• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMASALAHAN KETERAMPILAN MEMBACA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERMASALAHAN KETERAMPILAN MEMBACA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar sarjana pendidikan (S.Pd)

Oleh:

MAMISYA YUNIA SARI 11150183000049

PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i

ABSTRAK

Mamisya Yunia Sari (11150183000049). “Permasalaha Keterampilan Membaca

Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”. Skripsi. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2020.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui permasalahan keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar. Dengan menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), teknik pengumpulan data menggunakan dokumen dengan merujuk pada beberapa jurnal dan artikel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukan terdapat lima permasalahan pada keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar, antara lain: Pemahaman siswa terhadap teks bacaan rendah; pembelajaran yang berjalan satu arah atau berpusat pada guru; siswa belum mampu menarik kesimpulan dan menceritakan kembali teks bacaan dengan bahasanya sendiri; penggunaan strategi atau metode pembelajaran yang kurang efektif dan menarik minat baca siswa; dan fasilitas pengembang keterampilan membaca masih kurang. Kata Kunci: Permasalahan, Keterampilan Membaca, Library Research.

(7)

ii ABSTRACT

Mamisya Yunia Sari (11150183000049). "The Problem of Reading Skills for Class IV Elementary School Students". Thesis. Teacher Education at Madrasah Ibtidaiyah, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta. 2020.

The purpose of this study was to determine the problems of reading skills of fourth grade elementary school students. By using this type of library research (library research), data collection techniques use documents by referring to several journals and articles. Data analysis in this study used content analysis. The results showed that there were five problems with the reading skills of fourth grade elementary school students, including: Students' understanding of the reading text is low; learning that is one-way or teacher-centered; students have not been able to draw conclusions and retell the reading text in their own language; the use of strategies or learning methods that are less effective and attract students' reading interest; reading skills developer facilities are still lacking.

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil’aalamiin, puji syukur syukur kehadirat Allah SWT yang tekah melimpahkan segala rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis diberi kesempatan dan kemudahan untuk menyelesaikan skripsi penelitian ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya yang telah memberikan petunjuk kepada kita semua sehingga kita dapat merasakan nikmat Iman dan Islam.

Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata (S1) pendidikan pada program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta. Dalam penyusunan skripsi penelitian ini, penulis menyadari sepenuhnya tidak akan terwujud tanpa mendapatkan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan, arahan, dan bimbingan serta motivasi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan sebagaimana mestinya. Ucapan terimakasih khususnya penulis sampaikan kepada:

1. Dr. Sururin, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.

2. Asep Ediana Latip, M.Pd., selaku Ketua Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Rohmat Widiyanto, M.Pd., selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Dr. Siti Masyithoh, M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktu, memberikan masukan, saran, dukungan, dan motivasi kepada penulis dengan penuh kesabaran selama proses bimbingan penyusunan skripsi.

(9)

iv

5. Dindin Ridwanudin, M.Pd., selaku dosen pembimbing II dan dosen penasehat akademik yang dengan sabar memberikan bimbingan, masukan, saran, dukungan dan motivasi selama proses bimbingan penyusunan skripsi.

6. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang telah memberikan ilmunya sehingga penulis mampu menyelesaikan perkuliahan ini dengan sebaik-baiknya.

7. Teristimewa untuk kedua orangtua saya tercinta, Ayah Uswandi dan Mama Tisna Betri, serta kakak dan adik tersayang Mayang Ustika Sari dan Mohammad Ikhsan Affandi yang tiada hentinya mendoakan, memberikan dukungan baik dari segi moril dan material, semoga Allah selalu memberi kesehatan, keberkahan, perlindungan, umur, dan rizki yang berkah serta diridhoi dalam setiap langkahnya.

8. Sahabat-sahabat saya dari SMA hingga sekarang, Deno Anjarwati, Esa Alfiandini, dan Mutia Regina Saura, yang selalu memberikan doa, dukungan, dan menjadi tempat berkeluh kesah penulis, terimakasih atas kebersamaannya selama ini.

9. Sahabat-sahabat saya di perkuliahan hingga sekarang, Amelya Razak, Firda Aulia, Ayu Fauziah, Resty Jelita Chintya, Rimma Rahma dan Siti Nur Aftika, yang senantiasa membantu dan bersama saya diwaktu senang maupun sulit selama masa perkuliahan.

10. Temen-temen pendidikan PGMI angkatan 2015 yang selalu memberikan motivasi dan saran kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

11. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini namun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, tanpa mengurangi rasa hormat, penulis ucapkan terimakasih telah membantu dalam penyusunan skripsi ini, jazakumullah.

Akhir kata penulis ucapkan mohon maaf atas segala kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran untuk kebaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca.

Jakarta, September 2020 penulis

(10)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan Masalah ... 3 C. Rumusan Masalah ... 4 D. Tujuan Penelitian ... 4 E. Manfaat Penelitian ... 4 BAB II KAJIAN TEORETIK A. Landasan Teori ... 5

1. Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 5

2. Keterampilan Membaca ... 11

3. Permasalahan ... 30

4. Karakteristik Siswa Kelas IV Sekolah Dasar ... 31

B. Hasil Penelitian Relevan ... 32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Objek dan Waktu Penelitian... 35

B. Metode Penulisan ... 35

C. Fokus Penelitian ... 36

D. Prosedur Penelitian... 37

E. Teknik Pengumpulan Data ... 37

F. Teknik Analisis Data ... 39

BAB IV

(11)

vi

A. Temuan Hasil Analisis Kritis Deskriptif ... 41

B. Temuan Hasil Analisis Kritis Komparatif ... 53

C. Interpretasi Hasil Analisis ... 58

D. Pembahasan ... 63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 65 DAFTAR PUSTAKA

(12)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar ... 9 Tabel 4.1 Persamaan Permasalahan Keterampilan Membaca... 46 Tabel 4.2 Perbedaan Permasalahan Keterampilan Membaca ... 48

(13)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Bimbingan Skripsi Lampiran 2 Surat Bimbingan Skripsi

(14)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.1 Oleh karena itu lembaga pendidikan selalu berusaha meningkatkan kualitas pendidikannya sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, wawasan, keterampilan dan keahlian dalam kehidupan dimasa yang akan datang, salah satu cara untuk meningkat hal tersebut yaitu dengan menciptakan manusia yang gemar membaca.

Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa kurikulum di sekolah mencakup empat jenis, yaitu keterampilan menyimak (listening skills), Keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills).2

keterampilan membaca pada jenjang sekolah Dasar memiliki peranan yang sangat penting. Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Dalam hal ini, membaca adalah usaha untuk menelusuri makna yang ada dalam tulisan.3 Oleh karena itu, keterampilan membaca merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang sejak dini, karena melalui membaca seseorang dapat belajar banyak tentang berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Membaca merupakan salah satu keterampilan yang diajarkan dalam bahasa. Keterampilan membaca menjadi keterampilan yang sangat penting,

1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan

Nasional, h. 3.

2 Henry Guntur Tarigan, Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:

Angkasa, 2008)h. 1.

(15)

karena keterampilan membaca mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar. Keterampilan membaca di sekolah dasar dibagi kedalam beberapa jenis, salah satunya adalah membaca lanjut. Membaca lanjut dilaksanakan di kelas IV, V dan VI. Tujuan membaca lanjut adalah agar siswa mampu memahami, menafsirkan dan menghayati isi bacaan. Membaca lanjut menekankan siswa untuk memahami makna atau isi bacaan yang dibacanya.

Kegiatan pendidikan di lingkungan sekolah pada dasarnya tidak bertujuan membentuk peserta didik dengan harapan untuk mendapatkan nilai tinggi pada akhir pembelajaran. pada hakikatnya tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk membentuk karakter peserta didik. Kegiatan membaca dapat dijadikan salah satu sarana dalam mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu sudah selayaknya setiap fase atau bagian dari kegiatan pembelajaran di sekolah harus didominasi dan diintegrasikan dengan kegiatan membaca.

Namun pada kenyataannya minat siswa dalam membaca masih tergolong rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil hasil Programme for Internasional Student Assesment (PISA) untuk Indonesia pada tahun 2018 pada kemampuan membaca Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara yang disurvey dengan skor 371. Dimana Indonesia berada pada sepuluh negara terendah. Berdasarkan data diatas perlu adanya peningkatan keterampilan membaca siswa terutama dalam jenjang pendidikan dasar.

Untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa bukanlah hal yang mudah banyak proses yang harus dilalui siswa mulai dari membaca permulaan hingga membaca untuk memahami isi bacaan. Dalam menjalankan proses untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan terkadang terdapat permasalahan yang dapat menghambat tercapainya suatu tujuan tersebut. Begitupun dengan membaca, tingkat kemampuan setiap anak berbeda, mulai dari latar belakang keluarganya, peran orang tua, serta lingkungan sekitar. Sehingga permasalahan-permasalahan dalam keterampilan membaca menjadi sangat beragam.

(16)

3

Sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh saudari Etik Widyastuti dengan judul “Peningkatan Keterampilan Membaca dan Hasil Belajar Melalui Strategi Direct Reading Thinking Activities” Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SDN 1 Guli dalam proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia sering kali siswa merasa jenuh dan bahkan memiliki kesulitan keterampilan membaca pemahaman, hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa. Seperti data yang diperoleh pada tahap pratindakan, di SDN 1 Guli tahun ajaran 2018/2019 keterampilan membaca dan hasil belajar siswa rendah hal ini dibuktikan dengan hasil tes yang mana masih terdapat 50% siswa yang belum tuntas keterampilan menbaca dan 55% siswa yang belum tuntas hasil belajar, dengan KKM 70. Menyebabkan rendahnya minat membaca siswa, kurangnya pengembangan strategi pembelajaran inovatif merupakan akar penyebab dari permasalah tersebut, guru masih menggunakan pendekatan konvensional, yang mana pendekatan ini berpusat kepada guru, sehingga siswa kurang memiliki kesempatan untuk mempraktekkan secara langsung mengenai ilmu yang didapat.4

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah peneliti paparkan diatas, peneliti berusaha mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam keterampilan membaca pada siswa kelas IV Sekolah dasar. Maka peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul “PERMASALAHAN

KETERAMPILAN MEMBACA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR”

B. Pembatasan Masalah

Agar permasalahan ini terfokus, maka penelitian ini perlu diadakan pembatasan masalah agar pengkajian masalah dalam penelitian ini lebih terarah dan tidak terjadi penyimpangan. Penulis membatasi permasalahan dengan batasan yaitu hanya pada permasalahan keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar.

4 Etik Widyastuti, Peningkatan Keterampilan Membaca dan Hasil Belajar Melalui

Strategi Direct Reading Thinking Activities, Artikel Skripsi Universitas Muhammadiyah

(17)

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Apa saja permasalahan keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar?”.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui permasalahan keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis. Untuk lebih jelasnya mengenai kedua manfaat tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Manfaat teoretis

Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai permasalahan keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar.

2. Manfaat praktis a. Bagi Pendidik

Membantu guru untuk menemukan permasalahan dalam keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar.

b. Bagi sekolah

Dapat menjadi masukan bagi sekolah untuk untuk membantu siswa yang mempunyai permasalahan dalam keterampilan membaca. c. Bagi peneliti

Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian ini guna mengembangkan diri untuk menjadi pendidik yang lebih baik lagi.

(18)

5

BAB II

KAJIAN TEORETIK A. Landasan Teori

1. Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia a. Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu di negara Indonesia ini. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran penting yang ada didalam kurikulum SD dan wajib dipelajari oleh semua siswa.

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.5

Bahasa Indonesia adalah sebuah alat komunikasi yang dapat dipergunakan oleh masyarakat Indonesia untuk di pergunakan sehari hari, misalnya belajar, bekerja sama dan berintraksi.6 Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi paling penting untuk mempersatukan seluruh bangsa. Maka dari itu bahasa Indonesia merupakan alat untuk mengungkapkan sebuah gagasan dalam fikiran baik secara lisan atau tulisan dari segi rasa, cipta dan karsa secara efektif dan logis.7 Bahasa adalah sebuah cara berkomunikasi

yang digunakan oleh manusia dalam menjalani kehidupan

5 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik indonesia No. 24 tahun 2006 tentang

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (Bandung: Nuansa Aulia, 2010), h. 317

6 Novita. Nurul Hidayah, Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan

Menggunakan Metode Struktur Analitik Sintetik (SAS) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Peserta Didik Kelas IIC Semester II Di MIN 6 Bandar Lampung T.A 2015/2016, (Jurnal Terampil ,

Vol 3 No1 Juni 2016), h. 92.

7 Nurul Hidayah, Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Perguruan Tinggi (Yogyakarta:

(19)

hari. Ada dua cara dalam berbahasa, yaitu bahasa lisan dan juga bahasa tulis.

Pembelajaran bahasa indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia indonesia.8

Pembelajaran bahasa Indonesia di SD/MI dapat diartikan sebagai usaha pendidikan untuk mengubah perilaku peserta didik dalam berbahasa Indonesia, perubahan tersebut akan tercapai bila seorang pendidik dalam menggajarkan ke peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SD/MI.9

Jadi pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang SD/MI memiliki peranan penting dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan slah satu aspek penunjang keberhasilan dalam mempelajari bidang studi lainnya. Pembelajaran bahasa pada jenjang SD/MI diharapkan siswa mampu menguasai empat aspek keterampilan dalam berbahasa berupa keterampilan berbicara, menyimak, membaca, dan menulis.

b. Tujuan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Tujuan yang diharapkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia memiliki tiga hal penting sebagai hasil dari pembelajaran yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :10

1) Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan.

8 Ibid., h. 317

9 Nurul Hidayah, Penanaman Nilai-Nila Karakter Dalam Pembelajarn Bahasa Indonesia

Disekolah Dasar, (Jurnal Terampil Vol 2 No 2, 2015), h. 193.

(20)

7

2) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.

3) Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.

4) Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.

5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. 6) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai

khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Sebagai pelajaran wajib yang terdapat pada jenjang pendidikan, bahasa Indonesia mempunyai fungsi tersendiri. Fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi dua, yaitu:11

1) Fungsi instrinsik

Fungsi instrintik merupakan fungsi yang digunakan sebagai proses pengembangan dan pembinaan bahasa yang digunakan untuk berbagai keperluan.

2) Fungsi instrumentatif

Fungsi instrumentatif merupakan fungsi yang digunakan sebagai sarana untuk menumbuh kembangkan sikap toleransi, sikap tanggung jawab dan sikap menghargai.

c. Standar Kompetensi Pelajaran Bahasa Indonesia

Standar kompetensi mata pelajaran adalah deskripsi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai setelah siswa mempelajari mata pelajaran tertentu pada jenjang pendidikan tertentu pula.12 Sedangkan kompetensi dasar adalah pengetahuan,

11 Ma’mur Saadie dkk, Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia, (Jakarta: Universitas

Terbuka, 2008), h. 7.3.

12 Wina Sanjaya, kurikulum dan pembelajaran, (Jakarta:kencana Prenada Media Group,

(21)

keterampilan dan sikap minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukan bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan, oleh karena itulah maka kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar kompetensi.13

Standar kompetensi mata pelajaran bahasa indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasra bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.14

Rumusan kompetensi sikap spiritual, yaitu “Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap sosial, yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri”.15

Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik. Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai

13 Ibid., h. 171

14 Salinan Lampiran, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 37 Tahun

2018, Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, h. 8

(22)

9

pertimbangan pendidik dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.16

Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan dirumuskan sebagai berikut:17

Tabel 2.1

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan)

Kompetensi Inti 4 (Keterampilan)

3. Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,

menanya dan mencoba

berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk

ciptaan Tuhan dan

kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain

4. Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis, dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

Kompetensi Dasar Kompetensi Dasar

3.1 Mencermati gagasan pokok san gagasan pendukung yang diperoleh dari teks lisan, tulis, atau visual.

3.2 Mencermati keterhubungan antar gagasan yang didapat dari teks lisan, tulis, atau visual.

4.1 Menata informasi yang didapat dari teks berdasarkan keterhubungan antar gagasan kedalam kerangka tulisan

4.2 Menyajikan hasil pengamatan tentang keterhubungan antar gagasan ke dalam tulisan.

16 Ibid., h. 8 17 Ibid., h. 8

(23)

3.3 Menggali informasi dari seorang tokoh melalui wawancara menggunakan daftar pertanyaan.

3.4 Membandingkan teks

petunjuk penggunaan dua alat yang sama dan berbeda.

3.5 Meguraikan pendapat pribadi tentang isi buka sastra (cerita, dogeng, dan sebagainya).

3.6 Menggali isi dan amanat puisi yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan.

3.7 Menggali pengetahuan baru yang terdapat pada teks nonfiksi.

3.8 Membandingkan hal yang sudah diketahui dengan yang baru diketahui dari teks

4.3 Melaporkan hasil wawancara mengunakan kosakata baku dan kalimat efektif dalam bentuk teks tulis.

4.4 Menyajikan petunjuk

penggunaan alat dalam bentuk teks tulis dan visual menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif.

4.5 Mengomunikasikan pendapat pribadi tentang isi buku sastra yang dipilih dan dibaca sendiri secara lisan dan tulis didukung oleh alasan.

4.6 Melisankan hasil karya pribadi dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri.

4.7 Menyampaikan pengetahuan baru dari teks nonfiksi ke dalam tulisan dengan bahasa sendiri.

4.8 Menyampaikan hasil

membandingkan pengetahuan lama dengan pengetahuan

(24)

11

nonfiksi.

3.9 Mencermati tokoh-tokoh yang terdapat pada teks fiksi

3.10 Membandingkan watak tokoh pada teks fiski

baru secara tertulis dengan bahasa sendiri.

4.9 Menyampaikan hasil

indentifikasi tokoh-tokoh yang terdapat pada teks fiksi secara lisan, tulis, dan visual.

4.10 Menyajikan hasil

membandingkan watak

setiap tokoh pada teks fiksi secara lisan, tulis, dan visual.18

d. Keterampilan Bahasa

Menurut Tarigan keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dalam kurikulum di sekolah mencakup empat segi, yaitu keterampilan menyimak atau mendengarkan (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan yang terakhir keterampilan menulis (writing

skills).19 Untuk itu, pada penelitian ini peneliti akan

menitikberatkan pada keterampilan membaca dengan meneliti permasalahan-permasalahan yang terjadi pada keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar dengan merujuk kepada referensi-referensi lainnya.

2. Keterampilan Membaca a. Pengertian Keterampilan

Keterampilan berasal dari kata terampil yang artinya cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Kemudian

18Ibid., h. 8-9

19 Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:

(25)

mendapat imbuhan ke-an menjadi keterampilan yang artinya kecakapan untuk menyelesaikan tugas.20

Menurut bahasa keterampilan merupakan kecapakan seseorang untuk memakai bahasa dalam menulis, membaca, menyimak, dan berbicara.21

Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitasnya.22 Keterampilan adalah materi atau bahan pembelajaran yang berhubungan dengan kemampuan mengembangkan ide, memilih, menggunakan bahan, menggunakan peralatan dan teknik kerja.23

Keterampilan merupakan kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi sesuai dengan keadaan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.24

Berdasarkan uraian diatas penulis dapat menyimpulkan, keterampilan adalah kecakapan atau kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu dengan baik dan tersusun rapi untuk mengembangkan ide serta kecakapannya dalam berbahasa seperti menulis, membaca, menyimak dan berbicara.

b. Macam-macam Keterampilan

Menurut Robbins pada dasarnya keterampilan dapat dikategorikan menjadi empat yaitu:25

1) Keterampilan Dasar (Basic Literacy Skill).

Keterampilan dasar merupakan keahlian seseorang yang pasti dan wajib dimiliki oleh kebanyakan orang seperti membaca, menulis, mendengar dan lain-lain.

20 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar

Bahasa Indonesia, (jakarta: Balai Pustaka, 1994), h. 1043.

21 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai

Pustaka, 2005) cet3 , h. 1180.

22 Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta:

Prenadamedia Group, 2015), h. 9.

23 Dindin Ridwanuddin, Bahasa Indonesia, (Tangerang: UIN Press, 2015), h. 127. 24 Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal 221. 25 Robbins, Keterampilan Dasar, (Jakarta : PT Raja Grafindo, 2000), h. 494.

(26)

13

2) Keahlian Teknik (Technical Skill).

Keahlian teknik merupakan keahlian seseorang dalam pengembangan teknik yang dimiliki seperti menghitung secara cepat, mengoperasikan komputer dan lain-lain.

3) Keahlian Interpersonal (Interpersonal Skill).

Keahlian interpersonal merupakan kemampuan seseorang secara efektif untuk berinteraksi dengan orang lain maupun dengan rekan kerja seperti menjadi pendengar yang baik, menyampaikan pendapat secara jelas dan bekerja sama dalam suatu tim.

4) Menyelesaikan Masalah (Problem Solving).

Menyelesaikan masalah adalah proses aktivitas untuk menjalankan logika, beragumentasi dalam penyelesaian masalah serta kemampuan untuk mengetahui penyebab mengembangkan alternatif dan menganalisa serta memilih penyelesaian yang baik.

c. Pengertian Membaca

Tarigan menjelaskan membaca adalah suatu proses yang dilakukan yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.26 Hal ini juga dikemukan oleh Ridwanudin bahwa membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa.27

Dalman menyatakan bahwa membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk menentukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan.28

26 Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:

Angkasa, 2008), h.7.

27 Dindin Ridwanuddin, op. Cit, h. 165.

(27)

Menurut Gilet dan Temple yang dikutip oleh samsu somadayo, menyatakan bahwa membaca adalah kegiatan visual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata-kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman.29 Sedangkan Strevens berpendapat bahwa membaca adalah kegiatan yang kompleks karena membaca terdiri atas proses memahami bahasa tulisan.30

Iskandarwassid dan sunendar dalam bukunya menyatakan bahwa membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Untuk keperluan tersebut, selain perlu menguasai bahasa yang dipergunakan, seorang pembaca juga perlu mengaktifkan berbagai proses mental dalam sistem kognisinya.31

Berdasarkan pengertian-pengertian membaca diatas, maka dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Membaca adalah suatu proses mengenali dan memahami makna yang terkandung dalam bahasa tulis sebagai interaksi yang bertujuan untuk memperoleh informasi atau pesan yang hendak disampaikan si penulis.

d. Aspek-aspek Membaca

Broughton menyatakan terdapat dua aspek dalam membaca, yaitu:32

1) Aspek yang bersifat mekanis yang dianggap berada pada urutan yang lebih rendah aspek ini mecakup:

 Pengenalan bentuk huruf.

29 Samsu Somadayo, Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca, (Yogyakarta: Graha

Ilmu, 2011), h.4.

30 M. Subana. Dkk. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia, (Bandung: Pustaka

Setia, 1998), h. 223.

31 Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung:

Remaja Rosdakarya), h.246.

(28)

15

 Pengenalan unsur-unsur linguistik (fenom/grafem, kata, frase, pola klausa, kalimat, dan lain-lain.

 Kecepatan membaca taraf lambat.

2) Aspek yang bersifat pemahaman (Comprehension skill) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi, aspek ini mencakup:

 Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal)

 Memahami signifikansi atau makna (maksud dan tujuan pengarang, relevansi/keadaan kebudayaan, dan reaksi pembaca)

 Evaluasi atau penilaian (isi, bentuk)

 Kecepatan membaca yang fleksible, yang mudah disesuaikan dengan keadaan.

e. Tujuan Membaca

Membaca hendaknya memiliki tujuan, karena jika membaca dengan suatu tujuan, pembaca cenderung akan lebih memahami bacaan. Farida Rahim menyatakan tujuan-tujuan membaca mencakup:33

1) Kesenangan.

2) Menyempurnakan membaca nyaring. 3) Menggunakan srategi tertentu.

4) Memperbaharui pengetahuan tentang suatu topik. 5) Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang

telah dikeahuinya.

6) Memperoleh informasi untuk laporan lisan dan tertulis. 7) Menampilkan suatu eskperimen atau mengaplikasikan

informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks.

33 Farida Rahim, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)

(29)

Henri Guntur Tarigan mengemukakan tujuan membaca adalah sebagai berikut:34

1) Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts), misalnya : Untuk mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh, apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh, apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh.

2) Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), misalnya:

Untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya.

3) Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), misalnya:

Menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga/seterusnya.

4) Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference), seperti:

Menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.

5) Membaca untuk mengelompokan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify), misalnya:

(30)

17

Untuk menemukan atau mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar.

6) Membaca menilai menilai, membaca evaluasi (reading to evaluate), seperti:

Untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu.

7) Membaca untuk memperbandingkan atau

mempertentangkan (reading to compare or contrast), misalnya:

Untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah untuk menggali dan memperoleh informasi dan pengetahuan dalam sebuah konteks tulisan, memahami isi dari tulisan tersebut dan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari.

f. Fungsi Membaca

Kundharu Saddhono menyebutkan beberapa fungsi membaca, antara lain:

1) Fungsi intelektual, dengan banyak membaca kita dapat meningkatkan kadar intelektualitas dan membina daya nalar kita.

2) Fungsi pemacu kreativitas, hasil membaca kita dapat mendorong, menggerakan diri kita untukberkarya, didukung oleh keluasan wawasan dan pemilihan kosakata.

(31)

3) Fungsi praktis, kegiatan membaca dilaksanakan untuk memperoleh praktis dalam kehidupan.

4) Fungsi rekreatif, membaca digunakan sebagai upaya

menghibur hati, mengadakan tamasya yang

mengasyikan.

5) Fungsi informatif, dengan banyak membaca iformasi seperti surat kabar, majalah, dan lain-lain dapat memperoleh berbagai informasi yang kita perlukan dalam kehidupan.

6) Fungsi religius, membaca digunakan untuk membina dan meningkatkan keimanan, memperluas budi, dan mendekatkan diri kepada tuhan.

7) Fungsi sosial, kegiatan membaca mempunyai fungsi sosial tinggi manakala dilaksanakan secara lisan atau nyaring.

8) Fungsi pembunuh sepi, kegiatan membaca dapat juga dilakukan untuk sekedar merintang-rintang waktu, mengisi waktu luang.35

g. Manfaat Membaca

Selain fungsi diatas, Kundharu Saddhono menyebutkan beberapa manfaat dari membaca, antara lain:

1) Memperoleh banyak pengalaman hidup.

2) Memperoleh pengetahuan umum dan berbagai informasi tertentu yang sangat berguna bagi kehidupan.

3) Mengetahui berbagai peristiwa besar dalam peradapan dan kebudayaan suatu bangsa.

4) Dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknoligi muktahir di dunia.

35 Kundharu saddhono, St. Y. Slamet, Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Indonesia,

(32)

19

5) Dapat mengayakan batin, memperluas cakrawala pandang dan piker, meningkatkan taraf hidup dan budaya keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsa.

6) Dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan, dapat mengantarkan seseorang menjadi cerdik pandai.

7) Dapat memperkaya penbendaharaan kata, ungkapan, istilah, dan lain-lain yang sangat menunjang keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis.

8) Mempertinggi potensialitas setiap pribadi dan mempermantiap eksistensi, dan lain-lain.36

Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dalam membaca setidaknya dengan membaca kita akan lebih cepat mengetahui perkembangan informasi yang ada dimasa sekarang ini. Selain itu dengan membaca kita dapat menambah kosakata baru dan pengetahuan akan tata bahasa dan tata kalimat serta membaca memiliki manfaat untuk memacu imajinasi dan dapat mengembangkan keterampilan menulis setiap individu.

h. Pelaksanaan kegiatan Membaca

farida rahim menyatakan untuk dapat memahami berbagai macam bahan bacaan ada beberapa kegiatan dalam kegiatan membaca, diantaranya:37

1) Kegiatan prabaca

Kegiatan prabaca adalah kegiatan yang dilaksanakan sebelum melakukan kegiatan membaca. Dalam kegiatan prabaca, dapat dilakukan dengan cara mengarahkan perhatian pada pengkatifan skemata yang berhubungan dengan topik bacaan. Burns, dkk menyatakan skemata adalah latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki tentang suatu informasi atau konsep tentang sesuatu.38

36 Ibid., h.66

37 Farida Rahim, Op. Cit., h. 99 38 Ibid., h. 99

(33)

Skemata dapat disebut juga dengan pengalaman atau pengetahuan terdahulu. Pengaktifan skemata dapat dilakukan dengan berbacai cara, misalnya dengan peninjauan awal, pedoman antisipasi, pemetaan makna, menulis sebelum membaca, dan drama kreatif.

Alderson menyatakan bahwa kegiatan prabaca menginspirasi pembaca untuk memanggil pengetahuan mereka sebelumnya, yang diperoleh dalam tahapan sebelum membaca.39

2) Kegiatan saat baca

Kegiatan saat baca adalah kegiatan yang dilaksanakan pada saat membaca wacana/teks kegiatan lain yang dapat dilakukan saat membaca adalah dengan menyimak cerita yang dibacakan. Kegiatan saat baca dilakukan setelah melaksanakan kegiatan prabaca. Alderson juga menyatakan proses kegiatan membaca melibatkan pemeriksaan informasi baru terhadap pengetahuan sebelumnya dan melihat apakah ini masuk akal atau tidak berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.40

3) Kegiatan pascabaca

Kegiatan pascabaca digunakan untuk membantu memadukan informasi baru yang dibacanya ke dalam skemata yang dimilikinya sehingga diperoleh tingkat pemahaman yang lebih tinggi.

i. Faktor-faktor Yang mempengaruhi keterampilan Membaca

Menurut Lamb dan Arnol dalam Farida rahim menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses membaca, antara lain:41

39 Osama Abu Baha & Nuraihan Mat Daud, Enhencing Reading Coprehension: A review

of Traditional and Online Active Learning Pedagogies, Internasional Journal of English and

Education, Vol.2, no.3, July 2013, h. 335.

40 Ibid., h. 335

(34)

21

1) Faktor Fisiologis

Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak untuk belajar, khususnya belajar membaca. Beberapa ahli mengemukakan bahwa keterbatasan neurologis (misalnya berbagai cacat otak) dan kurang matangnya secara fisik merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka. Guru hendaknya cepat menemukan tanda-tanda yang disebutkan di atas.

2) Faktor Intelektual

Faktor intelektual yaitu mencakup metode pengajar guru dan prosedur kemampuan guru. Intelektual merupakan suatu kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang diberikan dan meresponnya secara tepat. Guru yang menggunakan metode yang bervariasi dan tepat tidak akan membuat siswa jenuh dan akan meningkat kemampuan membaca siswa, sedangkan jika guru yang hanya menggunakan metode konvensional akan membuat jenuh siswa, sehingga minat membaca siswa rendah dan siswa sulit untuk memahami isi sebuah bacaan. Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya mempengaruhi berhasil atau tidaknya anak dalam membaca permulaan. Faktor metode mengajar guru, prosedur, dan kemampuan guru juga turut mempengaruhi kemampuan membaca permulaan anak.

3) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan mencakup latar belakang dan pengalaman siswa serta sosial ekonomi. Latar belakang dan pengalaman siswa saling berkaitan dalam kemajuan membaca siswa. Lingkungan siswa dapat membentuk

(35)

pribadi, sikap, nilai, dan kemampuan bahasa anak. Kondisi di rumah mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri anak dalam masyarakat. Kedua hal tersebut dapat membantu dan dapat menghalangi anak belajar membaca.

4) Faktor Psikologis

Faktor psikologis yaitu mencakup motivasi, minat, kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri. Motivasi merupakan faktor kunci dalam belajar membaca. Kuncinya adalah guru harus mendemonstrasikan kepada siswa praktik pengajaran yang relevan dengan minat dan pengalaman anak, sehingga anak memahami belajar itu sebagai kebutuhan. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi terhadap membaca, akan mempunyai minat yang tinggi pula terhadap kegiatan membaca.

j. Jenis-jenis Membaca

Tarigan menjelaskan jenis-jenis membaca sebagai berikut:42 1) Membaca nyaring, membaca bersuara (reading aloud: oral

reding)

Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan mengeluarkan suara atau kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras. Membaca nyaring atau membaca bersuara keras merupakan kegiatan membaca yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menyimak.

2) Membaca dalam hati (silent reading)

Tujuan utama membaca dalam hati (silent reading) adalah untuk memperoleh informasi. Secara garis besar membaca dalam hati dibagi menjadi dua yaitu:

(36)

23

a) Membaca ekstensif yaitu membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin.

(1) Membaca survei, kita meneliti terlebih dahulu apa yang akan kita telaah.

(2) Membaca sekilas, sejenis membaca yang membuat mata bergerak dengan cepat melihat, memerhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi penerangan.

(3) Membaca dangkal, bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca dangkal dilakukan bila kita membaca demi kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan kebahagiaan pada waktu senggang. b) Membaca intensif adalah proses membaca yang dilakukan

secara saksama, telaah, teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman. Membaca intensif ini tidak semata-mata merupakan kegiatan membaca saja, tetapi lebih menekankan pada pemahaman isi dari bacaan. Membaca intensif dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:43

(1) Membaca telaah isi terdiri dari:

 Membaca teliti, membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka sering kali seseorang perlu membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.

 Membaca pemahaman, sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami tentang standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standards),

(37)

resensi kritis (critical review), dan pola-pola fiksi (patterns of fiction). Membaca pemahaman (reading for understanding) adalah salah satu bentuk dari kegiatan membaca dengan tujuan utamanya untuk memahami isi pesan yang terdapat dalam bacaan. Membaca pemahaman lebih menekankan pada penguasaan isi bacaan, bukan pada indah, cepat, atau lambatnya bacaan.

 Membaca kritis, kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, mendalam, evaluatif, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antarbaris, maupun makna balik baris.

 Membaca ide, sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.

 Membaca kreatif, kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.

(2) Membaca telaah bahasa terdiri dari:

 Membaca bahasa asing (foreign language reading)

Tujuan utama membaca bahasa adalah

memperbesar daya kata (increasing word power) dan mengembangkan kosakata (developing vocabulary).

 Membaca sastra (literary reading)

Dalam membaca sastra perhatian pembaca harus dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Apabila seseorang dapat mengenal serta mengerti seluk-beluk bahasa dalam suatu karya

(38)

25

sastra, maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra.

k. Teknik Membaca

Dalam sebuah bacaan, informasi yang kita butuhkan itu adalah informasi fokus. Untuk menemukan informasi fokus secara efisien, ada beberapa teknik membaca yang digunakan, antara lain : 1) Baca pilih (selecting)

Pembaca memilih bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggap relavan, atau berisi informasi fokus yang ditentukannya.

2) Baca lompat (skipping)

Pembaca dalam menemukan bagian atau bagian-bagian bacaan yang relavan, melampaui atau melompati bagian-bagian lain.

3) Baca layap (skimming)

Membaca sekilas atau membaca cepat untuk mendapatkan suatu informasi yang kita baca.

4) Baca tatap (scanning)

Membaca dengan cepat dan dengan memusatkan perhatian untuk menemukan bagian bacaan yang berisi informasi fokus yang telah ditentukan, dan seterusnya membaca bagian itu dengan teliti sehingga informasi fokus itu ditemukan dengan tepat dan dipahami benar.44

l. Strategi Keterampilan Membaca

Strategi adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam teori membaca dikenal beberapa strategi membaca. Pada dasarnya, strategi membaca

(39)

menggambarkan bagaimana pembaca memproses bacaan sehingga dia memperoleh pemahaman terhadap bacaan tersebut. Klein dkk dalam Rahim, mengategorikan model-model strategi membaca, yaitu:45

1) Strategi Bawah-Atas

Pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran kebahasan yang paling rendah menuju ke yang tinggi. Pembaca model ini mulai dari mengidentifikasi huruf-huruf, kata, frase, kalimat dan terus bergerak ketataran yang lebih tinggi, sampai akhirnya dia memahami isi teks. Pemahaman ini dibangun berdasarkan data visual yang berasal dari teks melalui tahapan yang lebih rendah ke tahapan yang lebih tinggi.

2) Strategi Atas-Bawah

Kebalikan dari strategi bawah-atas. Pada strategi atas-bawah, pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran yang lebih tinggi. Dalam hal ini, pembaca mulai dengan prediksi, kemudian mencari input untuk mendapatkan informasi yang cocok dalam teks.

3) Model Strategi Campuran (Eclectic)

Klein, dkk mengemukakan bahwa guru yang baik tidak perlu memakai satu teori saja. Mereka bisa mengambil dan memilih yang terbaik dari semua strategi yang ada, termasuk pandangan-pandangan teoritis dan model pengajaran membaca. Begitu juga model bawah-atas dan atas-bawah bisa digunakan dalam waktu bersamaan jika diperlukan.

4) Model Strategi Interaktif

Skemata merupakan susunan kognitif yang diperoleh seseorang melalui suatu proses. Anak mengembangkan dan mendapatkan informasi demi informasi yang kemudian mengategorikan semua informasi baru. Pada kegiatan

(40)

27

membaca, skemata berfungsi untuk menangkap makna bacaan. Menurut teori skema, memahami suatu teks merupakan suatu proses interaktif antara latar belakang pengetahuan pembaca dengan teks. Pemahaman yang efisien mempersyaratkan kemampuan pembaca menghubungkan materi teks dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Pemahaman suatu teks tidak hanya semata-mata memahami makna kata-kata dan kalimat dalam suatu teks saja, tetapi juga pemanfaatan pengetahuan pembaca yang berhubungan dengan teks yang dibacanya.

5) Strategi KWL (Know-Want to Know-Learned)

Strategi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan suatu peran aktif siswa sebelum, saat dan sesudah membaca. Strategi ini membantu mereka memikirkan informasi baru yang diterimanya dan sekaligus memperkuat kemampuan siswa mengembangkan pertanyaan tentang berbagai topik. Siswa juga bisa menilai hasil belajar sendiri.

6) Strategi DRA

Strategi DRA (Directed Reading Activity) dimaksudkan agar siswa mempunyai tujuan membaca yang jelas dengan menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipunyai siswa sebelumnya untuk membangun pemahaman. Strategi DRA dirancang oleh Betts. Pada dasarnya, langkah-langkahnya mengikuti petunjuk mempersiapkan siswa sebelum, saat membaca dalam hati, dan melanjutkan kegiatan membaca dan pengecekan pemahaman dan keterampilan memahami pelajaran. Strategi DRA sebagai kerangka berpikir untuk merencanakan membaca suatu mata pelajaran yang menekankan membaca sebagai media pengajaran dan kemahiraksaraan sebagai alat belajar.

(41)

7) Strategi DRTA

Directed Reading Thinking Activity (DRTA) merupakan satu kritikan terhadap penggunaan strategi DRA. Strategi DRA kurang memperhatikan keterlibatan siswa berpikir tentang bacaan. Sebenarnya strategi DRA terlampau banyak melibatkan arahan guru memahami bacaan, sedangkan strategi DRTA memfokuskan ketelibatan siswa dengan teks, karena siswa memprediksi dan membuktikannya ketika mereka membaca. Stauffer dalam Rahim menjelaskan bahwa guru bisa memotivasi usaha dan konsentrasi siswa dengan melibatkan mereka secara intelektual serta mendorong mereka merumuskan pertanyaan dan hipnotis, memproses informasi, dan mengevaluasi solusi sementara. Strategi DRTA diarahkan untuk mencapai tujuan umum.

m. Indikator dalam Keterampilan Membaca

Tarigan mengemukakan bahwa keterampilan yang bersifat pemahaman bacaan (comprehension skills) mencakup aspek berikut ini:

1) Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal).

2) Memahami signifikansi atau makna (maksud dan tujuan pengarang, relevansi atau keadaan kebudayaan, dan reaksi pembaca).

3) Evaluasi atau penilaian (meliputi isi dan bentuk).

4) Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan yang ideal.46

William S Gray berpendapat bahwa membaca tidak lain dari kegiatan pembaca menerapkan sejumlah keterampilan mengolah tuturan tertulis (bacaan) yang dibacanya dalam rangka memahami

(42)

29

bacaan itu. Jenis-jenis keterampilan yang dianggap mendasar sifatnya ialah:

1) Keterampilan mengenal atau merekognisi kata. 2) Keterampilan memahami isi tersurat yang mencakup:

 Keterampilan menangkap ide pokok paragraf dan ide-ide penjelas

 Keterampilan menemukan hubungan antara ide dalam bacaan

 Keterampilan menangkap isi pokok bacaan

3) Keterampilan memahami isi yang tersirat yang meliputi:

 Keterampilan mengidentifikasi tujuan atau maksud pengarang, “mood”, serta sikapnya terhadap pembaca.

 Keterampilan menalarkan pemilihan kata-kata, gaya bahasa, dan retorik dari pengarang.

 Keterampilan menentukan nilai dan fungsi isi bacaan berdasarkan pengetahuan serta pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya oleh pembaca.47

Menurut dalman dalam ujian keterampilan membaca, sebaiknya ujian tersebut lebih ditekankan pada kemampuan memahami isi bacaan, yaitu berupa kemampuan:48

1) Memahami makna kata-kata yang dibaca.

2) Memahami makna istilah-istilah didalam konteks teks 3) Memahami inti sebuah kalimat yang dibaca.

4) Memahami ide pokok pikiran, atau tema dari suatu paragraf yang dibaca.

5) Menangkap dan memahami beberapa pokok pikiran dari suatu wacana yang dibaca, dan menarik kesimpulan dari suatu wacana yang dibaca.

47 Jauharoti Alfin, Bahasa Indonesia, (Surabaya: PMN Katalog: 2011), h. 7.10.

48Dalman, Keterampilan Membaca, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), h. 9.

(43)

6) Membuat rangkuman isi bacaan sercara tertulis dengan menggunakan bahasa sendiri.

7) Menyampaikan hasil pemahaman isi bacaan dengan menggunakan bahasa sendiri didepan kelas.

Berdasarkan uraian diatas, indikator yang keterampilan membaca yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Keterampilan memahami isi tersurat 2) Keterampilan memahami isi tersurat

3) Keterampilan membuat rangkuman isi bacaan secara tertulis dengan menggunakan bahasa sendiri

4) Keterampilan menyampaikan hasil pemahaman isi bacaan dengan menggunakan bahasa sendiri didepan kelas

3. Permasalahan

Problematika berasal dari kata problem yang dapat diartikan sebagai permasalahan atau masalah. Problem menurut KBBI diartikan sebagai hal-hal yang belum dipecahkan.49 Sedangkan masalah sendiri berdasarkan KBBI merupakan sesuatu yang harus diselesaikan.50

Menurut Bell, masalah adalah suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika dia menyadari keberadaan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan tidak dengan segera dapat menemukan pemecahannya.51 Masalah itu sendiri adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai hasil yang maksimal. Sedangkan permasalahan adalah hal yang menjadikan masalah; hal yang dimasalahkan; persoalan.

49 Tim Penulisan KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h.

896

50 Ibid.,

51 Hamzah, Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Siswa Sekolah

Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di Bandung melalui Pendekatan Pengajuan Masalah,

(44)

31

Permasalahan dapat terjadi dalam lingkup apapun, dimanapun dan kapanpun serta oleh siapapun. Seperti dalam penelitian ini yang akan membahas permasalahan dalam keterampilan membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar.

4. Karakteristik Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

Siswa kelas IV Sekolah Dasar merupakan siswa dengan rentang usia 9-10 tahun. Siswa kelas IV sekolah dasar termasuk pada usia masa kanak-kanak akhir, masa kelas tinggi yang memiliki karakteristik.

a. perhatiannya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari. b. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis.

c. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus.

d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.

e. Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk

f. bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.52

Selain karakteristik tersebut siswa kelas IV juga memiliki karakteristik tersendiri pada perkembangan bahasanya. Perkembangan bahasa siswa usia 10-12 tahun adalah perhatian membaca mencapai puncaknya, materi bacaan menjadi semakin luas. Pada usia ini siswa laki-laki menyenangi hal-hal yang sifatnya menggemparkan, misterius dan petualangan. Siswa perempuan menyenangi cerita seputar kehidupan rumah tangga. Nagalimun menyatakan bahwa siswa yang duduk di kelas empat dapat menganalisis kata-kata yang diketahuinya menggunakan pola tulisan dan kesimpulan yang didasarkan pada konteksnya. Hal tersebut yang membuat materi bacaan siswa menjadi semakin luas.53

52 Rita Eka Izzaty, dkk, Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta : UNY Press, 2008), h.

116

(45)

B. Hasil Penelitian Relevan

Penelitian yang relevan adalah sebuah hasil penelitian yang ditemukan oleh seorang peneliti yang telah melakukan penelitian jauh sebelum penelitian baru dilakukan. Agar penelitian yang dilakukan ini lebih jelas dan kuat, peneliti melakukan penelusuran terhadap penelitian terdahulu yang terkait dengan objek dalam penelitian ini. Dan berdasarkan pada hasil penelusuran yang peneliti lakukan terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Diantaranya penelitian yang relevan yaitu sebagai berikut:

1. Arina Ulin Naja (2012) dengan judul “Problematika Guru dalam Pembelajaran Membaca pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas III Sekolah Dasar Negeri Bacem 03 Sutojayan Blitar” penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Arini menyimpulkan bahwa tedapat tiga problem dalam pembelajaran membaca pada mata pelajaran bahasa indonesia kelas III SDN Bacem 03 Sutojayan Blitar diantaranya, problematika guru dalam perencanaan pembelajaran membaca dan problematika guru dalam pelaksanaan pembelajaran membaca seperti: problematika guru dalam membuka pelajaran; problematika dalam menyampaikan materi; problematika dalam interaksi belajar; problematika guru dalam menutup pelajaran. Dan terakhir ada problematika guru dalam evaluasi pembelajaran.

Perbedaan dan persamaan penelitian saya dengan Arina Ulin Naja. Perbedaannya terletak pada kelas yang diteliti dan metode penelitian yang digunakan, sedangkan persamaanya terletak pada sama-sama meneliti problem pembelajaran membaca pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

2. Nyoman Suastika (2018) dengan judul “Problematika Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan di Sekolah Dasar”. Penelitian ini menggunakan penelitian studi pustaka. Nyoman menyimpulkan bahwa ada seorang siswa laki-laki yang belum fasih membaca kata dan kalimat, terkadang guru harus

(46)

33

berulang-ulang kali menyuruh si anak untuk membaca namun hal ini tak berdampak sedikitpun bagi si anak. Si anak akan tetap diam dan tidak mau menggubris perintah dari gurunya. Hal ini memunculkan kekesalan dari siswa lain, lalu berdampak pada timbulnya cemoohan dari siswa lainnya. Si anak pun kurang mampu menghafal huruf A sampai Z.

Perbedaan dan persamaan penelitian saya dengan Nyoman Suastika perbedaan terletak pada variabel yang diteliti Nyoman meneliti dua keterampilan sedangkan saya meneliti satu keterampilan saja yaitu keterampilan membaca. Persamaannya terletak pada metode penelitian yang sama-sama menggunakan metode studi pustaka.

3. Lilik Tahmidaten, Wawan Krismanto(2020) dengan judul “Permasalahan Budaya Membaca di Indonesia (studi pustaka tentang problematika dan solusinya)”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi pustaka. Lilik dan Wawan menyimpulkan, faktor yang mendorong rendahknya kemampuan dan budaya baca siswa di Indonesia diantaranya: salah persepsi tentang konsep kemampuan membaca pada sebagian besar masyarakat termasuk siswa dan guru; pengembangan kemampuan membaca masih dipersepsikan sebagai bagian dari tanggung jawab mata pelajaran bahasa saja; proses pembelajaran sekolah dasar masih belum memanfaatkan model, metode, strategi dan media pembelajaran yang beragam dan sesuai untuk pembelajaran membaca pemahaman; bahan bacaan, kegiatan pembelajaran dan soal-soal latihan/evaluasi yang ada pada bahan ajar di sekolah cenderung masih berkutar pada keterampilan berpikir tingkat rendah; belum maksimalnya sarana dan pelayanan perpustakaan sekolah sebagai pusat pengembangan kemampuan membaca siswa.

Perbedaan dan persamaan penelitian saya dengan Lilik dan Wawan. Pebedaan terletak pada lingkup penelitian, Lilik dan Wawan meneliti budaya membaca di Indonesia sedangkan saya

(47)

hanya berfokus pada keterampilan membaca pada kelas IV sekolah dasar. Sedangkan persamaannya sama-sama menggunakan metode penelitian studi pustaka.

(48)

35

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Objek dan Waktu Penelitian

Objek penelitian pada penelitian ini adalah Permasalahan Keterampilan Membaca Siwa Kelas IV Sekolah Dasar, dilaksanakan pada saat Pandemi Covid-19. Adapun tempat penelitian sesuai dengan yang dianjurkan oleh pemerintah yakni dirumah saja. Dengan merujuk pada beberapa sumber yaitu jurnal, artikel, dan referensi yang meyakinkan lainnya.

B. Metode Penulisan

Metode penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan penelitian untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan oleh ilmu pengetahuan lainya sehingga nantinya dapat digunakan untuk menemukan dan memecahkan masalah yang diajukan.54

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini termasuk jenis penelitian studi kepustakaan (Library research). Nasir dalam Milla Tunna menyebutkan penelitian kepustaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.55 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruang perpustakaan, seperti: buku-buku, majalah, dokumen, catatan dan kisah-kisah sejarah dan lain-lainnya.56

Studi kepustakaan digunakan oleh oleh penulis untuk memperoleh konsep dan teori-teori sebagai dasar pemikiran dan bahan acuan bagi penulis melalui buku-buku, jurnal, artikel maupun tulisan-tulisan yang ada

54 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,

(Bandung: Alfabeta, 2008), h.8.

55 Mila Tunna Imah, Budi Purwoko,Studi Kepustakaan Penerapan Konseling Neuro

Linguistik Programming (NLP) dalam Lingkup Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya, 2018, h.

12.

(49)

hubungannya dengan penelitian. Adapun teori-teori yang diperoleh penulis dengan menggunakan teknik studi kepustakaan ini adalah konsep keterampilan, konsep membaca siswa kelas IV Sekolah Dasar, dan karateristik siswa kelas IV Sekolah Dasar.

Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penggunaan pendekatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku orang, peristiwa lapangan, serta kegiatan-kegiatan tertentu secara terperinci dan mendalam. Pendekatakan kualitatif merupakan pendekan dengan data non angka atau berupa dokumen-dokumen manuskrip maupun pemikiran-pemikiran yang ada, dimana dari data tersebut kemudian dikategorikan berdasarkan relavansinya dengan pokok permasalahan yang dikaji. Adapun yang dimaksud dengan penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian sekedar untuk menggambarkan suatu variabel yang berkenaan dengan masalah yang diteliti tanpa mempersoalkan hubungan antar variabel.57

Pendekatan deskriptif kualitatif dalam penelitian ini berupa data non angka yang diambil dengan dasar data-data di lapangan sudah ada di dalam jurnal ataupun terbitan terdahulu, yang sudah lebih dulu diteliti oleh peneliti lain.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ialah mempersempit masalah, sehingga peneliti mampu mengetahui secara mendalam apa yang menjadi fokusnya dalam penelitian di lapangan. Penelitian tersebut diselidiki secara menyeluruh dan secara khusus serta dalam bagian yang mendukung atau menambah kejelasan makna dalam situasi di lapangan. Setelah mengetahui dan memahami secara mendalam dan menyeluruh dari apa yang terjadi dilapangan kemudian menghasilkan hipotesis atau teori baru dari apa yang terjadi dilapangan.58

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan dan penjelasan mengenai fokus penelitian diatas, maka peneliti hanya memfokuskan

57 Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial (Jakarta: Rajawali Press, 1992), h. 18 58 Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan,

Gambar

Tabel 2.1   Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar ...............................................

Referensi

Dokumen terkait

Dapat disimpulkan dengan adanya pesan/testimonial positif mengenai pembeli yang sudah pernah dan puas berbelanja di FJB Kaskus, pengalaman transaksi yang sukses dari konsumen

ASEAN dalam hal ini sebagai organisasi tempat para pihak bernaung secara internasional memiliki perangkat yuridis berupa traktat internasional yaitu The 1997 ASEAN

Sikap masyarakat terhadap penyakit malaria sudah baik ditandai dengan tingginya presentase masyarakat yang setuju untuk melakukan upaya- upaya pencegahan penularan malaria

Kolom 7 Penyusunan Peraturan DPRD, Keputusan DPRD, Keputusan Pimpinan DPRD dan Keputusan Badan Kehormatan DPRD merupakan delegasi/ perintah dan peraturan yang

Tajuk pohon yang banyak dan berlapis-lapis pada tanaman yang ada di hutan akan sangat membantu untuk menahan energi potensial air hujan yang jatuh sehingga aliran air

Suatu rahmat dan anugerah dari Allah SWT yang sepatutnya penulis syukuri, karena berkat qudrat, iradat, taufiq dan hidayah-Nya penulis dapat merampungkan skripsi

37 Masjid Al‐Yatim Kp. Bancah Laweh Jr. Bancah Laweh Nag. Simpang Kec. Simpang Alahan Panjang Kab. Pasaman 38 Masjid

Achasin merupakan suatu peptida antimikroba yang berfungsi dalam penutupan luka yang terkandung dalam lendir bekicot yang diproduksi oleh kelenjar di dinding bekicot, maupun zat