1 BAB I
PENGANTAR
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini, Program Pangan se-Dunia (World Food Program, WFP) telah melakukan kampanye besar-besaran guna mengantisipasi secara sistematis krisis pangan global (global food insecurity) sekaligus untuk mensiasati kerawanan pangan yang lebih akut yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020. Secara nasional kerawanan pangan tersebut sudah terindikasi dengan semakin menurunnya produk pangan Indonesia. Besarnya permintaan produk pangan sangat jauh melebihi dari produksi pangan yang dilakukan. Berangkat dari pernyataan tentang antisipasi kerawanan pangan, dimana pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling azasi, sehingga ketersediaan pangan bagi masyarakat harus selalu terjamin untuk mencapai kualitas hidup yang maju, mandiri, dalam suasana tentram, serta sejahtera lahir dan batin.
Gelombang krisis pangan dan bahaya kelaparan senantiasa membayangi dunia dari waktu ke waktu. Ledakan penduduk juga semakin memicu membumbungnya kebutuhan pangan. Selain itu, problematika kegagalan produksi pangan akibat perubahan iklim global dan relatif rendahnya komitmen pemerintah telah memperparah ketersediaan pangan. Meskipun beberapa kali diselenggarakan perhelatan akbar The World Summit on Food Security atas prakarsa Badan Pangan
Dunia (Food and Agriculture Organization, FAO-UN) yang berupaya mencari solusi krisis pangan dunia namun belum banyak kemajuan nyata yang dicapai. Masih sangat sulit merumuskan kesepakatan dan momentum kuat bagi bantuan dana internasional baik dari negara-negara maju maupun lembaga internasional untuk penanggulangan krisis pangan dunia (Subejo, 2012: 45).
Pesan kuat dan pelajaran berharga yang bisa diambil para pemimpin negara berkembang adalah membangun komitmen dan upaya yang mendasar di masing-masing negaranya untuk menggalang investasi pertanian yang memadai. Mengharapkan sepenuhnya pada itikad baik negara maju telah terbukti bukan jalan keluar yang bisa diandalkan. Ketahanan pangan dunia di masa mendatang akan menjadi salah satu isu terpenting yang harus mendapatkan perhatian dari setiap pemimpin negara dan komponen bangsa. Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan persoalan pangan dunia semakin rumit yaitu: pertama, pertumbuhan penduduk yang pesat, kedua, kegagalan produksi pangan karena dampak perubahan iklim global dan ketiga, terpinggirkannya kebijakan investasi pertanian (Subejo, 2012:46).
Ketahanan pangan sangat penting untuk membentuk manusia yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera melalui perwujudan ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di seluruh wilayah dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Ketahanan pangan tersebut akan terwujud
apabila seluruh penduduk mempunyai aksesabilitas secara fisik dan ekonomi terhadap pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya (Khomsan, 2000: 54).
Ketahanan pangan merupakan salah satu wujud upaya yang berperan penting dalam menjaga stabilitas ketahanan nasional yang memiliki unsur tri gatra (geografi, demografi dan sumber daya alam) serta panca gatra (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan). Selanjutnya Undang Undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang mengartikan ketahanan pangan sebagai “kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”, memuat aspek makro yaitu tersedianya pangan yang cukup dan sekaligus aspek mikro yaitu setiap rumah tangga dapat menjangkau pangan untuk menjalani hidup sehat dan aktif.
Berkembangnya lingkungan strategi global dan domestik, terutama dengan berubahnya manajemen pembangunan ke arah yang lebih desentralistis, demokratis, dan lebih terbuka pada ekonomi pasar yang kompetitif, penyempurnaan arah dan pendekatan pembangunan ketahanan pangan telah dilakukan melalui pengembangan paradigma baru pengembangan ketahanan pangan. Pengembangan paradigma tersebut berupa: (1) pendekatan pengembangan dari ketahanan pangan pada tataran makro/agregat menjadi ketahanan pangan rumah tangga; (2) pendekatan manajemen
pembangunan dari pola sentralistis menjadi pola desentralistis; (3) pelaku utama pembangunan dari dominasi peran pemerintah menjadi dominasi peran masyarakat; (4) keterjangkauan rumah tangga atas pangan dari penyediaan pangan murah menjadi peningkatan daya beli; (5) perubahan perilaku keluarga terhadap pangan dari sadar kecukupan pangan menjadi sadar kecukupan gizi (Krisnamurti, 2012: 69).
Kondisi yang sangat ideal seperti yang dipaparkan di atas, kini dapat dilihat kondisi yang terjadi di Indonesia terkait ketahanan pangan. Indonesia sebagai Negara yang berdaulat memiliki keunggulan sebagai negara agraris, hal ini tentunya memiliki andalan dalam bidang pertanian. Problematika pembangunan pertanian memang sangat rumit dan saling berkaitan. Kebijakan yang tidak tepat akan berakibat sangat fatal dan bisa memperburuk kondisi petani sehingga akan lebih menderita lagi. Dengan mempertimbangkan kekayaan potensi sumber daya baik fisik maupun manusia kita sebenarnya bisa cukup optimis menuju kebangkitan dan kejayaan pertanian yang akhirnya akan membawa peningkatan taraf hidup pelaku utamanya yaitu petani (Subejo, 2012:13).
Hal yang paling mendasar adalah komitmen dan goodwill segenap komponen bangsa untuk mengembalikan momentum pembangunan pertanian sebagai penggerak ekonomi bangsa. Kemauan politik dan keberpihakan negara dan politisi menjadi salah satu penentu kebangkitan pertanian. Keunggulan sektor pertanian juga merupakan hal yang fundamental mengenai perekonomian yang perlu didayagunakan melalui pembangunan ekonomi, sehingga perekonomian yang dikembangkan di Indonesia
memiliki landasan yang kokoh pada sumber daya dalam negeri, memiliki kemampuan bersaing dan berdaya guna bagi seluruh rakyat mengingat sektor pangan merupakan sektor yang strategis dalam menopang perekonomian nasional.
Pemantapan ketahanan pangan hendaknya dikembangkan secara
bersamaan/simultan dengan pembangunan sektor lain. Namun kenyataannya sampai saat ini Indonesia secara ekonomi khususnya komoditas tanaman pangan belum mandiri, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah banyak tidak berpihak terhadap masyarakat tani, bahkan sangat ironis komoditas pertanian tertentu seperti padi, kedelai dan jagung masih harus diimpor dari negara lain. Padahal jika dilihat dari potensi wilayah dan sumber daya alam dalam sektor pertanian, Indonesia memiliki iklim tropis dan banyak terdapat gunung berapi sehingga memiliki kesuburan tanah yang sangat subur, tentunya hal ini sangat mendukung dalam usaha-usaha di bidang pertanian terutama dalam bidang tanaman pangan.
Pada abad 18, Malthus sebetulnya sudah memperkirakan bahwa pada suatu saat bumi akan kekurangan pangan sebagai akibat pertambahan ketersediaan pangan tidak sebanding dengan pertambahan penduduk. Pemikiran Malthus telah mempengaruhi kebijakan pangan internasional antara lain melalui revolusi hijau (green revolution) yang telah meningkatkan laju produksi pangan dunia melebihi laju pertumbuhan penduduk. Pembangunan pertanian dengan revolusi hijau dengan cara memodernisasi pertanian rakyat yang mengacu pada program intensifikasi pertanian tanaman pangan. Program ini memperkenalkan beberapa teknologi baru dalam teknik
pertanian yang telah diterapkan sebelumnya di negara-negara Amerika Latin dan Asia (Tjondronegoro, 1998:282).
Di Indonesia, Revolusi Hijau berhasil meningkatkan produksi pangan padi pada lahan pertanian secara nasional namun sayang telah gagal mendorong sistem pangan lokal yang kuat dan berkesinambungan. Berbagai kebijakan untuk meningkatkan peran pertanian dalam pembangunan nasional tertuang dalam berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah. Beberapa program penting seperti Bimas, Inmas, Insus, dan Supra Insus merupakan inti dari pembangunan pertanian revolusi hijau. Pada mulanya program ini mampu meningkatkan hasil produksi pertanian, khususnya beras, hingga menjadi swasembada pada tahun 1984. Namun seiring perjalanannya program ini akhirnya mendapat kritik yang tajam dari para ahli pertanian karena banyak kasus program tersebut tidak memberikan hal yang lebih baik bagi pertanian, malah menjadi bumerang bagi pembangunan pertanian selanjutnya (Hanani, 2003:32). Ternyata banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan yang rendah terhadap program revolusi hijau yang dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat banyak memiliki pengetahuan tentang cara pertanian mereka sendiri dari pada harus menggunakan pengetahuan modern.
Sejak tahun 2004 Indonesia seharusnya telah mampu swasembada beras namun sampai saat ini Indonesia masih sebagai pengimpor beras. Belum lagi beberapa bahan makanan impor lainnya yaitu, gula, daging, bahkan garam. Ketersediaan produk pangan di Indonesia kini tergantung dari produk domestik
maupun impor. Permasalahannya, daya beli masyarakat Indonesia tidak sekuat negara maju; maka untuk menjamin konsumsi pangan masyarakat tidak ada pilihan lain kecuali upaya menjadi mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri sendiri. Untuk itu tentu saja diperlukan gairah untuk memproduksi pangan. Namun sarana produksi pertanian seperti lahan, benih, pupuk, masih dirasa mahal bahkan langka oleh para petani sehingga pelaksanaan produksi pangan menurut mekanisme pasar bebas tentu saja jauh dari sempurna.
Para petani semakin terpuruk karena tidak bisa menjual produk pangannya dengan harga kompetitif dan tidak mampu bersaing dengan produk dari Negara lain baik dalam hal harga, kuantitas maupun kualitas. Persaingan yang semakin berat mendorong para petani memilih bekerja pada sektor lain yang sebenarnya juga kurang tersedia. Para petani tidak lagi memiliki martabat keinginan dan kebanggaan sebagai penopang kebutuhan pangan di negerinya sendiri. Untuk hal ini masyarakat Indonesia bisa belajar dari China tentang bagaimana rekayasa tersebut dilakukan oleh pemerintahnya untuk mengangkat taraf kehidupan petani melalui upah buruh yang semakin tinggi dan usaha pertanian serta ternak yang semakin menguntungkan (Sudhamek AWS, 2008: 7-8).
Perjalanan pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Penurunan kemampuan lahan yang drastis dan persaingan global menyebabkan petani terpuruk. Pembangunan pertanian tidak
mungkin dapat berhasil apabila tidak diatur dengan seksama berbagai komponen yang mendukung pelaksanaannya. Tanah sebagai faktor produksi pokok pertanian memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi sektor pertanian. Struktur penguasaan tanah di Indonesia sangat tidak adil yang terbukti tidak memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan petani sehingga harus dilakukan pembaharuan. Di sisi lain, mahalnya biaya operasional pertanian seperti pengolahan tanah, pembibitan, penggunaan pupuk, dan penggunaan peptisida semakin memperparah kehidupan petani.
Begitu banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh petani di Indonesia nampaknya akan semakin parah jika persoalan ini diperparah dengan kondisi generasi penerus bangsa atau pemuda Indonesia. Isu yang banyak muncul di masyarakat adalah stigma negatif pemuda terhadap peran keterlibatan dan upaya peningkatan kesejahteraan pertanian. Banyak anggapan bahwa pemuda itu gengsi jika harus bekerja di sawah mereka lebih hebat jika bekerja di kantor walaupun hanya berposisi sebagai karyawan. Sementara untuk merubah sistem, hal yang terpenting untuk dipersiapkan adalah sumberdaya manusia (SDM) khususnya generasi mudanya. Semakin tinggi kualitas SDM maka semakin mudah pemerintah dalam mengatur pemerintahannya. Hal ini karena manusia semakin tinggi pendidikannya maka semakin sadar untuk dapat mematuhi aturan-aturan termasuk kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, kegiatan prioritas dalam pembangunan ketahanan pangan adalah pemberdayaan masyarakat agar mampu menolong dirinya
sendiri, lingkungan serta negaranya dalam mewujudkan ketahanan pangan dan sangat perlu diinisiasi oleh perubahan paradigma dan semangat pemuda untuk terlibat dalam upaya peningkatan sektor pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008 sebesar 228,5 juta jiwa (proyeksi penduduk Indonesia 2005-2015, BPS). Dari jumlah ini sekitar 62,6 juta (27,4 persen) penduduk adalah kelompok pemuda yang terdiri dari sekitar 50,1 persen laki-laki dan 49,9 persen perempuan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa proporsi pemuda laki-laki dan perempuan hampir sama (Kemenpora, 2009:10). Pemuda merupakan sumberdaya manusia yang produktif dan memiliki potensi pengembangan yang sangat prospektif untuk menjadi penggerak pembangunan pertanian dan pedesaan.
Berdasarkan pada uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa peran pemuda sangat strategis dan potensial dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Pemuda sebagai agen perubahan (agent of change), diharapkan mampu membawa perubahan dan mengawal kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dari berbagai sektor, khususnya sektor pertanian. Keterlibatan pemuda sebagai sumber daya manusia tangguh juga diharapkan mampu memotong mata rantai rumitnya persoalan sektor pertanian di Indonesia.
Di beberapa wilayah di Indonesia masih banyak harapan dari pemuda, ada beberapa komunitas pemuda yang sangat peduli terhadap kondisi krisis pertanian di Indonesia, sehingga mereka berupaya membuat simpul-simpul komunitas pemuda
penggerak pertanian seperti yang dikembangkan secara intensif oleh komunitas Joglo Tani yang terdapat di Dusun Mandungan I Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 2008. Komunitas tersebut memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sektor pertanian dengan melibatkan pemuda sebagai penggerak komunitas. Mengingat Yogyakarta merupakan daerah yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah usaha pertanian sedangkan Kabupaten Sleman merupakan daerah yang mendominasi wilayah pertanian.
Upaya pemuda di Joglo Tani dapat menjadi penggerak dan role model untuk membentuk simpul-simpul pemuda penggerak pertanian di setiap wilayah dengan demikian harapan Indonesia lebih baik dan lebih sejahtera bisa terwujud. Studi tentang keterlibatan pemuda dalam kegiatan Joglo Tani yang bergerak dalam bidang pertanian sangat strategis dan penting sebagai bahan masukan dan strategi pembangunan pertanian di Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disusun beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peran pemuda Joglo Tani dalam pembangunan sektor pertanian
2. Kendala apa saja yang dihadapi pemuda Joglo Tani dalam pembangunan sektor pertanian dan prospek penyelesaiannya?
3. Bagaimana upaya-upaya strategis yang dilakukan pemuda Joglo Tani dalam mewujudkan ketahanan pangan?
1.3. Tujuan Penelitian Penelitian yang peneliti lakukan ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui peran pemuda Joglo Tani dalam pembangunan sektor pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan.
2. Mengetahui kendala yang dihadapi pemuda Joglo Tani dalam pembangunan
sektor pertanian dan prospek penyelesaiannya.
3. Mengetahui upaya-upaya strategis yang dilakukan pemuda Joglo Tani dalam mewujudkan ketahanan pangan.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian yang peneliti lakukan yaitu: 1. Manfaat secara teoritis akademis
Memperkaya ilmu pengetahuan bagi pengembangan program kepemudaan dalam hal ini Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya, juga pihak Kemenpora RI sebagai penyelenggara program kepemudaan khususnya.
2. Manfaat bagi program studi Ketahanan Nasional
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan tentang pentingnya peran pemuda sebagai agen perubahan untuk memberikan kontribusi pada pembangunan sektor pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan sebagai salah satu tumpuan Ketahanan Nasional.
3. Manfaat bagi Joglo Tani
Penelitian ini diharapkan dapat memotivasi komunitas pemuda penggerak sektor pertanian khususnya komunitas Joglo Tani untuk lebih meningkatkan kreatifitas dalam hal inovasi sektor pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan.
4. Manfaat bagi mahasiswa
Penilitian ini diharapakan dapat menyadarkan mahasiswa begitu pentingnya keterlibatan pemuda untuk mengatasi problem pertanian yang semakin hari semakin parah baik ranah kebijakan maupun implementasinya.
1.5. Keaslian Penelitian
Pada hakikatnya, terdapat tiga pilar utama yang secara struktural merupakan satu kesatuan integral dalam melihat keaslian sebuah penelitian. Tiga pilar utama tersebut adalah:
1. Locus atau lokasi penelitian ini dilakukan di Joglo Tani Dusun Mandungan Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan Kabupaten Sleman Yogyakarta.
2. Fokus penelitian adalah kontribusi Joglo Tani dalam meningkatkan peran pemuda dalam pembangunan sektor pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan.
3. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif
analitis.
Memperhatikan penelitian-penelitian sebelumnya, maka berdasarkan relevansi keilmuan dan lokasi penelitian yang berbeda, peneliti tetap melanjutkan penelitian ini. Penelitian mengenai kontribusi Joglo Tani Mandungan Margoluwih Seyegan Sleman Yogyakarta dalam peningkatan peran pemuda pada pembangunan sektor pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan ditinjau dari keilmuan Ketahanan Nasional, peneliti buat sebagai karya ilmiah dalam rangka menyelesaikan tesis pada Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada.
Penelitian yang pernah dilakukan terkait sektor pertanian dan ketahanan pangan maupun peran pemuda N
o
Kompetensi Penelitian
Judul Penelitian Lokasi Penelitian
Fokus Penelitian Metode
penelitian Persamaan dan Perbedaan Penelitian 1 Peneliti: Sandi Nurhadi. Pascasarjana UGM. Penelitian selesai dilakukan pada tahun 2010. Penelitian ini ditinjau dari tema Ketahanan Pangan Strategi Pengembangan Ketahanan Pangan studi di Kabupaten Bantul Yogyakarta Di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menentukan rumusan alternatif strategi yang dapat digunakan dalam menentuknan sikap kebijakan yang akan diambil untuk pengembangan ketahanan pangan di Kabupaten Bantul Yogyakarta
2. Menentukan pilihan strategi terbaik untuk setiap kebijakan pengembangan ketahanan pangan berdasarkan pada
rumusan-rumusan alternative strategi dengan menggunakan Proses Hierarki Analitik (PHA) Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif Persamaan:
Metode penelitian dan fokus teori ketahanan pangan
Perbedaan: Lokasi penelitian, peneliti mengambil lokasi di Joglo Tani Seyegan Sleman Yogyakarta Fokus Penelitian, peneliti akan lebih memfokuskan pada peran pemuda dalam sektor pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan 2 Peneliti: Ismartoyo, Pascasarjana UGM. Penelitian selesai dilakukan pada tahun 2010. Ketahanan pangan wilayah pedesaan Desa Tambassa Kota Makassar
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengkaji potret kondisi obyektif ketahanan pangan wilayah pedesaan di desa Tambassa dalam aspek ketersediaan pangan, akses pangan, pemanfaatan
Metode penelitian yang digunakan adalah Persamaan:
Metode penelitian dan fokus teori ketahanan pangan
ditinjau dari Ketahanan Pangan
2. Untuk mengkaji tingkat ketersediaan pangan wilayah dengan konsumsi pangan rumah tangga di wilayah tersebut.
3. Untuk mengetahui upaya meningkatkan pendapatan demi memperbaiki konsumsi pangan rumah tangga.
penelitian deskriptif berbeda. Fokus penelitian berbeda. 3 Peneliti: Sumarta. Pascasarjana UGM. Penelitian selesai dilakukan pada tahun 2011. Penelitian ini ditinjau dari tema Ketahanan Pangan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dalam Sektor Pertanian Tanaman Pangan Guna Mendukung Ketahanan Pangan Di Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui kondisi pemberdayaan sumberdaya manusia di sektor pertanian tanaman pangan di Kabupaten Kulon Progo
2. Mengetahui rumusan kebijakan pemberdayaan sumberdaya manusia di sektor pertanian tanaman pangan untuk pengmbangan ketahanan pangan
3. mengetahui faktor-faktor mempengaruhi keberhasilan program pemberdayaan sumberdaya petani berdasarkan
identifikasi terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman
Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Persamaan:
fokus teori pada sektor pertanian dan ketahanan pangan
Perbedaan:
Lokasi penelitian dan Fokus penelitian berbeda. Metode penelitian berbeda, peneliti menggunakan kulitatif – deskriptif analisis. 4 Peneliti: Yaya Mulya Mantri. Pascasarjana UGM. Penelitian selesai pada tahun 2014. Penelitian ini Peran pemuda dalam pelestarian seni tradisional benjang guna meningkatkan ketahanan budaya Kecamatan Ujungberung Kota Bandung Provinsi jawa Barat
Penelitian ini bertujuan:
1. Mengetahui peran pemuda dalam pelestarian seni tradisional Benjang 2. Mengkaji kendala-kendala yang dihadapi
pemuda dalam pelestarian seni tradisional benjang Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif Persamaan:
Metode penelitian dan fokus penelitian peran pemuda
Perbedaan:
Ketahanan Budaya seni tradisional Benjang terhadap ketahanan budaya daerah
yang peneliti fokuskan keilmuan terkait ketahanan pangan 5 Peneliti: Ari Sulistyo. Pascasarjana UGM. Penelitian selesai dilakukan pada tahun 2014. Penelitian ini ditinjau dari Ketahanan Ekonomi Wilayah Peran Pemuda Dalam Pemberdayaan di Sektor kelautan Sebagai Upaya pengendalian Urbanisasi dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Ekonomi Wilayah Kecamatan Tepus Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk
1. Mengetahui peran pemuda dalam pemberdayaan di sektor kelautan dan implikasinya terhadaap ketahanan ekonomi wilayah Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif Persamaan:
Metode penelitian dan fokus teori peran pemuda
Perbedaan:
Lokasi penelitian dan Tinjauan keilmuan yang peneliti fokuskan terkait ketahanan pangan 6 Peneliti: Syafrotun ‘Azizah. Fakultas Pertanian UGM. Penelitian selesai tahun 2014.
Pelitian ini ditinjau dari keilmuan Pertanian Peran Kelompok Tani dalam Perkembangan Pertanian Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo
Penelitian ini bertujuan untuk
1. Mengetahui perkembangan kelompok wanita tani dalam perkembangan kelompok wanita tani
2. Mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan kelompok wanita tani Penelitian yang digunakan metode deskriptif analitik Persamaan:
Metode penelitian dan teori peran serta sektor pertanian
Perbedaan: Lokasi dan Fokus Penelitian peneliti akan lebih memfokuskan pada peran pemuda. (Sumber: Peneliti Lailiyatus Sa’diyah, diolah dari tinjauan pustaka, 2015)