• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aerobic gas producing bacteria for organic waste bioremediation

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Aerobic gas producing bacteria for organic waste bioremediation"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan, 15 Desember 2011

Aerobic gas producing bacteria for organic waste bioremediation

Maya SHOVITRI1), N.D. KUSWYTASARI1), Ayuk RAHMAWATI2) 1). Staf Pengajar Jurusan Biologi-FMIPA-ITS

2). Mahasiswa S1 Jurusan Biologi-FMIPA-ITS Abstrak

Biogas is one potential energy alternative for replacing the used fossil energy in the future. Biogas is a byproduct gas during a bacterial bioremediation, for example septic tank bacteria produced 0.028 m3/kg biogas. This study was aimed to isolate and to characterize aerobic septic tank bacteria which were potentially for organic waste bioremediation. The isolation was performed in a Nutrient Agar medium and the characterization was followed the Bergey’s Manual of Determination Bacteriology, while the biogas was identified and measured by a gas chromatograph. This study was successfully isolated and characterized 38 aerobic bacterial isolates. They were most probably affiliated into genus Aeromonas, Corynebactreium,

Neisseria, Bacillus, Pseudomonas dan Vibrio. Five aerobic bacterial isolates representing each genus, except Vibrio, were

then inoculated and incubated in an organic waste containing bioreactor for 18-20 days to harvest biogas. Based on gas chromatographic peak, the detected gases were only O2 and N2 which were unexpected gas. Even biogas was art successfully detected in this study, it did not means that the isolated bacteria was not producing biogas. Several factors could probably interfered the detection, for example limitation for standard gas and gas carrier.

Keyword : biogas, organic waste, aerobic bacteria, septic tank, chromatography gas

1. Pendahuluan

Kebijakan Presiden yang berisi Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, memicu banyak peneliti untuk mencari sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM (Nau et al., 2009). Energi alternatif ini diharapkan berasal dari bahan organik. Bahan organik banyak terdapat dalam limbah yang berasal dari sampah, sisa-sisa makanan, kotoran hewan dan limbah industri makanan (Putro, 2007). Telah banyak dilaporkan bahwa bakteri dapat melakukan bioremediasi limbah organik untuk mendapat energi dan menghasilkan biogas sebagai produk sampingnya. Menurut Wellinger and Lindenberg (2000), komposisi biogas yang dihasilkan sangat tergantung pada jenis senyawa organik yang didegradasi. Komposisi biogas yang utama adalah gas methan (CH4), gas hidrogen (H2), dan gas nitrogen (N2) yang berpotensi sebagai sumber energi pengganti BBM (El Haq dan Soedjono, 2011). Proses bioremediasi ini relatif menguntungkan bagi lingkungan, karena dapat mengurangi penumpukkan sampah limbah organik melalui suatu metabolisme bakteri.

Proses bioremediasi merupakan salah satu cara pengolahan limbah. Pengolahan limbah dapat dilakukan secara aerob dengan menggunakan bakteri aerob. Bakteri aerob, ada yang bersifat sebagai anaerob fakultatif yanga pada saat kondisi anaerob akan melakukan fermentasi dan menghasilkan biogas. Salah satu contoh adalah Bacillus licheniformis dapat menghasilkan H2 sebanyak 0,58 mol/mol dan Pseudomonas fluorescens 0,03 mol/mol (Kalia, 2007) Genus Bacillus ada yang bersifat sebagai bakteri aerob dan anerob fakultatif, sedangkan genus Pseudomonas bersifat sebagai bakteri aerob. Proses bioremediasi salah satunya terjadi di dalam tangki septik.

Tangki septik adalah penampungan buangan sisa metabolisme sistem pencernaan manusia seperti urin dan feses. Sehingga diasumsikan bahwa tangki septik banyak mengandung bakteri yang mampu menggunakan bahan organik menjadi biogas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi serta mengetahui kemampuan bakteri aerob dari tangki septik yang berpotensi menghasilkan biogas.

2. Tinjauan Pustaka

Bakteri yang menggunakan senyawa organik sebagai energi atau sumber karbon untuk sintesa tergolong dalam jenis bakteri heterotroph (Muljadi et al, 2005). Sedang bakteri aerob adalah bakteri yang menggunakan oksigen sebagai electron acceptor dalam proses respirasi (Cappuccino dan Sherman, 2001).

Bioremediasi adalah proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang dilakukan oleh bakteri. Salah satu produk sampingan dari proses bioremediasi adalah biogas. Komposisi biogas yang utama adalah gas methan (CH4) dan gas karbon dioksida (CO2) dengan sedikit hidrogen sulfida (H2S). Komponen lainnya yang ditemukan dalam kisaran konsentrasi kecil

(2)

Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan, 15 Desember 2011 antara lain gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2), gas karbon monoksida (CO) dan gas oksigen (O2) (El Haq dan Soedjono, 2011).

3. Metodologi

Medium Limbah Organik Padat dan Cair

Limbah padat adalah sampah pasar, dan limbah cair adalah air perendaman ikan. Limbah padat pasar sebanyak 10 gr dicampur dengan 1000 ml limbah cair pasar, dan diblender. Selanjutnya disaring untuk mendapatkan filtrat. Filtrat tersebut ditambah dengan NPK sebanyak 0,1% dan Urea 0,1% dari total volume limbah (Suyasa, 2011). Filtrat kemudian diautoclave selama 15 menit dengan suhu 121oC dan tekanan 1,5 atm. Filtrat ini kemudian disebut dengan medium limbah organik cair (LOC) untuk medium uji produksi biogas dalam bioreaktor. Selanjutnya medium limbah organik agar (LOA) adalah medium LOC yang ditambahi 1,5% agar. Medium LOA digunakan untuk pengkulturan bakteri dalam cawan petri.

Isolasi dan Identifikasi Bakteri Aerob

Medium yang digunakan adalah medium Nutrien Agar (NA) dan medium LOA. Inokulum bakteri diencerkan secara bertingkat dan aseptis dari 10-1 sampai 10-10. Selanjutnya dari masing-masing pengenceran, diambil 100 µl dan diteteskan ke permukaan medium NA dalam cawan petri dan diratakan. Kultur diinkubasi pada inkubator pada suhu 37oC selama 24 jam. Koloni bakteri yang tumbuh diamati morfologi koloninya, kemudian dipindahkan ke medium baru dan kembali diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37oC. pemindahan koloni dilakukan sampai didapatkan isolat murni. Selanjutnya dilakukan uji karakter biokimia dari masing-masing isolat mengikuti sistem Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology, yang meliputi uji katalase, uji kebutuhan oksigen, uji oksidase, uji fermentasi glukosa, uji ketahanan terhadap Na+.

Produksi Biogas

Sebanyak 25 ml isolat bakteri diambil dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer yang telah berisi 250 ml medium LOC. Bioreaktor kemudian ditutup dengan rubber stopper dan diinkubasi selama 18-20 hari diatas rotary shacker. Setelah diinkubasi, komposisi biogas di dalam bioreaktor dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas (GC-7900 Techomp®).

4. Hasil Dan pembahasan

Bakteri dari Sampel Tangki Septik

Dalam penelitian berhasil diisolasi dan dimurnikan 38 isolat bakteri. Berdasarkan karakter biokimia yang diujikan (Tabel 1), isolat tersebut cenderung masuk ke genus Bacillus (A2, A4, A10, A12, A13, A14, A16, A19, A20, A21, A22, A25, A27, A28, A29, A30, A31, A32, A33, A34, A37),

Corynebacterium (A6 dan A24),Vibrio (A3, A5, A8, A17, A35, A36, A38), Pseudomonas (A26),

Aeromonas (A11), dan Neisseria (A1, A7, A9, A15, A18, A23). Gambar 1 menunjukkan isolat bakteri yang mempunyai endospora dan yang tidak mempunyai endospora.

a b

Gambar 1. a) isolat bakteri yang mempunyai endospora (A16), b) isolat bakteri yang tidak mempunyai endospora (A24)

(3)

Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan, 15 Desember 2011 Kode isolat Karakter Biokimia Kecenderungan genus Uji Katalase Uji Kebutuhan

Oksigen Uji Oksidase

Uji Fermentasi Glukosa Uji Pertahanan terhadap Na+ A1 TD + TD + TD Neisseria A2 TD + TD TD TD Bacillus A3 TD TD + + + Vibrio A4 TD + TD TD TD Bacillus A5 TD TD + + + Vibrio A6 + TD TD TD TD Corynebacterium A7 TD + TD + TD Neisseria A8 TD TD + + + Vibrio A9 TD + TD + TD Neisseria A10 TD + TD TD TD Bacillus A11 TD TD + + - Aeromonas A12 TD + TD TD TD Bacillus A13 TD + TD TD TD Bacillus A14 TD + TD TD TD Bacillus A15 TD + TD + TD Neisseria A16 TD + TD TD TD Bacillus A17 TD TD + + + Vibrio A18 TD + TD + TD Neisseria A19 TD + TD TD TD Bacillus A20 TD + TD TD TD Bacillus A21 TD + TD TD TD Bacillus A22 TD + TD TD TD Bacillus A23 TD + TD + TD Neisseria A24 + TD TD TD TD Corynebacterium A25 TD + TD TD TD Bacillus A26 TD TD + - TD Pseudomonas A27 TD + TD TD TD Bacillus A28 TD + TD TD TD Bacillus A29 TD + TD TD TD Bacillus A30 TD + TD TD TD Bacillus A31 TD + TD TD TD Bacillus A32 TD + TD TD TD Bacillus A33 TD + TD TD TD Bacillus A34 TD + TD TD TD Bacillus A35 TD TD + + + Vibrio A36 TD TD + + + Vibrio A37 TD + TD TD TD Bacillus A38 TD TD + + + Vibrio

Keterangan: TD= tidak dilakukan

Produksi Biogas

Secara acak dipilih 5 isolat bakteri untuk diuji kemampuannya menghasilkan biogas, yaitu isolat A11 (Aeromonas), A23 (Neisseria), A24 (Corynebacterium), A26 (Pseudomonas), dan A33 (Bacillus). Pseudomonas dan Bacillus sudah pernah dilaporkan sebagai bakteri yang menghasilkan biogas (Kalia, 2007). Vibrio tidak dipilih karena bersifat pathogen yang dapat menyebabkan penyakit kolera.

Berdasarkan perbedaan fisik antara bioreaktor isolat bakteri dengan bioreaktor kontrol negatif, terlihat bahwa pada bioreaktor kontrol negatif, medium cenderung berwarna kuning kecoklatan, serta terdapat lemak di dinding bioreaktor yang apabila digoyang susah larut dalam

(4)

Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan, 15 Desember 2011 medium. Sedangkan pada bioreaktor yang berisi isolat bakteri, medium cenderung berwarna merah bata dan terdapat sisa lemak pada dinding permukaan bioreaktor, namun apabila digoyang, lemak tersebut mudah larut kembali ke dalam medium.

Gambar 2. Hasil Gas yang terdeteksi

Tidak satupun bioreaktor yang menghasilkan gas yang berpotensi sebagai gas energi alternatif, kecuali gas N2 dan O2. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut, yaitu antara lain:

1. Gas H2 tidak terdeteksi karena gas H2 tidak diproduksi karena faktor abiotiknya tidak terpenuhi, seperti O2. Dari Gambar 2 terlihat bahwa bioreaktor masih terdapat gas O2, sehingga diasumsikan bahwa bakteri masih melakukan proses respirasi dan tidak melakukan proses fermentasi untuk menghasilkan gas H2 .

2. Keterbatasan sensitifitas alat kromatografi gas. Ini dapat dilihat bahwa pada semua bireaktor uji (kecuali control negatif) tidak terdeteksi gas CO2. Melihat bahwa isolat adalah bakteri yang bersifat aerob dan anaerob fakultatif yang dapat melakukan kedua proses respirasi dan fermentasi, maka CO2 pasti akan dihasilkan melalui dua proses tersebut.

Keterbatasan sensitifitas alat kromatografi gas ini juga dapat terlihat dari komposisi persentase gas N2 dan O2. Penelitian ini adalah penelitian aerob, sehingga diasumsikan headspace

pada bioreaktor kontrol adalah 78,084% N2 dan 20,947% O2, sesuai dengan standar udara menurut

Meckenzie (1995). Tetapi terlihat bahwa kontrol hanya mengandung 100% N2. Pada bioreaktor A23

dan A33 terlihat terjadi pengurangan N2 bila dibandingkan dengan kontrol. Ini ada dua

kemungkinan, yaitu selain kesalahan deteksi, juga mungkin terjadi karena fiksasi N2 oleh isolat

bakteri A23 (Neisseria) dan A33 (Bacillus). Karena Ramos et al (2001) bahwa Neisseria

meningitides mampu memfiksasi N2), demikian pula Bacillus polymyxa (Kim and Gadd, 2008). 5. Kesimpulan

Penelitian ini berhasil mengisolasi 38 isolat yang berdasarkan karakter biokimianya cenderung masuk ke dalam genus Bacillus. (A2, A4, A10, A12, A13, A14, A16, A19, A20, A21, A22, A25, A27, A28, A29, A30, A31, A32, A33, A34, A37), Corynebacterium (A6 dan A24), Vibrio (A3, A5, A8, A17, A35, A36, A38), Pseudomonas (A26), Aeromonas (A11), dan Neisseria (A1, A7, A9, A15, A18, A23). Tak satu pun isolate bakteri tersebut yang mampu menghasilkan biogas, keculai gas N2 dan O2 oleh isolat A11, A23, A24, dan A26, serta gas N2 saja oleh isolate A33.

6. Daftar Pustaka 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 K A 11 A 23 A 24 A 26 A 33 p e rs e n ta se b io ga s Kode isolat

Biogas pada medium LOC

oksigen nitrogen

(5)

Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan, 15 Desember 2011 1) Cappuccino, J.G. & Sherman, N, Microbiology: A Laboratory Manual, Addison Wesley, 1983. 2) El Hag, S. P., dan Soedjono, S. E, Potensi Lumpur Tinja Manusia Sebagai Penghasil Biogas,

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS, 2011.

3) Kalia, V. C., Applied Microbiology: Microbial Treatment of Domestic and Industrial Wastes for

Bioenergy Production, Microbial Biotechnology and Genomics, Institute of Genomics and

Integrative Biology, 2007

4) Kim, B. H. and Gadd, G.M, Bacterial Physiology and Metabolism, Cambridge University Press, 2008.

5) Mackenzie, F., T. and Mackenzie, J., A, Our changing planet, Prentice-Hall Inc, 1995

6) Putro, S, Penerapan Instalasi Sederhana Pengolahan Kotoran Sapi Menjadi Energi Biogas Di

Desa Sugihan Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo, WARTA, Vol .10, No. 2, 178 –

188, 2007.

7) Ramos, B. J., Hiss, H., Vicentin, M. A., Fossa da Paz, M., Peixoto, A., Leal, M. B. B., Sato, R. A., Vassoler, U. M., and Raw, I, Nitrogen Consumption During Batch Cultivation of Neisseria

Meningitidis (Serogroup C) in Frantz Medium, Brazilian Journal of Microbiology, 32 : 305 –

310, 2001.

8) Suyasa, B., dan Dwijanti, W, Pengaruh Penambahan Urea, Kompos Cair, Dan Campuran

Kompos Dengan Gula Terhadap Kandungan BOD dan COD Pada Pengolahan Air limbah Pencelupan, ECOTROPHIC, 4(1): 62-65, 2011.

9) Nau, Y. C., Ningsih, K. O., dan Ramdhani, H. S, Biogas Limbah Organik Sebagai Sumber

(6)
(7)

Gambar

Tabel 1. Karakter Uji Biokimia
Gambar 2. Hasil Gas yang terdeteksi

Referensi

Dokumen terkait

B. Mengenali Intellegensi siswa... Menyususn Rencana Pembelajaran.... Kecerdasan Logis –matematis... Kecerdasan Jasmaniah- kinestetik... Kecerdasan Musikal- berirama...

8 Ibid, h.. pada arti harfiahnya. Mahmud Yunus mengartikan kata ٌد�َق�� dengan tangan, maka dari sisi ini mahmud yunus memaknai teks Al-Qur’an secara harfiah.

nilai yang dirasakan oleh wisatawan selama mengunjungi Destinasi Wisata

Wakil yang dimaksud yaitu Rekber Blackpanda, dan yang disebut sebagai muwakkil yaitu penjual dan pembeli, sedangkan kesepakatan penjual dan pembeli serta dengan

Disitulah kedamaian Rumah tangga berdjalan dengan baikanak-2 akan selalu patuh pada orang tua dan sekolahnja diberkati Kalau pribadi-2 kita sudah menerima Keradjaan Allah

 Berdasarkan buble chart hubungan biaya dengan kekuatan material, ketiga jenis logam tersebut memiliki kekuatan yang relatif sama antara brass, copper dan aluminium, area harga

Program Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah program yang wajib dijalankan oleh suatu perseroan terbatas (PT).CSR sebagai sebuah tanggung jawab

(2) Faktor faktor internal dan eksternal apa saja yang dapat menjadi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dalam pemasaran produk pestisida PT Pratama