LAPORAN
HASIL KUNJUNGAN KERJA KOMISI VII DPR RI
KE PROVINSI JAWA BARAT
(Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan Pusat
Sains Antariksa LAPAN)
Jawa Barat, 12 – 16 Desember 2020
RESES MASA PERSIDANGAN II
TAHUN SIDANG 2020-2021
SEKERTARIAT KOMISI VII
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
DESEMBER 2020
1 BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Komisi VII DPR RI, berdasarkan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 44/DPR RI/I/2019-2020 tentang Penetapan Mitra Kerja Komisi-Komisi, Badan Anggaran, Dan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI Masa Keanggotaan Tahun 2019-2024, tanggal 31 Oktober 2020, memiliki mitra kerja diantaranya dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
BATAN sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2013 adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penelitian, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di Indonesia hanya diarahkan untuk tujuan damai dan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Komitmen ini secara tegas dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan meratifikasi Traktat Pencegahan Penyebaran Senjata Nuklir dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1978. BATAN memiliki satuan kerja diantaranya adalah Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir BATAN. Penelitian, pengembangan dan pemanfaatan sains dan teknologi nuklir terapan yang dilaksanakan oleh PSTNT diarahkan untuk dapat berkontribusi dalam meningkatkan kontribusi iptek nuklir, serta meningkatkan ketersediaan sumber daya iptek nuklir yang berkualitas, baik SDM, maupun sarana dan prasarana. PSTNT telah melakukan kerja sama dalam bidang iptek nuklir dengan berbagai instansi lain di dalam dan luar negeri. Program kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan penyerapan hasil litbangyasa BATAN, mendorong tumbuhnya usaha baru untuk usaha kecil dan menengah serta meningkatkan inovasi teknologi di kalangan masyarakat. Bentuk Kerja Sama PSTNT diantaranya dengan, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2I - KLHK) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
2 dan kuantitas litbang dan inovasi bidang lingkungan hidup dan kehutanan dengan menggunakan iptek nuklir dalam rangka mendukung program pembangunan nasional semisal penggunaan aplikasi teknik nuklir dalam meneliti kandungan logam berat di udara. Selain itu, dengan aplikasi teknik nuklirnya BATAN juga menghasilkan plastik yang diklaim ramah lingkungan. Selain itu, keberadaan BATAN menjadi sangat penting, mengingat saat ini Komisi VII DPR RI sedang Menyusun RUU tentang Energi Baru dan Terbarukan (EBT), dimana pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi baru yang lebih bersih menjadi sangat penting dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat
Sedangkan LAPAN merupakan lembaga yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya, penyelenggaraan keantariksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam menunjang kegiatannya LAPAN memiliki satuan kerja yang berlokasi di Bandung yaitu Pusat Sains Antariksa dan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer. Pusat Sains Antariksa, adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer. Yang memiliki tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, perekayasaan dan pemanfataannya, serta penyelenggaraan keantariksaan di bidang sains antariksa. Dalam melaksanakan tugasnya di bidang keantariksaan, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, diantaranya:
1. Adanya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan menuntut kemandirian penggunaan produk alutsista dalam negeri. Saat ini, LAPAN merupakan Lembaga riset namun dituntut untuk memproduksi roket pertahanan dalam negeri.
2. Litbangyasa roket LAPAN masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.
3. Teknologi roket merupakan teknologi yang tertutup sehingga LAPAN kesulitan mendapatkan mitra strategis pengembangan roket.
4. Belum terpetakan potensi ekonomi industri satelit dalam negeri mengakibatkan tidak optimalnya pemanfaatan hasil litbangyasa produk satelit LAPAN.
3 Berdasarkan kondisi tersebut di atas, Komisi VII DPR RI memandang perlu untuk menjadikan Provinsi Jawa Barat, khususnya Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan Pusat Sains Antariksa LAPAN sebagai obyek kunjungan kerja pada reses Masa Persidangan II Tahun Sidang 2020 – 2021. Kunjungan ini diharapkan dapat membawa informasi terkait bidang - bidang kerja Komisi VII DPR RI untuk ditindak lanjuti dalam menjalankan fungsinya.
II. Dasar Hukum Kunjungan Kerja
Dasar Hukum dari pelaksanaan kunjungan kerja ini adalah Hasil Keputusan Rapat Intern Komisi VII DPR RI tentang Agenda agenda kerja Masa Persidangan II Tahun Sidang 2020-2021, pada tanggal 09 November 2020 dan merujuk pada Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1/DPR RI/I/2020 tentang Tata Tertib DPR RI.
III. Maksud dan Tujuan Kunjungan Kerja
Maksud diadakannya Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ke Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan Pusat Sains Antariksa LAPAN di Provinsi Jawa Barat adalah dalam rangka menyerap aspirasi dan melihat secara langsung kegiatan Pusat sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) dan Pusat Sains Antariksa.
Adapun tujuan kunjungan kerja ini adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan informasi dan melihat secara langsung perkembangan sektor riset dan teknologi khususnya yang berkaitan dengan pengembangan teknologi nuklir terapan dan sains antariksa;
2. Mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi oleh BATAN dalam pengembangan teknologi nuklir terapan dan LAPAN dalam pengembangan sains antariksa untuk kemudian mencari solusi terhadap permasalahan yang ada;
3. Dukungan yang diharapkan dalam pengembangan teknologi nuklir terapan dan pengembangan sains antariksa
4 Hasil kunjungan kerja ini akan digunakan sebagai bahan masukan bagi Komisi VII DPR RI dalam menjalankan peran dan fungsinya, khususnya di bidang pengawasan, anggaran dan legislasi khususnya di bidang riset dan teknologi.
IV. Waktu, Lokasi, dan Agenda Kunjungan Kerja
Kegiatan Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI dilaksanakan pada tanggal 12 - 16 Desember 2020 dan berlokasi di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Sedangkan agenda kegiatan Kunjungan Kerja adalah melakukan pertemuan dengan pihak yang terkait di daerah dan meninjau langsung ke lokasi, dengan agenda sebagai berikut
1. Pertemuan di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN sesuai standar protocol Kesehatan dan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan. Pertemuan di PSTNT tersebut dihadiri oleh Prof. Anhar Riza Antariksawan (Kepala BATAN), Ir. Halimurrahman, MT (Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN), dan Prof. Ismunandar (Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktifitas Kemenristek/BRIN).
2. Peninjauan lapangan ke Pusat Sains Antariksa dan Pusat Sains Teknologi Atmosfer LAPAN. Pada kegiatan peninjauan lapangan tersebut, Komisi VII DPR RI diterima oleh Prof Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN) dan beberapa staf Pusat Sains Antariksa.
V. Sasaran dan Hasil Yang Diharapkan
Sasaran dari kegiatan kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Provinsi Jawa Barat adalah diperolehnya data dan informasi di bidang pengembangan teknologi nuklir terapan dan sains antariksa.
Hasil kegiatan kunjungan Komisi VII DPR RI diharapkan bisa menjadi rekomendasi untuk ditindaklanjuti dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan mitra terkait, khususnya dalam melaksanakan fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran.
5 VI. Daftar Anggota Tim Kunjungan Kerja
Kunjungan kerja ini diikuti oleh Anggota Komisi VII DPR RI, yang merupakan representasi dari tiap-tiap fraksi.
No Nama No.
Anggota Fraksi Jabatan
1 H. Eddy Soeparno, SH, MH. A. 496 PAN
Ketua Tim/Wakil
Ketua 2 H. Alex Noerdin A. 278 P. Golkar Wakil Ketua 3 Dony Maryadi Oekon, ST A. 176 PDI Perjuangan Anggota 4 H. Andi Ridwan Wittiri, SH A. 256 PDI Perjuangan Anggota 5 Adian Yunus Yusak Napitupulu A. 168 PDI Perjuangan Anggota 6 Paramitha Widya Kusuma, SE A. 198 PDI Perjuangan Anggota 7 Ir. HM. Ridwan Hisjam A. 317 P. Golkar Anggota 8 Drs. HM Gandung Pardiman, MM A. 312 P. Golkar Anggota 9 Dyah Roro Esti Widya Putri, BA,
M.Sc A. 322 P. Golkar Anggota
10 Dr. Ir. H. Kardaya Warnika, DEA A. 91 P. Gerindra Anggota 11 H. Subarna, SE, M.Si A. 95 P. Gerindra Anggota 12 Arkanata Akram, ST, BE (Hons),
M.Eng.Sc A. 392 P. Nasdem Anggota
13 Hj. Ratna Juwita, SE, MM A. 46 PKB Anggota 14 H. Abdul Wahab Dalimunthe, SH A. 524 P. Demokrat Anggota 15 H. Rofik Hananto, SE A. 443 PKS Anggota 16 Dr. H. Mulyanto, M.Eng A. 450 PKS Anggota 17 H. Asman Abnur, SE, M.Si A. 492 PAN Anggota 18 Dr. Ir. Hj. Andi Yuliani Paris, M.Si A. 517 PAN Anggota 19 Drs. Anwar Idris A. 460 PPP Anggota
6 BAB II
PEMBAHASAN DAN HASIL KUNJUNGAN KERJA
Komisi VII DPR RI, melaksanakan kegiatan Kunjungan Kerja pada Reses Masa Persidangan II, Tahun Sidang 2020 - 2021 pada tanggal 12 s.d. 16 Desember 2020 di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Kegiatan Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI tersebut, dipimpin oleh H. Eddy Soeparno, SH., MH. (Wakil Ketua Komisi VII DPR RI). Mengawali kegiatan Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI tersebut, dengan melakukan pertemuan di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan. Pertemuan di PSTNT tersebut dihadiri oleh Prof. Anhar Riza Antariksawan (Kepala BATAN), Ir. Halimurrahman, MT (Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN), dan Prof. Ismunandar (Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktifitas Kemenristek/BRIN).
Pada pertemuan tersebut, dari BATAN menjelaskan masalah perkembangan dan pemanfaatan Reaktor TRIGA MARK II, aplikasi Teknik nuklir bidang lingkungan, riset pencemaran udara berbasis TAN, aplikasi nuklir untuk Kesehatan, pengembangan laboratorium hewan, permasalahan tanah PSTNT dan lain-lain. Sedangkan dari LAPAN memaparkan masalah target riset dan inovasi bidang sains Antariksa dan atmosfer, sistem informasi pemantauan benda jatuh antariksa, sistem informasi dan prediksi cuaca antariksa, pemanfaatan sains berbasis pernerbangan dan antariksa, litbangjirap system pendukung atmosfer ekuator untuk kebencanaan, kemaritiman dan lingkungan atmosfer, transpoertasi dan perubahan iklim dan lain-lain, pengembangan radar hujan nasional.
7 Gambar. Kegiatan Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI di Pusat Sains dan
Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN
Setelah pertemuan dan peninjauan lapangan di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN, selanjutnya dilakukan peninjauan lapangan ke Pusat Sains Antariksa LAPAN. Pada kegiatan peninjauan lapangan tersebut, Komisi VII DPR RI diterima oleh Prof Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN) dan beberapa staf Pusat Sains Antariksa. Pada kegiatan Peninjauan lapangan tersebut, tim Komisi VII DPR RI berkesempatan melihat beberapa fasilitas yang dimiliki LAPAN yang berada di Pusat Sains Antariksa seperti peninjauan fasilitas Sistem Pemantauan dan Informasi Cuaca Antariksa (SPICA), ruang Atmospheric Science and Technology Information System (ASTINA), ruang Atmospheric Science data center, dan sebagainya.
8 Gambar. Peninjauan Lapangan ke Pusat Sains Antariksa LAPAN
Adapun beberapa informasi dan penjelasan yang diperoleh dari hasil pertemuan dan peninjauan lapangan di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan Pusat Sains Antariksa LAPAN, diantaranya:
Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN
- Pengoperasian Reaktor TRIGA Mark II dimulai pada 20 Februari 1965 dengan daya 250 kW. Reaktor tersebut dibangun untuk penguasaan teknologi produksi radioisotope dan radiofarmaka untuk kebutuhan Kesehatan, industri, pertanian dan lingkungan. Selanjutnya pada tahun 1971 dilakukan upgrading daya reaktor menjadi 1000 kW, dan tahun 2000 dilakukan upgrading kedua sehingga dayanya menjadi 2000 kW dan Namanya berubah menjadi Reaktor TRIGA 2000.
- BATAN mendirikan klinik kedokteran nuklir pertama di Indonesia bekerjasama dengan Universitas Padjajaran dan RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 1970 untuk tujuan penelitian dan penggunaan radioisotop untuk tujuan diagnosis dan terapi. Saat ini klinik kedokteran nuklir semakin berkembang dan berperan dalam pelayanan diagnosis dan terapi kanker di wilayah Bandung dan sekitarnya.
- BATAN saat ini telah mampu membuat secara mandiri batang kendali reaktor TRIGA 2000, sehingga mampu beroperasi hingga saat ini
9 - Melalui kerja sama antara BATAN dengan Pemkot Bandung, PSTNT ditetapkan sebagai destinasi wisata edukasi pada tahun 2019. Selain itu, bekerjasama dengan 16 Pemda Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan pemetaan unsur polusi lingkungan dengan metode Analisis Teknik Nuklir (TAN)
- Riset Pencemaran udara berbasis TAN, menghasilkan informasi kualitas udara perkotaan di Indonesia berupa; karakteristik partikulat udara perkotaan, identifikasi sumber pencemar, identifikasi pencemaran secara dini, penelusuran pencemaran dari sumber local/regional (kebakaran hutan/gunung Meletus), mengevaluasi efektivitas program yang diterapkan (bensin tanpa timbal)
- Aplikasi Teknik nuklir bidang Kesehatan dalam upaya penanggulangan stunting, dengan melakukan assessmen kandungan gizi termasuk gizi mikro dalam pangan balita untuk penanganan malnutrisi
- BATAN menggunakan radioisotop sebagai tracer dalam pengembangan dan evaluasi obat. Keuntungan Teknik radioisotope based yaitu; kemudahan deteksi dan sensitifitas tinggi, prinsip analisis dan imaging yang sederhana, tidak membutuhkan modalitas analisis dan imaging yang beragam. Beberapa penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode ini diantaranya; evaluasi terapi bahan alam, pengembangan HApZr untuk terapi kanker paru, pengembangan 177Lu-PSMA untuk terapi kanker prostat, pengembangan obat
antikanker otak, dan lain-lain
- BATAN saat ini memiliki Laboratorium Hewan untuk melakukan uji praklinis senyawa radioaktif. Kebutuhan industri yang sangat tinggi saat ini khususnya dalam menentukan ADME (Absorbsi Metabolisme dan Ekskresi) dari sediaan obat hasil R&D mendorong BATAN untuk mengembangkan Laboratorium Hewan
- Saat ini, tanah yang ditempati PSTNT masih berstatus milik Pemkot Bandung, sehingga ada kesulitan pada saat akan dilakukan pengembangan fasilitas. BPK sejak tahun 2006 telah merekomendasikan agar tanah tersebut dapat diajukan proses hibah dari Pemkot Bandung ke BATAN
10 Pusat Sains Antariksa LAPAN
- Kegiatan Riset dan Inovasi bidang Sains Antariksa dan Atmosfer 2020-2024 dalam RPJMN 2020-2024 yaitu;
1. Flagship PRN (a. Decision Support Sistem (DSS) untuk penginderaan jauh untuk kawasan konservasi, pencegahan pencemaran, kebencanaan, dan pemanfaatan SDA, b. Pengembangan Decision Support Tool (DST) berbasis Sains dan Teknologi Atmosfer untuk mendukung Smart Water Management Sistem (SWMS))
2. Infrastruktur Iptek Strategis yang dikembangkan (Observatorium Nasional (Obnas) di NTT, dan Laboratorium Terbang Nasional)
3. Teknologi untuk pencegahan dan mitigasi pascabencana (informasi cuaca antariksa)
- Target Riset dan Inovasi bidang Sains Antariksa dan Atmosfer 2020-2024 berdasarkan Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan (Perpres No 45 Tahun 2017), adalah;
1. DSS Sains antariksa dan atmosfer yang terintegrasi dengan satelit penginderaan jauh nasional
2. Pengamatan Antariksa dan Kopling Atmosfer terintegrasi menggunakan radar, pesawat terbang dan satelit
3. Pengamatan atmosfer ekstrem benua maritim Indonesia berbasis teknologi antariksa
4. Jaringan pengamatan cuaca antariksa dan astronomi
5. Jaringan pengamatan antariksa-atmosfer landas bumi dan landas antariksa secara mandiri
6. Sistem asimilasi data dan prediksi antariksa dan atmosfer yang terintegrasi
- Saat ini Observatorium LAPAN di NTT mempersiapkan Teleskop 380 cm (terbesar di Asia Tenggara). Teleskop tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengamatan tindak lanjut fenomena transien (supernova, flare, dan sebagainya), karakterisasi objek dekat Bumi (asteroid/komet), pencarian planet luar surya, hingga studi materi gelap pada galaksi.
11 Teleskop 380 cm dilengkapi dengan:
1. Teleskop Ritchey-Chretien dengan 18 cermin majemuk yang ditopang oleh active optic serta struktur ringan untuk meningkatkan kelincahan (agility).
2. Memiliki 2 titik fokus Nasmyth untuk peletakan instrumen pengamatan.
3. Instrumen generasi pertama terdiri atas kamera optik (pita g, r, i) dengan kemampuan simultaneous imaging
- LAPAN juga telah mengoperasikan Teleskop 50 cm di Kupang NTT. Teleskop 50 cm dapat dimanfaatkan untuk pengamatan survei objek dekat Bumi (asteroid/ komet), satellite tracking, serta survei peristiwa transien (supernova, flare, dsb). Selain itu sistem ini dapat dioperasikan dari jarak jauh, bahkan juga dapat digunakan sebagai sistem robotik yang bersifat otonom. Teleskop 50 cm ini, diharapkan dapat berkontribusi pada International Asteroid Warning Network (IAWN) dalam rangka pencegahan malapetaka akibat tabrakan asteroid.
- LAPAN mengembangkan system informasi terkait benda orbital ketinggian rendah yang melintas di atas wilayah Indonesia. Lintasan objek diprediksi menggunakan parameter orbit (TLE) dari space-track.org dan model SGP4. Prediksi waktu jatuh dilakukan dengan SatEvo v0.51. system ini semakin diperlukan seiring meningkatnya populasi sampah antariksa. Seperti kejadian benda jatuh antariksa seperti kasus Sumenep (2016) dan Maninjau (2017).
12 Sistem informasi pemantauan benda jatuh antariksa perlu dikembangkan lebih lanjut, di antaranya dengan:
1. Membangun basis data yang andal dan dapat diakses oleh pengguna domestik.
2. Meningkatkan variasi data dan informasi terkait, misalnya visualisasi jejak orbit dan peta langit.
3. Meningkatkan akurasi prediksi kalahidup orbit serta prediksi waktu dan lokasi jatuh.
4. Membangun sistem informasi geografis (GIS) resiko bahaya benda jatuh antariksa.
5. Membangun sistem pencarian data dan informasi untuk membantu identifikasi kasus.
- Terkait pemantauan cuaca antariksa yang berkaitan kondisi medan dan plasma sekitar Bumi yang amat dipengaruhi oleh aktivitas Matahari. LAPAN mengoperasikan satelit, komunikasi radio HF, navigasi presisi, hingga survei geofisika bergantung pada cuaca antariksa. Selain itu dikembangkan Sistem informasi dan prediksi cuaca antariksa (SWIFtS) memberikan informasi secara berkala untuk mendukung aktivitas yang bergantung pada cuaca antariksa. Seperti mendukung komunikasi radio dalam operasi/latihan TNI, komunikasi
13 radio maritim dalam patroli Bea Cukai, memberikan dukungan manajemen komunikasi dan navigasi penerbangan AirNav dan memberikan dukungan perencanaan survei geologi kelautan.
- Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, melalui pusat unggulan Iptek pemodelan Atmosfer Indonesia, menghasilkan produk dan layanan berupa;
1. Informasi, kajian, rekomendasi dan Sistem Pendukung Keputusan (DSS) berbasis sains dan teknologi atmosfer untuk mendukung pengambilan keputusan kebijakan dan manajemen oleh K/L/B.
2. Inovasi produk teknologi pengamatan atmosfer (radar hujan, radiosonda, sensor CO2, dan lain-lain)
3. Rujukan ilmiah dan informasi iptek untuk komunitas ilmiah dan masyarakat (Buletin, Majalah, Buku dan Jurnal)
4. Layanan jasa di bidang sains dan teknologi atmosfer (bimbingan teknis, pengujian kimia atmosfer dan air hujan, dan layanan jasa iptek lainnya).
- Kegiatan Litbangjirap system pendukung keputusan (DSS) Dinamika Atmosfer Ekuator untuk Kebencanaan, Kemaritiman dan Lingkungan Atmosfer (2015-2019) di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, dengan mengembangkan Sadewa, Semar, Srikandi dan Santanu, yang saat ini sudah
14 operasional dan dikembangkan terus untuk meningkatkan kinerja, fitur dan kualitas informasi yang dihasilkan, serta pemanfaatannya oleh stakeholder terkait. Pengembangan aplikasi DSS berbasis Sains dan Teknologi Atmosfer (operasional), yaitu;
1. DSS Kebencanaan Sadewa → https://sadewa.sains.lapan.go.id 2. DSS Kemaritiman Semar → https://semar.sains.lapan.go.id 3. DSS Lingkungan Srikandi → https://srikandi.sains.lapan.go.id 4. Sistem Pemantau Hujan Spasial Santanu →
https://santanu.sains.lapan.go.id
DSS ini dikembangkan untuk mendukung pengelolaan resiko bencana hidrometeorologis, peningkatkan produksi perikanan tangkat dan keselamatan pelayaran, dan pengelolaan lingkungan atmosfer dan kualitas udara oleh stakeholder terkait (BNPB, BMKG, KKP, KLHK dan Pemerintah Daerah).
- Pada tahun 2020, PSTA melaksanakan kegiatan litbangjirap DSS untuk Keselamatan Transportasi, Ketahanan dan Perubahan Iklim (Jatayu, Kamajaya dan Srirama), dan mulai tahun 2021 akan mengembangan DST Sumber Daya Air Indra untuk mendukung Smart Water Management System (SWMS). Pada tahun 2020 telah dilakukan penelitian, requirement study, dan perancangan aplikasi. Prototipe aplikasi akan mulai dikembangkan pada tahun 2021, yang diharapkan akan beroperasi secara penuh pada tahun 2024.
15 Pengembangan aplikasi DSS berbasis Sains dan Teknologi Atmosfer pada tahun 2020-2024 (Under Construction):
1. DSS Keselamatan Transportasi Udara Jatayu → https://jatayu.sains.lapan.go.id/jatayu
2. DSS Ketahanan Pangan Kamajaya → https://kamajaya.sains.lapan.go.id 3. DSS Perubahan Iklim Srirama → https://srirama.sains.lapan.go.id
4. DST Pengelolaan Sumber Daya Air Indra → https://indra.sains.lapan.go.id DSS ini dikembangkan untuk mendukung pengelolaan transportasi udara dan keselamatan penerbangan, pengelolaan pertanian presisi dan pertanian pintar, perencanaan pembangunan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya air oleh stakeholder terkait (BMKG, KEMENHUB, KEMENTAN, KLHK dan BAPPENAS)
- LAPAN mengembangkan teknologi radar hujan yang bernama Sistem Pemantauan Hujan Spasial (SANTANU). SANTANU merupakan sistem informasi deteksi hujan berbasis teknologi Radar X- Band. SANTANU mampu menghasilkan peta terjadinya hujan dalam radius 40 km secara terus-menerus setiap 2 menit near real time dengan resolusi 120 meter. Sistem ini relatif terjangkau, handal, dimensi yang relatif lebih efisien, serta mudah untuk pemasangan dan perawatan.
16 Adapun tujuan dari mengembangkan teknologi radar hujan adalah:
1. Memenuhi kebutuhan radar hujan yang standar, berkualitas, dan memenuhi persyaratan, untuk penelitian maupun aplikasi di berbagai sektor pembangunan.
2. Meningkatkan kemampuan observasi hujan di wilayah-wilayah terpencil yang sulit terjangkau oleh jaringan radar cuaca yang sudah ada.
3. Meningkatkan kemandirian nasional dalam menguasai teknologi radar untuk pengamatan atmosfer.
Saat ini LAPAN bekerjasama dengan PT. INTI untuk hilirisasi dan komersialisasi produk radar hujan dan dengan BMKG sebagai pengguna produk radar hujan.
- Untuk mempercepat capaian Renduk Penyelenggaraan Keantariksaan di bidang sains antariksa dan atmosfer dibutuhkan dukungan Komisi VII DPR RI dalam hal:
1. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui program pendidikan, pelatihan dan pemagangan;
2. Peningkatan fasilitas pendukung litbangjirap, antara lain peralatan pengamatan atmosfer dan peralatan komputasi kinerja tinggi (HPC);
3. Penguatan kerjasama dengan mitra, pengguna dan stakeholder terkait; 4. Dukungan hilirisasi dan komersialisasi melalui kerjasama dengan industri; 5. Dukungan kebijakan yang bisa lebih aktif mendorong interaksi dengan
berbagai stake holders; dan
17 BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kegiatan Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sejak pengoperasian reaktor Triga Mark II pada 20 Februari 1965 dengan daya 250kW, hingga saat ini Triga Mark II telah mengalami upgrading kedua pada tahun 2000 sehingga dayanya mencapai 2000 kW dan Namanya berubah menjadi Reaktor Triga 2000
2. Dengan kemampuan SDM yang dimiliki saat ini, BATAN telah mampu membuat secara mandiri batang kendali Reaktor Triga 2000, sehingga mampu memperpanjang operasi reactor hingga saat ini
3. Kontribusi PSTNT BATAN di bidang lingkungan, Kesehatan, diantaranya dengan melakukan pemetaan unsur polusi lingkungan dengan metode Analisis Teknik Nuklir (TAN) yang telah bekerjasama dengan 16 Pemda Provinsi/Kabupaten/Kota. Sedangkan di bidang Kesehatan dalam upaya penanggulangan stunting, dengan melakukan assessmen kandungan gizi termasuk gizi mikro dalam pangan balita untuk penanganan malnutrisi
4. Saat ini BATAN sedang mengembangkan Laboratorium Hewan untuk melakukan uji praklinis senyawa radioaktif. Mengingat kebutuhan industri yang sangat tinggi saat ini khususnya dalam menentukan ADME (Absorbsi Metabolisme dan Ekskresi)
5. PSTNT BATAN mengalami kendala dalam melakukan pengembangan fasilitas dikarenakan, status tanah yang ditempati oleh PSTNT masih milik Pemkot Bandung, walaupun sejak 2006 BPK telah merekomendasikan agar tanah tersebut dapat diajukan proses hibah dari Pemkot Bandung ke BATAN namun hibah tersebut belum terwujud
6. Target Riset dan Inovasi bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN berdasarkan Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan adalah; DSS Sains antariksa dan atmosfer yang terintegrasi dengan satelit, Pengamatan Antariksa dan Kopling Atmosfer terintegrasi menggunakan radar, pesawat terbang dan satelit, Pengamatan atmosfer ekstrem berbasis teknologi antariksa, Jaringan pengamatan cuaca antariksa dan astronomi, Jaringan
18 pengamatan antariksa-atmosfer landas bumi dan landas antariksa secara mandiri, Sistem asimilasi data dan prediksi antariksa dan atmosfer yang terintegrasi.
7. Observatorium LAPAN di NTT telah mengoperasikan Teleskop 50 cm, dan saat ini sedang dipersiapkan Teleskop 380 cm namun karena adanya kendala pembangunan infrastruktur jalan sehingga proses pengangkutan satelit terhambat. Ditargetkan Teleskop 380 cm dapat beroperasi pada akhir 2021 8. Untuk melakukan pemantauan terhadap benda atau sampah antariksa,
LAPAN mengembangkan system informasi pemantauan dengan menggunakan parameter orbit (TLE) dari space-track.org dan model SGP4. Prediksi waktu jatuh dilakukan dengan SatEvo v0.51. Namun system informasi pemantauan ini perlu dikembangkan lebih lanjut agar memiliki basis data yang andal dan dapat diakses oleh pengguna domestic, meningkatkan variasi data dan informasi terkait, meningkatkan akurasi prediksi kalahidup orbit serta prediksi waktu dan lokasi jatuh, dsb.
9. Kegiatan Litbangjirap system pendukung keputusan LAPAN untuk Kebencanaan, Kemaritiman dan Lingkungan Atmosfer di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) telah mengembangkan Sadewa, Semar, Srikandi dan Santanu, yang saat ini telah dimanfaatkan oleh BNPB, BMKG, KKP, KLHK dan Pemerintah Daerah. Sedangkan kegiatan litbangjirap untuk Keselamatan Transportasi, Ketahanan dan Perubahan Iklim dikembangkan Jatayu, Kamajaya dan Srirama, yang dimanfaatkan oleh BMKG, KEMENHUB, KEMENTAN, KLHK dan BAPPENAS. Dan mulai tahun 2021 akan mengembangan DST Sumber Daya Air Indra untuk mendukung Smart Water Management System (SWMS).
10. LAPAN mengharapkan adanya dukungan Komisi VII DPR RI untuk mempercepat capaian Renduk Penyelenggaraan Keantariksaan di bidang sains antariksa dan atmosfer berupa Peningkatan fasilitas pendukung litbangjirap, antara lain peralatan pengamatan atmosfer dan peralatan komputasi kinerja tinggi (HPC), dukungan hilirisasi dan komersialisasi melalui kerjasama dengan industri, dukungan kebijakan yang bisa lebih aktif mendorong interaksi dengan berbagai stakeholders, dan adanya dukungan penambahan anggaran.
19 Adapun saran Komisi VII DPR RI terhadap hasil kunjungan kerja tersebut tersebut adalah:
1. Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan Pusat Sains Antariksa LAPAN untuk mengusulkan ke Kementerian Keuangan terkait pengenaan tarif atas jasa atau produk yang dapat dikenakan PNBP di lingkup BATAN dan LAPAN
2. Hasil riset pencemaran udara dengan metode Analisis Teknik Nuklir (TAN) diharapkan dapat tersosialisaikan di setiap Anggota Komisi VII DPR RI, dan mendukung pengajuan anggaran untuk pemantauan udara agar dapat diterapkan di seluruh wilayah kabupaten/kota di Indonesia termasuk pengajuan anggaran untuk Pengembangan aplikasi DSS berbasis Sains dan Teknologi Atmosfer yang saat ini dilakukan oleh LAPAN
3. Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan Pusat Sains Antariksa dan Observatorium LAPAN serta tempat lainnya dilingkungan LAPAN dan BATAN dapat dijadikan sebagai tempat wisata edukasi masyarakat
4. Mendorong penyelesaian status hibah atas tanah PSTNT oleh Pemkot Bandung, agar tidak menghambat pengembangan fasilitas PSTNT kedepan.
20 BAB IV
PENUTUP
Demikian Laporan Hasil Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ke Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN dan Pusat Sains Antariksa LAPAN, di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Semoga Laporan ini memberi manfaat terutama untuk perbaikan di bidang pengembangan teknologi nuklir terapan dan pengembangan teknologi keantariksaan kedepan. Terima kasih.
Jakarta, 17 Desember 2020
Tim Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI Ketua Tim,
H. Eddy Soeparno, SH., MH. A-496