i
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PALUDIKULTUR PADA
PROGRAM PEMULIHAN EKOSISTEM GAMBUT DI APL KHG SUNGAI
MENDAHARA – SUNGAI BATANGHARI KABUPATEN TANJUNG JABUNG
TIMUR PROVINSI JAMBI
Ketua Tim Peneliti: Dr. Endang Hernawan
Anggota: 1. Dr. Aos
2. Prof. Indratmo Soekarno 3. Prof. Tati Suryati Syamsudin 4. Dr. Yayat Hidayat
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Desember 2018
LAPORAN AKHIR
KAJIAN PALUDIKULTUR
ii
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PENELITIAN
KERJASAMA ANTARA
BADAN RESTORASI GAMBUT REPUBLIK INDONESIA
DENGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
TAHUN 2018
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PALUDIKULTUR PADA PROGRAM PEMULIHAN EKOSISTEM GAMBUT DI APL KHG SUNGAI MENDAHARA – SUNGAI BATANGHARI KABUPATEN
TANJUNG JABUNG TIMUR PROVINSI JAMBI
Oleh:
Dr. Endang Hernawan
Mengetahui:
Prof. Dr. Bambang Riyanto
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan - ITB Menyetujui:
Pejabat Pembuat Komitmen
Kedeputian Penelitian dan Pengembangan BRG
Ir. C Nugroho S Priyono, MSc NIP. 19601116 198703 1 001
iii
KATA PENGANTAR
Laporan Akhir ini merupakan salah satu persyaratan yang diatur dalam dokumen kerjasama antara Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia Dengan Institut Teknologi Bandung dan merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh peneliti untuk menyerahkan laporan akhir. Tujuannya adalah untuk menyampaikan hasil akhir dari kegiatan penelitian Kajian Paludikultur dengan judul “Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur Pada Program Pemulihan Ekosistem Gambut Di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi”.
Laporan akhir ini berisi pendahuluan, Logframe dan peta jalan kegiatan, keadaan umum lokasi penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, serta lampiran.
Akhirnya kami dari TIM Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan dan memberi masukan pada laporan akhir ini dan semoga Allah SWT yang akan membalas kebaikan bapak/ibu dengan ganjaran yang berlipat ganda.
Bandung, Desember 2018 TIM Peneliti
iv
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... xi I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 2 1.3. Tujuan ... 3 1.4. Luaran (Outcome) ... 3 II. METODE ... 4 2.1. Lokasi Penelitian ... 4
2.2. Pembangunan Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara ... 5
III. LOGFRAME DAN PETA JALAN KEGIATAN ... 12
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 15
4.1. Wilayah Administrasi ... 15
4.1.1. Luas Wilayah... 15
4.1.2. Letak Geografis dan Letak Desa/Kelurahan, dan Klasifikasi Desa/Kelurahan ... 16
4.1.3. Tata Guna Tanah ... 17
4.1.4. Aksesibilitas dan Jarak Ke Ibu Kota Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi ... 17
4.2. Kependudukan ... 19
4.2.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 19
4.2.2. Kepadatan Penduduk ... 19
4.2.3. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Mendahara Ulu ... 20
4.2.4. Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Kepala Keluarga dan Ratarata Anggota Rumah Tangga ... 20
4.2.5. Tingkat Kelahiran dan Kematian... 21
v
4.4. Sosial ... 22
4.4.1. Pendidikaan ... 22
4.4.2. Sarana Kesehatan dan Tenaga Kesehatan ... 22
4.5. Pertanian ... 23
4.5.1. Luas Lahan Pertanian ... 23
4.5.2. Luas Tanam, Produksi Padi dan Palawija Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu ... 23
4.5.3. Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Sayuran di Kecamatan Mendahara Ulu . 24 4.5.4. Jumlah Tanaman dan Produksi Buah-buahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2016 ... 25
4.5.5. Komoditas Pertanian Utama Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu ... 25
4.5.6. Jumlah Kelembagaan Pertanian Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu ... 26
4.6. Iklim ... 26
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28
5.1. Koordinasi dengan para pihak (Stakeholders) di Provinsi Jambi ... 28
5.2. Survey Sumber Benih Dan Bibit Pinang Varietas Betara ... 28
5.3. Pembangunan Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara ... 29
5.3.1. Kegiatan Pembangunan Demplot ... 29
5.3.2. Kegiatan Pembangunan Demplot ... 35
5.3.3. Hasil Analisis Pertumbuhan Demplot ... 35
5.4. Pengamatan Pengaruh Pasang Surut Terhadap Muka Air Tanah ... 39
5.4.1. Kegiatan pegukuran ketebalan gambut dan tinggi muka air tanah ... 39
5.4.2. Pengukuran elevasi tanah ... 42
5.4.3. Pengukuran curah hujan ... 43
5.4.4. Hubungan Curah Hujan dengan Tinggi Muka Air Tanah ... 44
5.5. Penguatan Kapasitas Petani Kebun Lahan gambut ... 46
5.5.1. Karakteristik Petani Sampel ... 46
5.5.2. Kompetensi Petani Kebun Lahan Gambut ... 47
5.6. Produktivitas Pola Tanam ... 47
5.7. Rantai Pasok Komoditas Dari Lahan Gambut ... 49
vi
5.1. Kesimpulan ... 59
5.2. Saran ... 59
PUSTAKA ... 60
vii
DAFTAR TABEL
Tabel II.1. Format Training Needs Assessment Untuk Anggota Kelompok Tani Lahan Gambut ... 9 Tabel II.2. Klasifikasi Sub Kompetensi Untuk Menentukan Mata Diklat (Insano, J.S, 2013) ... 9 Tabel III.1. Logframe Kegiatan Riset Aksi Tahun 2018 ... 12 Tabel III.2. Peta Jalan (roadmap) Kajian Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur .... 13 Tabel IV.1. Wilayah Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi
Jambi ... 15 Tabel IV.2. Sebaran Jumlah Dusun dan Rukun Tangga Setiap Desa di Kecamatan Mendahara
Ulu ... 16 Tabel IV.3. Letak Geografis dan Letak Desa di Kecamatan Mendahara Ulu ... 17 Tabel IV.4. Jarak Masing-Masing Desa Ke Ibu Kota Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi ... 17 Tabel IV.5. Jumlah Penduduk Menurut Desa/Kelurahan dan Jenis Kelamin di Kecamatan
Mendahara Ulu, 2016 ... 19 Tabel IV.6. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Kepadatan, Menurut Desa/Kelurahan di
Kecamatan Mendahara Ulu, 2016 ... 19 Tabel IV.7. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan
Mendahara Ulu, Tahun 2016 ... 20 Tabel IV.8. Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Kepala Keluarga dan Ratarata Anggota Rumah
Tangga Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016 ... 20 Tabel IV.9. Banyaknya Kelahiran dan Kematian Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan
Mendahara Ulu, Tahun 2016 ... 21 Tabel IV.10. Mayoritas Suku Bangsa di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016 ... 22 Tabel IV.11. Luas Lahan Pertanian di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016 ... 23 Tabel IV.12. Luas Tanam, Produksi Padi dan Palawija Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan
Mendahara Ulu, Tahun 2016 ... 24 Tabel IV.13. Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Sayuran Menurut Desa/Kelurahan di
Kecamatan Mendahara Ulu ... 24 Tabel IV.14. Jumlah Tanaman dan Produksi Buah-buahan di Kecamatan Mendahara Ulu,
Tahun 2016 ... 25 Tabel IV.15. Jumlah Tanaman dan Produksi Buah-buahan di Kecamatan Mendahara Ulu,
viii
Tabel IV.16. Jumlah Kelembagaan Pertanian Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan
Mendahara Ulu, Tahun 2016 ... 26
Tabel IV.17. Kondisi Suhu dan Curah Hujan Tahun 2018 ... 27
Tabel V.1. Titik Pengamatan pada Transek 1 ... 40
Tabel V.2. Titik pengamatan pada Transek 2 (R2) ... 41
Tabel V.3. Titik Pengamatan pada Transek 3 (R3) ... 41
Tabel V.4. Titik Pengamatan pada Transek 4 (R4) ... 41
Tabel V.5. Hasil Pengukuran Elevasi Titik-Titik Pengamatan ... 42
Tabel V.6. Karakteristik Petani Kebun Sampel ... 46
Tabel V.7. Karakteristik Petani Kebun Sampel ... 47
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1. Lokasi Penelitan Aksi di Pilot Project Restorasi Gambut Terintegrasi di Desa Sinar. 4 Gambar II.2. Rancangan penanaman sumber benih pinang unggl varietas Betara
(S= Seedlot, T=Treeplot) ... 6
Gambar II.3. Teknik PemasanaganTipe MMT Pada Tanaman di Lahan Gambut ... 7
Gambar II.4. Tata letak titik pengamatan ... 8
Gambar II.5. Rancangan Pengamatan Pola Tanam di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari (P1-6: Pola Tanam) ... 10
Gambar IV.1. Persentase Luas Daerah Menurut Desa/Keluarahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2016 ... 16
Gambar IV.2. Kondisi Jalan Darat dan Kanal di Desa Sinar Wajo ... 18
Gambar V.1. Diskusi Tim Paludikultur Gambut ITB, IPB dan Universitas Jambi dengan Kepala BPDAS HL Batanghari (a) dan BKSDA Provinsi Jambi (b) ... 28
Gambar V.2. Suasana Penangkar Bibit Pinang Betara ... 29
Gambar V.3. Desain Tanaman pada PU ... 30
Gambar V.4. Pengukuran lokasi dan plotting desain tanaman ... 30
Gambar V.5. Penebasan Semak ... 31
Gambar V.6. Pemasangan Ajoir Tanaman ... 31
Gambar V.7. Pengankutan Bibit Pinang ... 32
Gambar V.8. Benih Pinang Varietas Betara ... 33
Gambar V.9. Pembuatan Lubang Tanam ... 33
Gambar V.10. Penanamanm Bibit Pinang ... 34
Gambar V.11. Pemberian Mulsa Pada Tanaman Pinang ... 34
Gambar V.12. Pengukuran Tanaman di PU ... 35
Gambar V.13. Pertambahan Tinggi Tanaman Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST ... 36
Gambar V.14. Pertambahan Diameter Tanaman Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST ... 37
Gambar V.15. Pertambahan Jumlah Daun Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST ... 38
x
Gambar V.16. Pertambahan Jumlah Daun Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12
MST ... 38
Gambar V.17. Persentase Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST ... 39
Gambar V.18. Tata letak titik pengamatan ... 40
Gambar V.19. Kegiatan Pengukuran Elevasi ... 42
Gambar V.20. Hasil Pengukuran Curah Hujan Selama Percobaan ... 44
Gambar V.21. Hubungan Antara Curah Hujan dan Tinggi Muka Air Tanah Lahan Gambut di Lokasi Penelitian ... 45
Gambar V.22. Nilai rata-rata Setiap Pola Tanam Kebun Lahan Gambut di Desa Sinar Wajo... 48
Gambar V.23. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kelapa ... 49
Gambar V.24. Hasil panen kelapa ... 49
Gambar V.25. Proses pengupasan, pencungkilan buah kelapa dan Proses pembuatan arang dari batok kelapa ... 50
Gambar V.26. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kelapa Sawit Pada Struktur 1 ... 50
Gambar V.27. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kelapa Sawit Pada Struktur 2 ... 51
Gambar V.28. Kegiatan Pemanenan, Pengangkutan hasil panen dengan gerobak dorong ke tepi kanal ... 52
Gambar V.29. Proses penimbangan kelapa sawit oleh pengumpul 1 dilakukan di tepi kanal ... 53
Gambar V.30. Pengangkutan melalui Kanal Utama dan Sungai Mendahara menuju pengumpul 53 Gambar V.31. TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) sawit sebelum diangkut menuju pabrik ... 54
Gambar V.32. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kopi ... 54
Gambar V.33. Kebun kopi milik petani ... 54
Gambar V.34. Proses panen kopi di lahan oleh petani ... 55
Gambar V.35. Proses penjemuran kopi ... 55
Gambar V.36. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Pinang Pada Struktur 1 ... 56
Gambar V.37. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Pinang Pada Struktur 2 ... 57
Gambar V.38. Proses Pengupasan Buah Pinang Setelah Dipanen Dari Lahan ... 57
Gambar V.39. Gudang Penyimpanan Pinang Milik Pengumpul... 58
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Pengukuran Demplot Kebun Benih Pinang Unggul Varietas Betara ... 62
Lampiran 2. Hasil Pengukuran Pertumbuhan Diameter Batang Tanaman Pinang (Blok 1, 2, 3, dan 4) ... 65
Lampiran 3. Hasil Pengukuran Pertumbuhan jumlah daun Tanaman Pinang Blok 1, 2, 3, dan 4) . ... 69
Lampiran 4. Hasil Pengukuran Jumlah Gulma di sekitar Tanaman Pinang ... 73
Lampiran 5. Rekapitulasi data Pengukuran Muka Air Tanah Gambut ... 77
Lampiran 6. Draft Article untuk Jurnal Ilmiah Internasional ... 79
1
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Provinsi Jambi merupakan salah satu provinsi yang menjadi target restorasi Gambut BRG yakni seluas 151.663 ha terdiri dari bekas kebakaran tahun 2015 seluas 64.895 ha, kanal di daerah dome gambut seluas 83.286 ha dan adanya kanal di areal kawasan lindung seluas 3.500 ha. Target restorasi pada areal budidaya di Provinsi Jambi berada di areal produksi berizin seluas 19.245 ha dan areal produksi yang tidak berizin seluas 26.008 ha. Untuk areal produksi yang tidak berizin merupakan lahan pertanian gambut yang dikelola oleh masyarakat dan berada pada Areal Penggunaan Lain (APL).
Salah satu prioritas Restorasi adalah KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari yang merupakan areal kebakaran terluas pada tahun 2015. Pada tahun 2017 salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan adalah kegiatan restorasi terintegrasi dengan membangun Pilot Project Restorasi Gambut Terintegrasi di Desa Sinarwajo Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur seluas 30 ha. Temuan lapangan dari kegitan pilot restorasi terintegrasi tersebut diantaranya adalah
1. Pengembangan model pertanian terintegrasi tanaman buah-buahan, perkebunan, dan peternakan (bebek)
2. Telah menumbuhkan minat petani untuk mengganti tanaman pokok sawit dengan tanaman pinang dan atau kopi.
3. Telah terintroduksi untuk mempertahankan muka air tanah (40 cm) di kawasan budidaya lahan gambut dengan mengintegrasikan budidaya ternak bebek pada saluran kuarter (saluran cacing).
4. Ditemukan bahwa masyarakat belum memiliki kelembagaan ekonomi sehingga petani masih memiliki ketergantungan terhadap tengkulak/ penampung
Dalam menindaklanjuti temuan lapangan tersebut, maka pelaksanaan Riset Aksi yang akan dilakukan pada tahun 2018 ini akan diarahkan pada kajian terkait lanjutan dalam upaya mendukung keberlanjutan upaya restorasi terintegrasi secara berkelanjutan yakni peningkatan
2
tutupan lahan (revegetasi), pembasahan (rewetting) dan revitalisasi livelihood. Terdapat tiga kegiatan lanjutan dan kajian yang akan dilakukan yakni terkait dengan penyediaan sumber benih pinang unggul, mengkaji pasang surut terhadap muka air gambut serta penguatan kelompok dan diversifikasi usaha dalam upaya mendukung revitalisasi livelihood.
1.2.
Perumusan Masalah
Dalam mencapai keberlanjutan upaya restorasi lahan gambut melalui pendekatan revegetasi, rewetting dan revitalisasi livelihood secara terintegrasi dihadapkan pada permasalahan sebagai berkut.
1) Sulit mendapatkan sumber benih pinang unggul (adaptif di lahan gambut dan produktivitas tinggi) yang menndukung paludikultur di lokasi Pilot Project APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari.
2) Lokasi APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari dipengaruhi oleh pasang surut harian Sungai Mendahara, diduga pasang surut harian berpengaruh terhadap tingkat kebasahaan (rewetting) lahan gambut. Untuk itu, perlu dilakukan kajian tentang pengaruh pasang surut terhadap muka air gambut di kanal dan di lahan gambut meliputi: (1) rembesan air, (2) tinggi muka air di saluran dan di lahan, serta (3) kadar air tanah di lahan.
3) Adanya keinginan masyarakat untuk mengganti tanaman pokok sawit dengan tanaman pinang dan atau kopi, maka perlu kajian lanjutan tentang bagaimana diversifikasi komoditas tersebut dapat meningkatkan penghasilan petani dan menjaga karakteristik ekosistem gambut.
4) Rantai pasok komoditas pertanian di lokasi Pilot Project belum memberikan nilai tambah yang optimum pada petani. Untuk revitalisasi livelihood, maka diperlukan penguatan kelembagaan: (1) peningkatan penguasaan teknik budidaya, dan (2) penguatan kelembagaan ekonomi kelompok tani.
3
1.3.
Tujuan
Tujuan umum dari kegiatan riset aksi tahun 2017 adalah Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur Pada Program Pemulihan Ekosistem Gambut Di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi adalah melakukan kegiatan berikut:
1) Pembangunan Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara
2) Melakukan kajian tentang pengaruh pasang surut terhadap muka air gambut di kanal dan di lahan gambut meliputi: (1) rembesan air, (2) tinggi muka air di saluran dan di lahan, serta (3) kadar air tanah di lahan.
3) Mengkaji diversifikasi komoditas yang dapat meningkatkan penghasilan petani dan menjaga karakteristik ekosistem gambut.
4) Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani dalam teknis budidaya dan penguatan ekonomi.
1.4.
Luaran (Outcome)
Luaran dari Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur Pinang Pada Program Pemulihan Ekosistem Gambut Di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi adalah:
(1) Terbangunnya Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari
(2) Diperoleh informasi tentang kebasahan (rewetting) yang dipengaruhi pasang surut harian di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari.
(3) Diperolah komoditas sesuai yang dapat meningkatkan pendapatan penduduk dengan tetap menjaga karakteristik ekosistem gambut.
(4) Meningkatnya kemampuan teknis budidaya dan menguatnya kelembagaan ekonomi Kelompok Tani.
(5) Dihasilkan artikel ilmiah yang dipublikasikan pada Jurnal Internasional bereputasi (1 artikel), seminar skala internasional (1 presentasi), dan pada jurnal nasional bereputasi (1 artikel).
4
II.
METODE
2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian aksi dilakukan di Areal Pilot Project Program Pemulihan Ekosistem Gambut Pada APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Lokasi tersebut merupakan lokasi Pilot Project Restorasi Gambut Terintegrasi dengan Implementasi Model Pertanian Terpadu yang telah dibangun pada kegiatan tahun 2017.
Gambar II.1. Lokasi Penelitan Aksi di Pilot Project Restorasi Gambut Terintegrasi di Desa Sinar Wajo Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur – Provinsi Jambi
Sasaran kegiatan Restorasi Gambut Terintegrasi yaitu masyarakat Desa Sinar Wajo yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Gambut Jambi – Desa Sinar Wajo dan Kelompok Tani Desa Sinar Wajo Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur – Provinsi Jambi.
Sinar Wajo
LOKASI PILOT PROJECT
LOKASI PILOT PROJECT RESTORASI GAMBUT KERJASAMA BRG - ITB
5
Kajian ini dibagi dalam sub kegiatan penelitian yaitu:
1) Pembangunan Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara
2) Melakukan kajian tentang pengaruh pasang surut terhadap muka air gambut di kanal dan di lahan gambut meliputi: (1) rembesan air, (2) tinggi muka air di saluran dan di lahan, serta (3) kadar air tanah di lahan.
3) Mengkaji diversifikasi komoditas yang dapat meningkatkan penghasilan petani dan menjaga karakteristik ekosistem gambut.
4) Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani dalam teknis budidaya dan penguatan ekonomi
2.2. Pembangunan Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara
a. Metode
1). Penyusunan rancangan pembangunan sumber benih pinang
Rancangan pembangunan sumber benih pinang unggul varietas Betara menggunakan Rancangan Acak Berblok (Randomize Block Designi/RCBD), terdiri dari 5 treeplot dan 4 ulangan/blok), jumlah seedlot sebanyak 25 (Lihat Gambar 2).
Jarak tanam yang diberikan adalah 3 m x 6 m. Penanaman treeplot system baris (line). Jarak antar blok 6 m dan jarak dari tepi demplot 3 m. Jika seedlot yang ada kurang dari 25 maka rancangan akan disesuaikan kembali setelah ada kepastian jumlah seedlot yang ada.
2). Penyiapan lahan
Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan lahan, pembuatan ajir tanaman dan pembuatan larikan tanaman. Pembersihan lahan dilakukan secara manual dengan melakukan penebasan semak di sekitar lubang tanam menggunakan sabit. Pembersihan lahan menggunakan pola piringan (circular) dengan jari-jari 50 cm. Larikan tanaman dibuat sesuai rancangan dan ditandai dengan pemasangan ajir. Lubang tanam dibuat dengan kedalam 30 cm atau disesuaikan dengan ukuran polybag bibit pinang yang akan ditanam.
6
3). Penyiapan bibit
Bibit yang disiapkan adalah bibit pinang varietas Betara yang telah disertifikasi (berlabel). Jumlah bibit yang diperlukan sebanyak 25X5X4 + 20%(25X5X4) = 600 batang. Seminggu sebelum ditanam bibit tersebut akan diaklimatisasi di lokasi penanaman. Identitas seedlot dikontrol dan dipastikan tidak hilang.
S1 T1 T2 T3 T4 T5 S3 T1 T2 T3 T4 T5 S5 T1 T2 T3 T4 T5 S25 T1 T2 T3 T4 T5 S7 T1 T2 T3 T4 T5 S25 T1 T2 T3 T4 T5 S9 T1 T2 T3 T4 T5 S23 T1 T2 T3 T4 T5 6 m 3m 6 m B L O K i B L O K 3 Blok 2 Blok 4
Gambar II.2. Rancangan penanaman sumber benih pinang unggl varietas Betara
7
4). Penanaman
Rangkaian kegiatan penanaman meliputi pembuatan lubang tanam, pemberian pupuk NPK, dan penetral pH semisal dolomit, dan furadan. Penanaman dilakukan sesuai rancangan, identitas seedlot tidak boleh hilang.
Setiap bibit diberi berbagai perlakuan yang menggunakan berbagai jenis mulsa (Mulch Mat Tree/MMT): (a) Cardboard, (b) pelepah sawit, (c) limbah sabut pinang, (d) alumunium foil, (e) kontrol (tanpa MMT). Cara pemasangan MMT dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar II.3. Teknik PemasanaganTipe MMT Pada Tanaman di Lahan Gambut
5). Pengukuran tanaman
Pengukuran tanaman dilakukan 1 bulan dan 3 bulan setelah tanam. Parameter yang diukur terdiri dari (a) Persen tumbuh, (b) tinggi tanaman, (c) diameter tanaman, (d) jumlah daun, (e) jumlah gulma yang tumbuh sekitar batang tanaman, (f) tinggi gulma, (g) kelembaban gambut di sekitar batang tanaman, (h) keasaman gambut di sekitar batang tanaman.
8
2.3.
Pengaruh pasang surut terhadap muka air gambut di kanal dan di lahan
gambut
a. Metode
Kegiatan ini akan dilakukan di kawasan gambut yang terpengaruh oleh pasang surut harian. Empat transek dibuat tegak lurus kanal utama Sungai Mendahara. Setiap transek berada diantara dua kanal sekunder Sungai Mendahara. Pada setiap transek dibuat titik- titik pengamatan yang berjarak 50 m (Gambar 1).
Pada setiap titik dilakukan pengamatan tinggi pasang surut, kedalaman muka air tanah, kematangan gambut, kedalaman gambut, bulk density dan kadar air tanah, konduktivitas hidrolik tanah dalam keadaan jenuh, serta kadar abu dan kadar organik tanah.
Gambar II.4. Tata letak titik pengamatan
2.2.3.
Penguatan kelompok dan diversifikasi usaha
a. Training Need Assessment (TNA)
Kelompok tani lahan gambut di Pilot Project merupakan organisasi masyarakat di desa yang ingin mencapai tujuan bersama yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan usaha budidaya pertanian. Pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan individu anggota kelompok tani dalam meningkatkan produktivitas lahannya. Oleh karena itu diperlukan
R2
R1 R3 R4
Jalur transek
50 m Kanal primer Sungai Mendahara
9
standard kompetensi secara individu dalam budidaya tanaman sebagaimana format Pada Tabel II.1.
Tabel II.1. Format Training Needs Assessment Untuk Anggota Kelompok Tani Lahan Gambut
No Kompetensi Petani Lahan Gambut Tingkat Penguasaan
(0 - 100%)
1 Mampu menentukan pola tanam
2 Mampu memilih jenis bibit
3 Mampu menseleksi jenis sumber benih
4 Mampu menerapkan pola tanam campuran tanaman
perkebunan
5 Mampu menaksir produksi dan kualitas buah
6 Mampu menentukan waktu dan cara panen
7 Mampu meningkatkan posisi nilai tawar jual komoditas
8 Mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan gambut
berkelanjutan
Selanjutnya dari 8 kompetensi, ditentukan mata diklat dengan dikelompokkan ke dalam sub kompetensi pada Tabel 2.
Tabel II.2. Klasifikasi Sub Kompetensi Untuk Menentukan Mata Diklat (Insano, J.S, 2013)
No Kategori Mata Diklat % rata-rata
penguasaan peserta
1 Must Know: Harus Diketahui 0 - 50
2 Should know: Sebaiknya Diketahui 51 - 79
3 Nice to know: Ada Baiknya Diketahui 80 - 100
Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan quisioner tertutup, kemudian diikuti dengan diskusi kelompok terarah (FGD). Kegiatan FGD ini dimaksudkan untuk memperdalam hasil kuisioner dan tentang kelembagaan kelompok tani. b. Pengaruh pola tanam (diversifikasi komoditas) terhadap pendapatan petani di lahan gambut Lokasi di areal Pilot Projek Restorasi Gambut Berkelanjutan (Kegiatan Tahun 2017) seluas 30 ha di Desa Sinar Wajo Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Di Lokasi ini terdapat 6 pola tanam yaitu:
- P1: Pola tanam kelapa sawit murni
10
- P3: Pola tanam campuran kelapa dan pinang - P4: Pola tanam campuran kopi dan pinang - P5: Pola tanam pinan murni
Metode
1). Penyusunan rancangan pengamatan
Rancangan pengamatan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 pola tanam dengan ulangan 3. Blok tanaman masing-masing 25m x 40m, sehingga luas total blok pengamatan adalah 1,8 ha (Gambar 5.)
Blok I
Blok II
Blok III
Gambar II.5. Rancangan Pengamatan Pola Tanam di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari (P1-6: Pola Tanam)
P1 P2 P3 P4 P5
P1 P2 P3 P4 P5
11
2) Produktivitas Pola Tanam
Di masing-masing pola tanam dilakukan pemanenan yang berbeda. Tanaman sawit dan pinang dipanen setiap dua minggu selama tiga bulan, sedangkan tanaman kopi dipanen satu kali dalam setahun.
3) Perhitungan hasil penjualan komoditas
Setiap komoditas ada yang langsung dijual setelah dipanen dan ada yang terlebih dahulu dilakukan perlakuan paska panen. Untuk kelapa sawit dijual langsung dalam bentuk TBS (Tandan Buah Segar). Buah pinang sebelum dijual dilakukan pengeringan, dikupas kemudian baru dijual. Sedangkan buah kopi di jual dalam bentuk buah segar. Hasil penjualan kotor adalah merupakan perkalian antara berat komoditas siap dijual dikalikan dengan harga jual. Produktivitas untuk setiap pola tanam merupakan hasil penjualan bersih (setelah dikuangi biayapanen, biaya penanganan paska panen dan biaya transportasi). Pengaruh pola tanam terhadap pendapatan petani dianalisis menggunakan ANOVA.
12
III.
LOGFRAME DAN PETA JALAN KEGIATAN
Logframe Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur Pada Program Pemulihan Ekosistem Gambut Di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi disajikan pada Tabel 2 berikut.
Tabel III.1. Logframe Kegiatan Riset Aksi Tahun 2018
Tujuan Umum: Meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan tanaman paludikultur di areal Pilot Project APL KHG Sungai Mendahara – Sungai batanghari
Tujuan Khusus Strategi Asumsi Indikator
Capaian Metode verifikasi 1) Pembangunan Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara Menanam bibit pinang unggul varietas Betara Tersedia bibit berbagai seedlot Dukungan masyarakat Terbangunnya 1 unit sumber benih pinang varietas Betara. Rancangan Sumber benih Laporan pelaksanaan pembanguna n sumber benih 2) Melakukan kajian tentang pengaruh pasang surut terhadap muka air gambut di kanal dan di lahan gambut. Mengukur: (1) rembesan air, (2) tinggi muka air di saluran dan di lahan, serta (3) kadar air tanah di lahan Tidak perubahan iklim yang signifikan Pengaruh pasang surut di kanal dan di lahan gambut Rancangan Pemantauan tinggi muka air (TMA) Laporan pelaksanaan pengamatan TMA 3) Mengkaji diversifikasi komoditas yang dapat meningkatkan penghasilan petani dan menjaga keberlanjutan ekosistem gambut Mengevaluasi produktivitas dan memastikan keberlanjutan ekosistem gambut Partisipasi aktif pada kegiatan riset aksi bersama masyarakat Informasi produktivitas hasil dari berbagai pola tanam di areal Pilot Project. Rancangan pengamatan pola tanam Laporan pelaksanaan evaluasi produktivitas dan keberlanjutan ekosistem gambut setiap pola tanam 4) Penguatan Kelembagaan Pelatihan anggota Partisipasi aktif anggota Peningkatan kapasitas Pre-test dan post-test
13 Kelompok Tani dalam teknis budidaya dan penguatan ekonomi kelompok tani hutan kelompok tani pada kegiatan pelatihan kelompok tani di bidang paludikultur Laporan kegiatan pelatihan
Kegiatan tahun 2018 merupakan kegiatan lanjutan tahun 2017 dari Pembangunan Pilot Project Dan Kajian Restorasi Gambut Terintegrasi Menggunakan Pendekatan Model Pertanian Terpadu. Pada kegiatan tahun 2018 ini akan difokuskan pada kajian Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur Pada Program Pemulihan Ekosistem Gambut Di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.
Tabel III.2. Peta Jalan (roadmap) Kajian Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur
Tahapan Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang
2017 2018 2019 Tahap Pembanguna n Pilot Project Pemulihan ekosistem gambut di Areal Penggunaan Lain Kawasan Hidrologis Gambut (KHG) Sungai Betara – Sungai Mendahara – Provinsi Jambi Memetakan areal
lahan gambut yang dikelola masyarakat
yang mengalami
kerusakan ekosistem gambut berbasis GIS Kajian agoroekosistem yang telah berkembang di masyarakat Memetakan areal demplot seluas 30 ha yang memiliki fungsi ekosistem lindung dan budidaya berbasis GIS
14 Desaign model integrated farming yang berkelanjutan Melakukan penanaman dan pemeliharaan tanaman dengan teknologi pertanian lahan basah Evaluasi dan penilaian dengan metode PKIV Penyusunan pedoman penerapan Integrated Farming di Lahan Gambut Sosialisasi
Tahap Riset Aksi
Peningkatan Produktivitas Tanaman Paludikultur Pada Program Pemulihan Ekosistem Gambut Di APL KHG Sungai Mendahara – Sungai Batanghari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Tahap Replikasi ReplikasiModel Pertanian Terpadu Berbasis Paludikultur (budidaya di lahan gambut)
15
IV.
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1. Wilayah Administrasi
4.1.1. Luas Wilayah
Lokasi Penelitian secara administrasi berada di Desa Sinar Wajo Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Jambi. Kecamatan Mendahara Ulu, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kecamatan Mendahara, sebelah sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Geragai, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi.
Luas wilayah Kecamatan Mendahara Ulu 515.32 km2 tersebar dalam 7 desa/kelurahan sebagaimana tabel berikut.
Tabel IV.1. Wilayah Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi
No. Desa/Kelurahan Luas (km2) Persentase (%)
1. Desa Bukit Tempurung 38.55 7.48
2. Desa Sungai Toman 75.57 14.66
3. Kelurahan Simpang Tuan 63.29 12.28
4. Desa Pematang Rahim 91.9 17.48
5. Desa Sinar Wajo 73.65 14.29
6. Desa Sungai Beras 112.20 21.77
7. Desa Mencolok 60.06 11.66
16
Gambar IV.1. Persentase Luas Daerah Menurut Desa/Keluarahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2016
4.1.2. Letak Geografis dan Letak Desa/Kelurahan, dan Klasifikasi Desa/Kelurahan
Kecamatan Mendahara Ulu terdiri dari 6 desa dan 1 kelurahan, 28 dusun, 4 rukun warga serta 109 rukun tetangga (RT), dengan rincian sebagaimana tabel berikut:
Tabel IV.2. Sebaran Jumlah Dusun dan Rukun Tangga Setiap Desa di Kecamatan Mendahara Ulu
No. Desa/Kelurahan Jumlah Dusun Jumlah Rukun
Tangga
Jumlah Rukun Warga
1. Desa Bukit Tempurung 3 8 -
2. Desa Sungai Toman 4 9 -
3. Kelurahan Simpang Tuan 4 16 4
4. Desa Pematang Rahim 4 19 -
5. Desa Sinar Wajo 6 24 -
6. Desa Sungai Beras 6 23 -
7. Desa Mencolok 4 10 -
Sumber: Mendahara Ulu Dalam Angka 2016 (BPS, 2017)
Letak Geografis dan Letak Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu pada tahun 2016 seluruhnya termasuk bukan tepi pantai dan sebagian besar terletak di tepi hutan, sebagaimana tabel berikut. Desa Bukit Tempurung 7% Desa Sungai Toman 15% Kelurahan Simpang Tuan 12% Desa Pematang Rahim 18% Desa Sinar Wajo
14% Desa Sungai Beras 22% Desa Mencolok 12%
17
Tabel IV.3. Letak Geografis dan Letak Desa di Kecamatan Mendahara Ulu
No. Desa/Kelurahan Letak Geografis Letak Desa
1. Desa Bukit Tempurung Bukan Pesisir Luar Hutan
2. Desa Sungai Toman Bukan Pesisir Tepi Hutan
3. Kelurahan Simpang Tuan Bukan Pesisir Luar Hutan
4. Desa Pematang Rahim Bukan Pesisir Tepi Hutan
5. Desa Sinar Wajo Bukan Pesisir Tepi Hutan
6. Desa Sungai Beras Bukan Pesisir Tepi Hutan
7. Desa Mencolok Bukan Pesisir Tepi Hutan
Sumber: Mendahara Ulu Dalam Angka 2016 (BPS, 2017)
Klasifikasi Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu pada tahun 2016 sebanyak 6 status desa dan 1 status kelurahan yakni Kelurahan Simpang Tuan.
4.1.3. Tata Guna Tanah
Desa Sinar Wajo memiliki luas wilayah 7364,83 ha. Berdasarkan tata guna lahannya, Desa Sinar Wajo terbagi atas pemukiman (20.5 ha), perkantoran (0.5 ha), kuburan (3 ha), hutan lindung (5088 ha dengan 4000 Ha dalam kondisi baik dan 1088 dalam kondisi rusak), dan perkebunan (1050 ha). Lokasi penelitian berada di areal perkebunan rakyat yang secara tataguna hutan sebagai Areal Penggunaan Lain (APL). Perkebunan masyarakat desa Sinar Wajo mayoritas ditanami oleh tanaman tahunan seperti pinang, kopi, kelapa, kelapa sawit dan ada juga beberapa petani membudidayakan pisang dan mahang sebagai tanaman pencampur di lahannya.
4.1.4. Aksesibilitas dan Jarak Ke Ibu Kota Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi
Aksesibilitas setiap desa menunjukkan semakin terbuka dapat dilalui melalui jalan darat dan melalui sungai dengan jarak dari masing-masing desa ke ibu kota kecamatan, kabupaten dan provinsi sebagaimana tabel berikut.
Tabel IV.4. Jarak Masing-Masing Desa Ke Ibu Kota Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi
No. Desa/Kelurahan
Jarak ke Ibu Kota (km)
Kecamatan Kabupaten Provinsi
1. Desa Bukit Tempurung 10 43 65
2. Desa Sungai Toman 14 47 75
18
4. Desa Pematang Rahim 2 33 77
5. Desa Sinar Wajo 7 42 82
6. Desa Sungai Beras 20 75 90
7. Desa Mencolok 10 40 80
Sumber: Mendahara Ulu Dalam Angka 2016 (BPS, 2017)
Jalan darat menuju Desa Sinar Wajo melalui jalan HTI, dan Perkebunan serta area eksploitasi migas PT. Petro China. Aksesibilitas ke Desa Sinar Wajo selain melalui Jalan Darat, tetapi juga melalui sungai Mendahara dengan menggunakan speedboat, dengan waktu hanya pada pagi hari yakni memanfaat keadaan air sungai pasang. Di Desa Sinar Wajo sendiri, aksesibilitas dapat dilalui melalui jalan darat dan sungai serta kanal. Untuk jalan darat di beberapa tempat hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua pada saat jalan kering. Jalan melalui kanal dan sungai dilakukan untuk mengangkut hasil bumi terutama TBS.
19
4.2. Kependudukan
4.2.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Jumlah Penduduk Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2016 sebanyak 17.434 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 3.748 rumah tangga. Jumlah penduduk terbanyak berada di Desa Sungai Beras dengan jumlah penduduk sebesar 3.834 jiwa.
Tabel IV.5. Jumlah Penduduk Menurut Desa/Kelurahan dan Jenis Kelamin di Kecamatan Mendahara Ulu, 2016
No. Desa/Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Desa Bukit Tempurung 601 518 1119
2. Desa Sungai Toman 1378 1263 2641
3. Kelurahan Simpang Tuan 1190 1053 2243
4. Desa Pematang Rahim 1853 1724 3577
5. Desa Sinar Wajo 1450 1070 2520
6. Desa Sungai Beras 1955 1879 3834
7. Desa Mencolok 829 671 1500
Jumlah 9256 8178 17434
Sumber: BPS Kabupaten Tanjung Jabung Timur, 2017
4.2.2. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk tahun 2016 sebesar 42.32 jiwa/km2. Hal ini berarti di Kecamatan Mendahara Ulu setiap 1 km2 terdapat 42 jiwa. Kepadatan penduduk tertinggi berada di Desa Sungai Beras dengan kepadatan penduduk sebesar 65.54 jiwa/km2.
Tabel IV.6. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Kepadatan, Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2016
No. Desa/Kelurahan Luas (km2) Penduduk (jiwa)
Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)
1. Desa Bukit Tempurung 38.55 1119 20.35
2. Desa Sungai Toman 75.57 2641 39.42
3. Kelurahan Simpang Tuan 63.29 2243 25.29
4. Desa Pematang Rahim 91.99 3577 56.42
5. Desa Sinar Wajo 73.65 2520 51.75
6. Desa Sungai Beras 112.20 3834 65.54
7. Desa Mencolok 60.06 1500 48.32
Jumlah 515.32 17434 42.32
20
4.2.3.
Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di
Kecamatan Mendahara
UluJumlah penduduk di Kecamatan Mendahara ulu tahun 2016 didominasi oleh usia produktif yakni kelompok usia 15 – 59 tahun dan jenis kelamin laki-laki, sebagaimana tabel berikut.
Tabel IV.7. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
0-4 1 020 952 1 972 5-9 947 937 1 884 10-14 827 764 1 591 15-19 740 665 1 405 20-24 796 756 1 552 25-29 903 867 1 770 30-34 928 737 1 665 35-39 750 695 1 445 40-44 646 484 1 131 45-49 480 409 889 50-54 414 333 747 55-59 303 188 491 60-64 195 158 353 65-69 129 109 237 70-74 91 70 161 75+ 86 55 142 Jumlah 9 256 8 178 17 434
Sumber : BPS Kabupaten Tanjung Jabung Timur
4.2.4.
Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Kepala Keluarga dan Ratarata Anggota
Rumah Tangga
Dari jumlah penduduk Kecamatan Mendahara Ulu tersebar menjadi 3.748 rumah tangga dengan rata-rata anggota rumah tangga 4,65. Desa yang memiliki rata-rata anggota keluarga terbesar adalah Desa Sinar Wajo.
Tabel IV.8. Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Kepala Keluarga dan Ratarata Anggota Rumah Tangga Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk
(jiwa) Rumah Tangga
Rata-rata Anggota Rumah
Tangga
1. Desa Bukit Tempurung 1119 259 4.32
21
No. Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk
(jiwa) Rumah Tangga
Rata-rata Anggota Rumah
Tangga
3. Kelurahan Simpang Tuan 2243 504 4.45
4. Desa Pematang Rahim 3577 752 4.76
5. Desa Sinar Wajo 2520 514 4.90
6. Desa Sungai Beras 3834 792 4.84
7. Desa Mencolok 1500 336 4.46
Jumlah 17434 3748 4.65
Sumber : BPS Kab. Tanjung Jabung Timur Kord. PPLKB Mend Ulu
4.2.5. Tingkat Kelahiran dan Kematian
Tingkat kelahiran penduduk Kecamatan Mendahara Ulu masih kecil dengan rata-rata 0.88% dan tingkat kematian sebesar 0.21%. Tingkat kelahiran dan kematian terbesar di Desa Bukit
Tempurung masing-masing sebesar 1.61% dan 0.36%. Untuk lebih jelasnya dapat dlihat pada tabel berikut.
Tabel IV.9. Banyaknya Kelahiran dan Kematian Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk (jiwa) Kelahiran Kematian Jml % Jml %
1. Desa Bukit Tempurung 1119 18 1,61 4 0,36 2. Desa Sungai Toman 2641 21 0,80 3 0,11 3. Kelurahan Simpang Tuan 2243 25 1,11 6 0,27 4. Desa Pematang Rahim 3577 33 0,92 6 0,17 5. Desa Sinar Wajo 2520 23 0,91 7 0,28 6. Desa Sungai Beras 3834 21 0,55 6 0,16 7. Desa Mencolok 1500 12 0,80 5 0,33 Jumlah 17434 153 0,88 37 0,21 Sumber : BPS Kab. Tanjung Jabung Timur dan hasil pengolahan
22
4.3.
Mayoritas Suku Bangsa
Asal usul suku bangsa penduduk Kecamatan Mendahara Ulu beragam yakni suku Melayu, suku Banjar, Suku Bugis dan Suku Jawa, dengan rincian sebagaimana tabel berikut.
Tabel IV.10. Mayoritas Suku Bangsa di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Desa/Kelurahan Suku Mayoritas
1. Desa Bukit Tempurung Melayu
2. Desa Sungai Toman Banjar
3. Kelurahan Simpang Tuan Melalyu
4. Desa Pematang Rahim Banjar
5. Desa Sinar Wajo Bugis
6. Desa Sungai Beras Jawa
7. Desa Mencolok Bugis
Sumber : BPS Kab. Tanjung Jabung Timur
4.4.
Sosial
4.4.1. Pendidikaan
Jumlah sekolah di Kecamatan Mendahara Ulu kondisi 2016 adalah TK (3 Sekolah), SD (8 Sekolah), MI (3 Sekolah) , SMP (5 Sekolah), MTs (2 Sekolah), MA (1 Sekolah), dan SMK (1 Sekolah). Untuk TK berada di tiga desa yakni Desa Sungai Toman, Simpang Tuan dan Pematang Rahim. Sekolah Dasar sudah terdapat di setiap Desa masing-masing 1 sekolah, kecuali di Desa Sungai Beras 2 sekolah. Untuk Sokolah Menengah Pertama berada di setiap desa, kecuali di Desa Bukit Tempurung dan Desa Simpang Tuan. Sedangkan SLTA Negeri hanya ada di Desa Simpang Tuan.
4.4.2. Sarana Kesehatan dan Tenaga Kesehatan
Jumlah fasilatas kesehatan di Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2016 Puskesmas 1 unit, Pustu 4 unit, Poskesdes 2 unit, Polindes 1 unit dan Posyandu 12 unit. Puskesmas berada di Desa Simpang Tuan, sedangkan Puskesmas Pembantu/Puskesmas berada di setiap desa, kecuali di Desa Simpang Tuan dan sebanyak Sungai Beras sebanyak 2 unit, sedangkan Posyandu berada di setiap desa dimana untuk beberapa desa memiliki lebih dari 1 posyandu.
Tenaga kesehatan dokter sebanyak 2 orang berada di Kelurahan Simpang Tuan. Perawat sebanyak 9 orang berada di Desa Bukit Tempurung 1 orang, di Kelurahan Simpang Tuan 6 orang
23
dan di Desa Mencolok 1 orang. Sedangkan bidan berada di semua desa berkisar 2 – 6 orang, dan tenaga kesehatan lainnya sebanyak 4 orang di Kelurahan Simpang Tuan.
4.5.
Pertanian
4.5.1. Luas Lahan Pertanian
Luas sawah di Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2016 seluas 74 ha berada di Desa Mencolok. Sedangkan luas lahan pertanian non sawah seluas 38,096.80 ha atau 74.36% dari total luas wilayah kecamatan Mendahara Ulu dan tersebar di 7 desa. Sisanya seluas 25.64% merupakan lahan bukan pertanian.
Tabel IV.11. Luas Lahan Pertanian di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Desa/Kelurahan Luas (km2) Luas Lahan Sawah (ha)
Luas Lahan Bukan Sawah (ha) Luas Lahan Non Pertanian (ha)
1. Desa Bukit Tempurung 3.855,00 - 2 891,30 963,70
2. Desa Sungai Toman 7 556,41 - 6 423,00 1 133,41
3. Kelurahan Simpang Tuan 6 329,41 - 4 747,10 1 582,31
4. Desa Pematang Rahim 9 199,14 - 5 519,50 3 679,64
5. Desa Sinar Wajo 7 364,83 - 4 787,20 2 477,63
6. Desa Sungai Beras 11 220,40 - 9 370,30 1 850,10
7. Desa Mencolok 6 006,85 74.00 4 358,40 1 548,45
J u m l a h 51 532,04 74,00 38 096,80 13 235,24
Sumber : Kantor BP3K Mendahara Ulu
4.5.2.
Luas Tanam, Produksi Padi dan Palawija Menurut Desa/Kelurahan di
Kecamatan Mendahara Ulu
Luas tanaman jagung di Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2016 seluas 162 hektar dengan produksi sebesar 648 ton. Luas tanaman kedelai tahun 2016 seluas 25 hektar dengan produksi 55 ton. Sedangkan luas tanaman ubi kayu, seluas 20 hektar dengan produksi sebesar 1.000 ton.
24
Tabel IV.12. Luas Tanam, Produksi Padi dan Palawija Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Komoditas Luas Tanam Tahun Lalu (ha)
Luas Tanam Tahun ini (ha)
Luas Tanam
Kumulatif (ha) Produksi (ton)
1. Padi 74 12 12 42 2. Padi Ladang - - - - 3. Jagung 160 162 162 648 4. Kedelai 54 25 25 65 5. Kacang Tanah 5 11 11 16.5 6. Kacang hijau - - - - 7. Ubi kayu 19 20 20 1000 8. Ubi jalar 1 30 - 75
4.5.3.
Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Sayuran di Kecamatan Mendahara
Ulu
Luas tanaman kacang panjang di Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2016 seluas 20 hektar dengan produksi sebesar 450 ton. Luas tanaman cabe besar tahun 2016 seluas 25 hektar dengan produksi 55 ton. Sedangkan luas tanaman ubi kayu, seluas 20 hektar dengan produksi sebesar 1.000 ton.
Tabel IV.13. Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Sayuran Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu
No. Komoditas Luas Tanam Tahun Lalu (ha)
Luas Tanam Tahun ini (ha)
Luas Tanam
Kumulatif (ha) Produksi (ton)
1. Kacang panjang - 20 20 450 2. Cabe besar - 4 4 175 3. Cabe rawit - 6 6 150 4. Jamur - 34 34 70 5. Terong - 2 2 0.7 6. Ketimun - 2 2 1.1 7. Kangkung - 1 1 0.3 Jumlah - 69 69 847.1
Sumber : Kantor BP3K Mendahara Ulu
25
4.5.4.
Jumlah Tanaman dan Produksi Buah-buahan di Kecamatan Mendahara
Ulu, 2016
Jumlah tanaman duku di Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2016 sebanyak 750 pohon dengan produksi sebesar 60 kuintal. Jumlah tanaman durian tahun 2016 sebanyak 3033 dengan produksi 36 kuintal. Sedangkan jumlah tanaman jeruk, seluas 30.262 tanaman dengan produksi sebesar 68 kuintal.
Tabel IV.14. Jumlah Tanaman dan Produksi Buah-buahan di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Komoditas Jumlah Tanaman (Pohon/ Rumpun) Produksi (kuintal) *)
1. Duku 750 60 2. Durian 3033 36 3. Jambu biji 290 4 4. Jeruk 30262 68 5. Mangga 193 13 6. Nangka 16349 216 7. Nenas 4104 12 8. Pepaya 987 6 9. Pisang 42100 1020 10. Rambutan 569 36 11. Petai 688 11
Sumber : Kantor BP3K Mendahara Ulu
4.5.5.
Komoditas Pertanian Utama Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan
Mendahara Ulu
Komoditas pertanian unggulan setiap desa di Kecamatan Mendahara Ulu hingga tahun 2016 adalah kelapa sawit, karet, kelapa dalam dan pinang.
Tabel IV.15. Jumlah Tanaman dan Produksi Buah-buahan di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Desa/Kelurahan Sumber Penghasilan Komoditas/Produk Unggulan 1. Desa Bukit Tempurung Perkebunan Rakyat Kelapa Sawit & Karet 2. Desa Sungai Toman Perkebunan Rakyat Kelapa Sawit & Karet 3. Kelurahan Simpang Tuan Perkebunan Rakyat Kelapa Sawit & Karet
4. Desa Pematang Rahim Perkebunan Rakyat Sawit
5. Desa Sinar Wajo Perkebunan Rakyat Pinang & Kelapa Sawit 6. Desa Sungai Beras Perkebunan Rakyat Kelapa Dalam & Kelapa Sawit
26
Perkebunan masyarakat desa Sinar Wajo mayoritas ditanami oleh tanaman tahunan seperti pinang, kopi, kelapa, kelapa sawit dan ada juga beberapa petani membudidayakan pisang dan mahang sebagai tanaman selingan di lahannya.
4.5.6.
Jumlah Kelembagaan Pertanian Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan
Mendahara Ulu
Kelembagaan pertanian yang ada di Kecamatan Mendahara Uluu terdiri dari Koperasi 4 unit, penyuluh pertanian 7 orang dan kelompok tani sebanyak 92 kelompok.
Tabel IV.16. Jumlah Kelembagaan Pertanian Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, Tahun 2016
No. Desa/Kelurahan Bank Koperasi Penyuluh
Pertanian Jumlah Kelompok Tani 1. Desa Bukit Tempurung - - 1 9
2. Desa Sungai Toman - 2 1 15
3. Kelurahan Simpang Tuan - 1 1 13 4. Desa Pematang Rahim - 1 1 14
5. Desa Sinar Wajo - - 1 13
6. Desa Sungai Beras - - 1 13
7. Desa Mencolok - - 1 15
Jumlah - 4 7 92
4.6.
Iklim
Kondisi iklim di desa Sinar Wajo diklasifikasikan sebagai iklim tropis. Terdapat curah hujan yang signifikan sepanjang tahun. Iklim dianggap menjadi Af menurut klasifikasi Koppen-Geiger. Suhu rata-rata tahunannya adalah 26,9 ºC dan presipitasi rata-rata tahunannya adalah 2401 mm, sedangkan menurut BMKG tahun 2018, suhu rata-rata dalam lingkup kabupaten Tanjung Jabung Timur berkisar 30-32 ºC (Climate-data.org, 2019; BMKG, 2018).
27
Tabel IV.17. Kondisi Suhu dan Curah Hujan Tahun 2018
Suhu/ Curah Hujan
Jan Feb Mart April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des
Suhu rata2 (oC) 26,3 26,6 27 27,3 27,4 27,1 26,8 27 27,1 27,1 26,9 26,7 Suhu Min (oC) 22,5 22,6 22,7 23,1 23 22,8 22,3 22,5 22,5 22,6 22,6 22,8 Suhu Max (oC) 30,1 30,7 31,3 31,6 31,8 31,5 31,4 31,6 31,7 31,6 31,2 30,6 Curah hujan (mm) 277 211 252 236 179 123 103 141 158 212 249 260
28
V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Koordinasi dengan para pihak (Stakeholders) di Provinsi Jambi
Dalam memulai kegiatan dilakukan, Tim Peneliti Gambut Paludikultur ITB bersama tim peneliti gambut dari IPB, dan Universitas Jambi melakukan koordinasi dengan koordinasi dengan Balai Pengelolaan Daerah Alira Sungai dan Hutan Lindung Batanghari dan Balai Konservasi
Sumberdaya Alam Provinsi Jambi.
5.2.
Survey Sumber Benih Dan Bibit Pinang Varietas Betara
Dalam rangka membangun Demplot Kebun Benih Pinang Varietas Batara di Desa Sinar Wajo, diawali dengan melakukan survei benih dan bibit pinang varietas Batara. Diawali dengan melakukan koordinasi dengan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, kemudian dilakukan survei kebun benh sumber benih pinang varietas Betara. Sumber benih yang digunakan adalah pinang varietas Betara berasal dari beberapa pohon induk pinang milik warga di Kecamatan Betara Kabupaten Tanjungjabung Barat Provinsi Jambi.
Gambar V.1. Diskusi Tim Paludikultur Gambut ITB, IPB dan Universitas Jambi dengan Kepala BPDAS HL Batanghari (a) dan BKSDA Provinsi Jambi (b)
29
5.3. Pembangunan Demplot Sumber Benih Pinang Unggul Varietas Betara
5.3.1. Kegiatan Pembangunan Demplot
Luas areal demplot kebun benih pinang varietas Betara adalah 1 ha di lahan miliki Haji Lukman di Desa Sinar Wajo Kecamatan Tanjung Jabung Timur. Adapun tahapan pembangunan sumber benih pinang adalah sbb:
1) Pembuatan desain penanaman (Gambar 4.3)
Mengacu pada metode penelitian, maka di lapangan dilakukan pembuatan desain penanaman. Mengingat bahwa lokasi penenaman ini tidak tersedia lahan terbuka, maka lokasi demplot ditanami di lokasi kebun sawit yakni diantara larikan tanaman kebun sawit. Adapun rancangan pembangunan sumber benih pinang unggul varietas Betara menggunakan Rancangan Acak Berblok (Randomize Block Designi/RCBD), terdiri dari 4 treeplot dan 5 ulangan/blok), jumlah seedlot sebanyak 4. Jarak tanam pinang adalah 2,5 m x 2 m. Penanaman treeplot system persegi (square). Jarak antar blok 6 m dan jarak dari tepi demplot 3 m. Tanaman pinang tersebut ditanam di Lorong tanaman sawit.
Adapun Seedlot yang ditanam berasal dari Desa Tanjungbunga Kecamatan Betara Kabupaten Tanjungjabung Barat Provinsi Jambi, dengan asal seedlot berasal dari petani penangkar yakni
30
Gambar V.3. Desain Tanaman pada PU
S1 (Haji Bain), S2 (Acil), S3 (Retno), dan S4 (Eko). Untuk lebih jelasnya rancangan pembangunan sumber benih pinang sebagaimana gambar berikut.
2) Pengukuran lokasi dan plotting desain di lapangan
Dalam melakukan stake-out rancangan demplot, maka dilakukan pengukuran lokasi dan plotting desain di lapangan. Adapun dokumen kegiatan pembangunan demplot kebun benih sebagaimana gambar-gambar berikut.
31
Gambar V.5. Penebasan Semak
Gambar V.6. Pemasangan Ajoir Tanaman 3) Penebasan semak belukar (Gambar 6)
Dalam mempersiapkan areal tanaman dilakukan pembersihan lapangan. Kegiatan pembersihan lapangan yang dilakukan adalah melakukan penebasan semak belukar dengan parang, Kemudian metode pembersihan lapangan juga menggunakan metode kimia dengan menggunakan herbisida.
4) Pemasangan ajir tanaman (Gambar 7) Untuk menandai titik-titik pembuatan lubang tanam, maka di lapangan
dilakukan dengan pemasangan ajir yang terbuta dari batang tanaman belukar yang ada dan batang pelepah sawit.
32
Gambar V.7. Pengankutan Bibit Pinang 5) Pengangkutan bibit dan benih pinang
Sumber benih untuk demplot kebun benih pinang unggul varietas Betara berasal dari Desa Bunga Tanjung Kecamatan Betara Tanjung Jabung Barat hingga ke lapangan. Ukuran bibit siap tanam memiliki ketinggian 50 cm dengan jumlah daun minimal 5 helai. Jumlah bibit yang ditanam sebanyak 25 x 5 x 4 + 20% (25 x 5 x4) = 600 batang. Jenis angkutan yang digunakan adalah mobil pick-up terbuka sampai Desa Sinar Wajo, kemudian diangkut melalui perahu menyebrang sungai Mendahara dan masuk melalui kanal utama ke lokasi tanaman.
Selain menggunakan bibit tanaman, kemudian dalam mensosialisasikan penggunaan bbit unggul dalam kegiatan budidaya pinang, dilakuka juga pembagian benih pinang unggul varietas Betara. Kemudian untuk menjadi sarana pendidikan bagi mahasiswa ITB, juga telah dilakukan pengadaan benih pinang unggul sebanyak 2500 biji untuk ditanami sebagai kebun benih di Hutan Pendidikan Gunung Geulis ITB berlokasi di Kabupaten Sumedang Jawa Barat.
33
Gambar V.9. Pembuatan Lubang Tanam
Gambar V.8. Benih Pinang Varietas Betara
6) Pembuatan lubang tanam dan kegiatan penanaman
Pada setiap ajir tanaman, dibuat lubang tanam. Adapun ukuran lubang tanam adalah 30 cm x 30 cm x 20 cm. Setelah selesai pembuatan lubang tanam kemudian dilakukan penanaman.
34
Gambar V.10. Penanamanm Bibit Pinang
Gambar V.11. Pemberian Mulsa Pada
Tanaman Pinang
8) Perlakuan mulsa
Perlakuan mulsa diberikan setelah bibit pinang ditanam. Perlakukan diberikan secara acak sesuai dengan rancangan percobaan yang telah dibuat sebelumnya. Terdapat empat buah perlakukan yaitu P1 perlakuan mulch mat tree (MMT), P2 perlakuan limbah sabut pinang (LSP), P3 perlakuan Llimbah pelepah pinang (LPP), dan P4 tanpa perlakukan mulsa (TPM) (Gambar 11).
35
5.3.2. Kegiatan Pembangunan Demplot
Untuk mengetahui pengaruh seedlot dan perlakuan mulsa terhadap pertumbuhan tanaman, telah dilakukan pengukuran tiga variabel yakni:
Pengukuran pertumbuhan tinggi batang tanaman pinang Pengukuran pertumbuhan diameter batang tanaman pinang
Pengukuran pertumbuhan jumlah daun tanaman pinang
Pengukuran jumlah gulma di sekitar tanaman pinang.
Pengukuran dilakukan setiap 1 minggu sekali, sehingga sampai akhir kegiatan telah dilakukan 12 kali pengamatan.
Adapun hasil pengukuran sebagaimana Lampiran 1.
5.3.3. Hasil Analisis Pertumbuhan Demplot
1) Pertambahan Tinggi Tanaman
Berdasarkan hasil pengukuran tinggi tanaman pinang sampai dengan 12 minggu setelah penanaman (MST), menunjukan bahwa seedlot S4 (ssedlot Eko) dan S1 (Seedlot Haji Bain) memiliki performa pertumbuhan tinggi paling baik dibanding seedlot lainnya, dengan pertambahan tinggi tanaman rata-rata masing-masing adalah 6.95 cm dan 6,9 cm.
36
Gambar V.13. Pertambahan Tinggi Tanaman Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST
2) Pertambahan Diameter Batang
Berdasarkan hasil pengukuran diameter tanaman pinang sampai dengan 12 minggu setelah penanaman (MST), menunjukan bahwa seedlot S2 (seedlot Acil) dan S3 (Seedlot Retno) memiliki performa pertumbuhan diameter paling baik dibanding seedlot lainnya, dengan pertambahan diameter batang tanaman rata-rata masing-masing adalah 4,75 mm dan 4,68 mm. 7.2 6.4 7.4 6.6 5 5 5 7 3.5 7.2 5.6 8.4 7.4 6.4 8.2 5.8 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 P1 P2 P3 P4
Pertambahan tinggi tanaman pinang umur 12 MST (cm)
37
Gambar V.14. Pertambahan Diameter Tanaman Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST
3) Pertambahan Jumlah Daun
Berdasarkan hasil pengukuran penambahan jumlah daun tanaman pinang sampai dengan 12 minggu setelah penanaman (MST), menunjukan bahwa seedlot S1 (Haji Bain) dan S3 (Seedlot Retno) memiliki performa pertumbuhan jumlah paling baik dibanding seedlot lainnya, dengan pertambahan daun tanaman rata-rata masing-masing adalah 1 helai daun.
3.1 2.8 4.8 4.1 4.8 4.9 4.7 4.6 3.6 5.4 3.9 5.8 2.9 2.8 2.7 3.1 0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 P1 P2 P3 P4
Pertambahan diamater batang tanaman pinang umur
12 MST (mm)
38
Gambar V.15. Pertambahan Jumlah Daun Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST
4) Penekanan jumlah gulma
Berdasarkan hasil pengukuran sementara, perlakukan pemberian mulsa mulch met tree mampu menekan pertumbuhan gulma radius 50 cm di sekitar batang tanaman pinang hingga 100%, sampai umur tanaman 12 MST. Namun demikian perlakukan ini belum memberikan pengaruh yang baik untuk pertumbuhan tanaman pinangnya.
Gambar V.16. Pertambahan Jumlah Daun Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 2 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 2 2 P1 P2 P3 P4
pertambahan jumlah daun tanaman pinang umur 12 MST
S1 S2 S3 S4 0 15 7 11 0 8 6 13 0 15 5 14 0 11 6 15 0 5 10 15 20 P1 P2 P3 P4
jumlah gulma di sekitar batang tanaman pinang
39
5) Persentase tumbuh
Berdasarkan hasil pengukuran jumlah tanaman pinang yang tumbuh, menunjuukan bahwa tiga jenis seedlot yakni seedlot S1 (Seedlot Haji Baun), S2 (Seedlot Acil), dan S4 (Seedlot Eko) memiliki persentase 100%, sedangkan seedlot S3 (Seedlot Retno) memiliki persentase 95%.
5.4.
Pengamatan Pengaruh Pasang Surut Terhadap Muka Air Tanah
5.4.1. Kegiatan pegukuran ketebalan gambut dan tinggi muka air tanah
Titik pengamatan dilakukan pada empat transek (R1, R2, R3, R4) yang dibuat tegak lurus kanal utama Sungai Mendahara. Jarak antar transek adalah 100 meter. Setiap transek berada di antara dua kanal sekunder Sungai Mendahara. Pada setiap transek dibuat titik- titik pengamatan yang berjarak 50 m masing-masing 10 titik pengamatan.
Gambar V.17. Persentase Pinang Unggul di Demplot Desa Sinar Wajo Umur 12 MST
40
Sampai akhir kegiatan telah dilakukan pengukuran ketebalan gambut satu kali sedangkan pengukuran tinggi muka air tanah dilakukan 21 kali pengamatan. Adapun hasil pengukuran ketebalan gambut sebagaimana tabel berikut.
Tabel V.1. Titik Pengamatan pada Transek 1
No Titik Koordinat Kedalaman Gambut (cm)
1 R1.1 01"09'13.3"S 103◦33'05.5"E 87 2 R1.2 01"09'14.7"S 103◦33'05.5"E 50 3 R1.3 01"09'16.4"S 103◦33'05.0"E 90 4 R1.4 01"09'18.1"S 103◦33'04.8"E 100 5 R1.5 01"09'19.8"S 103◦33'04.9"E 137 6 R1.6 01"09'21.2"S 103◦33'05.4"E 150 7 R1.7 01"09'22.8"S 103◦33'05.3"E 210 8 R1.8 01"09'24.3"S 103◦33'04.7"E 82 9 R1.9 01"09'25.8"S 103◦33'04.0"E 103 10 R1.10 01"09'26.4"S 103◦33'05.3"E 85 R2 R1 R3 R4 Jalur transek 50 m
Kanal primer Sungai Mendahara
41 Tabel V.2. Titik pengamatan pada Transek 2 (R2)
No Titik Koordinat Kedalaman Gambut (cm)
1 R2.1 01"09'11.9"S 103◦33'06.9"E 87 2 R2.2 01"09'13.6"S 103◦33'06.6"E 50 3 R2.3 01"09'15.3"S 103◦33'06.9"E 90 4 R2.4 01"09'16.9"S 103◦33'06.6"E 100 5 R2.5 01"09'18.5"S 103◦33'06.6"E 137 6 R2.6 01"09'20.1"S 103◦33'06.5"E 150 7 R2.7 01"09'21.8"S 103◦33'06.4"E 210 8 R2.8 01"09'23.3"S 103◦33'06.1"E 82 9 R2.9 01"09'24.9"S 103◦33'05.6"E 103 10 R2.10 01"09'26.4"S 103◦33'05.3"E 85
Tabel V.3. Titik Pengamatan pada Transek 3 (R3)
No Titik Koordinat Kedalaman Gambut (cm)
1 R3.1 01"09'13.9"S 103◦33'08.3"E 56 2 R3.2 01"09'15.0"S 103◦33'08.0"E 130 3 R3.3 01"09'16.8"S 103◦33'08.0"E 135 4 R3.4 01"09'18.4"S 103◦33'08.0"E 129 5 R3.5 01"09'20.1"S 103◦33'08.0"E 156 6 R3.6 01"09'21.7"S 103◦33'08.0"E 60 7 R3.7 01"09'23.4"S 103◦33'08.0"E 140 8 R3.8 01"09'25.0"S 103◦33'07.7"E 80 9 R3.9 01"09'26.5"S 103◦33'07.3"E 105 10 R3.10 01"09'28.2"S 103◦33'06.7"E 58
Tabel V.4. Titik Pengamatan pada Transek 4 (R4)
No Titik Koordinat Kedalaman Gambut (cm)
1 R4.1 01"09'15.8"S 103◦33'10.9"E 83 2 R4.2 01"09'17.3"S 103◦33'10.9"E 106 3 R4.3 01"09'19.0"S 103◦33'09.9"E 118 4 R4.4 01"09'20.7"S 103◦33'10"E 98 5 R4.5 01"09'22.4"S 103◦33'10.3"E 151 6 R4.6 01"09'24.13"S 103◦33'10.4"E 148 7 R4.7 01"09'25.8"S 103◦33'10.2"E 138 8 R4.8 01"09'27.4"S 103◦33'10.1"E 105 9 R4.9 01"09'29.1"S 103◦33'09.9"E 70 10 R4.10 01"09'30.7"S 103◦33'09.4"E 138
42
Hasil pengukuran tinggi muka air tanah dapat dilihat Pada Lampran 2.
5.4.2. Pengukuran elevasi tanah
Untuk memastikan terdapat benchmark terkait dengan ketinggi tempat sebagai dasar penentuan tinggi muka air tanah, telah dilakukan pengukuran elevasi (sipat datar) di lokasi pengamatan
muka air tanah gambut.
Tabel V.5. Hasil Pengukuran Elevasi Titik-Titik Pengamatan
Titik Pengamatan Koordinat Elevasi (m)
R1 RI_1 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RI_2 01"09'14.9"S 103◦33'05.5"E 10 RI_3 01"09'16.4"S 103◦33'05.0"E 8 RI_4 01"09'18.1"S 103◦33'05.0"E 8 RI_5 01"09'19.7"S 103◦33'05.0"E 7 RI_6 01"09'21.2"S 103◦33'05.4"E 9 RI_7 01"09'22.7"S 103◦33'05.3"E 11 RI_8 01"09'24.3"S 103◦33'04.8"E 8 RI_9 01"09'25.8"S 103◦33'04.1"E 10 RI_10 01"09'27.3"S 103◦33'03.5"E 13 R2 RII_1 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11
43
Titik Pengamatan Koordinat Elevasi (m)
RII_2 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_3 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_4 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_5 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_6 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_7 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_8 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_9 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 RII_10 01"09'11.9"S 103◦33'07.2"E 11 R3 RIII_1 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_2 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_3 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_4 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_5 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_6 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_7 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_8 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_9 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 RIII_10 01"09'13.8"S 103◦33'08.5"E 9 R4 RIV_1 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_2 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_3 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_4 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_5 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_6 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_7 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_8 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_9 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9 RIV_10 01"09'13.2"S 103◦33'05.6"E 9
5.4.3. Pengukuran curah hujan
Pengukuran curah hujan di lokasi penelitian di Desa Sinar Wajo selama periode penelitian tercatat sebanyak 8 kali pengamatan mulai dari 29 Juli sampai 2 Desember 2018. Bulan Juli sampai dengan Agustus mewakili musim kemarau dan September sampai Desember mewakili musim penghujan. Adapun hasil curah hujan yang teramati sebagaimana Gambar berikut.
44
Gambar V.20. Hasil Pengukuran Curah Hujan Selama Percobaan
5.4.4. Hubungan Curah Hujan dengan Tinggi Muka Air Tanah
Tinggi muka air tanah secara harian di lokasi penelitian sangat dipengaruhi oleh pasang surut sungai Mendahara yang masuk ke lokasi melalui kanal utama dan kanal cacing. Berdasarkan hasil pengamatan mengindikasikan bahwa pola kedalam muka air tanah di setiap jalur pengamatan muka air tanah semakin jauh dari permukaan air tanah semakin dekat dengan kanal utama semakin rendah. Kemudian muka air tanah juga mengalami penurunan pada saat musim hujan mulai turun. Pada saat musim kemarau sebelum terjadinya hujan, tinggi muka air tanah pada titik pengamatan 50 m adalah 50 cm mengindikasikan naik sampai jarak 250 m (5 titik pengamatan) mencapai kedalaman sekitar 70 cm, dan kemudian menurun kemabali pada jarak 250 m berikutnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh pasang surut pada titik 1 sampai titik 5, dipengaruhi muka air kanal utama di depan dan sisanya dipengaruhi oleh kanal sebelah belakangnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pasang surut air sungai Mendahara yang masuk kanal utama hanya sampai 250 m dari tepi kanal utama.
Sementara itu, curah hujan mempengaruhi tinggi muka air tanah. Pada terjadinya hujan mengindikasikan bahwa muka air tanah mengalami penurunan baik dekat kanal maupun jauh dari kanal. Dengan perbedaan tinggi muka air tanah berkisar 30 cm sampai 40 cm, mengindikasikan bahwa curah hujan lebih berpengaruh terhadap muka air tanah dibandingkan dengan pasang surut sungai Kendahara.
0 10 20 30 40 50 60 29/0 7/18 12/0 8/18 26/0 8/18 9/09 /18 23/0 8/18 23/0 8/18 9/9/ 18 23/9 /18 7/10 /18 Cu rah h u ja n l (m m )
45
Gambar V.21. Hubungan Antara Curah Hujan dan Tinggi Muka Air Tanah Lahan Gambut di Lokasi Penelitian 0 10 20 30 40 50 60 29/0 7/18 12/0 8/18 26/0 8/18 9/09 /18 23/0 8/18 23/0 8/18 9/9/ 18 23/9 /18 7/10 /18 Cu rah h u ja n l (m m ) -80.00 -70.00 -60.00 -50.00 -40.00 -30.00 -20.00 -10.00 0.00 29/07/18 12/08/18 '26/08/18 09/09/18 23/09/18 07/10/18 ked rerata gbt soil w at er le ve l (c m )
46
5.5. Penguatan Kapasitas Petani Kebun Lahan gambut
5.5.1. Karakteristik Petani Sampel
Petani sampel dalam menentukan jenis mata ajar pelatihan yang diperlukan dan untuk mengamati pola tanam sebanyak 7 petani dengan luas total kebun pengamatan adalah 9,1 ha. Kepemilikan lahan petani bervariasi dari 0,5 – 1,8 ha. Sedangkan kompoditas bernilai ekonomis yang ditanam adalah heterogen dengan pola tanam yang menjadi pengamatan adalah pola tanam kelapa sawit murni, pola tanam campuran kelapa sawt – pinang, pola tanam campuran kelapa – pinang, pola tanam campuran kopi – pinang dan pola tanam pinang murni.
Berdasarkan asal petani dapat dibedakan adalah penduduk pendatang dan penduduk asli, Penduduk pendatang sebanyak 4 orang (57%) dan penduduk asli 3 orang (43%). Secara lebih lengkap karakteristik petani kebun lahan gambut di lokasi penelitian seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel V.6. Karakteristik Petani Kebun Sampel
Nomor
Responden Usia jenis Kelamin Pendidikan Tanggungan
Luas Lahan
(ha) Pola Tanam Pendatang Asal
1 43 L SD 4 1,8 Sawit-Pinang Pendatang Jawa
Timur
2 43 L SD 4 1,8 Kopi - Pinang Pendatang Jawa
Timur
3 46 l SD 3 1,5 Sawit Pendatang Jawa
Timur
4 46 L SD 3 0,5 Pinang Pendatang Jawa
Timur
5 36 L SD 4 1,5 Sawit-Pinang Asli Jambi
6 36 L SD 2 1 Kelapa - Pinang Asli Jambi
7 38 L SD 3 1 Kelapa - Pinang Asli Jambi