• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 Begitu banyak tantangan yang dihadapi perusahaan di era globalisasi sekarang ini, perkembangan dunia industri yang semakin meningkat membuat iklim persaingan semakin ketat dan kompetitif antar perusahan yang bergerak dibidang sejenis. Begitu banyak risiko-risiko yang dihadapi oleh perusahaan untuk bertahan didalam persaingan ini. Menurut (Darojat & Yunitasari, 2017) Supply chain adalah terintegrasinya suatu proses dimana sejumlah entity bekerja bersama demi mendapatkan raw material, mengubah raw material menjadi produk jadi, dan mengirimkannya ke retailer dan customer. Supplay chain tidak hanya melihat aliran barang dari hulu ke hilir, tetapi juga melibatkan aliran barang sebaliknya, yaitu dari konsumen kembali ke manufacturer atau yang disebut, Aktifitas reverse supplai chain meliputi pengembalian barang cacat (return), Service dan perawatan ataupun daur ulang (Hasibuan et al., 2021). Selain sebagai kesatuan dari supplier, manufacturing, customer, dan delivery process, supply chain juga merupakan suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Upaya meningkatkan profitabilitas dan memenangi persaingan serta terus bertahan tidak lepas dari dukungan sebuah fungsi yang penting dalam perusahaan, yaitu fungsi produksi. Fungsi produksi yang efektif dan efisien merupakan salah satu kunci keberhasilan sebuah perusahaan karena dapat memberikan sejumlah keuntungan atau laba yang lebih besar bagi perusahaan. Suatu perusahaan dapat dikatakan telah mencatat efisiensi produktivitas apabila biaya produksinya telah mencapai nilai yang paling minimum.Dalam proses rantai pasok ditemui berbagai risiko yang dapat mempengaruhi alur rantai pasok tidak dapat berjalan lancar. Berbagai risiko yang terjadi dalam rantai pasok pada perusahaan antara lain terjadinya loss contain kehilangan isi (timbangan produk menjadi berkurang), terjadinya kontaminasi pada kemasan produk, hasil produksi turun karena terganggunya pasokan bahan baku dan pasokan listrik, terjadi kerusakan mekanis, terjadinya salah spesifikasi dan masih banyak berbagai risiko

(2)

lain yang menyebabkan gangguan pasokan sampai ke konsumen akhir menjadi terlambat sehingga merugikan konsumen.

Secara umum semua kegiatan yang terkait dengan aliran material, aliran informasi, dan aliran finansial di sepanjang supply chain adalah kegiatan-kegiatan dalam cakupan supplay chain management. Pada suatu supply chain terdapat tiga aliran yaitu aliran material, aliran finansial, dan aliran informasi. Aliran material merupakan aliran baran/produk yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream). Pada aliran finansial/uang mengalir dari hilir ke hulu, sedangkan aliran informasi bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya (Kusnindah et al., 2014). Beberapa kegiatan utama yang masuk dalam klasifikasi supplay chain

management adalah kegiatan merancang produk (product development), kegiatan

mendapatkan bahan baku (procurement), kegiatan merencanakan produksi dan persediaan (planning & control), kegiatan melakukan produksi (production), dan kegiatan melakukan pengiriman (distribution). Kemudian dibuatlah sebuah mitigasi untuk risk agent yang terpilih berdasarkan rasio total efektivitas untuk tingkat kesulitan dan tindakan mitigasi mana yang dapat mereduksi banyak risk

event dengan nilai ARP yang tinggi (Cahyani et al., 2016). Hal tersebut dilakukan

untuk mendapatkan analisis macam-macam risiko yang terjadi pada rantai pasok perusahaan dan di tahap akhir akan dilakukan dengan melakukan perancangan strategi penanganan untuk meminimalisir terjadinya risiko pada perusahaan (Hadi & Budiawan, 2016). PT Epsindo Jaya Pratama merupan salah satu perusahan yang bergerak dibidang barang dan jasa pump electrik sumbersible, ada beberaap jenis prodak yang dihasilkan oleh PT Epsindo Jaya Pratama diantaranya pump, motor, protector, intake, HPS.

Sebagai perusahaan yang sedang berkembang, PT Epsindo Jaya Pratama dituntut untuk mampu bersaing dengan perusahan lain yang bergerak dibidang yang sama. Perlu menciptakan aliran supply chain yang handal (robust) terhadap berbagai macam gangguan atau risiko yang bisa menyebabkan gagalnya tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan yakni memproduksi unit jadi

(3)

sebanyak-banyaknya dengan kualitas yang baik sehingga dapat memenuhi harapan dan meningkatkan kepuasan konsumen (Kusnindah et al., 2014).

Agar mampu bersaing dengan perusahan lain perlu menciptakan aliran

supply chain yang handal terhadap berbagai macam gangguan atau risiko yang bisa

menyebabkan gagalnya tujuan perusahaan yaitu dapat memenuhi harapan dan meningkatkan kepuasan konsumen.Salah satu risiko yang sering terjadi dalam aliran rantai pasok PT. Epsindo Jaya Pratama adalah kekurangan bahan baku dari supplier, yang dapat dilihat dalam gambar grafik di bawah ini

Gambar 1. 1 Grafik Work Order Tahun 2020

Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa terjadi kendala penyelesaian work order dari bulan maret sampai bulan September yang disebabkan yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti keterlambatan material yang masuk, keterlambatan material dapat dilihat dari gambar 1.2 grafik monitoring purchase order tahun 2020.

(4)

Gambar 1. 2 Grafik Monitoring Purchase Order tahun 2020

Berdasarkan grafik di atas dapat kita lihat bahwa keterlambatan proses work order disebabkan oleh kekurangan bahan baku, hal ini terjadi karena bahan baku yang datang dari supplier tidak sesuai jumlah yang di order. Selain hal tesebut ada risiko- risiko lain yang terjadi di pada proses rantai pasok diantaranya plaining dari inventori kontrol yang tidak baik, banyaknya produk reject dari supliyer yang menyebabkan proses repair menjadi lebih lama, banyaknya kendala pada proses delivery, downtime di luar jadwal perencanaan dan masih banyak risiko lain yang sering terjadi di sepanjang aliran rantai pasok yang menyebabkan gangguan pasokan sampai konsumen akhir sehingga merugikan seluruh stakeholder pada rantai pasok.

Untuk mengurangi dan mengatasi berbagai risiko yang terjadi dalam rantai pasok tersebut diperlukan suatu upaya perbaikan kinerja rantai pasok secara bertahap dan dilakukan terus menerus dengan mengatasi dan mencegah berbagai risiko yang berpotensi timbul/terjadi. Pengukuran kinerja pasokan akan bermanfaat apabila hasil pengukuran tersebut dijadikan dasar dalam melakukan perbaikan. Oleh karena itu, dalam pendekatan proses biasanya dilakukan pemetaan (mapping) proses saat ini dan penentuan proses yang ideal atau yang diinginkan. Salah satu

(5)

model sistem pengukuran kinerja rantai pasok adalah berdasarkan Supply Chain

Operation Reference (SCOR) (Ulfah & Syamsul, 2016). Langkah langkah dalam

meminimalisir risiko merupakan bagian dari kegiatan strategis perusahaan untuk meningkatkan produktivitas kinerja perusahaan. Hal ini perlu dilakukan oleh perusahaan karena berdasarkan pengalaman perusahaan yang telah di teliti oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa para stakeholder belum menyadari dampak dari kehadiran risiko, belum memahami dan memiliki pendekatan manajemn risiko rantai pasok yang baik. Selain itu juga, setiap para pelaku industri harus bertanggungjawab pada risiko yang melekat pada proses bisnisnya, risiko sendiri tidak dapat dihilangkan begitu saja dan kehadiran risiko dapat berbeda jenis, namun yang pasti risiko yang dikurangi melalui tindakan yang preventif (Octavia et al., 2019).

Dengan begitu banyaknya risiko yang terjadi pada pada aliran rantai pasok tersebut, maka diperlukan suatu upaya perbaikan secara bertahap, terus-menerus dan komprehensif (Ulfah & Syamsul, 2016). Perusahaan saat ini belum memiliki manajemen risiko yang terstruktur untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko yang terjadi terutama dalam fungsi supply chain. Dengan menggunakan metode

House of Risk, maka risiko-risiko yang mungkin timbul beserta penyebabnya dapat

diidentifikasi untuk sekaligus ditemukan cara mitigasi risiko tersebut untuk meningkatkan kualitas operasional PT Epsindo Jaya Pratama dan membuka peluang untuk mendeteksi peluang-peluang bisnis yang menguntungkan bagi perusahaan.

Berdasarkan fenomena tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “ANALISIS MITIGASI RISIKO PROSES SUPPLAY CHAIN MANAGEMENT DENGAN METODE HOUSE OF RISK PADA PERUSAHAAN BARANG DAN JASA PT EJP’’

(6)

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Risiko-risiko apakah yang dihadapi pada proses aliran rantai pasok pada PT EJP?

2. Bagaimana strategi mitigasi dari risiko-risiko yang ada pada proses aliran rantai pasok PT EJP?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui risiko-risiko yang ada pada alur rantai pasok PT EJP 2. Mendapatkan rancangan strategi penanganan untuk mengurangi potensi

terjadinya risiko pada jalur rantai pasok PT EJP

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dapat diambil dari penelitian ini adalah:

1. Dengan mengetahui risiko-risiko yang mungkin terjadi pada rantai pasok maka dapat ditentukan strategi penaganan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya risiko tersebut.

2. Hal-hal informasi yang diperoleh dari hasil penelitian dapat digunakan untuk pertimbangan dan masukan dalam perbaikan, maupun sebagai pembanding untuk penelitian internal perusahaan.

Gambar

Gambar 1. 1 Grafik Work Order Tahun 2020

Referensi

Dokumen terkait

 Contoh kalimat tanya tersamar dalam kehidupan sehari- hari  Santun dalam bertanya sesuai dengan situasi komunikasi  Santun dan lugas dalam bertanya sesuai dengan situasi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ekstrak Etanolik Herba Ciplukan memberi- kan efek sitotoksik dan mampu meng- induksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7

(3) kedisiplinan belajar santri berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan menghafal al- Qur’an santri pondok pesantren Al-Aziz Lasem Rembang, hal ini terbukti

Konsekuensi yang diharapkan klien dapat memeriksa kembali tujuan yang diharapkan dengan melihat cara-cara penyelesaian masalah yang baru dan memulai cara baru untuk bergerak maju

sehingga peserta didik yang mempunyai motivasi tinggi mendapatkan energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar yang pada akhirnya akan mampu

Hal ini bisa terjadi karena penambahan volume frother ke dalam limbah yang mengandung Ag tidak memberikan efek negatif terhadap ikatan non-polar antara kenaikan jumlah partikel

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan protein kasar dan serat kasar pada fermentasi

Demikian pula sebuah studi untuk sektor perbankan Indonesia oleh Gamaginta dan Rokhim (2011) menunjukkan bahwa bank syariah secara umum memiliki tingkat stabilitas