• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan Interpretasi Data pada Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Qur an(tpq) Tahun Pelajaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis dan Interpretasi Data pada Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Qur an(tpq) Tahun Pelajaran"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

68

Analisis dan Interpretasi Data pada

Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah

(Madin), Taman Pendidikan Qur’an(TPQ)

Tahun Pelajaran 2011-2012

A. Pondok Pesantren

Istilah Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Disamping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau.

Pondok Pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan pendidikan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun 1596. Kegiatan agama inilah yang kemudian dikenal dengan

nama Pondok Pesantren. Bahkan dalam catatan Howard M.

Federspiel - salah seorang pengkaji ke-Islaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh dan Palembang

(2)

69

menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar.

Secara umum Pondok Pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan yang memiliki 5 elemen pokok; (1) Pondok/Asrama: adalah tempat tinggal bagi para santri. Pondok inilah yang menjadi ciri khas dan tradisi pondok pesantren dan membedakannya dengan sistem pendidikan lain yang berkembang di Indonesia, (2) Masjid: merupakan tempat untuk mendidik para santri terutama dalam praktek seperti shalat, pengajian kitab klasik, pengkaderan kyai, dll, (3) Pengajaran kitab-kitab klasik: merupakan tujuan utama pendidikan di pondok pesantren, (4) Santri: merupakan sebutan untuk siswa/murid yang belajar di pondok pesantren, dan (5) Kyai: merupakan pimpinan pondok pesantren. Kata kyai sendiri adalah gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang menjadi pimpinan pesantren dan mengajarkan kitab-kitab klasik. (Tradisi Pesantren : Zamakhsyari Dhofier, 1982)

Pendataan mengenai Pondok Pesantren meliputi Pondok Pesantren, Program Pendidikan Kesetaraan (Paket A, B, C), Program Pendidikan Wajar Dikdas 9 tahun pada pondok Pesantren Salafiyah. Pendataan lembaga pendidikan Pondok Pesantren tahun pelajaran 2011-2012 mencakup 33 Provinsi.

(3)

70

Pendataan Pondok Pesantren tahun 2011-2012 berhasil mendata 27.230 Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

1. Lembaga

Populasi Pondok Pesantren terbesar berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten yang berjumlah

78,60% dari jumlah seluruh Pondok Pesantren di Indonesia. Dengan

rincian Jawa Barat 7.624 (28,00%), Jawa Timur 6.003 (22,05%), Jawa Tengah 4.276 (15,70%), dan Banten 3.500 (12,85%). Dari seluruh Pondok Pesantren yang ada, berdasarkan tipologi Pondok

Pesantren, terdapat sebanyak 14.459 (53,10%) Pondok Pesantren

Salafiyah, dan 7.727 (28,38%) Khalafiyah/Ashriyah, serta 5.044

(18,52%) sebagai Pondok Pesantren Kombinasi (Gambar 2.1).

(4)

71

Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa pondok pesantren yang ada di Indonesia sebagian besar masih pada tipologi Salafiyah, yang pembelajarannya masih murni mengaji dan membahas kitab kuning. Sebagian lain sudah modern dengan pengembangan

pembelajaran ilmu science dan sebagian lain lagi mengkombinasikan

pembelajaran kitab kuning dan ilmu science dan iptek.

2. Santri/Siswa

Jumlah santri Pondok Pesantren secara keseluruhan adalah 3.759.198 orang santri, terdiri dari 1.886.748 orang santri laki-laki

(50,19%), dan 1.872.450 orang santri perempuan (49,81%)

(Gambar 2.2.).

Tampaknya dari data santri berdasarkan jenis kelamin, cukup berimbang antara laki-laki dan perempuan. Ini memberi arti bahwa untuk orang tua santri, dalam menempatkan anaknya di pondok pesantren dengan tujuan yang sama tanpa membedakan anak laki-laki ataupun perempuan.

Dari data Rasio PP : Santri terlihat nilai 138, ini memberi arti bahwa pondok pesantren di Indonesia rata-rata membina 138 santri, dengan kapasitas yang besar pada provinsi NTB 300 santri per pondok pesantren, Maluku Utara 263 santri per pondok pesantren, Sumatera Utara 262 santri per pondok pesantren, dan Riau 232 santri per pondok pesantren.

(5)

72

Gambar 2.2. Jumlah Santri Berdasarkan Jenis Kelamin

Dilihat dari jumlah santri berdasarkan kategori tinggal, terdapat

3.004.807 orang santri mukim (79,93%), dari jumlah tersebut

1.517.314 orang santri (50,50%) berjenis kelamin laki-laki,

sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 1.487.493

(49,50%) santri, untuk santri tidak mukim berjumlah 754.391

orang santri (20,07%), dari jumlah tersebut 369.434 orang santri

(48,97%) berjenis kelamin laki-laki, sedangkan yang berjenis

kelamin perempuan sebanyak 384.957 orang santri (51,03%)

Gambar 2.3.).

Berdasarkan kategori tinggal tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh santri yang mendapat pendidikan di pondok

pesantren bermukim (79,93%) Hal ini dikarenakan memang dalam

pembelajaran di pondok pesantren, waktu belajar adalah hampir 24 jam penuh. Mulai dari santri bangun tidur, sekolah formal, mengerjakan aktifitas lain sampai santri tidur, bangun malam dan bangun tidur kembali, terus dalam pengawasan dan pembinaan

(6)

73

pondok pesantren sehingga umumnya santri diharuskan untuk mukim.

Gambar 2.3. Jumlah Santri Berdasarkan Kategori Tinggal

Umumnya untuk pondok pesantren di pulau jawa, santrinya mukim, seperti Jawa Timur 95,45% Jawa Barat 91,52%, Banten 79,92% dan Jawa Tengah 69,12%. Sedangkan untuk diluar jawa hanya sebagian besar saja yang mukim (40-60%), lainnya tidak mukim. Kecuali pada provinsi Jambi 86,38%, Sulawesi Utara 100%, dan Maluku 100%.

Dilihat dari jumlah santri berdasarkan kategori belajar, terdapat 1.540.839 orang santri (40,99%) belajar di madrasah, dari jumlah tersebut 757.114 orang santri (49,14%) berjenis kelamin laki-laki, dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 783.725 orang santri

(50,86%). Santri yang belajar di Sekolah Umum sebanyak 395.732

orang santri (10,53%), dari jumlah tersebut 189.136 orang santri

(7)

74

sebanyak 206.596 orang santri (52,21%). Santri yang belajar di

Perguruan Tinggi sebanyak 14.385 orang santri (0,38%), dari jumlah

tersebut 6.483 orang santri (45,07%) berjenis kelamin laki-laki, dan

berjenis kelamin perempuan sebanyak 7.902 orang santri (54,93%).

Santri yang belajar Diniyah sebanyak 78.572 orang santri (2,09%),

dari jumlah tersebut 40.837 orang santri (51,97%) berjenis kelamin

laki-laki, dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 37.735 orang santri (48,03%). Santri yang belajar Kitab Kuning (hanya ngaji) sebanyak 1.729.670 orang santri (46,01%), dari jumlah tersebut

893.178 orang santri (51,64%) berjenis kelamin laki-laki, dan

berjenis kelamin perempuan sebanyak 836.492 orang santri

(48,36%) (Gambar 2.4).

Gambar 2.4. Jumlah Santri Berdasarkan Kategori Belajar

Dari data tersebut terlihat bahwa hampir separuh dari santri yang belajar di pondok pesantren mengikuti pendidikan formal baik

di madrasah, sekolah umum, perguruan tinggi (53,99%), sedangkan

(8)

75

ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal sudah cukup baik bagi santri di pondok pesantren.

Bila dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) pada pondok pesantren, pondok pesantren mempunyai kontribusi 7,18% dari APK nasional terhadap anak usia sekolah. APK pondok pesantren terbesar pada provinsi Jawa Timur 15,63%, Aceh 15,23%, NTB 14,98% dan Banten 13,30%. Sedangkan untuk APK terkecil terdapat di provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu 0,16%, Maluku 0,40%, Sulawesi Utara 0,54%, dan Papua 0,54%.

3. Tenaga Pengajar

Tenaga Pengajar Pondok Pesantren seluruhnya berjumlah

153.276 orang pengajar, terdiri dari 102.495 orang (66,87%)

pengajar laki-laki dan 50.781 orang (33,13%) pengajar perempuan.

Berdasarkan informasi tersebut, tenaga pengajar di Pondok Pesantren di dominasi oleh tenaga pengajar laki-laki (Gambar 2.5).

(9)

76

Jumlah Tenaga Pengajar jika dilihat berdasarkan kualifikasi

pendidikan, berpendidikan <S1 sebanyak 108.816 orang (70,99%),

dari jumlah tersebut 74.398 orang (68,37%) berjenis kelamin

laki-laki, dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 34.418 orang

(31,63%), berkualifikasi pendidikan S1 sebanyak 42.019 orang

(27,42%), dari jumlah tersebut 26.212 orang (63,38%) berjenis

kelamin laki-laki, dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 15.807

orang (37,62%), dan berkualifikasi pendidikan ≥S2 berjumlah

2.441 orang (1,59%), dari jumlah tersebut 1.885 orang (77,22%)

berjenis kelamin laki-laki, dan berjenis kelamin perempuan

sebanyak 556 orang (22,78%) (Gambar 2.6).

Dari data tersebut, terlihat bahwa kualifikasi pendidikan pengajar di pondok pesantren masih harus ditingkatkan, karena tercatat kualifikasi pendidikan <S1 mencapai 71,99%, hanya 28,01% yang berpendidikan ≥S1. Oleh karena itu perlu terus ditingkatkan program peningkatan SDM khususnya tenaga pengajar di pondok pesantren, paling tidak peningkatan kualifikasi minimal S1, agar kualitas pembelajaran di pondok pesantren semakin baik.

(10)

77

Gambar 2.6. Jumlah Tenaga Pengajar Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan Jumlah Tenaga Pengajar jika dilihat berdasarkan jabatan, Kyai berjumlah 29.583 orang (19,30%), dari jumlah tersebut 27.559 orang (93,16%) berjenis kelamin laki-laki, dan berjenis kelamin

perempuan sebanyak 2.024 orang (6,84%), Badal Kyai berjumlah

8.161 orang (5,32%), dari jumlah tersebut 6.351 orang (77,82%)

berjenis kelamin laki-laki, dan berjenis kelamin perempuan sebanyak

1.810 orang (22,18%), Ustadz/guru berjumlah 115.532 orang

(75,38%), dari jumlah tersebut 68.585 orang (59,36%) berjenis

kelamin laki-laki, dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 46.947

(11)

78

Gambar 2.7. Jumlah Tenaga Pengajar Berdasarkan Jabatan

Kyai berdasarkan kualifikasi pendidikan, berkualifikasi pendidikan <S1 sebanyak 25.312 orang (85,56%), berkualifikasi

pendidikan S1 sebanyak 3.771 orang (12,75%), dan berkualifikasi

pendidikan ≥S2 sebanyak 500 orang (1,69%), Badal Kyai

berdasarkan kualifikasi pendidikan, berkualifikasi pendidikan <S1

sebanyak 5.508 orang (67,49%), berkualifikasi pendidikan S1

sebanyak 2.429 orang (29,76%), dan berkualifikasi pendidikan

≥S2 sebanyak 224 orang (2,75%), Ustadz/guru berdasarkan

kualifikasi pendidikan, berkualifikasi pendidikan <S1 sebanyak 77.996 orang (67,51%), berkualifikasi pendidikan S1 sebanyak

35.819 orang (31,00%), dan berkualifikasi pendidikan ≥S2

sebanyak 1.717 orang (1,49%).

Pada kualifikasi pendidikan kyai (pimpinan pondok pesantren) masih sangat rendah, hanya 11,06% yang berpendidikan S1. Hal ini

Kyai Badal Kyai Ustadz/guru

29.583

19,30% 8.161 5,32%

115.532 75,38%

Jabatan Tenaga Pengajar

(12)

79

sangat berpengaruh terhadap sistem administrasi dan management pengelolaan pondok pesantren yang masih belum baik dan lambat berkembang. Tampaknya menetapkan program peningkatan kualitas management pimpinan pondok sangat diperlukan, seperti pemberian beasiswa pendidikan, studi banding pendidikan atau pembinaan ilmu management dsb. Hal ini perlu dilakukan agar kemampuan pimpinan pondok pesantren dalam memanaj dan mengembangkan pembelajaran di pondok pesantren semakin baik.

Dari data yang diperoleh terdapat 3.759.198 orang santri dan terdapat 153.276 orang guru/ustadz di Pondok Pesantren sehingga rasio ustadz : siswa pada Pondok Pesantren adalah 28, ini bermakna bahwa pada setiap pondok pesantren di Indoensia terdapat 1 orang guru/ ustadz untuk membina 25 orang santri. Kondisi ini masih cukup ideal.

Namun pada beberapa provinsi rasio pengajar : santri cukup besar, seperti pada Jawa Timur 91, Sumatera Utara 69, Gorontalo 44 dan Sumatera Selatan 42. Oleh karena itu perlu dilakukan program penambahan tenaga pengajar pada wilayah-wilayah tersebut.

4. Kondisi Sarana dan Prasarana a. Ruang Kelas

Jumlah ruang kelas di seluruh Pondok Pesantren adalah 93.205 dengan rincian 79.906 unit (85,73%) ruang kelas dengan kondisi

(13)

80

dan 2.427 unit (2,60%) ruang kelas dengan kondisi rusak berat (Gambar 2.8).

Gambar 2.8. Jumlah Ruang Kelas Berdasarkan Kondisi

b. Asrama

Jumlah asrama di seluruh Pondok Pesantren adalah 61.921

dengan rincian 47.774 unit (77,15%) asrama dengan kondisi baik,

9.617 unit (15,53%) asrama dengan kondisi rusak ringan, dan 4.530 unit (7,32%) asrama dengan kondisi rusak berat (Gambar 2.9).

(14)

81

Gambar 2.9. Jumlah Asrama Berdasarkan Kondisi

c. Tempat Ibadah

Jumlah tempat ibadah di seluruh Pondok Pesantren adalah 12.595 dengan rincian 9.541 unit (74,59%) tempat ibadah dengan kondisi baik, 2.673 unit (21,22%) tempat ibadah dengan kondisi rusak ringan, dan 528 unit (4,19%) tempat ibadah dengan kondisi rusak berat (Gambar 2.10).

(15)

82

d. Perpustakaan

Jumlah perpustakaan di seluruh Pondok Pesantren adalah 5.825 dengan rincian 3.278 unit (56,27%) perpustakaan dengan kondisi baik, 2.173 unit (37,31%) perpustakaan dengan kondisi rusak ringan, dan 374 unit (6,42%) perpustakaan dengan kondisi rusak berat (Gambar 2.11).

Gambar 2.11. Jumlah Tempat Ibadah Berdasarkan Kondisi

Didalam pondok pesantren telah dikembangkan pendidikan pendukung bagi santri yaitu :

1. Pendidikan Wajar Dikdas 9 tahun. 2. Pendidikan Kesetaraan (Paket A, B, C).

5. Program Pendidikan Wajar Dikdas 9 Tahun

Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun adalah salah satu program pemerintah dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk bidang pendidikan. Wajar Dikdas 9

(16)

83

Tahun merupakan bagian dari Pendidikan Non Formal (PNF), yakni pendidikan di luar jalur formal yang dapat diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang. Adapun fungsinya sebagaimana dijelaskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), maka berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal.

a. Lembaga

Dari Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) sejumlah 14.459, yang menyelenggarakan Program Wajar Dikdas 9 Tahun Tingkat Ula terdata berjumlah 1.324 lembaga dan PPs penyelenggara tingkat Wustha berjumlah 2.791 lembaga yang tersebar di seluruh Indonesia (Gambar 2.12).

Gambar 2.12. Jumlah PPS Penyelenggara Wajar Dikdas 9 Tahun Populasi Pondok Pesantren Salafiyah Tingkat Ula terbesar

berada di Provinsi Jawa Timur yang berjumlah 341 lembaga

(25,76%), NTB 105 (7,93%), dan Jawa Barat 150 (11,33%) dari

Tingkat Ula Tingkat Wustha 1.324

2.791

(17)

84

jumlah seluruh PPS Penyelenggara Wajar Dikdas 9 tahun tingkat Ula di Indonesia.

Demikian pula populasi Pondok Pesantren Salafiyah tingkat Wustha terbesar berada di provinsi Jawa Timur yang berjumlah 598

lembaga (21.43%), Jawa Barat 550 (19,71%) dan Jawa Tengah 331

(11,86%) dari seluruh PPS Penyelenggara Wajar Dikdas 9 tahun

tingkat Wustha di Indonesia.

b. Santri/Siswa

Jumlah santri PPS Program Wajar Dikdas 9 tahun tingkat Ula (PPS Ula) secara keseluruhan adalah 69.348 orang santri, terdiri dari 33.580 orang santri (48,42%) laki-laki, dan 35.768 orang santri

(51,58%) perempuan. Sedangkan Jumlah santri PPS Program Wajar

Dikdas 9 tahun tingkat Wustha (PPS Wustha) secara keseluruhan adalah 139.631 orang santri, terdiri dari 68.695 orang santri

(49,20%) laki-laki, dan 70.936 orang santri (50,80%) perempuan

(Gambar 2.13).

Rasio PP : santri pada program wajar Dikdas 9 Tahun Tingkat Ula adalah 52, bahwa pada setiap PP penyelenggara PPs wajar Dikdas 9 Tahun Tingkat Ula rata-rata belajar 52 orang santri. Rasio terbesar pada provinsi Kalimantan Barat 434, D.I. Yogyakarta 95, Lampung 83 dan Riau 74. Sedangkan sumbangan APK dari PPS wajar Dikdas 9 Tahun Tingkat Ula secara nasional 0,26%, dengan kontribusi terbesar dari provinsi NTB sebesar 1,43% dan Kalimantan Barat sebesar 2,33%.

(18)

85

Sedangkan Rasio PP : santri pada program wajar Dikdas 9 Tahun Tingkat Wustha adalah 50, bahwa setiap PP penyelenggara PPS Wajar Dikdas 9 Tahun Tingkat Wustha rata-rata belajar 50 orang santri. Rasio terbesar pada provinsi Kalimantan Selatan 104, D.I. Yogyakarta 101, dan Jambi 100. Dan Sumbangan APK dari program Wajar Dikdas 9 Tahun Tingkat Wustha 1,07%, dengan kontribusi terbesar dari provinsi Kalimantan Selatan 5,06%, Maluku Utara 3,88%, dan Jambi 3,75%.

Gambar 2.13. Jumlah Santri/Siswa Wajar Dikdas 9 Tahun

6. Pendidikan Kesetaraan (Paket A, B, C)

Pendidikan Kesetaraan merupakan pendidikan nonformal yang mencakup program Paket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/MTs, dan Paket C setara SMA/MA dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik. Hasil pendidikan

Lk Pr Lk Pr Tingkat Ula Tingkat Wustha

33.580 48,42% 35.768 51,58% 68.695 49,20% 70.936 50,20%

Santri PPS

(19)

86

nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (UU No 20/2003 Sisdiknas Psl 26 Ayat 6).

Pondok Pesantren sebagai bagian dari satuan pendidikan yang didirikan oleh masyarakat juga turut serta dalam menyelenggarakan Program Paket A, B, dan C tersebut.

a. Lembaga

Pondok Pesantren lebih banyak menyelenggarakan program Paket C, kemudian Paket B, dan terakhir Paket A. Pendataan tahun 2011-2012 mencatat sejumlah 263 lembaga pendidikan

menyelenggarakan Paket A, 559 lembaga pendidikan

menyelenggarakan Paket B dan 1.198 lembaga pendidikan menyelenggarakan Paket C (Gambar 2.14).

(20)

87

Terlihat bahwa pondok pesantren paling banyak menyelenggarakan Paket C. Paket C merupakan pendidikan yang setara dengan SMA. Lebih banyak diselenggarakan di pondok dikarenakan banyaknya santri ingin memperoleh ijazah yang setara dengan SMA untuk kepentingan melanjutkan sekolah dan bekerja.

b. Santri/Siswa

Tercatat sejumlah 90.340 orang santri program kesetaraan yang terdiri dari 9.849 santri/siswa (10,90%) program Paket A, dari jumlah tersebut 5.173 santri/siswa (52,52%) berjenis kelamin laki-laki, dan 4.676 santri/siswa (47,48%) berjenis kelamin perempuan.

Program Paket B jumlah santri 20.593 orang santri/siswa

(22,80%), dengan 10.723 santri/siswa (52,07%) berjenis kelamin

laki-laki, dan 9.870 santri/siswa (47,93%) berjenis kelamin

perempuan.

Program Paket C jumlah santri 59.898 orang santri/siswa

(66,30%), dengan 30.406 santri/siswa (50,76%) berjenis kelamin

laki-laki, dan 29.492 santri/siswa (49,24%) berjenis kelamin

perempuan.

Terlihat pada Gambar 2.15. santri pada jenjang Paket A dan Paket B lebih sedikit dibandingkan dengan santri pada jenjang paket C, hal ini dikarenakan santri di usia paket A dan paket B banyak yang mengikuti program Wajar Dikdas 9 tahun.

Dari data jenis kelamin terlihat pula bahwa untuk program kesetaraan ini, peserta didik lebih cendrung lebih banyak diikuti oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan. Hal ini dapat dimengerti

(21)

88

karena anak laki-laki lebih cendrung banyak yang menginginkan mendapatkan ijazah pendidikan formal untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Gambar 2.15. Jumlah Lembaga Pendidikan Kesetaraan

Minat peserta didik lebih banyak pada Paket C, lebih diperkuat lagi dari data Rasio PP : Santri. Dimana rasio tersebut lebih besar pada Paket C 50, sedangkan pada Paket B 37 dan Paket A 37.

(22)

89

B. Madrasah Diniyah (MADIN)

Madrasah Diniyah (Madin) merupakan bagian dari sistem pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal, dan informal, serta berada pada semua jenjang pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi (PP No. 55 tahun 2007).

1. Lembaga

Pendataan Madrasah Diniyah tahun Pelajaran 2011-2012 Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi mendata 68.471 lembaga. Dari seluruh lembaga Madrasah Diniyah, sebanyak 67.523 lembaga

(98,62%) menyelenggarakan jenjang Ula, 4.067 lembaga (5,94%)

menyelenggarakan jenjang Wustha, dan 1.146 lembaga (1,67%)

menyelenggarakan jenjang Ulya (Gambar 2.16).

Gambar 2.16. Jumlah Lembaga Madrasah Diniyah

67.523 (99,31%) 4.067 (4,12%) 1.146 (1,72%)

Jenjang Madrasah Diniyah

Ula Wustha Ulya

(23)

90

Terlihat bahwa penyelenggaraan Madrasah Diniyah mayoritas pada tingkat Ula, dan berkurang pada tingkat Wustha dan Ulya. Hal ini dimungkinkan disebabkan karena peserta didik yang mengikuti pendidikan di madrasah diniyah biasanya adalah sebagai pendidikan pendamping, disamping pendidikan formal yang diikuti. Pada tingkat Ula yang biasanya banyak diikuti oleh peserta didik yang mempunyai pendidikan formal SD/MI masih mempunyai cukup banyak waktu untuk juga mengikuti pendidikan keagamaan seperti Madin. Namun makin tingginya tingkat pendidikan formal yang dijalani oleh peserta didik, maka makin sedikit waktu terluang untuk juga bersekolah di Madin. Sehingga makin tinggi tingkat pada Madrasah Diniyah makin sedikit peserta didiknya.

2. Santri /Siswa

Jumlah santri Madrasah Diniyah keseluruhan adalah 4.329.141 orang, terdiri dari 4.068.258 orang (93,97%) santri Ula, 193.131 orang (4,46%) santri Wustha, dan 67.752 orang (1,57%) santri Ulya. Pada jenjang Ula, santri laki-laki berjumlah 1.940.074 orang

(47,69%) dan santri perempuan berjumlah 2.128.184 orang

(52,31%). Pada jenjang Wustha, santri laki-laki berjumlah 98.077

orang (50,78%) dan santri perempuan berjumlah 95.054 orang

(49,22%). Pada jenjang Ulya, santri laki-laki berjumlah 33.282 orang

(49,12%)dan santri perempuan berjumlah 34.470 orang (50,88%).

Jadi berdasarkan jenis kelamin, jumlah santri perempuan lebih banyak dibanding jumlah santri laki-laki dengan persentase jumlah

(24)

91

santri perempuan sebanyak 52,15% dan santri laki-laki sebanyak 47,85% (Gambar 2.17).

Rasio Madin : Santri di tingkat Ula 1:60, tingkat Wustha 1:47, dan tingkat Ulya 1:59, yang berarti bahwa setiap madrasah diniyah rata-rata memiliki santri sebanyak 60 orang untuk jenjang Ula, 47 orang untuk jenjang Wustha, dan 59 orang untuk jenjang Ulya.

Gambar 2.17. Jumlah Santri Madrasah Diniyah Berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah santri per tingkat pada Madin Tingkat Ula terlihat cukup bervariatif, pada kelas 1 (27,43%), kelas 2 (38,85%), kelas 3

(16,77%) dan kelas 4 (16,96%). Pada Madin tingkat Wustha

menurun pada tingkat yang lebih tinggi, terlihat kelas 1 (55,16%),

dan kelas 2 (44,84%). Sedangkan pada Madin Tingkat Ulya, kelas 1

(21,99%) dan kelas 2 (78,01%). Variasi pada setiap tingkat dan kelas, disebabkan memang untuk pendidikan Madin ini belum menjadi pendidikan formal yang menjadi prioritas, namun hanya diikuti sebagai pendidikan pendamping pendidikan formal. Dimana

Ula Wustha Ulya 1.940.074 (47,69%) 98.077 (50,78%) 33.282 (49,12%) 2.128.184 (52,31%) 95.054 (49,22%) 34.470 (50,88%) Jumlah Santri Laki-Laki Perempuan

(25)

92

sangat berhubungan dengan waktu dan dana yang tersedia, disamping diperngaruhi oleh tujuan orang tua untuk mendapatkan pendidikan keagaaman bagi anaknya.

Gambar 2.18. Jumlah Santri Madrasah Diniyah Berdasarkan Pendidikan Formal yang Diikuti

Gambar 2.18 memperlihatkan jumlah santri berdasarkan pendidikan formal yang diikuti. Terlihat bahwa mayoritas santri pada Madrasah Diniyah mengikuti kegiatan belajar di pendidikan formal. Santri yang mengikuti pendidikan formal berjumlah 4.306.263 orang

(99,47%) dan santri yang tidak mengikuti pendidikan formal/tidak

sekolah berjumlah 22.878 orang (0,53%). Jumlah santri pada

jenjang Ula yang bersekolah di MI/SD sebanyak 4.051.582 orang

(99,59%) dan sebanyak 16.676 orang (0,41%) tidak bersekolah,

jumlah santri pada jenjang Wustha yang bersekolah di MTs/SMP

sebanyak 188.295 orang (97,50%) dan sebanyak 4.836 orang

(26)

93

bersekolah di MA/SMA sebanyak 66.386 orang (97,98%) dan

sebanyak 1.366 orang (2,02%) tidak bersekolah.

Dari data tersebut dapat lebih menguatkan bahwa memang pendidikan pada Madin ini adalah pendidikan non formal sebagai pendamping pendidikan formal, karena pada setiap tingkat baik pada Ula, Wustha ataupun Ulya sebagian besar peserta didik mengikuti pendidikan formal. Hanya sedikit yang benar-benar hanya belajar di Madin tanpa mengikuti pendidikan formal.

3. Tenaga Pengajar

Gambar 2.19 menunjukkan jumlah tenaga pengajar berdasarkan jenis kelamin. Jumlah seluruh tenaga pengajar pada Madrasah Diniyah sebanyak 295.771 orang, terdiri dari 186.185 orang

(62,95%) tenaga pengajar laki-laki dan 109.586 orang (37,05%)

tenaga pengajar perempuan.

(27)

94

Berdasarkan status kepegawaian, tenaga pengajar Madrasah Diniyah dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) berjumlah 16.525

orang (5,59%) dan tenaga pengajar dengan status bukan PNS (Non

PNS) berjumlah 279.246 orang (94,41%) seperti yang tampil pada Gambar 2.20 Jumlah pengajar dengan status Non PNS lebih banyak dibanding jumlah pengajar dengan status PNS. Hal ini terjadi karena sebagian besar lembaga-lembaga pada Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan non-formal yang awalnya didirikan oleh masyarakat, sebagai lembaga yang berperan untuk melengkapi materi Pendidikan Agama Islam yang dirasa kurang pada sekolah-sekolah umum.

Gambar 2.20. Jumlah Tenaga Pengajar Berdasarkan Status Kepegawaian Sesuai dengan Gambar 2.21 yang menampilkan jumlah tenaga pengajar berdasarkan kualifikasi pendidikan, tenaga pengajar

(28)

95

tenaga pengajar dengan pendidikan terakhir S1 berjumlah 67.206 orang (22,72%), dan tenaga pengajar dengan pendidikan terakhir

≥S2 berjumlah 45.214 orang (15,29%).

Gambar 2.21. Jumlah Tenaga Pengajar Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan

Beragamnya latar belakang pendidikan tenaga pengajar di Madin dikarenakan memang Madin muncul dari masyarakat, sehingga untuk tenaga pengajar biasanya adalah karena swadaya masyarakat sendiri, sesuai dengan latar pendidikan yang ada di masyarakat dan bersedia menjadi tenaga pengajarnya.

Tampilan lebih rinci mengenai tenaga pengajar di Madrasah Diniyah dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

(29)

96

Gambar 2.22. Jumlah Tenaga Pengajar Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan dan Status Kepegawaian

Tenaga pengajar dengan pendidikan <S1 terdiri dari 14.401

orang (7,85%%) PNS dan 168.950 orang (92,15%) Non PNS.

Tenaga pengajar dengan pendidikan S1 terdiri dari 1.806 orang

(2,69%) PNS dan 65.400 orang (97,31%) Non PNS. Dan tenaga

pengajar dengan pendidikan ≥S2 terdiri dari 318 orang (0,70%) PNS

dan 44.896 orang (99,30%) Non PNS.

4. Sarana dan Prasarana

Jumlah ruang kelas di seluruh Madrasah Diniyah adalah 163.671 unit dengan rincian 104.561 unit (63,88%) ruang kelas dengan

kondisi baik, 47.939 unit (29,29%) ruang kelas dengan kondisi rusak

ringan, dan 11.171 unit (6,83%) ruang kelas dengan kondisi rusak berat (Gambar 2.23)

(30)

97

Gambar 2.23. Jumlah Ruang Kelas Berdasarkan Kondisi

Dari jumlah Madin 68.471 tersedia ruang kelas 163.671 bisa dipastikan hampir setiap Madin mempunyai ruang kelas antara 2-3 kelas. Hal ini dirasakan masih mencukupi dengan pengaturan kelas pagi/siang/sore. Namun pada kenyataan hampir dari 30% dalam kondisi rusak, baik rusak ringan maupun rusak berat. Oleh karena itu perlu adanya program penambahan dan rehabilitasi terhadap ruang belajar pada Madin.

Grafik pada Gambar 2.24 menampilkan jumlah ruang guru dan jumlah ruang perpustakaan berdasarkan kondisinya. Dari seluruh Madrasah Diniyah di Indonesia terdapat 18.148 unit ruang guru. Dari seluruh unit ruang guru tersebut terdapat 8.811 unit (48,55%)

dalam kondisi baik, 6.522 unit (35,94%) dalam kondisi rusak ringan,

(31)

98

Gambar 2.24. Jumlah Ruang Guru dan Ruang Perpustakaan Berdasarkan Kondisinya Ruang perpustakaan di seluruh Madrasah Diniyah berjumlah 8.199 unit. Ruang perpustakaan dalam kondisi baik berjumlah 2.561

unit (31,24%), ruang perpustakaan dalam kondisi rusak ringan

berjumlah 2.698 unit (32,91%), dan ruang perpustakaan dalam

kondisi rusak berat berjumlah 2.940 unit (35,86%).

Demikian pula terhadap sarana dan prasarana lainnya yaitu ruang guru dan perpustakaan. Ruang guru baru ada sekitar 26,50% dari jumlah Madin (bila disyaratkan ruang guru ada 1 untuk setiap Madin), sedangkan ruang perpustakaan baru ada sekitar 11,97% dari jumlah Madin (bila disyaratkan ruang perpustakaan ada 1 untuk setiap Madin). Jadi untuk ruang guru dan ruang perpustakaan masih perlu ditingkatkan program pembangunannnya, dan untuk ruang guru dan ruang perpustakaan yang rusak perlu dilakukan perbaikan atau rehabilitasi.

(32)

99

c. Taman Pendidikan Qur’an (TPQ)

Lembaga Taman Pendidikan Qurán (TPQ) adalah lembaga pendidikan yang mendidik santrinya untuk terampil dan cakap dalam baca tulis Al Qurán, ilmu dan praktek ibadah, serta menanamkan akhlakul karimah.

Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi telah berhasil menyusun data Taman Pendidikan Qurán (TPQ) untuk Tahun Pelajaran 2011-2012 secara nasional yang terdiri dari jumlah lembaga, jumlah Rombel, jumlah santri berdasarkan jenis kelamin dan berdasarkan pendidikan formal yang diikuti, dan jumlah tenaga pengajar berdasarkan jenis kelamin dan Latar belakang pendidikan.

Berikut data beserta analisis hasil pendataan TPQ Tahun Pelajaran 2011-2012.

1. Lembaga

Berdasarkan data pada Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Tahun Pelajaran 2011-2012, secara nasional terdapat 136.333 lembaga Taman Pendidikan Qurán dengan jumlah Rombongan Belajar sebanyak 346.518. Rasio lembaga : Rombel 3, ini berarti bahwa rata-rata setiap TPQ mempunyai 3 rombongan belajar. Ini dapat diartikan bahwa minat masyarakat untuk menyekolah anaknya ke TPQ cukup baik.

2. Santri

Santri Taman Pendidikan Qurán (TPQ) secara keseluruhan berjumlah 8.256.127 orang santri, yang terdiri dari 3.727.445 orang

(33)

100

santri (45,15%) laki-laki dan 4.528.682 orang santri (54,85%)

perempuan (Gambar 2.25).

Santri-santri tersebut, selain belajar di TPQ, ada juga yang mengikuti pendidikan formal di tingkat RA, MI dan MTs. Berikut grafik yang menggambarkan jumlah santri laki-laki dan jumlah santri perempuan Taman Pendidikan Qurán (TPQ).

Gambar 2.25. Jumlah Santri Taman TPQ Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa jumlah santri perempuan pada TPQ relatif lebih banyak dari jumlah santri laki-laki.

Santri perempuan sebanyak 54,85%, sedangkan santri laki-laki

sebanyak 45,15%. Hal ini mungkin pada tahapan umur anak TPQ

minat belajar lebih tinggi pada anak perempuan daripada pada anak laki-laki.

Rasio perbandingan antara jumlah rombongan belajar dengan jumlah santri adalah 24, yang artinya 1 rombongan belajar terdiri

(34)

101

dari 24 orang santri. Nilai ini menyatakan untuk rombel cukup baik atau ideal, walau memang nilai ideal rombel untuk anak usia di TPQ adalah 15. Tetapi ada rombel yang cukup besar pada provinsi Papua Barat 72, DKI 56, Sulut 43, dan Banten 37.

Adapun jumlah santri berdasarkan pendidikan formal yang diikuti, sebanyak 1.686.197 orang santri (20,42%) belajar pada

RA/TK, 5.718.682 orang santri (69,27%) belajar pada MI/SD,

651.024 orang (7,89%) belajar pada MTs/SMP dan yang tidak

mengikuti pendidikan formal sebanyak 200.224 orang santri

(2,43%).

Berikut grafik yang menggambarkan jumlah santri Taman Pendidikan Qurán (TPQ) berdasarkan pendidikan formal yang diikuti.

(35)

102

Dari grafik diatas, terlihat jumlah santri yang mengikuti pendidikan formal tingkat MI/SD lebih banyak dibandingkan yang

lainnya yaitu sebanyak 69,27%, diikuti dengan tingkat RA/SD

sebanyak 20,42%, kemudian tingkat MTs/SMP sebanyak 7,89%

dan yang paling sedikit adalah yang tidak mengikuti pendidikan formal yaitu sebanyak 2,43%. Berdasarkan presentase ini, kita dapat mengetahui bahwa ada sekitar 2,43% peserta didik yang benar-benar hanya mengikut pembelajaran di Taman Pendidikan Qurán (TPQ) dan tidak/belum mengikuti pendidikan formal baik itu di tingkat RA/TK, MI/SD ataupun MTs/SMP.

Adapun jumlah santri miskin secara keseluruhan pada TPQ sebanyak 1.794.870 orang santri atau 21,74% dari jumlah santri TPQ keseluruhan 8.256.127 orang santri. Dari jumlah santri miskin tersebut ada santri miskin laki-laki sebanyak 834.149 orang santri

(10,10%) dan ada sejumlah santri miskin perempuan sebanyak

960.721 orang santri (11,64%). Berikut grafik yang

menggambarkan jumlah santri miskin Taman Pendidikan Qurán (TPQ) berdasarkan jenis kelamin.

(36)

103

Gambar 2.27. Jumlah Santri Miskin

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa jumlah santri miskin perempuan pada TPQ relatif lebih banyak dari jumlah santri miskin laki-laki. Jumlah ini selaras dengan total santri Taman Pendidikan Qurán (TPQ) yang total santri perempuan lebih banyak daripada santri laki-laki. Dan dapat pula disimpulkan bahwa dari peserta didik di TPQ bahwa hampir 1/3 nya adalah santri miskin, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada TPQ adalah sebagai salah satu pendidikan yang dapat diikuti oleh masyarakat miskin di Indonesia. Terlihat pada nilai persentase santri TPQ miskin pada beberapa provinsi yang cukup besar misal : Kepulauan Riau 81,20%, Kalimantan Timur 69,22%, dan NTT 67,98%, dan Banten 53,41%.

(37)

104

3. Tenaga Pengajar

Berdasarkan data yang masuk ke Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi pada Tahun Pelajaran 2011-2012, secara nasional jumlah Tenaga Pengajar Taman Pendidikan Qurán (TPQ) sebanyak 704.738 orang, yang terdiri dari Tenaga Pengajar laki-laki

sebanyak 393.982 orang (55,90%) dan Tenaga Pengajar

perempuan sebanyak 310.756 orang (44,10%). Berikut grafik yang

menggambarkan jumlah Tenaga Pengajar TPQ berdasarkan jenis kelamin.

Gambar 2.28. Jumlah Tenaga Pengajar TPQ Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa jumlah Tenaga Pengajar laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan Tenaga

Pengajar perempuan, yaitu sebanyak 55,90%, sedangkan Tenaga

(38)

105

Adapun jumlah Tenaga Pengajar berdasarkan latar belakang

pendidikan berjumlah 167.079 (23,71%) orang dari Pondok

Pesantren, 320.143 orang (45,43%) ≤ SMA, 121.742 orang

(17,27%) dari tingkat Diploma, dan 95.774 (13,59%) orang ≥ S1.

Rasio perbandingan antara jumlah Tenaga Pengajar dengan jumlah santri adalah 12, yang artinya 1 tenaga pengajar membina 12 orang santri.

Berikut grafik yang menggambarkan jumlah Tenaga Pengajar berdasarkan latar belakang pendidikan.

Gambar 2.29. Jumlah Tenaga Pengajar TPQ

Dari grafik diatas, terlihat jumlah Tenaga Pengajar yang memiliki latar belakang pendidikan ≤SMA lebih banyak

dibandingkan yang lainnya yaitu sebanyak 45,43%, diikuti dengan

tingkat Pondok Pesantren sebanyak 23,71%, kemudian tingkat

Diploma sebanyak 13,59% dan yang paling sedikit adalah ≥ S1,

PP <=SMA Dipl. >=S1 167.079 23,71% 320.143 45,43% 121.742 17,27% 95.774 13,59%

Tenaga Pengajar TPQ

(39)

106

yaitu sebanyak 13,59%. Terlihat bahwa lebih 60% pendidikan

tenaga pengajar berasal dari SMA dan pontren, ini dapat dipahami karena pendidikan pada TPQ memang tidak membutuhkan guru yang berpendidikan formal tinggi. Dikarenakan pembelajaran lebih banyak ke pendidikan agama dan baca Al-Qur’an, tidak pada pendidikan formal. Namun penguatan kemampuan mengajar bagi tenaga pengajar di TPQ perlu tetap ditingkatkan, baik dari segi wawasan pembelajaran maupun teknik mengajar. Oleh karena itu perlu dikembangkan program-program peningkatan kemampuan guru pada kemampuan mengajar dan teknik pembelajaran.

Dari Rasio Guru : Santri tercatat nilai 12, ini mempunyai arti bahwa satu orang guru membina 12 orang santri. Hal ini cukup ideal dalam proses pembelajaran, dan dapat pula disimpulkan jumlah tenaga pengajar pada TPQ sudah cukup memadai. Tinggal ditingkatkan lagi kemampuan dan keterampilannnya.

Gambar

Gambar 2.1. Pondok Pesanten Berdasarkan Tipe TP. 2011-2012
Gambar 2.2. Jumlah Santri Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 2.3. Jumlah Santri Berdasarkan Kategori Tinggal
Gambar 2.4. Jumlah Santri Berdasarkan Kategori Belajar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ikterus merupakan gejala yang tampak pada sekitar 30% pasien, Ikterus lebih banyak ditemukan pada kanker kaput pankreas, namun obstruksi atau ikterus bisa juga

Dibandingkan dengan katalis homogen, katalis heterogen memiliki kelebihan antara lain kestabilan termalnya relative tinggi sehingga dapat digunakan untuk reaksi

Terdapat kajian yang telah dilakukan dimana terdapat guru dan pelajar yang sepadan dan tidak sepadan (matching or mismatching) dalam kelas berdasarkan gaya kognitif mereka dan

Untuk Variabel Disiplin Kerja. Tanggapan mengenai tingkat kepatuhan terhadap ketentuan atau peraturan dengan melihat aktifitas yang wajib diikuti oleh Pegawai Negeri

[r]

(2004) mengemukakan bahwa teknik persemaian cendana dengan menggunakan ukuran wadah kantung plastik putih volume 600 mL (11 cm x 24,5 cm) menghasilkan pertumbuhan

Dalam hal penggabungan perseroan dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1), maka Direksi perseroan yang akan menerima penggabungan

Wujud saham yang berupa selembar kertas dan menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan terbagi atas dua jenis, yaitu : (Sapto Rahardjo, 2006) : 1) Saham