• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan bioinsektisida

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "laporan bioinsektisida"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan

Laporan Praktikum

Praktikum

Hari/Tanggal

Hari/Tanggal :

: Selasa,

Selasa, 15-22

15-22 April

April 2013

2013

Teknologi

Teknologi Biondustri

Biondustri

Golongan/kel

Golongan/kel :

: P3

P3

Dosen

Dosen

:

: Dr.Ir.

Dr.Ir. Prayoga

Prayoga Suryadarma,

Suryadarma, S,

S, TP,

TP, MT

MT

Asisten

Asisten

:1

:1 Tutus

Tutus Kuryani

Kuryani

F34090075

F34090075

2.

2. Nizar

Nizar Zakaria

Zakaria

F34090136

F34090136

PRODUKS

PRODUKSI

I BIOINSEKTISIDA

BIOINSEKTISIDA

(KULTIVASI PADAT DAN CAIR)

(KULTIVASI PADAT DAN CAIR)

Oleh :

Oleh :

Kelompok 5

Kelompok 5

Fitriana

Fitriana Dewie

Dewie Pannita

Pannita

(F34100081)

(F34100081)

Anggun

Anggun Susanti

Susanti

(F34100084)

(F34100084)

Elok

Elok Pratiwi

Pratiwi

(F34100085)

(F34100085)

Ahmad

Ahmad Faizal

Faizal Ramadhan

Ramadhan

(F34100104)

(F34100104)

 Nadhira Afina Putri

 Nadhira Afina Putri

(F34100112)

(F34100112)

Febriani

Febriani Purba

Purba

(F34100118)

(F34100118)

2013

2013

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 

BOGOR 

BOGOR 

(2)

I.

I. PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

1.1

1.1

Latar Belakang

Latar Belakang

Organisme pengganggu tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat membatasi Organisme pengganggu tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat membatasi  perkembangan budidaya tan

 perkembangan budidaya tanaman. Adanya organisme pengganggu dapat berdamaman. Adanya organisme pengganggu dapat berdampak pada menurunnyapak pada menurunnya hasil produksi baik dari komoditas maupun produk jadi, dikarenakan beracun dan residunya dapat hasil produksi baik dari komoditas maupun produk jadi, dikarenakan beracun dan residunya dapat menempel pada tanaman yang dikhawatirkan akan dikonsumsi oleh manusia yang akan menyebabkan menempel pada tanaman yang dikhawatirkan akan dikonsumsi oleh manusia yang akan menyebabkan keracunan. Perkembangan bioteknologi semakin lama semakin pesat ditandai dengan adanya keracunan. Perkembangan bioteknologi semakin lama semakin pesat ditandai dengan adanya  pembuatan

 pembuatan bioinektisida bioinektisida yang yang dapat dapat bermanfaat bermanfaat dibidang dibidang pertanian. pertanian. Bioinsektisida Bioinsektisida (insektisida(insektisida mikrobial) merupakan produk yang dihasilkan mikroorganisme yang dapat membunuh serangga hama mikrobial) merupakan produk yang dihasilkan mikroorganisme yang dapat membunuh serangga hama dan vektor pembawa penyakit. Insektisida mikrobial didefinisikan sebagai racun biologis yang dan vektor pembawa penyakit. Insektisida mikrobial didefinisikan sebagai racun biologis yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat membunuh serangga

dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat membunuh serangga (entomopatogen).(entomopatogen). PenggunaanPenggunaan  bioinsektisida

 bioinsektisida ditujukan ditujukan untuk untuk menggantikan menggantikan insektisida insektisida kimia kimia yang yang banyak banyak digunakan digunakan selama selama ini.ini. Adapun keuntungan penggunaan bioinsektisida adalah tidak menimbulkan kekebalan terhadap Adapun keuntungan penggunaan bioinsektisida adalah tidak menimbulkan kekebalan terhadap serangga, cukup aman karena tidak meninggalkan residu pada lingkungan dan cukup aman bagi serangga, cukup aman karena tidak meninggalkan residu pada lingkungan dan cukup aman bagi manusia, binatang, tanaman serta serangga-serangga lainnya

manusia, binatang, tanaman serta serangga-serangga lainnya yang bukan merupakan serangga target.yang bukan merupakan serangga target. Penggunaan insektisida kimia jelas tidak menguntungkan, karena harganya mahal dan dapat Penggunaan insektisida kimia jelas tidak menguntungkan, karena harganya mahal dan dapat membahayakan kesehatan manusia. Selain itu, penggunaan insektisida kimia yang kurang bijaksana membahayakan kesehatan manusia. Selain itu, penggunaan insektisida kimia yang kurang bijaksana dapat menyebabkan resistensi serangga vektor pembawa penyakit, dalam hal ini adalah serangga dan dapat menyebabkan resistensi serangga vektor pembawa penyakit, dalam hal ini adalah serangga dan hama yang menyerang tanaman. Berbeda dengan penggunaan

hama yang menyerang tanaman. Berbeda dengan penggunaan  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis sebagaisebagai insektisida mikrobial yang hanya

insektisida mikrobial yang hanya sedikit menimbulkan pengaruh kekebalan serangga.sedikit menimbulkan pengaruh kekebalan serangga.

Pembuatan bioinsektisida umumnya dilakukan dengan fermentasi yaitu dengan fermentasi Pembuatan bioinsektisida umumnya dilakukan dengan fermentasi yaitu dengan fermentasi kultivasi padat dan fermentasi kultivasi cair. Penyiapan media fermentasi yang baik dapat semakin kultivasi padat dan fermentasi kultivasi cair. Penyiapan media fermentasi yang baik dapat semakin  banyak

 banyak menghasilkan menghasilkan bioinsektisida. bioinsektisida. Media Media fermentasi fermentasi sangat sangat mempengaruhi mempengaruhi proses proses fermentasifermentasi karena media fermentasi mengandung nutrisi-nutrisi tertentu yang berfungsi sebagai bahan makanan karena media fermentasi mengandung nutrisi-nutrisi tertentu yang berfungsi sebagai bahan makanan mikroba dalam proses fermentasi untuk menghasilkan bioinsektisida. Pemilihan media fermentasi mikroba dalam proses fermentasi untuk menghasilkan bioinsektisida. Pemilihan media fermentasi  baik berupa padatan maupun cairan dapat mempengaruhi pembuatan bioinsektisida

 baik berupa padatan maupun cairan dapat mempengaruhi pembuatan bioinsektisida karena kandungankarena kandungan yang berbeda yang terdapat pada kedua media ini. Oleh karena itu, perlu adanya peninjauan terhadap yang berbeda yang terdapat pada kedua media ini. Oleh karena itu, perlu adanya peninjauan terhadap kandungan dari media yang digunakan.

kandungan dari media yang digunakan.

Semakin luasnya dan berkembangnya pertanian Indonesia, penggunaan bioinsektisida juga Semakin luasnya dan berkembangnya pertanian Indonesia, penggunaan bioinsektisida juga akan semakin meningkat. Melalui praktikum ini, diharapkan mahasiswa Teknologi Industri Pertanian akan semakin meningkat. Melalui praktikum ini, diharapkan mahasiswa Teknologi Industri Pertanian menjadi paham mengenai cara memproduksi bioinsektisida berikut cara menyiapkan bahan baku, menjadi paham mengenai cara memproduksi bioinsektisida berikut cara menyiapkan bahan baku,  proses

 proses fermentasi, fermentasi, pemanenan, pemanenan, pengukuran pengukuran rendemen, rendemen, serta serta pengawasan pengawasan mutu mutu dan dan kualitaskualitas  bioinsektisida.

 bioinsektisida. Selain Selain itu, itu, Agar Agar mahasiswa mahasiswa dapat dapat lebih lebih mengetahui mengetahui dan dan memahami memahami pemanfaatanpemanfaatan limbah sebagai bahan baku produksi bioinsektisida. Sehingga nanti mahasiswa dapat menyelesaikan limbah sebagai bahan baku produksi bioinsektisida. Sehingga nanti mahasiswa dapat menyelesaikan atau memberi solusi dari kekurangan produksi bioinsektisida di Indonesia dengan mendirikan industri atau memberi solusi dari kekurangan produksi bioinsektisida di Indonesia dengan mendirikan industri  penghasil bioinsektisida sebagai solusi dari persoalan agroindustri.

 penghasil bioinsektisida sebagai solusi dari persoalan agroindustri.

1.2

1.2

Tujuan

Tujuan

Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari laju pertumbuhan dan

Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari laju pertumbuhan dan  yield  yield  pada produksipada produksi  bioinsektisida baik dengan kultivasi cair maupun den

(3)

II.

II. METODOLOGI

METODOLOGI

2.1

2.1

Alat dan Bahan

Alat dan Bahan

Pada praktikum kali ini alat yang digunakan adalah autoklaf, inkubator goyang, labu Pada praktikum kali ini alat yang digunakan adalah autoklaf, inkubator goyang, labu erlenmeyer, pH meter, spektrofotometer,

erlenmeyer, pH meter, spektrofotometer,  petri  petri dish,dish, oven. Sementara bahan yang digunakan adalahoven. Sementara bahan yang digunakan adalah  Nutrien

 Nutrien broth,broth, Bacillus thuringiensis aizawaiBacillus thuringiensis aizawai, urea, MgSO, urea, MgSO44.7H.7H22O, FeSO4.7H2O, ZnsOO, FeSO4.7H2O, ZnsO44.7H.7H22O,O,

MnSO

MnSO44.7H.7H22O, CaCOO, CaCO3.3.

2.2

2.2

Metode

Metode

 Tahap PropagasiTahap Propagasi

 Nutrient Broth  Nutrient Broth

 Nutrient Broth steril  Nutrient Broth steril

diinokulasi dengan satu lup

diinokulasi dengan satu lup Bacillus Bacillus thuringiensis aizawai

thuringiensis aizawai

diinkubasi padainkubator goyang 150 rpm diinkubasi padainkubator goyang 150 rpm

selama 12 jam selama 12 jam

 Bacillus thuringiensis  Bacillus thuringiensis aizawai

(4)

 Tahap FermentasiTahap Fermentasi

 Pengambilan SampelPengambilan Sampel

 pH  pH media fermentasi media fermentasi diatur pH hingga 7,00 + 0,1 diatur pH hingga 7,00 + 0,1

disterilisasi pada suhu 121 disterilisasi pada suhu 121ooCC

selama 15 menit selama 15 menit media fermentasi media fermentasi steril steril  penambahan glukosa  penambahan glukosa media fermentasi + media fermentasi + glukosa glukosa

diinokulasi dengan hasil diinokulasi dengan hasil

tahap propagasi tahap propagasi

diinkubasi pada suhu kamar  diinkubasi pada suhu kamar 

 bioinsektisida  bioinsektisida

sampel sampel

diukur dengan pH meter  diukur dengan pH meter 

nilai pH nilai pH

(5)

OD 660 nm OD 660 nm Biomassa Kering Biomassa Kering sampel sampel

diukur dengan spektrofotometer  diukur dengan spektrofotometer 

nilai OD nilai OD sampel sampel disentrifugasi 13.000 disentrifugasi 13.000 rpm selama 15 menit rpm selama 15 menit endapan endapan

diambil dan dikeringkan diambil dan dikeringkan  pada oven suhu 50 oC  pada oven suhu 50 oC

selama 24 jam selama 24 jam

 biomassa kering  biomassa kering

(6)

Viable Spore Count (VSC) Viable Spore Count (VSC)

sampel sampel

dilakukan renjatan panas pada dilakukan renjatan panas pada

suhu 70

suhu 70ooC selama 15 menitC selama 15 menit

dilakukan pengenceran dilakukan pengenceran  berseri  berseri diinokulasi 0,1 ml ke dalam diinokulasi 0,1 ml ke dalam  Nutrient Agar   Nutrient Agar 

diinkubasi selama 24 - 48 jam diinkubasi selama 24 - 48 jam

dihitung jumlah koloni yang dihitung jumlah koloni yang

tumbuh tumbuh

nilai vsc nilai vsc

(7)

 Produksi Bioetanol dengan Teknik Kultivasi Substrat PadatProduksi Bioetanol dengan Teknik Kultivasi Substrat Padat

onggok + limbah cair  onggok + limbah cair 

ditambah kapur hingga pH 6 ditambah kapur hingga pH 6

-8 8

diratakan dalam erlenmeyer  diratakan dalam erlenmeyer 

dan ditutup dengan dan ditutup dengan

alumunium foil alumunium foil

diotoklaf pada suhu 120 diotoklaf pada suhu 120 ooCC

selama 15 menit selama 15 menit

media steril media steril

diinokulasi dengan 10% media diinokulasi dengan 10% media

 propagasi  propagasi

diinkubasi pada suhu ruang diinkubasi pada suhu ruang

dipanen pada jam 0, 24, 48, dipanen pada jam 0, 24, 48,

72, 96 72, 96

dikeringkan dalam oven suhu dikeringkan dalam oven suhu

50 50ooCC

dihaluskan dengan alat dihaluskan dengan alat

 penumbuk   penumbuk   produk kering  produk kering  bioinsektisida  bioinsektisida

(8)

III.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

3.1

Hasil

Hasil Pengamat

Pengamatan

an

(terlampir) (terlampir)

3.2

3.2

Pembahasan

Pembahasan

Bioinsektisida adalah jenis pestisida yang bahan aktifnya merupakan mikroorganisme seperti Bioinsektisida adalah jenis pestisida yang bahan aktifnya merupakan mikroorganisme seperti  bakteri

 bakteri  Bacillus  Bacillus thuringiensis,thuringiensis, cendawancendawan  Beaveria  Beaveria sp, sp, Metarrhizium Metarrhizium sp,sp, dandan virus Svirus S podotera  podotera lituralitura nuclea polyhidrosis.

nuclea polyhidrosis. Bioinsektisida merupakan bahan yang mengandung senyawa toksik yangBioinsektisida merupakan bahan yang mengandung senyawa toksik yang  berfungsi

 berfungsi untuk untuk membunuh membunuh atau atau menghambat menghambat perkembangan perkembangan spesies spesies insekta insekta yang yang dapat dapat dihasilkandihasilkan oleh tumbuhan maupun yang menggunakan organisme hidup seperti virus, bakteri, dan jamur. Sifat oleh tumbuhan maupun yang menggunakan organisme hidup seperti virus, bakteri, dan jamur. Sifat insektisida ini aman terhadap organisme non-target, manusia dan lingkungan. Sampai saat ini telah insektisida ini aman terhadap organisme non-target, manusia dan lingkungan. Sampai saat ini telah  banyak penelitian untuk memperoleh bioinsektisida yang ampuh dan ramah lingkungan, salah satunya  banyak penelitian untuk memperoleh bioinsektisida yang ampuh dan ramah lingkungan, salah satunya  bioinsektisida

 bioinsektisida mikrobial mikrobial yang yang diperoleh diperoleh daridari  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis (( B.t  B.t ) yang bersifat aman karena) yang bersifat aman karena memiliki derajat spesifisitas yang tinggi dan relatif kecil terjadinya resistensi (kekebalan) pada memiliki derajat spesifisitas yang tinggi dan relatif kecil terjadinya resistensi (kekebalan) pada serangga hama.

serangga hama.  Bacillus  Bacillus thuringiensis thuringiensis aizawaiaizawai merupakan salah satu jenis bakteri yang banyak merupakan salah satu jenis bakteri yang banyak  dimanfaatkan dalam produksi bioinsektisida microbial (Behle

dimanfaatkan dalam produksi bioinsektisida microbial (Behle et al et al . 1999).. 1999). Mikroba yang digunakan dalam pembuatan bioinsektisida adalah

Mikroba yang digunakan dalam pembuatan bioinsektisida adalah  Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis (( B.t  B.t )) yaitu bakteri bersel vegetatif berbentuk batang, gram positif, bersifat aerob tapi umumnya anaerob yaitu bakteri bersel vegetatif berbentuk batang, gram positif, bersifat aerob tapi umumnya anaerob fakultatif, mempunyai flagela dan membentuk spora. Koloni

fakultatif, mempunyai flagela dan membentuk spora. Koloni  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis  berbentuk  berbentuk bulatbulat dengan tepian berkerut, memiliki diameter 5

dengan tepian berkerut, memiliki diameter 5  –  –  10 milimeter, berwarna putih, elevasi timbul dan10 milimeter, berwarna putih, elevasi timbul dan  permukaan koloni

 permukaan koloni kasa. Banyak kasa. Banyak strain strain dari bakteri dari bakteri ini ini yang menghasilkan yang menghasilkan protein protein yang beracun yang beracun bagibagi serangga. Spora yang dibentuk oleh

serangga. Spora yang dibentuk oleh  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis  berbentuk  berbentuk oval, oval, berwarna berwarna hijau hijau kebiruankebiruan dan berukuran 1.0

dan berukuran 1.0  –  –  1.3 mikrometer dan1.3 mikrometer dan Bacillus thuringiensisBacillus thuringiensis membentuk kristal protein (δmembentuk kristal protein (δ--endotoksin) bersamaan dengan terbentuknya spora. Bakteri ini mempunyai endospora subterminal endotoksin) bersamaan dengan terbentuknya spora. Bakteri ini mempunyai endospora subterminal  berbentuk oval dan selama sporulasi menghasilkan satu

 berbentuk oval dan selama sporulasi menghasilkan satu kristal protein dalam setiap selnya kristal protein dalam setiap selnya (Gill(Gill et al et al .. 1992).

1992).

Berbagai isolat

Berbagai isolat  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis dengan berbagai jenis kristal protein yangdengan berbagai jenis kristal protein yang dikandungnya telah teridentifikasi setelah diketahui besarnya potensi dari protein kristal

dikandungnya telah teridentifikasi setelah diketahui besarnya potensi dari protein kristal  Bacillus Bacillus thuringiensis

thuringiensis sebagai agen pengendali serangga. Sampai saat ini telah diidentifikasi kristal proteinsebagai agen pengendali serangga. Sampai saat ini telah diidentifikasi kristal protein yang beracun terhadap larva dari berbagai ordo serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan yang beracun terhadap larva dari berbagai ordo serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan dan hortikultura. Kebanyakan dari kristal protein tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai dan hortikultura. Kebanyakan dari kristal protein tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai target yang spesifik sehingga tidak mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga target yang spesifik sehingga tidak mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.

tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.  Bacillus

 Bacillus thuringiensis thuringiensis aizawaiaizawai termasuk salah satu bakteri yang telah banyak digunakantermasuk salah satu bakteri yang telah banyak digunakan untuk memproduksi bioinsektisida.

untuk memproduksi bioinsektisida. Bacillus thuringiensis  Bacillus thuringiensis aizawaaizawai sangat efektif mengendalikan larvai sangat efektif mengendalikan larva ordo

ordo Lepidoptera Lepidoptera dandan Diptera, Diptera, terutama ulat daun kubis dan hama-hama sayuran lainnya (Lereclusterutama ulat daun kubis dan hama-hama sayuran lainnya (Lereclus et et  al 

al . 1993). Salah satu hama ordo. 1993). Salah satu hama ordo  Lepidoptera Lepidoptera yang banyak menyebabkan kerusakan pada pertanianyang banyak menyebabkan kerusakan pada pertanian adalah

adalah Croccidolomia pavonana, yang Croccidolomia pavonana, yang  merupakan hama utama pada tanaman kubis yang jugamerupakan hama utama pada tanaman kubis yang juga menyerang tanaman

menyerang tanaman  Brassicaceae Brassicaceae lainnya. Seranganlainnya. Serangan C. pavonanaC. pavonana dapat menyebabkan kehilangandapat menyebabkan kehilangan hasil kubis sebesar 65%. Hama ini sangat merusak karena larva memakan daun baru di bagian tengah hasil kubis sebesar 65%. Hama ini sangat merusak karena larva memakan daun baru di bagian tengah tanaman kubis. Saat bagian tengah telah hancur, larva pindah ke ujung daun dan kemudian turun ke tanaman kubis. Saat bagian tengah telah hancur, larva pindah ke ujung daun dan kemudian turun ke daun yang lebih tua. Kebanyakan tanaman yang terserang akan hancur seluruhnya jika ulat krop kubis daun yang lebih tua. Kebanyakan tanaman yang terserang akan hancur seluruhnya jika ulat krop kubis tidak dikendalikan (Kementrian Pertanian RI 2010).

tidak dikendalikan (Kementrian Pertanian RI 2010).  Bacillus  Bacillus thuringiensis thuringiensis aizawaiaizawai menghasilkanmenghasilkan  protein

(9)

reseptor spesifik dalam sel larva

reseptor spesifik dalam sel larva Crocidolomia pavonanaCrocidolomia pavonana, sehingga terjadi lisis sel yang dapat, sehingga terjadi lisis sel yang dapat menyebabkan kematian pada serangga target.

menyebabkan kematian pada serangga target.

Proses produksi bioinsektisida memerlukan suatu media sebagai tempat hidup bagi bakteri Proses produksi bioinsektisida memerlukan suatu media sebagai tempat hidup bagi bakteri yang akan digunakan untuk memproduksi bioinsektisida. Media untuk memproduksi bioinsektisida yang akan digunakan untuk memproduksi bioinsektisida. Media untuk memproduksi bioinsektisida terdiri dari dua bentuk yaitu media padat dan media cair. Pertama akan dijelaskan mengenai media terdiri dari dua bentuk yaitu media padat dan media cair. Pertama akan dijelaskan mengenai media  padat

 padat yang yang merupakan merupakan media media berbentuk berbentuk padat padat yang yang mengandung mengandung agar agar 11  –  –  1.5%, misalnya nutrien1.5%, misalnya nutrien agar. Jika ke dalam media ditambahkan agar, jumlah agar yang ditambahkan tergantung kepada jenis agar. Jika ke dalam media ditambahkan agar, jumlah agar yang ditambahkan tergantung kepada jenis atau kelompok mikroba yang ditumbuhkan. Ada yang memerlukan kadar air tinggi sehingga atau kelompok mikroba yang ditumbuhkan. Ada yang memerlukan kadar air tinggi sehingga  penambahan

 penambahan agar agar harus harus sedikit sedikit tetapi tetapi ada ada pula pula yang yang memerlukan memerlukan kandungan kandungan air air rendah rendah sehinggasehingga  penambahan

 penambahan agar agar harus harus lebih lebih banyak. banyak. Media Media padat padat umumnya umumnya dipergunakan dipergunakan untuk untuk menumbuhkanmenumbuhkan  bakteri,

 bakteri, jamur, jamur, dan dan kadang-kadang kadang-kadang mikroalga mikroalga terutama terutama dalam dalam peremajaan peremajaan dan dan pemeliharaan pemeliharaan kultur kultur  murni dalam bentuk agar miring (Pablo 2012). Kemudian, terdapat media cair yang merupakan media murni dalam bentuk agar miring (Pablo 2012). Kemudian, terdapat media cair yang merupakan media  berbentuk cair yang tidak

 berbentuk cair yang tidak mengandung agar, misalnya nutrien brmengandung agar, misalnya nutrien br oth. Umumnya media oth. Umumnya media cair digunakancair digunakan untuk menambah biomassa sel . Kalau ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat. Media cair  untuk menambah biomassa sel . Kalau ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat. Media cair  dipergunakan untuk penumbuhan bakteri, ragi dan mikroalga (Pablo 2012).

dipergunakan untuk penumbuhan bakteri, ragi dan mikroalga (Pablo 2012).

Pada proses produksi bioinsektisida ini digunakan media padat berupa onggok yang berguna Pada proses produksi bioinsektisida ini digunakan media padat berupa onggok yang berguna sebagai sumber karbon karena pada onggok masih mengandung pati yang berkisar 60

sebagai sumber karbon karena pada onggok masih mengandung pati yang berkisar 60  –  –  70% berat70% berat kering onggok. Onggok sendiri merupakan limbah padat yang berasal dari proses pengolahan ubi kering onggok. Onggok sendiri merupakan limbah padat yang berasal dari proses pengolahan ubi kayu menjadi tapioka. Onggok merupakan limbah utama hasil proses pengepresan (Abbas

kayu menjadi tapioka. Onggok merupakan limbah utama hasil proses pengepresan (Abbas et al et al .. dalam Winarno 1985). Onggok memiliki daya tahan yang relatif lama pada saat keadaan kering dalam Winarno 1985). Onggok memiliki daya tahan yang relatif lama pada saat keadaan kering dibandingkan pada saat keadaan basah. Hal ini dikarenakan pada saat keadaan basah onggok mudah dibandingkan pada saat keadaan basah. Hal ini dikarenakan pada saat keadaan basah onggok mudah sekali ditumbuhi oleh kapang dan terjadi pembusukan. Pemanfaatan onggok masih terbatas dan sekali ditumbuhi oleh kapang dan terjadi pembusukan. Pemanfaatan onggok masih terbatas dan umumnya digunakan sebagai makanan ternak (Damarjati 1985). Onggok juga dapat digunakan umumnya digunakan sebagai makanan ternak (Damarjati 1985). Onggok juga dapat digunakan sebagai substrat untuk produksi selulase, amilase, amiloglukosidase dan angkak (Jenie dan Fachda sebagai substrat untuk produksi selulase, amilase, amiloglukosidase dan angkak (Jenie dan Fachda 1991). Komposisi kimia onggok dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

1991). Komposisi kimia onggok dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

Komponen

Komponen (%) (%) Tjiptadi Tjiptadi (1982) (1982) Anonim Anonim (1984)(1984) Air

Air 16,86 16,86 13,3913,39

Abu 8,50 4,90

Abu 8,50 4,90

Serat

Serat Kasar Kasar 8,14 8,14 11,0211,02 Lemak Lemak 0,25 0,25 0,150,15 Protein Protein 6,42 6,42 0,580,58 Pati Pati 62,97 62,97 68,7968,79 Karbohidarat Karbohidarat 71,11 71,11 79,8179,81 Tabel 1. Komposisi Onggok 

Tabel 1. Komposisi Onggok 

Berdasarkan fakta ini maka timbul gagasan untuk memanfaatkan onggok tapioka sebagai Berdasarkan fakta ini maka timbul gagasan untuk memanfaatkan onggok tapioka sebagai salah satu alternatif substrat untuk memproduksi bioinsektisida dengan teknologi sederhana namun salah satu alternatif substrat untuk memproduksi bioinsektisida dengan teknologi sederhana namun memiliki sifat toksisitas yang baik terhadap hama. Onggok tapioka digunakan sebagai sumber karbon. memiliki sifat toksisitas yang baik terhadap hama. Onggok tapioka digunakan sebagai sumber karbon. Sedangkan media cair yang digunakan dalam pembuatan bioinsektisida ini adalah limbah tahu. Sedangkan media cair yang digunakan dalam pembuatan bioinsektisida ini adalah limbah tahu. Limbah cair pabrik tahu ini memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi. Tanpa proses Limbah cair pabrik tahu ini memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi. Tanpa proses  penanganan dengan

 penanganan dengan baik, baik, limbah tahu limbah tahu dapat dapat menyebabkan dampak menyebabkan dampak negatif seperti negatif seperti polusi polusi air, sair, sumber umber   penyakit, bau tidak

 penyakit, bau tidak sedap, meningkatkan pertumbuhan sedap, meningkatkan pertumbuhan nyamuk, dan nyamuk, dan menurunkan estetika lingkunganmenurunkan estetika lingkungan sekitar.

sekitar.

Limbah cair tahu mengandung protein, glukosa dan komponen lainnya dengan kadar yang Limbah cair tahu mengandung protein, glukosa dan komponen lainnya dengan kadar yang relatif tinggi. Kandungan nutrisi tersebut menyebabkan limbah cair tahu mempunyai potensi sebagai relatif tinggi. Kandungan nutrisi tersebut menyebabkan limbah cair tahu mempunyai potensi sebagai

(10)

media untuk memproduksi spora

media untuk memproduksi spora  Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis. Mengingat bahwa limbah cair tahu umumnya. Mengingat bahwa limbah cair tahu umumnya dibuang ke sungai, maka pemanfaatan ini sekaligus akan memberikan manfaat dalam mengurangi dibuang ke sungai, maka pemanfaatan ini sekaligus akan memberikan manfaat dalam mengurangi  pencemaran lingkungan.

 pencemaran lingkungan.

Penggunaan media limbah cair tahu adalah salah satu alternatif untuk memacu pertumbuhan Penggunaan media limbah cair tahu adalah salah satu alternatif untuk memacu pertumbuhan toksin

toksin Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis dengan harga yang lebih murah. Penggunaan media limbah cair tahu inidengan harga yang lebih murah. Penggunaan media limbah cair tahu ini akan membuat biaya pembuatan toksin menjadi jauh lebih murah sebab tidak memerlukan media akan membuat biaya pembuatan toksin menjadi jauh lebih murah sebab tidak memerlukan media sintesis lagi. Limbah cair tahu digunakan sebagai sumber nitrogen

sintesis lagi. Limbah cair tahu digunakan sebagai sumber nitrogen (Silvina(Silvina et al et al . 2012). Biokontrol. 2012). Biokontrol dari

dari Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis merupakan biokontrol yang efektif untuk membunuh jentik nyamuk tetapimerupakan biokontrol yang efektif untuk membunuh jentik nyamuk tetapi memiliki harga yang cukup mahal untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia. Substansi aktif  memiliki harga yang cukup mahal untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia. Substansi aktif  dari

dari  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis adalah spora yang dibentuk olehadalah spora yang dibentuk oleh  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis dibuat dengandibuat dengan menggunkan media yang relatif mahal oleh karena itu dalam praktikum ini digunakan media yang menggunkan media yang relatif mahal oleh karena itu dalam praktikum ini digunakan media yang relatif murah, salah satunya dengan menggunakan media limbah cair tahu. Adapun keuntungan dari relatif murah, salah satunya dengan menggunakan media limbah cair tahu. Adapun keuntungan dari  penggunaan media limbah

 penggunaan media limbah cair tahu yakni :cair tahu yakni : 1. Bahan Media yang Murah

1. Bahan Media yang Murah Saat ini biokontrol

Saat ini biokontrol  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis dibuat dengan menumbuhkan straindibuat dengan menumbuhkan strain  Bacillus Bacillus thuringiensis

thuringiensis pada media sintetis yang biayanya relatif mahal, sehingga untuk 10 tablet dijualpada media sintetis yang biayanya relatif mahal, sehingga untuk 10 tablet dijual seharga 20 dollar. Sedangkan jika produksi

seharga 20 dollar. Sedangkan jika produksi  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis dengan menggunakan mediadengan menggunakan media  Nutrient

 Nutrient Broth Broth (NB), (NB), yang yang dalam dalam satu satu liternya liternya mengandung mengandung 3 3 gr gr beef beef extract extract dan dan 5 5 gr gr tryptonetryptone maka perincian biaya yang dihabiskan sebesar Rp. 25.000 per liter. Sedangkan untuk membuat maka perincian biaya yang dihabiskan sebesar Rp. 25.000 per liter. Sedangkan untuk membuat media NB sebanyak 100 liter maka biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 2.500.000.

media NB sebanyak 100 liter maka biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 2.500.000. Penggunaan media limbah cair tahu adalah salah satu alter

Penggunaan media limbah cair tahu adalah salah satu alter natif untuk memacu pertumbuhan toksinnatif untuk memacu pertumbuhan toksin  Bacillus

 Bacillus thuringiensisthuringiensis yang lebih murah. Dengan menggunakan media limbah cair tahu ini biayayang lebih murah. Dengan menggunakan media limbah cair tahu ini biaya  pembuatan toksin menjadi jauh lebih

 pembuatan toksin menjadi jauh lebih murah sebab tidak memerlukan media simurah sebab tidak memerlukan media si ntetis lagi. Sehinggantetis lagi. Sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat.

dapat terjangkau oleh masyarakat.

2. Mengurangi Pencemaran Lingkungan Perairan 2. Mengurangi Pencemaran Lingkungan Perairan

Pemerintah akhir-akhir ini sangat menekankan era "sadar lingkungan" dan mengharuskan semua Pemerintah akhir-akhir ini sangat menekankan era "sadar lingkungan" dan mengharuskan semua industri membuat analisis masalah dampak lingkungan (AMDAL)

industri membuat analisis masalah dampak lingkungan (AMDAL) sesuai dengan SK Menteri KLHsesuai dengan SK Menteri KLH  No.52 Tahun 1986

 No.52 Tahun 1986 dan SK Menteri KLH dan SK Menteri KLH No.29 Tahun 1986 No.29 Tahun 1986 serta SK Menteri serta SK Menteri KLH No.03 TKLH No.03 T ahunahun 1991 Tentang Peraturan Pembuangan Limbah. Bagi industri baik yang sudah beroperasi maupun 1991 Tentang Peraturan Pembuangan Limbah. Bagi industri baik yang sudah beroperasi maupun yang akan dibangun serta yang air limbahnya dibuang ke perairan harus memenuhi standar baku yang akan dibangun serta yang air limbahnya dibuang ke perairan harus memenuhi standar baku mutu limbah yang telah ditentukan. Berdasarkan data dari statistik yang ada industri pengolahan mutu limbah yang telah ditentukan. Berdasarkan data dari statistik yang ada industri pengolahan tahu di Indonesia sebanyak 4.000 unit yang tersebar di Jawa Barat dan berbagai daerah lainnya. tahu di Indonesia sebanyak 4.000 unit yang tersebar di Jawa Barat dan berbagai daerah lainnya. Jika ditinjau dari komposisi kimianya, ternyata air limbah cair tahu mengandung nutrien-nutrien Jika ditinjau dari komposisi kimianya, ternyata air limbah cair tahu mengandung nutrien-nutrien (protein, karbohidrat, dan bahan-bahan lainnya) yang jika dibiarkan dibuang begitu saja ke sungai (protein, karbohidrat, dan bahan-bahan lainnya) yang jika dibiarkan dibuang begitu saja ke sungai  justru

 justru dapat dapat menimbulkan menimbulkan pencemaran pencemaran perairan. perairan. Selama Selama ini ini limbah limbah industri industri tahu tahu dibuang dibuang begitubegitu saja tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Limbah cair tahu ternyata bisa digunakan sebagai media saja tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Limbah cair tahu ternyata bisa digunakan sebagai media  pertumbuhan

 pertumbuhan Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis yang bermanfaat sebagai bioinsektisida larva nyamuk. Denganyang bermanfaat sebagai bioinsektisida larva nyamuk. Dengan ditemukannya manfaat limbah cair tahu tersebut maka diharapkan nantinya limbah tersebut dapat ditemukannya manfaat limbah cair tahu tersebut maka diharapkan nantinya limbah tersebut dapat digunakan dan tidak lagi mencemari li

digunakan dan tidak lagi mencemari li ngkungan sekitar.ngkungan sekitar. 3. Mudah untuk Mendapatkannya

3. Mudah untuk Mendapatkannya

Pertumbuhan industri tahu sebagai industri rumah tangga cukup banyak. Banyaknya industri Pertumbuhan industri tahu sebagai industri rumah tangga cukup banyak. Banyaknya industri  pengolahan tahu

 pengolahan tahu tersebut menjadi tersebut menjadi cukup mudah cukup mudah untuk mendapatkan limbah untuk mendapatkan limbah buanganya. Sehinggabuanganya. Sehingga dalam proses produksinya tidak terlalu mengalami kesulitan dalam mencari bahan sebagai media dalam proses produksinya tidak terlalu mengalami kesulitan dalam mencari bahan sebagai media  pertumbuhan

 pertumbuhan Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis..

Proses produksi bioinsektisida dikenal dengan nama fermentasi. Fermentasi adalah suatu Proses produksi bioinsektisida dikenal dengan nama fermentasi. Fermentasi adalah suatu  proses biokimia yang menghasilkan

(11)

elektron (Fardiaz 1988). Fermentasi media padat merupakan proses fermentasi yang substratnya tidak  elektron (Fardiaz 1988). Fermentasi media padat merupakan proses fermentasi yang substratnya tidak  larut dan tidak mengandung air bebas, tetapi cukup mengandung air untuk keperluan hidup mikroba. larut dan tidak mengandung air bebas, tetapi cukup mengandung air untuk keperluan hidup mikroba. Sebaliknya fermentasi cair adalah proses fermentasi yang substratnya larut atau tersu

Sebaliknya fermentasi cair adalah proses fermentasi yang substratnya larut atau tersu spensi dalam fasespensi dalam fase cair (Chalal 1985).

cair (Chalal 1985).

Teknik kultivasi secara terendam dapat dilakukan dengan sistem tertutup pada fermentor. Teknik kultivasi secara terendam dapat dilakukan dengan sistem tertutup pada fermentor. Pada umumnya, jenis fermentor yang digunakan adalah fermentor tangki berpengaduk karena Pada umumnya, jenis fermentor yang digunakan adalah fermentor tangki berpengaduk karena merupakan jenis fermentor yang paling sederhana. Fermentor ini digunakan untuk substrat yang merupakan jenis fermentor yang paling sederhana. Fermentor ini digunakan untuk substrat yang mempunyai viskositas tinggi dan berbentuk koloid tanpa mengakibatkan penyumbatan, serta enzim mempunyai viskositas tinggi dan berbentuk koloid tanpa mengakibatkan penyumbatan, serta enzim terimobilisasi dengan aktivitas rendah (Machfud

terimobilisasi dengan aktivitas rendah (Machfud et al et al . 1989). Proses fermentasi terendam dapat. 1989). Proses fermentasi terendam dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu fermentasi sistem tertutup (

dilakukan dengan tiga cara yaitu fermentasi sistem tertutup ( batch processbatch process), fermentasi kontinyu, dan), fermentasi kontinyu, dan fermentasi sistem tertutup dengan penambahan substrat pada

fermentasi sistem tertutup dengan penambahan substrat pada selang waktu tertentu atau semi kontinyuselang waktu tertentu atau semi kontinyu (( fed  fed batch batch processprocess). Bernhard dan Utz (1993), menyatakan bahwa produksi bioinsektisida). Bernhard dan Utz (1993), menyatakan bahwa produksi bioinsektisida  Bacillus Bacillus thuringiensis

thuringiensis pada umumnya dilakukan dengan fermentasi sistem tertutup karena hasil akhir yangpada umumnya dilakukan dengan fermentasi sistem tertutup karena hasil akhir yang diharapkan adalah spora dan kristal protein yang dibentuk selama proses sporulasi. Menurut Dulmage diharapkan adalah spora dan kristal protein yang dibentuk selama proses sporulasi. Menurut Dulmage (1990), faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi

(1990), faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis adalah komposisiadalah komposisi media dan kondisi untuk pertumbuhan mikroba seperti pH, oksigen dan temperatur.

media dan kondisi untuk pertumbuhan mikroba seperti pH, oksigen dan temperatur.

Selanjutnya adalah fermentasi dengan substrat padat. Fermentasi substrat padat berkaitan Selanjutnya adalah fermentasi dengan substrat padat. Fermentasi substrat padat berkaitan dengan pertumbuhan mikroorganisme pada bahan padat dalam ketiadaan atau hampir ketiadaan air  dengan pertumbuhan mikroorganisme pada bahan padat dalam ketiadaan atau hampir ketiadaan air   bebas. Tingkat

 bebas. Tingkat lebih atas lebih atas dari ferdari fermentasi substrat mentasi substrat padat (yaitu padat (yaitu sebelum air sebelum air bebas tampak) bebas tampak) merupakanmerupakan fungsi penyerapan (

fungsi penyerapan (absorbancyabsorbancy), dan dengan demikian kadar airnya pada gilirannya tergantung pada), dan dengan demikian kadar airnya pada gilirannya tergantung pada  jenis

 jenis substrat substrat yang yang digunakan. digunakan. Aktivitas Aktivitas biologis biologis menurun menurun bila bila kandungan kandungan air air substrat substrat sekitar sekitar 12%,12%, dan semakin mendekati nilai ini, aktivitas mikrobiologis semakin tertahan. Fermentasi substrat padat dan semakin mendekati nilai ini, aktivitas mikrobiologis semakin tertahan. Fermentasi substrat padat tidak memperhatikan fermentasi

tidak memperhatikan fermentasi  slurry slurry (yaitu cairan dengan kandungan zat padat taklarut yang tinggi)(yaitu cairan dengan kandungan zat padat taklarut yang tinggi) ataupun fermentasi substrat padat dalam media cair. Substrat yang paling banyak digunakan dalam ataupun fermentasi substrat padat dalam media cair. Substrat yang paling banyak digunakan dalam fermentasi substrat padat adalah biji-bijian serealia, kacang-kacangan, sekam gandum, bahan yang fermentasi substrat padat adalah biji-bijian serealia, kacang-kacangan, sekam gandum, bahan yang mengandung linoselulosa (seperti kayu dan jerami), dan berbagai bahan lain yang berasal dari mengandung linoselulosa (seperti kayu dan jerami), dan berbagai bahan lain yang berasal dari tanaman dan hewan. Senyawaan tersebut selalu berupa molekul primer, tak larut atau sedikit larut tanaman dan hewan. Senyawaan tersebut selalu berupa molekul primer, tak larut atau sedikit larut dalam air, tetapi murah, mudah diperoleh dan merupakan sumber hara yang tinggi (Prawira 2007). dalam air, tetapi murah, mudah diperoleh dan merupakan sumber hara yang tinggi (Prawira 2007).

Pada umumnya fermentasi terendam atau fermentasi cair lebih disukai karena menjaga Pada umumnya fermentasi terendam atau fermentasi cair lebih disukai karena menjaga kesterilan kultur serta proses pemanenan dan pengaturan parameter proses produksi atau fermentasi kesterilan kultur serta proses pemanenan dan pengaturan parameter proses produksi atau fermentasi yang lebih sederhana dan dapat menghasilkan rendemen yang lebih tinggi. Selain itu, produk hasil yang lebih sederhana dan dapat menghasilkan rendemen yang lebih tinggi. Selain itu, produk hasil fermentasi cair dapat langsung digunakan dibandingkan hasil fermentasi semi padat yang sulit fermentasi cair dapat langsung digunakan dibandingkan hasil fermentasi semi padat yang sulit disuspensikan karena ada kecenderungan menggumpal. Akan tetapi penggunaan media cair ini relatif  disuspensikan karena ada kecenderungan menggumpal. Akan tetapi penggunaan media cair ini relatif  lebih mahal. Sedangkan untuk media padat memiliki kelebihan harga lebih murah dan bahan lebih lebih mahal. Sedangkan untuk media padat memiliki kelebihan harga lebih murah dan bahan lebih mudah didapatkan. Namun penggunaan media padat menghasilkan rendemen produk yang lebih mudah didapatkan. Namun penggunaan media padat menghasilkan rendemen produk yang lebih rendah, dan lebih sulit dalam

rendah, dan lebih sulit dalam memisahkan hasilnya.memisahkan hasilnya. Faktor 

Faktor  –  –  faktor yang mempengaruhi kultivasi darifaktor yang mempengaruhi kultivasi dari  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis sangat beragam.sangat beragam. Berikut ini akan dijelaskan faktor 

Berikut ini akan dijelaskan faktor  –  – faktor yang mempengaruhinya. Pada komposisi media merupakanfaktor yang mempengaruhinya. Pada komposisi media merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kultivasi

faktor yang sangat mempengaruhi kultivasi  Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis selain kondisi pertumbuhan sepertiselain kondisi pertumbuhan seperti  pH,

 pH, oksigen, oksigen, dan dan temperatur temperatur (Dulmage (Dulmage dan dan Rhodes Rhodes 1971). 1971). Glukosa Glukosa dan dan onggok onggok tapioka tapioka digunakandigunakan untuk sintesis sel baru atau produksi sel karena merupakan sumber karbon. Konsentrasi sumber  untuk sintesis sel baru atau produksi sel karena merupakan sumber karbon. Konsentrasi sumber  karbon yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pH media turun menjadi 5.6

karbon yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pH media turun menjadi 5.6  –  – 5.8. Kondisi ini dapat5.8. Kondisi ini dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan

menghambat atau menghentikan pertumbuhan  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis demikian pula halnya dengandemikian pula halnya dengan konsentrasi glukosa yang terlalu rendah (Vandekar dan

konsentrasi glukosa yang terlalu rendah (Vandekar dan Dulmage 1982).Dulmage 1982).

Pada proses produksi bioinsektisida dengan kultivasi cair dilakukan penambahan lima ion Pada proses produksi bioinsektisida dengan kultivasi cair dilakukan penambahan lima ion logam yaitu, Mg

(12)

FeSO

FeSO44.7H.7H22O, 0.02 g/L ZnSOO, 0.02 g/L ZnSO44.7H.7H22O, 0.02 g/L MnSOO, 0.02 g/L MnSO44.7H.7H22O, dan 1 g/L CaCOO, dan 1 g/L CaCO33. Penambahan ion ini. Penambahan ion ini

dapat memperbaiki pertumbuhan

dapat memperbaiki pertumbuhan  Bacillus  Bacillus thuringiensis.thuringiensis. Penambahan ion ini tidak akanPenambahan ion ini tidak akan membahayakan kultivasi karena konsentrasi yang digunakan cukup rendah (Dulmage dan Rhodes membahayakan kultivasi karena konsentrasi yang digunakan cukup rendah (Dulmage dan Rhodes 1981). Unsur 

1981). Unsur C, O, N, H, P dan S menyusun 96% dari berat kering sel dan unsur-unsur mikro sepertiC, O, N, H, P dan S menyusun 96% dari berat kering sel dan unsur-unsur mikro seperti K, Ca, Cl, Fe, Mn, Co, Cu, Zn dan Mo

K, Ca, Cl, Fe, Mn, Co, Cu, Zn dan Mo diperlukan oleh hampir semua mikroorganisme (Fardiaz 1998).diperlukan oleh hampir semua mikroorganisme (Fardiaz 1998). Sikdar 

Sikdar  et al.et al. (1993), mengatakan bahwa Fe, Mn dan Cu diperlukan untuk memproduksi toksin(1993), mengatakan bahwa Fe, Mn dan Cu diperlukan untuk memproduksi toksin sedangkan Mn diketahui dapat menghambat produksi δ

sedangkan Mn diketahui dapat menghambat produksi δ -endotoksin. Penambahan CaCO3 dalam-endotoksin. Penambahan CaCO3 dalam media berfungsi sebagai sumber kalsium, bahan penetral media, pertumbuhan sel, pembentukan media berfungsi sebagai sumber kalsium, bahan penetral media, pertumbuhan sel, pembentukan  protein

 protein dinding dinding sel sel dan dan produksi produksi endotoksin endotoksin (Moo-Young(Moo-Young et al.et al. 1985). Penambahan urea pada1985). Penambahan urea pada kultivasi cair dan limbah cair tahu pada kultivasi padat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nitrogen kultivasi cair dan limbah cair tahu pada kultivasi padat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nitrogen  Bacillus thuringiensis.

 Bacillus thuringiensis.

Kemudian, Faktor yang mempengaruhi proses produksi bioinsektisida adalah komposisi Kemudian, Faktor yang mempengaruhi proses produksi bioinsektisida adalah komposisi medium dan kondisi pertumbuhan mikroba seperti pH, oksigen dan suhu (Dulmage dan Rhodes medium dan kondisi pertumbuhan mikroba seperti pH, oksigen dan suhu (Dulmage dan Rhodes 1971). Kondisi kultivasi

1971). Kondisi kultivasi Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis yang optimal dilakukan pada suhu 28yang optimal dilakukan pada suhu 28  –  – 3232ooC, pH awalC, pH awal medium diatur sekitar 6.8

medium diatur sekitar 6.8  –  – 7, agitasi 1427, agitasi 142  –  – 340 rpm dan dipanen pada waktu inkubasi 24340 rpm dan dipanen pada waktu inkubasi 24  –  – 48 jam48 jam (Vandekar dan Dulmage 1982; Mummigatti dan Raghunathan 1990).

(Vandekar dan Dulmage 1982; Mummigatti dan Raghunathan 1990).  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis tumbuhtumbuh optimum pada pH 6.5

optimum pada pH 6.5 –  – 7.5 (Bernhard dan Utz 1993).7.5 (Bernhard dan Utz 1993).

Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat dibuat grafik yang menunjukan perbandingan Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat dibuat grafik yang menunjukan perbandingan antara pH dan waktu pada proses kultivasi cair. Grafik tersebut dapat dilihat dibawah ini.

antara pH dan waktu pada proses kultivasi cair. Grafik tersebut dapat dilihat dibawah ini.

Grafik 1. Perbandingan pH dan Waktu Grafik 1. Perbandingan pH dan Waktu

Berdasarkan hasil pengamatan pH kultivasi cair pada fase logaritmik menunjukkan Berdasarkan hasil pengamatan pH kultivasi cair pada fase logaritmik menunjukkan  penurunan sampai

 penurunan sampai akhir akhir jam jam ke-48 ke-48 dan dan mengalami kenaikan mengalami kenaikan kembali kembali pada pada fase fase stasioner stasioner yaitu padayaitu pada akhir jam ke 72. Penurunan pH terjadi karena proses katabolisme glukosa yang menyebabkan akhir jam ke 72. Penurunan pH terjadi karena proses katabolisme glukosa yang menyebabkan terakumulasinya asam dalam medium. Menurut Benoit

terakumulasinya asam dalam medium. Menurut Benoit et al et al . (1990), asam yang terakumulasi tersebut. (1990), asam yang terakumulasi tersebut adalah asam laktat, asam piruvat, asam asetat dan asetoin yang diketahui ketika melakukan kultivasi adalah asam laktat, asam piruvat, asam asetat dan asetoin yang diketahui ketika melakukan kultivasi  Bacillus

 Bacillus thuringiensisthuringiensis dalam medium glukosa-tripton-mineral. Kenaikan pH pada fase stasioner dalam medium glukosa-tripton-mineral. Kenaikan pH pada fase stasioner  disebabkan oleh asam yang terakumulasi dalam medium digunakan untuk mensintesis poli-disebabkan oleh asam yang terakumulasi dalam medium digunakan untuk mensintesis poli- β β--hidroksibutirat (PHB) yang selanjutnya digunakan sebagai energi pada proses sporulasi. Bersamaan hidroksibutirat (PHB) yang selanjutnya digunakan sebagai energi pada proses sporulasi. Bersamaan dengan sintesis tersebut, terbentuk bahan-bahan yang bersifat alkali akibat metabolism sumber  dengan sintesis tersebut, terbentuk bahan-bahan yang bersifat alkali akibat metabolism sumber  nitrogen yang dapat menyebabkan pH medium meningkat. pH fasa adaptasi yang berada pada jam nitrogen yang dapat menyebabkan pH medium meningkat. pH fasa adaptasi yang berada pada jam ke-0 sampai jam ke-6 mengalami peningkatan karena konsumsi karbon menghasilkan ion H

0 sampai jam ke-6 mengalami peningkatan karena konsumsi karbon menghasilkan ion H++ yang dapatyang dapat meningkatkan pH media kultivasi. Nilai pH pada produk bioinsektisida harus dipantau untuk  meningkatkan pH media kultivasi. Nilai pH pada produk bioinsektisida harus dipantau untuk 

7 7 88 5 5 8 8 88 0 0 2 2 4 4 6 6 8 8 10 10 0 0 2244 4488 7722 9966

pH vs Time

pH vs Time

(13)

mengetahui kondisi dari bakeri tersebut. Jika dijelaskan berdasarkan data yang sudah terlampir pada mengetahui kondisi dari bakeri tersebut. Jika dijelaskan berdasarkan data yang sudah terlampir pada setiap kelompok masih menunjukan hasil nilai pH yang sesuai dengan rentang pH yang terdapat pada setiap kelompok masih menunjukan hasil nilai pH yang sesuai dengan rentang pH yang terdapat pada literatur.

literatur.

Perkembangan produksi bioinsektisida di Indonesia belum berkembang pesat karena biaya Perkembangan produksi bioinsektisida di Indonesia belum berkembang pesat karena biaya investasi awal untuk industri bioinsektisida tidak murah dengan tingkat pengembalian modal yang investasi awal untuk industri bioinsektisida tidak murah dengan tingkat pengembalian modal yang cukup lama, meskipun harga jual bioinsektisida dua hingga tiga kali lebih tinggi jika dibandingkan cukup lama, meskipun harga jual bioinsektisida dua hingga tiga kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan insektisida kimia. Bioinsektisida yang beredar di Indonesia diimpor dari industri-industri dengan insektisida kimia. Bioinsektisida yang beredar di Indonesia diimpor dari industri-industri  penghasil bioinsektisida

 penghasil bioinsektisida di di Amerika Serikat Amerika Serikat dan dan negara-negara negara-negara lain lain di di Eropa Eropa Produksi Produksi bioinsektisidabioinsektisida di Indonesia saat ini hanya sebatas industri kecil dan rumahan. (Hilwan

di Indonesia saat ini hanya sebatas industri kecil dan rumahan. (Hilwan et al et al 2006).2006).

Kendala utama dalam produksi bioinsektisida adalah bahan baku fermentasi yang masih Kendala utama dalam produksi bioinsektisida adalah bahan baku fermentasi yang masih impor. Pada umumnya, fermentasi

impor. Pada umumnya, fermentasi  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis menggunakan dekstrosa karena dekstrosamenggunakan dekstrosa karena dekstrosa kaya akan sumber karbon. Solusinya yaitu dari dekstrosa da

kaya akan sumber karbon. Solusinya yaitu dari dekstrosa da pat digunakan bahan-bahan yang memilikipat digunakan bahan-bahan yang memiliki kadar pati yang cukup tinggi, misalkan pati singkong. Kadar pati yang tinggi menunjukkan bahwa kadar pati yang cukup tinggi, misalkan pati singkong. Kadar pati yang tinggi menunjukkan bahwa terdapat banyak karbon pada sumber tersebut. Sumber karbon juga bisa didapatkan dari bahan-bahan terdapat banyak karbon pada sumber tersebut. Sumber karbon juga bisa didapatkan dari bahan-bahan yang memiliki kadar gula yang cukup tinggi. Selain itu sumber karbon dari dekstrosa dapat pula yang memiliki kadar gula yang cukup tinggi. Selain itu sumber karbon dari dekstrosa dapat pula digunakan selulosa karena selulosa kaya akan sumber karbon. Namun, untuk menggunakan selulosa digunakan selulosa karena selulosa kaya akan sumber karbon. Namun, untuk menggunakan selulosa sebagai sumber karbon harus dihidrolisis terlebih dahulu menjadi gula-gula sederhana sehingga dapat sebagai sumber karbon harus dihidrolisis terlebih dahulu menjadi gula-gula sederhana sehingga dapat digunakan oleh bakteri tersebut. (Darwis

(14)

IV.

IV. PENUTUP

PENUTUP

4.1

4.1

Kesimpulan

Kesimpulan

Bioinsektisida merupakan jenis bahan pestisida yang berfungsi untuk membunuh atau Bioinsektisida merupakan jenis bahan pestisida yang berfungsi untuk membunuh atau menghambat perkembangan spesies insekta yang dapat dihasilkan oleh tumbuhan maupun yang menghambat perkembangan spesies insekta yang dapat dihasilkan oleh tumbuhan maupun yang menggunakan organisme hidup seperti virus, bakteri, dan jamur. Insektisida ini mengandung senyawa menggunakan organisme hidup seperti virus, bakteri, dan jamur. Insektisida ini mengandung senyawa toksik yang secara spesifik akan menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak menyerang toksik yang secara spesifik akan menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak menyerang serangga lainnya. Oleh karena itu bioinsektisida lebih aman dibandingkan dengan insektisida biasa. serangga lainnya. Oleh karena itu bioinsektisida lebih aman dibandingkan dengan insektisida biasa. Bioinsektisida memilki tingkat keefektivitasan yang sama dengan pestisida yang berbasis bahan Bioinsektisida memilki tingkat keefektivitasan yang sama dengan pestisida yang berbasis bahan kimia. Maka dari itu, dengan penggunaan bioinsektisida diharapkan dapat mengurangi pemakaian kimia. Maka dari itu, dengan penggunaan bioinsektisida diharapkan dapat mengurangi pemakaian insektisida kimia yang telah banyak

insektisida kimia yang telah banyak menimbulkan kerugian bagi lingkungan.menimbulkan kerugian bagi lingkungan.

Berdasarkan penelitian mengenai bioinsektisida ditemukan bahwa bioinsektisida mikrobial Berdasarkan penelitian mengenai bioinsektisida ditemukan bahwa bioinsektisida mikrobial yang diperoleh dari

yang diperoleh dari  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis memiliki sifat yang lebih aman, ramah lingkungan, danmemiliki sifat yang lebih aman, ramah lingkungan, dan aman bagi manusia. Produksi bioinsektisida dengan kultur 

aman bagi manusia. Produksi bioinsektisida dengan kultur   Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis dapat dilakukandapat dilakukan dengan kultivasi / fermentasi padat atau semi padat (

dengan kultivasi / fermentasi padat atau semi padat ( semi s semi solid fermentation)olid fermentation) dan cair atau terendamdan cair atau terendam (( submerged  submerged fermentationfermentation). Fermentasi terendam atau cair lebih disukai karena menjaga kesterilan). Fermentasi terendam atau cair lebih disukai karena menjaga kesterilan kultur serta proses pemanenan dan pengaturan parameter proses produksi atau fermentasi yang lebih kultur serta proses pemanenan dan pengaturan parameter proses produksi atau fermentasi yang lebih sederhana. Selain itu, produk hasil fermentasi cair dapat langsung digunakan dibandingkan hasil sederhana. Selain itu, produk hasil fermentasi cair dapat langsung digunakan dibandingkan hasil fermentasi semi padat yang sulit

fermentasi semi padat yang sulit disuspensikan karena ada kecenderungan menggumpal.disuspensikan karena ada kecenderungan menggumpal.

Pada praktikum bioinsektisida ini dilakukan beberapa uji parameter, diantaranya uji pH, OD Pada praktikum bioinsektisida ini dilakukan beberapa uji parameter, diantaranya uji pH, OD ((optical densityoptical density), biomassa, dan VSC (), biomassa, dan VSC (Viable Spore Count Viable Spore Count ). Menurut literatur ). Menurut literatur  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis aizawai

aizawai memiliki pH pertumbuhan 5.5memiliki pH pertumbuhan 5.5  –  –  8.5 dengan pH optimum 6.58.5 dengan pH optimum 6.5  –  –  7.5. Uji parameter pH7.5. Uji parameter pH menunjukkan hasil praktikum yang diperoleh tidak terlalu signifikan dengan literatur karena masih menunjukkan hasil praktikum yang diperoleh tidak terlalu signifikan dengan literatur karena masih  berkisar pada pH yang sesuai dengan pertumbuhan

 berkisar pada pH yang sesuai dengan pertumbuhan  Bacillus thuringiensis aizawai Bacillus thuringiensis aizawai. Selama fermentasi,. Selama fermentasi, terjadi kenaikan dan penurunan pH. Nilai pH berubah-ubah dengan cepat tergantung pada penggunaan terjadi kenaikan dan penurunan pH. Nilai pH berubah-ubah dengan cepat tergantung pada penggunaan karbohidrat dan protein. Penggunaan karbohidrat yang terlalu banyak daripada protein dapat karbohidrat dan protein. Penggunaan karbohidrat yang terlalu banyak daripada protein dapat menurunkan pH, sedangkan penggunaan protein yang terlalu banyak daripada karbohidrat dapat menurunkan pH, sedangkan penggunaan protein yang terlalu banyak daripada karbohidrat dapat menaikkan pH.

menaikkan pH. Uji OD (

Uji OD (Optical DensityOptical Density) merupakan salah satu metode langsung untuk mengetahui) merupakan salah satu metode langsung untuk mengetahui  pertumbuhan

 pertumbuhan sel. sel. Semakin Semakin tinggi tinggi nilai nilai OD OD menunjukkan menunjukkan semakin semakin keruh keruh larutan larutan tersebut tersebut yangyang disebabkan terdapat pertumbuhan sel di dalam larutan. Hasil uji yang diperoleh untuk nilai OD pada disebabkan terdapat pertumbuhan sel di dalam larutan. Hasil uji yang diperoleh untuk nilai OD pada  praktikum bernilai positif untuk setiap kelompok, hasil ini sesuai dengan literatur.

 praktikum bernilai positif untuk setiap kelompok, hasil ini sesuai dengan literatur.

Pengujian biomassa kering yaitu pengukuran selisih massa biomassa setelah dan sebelum Pengujian biomassa kering yaitu pengukuran selisih massa biomassa setelah dan sebelum  proses

 proses fermentasi. fermentasi. Berdasarkan Berdasarkan hasil hasil praktikum, praktikum, diperoleh diperoleh data data yang yang menunjukkan menunjukkan adanyaadanya  peningkatan maupun penurunan seiring bertambahnya waktu fermen

 peningkatan maupun penurunan seiring bertambahnya waktu fermentasi. Seharusnya, biomassa keringtasi. Seharusnya, biomassa kering akan bertambah seiring bertambahnya waktu fermentasi. Data yang diperoleh tidak sesuai dengan akan bertambah seiring bertambahnya waktu fermentasi. Data yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur. Penurunan biomassa ini bisa disebabkan oleh telah terjadinya fase penurunan pada produksi literatur. Penurunan biomassa ini bisa disebabkan oleh telah terjadinya fase penurunan pada produksi mikroba pada bakteri

mikroba pada bakteri B.t  B.t ..

4.2

4.2

Saran

Saran

Praktikum bioinsektisida ini merupakan praktikum yang nsangat berguna sehingga harus Praktikum bioinsektisida ini merupakan praktikum yang nsangat berguna sehingga harus dibutuhkan ketelitian dan kecermatan mengenai proses pembuatan dan kondisi

dibutuhkan ketelitian dan kecermatan mengenai proses pembuatan dan kondisi yang harus disesuaikanyang harus disesuaikan  pada

 pada saat saat proses proses pembuatan. pembuatan. Karena Karena pemahaman pemahaman tentang tentang proses proses pembuatannya pembuatannya sangat sangat berpengaruhberpengaruh terhadap keberhasilan setiap uji.

(15)

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

Abbas, S., Halim dan S. T. Amidarmo. 1985. Limbah Tanaman Ubi kayu. Di dalam F.G Winarno (editor). Abbas, S., Halim dan S. T. Amidarmo. 1985. Limbah Tanaman Ubi kayu. Di dalam F.G Winarno (editor).

Monografi Limbah Pertanian. Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan, Jakarta. Monografi Limbah Pertanian. Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan, Jakarta. Behle,

Behle, et all.et all. 1999. Makalah Formulations Forum ’99.1999. Makalah Formulations Forum ’99.  Formulating  Formulating Bionsecticides Bionsecticides To To Improve Improve Residual Residual   Activity

 Activity. University Peoria. Illinois.. University Peoria. Illinois.

Benoit, L., G. R. Wilson and C. L. Baugh. 1990.

Benoit, L., G. R. Wilson and C. L. Baugh. 1990.  Fermentation  Fermentation during during growth growth and and sporulation sporulation of of  Bacillus Bacillus thuringiensis

thuringiensis HD-1. Lett. Appl. Microbial. Vol 10.HD-1. Lett. Appl. Microbial. Vol 10. Bernhard, K. dan R. Utz. 1993.

Bernhard, K. dan R. Utz. 1993.  Production  Production of of Bacillus Bacillus thuringiensis thuringiensis Insecticide Insecticide for for Experimental Experimental and and  Commercial Uses

Commercial Uses. Di dalam P. F. Enwistle, J. S. Cory, M. J. Bailey dan S. Higgs (editor).. Di dalam P. F. Enwistle, J. S. Cory, M. J. Bailey dan S. Higgs (editor).  Bacillus Bacillus thuringiensis

thuringiensis,, An Enviromental Biopesticide  An Enviromental Biopesticide : Theory and : Theory and PracticePractice. John Wiley and Son, Chichester :. John Wiley and Son, Chichester : 255-266.

255-266. Chalal, D.S. 1985

Chalal, D.S. 1985. Solid State Fermentation with Trichoderma ressei. Application Environment. Microbiology. Solid State Fermentation with Trichoderma ressei. Application Environment. Microbiology 49(1):205-210.

49(1):205-210.

Damardjati, D. S. 1985. Strategi Penelitian Limbah Ubi Kayu di Indonesia. Di dalam F. G. Winarno (ed). Damardjati, D. S. 1985. Strategi Penelitian Limbah Ubi Kayu di Indonesia. Di dalam F. G. Winarno (ed).

Monografi Limbah Pertanian. Kantor Mentri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan, J

Monografi Limbah Pertanian. Kantor Mentri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan, J akarta.akarta. Darwis AA, Khaswar S, Ummi S.2012.Kajian Produksi Bioinsektisida dari

Darwis AA, Khaswar S, Ummi S.2012.Kajian Produksi Bioinsektisida dari  Bacillus  Bacillus thuringiensisthuringiensis subspsubsp israelensis

israelensis Pada Media Tapioka.Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 14(1) hal 1Pada Media Tapioka.Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 14(1) hal 1 -5.-5. Departemen Pertanian. 2010.

Departemen Pertanian. 2010.  Rancangan R Rancangan R encana Strategis encana Strategis Kementerian Pertanian Kementerian Pertanian 2010-20142010-2014. Kementerian. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Pertanian Republik Indonesia. Jakarta. Dulmage, H. T. And Rhodes, R.A. 1971.

Dulmage, H. T. And Rhodes, R.A. 1971.  Production of Pathogens in Artificial Media Production of Pathogens in Artificial Media , pp.507-540 In : Burges,, pp.507-540 In : Burges, H.D. (ed).

H.D. (ed). Microbial Control of Pest and Plant Diseases Microbial Control of Pest and Plant Diseases 1970-1980. New York : Acad press.1970-1980. New York : Acad press. Dulmage, H. T. 1981.

Dulmage, H. T. 1981.  Insecticidal  Insecticidal activity activity of of isolates isolates of of Bacillus Bacillus thuringiensis thuringiensis and and their their potential potential for for pest pest  control In H.D Burges

control In H.D Burges (ed). Microbial Control of Pest and Plant Diseases. (ed). Microbial Control of Pest and Plant Diseases. New York : Acad press.New York : Acad press. Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Fardiaz, S. 1998. Fisiologi Fermentasi. Bogor : PAU IPB.

Fardiaz, S. 1998. Fisiologi Fermentasi. Bogor : PAU IPB. Gill, S. S., E. A. Cowles, dan P. V, Pietrantonio. 1992.

Gill, S. S., E. A. Cowles, dan P. V, Pietrantonio. 1992. The Mode of Action of Bacillus thuringiensis.The Mode of Action of Bacillus thuringiensis.  Endotoxin. Annu, Rev. Entomol 

 Endotoxin. Annu, Rev. Entomol . 37 : 615. 37 : 615 –  – 636.636.

Hilwan MR, Khaswar S, dan Rini P.2006. Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi XII Hilwan MR, Khaswar S, dan Rini P.2006. Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi XII

Tahun Anggaran 2006 : Kajian Produksi Bionsektisida Oleh

Tahun Anggaran 2006 : Kajian Produksi Bionsektisida Oleh  Bacillus  Bacillus thuringiensis thuringiensis var.israelensisvar.israelensis Untuk Pencegahan Wabah Demam Berdarah.IPB : Bogor.

Untuk Pencegahan Wabah Demam Berdarah.IPB : Bogor.

Jenie, B.S. L. dan Fachda. 1991. Pemanfatan Onggok dan Dedak Padi Untuk Produksi Pigmen Angkak Oleh Jenie, B.S. L. dan Fachda. 1991. Pemanfatan Onggok dan Dedak Padi Untuk Produksi Pigmen Angkak Oleh

 Monescus purpureus

 Monescus purpureus. Pertemuan Ilmiah Tahunan. Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, . Pertemuan Ilmiah Tahunan. Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, Bogor Bogor  Lereclus D, A Delecluse, MM Lecaded. 1993.

Lereclus D, A Delecluse, MM Lecaded. 1993.  Diversity  Diversity of of Bacillus Bacillus thuringiensis thuringiensis toxins toxins and and genes. genes. BacillusBacillus thuringiensis

thuringiensis,, an environmental biopesticides: theory and practicesan environmental biopesticides: theory and practices . John Willey and Sons.. John Willey and Sons. Moo-young, M. 1985.

Moo-young, M. 1985. Comprehensive BiotechnologyComprehensive Biotechnology. Di dalam A. T Bull and H. Dalton (eds). Pergamin. Di dalam A. T Bull and H. Dalton (eds). Pergamin Press. Oxford.

Press. Oxford.

Machfud et al. 1989. Teknik Optimasi Rekayasa Proses Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi, Institut Machfud et al. 1989. Teknik Optimasi Rekayasa Proses Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi, Institut

 pertanian Bogor.  pertanian Bogor. Moo-young, M. 1985.

Moo-young, M. 1985. Comprehensive BiotechnologyComprehensive Biotechnology. Di dalam A. T Bull and H. Dalton (eds). Pergamin. Di dalam A. T Bull and H. Dalton (eds). Pergamin Press. Oxford.

Press. Oxford.

Mummigatti, S. G. and Raghumanathan. 1990. Influence of media composition on the production of  Mummigatti, S. G. and Raghumanathan. 1990. Influence of media composition on the production of 

deltaendotoksin by

deltaendotoksin by Bacillus thuringiensis Bacillus thuringiensis var var  Israelensis Israelensis J. Invertebr. Pathol. Vol 55.J. Invertebr. Pathol. Vol 55.

Pablo, Julian. 2012. Kultivasi Mikroba. http://matakuliahbiologi.blogspot.com/2012/04/kultivasi-mikroba.html Pablo, Julian. 2012. Kultivasi Mikroba. http://matakuliahbiologi.blogspot.com/2012/04/kultivasi-mikroba.html

[4 Mei 2012] [4 Mei 2012]

Prawira, Y. 2012. Fermentasi Substrat Padat. http://www.yprawira.com [28 April 2013] Prawira, Y. 2012. Fermentasi Substrat Padat. http://www.yprawira.com [28 April 2013]

(16)

Sikdar, D. D, M. K. Majumbar and S. K. Majumbar. 1993.

Sikdar, D. D, M. K. Majumbar and S. K. Majumbar. 1993. Optimization of process for production of δOptimization of process for production of δ--endotoksin by Bacillus thuringiensis subsp. Israelensis in a five litre fermentor 

endotoksin by Bacillus thuringiensis subsp. Israelensis in a five litre fermentor . Biochemical archives.. Biochemical archives. Vol 9.

Vol 9. Silvina, D

Silvina, D et alet al..20122012..Pemanfaatan Limbah Cair Industri Pengolahan Tahu Untuk Memproduksi SporaPemanfaatan Limbah Cair Industri Pengolahan Tahu Untuk Memproduksi Spora  Bacillus Bacillus Thuringiensis Serovar Israelensis

Thuringiensis Serovar Israelensis Dan Aplikasinya Sebagai Biokontrol Larva Nyamuk (karya tulisDan Aplikasinya Sebagai Biokontrol Larva Nyamuk (karya tulis PKM). Universitas Udayana, Denpasar 

PKM). Universitas Udayana, Denpasar  Vendekar, M and H. T. Dulmage. 1982.

Vendekar, M and H. T. Dulmage. 1982. Guidelines for Production Bacillus thuringiensis H-14. Special Guidelines for Production Bacillus thuringiensis H-14. Special   Programme for Research and Training in Tropical Diseases

(17)

LAMPIRAN

LAMPIRAN

REKAPAN DATA PRODUKSI BIOINSEKTISIDA ( KULTIVASI PADAT DAN CAIR) REKAPAN DATA PRODUKSI BIOINSEKTISIDA ( KULTIVASI PADAT DAN CAIR)

Kultivasi Cair Kultivasi Cair KULTIVASI PADAT KULTIVASI PADAT Keterangan : Keterangan :

Kelompok 1 : pemgamatan jam ke- 96 Kelompok 1 : pemgamatan jam ke- 96 Kelompok 2 : pengamatam jam ke- 72 Kelompok 2 : pengamatam jam ke- 72 Kelompok 3 : pengamatan jam ke- 48 Kelompok 3 : pengamatan jam ke- 48 Kelompok 4 : pengamatan jam ke- 24 Kelompok 4 : pengamatan jam ke- 24 Kelompok 5 : pengamatan jam ke- 0 Kelompok 5 : pengamatan jam ke- 0

Kelompok

Kelompok Uji Uji pH pH Uji Uji ODOD Biomassa keringBiomassa kering (gr)

(gr)

Uji VSC Uji VSC 24

24 jam jam 48 48 jamjam

1. 7 1. 7 1,136 1,136 0,16 0,16 - - --2. 2. 8 8 0,788 0,788 0,01 0,01 0 0 9 9 x10x1055 3. 3. 5 5 0,367 0,367 0,09 0,09 0 0 2 2 x10x1055 4. 4. 8 8 0,351 0,351 0,17 0,17 0 0 00 5. 8 5. 8 0,070 0,070 0,17 0,17 - - --Kelompok 

Kelompok  Uji VSCUji VSC Bobot Substrat PadatBobot Substrat Padat 24

24 jam jam 48 48 jamjam

1. 1. - - - - 2,752,75 2. 31x10 2. 31x1033 40 x1040 x1033 4,214,21 3. 3. 9 9 x10x1033 14 x1014 x1033 3,833,83 4. 4. 17 17 x10x1033 20 x1020 x1033 2,872,87 5. 5. - - - - 3,053,05 y = 87.674x + 0.4456 y = 87.674x + 0.4456 R² = 0.9385 R² = 0.9385 0 0 20 20 40 40 60 60 80 80 100 100 120 120 0 0 00..55 11 11..55

Optical Density Curve

Optical Density Curve

Uji OD Uji OD    w    w    a    a     k     k   t   t    u    u     (     (   j   j   a   a    m    m     )     )

Nilai OD

Nilai OD

Gambar

Tabel 1. Komposisi Onggok Tabel 1. Komposisi Onggok 
Grafik 1. Perbandingan pH dan WaktuGrafik 1. Perbandingan pH dan Waktu

Referensi

Dokumen terkait

(1) Dana Pensiun Lembaga Keuangan wajib menyusun pedoman pelaksanaan penerapan prinsip mengenal nasabah sesuai dengan petunjuk penyusunan yang tercantum dalam

Kemudian dari masalah-masalah dan kebutuhan tersebut munculah teknologi komunikasi data yang bersifat nirkabel yang dapat digunakan dimana saja dan kapan saja selama kita

Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) harus kredibel dalam menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi. Untuk itu, LPK seharusnya diakreditasi oleh lembaga akreditasi yang

Teknologi ini bekerja pada suhu diatas 1820C pada reservoir, cara kerjanya adalah Bilamana lapangan menghasilkan terutama air panas, perlu dipakai suatu separator

Tujuan dari penelitian ini yaitu memodelkan kasus stunting pada balita di kota Gorontalo tahun 2018 dan juga untuk mengetahui faktor-faktor signifikan yang mempengaruhi

Dari permasalahan di atas, maka muncul sebuah ide untuk mengembangkan media pembelajaran anak berkebutuhan khusus berbasis multiplayer yang memanfaatkan gadget dan hal-hal

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai wajar dari harga saham dengan menggunakan analisis fundamental dengan metode Discounted Cash Flow dan Price Earning

Warga pesisir sudah terlindungi dari ancaman gelombang pasang dan abrasi yang sebelumnya melanda wilayah pesisir di Kawasan Pesisir Bandara Deo Kota Sorong,; (2) Penanaman