AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan dan Agroteknologi Volume 18 Nomor 2 September 2017; ISSN : 1411-5336
PADI (Oriza sativa. L) DALAM OPTIMALISASI JUMLAH ANAKAN
Praptiningsih Gamawati Adinurani1), Sri Rahayu2) & Teguh Santoso3)
1,2,3Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun [email protected]
Abctract
Seedlings that are less appropriate at the time of planting move will affect the stagnation of growth and impact on the preparation of leaf chlorophyll for photosynthesis. The purpose of research to determine the number of tillers at leaf area index of various ages of move planting and the number of seedlings per plant (Oryza sativa L). The study used a split-plot design. The main plot was the number of seedlings per plant (1, 3, 5), sub-plot was seed age factor (dry seedlings 15 HSS, dried seedlings 18 HSS, wet seedlings 20 HSS and wet seedling 24 HSS). The result of a study showed that various of seed age were significantly different on leaf area but not significantly different on leaf area index. The number of seedling per plant were significantly different on leaf area and leaf area index. Average of plant height of wet seedling (96.71 cm) more high than dry seedlings (87.27 cm) but the increasing of plant height of dry seedlings (68.24 %) more than wet seedlings (57.29 %). There was significant interaction between various age of move planting and number of seedling at number of tillers
Keywords:
chlorophyl, rice, seed number per plant, seedling age, dry seedlings, wet seedlings
PENDAHULUAN
Lahan pertanian di Indonesia sudak tidak berbanding lurus lagi dengan capaian produksi yang memadai. Terbukti Indonesia belum mampu lagi berswasembada pangan. Hal tersebut diperparah pula dengan semakin meningkatnya alih fungsi lahan produktif pertanian menjadi lahan terbangun. Jika melihat Sumber Daya Alam (SDA) yang ada, tentunya faktor penyebab rendahnya produktivitas bukan disebabkan SDA melainkan oleh sistem pertanian yang selama ini dikerjakan oleh kebanyakan petani.
Strategi utama pemerintah dalam upaya peningkatan produktivitas padi
dilakukan melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi. Menurut Suwarno (2010) bahwa program intensifikasi dilakukan melalui penerapan teknologi varietas dan teknik budidaya untuk meningkatkan produktivitas lahan baik melalui peningkatan hasil per satuan luas maupun peningkatan intensitas tanam. Sedangkan. ekstensifikasi dilakukan dengan pembukaan lahan pertanaman padi baru melalui pembangunan jaringan irigasi dan pencetakan sawah baru, perluasan pertanaman padi gogo serta pembukaan lahan rawa.
Teknologi varietas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain penggunaan benih unggul bersertifikat, waktu pindah
66 AGRI-TEK, Volume 18 Nomor 2 September 2017 tanam bibit dan jumlah bibit yang digunakan.
Awalnya bibit padi banyak diusahakan dengan cara persemaian basah, namun akhir-akhir ini petani mulai melakukan persemaian padi dengan sistem kering. Persemaian basah adalah persemaian yang dilakukan pada lahan sawah di luar areal yang akan ditanami, biasanya dalam satu hamparan luas agar mudah pemeliharaannya. Sedang persemaian kering dilakukan di halaman atau pekarangan artinya tempat persemaian bisa jauh dari tempat bercocok tanam atau lahan sawah. Namun pemeliharaannya atau pengawasannya lebih terkontrol karena dekat dengan tempat tinggal dan pengangkutan ke sawah sangat mudah dengan cara digulung. Lain halnya dengan bibit persemaian basah harus dicabut saat pindah tanam.
Bibit merupakan tanaman muda yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman dan penting dalam mendapatkan tingkat produksi optimal. Oleh karena itu perlu diperhatikan penggunaan bibit dengan umur dan jumlah yang tepat. Secara umum yang sering digunakan untuk rekomendasi padi sawah adalah penggunaan bibit umur 21 hari setelah semai (HSS) dengan jumlah bibit 1-3 batang/rumpun. Namun demikian, penggunaan bibit lebih tua dari 21 HSS masih sering dilakukan petani bahkan ada yang lebih dari 30 HSS, dengan jumlah bibit yang lebih banyak antara (5-10) batang/rumpun (Burbey, dkk. 2014). Menurut Abdullah et al., (2000) bahwa penggunaan bibit padi umur lebih dari 30 HSS dengan jumlah bibit lebih banyak akan memberikan hasil kurang baik, karena bibit yang digunakan relatif tua. Hal ini mengakibatkan (a) tanaman beradaptasi lambat atau stagnasi pertumbuhan setelah pindah tanam lebih lama, (b) tanaman tidak seragam atau mempunyai anakan yang tidak seragam, (c) perakaran tanaman dangkal sehingga sulit memanfaatkan unsur hara yang lebih dalam sehingga tanaman padi tidak
tumbuh dengan baik setelah pindah tanam. Sebaliknya penggunaan bibit padi yang relatif muda (umur 10-15 HSS) akan membentuk anakan baru lebih seragam dan aktif, serta berkembang lebih baik. dikarenakan bibit muda lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan baru setelah pindah tanam (Kartaatmadja dan Fagi, 2000; dan Gani, 2003).
Melihat tahapan fase vegetatif tanaman padi maka jika bibit dipindah tanam sampai 30 HSS menjadikan fase vegetatif tanaman berkurang, dari (35-40) hari berkurang menjadi (25-30) hari. Masa vegetatif yang pendek tidak memberikan ruang/waktu bagi tanaman untuk berkembang normal. Hal ini berpengaruh pada pembentukan jumlah anakan yang tidak optimal. Lain halnya dengan fase semai sampai 15 HSS menjadikan fase vegetatif tanam lebih lama yaitu 40-45 hari. Hal ini memberi kesempatan tanaman untuk melakukan proses pertumbuhan, diferensiasi dan morfogenesis. Ke tiga proses tersebut secara bersama-sama menentukan bentuk dan wujud perkembangan tanaman.
Menurut Makarim dan Suhartatik (2009), anakan mulai tumbuh setelah tanaman padi memiliki 4 atau 5 daun. Anakan muncul dari tunas aksial pada buku batang dan. anakan pertama akan memunculkan anakan sekunder pada 30 hari setelah pindah tanam. Anakan terus berkembang sampai tanaman memasuki tahap pemanjangan batang.. Anakan aktif ditandai dengan pertambahan anakan yang cepat dan berlangsung sampai pembentukan anakan maksimal tercapai. Setelah anakan maksimal tercapai, sebagian dari anakan akan mati dan tidak menghasilkan malai. Seperti halnya dengan akar, perkembangan anakan berhubungan dengan perkembangan daun.
Daun merupakan bagian tanaman yang mengandung klorofil dan dapat melakukan fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat/ energi. Gambaran kandungan total klorofil daun tiap individu tanaman dapat
Volume 18 Nomor 2 September 2017,AGRI-TEK 67 diketahui dengan mengukur Indeks Luas
Daun (ILD). Permukaan daun yang semakin luas mengandung khlorofil lebih banyak. Kandungan khlorofil dalam daun dan indeks luas daun suatu tanaman akan berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan cahaya. Indeks luas daun merupakan hasil bersih asimilasi persatuan luas daun dan waktu. Laju pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh laju asimilasi dan ILD. Oleh karena itu perlu diketahui Indeks Luas Daun suatu tanaman. Menurut (Guswanto, 2009) bahwa laju asimilasi bersih yang tinggi dan indeks luas daun yang optimum meningkatkan pertumbuhan tanaman.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di lahan sawah irigasi Kelurahan Sewulan, Dusun Gender, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun pada ketinggian 96 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah grumusol. Pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan April 2017- Agustus 2017
Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) yang terdiri dari 2 faktor, yaitu umur saat pindah tanam dan jumlah bibit padi. Sebagai petak utama adalah Faktor jumlah bibit terdiri atas 3 taraf, yaitu: J1 = 1 batang bibit, J2 = 3 batang bibit, J3 = 5 batang bibit. Sedangkan anak petak adalah faktor persemaian terdiri atas 4 taraf yaitu: U1 = semai kering 15 HSS, U2 = semai kering 18 HSS, U3 = semai basah 20 HSS, U4 = semai basah 24 HSS. Pengamatan dilakukan pada 5 rumpun tanaman padi per petak yang dipilih secara acak pada variabel tinggi tanaman, luas daun, indeks luas daun., dan jumlah anakan. Luas daun (cm2) dihitung dengan rumus: L = p x l x FK Dimana: L = Luas daun p = Panjang daun l = Lebar daun FK = Faktor Koreksi = 0,910758
Indeks Luas daun dihitung menggunakan rumus: ILD = LD
A
Dimana : LD = Luas daun
A = Luas kanopi daun
Data hasil pengamatan dianalisis ragam untuk mengetahui signifikansi pengaruh dua faktor dengan program SPSS 21, dilanjutkan uji Duncan untuk mengetahui signifikansi perlakuan-perlakuan yang dicobakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Luas daun dan Indeks Luas Daun
Faktor umur bibit dan jumlah bibit tidak saling mempengaruhi terhadap luas daun maupun indeks luas daun. Namun masing-masing faktor berpengaruh nyata kecuali faktor umur bibit terhadap indeks luas daun seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Luas Daun dan Indeks Luas Daun pada Masing-masing Pengaruh Umur
Bibit dan Jumlah Bibit
Perlakuan Luas Daun (cm2) Indeks Luas Daun
U1 44,65a 0,02a
U2 45,85a 0,02a
U3 50,22b 0,02a
U4 50,24b 0,02a
Perlakuan Luas Daun (cm2) Indeks Luas Daun
J1 46,15a 0,02 ab
J2 50,28b 0,02 ab
J3 46,80a 0,01 a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf sama pada kolom sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%
Dari beberapa umur bibit, luas daun paling besar dicapai oleh daun pada bibit persemaian basah umur 24 HSS (U4) yang
68 AGRI-TEK, Volume 18 Nomor 2 September 2017 tidak berbeda dengan yang umur 20 HSS
(U3). Luas daun dari bibit persemaian basah lebih besar dibanding luas daun bibit persemaian kering. Meskipun bibit persemaian basah lebih lambat pindah tanamnya dibanding persemaian kering, namun bibit persemaian basah lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sawah tempat dimana bibit itu di budidaya sehingga mempunyai ukuran luas daun yang lebih besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Humphries dan Wheeler dalam Gardner (1991) yang menyatakan bahwa jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan. Tanaman akan melakukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan diluar dari tingkat optimum dan dapat menyelesaikan tahapan-tahapan fase pertumbuhan asal keadaan lingkungan tidak melebihi batas fisiologi. Dikaitkan dengan jumlah anakan pada persemaian basah U3J3 dan U4J3 yang lebih banyak pada awal pertumbuhan mempunyai jumlah daun yang terbentuk lebih banyak sehingga sebagian daun ternaungi kurang menerima cahaya matahari. Tanaman yang tumbuh pada lingkungan cahaya berintensitas rendah memiliki akar lebih kecil, jumlahnya sedikit dan tersusun dari sel berdinding tipis. Hal ini disebabkan terhambatnya translokasi hasil fotosintesis dari akar, mengakibatkan ruas batang menjadi lebih panjang tersusun dari sel-sel berdinding tipis, ruang antar sel lebih besar, jaringan pengangkut dan daun berukuran lebih besar. Demikian pula dengan jumlah bibit yang ditanam sebanyak 3 batang per tanam (J2) mempunyai luas daun paling besar dibanding dengan perlakuan jumlah 5 bibit per tanam (J3), terkait dengan penerimaan sinar matahari dan proses fotosintesis yang berpengaruh terhadap luas daun.
Menurut Atman (2007), penanaman bibit dengan jumlah yang relatif lebih banyak
menyebabkan terjadinya persaingan ketat antar tanaman padi (kompetisi inter spesies) untuk mendapatkan air, unsur hara, CO2, O2, cahaya dan ruang untuk tumbuh, sehingga pertumbuhan akan menjadi tidak normal. Hal ini berpengaruh pada tingkat perkembangan daun, terlihat pada luas daun dari tanaman dengan jumlah 5 bibit per tanam (J3) lebih kecil dibanding dengan luas daun tanaman dengan (J1) jumlah bibit 1 per tanam ( Tabel 1).
Jumlah bibit per tanam yang lebih banyak berkaitan dengan kerapatan tanaman. Kerapatan tanaman berhubungan erat dengan kerapatan daun yang berdampak pada semakin sedikitnya cahaya yang sampai ke lapisan bawah daun. Kondisi daun yang saling menaungi dapat dilihat berdasarkan nilai ILD. Nilai Indeks Luas Daun kurang dari satu (Tabel 1) selain daun tidak saling menaungi juga ditentukan faktor morfologi daun yaitu bentuk dan posisi daun. Indeks Luas Daun dari berbagai umur bibit tidak beda nyata, baik dari persemaian kering maupun persemaian basah. Artinya bahwa perkembangan pertumbuhan tanaman tidak berbeda nyata diantara umur bibit tanam. Tinggi Tanaman
Faktor umur bibit dan jumlah bibit tidak saling mempengaruhi terhadap tinggi tanaman. Namun masing-masing faktor berpengaruh nyata kecuali faktor jumlah bibit pada pengamatan 10 HST seperti terlihat pada Gambar 1 dan faktor umur bibit pada Gambar 2.
5
bahwa perkembangan pertumbuhan tanaman tidak berbeda nyata diantara umur bibit tanam.
Tinggi Tanaman
Faktor umur bibit dan jumlah bibit tidak saling mempengaruhi terhadap
tinggi tanaman. Namun masing-masing faktor berpengaruh nyata kecuali faktor jumlah bibit pada pengamatan 10 HST seperti terlihat pada Gambar 1 dan faktor umur bibit pada Gambar 2.
20 40 60 80 100 1 0 HST 2 0 HST 3 0 HST 4 0 HST 5 0 HST J1 J2 J3
Gambar 1. Rata-rata tinggi tanaman pengamatan 10 HST, 20 HST, 30 HST, 40 HST, dan 50 HST pada berbagai jumlah bibit (J) Rata-rata tinggi tanaman dari faktor
jumlah bibit mengalami peningkatan pada setiap tahap pengamatan. Penggunaan 5 bibit per tanam (J3), mempunyai tanaman paling tinggi di akhir pengamatan (50 HST) yaitu 95,07 cm dan pertambahan tinggi tanaman mencapai 61.82 %. Sedangkan pertambahan tinggi tanaman pada penggunaan 3 bibit per tanam (J2) dan 1 bibit per tanam (J1) masing-masing 60.55 % dan 59.85 %. Penggunaan 5 bibit per tanam (J3) menyebabkan kompetisi intra species pada masa vegetatif. Kerapatan tanaman menyebabkan terjadinya perubahan dalam pertumbuhan. Kompetisi intra species dapat berupa
kompetisi cahaya dimana suatu tanaman menaungi tanaman lain, atau suatu daun menaungi daun lain pada tanaman yang sama. Kompetisi cahaya menyebabkan pemanjangan ruas sebagai akibat meningkatnya jumlah sel yang terjadi di dalam meristem interkalar ruas. Pemanjangan ruas atau pertambahan tinggi tanaman dapat disebabkan oleh kegiatan auksin, suatu zat pengatur tumbuh alami dalam tanaman. Auksin akan menjalankan fungsinya dalam pemanjangan sel ke arah datangnya cahaya yang menyebabkan tanaman bertambah tinggi.
Volume 18 Nomor 2 September 2017,AGRI-TEK 69 pengamatan 10 HST, 20 HST, 30 HST, 40 HST,
dan 50 HST pada berbagai jumlah bibit (J) Rata-rata tinggi tanaman dari faktor jumlah bibit mengalami peningkatan pada setiap tahap pengamatan. Penggunaan 5 bibit per tanam (J3), mempunyai tanaman paling tinggi di akhir pengamatan (50 HST) yaitu 95,07 cm dan pertambahan tinggi tanaman mencapai 61.82 %. Sedangkan pertambahan tinggi tanaman pada penggunaan 3 bibit per tanam (J2) dan 1 bibit per tanam (J1) masing-masing 60.55 % dan 59.85 %. Penggunaan 5 bibit per tanam (J3) menyebabkan kompetisi intra species pada masa vegetatif. Kerapatan tanaman menyebabkan terjadinya perubahan dalam pertumbuhan. Kompetisi intra species dapat berupa kompetisi cahaya dimana suatu tanaman menaungi tanaman lain, atau suatu daun menaungi daun lain pada tanaman yang sama. Kompetisi cahaya menyebabkan pemanjangan ruas sebagai akibat meningkatnya jumlah sel yang terjadi di dalam meristem interkalar ruas. Pemanjangan ruas atau pertambahan tinggi tanaman dapat disebabkan oleh kegiatan auksin, suatu zat pengatur tumbuh alami dalam tanaman. Auksin akan menjalankan fungsinya dalam pemanjangan sel ke arah datangnya cahaya yang menyebabkan tanaman bertambah tinggi. 6 0 20 40 60 80 100 120 1 0 H S T H S T2 0 H S T3 0 H S T4 0 H S T5 0 U1 U2 U3 U4
Gambar 2. Rata-rata tinggi tanaman pengamatan 10 HST, 20 HST, 30 HST, 40 HST, dan 50 HST pada berbagai umur bibit (U) Rata-rata tinggi tanaman pada bibit
semai basah umur 24 HSS (U4) paling tinggi yaitu 96.71 cm yang tidak berbeda nyata dengan bibit semai basah umur 20 HSS (U3). Namun demikian, pertambahan tinggi tanaman paling besar pada bibit semai kering 15 HSS (U1) yaitu 68.24 % yang tidak berbeda dengan umur 18 HSS (U2) sebesar 63.39 % dibanding U3 dan U4 masing-masing sebesar 57.29 % dan 55.30 %. Umur bibit saat pindah tanam antar masing-masing asal bibit (semai basah maupun semai kering) tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap tinggi tanaman. Bibit semai basah setelah pindah tanam ke lahan sawah langsung mengalami proses pertumbuhan bibit yang merupakan fase juvenile yaitu fase awal penyempurnaan fungsi masing-masing organ. Fase berikutnya adalah fase muda dimana laju tumbuh mulai meningkat sehingga U4 mencapai tinggi tanaman paling tinggi pada pengamatan 50 HST meskipun pertambahan tinggi tanaman
paling rendah Lamanya fase ini tergantung faktor genetik dan perlakuan yang diberikan. Bibit semai kering, saat pindah tanam harus beradaptasi dengan lingkungan sawah. Setelah mengalami fase juvenile, bibit tanaman mengalami laju tumbuh yang cepat dimana secara morfologis masing-masing organ tanaman menuju pencapaian ukuran maksimum sehingga U1 mengalami peningkatan pertambahan palig tinggi.
Jumlah Anakan
Hasil analisis ragam semua variabel yang diamati menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara umur bibit saat pindah tanam dan jumlah bibit per tanam hanya pada variabel jumlah anakan umur 10, 30, 40 Hari Setelah Tanam (HST). Saling pengaruh antara umur bibit dan jumlah bibit per tanam variabel jumlah anakan pengamatan umur 10 HST, 30 HST dan 40 HST disajikan pada Gambar
3, 4, dan Gambar 5.
Gambar 2. Rata-rata tinggi tanaman pengamatan 10 HST, 20 HST, 30 HST, 40 HST,
dan 50 HST pada berbagai umur bibit (U)
Rata-rata tinggi tanaman pada bibit semai basah umur 24 HSS (U4) paling tinggi yaitu 96.71 cm yang tidak berbeda nyata dengan bibit semai basah umur 20 HSS (U3). Namun demikian, pertambahan tinggi tanaman paling besar pada bibit semai kering 15 HSS (U1) yaitu 68.24 % yang tidak berbeda dengan umur 18 HSS (U2) sebesar 63.39 % dibanding U3 dan U4 masing-masing sebesar 57.29 % dan 55.30 %. Umur bibit saat pindah tanam antar masing-masing asal bibit (semai basah maupun semai kering) tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap tinggi tanaman. Bibit semai basah setelah pindah tanam ke lahan sawah langsung mengalami proses pertumbuhan bibit yang merupakan fase juvenile yaitu fase awal penyempurnaan fungsi masing-masing organ. Fase berikutnya adalah fase muda dimana laju tumbuh mulai meningkat sehingga U4 mencapai tinggi tanaman paling tinggi pada pengamatan 50 HST meskipun pertambahan tinggi tanaman paling rendah Lamanya fase ini tergantung faktor genetik dan perlakuan yang diberikan. Bibit semai kering, saat pindah tanam harus beradaptasi dengan lingkungan sawah. Setelah mengalami fase juvenile, bibit ta-naman mengalami laju tumbuh yang cepat dimana secara morfologis masing-masing organ tanaman menuju pencapaian ukuran maksimum sehingga U1 mengalami pening-katan pertambahan palig tinggi.
Jumlah Anakan
Hasil analisis ragam semua variabel yang diamati menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara umur bibit saat pindah tanam dan jumlah bibit per tanam hanya pada variabel jumlah anakan umur 10, 30, 40 Hari Setelah Tanam (HST). Saling pengaruh antara umur bibit dan jumlah bibit per tanam variabel jumlah anakan pengamatan umur 10 HST, 30 HST dan 40 HST disajikan pada Gambar 3, 4, dan Gambar 5.
70 AGRI-TEK, Volume 18 Nomor 2 September 2017
7
Gambar 3. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 10 HST
Gambar 4. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 30 HST
Gambar 5. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 40 HST
Dari Gambar 3 terlihat pada awal penanaman (10 HST), jumlah anakan yang berasal dari bibit persemaian basah 20 HSS (U3) dan 24 HSS (U4) dengan 5 bibit lebih banyak dari bibit yang berasal dari persemaian kering dengan jumlah bibit yang sama.. Hal ini dikarenakan bibit yang berasal dari persemaian kering
perlu adaptasi lebih dahulu pada lingkungan lahan sawah sehingga di pertumbuhan awal, proses pemanjangan sel maupun pembelahan sel dan perkembangan sel lebih lamban yang berdampak pada pertumbuhan tunas juga pembentukan anakan.
Gambar 3. teraksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan
umur 10 HST
7
Gambar 3. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 10 HST
Gambar 4. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 30 HST
Gambar 5. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 40 HST
Dari Gambar 3 terlihat pada awal penanaman (10 HST), jumlah anakan yang berasal dari bibit persemaian basah 20 HSS (U3) dan 24 HSS (U4) dengan 5 bibit lebih banyak dari bibit yang berasal dari persemaian kering dengan jumlah bibit yang sama.. Hal ini dikarenakan bibit yang berasal dari persemaian kering
perlu adaptasi lebih dahulu pada lingkungan lahan sawah sehingga di pertumbuhan awal, proses pemanjangan sel maupun pembelahan sel dan perkembangan sel lebih lamban yang berdampak pada pertumbuhan tunas juga pembentukan anakan.
Gambar 4. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah
anakan umur 30 HST
7
Gambar 3. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 10 HST
Gambar 4. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 30 HST
Gambar 5. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah anakan umur 40 HST
Dari Gambar 3 terlihat pada awal penanaman (10 HST), jumlah anakan yang berasal dari bibit persemaian basah 20 HSS (U3) dan 24 HSS (U4) dengan 5 bibit lebih banyak dari bibit yang berasal dari persemaian kering dengan jumlah bibit yang sama.. Hal ini dikarenakan bibit yang berasal dari persemaian kering
perlu adaptasi lebih dahulu pada lingkungan lahan sawah sehingga di pertumbuhan awal, proses pemanjangan sel maupun pembelahan sel dan perkembangan sel lebih lamban yang berdampak pada pertumbuhan tunas juga pembentukan anakan.
Gambar 5. Interaksi jumlah bibit (J) dan umur bibit (U) terhadap rata-rata jumlah
anakan umur 40 HST
Dari Gambar 3 terlihat pada awal penanaman (10 HST), jumlah anakan yang berasal dari bibit persemaian basah 20 HSS (U3) dan 24 HSS (U4) dengan 5 bibit lebih banyak dari bibit yang berasal dari persemaian kering dengan jumlah bibit yang sama.. Hal ini dikarenakan bibit yang
berasal dari persemaian kering perlu adaptasi lebih dahulu pada lingkungan lahan sawah sehingga di pertumbuhan awal, proses pemanjangan sel maupun pembelahan sel dan perkembangan sel lebih lamban yang berdampak pada pertumbuhan tunas juga pembentukan anakan.
Pertumbuhan bibit merupakan fase awal juvenile yaitu fase penyempurnaan fungsi masing-masing organ tanaman antara lain radikel berkembang menjadi akar, plumula menjadi batang dan daun. Untuk tanaman padi yang memerlukan per-semaian terlebih dahulu, fase ini sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, pada fase ini perlu lingkunan (air, cahaya, nutrisi) baik yang nantinya akan menentukan kekuatan bibit untuk berkembang membentuk tunas atau anakan. Bibit persemaian kering yang telah beradaptasi dengan lingkungan lahan sawah menyebabkan jumlah anakan pada perlakuan sama mulai meningkat pada 30 HST (Gambar 4) dan terus meningkat sampai 40 HST (Gambar 5) yang jumlahnya lebih banyak dibanding persemaian basah. Hal ini ditunjang dengan umur pindah tanam bibit persemaian kering lebih muda dibanding bibit persemaian basah. Menurut Gani (2003) penggunaan bibit tanaman padi umur muda menyebabkan bibit tersebut lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan tumbuh, mempunyai perakaran yang lebih baik dan dalam, sehingga lebih efektif memanfaatkan hara dan dapat tumbuh lebih baik Demikian pula Kartaatmadja dan Fagi (2000) dan Gani (2003) menyatakan bahwa penggunaan bibit padi yang relatif muda (umur 10-15 HSS) akan membentuk anakan baru lebih seragam dan aktif, serta berkembang lebih baik. dikarenakan bibit muda lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan baru setelah pindah tanam
Volume 18 Nomor 2 September 2017,AGRI-TEK 71
KESIMPULAN
1. Umur bibit persemaian kering dan persemaian basah berpengaruh nyata terhadap luas daun dan berpengaruh tidak nyata terhadap Indeks Luas Daun. 2. Jumlah bibit per tanam berpengaruh
nyata terhadap luas daun dan Indeks Luas Daun
3. Rata-rata tinggi tanaman persemaian basah (96.71 cm) lebih tinggi dibanding rata-rata tinggi tanaman persemaian kering (87.27 cm).
4. Pertambahan tinggi tanaman persemaian kering (68.24 %) lebih tinggi dibanding persemaian basah (57.29 %)
5. Umur bibit tanaman dan jumlah bibit per tanam saling berpengaruh terhadap jumlah anakan
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. R. Munir, Z. Hamzah, S. Zen, dan A. Kanufi. 2000. Laporan tahunan hasil pengkajian intesifikasi padi sawah dalam pola labor lapang. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sukarami
Atman. 2007. Teknologi Budidaya Padi Sawah Varietas Unggul Baru Batang Piaman.Jurnal Ilmiah Tambuah, 6 (1): 58-64.
Burbey, Abdullah, S., Nieldalina. 2014. Pengaruh Umur dan Jumlah Bibit pada Padi Sawah Varietas Umur Genjah di Sitiung. http://sumbar.litbang. pertanian.go.id/index.php/publikasi-1/40-k ar ya-ilmiah-peneliti- dan- penyuluh/695-pengaruh-umur-dan- jumlah-bibit-pada-padi-sawah-varietas- umur-genjah-vug-dan-sangat-genjah-v-usg-di-sitiung. Diakses Nopember 2015
Gani, A. 2003. Sistem Intensifikasi Padi (System of Rice Intensification) Pedoman Praktis Bercocok Tanam Padi Sawah dengan Sistem SRI.
Gardner, F.P., R. B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI-Press..
Guswanto. 2009. Teknik Pengukuran Luas Daun. Materi Teknik Pengukuran Luas Daun.
Kartaatmadja, S. dan A. M. Fagi. 2000. Pengelolaan Tanaman Terpadu, Konsep dan Penerapan. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV. Hal. 75-89 Makarim, A.K. dan E. Suhartatik. 2009.
Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi. http://www.litbang.pertanian.go.id/ special/padi/bbpadi_2009 _itkp _11.pdf Suwarno. 2010. Meningkatkan Produksi Padi
Menuju Ketahanan Pangan yang Lestari. Pangan Vol. 19 No. 3. Hal: 233-243