari kesesuaian

antara output Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Kementerian Perindustrian tahun 2015 dibandingkan dengan output yang ada pada RKA K/L Kementerian Perindustrian tahun 2015. IKU ini merupakan IKU baru yang dimulai untuk tahun 2014, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya. Untuk mendapatkan capaian indikator ini, telah diselenggarakan penelitian dan reviu RKA K/L yang diselenggarakan oleh Biro Perencanaan bekerjasama dengan Inspektorat Jenderal yang dilaksanakan pada tanggal 18-22 September 2014. Namun demikian, hasil penelitian tersebut masih berupa rekomendasi, sehingga rekomendasi tersebut tidak bisa langsung dikonversi menjadi persentase. Untuk itu diperlukan penentuan pendekatan untuk mengkonversi rekomendasi tersebut.

Sedangkan untuk IKU kedua, tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan dengan target pada tahun 2014 adalah sebesar 85 persen kegiatan di seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan ini diukur melalui Aplikasi Laporan Kegiatan Internal (ALKI). Nilai ini dihitung dari perbandingan target fisik pelaksanaan kegiatan Kementerian Perindustrian terhadap realisasi fisik yang terealisasi. Realisasi IKU dari target ini pada tahun 2014 adalah sebesar 95,55 persen, dimana dari target fisik yang ditetapkan sebesar 86,86 persen terealisasi sebesar 83,00 persen. Sehingga capaian untuk IKU ini pada tahun 2014 sebesar 112,41 persen. Dilihat dari capaian IKU, terjadi kenaikan capaian dari 100,76 persen, menjadi 112,41 persen. Peningkatan penggunaan ALKI ini tidak terlepas dari dilaksanakannya sosialisasi ALKI yang intens kepada unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian khususnya yang berada di satker pusat. Selain itu, peningkatan juga dikarenakan adanya perbaikan secara sistem ALKI, yang merupakan saran dan masukan pada sosialisasi tahun 2013. Untuk itu, diusulkan untuk target pada tahun 2015 ditingkatkan targetnya. Peningkatan target ini, diharapkan diikuti dengan pemberian reward and punishment penerapan dan penggunaan ALKI, khususnya untuk unit kerja pendidikan di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT). Penerapan aplikasi ALKI di lingkungan Pusdiklat dirasa masih sangat

(32)

kurang karena sosialisasi dan bimbingan penggunaan aplikasi ini belum terlaksana secara konsisten, intensif dan menyeluruh.

Selanjutnya, IKU ketiga adalah Nilai SAKIP Sekretariat Jenderal. Target IKU ini pada tahun 2014 adalah nilai hasil evaluasi akuntabilitas kinerja Sekretariat Jenderal sebesar 75 dari nilai absolut (atau nilai sempurna) sebesar 100. Nilai ini diperoleh dari hasil evaluasi akuntabilitas kinerja atas implementasi SAKIP tahun 2013 seluruh unit eselon I di lingkungan Kementerian Perindustrian yang dilaksanakan oleh tim Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) Inspektorat Jenderal pada tahun 2014. Pelaksanaan evaluasi ini pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2013 dilaksanakan oleh Tim Kementerian Perindustrian yang merupakan perwakilan dari seluruh unit eselon I di lingkungan Kementerian Perindustrian dan dikoordinasi oleh Biro Perencanaan.

Nilai yang diperoleh oleh Sekretariat Jenderal untuk implementasi SAKIP tahun 2013 adalah sebesar 73,11 dari nilai absolut 100. Realisasi ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2012 dan 2013, yang berkisar di nilai 69,22 dan 69,44. Nilai ini menggambarkan bahwa implementasi yang dilaksanakan di lingkungan Sekretariat Jenderal masih perlu sedikit perbaikan. Jadi capaian indikator kinerja ini pada tahun 2014 adalah sebesar 97,48 persen. Peningkatan nilai SAKIP ini merupakan dampak dari pelaksanaan workshop akuntabilitas kinerja yang diselenggarakan oleh Biro Perencanaan secara konsisten, sehingga terjadi peningkatan implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang dilakukan oleh seluruh unit kerja eselon II di lingkungan Sekretariat Jenderal, Kementerian Perindustrian. Peningkatan penggunaan ALKI juga merupakan wujud dan komitmen pimpinan unit kerja dalam rangka pemantauan dan peningkatan akuntabilitas.

Capaian tahun 2014 ini apabila didasarkan pada dokumen jangka menengah sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 114/M-IND/PER/12/2013 tidak dapat memenuhi target karena target yang harus dicapai, sampai dengan tahun 2014 adalah memperoleh nilai sebesar 75. Namun perlu menjadi catatan bahwa berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan pada tahun 2013, maka target yang ada pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 114 tahun 2014 diperbaiki dan disesuaikan.

(33)

Disisi lain, nilai SAKIP Setjen apabila dibandingkan dengan capaian kinerja unit eselon I lain di lingkungan Kementerian Perindustrian, pada tahun 2014 Sekretariat Jenderal memperoleh peringkat ke 5 (lima) dari 9 (sembilan) unit eselon I yang dievaluasi. Nilai yang dicapai oleh unit eselon I peringkat 1 (satu) adalah sebesar 77,84 yaitu Direktorat Jenderal Industri Agro. Dilihat dari aspek perolehan nilai memang Sekretariat Jenderal mengalami peningkatan. Namun jika dilihat peringkat yang dicapai, Sekretariat Jenderal mengalami penurunan peringkat (peringkatnya semakin buruk) dibandingkan dengan 8 (delapan) unit eselon I lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan dan peningkatan implementasi SAKIP di lingkungan Sekretariat Jenderal masih kurang dibanding unit eselon I lain (sebagai contoh unit eselon I yang mengalami perbaikan nilai dan peringkat adalah Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur, Direktorat Jenderal Kerjasama Industri Internasional, Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri dan Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim Usaha dan Mutu Industri) dan perlu lebih diintensifkan lagi. Pembandingan capaian kinerja nilai SAKIP Sekretariat Jenderal sebagaimana pada tabel 3.2.

(34)
(35)

b. TERWUJUDNYA SDM INDUSTRI DAN APARATUR YANG PROFESIONAL

SDM industri yang profesional adalah SDM industri yang memperoleh pendidikan dan pelatihan dari Kementerian Perindustrian yang memenenuhi kriteria dan kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri. Sedangkan aparatur yang profesional adalah aparatur Kementerian Perindustrian yang mempunyai kualifikasi sesuai dengan posisi dan jabatan yang ditentukan. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama:

1). Terserapnya jumlah lulusan SDM industri yang bekerja di sektor industri dengan target sebanyak 2530 orang.

2). Lulusan Pelatihan three in one (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan) SDM Industri sebanyak 1600 orang.

3). Jumlah SKKNI di sektor industri sebanyak 4 SKKNI.

4). Calon wirausaha baru yang kompeten melalui program TPL beasiswa sebanyak 300 orang.

5). Standar kompetensi SDM aparatur dengan target berindeks 3. 6). SDM aparatur yang kompeten dengan target sebesar 90 persen.

7). Tersedianya SDM aparatur yang kompeten melalui pelatihan teknis industri sebanyak 500 orang.

8). Tersedianya SDM aparatur yang kompeten melalui pelaksanaan pendidikan rintisan gelar S2 dan S3 dalam dan luar negeri sebanyak 83 orang.

9). Tingkat kehadiran pegawai dengan target sebesar 90 persen.

Terserapnya jumlah lulusan SDM industri yang bekerja di sektor industri, diukur

melalui penghitungan jumlah SDM yang memperoleh pendidikan dan pelatihan dari Kementerian Perindustrian, baik melalui Pusdiklat, Badan Diklat maupun sekolah-sekolah dibawah naungan Kementerian Perindustrian yang diterima bekerja di sektor industri.

Lulusan Pelatihan three in one (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan) SDM Industri, diukur melalui penghitungan jumlah SDM yang memperoleh pelatihan dari

Kementerian Perindustrian, baik melalui Pusdiklat bekerjasama dengan Dinas, Balai Diklat maupun sekolah-sekolah dibawah naungan Kementerian Perindustrian yang telah ditempatkan di sektor industri.

(36)

Jumlah SKKNI di sektor industri, diukur melalui jumlah standar kompetensi kerja yang

ditetapkan dengan mengikuti prosedur tahapan yang telah diatur oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Calon wirausaha baru yang kompeten melalui program TPL beasiswa, diukur melalui

penghitungan jumlah SDM program TPL yang memperoleh pendidikan dan pelatihan dari Kementerian Perindustrian melalui Pendidikan Tinggi dibawah naungan Kementerian Perindustrian yang telah siap menjadi wirausaha baru.

Standar kompetensi SDM aparatur, diukur melalui assessment SDM aparatur di

Kementerian Perindustrian. Assessment dilaksanakan oleh Biro Kepegawaian.

SDM aparatur yang kompeten, diukur melalui penghitungan jumlah SDM aparatur

yang memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh Biro Kepegawaian.

Tersedianya SDM aparatur yang kompeten melalui pelaksanaan pendidikan rintisan gelar S2 dan S3 dalam dan luar negeri, diukur penghitungan jumlah SDM yang

memperoleh pendidikan dari Kementerian Perindustrian, melalui Program Beasiswa Mandiri Pusdiklat Industri atau kerjasama dengan Institusi Pendidikan.

Tingkat kehadiran pegawai, diukur melalui melalui penghitungan jumlah jam kerja

pegawai di lingkungan Kementerian Perindustrian dengan rata-rata jam kerja 7,5 jam atau lebih lama.

Realisasi, target serta capaian dari Indikator Kinerja Utama (IKU) dapat dilihat pada tabel 3.3.

Tabel 3. 3 Capaian IKU dari Terwujudnya SDM Industri dan Aparatur yang Profesional

Sasaran Strategis IKU 2012 2013 2014 Satuan T R C T R C T R C Mewujudkan SDM Industri dan Aparatur yang Profesional Terserapnya jumlah SDM industri yang bekerja di sektor industri

100 100 100 85 95 111,76 - - - Persen

(37)

Indikator kinerja terserapnya jumlah SDM industri yang bekerja di sektor industri dihitung sampai dengan triwulan IV tahun 2014 adalah sebesar 3.083 orang atau 95 persen dari total lulusan sebanyak 3426 orang. Realisasi ini merupakan angka tingkat kelulusan mahasiswa dan siswa pada unit pendidikan baik pendidikan tinggi maupun sekolah menengah kejuruan. Dari data yang tersedia, 95 persen mahasiswa dan siswa tersebut telah direkrut oleh sektor industri sebelum mereka menamatkan pendidikan. Capaian untuk indikator ini sama dengan tahun 2013.

Indikator kinerja terwujudnya Lulusan Pelatihan three in one (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan) SDM Industri yang kompeten mencapai 375 persen, atau terealisasi sebesar 6.000 orang pada tahun 2014 dari target 1.600 orang per tahun. Angka ini merupakan jumlah lulusan dari pelatihan Balai Diklat Industri yang ada dibawah

Sasaran

Strategis IKU

2012 2013 2014

Satuan T R C T R C T R C

Lulusan Pelatihan three in one (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan) SDM Industri

- - - 1600 6000 375 Orang

Calon wirausaha baru yang kompeten melalui program TPL beasiswa

- - - 300 120 40 Orang

Jumlah SKKNI di sektor

industri - - - 4 5 125 SKKNI Standar kompetensi SDM aparatur - - - 3 3,1 103,33 3 3 100 Indeks Tersedianya SDM aparatur yang kompeten melalui pelatihan teknis industri - - - 500 783 156,60 Orang SDM aparatur yang kompeten - - - 90 91,90 101,56 90 84 93,33 Persen Tersedianya SDM aparatur yang kompeten melalui pelaksanaan pendidikan rintisan gelar S2 dan S3 dalam dan luar negeri

83 169 203,61 Orang

Tingkat kehadiran

Gambar

Gambar 2.1 Peta Strategi Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian
Tabel 2. 1 Rencana Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014
Tabel 2. 2 Penetapan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2014
Tabel 2. 3 Anggaran Sekretariat Jenderal Tahun 2014 (dalam ribuan rupiah)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti

Perceived Relationship Orientation Terhadap Attitudinal Loyalty Pelanggan (Studi Kasus Pada Konsumen Kalimilk Susu Yogyakarta)‖, maka kami memohon kesediaan anda

Dari data yang telah diolah dan diukur dengan menggunakan proksi discretionary accruals untuk menghitung estimasi akrual tidak normal yang dimiliki oleh suatu

Dan untuk Propinsi Kepulauan Riau tidak dilakukan pengambilan sampel serum postvaksinasi tapi karena tujuan surveilan dilakukan untuk membuktikan bahwa daerah

Hal ini sangat berkaitan bagaimana dengan cara anggota HmC membentuk kesamaan persepsi di dalam kelompoknya, image yang ingin dibentuk oleh kelompok ini adalah

rendah, serta karbohidrat lebih tinggi dibandingkan perhitungan kandungan gizi makanan selingan yang dianjurkan bagi penderita diabetes melitus tipe 2. Uji tingkat

Bentuk penerapan penilaian yang dilaksanakan yaitu, penilaian pengamatan (observasi), dan penilaian diri dan antar peserta didik. Instrument penilaian