8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pengaruh
Pengertian pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001; hlm 849) yaitu:
“Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan dan perbuatan seseorang.”
Sedangkan pengertian pengaruh menurut Badudu (2001; hlm 1031) yaitu sebagai berikut:
“Pengaruh adalah (1) daya yang menyebabkan sesuatu yang terjadi; (2) sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain; (3) tunduk atau mengikuti karena kuasa atau kekuatan orang lain.”
Sedangkan pengertian pengaruh menurut WJS. Poerwardaminta (2001: hlm 731) yaitu :
“Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu, baik orang maupun benda dan sebagainya yang berkuasa atau yang berkekuatan dan berpengaruh terhadap orang lain.”
Bila ditinjau dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh adalah sebagai suatu daya yang ada atau timbul dari suatu hal yang memiliki akibat atau hasil dan dampak yang ada.
2.2. Profitabilitas
2.2.1. Pengertian Profitabilitas
Sartono (2001:hlm 122) menyatakan bahwa pengertian profitabilitas adalah:
“Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Dengan demikian investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas, misalnya pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar-benar diterima dalam bentuk deviden.”
Menurut Brigham dan Houston (2010: hlm 146) pengertian profitabilitas adalah:
“Profitabilitas menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan utang pada hasil operasi. Profitabilitas mengukur efektifitas manajemen dalam menggunakan aset perusahaan untuk menghasilkan laba.”
Sedangkan menurut Susilawati (2012 : hlm 180) pengertian profitabilitas yaitu:
“Profitabilitas menggambarkan kinerja operasional perusahaan dengan memberikan besar keuntungan yang mampu diraih perusahaan dalam menjalankan operasionalnya. Profitabilitas menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aset untuk menghasilkan keuntungan bagi investor.”
Profitabilitas merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis kinerja manajemen. Para investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dan meningkatkan profit, hal ini daya tarik bagi investor dalam melakukan jual beli saham, oleh karena itu manajemen harus
mampu memenuhi target yang telah ditetapkan. Tingkat profitabilitas akan menggambarkan posisi laba perusahaan.
2.2.2. Pengertian Rasio Profitabilitas
Kasmir (2008: hlm 196) menyatakan bahwa:
“Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Pada dasarnya penggunaan rasio ini yakni menunjukkan tingkat efesiensi suatu perusahaan.”
Sedangkan menurut Irham Fahmi (2011; hlm 135) rasio profitabilitas adalah:
“Rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.”
Van Horne dan Wachowicz (2005: hlm 222) mengemukakan rasio profitabilitas terdiri dari dua jenis rasio yaitu rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi.
Rasio profitabilitas mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu
perusahaan harus berada dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Tanpa adanya keuntungan (profit), maka akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Dalam melakukan analisis perusahaan, di samping melihat laporan keuangan perusahaan, juga bisa dilakukan dengan menggunakan analisis rasio keuangan.
2.2.3. Jenis – Jenis Rasio Profitabilitas
Menurut Kasmir (2012, hlm. 199) jenis-jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan adalah :
1. Profit Margin (profit margin on sales) 2. Return On Investment (ROI)
3. Return On Equity (ROE) 4. Laba Per Lembar Saham
Sedangkan menurut Dermawan Sjahrial (2007, hlm. 45) jenis-jenis rasio profitabilitas, yaitu :
1. Rasio Laba Kotor (Gross Profit Margin)
2. Rasio Laba Operasi (Operating Profit Margin Ratio) 3. Rasio Biaya Operasi (Operating Cost Ratio)
4. Rasio Laba Bersih (Net Profit Margin Ratio)
Irham Fahmi (2011 ; hlm 135) menyatakan secara umum ada empat jenis analisis utama yang digunakan untuk menilai tingkat profitabilitas yakni terdiri dari:
2.2.3.1. Gross Profit Margin (GPM)
Rasio gross profit margin merupakan margin laba kotor. Mengenai gross profit margin Lyn M. Fraser dan Aileen Ormiston memberikan mendapatnya yaitu, “margin laba kotor, yang memperlihatkan hubungan antara penjualan dan beban pokok penjualan mengukur kemampuan sebuah perusahaan untuk mengendalikan biaya persedianan atau biaya operasi barang maupun untuk meneruskan kenaikan harga lewat penjualan kepada pelanggan.” Atau lebih jauh Joel G. Siegel dan Jae K. Shim mengatakan bahwa, “Presentasi dari sisa penjualan setelah sebuah perusahaan membayar barangnya; juga disebut dengan margin laba kotor (gross profit margin)”.
Gross profit margin merupakan salah satu bentuk pengukuran dalam menentukan tingkat profitabilitas perusahaan.
Kasmir (2012, hlm. 303) menyatakan bahwa,
“Laba kotor artinya laba yang diperoleh sebelum dikurangi biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan”.
Artinya adalah laba yang pertama sekali perusahaan peroleh dari penjualan yang dilakukan. Informasi besar kecilnya perolehan laba kotor untuk suatu perusahaan dalam satu periode ke periode selanjutnya dapat dihitung dengan rasio yang disebut gross profit margin.
Sedangkan Munawir (2004, hlm. 99) menyatakan bahwa :
“Gross profit margin merupakan rasio atau perimbangan antara gross profit (laba kotor) yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Rasio ini mencerminkan atau menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai setiap rupiah penjualan, atau bila rasio ini dikurangkan terhadap angka 100% maka akan menunjukkan jumlah yang tersisa untuk menutup biaya operasi dan laba bersih”.
Selanjutnya Lukman Syamsuddin (2007, hlm. 61) menyatakan bahwa : “Gross profit margin merupakan persentase dari laba kotor (sales cost of good sold) dibandingkan dengan sales. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan cost of good sold relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales. Demikian sebaliknya, semakin rendah gross profit margin, semakin kurang baik operasi perusahaan”.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa gross profit margin merupakan perbandingan antara laba kotor dengan penjualan. Gross profit margin sangat dipengaruhi oleh penjualan yang dilakukan perusahaan. Jika penjualan meningkat maka gross profit margin akan menurun, dan sebaliknya jika penjualan menurun maka gross profit margin akan meningkat. Semakin besar gross profit margin, semakin baik keadaan operasional perusahaan.
Adapun rumus gross profit margin adalah: (Irham Fahmi, 2011).
2.2.3.2. Net Profit Margin (NPM)
Kasmir (2008; hlm 200) menyatakan Net Profit Margin (NPM), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan, rasio ini akan menggambarkan penghasilan bersih perusahaan berdasarkan total penjualan. Pengukuran rasio dapat dilakukan dengan cara membandingkan laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih, yakni dengan formula sebagai berikut:
2.2.3.3. Earnings Per Share (EPS)
Kasmir (2008; hlm 207) menyatakan Rasio Earning Per Share merupakan rasio yang menggambarkan jumlah uang yang akan dihasilkan dari setiap lembar saham biasa yang dimiliki investor. Earnings Per Share dapat diukur sebagai berikut:
2.2.3.4. Return On Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) merupakan penilaian profitabilitas atas total asset, dengan cara membandingkan laba setelah pajak dengan rata-rata total aktiva. Return On Assets (ROA) menunjukkan efektivitas perusahaan dalam
mengelola aktiva baik dari modal sendiri maupun dari modal pinjaman, investor akan melihat seberapa efektif suatu perusahaan dalam mengelola asset. Semakin tinggi tingkat Return On Assets (ROA) maka akan memberikan efek terhadap volume penjualan saham, artinya tinggi rendahnya Return On Assets (ROA) akan mempengaruhi minat investor dalam melakukan investasi sehingga akan mempengaruhi volume penjualan saham perusahaan begitu pula sebaliknya.
Pengertian Return on assets (ROA) menurut Kieso et al (2002 : 223) adalah:
“Rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas aktiva secara keseluruhan.”
Sedangkan Gibson (1992 : 329), menyatakan bahwa:
“Return on Assets measures the firm’s ability to utilize its assets to create profits. This ratio compares profits with the assets that generate the profits.”
Berdasarkan pengertian ROA yang disebutkan, dapat dikatakan bahwa ROA mengidentifikasi seberapa efisien manajemen dalam menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.
Secara matematis Return On Assets (ROA) dapat dirumuskan sebagai berikut (Kasmir, 2008:202):
Indikator ROA merupakan salah satu indikator keuangan yang sering digunakan dalam menilai kinerja perusahaan.
Semakin besar ROA, maka kinerja perusahaan tersebut semakin baik, karena tingkat kembalian (return) semakin besar serta menunjukkan bahwa total aktiva yang dipergunakan untuk beroperasi oleh perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan.
2.2.4. Tujuan dan Manfaat Rasio Profitabilitas
Manfaat rasio profitabilitas tidak terbatas hanya pada pemilik usaha atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak luar perusahaan, terutama pihak – pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan.
Kasmir (2008:1 hlm. 97), menerangkan bahwa tujuan dan manfaat penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan yakni :
1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu.
2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
4. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. 5. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik
6. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal sendiri.
Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut. Penggunaan seluruh atau sebagian rasio profitabilitas tergantung dari kebijakan manajemen. Jelasnya, semakin lengkap jenis rasio yang digunakan, semakin sempurna hasil yang akan dicapai, artinya posisi dan kondisi tingkat profitabilitas perusahaan dapat diketahui secara sempurna.
2.3. Pengertian Volume Penjualan Saham
Saham merupakan tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Menurut Wira (2010 : hlm. 93) pengertian volume perdagangan saham adalah:
“volume perdagangan sebenarnya menggambarkan pertempuran antara permintaan dan penawaran sehingga perubahan permintaan saham oleh pelaku pasar akan mempengaruhi volume perdagangannya.”
Pengaruh terhadap tinggi rendahnya volume saham dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti pergantian direksi, kondisi internal perusahaan, laju inflasi, dan lainnya. Dalam penelitian ini, akan dilihat pengaruhnya secara mikro, yaitu dari laporan keuangan sebagai informasi akuntansi yang mendasari penilaian. Informasi dari laporan keuangan inilah yang digunakan oleh investor untuk melakukan penilaian dan mengambil keputusan apakah akan membeli atau menjual. Besar kecilnya transaksi permintaan saham inilah yang kemudian akan mempengaruhi tinggi rendahnya volume saham yang diperdagangkan.
Volume perdagangan saham sendiri menurut Ong (2011 : hlm. 101) adalah:
“Volume perdagangan saham adalah salah satu parameter penting yang menunjukkan transaksi yang terjadi dalam aktivitas perdagangan pada suatu sesi atau mencerminkan jumlah saham yang berpindah tangan. Jumlah (volume) perdagangan yang tinggi menunjukkan minat partisipasi yang besar dari para pelaku pasar. Sedangkan jumlah (volume) perdagangan yang minim menunjukkan minat yang kurang dari pelaku pasar.”
Pendapat hampir serupa dengan pendapat dari Debikel (2010 : hlm 33) yang menyatakan bahwa:
“Volume perdagangan merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter volume saham yang diperdagangkan di bursa efek.”
Volume penjualan saham merupakan penjumlahan dari setiap transaksi yang terjadi di bursa pada waktu tertentu untuk mengetahui likuiditas saham dan akan berpengaruh terhadap pergerakan saham
Tingkat volume penjualan saham yang cenderung fluktuatif menunjukkan perdagangan yang cepat hal ini dipengaruhi oleh informasi yang masuk ke bursa dan minat investor yang tinggi terhadap saham tersebut, minat investor untuk melakukan transaksi jual beli saham akan mudah terpengaruh oleh tinggi atau rendahnya tingkat profitabilitas serta harga saham maupun faktor lain yang mempengaruhi minat investor dalam melakukan investasi.
Volume perdagangan merupakan ukuran besarnya volume saham tertentu yang diperdagangkan, mengindikasikan kemudahan dalam memperdagangkan saham tersebut. Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan volume perdagangan saham.
Pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi dari suatu pengumuman sebagai signal baik (good news) atau signal buruk (bad news) pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut. Pengumuman informasi yang dianggap sebagai signal baik bagi investor, akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam volume perdagangan saham.
Pengumuman informasi akuntansi memberikan signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa mendatang (good news) sehingga investor tertarik untuk melakukan perdagangan saham, dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin melalui perubahan dalam volume perdagangan saham.
Besarnya variabel atas volume perdagangan tercermin melalui indikator aktivitas volume perdagangan (Trading Volume Activity / TVA). Trading Volume Activity (TVA) merupakan suatu indikator yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan saham di pasar modal ( Edward , 2011:34).
Menurut Cincin Haosan (2012) Perhitungan volume perdagangan saham (Total Volume Activity) dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham beredar perusahaan pada kurun waktu yang sama. Rumus perhitungan TVA ini dapat dituliskan sebagai berikut:
∑ ∑
2.4. Pasar Modal dan Saham 2.4.1. Pasar Modal
Sunariyah (2011:hlm4) mengemukakan pengertian pasar modal adalah sebagai berikut:
“Pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara di bidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga yang beredar. Dalam arti sempit, pasar modal adalah suatu pasar (tempat berupa gudang) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek”
Selain itu pengertian pasar modal menurut Tandelilin (2010:hlm26) adalah sebagai berikut:
“Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjual belikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjual belikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi.”
Pada dasarnya pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas (saham), maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain dan sarana dalam berinvestasi, dengan demikian pasar modal juga memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya serta merupakan salah satu cara bagi perusahaan dalam mencari dana dengan menjual hak kepemilikkan perusahaan kepada masyarakat.
Umumnya surat-surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal dapat dibedakan menjadi surat berharga bersifat hutang dan surat berharga yang bersifat pemilikan. Surat berharga yang bersifat hutang umumnya dikenal nama obligasi dan surat berharga yang bersifat pemilikan dikenal dengan nama saham. Pasar modal dapat juga diartikan sebagai sebuah wahana yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang menyediakan dana sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Pasar modal mempunyai posisi yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Pertumbuhan suatu pasar modal sangat tergantung dari kinerja perusahaan efek. Untuk mengkoordinasikan modal, dukungan teknis, dan sumber
daya manusia dalam pengembangan Pasar Modal diperlukan suatu kepemimpinan yang efektif. Perusahaan-perusahaan harus menjalin kerja sama yang erat untuk menciptakan pasar yang mampu menyediakan berbagai jenis produk dan alternatif investasi bagi masyarakat.
Di pasar modal terdapat berbagai macam informasi, seperti laporan keuangan, kebijakan manajemen, rumor di pasar modal, prospektus, saran dari broker, dan informasi lainnya.
2.4.2. Saham
Sunariyah (2011:hlm125) mengemukakan bahwa,
“Saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Saham menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik dari peusahaan tersebut.”
Salah satu sarana investasi yang terdapat di pasar modal ialah saham. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.
Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di
perusahaan tersebut. Pada dasarnya keuntungan yang diperoleh investor dalam membeli atau memiliki saham ialah devidend dan capital gain.
2.5. Sistem Syariah
2.5.1. Pengertian Syariah
Menurut Sofyan S. Harahap dalam (Akuntansi Social ekonomi dan Akuntansi Islam) mendefinisikan :” Akuntansi Islam atau Akuntansi syariah pada hakekatnya adalah penggunaan akuntansi dalam menjalankan syariah Islam. Akuntansi syariah ada dua versi, Akuntansi syariah yang yang secara nyata telah diterapkan pada era dimana masyarakat menggunakan sistem nilai Islami khususnya pada era Nabi SAW, Khulaurrasyidiin, dan pemerintah Islam lainnya. Kedua Akuntansi syariah yang saat ini muncul dalam era dimana kegiatan ekonomi dan sosial dikuasai (dihegemony) oleh sistem nilai kapitalis yang berbeda dari sistem nilai Islam. Kedua jenis akuntansi itu bisa berbeda dalam merespon situasi masyarakat yang ada pada masanya. Tentu akuntansi adalah produk masanya yang harus mengikuti kebutuhan masyarakat akan informasi yang disuplainya”
Harga pasar dari efek syariah harus mencerminkan nilai valuasi kondisi yang sesungguhnya dari aset yang menjadi dasar penerbitan efek tersebut dan/atau sesuai dengan mekanisme pasar yang teratur, wajar dan efisien serta tidak direkayasa.
Dalam hal DSN-MUI memandang perlu untuk mendapatkan informasi, maka DSN-MUI berhak memperoleh informasi dari Bapepam dan Pihak lain
dalam rangka penerapan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal.
2.5.2. Prinsip – Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal
1. Pasar Modal beserta seluruh mekanisme kegiatannya terutama mengenai Emiten, jenis efek yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangannya dipandang telah sesuai dengan Syariah apabila telah memenuhi Prinsip-prinsip Syariah.
2. Suatu efek dipandang telah memenuhi Prinsip-prinsip Syariah apabila telah memperoleh Pernyataan Kesesuaian Syariah.
2.5.3. Kriteria Emiten yang Menerbitkan Efek Syariah
1. Jenis usaha, produk barang, jasa yang diberikan dan akad serta cara pengelolaan perusahaan Emiten atau Perusahaan Publik yang menerbitkan efek syariah tidak boleh bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah.
2. Jenis kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 1 di atas, antara lain:
a. perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang;
b. lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;
c. produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman yang haram; d. produsen, distributor, dan/atau penyedia barang-barang ataupun jasa yang
e. melakukan investasi pada Emiten (perusahaan) yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) utang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya.
3. Emiten atau Perusahaan Publik yang bermaksud menerbitkan efek syariah wajib untuk menandatangani dan memenuhi ketentuan akad yang sesuai dengan syariah atas efek syariah yang dikeluarkan.
4. Emiten atau Perusahaan Publik yang menerbitkan efek syariah wajib menjamin bahwa kegiatan usahanya, memenuhi Prinsip-prinsip Syariah dan memiliki Syariah Compliance Officer.
5. Dalam hal Emiten atau Perusahaan Publik yang menerbitkan efek syariah sewaktu-waktu tidak memenuhi persyaratan tersebut di atas, maka efek yang diterbitkan dengan sendirinya sudah bukan sebagai efek syariah.
2.5.4. Kriteria dan Jenis Efek Syariah
1. Efek syariah mencakup Saham Syariah, Obligasi Syariah, Reksa Dana Syariah, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) Syariah, dan surat berharga lainnya yang sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah.
2. Saham Syariah adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria sebagaimana tercantum dalam Pasal 3, dan tidak termasuk saham yang memiliki hak-hak istimewa,
3. Obligasi Syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan Prinsip Syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi
Syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.
4. Reksa Dana Syariah adalah Reksa Dana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip Syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (shahib al-mal/rabb al-mal) dengan Manajer Investasi, begitu pula pengelolaan dana investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna investasi. 5. Efek Beragun Aset Syariah adalah efek yang diterbitkan oleh kontrak investasi
kolektif EBA Syariah yang portofolionya terdiri dari aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial, tagihan yang timbul di kemudian hari, jual beli pemilikan aset fisik oleh lembaga keuangan, efek bersifat investasi yang dijamin oleh pemerintah, sarana peningkatan investasi/arus kas serta aset keuangan setara, yang sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah.
6. Surat berharga komersial Syariah adalah surat pengakuan atas suatu pembiayaan dalam jangka waktu tertentu yang sesuai dengan Prinsip-prinsip syariah.
2.6. Jakarta Islamic Index
Jakarta Islamic Index merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia untuk merespon kebutuhan informasi yang berkaitan dengan investasi syari’ah. Langkah ini diambil berkaitan dengan semakin merebaknya pengembangan ekonomi umat islam terutama ditanah air yang
dikelola berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah (Nofi Handayani; 2009).
Jakarta Islamic Index merupakan subset dari index harga saham (IHS) yang diluncurkan pada tanggal 1 Juli 2000 dan menggunakan 1 Januari 1995 sebagai base date (dengan nilai 100).
Jakarta Islamic Index menjadi tolak ukur bagi investasi saham secara syari’ah di pasar modal. Juga sebagai sarana untuk meningkatkan investasi di pasar modal secara syari’ah dan meningkatkan kepercayaan para investor untuk mengembangkan investasi dalam ekuiti secara syari’ah.
Penentuan kriteria dalam pemilihan saham dalam JII melibatkan Dewan Pengawas Syariah PT DIM (Danareksa Investment Management). Danareksa Investment Management (PT DIM) adalah anak perusahaan dari PT Danareksa (Persero). Di dalam melakukan proses investasi atas aset Investor, DIM selalu bertindak secara profesional dan transparan. DIM juga melakukan riset yang mendalam untuk menentukan jenis investasi yang menarik dan juga memformulasikan dan menjalankan berbagai strategi investasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi Investor (http://reksadana.danareksaonline.com).
Saham-saham yang akan masuk ke JII harus melalui filter syariah terlebih dahulu. Berdasarkan arahan Dewan Pengawas Syariah PT DIM (Danareksa Investment Management), ada 4 syarat yang harus dipenuhi agar saham-saham tersebut dapat masuk ke JII: (wikipedia.org)
1. emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang
2. bukan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional
3. usaha yang dilakukan bukan memproduksi, mendistribusikan, dan memperdagangkan makanan/minuman yang haram
4. tidak menjalankan usaha memproduksi, mendistribusikan, dan menyediakan barang/jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat
Selain filter syariah, saham yang masuk ke dalam JII harus melalui beberapa proses penyaringan (filter) terhadap saham yang listing, yaitu:
1. Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan, kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi besar.
2. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun berakhir yang memiliki rasio Kewajiban terhadap Aktiva maksimal sebesar 90%.
3. Memilih 60 saham dari susunan saham di atas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar selama 1 (satu) tahun terakhir.
4. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan reguler selama 1 (satu) tahun terakhir.
Pengkajian ulang akan dilakukan 6 (enam) bulan sekali dengan penentuan komponen indeks pada awal bulan Januari dan Juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha utama emiten akan dimonitor secara terus
menerus berdasarkan data publik yang tersedia. Perusahaan yang mengubah lini bisnisnya menjadi tidak konsisten dengan prinsip syariah akan dikeluarkan dari indeks. Sedangkan saham emiten yang dikeluarkan akan diganti oleh saham emiten lain. Semua prosedur tersebut bertujuan untuk mengeliminasi saham spekulatif yang cukup likuid. Sebagian saham-saham spekulatif memiliki tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan reguler yang tinggi dan tingkat kapitalisasi pasar yang rendah.
2.6.1. Evaluasi Penggantian Index Saham Jakarta Islamic Index
Jakarta Islamic Index terdiri dari 30 jenis saham yang sesuai dengan syariah islam. Dan untuk mendapat 30 saham yang termasuk indeks syariah, dari 285 saham yang diperdagangkan di BEI, dipilih emiten-emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah islam. Dari 285 akan dipilih sekitar 100 saham dan kemudian ke – 100 saham tersebut dipilih lagi 60 saham yang mempunyai kapitalisasi pasar terbesar. Dalam seleksi terakhir dipilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan reguler selama satu tahun terakhir. (Manan, 2009 : hlm 18)
Pengkajian tersebut dilakukan setiap 6 bulan sekali, dengan penentuan komponen indeks pada awal bulan januari dan juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan dimonitori secara terus menerus berdasarkan data-data public yang tersedia. Indeks ini digunakan sebagai tolak ukur kinerja suatu saham yang berbasis syariah.
2.6.2. Teknik Perhitungan Indeks Jakarta Islamic Index
Teknik perhiitungan index Jakarta Islamic Index dapat dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah pasar dengan total nilai dasar dan dibuat persentase untuk lebih jenis dapat dilihat sebagai berikut:
Dimana nilai pasar dikenal dengan kapitalisasi pasar adalah kumulatif jumlah saham pada hari perhitungan dikali dengan harga pasar pada hari tersebut. Secara umum NP menggambarkan jumlah uang yang berada dibursa. Dan ND pada rumus perhitungan IHSG adalah kumulatif jumlah saham pada hari dasar dikali harga dasar pada hari dasar, ND ini selalu disesuaikan untuk mengeliminasi pengaruh faktor-faktor yang bukan perubahan harga saham seperti pemecahan saham, dividen/bonus saham dan penawaran terbatas. ND itu juga mengalami penyesuaian apabila terjadi penawaran perdana dari emiten baru dibursa.
Perhitungan indeks mempersentasikan pergerakan harga saham Jakarta Islamic Index dipasar bursa melalui sistem perdagangan bebas. Dan nilai dasar akan disesuaikan secara cepat bila terjadi perubahan model emiten atau terdapat faktor lain yang tidak terkait dengan harga saham. (www.idx.co.id)
2.7. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dipakai untuk membedakan antara penelitian ini dan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Kesimpulan dari beberapa hasil penelitian terdahulu mengenai kebijakan utang dirangkum dalam tabel 2.1 dengan menyebutkan variabel dan objek penelitian yang berbeda.
Tabel 2.1 Peneliti Terdahulu
No Nama Peneliti Variabel Penelitian
Objek Penelitian
Hasil Penelitian 1. Putri (2009) Earnings Per
Share, Deviden Per Share, Harga Saham, dan Volume Penjualan Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Earnings Per Share (EPS), Deviden Per Share (DPS) dan harga saham berpengaruh secara simultan terhadap volume penjualan saham. Secara parsial Earnings Per Share (EPS) dan Deviden Per Share (DPS) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap volume penjualan saham, sedangkan harga saham tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap volume penjualan saham. 2. Rani Noviliyana (2014) Net Profit Margin, Return On Assets dan Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Rasio Profitabilitas yang terdiri dari Net Profit
Earning Per Share, Harga Saham dan Volume Penjualan Saham Bursa Efek Indonesia Margin, Return On Assets dan Earning Per Share memiliki pengaruh yang signifikan terhadap volume penjualan saham sedangkan , harga saham tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap volume penjualan. 3. Cincin Haosana, 2012 Return on
assets, Tobin’s Q dan Volume Perdagangan Saham. Perusahaan Retaill yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Variabel ROA berpengaruh secara parsial terhadap TVA. Variabel Tobin’s berpengaruh secara parsial terhadap TVA. Secara simultan, variabel ROA dan Tobin’s Q akan berpengaruh terhadap TVA. 4. Peggy M. Lee, 2010 The Effects Of
Name Changes On Stock Prices and Trading Volume Activity A sample of 114 “.com” name changes Substantial increases in stock prices and trading volume when firms add a “.com” suffix. 5. Hazem Al Samman, 2015 Trading Volume and Stock Returns Industrial Firms of Oman Stock return and trading volume are integrated at the level. In
addition, the study provides evidence of a positive and significant effect of return volatility on trading volume. 2.8 Kerangka Pemikiran
a. Pengaruh Gross Profit Margin (GPM) terhadap volume perdagangan saham.
Laba yang diperoleh perusahaan memiliki pengaruh dan manfaat untuk suatu perusahaan. Salah satunya laba yang diperoleh sebelum dikurangi dengan biaya-biaya atau disebut dengan laba kotor menggunakan rasio gross profit margin sebagai perbandingan perolehan laba kotor dari satu periode ke periode selanjutnya, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari setiap rupiah penjualan yang berfungsi untuk mengendalikan dan menutupi biaya-biaya produksi, biaya operasi, biaya modal, pajak penghasilan dan biaya-biaya lain.
Raharjaputra (2011, hlm. 207) menyatakan bahwa manfaat dari analisis gross profit margin, antara lain untuk perusahaan pedagang besar (wholesalers) maupun pengecer (retailer) gross margin menjadi perhatian utama, karena dari indikasi ini dapat terlihat segera berapa besar keuntungan yang akan diperoleh, berawal dari indikasi ini perusahaan dapat mencari pemasok yang memberikan harga lebih rendah atau melakukan negosiasi. Bagi perusahaan manufaktur,
indikasi ini dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk melakukan penghematan biaya dengan mencari pos-pos mana yang perlu diperbaiki.
H1 = Gross Profit Margin berpengaruh terhadap volume perdagangan
saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
b. Pengaruh Net Profit Margin (NPM) terhadap volume perdagangan saham.
Net Profit Margin menginterpretasikan tingkat efisiensi perusahaan, yakni sejauh mana kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya operasionalnya pada periode tertentu. Semakin besar rasio ini semakin baik karena kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui penjualan cukup tinggi serta kemampuan perusahaan dalam menekan biaya-biayanya cukup baik (Sianipar, 2005:37). Dari adanya pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa semakin tinggi rasio NPM berarti laba yang dihasilkan oleh perusahaan juga semakin besar, maka akan menarik minat investor untuk menanamkan modal atau melakukan transaksi dengan perusahaan yang bersangkutan (Susilowati dan Turyanto, 2011).
H2 = Net Profit Margin (NPM) berpengaruh terhadap volume
perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
c. Pengaruh Earnings Per Share (EPS) terhadap volume perdagangan saham.
EPS yang diperoleh perusahaan akan menentukan besarnya minat investor untuk menanamkan sahamnya (Pradhono dan Christiawan, 2004). Besarnya minat investor tersebut dikarenakan Earnings atau laba menjadi kriteria penting dalam menilai kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuannya (Yuniar, 2008). Menurut Putri (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Earning Per Share, Dividen Per Share, Dan Harga Saham Terhadap Volume Penjualan Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa secara parsial EPS berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan saham. Karena EPS ditentukan dari besarnya laba perusahaan, jika laba perusahaan tinggi maka EPS juga tinggi. Hal ini akan menarik investor untuk menanamkan modal pada perusahaan tersebut dan akan mempengaruhi volume penjualan saham.
H3 = Earnings Per Share (EPS) berpengaruh terhadap volume
perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
d. Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap volume perdagangan saham.
Menurut Setiawan (2011), tingkat rendahnya ROA perusahaan tergantung pada tingkat efisiensi pengguna aktiva perusahaan. Penggunaan aktiva yang tidak efisien seperti banyaknya dana menganggur dalam persediaan, lamanya dana tertanam dalam piutang, berlebihnya uang kas, aktiva tetap beroperasi dibawah kapasitas normal, dan lain sebagainya akan berakibat pada rendahnya rasio ini. Sedangkan ROA yang positif menunjukkan bahwa total aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan. Perusahaan yang mempunyai laba yang tinggi akan menambah minat investor untuk menanamkan modalnya. Menurut Setiadi (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Tingkat Profitabilitas dan Harga Saham Terhadap Volume Penjualan Saham Pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa secara parsial variabel ROA berpengaruh positif terhadap volume penjualan saham. Jika ROA perusahaan tinggi maka laba juga akan tinggi, sehingga akan menarik investor untuk menanamkan modal pada perusahaan tersebut dan hal ini akan mempengaruhi volume penjualan saham.
H4 = Return On Asset (ROA) berpengaruh terhadap volume
perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
e. Pengaruh rasio Profitabilitas yang diukur dengan Gross Profit Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Shared (EPS), dan Return On Assets (ROA) secara simultan terhadap volume perdagangan saham.
Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Pada dasarnya penggunaan rasio ini yakni menunjukkan tingkat efesiensi suatu perusahaan. Sehingga apabila perusahaan memiliki laba yang besar akan menghasilkan rasio profitabilitas yang besar sehingga akan menarik minat investor untuk mebeli saham peusahaan tersebut.
H5 = Gross Profit Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM), Earning
Per Shared (EPS), dan Return On Assets (ROA) secara simultan berpengaruh terhadap volume perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
2.9. Rancangan Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini merupakan pernyataan singkat mengenai hasil yang disimpulkan dari tinjauan pustaka dan merupakan uraian sementara dari permasalahan yang perlu diujikan kembali. Suatu hipotesis akan diterima jika hasil analisis data empiris membuktikan bahwa hipotesis tersebut benar, begitu juga sebaliknya.
Berdasarkan teori-teori volume perdagangan saham serta berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, hipotesis yang dapat dikembangkan :
Gross Profit Margin (GPM)
(X1)
Net Profit Margin (NPM)
(X2)
Earnings Per Share (EPS) (X3) Volume Perdagangan Saham (Y) Return On Asset (ROA) (X4)
H1 : Gross Profit Margin (GPM) berpengaruh terhadap volume perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
H2 : Net Profit Margin (NPM) berpengaruh terhadap volume perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
H3 : Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap volume perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
H4 : Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap volume perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.
H5 : Gross Profit Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Shared (EPS), dan Return On Assets (ROA) secara simultan berpengaruh terhadap volume perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index.