V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.7. Rantai Pasok Komoditas Dari Lahan Gambut
A. Kelapa
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan pemilik lahan dan pekerja kelapa, didapatkan beberapa struktur rantai pasok dan informasi mengenai proses panen buah kelapa, yaitu sebagai berikut :
Pemilik Lahan
Pekerja
Panen Pengumpul Pabrik
Rp 5000 per kg
Rp 22.000 per karung
Gambar V.23. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kelapa
Proses awal panen pertama dilakukan pembersihan lahan dari semak menggunakan herbisida. Proses panen selanjutnya adalah pengambilan buah menggunakan sabit dan pengangkutan buah dengan memanfaatkan parit yang terdapat di lahan dengan cara dihanyutkan hingga ke bagian depan lahan. Pada bagian depan lahan, buah-buah kelapa dikupas dan dicungkil hingga menjadi kopra. Kopra kemudian dikemas ke dalam karung dan dijual ke pengumpul dengan harga 22.000 per karungnya. Pengumpul pada akhirnya menjual kopra-kopra ke pabrik. Hasil panen sampingan yang dapat dimanfaatkan dan dijual adalah batok kelapa sisa panen yang dijadikan arang kemudian dijual dengan harga 2000 rupiah per kilo.
50
B. Kelapa Sawit
Informasi didapatkan melalui wawancara mendalam kepada para petani sawit dan pengepul sawit dan observasi mengikuti proses panen kelapa sawit. Struktur rantai pasok yang didapat terdapat 2 jenis, yaitu sebagai berikut :
Struktur 1
Petani Pengumpul Pabrik
Rp 550 -700 per kg
Rp 1020-1040 per kg
Gambar V.26. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kelapa Sawit Pada Struktur 1
Panen kelapa sawit dilakukan oleh petani pemilik lahan dengan beberpa orang pekerja sesuai kebutuhan panen berkisar 2-4 orang. Buah kelapa sawit diambil menggunakan sabit atau dodos dari pohonnya. Buah kelapa sawit kemudian diangkut menggunakan gerobak dorong ke tepi kanal untuk dikumpulkan. Petani kemudian membawa hasil panen ke pengumpul menggunakan perahu pada saat kondisi kanal dalam keadaan pasang. Petani menjual hasil panennya kepada pengumpul dihargai 550 rupiah hingga 700 rupiah per kilo. Petani menanggung biaya angkut dan
Gambar V.25. Proses pengupasan, pencungkilan buah kelapa dan Proses pembuatan arang dari batok kelapa
51
biaya panen dari kebunnya. Biaya pekerja pembantu panen diberi upah 200.000 rupiah per ton buah kelapa sawit yang dipanennya dan biaya angkut menggunakan perahu yaitu 100.000 rupiah per ton. Beberapa petani di desa Sinar Wajo memiliki perahu sendiri untuk proses pengangkutan hasil panen, sehingga petani yang memiliki perahu pribadi tidak harus mengeluarkan biaya angkut hasil panennya. Pada tingkat pengumpul, kemudian hasil-hasil panen dijual ke pabrik dengan harga 1.020 rupiah hingga 1040 rupiah, namun pengangkutan menuju ke pabrik ditanggung oleh pengumpul. Pengumpul mengeluarkan biaya untuk upah penimbang sekaligus pekerja angkut dari tempat pengumpulan ke truk angkut yaitu sebesar 50 rupiah per kilo. Truk angkut menuju pabrik dengan muatan 9 hingga 10 ton dengan biaya angkut 120 rupiah per kilo.
Struktur 2 Petani Pengumpul 1 Pengumpul 2 Pabrik Rp 475 per kg Rp 600-700 per kg Rp 1020-1040 per kg
Gambar V.27. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kelapa Sawit Pada Struktur 2
Perbandingan antara struktur 1 dan struktur 2 adalah adanya satu rantai tambahan setelah petani. Proses panen sama hingga pengangkutan hasil panen ke tepi kanal. Di tepi kanal terdapat alat penimbang yang telah disediakan oleh pengumpul 1. Beberapa petani mengumpulkan hasil panennya di tempat tersebut. Pengumpul kemudian menimbang hasil panen setiap petani. Hasil panen dihargai 475 rupiah per kilo. Dengan harga jual hasil panen yang lebih rendah, petani tidak harus mengeluarkan biaya angkut menuju pengumpul 2 yaitu 100.000 per ton per sekali angkut. Pengumpul 1 kemudian bertugas mengangkut hasil-hasil panen petani ke pengumpul 2 atau TPH (Tempat Pengumpulan Hasil).
52
Gambar V.28. Kegiatan Pemanenan, Pengangkutan hasil panen dengan gerobak dorong ke tepi kanal
53
Gambar V.29. Proses penimbangan kelapa sawit oleh pengumpul 1 dilakukan di tepi kanal
Gambar V.30. Pengangkutan melalui Kanal Utama dan Sungai Mendahara menuju pengumpul
54
Gambar V.31. TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) sawit sebelum diangkut menuju pabrik
C. Kopi
Informasi diperoleh melalui wawancara mendalam kepada petani kopi observasi. Struktur rantai pasok yang didapat terdapat 1 jenis, yaitu sebagai berikut:
Petani Penggiling Kopi Pabrik
Rp 28.000 per kg
Rp 31.000 per kg
Gambar V.32. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Kopi
55
Proses panen kopi dilakukan dengan cara dipetik langsung di lahan dan dikumpulakan dengan menggunakan keranjang oleh petani. Kemudian buah-buah kopi yang telah di panen dikemas dalam karung berkukuran 50 kg untuk memudahkan pengangkutan. Pengolahan pascapanen yang dilakukan adalah menjemur kopi hingga kering. Proses selanjutnya adalah petani menjual buah kopi kering ke penggiling di desa lain yaitu desa Sungai Beras. Harga kopi kering per kilo dihargai 28.000 rupiah. Selanjutnya penggiling menjual biji kopi dalam bentuk green bean ke pabrik di kota Jambi seharga 31.000 rupiah per kilonya.
Gambar V.35. Proses penjemuran kopi Gambar V.34. Proses panen kopi di lahan oleh petani
56
D. Pinang
Informasi diperoleh dari wawancara mendalam dan observasi dengan petani, pengupas dan pengumpul pinang. Berikut merupakan beberapa struktur rantai pasok pinang dan proses panen pinang hingga export :
Struktur 1 Petani Pengumpul 1 Pengumpul 2 Export Rp 8000 per kg (basah) Rp 14.000 per kg (kering) Rp 16.000 per kg (basah) Rp 28.000 per kg (kering)
Gambar V.36. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Pinang Pada Struktur 1
Rantai pasok struktur 1, lahan tanaman pinang dimiliki oleh petani pribadi. Proses pra panen hingga pascapanen pun dilakukan oleh petani sendiri. Proses pra panen, petani melakukan pembersihan lahan terlebih dahulu untuk memudahkan proses panen. Proses panen petani kini dilakukan pengambilan buah buah pinang yang telah berjatuhan di lahannya. Kemudian hasil panen dikemas dalam karung bermuatan 14 hingga 18 kilo. Proses selanjutnya adalah pengangkutan karung hasil panen ke rumah petani untuk dilakukan pengupasan. Beberapa petani melakukan penjemuran hingga kering kurang lebih 5 hari (bergantung pada cuaca) dan kemudian dijual ke pada pengumpul.
57
Gambar 16. Proses penjemuran pinang oleh petani Struktur 2
Petani Pengupas Pengumpul
1 Pengumpul 2 Export Rp 2000 per kg Rp 8000 per kg Rp 16.000 per kg
Gambar V.37. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Pinang Pada Struktur 2
Rantai pasok struktur 2, petani bertindak sebagai pengelola lahan dan melakukan panennya sendiri. Hasil panen yang telah dikumpulkan dan dikemas dalam karung kemudian diberikan kepada pengupas dengan upah kupas 2.000 rupiah per kilo. Setelah buah pinang dikupas, petani menjual hasilnya kepada pengumpul 1.
58
Gambar V.39. Gudang Penyimpanan Pinang Milik Pengumpul
Struktur 3 Pemilik
Lahan Pemanen Pengupas
Pengumpu l 1 Pengumpu l 2 Eksport Rp 10.000 per karung Rp 1.500 – 2000 per kg Rp 8000 per kg (basah) Rp 14.000 per kg (kering) Rp 16.000 per kg (basah) Rp 28.000 per kg (kering)
Gambar V.40. Nilai Tambah dari Rantai Pasok Komoditas Pinang Pada Struktur 3
Rantai pasok struktur 3 merupakan rantai yang terpanjang. Pemilik lahan tidak banyak melakukan kegiatan pengelolaan lahan. Proses penanenan diberikan sepenuhnya kepada buruh dan diberi upah. Selanjutnya pemanen memberikan buah pinang yang telah dikemas dalam karung kepada pengupas yang diberi upah oleh pemilik lahan dari hasil panen. Pengupas kemudian menjual hasil buah pinang yang telah dikupas kepada pengumpul.
59