• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASLAH TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA PESERTA DIDIK KELAS VII SMP SARIBUANA MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASLAH TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA PESERTA DIDIK KELAS VII SMP SARIBUANA MAKASSAR"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Fisika

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

NURAISYAH 10539 0823 10

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA AGUSTUS 2017

(2)

SKRIPSI

NURAISYAH 10539 0823 10

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA AGUSTUS 2017

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara

kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan

(Al-Mujadillah:11)

Tuhan marah kepada orang-orang yang menyerah

(Rahmat Hidayat)

Dunia ini penuh dengan orang baik, Jika kamu tak menemukan salah satunya,

Maka jadilah salah-satunya.

Kesenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri

(R.A Kartini)

Gantungkan semangat setinggi bintang di langit dan rendahkan hati

serendah mutiara di lautan

Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari tua

(Aristoteles)

Sebagai wujud cinta dan baktiku kupersembahkan karya ini kepada yang berdo’a untuk keselamatanku, yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus dan ikhlas, yang telah berkorban demi kesuksesanku AYAHANDA, IBUNDA dan SAUDARA-SAUDARAKU tercinta.

(8)

vii ABSTRAK

Nuraisyah. 2015. Peranan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan penggunaan model pembelajaran berbasis masalah terhadap hasil belajar fisika siswa. Penelitian ini dilakukan di SMP Saribuana Makassar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik cluster random sampling, siswa kelas VIIa sebagai kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan kelas VIId sebagai kelompok kontrol yang tidak menggunakan model pembelajarn berbasis masalah. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu tes untuk mengukur hasil belajar fisika siswa berupa soal-soal uraian. Data instrumen tes dianalisis menggunakan analisis statistik yaitu uji-t. berdasarkan hasil perhitungan menggunakan uji-t pada taraf signifikan (α) = 0,05, didapatkan thitung > ttabel yaitu 4,06 > 2,00, sehingga hipotesis hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran berdasarkan masalah terhadap hasil belajar fisika.

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah Subhanahu Wataala pencipta alam semesta penulis panjatkan kehadirat-Nya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah pada Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqamah untuk mencari Ridha-Nya hingga di akhir zaman.

Skripsi dengan judul “Peranan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Hasil Belajar Fisika siswa Kelas VII SMP Saribuana Makassar” diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Berbekal dari kekuatan dan ridha dari Allah SWT semata, maka penulisan skripsi ini dapat terselesaikan meski dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak sedikit hambatan dan rintangan yang penulis hadapi, akan tetapi penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan.

Teristimewa dan terutama sekali penulis sampaikan ucapan terimah kasih yang tulus kepada ayahanda Ahmad Bakri dan Ibunda Nuryani atas segala pengorbanan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu sejak kecil sampai sekarang ini. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadikan kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

(10)

ix

Dengan pertolongan Allah SWT, yang hadir lewat uluran tangan serta dukungan dari berbagai pihak. Karenanya, penulis menghaturkan terima kasih yang tiada terhingga atas segala bantuan modal dan spritual yang diberikan dalam menyelesaikan skripsi ini.

Ucapan terima kasih dan penghargaan istimewa juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Hj. Rahmini Hustim dan Bapak Ma’ruf, S.Pd., M.Pd selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan, arahan dan semangat kepada penulis sejak penyusunan proposal hingga terselesainya skripsi ini.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-setingginya kepada :

1. Bapak Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D, selaku Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Nurlina, S.Si., M.Pd dan Bapak Ma’ruf S.Pd., M.Pd , selaku Ketua dan Sekertaris Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah mengajar dan mendidik mulai dari semester awal hingga penulis menyelesaikan studinya di Perguruan Tinggi ini.

(11)

x

5. Ibu Jasriah, S.Pd selaku guru bidang studi Fisika SMP Saribuana Makassar sekaligus sebagai validator yang telah meluangkan waktunya untuk memeriksa dan memberikan saran terhadap perbaikan instrumen penelitian.

6. Bapak Kepala sekolah SMP Saribuana Makassar yang telah memberikan izin penulis mengadakan penelitian sehingga penulis menyelesaikan skripsi ini.

7. Peserta didik Kelas VIIA dan Kelas VIID SMP Saribuana Makassar atas kesediaannya menjadi subjek penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Kakakku Rosnah dan Nursiah yang telah memberikan bantuan, dukungan, kasih sayang serta doa yang tulus untuk kebahagiaan dan kesuksesan penulis dalam menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

9. Adikku tersayang Rosdiana yang telah memberikan motivasi dan doa yang tulus kepada penulis dalam menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

10. Sandi Hasan yang selalu memotivasi dan mendukung penulis selama ini sampai penulis berhasil menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

11. Sahabat-sahabatku Jasriah, Ita Arvillah, Junianti, Islamiah dan Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa fisika ’10’ khususnya kelas A yang tak

(12)

xi

sempat penulis sebutkan satu persatu, atas segala bantuan dan kebersamaannya selama ini.

12. Rekan seperjuanganku Kartini yang selalu memberi semangat dan nasehat dan saling menguatkan satu sama lain.

13. Terima kasih buat teman-teman yang pernah hadir dalam kehidupanku dan setia memberikan motivasi dan doa selama penulis dalam menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Makassar

Akhirnya, sebagai penutup penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, ”Manusia adalah kejadian sempurna, tetapi kebanyakan dari perbuatannya adalah tidak sempurna”, oleh karena itu penulis masih serta-merta mengharapkan kritikan demi pengembangan wawasan penulis kedepannya. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada kita semua, Amin.

Billahi Taufiq Walhidayah Wassalamu Alaikum Wr. Wb

Makassar, Oktober 2014

Penulis

(13)

xii

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR ... 7

(14)

xiii

3. Pengertian pembelajaran berdasarkan masalah ... 9

4. Karakteristik pembelajaran berdasarkan masalah ... 14

5. Tahapan dalam pembelajaran berdasarkan masalah ... 15

6. Manfaat dalam pembelajaran berdasarkan masalah ... 17

7. Hasil Belajar ... 18

B. Kerangka Berpikir ... 28

C. Hipotesis ... 29

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

A. Tempat dan Waktu Penelitin ... 30

B. Metode Penelitian ... 30

C. Desain penelitian ... 30

D. Populasi dan Sampel Penelitian ... 31

E. Prosedur Penelitian ... 32

F. Variabel Penelitian ... 32

G. Instrumen Penelitian ... 34

H. Teknik Pengumpulan Data ... 36

I. Uji instrumen penelitian ... 37

J. Teknik analisis data ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 48

(15)

xiv

B. Saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA ... 59 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(16)

BAB I

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang memerlukan suatu proses pembelajaran sehingga menimbulkan hasil yang sesuai dengan proses yang telah dilalui. Pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningakatan sumber sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dalam proses peningkatan sumber daya manusia itu sendiri. Pendidikan berperan penting karena merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang berpendidikan akan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejalan perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan untuk lebih dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Bidang pendidikan memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia karena merupakan wahana yang dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu menghadapi perkembangan zaman. Pendidikan yang menyangkut pemngembangan sumber daya manusia ini merupakan investasi dalam jangka waktu yang panjang sepanjang kehidupan manusia.

Untuk memperlancar proses pendidikan diperlukan suatu wadah atau lembaga yang disebut sekolah. Sekolah merupakan lembaga formal tempat

(17)

berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Belajar merupakan suato proses perubahan tingkah laku kea rah yang lebih maju dan baik. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang merupakan hasil yang diperoleh dari belajar.

Dalam dunia pendidikan, hasil belajar merupakan faktor yang sangat penting, karena hasil belajar yang dicapai siswa merupakan alat untuk mengukur sejauh mana hasil belajar siswa menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Keberhasilan proses dan hasil belajar dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor internal, faktor eksternal dan pendekatan belajar. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) yakni keadaan dan kondisi jasmani dan rohani siswa, faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa dan faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari mater-materi pelajaran. Selain faktor keberhasilan pada proses hasil belajar yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah kualitas pendidikannya itu sendiri.

Kualitas pendidikan dapat ditingkatkan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan pembaharuan system pendidikan. Ada tiga komponen yang perlu disoroti dalam pembaharuan pendidikan yaitu pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan efektifitas metode pembelajaran. Peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dengan cara penerapan strategi atau metode pembelajaran yang efektif di kelas dan memberdayakan potensi siswa. Penerapan strategi atau metode yang demikian

(18)

sangat dibutuhkan pada pelajaran sains seperti halnya pada pelajaran fisika. Dalam hal ini penerapan strategi pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan tinggi rendahnya hasil belajar siswa.

Rendahnya hasil belajar fisika siswa disebabkan oleh ketidaktepatan penggunaan strategi atau model pembelajaran yang digunakan guru dikelas. Kenyatan menunjukkan bahwa selama ini kebanyakan guru menggunakan pembelajaran yang bersifat konvensional dan banyak didominasi oleh guru. Guru yang selalu mengajar konvensional menyebabkan peserta didik menjadi bosan, mengantuk, pasif dan berfungsi sebagai notulis dari ucapan guru di muka kelas saja. Selain guru yang mengajar konvensional, guru juga selalu mendominasi kelas, dengan harapan konsep yang diajarkan segera selesai. Siswa kurang diberi kesempatan untuk berhubungan dengan lingkungan alam sekitar, menelaah dan berpendapat terhadap suatu konsep yang ada. Akibatnya suasana kelas selama pembelajaran cenderung pasif, aktivitas siswa rendah dan kurang kondusif.Siswa tidak aktif bertanya, kalaupun ada yang bertanya jenis pertanyaannya berkualitas rendah dan tidak menunujukkan proses berpikir ilmiah. Apalagi jika model pembelajaran tersebut hanya menekankan pada pemberian konsep semata, sehingga peserta didik tidak mampu memahami mater pelejaran secara penuh. Model pembelajaran seperti ini perlu dirubah dengan kecenderungan kembali kepada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan belajarnya diciptakan secara alamiah.

Dibutuhkan model pembelajaran yang dapat menghidupkan suasana kelas. Dengan konsep ini, hasil belajar dan pembelajaran diharapkan lebih bermakna dan

(19)

berkesan bagi siswa. Siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya dan bagaimana cara mencapainya. Mereka akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari pada saat ini akan berguna bagi hidupnya nanti. Untuk mengatasi hal ini, guru dituntut mencari dan menemukan suatu cara yang dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. Guru diharapkan mampu mengembangkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan, menemukan, menyelidiki, dan mengungkapkan ide peserta didik sendiri. Dengan kata lain diharapkan agar guru mampu meningkatkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah peserta didik dalam ilmu pendidikan alam khususnya dibidang fisika.

Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik berlatih memecahkan masalah adalah model pembelajaran berbasis masalah. Model ini merupakan pendekatan pembelajaran peserta didik pada masalah autentik (nyata) sehingga peserta didik dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang tinggi dan inkuiri, memandirikan peserta didik, dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Pada model ini peran guru adalah mengajukan masalah, mengajukan pertanyaan, memberikan kemudahan suasana berdialog, memberikan fasilitas penelitian, dan melakukan penelitian. Model pembelajaran ini juga banyak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Siswa diberikan kesempatan untuk lebih berpikir kreatif dan aktif berpartisipasi dalam mengembangkan penalarannya mengenai materi yang diajarkan serta mampu menggunakan penalarannya tersebut dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

(20)

Diantara materi- materi fisika yang dapat dijadikan suatu bahan permasalahan dalam penelitian ini yaitu pada konsep kalor, dimana pada konsep kalor didalamnya membahas tentang fenomena-fenomena yang ada di kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan uraian di atas, penggunaan model pembelajaran yang melibatkan siswa mempunyai peranan penting dalam meningkatkan hasil belajar fisika. Dipilihnya model pembelajaran berdasarkan masalah dalam penelitian ini karena model model pembelajaran ini pada dasarnya lebih mendorong siswa untuk aktif dalam memperoleh pengetahuan. Dengan banyaknya aktifitas yang dilakukan oleh siswa, diharapkan dapat menimbulkan rasa senang dan antusias siswa dalam belajar. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika yang dapat mendorong siswa untuk meningkatkan hasil belajar. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peranan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa”

(21)

B. Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat peranan model pembelajaran berbasis masalah terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII SMP saribuana Makassar?”

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitiaan ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya peranan model pembelajaran berbasis masalah terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII SMP Saribuana Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Penulis, siswa, dan sekolah, adapun manfaat penelitian ini adalah :

1. Bagi penulis, dapat mengetahui model pembelajaran yang efektif dalam mengajarkan materi fisika

2. Bagi siswa, dapat meningkatkan motivasi dan belajar siswa, serta meningkatkan kemampuan siswa dalam bersosialisasi dalam menyelesaikan masalah

3. Bagi sekolah, diharapkan hasil penelitian ini memberikan sumbangsi dalam meningkatkan mutu pendidikan

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka

1. Teori belajar Konstruktivisme

Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompokkan dalam teori pembelajaran konstruktivisme. Konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan sega sesuatu untuk dirinya sendiri, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.

Konstruktivisme merupakan salah satu pendekatan belajar yang menyatakan bahwa siswa akan belajar dengan lebih baik jika siswa secara aktif membangun sendiri pengetahuan dan pemahamannya. Dalam hal ini, siswa belajar dengan mengembangkan pengetahuan awal yang sudah terlebih dahulu dimilikinya. Para pakar konstruktivisme mengemukakan bagaimana pengetahuan dapat disusun sehingga dapat dipelajari, yaitu dengan cara pembelajar sendiri yang harus aktif sehingga pembelajar dapat memilih dan menginterpretasikan informasi yang diperolehnya dari lingkungan sekitarnya.

Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan denga teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental piaget. Teori ini bisa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori

(23)

perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan cirri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya pada tahap sensor motorik anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan.

Piaget (2007:56) yang dikenal sebagai konstruktivis pertama mengaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema yang telah terbentuk sedangkan akomodasi adalah proses perubahan skema. Proses akomodasi menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru.

Piaget (2007:57) berpendapat bahwa pada dasarnya individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untu mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Strategi pembelajaran berbasis konstruktivisme dari Piaget, dengan ide utamanya sebagai berikut :

1. Pengetahuan tidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi siswa membentuk pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya, melalui proses asimilasi dan akomodasi

2. Agar pengetahuan diperoleh, siswa harus beradaptasi dengan lingkungannya

(24)

3. Andaikan dengan proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya, terjadilah ketidakseimbangan. Akibatnya terjadilah akomodasi, dan struktur yang ada mengalami perubahan atau struktur baru timbul

4. Pertumbuhan intelektual merupakan proses terus menerus tentang ketidakseimbangan dan keadaan seimbang. Tetapi, bila terjadi kembali keseimbangan maka individu itu terjadi kembali keseimbangan, maka individu itu berada pada tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Dari keterangan di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

a. Pengertian Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Basid Learning)

Menuru Barrows, Gallagher et all dan Hmelo-silver yang dikutip oleh Brian R. Belland (2009:203) menyatakan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah adalah suatu model instruksional yang melibatkan argument siswa dalam suatu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran berdasarkan masalah, siswa dibentuk dalam suatu kelompok kecil kemudian disajikan suatu permasalahan dengan berbagai solusi

(25)

penyelesaian serta besrta alur dari solusi yang disediakan. Setelah mendefinisikan permasalahan yang diajukan, siswa perlu menentukan dan mengumpulkan informasi yang dianggap paling sesuai dengan solusi yang mereka pilih. Informasi yang mereka dapatkan tersebut harus mereka kembangkan sedemikian rupa, sehingga pilihan solusi yang mereka gunakan memiliki landasan dan argumen yang dapat dipertahankan dihadapan siswa atau kelompok lainnya.

Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pelaksanaan pembelajaran berangkat dari sebuah kasus tertentu dan kemudian dianalisis lebih lanjut guna untuk ditemukannya pemecahan masalahnya, dan Problem Basid Learning juga merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.

Pembelajaran berdasarkan masalah adalah sebuah model pembelajaran yang mendorong siswa untuk melakukan penelitian, teori dan latihan yang saling berhubungan dan aplikasi ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk membangun pemecahan masalah. Pembelajaran berdasarkan masalah juga merupakan sebuah metode pembelajaran dimana siswa belajar melalui pemecahan masalah yang berpusat pada sebuah masalah kompleks dan memiliki pilihan satu jawaban tepat.

Pembelajaran berdasarkan masalah juga dapat diartikan sebagai suatu proses pemecahan masalah, keingintahuan, keraguan, dan ketidakpastian tentang fenomena yang kompleks dalam kehidupan. Permasalahan disini

(26)

adalah tentang segala leraguan, kesulitan, atau ketidakpastian yang mengundang atau membutuhkan beberapa macam pemecahan.

Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme yaitu pembelajaran yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tapi peserta didik harus mengkontruksi pengetahuannya sendiri dan pengetahuan ini tidak dapat dipisah-pisahkan tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diaplikasikan.

Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.

Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, sebab disini guru berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, pemberi fasilitas penelitian, menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual peserta didik. Pendekatan konstruktivisme bercirikan pembelajaran berpusat pada peserta didik dan menekankan pada proses pembelajaran yang aktif.

Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang

(27)

membutuhkan penyelidikan autentik yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata.

Pembelajaran berdasarkan masalah adalah kurikulum dan proses pemebelajaran. Dalam kurikulumnya dirancang masalah-masalah yang menuntut mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan-pendekatan yang sistematik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam karier dan kehidupan sehari-hari.

Pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa mengajarkan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model untuk pemecahan masalah yang signifikan, yang disandarkan pada situasi keadaan yang nyata dan memberikan sumber-sumber, menunjukkan atau memandu dan memberikan petunjuk pada pembelajar untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pemahaman masalah.

Pembelajaran berdasarkan masalah juga bergantung pada konsep lain dari Brunner, (2005:55) yaitu Scafolding. Brunner mengartikan scaffolding sebagai suatu proses dimana siswa dibantu menuntaskan

(28)

masalah tertentu malampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan (scafolding) dari seorang guru atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih. Dalam hal ini pembelajaran berdasarkan masalah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari pihak-pihak lain yang membantu siswa dalam memecahkan masalah.

Dalam model pembelajaran berdasarkan masalah focus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis.

Berdasarkan defenisi yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berdasarkan masalah adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk memcahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan pembelajaran berdasarkan masalah memfokuskan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mendorong siswa agar lebih kreatif dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.permasalahan-permasalahan ini tentunya yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Selain

(29)

itu, seorang guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memecahkan masalah dalam pelaksanaan penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah tersebut.

b. Karakteristik Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Model pembelajaran berdasarkan masalah memiliki sejumlah karakteristik/cirri yang membedakannya dengan model pembelajaran yang lainnya, yaitu :

1. Pembelajaran bersifat student centered

2. Pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompom kecil 3. Guru berperan sebagai fasilitator dan moderator

4. Masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk mengembangkan keterampilan problem solving

5. Informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri

Ida Bagus Putu Arnyana (2006:88) menyebutkan bahwa problem basid learning juga memiliki karakteristik/cirri diantaranya yaitu sebagai berikut:

1. Mengajukan pertanyaan atau masalah yang terkait masalah kehidupan nyata

2. Melibatkan berbagai disiplin ilmu 3. Melakukan penyelidikan autentik

4. Menghasilkan produk atau karya serta mengkomunikasikannya atau memamerkannya

(30)

5. Kerja sama dalam melakukan penyelidikan

Menurut I Wayan Dasna dan Sutrisno yang dikutip oleh Fathurrohman (2007:45) mengungkapkan bahwa PBL memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Belajar diawali dengan masalah

2. Masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa 3. Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah

4. Siswa diberikan tanggung jawab yang besar untuk melakukan proses belajar secara mandiri

5. Menggunakan kelompok kecil

6. Siswa dituntut untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari dalam bentuk kinerja

c. Tahapan dan Hasil Belajar Dalam Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Menurut Sugianto (2010:77) terdapat lima tahapan dalam pembelajaran berdasarkan masalah dengan perilaku yang diberikan oleh guru, diantaranya yaitu :

Tabel 2.1 Tahapan-tahapan Problem Basid Learning

Tahapan Arahan dari guru

1. Memberikan orientasi tentang permasalahan kepada siswa

Guru membantu siswa untuk membentuk kelompok belajar. Guru membahas tujuan pembelajaran, menjelaskan bahan yang dibutuhkan,

(31)

memotivasi siswa agar terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih. 2. Mengorganisasikan siswa untuk

meneliti (belajar)

Guru membantu siswa untuk

mendefinisikan dan

mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

3. Membantu investigasi / membimbing penyelidikan individual atau kelompok

Guru mendorong siswa untuk mendapatkan dan mengumpulkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan solusi.

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa untuk merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai, seperti laporan, rekaman video, dan model-model yang

membantu mereka untuk

menyampaikannya kepada orang lain. 5. Menganalisis dan mengevaluasi

proses mengatasi pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan refleksi dan evaluasi terhadap penyelidikan/investigasi mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

(32)

d. Manfaat pembelajaran Berdasarkan Masalah

Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada peserta didik. Pembelajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. Belajar berbagi peran dengan orang dewasa melalui keterlibatan mereka dan pengalaman nyata, dan menjadi pembelajaran yang otonom dan mandiri.

Menurut Sudjana (2005:97) manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para peserta didik merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya.

e. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Model pembelajaran berdasarkan masalah memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pembelajaran berdasarkan masalah sebagai model pembelajaran adalah :

a. Realistikdengan kehidupan nyata b. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa c. Memupuk sifat inquiri siswa

d. Retensi konsep jadi kuat

(33)

Selain kelebihan tersebut, pembelajaran berdasarkan masalah juga memiliki beberapa kekurangan antara lain :

a. Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks b. Sulitnya mencari problem yang relevan

c. Sering terjadi miss-konsepsi

d. Konsumsi waktu, dimana model ini memerlukan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan. Sehingga terkadang banyak waktu yang tersita untuk proses pembelajaran tersebut.

3. Hasil Belajar

Pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar ditinaju dari sudut kegiatan siswa berupa pengalaman belajar siswa yaitu kegiatan siswa yang direncanakan guru untuk dialamai siswa selama kegiatan belajar mengajar.

Belajar adalah merupakan proses aktif siswa untuk mempelajari dan memahami konsep-konsep yang dikembangkan sendiri atau kelompok, baik mandiri atau berkelompok, baik mandiri ataupun dibimbing.

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Belajar adalah salah satu proses atau upaya sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan prilaku baru secara keseluruhan berinteraksi dengan lingkungan sehingga dapat memperoleh pengalaman dari interaksi

(34)

tersebut. Perubahan yang diperoleh dari hasil belajar diharapkan dapat membawa pada perubahan yang lebih baik.

Dalam buku-buku teori belajar, Ratna Wilis Dahar (1996:55) menulis: menurut Gagne, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.

Menuru Slameto (2010:65) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Hasil belajar sendiri adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Benyamin Bloom (2009:107) mengklasifikasikan kemampuan hasil belajar ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Ketiga tingkatan itu di kenal dengan istilah Bloom’s Taxonomi (Taksomoni Bloom). Kemampuan hasil bealajar diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu: ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Pada penelitian ini, penulis hanya akan mengungkapkan hasil belajar pada ranah kognitif saja.

Hasil belajar pada aspek kognitif merupakan suatu kemampuan yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Hasil belajar pada aspek kognitif dibagi kedalam enam jenjang, yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Adapun aspek kognitif yaitu :

(35)

1) Pengetahuan/ingatan 2) Pemahaman 3) Penerapan 4) Analisis 5) Sintesis 6) Evaluasi

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh tiga factor: factor-faktor tersebut diantaranya ialah factor internal, factor eksternal dan factor pendekatan belajar.

Factor internal adalah factor yang datang dari dalam diri sendiri, factor internal ini meliputi dua aspek yaitu :

1. Aspek fisiologis

Aspek fisiologi ini merupakan kondisi umum jasmani dapat dikatakan melatar belakangi aktivitas belajar. Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar. Siswa yang kekurangan gizi misalnya, ternyata kemampuan belajarnya berada di bawah siswa-siswa yang tidak kekurangan gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi pada umumnya cenderung cepat lelah dan capek, cepat ngantuk dan akhirnya tidak mudah dalam menerima pelajaran.

(36)

Kejiwaan seseorang mempengaruhi aktivitas belajar seseorang. Aspek kejiwaan ini terdiri dari :

a. Intelegansi siswa merupakan kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaiakan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Tingkat keberhasilan siswa ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ)

b. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif. Sikap seseorang dalam melakukan suatu kegiatan sangat berpengaruh sekali terhadap kegiatan yang dilakukan. Bagaimana seseorang dapat menyikapi semua kegiatan yang dilakukannya tergantung dari motivasi melakukan kegiatan tersebut. Sikap seorang siswa dalam belajar khususnya dalam pembelajaran fisika harus selalu menyikapinya dengan pemahaman yang positif, karena jika kita menyikapinya dengan sikap yang negatif maka akankah tujuan pembelajaran fisika dapat tercapai.

c. Bakat adalah kemampuan yang dimiliki sesorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan memiliki bakat terhadap suatu kegiatantertentu akan mudah untuk lebih mengembangkan bakat tersebut.

d. Minat adalah kecenderungan dan kegairahan atau keinginan yang besar terhadap sesuatu

e. Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi ini dapat mendorong seseorang lebih maju dalam melakukan suatu kegiatan. Penemuan-penemuan penelitian

(37)

menunjukkan bahwa hasil belajar pada umumnya akan meningkat jika motivasi belajar bertambah.

Selain faktir intern, belajar juga dipengaruhi oleh factor ekstern. Adapun factor-faktor ekstern dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.

1. Faktor keluarga

Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga

2. Faktor sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah

3. Faktor masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Pengaruh tersebut dapat berasal dari kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.

Faktor yang terakhir adalah pendekatan belajar. Faktor pendekatan belajar dapat dipahami sebagai cara atau strategi yang digunakan oleh siswa

(38)

dalam menunjuang efektivitas dan proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.

Dari pendapat diatas, diketahui bahwa strategi merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam pembelajaran fisika. Pembelajaran fisika akan lebih bermakna apabila diimbangi dengan strategi belajar yang tepat, dalam hal ini pemilihan metode dan penggunaan model pembelajaran yang tepat sebagai alat hasil belajar siswa. Pembelajaran harus melibatkan siswa secara aktif dalam belajar, terlebih lagi jika mereka dapat bekerja sama dan saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

4. Kalor

Kalor adalah suatu bentuk energy yang secara alamiah dapat berpindah dari benda yang suhunya tinggi menuju benda yang suhu yang rendah saat bersinggungan. Kalor juga dapat berpindah dari suhu rendah ke suhu yang lebih tinggi. Air secara alamiah selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah dan tidak pernah dalam arah sebaliknya. Akan tetapi, kita mengetahui bahwa air dapat

Akan tetapi kita mengetahui bahwa air dapat dibuat oleh manusia mengalir dari tempat rendah ke tempat yang tinggi dengan menggunakan mesin, yaitu pompa air. Kalor bisa di alirkan untuk mengalir dari suhu yang rendah ke suhu yang tinggi. Contohnya air yang dimasukkan ke dalam pendingin kulkas akan

(39)

berubah menjadi beku. Banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu benda bergantung pada lamanya pemanasan dan massa zat. Kalor dapat diukur dengan alat yang disebut calorimeter.

1 kalori = 4,2 Joule

1. Pengaruh kalor terhadap suatu zat

Penambahan kalor pada suatu zat akan menaikkan suhu zat dan pengurangan kalor akan menurunkan suhu zat. Kapasitas kalor (H) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebesar 1o C atau 1 K. Defenisi kapasitas kalor sama dengan defenisi 1 kalori. Oleh karena itu kapasitas kalor dinyatakan juga dalam kalori atau Joule.

Jika kenaikan suhu pada zat adalah ΔT, secara matematis, kapasitas kalor dinyatakan

H =

Dengan :

Q : Jumlah kalor pada suatu zat (J atau kal) H : Kapasitas kalor (J/0C atau J/K)

ΔT : T2 – T1 = Perubahan suhu zat (0C atau K)

Selain kapasitas kalor, ada satu konsep yang hampir mirip tetapi memiliki perbedaan mendasar, yaitu kalor jenis, kalor jenis adalah banyaknya kalor yang

(40)

dibutuhkan oleh 1 kg zat untuk menaikkan 1o C atau 1K. Besarnya kalor jenis zat dapat kita ukur dengan menggunakan calorimeter.

Besarnya kalor (Q) yang diperlukan oleh suatu benda sebanding dengan massa benda (m), bergantung pada kalor jenis (c), dan sebanding dengan kenaikan suhu (Δt).

Secara matematis, besar kalor suatu zat dinyatakan :

Q = m. c. ΔT Dengan :

Q : Jumlah kalor pada suatu zat (J atau Kal)

m : Massa zat (kg)

c : kalor jenis zat (J/0C atau J/kg K)

ΔT : T2 – T1 = Perubahan suhu zat (0C atau K)

Kalor yang diberikan pada suatu benda dapat menyebabkan kenaikan suhu atau dapat mengubah wujud suatu zat. Es yang dipanaskan suhunya akan naik dan mencair. Ketika es masih berbentuk padat suhunya masih dibwah 0o C, ketika melebur suhunya tepat pada 0o C es berubah menjadi cair. Setelah melebur air itu dipanaskan lagi, maka lama kelamaan air itu akan mendidih tepat pada suhu 100o C.

Pada saat terjadi perubahan wujud suhu zat tetap, hal ini disebabkan karena kalor yang diberikan tidak untuk menaikkan suhu tetapi untuk mengubah wujud,

(41)

dan ketika zat mengalami perubahan suhu, wujud zat tetap karena kalor yang diterima tidak untuk mengubah wujud tetapi untuk menaikkan suhu. Berikut ini adalah diagram perubahanwujud zat :

Perubahan wujud yang memerlukan kalor yaitu melebur (mencair), menguap, dan menyublim. Sedangkan perubahan wujud yang melepaskan kalor yaitu membeku, mengembun dan mengkristal.

2. Faktor-faktor yang mempercepat penguapan

a. Memanaskan. Dengan energi panas molekul-molekul akan lebih cepat bergerak, sehingga pakaian yang dijemur akan cepat kering

b. Memperluas permukaan. Dengan memperluas permukaan berarti memperbanyak molekul-molekul zat cair yang yang dekat dengan permukaan, akibatnya molekul-molekul zat cair lebih mudah meninggalkan permukaan atau menguap.

c. Meniupkan udara di atas permukaan. Meniupkan udara di atas permukaan juga membawa molekul zat cair dekat permukaan, sehingga molekul-molekul tersebut lebih mudah meninggalkan permukaan zat cair.

d. Menyemburkan zat cair. Semburan air memberikan suatu luas permukaan yang sangat besar, sehingga molekul-molekul mudah menguap

e. Mengurangi tekanan pada permukaan. Dengan mengurangi tekanan diatas permukaan, berarti member jarak antara molekul menjadi renggang.

(42)

Sesuai dengan hukum kekekalan energy, kalor yang dilepaskan benda panas akan diserap benda dingin. Hal ini pertama kali dikemukakan oleh seorang fisikawan inggris bernama Joseph Black (1728 – 1799), sehingga dikenal dengan asas Black yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

Asas Black berbunyi : “kalor yang dilepaskan oleh zat yang suhunya tinggi akan sama dengan kalor yang diterima oleh zat yang suhunya rendah” secara matematis, Asas Black dinyatakan :

Qlepas = Qterima m1. c1. ΔT1 = m2. c2. ΔT2

4. Penerapan Kalor dalam Kehidupan Sehari-hari a. Pengaruh Tekanan

Pengaruh tekanan terhadap titik didih, titik didik zat cair akan naik jik tekanan di atas permukaan dinaikkan. Contoh : panci pemasak bertekanan dapat memasak daging lebih cepat empuk, karena air dalam panci mendidih lebih dari 100o C dan tekanannya sampai 2 atm. Akibatnya daging lebih cepat empuk. Penurunan tekanan di atas permukaan dapat menurunkan titik didih, oleh karena itu makin tinggi di atas permukaan bumi suhunya makin rendah karena makin tinggi tekanannya makin rendah.

b. Ketidakmurnian Zat

Ketidakmurnian zat dapat menaikkan titik didih. Contoh : air gula, air garam mendidih lebih dari 100o C, oleh karena itu jika memasak sayuran

(43)

menggunakan garam dimaksudkan selain gurih rasanya juga supaya cepat empuk. Adapun pengaruh ketidakmurnian menurunkan titik lebur zat. Contohnya : penambahan garam pada campuran es dengan air hingga 20o C. karena penambahan garam, es melebur di bawah 0o C. untuk melebur zat memerlukan kalor, kalor diambil dari dalam e situ sendiri karena tidak ada suplai dari luar. Akibatnya suhu es turun di bawah 0o C meskipun sudah dalam wujud zat.

B. KERANGKA BERPIKIR

Masalah pembelajaran fisika yang terjadi di sekolah adalah permasalahan metode pengajaran yang digunakan oleh guru. Secara singkat kerangka berpikir dari penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut ini :

Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berpikir Permasalahan pembelajaran fisika

Penggunaan metode konvensional

Rendahnya hasil belajar fisika siswa

Hasil belajar fisika siswa meningkat

Pembelajaran lebih bermakna Siswa belajar metode ilmiah dalam memecahkan masalah Model pembelajaran berbasis

(44)

C. HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

HO : Tidak terdapat peranan pembelajaran fisika menggunakan model pembelajaran berbasis masalah terhadap hasil belajar fisika siswa

Ha : Terdapat peranan pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah terhadap hasil belajar fisika siswa

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Lokasi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yaitu penelitian Pra-Eksperimen (Pre experimental design) 2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian bertempat di SMP Saribuana Makassar B. Variabel dan Desain Penelitian

1. Variabel Penelitian

Dalam Penelitian ini digunakan dua variabel yakni variabel bebas dan terikat; a. Variabel bebas,meliputi pembelajaran fisika melalui pembelajaran berbasis

masalah

b. Variabel terikat adalah hasil belajar Fisika siswa 2. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control group design, dimana dalam rancangan ini dilibatkan dua kelas yang dibandingkan, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui randomisasi. Kelas eksperimen diberikan perlakuan untuk jangka waktu tertentu. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan dan pengaruh dari perlakuan diukur berdasarkan perbedaan antara pengukuran awal dan pengukuran akhir kedua kelas. Desain penelitian nonequivalent control group pretest-posttest design tampak sebagai berikut :

(46)

Tabel 3.1

Design penelitian

Kelas Pretest Treatment Posttest

E O1 XE O2

K O1 XK O2

Keterangan :

E : Kelompok eksperimen

K : Kelompok control

O1 : Preetest yang diberikan pada kelompok control dan kelompok eksperimen

O2 : posttest yang diberikan pada kelompok control dan kelompok eksperimen XE : Perlakuan dengan pembelajaran PBL

XK : Perlakuan dengan pembelajaran konvensional C. Defenisi Operasional Variabel

Secara operasional variabel yang dikaji dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelejaran yang pelaksanaan pembelajaran berangkat dari sebuah kasus tertentu dan kemudian dianalisis lebih lanjut guna untuk ditemukannya pemecahan masalahnya

2. Hasil belajar adalah tingkat penguasaan materi Fisika yang sudah dipelajari atau diajarkan dalam kurun waktu tertentu. Tingkat penguasaan tercermin

(47)

dari skor yang dicapai siswa atas jawaban tes hasil belajar Fisika dengan ranah kognitif yang meliputi ingatan (C1), pemahaman (C2), dan aplikasi (C3) D. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Saribuana Makassar, sedangkan populasi terjangkaunya adalah seluruh siswa kelas VII di SMP Saribuana Makassar

2. Sampel

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel acak kelompok, dengan unit samplingnya adalah kelas VII. Kelas yang terpilih sebagai sampel dalam penelitian ini adalah kelas VII a sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII d sebagai kelas kontrol.

E. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang dilaksanakan pada penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan tahap akhir. Langkah-langkah dalam setiap tahapan prosedur penelitian ini dapat dilihat lebih jelas pada gambar 3.1 berikut ini :

(48)

Gambar 3.1 Alur prosesdur penelitian F. Instrumen Penelitian

instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

1. Survey tempat uji coba instrument dan penelitian

2. Penyusunan instrument 3. Uji coba instrument

4. Penyusunan perangkat pembelajaran

Tahap pelaksanaan

Perlakuan terhadap sampel penelitian

Preetest Penerapan model pembelajaran

berbasis masalah pada kelas eksperimen

Penerapan model konvensioanl pada kelas kontrol

Posttest

Tahap akhir 1. Analisis data

2. Pembahasan hasil penelitian 3. Penarikan kesimpulan

(49)

tes hasil belajar siswa yang terdiri dari 14 soal uraian yang mengukur aspek kognitif pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4). Soal dibuat dalam bentuk soal A dan B yang memiliki indikator dan jenjang kognitif yang sama, jadi diantara soal A dan B hanya akan dipilih satu soal yang memiliki tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda yang lebih baik. Sehingga diperoleh instrumen yang tepat untuk mengukur hasil belajar fisika siswa.

Berikut disajikan kisi-kisi instrumen penelitian final yang akan digunakan sebagai soal pretest dan posttest :

(50)

Tabel 3.2 Kisi-kisi instrumen test

No. Indikator C1 C2 C3 C4 Jumlah

1 Menyelidiki pengaruh kalor terhadap perubahan suhu benda dan perubahan wujud zat

1 (1A) 2 (1B)

2

2 Menerapkan hubungan persamaan kalor untuk memecahkan masalah sederhana

3 (2A) 4 (2B)

2

3 Perubahan yang disebabkan kalor (perubahan suhu dan wujud) 5 (3A) 6 (3B) 7 (3A) 8 (3B) 4

4 Menerapkan asas black untuk menyelesaikan masalah sehubungan dengan kalor

9 (4A) 10 (4B) 2 5 Faktor-faktor yang mempercepat penguapan 11 (5A) 12 (5B) 2 6 Menerapkan pemanfaatan prinsip kalor dalam peralatan sederhana setiap hari

13 (6A) 14 (6B)

2

(51)

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar fisika yang diperoleh dari pelaksanaan pretest dan posttest. Tes ini digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar fisika yang diperoleh siswa setelah diterapkannya model pembelejaran berdasarkan masalah. Tes ini disusun berdasarkan pada indikator yang hendak dicapai. Soal-soal tes yang digunakan berupa soal uraian pada konsep kalor. Instrumen ini mencakup ranah kognitif pada aspek pengetahuan (C1) sampai analisis (C4). Tes hasil belajar ini dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum perlakuan (tes awal) dan sesudah perlakuan (tes akhir) yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Secara lengkap dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 3.3 Teknik Pengumpulan Data

Sumber data Jenis data Teknik

pengumpulan data

Instrumen

Kelas eksperimen dan kelas kontrol

Tes hasil belajar sebelum diterapkan pembelajaran berbasis masalah Melaksanakan tes awal Essai Kelas eksperimen dan kelas kontrol

Tes hasil belajar setelah diterapkan pembelajaran berbasis masalah Melaksanakan tes akhir Essai

(52)

H. Uji Instrumen Penelitian

Uji coba instrumen ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kualitas instrumen penelitian yang akan digunakan dengan menghitung validitas,

reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembedanya. Uji coba ini dilakukan pada populasi siswa di luar sampel penelitian yaitu pada siswa kelas VIII SMP

Saribuana Makassar

1. Validitas butir soal

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Validitas merupakan syarat yang kevalidan atau kesahihan suatu instrumen yaitu rhitung ›rtabel suatu instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.

Rumus untuk menguji validitas soal adalah :

rxy =

√{ }{ }

Keterangan :

rxy : Koefisien korelasi antara variabel X dan Y N : Jumlah sampel

∑XY : Jumlah perkalian X dan Y ∑ : Jumlah X kuadrat

(53)

(∑X)2

: Jumlah X yang dikuadratkan (∑Y)2

: Jumlah Y yang dikuadratkan

Untuk mengetahui valid atau tidaknya butir soal, maka rxy dibandingkan dengan rtabel dengan taraf signifikan (α=0,05). Jika rxy ≥ rtabel maka soal tersebut valid, dan jika rxy < rtabel maka soal tersebut dinyatakan tidak valid. Dari 14 soal yang diujicobakan, 12 soal dinyatakan valid, yaitu nomor

1,3,4,6,7,8,9,10,11,12,13, dan 1. Dari 12 soal yang valid, tujuh soal yang akan digunakan sebagai instrument penelitian adalah nomor 1,3,6,8,9,12 dan 14. 2. Reliabilitas tes

Reliabilitas bermakna keterpercayaan atau konsistensi, dapat diartikan sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya dan konsisten. Reliabilitas

menunjukan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data.

Uji reliabilitas yang digunakan dalam menguji instrument tes uraian dengan menggunakan rumus alpha yaitu :

rii = [ ] [ ] dimana :

rii : reliabilitas yang dicari

2

:

(54)

: varians total

Jika instrument itu reliabel, maka dilihat kriteria penafsiran indeks reliabilitasnya sebagai berikut :

Tabel 3. 4

Interpretasi Kriteria Reliabilitas Instrumen

Koefesien korelasi Kreteria reliabilitas

r ≥ 0,90 Sangat reliabel

0,70 ≤ r < 0,90 Reliabel tinggi

0,40 ≤ r < 0,70 Cukup reliabel

0,20 ≤ r < 0,40 Kurang reliable

r < 0,20 Tidak reliabel

Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas instrument tes, nilai reliabilitas yang didapat dari 12 butir soal yang valid adalah sebesar 0,814. Berdasarkan kriteria reliabilitas instrumen, tingkat kevalidan instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah reliabel (tinggi).

3. Taraf kesukaran butir soal

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang gterlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang sukar menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak semangat untuk mengerjakan lagi karena diluar jangkauannya.

(55)

Untuk mengetahui taraf kesukaran soal dari suatu tes dapat digunakan rumus sebagai berikut :

P =

Keterangan :

P : indeks kesukaran

B : jumlah siswa yang menjawab benar

JS : jumlah seluruh siswa peserta tes

Untuk menginterpretasikan nilai tingkat kesukaran butir soal yang diperoleh dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 3. 5

Interpretasi tingkat kesukaran

Indeks tingkat kesukaran Kriteria tingkat kesukaran

0,00 < P ≤ 0,30 Sukar

0,30 < P ≤ 0,70 Sedang

0,30 < P ≤ 1,00 Mudah

Berdasarkan uji taraf kesukaran butir soal diketahui bahwa dari 7 soal yang akan digunakan sebagai instrument penelitian terdapat 6 soal dengan kategori sedang, yaitu nomor 1, 3, 6, 8, 10, dan 12, serta terdapat 1 soal yang termasuk kategori soal sukar, yaitu nomor 13.

(56)

4. Daya Pembeda Butir Soal

Analisi daya pembeda soal pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu soal dalam membedakan tingkat kemampuan siswa. Rumus yang digunakan untuk menentukan daya pembeda pada penelitian ini adalah :

D = -

Dimana :

D : Indeks daya pembeda satu butir soal tertentu

BA : Banyaknya kelompok atas yang menjawab soal dengan benar BB : Banyaknya kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar JA : Banyaknya peserta kelompok atas

JB : Banyaknya peserta kelompok bawah

Setelah indeks pada daya pembeda diketahui maka harga tersebut diinterpretasikan pada kriteria daya pembeda sebagai berikut :

(57)

Tabel 3.6

Interpretasi daya pembeda

Indeks daya pembeda kriteria validitas

Negatif Sangat buruk, harus dibuang

0,00 < D ≤ 0,20 Jelek

0,20 < D ≤ 0,40 Cukup

0,40 < D ≤ 0,70 Baik

0,70 < D ≤ 1,00 Baik sekali

Berdasarkan hasil uji daya pembeda soal diketahui bahwa terdapat 2 soal dengan kategori jelek, yaitu soal nomor 9 dan 14. Terdapat 10 soal dengan kategori cukup, yaitu soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 7, 10, 11, 12 dan 13. Terdapat 2 soal dengan kategori baik, yaitu soal nomor 6 dan 8.

I. Teknik Analaisis Data

Setelah melakukan uji coba instrumen, selanjutnya dilakukan penelitian untuk memperoleh data yang diharapkan. Data yang diperoleh melalui instrumen penelitian kemudian diolah dan dianalisis dengan maksud agar hasilnya dapat menjawab pertanyaan peneliti dan menguji hipotesis. Pada penelitian ini data yang diperoleh dari instrument tes hasil belajar diolah dan dianalisis

menggunakan statistik yaitu dengan uji-t.

Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat analisis data, yaitu uji normalitas dan homogenitas untuk mengetahui

(58)

apakah data yang diperoleh terdistribusi normal dan mempunyai ragam yang homogeny atau tidak. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data yaitu sebagai berikut :

1. Pengujian prasyarat analisis data a. Uji Normalitas

Uji normalitas data perlu dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diteliti berasal dari data yang terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Langkah-langkah uji Liliefors adalah sebagai berikut :

1) Tentukan data sampel dari yang terkecil sampai terbesar 2) Tentuksn nilai Zi dari tiap-tiap dat dengan rumus:

Zi = Keterangan : Zi : skor baku : Nilai rata-rata : Skor data ke-i : Simpangan baku

3) Tentukan besar peluang untuk masing-masing nilai Zi berdasarkan table Z, dan sebut dengan F (Zi).

Jika Zi > 0, maka F (Zi) = 0,5 + nilai tabel Jika Zi < 0, maka F (Zi) = 1 – (0,5 + nilai tabel

4) Selanjutnya hitung proporsi Z1, Z2,… Zn yang lebih atau sama dengan Zi jika proporsi dinyatakan oleh S (Zi), maka :

(59)

S (Zi) =

yang ≤ Zi

5) Hitung selisih F (Zi) – S (Zi), kemudian tentukan harga mutlaknya | |

6) Ambil nilai terbesar diantara harga-harga mutlak selisih tersebut, nilai ini disebut Lo

Lo = max | |

7) Intrepretasikan dengan membandingkannya pada tabel L 8) Kesimpulan :

Jika Lo < Lt : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Jika Lo > Lt : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berasal dari data yang ragamnya sama atau tidak. Uji homogenitas dilakukan pada pasangan skor pretest dan posttest dengan menggunakan uji Fisher. Langkah-langkah yang dilakukan adalah :

1) Menentukan varians

2) Menghitung nilai F (Homogenitas) dengan rumus : F = dimana, S2 = Keterangan :

F : Nilai uji F : Ragam terbesar

(60)

3) Menentukan nilai homogenitas, adapun kriteria pengujian untuk uji

homogenitas adalah jika Fh < Ft pada taraf signifikan (α) = 0,05 maka data distribusi tidak homogeny.

2. Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui bahwa adanya perbedaan yang signifikan hasil belajar fisika anatar siswa yang mendapat pembelajaran berdasarkan masalah dengan siswa yang diajarkan dengan konvensional.

Untuk menguji hipotesis, jika pada uji normalitas diperoleh bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal, maka digunakan uji-t dengan taraf signifikan α = 0,05. Rumus uji-t yang

digunakan yaitu :

a. Jika varian populasi heterogen thit =

b.Jika varian populasi homogen dengan,

S2 =

( )

XE : Nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen XK : Nilai rata-rata hasil belajar kelompok control

(61)

nE : Jumlahsampel kelompok eksperimen nK : Jumlah sampel kelompok kontrol

: Varians kelompok eksperimen SK2 : Varians kelompok kontrol

kriteria pengujian : 1) Teriam Ho jika thitung < ttabel 2) Teriam Ho jika thitung > ttabel 3. Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik yang akan diuji pada penelitian ini adalah : Ho : =

Ho : > Keterangan :

Ho : Tidak terdapat peranan pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah terhadap hasil belajar siswa

Ha : Terdapat peranan pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah terhadap hasil belajar siswa

: Rata-rata hasil belajar fisika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran berdasarkan masalah

: Rata-rata hasil belajar fisika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional

(62)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan sebanyak lima kali pertemuan pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Peneliti memberikan perlakuan yang berbeda kepada kedua kelompok tersebut. Kelompok eksperimen belajar dengan model pembelajaran berbasis masalah sedangkan kelompok kontrol belajar menggunakan model pembelajaran konvensional.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data yang terkumpul dari tes yang diberikan kepada siswa-siswi SMP Saribuana Makassar berupa pretest dan posttest yang diberikan pada kedua kelompok tersebut. Pretest diberikan sebelum perlakuan dilakukan, pretest ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa kelompok eksperimen dan kontrol. Sedangkan posttest diberikan setelah perlakuan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar fisika siswa dalam memahami konsep kalor. Adapun instrumen yang digunakan pada pretest dan posttest dalam penelitian ini meliputi data hasil belajar fisika siswa melalui tes kognitif sebanyak 7 soal uraian yang telah diuji coba dan dianalisis.

1. Hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Berdasarkan hasil perhitungan pretest dan posttest kelompok eksperimen yang terdiri dari 40 siswa, disajikan dalam table sebagai berikut :

(63)

Tabel 4.1

Rekapitulasi Distribusi Data Hasil Preetes-Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Data Kelompok eksperimen Kelompok kontrol

Pretest posttest pretest posttest

Nilai tertinggi 70 85 71 80 Nilai rendah 24 52 14 45 Mean 43,30 72,95 50,50 62,95 Median 41,90 75,95 53,50 65,50 Modus 40,00 80,64 57,20 48,50 Standar deviasi 10,94 10,38 12,23 11,90

Berdasarkan tabel diatas, ukuran pemusatan dan penyebaran data hasil pretest untuk kelompok eksperimen yaitu : skor terbesar 70 dan skor terkecil 24, arata-rata (mean) sebesar 43,30, median sebesar 41,90, modus sebesar 40,00 dan standar deviasi sebesar 10,94. Sedangkan data hasil posttest skor tertinggi 85 dan skor terendah 52, rata-rata (mean) 72,95, median 75,95, modus 80,64 dan standar deviasi 10,38.

Berdasarkan table diatas, untuk kelompok control diperoleh skor terbesar 71 dan skor terkecil 14, rata-rata (mean) 50,50, median 53,50, modus 57,20 dan standar deviasi 12,23. Sedangkan hasil posttest diperoleh skor tertinggi 80 dan skor terendah 45, rata-rata (mean) 62,95, median 65,50, modus 48,50 dan standar deviasi 11,90.

(64)

Berikut rekapitulasi data pretest kelompok eksperimen dan control dapat dilihat pada diagram batang berikut :

Gambar 4.1

Histogram Data Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Adapun rekapitulasi data hasil posttest kelompok eksperimen dan kontrol dapat di lihat pada diagram berikut :

71 14 50.5 53.5 57.2 12.23 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

Nilai tertinggi Nilai rendah Mean Median Modus Standar

(65)

Gambar 4.2 Histogram Data Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol

2. Analisis Data Hasil Belajar a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini, uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Adapun kriteria penerimaan bahwa suatu data berdistribusi normal atau tidak dengan rumusan sebagai berikut :

Jika Lhitung < Ltabel berarti data berdistribusi normal

Jika Lhitung > Ltabel berarti data tidak berdistribusi normal

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00

Tertinggi Terendah Mean Median Modus Standar

Deviasi

eksperimen kontrol

(66)

Tabel 4.2

Hasil Uji Normalitas Data Pretest-posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Statistik Eksperimen Kontrol

Pretest posttest Pretest Posttest

N 40 40 40 40

X 43,30 72,95 50,50 62,95

S 10,90 10,38 12,23 11,90

Lhitung 0,1082 0,1391 0,0544 0,1371

< Ltabel 0,141 0,141 0,141 0,141

Kesimpulan Normal normal Normal Normal

Dari table hasil uji normalitas diatas dapat disimpulkan bahwa data hasil pretest maupun posttest kedua kelompok berdistribusi normal karena memenuhi kriteria yaitu Lhitung < Ltabel

b. Uji Homogenitas

Setelah kedua sampel kelompok dinyatakan berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan pengajuan homogenitas. Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian memiliki varians yang homogeny atau tidak. Dalam penelitian ini uji homogenitas dilakukan berdasarkan uji kesamaan varians kedua kelas, menggunakan uji fisher pada taraf signifikan (α) = 0,05 dengan criteria pengujian yaitu jika Fhitung < Ftabel maka data dari kedua kelompok mempunyai varians yang sama atau homogen.

Gambar

Tabel 2.1 Tahapan-tahapan Problem Basid Learning
Gambar 3.1 Alur prosesdur penelitian  F.  Instrumen Penelitian
Tabel 3.2 Kisi-kisi instrumen test
Tabel 3.3 Teknik Pengumpulan Data
+5

Referensi

Dokumen terkait

Intan Tunggal Kharisma adalah perusahaan yang memproduksi perumahaan dimana daerah pemasarannya saat ini tidak hanya mencakup wilayah Yogyakarta dan sekitarnya saja tetapi juga

Sedangkan, sistem demineralisasi AP 1000 terdiri dari tiga tahap proses yaitu pengolahan awal, demineralisasi primer yang terdiri dari dua unit RO dan

intensitas orang tua berkomunikasi lewat saluran telepon atau dunia internet membuat kelekatan antara orang tua dengan remaja lebih rendah daripada berkomunikasi

Pendu g aan kepadatan populasi, kekayaan jenis, kelimpahan jenis, kemerataan jenis, penyebaran jenis dan kesamaan jenis tiap komunitas dianalisis secara kuantitatif. Sedan g kan

Pada bab lima berisi bab pembahasan hasil penelitian. Pada bab ini membahas mengenai rumusan masalah yang ada dari pendapatan bank dan tabungan wadi’ah mempengaruhi bonus

Dapat memberikan tambahan wawasan bagi pegawai untuk mengetahui tentang faktor-faktor rasional, politik, dan kultur organisasi terhadap pemanfaatan teknologi informasi pada instansi

Namun demikian, akibat minimnya sosialisasi kepada pelaku UMKM dan persiapan menghadapi ACFTA yang terlihat belum matang ini menyebabkan pemberlakuan ACFTA telah