37
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Struktur Komunitas Vegetasi di Cagar Alam Pulau Sempu
Total jumlah spesies pada semua fase yang dijumpai dalam plot pengamatan sepanjak transek adalah sebanyak 128 spesies yang mewakili 44 famili (Lampiran 1). Jumlah spesies pada fase pohon adalah 72 spesies, fase tiang 43 spesies, fase sapling 97 spesies dan fase semai sebanyak 83 spesies. Indeks keragaman spesies pohon seluruh kawasan CAPS adalah 5,071 yang menunjukkan nilai keragaman pohon yang tinggi, dengan indeks keragaman pohon di setiap lokasi penelitian juga tergolong tinggi (H’>4).
Tabel 9 Indeks kesamaan, jumlah spesies dan indeks keragaman pohon di lokasi penelitian Cagar Alam Pulau Sempu
Indeks Kesamaan Morisita (Cλ) LOKASI TL WR TST AT GM TSM Jumlah Spesies H' TELAGA LELE (TL) 0.54 0.63 0.69 0.51 0.67 37 4.403 WARU WARU (WR) 0.54 0.48 0.79 0.87 0.72 34 4.442 TELAGA SAT (TST) 0.63 0.48 0.38 0.41 0.35 32 4.381
AIR TAWAR (AT) 0.69 0.79 0.38 0.85 0.89 33 4.292
GUA MACAN (GM) 0.51 0.87 0.41 0.85 0.81 34 4.635
TELUK SEMUT (TSM) 0.67 0.72 *0.35 **0.89 0.81 24 4.078
KESELURUHAN 72 5.071
Keterangan: * indeks terendah; **indeks tertinggi; H’=indeks keragaman spesies Shannon-Wiener. Lokasi yang memiliki kemiripan tertinggi berdasarkan indeks kesamaan Morisita adalah Teluk Semut dan Air Tawar dengan Cλ = 0,89 (Tabel 9). Lokasi yang paling berbeda di antara enam lokasi penelitian adalah antara Teluk Semut dan Telaga Sat (Cλ = 0,35). Teluk Semut dan Air Tawar memiliki struktur dan bentuk batuan yang serupa; lereng-lerengnya didominasi oleh batu-batu karang besar, namun memiliki asosiasi hutan yang sedikit berbeda (Tabel 8). Teluk Semut dan Telaga Sat banyak memiliki perbedaan dari asosiasi spesies pohon dan kondisi stratum di bawahnya. Di Telaga Sat, lantai hutan jarang ditumbuhi semai dan tumbuhan penutup tanah dengan dominasi Macaranga di lereng bawah, sedangkan di teluk Teluk Semut justru didominasi oleh semai dan sapling serta banyak ditemukan perdu dan tumbuhan merambat berkayu.
38
Hutan di Waru-waru memiliki kesamaan yang tinggi dengan hutan di Gua Macan (Cλ = 0.87). Kedua lokasi ini memiliki asosiasi hutan yang mirip yaitu jumlah spesies yang sama dengan dominasi Myristica – Pterospermum –
Annonaceae serta individu-individu M. teijsmannii reproduktif yang tercatat
banyak ditemui. Fakta ini menimbulkan dugaan bahwa Waru-waru dan Gua Macan merupakan kawasan hutan yang disukai atau cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan spesies langka tersebut.
5.2. Autekologi M. teijsmannii 5.2.1 Struktur Populasi
Struktur populasi M. teijsmannii dinyatakan dalam fase pertumbuhan berdasarkan diameter setinggi dada. Keseluruhan populasi, ditinjau dari jumlah individu per hektar, didominasi oleh fase semai dengan DBH < 3 cm dan tinggi <1,5 m, sedangkan fase yang semakin dewasa memperlihatkan kecenderungan jumlah individu yang semakin menurun dengan fase pohon pada proporsi terendah (Gambar 7). Hasil analisis vegetasi menunjukkan tegakan pohon M. teijsmannii memiliki nilai dominasi dan kerapatan relatif tertinggi di lokasi penelitian, berturut-turut sebesar 11,36% dan 13,7 individu/ha dengan indeks nilai penting sebesar 27,91%. Indeks nilai penting yang tinggi ini menunjukkan M. teijsmannii mendominasi lebih dari seperempat kawasan yang diteliti.
0 50 100 150 200
SEMAI SAPIHAN TIANG POHON
KE RAP AT AN ( ju m la h i n d ivi d u /h a
Gambar 7 Struktur populasi M. teijsmannii di seluruh lokasi penelitian dalam kawasan CA Pulau Sempu berdasarkan diameter setinggi dada.
39
Setiap lokasi penelitian memperlihatkan variasi dalam struktur populasi
M. teijsmannii. Populasi total terbanyak untuk seluruh fase pertumbuhan adalah di
lokasi Teluk Semut dengan total jumlah individu 616/ha, diikuti Waru-waru (440/ha), Air Tawar (413/ha), Gua Macan (272/ha), Telaga Lele (23/ha) dan Telaga Sat (17/ha). Pada tiga lokasi yaitu Waru-waru, Gua Macan dan Teluk Semut memperlihatkan dominasi pada fase semai dengan kecenderungan menurun pada populasi fase lebih dewasa. Sementara di lokasi Telaga Lele dan Telaga Sat tidak ditemukan satu pun individu semai dalam plot penelitian (Gambar 8). Hal ini menunjukkan bahwa seedling recruitment tidak merata di setiap lokasi, kemungkinan adanya faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
0 100 200 300 400 500
TELAGA LELE WARU WARU TELAGA SAT AIR TAWAR GUA MACAN TELUK SEMUT LOKASI ju m la h ind ividu pe r h a
Semai Sapihan Tiang Pohon
Gambar 8 Struktur populasi M. teijsmannii di setiap lokasi penelitian.
Struktur populasi di Teluk Semut menunjukkan selisih yang sangat besar antara kerapatan tingkat semai dengan individu dewasanya terutama pohon. Tampaknya seedling establishment di kawasan ini kurang baik dibandingkan di lokasi lainnya. Jika dikaitkan dengan gangguan manusia, kawasan Teluk Semut secara umum mendapat ancaman yang lebih besar karena hutan di kawasan ini merupakan jalur utama bagi tujuan wisata Segara Anakan. Jalan setapak semakin melebar membuat gap di hutan juga semakin lebar sehingga dapat mengakibatkan
40
efek tepi atau edge effect yang lebih meluas ke dalam hutan (Primack et al. 1998). Selain itu tanah pada jalur setapak dan sekitarnya menjadi lebih padat karena pengaruh injakan (trampling) yang dapat mengarah pada sulitnya biji-biji untuk berkecambah.
Kebalikan dari Teluk Semut, di plot pengamatan Telaga Sat tidak ditemukan satu pun individu semai M. teijsmannii, bahkan semai dari spesies lain pun jarang dijumpai. Di lain pihak, seluruh individu dewasa M. teijsmannii yang ditemukan di lokasi ini dalam masa reproduktif dengan buah yang melimpah. Jarang ditemukannya semai di lokasi ini kemungkinan berkaitan dengan kondisi lantai hutan yang banyak ditutupi serasah kasar dengan kondisi tanah yang cukup dangkal, liat, serta kandungan air tersedia yang rendah dibandingkan di lokasi penelitian yang lain (rata-rata 10,6% vol; Tabel 12) karena kemiringan yang curam membuat air dengan cepat turun ke lereng bawahnya. Kondisi demikian dapat menjadi salah satu penyebab mengapa biji-biji M. teijsmannii kurang dapat berkecambah walaupun biji banyak dihasilkan.
Seperti halnya di Telaga Sat, di lokasi penelitian kawasan Telaga Lele tidak dijumpai semai M. teijsmannii. Vegetasi tingkat semai dan sapling didominasi spesies pionir terutama di bagian hutan yang agak terbuka dan datar, serupa dengan kondisi di Telaga Sat. Fenomena ini dapat diinterpretasikan bahwa individu semai
M. teijsmannii kurang dapat bersaing dengan spesies-spesies pionir tersebut
sehingga menekan pertumbuhan dan rekrutmen biji menjadi tingkat pertumbuhan selanjutnya. Di lokasi ini tercatat bahwa pohon besar jarang ditemukan serta memiliki gap-gap hutan sehingga banyak ditumbuhi spesies-spesies pionir yang menyukai cahaya. Kondisi ini yang diduga kurang sesuai dengan kebutuhan ekologis bagi perkecambahan M. teijsmannii.
Struktur populasi yang secara umum tampaknya seimbang adalah di Waru-waru dan Gua Macan. Tipe vegetasi di kedua lokasi ini memiliki kemiripan dalam hal asosiasi hutannya (Tabel 8) dengan indeks kesamaan tinggi (Tabel 9). Kawasan hutan Waru-waru terlihat memiliki kondisi vegetasi yang paling baik di antara semua lokasi penelitian. Spesies-spesies pohon berdiameter besar banyak ditemui dengan individu-individu semai dan sapling yang cukup melimpah.
41
Parameter kemelimpahan M. teijsmannii yang diamati di CA Pulau Sempu diperlihatkan pada Tabel 10. Pada fase pohon, M. teijsmannii menunjukkan kekerapan, kerapatan, dominasi dan indeks nilai penting tertinggi di Waru-waru. Dilihat dari keragaman spesies pohonnya, Waru-waru termasuk memiliki keragaman yang tinggi yaitu 4,44 atau terbesar kedua setelah keragaman pohon di Gua Macan (H’ = 4,64). Di lokasi Waru-waru, M. teijsmannii merupakan spesies dengan frekuensi, kerapatan dan dominasi tertinggi dibandingkan di lokasi lainnya (Lampiran 5). Di Gua Macan, M. teijsmannii merupakan spesies pohon yang paling banyak dijumpai dengan kerapatan pohon dan indeks nilai penting tertinggi, di mana parameter tersebut menunjukkan dominasi spesies dalam komunitasnya (Indriyanto 2006). Gua Macan dan Waru-waru secara umum memiliki tipe vegetasi yang didominasi Pterospermum (Sterculiaceae) dan Myristica. Perbedaannya di Gua Macan cukup banyak dijumpai tegakan Maranthes corymbosa (Chrysobalanaceae), sedangkan di Waru-waru lebih banyak dijumpai spesies dari famili Annonaceae. Fenomena ini mengarah pada dugaan bahwa M. teijsmannii memiliki preferensi habitat yang memiliki spesies-spesies pohon besar, tinggi atau tajuk yang lebar karena spesies langka tersebut dijumpai menjadi dominan pada fase dewasa kebanyakan di lokasi-lokasi yang memiliki vegetasi pohon besar. Hal ini dibahas lebih lanjut pada bab asosiasi interspesifik.
Tabel 10 Parameter kemelimpahan pohon M. teijsmannii di lokasi penelitian LOKASI
Parameter
TL WR TS AT GM TSM
Frekuensi 0.07 *0.48 0.17 0.38 0.26 0.20
Kerapatan (jumlah individu/ha) 1.79 *29.03 4.17 17.71 15.22 11.25
Dominasi (m2) 0.74 *8.91 0.77 4.70 3.45 2.33
Frekuensi relatif (%) 1.90 *11.28 2.44 10.11 7.56 6.56 Kerapatan relatif (%) 1.55 *19.67 3.74 14.17 14.43 10.47 Dominansi relatif (%) 1.97 *17.73 2.10 14.79 7.59 0.39 Indeks nilai penting (%) 5.42 *48.68 8.28 39.07 29.62 26.41 Indeks Keragaman Shannon (H’) 4.40 4.44 4.38 4.29 *4.64 4.08
Keterangan:
TL=Telaga Lele, WR=Waru-waru, TS=Telaga Sat, AT=Air Tawar, GM=Gua Macan, TSM=Teluk Semut; * nilai tertinggi pada parameter yang sama;
42
43
5.2.2 Pola Penyebaran
Perhitungan indeks dispersi Morisita (Id) menghasilkan Id = 4,225 yang
berarti bahwa M. teijsmannii menunjukkan pola penyebaran populasi mengelompok atau bergerombol. Hasil pengujian χ2hitung 656,253 > χ2tabel 177,357 menunjukkan bahwa pola penyebaran mengelompok ini signifikan (df=149;
P <0,000).
Untuk standarisasi indeks Morisita selanjutnya digunakan rumus clumped
index (Mc) karena hasil perhitungan Id menunjukkan pola mengelompok.
Perhitungan tersebut menunjukkan nilai Mc = 1,0078. Besarnya Id ≥ Mc > 1,0
sehingga formula yang digunakan untuk menentukan koefisien Morisita standar IP
adalah persamaan [3.17]. Hasil perhitungan menghasilkan Ip = 0,51. Karena Ip > 0
maka pola penyebaran M. teijsmannii digolongkan mengelompok.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Krebs (2002) bahwa banyak populasi tumbuhan memiliki penyebaran mengelompok di alam, dan hanya sedikit yang populasinya menyebar dalam pola yang teratur. Odum (1994) juga berpendapat bahwa penyebaran secara acak relatif jarang terjadi di alam dan bahkan terdapat kecenderungan untuk berkumpul di dalamnya. Pola penggerombolan dengan berbagai derajat juga mewakili pola yang paling umum terjadi di alam. Hal ini antara lain disebabkan kondisi lingkungan yang jarang seragam walaupun meliputi area yang sempit (Indriyanto 2006). Perbedaan kondisi tanah dan iklim pada suatu kawasan akan mengakibatkan perbedaan kondisi habitat yang penting bagi setiap organisme yang tinggal di dalamnya, karena suatu organisme akan hadir pada suatu area yang faktor-faktor ekologinya tersedia dan sesuai bagi kehidupannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Odum (1994) yang menyatakan bahwa interaksi yang kuat antar individu anggota populasi akan mendorong terjadinya pembagian ruang yang sama.
Berdasarkan studi populasi yang dilakukan di enam area hutan dalam kawasan CAPS, diperoleh peta distribusi populasi M. teijsmannii (Gambar 9). Terlihat populasi yang melimpah berdasarkan frekuensi kehadiran dalam plot observasi di bagian utara pulau, yaitu kawasan Waru-waru, Gua Macan dan Air Tawar. Frekuensi kehadiran individu sangat rendah ditemukan di Telaga Sat dan
44
Telaga Lele. Ilustrasi tersebut mendukung hasil perhitungan dalam pola penyebaran M. teijsmannii yang mengelompok.
5.2.3 Pertumbuhan dan Perkembangan
Berdasarkan pengamatan morfologi pohon, M. teijsmannii menunjukkan percabangan mengikuti model arsitektur Massart. Percabangannya plagiotropik, dengan 2 – 3 cabang dari pangkal percabangan yang sama.
Secara umum, individu M. teijsmannii ditemukan pada kawasan yang landai (kemiringan 0-8%) hingga agak curam (30-40%). Ciri morfologi yang menarik ditemukan adalah sifat akar di atas tanahnya memiliki karakter yang unik, yaitu berupa akar udara atau akar lutut (Gambar 10), yang strukturnya menyerupai akar tumbuhan lahan basah. Oleh karena habitat M. teijsmannii bukan di kawasan basah, adanya akar lutut ini tampaknya merupakan salah satu bentuk adaptasi dari beberapa faktor lingkungan di habitatnya. Dickinson (2000) menyatakan bahwa perubahan-perubahan adaptif yang dilakukan akar dapat terjadi selama periode cekaman kekeringan dan kondisi tergenang. Tipe akar seperti ini berfungsi sebagai organ pendukung sekaligus pelindung, serta memiliki peranan penting dalam translokasi serta pertukaran udara. Perakaran juga dapat dipengaruhi oleh struktur batuan (Hardjowigeno 1992). Berdasarkan dua argumen tersebut, adanya struktur akar udara dan akar napas pada M. teijsmannii dapat terjadi berkaitan dengan tempat tumbuhnya pada kemiringan dengan lapisan tanah relatif dangkal sehingga memiliki akar-akar khusus untuk menopang tegaknya individu. Selain itu, berkaitan dengan keadaan batuan atau tekstur tanah di lokasi penelitian yang membuat kondisi tanah kurang menyediakan aerasi yang cukup bagi akar M.
teijsmannii. Kondisi umum tanah di lokasi penelitian tergolong relatif dangkal
dengan batu-batuan padas yang keras di lapisan bawah.
Individu dewasa M. teijsmannii di kawasan CAPS tampaknya menempati lapisan tajuk dengan ketinggian pohon antara 3 – 16 m, namun tidak ditemukan individu yang menempati lapisan emergent. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa M. teijsmannii menempati stratum C (C-storey) yaitu lapisan tajuk yang tingginya 4–20 m, dan stratum D (D-storey) yaitu lapisan tajuk yang dibentuk oleh semak dan perdu setinggi 1–4 m. Berdasarkan pengamatan juga ditemukan bahwa individu M. teijsmannii tidak pernah ditemukan di tepi hutan (forest edge)
45
melainkan selalu ditemukan pada interior hutan (forest interior). Hal ini menunjukkan bahwa spesies ini menyukai naungan atau tidak menyukai intensitas cahaya tinggi pada sebagian dari tahap perkembangannya, atau disebut spesies toleran naungan (shade-tolerant) atau semi toleran naungan. Dugaan ini didukung oleh adanya asosiasi positif dengan spesies-spesies pohon yang relatif besar dan tinggi yaitu antara lain dengan Pterospermum javanicum, Cryptocarya ferrea,
Artocarpus elasticus dan Aglaia elliptica (Tabel 11). Kerapatan dan dominasi
populasi M. teijsmannii juga ditemukan pada lokasi pengamatan dengan kehadiran spesies-spesies dengan tajuk yang lebar atau spesies pohon tinggi (Lampiran 5).
Pohon yang bersifat toleran terhadap naungan akan tumbuh dengan baik jika mendapat naungan dari pohon-pohon lain yang lebih tinggi, bahkan perlu berdampingan dengan pohon lain sebagai penaung agar pertumbuhannya optimal (Indriyanto 2006). Spesies yang tergolong toleran naungan rentan terhadap pembukaan hutan, terutama pembukaan yang sifatnya luas karena intensitas cahaya matahari yang semakin tinggi. Deforestasi akan menyebabkan spesies ini semakin rentan terhadap kepunahan. Oleh karena itu, degradasi dan konversi hutan hujan dataran rendah di Jawa Timur yang selama ini masih terus terjadi tentu akan menyebabkan populasi spesies ini semakin lama akan semakin kecil dan terisolasi di CAPS jika deforestasi kawasan hutan hujan dataran rendah di Jawa Timur tidak segera dihentikan.
Pada saat penelitian dilakukan, sebagian individu dewasa sedang berbuah akan tetapi umumnya periode berbuah ini masih dalam tahap pertengahan. Sebagian individu populasi menunjukkan masa berbuah akhir menuju kematangan. Berdasarkan pengamatan tersebut, kemungkinan masa berbuah M. teijsmannii adalah Mei hingga akhir Agustus. Kemungkinan ini diperkuat dengan tidak ditemukan lagi individu yang berbuah pada bulan September tahun yang sama (Sujoto, komunikasi pribadi). Hal ini berbeda dari laporan Heyne (1987) yang menyatakan bahwa periode berbuah spesies ini adalah bulan Mei hingga Juni. Perbedaan atau pergeseran masa berbuah dapat disebabkan tidak serempaknya musim berbuah dan berbunga pada populasi di kawasan CAPS yang disebabkan perbedaan kondisi lingkungan.
46
Gambar 10 Habitus Myristica teijsmannii.
A. struktur akar di atas permukaan tanah, memperlihatkan akar lutut dan akar napas B. tajuk yang menempati lapisan kanopi
C. pokok utama yang mengeluarkan getah merah D. buah
5.2.4 Reproduksi
Cara pemencaran biji M. teijsmannii yang berhasil diamati adalah berkaitan dengan perilaku tumbuhnya yang secara umum menyukai lereng dengan kemiringan landai hingga agak curam. Karena kemiringan lereng, buah-buah
A B
47
masak yang jatuh tidak berdekatan dengan induknya sehingga memungkinkan spesies ini hidup cenderung mengelompok dengan yang usianya relatif sama. Oleh karena itu pula, selama penelitian berlangsung, jarang sekali ditemukan semai yang tumbuh bersamaan dalam satu plot dengan individu dewasa. Adanya mekanisme alelopatik yang menghambat germinasi biji pada spesies ini masih dipertanyakan, namun kemungkinan besar ketidakhadiran individu-individu semai di bawah naungan individu dewasa disebabkan oleh mikrohabitat yang tidak sesuai untuk perkecambahan serta ketahanan biji.
Selain kondisi mikrohabitat, kehadiran individu semai yang relatif berjauhan dengan individu induk dapat berkaitan dengan sifat penyebaran biji. Penyebaran biji M. teijsmannii ini ditemukan dibantu oleh beberapa spesies hewan pemakan buah dari kelompok primata (pasal 4.2.5.2), di mana kelompok ini memiliki mobilitas yang tinggi sehingga memungkinkan biji sisa dari buah yang dimakan tersebar lebih jauh.
Pengamatan pada tahap germinasi M. teijsmannii di kawasan konservasi CAPS tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu. Namun demikian sejumlah kecil bijinya telah berhasil dikoleksi dan disemai di rumah kaca pembibitan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor – LIPI. Akan tetapi persentase keberhasilan germinasi sangat rendah (<10%) sehingga penelitian mengenai tahap perkecambahan tidak dilakukan dalam ulangan yang memadai. Hanya tiga individu yang berhasil berkecambah dan telah dipersiapkan untuk menjadi koleksi M. teijsmannii pertama di PKT Kebun Raya Bogor, melengkapi koleksi tumbuhan langka Indonesia di lokasi konservasi ex-situ ini.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap ketiga biji yang berhasil berkecambah, M. teijsmannii memperlihatkan periode germinasi yang cukup lambat, yaitu 31 – 60 hari, sejak mulai disemai hingga munculnya daun pertama. Namun demikian, dibandingkan dengan penelitian Ng (1992) terhadap M. crassa dan M. malaccensis, periode germinasi spesies langka ini termasuk lebih singkat. Setelah 10 bulan pertumbuhannya, M. teijsmannii hanya mencapai tinggi 25-35 cm dari permukaan tanah (Lampiran 2).
Biji pada umumnya berkecambah segera setelah masak apabila kondisi lingkungannya sesuai. Menurut Meyer dan Anderson (1954) sedikitnya ada tiga
48
kondisi lingkungan eksternal yang dibutuhkan untuk germinasi yaitu air, temperatur yang sesuai dan oksigen. Biji tidak mempersingkat aktivitas fisiologinya selama periode germinasi hingga biji mampu melakukan imbibisi sejumlah air. Ketiga faktor tersebut perlu diteliti sejauh mana pengaruhnya terhadap perkecambahan biji-biji M. teijsmannii untuk mendukung upaya propagasinya secara ex-situ. Berdasarkan kondisi di lokasi penelitian in-situ, kandungan air tersedia pada tanah termasuk rendah antara lain karena ruang pori total yang tinggi (Tabel 12) sehingga dapat menjadi salah satu penyebab biji-biji
M. teijsmannii yang berserakan di lantai hutan lebih lambat berkecambah.
Selain dipengaruhi oleh kondisi lingkungan eksternal, proses germinasi berkaitan dengan morfologi biji. Biji M. teijsmannii memiliki tiga lapisan selaput biji di lapisan sebelah dalam aril. Lapisan itu berturut-turut dari luar ke dalam adalah: 1) selaput biji bagian luar yang tipis dan halus, 2) lapisan tengah yang keras, dan 3) lapisan dalam yang berongga. Lapisan dalam ini menuju ke bagian albumen yang tebal membentuk garis-garis atau pita-pita membentuk suatu pola. Embrio berukuran kecil dan terletak di bagian basal biji. Pada saat berkecambah, kotiledon membesar di bagian basal biji tersebut. Adanya lapisan biji yang berlapis-lapis dan di antaranya terdapat lapisan yang keras juga dapat menentukan waktu perkecambahan di mana pada masa ini biji tidak melakukan aktivitas fisiologi hingga biji mampu melakukan imbibisi sejumlah air dari luar yang ditentukan pula oleh sifat selaput biji.
Masa germinasi serta kecepatan pertumbuhan semai yang relatif lambat kemungkinan ada kaitannya dengan daya regenerasinya yang membuatnya memiliki tingkat seedling establishment yang rendah di alam. Hal ini dapat menjadi salah satu sebab keberadaannya di hutan alam menjadi semakin jarang.
5.2.5 Interaksi dengan komponen biologis 5.2.5.1 Asosiasi Interspesifik
Total sebanyak 104 spesies telah diuji asosiasinya dengan M. teijsmannii dengan tes varians (VR; variance-ratio test) mengikuti Schluter (1984, dalam Ludwig & Reynolds 1988). Nilai VR diperoleh 1,322 menunjukkan adanya asosiasi positif secara keseluruhan (VR > 1). Signifikansi VR yang dinyatakan
49
dengan W menunjukkan bahwa asosiasi interspesifik yang ada adalah nyata (χ2 hitung (92,548) > χ2 tabel (90,531).
Hasil pengujian χ2 untuk tipe asosiasi interspesifik memperlihatkan 12 spesies berasosiasi positif dengan M. teijsmannii (Tabel 11). Tingkat asosiasi yang cukup tinggi berdasarkan Jaccard Index ditunjukkan oleh Pterospermum
javanicum (Sterculiaceae), Cryptocarya ferrea (Lauraceae) Orophea hexandra
(Annonaceae) dan Aglaia elliptica (Meliaceae). Interaksi ini mendukung pendugaan dari hasil penelitian bahwa M. teijsmannii memiliki pola penyebaran yang mengelompok diduga karena memiliki asosiasi interspesifik dengan spesies tertentu dalam habitatnya (pasal 4.2.2.). Menurut Odum (1994), interaksi yang kuat antar individu anggota populasi akan mendorong terjadinya pembagian ruang yang sama.
Tabel 11 Hasil uji asosiasi interspesifik antara Myristica teijsmannii dengan 12 spesies di CA Pulau Sempu berdasarkan tes chi-square
SPECIES FAMILI Tipe Asosiasi Indeks Jaccard
Pterospermum javanicum Sterculiaceae positif 0.529
Cryptocarya ferrea Lauraceae positif 0.500
Orophea hexandra Annonaceae positif 0.455
Aglaia elliptica Meliaceae positif 0.467
Polyalthya lateriflora Annonaceae positif 0.394
Drypetes ovalis Euphorbiaceae positif 0.235
Artocarpus elasticus Moraceae positif 0.308
Buchanania arborescens Anacardiaceae positif 0.296
Knema laurina Myristicaceae positif 0.308
Aglaia sp. Meliaceae positif 0.222
Prunus javanicus Rosaceae positif 0.222
Diospyros malabarica Ebenaceae positif 0.079
indeks Jaccard menunjukkan tingkat asosiasi pada α 0,05;df=1; nilai 0 setara dengan tidak ada asosiasi; nilai 1 setara dengan tingkat asosiasi maksimum.
Asosiasi positif M. teijsmannii dengan spesies Myristicaceae lainnya yang ditemukan di CAPS, yaitu dengan Knema laurina, sedangkan dengan Knema
glauca tidak memperlihatkan asosiasi yang signifikan. Hal ini memperlihatkan
bahwa kedua spesies dalam famili yang sama tersebut tampaknya memiliki kebutuhan ekologis dan habitat yang serupa. Keduanya merupakan spesies yang menempati kawasan hutan hujan dataran rendah, namun K. laurina memiliki kisaran distribusi geografis yang lebih luas dibandingkan M. teijsmannii. Populasi
50
K. laurina diketahui menyebar di tidak hanya di Jawa, tapi juga di Sumatra,
Borneo, bahkan Thailand dan Semenanjung Malaysia (Anonim 2008).
Pendugaan bahwa M. teijsmannii memiliki asosiasi dengan anggota famili Lauraceae, Myrtaceae, Ebenaceae, Moraceae atau Burseraceae yang merupakan famili khas hutan tropis dataran rendah, ada sebagian yang terbukti. Di kawasan CAPS, M. teijsmannii berasosiasi positif dengan Cryptocarya ferrea (Lauraceae), dan Diospyros malabarica (Ebenaceae) tapi tidak dengan enam spesies Diospyros lainnya, dengan Artocarpus elasticus (Moraceae) tapi tidak dengan Streblus asper dan Ficus spp. yang cukup banyak ditemui di CAPS. M. teijsmannii memperlihatkan kemungkinan asosiasi positif dengan Canarium hirsutum (Burseraceae) dan Acmena acuminatissima (Myrtaceae) namun uji statistik tidak menunjukkan nilai yang signifikan (Lampiran 6).
Asosiasi positif M. teijsmannii dengan Artocarpus elasticus, Pterospermum
javanicum, Cryptocarya ferrea, Aglaia elliptica dan Diospyros malabarica
menunjukkan kecenderungan sifat M. teijsmannii yang memerlukan naungan karena kelima spesies asosiasi tersebut merupakan spesies-spesies pohon yang relatif besar, tinggi serta memiliki tajuk yang cukup lebar atau rapat. Hal ini mendorong pendugaan bahwa M. teijsmannii merupakan spesies yang semi-toleran naungan, yaitu memiliki sifat membutuhkan naungan dalam sebagian daur hidupnya. Hal lain yang memperkuat argumen ini adalah berkaitan dengan keberadaan Macaranga sp. yang melimpah di Telaga Sat. Spesies ini diketahui merupakan spesies pionir yang menyukai cahaya atau tidak toleran naungan. Ini menunjukkan bahwa Telaga Sat memiliki intensitas cahaya lebih tinggi sehingga individu M. teijsmannii ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit.
5.2.5.2 Predasi dan Agen Dispersal Biji
Warna yang menarik dan relatif mencolok di antara dedaunan serta aroma pala yang dihasilkan M. teijsmannii tampaknya menjadi daya tarik bagi hewan-hewan pemakan buah yang hidup di kawasan CAPS. Selama penelitian berlangsung, tercatat dua spesies primata arboreal yang menyukai daun dan buah
M. teijsmannii, yaitu Macaca fascicularis (kera ekor panjang) dan Trachypitecus auratus (lutung Jawa). Kedua mamalia tersebut tercatat menyukai daun terutama
51
bagian pucuk, sedangkan bagian buah yang dimakan adalah daging buah yang telah matang sementara bijinya dibuang. Biji yang masih diselaputi oleh aril seringkali dijumpai berserakan di lantai hutan dan sebagian besar biji-biji yang jatuh tersebut telah rusak dimakan oleh serangga dari kelompok semut dan rayap sebelum berhasil berkecambah.
Gambar 11 Sisa buah M. teijsmannii yang dimakan primata.
Sejalan dengan penemuan frugivora yang merupakan agen dispersal biji
M. teijsmannii seperti yang dipaparkan di atas, Ganesh dan Davidar (2001)
menemukan empat jenis mamalia arboreal yang berlaku sebagai predator sekaligus
agen dispersal biji bagi M. dactyloides, yang memiliki tajuk rapat seperti
M. teijsmannii, di Whestern Ghats, India. Keempat jenis mamalia tersebut adalah
lion-tailed macaque (Macaca silenus), langur Nilgiri (Trachypitechus johnii), Malabar giant squirrel (Ratufa indica), bajing terbang (Petaurista philippensis) dan kelelawar (Cynopterus sphinx). Dilihat dari hasil penelitian tersebut, dua genus
Macaca dan Trachypitechus sama-sama ditemukan sebagai predator sekaligus
agen penyebaran biji Myristica. Kedua spesies mamalia tersebut memang dilaporkan sebagai agen penyebaran biji Myristica dalam komunitasnya di hutan-hutan tropis namun perannya dianggap semakin berkurang terkait dengan ketersediaan buah-buahan dalam habitatnya (Ganesh & Davidar 2001).
Walaupun burung dikenal sebagai agen dispersal biji yang utama di hutan-hutan tropis Asia, Australia dan Pasifik (Meehan et al. 2005; Ganesh & Davidar 2001) di kawasan CAPS yang memiliki spesies-spesies burung besar tidak
52
ditemukan spesies yang memakan buah atau biji M. teijsmannii selama observasi berlangsung. Hal ini kemungkinan disebabkan M. teijsmannii menyukai habitat dengan kanopi yang rapat dan berada dalam interior hutan karena spesies ini merupakan jenis yang toleran naungan. Di sisi lain, umumnya burung sebagai agen dispersal menyukai buah-buahan dari pohon-pohon yang berada di tepi hutan atau pada gap (Ganes & Davidar 2001) atau pada pucuk-pucuk tajuk pohon sehingga mudah diakses (Meehan et al. 2005). Sejenis merpati (Ducula pacifica) dilaporkan merupakan agen dispersal M. hypargyraea di hutan tropis Tonga (Meehan et al. 2005).
5.2.6 Karakteristik Habitat 5.2.6.1 Faktor Edafik
Berdasarkan peta tanah, seluruh kawasan Pulau Sempu dikategorikan memiliki jenis tanah calciustolls. Tanahnya relatif dangkal dengan kedalaman 20 – 50 cm di lokasi sampling, dan sebagian besar memiliki kandungan liat yang kuat dengan banyak batuan padas dari sedimen kapur di bagian bawah permukaan sehingga menimbulkan pH (pH H2O) yang cenderung tinggi hingga mencapai 7,7 (Tabel 12). pH tinggi ini dapat disebabkan oleh kandungan basa kation yang tinggi di lokasi penelitian karena pada tanah dengan pH mendekati netral atau basa, tempat pertukaran dalam tanah cenderung ditempati oleh kation-kation basa dapat tukar seperti Ca, Mg, Na dan K menggantikan ion-ion hidrogen dan aluminium mengakibatkan konsentrasi ion hidrogen dalam tanah menurun yang berakibat pada meningkatnya pH tanah (Killham 1994).
Pada beberapa lokasi, tanah di kawasan CAPS mengalami retak-retak terutama dalam kondisi kering. Lokasi lain di mana dilaporkan pernah ditemukan
M. teijsmannii memiliki jenis tanah dystrandepts untuk kawasan Gunung
Anjasmoro dan tanah vulkanik dari golongan stratovulcano di Gunung Wilis dan Gunung Kawi. Hal ini dapat diartikan bahwa M. teijsmannii memiliki preferensi habitat pada jenis tanah yang subur dengan tipe tutupan lahan berupa hutan.
Sifat fisika tanah di lokasi penelitian dianalisis kandungan pasir, debu dan liat, kerapatan lindak, ruang pori total (pori makro dan mikro) serta kandungan airnya, sedangkan sifat kimia tanah dianalisis dari rasio C/N, kandungan kation, pH, kation dapat tukar dan kejenuhan basanya (Tabel 12). Untuk mengetahui
53
karakteristik edafik M. teijsmannii, perbandingan antara variabel edafik dengan dan tanpa keberadaan M. teijsmannii dianalisis dengan metode statistik non-parametrik dengan beberapa variabel bebas dinyatakan dalam kategori (Tabel 6). Pengujian yang digunakan adalah tes Kruskal-Wallis untuk membandingkan >1 kelompok variabel bebas.
Berdasarkan hasil analisis sifat fisika, kandungan liat pada tekstur tanah kawasan ini termasuk tinggi, dengan kandungan pasir yang sangat rendah yaitu pada kisaran ≤ 6%. Kandungan pasir yang rendah dapat menjadi salah satu sebab KTK (kapasitas tukar kation) tanah menjadi tinggi, sesuai dengan teori yang dipaparkan Hardjowigeno (1992). Tekstur tanah berdasarkan persentase kandungan pasir, liat dan debu ini setelah diidentifikasi menggunakan segitiga tekstur tanah (soil texture triangle) menunjukkan tekstur liat, liat berdebu hingga lempung berdebu. Terlihat bahwa unsur liat di kawasan penelitian ini cukup mendominasi. Berdasarkan Hardjowigeno (1992), tanah liat seperti ini mempunyai pori-pori total yaitu jumlah pori makro (pori kasar berisi udara dan air gravitasi) dan pori mikro (pori halus berisi air kapiler atau udara) yang lebih tinggi daripada tanah pasir. Hal ini dibuktikan dengan angka ruang pori total yang tinggi di lokasi penelitian pada umumnya (Tabel 12), yaitu berkisar antara 55,5 – 66,6 %vol pada topsoil dan 55,5 – 65,5%vol pada subsoil. Persentase ruang pori total yang tinggi (>50% vol) pada tanah dengan tekstur liat menunjukkan kandungan material organik yang sangat kaya (Meyer & Anderson 1954). Ruang pori ini pada sebagian besar tanah ditempati oleh gas dan air pada proporsi yang bervariasi, bergantung pada kandungan air dalam tanah. Ruang pori total inilah yang antara lain dapat menjelaskan keterkaitan adanya morfologi akar napas dan akar lutut yang diperlihatkan M. teijsmannii dengan kondisi tanah di lokasi penelitian yang teksturnya liat hingga liat berdebu. Semakin kecil partikel tanah maka semakin kecil ventilasinya karena pori-pori yang sempit pada tanah bertekstur halus terisi air kapiler (Dwidjoseputro 1992). Kondisi ini memungkinkan akar M. teijsmannii beradaptasi membentuk banyak struktur akar napas di atas permukaan tanah untuk memperoleh udara bagi respirasi akar.
Warna tanah yang dinyatakan dengan notasi Munsell hasil identifikasi warna menggunakan Munsell’s color chart diterjemahkan dan dipadankan dengan
54
standar penamaan warna (Takehara 1970). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa warna tanah di lokasi penelitian berkisar antara hitam kemerahan, hitam kecoklatan hingga hitam menurut Munsell, namun seluruhnya digolongkan ke dalam warna yang sama menurut standar penamaan warna, yaitu coklat tua keabuan. Tanah berwarna gelap seperti ini dikategorikan sebagai tanah yang subur karena mengandung banyak bahan organik (Hardjowigeno 1992). Oleh karena warna tanah tidak memberikan varians terhadap keberadaan M. teijsmannii, maka variabel warna tidak diikutsertakan dalam pengujian statistik.
Berdasarkan hasil analisis sifat kimia tanah, derajat keasaman tanah (pH H2O) di lokasi penelitian berkisar antara 5,8 – 7,3 pada topsoil (agak masam hingga netral) dan 5,3 – 7,7 pada subsoil (agak asam hingga agak alkalis). pH tanah menunjukkan tingkat kemudahan unsur-unsur hara diserap tumbuhan dan pada umumnya pH tanah sekitar netral membuat unsur-unsur hara mudah diserap karena pada kisaran tersebut unsur hara mudah larut dalam air (Hardjowigeno 1992). pH yang agak masam pada topsoil dan subsoil memungkinkan perkembangbiakan bakteri dan jamur. Kondisi pH sedemikian juga cukup menguntungkan dari segi mikroorganisme karena memungkinkan pertumbuhan bakteri pengikat nitrogen dan bakteri nitrifikasi, yang tumbuh baik pada pH > 5,5.
Rasio C/N di lokasi penelitian digolongkan ke dalam kandungan yang rendah hingga sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa tanah cukup banyak mengandung bahan organik halus. Kandungan N topsoil termasuk sedang (rata-rata 0,2 %), sedangkan N pada subsoil tergolong rendah (rata-rata 0,11%).
Unsur K pada kedua lapisan tanah di lokasi penelitian tergolong tinggi, yaitu pada kisaran 17,55 – 33,98 cmol/kg (topsoil) dan 15,59 – 35,73 cmol/kg (subsoil). Tingginya kandungan Ca tanah di lokasi sampling erat kaitannya dengan jenis batuan yang membentuk geologi kawasan CAPS, yang sebagian terbentuk dari batu sedimen berkapur. Kandungan Ca yang tinggi juga memberikan pH yang cenderung alkalis pada tanah (Tabel 12). Kandungan Mg menunjukkan angka yang cukup luas kisarannya baik pada lapisan topsoil maupun subsoil. Kandungan Mg tertinggi pada kedua lapisan tanah ditemukan di lokasi Telaga Sat, mencapai > 10 cmol/kg. Kandungan dua kation lainnya yaitu K dan Na digolongkan pada kategori sedang pada kedua lapisan tanah.
55
Tabel 12 Hasil analisis sifat fisika dan kimia tanah di lokasi penelitian
LOKASI No. Lapisan AT (% vol) (gr/cc)KL (% vol) RPT Pasir (%) Liat (%) Debu (%) (HpH 2O) C (%) (%) N C/N Ca (cmol/kg) Mg cmol/ kg K (cmol/kg) Na (cmol/kg) KTK Telaga Lele 1 topsoil 12.6 1.07 59.6 1 48 51 6.3 2.31 0.24 9.63 26.76 6.39 0.69 0.51 30.83 subsoil 20.1 0.91 65.5 2 48 50 7.7 0.86 0.07 12.29 33.71 4.23 0.24 0.58 31.68 2 topsoil 12.4 1.07 59.8 2 29 69 6.7 1.63 0.21 7.76 29.59 3.53 0.25 0.62 28.04 subsoil 17.2 1.04 60.9 5 29 66 7.3 1.34 0.13 10.31 32.64 2.02 0.09 0.56 30.46 3 topsoil 11.6 1.12 57.7 1 35 64 7.3 1.38 0.18 7.67 33.31 2.31 0.48 0.41 36.51 subsoil 10.1 1.09 59.0 1 38 61 7.3 1.30 0.11 11.82 35.73 1.70 0.35 0.31 30.96 4 topsoil 8.6 1.11 58.3 2 43 56 6.1 1.65 0.20 8.25 24.83 4.89 0.85 0.53 31.10 subsoil 11.0 1.10 58.5 1 54 45 5.9 1.23 0.11 11.18 25.68 4.07 0.56 0.61 31.34 Waru-waru 1 topsoil 17.1 0.89 66.6 6 23 71 7.3 2.01 0.23 8.74 33.98 2.86 0.88 0.28 39.18 subsoil 9.6 1.12 57.6 6 21 73 7.5 1.50 0.13 11.54 32.10 2.14 0.60 0.27 29.03 2 topsoil 15.6 0.99 62.6 5 43 52 5.8 1.60 0.21 7.62 17.55 4.71 0.37 0.53 23.16 subsoil 15.0 1.00 62.3 5 70 25 5.3 0.92 0.09 10.22 15.59 4.27 0.12 0.62 26.23 Telaga Sat 1 topsoil 10.6 1.10 58.4 1 61 38 6.1 0.87 0.11 7.91 24.02 10.28 0.20 1.52 36.02 subsoil 9.0 1.07 59.8 1 62 37 6.2 0.73 0.07 10.43 25.80 10.33 0.09 2.11 33.73 2 topsoil 11.3 1.14 57.0 3 60 37 6.2 0.88 0.07 12.57 18.72 6.16 0.13 1.25 24.68 subsoil 11.5 1.03 61.2 4 69 27 6.2 0.63 0.05 12.60 20.06 6.60 0.09 1.37 26.61 Gua Macan 1 topsoil 11.6 1.08 59.2 3 48 49 7.1 2.51 0.20 12.55 29.96 2.05 0.60 0.24 33.47 subsoil 12.0 1.09 58.7 4 69 27 6.9 1.84 0.15 12.27 30.05 2.04 0.56 0.25 29.44 2 topsoil 17.9 0.91 65.7 3 30 67 6.1 2.58 0.24 10.75 27.07 4.62 0.28 0.53 34.61 subsoil 11.4 1.18 55.5 2 22 76 6.8 1.47 0.15 9.80 32.35 3.58 0.10 0.51 36.03 Teluk Semut 1 topsoil 11.7 0.94 64.5 4 31 65 6.3 3.47 0.26 13.35 25.14 5.65 0.67 0.36 33.35 subsoil 11.7 1.13 57.5 4 45 51 6.3 1.42 0.11 12.91 26.57 6.12 0.09 0.64 34.15 2 topsoil 13.7 1.07 59.8 6 57 37 6.2 1.92 0.17 11.29 22.26 4.57 0.86 0.28 29.87 subsoil 10.6 1.16 56.3 3 52 45 6.0 1.17 0.10 11.70 22.44 3.28 0.61 0.31 27.04 Air Tawar 1 topsoil 19.9 0.95 64.0 6 25 69 6.5 3.21 0.25 12.84 26.47 3.96 0.95 0.34 33.87
subsoil 11.8 0.95 64.1 3 52 45 6.5 1.70 0.20 8.50 28.35 2.87 0.62 0.38 35.87 Keterangan: AT= air tersedia; KL=kerapatan lindak; RPT=ruang pori total; KTK=kapasitas tukar kation
56
Secara keseluruhan, nilai KTK (kapasitas tukar kation) di lokasi sampling termasuk tinggi di mana pada topsoil memiliki kisaran nilai KTK lebih lebar (23,16 – 39,18 cmol/kg) daripada KTK pada subsoil (26,23 – 36,03 cmol/kg). KTK merupakan sifat kimia tanah yang menjadi salah satu indikator kesuburan tanah karena tanah dengan KTK yang tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah (Hardjowigeno 1992). KTK yang efektif, yaitu paling sedikit 4 meq/kg, diperlukan untuk menahan sebagian besar kation terhadap pencucian, terutama jika kation dapat tukarnya yang ada bersifat basa (Sanchez 1992). KTK yang tergolong tinggi di lokasi penelitian menunjukkan bahwa tanah di kawasan ini dapat dikatakan tanah yang subur, mendukung laporan Goni et al. (1997). Menurut Hardjowigeno (1992), tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi memiliki KTK lebih tinggi daripada tanah berpasir, dan tanah dengan nilai kejenuhan basa yang tinggi digolongkan tanah yang subur. Kejenuhan basa tinggi disebabkan kation-kation basa (Ca, Mg, K, Na) yang mudah tercuci belum banyak mengalami proses pencucian atau leaching. Kation-kation inilah yang umumnya merupakan unsur-unsur hara yang diperlukan tumbuhan sehingga kejenuhan basa dijadikan sebagai salah satu indikator kesuburan tanah. Angka kejenuhan basa (KB) dari hasil analisis mencapai nilai sangat tinggi (≥ 90%), bahkan beberapa sampel memperlihatkan KB>100%, terutama pada lapisan subsoil. Hasil ini juga memperkuat bukti bahwa lokasi penelitian di CAPS merupakan tanah yang termasuk subur ditunjukkan dari nilai KB yang sangat tinggi.
Individu M. teijsmannii dijumpai lebih banyak pada tanah dengan kandungan pasir lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang pasirnya rendah (Gambar 12). Kandungan pasir di lokasi penelitian memang sangat rendah dengan kandungan liat dan debu yang tinggi memberikan ruang pori makro yang rendah. Ruang pori makro yang rendah akan menyebabkan tanah lebih menahan air. Sifat
M. teijsmannii yang memiliki kecenderungan untuk hidup pada tanah dengan
drainase baik membuatnya memerlukan kandungan pasir yang tidak terlalu rendah agar air dapat turun ke lapisan bawah dan tidak menggenang di permukaan, apalagi kandungan liat yang tinggi menyebabkan tingginya ruang pori halus berisi air kapiler dan udara. Hal ini mengimplikasikan bahwa tanah dengan kandungan liat
57
dan debu yang tinggi dan proporsi pasir yang tidak terlalu rendah adalah tanah yang sesuai bagi habitat M. teijsmannii.
Hasil uji korelasi antara kemelimpahan M. teijsmannii dengan variabel edafik di lokasi penelitian menunjukkan korelasi tertinggi pada tekstur pasir dengan r ≥0,90 (Tabel 13). Jumlah individu seluruh fase pertumbuhan spesies ini memiliki hubungan yang paling erat dengan kandungan pasir di antara parameter-parameter kemelimpahan dan variabel tanah yang diuji. Nilai korelasi signifikan diperlihatkan pada jumlah individu pada fase pohon (r = 0.93; p = 0,008), tiang (r = 0.85; p =0.033) dan sapihan (r = 0.90; p = 0.015). Nilai korelasi positif antara jumlah individu semai dengan tekstur pasir menunjukkan korelasi tinggi namun kurang signifikan (r = 0.80; p = 0.057). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi berpasir erat hubungannya dengan kolonisasi M. teijsmannii dewasa, atau dapat dianggap bahwa rekrutmen semai menjadi fase-fase dewasa berkaitan dengan tekstur pasir pada substrat di mana spesies berada. Keterkaitan ini dapat menjawab pertanyaan mengapa di lokasi Waru-waru ditemukan lebih banyak individu
M. teijsmannii, yaitu karena di lokasi tersebut persentase kandungan pasirnya
relatif tinggi dibandingkan di lokasi lain (Tabel 12).
Seluruh parameter kemelimpahan pohon menunjukkan korelasi positif yang signifikan terhadap tekstur pasir, namun tidak demikian dengan kandungan debu dan liatnya. Ini menunjukkan hubungan yang menarik antara organisme dengan substratnya dan dapat menjadi dasar argumen pada adaptasi morfologi akar napas yang menjadi karakter spesies M. teijsmannii (de Wilde 2000). Struktur akar napas antara lain dapat ditemukan pada organisme terestrial yang tumbuh pada kondisi tanah yang anaerobik seperti tergenang atau rawa (Gill & Tomlinson 1978). Kondisi anaerobik atau kurangnya ventilasi udara ini dapat disebabkan oleh kandungan pori-pori kapiler tanah yang terisi oleh air karena jumlah ruang pori mikro yang tinggi berkaitan dengan tingginya kandungan liat dalam tanah (Meyer & Anderson 1954).
Berbeda dengan fase pohon, tiang dan semai yang hanya memiliki korelasi signifikan dengan satu variabel tanah yaitu kandungan pasir, fase sapihan memiliki korelasi kuat dengan beberapa variabel tanah lainnya. Kerapatan dan jumlah individu sapihan berkorelasi erat dengan kandungan pasir (r = 0.84). Telaga Lele
58
memiliki kandungan pasir relatif rendah dibandingkan persentase pasir di lokasi penelitian lainnya. Ada kemungkinan hal inilah yang mempengaruhi tidak dijumpainya individu sapihan di lokasi tersebut (Gambar 8). Selain itu, dominasi fase sapihan yang berdiameter ≤ 3 cm (berdasarkan luas basal area di lokasi penelitian), dan nilai pentingnya dalam komunitas sapihan di lokasi penelitian menunjukkan korelasi positif yang kuat dengan kandungan C dan N, sementara frekuensi keterdapatannya berkorelasi kuat dengan kandungan K pada tanah. Sebaliknya, nilai penting fase sapihan spesies ini berbanding terbalik dengan kandungan Na tanah di lokasi penelitian. Hal ini mungkin dapat menjelaskan bahwa pada kondisi tanah dengan kandungan C, N dan Na tertentu saja yang sesuai untuk rekrutmen semai menjadi fase sapihan. Fenomena ini terjadi di Telaga Sat, di mana tidak ditemukan individu-individu sapihan karena dilihat dari faktor C dan N tersebut, lokasi ini memiliki kandungan C dan N yang sangat rendah dan paling rendah di antara lokasi penelitian lainnya.
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00
Telaga Lele Waru-waru Telaga Sat Gua Macan Teluk Semut Air Tawar
Lokasi penelitian
C (%) N (%) K (cmol/kg) Pasir (%)
Gambar 12 Beberapa variabel tanah yang berkorelasi nyata dengan kemelimpahan M. teijsmannii.
59
Tabel 13 Nilai korelasi antara parameter kemelimpahan M. teijsmannii dengan variabel edafik di lokasi penelitian
Kation dapat tukar (cml/kg) Faktor drainase Tekstur Tanah Fase Kemelimpahan Parameter H2O pH C N C/N
Ca Mg K Na KTK KA AT KL RPT Pasir Debu Liat POHON Jumlah individu -0.10 0.26 0.35 -0.45 -0.22 -0.43 0.38 -0.42 -0.24 -0.23 0.38 -0.34 0.33 *0.93 -0.41 0.28
Dominasi -0.07 0.32 0.42 -0.49 -0.17 -0.48 0.45 -0.47 -0.18 -0.23 0.44 -0.39 0.38 *0.93 -0.45 0.33 Frekuensi -0.08 0.52 0.60 -0.52 -0.11 -0.54 0.62 -0.55 0.07 -0.23 0.48 -0.48 0.47 *0.90 -0.47 0.35 Kerapatan -0.13 0.42 0.47 -0.40 -0.18 -0.48 0.48 -0.49 -0.09 -0.30 0.37 -0.33 0.31 *0.93 -0.43 0.30 INP -0.15 0.57 0.61 -0.39 -0.14 -0.53 0.62 -0.58 0.08 -0.32 0.40 -0.38 0.36 *0.92 -0.46 0.33 H 0.62 -0.02 0.06 -0.32 0.47 -0.25 -0.30 0.01 0.03 -0.24 0.19 0.05 -0.07 -0.15 -0.15 0.18 TIANG Jumlah individu -0.09 0.57 0.65 -0.50 -0.08 -0.52 0.61 -0.52 0.18 -0.24 0.42 -0.47 0.45 *0.85 -0.41 0.30
Dominasi 0.03 0.02 -0.07 0.20 -0.09 -0.24 -0.22 -0.24 -0.50 -0.64 -0.07 0.47 -0.48 0.54 -0.26 0.19 Frekuensi -0.18 -0.10 -0.18 0.22 -0.33 -0.14 -0.20 -0.19 -0.67 -0.50 -0.12 0.41 -0.42 0.70 -0.20 0.10 Kerapatan 0.04 0.11 -0.05 0.43 0.00 -0.21 -0.25 -0.25 -0.34 -0.76 -0.21 0.65 -0.67 0.36 -0.21 0.17 INP -0.07 0.08 -0.08 0.43 -0.13 -0.20 -0.20 -0.27 -0.46 -0.74 -0.20 0.62 -0.64 0.50 -0.24 0.17 H 0.16 -0.79 -0.72 0.05 -0.14 0.30 -0.76 0.45 -0.79 0.13 -0.18 0.32 -0.32 -0.11 0.19 -0.18 SAPIHAN Jumlah individu 0.02 0.47 0.50 -0.31 -0.03 -0.61 0.47 -0.62 -0.12 -0.51 0.43 -0.18 0.17 *0.90 -0.58 0.46
Dominasi 0.25 *0.84 *0.83 -0.35 0.33 -0.77 0.68 -0.77 0.41 -0.60 0.53 -0.27 0.24 0.61 -0.65 0.59 Frekuensi -0.15 0.77 0.79 -0.35 -0.02 -0.60 *0.90 -0.72 0.36 -0.27 0.51 -0.50 0.49 0.76 -0.54 0.45 Kerapatan 0.01 0.64 0.60 -0.17 0.03 -0.65 0.55 -0.71 0.05 -0.63 0.37 -0.09 0.07 *0.84 -0.60 0.49 INP 0.05 *0.86 *0.81 -0.21 0.17 -0.74 0.79 *-0.83 0.34 -0.60 0.49 -0.24 0.22 0.73 -0.67 0.58 H 0.14 0.09 0.33 *-0.86 -0.01 -0.23 0.23 -0.04 0.10 0.28 0.43 -0.71 0.70 0.43 -0.11 0.04 SEMAI Jumlah individu -0.47 0.55 0.47 0.05 -0.33 -0.33 0.68 -0.56 0.06 -0.29 0.16 -0.17 0.16 0.80 -0.35 0.24 Dominasi -0.54 0.17 -0.06 0.72 -0.37 0.07 0.17 -0.23 -0.17 -0.35 -0.33 0.47 -0.46 0.27 -0.04 0.00 Frekuensi -0.52 0.45 0.26 0.45 -0.32 -0.16 0.47 -0.45 0.02 -0.39 -0.11 0.19 -0.19 0.53 -0.21 0.14 Kerapatan -0.50 0.55 0.42 0.22 -0.31 -0.26 0.63 -0.52 0.11 -0.32 0.05 -0.04 0.04 0.65 -0.28 0.19 INP -0.51 0.47 0.30 0.38 -0.34 -0.20 0.51 -0.48 0.00 -0.40 -0.05 0.14 -0.14 0.61 -0.25 0.17 H -0.04 -0.36 -0.24 -0.35 -0.30 0.05 -0.33 0.20 -0.54 0.07 0.00 -0.08 0.07 0.48 0.07 -0.15 Keterangan: KA=kandungan air; AT= air tersedia; KL=kerapatan lindak; RPT=ruang pori total; KTK=kapasitas tukar kation; * signifikan (p≤0.05)
60
5.2.6.2 Faktor klimatik
Derajat keasaman yang langsung diukur di lapangan menunjukkan bahwa kisaran pH di lokasi penelitian termasuk netral dengan kisaran 6.0 – 7.0 (Tabel 14). Tabel 14 Data iklim mikro pada tanah dan udara di lokasi penelitian
TANAH UDARA Lokasi Jumlah total individu pH* Kelembaban§ (%) Suhu§ (0C) Kelembaban§ (%) Suhu§ (0C) Air Tawar 34 7.0 55 24 70-92 22-25 Gua Macan 28 7.0 45-75 26 65-80 25-26 Telaga Lele 5 6.7-7.0 75-86 26-28 70-81 26-29 Telaga Sat 7 6.0-7.0 55-79 25-28 60-81 25-26 Teluk Semut 22 7.0 45-70 25-26 53-68 25-28 Waru-Waru 59 6.9-7.0 70-75 26-28 70-79 27-30
§data kelembaban dan suhu bukan merupakan nilai minimum dan maksimum; *pH diukur langsung di lokasi penelitian menggunakan soil tester.
Kelembaban udara dan tanah di Teluk Semut pada waktu pengamatan memiliki kisaran 45-70% pada tanah dan 53-68% pada udara. Berdasarkan estimasi visual, kawasan ini relatif terbuka sehingga mendapatkan penyinaran matahari yang lebih banyak. Selain letaknya yang relatif dekat dengan pantai, fenomena ini dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan struktur populasi di lokasi ini. Kerapatan semai yang melimpah tidak diikuti oleh tingginya kerapatan umur individu yang lebih tua karena faktor kelembaban udara yang rendah. Kawasan Air Tawar yang juga memiliki struktur populasi M. teijsmannii yang tidak seimbang terdapat di kawasan dengan kelembaban tanah rata-rata rendah namun kelembaban udara masih tinggi karena tutupan vegetasinya masih tergolong baik dan hanya bagian pesisir mangrove yang mendapat gangguan pengunjung, serta lokasi hutan berada pada elevasi yang lebih tinggi daripada Teluk Semut.
5.2.6.3 Faktor topografis
Lokasi penelitian dilakukan pada kisaran ketinggian 17-102 m dpl. Dalam kisaran tersebut, individu-individu M. teijsmannii dijumpai pada ketinggian 25-82 m dpl. Berdasarkan hasil uji statistik, kehadiran M. teijsmannii dipengaruhi oleh variabel kemiringan dan aspek atau arah lereng (Tabel 15). Untuk menguji kategori mana yang memiliki pengaruh tersebut, uji ini dilanjutkan dengan uji generalized
61
Tabel 15 Perbandingan variabel topografi dengan kehadiran dan ketidakhadiran
M. teijsmannii di CA Pulau Sempu
Parameter topografi M. teijsmannii hadir M. teijsmannii Tidak hadir Z P
Ketinggian 54.28 (98) 56.80 (52) 1.0956 ** 0.273
Kemiringan (5 kategori) 13.43 (98) 18.19 (52) -3.2481** 0.001
Aspek (5 kategori) 2.21 (98) 2.69 (52) -2.5242 * 0.011
Keterangan: Nilai yang ditampilkan adalah mean; angka di dalam kurung menunjukkan jumlah
kuadrat atau sampel yang diuji; Z merupakan median hasil uji Wald; * P<0.005; ** P<0.05.
Tabel 16 Ringkasan hasil pengujian generalized linear model (GLM) untuk distribusi populasi M. teijsmannii
Variabel prediktor Level
pengaruh Estimasi Standar error Wald statistik P Lereng datar 1.941 0.446 **18.904 0.000 Lereng landai 0.249 0.448 0.309 0.578
Lereng agak curam -1.887 0.926 **4.150 0.042
Lereng curam 0.416 0.473 0.775 0.379
Arah lereng utara-timur -1.251 0.467 **7.179 0.007 Arah lereng selatan-timur 0.485 0.530 0.839 0.360 Arah lereng utara-barat 1.156 0.493 **5.513 0.019 Arah lereng selatan-barat 0.183 0.448 0.166 0.683
Ketinggian - 0.001 0.012 0.007 0.936
Deviance 1,104
Keterangan: Nilai estimasi merupakan besarnya kontribusi variabel prediktor terhadap keberadaan
populasi M. teijsmannii; dengan mengabaikan tanda, nilai yang mendekati 1 menunjukkan ketepatan estimasi; tanda negatif menunjukkan arah pengaruh.
Pengujian statistik untuk model distribusi populasi M. teijsmannii dengan menggunakan metode GLM pada distribusi binomial dengan fungsi hubungan logit terhadap variabel topografi memberikan ketepatan model atau deviansi sebesar 1,10 yaitu baik karena mendekati nilai 1 dengan nilai signifikan pada lereng dan arah lereng. Sesuai dengan hasil uji Wald (Tabel 15) hasil uji GLM menunjukkan bahwa distribusi populasi M. teijsmannii ditentukan oleh lereng dan arah lereng tapi tidak oleh ketinggian (Tabel 16). Kategori lereng yang berpengaruh pada kehadiran spesies adalah lereng datar (kemiringan 0-8%) dan lereng agak curam (15-25%). Pada lereng datar dijumpai keberadaan M. teijsmannii yang lebih banyak sedangkan pada lereng agak curam keberadaannya semakin sedikit.
Pada arah lereng utara-timur kehadiran individu M. teijsmannii terlihat rendah sedangkan pada arah lereng utara-barat sebaliknya. Hal ini menunjukkan
62
bahwa M. teijsmannii membutuhkan sinar matahari untuk pertumbuhan dan perkembangannya namun dalam intensitas yang tidak penuh sepanjang hari.
5.3 Aspek Konservasi
5.3.1 Implikasi Karakter dan Interaksi Biologis M. teijsmannii terhadap Konservasi
Struktur populasi M. teijsmannii di seluruh lokasi penelitian di dalam kawasan CAPS memperlihatkan kestabilan populasi, dengan kecenderungan kerapatan semakin tinggi pada fase-fase lebih muda (Gambar 8). Akan tetapi jika ditinjau per lokasi hutan, terdapat ketidakseimbangan struktur populasi di kawasan Telaga Lele, Telaga Sat, Air Tawar dan Teluk Semut. Di hutan kawasan Telaga Lele dan Telaga Sat tidak dijumpai individu M. teijsmannii tingkat semai yang menunjukkan bahwa regenerasi di kawasan ini tidak berlangsung semestinya, atau ada gangguan pada proses regenerasinya. Oleh karena itu, di kedua lokasi tersebut dapat dilakukan program reenforcement atau menanam kembali sejumlah individu untuk menambah jumlah individu dalam populasinya, dalam hal ini tingkat semai, yang berasal dari lokasi lain di kawasan CAPS. Sumber semai dapat berasal dari Teluk Semut yang memiliki kerapatan semai tertinggi.
Ketidakseimbangan populasi terlihat pula di kawasan Teluk Semut. Selisih kerapatan tingkat semai dan tingkat individu pra-dewasa maupun dewasa yang sangat besar antara lain memberikan indikasi bahwa tingkat kesintasan semai di kawasan ini rendah. Diijinkannya pengunjung mendatangi kawasan ini dengan tujuan wisata, secara langsung ataupun tidak langsung dapat memberikan dampak negatif bagi kesesuaian kondisi lingkungan bagi biji untuk bertahan hidup mencapai fase-fase umur berikutnya. Oleh karena itu, kegiatan wisata ataupun kunjungan ke daerah ini perlu dibatasi dan dikelola sedemikian rupa sehingga dampak merugikan bagi kelangsungan populasi M. teijsmannii dapat ditekan. Berkaitan dengan hal ini, pihak pengelola perlu mengkaji kembali tugas pokok dan fungsi cagar alam seperti yang ditetapkan dalam UU No. 5 Tahun 1990 (Dephut 1990), yaitu bahwa cagar alam tidak diperuntukkan sebagai kawasan wisata.
63
Tabel 17 Kemelimpahan M. teijsmannii dan karakteristik lingkungannya Lokasi penelitian
Variabel yang diteliti Telaga
Lele Waru-waru Telaga Sat Air Tawar Macan Gua Semut Teluk
Jumlah total individu 5.00 59.00 7.00 34.00 28.00 22.00 Jumlah individu pohon 2.00 36.00 4.00 17.00 14.00 9.00 Kerapatan pohon (ind/ha) 1.79 29.03 4.17 17.71 15.22 11.25 INP pohon 5.42 48.68 8.28 39.07 29.62 26.41 Jumlah individu tiang 2.00 10.00 3.00 0.00 7.00 5.00 Kerapatan tiang (ind/ha) 7.10 32.26 12.50 0.00 43.48 25.00 INP tiang 3.34 18.27 5.82 0.00 19.27 14.23
Jumlah individu sapihan 1.00 10.00 0.00 5.00 6.00 4.00 Kerapatan sapihan
(ind/ha) 14.29 129.03 0.00 83.33 104.35 80.00 INP sapihan 1.80 6.10 0.00 6.53 5.86 5.44 Jumlah individu semai 0.00 3.00 0.00 3.00 1.00 4.00 Kerapatan semai (ind/ha) 0.00 250.00 0.00 312.50 108.70 500.00
Parameter kemelimp
ah
an
INP semai 0.00 6.19 0.00 6.14 3.05 13.80 Vegetasi dominan Sterc. Myrist.
Sterc. Annon. Euph. Morac. Maca-ranga Sterc. Myrist. Garcinia Artocarpus Myrist. Sterc. Annon. Maranthes Euph. Sterc.
Asosiasi (jumlah species) 7 7 4 6 6 8
Fakt
or bi
ol
ogi
Agen dispersal Ada Ada
tidak
teramati Ada Ada Ada
Ketinggian lokasi (m dpl) 50-102 15-87 30-65.5 40.5-85 41-77 17-69 Kehadiran (m dpl) 56-82 25-81 46-65.5 37-78 38-60 47-69 Faktor topo gr af i Kemiringan lokasi (%) 0-90 0-43 0-90 0-40 0-27 0-15; 90 Kelembaban tanah (%) 75-86 70-75 55-79 55 45-75 45-70 Suhu tanah (0C) 26-28 26-28 25-28 24 26 25-26 Kelembaban udara (%) 70-81 70-79 60-81 70-92 65-80 53-68 Faktor iklim mikr o Suhu udara (0C) 26-29 27-30 25-26 22-25 25-26 25-28 pH lapangan 6.7-7.0 6.9-7.0 6.0-7.0 7.0 7.0 7.0 pH H2O 6.94 6.44 6.19 6.50 6.79 6.18 C (% vol) 1.32 1.36 0.73 2.08 1.88 1.65 N (% vol) 0.13 0.14 0.07 0.21 0.17 0.13 C/N 10.63 10.21 11.20 9.59 11.19 12.31 Ca (cmol/kg) 31.11 24.33 22.54 27.88 30.53 24.30 Mg (cmol/kg) 3.32 3.35 8.40 3.14 2.94 4.80 K (cmol/kg) 0.37 0.43 0.11 0.70 0.36 0.45 Na (cmol/kg) 0.52 0.44 1.65 0.37 0.38 0.44 Fakt or ki mi a ta nah KTK (cmol/kg) 31.24 28.52 30.22 35.37 33.06 30.85 Kandungan air (% vol) 46.19 45.68 49.71 47.78 42.85 44.50 Air tersedia (% vol) 13.78 13.31 10.43 13.83 12.46 11.54 KL (gr/cc) 1.05 1.03 1.07 0.95 1.10 1.11 RPT (% vol) 60.44 61.11 59.80 64.08 58.44 58.21 Pasir (%) 2.06 5.50 2.38 3.75 3.00 3.88 Debu (%) 41.38 42.38 33.38 45.25 43.88 47.38 Fakt or fi si ka ta nah Liat (%) 56.63 52.13 64.25 51.00 53.13 48.75 Keterangan: INP= indeks nilai penting; KTK=kapasitas tukar kation; KL=kerapatan lindak; RPT=ruang pori
64
Kondisi hutan dan populasi M. teijsmannii di kawasan Waru-waru dan Gua Macan adalah yang terbaik. Dengan demikian, pihak pengelola Resort CAPS perlu mempertahankan kondisi ini, minimal menekan dampak pengunjung terhadap habitat di kawasan konservasi in-situ ini. Kawasan Teluk Semut perlu mendapat pengawasan dan pengelolaan yang lebih baik karena ketidakseimbangan populasi
M. teijsmannii sebagai tumbuhan langka Jawa Timur, lokasi ini juga merupakan
jalur jelajah lutung sebagai agen dispersal biji, dan merupakan habitat bagi macan dahan seperti yang teramati dalam penelitian, yang juga merupakan hewan yang dilindungi.
5.3.2 Implikasi Karakter dan Preferensi Habitat M. teijsmannii dengan Konservasi
Analisis karakter habitat M. teijsmannii di Cagar Alam Pulau Sempu dapat menjadi data penting bagi program konservasi, antara lain dalam koridor reintroduksi spesies ke habitat alaminya maupun untuk pendugaan kesesuaian habitat di lingkup kawasan yang lebih luas. Pendugaan kesesuaian habitat ini dapat dilakukan dengan menerapkan teknik-teknik pemetaan digital dalam sistem informasi geografis atau SIG (Garzon et al. 2006; Guisan & Zimmerman 2000). Teknik-teknik aplikasi SIG untuk memperkirakan habitat-habitat yang sesuai bagi suatu spesies akan dapat dilakukan dengan tepat jika data-data mengenai faktor-faktor pendukung atau faktor-faktor determinan bagi keberadaan populasinya tersedia. Data seperti ini penting karena program reintroduksi perlu dilakukan dengan memperhatikan karakter-karakter biologis dan ekologis suatu spesies di habitat alaminya sehingga faktor kematian karena ketidaksesuaian habitat baru dapat ditekan serendah mungkin.
Berdasarkan analisis karakter habitatnya, M. teijsmannii di Pulau Sempu cenderung berkoloni di kawasan yang memiliki tanah-tanah dengan kandungan pasir lebih tinggi dilihat dari tingginya jumlah individu yang dijumpai di kawasan Waru-waru yang memiliki kandungan pasir paling tinggi dibandingkan dengan lima lokasi penelitian lainnya. Preferensi habitat pada tanah dengan kandungan C dan N yang relatif tinggi pada fase sapihan menunjukkan bahwa seedling
65
subur dibandingkan fase-fase yang lebih dewasanya. Faktor kimia lain dari variabel edafik yang berkorelasi kuat dengan keberadaan individu M. teijsmannii adalah kandungan basa kalium. Jenis tanah dengan kandungan C, N dan K yang relatif tinggi menjadi salah satu faktor pendukung bagi penilaian kesesuaian habitat spesies langka ini.
Berdasarkan peta jenis tanah dan tutupan lahan, masih ada kawasan hutan dataran rendah di daratan Jawa yang masih berada dalam kawasan pesisir Malang selatan, relatif berdekatan dengan P. Sempu. Peta-peta pendukung tersebut menunjukkan jenis tanah dan tutupan hutan yang sama dengan jenis tanah dan hutan di P. Sempu. Oleh karena itu, ada kemungkinan yang cukup besar bahwa
M. teijsmannii dapat ditemukan di kawasan tersebut, sehingga hutan-hutan tersebut
perlu mendapat perhatian konservasi atau dijaga agar tidak terjadi perusakan. Dari variabel topografi, faktor arah lereng perlu mendapatkan perhatian
sebagai faktor pendukung lain yang menentukan keberhasilan kolonisasi
M. teijsmannii. Lokasi dengan kemiringan datar (0-8%) hingga landai (8-15%)
dengan arah lereng utara-barat adalah yang dua faktor lingkungan yang penting
bagi populasinya. Penelitian ini juga menyingkap keberadaan individu
M. teijsmannii yang ditemukan hanya di interior hutan, yang dapat
mengindikasikan bahwa spesies ini tidak toleran adanya gap yang bisa terjadi karena fragmentasi hutan. Berdasarkan literatur dan studi herbarium yang telah dilakukan, spesies yang kemungkinan endemik ini juga hanya dijumpai di hutan-hutan campuran dataran rendah. de Wilde (1998) dalam IUCN (2006) melaporkan bahwa M. teijsmannii mendapat ancaman dari degradasi habitat akibat konversi lahan. Alasan-alasan tersebut menunjukkan bahwa M. teijsmannii merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan akibat degradasi habitat dan fragmentasi hutan. Oleh karena itu, populasi yang baik di CAPS perlu dijaga dan dipertahankan antara lain dengan menjaga kawasan tersebut dari gangguan manusia dan peruntukan yang tidak tepat.
5.3.3 Status Kelangkaan
Berdasarkan studi populasi melalui metode sampling yang telah dilakukan di kawasan CAPS, maka di lokasi konservasi tersebut terdapat sedikitnya 6
66
subpopulasi M. teijsmannii. Individu dewasa yang ditemukan di enam lokasi sampling yang mencakup kawasan CAPS seluas 6 ha adalah sebanyak 82 individu pohon dan 36 individu fase tiang sehingga total jumlah individu dewasanya adalah 118 individu.
Untuk menentukan total jumlah individu di seluruh kawasan CAPS memerlukan kehati-hatian dan tidak cukup dengan mengkonversikan jumlah individu dalam plot pada luasan tertentu terhadap luas total habitat yang sesuai dengan faktor lingkungan penentu keberadaan populasi yang telah diteliti. Hal ini disebabkan tidak seluruh area di CAPS memiliki kondisi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan ekologis M. teijsmannii. Untuk itu diperlukan teknik khusus untuk mempertajam estimasi penyebaran populasi di seluruh kawasan yang sesuai.
Untuk lebih memastikan kriteria yang lainnya perlu diteliti luas daerah sebaran (extent of occurrence) dan luas daerah ditempati (area of occupancy) seperti yang direkomendasikan oleh IUCN (IUCN 2001). Luas daerah sebaran dapat diketahui dengan menerapkan metode minimum convex polygon atau MCP (Woinarski et al. 2006; JNCC 2008a), sedangkan luas daerah ditempati dapat ditentukan dengan teknik SIG melalui proses pembuatan grid pada skala tertentu (JNCC 2008b). MCP perlu dilakukan dengan data kehadiran spesies sedikitnya di 2 lokasi lain yang pernah tercatat. Semakin banyak data kehadiran spesies yang dilibatkan maka MCP yang diperoleh akan semakin baik atau mendekati kondisi sesungguhnya karena metode ini menggunakan konsep interpolasi dari data-data populasi yang diketahui. Oleh karena penelitian ini tidak mencakup analisis spasial dengan teknik SIG, maka penentuan status kelangkaan dalam penelitian ini belum dapat dilakukan.
Spesies M. teijsmannii memperlihatkan jumlah individu maupun kerapatan individu yang cukup melimpah di lokasi penelitian CAPS. Hal ini dapat berarti bahwa Pulau Sempu memiliki habitat yang dapat dikatakan memungkinkan bagi spesies yang tergolong langka bahkan kemungkinan endemik Jawa Timur ini untuk tumbuh dan bertahan, di samping faktor gangguan manusia yang relatif kecil terhadap kelestarian hutan di kawasan CAPS. Fenomena ini sesuai dengan pernyataan MacKinnon dan MacKinnon (1993) yang menyebutkan bahwa pulau kecil yang terisolasi sering menjadi rumah bagi spesies endemik yang langka dan
67
bentuk-bentuk primitif atau kuno. Spesies-spesies seperti itu telah berpencar untuk mengisi relung yang ada dan mampu bertahan hidup disebabkan beberapa alasan. Diantaranya kegagalan spesies yang lebih modern untuk mencapai pulau tersebut, kurangnya persaingan relung dan umumnya di pulau itu tidak terdapat pemangsa; kalaupun ada berukuran kecil.
Perbedaan status kelangkaan M. teijsmannii antara yang ditetapkan IUCN dengan PP No. 7 dan No. 8 tahun 1999 dapat terjadi karena beberapa sebab. Pertama, adanya perbedaan kriteria dalam penentuan status kelangkaan. Sampai sejauh ini Indonesia sendiri tidak memiliki kriteria yang baku untuk penentuan status kelangkaan. Kedua, keterbatasan jumlah ilmuwan konservasi yang bekerja pada famili Myristicaceae sehingga keterkinian status populasi dan status kelangkaannya tidak dilakukan untuk dapat memberi masukan pada para penentu kebijakan yang relevan. Ketiga, spesies ini tidak merupakan spesies yang populer dan memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga sedikit sekali perhatian konservasi ditujukan padanya. Alasan yang ketiga ini seharusnya tidak terjadi karena kriteria penentuan prioritas konservasi spesies-spesies terancam tidak hanya berdasarkan pada nilai ekonomi saja, melainkan pada tujuh kategori yang meliputi area geografis, taksonomi, habitat, bentuk kehidupan (life form), populasi, sifat biologi dan hal lain yang relevan seperti kawasan dengan endemisme tinggi serta ada atau tidak adanya pemanenan (Given 1984 dalam Given 1994).
5.3.4 Potensi dan Ancaman
Selain mengungkap aspek autekologi M. teijsmannii, pada penelitian ini juga berhasil diidentifikasi beberapa potensi dan ancaman di kawasan konservasi CAPS di mana spesies langka tersebut ditemukan dalam jumlah yang cukup melimpah. Potensi dan ancaman yang tercatat ini diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu faktor manusia dan faktor lingkungan (Tabel 18).
Salah satu aspek yang menguntungkan bagi M. teijsmannii adalah adanya agen dispersal biji dari kelompok primata yaitu lutung dan kera ekor panjang. Kedua spesies tersebut memiliki mobilitas tinggi dengan area jelajah yang cukup luas di kawasan CAPS sehingga diharapkan dapat sangat membantu pemencaran biji M. teijsmannii dalam memperluas area distribusi individunya. Temuan ini memberikan dasar bagi pihak pengelola Resort CAPS untuk memberikan
68
perlindungan bagi kedua spesies primata tersebut karena keberlangsungan populasinya akan turut membantu kelangsungan hidup populasi M. teijsmannii di kawasan ini sehingga mempunyai peran dalam pelestarian tumbuhan langka tersebut.
Salah satu kegiatan nelayan di kawasan Air Tawar yang cukup menjadi ancaman bagi kondisi alami hutan dan formasi mangrove yang dimilikinya adalah dijadikannya pantai ini menjadi tempat perbaikan kapal nelayan pada saat pasang surut. Residu cat dan bahan bakar merupakan bahan kimia berbahaya yang dapat merusak mangrove, habitat terumbu karang serta flora-fauna yang bergantung padanya. Diperlukan ketegasan dan keberanian petugas resort dalam menegakkan peraturan dan menindak praktik-praktik serupa agar kelangsungan hidup biota-biota di sekitar pantai ini tetap terjaga.
Secara umum, pulau sebagai cagar memiliki keuntungan karena ditentukan dalam batas yang jelas sehingga tidak mudah untuk dilanggar batasnya. Keuntungan ini disebabkan pulau merupakan unit ekologi yang relatif mandiri, selain itu pulau sebagai cagar memiliki kemampuan mengembangkan keseimbangan antara luas pulau dengan jumlah spesies di dalamnya (MacKinnon & MacKinnon 1993). Namun dijadikannya CAPS sekaligus sebagai kawasan tujuan wisata lingkungan (ekoturisme) seperti selama ini terjadi, dapat menjadi ancaman akan introduksi spesies asing yang hidup bersama-sama manusia yang dapat mengakibatkan malapetaka bagi flora dan fauna asli pulau.
Dilihat dari fungsi dan tugas pokoknya, kawasan cagar alam yang merupakan salah satu bagian dari suaka alam tidak diperuntukkan sebagai kawasan wisata seperti yang dinyatakan dalam UU No. 5 Tahun 1990. Kawasan perlindungan tipe ini selain memiliki fungsi perlindungan karena karakteristik habitat, kekayaan flora dan faunanya yang khas, mempunyai nilai guna untuk penelitian tapi tidak untuk dijadikan kawasan wisata atau ekoturisme. Namun pada kenyataannya, CAPS telah menjadi lokasi tujuan wisata yang potensial bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Malang.
Fakta tersebut menjadi dilema bagi konservasi. Di satu sisi, ancaman menjadi semakin besar bagi keaslian habitat dan kelangsungan hidup biota di dalamnya karena kemudahan akses dan legalitas dari pemerintah setempat
69
sehingga dapat mempertaruhkan kehidupan flora dan fauna asli serta langkanya. Namun di sisi lain, potensi keindahan alamnya juga sangat layak untuk diketahui dan dinikmati masyarakat sehingga memberikan kontribusi dan manfaat bagi masyarakat setempat. Hal ini menjadi tantangan bagi konservasionis dan Departemen Kehutanan pada khususnya untuk mempertimbangkan masalah ini secara proporsional tanpa mengabaikan filosofi konservasi spesies.
Tabel 18 Potensi dan ancaman terhadap kawasan konservasi CAPS dan keberadaan Myristica teijsmannii
Potensi Ancaman
Faktor manusia
- CAPS merupakan kawasan konservasi tak berpenduduk sehingga memudahkan pengelolaan.
- Sebagian besar mata pencaharian penduduk di sekitar CAPS adalah nelayan sehingga pencurian kayu jarang terjadi.
- Petugas KSDA setempat cukup baik menjalankan tugasnya menjaga kawasan sehingga kegiatan-kegiatan ilegal dapat dicegah dan ditangani dengan baik.
- Kesadaran masyarakat setempat akan peranan CAPS sebagai kawasan konservasi sumber daya alam dilaporkan semakin membaik, terutama setelah menyadari peran P. Sempu sebagai barrier gelombang pasang/tsunami dari Samudera Hindia terhadap pemukiman penduduk.
- Pencurian kayu untuk rangka perahu, terutama kayu Garcinia dan Vitex sp. (laban). Namun kegiatan ini relatif jarang terjadi. - Pantai CAPS kawasan sumber air tawar
sering digunakan nelayan untuk memperbaiki dan mengecat kapal/perahu pada saat pasang surut sehingga dikhawatirkan residu bahan kimia akan mencemari terumbu karang.
- ’Keterasingan’ Pulau Sempu sempat dijadikan alasan bagi barisan militer untuk menjadikan kawasan konservasi ini sebagai lokasi latihan perang pada tahun 1998. Namun sejak ditetapkan sebagai cagar alam pada tahun 1999, tidak pernah dilaporkan lagi ada kegiatan seperti ini.
- Pergeseran fungsi kawasan cagar alam sebagai lokasi tujuan wisata.
Faktor lingkungan
- Keterisolasian & status pulau sebagai cagar alam membuat keberadaan populasi
M. teijsmannii lebih terjamin dibandingkan
populasi di daratan pulau Jawa.
- Keberadaan agen dispersal biji
M. teijsmannii dari kelompok primata
- Keragaman spesies bernilai ekonomis tinggi - Keragaman flora dan fauna tinggi; beberapa
jenis diantaranya khas dan langka.
- Kekayaan potensi pariwisata: telaga, pantai dan laguna dengan pemandangan indah, kekhasan geologis.
- Keberadaan sumber air tawar dari hujan dan mata air.
- Topografi yang berbukit-bukit karang, terutama di bagian selatan membuat hutan relatif sulit dirambah.
- Kekayaan spesies kayu bernilai ekonomis menjadi ketertarikan saudagar kayu dari luar kawasan untuk menjalankan praktek-praktek ilegal.
- Kekayaan potensi pariwisata mendorong Pulau Sempu sebagai cagar alam sekaligus juga dijadikan tempat tujuan wisata, terutama pesisir utara hingga ke Segara Anakan di selatan.
- Tipe iklim yang cenderung kering membuat kawasan hutan rawan kebakaran, apalagi dikaitkan dengan banyaknya orang yang mengunjungi kawasan untuk berekreasi.