• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA DITINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA (Emotional Intelligence in Student Review from Peer Social Support)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA DITINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA (Emotional Intelligence in Student Review from Peer Social Support)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

319 KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA DITINJAU DARI

DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA

(Emotional Intelligence in Student Review from Peer Social Support) HERDI KURNIAWAN

Fakultas Psikologi Universitas Semarang Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecerdasan emosional pada siswa. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecerdasan emosional siswa. Subjek yang digunakan dalam penelitian berjumlah 60 siswa SMA Sultan Agung Semarang. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel cluster random sampling.

Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan dua skala, yaitu Skala Kecerdasan Emosional dan Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Teknik Analisis Korelasi Product Moment.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecerdasan emosional siswa. yang ditunjukkan dengan nilai rxy = 0,333 p = 0,009 (p < 0,01), sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima.

Kata kunci: kecerdasan emosional, dukungan sosial teman sebaya Abstract

The purpose of the study was to know a corelation between peer social support and the emotional intelligence in student. The hypothesis of the study, there is a positive corelation between peer social support with the emotional intelligence in student. The subject of this study were consisted of 60 student of SMA Sultan Agung Semarang. The study used cluster random sampling technique. The data of this study was collected by using two scales, emotional intelligence and peer social support scale. Data analysis was conducted by using Product Moment Correlation techniques.

The result shows that there is a positive corelation between peer social support and emotional intelligence in student, indicated by rxy = 0,333 p = 0,009 (p < 0,01) so the hypothesis in this study was received.

(2)

320 Pendahuluan

Pendidikan nasional berakar pada kebudayaan nasional serta berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Undang-Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan nasional Bab I Pasal 1 yang menyebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar untuk mempersiapkan siswa, melalui kegiatan bimbingan pengajaran, atau latihan demi kepentingan siswa di masa mendatang.

Tujuan Pendidikan Nasional adalah mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani serta mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat dan negaranya (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 4). Berdasarkan pengertian dan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka tujuan pendidikan di sekolah adalah membantu siswa di dalam mencapai perkembangan yang optimal. Untuk mewujudkan perkembangan yang optimal, peranan bimbingan dan konseling di sekolah sangat strategis, sebab bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka mencapai perkembangan yang optimal. Salah satu perkembangan yang harus

dapat dicapai oleh siswa adalah perkembangan emosi. Siswa dituntut untuk dapat menunjukkan kecerdasan emosional yang baik, sehingga dapat menunjukkan penyesuaian yang baik dalam mengatasi permasalahan yang datang dalam kehidupannya.

Konsep kecerdasan emosional pertama kali dicetuskan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995. Hernstein dan Murray (dalam Goleman, 2002: 45) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. Individu yang cakap secara emosional mengetahui dan menangani perasaan sendiri dengan baik, dan mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan (Goleman, 2002: 48). Unsur dalam kecerdasan emosional yang menarik adalah adanya kemampuan menghadapi kegagalan dan meraih kesejahteraan. Kecerdasan emosional menjadikan individu mampu memperkecil perasaan gelisah, mengendalikan emosi optimis dan mampu konsentrasi dan perhatian (Mubayidh, 2007: 23).

Winarsih, dkk (2008: 2) menyatakan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh terhadap bagaimana cara individu berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Ketidakmampuan

(3)

321 mengendalikan emosi merupakan pertanda bahwa

kecerdasan emosional individu buruk. Individu yang memiliki kecerdasan emosional baik kemungkinan besar bisa melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya. Begitu juga sebaliknya, individu yang kecerdasan emosionalnya buruk kemungkinan besar mengalami kesulitan dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Hasil penelitian yang dilakukan Alfiah, dkk (2013: 67) tentang gambaran kecerdasan emosional dan prestasi belajar pada siswa menunjukkan bahwa kecerdasan emosional pada siswa berada pada kategori sedang dan berdampak pada prestasi belajar yang juga berada pada kategori sedang. Meskipun rata-rata kecerdasan emosional berada pada kategori sedang, namun masih terdapat siswa yang memiliki kecerdasan emosi rendah. Hasil penelitian tersebut memberi gambaran pentingnya kecerdasan emosional bagi kesuksesan siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga siswa diharapkan dapat menunjukkan kecerdasan emosional dalam kehidupannya.

Fakta yang diungkap peneliti berdasarkan analisis terhadap hasil pengambilan data awal dengan wawancara yang dilakukan pada tanggal 8 Oktober 2013 terhadap tiga orang siswa SMA Sultan Agung 1 Semarang, diketahui bahwa siswa masih kesulitan dalam menunjukkan kecerdasan emosional. Kondisi tersebut ditandai dengan kesulitan yang ditunjukkan siswa dalam membina hubungan dengan lingkungan, mudah merasa tertekan ketika suatu masalah dalam kehidupan

siswa, kurangnya rasa peka yang dimiliki siswa terhadap kesulitan yang dialami oleh orang lain.

Amin (2003: 18-19) menyatakan bahwa kecerdasan emosional erat kaitannya dengan faktor pengaruh keluarga. Peran dan pengaruh keluarga sangat besar, baik positif (mendorong, mengembangkan, dan menguatkan) maupun melemahkan potensi kecerdasan individu. Berawal dari keluargalah lahirnya suatu kecerdasan emosional. Menurut Gottlieb (dalam Smet 1994: 135) dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal dan non verbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima. Ada beberapa jenis dari dukungan sosial yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informatif. Sarafino (dalam Smet 1994: 136-137) menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada kesenangan yang dirasakan, penghargaan akan kepedulian, atau membantu orang menerima dari orang-orang atau kelompok-kelompok lain. Selain itu, dukungan sosial juga berkaitan dengan adanya informasi langsung yang diberikan kepada individu terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Dukungan sosial yang diterima siswa, baik dari orangtua ataupun dari teman akan dapat menunjang pembentukan kecerdasan emosioanal yang dimiliki siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan Kumalasari dan Ahyani (2012: 28) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan

(4)

322 penyesuaian diri. Semakin tinggi dukungan sosial

maka semakin tinggi penyesuaian diri pada remaja, dan sebaliknya. Untuk mencapai penyesuaian diri yang maksimal, remaja juga memerlukan dukungan sosial dari orang-orang terdekat di lingkungannya yaitu, dari teman-temannya. Dukungan dari orang-orang terdekat berupa kesediaan untuk mendengarkan keluhan remaja akan membawa efek positif, yaitu sebagai pelepasan emosi. Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran pentingnya dukungan sosial yang diberikan teman sebaya bagi kehidupan emosi individu. Siswa yang mendapatkan dukungan sosial dari teman sebaya akan dapat semakin memahami emosi yang dirasakan, sehingga dapat menunjukkan kecerdasan emosi.

Fakta lain yang diungkap peneliti berdasarkan analisis terhadap hasil pengambilan data awal dengan wawancara yang dilakukan pada tanggal 8 Oktober 2013 terhadap tiga orang siswa SMA Sultan Agung 1 Semarang, diketahui bahwa pada dasarnya siswa telah mendapatkan dukungan sosial dari teman sebaya ketika siswa mengalami kesulitan. Hal tersebut terlihat dari adanya kesediaan teman sebaya untuk memberikan penjelasan ketika siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan suatu tugas. Teman sebaya juga bersedia menjadi tempat berkeluh kesah dan bersedia memberikan saran kepada siswa mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya. Selain itu, teman sebaya juga senantiasa memberikan semangat agar siswa tetap rajin untuk belajar dan

mampu mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru.

Hasil penelitian yang dilakukan Puspitasari, dkk (2010: 11) tentang hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecemasan menjelang ujian nasional (UN) pada siswa SMA menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecemasan menjelang ujian nasional. Semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya, maka semakin rendah kecemasan menjelang ujian nasional. Siswa yang mendapatkan dukungan sosial yang tinggi dari teman sebayanya akan merasa bahwa dirinya dicintai, diperhatikan sehingga meningkatkan rasa harga diri siswa. Siswa akan memiliki rasa kepercayaan diri, keyakinan diri bahwa siswa mampu menguasai situasi dan memberikan hasil yang positif dalam hal ini adalah kecerdasan emosi. Dukungan sosial yang diterima siswa akan menjadikan siswa mampu mengelola emosi diri ataupun membaca situasi dalam lingkungan sosial, sehingga siswa dapat semakin menunjukkan kecerdasan emosional. Kenyataannya, siswa yang mendapatkan dukungan sosial dari teman sebaya namun masih saja kesulitan dalam menunjukkan kecerdasan emosional, seperti halnya adanya perasaan mudah terpuruk ketika sedang menghadapi masalah. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecerdasan emosional pada siswa?

(5)

323 Kecerdasan Emosional

Segal (1999: 6) menyatakan bahwa kecerdasan emosi yang tinggi membuat individu dapat mengalami berbagai perasaan secara penuh ketika perasaan itu muncul dan benar-benar membuat individu mengenali diri sendiri. Goleman (2002: 45) menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk menyikapi pengetahuan-pengetahuan emosional dalam bentuk menerima, memahami, dan mengelolanya (Mubayidh, 2007: 7). Kecerdasan emosional adalah kemampuan pribadi untuk membedakan dan menanggapi secara tepat suasana hati, kelakuan dan keinginan orang lain (Setiabudhi dan Hardywinoto, 2002: 52). Lebih lanjut Robbins dan Judge (2012 : 335) menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mendeteksi serta mengelola petunjuk-petunjuk dan informasi emosional.

Berdasarkan uraian tersebut diketahui bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengendalikan perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Aspek-aspek kecerdasan emosional

Salovey (dalam Goleman, 2002: 58-59) menggambarkan kecerdasan emosional dalam lima aspek, antara lain:

a. Mengenali emosi diri

Merupakan kesadaran diri, yang merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri.

b. Mengelola emosi

Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Individu yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. c. Memotivasi diri sendiri

Kemampuan memotivasi diri yang dimiliki individu akan menjadikannya lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang dikerjakan. d. Mengenali emosi orang lain

Empati, kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul dasar.

e. Membina hubungan

Individu yang hebat dalam membina hubungan akan sukses dalam bidang apa pun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain, adalah bintang dalam pergaulan.

(6)

324 Robbins dan Judge (2012 : 335) menyatakan

bahwa terdapat lima aspek dari kecerdasan emosional, yaitu:

a. Kesadaran diri

Kesadaran diri yaitu sadar atas apa yang dirasakan.

b. Manajemen diri

Manajemen diri adalah kemampuan mengelola emosi dan dorongan-dorongan sendiri.

c. Motivasi diri

Motivasi diri adalah kemampuan dalam menghadapi kemunduran dan kegagalan.

d. Empati

Empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

e. Keterampilan sosial

Keterampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi-emosi orang lain.

Berdasarkan pendapat para tokoh, dapat disimpulkan bahwa aspek- aspek kecerdasan emosional meliputi mengenali kemampuan emosi diri, mengelola emosi diri sendiri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain.

Dukungan Sosial

Gottlieb (dalam Smet, 1994: 135) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah informasi atau nasehat verbal dan non verbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran mereka mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima. Walen dan Lachman (2000: 7) menyatakan bahwa dukungan sosial terkait dengan

konsep kepedulian dan pengertian yang ditunjukkan kelompok kepada individu. Lebih lanjut Robert dan Greene (2009: 104) menyatakan bahwa dukungan sosial adalah suatu pemikiran terbaik sebagai suatu konstruk multidimensional yang terdiri dari komponen fungsional dan struktural. Dukungan sosial merujuk kepada tindakan yang orang lain lakukan ketika ingin menyampaikan bantuan.

Chaplin (2011: 495) menyatakan bahwa dukungan adalah mengadakan atau menyediakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dukungan juga berarti memberikan dorongan atau pengobatan semangat dan nasihat kepada orang lain dalam satu situasi pembuatan keputusan. Cohen dan Syme (1985: 5) menyatakan bahwa dukungan sosial penting bagi peningkatan motivasi individu. Santrock (2003: 548) menyatakan bahwa terdapat beberapa sumber dukungan sosial yang diterima individu, yaitu keluarga dan teman sebaya. Individu yang memiliki kawan-kawan yang baik dan membantu meringankan beban dari stres. Semiun (2006: 419) menyatakan bahwa ketiadaan dukungan sosial dapat menyebabkan depresi dan juga memperpanjang depresi.

Dalam penelitian ini, dukungan sosial adalah suatu fungsi pertalian atau ikatan yang terdiri atas informasi verbal atau non verbal yang mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku yang diberikan teman sebaya sehingga dapat membantu mengurangi beban permasalahan yang sedang dialami.

(7)

325 Jenis-Jenis Dukungan Sosial

Ada empat jenis dukungan sosial yang dikemukan oleh House (dalam Smet, 1994: 136-137). Jenis-jenis dukungan sosial tersebut antara lain:

a. Dukungan emosional

Mencakup ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian terhadap individu yang bersangkutan serta memberikan rasa aman, rasa saling memiliki dan rasa dicintai.

b. Dukungan penghargaan

Terjadi lewat ungkapan hormat atau penghargaan yang positif bagi individu, dorongan untuk maju atau gagasan perasaan individu dan perbandingan individu tersebut dengan individu yang lain yang kurang mampu atau lebih buruk keadaannya atau menambah penghargaan diri.

c. Dukungan instrumental

Mencakup bantuan langsung sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seseorang, seperti kalau orang-orang memberi pinjaman uang kepada orang itu atau menolong dengan pekerjaan pada waktu mengalami stres.

d. Dukungan informatif

Mencakup memberi nasehat, petunjuk-petunjuk atau saran-saran, dan umpan balik.

Roberts dan Greene (2009: 104) menyatakan beberapa jenis dukungan sosial, yaitu:

a. Dukungan emosional

Dukungan emosional berkaitan dengan adanya seseorang yang mendengarkan perasaan, menyenangkan hati atau memberikan dorongan.

b. Dukungan informasional

Dukungan informasional berkaitan dengan adanya seseorang yang mengajarkan sesuatu, memberi informasi atau nasihat, atau membantu membuat suatu keputusan utama.

c. Dukungan konkret

Dukungan konkret mengacu pada adanya seseorang yang membantu dengan cara yang kasat mata, meminjamkan sesuatu, memberikan informasi, membantu melakukan tugas atau mengambilkan pesanan.

Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis dukungan sosial, yaitu dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informatif, dan dukungan penghargaan.

Metode Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi di SMA Sultan Agung Semarang. Adapun kelas yang ada di SMA Sultan Agung Semarang, antara lain kelas X, kelas XI IPA, kelas XI IPS, kelas XII Bahasa, Kelas XII IPA dan Kelas XII IPS dengan jumlah siswa secara keseluruhan sebanyak 774 siswa.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan cluster random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data luas (Sugiyono, 2010: 83).

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian adalah Skala Kecerdasan Emosional dan Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya.

(8)

326 Teknik analisis data yang digunakan untuk

menguji hipotesis adalah teknik korelasi Product Moment dari Pearson. Korelasi ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara hubungan dukungan sosial teman sebaya sebagai variabel bebas dengan kecerdasan emosional.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh diketahui bahwa rxy = 0,333 p = 0,009 (p < 0,01) sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima. ada hubungan postif antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecerdasan emosional siswa. Semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya maka semakin tinggi kecerdasan emosional siswa, dan sebaliknya. Hasil penelitian ini mendukung pendapat yang diutarakan oleh Gottlieb (dalam Smet, 1994: 135) menyatakan bahwa dukungan sosial mempunyai manfaat dalam hal emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima. Lebih lanjut Chernis dan Goleman (2001: 255) menyatakan bahwa hubungan dengan individu lain berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan emosional. Dukungan sosial yang diterima siswa dari teman sebaya akan menjadikan siswa mampu mengekspresikan setiap bentuk kesulitan dan kebingungan, baik kepada orangtua ataupun teman sehingga siswa tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan tujuan untuk utama untuk mencapai keberhasilan. Siswa yang mendapatkan dukungan sosial dari teman sebaya akan semakin dapat menunjukkan kecerdasan emosional yang baik dalam menghadapi setiap tantangan yang muncul dalam kehidupannya.

Robert dan Greene (2009: 104) menyatakan bahwa dukungan sosial adalah suatu pemikiran terbaik sebagai suatu konstruk multidimensional yang terdiri dari komponen fungsional dan struktural. Dukungan sosial merujuk kepada tindakan yang orang lain lakukan ketika ingin menyampaikan bantuan. siswa yang mendapatkan dukungan sosial akan mengerti setiap tanggung jawabnya serta mampu menunjukkan kecerdasan emosional dalam mengatasi setiap tantangan yang muncul dalam kehidupan. Siswa SMA yang tergolong pada kategori remaja lebih memiliki hubungan yang dekat dengan teman sebaya dibandingkan dengan orangtua. Teman yang dapat memberikan dukungan kepada siswa di saat menghadapi kesulitan akan semakin meningkatkan kecerdasan emosional yang dimiliki siswa.

Walen dan Lachman (2000: 7) menyatakan bahwa dukungan sosial terkait dengan konsep kepedulian dan pengertian yang ditunjukkan kelompok kepada individu. Kecerdasan emosional penting bagi siswa, siswa yang mendapatkan dukungan sosial akan mengerti setiap tanggung jawabnya serta mampu menunjukkan kecerdasan emosional dalam mengatasi setiap tantangan yang muncul dalam kehidupan.

Berdasarkan hasil data penelitian yang diperoleh, variabel kecerdasan emosional diperoleh Mean Empirik sebesar 71,58, Mean Hipotetiknya sebesar 65 dan Standar Deviasi Hipotetiknya sebesar 13. Mean Empirik variabel Kecerdasan Emosional pada area (-) 1SD hingga (+) 1SD. Hal ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional

(9)

327 pada kategori sedang, bahwa siswa SMA Sultan

Agung Semarang cukup dapat memahami emosi dalam diri dan menggunakan emosi secara tepat dalam menghadapi situasi di lingkungan.

Pada variabel dukungan sosial teman sebaya diperoleh Mean Empirik sebesar 66,87, Mean Hipotetiknya sebesar 52,5 dan Standar Deviasi Hipotetiknya sebesar 10,5. Mean Empirik variabel dukungan sosial teman sebaya pada area (+) 1SD hingga (+)2SD dari Mean Hipotetiknya. Hal ini mengindikasikan bahwa dukungan sosial teman sebaya tergolong pada kategori tinggi. Hal ini berarti siswa bahwa SMA Sultan Agung Semarang mendapatkan dukungan, baik berupa informasi ataupun bantuan langsung dari teman sebaya ketika sedang menghadapi suatu permasalahan.

Sumbangan efektif variabel dukungan sosial teman sebaya terhadap kecerdasan emosional sebesar 11,1%. Sisanya sebesar 88,9% dari variabel lain seperti faktor internal, meliputi pengetahuan yang luas tentang kecerdasan, dan tingkat perkembangan otak, serta faktor eksternal, meliputi faktor keluarga, serta ketersediaan sarana yang menopang.

Kelemahan dalam penelitian ini adalah pada saat penelitian dimana siswa kurang dapat menunjukkan ketenangan, sehingga dikhawatirkan konsentrasi subjek dalam pengisian skala kurang terjaga. Hal tersebut hendaknya dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya agar tetap dapat mengendalikan suasana penelitian, sehingga ketenangan ketika siswa sedang mengerjakan skala tetap terjaga.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil simpulan ada hubungan positif antara dukungan sosial teman sebaya dengan kecerdasan emosional siswa. Semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya maka semakin tinggi kecerdasan emosional siswa, dan sebaliknya, sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima.

Daftar Pustaka

Alfiah, G., Opod, H., dan Sinolungan, J.S.V. 2013. Gambaran Kecerdasan Emosional dan Prestasi Belajar pada Siswa Negeri XI Manado. Jurnal e-Biomedik. Vol. 1. No. 1. Hal. 64-70. Manado: Fakultas Kedokteran Sam Ratulangi Manado.

Amin, R. M. 2003. Menjadi Remaja Cerdas: Panduan Melejitkan Potensi Diri. Jakarta: PT. Al-Mawardi Prima.

Chaplin, J. P. 2011. Kamus Lengkap Psikologi. Alih bahasa: Kartono. Jakarta: Bima Aksara. Cohen, S., dan Syme, S. L. 1985. Social Support

and Health. USA: Academic Press, Inc.

Goleman, D. 2002. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional Mengapa EI Lebih Penting dari pada IQ. Alih Bahasa: T. Hermayu. Jakarta: Gramedia.

Kumalasari, F., dan Ahyani, L. N. 2012. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan. Jurnal Psikologi Pitutur. Vol. 1. No. 1. Hal. 21-31. Kudus: Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus. Mubayidh, M. 2007. Kecerdasan dan Kesehatan

Emosional Anak: Referensi Penting bagi Para Pendidik dan Orang Tua. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

(10)

328 Puspitasari, Y. P., Abidin, Z., dan Sawitri, D. R.

2010. Hubungan antara Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Kecemasan Menjelang Ujian Nasional (UN) pada Siswa Kelas XII Reguler SMA Negeri 1 Surakarta. Jurnal Psikologi Undip. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.

Robbins, S. O., dan Judge, T. A. 2012. Perilaku Organisasi. Alih Bahasa: Diana Angelica, Ria Cahyani, dan Abdul Rosyid. Jakarta: Salemba Empat.

Roberts, A. R., dan Greene, G. J. 2009. Buku Pintar Pekerja Sosial. Alih Bahasa: Juda Damanik dan Cynthia Pattiasina. Jakarta: Gunung Mulia.

Santrock, J. W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Alih Bahasa: Dra. Shinto B. Adelar. Jakarta: Erlangga.

Segal, Jeanne. 1999. Meningkatkan Kecerdasan Emosional: Panduan Praktis. Alih Bahasa: Dian Paramesti Bahar. Bandung: Kaifa.

Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.

Setiabudhi, T., dan Hardywinoto. 2002. Anak Unggul Berotak Prima. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Grasindo.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: ALFABETA.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan nasional.

Walen dan Lachman. 2000. Social Support and Strain from Partner, Family, and Friends: Costs and Benefit for Men and Women in Adulthood. Journal of Social and Personal Relationship. Vol. 17. No. 1. Hal. 5-30.

London: SAGE Publication.

http://www.aging.wisc.edu/midus/findings/pdf s/260.pdf. Diakses pada tanggal 25 November 2013.

Winarsih, S., Dewi, K. N., Efris, K. S. 2008. Hubungan Tingkat Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Agresif pada Anak Jalanan di Alun-Alun Kota Malang. Laboratorium Mikrobiologi FKUB

Referensi

Dokumen terkait

Pembuatan artikel ilmiah yang baik dapat dilakukan dengan cara: Membuat kerangka tulisan, terlebih dahulu mencari target jurnal atau koferensi, menulis sesuai

Menurut Tjipto Atmoko, Standar Operasional Prosedur merupakan suatu pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai denga fungsi dan alat penilaian kinerja

umum pada Pasal 1211 KUH Perdata adalah pengadilan, bukan jawatan lelang 20. Pandangan di atas dapat disetujui mengingat tujuan diadakannya akta pengakuan utang yang

Dengan lahir Undang-Undang Jaminan Fidusia, yaitu dengan mengacu pada pasal 1 butir 2 dan 4 serta pasal 3 Undang-Undang Jaminan Fidusia, dapat dikatakan bahwa

PROYEK : ACCESS ROAD PLTA UPPER

Aktivitas Ekstrak Daun Gynura procumbens Sebagai Antiangiogenesis pada Membran Korio Alantois Telur Ayam Berembrio yang Diinduksi basic Fibroblast Growth Factor

Dari ilustrasi diatas dapat diketahui Enkripsi dengan algoritma Blowfish dipengaruhi panjang karakter pesan yang dikirim, waktu yang digunakan dalam dekripsi

Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih