1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Perusahaan atau usaha industri di Indonesia sangat berkembang pesat sekarang, baik bentuk industri pengolahan yang besar, sedang, dan kecil yang berada di daerah Jawa maupun luar Jawa. Persaingan yang banyak terjadi di Indonesia ini membuat perusahaan-perusahaan dituntut untuk berkembang cepat sehingga setiap tahun makin pesat pertumbuhan jumlah perusahaan di Indonesia. Berdasarkan data yang didapatkan di website Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah industri di daerah Jawa selalu mengalami peningkatan hingga 19.773 industri pada tahun 2013 ini. Perkembangan Industri di Indonesia pun dapat dilihat dari segi impor Indonesia dimana sektor Non Migas, bagian Industri memegan peran yang paling besar sebesar 69,5% pada tahun 2014 berdasarkan data statistik di Kementrian Perindustrian.
Industri manufaktur yang akan difokuskan dalam peneilitian ini adalah industri kimia. Menurut Kementrian Perindustrian, hasil impor dalam industri di Indonesia dapat dilihat bahwa bahan-bahan kimia dasar memegang peran nomor urutan ke-2 dalam kelompok hasil industri di Indonesia. Industri kimia ini selalu mengalami perkembangan dalam hal ekspor dan impor dalam tahun 2012-2014 ini dengan tingkat perkembangan ekspor sebesar 8,21% dan perkembangan impor sebesar 1,52%. Hal ini menunjukkan bahwa industri kimia di Indonesia semakin lama semakin berkembang peminatnya dan banyak industri baru yang menggunakan bahan – bahan kimia untuk menjalankan proses produksi nya.
Dengan perkembangan yang semakin cepat ini menuntut perusahaan – perusahaan untuk selalu mengembangkan perusaahaannya untuk dapat tetap mengikuti perubahan dan memenangkan persaingan yang semakin besar setiap tahunnya. Menurut Coyle, Langley, Gibson, Novack, & Bardi (2013, hal. 21) dengan tantangan perubahan yang begitu cepatnya terjadi disuatu tempat, perusahaan dan organisasi lainnya, perlu adanya sebuah sistem jaringan yang memudahkan dan secara fleksibel dapat merespon dan berubah dalam berbagai bentuk dinamika pasar yang terjadi baik jangka pendek ataupun jangka panjang. Oleh karena itu, industri kimia perlu menerapkan sistem jaringan yang baik unutk
menciptakan lapangan kerja yang teratur dan berkontribusi mengembangkan unit usaha tersebut. Sistem jaringan perusahaan perlu dijaga baik agar tidak mengalami kerugian bagi pihak perusahaan itu sendiri dan hal inilah yang sedang terjadi di PT. Warnaprima Kimiatama
PT. Warnaprima Kimiatama adalah sebuah perusahaan manufaktur solvent dan thinner supplier yang didirikan sejak 1996. Bahan baku yang di gunakan kebanyakan diperoleh melalui impor dengan beberapa negara seperti Singapura, Thailand, Korea, Jerman, Arab Saudi, dan beberapa negara lainnya, dan ada juga diperoleh dari pabrik perusahaan lokal seperti Pertamina. Sekarang perusahaan Warna Prima Kimiatama berkembang menjadi perusahaan besar dalam bidang supplier solvent untuk industri-industri seperti cat, otomotif, printing, tekstil, elektronic, furniture, industri sepatu dan sektor industri lainnya di Indonesia. Jenis produk yang didistribusikan oleh perusahaan ini seperti Alcohol, Segala macam jenis thinner, methanol, minarex, minasol, SBP, SMT dan sebagainya.
Selama ini permintaan konsumen terhadap produk cukup tinggi dan tidak pernah putus, sehingga perusahaan dituntut untuk tetap produktif setiap harinya dalam memproduksi thinner dan solvent. Bahan baku merupakan kunci utama dalam pembuatan thinner dan solvent ini dimana pemesanan bahan baku masih bersifat manual atau konvensional sehingga dapat terjadi kelebihan maupun kekurangan dalam persediaan bahan baku pada PT. Warnaprima Kimiatama. Namun dapat dilihat pada gambar dibawah bahwa produksi setiap bulannya naik turun dimana tidak pasti semua bahan baku akan terpakai.
Gambar 1.1 Data Produksi 2015 (Sumber: PT. Warnaprima Kimiatama)
Seperti dilihat pada gambar data produksi diatas dimana pada bulan Juni ke Juli dapat terlihat produksi yang menurun dan kembali naik setelah bulan Juli berlalu atau menuju ke bulan Agustus, dapat dikatakan bahwa penggunaan bahan baku pun sedikit pada saat itu dan pemesanan ke supplier pun perlu dikurangi.
Gambar 1.2 Data Sisa Stock 2015 (Sumber: PT. Warnaprima Kimiatama)
Berdasarkan data sisa stock yang terlihat pada grafik diatas menunjukkan bahwa sisa stock yang berbeda-beda setiap bulannya menyebabkan persediaan produk yang terkadang terlalu berlebih yang sehingga menimbulkan biaya-biaya tambahan dimana jenis thinner dan solvent seperti ini cepat menguap sehingga bila disimpan lama-lama pasti terdapat pengurangan berat jenis masing-masing bahan baku tersebut dan terllihat juga masih terlalu banyak perbedaan dalam perhitungan sistematis dibandingkan dengan perhitungan fisiknya dimana pada bulan Juli perhitungan sistematis nya sekitar 700 ribuan liter sedangkan perhitungan fisiknya sekitar satu jutaan sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat ketidakcocokan dengan perhitungannya. Namun masalahnya PT. Warnaprima Kimiatama belum memiliki metode yang benar untuk menghitung jumlah penggunaan yang tepat tiap bulannya sehingga perlu dilakukan perhitungan dengan metode Material Requirements Planning.
Dengan mengambil objek penelitian dari produk perusahaan yang paling banyak diminati oleh konsumen yaitu Thinner HG WP 500, Thinner HG WPS 650, dan Thinner SZ-04. Berikut grafik penjualan selama 2 tahun terakhir Februari 2014 – Desember 2015:
Gambar 1.3 Permintaan HGWP500, HGWPS650, dan SZ-04 (Sumber: PT. Warnaprima Kimiatama)
Thinner HG WP 500 paling diminati konsumen namun permintaannya selalu naik turun dan untuk Thinner HG WPS 650 serta Thinner SZ-04 memiliki permintaan yang lebih stagnan dibandingkan HG WP 500 yang perbedaan permintaan tiap bulannya selalu naik turun jauh dan tidak dapat diprediksikan.
Dari masalah yang dihadapi perusahaan dan penjelasan singkat diatas maka peneliti bermaksud membahas dan menjadikannya bahan penulisan skripsi dengan judul Optimalisasi persediaan dan pemesanan bahan baku dengan metode Material Requirements Planning pada PT. Warnaprima Kimiatama.
1.2 Identifikasi masalah
Adapun permasalahan yang ingin diteliti oleh penulis, antara lain: 1. Apa tipe permintaan untuk produk Thinner HG WP 500, HG WPS 650,
dan SZ-04?
2. Apa metode peramalan yang tepat untuk produk Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04?
3. Berapa safety stock yang optimal untu produk Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04?
4. Bagaimana produksi optimum untuk produk Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04?
5. Berapa banyak bahan baku yang harus dipesan untuk perencanaan produksi Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini, sebagai berikut:
1. Untuk menentukan tipe permintaan untuk produk Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04.
2. Untuk menentukan metode yang paling cocok untuk peramalan produk Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04.
3. Menentukan safety stock untuk produk Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04.
4. Menentukan produksi produksi optimum untuk Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04.
5. Untuk menentukan jumlah bahan baku yang harus yang di pesan untuk perencanaan produksi Thinner HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini dapat dibedakan menjadi:
1. Bagi PT. Warnaprima Kimiatama:
• Memberikan solusi bagi PT. Warnaprima Kimiatama dalam mengetahui tipe permintaan produk Thinenr HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04.
• Memberikan solusi untuk metode peramalan yang terbaik untuk memprediksi permintaan Thinenr HG WP 500, HG WPS 650, dan SZ-04.
• Memberikan solusi untuk mengetahui jumlah safety stock yang optimal.
• Hasil dari penelitian ini dapat digunakan perusahaan dalam menentukan strategi produksi dan perencanaan bahan baku untuk menghadapi permintaan yang tidak terduga dengan biaya rendah agar dapat bertahan dan memenangkan persaingan.
2. Bagi penulis:
• Memperoleh pengetahuan baru mengenai peramalan, produksi dan MRP
• Untuk mengembangkan pengetahuan bagaimana mengaplikasikan pengetahuan teoritis ke penelitian.
3. Bagi pihak lain:
• Mendapatkan pengetahuan mengenai peramalan, produksi dan MRP
1.5 State of Art
Tabel 1.1 State of Art
No. Journal Method Conclusion
1 Davood Gharakhani | Optimization of material requirement planning by Goal programming model | 2010 Model goal programming digunakan untuk meminimalisir biaya produksi, meminimalisir biaya penyimpanan, meminimalisir biaya tambahan akibat tambahan waktu digunakan untuk sumber daya.
Tipe ketidaktentuan bisa disatukan, permintaan yang tidak menentu, lead
time tidak menentu,
kapasistas sumber daya tidak menentu, variasi kualitas yang tidak menentu. Model ini bisa
secara efektif
menemukan volume produksi dari material. 2 Vaibhav Jha | MRP-JIT Integrated Production System | 2012 Sebuah kombinasi MRP (material requirement
planning) dan sistem JIT (just in time) menjadi sistem produksi yang paling efektif dimana memanfaatkan sifat yang terbaik dari masing-masing sistem produksi untuk menyesuaikan dengan perencanaan kedepan dari MRP dan eksekusi terbaik dalam proses JIT untuk menanggapi perubahan keinginan dalam sebuah industry.
Keduanya MRP dan JIT memiliki manfaat, MRP lebih cocok dalam perencanaan dan penjadwalan dari sistem produksi sedangkan JIT lebih cocok dalam
mengeksekusi /
melaksanakan dan mengkontrol proses sistem produksi dengan persediaan seminimum mungkin.
Lanjutan.
No. Journal Method Conclusion
3 Assey Mbang
Janvier-James | A New Introduction to Supply Chain dan
Supply Chain
Management:
Definitions and
Theories
Perspective | 2012
Meneliti tentang praktik dan teori untuk Supply Chain (SC) dan Supply
Chain Management
(SCM). Definisi Supply Chain dan Supply Chain Management, Teori, dan pengukuran analisa.
Efisiensi dugaan Supply Chain berdasarkan faktor yang teridentifikasi dan
penting perlu diperhatikan ketika membuat pengukuran efisiensi. 4 Md. Saiful Islam, Md. Mahbubur Rahman, Ripon Kumar Saha, dan
Abu Md. Saifuddoha | Development of Material Requirements Planning (MRP) Software with C Language Pengembangan software Material Requirement Planning (MRP) dengan pemrograman bahasa C yang dapat digunakan perusahaan industri lokal untuk pengelolaan inventaris dalam lingkungan produksi.
Software ini sangat bersahabat dan dapat dicoba untuk berbagai jenis produk dan memberikan hasil akurat ketika dicocokkan
dengan metode
perhitungan manual. Jadi Software tersebut universal.
5 Haibatolah Sadeghi, Ahmad Makui, and Mehdi Heydari | A simulation method for Material requirement planning supply dependent demand and uncertainty lead time | 2014
Perencanaan produksi dan penjadwalan dengan PLT (planned lead-time) dan lot size dimana kedua ini merupakan parameter input untuk system MRP dimana menentukan perencanaan tanggal pengorderan kembali Mempertimbangkan model untuk mengoptimalisasi
perencanaan waktu yang dibutuhkan dan skala waktu pengorderan kepada supplier untuk produksi
Dalam berbagai level system produksil.
After Tabel State of Art.
Stevanus Wibowo | Optimalisasi persediaan dan pemesanan bahan baku dengan metode Material Requirements Planning pada PT. Warnaprima Kimiatama
• Metode:
Persediaan bahan baku dan pemesanan bahan baku yang belum terdapat perhitungan sistematisnya untuk merencanakan persediaan bahan baku yang efisien untuk mengurangi biaya tambahan dan kerugian akibat penyimpanan bahan baku yang berlebihan ataupun antisipasi kekurangan bahan baku yang muncul dikarenakan permintaan produk yang meningkat secara tiba-tiba dengan menggunakan metode Material Requirements Planning (MRP)
• Konklusi:
Melakukan perhitungan peramalan untuk memprediksikan permintaan di masa akan datang, perhitungan safety stock untuk mengantisipasi stock minimal yang dibutuhkan perusahaan, dan perhitungan Material Requirements Planning (MRP) untuk mengetahui perencanaan bahan baku pada periode tertentu untuk menanggapi permintaan konsumen dengan melihat data Bill of Material (BoM) dan perhitungan Master Production Schedule yang sebelumnya dilakukan.