• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP 2017"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

i

TUGAS AKHIR

INTENSITAS SERANGAN ULAT KANTONG

(Metisa plana) PADA TANAMAN

KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) PERIODE TANAMAN

BELUM MENGHASILAKAN

OLEH TITI SURIANTI

1422040156

BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

(2)
(3)
(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT oleh atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Intensitas Serangan Ulat Kantong (Metisa plana) Pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq.) di PT Sinergi Perkebunan Nusantara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah”.

Dalam penyusun laporan praktik ini, penulis menyadari adanya campur tangan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis bapak Sulkarnain dan ibu St.Hasnah serta segenap keluarga dan penulis juga banyak berterima kasih kepada bapak Andi Ridwan, S.P,. M.P dan ibu Ir. Miss Rahma Yassin, M.Si selaku pembimbing yang memberikan bantuan serta dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik. Melalui kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Darmawan,MP. selaku Direktur Utama Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

2. Bapak Dr. Junaedi, S.P., M.Si. selaku Ketua Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

3. Ibu Sri Muliani, S.P,. M.P selaku Dosen Penguji I.

4. Ibu Dr. Zahraeni Kumalawati, S.P,. M.P selaku Dosen Penguji II.

5. Bapak Budiono, selaku Direktur Utama PT Sinergi Perkebunan Nusantara. 6. Bapak Muh.Rispan Ady Idris, selaku Direktur operasional PT Sinergi Perkebunan

Nusantara.

7. Bapak Ir. Juwono Susanto selaku Manager Kebun PT Sinergi Perkebunan Nusantara.

8. Bapak Yance Enos, selaku Asisten Manager kebun sekaligus Pembimbing Lapangan di PT Sinergi Perkebunan Nusantara.

9. Para Mandor, Kerani Afdeling, dan Karyawan di PT Sinergi Perkebunan Nusantara.

(5)

v

10. Rekan-rekan seangkatan yang sama-sama melakukan praktik, terlebih khusus rekan selokasi PKL.

Penyusunan laporan ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap dengan rendah hati menerima saran dan kritikan dari pihak pembaca yang bersifat membangun untuk perbaikan laporan ini kedepannya.

Besar harapan penulis semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin...

Pangkep, 25 Mei 2017

(6)

vi

RINGKASAN

TITI SURIANTI (1422040156). Intensitas Serangan Hama Ulat Kantong pada

Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di PT Sinergi Perkebunan Nusantara, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah. Dibimbing oleh Bapak Andi Ridwan, dan Ibu Miss Rahma Yassin.

Pengamatan dilakukan di lahan perkebunan kelapa sawit di PT Sinergi Perkebunan Nusantara, Desa Londi, Kecamatan Mori Utara, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah yang dilaksanakan pada bulan Maret 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Intensitas Serangan Ulat Kantong pada perkebunan kelapa sawit dengan menghitung jumlah pelepah perpohon dan pelepah terserang dalam waktu 10 hari dengan jumlah sampel sebanyak 400 pohon. Pada penelitian tersebut dapat diketahui tingkat serangan hama ulat kantong yang terdapat di perkebunan kelapa sawit PT Sinergi Perkebunan Nusantara tidak berpengaruh besar pada pertumbuhan tanaman kelapa sawit karena masih tergolong dalam kategori sangat ringan hingga ringan dengan presentase serangan 15% untuk serangan sangat ringan dan 27,5% untuk kategori serangan ringan.

(7)

vii

DAFTAR ISI

Teks Hal

HALAMAN PENGESAHAN... i

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RINGKASAN ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan dan Kegunaan ... 3

II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

A. Klasifikasi Hama Ulat Kantong ... 4

B. Siklus hidup dan biologinya ... 4

C. Kerusakan dan pengaruhnya di lapangan ... 5

D. Ekologi Hama ... 6

E. Pengendalian ... 7

III METODOLOGI ... 9

A. Waktu dan Tempat ... 9

B. Alat dan Bahan ... 9

C. Metode Pelaksanaan ... 9

IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11

V PENUTUP ... 13 A. Kesimpulan ... 13 B. Saran ... 13 DAFTAR PUSTAKA ... 14 LAMPIRAN ... 15 RIWAYAT HIDUP ... 22

(8)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Gambar Pelepah terserang Ulat Kantong (Metisa plana) ... 16 2. Pengamatan Intensitas Serangan Ulat Kantong pada tanaman

(9)

1

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) termasuk famili palmae dan tergolong dalam kelas Monocotiledonae dapat tumbuh subur di daerah tropis dengan curah hujan merata sepanjang tahun. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang dapat menghasilkan minyak, yang berasal dari daging buah yang dikenal dengan Crude

Palm Oil (CPO) sedangkan yang berasal dari inti sawit dikenal dengan Palm Kernel Oil (PKO) atau sering disebut kernel.

Kebutuhan akan kelapa sawit yang terus meningkat menyebabkan pelaku usaha perkebunan kelapa sawit terus mengembangkan perkebunan dan pabriknya. Pada saat ini Provinsi Sulawesi Tengah terus mengembangkan perkebunan kelapa sawit di hampir seluruh wilayahnya. Perkebunan kelapa sawit banyak terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah baik itu perkebunan yang dikelola oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta, dengan perkembangan tersebut sangat berdampak pada tingkat produksi kelapa sawit, dan secara tidak langsung menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di daerah tersebut.

Produksi kelapa sawit di pulau Sulawesi semakin meningkat setiap tahunnya, meningkatnya produksi ini berasal dari perkebunan kelapa sawit di beberapa daerah di pulau Sulawesi salah satunya adalah Provinsi sulawesi Tengah, merupakan daerah yang juga potensial untuk pengembangan kelapa sawit. Ini dapat dilihat dari adanya daerah sentral penghasil kelapa sawit di Provinsi Sulawesi Tengah. Salah satu sentral produksi kelapa sawit di Provinsi Sulawesi Tengah berada di daerah Mori Atas, kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulwesi Tengah.

PT Sinergi Perkebunan Nusantara (PT SPN) merupakan salah perusahaan yang bergerak di bidang budidaya dan pengolahan kelapa sawit. Sampai saat ini PT SPN memiliki luas areal tanaman menghasilkan sebanyak 1.133 ha dengan populasi 132.846 pohon, dan areal lahan tanaman belum menghasilkan seluas 4.029 ha dan mempunyai satu pabrik pengolahan.

(10)

2

Peningkatan pendapatan dan produktifitas dapat diperoleh apabila semua kegiatan budidaya berjalan sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO) dan tanaman telah tumbuh di lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik dan kondusif untuk tanaman kelapa sawit ini, tidak bisa tercipta dengan sendirinya, karena ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produksi tanaman kelapa sawit tersebut, salah satunya adalah hama ulat kantong yang menyerang daun tanaman kelapa sawit tersebut.

Hama Ulat Kantong merupakan hama utama pada perkebunan kelapa sawit, ulat kantong termasuk dalam famili Psychidae. Tujuh spesies yang pernah ditemukan pada tanaman kelapa sawit adalah M. Plana, M. Corbetti, Cremastopsyche pendula,

Brachycyttarus griseus, Manatha albipes, Amatissa sp, dan Cryptothela cardiophaga.

Jenis ulat kantong yang paling merugikan di perkebunan kelapa sawit adalah M.

Plana dan M. Corbetti.

Secara umum ulat kantong merupakan serangga perusak yang memakan daun tanaman, terutama tanaman kelapa sawit. Salah satu ciri khas dari ulat kantong yaitu hidup pada sarang yang berbentuk kantong yang terbuat dari potongan-potongan daun yang berada disekitar daerah serangan. Kerusakan yang diakibatkan oleh hama ulat kantong yaitu adanya lubang-lubang transparan berwarna putih kekuningan sampai kecoklatan. Apabila intensitas serangan tinggi maka menunjukan gejala daun seperti terbakar.

Untuk melihat berapa besar intensitas serangan hama ulat kantong di PT SPN Kecamatan Mori Atas Kabupaten Morowali Utara Provinsi Sulawesi Tengah maka penulis tertarik untuk mengadakan pengamatan yang kemudian akan dituangkan dalam bentuk tulisan ilmiah (tugas akhir) yang berjudul Intensitas Serangan Ulat Kantong (Metisa plana) pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM 3) di PT Sinergi Perkebunan Nusantara.

(11)

3

B. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dilakukannya pengamatan ini untuk mengetahui Intensitas Serangan Ulat Kantong (M. plana) pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM 3).

Kegunaan dari pengamatan ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai bahan informasi tentang hama Ulat Kantong yang terdapat pada perkebunan kelapa sawit.

(12)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Klasifikasi Hama Ulat Kantong (Metisa plana)

Adapun klasifikasi ulat kantong sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phyllum : Artropoda Class : Insecta Ordo : Lepidoptera Family : Psychidae Genus : Metisa Species : Metisa plana (sumber : Http://wikipedia.com)

Ulat kantong termasuk dalam famili Psychidae. Tujuh spesies yang pernah ditemukan pada tanaman kelapa sawit adalah M. plana, Mahasena corbetti,

Cremastopsyche pendula, Brachycyttarus griseus, Manatha albipes, Amatissa sp, dan Cryptothelea cardiophaga. Jenis ulat kantong yang paling merugikan di perkebunan

kelapa sawit adalah M. plana dan Mahasena corbetti jika populasinya diatas rata-rata.

B. Siklus hidup dan biologinya

Ciri khas ulat kantong adalah hidupnya di dalam sebuah bangunan mirip kantong yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, di sekitar daerah serangan (Susniahti, N, dkk, 2005). Ciri khas yang lain yakni pada bagian tubuh dewasa betina kebanyakan spesies ulat kantong mereduksi dan tidak mampu untuk terbang. Jantan memiliki sayap dan akan mencari betina karena bau feromon yang dikeluarkan betina untuk menarik serangga jantan (PPKS, 2011).

Stadia ulat M. plana terdiri atas 4-5 instar dan berlangsung sekitar 50 hari. Pada waktu berkepompong, kantong kelihatan halus permukaan luarnya, berukuran panjang sekitar 15 mm dan menggantung seperti kait di permukaan bawah daun. Stadia kepompong berlangsung selama 25 hari (PPKS, 2011).

(13)

5

Ngengat M. plana betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100-300 butir selama hidupnya. Telur menetas dalam waktu 18 hari. Ulat berukuran lebih kecil dibandingkan dengan M. corbetti yakni pada akhir perkembangannya dapat mencapai panjang sekitar 12 mm, dengan panjang kantong 15-17 mm. Ngengat M. corbetti jantan bersayap normal dengan rentangan sayap sekitar 30 mm dan berwarna coklat tua. Seekor ngengat M. corbetti betina mampu menghasilkan telur antara 2.000-3.000 butir. Telur menetas dalam waktu sekitar 16 hari. Ulat yang baru menetas sangat aktif dan bergantungan dengan benang-benang liurnya, sehingga mudah menyebar dengan bantuan angin, terbawa manusia atau binantang. Ulat sangat aktif makan sambil membuat kantong dari potongan daun yang agak kasar atau kasar. Selanjutnya ulat bergerak dan makan dengan hanya mengeluarkan kepala dan kaki depannya dari dalam kantong. Ulat mula-mula berada pada permukaan atas daun, tetapi setelah kantong semakin besar berpindah menggantung di bagian permukaan bawah daun kelapa sawit. Pada akhir perkembangannya, ulat dapat mencapai panjang 35 mm dengan panjang kantong sekitar 30-50 mm. Stadia ulat berlangsung sekitar 80 hari. Ulat berkepompong di dalam kantong selama sekitar 30 hari, sehingga total siklus hidupnya adalah sekitar 126 hari (PPKS, 2011).

Pengetahuan tentang siklus hidup secara utuh sangat berguna di dalam managemen pengendalian hama ini. Dengan informasi ini, rantai terlemah dari siklus hidupnya didapat sehingga akan membantu dalam menentukan waktu tindakan pengendalian yang tepat. Informasi siklus hidup juga akan memberikan pemahaman biologi yang lebih baik untuk pengelolaan hama (PPKS, 2011).

C. Kerusakan dan pengaruhnya di lapangan

Kerusakan yang terjadi akibat serangan hama ini sangat kecil dan akan terjadi kerusakan besar ketika mereka ada dalam jumlah yang sangat besar. Larva muda memakan jaringan epidermis dan larva yang lebih tua mampu membuat lubang pada daun kelapa sawit. Akan terjadi nekrosis dan skeletonisasi pada jaringan daun. Kerusakan ini akan berdampak pada pertanaman kelapa sawit ke depannya.

(14)

6

Tanaman dapat kehilangan hasil hingga 40% pada tahun pertama setelah terjadi serangan hama terhadap ratusan hektar pertanaman yang telah mengalami defoliasi. Pada tahun berikutnya pengendalian tidak mampu dilakukan secara sempurna. Batas populasi kritis untuk ulat kantong adalah 10 ekor ulat/pelepah, ketika jumlah ulat melampaui batas populasi kritis maka akan dilakukan pengendalian. Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar kehilangan daun dapat mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan (PPKS, 2011).

D. Ekologi Hama

Hama ulat kantong merupakan hama polifag yang memakan daun dari berbagai jenis spesies tanaman. Informasi dari keseluruhan siklus hidup ulat kantong sangat penting untuk diketahui sebagai dasar pengendalikan hama tersebut. Informasi tentang kelemahan pada siklus hidupnya bisa dipahami dan digunakan untuk mengendalikan hama ulat kantong ini (Sugiyanto. 2013).

Naik turunnya serangan ulat kantong ditentukan oleh dinamika populasi larva. Perbedaan tanaman inang akan berpengaruh terhadap kemampuan larva dalam merusak tanaman. Faktor tekanan (stress) dari luar merupakan faktor negatif dalam perkembangan ulat. Pengurangan nutrisi pada tanaman yang mengakibatkan tanaman mengalami stress juga berpengaruh pada perkembangan ulat. Tanaman dengan nitrogen tinggi akan memberikan nutrisi yang baik untuk ulat kantong dalam perkembangannya (Risza S. 2010).

Angin menjadi salah satu faktor pendukung dalam penyebaran hama. Larva ulat kantong yang masih kecil dapat diterbangkan oleh angin. Oleh karena itu tanaman di sekeliling areal pertanaman juga sangat mempengaruhi dalam peyebaran hama ini karena dapat menjadi sumber penyebaran hama ulat kantong.

(15)

7

E. Pengendalian

Dibawah ini merupakan beberapa tindakan pengendalian yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi serangn ulat kantong:

1). Pengendalian Biologi

Adapun dalam pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :

a. Parasitoid

Parasitoid memiliki potensi untuk mengendalikan hama secara biologi. Manipulasi lingkungan yang tepat untuk mengendalikan hama ini karena tindakan ini akan memodifikasi lingkungan untuk kelangsungan hidup dan perkembangan musuh alami (PPKS, 2011). Parasitoid primer dan sekunder, serta predator mempengaruhi populasi M.plana. Diantaraya parasitoid primer,

Goryhus bunoh, hidup paling lama (47 hari) sedangkan hiperparasitoid yang

hidup paling lama adalah P. imbreus.

Dolichogenidea metesae merupakan parasitoid paling penting yang

berkembang baik pada tanaman Cassia cobanensis ,termasuk Asystasia

intrusa, Crotalaria usaramoensis, dan Euphorbia heterophylla. Kecuali A. intrusa, keberadaan tanaman ini akan bermanfaat karena memberikan nektar

untuk parasitoid (PPKS, 2009).

a. Bacillus thuringiensis

Penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai insektisida biologi mempunyai banyak keuntungan; toksisitasnya hanya pada serangga target, dan umumnya tidak membahayakan musuh alami, manusia, ikan dan kehidupan lain. Meskipun telah ada percobaan oleh beberapa kebun dalam menggunakan

Bacillus thuringiensis untuk pengendalian ulat kantong, tetapi hanya sedikit

(16)

8

2). Pengendalian Secara Kimiawi

Ulat kantong dapat dikendalikan dengan penyemprotan atau dengan injeksi batang menggunakan insektisida. Untuk tanaman yang lebih muda (< umur 2 tahun), knapsack sprayer dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi insektisida dapat menggunakan

fogging atau injeksi batang. Monocrotophos dan methamidophos merupakan

dua insektisida sistemik yang direkomendasikan untuk injeksi batang. Karena bahan bakunya adalah bahan kimia yang sangat berbahaya, ijin harus diperlukan dari Komisi Pestisida untuk tujuan dan cara aplikasi dan saat ini sudah tidak dikeluarkan lagi (PPKS, 2011).

(17)

9

III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Kegiatan dilaksanakan pada bulan Maret 2017 di PT Sinergi Pekebunan Nusantara, Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan yaitu Alat Tulis Kertas (ATK) dan bahan yang digunakan yaitu lahan yang menjadi lokasi penelitian.

C. Metode Pelaksanaan 1. Pengambilan Data

Pengambilan data diperoleh melalui pengamatan secara langsung yaitu dengan pengambilan data perpohon (lampiran 1), di tempat pengamatan dengan menggunakan metode sensus. Pohon sampel yang diamati sebanyak 400 pohon, dan pengamatan berlangsung selama 10 hari.

2. Parameter Pengamatan

 I = ba x 100%

Keterangan : JP = Jumlah Pelepah I = Intensitas Serangan

a = Banyaknya Pohon Terserang b = Banyaknya Pohon Sample

(18)

10 3. Kriteria Serangan Kategori Serangan: 0 = 0 % (sehat) 1 = 1-21 % (sangat ringan) 2 = 21-41%(Ringan) 3 = 41-60% (Sedang) 4 = 61-80% (Berat) 5 = 81-100% (Sangat Berat) (sumber: PPKS 2009)

Referensi

Dokumen terkait

Pekerja Sosial Rehabilitasi “Bima Sakti” Kota Batu yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menggali ilmu dan mendapatkan data yang dibutuhkan penulis

Aktiva produktif terdiri atas giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain, surat-surat berharga, Obligasi Pemerintah, tagihan lainnya - transaksi

31 dalam Meningkatkan Laba dan Market Share pada Produk Pembiayaan Mudharabah (Studi PT. Bank BNI Syariah cabang Makassar) dalam penelitian ini adalah kualitatif

(1) Pembinaan dan pengembangan Pendidik dan Tenaga kependidikan pada Satuan PAUD, Satuan Pendidikan Dasar dan Satuan PNF yang diselenggarakan Pemerintah Daerah dan/atau

(6) Apabila Direksi telah melakukan perubahan sesuai dengan saran Dewan Pengawas dan Kepala Desa sampai permulaan Tahun Buku tidak mengemukakan keberatan, maka

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Daerah yang selanjutnya disingkat DPM-PTSPD adalah unsur Perangkat Daerah Kabupaten Morowali Utara yang

(1) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan Germas di Daerah, yang dilakukan oleh Perangkat

Pelaksanaan Tugas Pokok selama 18 (delapan belas) - 19 (sembilan belas) hari kerja Pelaksanaan Tugas Pokok selama 16 (enam belas) - 17 (tujuh belas) hari kerja